DEWI MAUT : JILID-51


Sabutai memandang penuh perhatian. Dia sudah mengenal jago gulat itu dan tahu akan ketangguhannya. Tentu saja bagi dia sendiri, jago gulat itu bukan apa-apa, karena dia tahu bahwa jago gulat itu hanya mengandalkan tenaga besar dan cara-cara meringkus dan melontarkan lawan, di samping mempunyai tubuh yang kuat dan kebal seperti gajah.

Akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah ahli silat itu. Dia tak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw perbatasan ini secara dekat, akan tetapi melihat cara jago silat itu memasang kuda-kuda, dia maklum bahwa akan terjadi pertandingan yang seru dan menarik.

Ahli silat itu mempunyai kuda-kuda yang kuat dan sikapnya begitu meyakinkan, dengan kedua lutut ditekuk seperti orang menunggang kuda, lengan kanan ditekuk di depan dada dengan tangan miring di depan dada, lengan kiri di depan pusar, juga ditekuk dan tangan kirinya miring di depan pusar. Dengan kuda-kuda kokoh seperti itu, maka bagian tubuh atas dan bawah telah terjaga rapat dan kedua tangan pun sudah siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu melakukan penyerangan dari atas atau bawah.

Seorang wasit yang mewakili Raja Sabutai, yaitu seorang di antara panglimanya yang juga merupakan seorang ahli, baik dalam ilmu gulat mau pun silat, memberi tanda dengan tangannya ke arah pembantunya yang langsung membunyikan canang tanda dimulainya pertandingan itu. Si wasit lalu berdiri di sudut dan mulailah dua orang itu bergerak.

Memang menegangkan sekali pertandingan ini. Bukan seperti pertandingan antara dua orang jago gulat yang saling tubruk dan saling mencengkeram, berusaha saling banting, mengandalkan ketepatan saat dan gerakan reflex dibantu oleh penggunaan tenaga besar yang tepat pada waktunya, atau seperti pertandingan di antara dua orang jago silat yang saling serang mengandalkan kecepatan dan ketepatan pukulan atau tendangan, namun karena masing-masing menghadapi lawan yang mempunyai kepandaian berbeda, mereka berdua menjadi hati-hati sekali.

Si jago gulat berdiri dengan dua lengan dikembangkan di kanan kiri tubuhnya, tangannya siap untuk menangkap atau mencengkeram di depan, kedua kakinya agak terpentang dan dia agak membungkuk, sikapnya seperti seekor orang hutan besar menghadapi lawan. Ke mana pun lawan bergerak, dia memutar tubuh menghadapinya!

Sedangkan si jago silat masih menanti-nanti saat yang tepat, memilih-milih sasaran untuk serangannya dan dia mengatur langkah, digesernya dan perlahan-lahan memutari tubuh si jago gulat dengan perlahan, selalu merubah-rubah kedudukan kedua tangannya sesuai dengan kedudukan sepasang kakinya, apakah menghadapi lawan dengan miring ataukah langsung berhadapan.

"Hyaaaattt...!" Tiba-tiba si jago silat itu menyerang dari samping setelah dengan cepat dia melangkah ke samping kiri lawan, dengan pukulan cepat ke arah lambung.

"Hehhhhh!" Si jago gulat mengelak dan tangannya yang panjang mencengkeram ke arah rambut kepala lawan. Akan tetapi jago silat itu pun sudah cepat melompat ke belakang menghindarkan diri, memutar tubuhnya dan menendang dari depan ke arah perut lawan.

"Dukkk!"

Lengan yang besar itu menangkis dan ketika tangannya menyambar, kembali lawannya dapat menarik kaki sehingga sambaran itu luput.

Kembali ahli silat itu bergerak mengitari si ahli gulat yang tetap tenang saja, sama-sama mencari kesempatan. Tiba-tiba saja, sekali ini tanpa mengeluarkan teriakan, jago silat itu meloncat ke atas, kakinya melayang ke arah muka jago gulat itu dengan kerasnya.

Jago gulat itu menghindarkan diri dengan elakan, akan tetapi dengan cepat sekali tangan kanan jago silat itu menghantam tengkuk lawan. Jago gulat yang melihat kecepatan ini kaget, dia miringkan tubuh mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena pukulan.

"Bukkk!"

Dia terhuyung-huyung, akan tetapi pemukulnya juga cepat meloncat ke belakang karena tangannya bertemu dengan daging yang tebal dan keras! Karena berbesar hati sudah berhasil menghantam pundak, jago silat itu kini melakukan serangan bertubi-tubi dengan gerakan cepat dan ternyata siasatnya berhasil baik. Berkali-kali dia dapat menggunakan kedua tangan atau kakinya untuk menghantam dan menendang lawan dan ada beberapa di antaranya yang mengenai tubuh lawan. Terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan-pukulan itu mengenai tubuh si jago gulat, akan tetapi pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan itu tidak merobohkan lawan, hanya membuat si jago gulat terhuyung.

Sorak-sorai dan tepuk tangan mulai terdengar, ada pula ejekan-ejekan terhadap si jago gulat, terutama mereka yang bertaruh memegang ahli silat itu. Tentu saja di depan Raja Sabutai, para tamu tidak berani bersikap melewati batas, akan tetapi dalam kesempatan seperti di tempat ini, bukan hal mustahil apa bila gelanggang pertandingan juga dijadikan gelanggang pertempuran antara para penjudi itu yang tentu saja dibela oleh anak buah masing-masing!

Pertandingan dilangsungkan terus dengan serunya. Jago silat itu sudah berhasil memukul beberapa kali sehingga pukulan yang mengenai muka jago gulat itu membuat bibirnya pecah dan berdarah. Akan tetapi pada saat si ahli silat menendang, tulang kering kakinya bertemu dengan tulang kaki si jago guiat yang besar dan kuat, sehingga biar pun tulang kakinya yang kecil itu tidak patah, cukup mendatangkan rasa nyeri dan membuat dia agak terpincang!

Jago gulat itu menjadi marah sekali. Kini dia mulai aktip menyerang seperti seekor kerbau yang terluka,. Namun serangan-serangannya yang berupa cengkeraman dan tangkapan kedua tangan itu selalu berhasil dielakkan oleh si jago silat yang lincah, selalu menubruk atau menangkap angin kosong belaka, dan sebagai jawabannya, tentu terdengar suara ‘Tak!’ atau ‘Plak!’ akibat tangan jago silat itu berhasil memukul atau menampar. Sekarang lebih banyak lagi darah keluar ketika sebuah pukulan si jago silat tepat mengenai hidung si jago gulat sehingga muncratlah darah segar dari lubang hidung raksasa itu.

Bagaikan serigala-serigala yang haus darah, para penonton berteriak-teriak penuh nafsu menjagoi pilihan masing-masing. Yang menjagoi ahli silat menjadi berbesar hati karena melihat jagonya lebih banyak membagi pukulan, sedangkan yang menjagoi si ahli gulat juga tidak putus harapan karena biar pun sering kali dipukul, si jago gulat yang kokoh kuat itu belum juga roboh, sedangkan si jago silat sebaliknya malah kelihatan lelah sekali. Hal ini karena si jago silat lebih banyak bergerak, sedangkan si jago gulat hanya berdiri dan bergerak sedikit sekali.

Setelah beberapa kali menerima hantaman dan tendangan berturut-turut, tiba-tiba si jago gulat berhasil menangkap pergelangan lengan lawannya! Si jago silat meronta, akan tetapi percuma saja karena pegangan itu bukan main kuatnya. Karena maklum bahwa dia tidak akan mampu melepaskan diri, si jago silat segera menggunakan sebelah tangannya lagi untuk menusuk mata lawan dengan jari tangan. Jago gulat itu miringkan mukanya, akan tetapi tetap saja pipinya kena ditusuk dan kembali darah mengucur.

"Haarrgghhh...!" Jago gulat mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang.

Dia maklum betapa bahayanya untuk terus memegang lengan lawannya itu, maka sekali dia merendahkan diri dan mengerahkan tenaga sambil memegang pinggang lawan, dia telah mengangkat tubuh si jago silat tinggi-tinggi di atas kepalanya. Terdengar pekik dan sorak-sorai penonton menyambut kemenangan si jago gulat ini saat tiba-tiba si jago gulat melontarkan tubuh jago silat yang tak berapa besar itu sehingga terlempar sampai jauh ke arah para tamu!

Jago silat itu berteriak kaget, maklum bahwa nyawanya kini terancam bahaya. Tubuhnya sudah tidak dapat dikuasainya lagi dan dia dilontarkan seperti peluru cepatnya, menimpa ke arah dua orang tamu yang duduk semeja di sudut yang agak sunyi.

Akan tetapi, seorang di antara dua tamu itu, yang berpakaian sederhana, berbangsa Han, bertubuh tinggi kurus dan bermata sipit, pakaiannya yang berwarna kuning itu penuh debu tanda bahwa dia sudah melakukan perjalanan jauh, tiba-tiba bangkit berdiri lantas dengan tenangnya dia mengulur tangan kirinya dan ketika tubuh si jago silat itu menimpa ke arah mejanya, dia menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu tubuh itu telah mencelat ke atas mematahkan daya luncurnya, dan ketika turun kembali, disambutnya dengan tangan kiri dan si jago silat itu dapat turun dengan lunak dan sama sekali tidak terluka.

Si jago silat memandang pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang berpakaian kuning sederhana itu dengan mata terbelalak, kemudian dia menjura sambil berkata perlahan, "Terima kasih," dan berjalan terhuyung kembali ke tempatnya, disambut oleh penyesalan dan celaan teman-temannya yang merasa kecewa mengapa ahli silat yang sudah lebih banyak membagi pukulan itu sampai dapat terpegang kalah, dan lain-lain.

Sabutai bermata tajam sekali. Dia segera mengenali orang pandai ketika melihat pemuda pakaian kuning tadi menerima tubuh si jago silat secara demikian mudahnya. Walau pun sebagian besar para tamu tidak tahu akan hal itu, tetapi dia sendiri mengerti bahwa hanya orang yang memiliki sinkang amat kuat saja yang akan mampu menyambut tubuh yang dilontarkan demikian kuatnya itu secara demikian rupa. Karena itu Sabutai lalu memberi perintah kepada seorang pengawalnya dan pengawal ini lalu cepat-cepat menghampiri dua orang tamu tadi tanpa diketahui orang lain.

Pengawal itu dengan suara perlahan menyampaikan perintah atau pesan Sabutai bahwa dua orang itu dipanggil menghadap Raja Sabutai itu karena hendak ditanya tentang suatu urusan penting sekali.

Dua orang pemuda itu saling pandang dan merasa girang karena memang kedatangan mereka di tempat ini adalah untuk berbicara dengan Sabutai. Hanya kebetulan saja ketika mereka datang, tempat itu sedang penuh tamu karena Sabutai mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran puteranya.

Siapakah mereka itu? Tentu saja dari pakaian pemuda yang tadi secara mengagumkan menerima tubuh si jago silat, mudah diduga bahwa dia bukan lain adalah Tio Sun, ada pun pemuda kedua yang berambut agak kuning keemasan sedangkan matanya agak biru itu bukan lain adalah Souw Kwi Beng atau Richardo de Gama!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tio Sun ‘ditangisi’ oleh Kwi Beng agar pemuda ini suka menolongnya, yaitu untuk dapat menemaninya mencari In Hong yang dicinta oleh Kwi Beng dan agar membantu perjodohannya dengan In Hong karena orang tuanya telah menyatakan tidak setuju. Sesungguhnya, permintaan seperti ini jauh lebih berat dari pada andai kata pemuda keturunan Portugis itu minta kepadanya untuk membantu menghadapi musuh yang lihai.

Akan tetapi, baru saja Tio Sun sendiri menderita ‘patah hati’ karena ternyata gadis yang dicintanya, yang diam-diam dicintanya, yaitu Kwi Eng saudara kembar Kwi Beng, sudah ditunangkan dengan Cia Bun Houw! Karena itu, dia merasa tidak tega kepada Kwi Beng dan dia memenuhi permintaan pemuda itu. Apa lagi karena dia pun ingin cepat-cepat menjauhi Kwi Eng sebelum luka di hatinya menjadi makin parah.

Mereka berdua pergi ke kota raja ketika mendengar bahwa Yap In Hong telah berada di kota raja, bahkan kini telah menjadi seorang puteri! Akan tetapi, seperti halnya Bun Houw yang datang ke kota raja, mereka mendengar akan peristiwa penculikan atas diri In Hong yang dilakukah oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Tentu saja mereka menjadi terkejut bukan main dan karena Tio Sun pernah membantu Bun Houw dan Cia Keng Hong, maka dia sudah tahu ke mana harus mencari Sabutai. Menurut perkiraannya, kakek dan nenek yang menjadi guru Sabutai itu tentunya berada bersama raja itu, maka dia lalu mengajak Kwi Beng untuk langsung pergi keluar tembok besar di utara dan mencari di mana adanya Sabutai dan kedua orang gurunya itu.

Inilah sebabnya mengapa dua orang muda itu kini berada di tempat pesta itu, dan secara tidak disengaja Tio Sun dapat menarik perhatian Sabutai sehingga kini dia dan Kwi Beng dipanggil oleh Sabutai yang tertarik menyaksikan kelihaian Tio Sun tadi.

Pertandingan masih berlangsung terus, akan tetapi Sabutai sudah tidak memperhatikan lagi karena memang dianggapnya tidak begitu menarik. Dia kini dihadap oleh dua orang pemuda itu, dan dengan ramah Sabutai lalu menanyakan nama mereka, juga dia sangat memperhatikan Kwi Beng yang matanya agak biru dan rambutnya agak keemasan itu.

"Nama saya Tio Sun dan sahabat saya ini bernama Souw Kwi Beng," jawab Tio Sun sesudah memberi hormat. "Karena kebetulan kami berdua lewat di sini dan mendengar akan perayaan yang diadakan oleh paduka di sini, maka kami lalu memberanikan diri datang menonton keramaian. Atas kelancangan ini, harap paduka sudi memaafkan kami."

"Ahhh...!" Sabutai menjadi makin tertarik karena ternyata bahwa pemuda itu amat hormat kepadanya dan pandai membawa diri. "Kami malah merasa girang dan beruntung sekali menerima kedatangan ji-wi sicu yang pandai. Kalau boleh kami mengetahui, ji-wi hendak ke manakah dan ada keperluan apa sampai jauh-jauh ke tempat ini?"

"Kami berdua hendak mencari kedua locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li," kata Tio Sun dengan terang-terangan.

Dia sudah mendengar bahwa Raja Sabutai ini sudah berdamai dengan kaisar, maka dia tidak khawatir memberi tahukan maksud kedatangan mereka kepadanya. Apa lagi karena semenjak tadi mereka tidak melihat adanya dua orang guru raja ini, bahkan ketika mereka bertanya-tanya kepada beberapa orang tamu, mereka pun tidak ada yang tahu mengapa guru-guru raja itu tidak muncul di dalam pesta. Maka, terpaksa dia mengaku terus terang dengan harapan akan memperoleh keterangan dari raja ini.

"Ha...? Tahukah kalian siapakah dua orang tua yang kau sebut tadi, Tio-sicu?" tanyanya, memandang dengan tertarik.

"Kami telah mendengar bahwa dua locianpwe itu adalah guru-guru paduka. Oleh karena itulah maka sekalian kami hendak mohon petunjuk paduka, di mana kami kiranya akan dapat bertemu dengan mereka."

Sabutai menggeleng-gelengkan kepala dan memandang kagum. "Tio-sicu dan Souw-sicu, sungguh aku kagum sekali kepada kalian! Masih begitu muda tetapi sudah memiliki nyali harimau dan hati naga! Sudah tahu bahwa yang kalian cari itu adalah guru-guruku, akan tetapi secara terang-terangan kalian menanyakannya kepadaku, seolah-olah kalian berani menghadapi kami dengan bala tentara kami yang ribuan orang jumlahnya!"

Tio Sun menjura lagi dan berkata, "Adanya kami berdua berani datang ke sini, karena kami sudah mendengar akan nama paduka yang besar sebagai seseorang yang dapat menghargai kegagahan."

"Ha-ha-ha, jangan kira kami tidak tahu akan maksud kedatangan kalian. Bukankah kalian mencari kedua orang guruku itu berhubung dengan diculiknya nona Yap In Hong?"

Tio Sun tidak terlalu terkejut mendengar ini karena dia sudah menduga akan kecerdikan Raja Sabutai. Akan tetapi Souw Kwi Beng terkejut sekali dan karena dia merasa bahwa ‘rahasia’ mereka sudah ketahuan, maka dia segera berkata dengan gagah dan nyaring,

"Benar! Nona Yap In Hong sudah diculik maka kami sengaja datang untuk mencari dan menolongnya dan kalau perlu kami akan mengadu nyawa dengan para penculiknya, siapa pun adanya mereka itu!"

Tio Sun terkejut bukan main. Tidak disangkanya bahwa pemuda itu akan mengeluarkan kata-kata yang demikian sembrono. Dia khawatir kalau-kalau Raja Sabutai menjadi marah dan berbahayalah kalau begitu, maka dia cepat berkata, "Maafkan, sahabat saya ini amat mengkhawatirkan nona Yap yang amat dicintanya. Tentu paduka maklum..."

Memang tadinya muka Raja Sabutai telah memperlihatkan kemarahan ketika mendengar kata-kata Kwi Beng, akan tetapi begitu mendengar ucapan Tio Sun, dia tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, apa yang tidak akan dilakukan oleh orang-orang muda yang mabok cinta! Lautan api akan ditempuhnya, barisan golok akan diterjangnya! Apakah kalian ini utusan pribadi kaisar untuk menyelamatkan nona Yap In Hong?"

Tio Sun cepat-cepat mendahului Kwi Beng. "Dapat dikata demikianlah, sri baginda. Ayah saya adalah seorang bekas pengawal yang amat setia dan karenanya, saya pun seorang yang selalu akan membela kaisar. Karena nona Yap In Hong telah menjadi seorang puteri istana yang dipercaya oleh kaisar, maka tentu saja kaisar amat marah mendengar puteri itu diculik orang. Di antara banyak utusan kaisar yang mendapat perintah untuk mencari dan menyelamatkan nona Yap, termasuk kami berdua."

Kwi Beng tentu saja merasa heran sekali mendengar ucapan ini. Mereka menjadi utusan kaisar? Heran dia kenapa Tio Sun harus membohong seperti itu. Dianggapnya perbuatan ini tidak bijaksana dan tidak gagah! Menunjukkan rasa takut dan hendak bersembunyi di balik nama kaisar. Akan tetapi dia segera mengerti ketika mendengar raja itu berkata,

"Ahh, Kaisar Ceng Tung memang seorang yang mengenal budi! Aku telah memberi tahu kepada beliau bahwa urusan culik-menculik ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, sungguh pun yang melakukannya adalah guru-guruku. Namun dalam hal ini, mereka berdiri sendiri, dan nanti kita bicarakan lebih lanjut tentang di mana kalian dapat bertemu dengan mereka, kalau kupandang kalian memang pantas untuk bertemu dengan mereka!"

Sabutai segera memerintahkan pelayan supaya menambah hidangan makanan dan arak, kemudian raja ini menjamu mereka. Ini merupakan suatu kehormatan yang besar sekali dan banyak pandang mata para tamu diarahkan ke meja itu dan menduga-duga siapa adanya dua orang muda yang tadinya diundang oleh Raja Sabutai dan kini mereka dijamu itu.

Sesudah dua orang muda itu makan dan minum sampai kenyang, tiba-tiba saja terdengar sorak-sorai dan kiranya para tamu tengah menyambut kemenangan seorang pegulat yang berkulit hitam, bertubuh seperti raksasa dan karena dia hanya mengenakan cawat saja maka kulit hitam yang berkeringat itu kelihatan berkilauan mengkilap. Nampak otot-otot membelit-belit seluruh tubuh yang amat kuat itu. Si pegulat hitam ini dinyatakan sebagai pemenang karena berturut-turut dia sudah memenangkan lima pertandingan dan kini dia mengangkat kedua tangan ke atas membuat isyarat menantang siapa lagi yang berani bertanding melawan dia di atas panggung!

Raja Sabutai memandang kepada pegulat hitam itu dan dia pun tersenyum. Dia mengenal pegulat itu yang berjuluk Biruang Hitam, seorang pegulat yang selain mempunyai tenaga yang amat kuat, juga telah menguasai ilmu gulat dengan baiknya sehingga dalam hal ilmu gulat, dia sendiri akan sukar mengalahkan Biruang Hitam itu. Maka timbullah pikirannya untuk mempergunakan si Biruang Hitam itu menguji utusan Kaisar Ceng Tung ini.

"Tio-sicu, seperti yang kukatakan tadi, tidak sembarang orang dapat bertemu dengan dua orang guruku itu. Apa lagi menyelamatkan nona Yap In Hong! Hal itu merupakan tugas amat besar yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang pandai yang mempunyai tekad dan keberanian besar saja."

"Kami berdua tidak berani mengaku sebagai orang-orang pandai, akan tetapi apa bila paduka suka memberi tahu di mana kami dapat menjumpai locianpwe Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, kami bertekad untuk menolong nona Yap In Hong dengan taruhan nyawa seperti yang dikatakan oleh adik Souw Kwi Beng tadi."

"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah, sicu. Untuk dapat berjumpa dengan kedua orang guruku itu sedikitnya harus mempunyai kepandaian seperti si Biruang Hitam itu. Nah, mampukah Tio-sicu menandingi dia?"

Tio Sun menoleh dan memandang ke arah raksasa hitam yang masih berdiri tegak sambil memandang ke sekeliling dan menantang dengan sikap angkuh itu. Dia maklum bahwa betapa pun juga, dia harus dapat meyakinkan hati raja ini agar dia dapat diberi petunjuk. Dia pun sudah mendengar bahwa Sabutai paling suka nonton orang bertanding silat dan merasa simpati pada orang-orang yang pandai ilmu silat. Agaknya, tanpa memperlihatkan kepandaian, dia tidak akan bisa memperoleh petunjuk dari raja ini. Maka dia mengangguk dan berkata perlahan,

"Akan saya coba untuk menandingi dia, sri baginda."

Sabutai tertawa gembira dan dia bertepuk-tepuk tangan dengan keras sehingga semua orang menoleh kepadanya. Juga raksasa hitam itu cepat membalik ke arah Raja Sabutai dan memberi hormat.

"Saudara sekalian, kebetulan sekali ada seorang utusan dari selatan datang menghadiri pesta ini dan dialah yang sanggup untuk menandingi si Biruang Hitam!"

Mendengar ini, semua tamu bertepuk dan bersorak gembira. Tadi mereka sudah merasa khawatir bahwa pertunjukan adu silat dan gulat itu hanya akan berakhir sampai di situ saja karena munculnya Biruang Hitam yang sudah berturut-turut mengalahkan lima orang lawan dan agaknya sudah tidak ada lagi yang berani maju. Maka mendengar bahwa ada utusan dari selatan yang hendak menandingi Biruang Hitam, tentu saja mereka menjadi gembira sekali, maklum bahwa mereka akan menyaksikan pertandingan yang hebat dan mungkin mati-matian karena jagoan dari selatan tentulah seorang ahli silat dan Biruang Hitam paling benci kepada orang selatan yang pandai silat!

"Nah, Tio-sicu, silakan," kata Sabutai kepada Tio Sun.

Tio Sun bangkit berdiri, menjura kepada Sabutai kemudian memandang kepada Souw Kwi Beng. Pemuda ini mengerutkan alisnya dan berkata,

"Tio-twako, hati-hatilah... dia kelihatan kuat sekali."

Tio Sun mengangguk dan sesudah sekali lagi menjura ke arah Sabutai, dengan langkah tenang dia segera menghampiri panggung lalu meloncat ke atas panggung, berhadapan dengan Biruang Hitam.

Raksasa hitam ini menyeringai dan mengeluarkan suara gerengan bagai seekor biruang pada waktu melihat bahwa calon lawannya hanyalah seorang tinggi kurus dan berpakaian sebagai orang Han! Dia amat membenci orang Han, apa lagi seorang Han yang pandai silat! Dan calon lawannya ini bertubuh kecil, terlalu kecil baginya! Tiga kali tubuh lawan ini dijadikan satu barulah sama dengan dia.

Tio Sun juga memandang lawannya dengan penuh perhatian. Seorang lawan yang amat berbahaya, pikirnya. Jelas bahwa Biruang Hitam ini mempunyai tenaga otot yang sangat besar, mungkin lima kali lebih besar dari pada tenaga manusia biasa. Dan kedua lengan yang hitam berbulu itu amat kuat dan panjang, dengan jari-jari tangan yang panjang dan yang dapat diduganya tentu mempunyai kekuatan mencengkeram atau menangkap yang amat kuat. Celakalah kalau sampai kena dicengkeram oleh jari-jari tangan itu.

Dia harus mengandalkan kecepatan gerakannya, karena betapa pun kuatnya, raksasa hitam ini karena besarnya tubuh tentu lamban gerakannya dan dengan mengandalkan kegesitannya, mungkin dia akan menang. Pula, dia adalah putera seorang yang berjuluk Ban-kin-kwi (Iblis Bertenaga Selaksa Kati). Ayahnya, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, terkenal memiliki tenaga yang amat besar dan dia pun telah mempelajari penghimpunan tenaga itu sehingga dia pun merupakan seorang yang bertenaga besar. Namun, dalam hal tenaga luar, jelas bahwa dia tidak mungkin dapat menandingi raksasa di depannya itu.

"Aku telah siap!" katanya kepada raksasa itu yang kelihatan ragu-ragu.

Agaknya Biruang Hitam itu mengerti maksud ucapan Tio Sun, karena raksasa ini segera mengeluarkan suara menggereng dahsyat dan kedua lengannya bergerak menyambar ke depan dari kanan kiri seperti terkaman seekor biruang yang marah.

"Wuuutttt...! Wuuutttt...!"

Dua tangannya yang lebar dengan jari-jari terbuka itu sampai mengeluarkan angin saking kuatnya dia menggerakkan kedua tangan dari kanan dan kiri yang mengadakan serangan cengkeraman itu. Namun dengan langkah ke belakang, Tio Sun dapat mengelak dengan mudah dan saat raksasa hitam itu melanjutkan serangannya dengan menubruk ke depan, dia juga sudah dapat mengelak ke samping dengan lincahnya.

Biruang Hitam menggereng marah. Kini dia menerjang kembali dengan pukulan kepalan tangan sebesar kepala Tio Sun sedangkan tangan kiri mencengkeram ke bawah, hendak menangkap kaki pendekar itu.

Kembali Tio Sun cepat mengelak lantas dari samping dia sengaja memasang diri untuk ditubruk. Melihat betapa pemuda itu mengelak dengan tubuh terhuyung, si raksasa hitam menjadi girang dan cepat dia menubruk dengan dua lengan terpentang untuk mencegah pemuda itu mengelak ke kanan atau ke kiri.

Memang inilah yang dikehendaki oleh Tio Sun. Melihat betapa dada itu ‘terbuka’, secepat kilat dia lalu menghantam dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga dengan maksud membuat raksasa itu roboh dengan satu kali pukulan.

Tentu saja gerakan Tio Sun ini sangat cepatnya sehingga tidak tersangka-sangka oleh si Biruang Hitam yang lamban. Maka, sebelum dia tahu apa yang terjadi, dadanya sudah kena dipukul lawan.

"Bukkk!"

Pukulan yang keras bukan main mendarat di dada yang bidang itu. Akan tetapi akibatnya bukannya tubuh tinggi besar itu yang roboh terjengkang, sebaliknya malah tubuh Tio Sun sendiri terdorong ke belakang dengan kerasnya!

Pukulannya yang mengenai dada itu seakan-akan memukul bola karet yang sangat kuat sehingga membalik dan akibatnya dia yang mencelat ke belakang dan tentu dia akan roboh terbanting kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik sampai bersalto tiga kali ke belakang, baru dia dapat turun ke atas papan panggung dengan baik.

Sorak-sorai menyambut peristiwa ini karena semua orang melihat betapa si raksasa kena pukulan keras akan tetapi yang terlempar malah yang memukul! Si Biruang Hitam tertawa bergelak dan sudah maju lagi dengan kedua lengan dikembangkan, persis seperti seekor biruang yang berjalan dengan dua kaki belakangnya, hidungnya mendengus-dengus dan bibirnya yang tebal itu menyeringai.

Souw Kwi Beng yang melihat ini menjadi gelisah bukan main dan diam-diam dia meraba ke pinggangnya di mana terselip sebuah pistol kecil. Perbuatannya ini tidak terlepas dari pandangan mata Raja Sabutai yang hanya tersenyum-senyum menonton pertandingan di atas panggung itu.

Semua mata ditujukan ke atas panggung dan semua jantung berdebar tegang melihat raksasa hitam itu kini sudah menghampiri Tio Sun yang mundur-mundur dan memandang dengan sikap waspada hingga akhirnya pendekar itu tersudut. Biruang Hitam menggereng dan menubruk lagi, namun Tio Sun jauh lebih cepat, tubuhnya sudah menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan dan dia sudah melesat ke belakang raksasa itu. Biruang Hitam membalik dan menubruk lagi, dua lengan yang panjang itu menyambar-nyambar ganas, namun selalu dapat dielakkan oleh Tio Sun yang mengasah otak bagaimana dia dapat merobohkan Biruang Hitam yang sangat kuat dan tubuhnya kebal ini. Mungkin dia tadi kurang mengerahkan tenaga, pikirnya.

Setelah memperhitungkan dengan masak-masak, untuk kesekian kalinya kembali Tio Sun mengelak ketika Biruang Hitam itu menubruk, akan tetapi sekali ini dia mempergunakan ginkang-nya, mengelak sambil meloncat ke atas, kemudian sebelum lawan membalik, dari atas dia telah menghantamkan kedua kakinya ke tengkuk lawan.

"Bresssss…!"

Kembali tubuh Tio Sun terlempar akan tetapi dia dapat melayang turun dengan dua kaki terlebih dahulu sedangkan Biruang Hitam kini terhuyung ke depan. Tio Sun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan menghantam dari belakang ke arah punggung dan lambung lawan.

"Bukk! Desss…!"

Hantaman-hantaman itu hebat bukan main dan lawan biasa tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi Biruang Hitam memang kuat bukan main seolah-olah tubuhnya dilindungi oleh karet yang tebal. Dia tidak roboh, bahkan dia berhasil membalik dan meraih sehingga pundak Tio Sun kena dicengkeram oleh jari-jari tangan yang panjang dan kuat itu.

Tentu saja Tio Sun yang tidak menyangka sama sekali bahwa lawan tidak roboh, bahkan terguncang pun tidak oleh dua pukulannya tadi, amat terkejut ketika tahu-tahu pundaknya dicengkeram. Bukan main nyerinya, seakan-akan tulang pundaknya akan hancur diremas oleh jari-jari tangan yang kuat itu. Maka dia cepat mengerahkah ilmu melemaskan badan, semacam Ilmu Jiu-kut-kang, membuat kulit pundaknya licin bagai belut kemudian dengan gerakan lincah dia merenggutkan tubuhnya dan meloncat mundur.

"Breetttt...!"

Pundaknya terlepas dari cengkeraman akan tetapi baju di pundak itu robek dan hancur di tangan Biruang Hitam yang tertawa-tawa.

Tio Sun terkejut sekali. Kiranya lawan ini lebih hebat dari pada yang disangkanya. Timbul kemarahannya. Tadinya, dia hanya ingin mengalahkan lawan ini tanpa melukainya, sebab dia memang tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan siapa juga di tempat itu. Akan tetapi pendekar ini maklum bahwa kalau dia tidak sungguh-sungguh dan berhati-hati dia sendiri bisa celaka, bahkan mungkin saja bisa tewas oleh manusia raksasa yang memiliki tenaga gajah dan cara berkelahinya buas seperti harimau ini.

Di antara para tamu sudah ramai orang mengadakan pertaruhan, taruhan yang berjumlah tinggi dan tentu saja raksasa hitam itu menjadi jagoan unggulan sehingga yang bertaruh atas diri Biruang Hitam berani mempertaruhkan isterinya hanya untuk selir seorang lawan bertaruh! Ini berarti bahwa dia sudah yakin akan kemenangan Biruang Hitam.

Akan tetapi hanya sebentar mereka yang bertaruh ini ramai menambah taruhan mereka karena seluruh perhatian mereka segera dicurahkan kembali ke atas panggung di mana Biruang Hitam telah menghujani serangan kepada Tio Sun yang kembali hanya mengelak ke sana-sini mengandalkan kelincahan tubuhnya.

Makin lama, Biruang Hitam menjadi makin marah karena semua pukulan, tendangan dan cengkeramannya hanya mengenai tempat kosong belaka. Peluhnya membasahi seluruh tubuhnya akan tetapi tenaganya tidak menjadi kendur, bahkan dia semakin bersemangat karena terdorong oleh kemarahannya.

Souw Kwi Beng yang menonton pertandingan itu kini bernapas lega. Tahulah dia bahwa kini Tio Sun berhati-hati sekali dan berganti siasat, mengandalkan kecepatan gerakannya untuk menghabiskan tenaga lawan. Dan melihat betapa lamban gerakan Biruang Hitam yang amat kuat itu, dia tidak khawatir bahwa Tio Sun akan dapat tertangkap lagi seperti tadi.

Dugaannya ini memang benar. Tio Sun yang maklum akan berbahayanya apa bila sampai dirinya tertangkap lawan mempergunakan ginkang-nya dan dengan mudah dia mengelak terus sambil menanti datangnya kesempatan.

Kesempatan itu tiba pada saat si Biruang Hitam menghentikan serangan dan menghapus keringatnya yang menetes dari dahi memasuki matanya. Saat itu Tio Sun memekik keras dan tubuhnya berkelebat, dengan jari tangan terbuka dia menampar ke arah muka lawan.

"Plakkk!" Hantaman telapak tangannya sengaja dijatuhkan ke atas hidung Biruang Hitam itu.

"Currrrr...!" Darah segar muncrat dari dalam hidung Biruang Hitam.

Bagaimana pun kebalnya, tak mungkin bagi raksasa ini untuk membikin kebal hidungnya maka begitu kena dihantam dengan keras, darahnya lantas mengucur.

"Ourrgghh...!" Dia menggereng seperti binatang terluka dan mengamuklah Biruang Hitam.

Dengan membabi buta dia pun menyerang sambil menggereng dan mendengus-dengus penuh kemarahan. Kalau saja kedua tangannya yang besar itu berhasil menangkap tubuh Tio Sun, tentu tubuh itu akan dicabik-cabik, tulang-tulangnya akan dipatah-patahkan dan otot-ototnya akan dicabuti!

Namun Tio Sun tidak membiarkan dirinya disentuh, terus dia berkelebatan dan meloncat ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari semua terkaman dan di samping mengelak, juga dia selalu menggunakan setiap kesempatan untuk menghantam bagian-bagian yang dianggapnya tidak kebal.

"Plakkk!"

Kini telinga kiri raksasa itu digaplok keras sekali. Tubuh raksasa itu terputar karena dia merasa kepalanya pening dan ada suara mengiang-ngiang memenuhi telinganya. Rasa nyeri membuat dia mengeluh dan menggereng, lalu menyerang lagi.

Tio Sun mengelak menjauhi, kemudian pada waktu raksasa itu menubruk, dia melompat ke samping dan dari samping kakinya melayang ke bawah pusar, ke bagian tubuh yang paling penting dan berbahaya bagi seorang pria.

"Dukkk!"

Tio Sun meringis dan menarik kembali kakinya yang terasa amat nyeri. Kakinya bertemu dengan benda yang keras seperti besi! Mungkinkah anggota kelamin si Biruang Hitam ini sudah mengeras seperti besi? Tak mungkin! Dan Tio Sun mengerti bahwa tentu di bawah cawat itu dipasangi alat pelindung dari besi.

Biruang Hitam menubruk dan kembali Tio Sun mengelak, sekarang memukul lagi ke arah telinga kanan.

"Plakkk!"

Kembali tubuh itu terputar-putar dan kini tibalah saatnya bagi Tio Sun untuk menghajar lawannya, maka dia mengerahkan tamparan-tamparan pada kedua telinga, hidung, dan mata. Mulailah para tamu yang menjagoi pendekar ini bersorak-sorak dan tubuh Biruang Hitam kini sudah mulai lemah.

Dengan kecepatan kilat, Tio Sun yang melihat kelemahan lawan, segera menggunakan dua jari tangan menotok. Tadi, selagi lawan amat kuat, dia khawatir totokannya tidak akan dapat menembus kekebalan. Sekarang, setelah lawannya mulai lemah, dia mengerahkan tenaga dan dengan mudah dia dapat menotok kedua pundak lawan yang telanjang tepat mengenai jalan darah sehingga dua lengan panjang itu kini tergantung lumpuh!

Tio Sun yang juga merasa lelah dan penasaran, lalu memperlihatkan tenaganya. Setelah kedua tangan yang berbahaya itu dibikin lumpuh, dia berani menerjang maju, menendang lutut lawan sehingga tubuh tinggi besar itu terguling, seperti kilat dia menangkap pinggang orang itu, mengerahkan tenaga kemudian mengangkat tubuh raksasa itu dengan kedua tangannya ke atas kepala dan melemparkannya ke bawah panggung. Tubuh raksasa itu jatuh berdebuk di atas tanah di luar panggung dan rebah pingsan di situ!

Sorak-sorai memenuhi tempat itu menyambut kemenangan Tio Sun dan wajah mereka yang menang bertaruh berseri-seri dan mereka membayangkan kesenangan-kesenangan yang didapatkan atas kemenangan itu. Raja Sabutai bangkit dari tempat duduknya ketika Tio Sun kembali ke situ, dan sambil mengangguk-angguk, Sabutai memuji,

"Sungguh Tio-sicu amat lihai!"

Tio Sun menjura. "Biruang Hitam itu kuat sekali dan hanya kebetulan saja saya tadi dapat mengalahkan dia." Kemudian dia menatap wajah raja itu tajam-tajam dan berkata, "Saya harap sekarang paduka suka memberi petunjuk di mana adanya..."

"Nanti dulu, sicu. Duduklah. Pesta belum lagi berakhir. Kepandaian Tio-sicu sudah kami saksikan dan memang sicu adalah seorang yang memiliki kepandaian hebat. Akan tetapi kami belum melihat kepandaian Souw-sicu."

Tio Sun merasa khawatir kalau-kalau Kwi Beng akan diadukan. Dia tahu bahwa sebagai putera pendekar wanita Souw Li Hwa tentu saja Kwi Beng mempunyai kepandaian yang tinggi juga dan sudah boleh diandalkan, akan tetapi Kwi Beng masih terlampau muda dan dia khawatir kalau-kalau pemuda itu akan membunuh lawannya sehingga menimbulkan suasana tidak enak terhadap Raja Sabutai. Maka cepat dia berkata,

"Sri baginda, tidakkah cukup dengan semua pertandingan itu? Para tamu juga tentu telah menjadi bosan karenanya. Bagaimana jika adik Souw ini memperlihatkan kepandaiannya memainkan hui-to (pisau terbang) dan senjata rahasianya yang sangat hebat, yang dapat memuntahkan peluru baja sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat terlihat oleh mata? Tentu saja untuk permainan ini, tidak diperlukan adu kepandaian yang merupakan lawan karena dapat membunuh orang."

Sabutai mengangguk-angguk sambil tertawa. "Seorang ahli senjata rahasia, heh? Bagus, nah, aku sendiri yang akan mengujinya."

Tio Sun terkejut. Dia sudah mendengar bahwa raja ini, sebagai murid kakek dan nenek lihai Mo-ko dan Mo-li, memiliki kepandaian tinggi dan agaknya Kwi Beng bagaimana pun juga bukanlah lawannya. "Mana bisa adik Souw harus menghadapi paduka yang memiliki kepandaian amat tinggi?" dia mengajukan keberatan.

Raja Sabutai tertawa. "Kami hanya menguji kepandaiannya memainkan senjata rahasia, bukan bertanding." Raja itu lalu bangkit berdiri dan melangkah ke atas panggung.

Semua tamu kini memandang dengan mata terbelalak. Apakah Raja Sabutai yang sakti itu kini hendak bertanding? Semua mata memandang ke arah pemuda tampan berambut agak keemasan yang mengikuti di belakang sri baginda dengan sikap tenang.

"Saudara-saudara sekalian. Pemuda ini pun seorang utusan dari selatan yang lihai. Anda sekalian tadi telah menyaksikan betapa lihainya Tio-sicu yang telah mengalahkan pegulat hebat kita Si Biruang Hitam. Dan sekarang, Bouw-sicu akan menunjukkan kemahirannya menggunakan senjata rahasia."

Semua orang bertepuk tangan, menyambut dengan gembira karena bagi mereka, senjata yang mereka kenal hanyalah anak panah dan tombak yang dilontarkan, atau batu yang disambitkan. Akan tetapi mereka semua maklum bahwa Raja Sabutai juga sangat mahir menggunakan bermacam senjata rahasia, terutama menggunakan anak panah.

Kabarnya, sekali menarik gendewa, raja ini sekaligus mampu meluncurkan tujuh batang anak panah, dan semua menuju ke sasaran dengan tepatnya! Atas isyarat raja, seorang pengawal datang berlari dengan dua orang pembantunya yang datang membawa sebuah alat yang biasa dipakai untuk berlatih ilmu memanah, yaitu sasaran terbuat dari kayu tebal yang sudah diberi lingkaran-lingkaran dan di tengah-tengahnya digambar kepala orang dengan mulut terbuka berwarna hitam.

Atas perintah Sabutai, sasaran itu lalu dipasang dalam jarak seratus langkah. Kemudian Sabutai menerima gendewa dan tempat anak panah dari seorang pengawal lain, dan dia menoleh ke arah Kwi Beng sambil tersenyum.

"Souw-sicu, di daerah ini hampir semua orang mahir bermain anak panah, oleh karena itu ingin sekali kami melihat apakah senjata rahasiamu mampu menandingi anak panah kami dan mengenai sasaran itu dengan sama tepatnya."

Sebelum pemuda itu menjawab, Sabutai sudah memasang sekaligus tiga batang anak panah di gendewanya, lalu menarik tali gendewa dan ketika dia melepaskan tali sehingga terdengar suara menjepret, maka meluncurlah tiga batang anak panah dengan cepatnya menuju sasaran.

Menggunakan tiga batang anak papah sekaligus dapat dilakukan oleh pemanah-pemanah ahli, akan tetapi untuk ditujukan kepada tiga buah sasaran. Kalau tiga batang anak panah ditujukan kepada sasaran yang sama, sungguh merupakan hal yang sangat sukar dan jarang dapat dilakukan orang. Akan tetapi, ketika tiga batang anak panah itu meluncur ke arah sasaran, tahulah semua orang dengan kagum bahwa sang raja itu menujukan ketiga batang anak panahnya kepada sasaran yang sama!

"Cep-cep-cepp!" Bagaikan berebut saja, tiga batang anak panah itu menancap di sasaran, dan tiga-tiganya tepat pada mulut hitam gambar kepala di tengah lingkaran itu.

Tepuk sorak gemuruh menyambut kemahiran yang luar biasa ini. Raja Sabutai sambil tersenyum mengangkat kedua tangan ke atas untuk meredakan kebisingan itu, kemudian dia menghadapi Kwi Beng sambil berkata, "Nah, Souw-sicu, dapatkah senjata rahasiamu mengenai sasaran dengan tepat seperti anak-anak panahku?"

"Akan saya coba, sri baginda," pemuda ini berkata sambil memandang tajam ke arah sasaran yang jaraknya seratus langkah itu.

Dia melihat betapa sasaran inti, yang merupakan mulut hitam kecil dari gambar kepala orang itu, telah penuh oleh tiga batang anak panah sehingga tidak ada tempat lagi bagi senjata rahasianya, maka tahulah dia bahwa Sabutai sengaja mempersulit dirinya. Akan tetapi, Kwi Beng memiliki kelihaian melepas hui-to seperti juga saudara kembarnya dan memiliki kelihaian ibunya dan kecerdasan otak ayahnya, maka setelah mengincar dengan seksama, tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan pekik dahsyat dan tangan kirinya bergerak ke pinggang, diikuti oleh tangan kanannya, kemudian kedua tangan itu bergerak cepat ke depan dan meluncurlah tiga sinar berkilauan ke arah sasaran.

Pemuda ini berturut-turut, hampir berbareng saat pelemparannya saking cepatnya, telah menyambitkan tiga batang hui-to (pisau terbang) ke arah sasaran itu, diikuti oleh pandang mata semua tamu. Secara diam-diam Sabutai kagum juga menyaksikan cara pemuda itu melemparkan pisau demikian cepatnya.

"Cap-cap-capp!" Tiga batang pisau itu menancap dan tiga batang anak panah bergoyang-goyang.

Pada saat semua mata memandang, sejenak suasana hening saking herannya, kemudian lepaslah tepuk sorak dan pujian ketika mereka melihat bahwa ketiga batang pisau itu dengan tepatnya telah menancap di ujung gagang anak panah yang tiga tadi!

Raja Sabutai mengangguk-angguk, akan tetapi dahinya berkerut. Dia kagum sekali akan tetapi juga ada rasa tidak senang, karena pemuda ini telah membikin rusak tiga batang anak panahnya. Maka timbul keinginannya untuk mengalahkan pemuda ini dan dia lalu mengambil lagi sebatang anak panah, dipasangnya di gendewa yang masih dipegang di tangan kirinya, lalu dia berkata lagi setelah semua tamu diam.

"Souw-sicu, kepandaianmu ternyata hebat. Akan tetapi yang menjadi sasaranmu adalah benda tak bergerak. Sekarang ingin aku mengujimu satu kali lagi, yaitu ingin aku melihat apakah dengan senjata rahasiamu, engkau dapat mengenai anak panah yang kulepas di udara."

Jika saja pemuda tampan berambut keemasan itu menyatakan tidak sanggup, maka hati Sabutai sudah akan merasa puas dan tidak akan mendesak lagi karena hal itu sudah menyatakan bahwa pemuda itu masih kalah olehnya dalam hal menggunakan senjata rahasia. Akan tetapi, pemuda itu mengangguk dan berkata tenang,

"Akan saya coba, sri baginda."

Sabutai menjadi sangat penasaran. Benarkah pemuda ini akan dapat menjatuhkan anak panahnya? Betapa pun mahirnya menggunakan pisau terbang, tentu saja luncuran pisau yang disambitkan tidak akan dapat lebih cepat dari pada luncuran anak panahnya, dan pisau itu sampai bagaimana pun tidak akan mampu menyusul anak panahnya, apa lagi mengenainya.

Dan memang pemuda ini pun tahu bahwa pisau terbangnya tidak akan mungkin dapat mengenai anak panah yang diluncurkan, akan tetapi dia sudah bersiap untuk tantangan ini. Semua mata para tamu kini memandang dengan penuh perhatian dan ketegangan, karena mereka pun kesemuanya adalah ahli-ahli panah yang tahu belaka bahwa luncuran anak panah, apa lagi yang dilepaskan oleh tangan Raja Sabutai yang kuat, tidak mungkin dapat dikejar oleh sambitan biasa.

Gendewa menjepret ketika Sabutai melepaskan tali gendewa dan meluncurlah sebatang anak panah ke angkasa! Pada saat itu pula, tangan kanan Kwi Beng sudah bergerak mencabut senjata apinya, yaitu sebuah pistol kecil yang tadi memang sudah dipersiapkan dan diisinya, kemudian dengan ketepatan seorang jago tembak terlatih dia membidikkan pistolnya dan menarik pelatuknya.

"Darrrrr...!"

Semua orang terkejut bukan main mendengar ledakan ini dan semua mata, termasuk juga mata Sabutai, memandang dengan penuh kagum, kaget, dan heran ketika melihat anak panahnya yang masih meluncur itu tiba-tiba runtuh dan patah menjadi dua, jatuh di depan kaki raja itu.....!


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner