DEWI MAUT : JILID-56


"Pegang kuat-kuat, sumoi!" kata Kun Liong, kemudian pendekar ini mulai mengerahkan tenaganya untuk menarik Giok Keng keluar dari dalam lumpur maut itu.

Walau pun agak susah payah dan hati-hati sekali supaya sabuk merah itu tidak putus, akhirnya Giok Keng dapat ditarik keluar dari dalam lumpur dan begitu tiba di atas tanah yang keras, Giok Keng mengeluh,

"Aduhhh... suheng... ada binatang-binatang menggigiti aku...!"

Dia cepat menyentuh kakinya dan ketika melihat seekor lintah menempel pada betisnya, wanita itu menjerit saking jijiknya dan tanpa ingat apa-apa lagi, dibantu oleh Kun Liong, Giok Keng menanggalkan pakaiannya! Dan ternyata ada beberapa ekor lintah menempel di kulit tubuh yang putih mulus namun berlepotan lumpur itu!

Kun Liong membunuh lintah-lintah itu, kemudian dia memondong tubuh Giok Keng yang hampir pingsan saking ngeri dan jijiknya, membawanya ke saluran air yang mengalir di tepi lorong dan menurunkan tubuh itu sehingga terendam air.

"Ahhh, suheng...!" Giok Keng terisak, kedua lengannya masih merangkul leher Kun Liong.

Sejenak mereka berada dalam keadaan seperti itu, saling rangkul dan masih tegang oleh peristiwa yang amat mengerikan itu. Dalam keadaan seperti itu, dua hati yang memang semenjak dahulu saling tertarik akan tetapi tidak memperoleh kesempatan untuk bersatu, merasakan getaran aneh. Kun Liong maklum akan hal ini, maklum pula bahwa keadaan mereka yang ditinggal mati oleh teman hidup masing-masing memperkuat dorongan itu.

"Sumoi..."

"Suheng, aku cinta padamu, suheng... ahh, baru sekarang aku merasakan hal itu..."

"Sumoi, aku pun cinta kepadamu. Akan tetapi, sumoi, kita tidak boleh... dan cinta bukan hanya hubungan antara jasmani belaka. Dapatkah kau merasakan itu, sumoi? Kita saling mencinta, dan justru cinta kita yang menyadarkan kita bahwa hubungan jasmani antara kita akan merupakan perbuatan yang dikutuk oleh umum, yang melanggar kesusilaan, yang dianggap kotor dan rendah. Aku tidak ingin melihat engkau dianggap rendah, sumoi, dan engkau pun tentu begitu pula, kalau memang engkau cinta padaku..."

"Suheng, aku cinta padamu... bukan untuk itu saja... oohhh..." Tubuh itu menjadi lemas dan Giok Keng roboh pingsan.

Kun Liong kaget bukan main. Cepat dia membersihkan semua lumpur yang menempel di tubuh Giok Keng, kemudian mengangkat tubuh itu keluar dari air, merebahkannya di atas alang-alang kering dan menyelimutinya dengan baju luarnya yang dia tanggalkan. Setelah memeriksa dengan cepat, dia memperoleh kenyataan bahwa Giok Keng keracunan, biar pun tidak berapa hebat racun itu, namun ditambah dengan kengerian hebat tadi, agaknya membuat wanita itu roboh pingan.

Kun Liong cepat mencuci pakaian Giok Keng yang penuh lumpur, memeras airnya dan beberapa kali dia menggerakkan pakaian itu dengan cepat sehingga pakaian itu berkibar dan sebentar saja mengering, kemudian dia mengenakan kembali pakaian itu ke tubuh Giok Keng yang masih pingsan.

Dibantu oleh hawa murni yang mengalir dari telapak tangan Kun Liong, maka sebentar saja hawa beracun dari gigitan lintah-lintah tadi sudah lenyap dan Giok Keng mengeluh, lalu membuka matanya. Dia teringat dan cepat bangkit duduk. Ketika dia melihat bahwa tubuhnya sudah memakai pakaiannya, dia menoleh kepada Kun Liong dan memandang dengan penuh rasa haru dan terima kasih.

Akan tetapi kedua pipinya berubah merah sekali ketika dia teringat akan keadaannya tadi.

"Syukur engkau tidak apa-apa, sumoi," kata Kun Liong.

Giok Keng menarik nafas panjang. "Hemm, sungguh berbahaya sekali... terima kasih atas pertolonganmu dan atas... atas segala-galanya yang telah kau lakukan untukku, suheng."

Kun Liong tersenyum, memegang tangan wanita itu kemudian menariknya berdiri sambil tersenyum dan berkata, "Masih perlukah sikap sungkan-sungkan dan kata-kata tentang budi dan pertolongan di antara kita, sumoi?"

Dengan saling berpegangan tangan mereka diam tanpa bergerak, hanya saling pandang dan sadar, mata mereka seolah-olah menyorot hingga ke dasar lubuk hati masing-masing, mendatangkan perasaan hangat dan bahagia.

"Mari kita lanjutkan perjalanan ini, sumoi."

"Baik, suheng. Dan kita harus berhati-hati sekali. Tempat ini ternyata amat berbahaya."

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan sambil bergandengan. Mereka saling berpegangan tangan bukan untuk menurutkan kemesraan hati, melainkan agar dapat saling menolong dengan secepat mungkin kalau ada bahaya menyerang mereka. Andai kata tadi mereka saling bergandengan pada saat kaki Giok Keng terjeblos, tentu Kun Liong dapat seketika menolongnya.

Berkat ilmu mereka yang tinggi dan sikap mereka yang amat berhati-hati, akhirnya kedua orang pendekar ini dapat melewati Padang Bangkai, memasuki perkampungan, kemudian menyeberangi jembatan dan melanjutkan perjalanan mereka memasuki daerah Lembah Naga.

Sekarang kedua orang itu merasakan sesuatu yang amat mendalam di antara mereka, perasaan kasih sayang yang jauh lebih tinggi dan lebih murni dari pada perasaan cinta yang hanya menuntut pemuasan nafsu birahi semata. Lebih mirip cinta antara sahabat yang tanpa pamrih memuaskan hasrat nafsu pribadi, bersih dari pada keinginan untuk disenangkan, bahkan ingin membuat orang yang dicinta itu selalu bahagia dan gembira, perasaan yang timbul dari belas kasihan dan penyesalan atas kesalahan diri sendiri.

Matahari sudah condong ke barat ketika mereka tiba di daerah Lembah Naga. Tiba-tiba Giok Keng menahan seruannya lantas menunjuk ke depan, ke arah titik-titik hitam yang bergerak dan beterbangan di atas sebatang pohon.

Kun Liong juga memandang dan berkata, "Agaknya itu adalah burung-burung rajawali..."

"Bukan, suheng. Burung rajawali lebih besar, seperti burung elang."

Mereka mempercepat langkah mereka menuju ke lembah di depan dan kini mereka dapat melihat dengan lebih jelas.

"Ahh, burung nazar, burung pemakan bangkai!" kata Kun Liong.

"Mari kita ke sana, suheng. Menurut cerita, burung seperti itu tidak akan beterbangan lagi kalau di sana terdapat bangkai. Mereka hanya beterbangan untuk menanti bila di bawah terdapat makhluk yang mereka harapkan akan mati tak lama lagi."

"Mari, sumoi. Tempat ini memang menyeramkan dan segala hal bisa saja terjadi!"

Mereka kini menggunakan kepandaian untuk mendaki tempat itu, akan tetapi masih tetap waspada dan hati-hati sekali. Dari jauh mereka melihat tiga orang yang terikat di tonggak kayu di tengah lapangan terbuka itu.

"Ahh, benar saja ada orang-orang disiksa di sana dan burung-burung itu menanti mereka mati," kata Kun Liong.

Mereka cepat memasuki lapangan. Dari jauh kelihatan oleh mereka dua orang laki-laki dewasa dan seorang anak laki-laki terikat pada tonggak kayu salib masing-masing dalam keadaan lemah dan hampir pingsan dan sudah ada dua ekor burung nazar dengan berani hinggap di atas kayu salib di mana bocah itu terikat.

Tiba-tiba terdengar Giok Keng menjerit. Wanita ini menyambar dua buah batu kerikil dan sekali tangannya bergerak, dua ekor burung nazar yang hinggap di atas kayu salib itu memekik, bergerak terbang ke atas akan tetapi tak lama kemudian jatuh ke atas tanah, berkelojotan mandi darah karena mereka telah menjadi korban sambitan batu kerikil yang dilakukan oleh Giok Keng dengan penuh kemarahan itu.

"Seng-ji...!" teriak Giok Keng sambil berlari dan menahan isak tangisnya melihat bahwa anak itu bukan lain adalah puteranya!

"Ibu...!" Lie Seng juga berteriak girang.

"Sumoi, nanti dulu...!" Kun Liong berseru.

Akan tetapi Giok Keng yang sudah tidak dapat menahan perasaannya melihat puteranya diikat di tonggak kayu salib itu sudah meloncat ke dalam lapangan dan lari menghampiri. Terpaksa Kun Liong juga melompat dengan cepat sekali untuk melindungi Giok Keng dan pada saat itu pula dari empat penjuru menyambar anak panah yang banyak sekali ke arah tubuh Giok Keng!

Tentu saja wanita itu tahu akan datangnya bahaya, dan dia sudah cepat-cepat mencabut Gin-hwa-kiam lalu memutar pedang melindungi tubuhnya. Baiknya Kun Liong sudah tiba di sampingnya dan pendekar ini juga langsung meruntuhkan banyak anak panah dengan kebutan kedua tangannya. Bermunculan banyak sekali orang mengepung mereka hingga Giok Keng tidak sempat lagi menolong puteranya karena antara dia dan tempat di mana Lie Seng terikat sudah dihadang oleh banyak orang.

Ketika Kun Liong memandang, dia melihat orang banyak itu dipimpin oleh Bouw Thaisu, Hek I Siankouw, serta dua orang lain yang tidak dikenalnya. Mereka itu adalah Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya, Coa-tok Sian-li. Anak buah Lembang Naga yang mengurung tempat itu tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya!

Giok Keng tidak mau membuang waktu lagi. Dia sudah menggerakkan pedang dan sabuk merahnya, menerjang mereka yang menghadangnya untuk membuka jalan darah supaya dia dapat membebaskan puteranya. Akan tetapi, Hek I Siankouw sudah menghadangnya dan nenek ini menyambut amukan puteri ketua Cin-ling-pai itu dengan pedang hitamnya.

Kun Liong juga menerjang maju untuk melindungi Giok Keng, akan tetapi dia pun segera disambut oleh Bouw Thaisu yang langsung menyerangnya dengan kedua ujung lengan bajunya. Karena pendekar ini maklum bahwa mereka memang sudah dinanti-nanti oleh fihak musuh dan bahwa fihak musuh sangat banyak dan lihai, maka begitu bergerak dia sudah mempergunakan gerakan-gerakan dari ilmu mukjijat yang didapatkannya dari kitab Keng-lun Tai-pun sehingga baru dalam beberapa gebrakan saja, Bouw Thaisu yang amat tinggi kepandaiannya itu terpaksa banyak meloncat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget sekali. Kun Liong tidak peduli dan terus mendesak, sekarang dia menampar dengan tenaga Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) yang mukjijat.

"Plak-plak-plak!"

Tiga kali mereka bertemu tangan dan Bouw Thaisu terhuyung ke belakang.

"Ahhhh...!" Kakek itu berseru dengan muka pucat. Jantungnya tergetar hebat pada waktu tangannya beradu dengan tangan pendekar itu. Akan tetapi dia pun merasa penasaran sekali dan tiba-tiba dia menubruk ke depan, kedua tangannya menyerang ke arah ulu hati dan pelipis, serangan yang amat hebat dan mematikan.

"Plakkk!"

Kun Liong mengelak ke kanan sambil menggerakkan tangan menangkis dari samping dan berbareng dia mengerahkan Ilmu Thi-khi I-beng.

"Aughhhh... lepaskan...!" Bouw Thaisu berseru keras saat merasa betapa tenaga sinkang dari tubuhnya membanjir keluar, tersedot melalui tangannya yang menempel pada lengan lawan. Betapa pun dia berusaha menarik tangannya, tetap saja tangannya itu menempel pada lengan lawan dan tenaga murni terus membanjir keluar.

"Wuuttt... pyarrr...!"

Terpaksa Kun Liong harus melepaskan Bouw Thaisu karena guci arak di tangan Ang-bin Ciu-kwi mengancam kepalanya ada pun dari mulut guci itu menyembur keluar arak merah yang mengancam kedua matanya.

Bouw Thaisu terhuyung dan mukanya agak pucat. Dengan marah kakek itu menyerang dengan ujung lengan bajunya, membantu Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang sudah menyerang Kun Liong, karena dia maklum bahwa pendekar ini lihai bukan main.

Sementara itu, Giok Keng yang dilawan oleh Hek I Siankouw yang dibantu oleh banyak anak buah Lembah Naga, juga terdesak hebat. Akan tetapi, mengingat bahwa puteranya diikat di kayu salib dan terancam kematian yang mengerikan, pendekar wanita ini menjadi marah dan gerakannya menjadi berbahaya sekali, bagai seekor harimau betina diganggu anaknya.

Juga Kun Liong, meski pun dikeroyok oleh banyak sekali orang, karena mengkhawatirkan keselamatan Giok Keng, Lie Seng, Tio Sun dan Kwi Beng yang sudah dikenalnya, segera mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga dia mengamuk seperti seekor naga sakti.

"Ayah...!" tiba-tiba sesosok bayangan yang gerakannya gesit sekali berkelebat memasuki medan pertempuran dan kepalan tangannya yang kecil merobohkan seorang anak buah Lembah Naga ketika dia meloncat ke dekat Kun Liong.

"Mei Lan...!" Tentu saja Kun Liong terkejut bukan main.

Dia merasa girang bercampur khawatir melihat anaknya yang sudah lama dicari-carinya itu. Terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan puterinya di tempat itu, girang mendapat kenyataan bahwa puterinya masih hidup dalam keadaan sehat dan khawatir karena dia tahu betapa bahayanya tempat itu.

Mei Lan ikut mengamuk membantu ayahnya dan anak yang cerdik ini tentu saja hanya menyerang anak buah Lembah Naga, tak berani mendekati Bouw Thaisu, Ang-bin Ciu-kwi, atau Coa-tok Sian-li.

Tentu saja di dalam hatinya, Kun Liong ingin sekali membawa puterinya ke tempat sunyi untuk diajak berbicara untuk melepaskan rindunya, untuk bertanya ke mana saja perginya anak itu dan apa saja yang dialaminya. Akan tetapi jangan kata untuk bercakap-cakap, bahkan untuk melirik ke arah puterinya itu saja dia kekurangan waktu!

Sementara itu, Giok Keng yang mendengar suara Kun Liong menyebut nama ‘Mei Lan’, cepat menengok dan dia pun girang bukan kepalang melihat bahwa benar-benar Mei Lan yang dicari-cari itu berada di situ.

"Plakkk!"

Giok Keng terhuyung dan hampir roboh kalau saja dia tidak segera berjungkir balik dan pedangnya menyambar merobohkan seorang anak buah Lembah Naga yang tadi sempat menghantam punggungnya dengan ruyung. Wanita ini merasa punggungnya agak sakit, akan tetapi dia tidak merasakannya karena semangatnya bertambah sesudah dia melihat Mei Lan! Dia harus menyelamatkan Mei Lan di samping Lie Seng pula!

Kun Liong maklum bahwa kalau saja Tio Sun dan Kwi Beng dapat terbebas dari belenggu mereka, maka kedua orang pemuda itu tentu akan dapat membantu dia dan Giok Keng menghadapi lawan yang begitu banyak. Bantuan Mei Lan saja kurang berarti, dan tanpa bantuan, dia khawatir bahwa dia dan Giok Keng akhirnya tidak akan kuat melawan lagi.

Mengingat akan itu, Kun Liong mengeluarkan bentakan-bentakan keras dan serangannya yang amat hebat dengan Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) membuat orang-orang selihai Bouw Thaisu sekali pun sampai meloncat mundur sedangkan Ang-bin Ciu-kwi bersama isterinya sampai terdorong ke belakang akibat sambaran angin pukulan-pukulan sepasang tangan Kun Liong, dan sedikitnya ada empat orang anak buah Lembah Naga yang terlempar dan terbanting. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong untuk meloncat ke dekat Mei Lan dan berbisik,

"Lan-ji, kau cepat menyelinap dan bebaskan tiga orang itu!"

Mei Lan memang cerdik. Dia mengangguk karena dia segera tahu apa yang dimaksudkan oleh ayahnya. Tentu tiga orang itu perlu cepat dibebaskan agar dapat membantu mereka menghadapi musuh yang begitu banyaknya. Diam-diam gadis cilik ini merasa menyesal sekali mengapa bibinya, Yap In Hong, yang baru sekali itu dilihatnya, berada dalam kamar tahanan bersama Cia Bun Houw dan keduanya seolah-olah tidak mempedulikan apa-apa lagi, melainkan ‘bermesraan’ berdua di dalam kamar!

Tentu saja gadis cilik ini tidak tahu apa yang terjadi ketika dia berhasil sampai di tempat tahanan tadi dan mengintai, melihat betapa In Hong dan Bun Houw duduk berhadapan sambil bersila, memejamkan mata dengan dua telapak tangan mereka saling menempel dengan mesra! Oleh karena itu, setelah dia memanggil-manggil tanpa hasil, kemudian dia meninggalkan pesan yang harus dia sampaikan menurut apa yang dikatakan oleh Tio Sun kepadanya.

Kini Mei Lan cepat meloncat, menyelinap ke belakang ayahnya sehingga dia terlindung oleh gerakan ayahnya dan dengan cepat dia menggunakan ginkang, berlari meninggalkan gelanggang pertandingan menuju ke tempat di mana Tio Sun, Kwi Beng, serta Lie Seng terbelenggu dan terikat pada tonggak kayu salib. Dengan tergesa-gesa ia mencoba untuk melepaskan ikatan kedua tangan Kwi Beng. Makin tergesa-gesa, semakin sukarlah bagi gadis cilik ini untuk melepaskan tali yang amat kuat itu.

"Terima kasih, adik yang baik, terima kasih...," suara Kwi Beng ini makin menggugupkan Mei Lan.

"Jangan berterima kasih dulu! Kau belum bebas!" Akhirnya Mei Lan berkata karena suara yang penuh keharuan itu benar-benar membikin dirinya gugup. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dia lebih dulu menghampiri pemuda berambut keemasan ini untuk dibebaskan lebih dulu!

Akan tetapi, pada saat itu pula terdengar bentakan-bentakan dan empat orang anak buah Lembah Naga sudah menerjang maju pada waktu mereka melihat usaha Mei Lan untuk membebaskan tawanan. Maka Mei Lan terpaksa melepaskan tali pengikat kedua lengan Kwi Beng yang belum sempat dilepaskannya untuk menghadapi serangan empat orang itu lebih dahulu.

Sebatang golok menyambar ke arah kepalanya. Mei Lan cepat membuang diri ke kiri dan pada saat golok itu menyambar lewat, dia mengetuk dengan tangan kanan dimiringkan ke arah pergelangan tangan pemegang golok. Orang itu mengeluh, goloknya terlepas dan cepat Mei Lan menyambar golok itu lantas membacok ke arah punggung lawan. Teringat bahwa mungkin dia dapat membunuh orang itu, Mei Lan mengurangi tenaga bacokannya sehingga sasarannya pun berubah ke bawah.

"Crokkkk!”

“Aduhh...!" Orang itu menjerit-jerit dan celananya basah oleh darah sebab yang terbacok adalah daging tebal dari pinggulnya.

"Trangg-tranggg...!"

Berturut-turut Mei Lan menangkis tombak dan pedang dari tiga orang pengeroyoknya. Akan tetapi karena golok yang dirampas oleh Mei Lan adalah sebatang golok yang besar tebal dan berat sekali, maka tangkisan yang ketiga kalinya melawan pedang seorang anak buah Lembah Naga yang bertenaga kuat, goloknya terlepas dari tangannya. Dan tiga orang itu menubruk maju dengan senjata mereka!

Mei Lan cepat-cepat melempar tubuhnya ke belakang, ke atas tanah, dan pada waktu tiga orang pengeroyoknya itu menghujankan senjata mereka, gadis cilik ini bergulingan dan terus mengelak dengan cepat. Melihat ini, Kwi Beng langsung memejamkan mata, tidak tega menyaksikan gadis cilik itu terancam bahaya maut tanpa dia mampu menolong sama sekali.

Tio Sun dan Lie Seng juga memandang dengan mata terbelalak penuh kegelisahan. Tio Sun sendiri tahu bahwa gadis cilik itu kecil sekali harapannya untuk dapat terhindar dari serangan bertubi-tubi dari tiga orang kasar yang seperti harimau-harimau kelaparan dan haus darah itu.

Pemegang tombak itu menjadi sangat gemas melihat betapa gadis cilik itu selalu mampu menghindarkan diri. Dengan teriakan buas dia meloncat dan menghunjamkan tombaknya ke arah perut Mei Lan ketika gadis cilik ini bergulingan.

Mei Lan maklum akan bahaya yang mengancamnya. Maka tiba-tiba saja dia meloncat ke atas, membiarkan tombak itu lewat dekat perutnya kemudian dengan lincahnya dia cepat miringkan tubuh dan menangkap tombak itu dengan kedua tangannya, memutar tombak itu sedemikian rupa sehingga tangan pemegang tombak itu terpuntir, lalu kakinya yang kecil menendang bawah pusar.

"Bocah setan!" teriak pemegang pedang yang menusukkan pedangnya.

Akan tetapi Mei Lan menarik tombak itu secara tiba-tiba, kemudian ketika si pemegang tombak mendoyong ke depan, dia langsung menyelinap ke belakang tubuh si pemegang tombak sehingga nyaris pedang itu mengenai si pemegang tombak sendiri.

Pada saat itu pula pemegang ruyung menghantamkan ruyungnya, dan dengan kakinya, Mei Lan mengait belakang lutut pemegang tombak sambil melepaskan tombaknya secara tiba-tiba.

"Desss…!"

Pundak si pemegang tombak itu menggantikannya menerima pukulan ruyung sehingga orangnya gelayaran.

"Bagus! Enci Mei Lan, bagus! Lawan terus, jangan menyerah terhadap monyet-monyet itu!" Lie Seng berteriak-teriak gembira melihat sepak-terjang Mei Lan dan mendengar ini, Kwi Beng membuka matanya. Akan tetapi terpaksa dia memejamkan matanya kembali karena pada saat itu, enam orang anak buah Lembah Naga telah datang mengeroyok Mei Lan!

Sekali ini keadaan Mei Lan betul-betul terancam bahaya besar. Dia terhuyung dan roboh terlentang ketika pahanya terkena tendangan dan agaknya orang-orang kasar itu sambil menyeringai bermaksud menubruk dan memperebutkan gadis cilik yang cantik itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking yang amat luar biasa dan akibatnya, enam orang kasar itu terguling roboh semua! Mereka itu roboh bukan hanya mendengar suara melengking yang amat hebat itu, melainkan karena sambaran angin yang seperti badai mengamuk.

"Suhu...!" Lie Seng berteriak girang. "Suhu, lekas tolong enci Mei Lan!"

Ternyata yang muncul itu adalah Kok Beng Lama! Dengan kedua lengannya yang besar, didahului oleh lengan bajunya yang lebar dan setiap kali digerakkan mendatangkan angin yang amat kuat, Kok Beng Lama mengamuk. Setiap kali dia menggerakkan tangan, tentu ada dua atau tiga orang anak buah Lembah Naga yang terpelanting, dan kakek gundul ini tertawa-tawa seperti seorang raksasa mempermainkan sekumpulan anak-anak nakal!

"Kok Beng Lama, bagus engkau datang menyerahkan nyawamu!" tiba-tiba saja terdengar bentakan keras dan muncullah Pek-hiat Mo-ko beserta Hek-hiat Mo-li yang langsung saja menerjang kepada Kok Beng Lama dengan hebat.

Agaknya sekali ini dua orang kakek dan nenek itu tidak hanya mengandalkan dua tangan mereka yang ampuh, melainkan langsung mereka menggunakan sebatang tongkat butut untuk menyerang Kok Beng Lama yang mereka tahu amat sakti, bahkan mereka pernah dihajar jatuh bangun oleh pendeta Lama jubah merah ini. Tongkat butut mereka adalah senjata mereka yang sangat berbahaya, maka begitu kedua orang kakek dan nenek ini menyerang, Kok Beng Lama hanya sempat mengeluarkan suara ketawa satu kali karena dia harus menggerakkan kedua lengannya dengan pengerahan tenaga sepenuhnya untuk membendung banjir serangan dari dua orang kakek dan nenek yang lihai itu.

"Enci Mei Lan, lekas bebaskan aku. Aku harus membantu suhu!" Lie Seng berteriak.

Sekali ini Mei Lan lari menghampiri Lie Seng, dan akhirnya, karena ikatan kedua tangan Lie Seng tidak sekuat ikatan di tangan kedua orang pemuda itu, dia dapat membebaskan Lie Seng. Bocah ini bersorak dan lalu menyerbu ke depan, ikut mengamuk melawan anak buah Lembah Naga!

Akan tetapi, Mei Lan merasa sukar untuk dapat membebaskan Tio Sun dan Kwi Beng karena kini dari pusat Lembah Naga, agaknya mengikuti munculnya Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko, muncul pula sisa anak buah Lembah Naga yang amat banyak sehingga jumlah mereka kini ada seratus orang, dikurangi mereka yang sudah roboh oleh amukan Cia Giok Keng dan Yap Kun Liong. Mei Lan harus membela diri pula karena sudah ada beberapa orang yang mengurungnya dan menyerangnya.

Pertandingan itu berlangsung hebat bukan main, terutama sekali antara Kok Beng Lama yang dikeroyok dua oleh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li. Telah beberapa kali pukulan Thian-te Sin-ciang yang menjadi pukulannya paling ampuh, berhasil mengenai tubuh dua orang pengeroyoknya. Pukulan ini pula yang dahulu pernah dia gunakan untuk menghajar dua orang manusia iblis itu.

Akan tetapi, sekali ini Kok Beng Lama terkejut bukan main. Setiap kali terkena tamparan Thian-te Sin-ciang, kakek atau nenek itu memang terpelanting dan bergulingan sampai jauh, akan tetapi cepat meloncat bangun kembali dan agaknya sama sekali tidak terluka!

"Ha-ha-ha-ha, Lama yang hampir mampus! Pukulanmu tidak mampu melukai kami lagi!" Pek-hiat Mo-ko berseru sambil tertawa mengejek, lalu menyerang lagi dengan hebatnya.

Tentu saja Kok Beng Lama menjadi sangat terkejut dan heran, juga penasaran sekali. Dia segera mengerahkan semua tenaganya dan kembali menggunakan Thian-te Sin-ciang.

Dua orang kakek dan nenek itu berusaha mengelak dan beberapa kali mereka berhasil, akan tetapi akhirnya mereka terkena juga oleh pukulan sakti itu dan keduanya seperti daun kering tertiup angin, terlempar lantas terguling-guling. Akan tetapi, kembali mereka bangkit sambil tertawa-tawa tanpa menderita luka sedikit pun.

Sekarang mengertilah Kok Beng Lama bahwa dua orang lawannya itu benar-benar telah menciptakan ilmu yang amat mukjijat dan tubuh mereka telah terlindung oleh kekebalan yang bahkan tidak dapat ditembus oleh tenaga Thian-te Sin-ciang. Kok Beng Lama yang melihat betapa kini mata kiri Hek-hiat Mo-li telah rusak dan buta, maklum bahwa agaknya hanya pada bagian mata saja dari dua orang itu yang tidak kebal, maka dia kini selalu mengarahkan serangannya kepada mata mereka.

Akan tetapi, tentu saja dua orang itu sudah melindungi mata mereka dan amat sukarlah bagi Kok Beng Lama kalau hanya menyerang ke arah mata saja sedangkan dua orang lawannya membalas dengan serangan-serangan tongkat mereka yang ampuh ke seluruh bagian tubuhnya. Dan kakek raksasa dari Tibet ini harus mengakui bahwa bagi dia, yang kebal dan berani menerima senjata pusaka lawan hanyalah kedua lengannya, sedangkan tubuh bagian lain tentu saja tidak berani menerima totokan-totokan tongkat yang sangat berbahaya itu. Dengan sendirinya, karena kurang sasaran, dia mulai terdesak hebat oleh kakek dan nenek iblis itu.

Juga Kun Liong dan Giok Keng telah terdesak hebat saking banyaknya fihak lawan yang mengeroyok. Bahkan Kun Liong sendiri yang sudah amat tinggi ilmunya, menjadi sangat kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai. Pendekar ini makin khawatir menyaksikan keadaan yang berbahaya itu, apa lagi sesudah dia melihat bahwa di sana terdapat pula puterinya dan Lie Seng yang bagaimana pun juga harus dapat diselamatkan keluar dari tempat itu.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang gegap gempita, kemudian muncullah pasukan yang langsung menyerbu tempat pertempuran dan menyerang anak-anak buah Lembah Naga. Ternyata itu adalah pasukan pengawal dari kota raja, dipimpin oleh komandan pasukan pengawal Kim-i-wi (Pasukan Pengawal Berbaju Emas), yaitu Lee Cin, dan dibantu pula oleh seorang tokoh pengawal tua yang dahulu amat terkenal, yaitu Tio Hok Gwan ayah dari Tio Sun!

Tentu saja Tio Sun dan Kwi Beng girang bukan main melihat datangnya pasukan ini, apa lagi Tio Sun yang juga melihat ayahnya datang membantu. Dua orang pemuda ini terharu juga ketika melihat bahwa pasukan itu mempunyai seorang penunjuk jalan yang bukan lain adalah gadis cantik yang buntung lengan kirinya sebatas pergelangan tangan, yaitu Liong Si Kwi!

Memang sesungguhnya Si Kwi yang menjadi penunjuk jalan. Gadis ini bertemu dengan rombongan pasukan itu di luar Padang Bangkai, dan dia langsung menemui komandan pasukan itu, menceritakan mengenai keadaan Lembah Naga dan mengenai bahayanya melalui Padang Bangkai. Maka dia sendiri lalu menjadi penunjuk jalan sehingga semua pasukan dapat melalui Padang Bangkai dengan selamat dan tiba di Lembah Naga pada waktu di lembah ini terjadi pertempuran hebat itu. Andai kata tidak ada penunjuk jalan ini, agaknya akan banyak prajurit yang menjadi korban keganasan tempat-tempat berbahaya di Padang Bangkai.

Hek I Siankouw marah sekali melihat bahwa muridnya yang menjadi penunjuk jalan bagi pasukan pemerintah itu, akan tetapi dia tidak dapat melampiaskan kemarahannya karena kini keadaannya menjadi berubah sama sekali. Jumlah pasukan pemerintah itu seratus lima puluh orang dan mereka adalah pasukan Kim-i-wi yang terdiri dari prajurit-prajurit pengawal pilihan sehingga rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi. Maka begitu mereka menyerbu, pasukan anak buah Lembah Naga segera terdesak hebat.

Kini, dengan bantuan Si Kwi, Mei Lan berhasil membebaskan Tio Sun dan Kwi Beng, dan kedua orang pemuda itu langsung terjun ke dalam gelanggang pertempuran, mengamuk dengan hebatnya! Juga Mei Lan tidak tinggal diam, mendampingi Lie Seng mengamuk pula. Hanya Si Kwi yang menjauh dan tidak ikut dalam pertempuran, karena bagaimana pun juga, dia merasa sungkan kepada subo-nya, dan menjauhkan diri, hanya menonton dengan hati tegang.

Munculnya pasukan Kim-i-wi membuat pertandingan antara tokoh-tokoh dua belah fihak menjadi seimbang dan makin seru. Kun Liong yang tahu akan kelihaian Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, sudah menerjang dan membantu ayah mertuanya, Kok Beng Lama sehingga kakek dan nenek itu terpecah menjadi dua. Kun Liong melawan Hek-hiat Mo-li sedangkan Kok Beng Lama melawan Pek-hiat Mo-ko.

Bouw Thaisu dihadapi oleh Giok Keng yang dibantu Kwi Beng, ada pun Hek I Siankouw berhadapan dengan Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan yang dibantu oleh puteranya sendiri, Tio Sun. Sedangkan Ang-bin Ciu-kwi dan isterinya, Coa-tok Sian-li, mengamuk dikeroyok oleh pasukan Kim-i-wi.

Perang kecil antara anak buah Lembah Naga melawan pasukan Kim-i-wi terjadi berat sebelah dan fihak anak buah Lembah Naga mulai berjatuhan. Hanya pertandingan antara para tokoh masih berlangsung seru dan ramai sekali karena keadaan mereka seimbang. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara yang halus namun amat berwibawa dan suara ini menembus semua suara hiruk pikuk pertempuran itu, seolah-olah datang dari angkasa.

"Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, tahan senjata! Para cu-wi sekalian, harap mundur dan biarkan saya menyelesaikan urusan pribadi dengan mereka!"

Mendengar suara yang penuh wibawa dan halus ini, Kok Beng Lama sudah meloncat mundur dan terdengarlah suaranya yang mengguntur, "Semuanya mundur, biarkan ketua Cin-ling-pai bicara dengan mereka!"

Suara Pendekar Sakti Cia Keng Hong tadi ditambah dengan suara Kok Beng Lama ini cukup berpengaruh untuk membuat semua yang bertanding mundur dengan sendirinya, terbagi menjadi dua kelompok. Cia Keng Hong yang sudah berada di situ kini melangkah maju dan berkata dengan suara lantang,

"Pek-hiat Mo-ko, bukankah engkau dan Hek-hiat Mo-li mengharapkan kedatanganku?"

Dari fihak Lembah Naga muncullah Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, membawa tongkat butut mereka sambil memandang kepada pendekar sakti itu dengan sinar mata marah karena kedua orang kakek dan nenek ini memang marah sekali menyaksikan betapa fihaknya menderita banyak kerugian dalam pertempuran tadi.

"Ketua Cin-ling-pai, engkau mau bicara apa?" bentak Pek-hiat Mo-ko.

Dengan sekilas pandang saja Cia Keng Hong sudah melihat bahwa fihaknya sebetulnya lebih kuat, apa lagi di situ terdapat Kok Beng Lama dan Yap Kun Liong, juga terdapat pasukan Kim-i-wi yang kuat dan banyak jumlahnya. Akan tetapi, dia tidak ingin melihat banyak orang menjadi korban dan terlibat dalam urusan ini, maka dia lalu berkata,

"Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, tadinya, saat mendengar bahwa kalian telah menahan Siang-bhok-kiam sebagai pusaka Cin-ling-pai, saya menganggap bahwa kalian memang sengaja ingin menentang dan menantang kami dari fihak Cin-ling-pai. Akan tetapi, kalian kemudian menculik Yap In Hong dari kota raja. Apakah sebenarnya maksud hati kalian? Bila hanya untuk urusan Siang-bhok-kiam dan kalian maksudkan untuk menantang kami, tidak perlu kita mengorbankan banyak orang, cukup hal ini diselesaikan di antara kita saja. Oleh karena itu, sebelum pertempuran berlarut-larut, saya datang dan minta agar engkau suka membebaskan Yap In Hong. Kemudian tentang Siang-bhok-kiam, mari kita perebutkan dengan adu kepandaian."

"Hemm, orang she Cia! Memang sesungguhnya kami sudah lama mengharap-harapkan kedatanganmu! Memang kami sengaja menahan Siang-bhok-kiam untuk mencoba sampai di mana kelihaian ketua Cin-ling-pai. Akan tetapi bukan untuk itu saja! Kami menahan nona Yap untuk menentang semua pembantu mendiang The Hoo, musuh besar kami itu. Oleh karena dia sudah mati, maka biarlah semua bekas pembantu beserta sahabatnya mewakilinya untuk menyerahkan nyawa kepada kami!"

"Mo-ko dan Mo-li!" Cia Keng Hong membentak. "Caramu sangat curang! Apa bila kalian menantang mendiang Panglima The Hoo, biarlah saya sekalian yang menjadi wakilnya. Kau bebaskan Yap In Hong dan mari kita selesaikan dengan kepandaian antara kita."

"Kongkong! Dua iblis itu juga menahan paman Cia Bun Houw!" Tiba-tiba terdengar suara Lie Seng berteriak.

Mendengar ucapan ini, berkerut kening ketua Cin-ling-pai. Sungguh dia belum tahu bahwa puteranya juga tertawan. Sekarang dia memandang tajam kepada mereka dan bertanya, "Benarkah itu?"

"Benar, dan engkau hanya dapat membebaskan puteramu melalui mayat kami!" Hek-hiat Mo-li berkata dan langsung nenek ini menerjang dengan tongkatnya.

"Bagus, kalau begitu terpaksa hari ini aku melenyapkan kalian!" Cia Keng Hong berkata sambil mengelak dan segera balas menyerang. Maka berlangsunglah pertandingan yang sangat seru dan mengagumkan antara ketua Cin-ling-pai dengan kedua orang kakek dan nenek iblis itu.

Cia Keng Hong adalah seorang pendekar sakti yang amat tinggi kepandaiannya. Biar pun kini usianya sudah kurang lebih enam puluh lima tahun, namun kehidupan yang bersih membuat tubuhnya masih tegap dan kuat, kesehatannya baik sekali sehingga biar pun sudah lama dia tidak pernah terjun ke dunia kang-ouw, namun gerakan-gerakannya ketika bertanding tidak kelihatan kaku karena dia selalu berlatih diri di puncak Cin-ling-pai.

Dengan ilmunya yang sangat tinggi, yakni Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun, dia menghadapi tongkat kakek dan nenek itu, dan selalu dapat menghindarkan diri dengan mudah, bahkan sebaliknya dia telah mendesak kedua orang lawannya dengan pukulan-pukulan sakti dari Thai-kek Sin-kun.

Akan tetapi, seperti juga dengan Kok Beng Lama, setiap kali pendekar sakti ini berhasil ‘memasukkan’ pukulannya dan dengan tepat berhasil menghantam mereka, baik Mo-ko mau pun Mo-li hanya terpelanting dan bergulingan saja, kemudian meloncat bangun lagi sambil tertawa dan menyerang lebih hebat lagi!

Cia Keng Hong menjadi terkejut sekali. Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, maklumlah dia bahwa dua orang lawannya itu telah memiliki ilmu kekebalan yang mukjijat! Biasanya, ilmu kekebalan yang mukjijat seperti itu diperoleh dengan cara yang tidak lumrah, dengan ilmu yang mendekati ilmu hitam yang mengerikan dan biasanya hanya dapat dipecahkan apa bila orang menguasai rahasianya. Setiap ilmu kekebalan yang didapat secara tidak wajar melalui ilmu hitam pasti ada rahasia kelemahannya, dan tanpa mengetahui akan rahasia kelemahan itu, sukarlah melukai mereka!

Pada saat itu, Pek-hiat Mo-ko menghantamkan tongkatnya ke arah kepala Cia Keng Hong dari samping kanan, sedangkan dari kiri Hek-hiat Mo-li menusukkan ujung tongkat dengan totokan-totokan maut ke arah lambung. Cia Keng Hong segera menggerakkan kakinya, menggeser kedudukan tubuhnya lantas secepat kilat dia menangkis dengan lengannya, bukan menangkis tongkat melainkan langsung menangkis lengan Pek-hiat Mo-ko dengan mendorongkan tubuhnya ke depan.

"Plakkkk!"

Cia Keng Hong terpaksa menggunakan ilmunya yang paling dirahasiakan dan yang jarang dikeluarkan karena limu ini memang amat mukjijat, yaitu Thi-khi I-beng! Seperti telah kita ketahui, di dunia pada waktu itu hanya ada dua orang saja yang menguasai Thi-khi I-beng, yaitu pertama Cia Keng Hong dan kedua adalah Yap Kun Liong, karena hanya kepada Yap Kun Liong saja ketua Cin-ling-pai ini menurunkan ilmu mukjijat itu. Bahkan dua orang anaknya, Giok Keng dan Bun Houw, tidak diwarisi ilmu itu.

Tentu saja dibandingkan dengan Thi-khi I-beng yang dimiliki Kun Liong, tenaga Cia Keng Hong jauh lebih kuat. Maka begitu kedua lengan bertemu, Pek-hiat Mo-ko terkejut bukan main karena lengannya melekat dan ada tenaga sedot yang luar biasa dari lawan, yang menyedot tenaga sinkang-nya. Akan tetapi, kakek bermuka putih ini cepat menghentikan pengerahan tenaga sinkang-nya dan sebagai gantinya, dia mengeluarkan ilmu kebalnya dan... daya sedot dan tempel itu lenyaplah!

Cia Keng Hong terkejut bukan main! Tadinya dia tahu bahwa di dunia hanya ada tiga orang tokoh yang mampu menghadapi Thi-khi I-beng, bahkan dapat membuyarkan tenaga Thi-khi I-beng. Pertama adalah mendiang Tiang Pek Hosiang yang telah meninggal dunia, kedua adalah Bun Hwat Tosu, dan ketiga adalah Kok Beng Lama. Siapa tahu sekarang agaknya kakek dan nenek ini pun menguasai ilmu kekebalan yang dahsyat membuyarkan tenaga Thi-khi I-beng pula!

Tidak ada seorang pun yang berani maju membantu Cia Keng Hong karena dalam hal pertandingan mengadu ilmu seperti itu, bantuan merupakan penghinaan bagi pihak yang dibantu. Akan tetapi Kok Beng Lama yang sejak tadi menonton dengan penuh perhatian, maklum pula bahwa ilmu kekebalan dua orang kakek dan nenek iblis itu agaknya juga membuat ketua Cin-ling-pai yang lihai itu kewalahan. Dia sendiri tadi sudah merasakan kehebatan kakek dan nenek iblis itu, maka dia dapat menduga bahwa tanpa dibantu, agaknya ketua Cin-ling-pai itu mungkin sekali akan kalah!

"Ha-ha-ha!" Kok Beng Lama tertawa. "Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li agaknya bukan hanya mengandalkan ilmu kekebalan dari iblis itu, tetapi juga mengandalkan kecurangan dan sifat pengecut mereka. Mereka maju berdua menghadapi seorang lawan, sungguh kakek dan nenek tua bangka hampir mampus yang tidak tahu malu sama sekali!" Suara raksasa dari Tibet ini memang keras dan nyaring sekali, sehingga terdengar sampai jauh dan memasuki telinga kakek dan nenek itu seperti ratusan jarum yang menusuk langsung ke jantung.

Pek-hiat Mo-ko yang cerdik maklum bahwa pendeta Lama itu sengaja hendak membakar hati mereka, karena itu dia menulikan telinga dan diam saja tidak menjawab, melainkan mendesak Cia Keng Hong dengan tongkatnya. Namun tidaklah demikian dengan Hek-hiat Mo-li.

Nenek ini merasa bahwa ilmu kekebalannya cukup dapat diandalkan dan telah dibuktikan ketika dia menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong. Memang, dalam hal ilmu silat, agaknya dia dan Pek-hiat Mo-ko tidak mampu menandingi ketua Cin-ling-pai atau pendeta Tibet itu, akan tetapi dengan perlindungan ilmu kekebalan mereka, musuh-musuh itu mampu berbuat apakah? Hal ini membesarkan hatinya, maka pada saat mendengar ejekan dan penghinaan Kok Beng Lama, dia tidak dapat menahan kemarahannya.

"Pendeta gundul! Siapa takut padamu? Majulah kalau sudah bosan hidup!" tantangnya.

"Ha-ha-ha! Ketua Cin-ling-pai, aku sama sekali bukan membantumu, akan tetapi aku malu karena aku ditantang oleh nenek gila itu, ha-ha." Kok Beng Lama sudah melangkah lebar dan memasuki gelanggang pertempuran.

Tentu saja Cia Keng Hong tidak bisa melarang dan biar pun dia merasa kurang senang karena masuknya Kok Beng Lama seolah-olah menurunkan kehormatannya, seolah-olah dia sudah kewalahan, namun sesungguhnya memang harus diakui bahwa tanpa dibantu oleh Kok Beng Lama, agaknya tidak mungkin dia dapat mengalahkan kakek dan nenek yang kebal dan tidak dapat terluka ini.

Tepat pada saat itu pula, terdengar suara keras disusul suara bangunan roboh dan debu mengebul tinggi! Suara hiruk-pikuk ini datangnya dari perkampungan Lembah Naga dan semua orang menengok dan otomatis pertempuran itu pun terhenti. Di antara debu-debu yang mengebul tinggi, muncullah dua orang lelaki dan wanita. Mereka ini ternyata adalah Cia Bun Houw dan Yap In Hong yang kemudian datang sambil bergandengan tangan! Wajah mereka berseri-seri dan agak kemerahan, dua pasang mata itu mencorong aneh.

"Omitohud...! Mereka berhasil menyatukan Thian-te Sin-ciang sampai di puncaknya!" seru Kok Beng Lama dengan kagum dan juga heran. Dari pandangan mata dua orang muda itu pendeta Lama ini tentu saja dapat mengenal pancaran Ilmu Thian-te Sin-ciang. Dan memang benarlah apa yang disangkanya itu.

Seperti telah kita ketahui, sesudah Cia Bun Houw dan Yap In Hong terbebas dari mala petaka yang akan mencemarkan nama baik serta kehormatan mereka, lolos dari racun pembangkit nafsu birahi di dalam kamar tahanan, Cia Bun Houw lalu menyalurkan tenaga Thian-te Sin-ciang, melatih dan memperkuat tenaga yang sudah dimiliki In Hong.

Ketika diam-diam Yap Mei Lan datang ke kamar tahanan, mereka berdua masih melatih diri dan menghimpun tenaga Thian-te Sin-ciang dengan duduk saling berhadapan dalam keadaan bersila dan kedua telapak tangan mereka saling bertemu dan menempel, Mei Lan dapat menyelinap ke tempat tahanan karena semua anak buah Lembah Naga sudah keluar dan bersiap-siap menghadapi musuh yang datang menyerbu. Karena Mei Lan tidak berhasil menyadarkan mereka dari luar pintu kamar tahanan, maka terpaksa Mei Lan lalu meninggalkan sehelai daun yang sudah dia tulisi dan meninggalkan tempat itu.

Pada saat itu, sudah sehari semalam Bun Houw dan In Hong menghimpun tenaga dan akhirnya mereka merasa bahwa tenaga Thian-te Sin-ciang sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, terasa sampai ke ubun-ubun kepala mereka. Maka, mereka menghentikan latihan itu dan begitu mereka sadar, mereka mendengar suara ribut-ribut di luar kamar tahanan.

Suara itu terdengar agak jauh, tapi kini pendengaran mereka ternyata menjadi jauh lebih tajam sehingga seolah-olah mereka mendengar semua yang terjadi di luar itu seperti di dekat mereka saja, bahkan Bun Houw mengenal hawa pukulan ayahnya yang bertanding melawan dua orang kakek dan nenek iblis itu.

"Eh, lihat ini...!" kata In Hong sambil memungut daun yang berada di kamar itu. Kiranya itulah daun yang sudah ditinggalkan oleh Mei Lan dengan menyelipkannya di antara celah di bawah pintu kamar tahanan yang kokoh kuat itu.

Mereka lalu membaca tulisan di atas daun yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa, namun cukup jelas untuk dibaca.

Kelemahan Hek Pek berada di antara lutut ke bawah.’

Hanya itulah kata-kata yang tercoret di atas daun, akan tetapi semua itu telah cukup bagi Bun Houw dan In Hong. "Entah siapa yang menulis ini dan entah benar ataukah hanya bohong, akan tetapi kita harus keluar dari sini sekarang juga, Hong-moi!"

In Hong memandang dan terkejutlah Bun Houw ketika dia melihat sinar mata gadis di depannya itu. Juga In Hong terkejut ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata pemuda itu. Sinar mata mereka mencorong dan berkilat!

“Kenapa, Houw-ko?”

“Matamu… Hong-moi, matamu…”

“Kenapa?”

“Bukan main indahnya…”

“Matamu juga mencorong dengan sinar aneh, Houw-ko, seperti mata gurumu…”

“Benar, seperti mata suhu. Bukan hanya guruku, akan tetapi gurumu juga.”

“Mari kita keluar.”

“Kita coba lagi menggunakan tenaga Thin-te Sin-ciang.”

Mereka berdua bangkit berdiri dan menghampiri pintu besi, lalu mengerahkan tenaga dan menghantan ke arah daun pintu yang kokoh kuat itu. Itulah suara keras yang terdengar oleh semua orang dan membuat semua orang menghentikan pertempuran.

Tenaga mereka demikian dahsyatnya sehingga bukan hanya daun pintu besi saja yang bobol, akan tetapi juga bangunan tempat tahanan itu roboh dan debu mengepul tinggi dan tebal. Mereka berdua lalu keluar dengan wajah berseri karena mereka merasa girang sekali bahwa usaha mereka berlatih diri dan menyatukan Thian-te Sin-ciang tadi sudah berhasil baik sekali.

Bun Houw yang pendengarannya menjadi sangat tajam, tadi sudah tahu bahwa yang bertanding melawan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li adalah ayahnya dan gurunya, dan melihat keadaan dua orang kakek dan nenek iblis itu, agaknya ayahnya beserta gurunya belum berhasil memperoleh kemenangan, maka bersama In Hong dia segera melangkah maju menghampiri dan berkatalah Bun Houw, suaranya nyaring sekali,

“Ayah! Suhu! Mereka berdua mempunyai perhitungan yang harus dibereskan sekarang juga dengan kami berdua, oleh karena itu harap ayah dan suhu sudi mundur dulu untuk membereskan perhitungan itu.”

Kakek dan nenek itu terkejut bukan kepalang ketika melihat dua orang muda itu ternyata dapat membobol tahanan. Mereka maklum bahwa sesudah dua orang itu dapat keluar, maka tidak mungkin lagi mereka mengelakkan pertandingan mati-matian. Maka mereka lantas berteriak memberi aba-aba kepada semua pembantu mereka, sedangkan mereka sendiri langsung menerjang Bun Houw dan In Hong.

Bun Houw diserang oleh Pek-hiat Mo-ko sedangkan In Hong diserang oleh Hek-hiat Mo-li. Dua orang muda ini mengeluarkan teriakan meleking nyaring dan menyambut serangan mereka dengan dahsyat.

“Desss…!”

“Desss…!”

Kakek dan nenek itu terlempar ke belakang oleh hawa pukulan Thian-te Sin-ciang yang amat kuat. Mereka terbanting dan bergulingan, namun mereka meloncat bangun lagi dan menyerang kembali dengan lebih ganas, disambut oleh Bun Houw serta In Hong yang maklum bahwa mereka itu mempunyai kekebalan mukjijat, bahkan yang mampu menahan pukulan Thian-te Sin-ciang.

Akan tetapi mereka berdua sudah tahu dimana letak kelemahan kakek dan nenek iblis itu. Mulailah mereka menunjukan pukulan-pukulan balasan mereka ke bawah, ke arah kaki di bawah lutut kakek dan nenek itu yang merasa terkejut sekali dan selalu melindungi agar kedua kaki mereka tidak sampai terpukul.

Sementara itu, semua pembantu Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li juga sudah bergerak, akan tetapi kini Kok Beng Lama, Cia Keng Hong, Cia Giok Keng, Yap Kun Liong, Tio Hok Gwan, Tio Sun, Souw Kwi Beng dan pasukan kota raja mengamuk menyambut mereka. Terjadilah pertempuran hebat sekali, pertempuran mati-matian yang berat sebelah karena pihak Lembah Naga kini jauh kalah kuat, baik para tokohnya mau pun anak buahnya.

Bouw Thaisu yang paling sakti di antara pembantu Lembah Naga, kini dihadapi oleh Kok Beng Lama yang selalu tertawa-tawa mengejek tosu tua itu, “Ha-ha, tosu bau, sungguh engkau menyalahi pelajaran Agama To dengan membantu orang-orang busuk semacam kakek dan nenek iblis itu! Ehh, tosu bau, apakah pelajaran-pelajaran dan ayat-ayat suci itu hanya untuk pamer belaka?”

“Lama sombong, tutup mulutmu! Pinto tidak membantu orang, melainkan ingin menuntut kematian mendiang Thian Hwa Cinjin sahabat pinto.”

“Tentu sahabatmu itu pun bukan orang baik-baik!” kata Kok Beng lama.

“Benar, locianpwe. Sahabatnya itu adalah bekas ketua Pek-lian-kauw wilayah timur yang tewas di tangan saya!” Cia Giok Keng yang mendengar percakapan itu berseru kepada guru adiknya itu, sedangkan dia sendiri menghadapi pengeroyokan beberapa orang anak buah Lembah Naga.

“Ha-ha-ha-ha, kiranya sahabatmu itu orang Pek-lian-kauw? Pantas saja!”

Kok Beng Lama mendesak hebat, akan tetapi Bouw Thaisu adalah seorang yang tinggi ilmunya pula maka dia dapat menghindar dengan gesit dan membalas dengan serangan yang cukup dahsyat untuk merobohkan lawannya yang selalu tertawa mengejeknya itu. Lengan bajunya menyambar-nyambar dengan ganas dan dari ujung kedua lengan baju itu menyambar tenaga sinkang yang cukup kuat untuk menghancurkan batu karang atau pun menumbangkan sebatang pohon sebesar tubuh manusia!

Akan tetapi dengan enaknya Kok Beng Lama menangkis kedua ujung lengan baju yang menyambar-nyambar itu dengan kedua tangan kosong saja, bahkan setiap tangkisannya membuat kedua lengan baju Bouw Thaisu tergetar hebat.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner