DEWI MAUT : JILID-49


Gadis ini kelihatan jelas habis menangis, matanya merah dan pipinya basah. Kini dia tak menangis lagi, bahkan sikapnya gagah dan beringas, pedang Hong-cu-kiam di tangannya dan dia berdiri tegak, sikapnya mengancam seperti seekor harimau betina yang dirampas anaknya.

"Hong-moi, pergilah...! Ahhh...!" Bun Houw menjadi bingung sekali.

Sementara itu, Hek I Siankouw dan muridnya, Liong Si Kwi, segera menerjang In Hong dengan senjata mereka, yaitu Hek I Siankouw mempergunakan pedang hitamnya yang ujungnya telah dirusak oleh Bun Houw tadi sedangkan Si Kwi mempergunakan sepasang pedang.

Melihat betapa gadis itu melawan dengan nekat dan gerakannya cepat bukan main, Bouw Thaisu juga sudah turun tangan membantu. Hanya Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang masih marah kepada Hek I Siankouw tidak mau membantu, hanya menonton.

"Ha-ha-ha, tidak usah dicari dia sudah kembali, ha-ha!" Pek-hiat Mo-ko tertawa bergelak dan Hek-hiat Mo-li sudah meloncat dan ikut mengeroyok In Hong.

Tentu saja In Hong segera terdesak mundur karena nenek ini memang lihai bukan main. Pernah dia dicoba oleh nenek ini dan tidak dapat menang karena nenek ini mempunyai kekebalan yang luar biasa. Akan tetapi, dengan pedang Hong-cu-kiam di tangan, In Hong merupakan seorang yang sukar dikalahkan begitu saja dan dia mengamuk dengan hebat sehingga Si Kwi yang tingkat kepandaiannya paling rendah terpaksa mundur.

"Hek-hiat Mo-li! Apakah engkau begini tidak tahu malu untuk melanggar janji?" Bun Houw membentak dan berusaha untuk membebaskan diri, namun biar dia sudah mengerahkan seluruh tenaga sinkang-nya, kedua lengannya tetap saja tak mampu membikin putus tali yang membelenggunya. Tali itu terlampau ulet dan juga agak mulur sehingga tak mungkin dapat dibikin putus.

"Hemm, Cia Bun Houw! Siapa yang melanggar janji? Nona itu datang sendiri, dan kami tidak mengejarnya, dia yang datang mengamuk. Apakah itu berarti kami melanggar janji?" Pek-hiat Mo-ko berkata.

Tentu saja Bun Houw tidak membantah kata-kata itu dan kembali dia berseru. "Hong-moi, jangan...! Pergilah lekas!"

Sambil menangkis serangan Hek I Siankouw yang dilakukan dengan penuh kebencian, In Hong menjawab, "Tidak! Jika engkau tidak dibebaskan, aku akan mengamuk sampai titik darah terakhir!"

Hek I Siankouw menjerit dan meloncat mundur karena pundaknya tergores ujung pedang Hong-cu-kiam sehingga berdarah. Hek-hiat Mo-li menubruk dan ketika cahaya keemasan pedang Hong-cu-kiam menyambar, nenek ini menangkis dengan lengannya dan sebuah tamparannya mengenai pundak In Hong sehingga dara ini terhuyung.

"Hong-moi, pergilah...!" kembali Bun Houw berteriak.

Akan tetapi In Hong sudah marah bagaikan seekor harimau terluka. Dia meloncat bangun dan dengan mata beringas memandang nenek bermuka hitam itu serta lima belas orang anak buahnya yang kini sudah mengurung In Hong dengan membawa tali-tali panjang yang digulung. Inilah pasukan tali yang telah terlatih baik oleh dua orang kakek dan nenek itu.

Begitu Hek-hiat Mo-li berseru keras, orang-orang itu serentak menggerakkan tangan dan meluncurlah tali-tali yang panjang itu ke sekitar tubuh In Hong, lalu ujung itu diterima oleh seorang teman di seberangnya. Dengan demikian, tahu-tahu In Hong telah dikurung oleh tali-tali yang ruwet dan aneh sehingga dia sukar untuk bergerak karena ke mana pun dia maju, tentu terhalang oleh tali yang ruwet itu!

In Hong menjadi marah, akan tetapi dia tidak mampu menyerang lima belas orang yang mengurungnya itu. Mereka ikut bergerak jika dia bergerak, dan kedudukannya tetap saja di tengah-tengah terhalang oleh tali-temali itu.

Terdengar dara ini mengeluarkan suara melengking keras dan pedangnya kini tidak lagi mencari sasaran manusia melainkan mengamuk kepada tali-tali itu. Tali itu ternyata juga terbuat dari bahan yang sangat kuat, akan tetapi Hong-cu-kiam yang tajam digerakkan oleh tangan dara itu yang mengandung sinkang kuat, merupakan sinar yang bukan main hebatnya sehingga tak lama kemudian tali-temali itu mulai putus! Lima belas orang yang memegang ujung tali-temali itu pun mulai menjadi kacau dan In Hong sudah berhasil ke pinggir mendekati mereka yang semakin panik dan jeri sebab tali-temali yang membentuk semacam jaring itu kini telah robek-robek!

"Mundur!" teriak Pek-hiat Mo-ko setelah dia mengikat kedua kaki Bun Houw dengan tali otot hitam sehingga pemuda ini sekarang rebah di atas tanah tidak mampu bergerak lagi. Kakek ini sekarang bersama nenek muka hitam lalu menyerbu ke depan.

Melihat dua orang musuhnya ini, In Hong membentak dan pedangnya segera berkelebat menyerang dengan ganas. Namun, kakek dan nenek yang kini telah memegang sebatang tongkat itu menangkis dan mendesak ke depan. In Hong dikurung rapat dan terus didesak sedemikian rupa hingga gadis itu menjadi kerepotan juga. Menghadapi seorang di antara mereka dia sudah kewalahan karena kekebalan mereka yang luar biasa, apa lagi kini dikeroyok dua dan mereka berdua itu memainkan sebatang tongkat secara istimewa pula.

Belum sampai lima puluh jurus dia mempertahankan diri, dia sudah roboh akibat totokan istimewa yang dilakukan Pek-hiat Mo-ko dengan ujung tongkat. Tubuh In Hong terguling dan segera dia pun diikat kaki tangannya seperti Bun Houw dan dilempar ke dekat Bun Houw.

Kebetulan sekali In Hong terjatuh dengan muka berhadapan dengan pemuda itu. Mereka saling pandang dan sejenak pandang mata mereka bertaut, kemudian terdengar Bun Houw mengeluh kecewa. Percuma saja dia mengorbankan dirinya untuk gadis ini!

“Dukkk! Dukkk!"

Dua kali tangan Pek-hiat Mo-ko bergerak ke arah tengkuk Bun Houw dan In Hong, maka kedua orang muda itu mengeluh dan tidak bergerak lagi, mata mereka terpejam karena mereka sudah pingsan. Kakek dan nenek itu sendiri yang mengempit tubuh dua orang muda yang merupakan tahanan dan sandera amat berharga itu, diiringkan oleh semua pembantunya mereka lalu membawa dua orang tawanan itu dan sesudah membebaskan totokan dan tali, melemparkan mereka ke dalam kamar tahanan yang amat kuat, kamar tahanan dari baja yang tidak mungkin dapat dibobol oleh seorang lihai seperti Bun Houw sekali pun!

"Kenapa mereka dibebaskan? Sungguh berbahaya, locianpwe," Ang-bin Ciu-kwi mencela Pek-hiat Mo-ko sesudah dua orang muda itu dibebaskan dari belenggu dan dilempar ke dalam kamar tahanan dan pintunya dikunci dari luar.

Pek-hiat Mo-ko tersenyum. "Sungguh pun berbahaya, mereka itu hanya seperti dua ekor harimau di dalam kerangkeng. Mereka tidak berbahaya lagi dan sewaktu-waktu, mudah saja kita merobohkan mereka dari luar kerangkeng. Mereka adalah sandera-sandera yang sangat berharga, harus dijaga jangan sampai sakit dan mati sebelum semua teman The Hoo si keparat itu mewakilinya datang ke sini dan menerima hukuman."

Ang-bin Ciu-kwi bergidik karena dalam suara kakek ini terkandung ancaman yang sangat hebat. "Sungguh saya merasa heran, locianpwe. Panglima The Hoo sudah mati, kenapa ji-wi locianpwe menaruh dendam yang demikian hebat sehingga semua temannya harus dihukum!"

Tiba-tiba leher baju Setan Arak itu dicengkeram oleh tangan kiri Pek-hiat Mo-ko sehingga Si Setan Arak kaget dan ketakutan. "Ampun... maafkan kalau saya salah bicara..."

Akan tetapi Pek-hiat Mo-ko menarik muka Ang-bin Ciu-kwi sampai dekat sekali dengan mukanya. "Lihat! Lihat baik-baik mukaku, dan lihat muka Hek-hiat Mo-li! Apakah seperti manusia lagi? Itu semua gara-gara si keparat The Hoo!" Dia kemudian mendorong dan melepaskan tubuh Ang-bin Ciu-kwi yang jatuh terjerembab ke atas lantai. "Sekarang, kau bersama isterimu, harus menjaga baik-baik dua orang tawanan ini. Awas, kalau sampai mereka itu sakit atau mati atau lolos, nyawa kalian berdua yang menjadi gantinya!"

Pek-hiat Mo-ko memang cerdik. Dia tidak mempercayakan penjagaan atas diri dua orang tawanan itu kepada Bouw Thaisu, atau Hek I Siankouw, karena dia tahu bahwa dua orang itu hanya membantunya karena mereka itu memiliki tujuan pribadi masing-masing. Tidak seperti Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya yang sudah menjadi kaki tangan dan orang-orang taklukannya. Orang-orang seperti ini tentu saja lebih tunduk dan taat…..

********************

Bun Houw siuman lebih dulu dan segera dia bangkit di atas lantai di mana tadi dia rebah menggeletak. Yang pertama-tama menarik matanya adalah tubuh In Hong yang rebah pula di lantai itu, masih pingsan akan tetapi dalam keadaan sehat. Hal kedua yang lebih menarik perhatiannya adalah bahwa dia dan In Hong sama sekali tidak terbelenggu.

Hal-hal ini menenangkan hatinya dan mulailah dia memeriksa keadaan di dalam kamar tahanan itu. Sebuah kamar yang tidak begitu besar, kurang lebih empat meter persegi, dindingnya terbuat dari baja yang amat kuat dan hanya ada sebuah daun pintu yang juga terbuat dari baja tebal. Pergantian udara hanya melalui lubang-lubang di atas pintu yang cukup banyak sehingga mereka tidak akan mati pengap, namun terlalu sedikit sehingga mereka tidak dapat merasa enak bernapas. Bagaimana pun juga, mereka tidak akan mati tinggal di kamar ini. Dari lubang-lubang itu, kadang-kadang dia melihat bayangan orang di luar daun pintu.

Bun Houw melihat ada sebuah pembaringan di dalam kamar dan di sudut kamar terdapat sebuah lubang pada lantai, agaknya dimaksudkan untuk tempat buang air! Kemudian dia melihat sebuah lubang yang lebarnya kurang lebih tiga puluh sentimeter persegi di bagian bawah pintu, akan tetapi lubang ini ditutup dari luar oleh baja pula dan agaknya lubang itu adalah tempat untuk memasukkan makanan dan lain-lain ke dalam kamar.

Paling penting adalah menyadarkan In Hong, pikirnya dan dipondongnya tubuh nona itu, dibaringkannya terlentang di atas pembaringan. Kemudian Bun Houw mengurut tengkuk gadis itu yang tadi kena pukulan. Tidak lama kemudian gadis itu mengeluh perlahan dan membuka mata. Begitu melihat Bun Houw, dia cepat bangkit duduk, menoleh ke kanan kiri, melihat kaki tangannya dan serunya pertama,

"Kita bebas...!"

Bun Houw mengangguk. "Ya, akan tetapi kita dikurung di dalam kamar tahanan yang kuat sekali."

In Hong segera turun, lalu memeriksa kamar itu, melangkah hilir-mudik dan tiba-tiba dia membalik, menghadapi Bun Houw dan berkata, "Kita tidak ditotok, tidak dibius dan tidak dibelenggu. Kita bebas dan kalau kita berdua mengamuk, apa sukarnya kita membasmi mereka dan lolos dari sini?"

Bun Houw menggelengkan kepala lalu duduk di sudut pembaringan yang juga terbuat dari baja!

"Kurasa tidak begitu mudah, Hong-moi. Mereka pun bukanlah orang-orang bodoh. Sudah kuperiksa tadi dan jelas bahwa kita tidak mungkin membobol kamar ini. Pula, kalau kita memberontak dan mengamuk di dalam kamar ini, betapa akan mudahnya bagi mereka untuk membuat kita tidak berdaya dengan asap beracun atau serangan lain."

In Hong terkejut. "Aihhh... habis bagaimana?"

"Hong-moi, tadi engkau sudah dapat lolos, mengapa engkau kembali?" Bun Houw tidak menegur, melainkan menyesal karena melihat dara itu tertawan kembali.

In Hong kini berdiri sambil memandang wajah pemuda itu dengan angkuh, mengingatkan Bun Houw akan sifat dara ini yang memang keras, akan tetapi keangkuhan itu baginya amat menarik karena dara itu tidak berpura-pura dan di dalam keangkuhan itu terdapat keagungan yang membuat dara itu menjadi makin menarik.

"Kau kira aku ini orang macam apa, Houw-ko? Engkau telah mengorbankan dirimu untuk kebebasanku. Aku bebas akan tetapi engkau tertawan dan nyawamu terancam. Aturan mana itu? Mana bisa aku diam saja? Tentu selama hidup aku akan merasa tersiksa oleh penyesalan bila sampai terjadi sesuatu dengan engkau yang mengorbankan diri untukku. Tidak! Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan kebebasanku dan aku nekat kembali untuk mencoba menolongmu dan membebaskanmu."

"Dan kau gagal..."

"Lebih baik gagal dan bersama-sama menghadapi kematian dari pada mati sedikit demi sedikit digerogoti penyesalan kelak."

Hening sejenak. "Hong-moi..."

"Hemmm...?"

"Agaknya engkau ini..."

"Ya...?"

"Angkuh bukan main!"

"Maksudmu?"

"Sedikit pun engkau tidak sudi menerima budi orang..."

"Tentu tidak! Sejak kecil aku hidup sendiri, bersama subo yang kini sudah tidak ada. Aku tidak mengemis budi, tidak mengharapkan budi, dari siapa pun!"

"Hemm, engkau menjadi keras oleh keadaan, Hong-moi. Sungguh kasihan..."

"Aku tidak mengharapkan kasihan orang...!"

"Akan tetapi aku bukan orang biasa. Aku adalah seorang sahabatmu, Hong-moi. Lupakah engkau akan itu? Engkau malah sudah memberikan Giok-hong-cu (Burung Hong Kumala) padaku dan aku memberikan Hong-cu-kiam padamu. Berarti kita telah saling terikat oleh persahabatan!"

"Dan pedang itu terampas oleh mereka!" In Hong berkata kecewa.

"Akan tetapi Giok-hong-cu pemberianmu masih kusimpan!" Bun Houw berkata kemudian tangannya merogoh ke saku baju sebelah dalam dan dikeluarkanlah hiasan rambut yang terbuat dari batu kumala indah berbentuk burung hong itu, "Benda ini selamanya tidak pernah terpisah dari badanku, Hong-moi!"

Melihat pemuda itu memegang burung hong kumala dan menyatakan demikian, tiba-tiba saja jantung In Hong berdebar keras dan tanpa disadarinya, kedua pipinya menjadi merah dan dia merasa senang bukan main!

"Kita harus mencari akal supaya dapat lolos dari kurungan ini, Houw-ko, kemudian kita serbu mereka, rampas kembali Siang-bhok-kiam dan..."

"Ssstt, jangan terburu nafsu, Hong-moi. Tidak akan mudah. Kita harus bersabar dulu."

"Tapi kita akan celaka..."

"Kurasa tidak, Hong-moi. Sebenarnya, yang diinginkan oleh kakek dan nenek itu adalah ayahku dan para panglima bekes pembantu Panglima The Hoo, bukan kita. Kita ini hanya dijadikan umpan belaka. Apa bila mereka hendak membunuh kita, tentu agaknya engkau sudah mereka bunuh, dan aku juga."

"Ssstttt...!" In Hong memberi tanda agar pemuda itu jangan mengeluarkan kata-kata.

Keduanya segera memandang dengan penuh perhatian pada lubang kecil yang tiba-tiba terbuka dari luar pintu. Kalau saja ada tangan diulur masuk, tentu In Hong yang sudah siap itu akan menangkapnya. Akan tetapi, terdengar suara ketawa Coa-tok Sian-li di luar pintu itu dan sebuah panci besar dan beberapa mangkok didorong masuk ke dalam satu per satu tanpa memperlihatkan tangan yang mendorongnya. Kemudian juga sebuah poci minuman.

Panci itu berisi masakan sayur mayur dan daging, baunya cukup sedap dan merangsang selera dan nasi itu putih dan masih mengebulkan uap, masih panas. Poci itu berisi air teh.

"Iblis, aku tak sudi makan dan minum suguhanmu!" In Hong hendak menendang hidangan itu, akan tetapi cepat-cepat Bun Houw mencegahnya dan memegang lengannya.

"Hong-moi, apa gunanya itu?" Pada waktu gadis itu memandangnya, dia berkedip sambil menggelengkan kepalanya. In Hong tidak berkata apa-apa dan keduanya diam.

"Ha-ha-ha!" Terdengar suara ketawa Ang-bin Ciu-kwi di luar.

Ternyata suami isteri itu menjaga di luar. Bun Houw dan In Hong segera mengintai dari lubang-lubang angin dan benar saja. Di luar terdapat Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li duduk berjaga dan kini Ang-bin Ciu-kwi berkata,

"Memang bocah she Cia itu pintar! Tidak seperti gadis itu yang liar!"

Mendadak terdengar suara Hek I Siankouw. "Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, kalian dan aku adalah sekawan, lupakan pertikaian antara kita dan kalian turutilah permintaanku sedikit."

"Hemm, apakah permintaanmu itu, Siankouw?"

"Biarkan aku memotong tangan kanan gadis bernama Yap In Hong itu untuk membalas kematian sahabatku."

"Wah, wah, dalam keadaan biasa aku sendiri akan suka sekali menonton kau melakukan penyembelihan terhadap dia, akan tetapi kami berdua bertugas menjaga di sini, tidak saja menjaga agar mereka jangan lolos, juga jangan mereka sakit atau mampus. Bagaimana mungkin kami berani membiarkan engkau memotong lengannya? Tentu lengan kami akan hilang pula sebagai gantinya!" kata Ang-bin Ciu-kwi.

"Siankouw, harap engkau jangan cari-cari perkara. Engkau tahu bahwa yang menentukan hanyalah dua orang locianpwe yang berkuasa di sini. Bila engkau hendak minta sesuatu, mintalah kepada beliau berdua. Kalau sudah ada perkenan beliau, biar kau bunuh gadis itu pun kami tidak mencampuri," kata Coa-tok Sian-li.

Hek I Siankouw menghela napas panjang. Dia pun tidak berani melanggar perintah dua orang kakek dan nenek iblis itu, betapa pun sakitnya hatinya dan betapa inginnya untuk segera membalas dendam. Tiga orang itu tiba-tiba bicara bisik-bisik dan menjauhi pintu kamar itu sehingga Bun Houw dan In Hong tidak lagi melihat atau mendengar mereka.

"Hong-moi, mari kita makan dulu, mumpung masih panas-panas." Bun Houw mengangkati semua hidangan itu ke atas pembaringan besi dan mempersilakan gadis itu makan.

"Uhhh! Aku tidak sudi makan hidangan mereka."

"Hong-moi, pikirlah dengan tenang. Kita perlu memelihara kesehatan dan mengumpulkan tenaga, bukan? Sekali waktu akan ada gunanya bagi kita. Kalau kau tidak mau makan sampai jatuh sakit dan lemah, bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka kalau saatnya tiba?"

Dibujuk demikian, In Hong termenung, kemudian dengan cemberut dia duduk pula di atas pembaringan dan menerima semangkok nasi beserta sumpitnya. Akan tetapi ketika dia hendak menyendok sayur, dia berkata penuh curiga,

"Siapa tahu masakan ini mengandung racun!"

Bun Houw tersenyum, menyendok sayur dan daging kemudian makan dengan enaknya. "Tidak mungkin," katanya. "Mereka perlu dengan kita sebagai sandera, kenapa mereka harus meracun kita? Pula, banyak jalan untuk membunuh kita yang sudah tidak berdaya, kenapa menggunakan racun dalam makanan seperti perbuatan orang-orang lemah? Aku yakin mereka tidak akan meracun makanan kita."

In Hong lalu mau makan juga dan karena memang dia amat lapar, maka sebentar saja dia makan sama lahapnya dengan Bun Houw. Mereka lalu minum teh dan tak lama kemudian In Hong duduk melenggut karena mengantuk. Badannya terasa segar dan sehat.

Bun Houw lalu turun dari pembaringan. Setelah menaruh semua perabot makan di depan lubang bagian bawah pintu yang telah tertutup lagi dari luar itu, dia mengintai dari lubang-lubang angin yang kecil, akan tetapi karena tidak dapat melihat Hek I Siankouw mau pun Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya, juga tidak mendengar suara mereka maka dia pun lalu membiarkan In Hong istirahat dan mulailah dia memeriksa keadaan kamar tahanan itu lebih teliti.

Akan tetapi, tepat seperti telah diduganya, tempat itu amat kuat dan kokoh, tak mungkin meloloskan diri dari tempat itu dengan menggunakan tenaga saja. Bagian depan yang ada pintunya terbuat dari baja, demikian pula seluruh dindingnya. Hanya lantainya saja terbuat dari batu. Akan tetapi untuk apa membongkar lantai? Selain tidak mudah, juga tentu nampak dari luar sebelum dia dan In Hong berhasil lolos. Setelah memerika dengan teliti, Bun Houw juga duduk bersila di atas lantai batu untuk menghimpun tenaga.

Sementara itu, Hek I Siankouw dan kedua orang majikan Padang Bangkai itu berunding tidak jauh dari kamar tahanan sambil berbisik-bisik. "Jangan khawatir, aku juga akan ikut bortanggung jawab. Bukankah Mo-ko dan Mo-li hanya berpesan agar mereka tidak sakit, mati atau lolos? Nah, ketiganya itu tak akan terjadi. Aku ingin melihat mereka itu terhina, juga rusak nama dan kehormatan mereka, sedangkan kalian dapat menikmati tontonan itu!" Demikian antara Lin Hek I Siankouw berkata dan membujuk mereka.

"Memang menyenangkan sekali!" Coa-tok Sian-li berkata.

"Asyik sekali kalau menonton itu!" kata pula Ang-bin Ciu-kwi.

"Andai kata Mo-ko dan Mo-li mendengarnya, tentu mereka tak akan marah. Justru mereka sendiri yang menyuruh mengurung dua orang itu di dalam satu kamar, maka kejadian itu bukankah sudah sewajarnya?" kata pula Hek I Siankouw.

"Baikiah, Siankouw. Lihat saja malam nanti, kehendakmu pasti terlaksana dan kami akan menikmati tontonan itu, hik-hik!" Coa-tok Sian-li tertawa-tawa genit.

Sore hari itu, kembali Bun Houw dan In Hong mendapat suguhan makanan dan minuman, bahkan ada seguci kecil arak wangi. Lampu penerangan telah dipasang dan karena sinar lampu hanya dapat memasuki kamar tahanan itu melalui lubang-lubang angin kecil, maka kamar tahanan itu biar pun tidak gelap sama sekali, akan tetapi juga tidak terlalu terang, hanya remang-remang saja.

Kini In Hong tidak ragu-ragu lagi untuk makan dan minum, bahkan dia pun minum arak wangi yang manis dan lezat itu untuk menghangatkan tubuhnya, ditemani oleh Bun Houw yang sama sekali tidak kelihatan berduka atau khawatir. Dan memang sesungguhnya, secara aneh sekali dua orang muda itu tidak merasa khawatir atau tidak senang, bahkan baru sekarang mereka merasakan kegembiraan yang sangat aneh! Mereka tidak sadar bahwa itulah tanda-tanda cinta! Cinta tidak mengenal duka dan khawatir, dalam keadaan bagaimana pun juga.

Ketika mereka selesai makan minum dan Bun Houw menaruh perabot-perabot makan di dekat lubang, lubang itu terbuka dari luar dan dengan cepatnya mangkok piring itu lantas disambar oleh tangan yang tidak nampak, dibawa keluar dan terdengarlah suara terkekeh genit dari Coa-tok Sian-li yang berkata,

"Hi-hi-hik, selamat menikmati malam pengantin!"

Bun Houw mengerutkan alisnya. Ucapan seorang cabul seperti Coa-tok Sian-li memang tak perlu terlalu diperhatikan, akan tetapi di dalam kata-kata itu terkandung sesuatu yang membuat dia menaruh curiga. Apa lagi ketika lampu penerangan di luar kamar dibesarkan sehingga keadaan di dalam kamar itu menjadi semakin terang, dan dia dapat mendengar suara-suara manusia di luar kamar seolah-olah ada beberapa orang yang mengintai dari luar! Dia merasa curiga, maka didekatinya In Hong yang duduk di pinggir pembaringan sambil berbisik,

"Hong-moi, hati-hatilah..."

"Ada apakah, Houw-koko?"

"Aku menaruh curiga kepada mereka. Agaknya mereka hendak melakukan sesuatu, tapi entah apa." Karena merasa tegang, Bun Houw memegang tangan gadis itu dan tanpa disengaja jari-jari tangan mereka saling genggam.

Rasa hangat yang aneh menjalar dari sentuhan jari-jari tangan itu, getaran yang luar biasa menjalar dari ujung-ujung jari yang bersentuhan terus ke lengan dan ke seluruh tubuh, mengguncangkan jantung. Otomatis mereka saling pandang dan sinar mata mereka pun melekat.

Di dalam cahaya yang remang-remang namun cukup terang itu, Bun Houw melihat wajah yang luar biasa cantiknya, luar biasa manjanya dan memiliki daya tarik yang amat kuat. Sepasang mata yang bening dan pandang matanya tajam penuh semangat hidup, hangat dan begitu dalam laksana lautan yang sukar dijajaki dalamnya, bibir yang sedikit terbuka seakan-akan menantangnya, napas yang panjang halus agak tersendat membuat cuping hidung mancung itu agak kembang-kempis, leher yang panjang bagaikan tangkai bunga.

Dia terpesona! Dan sebaliknya, In Hong juga memandang wajah Bun Houw seolah-olah baru sekarang dia menemukan ketampanan dan kegagahan wajah pemuda itu.

"Ahhh...!" In Hong berseru dan cepat menarik tangannya.

"Maaf, Hong-moi...!" Bun Houw juga cepat melangkah mundur. Sekarang napas mereka agak memburu.

In Hong menundukkan mukanya. Muka itu tentu merah sekali, pikir Bun Houw, di dalam cuaca yang agak remang-remang kelihatan gelap. Akan tetapi mata itu mengerling dari bawah, kerlingan yang seperti menggapai!

Seperti didorong oleh tenaga yang tidak nampak, Bun Houw melangkah maju, jantungnya berdebar sampai terdengar di dalam kedua telinganya. Benarkah penglihatannya ini? Dia melihat gadis yang menundukkan muka itu mengerling malu-malu sambil tersenyum! Dan dada yang membusung itu kelihatan naik turun, napasnya memburu.

"Hong-moi..." Kembali jari-jari tangannya menyentuh, perlahan saja, di ujung pundak dara itu.

Pundak itu tertutup baju dan sentuhan itu hanya perlahan saja, akan tetapi sungguh aneh. Sentuhan yang ringan ini mendatangkan getaran hebat yang membuat seluruh tubuh In Hong menggigil dan juga Bun Houw merasa betapa gairah yang dahsyat mendorongnya untuk merangkul gadis itu dan mendekap sekuatnya. Dengan seluruh kekuatan batinnya, dilawannya gairah ini dan kedua kakinya menggigil!

"Ada apa... koko...?"

Dara itu mengangkat mukanya. Benar saja, mukanya merah sekali setelah kini tertimpa sinar dari luar dan sepasang mata itu amat bercahaya seperti ada apinya, seolah-olah di dalam tubuh gadis itu terjadi kebakaran!

"Tidak... eh, aku hanya hendak mengatakan ehh, kau... kau cantik sekali, Hong-moi!" Bun Houw sendiri terkejut mendengar kata-katanya ini. Apa yang telah terjadi? Dia menunggu kemarahan dara itu, andai kata akan menamparnya, dia akan menerimanya dengan rela karena dia menyadari betapa lancang mulutnya.

Akan tetapi aneh! In Hong tidak marah, malah tersenyum, senyum manja dan senyum yang membayangkan kebesaran hati yang bangga!

"Terima kasih... Houw-ko..." suaranya tersendat-sendat.

Mereka masih saling pandang, dan akhirnya, tidak kuat lagi menahan gelora hatinya yang membuatnya bagaikan mabok dan tidak sadar, Bun Houw lalu merangkul leher gadis itu. Anehnya, In Hong juga balas merangkul pinggangnya.

Kini muka mereka saling berdekatan, begitu dekat sehingga mereka saling merasakan tiupan nafas masing-masing. Bibir mereka hampir saling bersentuhan, akan tetapi naluri kewanitaannya membuat In Hong menundukkan muka dan menyembunyikan mukanya di dada Bun Houw, mendekap dada itu dengan mukanya dan mengeluh,

"Houw-ko..."

"Hong-moi ah, Hong-moi..." Bun Houw terengah sambil mendekap kepala itu ke dadanya, timbul birahinya yang sangat hebat sehingga ingin rasanya dia memasukkan kepala itu, seluruh tubuh gadis itu, ke dalam dirinya supaya menjadi satu dan tak akan terpisah lagi dengan dia!

"Hi-hi-hik!"

Suara ketawa ini seperti halilintar menyambar Bun Houw dan In Hong. Keadaan setengah sadar tadi kini buyar dan bagaikan ada sinar terang memasuki benak mereka, membuat mereka maklum bahwa mereka sedang diintai orang! Bun Houw melepaskan pelukannya, berseru kaget dan meloncat ke belakang. Dia terhuyung.

In Hong juga memandangnya dengan mata terbelalak, kedua tangannya menekan pipi sendiri, bingung dan terkejut.

"Hong-moi... ahh… celaka... kita keracunan...!" Bun Houw berseru dan mengepal tinjunya karena ada rangsangan yang makin hebat mendorongnya untuk mendekati gadis itu.

"Ahhh... pantas aku merasa tidak wajar... panas sekali... tentu dalam makanan tadi..."

"Dalam arak mungkin..."

"Ha-ha-ha!" terdengar suara ketawa Ang-bin Ciu-kwi. "Memang kau pintar sekali, putera Cin-ling-pai. Racun itu berada di dalam arak tadi dan kalian sudah meminumnya. Kalian tahu racun apa? Eh, isteriku yang cantik dan cerdik, kau ceritakan agar mereka itu dapat bersenang sepuasnya, ha-ha-ha!"

"Hi-hik, sebetulnya bukan racun yang berbahaya, kalian boleh tenang-tenang saja. Lebih tepat dinamakan obat, dan arak itu kuciptakan sendiri, namanya Arak Malam Pengantin! Bersenanglah kalian!"

"Coa-tok Sian-li iblis betina cabul!" In Hong membentak marah. "Kalau sekali aku dapat berhadapan denganmu, akan kuhancurkan kepalamu!"

"Jangan harap kau dapat mempermainkan kami!" Bun Houw juga berteriak, akan tetapi jantungnya berdebar aneh dan ada suatu kekhawatiran besar timbul di dalam hatinya.

"Ha-ha-ha, mari kita sama lihat! Binatang-binatang seperti kuda dan kerbau saja tak kuat menahan pengaruh obat ciptaan isteriku itu, apa lagi manusia, dan masih muda seperti kalian! Ha-ha-ha, ingin kulihat putera ketua Cin-ling-pai berjinah di dalam kamar tahanan!" kata pula Ang-bin Ciu-kwi.

"Dan aku juga ingin sekali melihat Yap In Hong perawan sombong yang telah membunuh temanku Hwa Hwa Cinjin itu menyerahkan kehormatannya secara murah seperti seorang pelacur!" terdengar suara Hek I Siankouw.

Mendengar ini, terkejutlah Bun Houw. Ternyata itulah rencana mereka! Dia dan In Hong sengaja diberi minum racun yang agaknya merupakan racun perangsang nafsu birahi agar dalam keadaan tidak sadar mereka berdua melakukan hubungan kelamin, berjinah di dalam kamar tahanan itu dan disaksikan oleh mercka.

Maksud mereka tidak lain tentu agar mereka dapat menyebar luaskan peristiwa itu untuk menghancurkan nama dan kehormatan dia sebagai putera ketua Cin-ling-pai dan Yap In Hong sebagai seorang puteri yang dipercaya oleh kaisar!

"Manusia-manusia iblis! Jangan mengharap kalian akan dapat memaksa kami melakukan perbuatan hina! Kami bukanlah manusia-manusia macam kalian!" Bun Houw membentak marah.

"Hayo masuklah kalian ke sini kalau berani!" In Hong juga berteriak. "Akan kuhancurkan kepala kalian satu demi satu!"

"Hik-hik, malam pengantin kenapa diisi dengan ribut-ribut? Yang tidak tahu akan mengira pengantinnya cekcok!" Coa-tok Sian-li mengejek.

"Sssttt... isteriku, diamlah. Kita beri kesempatan mereka bermesra-mesraan," terdengar suara Ang-bin Ciu-kwi dan akhimya mereka bertiga itu tidak bersuara lagi, akan tetapi dua orang muda itu merasa yakin bahwa mereka, atau setidaknya suami isteri cabul itu, tentu diam-diam mengintai dari luar!

Mereka berdiri saling berhadapan, hati mereka penuh ketegangan, akan tetapi juga penuh dengan gelora nafsu birahi yang menyesakkan dada.

"Hong-moi... bagaimana rasanya tubuhmu...?"

In Hong yang merasa kepalanya pening itu duduk di tepi pembaringan. "Kepalaku pening, Houw-ko, dan tubuhku rasanya panas bukan main... seolah-olah ada api yang membakar di dalam tubuh... hampir tak tertahankan rasanya, Houw-ko..."

"Demikian pula keadaanku, Hong-moi. Kita tahu bahwa ini adalah akibat racun mereka. Kita harus melawannya, Hong-moi. Kau duduklah dan atur pernapasan, masukkan hawa murni sebanyaknya, pergunakan sinkang untuk mengusir hawa yang memabokkan."

Bun Houw sendiri lalu duduk bersila di atas lantai, sedangkan In Hong duduk bersila di atas pembaringan, keduanya memejamkan mata dan melawan dorongan hasrat nafsu birahi yang makin kuat.

Akan tetapi dua orang muda itu tidak tahu bahwa arak beracun buatan Coa-tok Sian-li itu memang amat luar biasa. Arak seperti itu terkenal dimiliki oleh para raja kuno di Sailan. Seperti raja-raja di negara mana pun juga di dunia ini di jaman kuno, mereka tidak hanya memiliki seorang isteri, melainkan memelihara banyak sekali selir.

Tentu saja jika mereka mendapatkan seorang selir baru, seorang perawan yang usianya baru belasan tahun, raja itu tidak dapat mengharapkan pelayanan yang baik dari dara remaja itu. Pertama-tama karena anak itu memang belum tahu apa-apa, kedua kalinya karena tentu saja wanita muda itu tidak suka melayani seorang pria tua, sungguh pun pria itu seorang raja. Karena ini, untuk menyenangkan hati raja yang pada masa itu dianggap sebagai utusan Tuhan atau manusia pilihan, maka para ahli pengobatan lalu membuatkan minuman arak yang mengandung racun atau obat perangsang yang amat kuat.

Obat ini juga sekaligus merupakan racun, akan tetapi pada ukuran tertentu merupakan obat mujarab yang bisa mendatangkan rangsangan birahi sehingga raja yang tua itu akan memperoleh pelayanan istimewa dari seorang gadis yang masih perawan sekali pun, juga bagi raja sendiri yang telah kekurangan gairah itu bisa dirangsang kembali oleh pengaruh obat. Akan tetapi kalau melewati ukuran tertentu obat ini akan dapat mematikan orang yang bagaimana kuat pun.

Coa-tok Sian-li adalah seorang ahli racun, karena itu tentu saja dia dapat membuat obat perangsang ini yang dibuatnya dari sejenis lalat istimewa yang hanya hidup di rawa-rawa di daerah utara Sailan. Lalat-lalat ini dikeringkan dan ditumbuk halus, dicampur beberapa macam akar yang mempunyai daya panas, kemudian dicampur arak. Sama sekali tidak merubah rasa arak sehingga mudah saja meracuni orang lain.

Bun Houw dan In Hong adalah dua orang muda yang sudah memiliki dasar sinkang kuat. Kalau hanya terkena pukulan beracun saja, atau hawa beracun mengeram di tubuh, tentu mereka berdua akan sanggup menyelamatkan diri dengan pengerahan sinkang mengusir hawa beracun itu. Akan tetapi, arak itu langsung menyerang darah serta otak, langsung menembus bagian otak yang menggerakkan nafsu birahi sehingga biar pun mereka telah mengerahkan sinkang, tetap saja tidak mampu mengusir rangsangan birahi itu.

Semakin malam, semakin tersiksalah mereka berdua. Lebih-lebih lagi In Hong yang pada dasarnya sebenarnya mempunyai gairah yang menggelora dan darah yang panas, hanya sejak kecil semua itu ditutupi oleh sikap dingin akibat didikan gurunya. Keadaan dara ini seperti gunung api tertutup salju, kelihatan dingin luarnya, akan tetapi di sebelah dalam menggelora dan panas sekali!

Kini, beberapa kali In Hong mengeluh dan merintih dan duduknya sudah tidak tetap lagi. Beberapa kali dia membuka mata memandang ke arah Bun Houw dengan mata sayu dan setengah terpejam, bagaikan mata orang mengantuk, agak basah. Hidungnya kembang-kempis dan mulutnya setengah terbuka, bibirnya bergerak-gerak dan napasnya memburu, terdengar rintihan halus dari dalam kerongkongannya. Semua ini merupakan tanda-tanda seorang wanita yang sedang diamuk rangsangan birahi!

Bun Houw juga sukar dapat mempertahankan dirinya. Dia pun sudah membuka matanya, memandang ke arah In Hong, melihat gadis itu kini merebahkan diri dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.

"Ohhh... Houw-ko... ahhh... Houw-ko... tolonglah aku, tolonglah..." In Hong merintih-rintih memelas sekali.

"Pertahankanlah, Hong-moi. Memang pengerahan sinkang tidak menolong, satu-satunya jalan hanyalah bertahan sampai pengaruhnya lenyap kembali bersama waktu. Kita harus mempertahankan... harus ahhhh..." Dan Bun Houw cepat memejamkan matanya kembali karena dalam keadaan terangsang hebat seperti itu, melihat In Hong menggeliat-geliat merupakan pemandangan yang menambah rangsangan semakin hebat.

"Houw-koko... aku tidak tahan lagi... Houw-koko... panas sekali... ahhhh, tubuhku panas sekali..." Dan In Hong mulai melepaskan bajunya, direnggutnya begitu saja sehingga ada yang robek dan nampaklah sebagian dari dadanya yang putih mulus!

"Hong-moi... jangan, Hong-moi!" Bun Houw meloncat, hampir jatuh karena dia terhuyung saat mendekati pembaringan itu, cepat-cepat dia menutupkan kembali baju In Hong yang setengah terbuka.

"Houw-koko, panas sekali... aku tak tahan...," In Hong mengeluh dan setengah terisak.

"Pertahankan, adikku, pertahankan..."

"Ohhh, Houw-ko..." In Hong merintih dan terisak, merangkul leher pemuda itu.

Bun Houw cepat memejamkan matanya dan memalingkan mukanya agar jangan sampai mukanya menyentuh muka gadis itu. Akhirnya In Hong terisak sambil menyembunyikan mukanya di dada Bun Houw.

"Houw-koko..." Suaranya memelas sekali, tergetar dan berbisik serak.

"Bagaimana, Hong-moi..."

"Houw-koko... selama hidupku... belum pernah aku mengalami seperti ini... aku tidak kuat, koko... ah, aku tidak peduli... kau lakukanlah sekehendak hatimu..." kedua lengan In Hong yang merangkul itu semakin menguat dan mukanya dibenamkan pada dada pemuda itu, tubuhnya tergetar dan panas sekali, matanya terpejam dan ada beberapa titik air mata di atas kedua pipinya.

Bun Houw merasakan suatu dorongan yang amat kuat dan dia pun merangkul akan tetapi dia menekan perasaan hatinya sedemikian rupa agar tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh dari pada berpelukan itu.

"Tidak, Hong-moi, tidak...! Kita harus tetap kuat...! Hong-moi, betapa aku cinta padamu, Hong-moi. Aku cinta padamu...!"

"Houw-ko..." In Hong terisak, tidak karuan perasaan hatinya mendengar pengakuan ini.

In Hong masih memejamkan matanya karena kepalanya pening dan dia dalam keadaan hampir tidak sadar, sama sekali tidak ingat lagi dia berada di mana dan berada dalam keadaan bagaimana. "Kalau kau cinta padaku... apa salahnya lagi... ah, aku... aku rela... menyerahkan jiwa ragaku..."

"Hong-moi, tidak...!" Bun Houw yang hampir tak kuat lagi itu melepaskan pelukannya dan meloncat jauh ke belakang, sampai tubuhnya menabrak dinding dan dia roboh terguling.

Dia segera duduk bersila sambil memejamkan mata, berusaha sekuatnya untuk melawan dorongan hasrat yang bernyala-nyala itu. In Hong terisak di atas pembaringan. Selama hidupnya, belum pernah dia menangis, dan baru sekarang ini dara perkasa yang biasanya berhati baja itu terisak dan merintih-rintih.

"Kau benar... Houw-ko, kau benar..."

Hening kini di kamar itu, yang terdengar hanyalah isak tertahan dari In Hong yang masih rebah di atas pembaringan. Pakaian gadis itu sudah tidak karuan, terbuka di sana sini akibat dia menggeliat-geliat tadi. Beberapa kancing baju yang terbuka didiamkannya saja karena memang dia pun tidak menyadarinya. Rambutnya morat-marit kondenya terlepas dan rambut yang panjang itu awut-awutan, namun hal ini sama sekali tidak mengurangi kecantikannya kalau tidak dapat dikatakan bahkan menambah keaslian wajah yang amat jelita itu.

Bun Houw sendiri masih berjuang melawan diri sendiri, karena sesudah dia berdiam diri duduk di lantai, dia merasa tubuhnya bagaikan dibakar dan keadaannya malah semakin menderita lagi. Mendengar suara rintihan disertai isak tangis tertahan dari In Hong, Bun Houw membuka mata dan mengangkat muka memandang. Dia melihat betapa In Hong rebah terlentang, dadanya sedikit diangkat dan terengah-engah, kedua tangan menutupi muka dan gadis itu jelas kelihatan tersiksa sekali. Dia tidak tahan untuk mengawasi saja maka Bun Houw bangkit berdiri, terhuyung menghampiri pembaringan itu, lalu berdiri di dekat pembaringan sambil memandang gadis itu dengan perasaan kasihan sekali.

"Hong-moi, ahhh, Hong-moi..."

Perasaan kasihan mempunyai daya yang kuat sekali mendorong birahi. Kini Bun Houw yang sudah tak kuat menahan lagi, dan dia lalu memeluk In Hong. Gadis itu pun otomatis menggerakkan kedua lengan memeluknya. Bun Houw mendekatkan muka, seperti orang mabok dia berada di antara sadar dan tidak, dan akhirnya dorongan nafsu telah membuat pertahanannya bobol dan dia mencium mulut dara itu.

Begitu bibir mereka saling bertemu, naluri kewanitaan In Hong bangkit dan untuk sekilat cepatnya dia sadar. Dia menjerit dan cepat mendorong dada Bun Houw, lalu bangkit dan kepalanya bergoyang-goyang.

"Tidak...! Jangan, Houw-ko...! Tidak boleh...!" teriaknya.

"Hong-moi... aku tidak tahan lagi... Hong-moi..." Bun Houw kembali hendak merangkul.

Akan tetapi untuk kedua kalinya In Hong mendorong dadanya sehingga tubuh Bun Houw terjengkang dan jatuh dari atas pembaringan, berdebuk ke atas lantai seperti orang yang sama sekali tidak memiliki kepandaian atau tenaga.

"Houw-ko...!" Melihat pemuda itu terbanting jatuh, In Hong cepat-cepat turun dan berlutut. "Kau... kau tidak apa-apa...?"

Dengan mulut mengigau seperti orang mabok Bun Houw kembali memeluknya. Sejenak In Hong membiarkan pemuda itu memeluknya, akan tetapi pada waktu Bun Houw hendak menciumnya, sekuat tenaga gadis ini menekan gairahnya sendiri lantas dia memalingkan muka.

"Houw-koko... kau begitu kuat, kenapa sekarang berbalik menjadi lemah? Koko, kita tidak boleh... kita harus mempertahankan sekuat tenaga..."

"Ahhh, Hong-moi..."

"Maafkan, aku, koko..." In Hong meronta dan melepaskan pelukan pemuda itu, kemudian dia menjauhkan diri.

Bun Houw menjambak rambutnya sendiri. "Ahhh, apa yang kulakukan tadi? Kau benar, Hong-moi... lebih baik mati dari pada tunduk kepada mereka..."

Untung bagi Bun Houw bahwa pada saat-saat terakhir itu In Hong disadarkan oleh naluri kewanitaannya yang semenjak kecil memang jauh dari pada penghambaan nafsu birahi sehingga dara itu menolak ketika pemuda ini sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dan untung bagi In Hong bahwa tadi, ketika dara ini memuncak nafsunya sehingga dia tidak sadar, Bun Houw yang masih ingat dan yang menyadarkannya.

Dengan demikian, tidak sampai terjadi perjinahan atau hubungan kelamin bagaikan yang diharapkan oleh dua orang suami isteri cabul di luar tempat tahanan itu, dan oleh Hek I Siankouw yang tidak turut mengintai karena tokouw ini sama sekali tidak cabul seperti mereka, sungguh pun di waktu mudanya Hek I Siankouw juga tak dapat menahan godaan nafsu sehingga sebagai pendeta dia melakukan perjinahan dengan mendiang Hwa Hwa Cinjin dan hidup seperti suami isteri tidak sah saja dengan pendeta itu.

Waktu itu sudah hampir tengah malam. Pengaruh obat perangsang itu sudah mencapai puncaknya sehingga kedua orang muda itu mengerang dan menggeliat-gellat di tempat masing-masing! In Hong di atas pembaringan dan Bun Houw di atas lantai. In Hong sudah hampir telanjang dan dara ini merosot turun dari pembaringan, tidak kuat lagi berdiri dan dengan merangkak dia menghampiri Bun Houw, tangannya meraba-raba karena matanya terpejam dan dia hanya dapat menghampiri karena mendengar suara rintihan Bun Houw saja.

"Koko..."

"Hong-moi..."

Mereka otomatis saling berdekapan dan kini adalah In Hong yang mendahului, mencium atau lebih tepat merapatkan mukanya dengan muka Bun Houw karena dorongan hati hendak membelai pemuda itu sambil merapatkan tubuhnya sedekat mungkin. Bun Houw tidak tahan lagi, lalu dia mencium mulut In Hong. Hanya satu kali saja mereka berciuman sampai napas mereka hampir putus, lalu Bun Houw cepat merenggut dirinya lepas.

"Hong-moi, hanya inilah satu-satunya jalan, maafkan aku..." Tangannya segera bergerak dan menotok tengkuk In Hong.

Karena dia sudah hampir pingsan, maka tentu saja totokannya tidak tepat dan In Hong mengeluh, terkulai. Begitu melihat dara itu sudah terkulai, Bun Houw bangkit, terhuyung menjauhi dan roboh dalam keadaan setengah pingsan pula.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner