DEWI MAUT : JILID-52


Dalam keadaan biasa, tentu Raja Sabutai akan menjadi penasaran dan marah sekali melihat anak panahnya runtuh dan patah menjadi dua itu. Akan tetapi pada saat itu dia terlalu kaget dan heran menyaksikan kehebatan senjata kecil yang aneh itu sehingga dia melongo memandang kepada pistol di tangan Kwi Beng yang masih mengepulkan asap.

Ketika para tamu yang tadi juga tercengang kini bertepuk tangan dan bersorak gemuruh memuji kehebatan senjata rahasia pemuda itu, barulah Sabutai menjadi sadar dan dengan muka jelas membayangkan kekaguman dia memandang senjata api di tangan kanan Kwi Beng sambil bertanya,

"Apakah itu?"

Melihat sikap raja yang jelas sekali kelihatan sangat tertarik dan kagum kepada senjata apinya, Kwi Beng lalu memperlihatkan pistolnya sambil berkata, "Ini adalah senjata api, sri baginda."

Sabutai menyentuh pistol yang masih hangat itu dan memuji, "Hebat bukan main..."

Sambil tersenyum dan menyodorkan pistolnya, Kwi Beng berkata, "Apa bila paduka suka memberi petunjuk supaya kami dapat tahu di mana adanya nona Yap In Hong, sebagai tanda terima kasih saya menghaturkan pistol ini kepada paduka."

Sepasang mata Sabutai terbelalak dan wajahnya berseri. "Benarkah? Akan tetapi tidak ada gunanya, aku tidak bisa mempergunakannya."

"Saya akan mengajar paduka sampai dapat mempergunakannya."

Sabutai tertawa girang, memegang tangan Kwi Beng dan dituntunnya pemuda itu kembali ke tempat duduk kehormatan dan Tio Sun menyambut temannya itu dengan senyum puas karena dia maklum bahwa temannya ini telah mendatangkan kesan baik kepada Sabutai yang juga tersenyum-senyum.

Seperti seorang anak kecil menimang-nimang permainan baru, Sabutai memegang dan meneliti pistol itu, kemudian dia mempelajarinya dan Kwi Beng menjadi gurunya. Cara mengisi peluru dan obat, cara menembakkan dan lain-lain.

Sabutai yang memang cerdas itu sebentar saja sudah menguasainya dan pada saat dia mencobakan pistol itu pada sasaran, ditonton oleh semua tamu, tiga kali tembakan saja Sabutai sudah mampu mengenai mulut kepala di dalam gambar sasaran, disambut tepuk tangan para tamu.

Kwi Beng menyerahkan semua peluru yang dibawanya, sebanyak beberapa puluh butir mesiu dan pistol itu kepada Sabutai. Raja ini girang sekali, menyimpan pistol dan peluru-pelurunya, lalu dia berkata,

"Tio-sicu dan Souw-sicu, kalian ternyata adalah tamu-tamu yang sangat menyenangkan dan kurasa cukup gagah dan berharga untuk berusaha menolong nona Yap In Hong, biar pun kami merasa sangsi sekali apakah kalian akan dapat berhasil. Kami kira kalian tidak akan mampu melawan kedua orang guru kami. Bahkan sekarang, sesudah kedua orang guru kami itu berhasil melatih ilmu baru mereka, jangankan baru kalian berdua, biar pun ketua Cin-ling-pai sendiri dan puteranya yang lihai itu pasti tidak akan dapat menangkan suhu dan subo. Mereka telah memiliki kekebalan yang luar biasa sekali sehingga semua pukulan sakti, semua senjata pusaka tidak akan mampu melukai mereka luar dalam!"

"Kami bukan hendak melawan siapa pun bila tidak terpaksa, yang kami kehendaki hanya agar nona Yap In Hong dibebaskan," kata Tio Sun.

Sabutai tersenyum dan menarik napas panjang. "Kami rasa tidak begitu mudah. Ilmu baru dari suhu dan subo ini amat hebat, dan baru saja diciptakan sehingga kami sendiri pun belum pernah mempelajari ilmu itu. Akan tetapi sesuai dengan janji kami tadi, biarlah ji-wi sekarang mengetahui di mana suhu dan subo menahan nona Yap In Hong, yaitu di kaki Pegunungan Khing-an-san, di Lembah Naga dekat tikungan Sungai Luan-ho. Nah, di situ ji-wi akan dapat menemui suhu dan subo, juga di sanalah nona Yap ditawan."

Tio Sun dan Souw Kwi Beng menjadi girang sekali. Mereka bangkit dan menjura sambil mengucapkan terima kasih, lalu segera berpamit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Lembah Naga saat itu juga! Raja Sabutai juga bangkit berdiri dan berkali-kali dia menarik napas panjang.

"Sayang... sungguh saya akan selalu menyayangkan bahwa dua orang pemuda sehebat ji-wi ini harus membuang nyawa secara sia-sia saja di Lembah Naga. Akan tetapi, kami tidak berhak untuk mencegah dan selamat jalan, Tio-sicu dan Souw-sicu..."

Pada saat itu, seorang pengawal datang dengan cepat dan memberi hormat, lalu melapor dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh dua orang pemuda itu.

Mendengar laporan itu, Sabutai berseri wajahnya dan berkata, "Tio-sicu dan Souw-sicu, tunggu sebentar! Baru saja pengawal kami melaporkan bahwa isteri kami mendengar akan kunjungan utusan kaisar dan kini beliau minta kepada ji-wi untuk menjenguk putera kami. Kami adalah sahabat kaisar, maka ji-wi sebagai utusan kaisar tentu juga merupakan sahabat kami pula. Bagaimana ji-wi dapat bercerita di kota raja tentang putera kami kalau ji-wi tidak menjenguknya? Nah, isteri kami telah mengundang, harap ji-wi suka masuk ke dalam sebentar."

Tentu saja Tio Sun dan Souw Kwi Beng tidak berani menolak undangan yang ramah ini dan mereka berdua kemudian diantar oleh empat orang pengawal menuju ke dalam yang ternyata suasananya tenteram dan tenang, tidak seramai di tempat pesta itu.

Mereka melalui ruangan-ruangan dan lorong-lorong, dan akhirnya mereka tiba di tempat kediaman Puteri Khamila. Di dalam sebuah kamar yang amat bersih dan sejuk, terdapat sebuah ayunan bayi yang dijaga oleh lima orang pelayan wanita. Agaknya, para pelayan itu sudah menerima perintah dari Puteri Khamila, karena begitu melihat keempat orang pengawal yang mengantar dua orang pemuda asing itu, mereka cepat-cepat mundur dan mempersilakan mereka masuk.

"Ji-wi (tuan berdua) dipersilakan masuk dan menjenguk pangeran," kata seorang di antara empat pengawal itu dengan bahasa Han yang lancar akan tetapi kaku.

Tio Sun bersama Souw Kwi Beng lalu melangkah memasuki kamar itu dan menghampiri ayunan bayi. Mereka menjenguk dan melihat seorang bayi yang amat sehat dan mungil, sedang tidur terlentang dengan nyenyaknya.

Dua orang pemuda itu tentu saja memandang dengan penuh perhatian dan diam-diam mereka memuji bahwa putera Sabutai ini memang seorang anak bayi yang sangat sehat dan tampan, juga biar pun masih bayi sudah membayangkan keagungan.

Pada saat itu pula terdengar suara kaki melangkah dari dalam dan semua pelayan, juga empat orang pengawal itu cepat menjatuhkan diri berlutut. Souw Kwi Beng dan Tio Sun menengok dan mereka terkejut melihat seorang wanita yang berpakaian indah, keluar dari pintu dalam dan mereka dapat menduga bahwa tentu inilah permaisuri atau isteri Raja Sabutai, maka mereka cepat memberi hormat dengan menjura sampai dalam.

"Saya mendengar bahwa ji-wi adalah utusan dari kaisar, benarkah?" suara Khamila yang halus dan merdu itu terdengar tidak kaku sehingga dua orang muda itu menjadi kagum. Tidak mereka sangka bahwa isteri dari raja liar Sabutai itu seorang wanita yang begini muda, cantik jelita dan juga terpelajar.

Tio Sun yang tadi sudah terlanjur mengaku sebagai utusan kaisar, tentu saja tidak berani menyangkal lagi. "Benar, kami berdua datang dari kota raja."

"Kalian diutus untuk menghadiri pesta perayaan kelahiran puteraku?" kembali sang puteri bertanya, dan aneh, suaranya agak tergetar.

"Maaf, harap paduka suka memaafkan kami. Sesungguhnya... ehhh, agaknya sri baginda kaisar belum mendengar tentang kelahiran putera Sri Baginda Sabutai, maka kami hanya diutus untuk menyelamatkan nona Yap In Hong, ada pun kami hanya kebetulan mampir ketika mendengar akan perayaan ini untuk menyelidiki di mana kami dapat mencari nona Yap."

"Dan kalian sudah tahu tempatnya?"

"Berkat kemurahan hati Sri Baginda Sabutai, kami telah diberi tahu."

Hening sejenak. Para pengawal dan pelayan masih berlutut dan tidak ada pelayan yang berani mengangkat muka memandang sang puteri.

"Saya mendengar bahwa keturunan raja-raja di negerimu sana adalah manusia-manusia utusan Tuhan yang ketika lahir ada tanda-tanda tertentu pada tubuh mereka. Sampaikan kepada kaisar dan keluarga kerajaan di negerimu bahwa puteraku ini pun memiliki tanda tahi lalat merah di sebelah kanan pusar. Ingin aku mendengar apakah itu pun merupakan tanda dari Tuhan."

Tio Sun dan Souw Kwi Beng terharu mendengar ini. Harapan seorang ibu di mana pun sama saja, tak peduli ibu itu seorang petani biasa atau seorang permaisuri, yaitu harapan agar puteranya kelak menjadi orang yang mulia dan bahagia!

"Kami menghaturkan selamat atas kelahiran putera paduka dan semoga sang pangeran diberi berkah dan panjang usia. Kami akan menyampaikan semuanya ke kota raja," jawab Tio Sun tanpa berani menyebut kaisar karena bagaimana dia berani menghadapi kaisar untuk menyampaikan semua ini?

"Terima kasih. Kalian menghadapi tugas yang sangat berat. Nah, kalian pergilah," sambil berkata demikian, puteri itu menyerahkan sehelai kertas terlipat dan berbisik, "Bukalah jika menemui kesulitan." Kemudian puteri itu memberi perintah kepada pengawal untuk mengantar dua orang tamu itu keluar.

Sambil menggenggam kertas itu dengan hati penuh pertanyaan, Tio Sun memberi hormat diturut oleh Kwi Beng, kemudian keduanya lalu mundur dan meninggalkan kamar itu. Tio Sun cepat mengantongi kertas itu dan ketika Sabutai menyambut mereka, Tio Sun cepat memberi hormat dan berkata,

"Putera paduka sungguh sehat dan tampan, semoga diberkahi Tuhan dan dikurniai usia panjang."

"Ha-ha-ha-ha, terima kasih, sicu. Kelak dia tentu akan menjadi seorang yang lihai seperti sicu."

Dua orang pemuda itu segera berpamit dan pergilah mereka meninggalkan tempat itu, langsung keluar dari tembok benteng dan melanjutkan perjalanan mereka mencari tempat yang kini telah mereka ketahui, yaitu Lembah Naga, yang sudah mereka ketahui dari Raja Sabutai.

Di tengah perjalanan, Tio Sun mengeluarkan secarik kertas yang diterimanya dari Puteri Khamila tadi. Ternyata ada tulisannya, dua baris huruf-huruf indah.

Menemukan kelemahan Hek Pek tidaklah mudah,
harus dicari dari lutut ke bawah!


Tio Sun dan Kwi Beng menjadi girang bukan main. Mereka sudah khawatir mendengar keterangan Raja Sabutai bahwa dua orang gurunya itu memiliki ilmu baru yang hebat, yaitu kekebalan yang tidak terlawan oleh pukulan sakti atau pun senjata pusaka. Mereka percaya akan keterangan itu karena seorang seperti Sabutai tidak nanti membohong atau menyombongkan sesuatu yang tidak ada kenyataannya.

Maka setelah membaca tulisan Puteri Khamila, selain terheran-heran juga mereka merasa girang sekali. Diam-diam mereka menghafal bunyi tulisan itu lalu merobek-robek kertas itu dan mereka menduga-duga mengapa puteri itu mau membuka rahasia kakek dan nenek iblis itu kepada mereka.

Tentu saja dua orang pemuda itu tidak tahu bahwa Puteri Khamila sendirl merasa kaget, bingung dan penasaran ketika mendengar bahwa nona Yap In Hong diculik oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Dia sudah berhutang budi kepada In Hong, bahkan bersama dengan In Hong dia sudah meloloskan Kaisar Ceng Tung dari tahanan. Kini, mendengar bahwa In Hong diculik oleh kakek dan nenek iblis yang menjadi guru suaminya, dia pun merasa penasaran sekali. Akan tetapi, dia pun maklum bahwa suaminya sendiri sebagai murid tentu tidak akan berdaya menghadapi kakek dan nenek itu, maka secara cerdik puteri ini lalu membujuk suaminya untuk bercerita tentang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li.

Sabutai yang amat cinta kepada isterinya dan tidak melihat bahaya kalau rahasia kedua gurunya diketahui isterinya, tidak menyimpan rahasia sesuatu dan menceritakan bahwa kedua orang gurunya itu telah menguasai semacam ilmu kekebalan yang sangat mukjijat dan bahwa dia sendiri masih belum tahu kelemahannya dengan pasti, hanya tahu bahwa kelemahannya itu terdapat di bagian tubuh dari lutut ke bawah.

Maka, ketika Khamila mendengar bahwa ada dua orang utusan kaisar hadir dalam pesta, cepat dia menuliskan rahasia kelemahan itu pada selembar kertas, lalu dia mengundang dua orang utusan itu untuk menjenguk puteranya. Dalam peristiwa ini, dia mempunyai dua maksud. Pertama, mengabarkan tentang keadaan puteranya kepada ayah kandungnya, yaitu Kaisar Ceng Tung, dan yang kedua, dia dapat membocorkan rahasia kekebalan dua orang kakek dan nenek yang menculik In Hong…..

********************

Tio Sun dan Kwi Beng telah tiba di sebelah selatan Padang Bangkai. Lembah Naga telah nampak dari jauh ketika mereka tadi meloncat ke atas pohon tinggi dan mengintai. Akan tetapi jalan menuju ke Lembah Naga itu terhalang oleh padang rumput dan alang-alang yang luas sekali. Mereka tidak tahu bahwa itulah Padang Bangkai yang amat berbahaya, pintu masuk ke Lembah Naga yang merupakan pintu neraka.

Hari masih pagi ketika mereka mulai memasuki daerah Padang Bangkai. Tio Sun yang berwatak hati-hati itu tidak sembrono, melakukan perjalanan perlahan-lahan dan dengan penuh kewaspadaan dia selalu melihat ke kanan kiri menjaga segala kemungkinan.

Tiba-tiba dia memberi isyarat kepada Kwi Beng yang berjalan di belakangnya. Mereka berhenti dan menahan napas. Siliran angin dari depan membawa pula suara tangis lirih. Kalau tidak ada angin bersilir, agaknya suara itu tidak akan terdengar oleh mereka.

Dengan isyarat tangan Tio Sun memberi tahu kepada temannya untuk maju perlahan dan tidak mengeluarkan suara berisik. Berindap-indap mereka lalu maju menghampiri ke arah suara tangis wanita itu. Sungguh menyeramkan mendengar suara tangisan itu, di tempat yang begini sunyi, penuh dengan rumput alang-alang tinggi dan tidak nampak orangnya yang menangis.

Ketika mereka tiba di rumpun alang-alang yang berada di pinggir jalan setapak, mereka amat terkejut karena melihat bahwa yang menangis itu adalah seorang wanita muda yang cantik, yang menangis sambil menelungkup di atas tanah yang tertutup batang dan daun alang-alang yang malang melintang menjadi alas tubuhnya.

Wanita itu menangis sedih sekali, sesenggukan hingga air matanya membasahi seluruh wajahnya yang cantik. Tangan kanannya menutupi sebagian mukanya sedangkan tangan kirinya... buntung sebatas pergelangan tangan dan dibungkus oleh kain putih yang masih membekas darah merah, tanda bahwa luka atau buntungnya tangan itu terjadi belum lama ini.

Dua orang pemuda itu tercengang dan merasa kasihan sekali melihat ke arah lengan kiri yang sudah tidak bertangan lagi itu. "Apa yang terjadi, nona?" Kwi Beng yang memang berperasaan halus dan mudah terharu itu bertanya sambil melangkah mendekati.

Gadis itu terkejut, kemudian menurunkan tangan kanannya dan dengan mata merah dia memandang. Ketika melihat bahwa di hadapannya sudah berdiri dua orang laki-laki yang tidak dikenalnya, laksana seekor harimau yang marah, dia berteriak keras dan tubuhnya mencelat ke atas, langsung dia menyerang Kwi Beng dengan pukulan tangan kanannya. Cepat sekali gerakan tubuhnya, seperti terbang saja dan tubuhnya berkelebat menjadi bayangan merah karena gadis itu memakai pakaian serba merah.

"Ehh...?" Kwi Beng terkejut dan cepat dia menangkis karena kecepatan serangan gadis itu membuat dia tidak sempat lagi mengelak.

"Dukkk!"

Dua lengan bertemu dan akibatnya Kwi Beng hampir terjengkang kalau saja dia tidak cepat-cepat berjungkir balik. Kiranya gadis itu memiliki tenaga yang amat kuat meski pun tangannya tinggal satu!

"Ehhh, nanti dulu, nona!" Tio Sun berseru mencegah, akan tetapi tiba-tiba dia berseru, "Beng-te, awas...!"

Kwi Beng cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah. Sebagai seorang ahli melempar pisau terbang, tentu saja dia segera maklum apa artinya benda-benda hitam kecil yang menyambar ke arahnya. Ternyata paku hitam itu meluncur lewat dan juga Tio Sun sudah berhasil mengelak dari sambaran paku hitam yang disambitkan oleh gadis berpakaian merah itu.

Akan tetapi gadis itu sudah menyerang lagi, sekarang menyerang Tio Sun dengan tangan tunggalnya. Tio Sun cepat mengelak, kemudian sesudah mengelak tiga kali, dia tiba-tiba menangkap pergelangan tangan kanan gadis itu sambil berkata,

"Tahan dulu, nona. Mari kita bicara!"

"Bicara apa lagi, kau kaki tangan kakek dan nenek iblis!" Nona itu membentak, meronta dan merenggutkan tangannya sambil menendang. Kakinya mencuat ke arah bawah pusar Tio Sun. Tentu saja pendekar ini terkejut sekali. Maklum akan bahayanya tendangan maut itu, terpaksa dia melepaskan tangan gadis itu.

"Plakkk!" Kembali gadis itu menghantam ke arah Kwi Beng dan ditangkis oleh Kwi Beng yang menjadi terhuyung.

"Twako, gadis ini gila...!" Kwi Beng berseru kaget.

Tio Sun cepat meloncat ke depan menghadang, dan tiba-tiba nampak cahaya berkelebat pada saat gadis itu mencabut sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang Tio Sun dengan pedangnya!

"Hemmm...!" Tio Sun segera mengelak, dan melihat betapa gadis itu menyerang secara kalang-kabut dan nekat, dia mulai percaya akan ucapan Kwi Beng tadi.

Harus diakuinya bahwa gadis ini bukan sembarangan orang, melainkan seorang ahli ilmu silat yang selain memiliki sinkang yang lebih kuat dari pada Kwi Beng, juga mempunyai kecepatan yang amat luar biasa dan ilmu silatnya pun tinggi. Akan tetapi melihat caranya menyerang begitu nekat dan kalang-kabut, dia tahu bahwa kalau tidak gila tentu gadis ini sedang bingung dan kacau pikirannya.

"Minggir, Beng-te!" serunya.

Dia tahu betapa bahayanya menghadapi seorang lawan yang kacau pikirannya karena lawan seperti ini hanya tahu menyerang secara nekat saja sehingga kelihaiannya menjadi bertambah. Dia pun cepat mencabut senjatanya, yaitu sebatang pedang dan melolos pula sabuknya yang dapat dipergunakan sebagai pecut.

"Tringg-cringgg... tarrr...!"

Dua pedang bertemu berkali-kali dan pecut di tangan kiri Tio Sun menyambar-nyambar. Namun gadis itu sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan menyerang makin nekat.

Tio Sun adalah seorang pemuda yang berpandangan luas dan tak mau sembrono dalam segala tindakannya. Maka, menghadapi gadis yang nekat dan mengamuk ini, tentu saja dia tidak mau menurunkan tangan besi, tak mau melukai apa lagi membunuh orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak diketahui mengapa mengamuk seperti itu. Dengan hati-hati dia selalu menghalau pedang lawan dan mencari kesempatan baik.

Memang dalam hal tenaga dan ilmu silat, Tio Sun masih menang jauh, maka kecepatan gerakan wanita itu tidak membuat pemuda ini menjadi bingung. Dengan tenang dia hanya membiarkan gadis itu menyerang terus dan tiba-tiba dia menangkis sambil mengerahkan tenaga Ban-kin-kang (Tenaga Selaksa Kati).

"Trangggg...!”

“Aihh...!" Wanita itu menjerit dan pedangnya terlepas dari tangannya. Akan tetapi, betapa kaget hati Tio Sun melihat lawan yang sudah dilucuti senjatanya itu tiba-tiba menubruknya dan menyerang terus dengan tangan tunggalnya secara nekat!

"Ahhh, kau sungguh nekat...!" kata Tio Sun dan cepat sabuknya menyambar. Dua kali ujung sabuknya menotok sehingga wanita itu pun mengeluh dan roboh tertotok, tubuhnya lemas dan tidak mampu bergerak lagi karena kaki tangannya seperti lumpuh!

Akan tetapi kedua matanya masih melotot memandang dan ketika dua orang pemuda itu menghampirinya, tiba-tiba gadis itu berteriak, "Kalian bunuhlah aku dan aku malah akan berterima kasih kepada kalian! Akan tetapi kalau kalian memperkosa aku, ingatlah, biar sampai mati pun arwahku akan menjadi setan dan terus mengejar kalian untuk membalas dendam!"

Wajah kedua orang pemuda itu menjadi merah dan Tio Sun lalu berkata, "Nona, kau ini menganggap kami berdua orang macam apakah? Kami tidak sudi melakukan perbuatan terkutuk itu dan kalau aku merobohkanmu, itu adalah karena terpaksa melihat engkau begitu nekat menyerang kami mati-matian."

Kini pandang mata gadis itu berubah seperti orang baru sadar dan terheran. "Siapakah kalian? Bukankah kalian diutus oleh Mo-ko dan Mo-li untuk membunuh aku?"

Tio Sun menggelengkan kepala. "Kami sama sekali bukan diutus oleh Mo-ko dan Mo-li, bahkan kami datang untuk mencari Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, hendak menolong nona Yap In Hong. Apakah kau tahu tentang itu?"

"Ohhh...!" Gadis itu kelihatan kaget sekali, memandang mereka berdua bergantian penuh perhatian. "Ahh... kalau begitu lekas... lekas kalian selamatkan Cia Bun Houw...!" Setelah berkata demikian dia menangis lagi.

Tentu saja Tio Sun dan Kwi Beng terkejut bukan main mendengar ini dan Tio Sun cepat membebaskan totokannya sehingga dara itu dapat bergerak kembali. Dia bangkit duduk dan berkata berulang kali. "Maafkan aku... maafkan aku...," sambil menangis.

Tio Sun dan Kwi Beng juga ikut duduk. Dengan duduk begitu, mereka kalah tinggi oleh rumpun ilalang sehingga tidak nampak dari jauh.

"Nona, agaknya ada kesalah fahaman antara kita. Nona mengira bahwa kami adalah anak buah kakek dan nenek iblis di Lembah Naga itu, dan kami mengira bahwa nona adalah kaki tangan mereka yang hendak membunuh kami. Sekarang ceritakanlah dengan jelas, siapakah nona dan mengapa mengira kami anak buah mereka? Bagaimana pula dengan saudara Bun Houw yang kau sebut-sebut tadi?"

"Ah, dia tentu celaka... kalau kalian ada kepandaian, harap lekas selamatkan dia. Dengar, aku adalah Liong Si Kwi, murid dari Hek I Siankouw. Guruku itu sekarang juga berada di Lembah Naga, membantu nenek dan kakek iblis itu. Yap In Hong memang ditawan di sana untuk memancing datangnya musuh-musuh kakek dan nenek itu. Akan tetapi yang muncul adalah Cia Bun Houw dan karena hendak membela nona Yap In Hong, Cia Bun Houw kini pun tertangkap sehingga mereka berdua ditawan. Aku... aku... mencoba untuk membebaskan Cia Bun Houw, akan tetapi gagal dan ketahuan... dan aku..." Dia bicara tergagap-gagap dan memandang lengan kirinya yang buntung.

"Engkau lalu dibuntungi tangan kirimu?" Tio Sun bertanya dan gadis itu mengangguk.

"Betapa kejamnya!" Kwi Beng berseru marah dan mengepal tinju.

Gadis itu memandang kepada mereka berdua bergantian, seakan-akan hendak menaksir apakah benar dua orang pemuda itu boleh diandalkan.

"Kalian hanya berdua saja dan hendak menyerbu Lembah Naga?" tanyanya.

"Benar! Kami berdua akan menyerbu dan membebaskan nona In Hong, bila perlu dengan taruhan nyawa kami!" Kwi Beng berkata dengan penuh semangat.

Si Kwi, gadis yang bernasib malang itu, memandang tajam kepada Kwi Beng, kemudian menarik napas panjang dan berkata lirih, "Aihhh... engkau agaknya juga menjadi korban cinta..."

Kwi Beng menjadi merah mukanya dan mengerutkan dahinya. "Apa? Apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, hanya kiranya amat berbahaya kalau kalian berdua menyerbu Lembah Naga. Kalian tidak tahu betapa berbahayanya itu." Kini sikap Si Kwi sudah tenang kembali dan dia lalu menceritakan keadaan Padang Bangkai yang penuh dengan tempat-tempat berbahaya itu. Dengan jelas dia memberi petunjuk tentang jalan menuju ke Lembah Naga yang harus melewati Padang Bangkai.

"Akan tetapi, anak buah Padang Bangkai sudah dibasmi oleh Cia Bun Houw dan ketua mereka suami isteri kini berada di Lembah Naga juga, maka akan mudahlah bagi kalian untuk menyeberangi padang ini. Biar pun begitu, begitu tiba di Lembah Naga kalian akan menghadapi bahaya besar. Kakek dan nenek itu sudah amat lihai dan berbahaya seperti iblis. Pula, selain mempunyai anak buah sebanyak seratus orang, juga mereka dibantu oleh orang-orang pandai seperti Bouw Thaisu, guruku Hek I Siankouw, kemudian Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li suami isteri ketua Padang Bangkai! Maka kalau hanya kalian berdua yang menyerbu Lembah Naga, bukankah hal itu sama artinya dengan mengantar nyawa sia-sia belaka?"

Akan tetapi Kwi Beng masih tetap bersemangat ada pun Tio Sun tenang saja mendengar cerita itu, sungguh pun di dalam hati masing-masing mereka mengambil keputusan untuk bersikap hati-hati sekali sesudah mendengar penuturan ini. "Aku tidak takut. Bagaimana pun juga aku harus berusaha untuk menolong dan menyelamatkan nona In Hong!"

Tio Sun memandang kepada nona itu dan berkata, "Nona Liong Si Kwi, kami berterima kasih sekali atas segala petunjukmu dan engkau ternyata adalah seorang sahabat yang baik sekali. Bahkan engkau sampai mengorbankan sebelah tanganmu untuk menolong Cia-taihiap."

Mendengar ucapan itu, Si Kwi menunduk dan tidak menjawab, kelihatan berduka sekali. Melihat ini, Tio Sun lalu memberi isyarat kepada Kwi Beng dan mereka berdua segera bangkit berdiri.

"Nona Liong, kami hendak melanjutkan perjalanan ke Lembah Naga. Sekali lagi terima kasih," kata Tio Sun, akan tetapi kini Si Kwi sudah mulai menangis lagi, menelungkup dan memeluki rumput-rumput di tempat itu.

Tio Sun menghela napas dan mengajak Kwi Beng meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalanan ke utara untuk menyeberangi Padang Bangkai yang ternyata amat berbahaya menurut petunjuk Si Kwi tadi. Kwi Beng juga diam saja mengikuti Tio Sun meninggalkan gadis yang masih menangis, dan setelah jauh baru dia bertanya,

"Tio-twako, dia kenapakah?"

Kembali Tio Sun menarik napas panjang. Dia tidak menjawab langsung melainkan berkata lirih seperti kepada dirinya sendiri, "Betapa banyaknya di dunia ini manusia dipermainkan dan menjadi korban cinta..."

"Eh, kenapa ucapanmu seperti nona Liong Si Kwi tadi? Dia juga mengatakan bahwa aku menjadi korban cinta. Apa maksudnya dan apa maksudmu?"

"Aku tidak tahu bagaimana kenyataannya, akan tetapi melihat keadaan gadis itu, menurut dugaanku agaknya tidak salah lagi bahwa dia telah jatuh cinta kepada Cia-taihiap. Karena cintanya maka dia berkhianat dan berusaha menolong Cia-taihiap, namun dia ketahuan sehingga dia dibuntungi tangan kirinya. Sungguh kasihan dia."

Tio Sun menghentikan kata-katanya karena hatinya bagaikan ditusuk ketika dia teringat akan keadaannya sendiri yang juga gagal dalam cintanya. Dia memandang kepada Kwi Beng dan diam-diam dia mengharapkan agar kegagalan yang menyedihkan itu jangan menimpa pemuda tampan ini yang dia tahu benar-benar cinta dan tergila-gila kepada Yap In Hong.

Biar pun mereka telah memperoleh petunjuk yang amat lengkap dari Si Kwi, akan tetapi dua pemuda itu melakukan perjalanan dengan hati-hati sekali melewati Padang Bangkai dan benar-benar seperti cerita gadis tadi, dusun Padang Bangkai itu sudah kosong dan ditinggalkan penghuninya sehingga tanpa banyak kesukaran mereka dapat melewatinya dan menuju ke Lembah Naga…..

********************

Pohon di tepi padang rumput itu besar dan rimbun sehingga enak duduk beristirahat di dalam bayangannya di siang hari yang terik itu. Akan tetapi kakek tua renta yang sedang duduk di bawah pohon itu agaknya tidak lagi dapat menikmati kesejukan yang diberikan oleh kerindangan pohon itu kepada siapa saja yang berlindung dari panas matahari di bawahnya, karena seluruh perhatian kakek tua renta itu dicurahkan ke atas sebuah papan catur, dan tangannya menjalankan biji-biji catur putih dan hitam silih berganti.

Dia sedang bertanding catur melawan dirinya sendiri! Kadang-kadang kakek tua renta itu menarik napas panjang seperti orang yang kecewa sekali sebab tidak memperoleh musuh bertanding yang tentu akan menggembirakan sekali.

Kakek itu sudah sangat tua, usianya sukar ditaksir karena paling sedikit tentu sudah ada seratus tiga puluh tahun! Seluruh rambut, kumis serta jenggotnya sudah putih semua, mukanya penuh keriput, pakaiannya serba putih sederhana dan tubuhnya kurus sehingga kelihatan tulang terbungkus kulit yang sudah tipis.

Segala sesuatu pada diri kakek ini tampak tua sekali, kecuali kedua matanya! Sepasang mata itu lembut dan masih jernih, memandang dunia secara terbuka dan seolah-olah tidak ada rahasia lagi bagi sepasang mata yang sudah amat lama memandang dunia ini.

Seorang dara remaja yang cantik duduk di dekatnya. Dara ini usianya kurang lebih lima belas tahun, cantik manis dan pakaiannya juga amat sederhana, bahkan sudah ada dua tambalan di bagian pundaknya. Wajah gadis ini membayangkan bahwa dia memiliki watak yang jenaka dan gembira, namun pandang matanya yang tajam itu pun menunjukkan kekerasan hati yang sukar ditundukkan.

Semenjak tadi dara remaja ini menjadi penonton, melihat betapa kakek itu bermain catur sendiri. Akan tetapi lama-kelamaan dia menjadi bosan dan tidak sabar. Kakek ini adalah seorang pemain catur yang ahli, maka meski pun dia sendiri sudah bisa bermain catur, namun dia bukan lawan kakek itu dan dia tidak mau menandingi kakek itu karena akan dapat dikalahkan dengan amat mudah. Kini, sebagai penonton pun dia mulai bosan.

Kembali kakek tua renta itu menarik napas panjang dan wajahnya yang tua itu kelihatan berduka. Kerut-merut pada dahinya bertambah dan sepasang matanya ditujukan ke atas papan catur seperti orang sedang melamun. Dia tidak tahu bahwa sejak tadi dara remaja itu memandang wajahnya dan kelihatan semakin tidak sabar.

"Suhu, kalau suhu tidak senang bermain catur sendiri, mengapa suhu memaksa diri?"

Teguran ini membuat si kakek seperti orang terkejut dan dia menoleh ke arah dara itu.

"Hemmm...? Apa...?" katanya pikun.

"Teecu tahu bahwa suhu suka sekali bermain catur, akan tetapi sudah beberapa hari ini bila suhu bermain catur, selalu terlihat berduka dan berulang kali menarik napas panjang. Jika permainan itu hanya mendatangkan kekecewaan dan kedukaan, kenapa suhu tidak berhenti saja?"

Kakek itu memandang kepada muridnya dan kembali dia menghela napas panjang, lalu bersandar ke batang pohon besar itu dan pandang matanya melayang jauh ke depan. Kakek tua renta ini bukan lain adalah Bun Hwat Tosu, seorang tosu yang sudah tua sekali dan puluhan tahun yang lalu pernah menjadi ketua Hoa-san-pai, akan tetapi kemudian mengundurkan diri dari dunia ramai dan hidup berkelana ke tempat-tempat sunyi.

Di dalam cerita Petualang Asmara diceriterakan bahwa tosu yang amat lihai ini pernah menjadi guru dari pendekar Yap Kun Liong, kemudian dia menghilang dan tak ada kabar ceritanya lagi, bertapa di puncak-puncak gunung dan di goa-goa tepi laut. Akan tetapi, seperti telah diceritakan di bagian depan, kakek ini muncul dan telah menolong Yap Mei Lan, puteri dari Yap Kun Liong. Dara remaja itu adalah Yap Mei Lan yang telah setahun lebih lamanya ikut kakek ini dan menjadi muridnya, sama sekali tidak tahu bahwa kakek yang menjadi gurunya ini adalah guru dari ayahnya sendiri!

Mendengar ucapan muridnya itu, Bun Hwat Tosu lalu menarik napas panjang. Kemudian terdengar dia berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri, "Melihat kelemahan diri sendiri, siapa yang tidak menjadi sedih? Sudah puluhan tahun lamanya aku berhasil melepaskan keduniawian, tidak membutuhkan apa-apa lagi, tidak menginginkan apa-apa lagi, hidup dengan bebas dan bahagia karena tidak dirongrong oleh pikiran dan keinginan sendiri. Akan tetapi sekarang...!"

"Memang sekarang bagaimana, suhu?" gadis itu mendesak sambil menatap wajah tua yang menimbulkan rasa iba di dalam hatinya itu.

"Kau lihatlah sendiri, aku kegilaan bermain catur! Aku rindu akan adanya seorang lawan bertanding catur, seorang lawan yang kuat, persis seperti kesenangan yang kucari-cari puluhan tahun yang lalu ketika aku selalu mencari-cari seorang lawan bermain silat yang kuat. Dan perasaan ingin ini selalu mengejar-ngejarku, bahkan dalam mimpi! Akan tetapi hingga sekarang aku belum juga mendapatkan lawan yang seimbang dan menyenangkan. Bukankah itu menyedihkan sekali? Ini tandanya bahwa aku sebenarnya belum mati, dan kebebasan yang lalu itu bukan lain hanya mimpi belaka. Kini aku terbangun dan melihat bahwa yang lalu itu hanya merupakan mimpi, maka betapa menyedihkan itu!"

"Memang suhu belum mati." kata pula si dara yang menjadi bingung oleh kata-kata yang dianggapnya tidak karuan artinya itu.

"Kalau saja sudah, alangkah baiknya!" kakek itu menghela napas panjang. "Akan tetapi kematian jasmani tidaklah terlalu penting, namun yang terpenting adalah mati dari semua keinginan dan kehendak, mati aku-nya, mati keinginannya mengejar kesenangan."

Dara remaja yang cantik itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah seperti dilukis.

"Akan tetapi, suhu. Apa bila sudah mati keinginannya, sudah mati kehendaknya mengejar kesenangan, bila sudah tidak butuh kesenangan lagi, bukankah hal itu sama saja dengan hidup seperti sebatang pohon yang suhu sandari itu? Bukankah hidup seakan tidak ada gunanya lagi?"

Kakek itu tersenyum, senyum yang sudah lama tidak nampak oleh dara itu.

"Justru sebaliknya, muridku. Hanya orang yang sudah tidak ingin mengejar kesenangan sajalah yang dapat menikmati kesenangan yang sesungguhnya! Hanya orang yang sudah tak ingin mengejar kebahagiaan sajalah yang betul-betul bahagia. Orang yang tidak puas saja yang mengejar kesenangan yang dianggapnya akan mengisi kekosongannya, akan memuaskannya. Akan tetapi setelah yang dikejarnya didapatkan, ketidak puasan itu tetap akan menghantuinya, dirinya akan selalu penuh ketidak puasan sehingga hidupnya selalu menjadi sengsara."

"Akan tetapi, apakah kita lalu harus memantang kesenangan dan menjauhi kepuasan?" dara itu mengejar terus, wajahnya membayangkan penasaran.

“Sama sekali bukan, Mei Lan. Bukan memantang atau menolak kesenangan, melainkan TIDAK MENGEJAR, tidak memanjakan dan tidak memusuhi. Kalau sudah begitu, barulah segala saat dalam hidup merupakan kesenangan karena hidupnya adalah kesenangan itu sendiri! Bukan menjauhi kepuasan, melainkan tidak menginginkan kepuasan karena kalau sudah demikian, barulah setiap saat merasa puas karena hidupnya adalah kepuasan itu sendiri!"

"Akan tetapi, kalau sudah tidak memiliki keinginan apa-apa lagi, bukankah itu sama saja dengan mati?"

"Nah, itulah! Mati dalam hidup! Jasmaninya memang hidup dan baru benar-benar hidup apa bila semua keinginan yang timbul dari si aku yang selalu mengejar kesenangan dan keenakan itu sudah mati. Dan celakanya, aku sendiri belum mati, yang kusangka sudah mati puluhan tahun ini hanya mimpi belaka! Dan semua gara-gara papan catur ini!" Dia berkata gemas dan memandang ke arah papan caturnya. "Aku menjadi kegilaan bermain catur, menjadi pecandu catur, bahkan di dalam hati aku telah bersumpah bahwa aku tidak akan mau mati sebelum berjumpa dengan seorang lawan catur yang setingkat! Aihhh…, sungguh aku seorang tua yang tolol!" Bun Hwat Tosu yang biasanya bersikap halus itu, kini menengadahkan mukanya ke atas, mengepal tinju dan berteriak keras, "Haii, segala dewa! Turunlah dan mari bertanding catur melawan aku!"

Tiba-tiba terdengar suara yang bergema, tidak jelas dari mana datangnya. "Bagus! Aku datang memenuhi tantanganmu, tua bangka sinting!"

Tentu saja Mei Lan menjadi terkejut bukan main dan biar pun dia tergolong seorang anak yang pemberani dan tidak mudah merasa ngeri atau takut, sekali ini dia merasa betapa bulu tengkuknya meremang. Benarkah muncul setan atau dewa di tengah hari yang terik dan terang itu? Benarkah suara dewa dari angkasa yang menyambut tantangan suhu-nya itu?

Dia bangkit dan memandang ke kanan kiri, namun sunyi saja. Ketika dia menoleh kepada suhu-nya, dia melihat kakek itu tersenyum memandang ke depan. Mei Lan mengikuti arah pandang mata gurunya dan sekarang dia melihat betapa rumpun ilalang jauh di depan itu bergerak-gerak ujungnya dan tampak bayangan orang berkelebat bagai terbang melayang di atas rumpun ilalang itu! Dia memandang terbelalak penuh kekaguman.

Manusiakah yang datang itu? Ataukah dewa? Dia tahu bahwa gurunya adalah seorang manusia sakti yang sudah pandai terbang di atas rumput, semacam ilmu ginkang yang sudah mencapai puncak, akan tetapi kiranya kalau yang datang itu manusia, tentu orang itu memiliki kepandaian yang setingkat dengan gurunya!

Sesudah tiba dekat, ternyata gerakan orang itu memang bukan main cepatnya sehingga tahu-tahu di situ telah meloncat turun seorang kakek raksasa berkepala gundul, jubahnya yang butut dan rombeng itu berwarna merah. Seorang pendeta!

Pendeta miskin agaknya, menuntun seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun, bertubuh tegap dan kuat, wajahnya bundar dan membayangkan keberanian dengan sepasang mata tajam.

Begitu tiba di situ, pendeta Lama itu tertawa bergelak. Sepasang matanya yang lebar itu agak liar pandangannya, sikapnya menakutkan karena bunyi tawanya aneh, dan dia telah melangkah lebar menghampiri Bun Hwat Tosu yang sedang duduk bersila menghadapi papan caturnya. Tosu itu memandang dengan senyum di mulutnya, pandang matanya penuh perhatian ditujukan ke arah pendeta Lama itu.

"Sobat, benarkah engkau demikian baik hati untuk menemani aku bermain catur?" Bun Hwat Tosu bertanya dengan suaranya yang halus sambil menentang pandang mata yang aneh, tajam dan agak liar itu.

"Ha-ha-ha-ha, kalau tidak mendengar orang sinting menantang dewa, siapa sudi bermain catur denganmu? Setelah mendengar engkau menantang dewa, tentulah engkau pemain catur jagoan dan patut dilawan."

"Ha-ha-ha, sobat baik, agaknya engkau seorang ahli main catur," Bun Hwat Tosu berkata, girang sekali.

"Ahli? Bukan, hanya bisa sedikit-sedikit, akan tetapi di seluruh Tibet tidak ada yang dapat mengalahkan aku!"

Bun Hwat Tosu memandang dengan sinar mata berseri karena merasa bahwa sekali ini dia benar-benar menemukan seorang tandingan yang pandai. Inilah yang dirindukannya selama ini! Dan sejenak, dua orang kakek itu saling pandang setelah pendeta Lama itu juga duduk bersila menghadapi Bun Hwat Tosu. Sedangkan anak laki-laki yang datang bersama dia juga duduk tidak jauh dari Mei Lan, setelah melempar pandang ke arah gadis cilik ini dengan sikap acuh tak acuh!

Dua orang anak itu sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya, antara orang tua mereka masih terdapat hubungan yang amat erat. Anak laki-laki yang baru datang itu bukan lain adalah Lie Seng, putera dari mendiang Lie Kong Tek dan isterinya, Cia Giok Keng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lie Seng diculik oleh Giok-hong-cu Yo Bi Kiok dan kemudian ditolong dan dibebaskan oleh Kok Beng Lama. Biar pun Lie Seng hampir saja tewas karena serangan pasir beracun dari Yo Bi Kiok, akan tetapi akhirnya gurunya bisa memperoleh obat dari Yap In Hong di tempat tinggal Yok-moi (Setan Obat) di puncak Gunung Cemara, dan semenjak saat itu, Lie Seng menjadi murid dari Kok Beng Lama.

Seperti kita ketahui, sesudah mendengar akan kematian puterinya, Pek Hong Ing, Kok Beng Lama menjadi sinting dan setengah gila. Pada tengah hari itu, secara kebetulan dia lewat di dekat tempat itu bersama Lie Seng dan mendengar tantangan Bun Hwat Tosu kepada dewa, maka dia menjadi tertarik dan menyambut tantangan itu.

Ada pun di antara Bun Hwat Tosu dan Kok Beng Lama, biar pun keduanya merupakan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, namun karena keduanya sudah puluhan tahun tidak pernah mencampuri urusan dunia kang-ouw, mereka tidak pernah saling mengenal dan baru satu kali ini mereka bertemu muka di tempat sunyi itu secara kebetulan saja. Andai kata keduanya tidak mempunyai kesenangan yang sama, yaitu bermain catur, agaknya kedua orang tokoh besar ini tidak akan dapat saling berjumpa.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau adalah jagoan main catur dari Tibet. Lama yang baik, sungguh hatiku girang bukan main, dalam keadaan kesepian seperti ini muncul seorang jago catur seperti engkau."

"Tosu tua bangka, tak perlu puji-memuji dan sungkan-sungkanan ini. Kita berdua sudah sama-sama tua bangka, juga sama-sama ahli, hanya belum dapat dilihat siapa yang lebih unggul sebelum bertanding. Nah, sebagai tuan rumah tentu engkau suka mengalah dan membiarkan aku memainkan biji putih dan melangkah lebih dulu." Sambil berkata begitu, Kok Beng Lama menggerakkan tangan kanannya untuk meraih biji catur yang berwarna putih.

"Jangan sungkan-sungkan. Silakan saja, Lama. Kau boleh mengumpulkan biji-biji putih itu kalau bisa." Sambil berkata demikian, Bun Hwat Tosu menggunakan tangan kanannya memegang papan catur pada pinggirnya dan diam-diam dia menyalurkan sinkang-nya.

"Ehhh?" Kok Beng Lama yang mengambil biji catur, terkejut karena biji catur itu melekat pada papan, seolah-olah berakar. Dia mengangkat mukanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu dan kedua pasang mata itu seperti mata anak-anak yang tiba-tiba memperoleh permainan baru yang penuh kegembiraan.

Kok Beng Lama maklum bahwa tosu tua renta ini ternyata lihai bukan main, dan tahu pula bahwa tosu itu agaknya tidak hanya ingin menguji kepandaiannya bermain catur, akan tetapi juga ingin menguji kekuatannya. Maka dia pun lalu menyalurkan tenaga sinkang melalui lengan dan jari-jari tangannya dan dengan pengerahan sinkang dia lalu berusaha mengambil biji catur putih yang sudah dipegangnya itu, yaitu biji catur raja.

Akan tetapi, Bun Hwat Tosu yang tiba-tiba merasa betapa papan catur itu tergetar hebat dan satu tenaga sakti yang amat kuat bergelombang menyerangnya, timbul kegembiraan di hatinya karena dia tahu bahwa pendeta Lama ini benar-benar merupakan tandingan yang sangat tangguh, maka dia pun menghimpun tenaga saktinya mempertahankan raja putih itu dengan tenaga membetot.

Maka terjadilah pertandingan yang sangat aneh dan luar biasa, pertandingan yang tidak kelihatan oleh mata akan teta[i yang terjadi amat serunya karena masing-masing sudah mengerahkan tenaga sinkang yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah sangat tinggi tingkat kepandaiannya.

Baik Bun Hwat Tosu dan Kok Beng Lama, keduanya bukan main kaget dan herannya karena masing-masing sama sekali tidak menyangka bahwa lawan ini sungguh tangguh, seorang yang sudah mencapai puncak dari tingkat kepandaiannya! Benar-benar mereka tidak pernah mimpi akan dapat saling bertemu di tempat sunyi ini.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner