DEWI MAUT : JILID-50


"Terkutuk!"

"Keparat!"

Suami isteri di luar tempat tahanan itu langsung menyumpah-nyumpah karena kecewa. Mereka sudah menanggung resiko dimarahi oleh kakek dan nenek iblis itu hanya karena mereka mempunyai kesukaan yang luar biasa, yaitu menonton kecabulan. Dan sekarang, setelah mereka berhasil meracuni dua orang muda itu, ternyata mereka gagal!

Hampir pada umumnya manusia mempunyai kesukaan yang sama atau mirip dengan kesukaan Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li! Hal ini dapat kita selidiki sendiri, karena merupakan kenyataan. Hampir semua orang, secara berbeda tentunya, ada yang terang-terangan ada pula yang sembunyi-sembunyi, ada yang kasar ada pula yang halus, suka menonton berlangsungnya kecabulan, baik itu berupa tontonan atau hanya mendengar penuturan orang mau pun membaca. Kalau toh ada yang menyangkal, penyangkalan itu timbul dari penekanan kemauan yang didasari oleh pengetahuan bahwa hal itu adalah tidak baik, maka terjadilah penyangkalan bahwa dia tidak suka melihat atau mendengar itu. Namun kenyataannya, rasa suka itu ada!

Dicobanya dilenyapkan dengan keyakinan atas dasar pelajaran, kesusilaan, agama dan lain-lain bahwa hal itu tidak baik dan tidak seharusnya dilakukan! Namun, cara demikian tidak akan melenyapkan kesukaan itu. Seperti api, kesukaan itu belum padam! Hanya ditutup saja. Bersembunyi di balik pelajaran-pelajaran tentang kesusilaan dan sebagainya tidak akan ada gunanya. Lari dari kenyataan ini tidak ada gunanya.

Yang paling penting adalah menghadapinya sebagai sebuah kenyataan! Menghadapinya, mendekatinya dan memandang penuh kewaspadaan. Pandangan penuh kewaspadaan tanpa mencela, tanpa menerima atau menolaknya, akan menimbulkan pengertian akan segala hal-ihwal mengenai kesukaan aneh ini. Dari manakah timbulnya rasa suka melihat kecabulan?

Sesungguhnya, kecabulan bukan berada di luar diri kita! Tidak ada kecabulan di dalam hubungan kelamin (sex). Apakah cabul kalau kita melihat binatang, terutama yang kecil sedang mengadakan hubungan kelamin? Kiranya tidak! Akan tetapi mengapa kalau kita melihat binatang yang besar, terutama manusia, melakukan hubungan sex, lantas timbul istilah cabul?

Barangkali karena melihat binatang besar terutama manusia melakukan hubungen sex memiliki daya rangsang yang merangsang gairah dan nafsu birahi kita! Inilah sebabnya mengapa timbul istilah cabul. Yaitu pemandangan yang merangsang gairah nafsu birahi dianggap cabul!

Padahal, tidak ada peristiwa apa pun di dunia ini yang merangsang gairah nafsu birahi. Hubungan sex merupakan sesuatu yang wajar dan sama sekali tidak merangsang gairah nafsu birahi. Yang merangsang adalah PIKIRAN KITA SENDIRI!

Pikiran kita menambah penglihatan itu dengan bayangan-bayangan yang mendatangkan kenikmatan lahir batin kita, mengenang kembali semua pengalaman sex kita, atau bagi yang belum pernah mengalaminya secara badaniah, tentu membayangkan pengalaman yang pernah dibacanya, dilihatnya, atau didengarnya dari orang lain. Permainan pikiran kita sendiri itulah yang merangsang dan membangkitkan gairah birahi kita sendiri.


Dan bagi orang-orang seperti Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, perbuatan menonton kecabulan itu yang menimbulkan semacam kenikmatan tertentu, menjadi satu kebiasaan yang telah mencandu sehingga sukar untuk dihentikan kembali dan telah menjadi sesuatu yang dicari-cari.

Kenyataan itu hanya bisa terlihat oleh siapa saja yang mau membuka mata mempelajari dan mengenal diri pribadi, sehingga akan tampaklah bahwa segala hal yang oleh umum dianggap yang buruk-buruk, seperti kecabulan, kemaksiatan, kepalsuan, kemunafikan, iri hati, kemarahan, kebencian dan segalanya itu tidak terletak di tempat yang jauh di luar kita, melainkan terletak di dalam diri kita sendiri!

Dan semua itu pasti timbul karena kita selalu mengejar kesenangan dalam bentuk apa pun juga, kesenangan lahir mau pun kesenangan batin. Pengejaran kesenangan menjadi sumber dari semua kesengsaraan hidup yang timbul karena pertentangan dan kedukaan. Bukan KESENANGAN yang merusak hidup, melainkan PENGEJARAN kesenangan!


In Hong rebah pingsan di atas lantai, sedangkan Bun Houw juga sudah setengah pingsan. Karena inilah maka mereka berdua tidak mendengar suara apa-apa, bahkan tidak melihat ketika lantai di sudut belakang kamar itu dibobol dari bawah dan tidak lama kemudian muncullah sebuah kepala orang. Kepala seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Liong Si Kwi!

Seperti kita ketahui, gadis murid Hek I Siankouw ini sudah diselamatkan oleh Bun Houw ketika dia hampir diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi dan gadis ini selain merasa berhutang budi, juga gadis itu sekaligus jatuh cinta kepada pemuda itu. Apa lagi ketika pemuda itu, yang sudah dikurung dan diancam keselamatannya, namun masih juga membelanya di hadapan subo-nya, benar-benar membuat hati gadis ini jatuh! Diam-diam dia mengambil keputusan nekat untuk menolong pemuda itu.

Kini terbukalah matanya betapa demi untuk memuaskan nafsu dendam dan sakit hatinya, subo-nya itu tidak segan-segan untuk bersekutu dengan manusia-manusia iblis! Dia harus menyelamatkan Cia Bun Houw, dia harus membebaskan putera ketua Cin-ling-pai yang gagah perkasa itu, kalau perlu dengan taruhan nyawanya.

Hatinya semakin kagum, akan tetapi juga iri sekali melihat betapa pemuda yang gagah perkasa itu sudah mengorbankan dirinya, menyerah untuk menebus Yap In Hong yang dibebaskan. Kemudian, dia pun merasa iri kepada In Hong yang ternyata juga merupakan seorang gadis yang amat gagah, yang datang kembali dengan nekat untuk membebaskan pemuda itu. Dia merasa iri karena dia dapat menduga bahwa tentu ada hubungan cinta kasih antara pemuda dengan dara itu. Akan tetapi, rasa cemburu dan iri hati ini tidak menghentikan tekadnya untuk menolong Bun Houw dengan cara apa pun juga.

Pada waktu dia melihat bahwa yang menjaga kamar tahanan adalah Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya, dan betapa Cia Bun Houw serta Yap In Hong dimasukkan dalam kamar tahanan tanpa dibelenggu dan bebas, timbullah harapannya. Asal saja dia dapat mengeluarkan mereka itu dari dalam kurungan, tentu dua orang yang memiliki kesaktian luar biasa itu akan mampu membebaskan diri, atau lebih penting baginya, asal Bun Houw dapat keluar dari kurungan, tentu pemuda itu akan dapat melarikan diri!

Demikianlah, karena kebetulan sekali kamar yang dia dapat sebagai tamu Lembah Naga itu berdekatan dengan kamar tahanan, sejak sore-sore dia sudah menutup diri di dalam kamarnya, memberi alasan bahwa dia merasa tidak sehat, namun secara diam-diam dia telah menyelundupkan sebuah cangkul ke dalam kamarnya. Mulailah dia menggali lantai kamarnya, membuat terowongan di dalam tanah menuju ke kamar tahanan.

Dia bekerja keras sampai kedua tangannya lecet-lecet berdarah, namun tidak pernah dia berhenti sebentar pun. Dengan penuh semangat dia terus menggali dan akhirnya, lewat tengah malam, dia dapat menembus kamar tahanan dan muncul di dalam kamar itu pada waktu In Hong masih pingsan dan Bun Houw dalam keadaan setengah sadar karena saat itu pengaruh racun perangsang sudah mencapai puncak kekuatannya yang hampir tidak tertahankan olehnya. Baiknya In Hong sudah menggeletak pingsan, kalau tidak entah apa yang akan terjadi antara dia dan gadis itu!

Liong Si Kwi yang sudah berhasil masuk ke dalam kamar itu, ketika melihat Bun Houw menggeletak bagaikan orang yang tidak bernyawa lagi, langsung meloncat mendekati dan berlutut di dekat pemuda itu. Cepat dia memeriksa dan legalah hatinya pada saat melihat bahwa Bun Houw ternyata masih bernapas, malah bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lemah yang tak dimengertinya karena pada saat itu hati Si Kwi tegang bukan main, khawatir kalau-kalau perbuatannya diketahui penjaga sebelum dia berhasil membebaskan Bun Houw lalu dihalangi oleh orang-orang berkepandaian tinggi di tempat itu.

Dia tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh suami isteri majikan Padang Bangkai itu, sebab itu dia bingung melihat Bun Houw yang siang tadi masih sehat kini menggeletak di lantai dalam keadaan seperti orang yang tidak sadar. Juga dia melihat In Hong pingsan.

Tadinya memang dia berniat untuk membebaskan mereka berdua, karena dengan adanya mereka berdua yang berilmu tinggi, kesempatan atau harapan untuk lolos lebih banyak lagi. Kini, melihat keadaan Bun Houw setengah pingsan ada pun gadis perkasa itu malah pingsan sama sekali, Si Kwi menjadi bingung sekali, akan tetapi akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bun Houw saja. Cepat dia mendukung tubuh Bun Houw dan membawanya masuk ke dalam lubang terowongan yang dibuatnya.

Sungguh pun tidak mudah membawa Bun Houw yang merangkulnya, dan yang mengelus rambutnya, mendekapnya dan kadang-kadang mencium pipi dan lehernya seperti orang mabok itu, akan tetapi akhirnya berhasil jugalah Si Kwi membawa pemuda itu keluar dari lubang terowongan dan tiba di dalam kamarnya.

"Eh... ehh, taihiap...!" Si Kwi terkejut sekali karena kini Bun Houw membuka matanya yang merah dan pemuda itu langsung merangkul dan menciumi bibirnya dengan penuh nafsu.

Si Kwi telah lama merindukan seorang pria yang akan memeluk dan menciumi seperti itu, maka kekagetan dan perlawanannya hanya sebentar saja, dan tidak lama kemudian dia malah sudah balas memeluk dan balas menciumi, tak kalah hebatnya dengan orang yang terpengaruh obat perangsang. Keduanya lantas terguling di atas pembaringan Si Kwi, dan mereka melupakan segala-galanya.

Kalau tadi Bun Houw masih tidak melanggar keyakinannya dan dapat bertahan sehingga dia tidak melakukan hubungan dengan In Hong seperti yang dikehendaki oleh mereka yang sengaja meracuninya, adalah dikarenakan di fihak In Hong masih ada penolakan dan memang di lubuk hati Bun Houw, dia sama sekali tidak mau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap dara yang dicintainya itu.

Akan tetapi kali ini, pada saat pengaruh obat perangsang itu memuncak dan sepenuhnya menguasainya, dia mendapat pelayanan dari Si Kwi, bahkan gadis itu merayunya lebih hebat seperti orang mabok pula, maka tentu tidak ada lagi yang menahan Bun Houw dan Si Kwi! Berlangsunglah hubungan kelamin seperti yang dikehendaki oleh Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li, hanya bedanya, putera ketua Cin-ling-pai itu tidak melakukannya dengan In Hong, melainkan dengan murid Hek I Siankow!

Saat itu Bun Houw sudah lupa segala-galanya, hampir tidak sadar sama sekali dan yang ada hanyalah keinginan untuk memenuhi desakan nafsu birahinya yang bernyala-nyala itu. Andai kata Si Kwi menolaknya seperti yang dilakukan oleh In Hong tadi, tentu sedikit sisa kesadaran yang masih membekas itu cukup untuk membuat pemuda ini sadar dan menghentikan perbuatannya.

Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Si Kwi yang sudah jatuh hati benar-benar itu dan yang maklum bahwa perbuatannya menolong pemuda itu merupakan permainan yang mempertaruhkan nyawa, ingin dalam saat terakhir dan kesempatan selagi dia masih hidup itu untuk menyerahkan jiwa dan raganya kepada pemuda yang dikagumi dan dicinta ini.

Terjadilah hubungan itu dan bagaikan sebuah gunung berapi yang penuh dengan api dan uap, meledaklah Bun Houw. Menjelang pagi, barulah dia sadar karena pangaruh racun perangsang itu sudah menipis.

Begitu sadar dan melihat bahwa dia memeluk tubuh Si Kwi yang memandangnya dengan penuh kemesraan, pemuda ini terkejut bukan main, terkejut karena dia segera tahu apa yang telah terjadi. Sambil berteriak nyaring pemuda ini yang tadi bangkit duduk, terguling dan roboh pingsan!

Penyesalan yang amat hebat, ditambah rasa kaget yang luar biasa besarnya, ditambah pemborosan tenaga yang didorong oleh racun, ketegangan-ketegangan yang dideritanya sejak dia menghadapi In Hong dalam keadaan keracunan, pengerahan tenaga kemauan yang amat hebat pada waktu dia menekan dorongan nafau bersama In Hong, semua itu menghantamnya di sebelah dalam sehingga dia roboh pingsan.

"Ha-ha-ha-ha! Sungguh hebat... sungguh hebat bukan main!" Mendadak terdengar suara tertawa Ang-bin Ciu-kwi di luar jendela kamar itu.

Si Kwi yang tadinya terlena oleh kepuasan hasrat yang terpenuhi, yang semakin menebal rasa kasih sayangnya terhadap pemuda itu yang kini dianggapnya sebagai miliknya dan yang memilikinya, sebagai suaminya walau pun tidak secara sah, kini bagaikan disiram air dingin. Dia sadar akan semua yang sudah terjadi. Dia pun tidak menyesal, hanya khawatir karena dia sudah ketahuan dan akan celakalah Bun Houw! Dengan cepat dia melompat dan kembali terdengar suara Ang-bin Ciu-kwi di luar jendela.

"Liong Si Kwi, engkau sangat hebat! Akan tetapi sayang, dia keburu pingsan! Biarlah aku yang akan memuaskan dirimu, manis. Bukalah jendela ini, biarkan aku masuk."

Si Kwi menyambar pakaiannya, memakai pakaian itu secepatnya dan segera menyambar siang-kiam di atas mejanya dan dicabutnya sepasang pedang itu lalu menghadapi jendela dengan beringas, siap untuk mengadu nyawa dengan Ang-bin Ciu-kwi.

"Ha-ha-ha-ha, tenanglah, manis. Aku datang hanya untuk menonton pertunjukan menarik yang berlangsung di dalam kamar ini tadi, sungguh asyik sekali... hemm, dan kau sudah membangkitkan gairahku. Bukalah jendela ini, manis, kemudian mari kita bermain-main sebentar. Atau kau lebih suka kalau aku pergi kepada Hek I Siankouw dan melaporkan apa yang telah terjadi di sini?"

Si Kwi yang sudah siap menerjang ke luar jendela itu menjadi terkejut sekali. Maklumlah dia bahwa kalau sampai Setan Arak ini yang melapor kepada gurunya, nyawanya tidak tertolong lagi, demikian pula nyawa Bun Houw. Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk mandahului laporan orang lain, apa lagi laporan Ang-bin Ciu-kwi yang tentu akan memberi bumbu-bumbu lain yang lebih memanaskan hati subo-nya lagi.

Memang, kalau dia menuruti kehendak Ang-bin Ciu-kwi, boleh jadi peristiwa antara dia dan Bun Houw tadi akan tertutup, akan tetapi, lebih baik dia mati saja dari pada harus menuruti permintaan Ang-bin Ciu-kwi! Pula, setelah kini keadaannya sama sekali berubah dari pada keadaan asyik-masuk seperti tadi, dara ini sadar pula bahwa adanya Bun Houw tadi melakukan perbuatan seperti itu adalah karena pemuda itu berada dalam keadaan tidak sadar, seperti orang mabok. Kini mengertilah dia bahwa pemuda itu tentu terkena bius, terkena racun yang menyebabkan pemuda itu mudah saja melakukan perbuatan tadi bersama dia.

Kini dia dapat menduga mengapa dia mendapatkan diri Bun Houw menggeletak hampir tidak sadar dengan tubuh panas dan sikap begitu hangat, merangkul dan hendak terus menciuminya, dan dia mengerti pula mengapa In Hong juga pingsan. Ternyata mereka berdua itu telah diberi racun, dan siapa lagi yang memberi racun kalau tidak suami isteri Padang Bangkai yang terkenal sebagai ahli-ahli tentang racun itu?

Dia teringat akan pengalamannya sendiri ketika hampir diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi. Dia pun diberi minum arak dan segera dia diserang oleh racun perangsang yang sangat hebat sehingga hampir-hampir saja dia menyerahkan diri secara suka rela kepada setan itu!

"Aku harus cepat melapor kepada subo!" pikirnya dan dara itu cepat meloncat, bukan ke jendela melainkan ke pintu yang didorongnya terbuka dan cepat-cepat dia melarikan diri ke kamar subo-nya.

Dia terpaksa meninggalkan Bun Houw, karena dia maklum bahwa melarikan diri sendiri saja belum tentu dia selamat, apa lagi kalau harus membawa tubuh Bun Houw. Lebih baik dia cepat pergi ke subo-nya dan minta tolong pada subo-nya. Siapa tahu kalau dia sudah memberi tahu subo-nya akan semua hal dengan terus terang, subo-nya suka menolong Bun Houw dan suka mengakuinya sebagai mantu!

"Subo...! Subo... tolonglah teecu, subo...!" katanya sambil mengetuk pintu itu dengan kuat.

Daun pintu terpentang lebar dan Hek I Siankouw sudah berdiri di ambang pintu sambil memegang pedang hitamnya. Alisnya berkerut ketika dia melihat muridnya berdiri di situ dengan muka pucat sekali dan dengan siang-kiam di kedua tangan.

"Si Kwi, apakah yang telah terjadi?" tanyanya dan dia membiarkan muridnya memasuki kamamya. Dia menjenguk keluar tapi karena tidak melihat siapa pun juga di luar, tokouw itu lalu menutupkan kembali pintu kamarnya.

Tiba-tiba Si Kwi menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menangis! Gurunya adalah satu-satunya orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat, guru, juga orang tua! Sekarang, dalam keadaan seperti ini, terancam bahaya hebat, bukan hanya untuk dia, terutama untuk Bun Houw, tidak ada orang lain kecuali gurunya ini yang diharapkan dapat menolongnya dan menolong Bun Houw.

"Subo... sebelumnya harap subo mengampunkan dosa teecu..."

"Si Kwi, jangan seperti anak kecil. Katakan apa yang telah terjadi!" gurunya membentak.

"Subo, teecu sudah jatuh cinta... sejak teecu diselamatkan oleh Bun Houw putera ketua Cin-ling-pai... ketika teecu akan diperkosa oleh Ang-bin Ciu-kwi, teecu sudah jatuh cinta kepada putera ketua Cin-ling-pai itu..."

Gurunya mengerutkan alisnya. "Memang kalau begitu mengapa engkau menangis?"

Gadis itu cepat mengangkat muka, memandang wajah subo-nya dengan penuh harapan. "Jadi... subo... setuju...?"

"Dia seorang pemuda yang tinggi ilmunya, putera ketua Cin-ling-pai, kalau memang dia cinta padamu, kenapa aku tidak setuju? Sayangnya, dia berada di fihak lawan."

"Ah, terima kasih, subo...!" Si Kwi berseru girang dan memberi hormat. "Sesungguhnya... teecu... teecu telah menjadi isterinya..."

Tiba-tiba saja wajah tokouw itu menjadi merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar marah. "Apa?! Jadi kalau begitu benar laporan Ang-bin Ciu-kwi?" bentak gurunya.

"Ah, tidak...! Tidak begitu, subo...! Bukankah subo sendiri sudah tahu, juga Hek-hiat Mo-li locianpwe, bahwa teecu... teecu masih perawan? Akan tetapi malam tadi..."

"Malam tadi mengapa? Hayo katakan!"

"Malam tadi, lewat tengah malam... teecu... teecu telah menjadi isterinya."

"Eh, Apa maksudmu? Pemuda itu berada di dalam kamar tahanan bersama In Hong, dan mereka..." Dia teringat akan minuman yang diberi racun perangsang oleh Coa-tok Sian-li, maka timbul kecurigaannya. "Si Kwi!" Dia membentak, "Ceritakan, apa yang terjadi!"

Dengan suara terputus-putus Si Kwi lalu menceritakan betapa dia sudah membuat jalan terowongan dari kamarnya ke dalam kamar tahanan, dan berhasil menolong Bun Houw keluar dari kamar tahanan memasuki kamarnya sendiri.

"Akan tetapi, subo... ketika tiba di kamar teecu... dia... dia seperti mabok atau terbius... dan dia... dia merayu... ah, teecu cinta padanya, subo, teecu tidak mampu menolongnya dan... dan teecu menyerahkan diri kepada Cia Bun Houw... kemudian pagi tadi, muncul di luar jendela kamar teecu, si keparat Ang-bin Ciu-kwi, dia ternyata telah melihat peristiwa itu dan dia... dia menuntut agar teecu suka menyerahkan diri kepadanya. Teecu tidak sudi dan teecu lari ke sini... teecu menyerahkan nyawa teecu ke tangan subo..."

"Dessss...!" Tubuh Si Kwi terlempar oleh tendangan gurunya.

Muka gurunya sebentar pucat sebentar merah dan hati tokouw ini terasa panas dingin karena terjadi perang di dalam perasaan hatinya. Ada perasaan marah yang amat hebat mendengar penuturan muridnya itu yang telah menyerahkan diri begitu saja dengan amat mudahnya kepada seorang pria, dan biar pun pria itu adalah seorang pemuda yang harus dia akui pilihan, akan tetapi bagaimana pun pemuda itu adalah seorang lawan, atau yang berada di fihak lawan.

Akan tetapi di lain fihak, hatinya juga terharu sebab dia telah menganggap Si Kwi sebagai puterinya sendiri dan sebenarnya ada pertalian batin yang kuat antara dia dengan gadis itu. Sekarang dia tahu bahwa kalau tidak dia lindungi, maka nyawa dara itu berada dalam ancaman bahaya hebat!

"Murid murtad, engkau hanya akan mencelakakan gurumu saja!"

"Harap subo sudi mengampuni teecu!" kata pula Si Kwi. "Teecu bersedia untuk mati di tangan subo, untuk menebus kesalahan dan dosa besar teecu, akan tetapi, teecu mohon dengan sangat, mengingat akan hubungan antara kita sebagai guru dan murid, dan juga sebagai orang tua dan anak, teecu mohon sukalah subo menolong dan menyelamatkan Cia Bun Houw. Teecu sungguh cinta padanya, subo, teecu mencintanya, melebihi nyawa teecu sendiri!" Dan murid ini menangis lagi, menangis dengan penuh kesedihan.

Sepasang mata Hek I Siankouw menjadi basah pada waktu dia mendengar dan melihat keadaan muridnya itu. Teringatlah dia ketika dia dahulu bermain cinta dengan Hwa Hwa Cinjin dan dia pun amat mencinta Hwa Hwa Cinjin. Adanya dia tidak menjadi isteri yang sah dari Hwa Hwa Cinjin adalah karena sebagai pendeta-pendeta, tentu saja mereka tak dapat menikah. Namun rasa cinta di hatinya terhadap Hwa Hwa Cinjin sangat mendalam sehingga mereka berdua itu seperti suami isteri saja! Mereka saling setia dan selamanya tidak pernah mencinta orang lain sampai keduanya menjadi kakek dan nenek.

"Aku pun mencinta Hwa Hwa Cinjin melebihi nyawaku sendiri..."

"Ahhh, subo, ampunkan teecu... teecu telah mengecewakan hati subo..." Kembali Si Kwi meratap dengan suara pilu. "Teecu rela mati di depan kaki subo, akan tetapi kalau subo sudi menyelamatkan Cia Bun Houw, biarlah roh teecu akan selalu membantu subo..."

"Bocah yang bodoh! Mana mungkin menyelamatkan nyawa pemuda itu? Apa kau kira kita dapat menghadapi Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko? Tentang pemuda itu, tak perlu kita ributkan, yang penting, lekaslah kau pergi dari sini. Sekarang juga!"

"Akan tetapi... subo..."

"Tutup mulut! Tidak ada tetapi lagi. Pergilah kau dari sini dan selamanya jangan lagi kau memperlihatkan muka kepadaku!"

"Subo...!"

"Aku tidak mempunyai murid semacammu! Pergiiiii...!" Hek I Siankouw membentak dan mengusir.

Si Kwi terisak, akan tetapi terpaksa dia bangkit dan pergi dari kamar itu, diikuti oleh Hek I Siankouw yang kini basah kedua matanya.

Tokouw ini memang sengaja mengusir muridnya karena dia tidak ingin muridnya terlibat dalam kesukaran. Dan dia kemudian sengaja membayangi muridnya itu agar dapat keluar dari Lembah Naga dengan selamat.

Di tengah jalan, murid dan guru yang membayanginya itu bertemu dengan Hek-hiat Mo-li, Pek-hiat Mo-ko, Ang-bin Ciu-kwi, dan Coa-tok Sian-li. Dari wajah kedua orang kakek dan nenek Lembah Naga itu mengertilah Hek I Siankouw bahwa keduanya tentu sudah tahu akan perbuatan Si Kwi. Akan tetapi Si Kwi sendiri berdiri dengan tenang meski air mata masih membanjiri pipinya.

"Mo-ko dan Mo-li, karena perbuatan muridku yang mencemarkan namaku, terpaksa aku mengusir dia pergi dari sini!" Hek I Siankouw memecahkan kesunyian yang mencekam hatinya itu.

"Hemm... agaknya tadi malam banyak terjadi hal-hal hebat di sini," kata Hek-hiat Mo-li. "Dan kejadian-kejadian itu adalah gara-gara muridmu yang baik ini!" Ucapan lanjutan itu bernada keras.

"Kalau aku boleh berterus terang, Mo-li, bukan hanya gara-gara muridku, tetapi gara-gara aku juga, dan Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li!"

"Eh-eh, Hek I Siankouw, kenapa kau begitu pengecut membawa-bawa nama kami dalam persoalan ini? Sudah jelas bahwa muridmu hendak meloloskan kedua orang tawanan itu, untung masih terlihat oleh kami, karena muridmu tidak dapat menahan nafsunya! Kalau tidak, bukankah tawanan-tawanan itu sudah lolos semua oleh muridmu ini?" kata Coa-tok Sian-li.

"Coa-tok Sian-li, aku hanya bicara apa adanya dan sama sekali bukan hendak membela muridku secara membuta. Memang muridku bersalah, akan tetapi kita bertiga juga turut bersalah, bukan? Setelah akibat dari perbuatan kita seperti ini, mengapa kita tidak berani berterus terang saja kepada Mo-ko dan Mo-li?"

"Hemmm... apakah sesungguhnya yang sudah terjadi dan apa yang kalian bicarakan ini, Siankouw?" Pek-hiat Mo-ko membentak marah.

"Terus terang saja, Mo-ko. Kami bertiga, yaitu aku, Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li sudah main-main dengan dua orang tawanan itu. Karena aku ingin melihat gadis keparat itu tercemar, dan karena Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya ingin pula menonton hal-hal yang mereka berdua senangi, maka kami bertiga sudah bersepakat untuk mencampuri racun perangsang, yaitu Arak Malam Pengantin buatan Coa-tok Sian-li ke dalam hidangan yang disuguhkan kepada dua orang tawanan itu."

Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li mengerutkan alis mereka, akan tetapi tidak kelihatan marah. "Hemmm, lalu?" tanya Hek-hiat Mo-li.

"Sementara itu, muridku yang murtad ini jatuh cinta kepada Bun Houw. Sama sekali dia tidak berniat untuk membebaskan dua tawanan itu, melainkan dia membuat terowongan dari kamarnya ke tempat tahanan, mengajak Cia Bun Houw yang sedang mabok akibat racun Arak Malam Pengantin itu ke kamarnya dan menyerahkan dirinya kepada pemuda itu. Hal ini diketahui oleh Ang-bin Ciu-kwi yang lalu menyangka muridku hendak melarikan tawanan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Buktinya tawanan itu masih ditinggalkan pingsan di kamarnya dan muridku lalu melapor kepadaku. Dia sama sekali tidak hendak melarikan tawanan, karena kalau benar demikian, tentu dia telah mengajaknya pergi dari sini." Hek I Siankouw berhenti sebentar untuk melirik ke arah Ang-bin Ciu-kwi.

Dia sengaja tidak menceritakan tentang ancaman Ang-bin Ciu-kwi yang hendak menuntut agar Si Kwi menyerahkan dirinya kepada Setan Arak itu karena hal ini dilakukan sebagai ‘pukulan simpanan’ kalau-kalau Ang-bin Ciu-kwi tidak mau bekerja sama untuk melindungi muridnya!

Ang-bin Ciu-kwi bukan seorang bodoh. Dia melihat bahwa yang dikemukakan oleh Hek I Siankouw memang cukup kuat dan beralasan, dan memang harus diakuinya bahwa dia mendapatkan Si Kwi dan Bun Houw sama sekali bukan dalam keadaan hendak melarikan diri. Sama sekali bukan, bahkan mereka itu bermain cinta sampai pagi! Dan dia pun tahu bahwa Hek I Siankouw memang sengaja tidak menceritakan niatnya hendak memaksa Si Kwi untuk menyerahkan diri dan dia maklum apa kehendak tokouw berpakaian hitam itu.

"Keterangan yang diberikan Siankouw barusan memang benar, ji-wi locianpwe," katanya mendahului isterinya karena dia khawatir kalau-kalau isterinya tidak mengerti akan uluran tangan Hek I Siankouw. "Memang tadinya kami hanya ingin main-main sebab Arak Malam Pengantin itu tidak menyakitkan dan tidak membunuh, malah dapat dikata menyehatkan, heh-heh... dan kalau tadi kami melapor kepada ji-wi locianpwe adalah karena kami kurang mengerti akan niat nona Liong Si Kwi. Kiranya dia hanya ingin begituan dengan pemuda itu."

"Memang harus kuakui bahwa muridku ini telah bersalah dan karena cintanya dia menjadi murtad terhadap gurunya yang dianggap orang tuanya. Karena itu, sebagai hukumannya aku mengusirnya dan tidak mengakuinya lagi sebagai murid. Harap saja kalian berdua tidak mencampuri urusan antara guru dan murid ini, karena jelas bahwa tawanan tidak dilarikan. Dan harap kalian orang-orang tua cukup bijaksana terhadap orang muda yang gila cinta!"

Setelah dua orang kakek dan nenek itu mendengarkan keterangan Hek I Siankouw dan Ang-bin Ciu-kwi, kemarahan mereka mereda, akan tetapi Hek I Siankouw maklum bahwa tidaklah begitu mudah untuk memuaskan hati dua orang kakek nenek itu, maka dia masih tetap waspada. Biar pun dia marah sekali kepada muridnya atas perbuatan muridnya itu, namun rasa kasih sayang dalam hatinya membuat dia masih selalu ingin melindungi dan agar muridnya itu menerima hukuman yang seringan mungkin atas kesalahan yang telah dilakukannya.

Dan benar saja dugaannya. Hek-hiat Mo-li terdengar berkata nyaring, "Mendengar semua keteranganmu, Siankouw, kami boleh memandang mukamu untuk mengampuni muridmu, akan tetapi tidak ada budi yang tidak terbalas. Karena itu, sebelum kami membebaskan muridmu, dia harus meninggalkan sesuatu sebagai tanda bahwa dosanya telah terhukum dan lunas, ditambahi janji bahwa engkau akan terus membantu kami sampai selesai."

Hek I Siankouw mengerutkan alisnya, lalu tiba-tiba saja dia berkata, "Si Kwi, kau sudah merasa berdosa terhadap aku?"

"Teecu menyerahkan jiwa raga teecu ke tangan subo."

"Ke sinilah!"

Gadis itu menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut.

"Singgg...! Crattt!" Nampak sinar hitam berkelebat dan pedang hitamnya menyambar ke depan.

Si Kwi menjerit kemudian tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang telah terbabat pedang dan buntung sebatas pergelangan tangannya! Dia masih berlutut dan mukanya pucat sekali memandang tangan kirinya yang sudah buntung itu.

Dengan tenang Hek I Siankauw mengambil tangan muridnya itu, kemudian menghampiri Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li sambil menyodorkan tangan berdarah itu. "Mo-ko dan Mo-li, kuharap kalian puas dengan tangan yang ditinggalkan muridku ini, dan aku berjanji akan membantu kalian sampai selesai."

"Ha-ha-ha, engkau benar-benar mencinta muridmu. Sebenarnya, harus kedua tangannya dibuntungi, akan tetapi karena engkau bertindak sendiri dengan suka rela, biarlah ini pun cukup," keta Hek-hiat Mo-li sambil menerima tangan yang berkulit halus itu.

Hek I Siankouw menghampiri muridnya, menotok jalan darah di siku dan pundaknya, lalu menggunakan obat bubuk ditaruh di lengan yang buntung dan membalutnya dengan sapu tangannya. Setelah selesai, dia pun berkata dengan suara gemetar, "Nah, pergilah! Mau tunggu apa lagi?"

Si Kwi maklum bahwa nyawanya telah ditolong oleh subo-nya dan sebagai penggantinya, subo-nya membuntungi tangan kirinya dan yang lebih berat lagi, subo-nya berjanji akan membantu kakek dan nenek iblis itu sampai selesai, berarti subo-nya telah menyerahkan nyawa demi untuk menyelamatkannya. Maka sambil menangis dia berlutut dan mencium kaki subo-nya sambil berkata,

"Subo, terima kasih... sampai mati teecu tidak akan melupakan budi subo..."

"Pergilah! Pergilah...!" Hek I Siankouw menjerit dan membalikkan tubuhnya, memalingkan muka tak mau memandang muridnya dan dengan cepat tangannya menghapus dua butir air matanya.

Si Kwi bangkit lalu dengan cepat pergi dari sana. Air matanya bercucuran di sepanjang kedua pipinya…..

********************

Ketika Bun Houw siuman dari pingsannya, dia melihat In Hong sedang duduk di pinggir pembaringan dengan muka penuh kekhawatiran. Pemuda ini segera teringat akan semua pengalamannya yang hanya setengah disadarinya itu, seperti sebuah mimpi yang hampir terlupa. Akan tetapi teringat bahwa dia sudah bermain cinta dengan seorang gadis, dia cepat bangkit berdiri dengan gerakan kuat.

"Ah, kau mengasolah dulu, Houw-ko... kau agaknya terserang sakit, wajahmu amat pucat dan tubuhmu lemah sekali." In Hong memegang pundaknya dan dengan halus menyuruh pemuda itu berbaring kembali.

Akan tetapi Bun Houw tidak mau rebah dan terus duduk di tepi pembaringan itu, matanya dipejamkan dan alisnya berkerut. "Hong-moi... apa yang terjadi...? Bagaimana aku bisa berada di sini lagi?"

Dia membuka mata dan memandang ke sudut kamar tahanan itu. Ternyata memang di tempat itu terdapat bekas galian yang sudah ditutup kembali. Jantungnya berdebar penuh penyesalan.

Tadinya dia mengharapkan bahwa apa yang diingatnya itu hanyalah mimpi belaka, akan tetapi begitu melihat bekas lubang yang berada di sudut kamar tahanan dan yang sudah ditutup kembali itu, tahulah dia bahwa semua pengalaman itu bukanlah sekedar mimpi! Melainkan kenyataan! Dan dia telah bermain cinta dengan seorang gadis, kalau dia tidak salah, Liong Si Kwi! Dia telah berjinah!

"Ohhhh...!"

"Kenapa, Houw-ko?" In Hong memegang lengan pemuda itu ketika melihat pemuda itu menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya, seolah-olah dia hendak mengusir sesuatu dari depan matanya.

Tanpa melepaskan kedua tangan dari depan mukanya, Bun Houw lantas bertanya lagi, "Hong-moi... demi Tuhan... kau ceritakanlah padaku, apa yang telah terjadi semalam?"

"Houw-ko, aku sendiri pun tidak mengerti. Bahkan aku yang hendak bertanya kepadamu. Engkau tahu, setelah kita tersiksa semalam, aku lalu... tertidur atau pingsan dan aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Akan tetapi, pada saat aku siuman, aku melihat engkau telah rebah di lantai dan..." Wajah gadis itu menjadi merah sekali dan lehernya seperti tercekik, dan dia tidak dapat melanjutkan ceritanya.

Bun Houw menurunkan kedua tangannya dan menoleh. Melihat wajah itu menjadi merah dan bibir gadis itu tersenyum menahan rasa malu, dia cepat mendesak, "Dan bagaimana, Hong-moi? Ceritakanlah... ceritakanlah...!"

"Kau... kau dalam keadaan... ahhh... telanjang, Houw-ko. Dan pakaianmu bertumpuk di dekatmu. Tentu saja aku terkejut sekali dan melihat bahwa aku tidak apa-apa, hatiku lega. Maka selama engkau masih pingsan aku mengenakan pakaian pada tubuhmu, kemudian memindahkanmu ke atas pembaringan dan aku menjagamu sampai kau sadar..."

"Dan lubang itu...?" Bun Houw bertanya, menoleh ke arah bekas lubang di sudut kamar.

"Entahlah, sudah begitu ketika aku siuman. Houw-ko, apakah yang terjadi sesungguhnya ketika aku sedang pingsan atau pulas?" Kembali In Hong memegang lengan pemuda itu dan tiba-tiba Bun Houw mengelak dan mundur menjauhi.

"Aku tidak tahu... tidak tahu, Hong-moi... aku... aku terbius dan seperti orang gila..." Bun Houw kembali menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.

Akan tetapi tetap saja terbayang pengalaman remang-remang yang tidak mungkin dapat dia lupakan selamanya itu, di dalam sebuah kamar asing, di atas pembaringan, bersama Liong Si Kwi! Dia menduga-duga apa yang terjadi dengan gadis itu!

Dan mengapa pula Si Kwi membuat terowongan dari kamarnya ke kamar tahanan? Tentu untuk menolongnya keluar! Dan dia sedang dalam keadaan terbius dan di bawah pengaruh obat atau racun perangsang yang amat hebat. Tentu dia dan Si Kwi telah... ahhh, ingin dia mengusir semua bayangan dan kenangan itu. Dia merasa malu, malu dan menyesal sekali!

"Aku malu... aku malu...!" Tak terasa lagi bibirnya berbisik.

"Houw-koko, sudahlah. Memang amat memalukan bila mengenangkan kembali peristiwa semalam yang hanya samar-samar teringat olehku. Akan tetapi perbuatan kita itu terjadi karena di luar kesadaran kita, bukan? Kita berdua telah minum arak beracun! Karena itu, biarlah kita lupakan semua itu. Pula, bukankah tidak terjadi sesuatu di antara kita? Kita patut bersyukur bahwa kita tidak sampai terseret... ahhh, dan semua ini berkat kekuatan batinmu, koko."

"Tidak...! Tidak...! Engkaulah yang kuat dan hebat, Hong-moi. Dan aku... aku berterima kasih kepadamu, dan aku minta maaf..."

"Sudahlah. Yang penting sekarang, kita harus mencari akal bagaimana dapat keluar dari tempat tahanan ini. Kalau kita menggabungkan tenaga dan berusaha untuk membongkar pintu ini..."

"Hemmm, sudah kupertimbangkan hal itu, Hong-moi, ketika engkau menolongku dahulu, mencari obat untukku, engkau berjumpa dengan keponakanku, Lie Seng, putera enci-ku yang dibawa oleh seorang Pendeta Lama. Dan engkau pernah dapat memainkan Thian-te Sin-ciang, engkau belajar dari suhu Kok Beng Lama. Hong-moi, engkau sumoi-ku."

"Bukan. Kepada suhu-mu sudah kuberikan janji bahwa aku tidak mengangkatnya sebagai guru. Bagaimana pun juga, mengingat bahwa mendiang ibuku adalah sumoi dari ayahmu, maka kita pun boleh saja terhitung kakak dan adik seperguruan."

"Hong-moi coba kau tampar telapak tanganku ini dengan Thian-te Sin-ciang!"

"Apa maksudmu? Apa gunanya?"

"Aku hendak mengukur sampai di mana tingkat ilmu itu pada dirimu." Bun Houw segera berdiri dan mengulur tangannya, dengan telapak tangan terlentang.

Meski pun belum mengerti sepenuhnya apa yang dimaksudkan selanjutnya oleh pemuda itu, akan tetapi karena tahu bahwa pemuda itu hendak menguji kekuatannya, In Hong lalu mengerahkan tenaga dan menghantamkan telapak tangannya ke arah telapak tangan Bun Houw, tanpa ragu-ragu karena dia tahu bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang jauh lebih lihai dari pada tingkatnya.

"Tarrrr...!"

Terdengar bunyi nyaring seperti ledakan ketika dua telapak tangan itu bertemu. In Hong merasakan tangannya panas dan membalik sehingga dia terhuyung.

"Engkau hebat, Hong-moi. Baru mendapat petunjuk sebentar saja dari suhu, telah dapat menguasai Thian-te Sin-ciang hampir seperempat bagian"

"Baru seperempat bagian?" In Hong bertanya dengan mata terbelalak dan hati kecewa. "Kukira sudah hampir sempurna!"

Bun Houw tersenyum dan hatinya girang melihat kenyataan bahwa berbicara dengan In Hong, dia mulai melupakan peristiwa di dalam kamar bersama Si Kwi yang mendatangkan penyesalan amat besar di hatinya itu.

"Hong-moi, kau belum mengetahui kehebatan sebenarnya dari Thian-te Sin-ciang. Hanya suhu seoranglah yang sudah mempunyai ilmu itu dan menguasai secara sempurna. Kalau suhu berada di sini, pintu ini bukan apa-apa. Engkau memiliki hampir seperempat bagian sudah hebat, Hong-moi."

"Dan engkau sendiri, koko. Engkau sudah begitu hebat!"

"Ahhh, mana bisa aku menandingi suhu? Paling-paling aku baru menguasai setengahnya atau lebih sedikit. Karena itu, meski pun kita menggabungkan tenaga, tidak akan mungkin kita sanggup menjebol pintu ini. Akan tetapi ada kemungkinan kecil kalau engkau dapat memperkuat tenagamu di sini, dengan latihan-latihan khusus."

"Pikiran itu baik sekali, Houw-ko."

Bun Houw lalu menyuruh gadis itu duduk bersila di hadapannya, di atas pembaringan itu. Mereka berdua lalu duduk bersila dengan kaki melintang di atas kedua paha, punggung mereka lurus dan kedua lengan mereka dilonjorkan hingga kedua telapak tangan mereka saling bertemu, dengan jari-jari tangan lurus ke atas.

"Sekarang kendurkanlah seluruh urat syarafmu, Hong-moi, sedikit pun jangan melakukan perlawanan dan kau ikuti saja dorongan hawa dariku, kemudian terus ikuti sampai engkau dapat melakukan latihan ini sendiri." Bun Houw lalu memberi tahu tentang teori-teorinya melatih diri untuk memperkuat tenaga sinkang Thian-te Sin-ciang.

"Mula-mula gerakkan hawa melalui sepanjang Ci-kiong-hiat, lalu naik ke Koan-goan-hiat, turun kembali ke Tiong-teng-hiat lalu akhirnya berhenti dan dipusatkan di Thian-te-hiat-to," demikian Bun Houw mulai memberi petunjuk sambil mengerahkan sinkang-nya melalui telapak tangan gadis itu.

In Hong merasakan hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui kedua telapak tangannya. Perasaan ini mendatangkan kenikmatan dan rasa nyaman yang menyelimuti seluruh tubuhnya itu, apa lagi ketika dia teringat bahwa hawa itu datang dari Bun Houw, jantungnya berdebar keras dan tubuhnya terguncang!

Hal ini terasa oleh Bun Houw dan pemuda ini menjadi terkejut karena ada hawa melawan dari In Hong, bukan melawan melainkan ‘menyambut’. Namun hal itu sama saja karena dapat menghalangi penembusan jalan-jalan darah itu dengan hawa murninya.

"Harap kau jangan membiarkan pikiran berkeliaran, Hong-moi. Pikiran harus kosong dan seluruh perasaan berpusat kepada perjalanan hawa sakti..."

"Maaf, Houw-ko... aku tidak sengaja," In Hong menjawab dan kedua pipinya merah sekali karena merasa jengah.

Melihat sepasang pipi yang begitu kemerahan dan halus menyegarkan, cepat-cepat Bun Houw memejamkan matanya agar jangan melihat sepasang pipi yang demikian dekatnya!

Demikianlah, dua orang muda itu mulai dengan latihan mereka dan mereka hampir tidak peduli akan hidangan yang disuguhkan melalui lubang kecil. Hanya kalau mereka sudah merasa lelah dan lapar saja mereka berhenti, makan dan mengaso.

Sesudah menerima petunjuk dari Bun Houw dan sudah hafal benar akan cara berlatih untuk memperkuat tenaga sakti Thian-te Sin-ciang, dua hari kemudian In Hong sudah mulai berlatih sendiri, dan Bun Houw juga mempergunakan kesempatan itu untuk berlatih, karena dia pun perlu memperkuat tenaganya agar kelak dapat digabung dengan tenaga In Hong untuk mencoba membobolkan pintu baja itu…..

********************

Meriah sekali pesta yang diadakan oleh Raja Sabutai di tempat tinggalnya yang baru itu, di tepi sebuah sungai yang bergabung dengan Sungai Nun-kiang di utara. Pesta besar itu diadakannya untuk merayakan lahirnya sang putera, hal yang amat dinanti-nantikan dan diidam-idamkan selama bertahun-tahun oleh Sabutai.

Isterinya yang tercinta, Khamila, telah melahirkan seorang putera yang sehat dan montok, dan yang tangisnya amat nyaring dan terdengar sebagai nyanyian yang paling merdu bagi telinga Sabutai dan Khamila.

Pesta untuk merayakan kelahiran putera Sabutai itu dihadiri semua kepala Suku Nomad yang banyak terdapat di luar tembok besar utara, dari suku-suku kelompok kecil sampai yang besar, dan di antara para tamu itu terdapat pula orang-orang Han dari dalam tembok besar. Mereka ini adalah para pedagang yang suka membawa barang-barang dagangan dari selatan, untuk diperdagangkan dan ditukar dengan barang-barang dari utara.

Sungguh pun perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh dan sukar, akan tetapi karena keuntungannya cukup baik, maka banyak pula yang berani menempuhnya. Selain para pedagang, juga banyak hadir tokoh-tokoh persilatan di perbatasan, karena Sabutai selain terkenal sebagai seorang raja atau kepala suku yang besar, juga di antara tokoh-tokoh kang-ouw dia terkenal pula sebagai seorang ahli silat yang lihai.

Di samping hidangan yang berlimpah-limpah dan tari-tarian serta nyanyian daerah yang diselenggarakan untuk menghibur para tamu, juga Sabutai mengadakan pertandingan silat dan gulat dengan hadiah-hadiah yang menarik. Hal ini dilakukan dengan harapan supaya kelak puteranya menjadi seorang gagah perkasa, maka kelahirannya disambut dengan pertandingan-pertandingan ketangkasan, yaitu yang umum di antara mereka adalah silat terutama sekali gulat.

Banyak juga yang mendaftarkan diri untuk mengikuti pertandingan itu. Akan tetapi, Raja Sabutai merasa kecewa melihat bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kepandaian biasa saja. Maka ketika menurut giliran maju seorang pegulat yang sudah cukup terkenal di antara para Suku Nomad, seorang pegulat yang tubuhnya seperti gajah, kokoh kuat dan kekar, berhadapan dengan seorang ahli silat bangsa Han di antara para tokoh perbatasan, Sabutai menjadi girang dan tertarik sekali.

"Akan kutambah hadiahnya!" dia berseru gembira. "Siapa di antara kalian yang menang, selain hadiah yang telah disediakan untuk tiap pemenang, akan kutambah dengan sebuah hadiah lagi yang boleh dipilih oleh si pemenang di antara barang-barang sumbangan yang kuterima hari ini!" Dia menudingkan telunjuknya ke arah meja besar yang penuh dengan barang sumbangan yang ditumpuk di situ setelah dicatat satu demi satu oleh pembantu yang menerimanya.

Tentu saja semua orang menjadi gembira dan tegang. Memang jarang dipertandingkan seorang ahli silat melawan seorang ahli gulat, dan kini timbullah pertaruhan-pertaruhan di antara mereka. Bagi yang belum mengenal kebiasaan mereka, tentu akan merasa heran mendengar betapa di antara para kepala Suku Nomad itu, selain mempertaruhkan kuda mereka yang terbaik, atau ternak-ternak mereka, juga ada yang mempertaruhkan anak perempuan mereka, bahkan ada pula yang mempertaruhkan isteri atau selir mereka.....!


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner