DEWI MAUT : JILID-40


Matanya memandang cepat, melihat betapa di atas genteng, di dua tempat itu berlubang, juga daun jendela terbuka sedikit.

“Krekkk…!” kini terdengar suara dan daun pintu kamar terbuka dari luar, pegangan daun pintunya hancur berantakan dicengkeram sebuah tangan yang memiliki tenaga amat kuat!

Melihat bahwa yang masuk ke kamar ini adalah seorang yang memiliki tenaga dahsyat, maka Cia Keng Hong menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Berbareng dengan terbangnya selimut merah ke arah pintu, sepasang tangannya bergerak dan meluncurlah sinar-sinar merah yang sama dengan tadi, akan tetapi suara berdesingnya jauh lebih nyaring lagi karena jarum-jarum itu sekarang diluncurkan oleh sambitan ketua Cin-ling-pai yang memiliki tenaga yang jauh lebih kuat, meluncur ke arah tiga jurusan, yaitu ke jendela dan lubang-lubang di atas genteng.

Terdengar pekik-pekik kesakitan dari atas genteng dan di luar jendela kamar, sedangkan orang tinggi besar yang baru saja menerjang masuk ke kamar dan pintu, berseru kaget ketika tiba-tiba saja ada selimut merah menerjangnya seolah-olah selimut itu mempunyai nyawa saja!

"Wuuuuttt…! Plakkk... breettttt...!"

Selimut itu ditangkis oleh orang tinggi besar ini sehingga cabik-cabik, lalu dilemparnya ke samping. Akan tetapi saat itu Cia Keng Hong sudah meloncat dan berdiri di depan orang tinggi besar ini. Mereka saling pandang!

Sejenak pendekar sakti Cia Keng Hong memandang tajam penuh selidik kepada kakek tinggi besar yang berwajah gagah akan tetapi menyeramkan itu. Dia lantas memutar otak mengingat-ingat, kemudian berkata dengan heran, "Hemm, bukankah engkau Tiat-ciang-pangcu?" Sekarang dia sudah teringat dan menyambung, "Tak salah lagi, engkau adalah Ouw-pangcu dari Bayangkara!"

"Cia-taihiap...!" Kakek itu juga berseru kaget dan mukanya berubah.

Memang orang itu adalah ketua dari perkumpulan Tiat-ciang-pang (Perkumpulan Tangan Besi) yang dahulu pernah terkenal sebagai perkumpulan pejuang dari utara, berpusat di Pegunungan Bayangkara, dan terkenal dengan kelihaian tangan mereka karena ketuanya memiliki Ilmu Tangan Besi yang amat ditakuti orang.

"Ouw-pangcu," kata Cia Keng Hong, suaranya dingin sementara pandang matanya tajam menusuk. "Apakah Tiat-ciang-pang kini telah menjadi begitu merosot dan rendah sehingga mau diperalat orang untuk melakukan pekerjaan hina seperti ini, melakukan penyerangan kepada orang secara menggelap?"

Kakek tinggi besar itu kelihatan bingung. "Apa... apa artinya ini? Kami memang diperalat, tetapi diperalat oleh kaisar dan para pembesar untuk membasmi komplotan pengkhianat yang kabarnya sedang bersembunyi di dalam gedung ini. Mengapa yang berada di sini malah Cia-taihiap? Mana komplotan pengkhianat itu?"

"Ouw-pangcu!" Cia Keng Hong yang dahulu mengenal tokoh ini sebagai seorang pejuang, berkata tegas, "Yang menjadi komplotan pengkhianat adalah mereka yang memperalat pangcu."

Muka kakek itu berubah. "Apa... apa maksudmu, taihiap?"

"Tahukah pangcu siapa yang berhak menjadi kaisar? Siapakah kaisar yang sebenarnya? Apa bila kaisar lama, Sri Baginda Ceng Tung masih ada dan dalam keadaan selamat dan sehat, apakah kaisar yang sekarang ini sah?"

"Cia-taihiap, apa maksud kata-katamu itu? Bukankah Sri Baginda Kaisar Ceng Tung telah tewas di tangan pemberontak Mongol dan sekarang yang menjadi penggantinya adalah Sri Baginda Kaisar Ceng Ti?"

"Nah, ini buktinya bahwa yang memperalat pangcu itulah yang sebenarnya pengkhianat. Sri Baginda Ceng Tung masih hidup dan sehat, saya sendiri yang mengawalnya ketika beliau lolos dari tawanan orang-orang Mongol, akan tetapi ternyata kawanan pengkhianat telah mengangkat seorang kaisar lain, bahkan sekarang memperalatmu untuk membunuh Kaisar Ceng Tung."

"Ahhh...?" Ouw Kian terkejut setengah mati dan kedua tangannya gemetar. "Saya... saya disuruh membunuh Sri Baginda Kaisar Ceng Tung?"

Cia Keng Hong mengangguk, lalu mengambil kaisar yang masih tertidur pulas di bawah tempat tidur dan kembali membaringkan kaisar di atas pembaringan. Melihat hal ini, Ouw Kian menjatuhkan diri berlutut, membentur-benturkan dahinya di atas lantai dengan air mata bercucuran membasahi mukanya yang keriputan!

"Celaka... aku layak mampus...! Cia-taihiap... bunuhlah aku yang berdosa ini..."

Pada saat itu terdengarlah suara ribut-ribut di luar dan bentakan-bentakan keras dari para pengawal, "Tangkap pembunuh...!"

Cia Keng Hong menjawab dari dalam. "Harap di luar tenang. Kaisar dapat diselamatkan dan singkirkan mayat orang-orang di luar jendela dan di atas genteng."

Terdengar para pengawal berseru girang dan lega. Mereka adalah para pengawal yang melihat enam orang teman mereka tahu-tahu sudah tewas di tempat penjagaan masing-masing di sekitar kamar kaisar. Mendengar suara Cia Keng Hong, mereka menjadi lega dan segera memeriksa tiga tempat itu dan benar saja, di masing-masing tempat mereka menemukan mayat dua orang asing yang dadanya bengkak-bengkak merah akibat kena jarum-jarum halus!

Sementara itu, di dalam kamar itu, Cia Keng Hong menguras keterangan dari Ouw Kian, siapa saja yang memperalatnya. Dengan jujur Ouw Kian lalu membeberkan persekutuan yang mendukung Kaisar Ceng Ti dan secara diam-diam dicatat oleh Cia Keng Hong.

Kemudian, setelah kakek itu mengakhiri pembongkaran rahasia persekutuan itu, Cia Keng Hong lalu berkata, "Ouw-pangcu, biar pun engkau telah melakukan suatu kedosaan yang besar sekali, melakukan usaha untuk membunuh kaisar, namun kesalahanmu ini adalah karena engkau diperalat orang dan kau lakukan di luar kesadaranmu. Oleh karena itu, sebagai imbalan semua keteranganmu, aku membebaskanmu. Pergilah!"

Kakek itu memandang Cia Keng Hong dengan muka pucat. "Cia-taihiap, keputusanmu ini jauh lebih berat bagiku dari pada kalau engkau membunuhku sekarang juga."

"Ouw-pangcu, pergilah."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Baik, aku pergi tetapi aku pergi hanya untuk membalas kepada orang yang sudah membodohi dan memperalatku. Taihiap, selamat tinggal dan terima kasih bahwa taihiap telah menghalangiku melakukan perbuatan terkutuk malam ini!" Kakek itu lalu melangkah keluar dari pintu kamar itu dan Cia Keng Hong berkata ke arah para penjaga di luar.

"Biarkan sahabatku itu keluar! Dia bukan musuh!"

Tentu saja para penjaga itu terheran-heran karena mereka tadi tidak melihat ada orang masuk, tetapi tahu-tahu sekarang ada yang keluar dari dalam kamar. Akan tetapi mereka percaya penuh kepada pendekar sakti itu, maka tidak ada yang berani membantah dan membiarkan kakek yang menyeramkan itu keluar dari gedung.

Cia Keng Hong lalu menyuruh seorang penjaga untuk minta kedatangan Janderal Bao Ciang pada malam itu juga dan sesudah Jenderal Bao datang, dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam itu, juga dia menyebutkan nama-nama para pembesar yang merupakan komplotan pendukung Kaisar Ceng Ti sehingga Jenderal Bao menjadi makin girang, karena kini dengan mudah dia dapat melakukan pembersihan.

"Sebaiknya sekarang juga sri baginda kaisar dipindahkan ke dalam Markas Pasukan agar lebih aman dan lebih mudah menjaga beliau," kata jenderal itu dan Cia Keng Hong segera menyetujui.

Kaisar segera digugah, diceritakan tentang peristiwa penyerangan itu dan malam itu juga dikawal oleh Cia Keng Hong sendiri untuk pindah ke dalam markas pasukan kepercayaan Jenderal Bao.

Dan malam itu terjadilah peristiwa hebat di dalam istana. Tiga orang pembesar tinggi yang dekat dengan kaisar telah dibunuh oleh seorang jagoan mereka sendiri namun si jagoan yang mengamuk itu pun berhasil ditewaskan.

Mendengar ini, mengertilah Cia Keng Hong bahwa Ouw Kian benar-benar telah menebus dosanya terhadap kaisar dan sudah pula membalas dendam terhadap orang-orang yang memperalatnya. Diam-diam pendekar ini bersyukur bahwa orang gagah itu akhirnya dapat insyaf dan mati sebagai seorang gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran.

Demikianlah, dengan bantuan dari Cia Keng Hong, akhirnya Jenderal Bao berhasil juga mempengaruhi sebagian besar para pembesar di istana kemudian setelah menang suara, terutama sekali karena sebagian besar kekuatan militer telah dihimpun oleh Jenderal Bao Ciang, maka pada suatu hari Kaisar Ceng Tung dinaikkan kembali ke singgasananya dan Kaisar Ceng Ti diturunkan!

Seperti terbukti di dalam sejarah, nasib Kaisar Ceng Ti, adik dari Kaisar Ceng Tung ini, amatlah menyedihkan. Dia naik ke atas tahta kerajaan pada saat kakaknya yang menjadi kaisar tertawan musuh, dan dia naik karena dorongan dan setengah paksaan dari para pembesar yang berlomba mencari kedudukan.

Kemudian, dia diturunkan dan dianggap sebagai seorang keluarga kaisar yang melakukan perbuatan khianat terhadap kaisar sehingga Kaisar Ceng Ti ini lalu diasingkan. Bahkan kelak sesudah dia meninggal dunia, jenazahnya tidak berhak dikubur di dalam kedudukan sebagai kaisar, melainkan dikuburkan di dalam sebuah kuburan terpencil yang berada di belakang Taman Pancuran Kumala, yang terletak beberapa li di sebelah barat Kota Raja Peking, cukup jauh dari tanah pekuburan para raja dari Kerajaan Beng-tiauw yang lain, seolah-olah kenyataannya bahwa Ceng Ti pernah menjadi kaisar pada jaman kerajaan itu hendak dihapus dari sejarah!

Setelah Kaisar Ceng Tung kembali menduduki singgasananya, kaisar muda ini tentu saja amat berterima kasih kepada Cia Keng Hong dan ingin memberi anugerah pangkat besar. Akan tetapi pendekar sakti ini menghaturkan terima kasihnya dan mohon maaf karena dia sama sekali bukan membela kaisar untuk mencari kedudukan! Dengan halus dia menolak anugerah itu, kemudian mohon diri dan kembali ke Cin-ling-pai…..

********************

Suasana di ruangan besar itu sangat menegangkan. Menegangkan urat syaraf mereka semua, dari Raja Sabutai sampai kepada para prajurit yang mengepung dan menjaga ruangan itu dengan ketat dan dengan senjata lengkap di tangan.

Ada tiga ratus orang prajurit yang menjaga di sekitar ruangan itu, menutup setiap lubang sehingga tidak ada kemungkinan bagi siapa pun yang berada di dalam ruangan itu untuk lolos keluar! Terutama sekali bagi mereka yang berada di dalam ruangan itu, yang kini berkumpul untuk menghadapi lawan masing-masing.

Raja Sabutai telah mengumumkan bahwa permusuhan di antara kedua golongan itu akan diselesaikan dengan mengadu kedua golongan itu dengan adil! Akan diadakan pibu (adu kepandaian) yang adil dan menentukan antara fihak para pembantu Wang Cin dan fihak Bun Houw dan In Hong sebagai fihak kedua, ada pun para jagoan Raja Sabutai menjadi fihak ketiga! Jadi semua ahli yang memiliki kepandaian di dalam ruangan itu kini terpecah menjadi tiga bagian.

Dengan wajah berseri Raja Sabutai hadir tanpa isterinya, karena Ratu Khamila tidak suka menonton adu manusia ini. Akan tetapi semua panglimanya hadir, dan juga semua jagoan Mongol termasuk kakek dan nenek guru raja itu yang di samping hadir sebagai guru dan orang-orang yang diandalkan dari fihak raja, juga sebagai pengawal pribadi Raja Sabutai.

Bun Houw duduk di atas bangku tidak jauh dari In Hong dan Yo Bi Kiok. Jantung pemuda ini berdebar keras dan dia merasa tidak tenang. Semenjak tadi dia melihat gadis itu duduk dengan tenang dan seolah-olah tidak ada sesuatu yang akan terjadi, bahkan di wajahnya membayangkan ketenangan yang dingin.

Wanita cantik setengah tua yang menjadi guru gadis yang sangat dikaguminya itu juga duduk tenang. Wajahnya yang lebih dingin lagi bahkan menjadi amat mengerikan karena membayangkan suatu ancaman bagi siapa pun yang berani menentangnya. Mulut yang kecil manis itu mengulum senyum penuh ejekan, yang tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu. Akan tetapi mata mereka berdua ditujukan kepada Raja Sabutai yang pagi hari itu kelihatan gembira sekali.

"Hong-moi..." Akhirnya Bun Houw tidak dapat menahan lagi kegelisahan hatinya maka dia berbisik memanggil gadis itu. Akan tetapi In Hong tidak menjawab, juga tidak menoleh.

"Hong-moi..." Bun Houw memanggil lagi, maklum bahwa tak mungkin gadis yang memiliki kepandaian tinggi itu tidak mendengar bisikannya.

In Hong mengerutkan alisnya, melirik tanpa menoleh, sebuah tanda bahwa dara ini telah mendengar. Bun Houw tidak merasa menyesal gadis itu agaknya tidak mempedulikannya, bahkan dia berkata lagi.

"Hong-moi, harap engkau jangan mencampuri urusanku dengan Bayangan Dewa. Mereka adalah lawanku, jangan kau membahayakan dirimu sendiri."

In Hong menoleh dan sejenak mereka saling pandang. Tiba-tiba In Hong merasa betapa jantungnya berdebar aneh sehingga tanpa disadarinya, seluruh wajahnya berubah merah sekali. Dara itu tidak tahu betapa subo-nya melirik kepadanya dan subo-nya mengulum senyum melihat keadaannya itu.

Entah bagaimana, dia merasa malu dan cepat menundukkan mukanya. Kemudian untuk menutupi perasaan malu yang aneh ini, yang tidak dikenal dan tidak dimengertinya, In Hong mengangkat muka memandang lagi, namun sekarang sinar matanya mengandung kemarahan!

"Aku adalah Dewi Maut, kejam seperti iblis, pembunuh gadis tak berdosa, kenapa engkau mempedulikan aku? Bun-ko, engkau datang ke sini karena terbawa-bawa olehku, maka sebaiknya engkau tidak usah ikut-ikut dalam pertandingan ini. Biar aku yang menghadapi mereka. Mereka itu sangat berbahaya dan lihai, apa lagi kakek dan nenek di belakang sri baginda itu!"

"Hong-moi...!" Bun Houw hendak membantah.

"Sudahlah!" In Hong membuang muka.

Terpaksa Bun Houw menghentikan desakannya karena suaranya mulai menarik perhatian semua orang, bahkan Raja Sabutai sendiri mulai memandang ke arahnya.

Sekarang Bun Houw melirik dan memandang ke arah orang-orang yang akan menjadi lawannya. Selama beberapa hari ini dia telah mencari keterangan dan tahulah dia siapa tiga orang tua yang berdiri di belakang Wang Cin itu. Mereka itu musuh-musuh besarnya, musuh besar Cin-ling-pai yang memang selama ini dicarinya.

Kakek berkuncir panjang yang berwajah tampan gagah dan kelihatannya masih muda itu, yang berpakaian serba putih adalah orang pertama dari Lima Bayangan Dewa, yaitu yang bernama Phang Tui Lok dan memiliki julukan Pat-pi Lo-sian. Orang itulah yang datang ke Cin-ling-pai selagi keempat orang kawannya memancing Cap-it Ho-han supaya pergi dari Cin-ling-pai dan dia pula yang mencuri pedang Siang-bhok-kiam. Dialah yang terlihai di antara Lima Bayangan Dewa.

Kemudian kakek berjubah hitam, kepalanya bertopi, bertubuh kokoh kuat dan hidungnya besar itu adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It, sedangkan hwesio tua gendut yang memegang tasbih hijau itu adalah Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang.

Di samping tiga orang yang diincarnya itu, ada pula beberapa orang pengawal pribadi Wang Cin yang tidak dia perhatikan, dan kini dia melirik ke arah Raja Sabutai. Raja itu sendiri kelihatan gembira sekali seolah-olah sedang berada dalam suasana suatu pesta meriah!

Yang diperhatikan oleh Bun Houw adalah nenek berwajah kehitaman dan kakek berwajah putih yang berdiri seperti arca di belakang raja itu. Dia sudah mendengar nama Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi itu. Selain dua orang kakek dan nenek yang kabarnya menjadi guru Sabutai yang juga lihai, di situ masih terdapat beberapa orang Mongol tinggi besar yang kelihatannya sangat kuat dan memiliki kepandaian.

"Ehh, orang she Bun!" Tiba-tiba ada suara orang berbisik, suaranya mendesis tajam.

Bun Houw menoleh dan ternyata yang berbicara kepadanya adalah Yo Bi Kiok, wanita setengah tua yang cantik itu. Dia tahu bahwa wanita itu adalah guru dari In Hong, maka dia memandang dan mendengarkan penuh perhatian.

"Hayo kau minta maaf kepada muridku atas tuduhanmu yang bukan-bukan itu. Dia bukan seorang kejam seperti iblis, juga tidak membunuh orang. Hayo minta maaf kau!"

"Subo, jangan ikut mencampuri...," In Hong berbisik pula mencela subo-nya.

Bun Houw mengerutkan alisnya. "Akan tetapi..."

"Tidak ada tapi, hayo minta maaf!" Yo Bi Kiok mendesak.

Bun Houw merasa mendongkol. Tidak biasa dia didesak dan dipaksa orang seperti itu, maka sikap yang angkuh dan keras dari Yo Bi Kiok itu malah membuat dia berkeras tidak mau minta maaf dan dia pun menggelengkan kepala.

"Subo, sudahlah..." In Hong kembali mencela gurunya dan pada waktu itu Raja Sabutai sudah mengangkat tangan kanan ke atas, tanda bahwa semua orang diminta untuk diam dan dia mau bicara.

"Saudara-saudara sekalian harap maklum bahwa pertemuan ini diadakan pertama-tama untuk merayakan kemenangan seorang sahabat yang kukagumi, yaitu Kaisar Ceng Tung yang sudah dapat menduduki singgasananya kembali dan berhasil mengalahkan semua pengkhianat di dalam kerajaannya! Silakan saudara sekalian mengangkat cawan untuk kehormatan dan keselamatan Kaisar Ceng Tung!"

Tentu saja Bun Houw menjadi terkejut dan juga terheran-heran menyaksikan sikap dan mendengar ucapan Raja Sabutai itu, akan tetapi dengan girang dia segera mengangkat cawan arak yang memang sejak tadi disuguhkan di meja depan mereka semua. Semua orang mengangkat cawan dan minum arak, termasuk Yo Bi Kiok setelah nyonya ini melirik ke arah Wang Cin dengan senyum mengejek.

"Pyarrrrr...!" Tiba-tiba terdengar suara mangkok pecah dan nampak sebuah cawan arak menggelinding di atas lantai.

Cawan itu dibanting oleh Wang Cin yang kini sudah bangkit berdiri dengan marah sekali, kedua matanya ditujukan ke arah Raja Sabutai dan tubuhnya yang gendut itu menggigil, mukanya pun merah padam. Suasana menjadi sunyi sebab semua orang menahan napas dengan hati tegang menyaksikan betapa dua orang sekutu itu kini berhadapan sebagai musuh.

"Sabutai, engkau sungguh merupakan seorang sekutu yang khianat!" bentak Wang Cin, suaranya melengking tinggi, dan saking marahnya suaranya menjadi seperti suara wanita, yaitu satu di antara ciri-ciri orang kebiri yang sedikit demi sedikit berubah sifatnya menjadi kewanita-wanitaan. "Bagaimana dengan tidak tahu malu engkau berani menyuruh aku untuk memberi selamat atas kemenangan Ceng Tung dan secara tidak langsung memaki aku?"

Raja Sabutai tersenyum mengejek. "Ehhh, Wang-taijin, salahkah aku kalau mengatakan bahwa engkau adalah seorang pengkhianat yang gagal? Engkau adalah seorang palsu, dan aku sudah benci kepadamu semenjak pertama kali, hanya karena kita bekerja sama maka aku masih sanggup menahan diri membiarkan kehadiranmu yang memuakkan. Aku memang sejak semula sudah kagum kepada Ceng Tung dan muak kepadamu. Sekarang, engkau merupakan seorang pengkhianat yang sudah tidak ada harganya lagi, dan Kaisar Ceng Tung berhasil manduduki tahta kerajaannya lagi dan memegang janjinya kepadaku. Sudah sepatutnya kalau kita, apa lagi seorang rendah semacam engkau, mengucapkan selamat kepada Kaisar Ceng Tung yang gagah perkasa."

Makin marahlah Wang Cin. Dia adalah seorang yang pernah mencapai kedudukan tinggi sekali, kepercayaan kaisar dan hampir menjadi orang kedua di kerajaan, dan sekarang dia dihina oleh seorang raja liar, raja pemberontak!

"Sabutai, raja liar yang rendah...! Kau... kau... hayo serbu dan bunuh dia!" Wang Cin membentak sambil monoleh dan memerintah para pengawal dan pembantunya.

Akan tetapi tiada seorang pun yang berani bergerak. Tentu saja para pengawalnya, juga termasuk tiga orang Bayangan Dewa, bukanlah orang-orang tolol yang mau membunuh diri secara konyol menyerang seorang raja di dalam bentengnya sendiri! Mereka semua adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada Wang Cin atas perhitungan untung rugi, maka setelah kini melihat Wang Cin kalah dan gagal, tentu saja mereka tidak sudi untuk membuang nyawa sia-sia untuk pembesar kebiri itu.

Memang begitulah adanya ‘kesetiaan’ yang didengung-dengungkan manusia di seluruh dunia itu! Apakah sesungguhnya kesetiaan itu? Apakah artinya kalau orang bersetia dan berani mengorbankan nyawanya demi untuk rajanya, untuk negaranya, untuk agamanya dan lain-lain? Apakah artinya itu?

Kalau kita mau membuka mata dan menjenguk keadaan batin sendiri akan nampaklah dengan nyata bahwa sesungguhnya sebutan kesetiaan itu merupakan sebutan lain saja dari penonjolan diri pribadi, atau dapat juga dilihat bahwa yang mendorong ‘kesetiaan’ itu hanyalah keinginan menonjolkan diri sendiri dan kesetiaan itu hanya merupakan suatu cara untuk memperoleh keuntungan diri pribadi, biar pun keuntungan itu bukan berupa benda lagi, melainkan dalam bentuk ‘nama besar’ atau ‘nama baik, kepahlawanan, dan sebagainya lagi.


Mereka yang ‘setia’ kepada Wang Cin juga tidak ada bedanya. Mungkin saja mereka itu tadinya benar-benar setia, yaitu pada saat mereka masih menaruh harapan bahwa kalau perjuangan Wang Cin itu berhasil kelak, mereka tentu akan menerima ganjaran-ganjaran besar. Akan tetapi, sesudah mereka sekarang melihat bahwa tidak ada manfaatnya dan tak ada untungnya lagi untuk terus ‘setia’ kepada Wang Cin, tentu saja kesetiaan mereka pun lenyap seperti awan tipis ditiup angin badai.

Jelaslah bahwa di dalam apa yang dinamakan kesetiaan itu tersembunyi pamrih demi keuntungan diri pribadi, baik merupakan keuntungan jasmani mau pun keuntungan rohani yang sebetulnya sama saja sebab keduanya bersumber kepada kepentingan diri pribadi.

Sunyi menyambut perintah Wang Cin yang tidak mendapat sambutan sama sekali itu. Kesunyian yang amat menyakitkan hati Wang Cin, yang benar-benar merasa kecewa dan mukanya berubah pucat, matanya terbelalak hampir tidak percaya memandang kepada para jagoannya yang diam seperti patung, ada yang menatap lantai, ada yang menatap langit-langit, seolah-olah mereka tidak tahu akan keheranan pembesar kebiri itu!

"Ha-ha-ha-ha!" Raja Sabutai tertawa bergelak. "Wang Cin, jangan kau mimpi yang bukan-bukan! Orang-orang yang tadinya suka membantumu bukanlah orang-orang bodoh atau orang-orang buta yang tidak dapat melihat kenyataan. Engkau sekarang bagaikan seekor macan ompong tua yang tinggal kulitnya saja! Orang-orangmu hanya memiliki dua pilihan, yaitu ikut bersama kami ke utara dan membantu kami, atau melarikan diri menjadi buruan pemerintah Beng-tiauw, menjadi penjahat-penjahat dan perampok-perampok, akan tetapi tentu tidak ada yang sudi ikut denganmu karena hal itu berarti ikut ke neraka. Ha-ha-ha!"

"Sabutai, manusia palsu kau!" Wang Cin marah sekali, lalu mencabut pedangnya dan lari menyerang Raja Sabutai.

Tidak ada seorang pun berani bergerak, bahkan para pengawal Raja Sabutai pun tidak bergerak tanpa perintah rajanya. Mereka hanya memandang sambil tersenyum karena mereka maklum bahwa rajanya bukanlah seorang lemah yang perlu dilindungi terhadap serangan seorang pembesar kebiri macam Wang Cin.

"Sabutai, mampuslah kau...!" Wang Cin yang sudah putus harapan dan marah sekali itu menaiki tangga dan menyerang ke arah Raja Sabutai yang duduk sambil tertawa, pedang di tangannya diangkat tinggi-tinggi.

Walau pun Wang Cin pernah pula mempelajari ilmu silat, akan tetapi pembesar ini sudah puluhan tahun lamanya tak pernah berlatih, dan pedang yang dibawa-bawanya itu hanya merupakan hiasan belaka, sekali pun tak pernah dimainkan, maka tentu saja gerakannya kaku dan baru lari sebentar begitu saja napasnya sudah ngos-ngosan. Ketika dia tiba di depan meja Raja Sabutai dan mengayun pedangnya, mendadak kaki Raja Sabutai yang masih tersenyum lebar itu menyambar dari bawah, cepat dan kuat sekali menendang ke arah perut yang gendut itu.

"Bukkkk!" Wang Cin terpekik, pedangnya terlempar, tubuhnya terjengkang dan terbanting ke belakang, berdebuk menimpa lantai.

"Seret babi ini keluar dan habisi dia!" Raja Sabutai memerintah. Empat orang pengawal menubruk maju, masing-masing memegang tangan atau kaki lalu menyeret tubuh gendut itu keluar.

Wang Cin menjerit-jerit seperti babi disembelih, memaki-maki lalu menangis, akan tetapi setiap gerakan dan setiap suaranya hanya mendatangkan perasaan muak saja karena seluruhnya membayangkan sifat pengecut yang menyebalkan. Dari jauh terdengar jerit melengking dari bekas pembesar kebiri yang pernah mempermainkan Kaisar Ceng Tung itu.

Sesudah gema lengking terakhir itu mereda, Sabutai yang masih tersenyum lalu berkata, ditujukan kepada semua orang. "Sekarang, seperti yang sudah kami janjikan, marilah kita selesaikan semua urusan pribadi, semua permusuhan pribadi, diselesaikan dengan cara terhormat dan adil, cara orang-orang gagah agar seluruh dunia tidak akan menganggap bahwa Raja Sabutai tak menghargai kegagahan orang! Sekarang, siapa yang mempunyai rasa penasaran mau pun mempunyai tuntutan kepada seseorang atau orang-orang lain, dipersilakan untuk menyatakan di depan kami secara terang-terangan!" Setelah berkata demikian, Raja Sabutai memandang ke sekelilingnya, terutama kepada bekas pembantu-pembantu Wang Cin dan kepada Bun Houw, In Hong, dan Yo Bi Kiok.

Tiga orang Bayangan Dewa saling lirik, akan tetapi mereka tidak bergerak. Mereka bertiga adalah orang-orang yang mempunyai dua maksud tersembunyi ketika mereka datang ke tempat itu sebagai pembantu-pembantu Wang Cin. Pertama, untuk menyembunyikan diri dari pengejaran fihak Cin-ling-pai sambil mencari perlindungan, dan kedua untuk mengejar kemuliaan, membonceng pengkhianatan Wang Cin.

Kini Wang Cin sudah tamat riwayatnya, maka mereka tidak berani banyak berlagak lagi, apa lagi karena empat orang kawan yang mereka andalkan, yaitu Go-bi Sin-kouw beserta teman-temannya, sudah pergi entah ke mana. Betapa pun juga, mereka bertiga percaya akan kemampuan sendiri dan tidak merasa gentar, apa lagi karena di antara fihak lawan yang paling tinggi ilmunya hanyalah Yo Bi Kiok, dan sebenarnya mereka tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan ketua Giok-hong-pang itu. Karena itu mereka masih merasa tenang saja menanti perkembangan selanjutnya.

Suasana yang sunyi itu dipecahkan oleh suara nyaring dari Bun Houw yang mengangkat tangan kanan ke atas dan berkata, "Saya mempunyai tuntutan, mohon perkenan dari sri baginda untuk saya sampaikan!"

Semua orang memandang kepada pemuda yang bersikap sederhana akan tetapi gagah dan tampan itu, dan karena semua orang sudah mendengar bahwa pemuda yang baru datang itu mempunyai permusuhan dengan para pembantu Wang Cin yang telah mereka kenal sebagai orang-orang lihai, maka suasana mulai menjadi tegang.

Raja Sabutai tersenyum lebar. "Ketahuilah kalian semua bahwa yang bicara tadi adalah pendekar muda Bun Houw yang baru saja tiba. Dia adalah seorang sahabat nona Hong yang telah kita kenal."

In Hong hendak membantah akan tetapi sebelum dia mengeluarkan suara telah terdengar tepuk tangan para hadirin yang dipolopori oleh Raja Sabutai sendiri, maka In Hong diam saja.

"Orang muda, katakanlah apa yang menjadi tuntutanmu dan kepada siapa!" Raja Sabutai berkata lagi sambil melirik ke arah tiga orang Bayangan Dewa.

Di dalam hatinya raja ini agak kecewa mengapa dua orang kakek dan dua orang nenek yang dia tahu amat lihai, yang selama ini menemani para pembantu Wang Cin, sudah lenyap ketika terjadi pertempuran yang terakhir menghadapi serbuan pasukan Beng-tiauw yang tadinya mengurung benteng. Bahkan menurut keterangan dua orang gurunya, Bouw Thaisu memiliki kepandaian yang paling tinggi di antara para pembantu Wang Cing akan tetapi sekarang Bouw Thaisu juga telah pergi entah ke mana, bersama Go-bi Sin-kouw, Hwa Hwa Cinjin, dan Hek I Siankouw.

"Maaf, sri baginda. Sebetulnya, urusan saya ini tak ada sangkut-pautnya dengan paduka atau dengan orang lain, akan tetapi oleh karena musuh-musuh saya itu berada di sini, maka terpaksa saya menyusul pula ke sini dan sekarang atas perkenan paduka, saya akan menuntut secara terang-terangan. Yang saya tuntut adalah mereka bertiga itulah, yang menamakan diri Lima Bayangan Dewa dan yang sekarang tinggal tiga orang lagi. Mereka itu adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It, dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang. Mereka bertiga itu dengan curang sudah mencuri pedang pusaka milik Cin-ling-pai dan telah membunuh sebelas orang Cap-it Ho-han murid-murid utama Cin-ling-pai secara kejam. Oleh karena itu, saya menuntut supaya pedang Siang-bhok-kiam dikembalikan kepada saya dan saya menantang mereka untuk bertanding agar saya dapat menebus kematian para murid Cin-ling-pai!"

Raja Sabutai mendengarkan tuntutan ini dan dia menjadi gembira, menoleh ke arah tiga orang kakek itu dan berkata, "Nah, kalian sudah mendengar tuntutan pemuda ini. Kalian boleh membela diri dan menjawab. Silakan!"

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok mewakili dua orang sute-nya, melangkah maju menghadapi Bun Houw dan terdengarlah suaranya yang tenang dan lantang, penuh suara dan nada meremehkan, "Maaf, sri baginda. Perkenankan saya bicara dengan orang muda she Bun ini."

Raja Sabutai mengangguk-angguk.

"Orang she Bun, sebelum aku menjawab tuntutanmu tadi, lebih dahulu kami bertiga ingin mengetahui, ada hak apa engkau menuntut urusan kami dengan Cin-ling-pai? Sepanjang pengetahuan kami, engkau hanyalah seorang pengawal dari Kiam-mo Liok Sun pemilik tempat perjudian di Kiang-shi. Engkau tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan kami dengan Cin-ling-pai!"

Sudah berada di ujung lidah Bun Houw untuk mengaku bahwa dia adalah putera ketua Cin-ling-pai, tetapi karena dia sudah terlanjur menyembunyikan keadaan diri sebenarnya, lagi pula dia pun tidak mau mendatangkan keributan dengan kenyataan baru itu, maka dia menjawab,

"Ketahuilah, Pat-pi Lo-sian! Aku adalah terhitung murid dari Cin-ling-pai, oleh karena itu, pedang Siang-bhok-kiam merupakan pusaka yang kuhormati dan Cap-it Ho-han termasuk suheng-suheng-ku, maka sudah semestinya kalau aku menentangmu!"

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok adalah seorang kakek yang sudah banyak makan garam, sudah banyak pengalaman dan dia amat cerdik. Dia maklum bahwa kedudukan dia dan dua orang sute-nya sebagai bekas pengawal Wang Cin sangatlah tidak menguntungkan, karena hal itu saja membuat mereka berada di tempat yang tidak begitu disuka oleh Raja Sabutai.

Dan dia pun maklum bahwa In Hong adalah seorang yang lihai, dan kalau benar gadis itu adalah sahabat pemuda ini dan ikut turun tangan, maka keadaan dia serta adik-adiknya akan makin berbahaya. Menghadapi pemuda itu, dia sama sekali tidak khawatir, bahkan memandang rendah. Akan tetapi, kalau menghadapi In Hong satu lawan satu, bukan merupakan hal yang tidak berbahaya, maka dia lalu berkata dengan cerdik,

"Orang she Bun! Agaknya engkau sudah tahu bahwa Lima Bayangan Dewa terdiri dari lima orang bersaudara. Terus terang saja, kami berlima memang memusuhi Cin-ling-pai karena kami hanya membalaskan kematian suheng kami, Ban-tok Coa-ong, dan memang sejak dahulu kami menanam hati dendam terhadap Cin-ling-pai. Sudah sewajarnya kalau engkau sebagai anak murid Cin-ling-pai sekarang membela Cin-ling-pai pula. Akan tetapi engkau tentu maklum pula bahwa Lima Bayangan Dewa selalu bekerja bersama-sama, dan karena kini jumlah kami tinggal tiga orang, maka Tiga Bayangan Dewa pun biasa bekerja sama tanpa terpisah-pisah. Entah bagaimana engkau akan menghadapi kami bertiga. Tentu saja kalau engkau tidak berani menghadapi kami bertiga....."

"Pat-pi Lo-sian, tak perlu engkau bersikap sombong dan memancing-mancing!" Bun Houw segera memotong. "Tentu saja aku yang sudah berani membela Cin-ling-pai, berani pula menghadapi kalian bertiga, karena aku pun tahu bahwa Lima Bayangan Dewa adalah orang-orang pengecut."

"Tidak, Bun-ko!" Tiba-tiba In Hong berseru dan cepat gadis ini menghadapi Raja Sabutai sambil berkata, "Maafkan saya, sri baginda. Akan tetapi sebenarnya, sayalah yang lebih dulu bentrok dengan Lima Bayangan Dewa! Sejak semula, sebelum saudara Bun Houw ini bertemu dengan mereka, saya yang berniat untuk merampas kembali pedang Siang-bhok-kiam dari tangan mereka. Kini, setelah berhadapan dengan mereka, saya pun tidak akan membiarkan saudara Bun Houw seenaknya turun tangan sendiri merampas pedang, karena saya juga mempunyai hak untuk mengadu kepandaian merampas pedang pusaka Cin-ling-pai."

"Heh-heh-heh, saya pun tentu saja juga ingin melihat seperti apa sih pedang pusaka yang disohorkan orang itu dan saya pun tidak mau ketinggalan meramaikan pertemuan ini, sri baginda!" Yo Bi Kiok tiba-tiba berkata pula.

Raja Sabutai menggosok-gosok kedua tangannya, kelihatan makin gembira. Memang raja ini suka sekali nonton orang pibu, maka makin ramai dan makin banyak yang mengambil bagian dalam pertandingan mengadu ilmu, makin gembiralah hatinya.

"Sam-wi lo-sicu," katanya kepada Pat-pi Lo-sian bertiga. "Ternyata hebat juga pedang Siang-bhok-kiam yang kalian rampas itu sehingga semua orang pun ingin memilikinya. Kalian telah mendengarkan pendapat nona Hong dan gurunya. Nah, bagaimana?"

Pat-pi Lo-sian terkejut sekali pada waktu tadi mendengar ucapan Yo Bi Kiok. Akan tetapi dia cerdik bukan main. Maka, sambil menghadapi Yo Bi Kiok dia menjura ke arah ketua Giok-hong-pang itu dan berkata, "Maaf, Yo-pangcu. Dulu pernah Yo-pangcu mengatakan bahwa pangcu telah menawan Lie Seng, bocah cucu ketua Cin-ling-pai itu, bahwa pangcu hendak menukarkan bocah cucu musuh besar kami itu dengan pedang Siang-bhok-kiam. Akan tetapi sayang keburu terjadi perang dan..."

Memang Pat-pi Lo-sian cerdik bukan main. Dia tadi mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah anak murid Cin-ling-pai, maka melihat gelagat bahwa ketua Giok-hong-pang itu hendak turun tangan menentang mereka, maka cepat-cepat dia mengatakan hal tentang ditawannya cucu ketua Cin-ling-pai oleh Yo Bi Kiok agar diketahui oleh murid Cin-ling-pai itu. Akalnya ini berhasil karena tentu saja Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan itu.

"Yo-pangcu! Kau apakan Lie Seng...?" bentaknya marah, hatinya merasa khawatir sekali mendengar bahwa keponakannya itu tertangkap oleh wanita cantik berwajah dingin ini.

"Ha-ha-ha-ha!" Pat-pi Lo-sian tertawa untuk menambah minyak pada api itu. "Ketika kami menyerbu Sin-yang, membalas dendam kepada puteri ketua Cin-ling-pai, di mana kami berhasil menewaskan empat orang murid utama Cin-ling-pai sekaligus besan dari ketua Cin-ling-pai, kami tentu tak akan berhasil tanpa bantuan Yo-pangcu. Mengingat akan kerja sama yang sudah, kiranya sekarang Yo-pangcu tidak akan membalik dan membantu fihak musuh kita bersama."

"Kau...!" Bun Houw marah sekali dan kalau saja dia tidak ingat bahwa dia berada di dalam benteng Raja Sabutai, tentu dia sudah menyerang Yo Bi Kiok yang hanya tersenyum-senyum saja itu, senyum penuh ejekan.

"Pat-pi Lo-sian, engkau tahu bahwa aku tidak pernah memihak siapa-siapa, melainkan memihak diriku sendiri. Aku hanya mau bilang bahwa aku menghendaki pedang itu, siapa pun yang keluar sebagai pemenang, harus menghadapi aku terlebih dahulu untuk dapat memperoleh pedang."

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok diam-diam merasa girang karena kini dia boleh merasa lega karena tak mungkin nyonya yang amat lihai itu akan membantu Bun Houw. Akan tetapi juga dia harus merelakan pedang Siang-bhok-kiam apa bila tidak mau berurusan dengan wanita yang menyeramkan itu, maka dia lalu mendapatkan sebuah akal yang amat baik. Dia lalu menjura ke arah Raja Sabutai dan berkata,

"Sri baginda, karena saya tidak ingin ada yang main curang dalam pibu ini, maka saya hendak menyerahkan Siang-bhok-kiam kepada paduka agar paduka yang menyimpannya dan menyerahkannya kepada pemenang setelah pibu selesai."

Tentu saja Raja Sabutai menjadi girang dan mengangguk-angguk. Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok lalu memberi tanda kepada Hok Hosiang dan hwesio ini segera mengeluarkan sebuah bungkusan panjang dari bawah jubahnya yang lebar.

Memang Pat-pi Lo-sian sangat cerdik. Sebagai orang pertama Lima Bayangan Dewa, dia tidak mau menyimpan sendiri pedang itu karena semua orang tentu menyangka bahwa dialah yang memegang pedang itu, sebaliknya dia malah menitipkannya kepada sute-nya yang nomor tiga dan hwesio ini tentu saja dengan mudah menyembunyikan pusaka itu di bawah jubahnya yang amat lebar dan terlalu besar.

Raja Sabutai menerima bungkusan kain kuning, membuka bungkusan dan mengeluarkan sebatang pedang dalam sarungnya. Kemudian, perlahan-lahan dicabutnya pedang itu dan nampak sinar kehijauan yang dingin. Itulah Siang-bhok-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai! Bun Houw sekali pandang saja mengenal pedang itu dan hatinya terharu.

"Suhu dan subo, pedang ini terlalu berharga, maka sebaiknya suhu dan subo saja yang menyimpannya agar aman," Raja Sabutai berkata sambil menyerahkan pedang itu yang diterima tanpa banyak cakap oleh Pek-hiat Mo-ko dan diselipkan di pinggangnya.

"Sekarang pertandingan sudah boleh dimulai!" Raja Sabutai berkata. "Orang muda she Bun, apakah kau sudah siap untuk menghadapi lawan?"

"Saya sudah siap!" Bun Houw bangkit berdiri dan melangkah ke tengah ruangan.

"Saya pun siap, sri baginda!" In Hong tak dapat mencegah dirinya, dia pun telah meloncat ke depan.

Betapa pun juga, gadis ini tidak akan membiarkan Bun Houw seorang diri menghadapi tiga Bayangan Dewa yang dia tahu sangat lihai itu. Melawan satu orang saja di antara mereka, belum tentu pemuda ini menang, apa lagi dikeroyok tiga!

Melihat sikap muridnya, Yo Bi Kiok hanya tersenyum dan berkata, "Hong-ji, bodoh kau! Suruh dia minta maaf dulu!" Akan tetapi In Hong tidak mempedulikan kata-kata gurunya itu.

Sementara itu, secara diam-diam Raja Sabutai juga girang melihat In Hong maju karena sebagai seorang gagah dia pun merasa tidak senang bila pemuda ini harus menghadapi pengeroyokan tiga orang kakek, maka kini dia berkata kepada Phang Tui Lok, "Apakah sam-wi sudah siap dan hendak maju berbareng?"

Phang Tui Lok mengerutkan alisnya "Sebetulnya, urusan kami dengan pemuda she Bun sebagai wakil Cin-ling-pai tidak ada sangkut-pautnya dengan nona Hong, karena itu tidak semestinya kalau nona Hong mencampuri."

"Manusia curang!" In Hong membentak. "Katakan saja kalian takut dan beraninya hanya ingin maju bertiga mengeroyok satu orang!"

"Siapa yang takut menghadapi pemuda Cin-ling-pai itu? Mundurlah, nona, dan pemuda itu hanya akan dihadapi oleh salah seorang di antara kami saja!" kata Phang Tui Lok yang memandang rendah kepada Bun Houw dan lebih jeri menghadapi In Hong.

"Hong-moi, mundurlah, biar aku melawan sendiri mereka," kata Bun Houw.

"Ha, kami sudah mendengar!" Raja Sabutai berseru gembira. "Satu lawan satu, itu baru adil namanya! Nona Hong, harap mundur dan biarkan Bun-sicu menghadapi seorang di antara tiga Bayangan Dewa!"

In Hong pun terpaksa mundur dan karena hatinya gelisah mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu, tanpa disadarinya dia mundur ke dekat gurunya.

"Jangan khawatir, apa bila kekasihmu itu kalah, kita dapat menggunakan Siang-tok-swa," bisik gurunya.

In Hong terkejut, mukanya menjadi merah saat mendengar gurunya menyebut Bun Houw sebagai kekasihnya. Dia mengerutkan alisnya dan cepat menjauhi gurunya, duduk di atas bangku sambil memandang ke depan, tidak mempedulikan Yo Bi Kiok yang tersenyum dingin.

Phang Tui Lok lalu memberi tanda kepada sute-nya yang nomor tiga, yaitu Hok Hosiang. Sambil tersenyum menyeringai, hwesio ini bangkit berdiri dan melangkah lebar menuju ke tengah ruangan. Sambil berjalan dia memainkan senjatanya, yaitu tasbih hijau sehingga terdengar suara berderik-derik nyaring sekali dan ketika dia memutar tasbihnya, terdengar suara mengaung dan nampak sinar hijau bergulung-gulung!

Semua orang terkejut dan maklum bahwa hwesio ini mempunyai tenaga sinkang yang dahsyat dan senjatanya itu amat berbahaya. Pada waktu hwesio itu menggerak-gerakkan kepala, maka penghias kepalanya yang runcing itu berkilauan, dan diam-diam In Hong terkejut karena hiasan kepala yang runcing itu ternyata merupakan senjata yang hebat pula, terbuat dari baja pilihan! Maka semakin khawatirlah dia melihat Bun Houw berdiri dengan kedua tangan kosong menghadapi lawan yang cukup kuat ini.

"Ha, satu lawan satu, itu baru adil namanya! Dan karena ada tiga orang kakek, harus pula dilawan oleh tiga orang dan aku pun ingin mendapat bagian dan meramaikan pesta ini!"

Ucapan nyaring itu disusul berkelebatnya bayangan orang mendahului Bun Houw dan tahu-tahu Yo Bi Kiok telah meloncat ke depan hwesio itu dengan pedang Lui-kong-kiam di tangan kanan dan pedang pendek di tangan kiri. Sikapnya gagah bukan main.

"Ehhh, Yo-pangcu, engkau mau apa?" Hok Hosiang membentak marah akan tetapi juga khawatir sekali.

"Yang diperebutkah adalah Siang-bhok-kiam, bukan? Nah, aku ikut memperebutkan dan kau lawanlah aku. Atau engkau tidak berani? Kalau memang begitu, bilang saja bahwa kau pengecut dan tidak berani!"

"Oho, wanita sombong! Siapa yang tidak berani?" jawab Hok Hosiang tersinggung.

"Kalau begitu, makanlah ini!" Cepat bagaikan kilat pedang pendek di tangan Yo Bi Kiok bergerak menyerang.

"Tranggggg...!"

Tasbih di tangan hwesio itu menangkis, akibatnya, hwesio gendut itu terhuyung dan pada saat itu sinar kilat Lui-kong-kiam menyusul cepat, membuat hwesio itu terkejut setengah mati.

"Tranggg... cringggg...!"

Kalau tidak cepat dibantu oleh Phang Tui Lok yang tadi membantu temannya menangkis Lui-kong-kiam, agaknya hwesio itu akan celaka.

"Tahan!" Phang Tui Lok membentak marah, lalu menoleh kepada raja. "Kami memprotes campur tangan Yo-pangcu. Sri baginda maklum bahwa pertikaian tentang pedang Siang-bhok-kiam adalah urusan Bayangan Dewa dengan Cin-ling-pai. "Jika Yo-pangcu memang menghendaki Siang-bhok-kiam, semestinya dia baru maju menghadapi pemenang dalam pertandingan ini. Kecuali kalau Yo-pangcu menjadi wakil Cin-ling-pai!"

Raja Sabutai mengangguk-angguk membenarkan protes. "Harap Yo-toanio suka mundur dan jangan mengacaukan pertandingan."

Bun Houw juga melangkah maju. "Harap Yo-toanio tidak mencampuri urusan kami!"

Yo Bi Kiok tersenyum dan menyimpan pedangnya. "Baiklah, aku akan maju paling akhir, memang hwesio ini bukan tandinganku!"

Kini Bun Houw menghadapi hwesio itu dengan kedua tangan kosong dan berkata dengan sikap tenang, "Hok Hosiang, aku telah siap. Majulah!"

Hok Hosiang ini pun memandang rendah kepada Bun Houw yang walau pun kabarnya pandai akan tetapi kedudukannya hanyalah sebagai pengawal Liok Sun si pemilik rumah judi! Karena itu sambil memutar-mutar tasbihnya dia berkata, "Orang muda, jangan mati konyol, hayo keluarkan senjatamu!"

"Penjahat tua menyamar sebagai hwesio, tidak perlu banyak cakap lagi, aku tidak perlu memegang senjata untuk menghadapimu."

"Kalau begitu, bersiaplah untuk mampus!" Hok Hosiang membentak.

"Tahan dulu...!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu In Hong telah tiba di tengah ruangan itu. "Sri baginda, tidak adil kalau pertandingan dilakukan dengan yang seorang memegang senjata sedangkan yang lain tidak!"

Raja Sabutai mengangguk-angguk. "Pertandingan kali ini merupakan pertandingan untuk menyelesaikan urusan dendam pribadi, karena itu fihak yang kalah dan tewas tidak boleh merasa penasaran. Bun-sicu, engkau boleh menggunakan senjata pula."

"Saya... saya tidak mempunyai senjata, sri baginda."

"Bun-ko, ini pedangmu, pakailah!" In Hong mencabut Hong-cu-kiam lantas menyerahkan pedang itu kepada Bun Houw.

Bun Houw cepat mundur dan memandang pedang itu dengan alis berkerut. "Aku tak akan menggunakan senjata pedang itu, Hong-moi. Kau simpanlah...!"

In Hong menghela napas dan menyimpan pedangnya. Dia mengerti bahwa pemuda ini masih belum hilang rasa marahnya, mengira bahwa dia adalah seorang pembunuh kejam, maka tidak mau menggunakan pedang itu. Akan tetapi dia khawatir sekali kalau pemuda ini menghadapi Hok Hosiang yang demikian lihai tanpa senjata.

"Sri baginda, karena Bun-twako tidak mempunyai senjata, maka harus diberi kesempatan untuk meminjam senjata dari benteng ini."

Raja Sabutai mengangguk-angguk, teringat akan pesan isterinya, Ratu Khamila yang dulu pernah membisikkan bahwa pemuda dan gadis itu saling mencinta. Raja Sabutai segera memerintahkan pengawal untuk mengambil delapan belas macam senjata yang diangkut ke tempat itu.

"Bun-sicu, silahkan memilih senjata mana yang kau suka dan boleh kau gunakan dalam pertandingan ini," kata raja.

Hok Hosiang tersenyum mengejek, perlahan-lahan berjalan berkeliling sambil menggerak-gerakkan tasbihnya sehingga sinarnya bergulung-gulung menyilaukan mata dan suaranya mengaung mengerikan. Dia merasa yakin bahwa sekali bertemu dengan tasbihnya, maka semua senjata itu pasti akan patah-patah.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner