DEWI MAUT : JILID-41


Untuk mendemonstrasikan kepandaian dan kehebatan senjatanya, juga untuk membikin kecil nyali calon lawannya, hwesio ini menggunakan kakinya mencokel sebatang tombak panjang ke atas kemudian menggerakkan tasbihnya yang diputar cepat.

"Krek-krek-krekk!"

Tombak itu patah-patah menjadi beberapa potong. Demonstrasi ini disambut suara berisik karena orang-orang terkejut sekali melihat betapa senjata tasbih itu demikian ampuhnya! Padahal tombak itu terbuat dari baja pilihan dan merupakan senjata para pengawal raja!

Melihat hal ini, Bun Houw merasa sebal. "Hong-moi, tolong kau uji dengan pedangmu itu. Senjata mana yang kuat menghadapi babatan pedangmu, akan kupakai."

In Hong girang. Karena memang dia pun tahu bahwa tidak ada senjata di situ yang akan dapat melawan tasbih Hok Hosiang kecuali Hong-cu-kiam, maka dia sengaja mengangkat setiap pedang, golok atau tombak untuk diadukan dengan Hong-cu-kiam. Ternyata semua senjata itu satu demi satu terbacok patah!

Melihat ini, Raja Sabutai diam-diam kagum. Orang-orang dari selatan ini memang hebat, pikirnya, hebat ilmu kepandaiannya, juga hebat senjata pusakanya.

"Bun-ko, tidak ada senjata yang cukup baik, kau pakailah pedang ini!" Akhirnya In Hong menyerahkan pedang Hong-cu-kiam yang tipis dan sangat tajam itu. Akan tetapi kembali Bun Houw menggelengkan kepala menolak, bahkan pemuda ini lalu mengambil gagang tombak yang terbuat dari pada kayu dan menyodorkannya ke arah In Hong.

"Hong-moi, tolong kau potong runcing kayu ini, sepanjang ukuran pedang."

In Hong mengerutkan alisnya, tidak tahu apa yang sebetulnya dimaksudkan oleh pemuda itu. Akan tetapi Hong-cu-kiam berkelebat, sinar emas menyambar lantas gagang tombak dari kayu itu terbabat putus dan ujungnya meruncing.

Bun Houw mengobat-abitkan potongan kayu itu seakan sebatang pedang, lalu berkata kepada calon lawannya yang sejak tadi memandang dengan sikap marah karena pemuda itu seolah-olah memandang ringan sekali kepadanya, "Hok Hosiang, inilah senjataku!"

"He, orang muda she Bun!" Tiba-tiba Raja Sabutai berseru. "Begitu sombongkah engkau sehingga engkau hendak menghadapi lawan yang memiliki senjata pusaka hanya dengan sebatang gagang tombak pendek dari kayu?"

Raja ini adalah seorang ahli silat yang lihai pula. Dia mengenal senjata tasbih yang lihai itu dan tahu bahwa seorang ahli silat yang sudah berani mempergunakan sebuah senjata aneh seperti tasbih tentulah memiliki kepandaian yang luar biasa. Maka, melihat pemuda itu hanya menggunakan sebatang pedang-pedangan dari kayu seperti yang biasa dipakai kanak-kanak yang bermain perang-perangan, tentu saja dia merasa khawatir, penasaran dan juga marah atas sikap Bun Houw yang dianggapnya sombong dan tolol.

Bun Houw cepat menjura setelah dia membalikkan pedang-pedangan kayu itu di bawah lengan kanannya. "Harap paduka suka memaafkan saya, sri baginda, sebenarnya sama sekali saya tidak berani bersikap sombong, akan tetapi hendaknya paduka ingat bahwa pusaka Cin-ling-pai adalah sebatang pedang dari kayu, yaitu Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum) itu. Oleh karena itu, setiap orang muridnya tentu mampu pula memainkan kayu sebagai pedang yang merupakan kepandaian simpanan dari ketua Cin-ling-pai. Oleh karena itu, apa bila kini saya memilih sebatang kayu ini sebagai pengganti pedang sama sekali bukan keluar dari sikap sombong, melainkan karena bagi saya, kayu ini merupakan senjata yang paling baik bagi saya."

Raja Sabutai mengangguk-angguk, akan tetapi dalam hatinya dia masih sangsi dan amat mengkhawatirkan keselamatan pemuda yang menurut isterinya merupakan kekasih nona Hong yang sangat disukai oleh isterinya itu.

Sementara itu diam-diam Yo Bi Kiok mulai percaya terhadap pemuda yang dicinta oleh muridnya ini. Terbayanglah dia akan pengalamannya sendiri ketika dia harus menghadapi ketua Cin-ling-pai. Pedang pusakanya juga hanya dilawan dengan sebatang ranting kayu oleh ketua Cin-ling-pai itu dan akibatnya dia kalah!

Akan tetapi, ketua Cin-ling-pai itu memang seorang sakti yang memiliki kepandaian amat tinggi, dan pemuda ini hanya seorang anak murid yang masih muda, sedangkan tasbih di tangan Hok Hosiang itu agaknya berbahaya bukan main.

"Orang muda, sudah siapkah engkau, ataukah engkau masih mau mengoceh lagi?" Hok Hosiang bertanya sambil tersenyum mengejek. Beberapa orang anggota pengawal yang hadir dan yang berfihak kepada kakek gundul yang kelihatannya sangat lihai ini juga ikut tertawa.

"Majulah, Hok Hosiang, sudah semenjak tadi aku siap dan ingin merasakan bagaimana kerasnya tanganmu, dan akan kulihat apakah engkau akan bisa tertawa lagi nanti!" kata Bun Houw sambil melintangkan gagang tombak di depan dadanya.

Ucapan ini membuat Hok Hosiang menjadi makin marah karena merasa diejek. Memang dia berjuluk Sin-ciang (Tangan Sakti) dan Siauw-bin-sian (Dewa Muka Tertawa).

"Lihat senjata!" bentaknya.

Kini tubuhnya sudah menerjang ke depan. Meski pun kakek berkepala gundul ini gendut tubuhnya, namun ternyata dia dapat bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan dan pada waktu tubuhnya bergerak, ada angin menyambar dari arahnya, menandakan bahwa kakek ini memiliki tenaga besar.

Dalam serangan pertama ini, dia didahului oleh gulungan cahaya hijau yang menyilaukan mata, yaitu gulungan sinar dari senjata tasbihnya yang sudah menyambar ganas dengan gerakan melengkung ke atas lantas menghantam ke arah kepala Bun Houw, sedangkan tangan kiri kakek itu dengan pengerahan sinkang-nya yang membuat dia terkenal dengan julukan Sin-ciang, membarengi dengan sebuah pukulan dengan jari-jari terbuka mengarah ke pusar pemuda itu!

Jelas dari gerakan cepat ini betapa kakek itu hendak merobohkan lawan dalam gebrakan pertama. Dia memandang rendah kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak mau bersikap sembrono karena begitu menyerang, dia sudah melakukan serangan maut dan telah mengerahkan tenaganya.

Raja Sabutai sendiri yang dapat melihat kehebatan dan bahayanya serangan ini, secara diam-diam merasa ngeri sebab agaknya sulitlah bagi orang muda yang hanya memegang gagang tombak kayu pendek itu untuk menghindarkan diri dari cengkeraman maut itu. Juga In Hong memandang dengan jantung berdebar dan diam-diam dia merasa menyesal akan keangkuhan Bun Houw yang terlalu memaksa diri menghadapi lawan tangguh tanpa senjata yang baik itu.

Akan tetapi tidak seorang pun di antara mereka itu yang pernah menduga bahwa lawan semacam Hok Hosiang itu sesungguhnya hanyalah merupakan seorang lawan yang lunak dan tidak ada artinya bagi pemuda itu!

Cia Bun Houw adalah murid terkasih dari Kok Beng Lama, yang telah mewarisi sebagian besar ilmu-ilmu pendeta Lama yang berkepandaian luar biasa itu, juga dia adalah putera ketua Cin-ling-pai yang telah digembleng pula oleh ayah bundanya yang sakti. Karena itu, jangankan memegang sebatang senjata kayu, andai kata dia tetap bertangan kosong sekali pun, tentu saja dia masih sanggup mengatasi dan mempermainkan seorang lawan seperti orang ketiga dari Lima Bayangan Dewa itu!

Melihat gerakan lawannya dalam penyerangan pertama itu, segera pemuda ini maklum bahwa dalam penyerangan pertama ini, yang berbahaya bukanlah tasbih hijau, melainkan pukulan dengan tangan kiri itu. Memang tampaknya tasbih hijau itu melakukan serangan dahsyat ke arah kepalanya, seolah-olah seekor harimau yang menubruk dengan ancaman maut hendak menghancurkan kepalanya, akan tetapi serangan yang terlalu menyolok itu sebetulnya hanya merupakan pancingan belaka agar perhatian lawan tersedot semua ke situ dan yang sesungguhnya mengancam nyawanya adalah pukulan diam-diam dengan tangan kiri itu karena dalam jari-jari yang terbuka itu mengandung getaran tenaga sinkang sepenuhnya. Jari-jari tangan kakek gundul ini kalau mengenai batu karang akan remuklah batu itu!

"Wirrrrr... wuuuttttt...!"

Tasbih hijau itu menyambar ganas, dan tangan kiri meluncur ke arah pusar Bun Houw tanpa suara. Pemuda ini tersenyum geli di dalam hatinya dan tiba-tiba timbul keinginan di dalam hati pemuda yang biasanya pendiam ini untuk mempermainkan lawan. Timbulnya keinginan ini mungkin akibat kegembiraan hatinya bisa melihat Siang-bhok-kiam, mungkin juga karena dia memperoleh kesempatan membalaskan kematian para murid Cin-ling-pai kepada tiga orang musuh besarnya ini, atau mungkin juga karena kehadiran In Hong di situ. Dia teringat betapa dalam pandang mata In Hong, dia hanyalah seorang pengawal seorang pemilik rumah judi, yang tentu saja tidak berapa tinggi kepandaiannnya. Teringat akan hal ini, Bun Houw juga tidak ingin memperkenalkan diri secara menyolok.

"Syetttt... cessss...!”

“Augghhhhhh...!" Kakek gundul itu memekik kesakitan dan meloncat ke belakang sambil menarik tangan kirinya yang tadi ditusuk oleh ujung kayu runcing itu!

Pemuda itu tadi mengelak dari sambaran tasbih hijau sehingga hati Hok Hosiang sudah menjadi gembira sekali karena tepat seperti yang dikehendakinya, pemuda itu agaknya sudah mencurahkan seluruh perhatian kepada serangan tasbih sehingga kelihatan sibuk menghindarkan diri dari tasbih sambil mengelak, maka dengan girang tangan kirinya terus melakukan tusukan ke arah pusar. Sudah terbayang olehnya betapa tangan itu segera akan ‘memasuki’ pusar dan pemuda itu akan roboh dan tewas dalam segebrakan saja!

Akan tetapi tiba-tiba dia menjerit dan menarik tangannya terus meloncat mundur karena ternyata punggung tangannya ‘digigit’ oleh ujung kayu runcing itu. Ketika dia melihatnya, ternyata punggung tangan kirinya itu berdarah.

Bukan main marahnya dia. Saking marahnya dia sampai lupa bahwa kalau pemuda itu dengan kayunya sanggup melukai punggung tangannya yang penuh terisi sinkang tadi, berarti bahwa pemuda itu lihai sekali. Dia lupa akan hal ini dan saking marahnya kakek ini sudah mengeluarkan suara menggereng seperti seekor singa kelaparan, lalu menyerang dengan tubrukan maut, tasbihnya diputar dan dalam sekali terjang saja tasbihnya telah melakukan serangan bertubi-tubi ke tujuh bagian tubuh yang lemah dari lawannya.

In Hong menonton dengan jantung berdebar tegang. Dia melihat bahwa bila dibandingkan dengan dua orang terakhir dari Lima Bayangan Dewa yang telah tewas, maka kepandaian hwesio ini lebih tinggi sedikit. Akan tetapi, biar pun gerakan tasbih itu hanya kelihatannya saja hebat, namun sambaran tangan kiri hwesio itu yang benar-benar sangat berbahaya dan melihat gerakan Bun Houw yang seenaknya dan tidak teratur itu, diam-diam In Hong merasa cemas juga.

Terdengar suara keras berkali-kali dan serangan tasbih semuanya berhasil dihalau oleh tangkisan pedang-pedangan kayu! Semua orang terkejut dan merasa heran, akan tetapi In Hong merasa makin khawatir karena dia melihat bahwa gerakan Bun Houw semakin kacau-balau dan agaknya semua tangkisannya yang berhasil menyelamatkan dirinya itu hanya soal kebetulan saja.

"Sri baginda, pemuda itu lihai bukan main..." terdengar oleh Raja Sabutai bisikan gurunya dan dia terkejut.

Menurut penglihatannya sendiri, pemuda itu sedang terdesak hebat dan hanya dengan susah payah saja dapat menyelamatkan dirinya, akan tetapi ketika dia menoleh, ternyata gurunya itu memandang dengan mata terbelalak penuh kagum! Bagaimana gurunya bisa memuji permainan silat kacau-balau yang lebih mirip dengan orang ketakutan dan repot sekali itu. Akan tetapi dia tahu bahwa di dunia ini jarang ada ahli silat yang dipuji oleh Hek-hiat Mo-li atau Pek-hiat Mo-ko, dan kini mereka berdua memuji!

"In, Hong, kau telah dipermainkan oleh kekasihmu itu! Hi-hik-hik, engkau jangan khawatir, muridku. Kekasihmu jauh lebih lihai dari pada lawannya." Yo Bi Kiok juga berbisik kepada muridnya.

Akan tetapi In Hong tetap merasa tegang. Memang, biar pun gadis ini juga mempunyai tingkat kepandaian yang sudah tinggi, tidak banyak selisihnya dengan gurunya, tetapi dia belum memiliki kewaspadaan pandangan seperti gurunya yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam ilmu silat.

Dia melihat betapa pemuda itu terus diserang dan didesak dan kini tubuh kedua orang itu lenyap terbungkus gulungan sinar tasbih yang hijau, dan agaknya robohnya Bun Houw tinggal menanti saatnya saja! Pemuda itu kelihatannya terus-menerus menangkis, bahkan semua jalan keluar sudah tertutup oleh sinar tasbih yang mengelilinginya.

"Cuuusssss...!”

“Auuuttttthhh...!" Tiba-tiba saja kakek gundul itu mencelat ke belakang dan tangan kirinya meraba hidungnya. Darah! Daun hidungnya terobek dan darah bercucuran.

Makin teganglah para penonton sesudah mulai melihat darah. Mereka masih belum tahu bagaimana hidung kakek yang terus-menerus mendesak itu tiba-tiba saja bisa robek dan berdarah seperti itu!

Bahkan Hok Hosiang sendiri pun tak mengerti. Pemuda itu terus didesaknya dan pedang-pedangan kayu itu terus-menerus bergerak menangkis dan melindungi tubuh pemuda itu dari kurungan sinar tasbih, bagaimana tahu-tahu dapat ‘menyelonong’ sehingga merobek hidungnya?

"Hati-hati, Hok Hosiang, kau main-main dengan tasbih sampai melukai hidung sendiri!"

Ucapan pemuda ini mendatangkan suara tertawa dari para penonton karena sebenarnya para penonton percaya bahwa hwesio itu saking semangatnya menyerang dan mendesak telah berlaku kurang hati-hati dan melukai hidungnya sendiri dengan tasbihhya! Tidak ada orang yang tahu bahwa hidung itu sudah dirobek oleh ujung pedang-pedangan kayu yang runcing, kecuali tentu saja orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi seperti dua orang suheng hwesio itu, Raja Sabutai dan guru-gurunya, beberapa orang perwira pengawal, In Hong dan Yo Bi Kiok.

Akan tetapi tetap saja In Hong masih belum merasa puas karena cara Bun Houw melukai hidung lawan bukan dilakukan dengan gerakan silat yang indah lihai, lebih mirip gerakan kebetulan saja yang hanya dapat berhasil karena ketidak hati-hatian lawan.

"Keparat busuk... kuhancurkan kepalamu, kulumatkan tubuhmu!" bentak Hok Hosiang.

"Omitohud... betapa besar dosamu, Hok Hosiang!" Bun Houw menjawab hingga kembali terdengar suara orang tertawa sebab sungguh menyolok sekali sikap dan kata-kata kedua orang itu, si hwesio penuh kemarahan, sedangkan pemuda itu mengambil sikap seorang alim!

Kini Hok Hosiang kembali menyerang dengan penuh kemarahan sehingga tasbih hijaunya lenyap bentuknya, berubah menjadi cahaya hijau bergulung-gulung. Akan tetapi anehnya, tak pernah serangannya dapat mengenai sasaran, kalau tidak dielakkan oleh pemuda itu, tentu terbendung oleh pedang-pedangan kayu sederhana itu, bahkan setiap kali tasbihnya terbentur oleh kayu itu, Hok Hosiang merasa betapa seluruh lengan kanannya tergetar hebat dan kesemutan! Kini mulailah dia mengerti bahwa lawannya yang muda ini ternyata memang lihai bukan main dan memiliki tenaga yang amat kuat, sungguh pun hal itu tidak diperlihatkannya.

Ketika Bun Houw merasa sudah cukup mempermainkan lawannya, pada saat untuk ke sekian kalinya sinar hijau menyambar ke arah kepalanya, pemuda ini lalu memekik keras. Kayu di tangannya menyambut, lantas membuat gerakan memutar sehingga tanpa dapat dipertahankan lagi tasbih itu membelit-belit ujung pedang-pedangan kayu dan tidak dapat ditarik kembali oleh Hok Hosiang! Beberapa kali pendeta gendut ini mengerahkan tenaga untuk menarik, namun hasilnya sia-sia belaka, tasbihnya sudah membelit kuat pada kayu itu dan tidak bisa terlepas kembali.

"Mampus kau...!" bentaknya.

Tiba-tiba tangan kirinya yang mengandung tenaga sinkang sekuatnya itu menghantam ke arah dada kiri Bun Houw. Pemuda ini mengibaskan tangan kirinya, sekaligus dia ‘mengisi’ tangan kirinya dengan tenaga dari ilmu mukjijat Thian-te Sin-ciang.

"Plakkkk! Krekkkk... pyuuurrr...!"

Dua tangan bertemu secara hebat, tubuh hwesio tergetar, tasbih itu putus untaiannya dan berjatuhan ke atas tanah, kemudian tubuh hwesio itu terhuyung ke belakang dan biar pun dia mempertahankannya, tetap saja dia roboh terguling saking hebatnya tenaga tangkisan tangan kiri pemuda itu tadi.

"Eiiihhh...?!" In Hong berseru aneh karena dia seperti mengenal tangkisan yang dilakukan oleh Bun Houw itu. Bukankah itu Thian-te Sin-ciang?

Sementara itu, dengan muka amat pucat dan mata mendelik saking marahnya, Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang sudah bangkit kembali, sekarang tubuhnya merendah seperti seekor harimau hendak menubruk, kepalanya yang gundul di depan dan hiasan kepala yang memakai hiasan runcing itu menuding ke arah lawan, matanya melirik seperti mata seekor kerbau marah, kemudian dari mulutnya keluar suara perut yang dalam, seperti kerbau menguak dan kepala yang gundul itu mengepulkan uap putih.

"Sute, jangan...!" Pat-pi Lo-sian berseru akan tetapi terlambat sudah, karena Hok Hosiang sudah lari ke depan dengan kepala menyeruduk ke arah perut Bun Houw!

"Bun-ko, awas...!" In Hong menjerit karena kini dia maklum mengapa hiasan kepala itu mengandung baja runcing.

Ternyata hwesio ini mempunyai ilmu aneh yang jarang digunakan orang, yaitu serangan dengan serudukan kepala! Dulu pernah dia mendengar dari subo-nya bahwa siapa yang melakukan serangan dengan kepala, berarti dia telah melatih kepalanya menjadi senjata yang amat berbahaya dan bahwa serangan kepala merupakan serangan untuk mengadu nyawa dengan lawan.

Bun Houw juga terkejut. Mendengar seruan Pat-pi Lo-sian tadi, dia pun segera maklum bahwa kalau sang suheng itu mencegah, berarti bahwa serangan ini merupakan serangan adu nyawa yang amat berbahaya. Bila dia mengelak lalu menggunakan kayu di tangannya membunuh lawan, tentu saja amat mudah hal itu dilakukannya.

Akan tetapi dia hendak memperlihatkan kepada lawan dan membuktikan kepada semua orang bahwa murid Cin-ling-pai bukan seorang penakut yang jeri menghadapi serangan seperti itu. Maka dia lalu melempar pedang kayu ke atas lantai, kemudian dengan kaki terpentang lebar dia sengaja menerima serudukan kepala Hok Hosiang itu.

"Bun-ko...!" In Hong menjerit ngeri menyaksikan kenekatan pemuda itu dan semua orang memandang dengan hati tegang.

"Dessssss...!"

Pertemuan antara kepala dan perut itu hebat bukan main. Seolah-olah terasa oleh semua yang hadir hebatnya pertemuan itu, yang seolah-olah menggetarkan ruangan itu. Semua mata terbelalak melihat betapa kepala yang dihias alat runcing itu seperti menancap ke dalam perut si pemuda yang masih berdiri tegak. Tubuh gendut hwesio itu bagai sebatang balok yang menancap, kakinya lurus ke belakang dan sama sekali tidak bergerak.

"Uhhhhhh!" Bun Houw mengeluarkan suara, perutnya digerakkan.

Tubuh hwesio itu tertolak ke belakang, lalu terbanting jatuh dan semua yang memandang merasa ngeri karena kepala itu sudah berlepotan darah, dan hiasan kepala baja runcing itu ternyata kini telah amblas menancap ke dalam kepala gundul itu!

Ternyata bahwa ketika kepala itu bertemu dengan perut, Bun Houw cepat mengerahkan sinkang mengeraskan perutnya sehingga hiasan kepala itu membalik dan menancap ke dalam kepala pemiliknya sendiri. Kemudian perut itu berubah lunak hingga kepala hwesio itu amblas ke dalam rongga perutnya dan dihimpit sehingga remuk di sebelah dalam dan hwesio itu tewas pada saat itu juga!

Sorak-sorai menyambut kemenangan yang luar biasa ini dan Raja Sabutai sendiri sampai bertepuk tangan memuji. Dia melirik ke arah dua orang gurunya dan melihat kakek dan nenek itu saling pandang dan jelas nampak bahwa keduanya juga kagum bukan main.

In Hong duduk dengan kedua kaki lemas. Mukanya agak pucat dan dia sendiri merasa heran kenapa dia menjadi begini penakut. Belum pernah selama hidupnya dia mengalami ketegangan sehebat ini yang membuat kedua kakinya lemas. Akan tetapi kini dia pun memandang ke arah Bun Houw dengan sinar mata penuh selidik dan keraguan.

Benarkah dia itu Bun Houw pengawal pemilik rumah judi itu? Melihat permainan silatnya tadi memang tidak seberapa hebat, akan tetapi dia bergidik ngeri membayangkan cara pemuda itu menerima serangan kepala tadi. Dia sendiri takkan berani menempuh bahaya seperti itu! Dan peristiwa tadi saja jelas membuktikan bahwa Bun Houw memiliki lweekang yang amat kuat, bahkan agaknya tidak kalah kuatnya kalau dibandingkan dengan tenaga dalam dari dia sendiri! Diam-diam dia merasa kagum, juga bangga, juga... penasaran!

Atas isyarat Raja Sabutai, jenazah Hok Hosiang disingkirkan dari tempat itu setelah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok memeriksa keadaan sute-nya itu. Kemudian Phang Tui Lok dan Liok-te Sin-mo Gu Lo It melangkah ke tengah ruangan dan menghadapi Bun Houw yang sudah mengambil pedang-pedangan kayunya kembali lalu berdiri dengan sikap tenang.

"Orang she Bun, di antara Lima Bayangan Dewa, kini tinggal kami berdua dan kami akan mempertahankan pedang Siang-bhok-kiam sekalian nama kami sebagai Bayangan Dewa. Majulah dan kalau kau takut mewakili Cin-ling-pai sendirian dan ingin dibantu oleh nona Hong, boleh juga dia maju membantumu."

Phang Tui Lok adalah orang yang cerdik. Di dalam pertandingan antara Hok Hosiang dan pemuda tadi, dia sudah mengerti bahwa pemuda yang kelihatan tidak seberapa hebat ini kiranya lihai juga.

Kalau dia membiarkan Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang tingkat kepandaiannya tidak banyak selisihnya dengan Hok Hosiang, agaknya sute-nya ini pun akan kalah. Oleh karena itu, dia sengaja maju bersama supaya dapat membantu sute-nya, dan andai kata pemuda itu dibantu oleh In Hong sekali pun, dia tidak takut karena dia dengan sute-nya lebih dapat bekerja sama dari pada pemuda itu dan In Hong yang tidak mempunyai hubungan apa pun.

Dengan bekerja sama, dia dan sute-nya pasti akan mampu mengalahkan Bun Houw dan In Hong karena dia dan sute-nya akan dapat memaksa mereka berdua untuk bertanding secara campuran, bukan satu lawan satu. Dan dalam hal pertandingan pasangan, dia dan sute-nya sudah terlatih.

Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, tubuh In Hong sudah mencelat ke tengah ruangan itu dan dengan wajah dingin dia sudah menghadapi Phang Tui Lok, mulutnya yang manis itu tersenyum mengejek.

"Agaknya kau ingin sekali mati di tanganku, kakek sombong. Majulah!" dia menantang.

Akan tetapi Bun Houw sudah menghadapi In Hong. "Hong-moi, harap, kau suka mundur. Aku akan menghadapi mereka berdua seorang diri."

"Bun-ko!" In Hong membantah.

"Aku tidak takut, Hong-moi!"

"Akan tetapi, engkau akan dikeroyok dan mereka ini lihai..."

"Ha-ha-ha-ha, orang she Bun, mengapa pakai sungkan-sungkan segala? Nona ini ingin sekali menemanimu mampus, mengapa engkau menolaknya?" Gu Lo It berkata dengan suaranya yang parau dan sikapnya yang kasar.

Bun Houw tidak mempedulikan ejekan Gu Lo It bahkan dia lalu memberi hormat ke arah Raja Sabutai dan berkata lantang, "Harap paduka suka memaafkan saya, sri baginda. Urusan yang sekarang sedang diselesaikan adalah urusan antara Lima Bayangan Dewa yang merupakan golongan penjahat dengan Cin-ling-pai, merupakan urusan pribadi kedua fihak yang sekarang oleh paduka dipertemukan di sini dan oleh kebijaksanaan paduka kedua fihak telah diperkenankan untuk menyelesaikan urusan dendam pribadi ini dengan mengadu kepandaian. Oleh karena itu, saya mengharap kebijaksanaan paduka supaya paduka melarang campur tangan dari fihak luar."

Raja Sabutai mengangkat tangannya dan menjawab, "Pernyataanmu itu benar dan tepat, Bun-sicu. Nona Hong, harap kau suka mundur karena sekarang adalah urusan pribadi antara Bun-sicu dan dua orang dari Bayangan Dewa. Giliranmu belum tiba, nona."

In Hong cemberut dan merah mukanya, akan tetapi tidak berani membantah.

"Hong-moi, maafkan aku. Kau percayalah, aku mampu mengatasi musuh-musuhku," kata Bun Houw perlahan.

"Kau... kau... pakailah pedang ini..."

Bun Houw menggelengkan kepala, tersenyum dan mengangkat pedang-pedangan kayu itu. "Senjata ini sudah cukup ampuh."

In Hong membanting kaki kanannya. "Kau... sombong! Kuharap kau kalah, baru aku akan membunuh mereka!" Setelah berkata demikian, In Hong mundur dan duduk di tempatnya kembali, disambut oleh subo-nya dengan senyum.

"Jangan khawatir, muridku, kalau dia terancam bahaya, aku siap membantunya," bisik gurunya.

"Jangan, subo. Biarkan dia kalah, si... kepala besar itu!"

Sementara itu Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sudah menghadap Raja Sabutai dan berkata, "Paduka telah menyaksikan sendiri, betapa pemuda ini hendak menghadapi kami berdua dengan sendirian saja. Bukan kami berdua yang sengaja mengeroyok, sri baginda."

Raja Sabutai mengerutkan alisnya. Tentu saja dia mengerti akan kelicikan orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu, maka dia bertanya kepada Bun Houw, "Bun-sicu, benarkah kau hendak menghadapi keroyokan mereka berdua? Apa bila kau keberatan, tentu saja boleh kau menghadapi mereka satu demi satu."

Bun Houw memberi hormat dan menjawab, suaranya lantang. "Sri baginda, ketika Lima Bayangan Dewa menyerbu Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka, mereka juga sudah menggunakan siasat licik, menanti ketika ketua Cin-ling-pai dan isterinya yang sakti tidak berada di Cin-ling-san. Mereka adalah pengecut-pengecut besar yang setelah melakukan perbuatannya itu, lalu melarikan diri dan bersembunyi di sini, menggunakan nama dan pengaruh paduka untuk bersembunyi karena mereka takut akan pembalasan Cin-ling-pai. Mereka adalah pengecut-pengecut besar, akan tetapi Cin-ling-pai tidak pernah melahirkan seorang pengecut. Oleh karena itu, sebagai wakil dari Cin-ling-pai, tentu saja saya akan menghadapi mereka, apa pun kehendak mereka. Jangankan baru mereka berdua, andai kata yang tiga lagi di antara mereka bangkit dari neraka dan ikut pula mengeroyok, saya tidak akan mundur, sri baginda!"

Raja Sabutai tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau benar-benar seorang gagah dan pantas sekali menjadi murid dan wakil sebuah perkumpulan yang besar, Bun-sicu." Lalu Raja Sabutai memandang Pat-pi Lo-sian dan berkata, "Nah, kalian sudah mendengar sendiri, majulah."

Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menggerak-gerakkan sepasang lengan tangannya sehingga terdengar bunyi suara berkerotokan seolah-olah semua tulang-tulang kedua lengannya itu bergerak-gerak. Kemudian dia menggerakkan kepala hingga kuncirnya yang panjang itu melibat leher, gagah sekali nampaknya. Lalu, dengan gerakan perlahan tangan kanannya meraba punggung dan nampaklah cahaya kemerahan berkelebat menyilaukan mata dan ternyata tangannya telah memegang sebatang pedang yang bentuknya seperti ular yang tahu-tahu telah berada di tangannya saking cepatnya dia mencabut pedang itu.

Liok-te Sin-mo Gu Lo It juga menggerakkan kedua lengannya, dengan jari-jari terbuka dan tampaklah uap mengepul di antara jari-jari tangannya. Tokoh yang berjuluk Iblis Bumi ini memang terkenal memiliki tenaga yang besar sekali, dan senjata potongan-potongan baja merupakan senjata rahasia yang tersembunyi di ujung kedua lengan bajunya. Tampaknya saja dia tidak bersenjata, hanya menggunakan kedua tangannya yang kuat, akan tetapi sebenarnya kedua ujung lengan bajunya itu mengandung potongan-potongan baja yang amat kuat dan yang menyambar secara tidak terduga dan karenanya amatlah berbahaya bagi fihak lawan.

Bun Houw bersikap tenang, akan tetapi dia sama sekali tidak memandang rendah kedua orang lawannya yang dia tahu merupakan orang-orang yang sangat tangguh, terutama sekali orang pertama dari musuh-musuhnya ini.

Dia sudah mendengar keterangan dari ayahnya tentang musuh-musuhnya, karena itu dia bersikap waspada dan bermaksud untuk mengukur terlebih dulu sampai di mana tingkat kepandaian dua orang lawannya dengan jalan membiarkan mereka menyerang. Dari cara mereka menyerang pun dia sudah akan dapat mengukur kepandaian dan tenaga mereka, dan mengetahui pula kelemahan-kelemahan mereka.

Pemuda ini hanya memasang kuda-kuda yang sederhana saja, dengan kedua kaki agak terpentang dan tubuh miring sehingga menghadapi dua orang lawan itu di kanan kirinya, bukan di depan belakang. Tangan kirinya miring di depan dada seperti orang menyembah dengan sebelah tangan, lengan kanan diangkat ke atas dengan pedang-pedangan kayu menuding ke depan, tubuhnya tidak bergerak, dan hanya kedua matanya saja yang hidup, bergerak ke kanan kiri, dan melihat ujung jari-jari tangan kiri dan ujung pedang-pedangan kayu tergetar, maka kagumlah In Hong.

Kini gadis itu mulai mengerti bahwa pemuda itu sesungguhnya bukan orang sembarangan dan dia tahu pula bahwa seluruh urat syaraf pemuda itu dalam kewaspadaan, dan bahwa seluruh tubuh pemuda itu sekarang sedang dialiri oleh hawa tenaga sakti yang hebat! Dia menjadi terharu dan mulai dia mencela kebutaannya sendiri karena dia mulai yakin bahwa Bun Houw adalah seorang pendekar muda yang sakti, yang hanya memiliki kepandaian sederhana saja.

"Hyaaaatttt...!" Liok-te Sin-mo membentak.

"Heeeeiiiitttt...!" Pat-pi Lo-sian juga memekik keras.

Keduanya sudah menerjang dengan cepat. Dua tangan Liok-te Sin-mo menyerang secara bertubi dan pedang ular itu mengimbangi serangan itu, menyambar-nyambar dari atas dan bawah dari lain jurusan.

"Wut-wut-wut, plak-plak-cringgg... tranggg...!"

Dengan gerakan yang sigap bukan main, bahkan terlalu cepat sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata, Bun Houw mengelak, menangkis pukulan-pukulan dengan tangan kiri dan menangkis pedang ular dengan kayu di tangannya, semua dilakukan dengan tepat, indah dan kuat.

Setelah dia berhasil menghalau serangan gelombang pertama, kini tubuhnya sudah diam lagi dan kembali dia menghadapi kedua orang lawan di kanan kirinya. Dalam serangan gebrakan pertama itu saja, Phang Tui Lok dan Gu Lo It sudah menjadi terkejut bukan main.

Ternyata kayu itu berhasil menangkis pedang dan membuat pedang ular itu terpental dan tangan yang memegangnya tergetar hebat, sedangkan serangan ujung lengan baju yang mengandung baja itu ditangkis begitu saja oleh tangan kiri pemuda itu. Tangan telanjang itu berani menangkis baja yang disembunyikan di dalam lengan baju dan setiap tangkisan tadi membuat ujung lengan baju itu membalik keras!

In Hong terbelalak. Dia merasa kagum bukan main. Meski pun baru satu gebrakan, akan tetapi sekarang Bun Houw agaknya baru memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya! Tadi pada waktu melawan Hok Hosiang, pemuda itu memang berpura-pura. Baru sekarang gerakannya tampak indah dan hebat bukan main, cepat dan tepat, kuat dan juga sangat luar biasa! Dan In Hong teringat akan gerakan tangan kiri Bun Houw yang mirip Thian-te Sin-ciang tadi.

Siapakah sebenarnya pemuda ini? Dia menduga-duga dan hatinya makin kagum sungguh pun kekhawatiran masih belum meninggalkan hatinya ketika dia melihat dua orang kakek itu kini sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya.

Bun Houw maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang kakek yang berkepandaian tinggi dan yang berkelahi dengan mati-matian, maka dia pun tidak berani main-main lagi menghadapi musuh besar ini. Dengan cepat dia menggerakkan potongan gagang tombak di tangannya dan segera kedua orang lawannya terkejut bukan main dan berseru keras.

Juga semua penonton menjadi bengong ketika melihat betapa cepatnya gerakan pemuda itu sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi delapan orang yang menghadapi dua orang pengeroyok itu dari delapan penjuru! Gagang tombak dari kayu itu mengeluarkan suara mengaung dan berubah menjadi sinar kehijauan dan kini seakan-akan dua orang Bayangan Dewa itu bukan mengeroyok, bahkan mereka berdua merasa seperti dikeroyok banyak orang!

In Hong terbelalak. Gerakan kaki pemuda itu jelas mengandung unsur-unsur pokok dari Thian-te Sin-ciang! Dia tidak tahu bahwa memang Bun Houw memainkan Ilmu Pedang Thian-te Sin-kiam ciptaan gurunya, Kok Beng Lama, namun karena tangannya sedang memegang sebatang kayu, Ilmu Thian-te Sin-ciang ini hanya menjadi gerakan dasar saja, sedangkan kembangannya sudah dia campur dengan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut dari ayahnya!

Ilmu pemuda itu memang sangat tinggi, apa lagi dia memainkan dua ilmu yang digabung menjadi satu, dua ilmu pedang yang merupakan ilmu simpanan dari Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong. Dua orang lawannya menjadi silau pandang matanya dan bingung.

Pat-pi Lo-sian dan Liok-te Sin-mo yang tadinya hendak mendesak serta menghujankan serangan, sekarang malah berbalik didesak hebat, dihimpit oleh serangan yang datang dari delapan penjuru. Kini mereka berdua itu dengan muka pucat hanya mampu mengelak dan menangkis saja sambil mundur-mundur.

Bun Houw mempercepat gerakan ‘pedangnya’. Kini pemuda itu menambah serangannya dengan tamparan-tamparan tangan kiri, tamparan Thian-te Sin-ciang yang mengandung hawa mukjijat sepenuhnya!

Melihat tamparan-tamparan ini, In Hong makin terbelalak dan sekarang dia tidak syak lagi bahwa pemuda itu jelas menggunakan Thian-te Sin-ciang, ilmu mukjijat yang pernah dia pelajari dari pendeta Lama ini, akan tetapi pemuda itu menggunakannya secara matang dan hebat sekali!

Dia makin terheran-heran dan menduga-duga. Bagaimana murid Cin-ling-pai bisa memiliki kepandaian demikian hebat dan dapat memiliki limu pukulan pendeta Lama itu?

Pat-pi Lo-sian dan Liok-te Sin-mo semakin terdesak. Kini keringat dingin membasahi leher dan muka mereka yang pucat, napas mereka mulai memburu dan setiap kali pedang ular bertemu dengan kayu, pedang itu langsung terpental. Demikian pula dengan ujung lengan baju Gu Lo It, selalu terpental begitu bertemu dengan pedang kayu atau dengan tangan kiri pemuda itu.

"Bersiap-siaplah kalian untuk membuat perhitungan dengan para suheng Cap-it Ho-han di alam baka!" Tiba-tiba Bun Houw berseru dan gerakannya menjadi makin cepat dan makin kuat.

Pat-pi Lo-sian mengeluarkan suara melengking panjang. Dewa Tua Berlengan Delapan ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk ke depan, pedang ularnya menusuk pusar, tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun dan kepalanya digerakkan sehingga kuncir rambutnya yang besar panjang itu bergerak hidup seperti seekor ular, menyambar dan menotok ke arah kedua mata Bun Houw!

Hebat bukan main serangan dari orang pertama Lima Bayangan Dewa ini. Akan tetapi berbeda dengan para penonton yang menahan napas memandang, Bun Houw bersikap tenang.

Tusukan pedang ular ke arah pusarnya itu cepat dihindarkan dengan gerakan tubuh yang dimiringkan dengan mengubah kuda-kuda kaki, sehingga pedang itu hanya menyeleweng ke samping kiri tubuhnya. Kemudian, dengan kecepatan kilat pedang kayunya membabat putus kuncir rambut yang mengancam matanya dan sebelum Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sempat menarik kembali tangan kirinya, Bun Houw sudah menangkap pergelangan tangan itu dengan tangan kirinya.

"Augghhhhhhh...!" Pat-pi Lo-sian berteriak keras karena dari telapak tangan lawan yang mencengkeram lengannya itu keluar hawa panas yang menjalar dari lengan ke dadanya, seperti membakar tubuhnya.

Rasa nyeri dan kemarahan membuat dia nekat dan pedangnya yang mengenai tempat kosong itu sudah ditarik dan ditusukkan kembali ke perut Bun Houw! Sementara itu, pada saat yang hampir bersamaan Gu Lo It juga sudah menubruk dari belakang pemuda itu, menghantamkan kedua tangannya didahului oleh dua ujung lengan baju yang menyambar ke arah punggung Bun Houw.

"Trakkk! Krekkkk...!”

“Aiiihhhh...!" Pedang ular terlepas dari tangan Pat-pi Lo-sian karena didahului oleh pedang kayu yang menotok pergelangan tangan kanan, sedangkan lengan kiri Phang Tui Lok itu remuk tulang-tulangnya ketika Bun Houw menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang untuk mencengkeram.

"Bukkk! Bukkk!"

Pukulan Gu Lo It dari belakang sengaja diterima oleh Bun Houw setelah dia melindungi punggungnya dengan sinkang-nya yang amat kuat. Kemudian dia membalik cepat sambil mengangkat tubuh Phang Tui Lok, dilemparkan ke arah Gu Lo It dengan amat kuatnya.

"Brressssss...!"

Tubuh Phang Tui Lok yang lengan kirinya sudah patah-patah itu menimpa tubuh Gu Lo It hingga keduanya jatuh tunggang langgang. Sebelum mereka sempat sadar dari keadaan nanar dan mampu bangkit kembali, nampak sinar hijau berkelebat dua kali dan terdengar pekik-pekik mengerikan.

Dua orang Bayangan Dewa yang amat terkenal setelah mereka mengacau Cin-ling-pai itu tewas seketika. Hanya ada sedikit darah yang mengucur keluar dari tengkuk mereka yang ditusuk oleh pedang-pedangan kayu di tangan Bun Houw.

Sejenak suasana menjadi sunyi sekali, seolah-olah semua orang masih termangu-mangu, heran dan terkejut menyaksikan kesudahan pertandingan yang tak tersangka-sangka itu. Akan tetapi begitu Raja Sabutai bertepuk tangan memuji, terdengarlah sorak-sorai dan tepuk tangan yang sangat meriah dan di antara mereka yang bertepuk tangan, juga tidak ketinggalan In Hong yang menjadi gembira dan lega bukan main!

Di antara suara sorak-sorak itu, terdengar Yo Bi Kiok berbisik pada muridnya, "Kekasihmu itu bisa menjadi orang yang sangat berbahaya, muridku. Kau harus dapat menundukkan dia, kalau tidak bisa berbahaya..."

Dan Pek-hiat Mo-ko juga berbisik kepada Raja Sabutai, "Pemuda itu amat mencurigakan, sri baginda. Dia bukan orang sembarangan, bukan murid sembarangan..."

Akan tetapi Bun Houw tidak mempedulikan sorak-sorai pujian itu. Dia membiarkan para pengawal menyeret pergi dua mayat musuh-musuhnya itu lalu dia melangkah ke dekat Raja Sabutai, menjura dengan hormat dan berkata,

"Terima kasih atas kemurahan hati paduka yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berhadapan dengan musuh-musuh saya. Sesudah kini mereka semua tewas, saya mohon kembalinya pedang pusaka perkumpulan kami dan mohon perkenan untuk keluar dari tempat ini."

"Bocah she Bun, nanti dulu!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak bayangan berkelebat cepat. Yo Bi Kiok telah berdiri di tengah ruangan itu dengan sikap menantang! "Bayangan Dewa memang sudah kalah terhadap engkau, akan tetapi di sini masih ada ketua Giok-hong-pang yang juga ingin memperebutkan Siang-bhok-kiam! Memang pibu ini diadakan untuk mengukur siapa yang paling pandai, siapa yang kepandaiannya paling tinggi, dan yang paling pandai berhak memiliki Siang-bhok-kiam! Bukankah demikian, sri baginda?"

Raja Sabutai tersenyum. Tentu saja raja ini tidak mempedulikan urusan pribadi orang lain dan dia hanya ingin melihat orang-orang pandai mengadu ilmu. Bagi raja ini, siapa pun yang akan memiliki pedang kayu itu tidak ada bedanya. "Siapa pun yang memiliki urusan pribadi hendak diselesaikan melalui pibu, boleh diselesaikan sekarang di sini," jawabnya mengangguk.

Bun Houw memutar tubuhnya perlahan-lahan dan kini dia memandang kepada Yo Bi Kiok dengan sinar mata tajam penuh selidik, bahkan mukanya mulai berubah merah karena dia teringat akan ucapan Phang Tui Lok tadi tentang perbuatan Yo Bi Kiok ini.

Menurut pengakuan Phang Tui Lok tadi, Bayangan Dewa itu berhasil membunuh empat murid utama dari Cin-ling-pai, sudah tentu Kwee Kin Ta, Kwee Kin Ci, Louw Bu dan Un Siong Tek, dan juga membunuh besan ayahnya yang tentu adalah Hong Khi Hoatsu di Sin-yang atas bantuan Yo-pangcu ini. Bahkan katanya wanita ini telah menculik Lie Seng, keponakannya, putera dari enci-nya! Baru sekarang dia mendengar akan hal itu dan belum sempat menyelidikinya, akan tetapi sekarang wanita iblis ini malah mencari gara-gara hendak merampas Siang-bhok-kiam!

"Subo... Bun-ko... jangan...!" terdengar suara In Hong khawatir.

Akan tetapi Bun Houw tidak peduli, dan kini dia sudah melangkah perlahan menghampiri Yo Bi Kiok yang berdiri di tengah ruangan, menantinya sambil tersenyum. Bahkan kini hati Bun Houw menjadi makin panas dan marah mengingat bahwa wanita iblis ini adalah guru dari gadis yang telah merampas hatinya. Gadis yang ternyata juga amat kejam! Agaknya kekejaman itu diwarisi dari gurunya ini! Maka marahlah dia kepada Yo Bi Kiok.

Kini mereka sudah berhadapan dan sejenak keduanya saling pandang, Bun Houw marah dan Yo Bi Kiok tersenyum mengejek.

"Orang muda she Bun," Yo Bi Kik berkata. "Demi persahabatanmu dengan muridku, lebih baik kau menyerahkan Siang-bhok-kiam kepadaku, dengan demikian tidak ada perlunya lagi bagi kita untuk saling bertanding."

Namun pada waktu itu pikiran Bun Houw sama sekali tidak mengingat Siang-bhok-kiam, melainkan urusan lain lagi. "Yo-pangcu, Siang-bhok-kiam adalah pusaka Cin-ling-pai dan siapa pun juga tidak boleh mengambilnya. Akan tetapi, sekarang aku hendak menuntut pangcu tentang urusan di Sin-yang!"

Berkerut alis mata yang panjang melengkung itu, kemudian dagu yang runcing manis itu diangkat. "Hemm, bocah she Bun, ada apa kau tanya-tanya soal itu?"

"Yo-pangcu! Urusan ini bahkan lebih panting lagi! Aku mendengar tadi bahwa engkau telah menculik Lie Seng, benarkah itu?"

"Bocah she Bun, tidak perlu engkau lancang hendak mencampuri urusan orang lain! Aku hendak menyimpan Siang-bhok-kiam hanya untuk melindungimu saja, mengerti? Sebagai sahabat baik muridku, engkau tak perlu membahayakan diri, engkau juga harus menjadi seorang... kekasih yang baik, jangan menjadi seorang lelaki yang berhati palau. Hati-hati engkau kalau sampai engkau menyakiti hati muridku. Gadis dusun itu menjadi contohnya, dan kalau engkau yang tidak setia, engkaulah yang akan kubunuh. Nah, mundurlah dan hiburlah hati In Hong, biarkan aku yang menghadapi mereka itu. Tidak tahukah engkau bahwa mereka berdua itu agaknya tidak akan mengembalikan Siang-bhok-kiam begitu saja?"

Bun Houw terkejut bukan main. Di dalam ucapan wanita itu tadi tersangkut banyak sekali persoalan! Pertama, urusan cinta yang belum diketahui oleh siapa pun juga, cinta yang terkandung di dalam hatinya terhadap In Hong, agaknya sudah diketahui oleh wanita ini dan dibicarakan di depan umum begitu saja!

Kedua, wanita ini mengaku bahwa dia yang membunuh gadis dusun she Ma itu! Maka lapanglah hati Bun Houw. Jadi bukan nona Hong yang membunuh, melainkan wanita iblis ini. Dan ketiga, baru dia tahu bahwa dua orang kakek dan nenek itu, yang tadi menyimpan Siang-bhok-kiam, guru-guru dari Raja Sabutai, juga menginginkan pedang pusaka itu!

"Yo-pangcu, semua urusan itu boleh kukesampingkan dulu sebab yang penting sekarang adalah persoalan yang engkau lakukan di Sin-yang! Benarkah engkau menculik Lie Seng, cucu ketua Cin-ling-pai?"

"Kalau benar, kau mau apa?" Yo Bi Kiok bertanya dengan nada mengejek karena hatinya menjadi jengkel sekali.

Ia teringat akan Lie Seng, bocah yang telah menghinanya secara menggemaskan sekali, yang telah menghajarnya babak belur, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa karena anak itu dibantu oleh pendeta Lama yang sangat sakti. Akan tetapi akhirnya dapat juga dia balas menyerang anak itu dengan Siang-tok-swa dan agaknya bocah itu sekarang sudah mampus.....!


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner