DEWI MAUT : JILID-57


Hek I Siankouw juga menghadapi lawan yang terlalu berat baginya, yaitu pendekar Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai! Walau pun dia telah memainkan pedang hitamnya dengan sekuat tenaga, juga kadang kala dia mempersiapkan Hek-tok-ting (Paku Beracun Hitam) yang berbahaya itu, namun dia tidak banyak berdaya menghadapi ketua Cin-ling-pai ini. Padahal pendekar sakti ini sama sekali tak menggunakan senjata, hanya menggerakkan kedua tangan dan kaki untuk menghadapi nenek berpakaian hitam ini.

Pedang hitam di tangan Hek I Siankouw mengeluarkan suara berdesing saat menyambar-nyambar ganas, namun semua sambaran itu dapat dielakkan oleh Cia Keng Hong dengan mudah, dan kalau sekali-kali ada sinar hitam paku beracun yang menyambar, paku itu tahu-tahu sudah dapat dijepit oleh jari-jari tangan ketua Cin-ling-pai itu dan dikembalikan kepada pemiliknya, membuat Hek I Siankouw terkejut dan hampir termakan oleh senjata rahasianya sendiri. Sesudah tiga kali selalu berakibat membahayakan dirinya sendiri, dia tidak berani lagi menggunakan paku-paku beracun dan hanya mainkan pedang hitamnya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Ang-bin Ciu-kwi juga menghadapi lawan yang terlampau tangguh bagiriya, yaitu Yap Kun Liong, ada pun isterinya, Coa-tok Sian-li diserang dengan hebat oleh Cia Giok Keng yang dibantu oleh Tio Sun. Tentu saja suami isteri ini menjadi repot sekali dan hanya mampu menangkis dan mempertahankan diri saja tanpa dapat membalas sedikit pun juga.

Sementara itu, Tio Hok Gwan, komandan pasukan, dibantu oleh Souw Kwi Beng beserta semua anggota pasukan. Bahkan tampak pula Lie Seng yang mengamuk bahu membahu dengan Yap Mei Lan, menghadapi para anggota Lembah Naga yang berkelahi dengan nekat dan mati-matian sungguh pun mereka terdesak hebat dan satu demi satu mereka roboh oleh fihak lawan yang lebih banyak dan lebih kuat itu.

Di antara para tokoh Lembah Naga, yang lebih dahulu roboh adalah Bouw Thaisu. Kedua ujung lengan bajunya berhasil ditangkap oleh cengkeraman tangan Kok Beng Lama yang tertawa bergelak dan ketika Bouw Thaisu mengerahkan tenaganya sehingga ujung lengan bajunya terobek lantas sepasang telapak tangannya menghantam dada Kok Beng Lama, pendeta raksasa ini sambil tertawa juga mendorongkan kedua telapak tangannya.

Kedua pasang telapak tangan yang penuh dengan tenaga sinkang itu bertemu di udara. Hebat bukan main getaran hawa yang terasa oleh semua orang yang sedang bertempur. Bumi seolah-olah berguncang dibuatnya.

Tubuh Bouw Thaisu tergetar hebat seperti orang sakit demam, kemudian dia terhuyung ke belakang, kedua tangan memegang dadanya, dari mulutnya keluar darah segar lantas dia terpelanting dan roboh miring di atas tanah dengan nyawa putus!

Kok Beng Lama tertawa bergelak kemudian berkata, "Omitohud, kedua tanganku kembali berlepotan darah...!"

Tidak lama sesudah Bouw Thaisu roboh, menyusul Hek I Siankouw yang roboh dengan pedang hitam menembus dadanya sendiri! Pada saat dia menyerang dengan jurus nekat, yaitu seluruh tubuh mendoyong dan pedangnya menusuk ke arah dada Cia Keng Hong, pendekar sakti ini terkejut. Serangan itu hebat bukan main dan penuh dengan tenaga sakti karena nenek itu sudah nekat, mengerahkan seluruh tenaganya dan didorong oleh loncatan tubuhnya.

Cia Keng Hong maklum bahwa kalau mengelak, dia menghadapi bahaya, maka dia lalu mengerahkan tenaga sakti pada kedua tangannya lalu dia menangkis dari samping sambil mengeluarkan lengkingan keras. Itulah sebuah jurus dari Thai-kek Sin-kun.

Tangkisan ini mengandung kekuatan yang demikian dahsyatnya sehingga saat mengenai pedang maka pedang itu membalik dengan cepatnya dan menusuk dada Hek I Siankouw sendiri sampai tembus di punggung! Tentu saja nenek itu terjengkang roboh dan tewas seketika.

Cia Keng Hong berdiri terbelalak memandang. Dia tak sengaja membunuh nenek itu dan dia menarik napas panjang, merasa ngeri dan menyesal mengapa dalam usia tuanya dia masih harus membunuh orang sengeri itu keadaanya.

Ang-bin Ciu-kwi yang kasar itu pun roboh tewas akibat tamparan tangan kiri Kun Liong, sedangkan isterinya pun roboh dan tewas oleh pedang di tangan Cia Giok Keng sesudah hampir saja wanita perkasa ini menjadi korban jarum racun ular yang dilepas oleh Coa-tok Sian-li.

Sedangkan pasukan Lembah Naga tinggal sedikit lagi yang masih terus bertahan, namun mereka terdesak hebat dan tidak lama kemudian, orang terakhir dari mereka pun roboh. Memang hebat bukan main pasukan yang diberikan oleh Raja Sabutai kepada gurunya itu, karena pasukan itu merupakan pasukan berani mati yang melawan musuh sampai orang terakhir roboh dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang melarikan diri sungguh pun mereka sudah dari tadi tahu bahwa fihak mereka sudah pasti kalah.

Sekarang tinggal kakek serta nenek iblis itu saja yang ternyata masih sanggup bertahan melawan Bun Houw dan In Hong!

Bukan main hebatnya pertandingan antara mereka ini dan walau pun In Hong dan Bun Houw sudah berhasil menguasai Ilmu Thian-te Sin-ciang secara sempurna, akan tetapi ternyata tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dua orang tua iblis itu. Kekebalan tubuh mereka memang menggiriskan sekali.

Sungguh pun dua orang muda itu sudah memperoleh petunjuk melalui Mei Lan tentang kelemahan mereka dan telah terus-menerus menujukan serangan mereka ke arah bawah lutut kaki, namun mereka belum juga berhasil. Selain kedua orang kakek dan nenek itu terus melindungi kaki mereka, juga dua orang muda itu tidak tahu dengan pasti di mana letak kelemahan itu dan biar pun mereka telah beberapa kali berhasil menghantam betis, tulang kering dan mata kaki, namun kedua orang itu hanya terlempar dan bergulingan, akan tetapi ternyata bukan di situlah letak kelemahan itu karena mereka masih mampu melawan makin dahsyat dan nekat! Memang kakek dan nenek iblis itu telah nekat ketika mereka melihat bahwa semua teman mereka telah roboh!

Cia Giok Keng dan Tio Sun sudah bergerak maju hendak membantu, akan tetapi Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong mengangkat tangan melarang mereka atau siapa pun juga membantu! Mereka ini melihat betapa Bun Houw dan In Hong mampu menandingi kakek dan nenek itu, dan agaknya dua orang muda itu tahu akan kelemahan lawan yang jelas dapat diduga tentu berada di kaki mereka. Buktinya mereka selalu melindungi kaki mereka dan kelihatan terkejut dan gugup ketika kaki mereka terus-menerus diserang.

Tanpa sengaja Cia Keng Hong berdiri di sebelah Kok Beng Lama. Mereka saling pandang dan melalui pandang mata mereka, kedua orang sakti ini mengerti akan keadaan yang sedang bertanding. Mereka tadi pun sudah mengukur tenaga dengan kakek dan nenek iblis itu dan mendapat kenyataan bahwa mereka berdua itu memang memiliki kekebalan yang mukjijat.

"Hemm, di kaki sebelah mana agaknya kelemahan mereka?" Kok Beng Lama mengomel seorang diri, suaranya lirih akan tetapi terdengar oleh Cia Keng Hong.

"Di mana kalau menurut dugaan locianpwe?" Cia Keng Hong bertanya sambil menoleh. Keduanya saling pandang dan keduanya berpikir keras, menggali ingatan mereka tentang pengetahuan mengenai ilmu-ilmu yang mukjijat dan aneh.

"Dan dugaan taihiap?" tanya pula Kok Beng Lama.

Kedua orang sakti itu lalu menggunakan ujung sepatu mereka untuk menggores-gores di atas tanah dan keduanya lalu saling membaca tulisan kaki mereka. Ternyata keduanya berbunyi sama, yaitu, ‘telapak kaki’. Mereka tertawa dan mengangguk-angguk.

"Locianpwe harap suka memberi tahu kepada In Hong, saya akan memberi tahu kepada Bun Houw," kata Cia Keng Hong.

Kok Beng Lama mengangguk dan kedua orang sakti ini lalu mengerahkan ilmu mereka yang hebat, yaitu Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jarak Jauh) dengan kekuatan khikang mereka. Bibir mereka bergerak-gerak dan tidak ada orang lain yang mendengar suara mereka kecuali orang yang ditujunya!

Bun Houw mendengar bisikan suara ayahnya dan In Hong juga mendengar bisikan suara Kok Beng Lama yang parau, "Kelemahan mereka itu mungkin sekali terletak pada telapak kaki mereka."

Tentu saja kedua orang muda itu merasa girang mendengar ini. Sudah sejak tadi mereka menyerang ke arah kaki tanpa hasil dan kini mereka bahkan mulai meragukan kebenaran pemberi tahuan yang ditulis di atas daun itu. Melihat kenyataan betapa kakek dan nenek itu mati-matian melindungi dua kaki mereka, agaknya pemberi tahuan itu memang benar, akan tetapi mengapa semua serangan mereka yang berhasil mengenai bagian kaki tidak merobohkan mereka?

Mengapa kedua orang sakti, Cia Keng Hong dan Kok Beng Lama dapat menduga bahwa mungkin sekali kelemahan kakek dan nenek itu berada di telapak kaki? Mereka teringat akan ilmu kekebalan mukjijat golongan hitam atau kaum sesat, yang berbeda dengan latihan limu kekebalan kaum putih yang melatihnya dengan dasar sinkang yang kuat.

Golongan sesat melatih ilmu kekebalan dengan bermacam cara, dicampur dengan ilmu hitam, ilmu sihir dan dengan ramuan-ramuan racun yang berbahaya. Mereka lalu teringat bahwa latihan ilmu kekebalan yang menghasilkan kekebalan seperti yang dimiliki kakek dan nenek itu hanya mungkin bila tubuh mereka itu sudah seperti mati sehingga pukulan-pukulan sakti tak lagi mempengaruhi tubuh mereka, dan tubuh yang seperti mati itu hanya dapat dicapai dengan melumurinya dengan racun-racun yang luar biasa.

Biasanya, bagian yang dilumuri racun itu tidak boleh tertutup dan harus dibiarkan terkena angin, sinar matahari bahkan sinar bulan sehingga ada kemungkinan mereka bertapa sampai berbulan-bulan dengan tubuh dilumuri racun-racun setiap saat. Akan tetapi, tidak mungkin orang dapat melumuri racun seluruh bagian tubuhnya, misalnya andai kata dia rebah terlentang, tentu punggungnya terlewat, kalau duduk tentu pantatnya, dan kalau sambil berdiri tentulah telapak kakinya.

Kini, melihat betapa punggung, pantat bahkan seluruh bagian tubuh kakek dan nenek itu benar-benar kebal, agaknya satu-satunya tempat yang lemah tentu di telapak kaki dan sangat boleh jadi ketika bertapa sambil melumuri tubuh dengan racun, kakek dan nenek itu menyiksa diri dengan berdiri terus selama entah berapa hari atau berapa bulan!

Jadi, kalau seluruh anggota tubuh itu seolah-olah sudah mati, hanya kedua telapak kaki itu yang hidup! Tentu saja, selain bagian lemah ini, kedua mata mereka pun merupakan bagian lemah, akan tetapi mereka selalu melindungi kedua mata mereka, apa lagi setelah mata kiri Hek-hiat Mo-li menjadi buta oleh jarum rahasia dari arca kaisar di istana dahulu itu ketika dia dan Pek-hiat Mo-ko menyerbu istana.

Biar pun Bun Houw dan In Hong menjadi girang sekali mendengar bisikan dua orang sakti itu, namun tidaklah mudah bagi mereka untuk menyerang bagian lemah itu. Bagaimana dapat menyerang telapak kaki lawan? Telapak kaki selalu tertutup atau terlindung karena dipakai untuk menginjak tanah! Mana mungkin bisa diserang? Kelihatan pun tidak! Dua orang muda perkasa itu menjadi bingung.

Dengan ilmunya yang tinggi, lebih tinggi dari kepandaian In Hong, Bun Houw tentu saja dapat mengatasi Pek-hiat Mo-ko dengan baik. Pemuda ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dari ayahnya dan dari Kok Beng Lama, ilmu silatnya bermacam-macam dan kesemuanya merupakan ilmu-ilmu silat pilihan yang bertingkat tinggi.

Kalau saja Pek-hiat Mo-ko tidak mengandalkan ilmu kekebalannya yang mukjijat itu, tentu sudah sejak tadi dia roboh oleh pemuda perkasa ini. Akan tetapi, kekebalan yang amat hebat itu melindunginya sehingga sungguh pun dia sudah belasan kali terpelanting oleh pukulan yang amat hebat, pukulan yang akan menewaskan lawan-lawan yang bahkan lebih lihai sekali pun, namun tidak membuat Pek-hiat Mo-ko terluka dan kakek ini dapat meloncat bangun kembali sambil tertawa mengejek dan menyerang dengan dahsyatnya yang juga dapat dielakkan atau ditangkis oleh Bun Houw dengan mudahnya. Baik dalam hal ilmu silat mau pun dalam hal tenaga sinkang, pemuda ini lebih tinggi tingkatnya dari pada lawannya. Akan tetapi kekebalan itu membuat dia tidak berdaya.

In Hong juga bukan seorang gadis sembarangan. Dia telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang amat hebat dari gurunya, pewaris pusaka milik mendiang Panglima Sakti The Hoo. Meski pun tingkatnya belum dapat dibandingkan dengan tingkat Bun Houw, akan tetapi ilmu-ilmu silat yang murni dan bernilai tinggi itu membuat dia cukup kuat untuk bisa mengimbangi kepandaian nenek Hek-hiat Mo-li yang lihai.

Dia dengan menguasai Thian-te Sin-ciang yang sudah menjadi sempurna karena dilatih secara bergabung dengan Bun Houw, maka boleh dibilang gadis ini memiliki tenaga yang lebih kuat dari pada si nenek iblis. Akan tetapi, karena dia pun tidak berdaya menghadapi kekebalan nenek itu, keadaannya menjadi berimbang, bahkan kadang-kadang dia seperti terdesak oleh Hek-hiat Mo-li yang menyerang tanpa mempedulikan tubuhnya sendiri yang dilindungi oleh kekebalan sehingga kadang-kadang In Hong menjadi repot juga dan harus melindungi diri dengan bergerak mundur

Kini mereka sudah mendengar bisikan dua orang sakti itu, akan tetapi tetap saja mereka tidak tahu bagaimana mereka akan dapat menyerang telapak kaki lawan! In Hong terus melindungi dirinya dari serangkaian serangan Hek-hiat Mo-li yang hanya bermata satu itu sambil memutar otak mencari akal.

Untuk melindungi diri sendiri, ilmu silatnya cukup tinggi dan tenaganya pun cukup besar sehingga dia tidak usah khawatir akan celaka oleh serangan-serangan dahsyat itu yang dapat dielakkan atau ditangkisnya secara pasti dan tidak begitu sukar, sungguh pun tentu saja dia menjadi terdesak karenanya.

Sementara itu, Bun Houw sudah memikirkan akal untuk merobohkan lawan, atau paling tidak supaya dapat menyerang telapak kaki lawan yang diharapkannya akan merobohkan lawannya. Dia tahu bahwa memaksa lawan memperlihatkan telapak kakinya tentu saja tidak mungkin, maka dia harus mempergunakan akal dan dia pura-pura tidak menyangka bahwa kelemahan itu berada di telapak kaki lawan itu. Kini dia harus dapat melakukan pertempuran jarak dekat, pikirnya.

Tadi dia menganggap bahwa tongkat kakek bermuka putih itu tidak berbahaya, bahkan dia membiarkan kakek itu menghadapinya dengan senjata tongkat itu karena dia hendak membiarkan kakek itu lengah karena merasa lebih untung keadaannya yang bersenjata melawan dia yang bertangan kosong dan dia hendak menggunakan kelengahan itu untuk menyerang ke arah kaki.

Akan tetapi setelah dia mendengar bisikan Cia Keng Hong tadi, dia percaya penuh akan kelihaian serta ketajaman mata ayahnya, maka untuk dapat menyerang telapak kaki lebih dahulu dia harus menyingkirkan tongkat lawan agar mereka dapat bartempur dalam jarak yang lebih berdekatan.

Pada saat tongkat itu menyambar dengan tusukan ganas ke arah tenggorokan, Bun Houw sengaja memperlambat gerakannya sehingga tongkat itu sudah tiba dekat sekali dengan lehernya. Tiba-tiba saja dia miringkan tubuhnya, membiarkan tongkat lewat dan anginnya sudah terasa oleh kulit lehernya, lalu mendadak dia menyerang kakek itu dengan jari-jari tangan terbuka ke arah matanya. Cepat bukan main serangannya itu.

Tentu saja selain bagian tubuh yang dirahasiakannya, sepasang mata sama sekali tidak terlindung oleh kekebalan. Kakek itu terkejut dan cepat menarik mundur tubuhnya bagian atas, sedangkan tangan kirinya menangkis dari samping. Akan tetapi betapa terkejutnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa serangan itu tidak dilanjutkan oleh lawan, dan kini tongkatnya yang kena ditangkap oleh tangan kanan pemuda yang lihai bukan main itu.

"Haiiiiitttt...!" Pek-hiat Mo-ko mengeluarkan teriakan keras dan tangan kirinya menyambar ke arah kepala Bun Houw dengan cengkeraman maut, sedangkan tangan kanannya tetap memegang ujung tongkat sambil menarik dengan sentakan kuat.

"Hemmm!" Bun Houw mengeluarkan suara gerengan dalam dada, tangan kiri digerakkan menangkis dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang dan juga menggunakan tangan kanan yang memegang ujung tongkat untuk menarik.

"Plakk! Krekkk...!"

Untuk ke sekian kalinya tubuh Pek-hiat Mo-ko terlempar ke belakang dan tongkatnya patah menjadi dua potong, yang sepotong tertinggal di tangan Bun Houw. Tangkisan hebat tadi membuat tubuhnya terlempar dan karena dia mempertahankan tongkatnya, maka tongkat itulah yang tidak kuat menahan dan menjadi patah.

Muka Pek-hiat Mo-ko yang putih pucat itu berubah sedikit merah, akan tetapi lalu menjadi putih kembali dan dia memandang tongkat di tangannya dengan kedua mata terbelalak, seolah-olah masih belum mau percaya melihat tongkat pusakanya itu dapat patah.

Padahal ada kepercayaan tahyul di dalam hatinya bahwa patahnya tongkat pusaka yang dianggap tidak mungkin dapat pulih itu berarti kematiannya! Maka dia menjadi nekat. Dia membuang tongkat yang sudah patah itu dan dengan teriakan ganas dia menubruk maju, menghantam dengan dahsyat ke arah lawannya.

Bun Houw juga telah membuang tongkat patah itu dan cepat menyambut serangan lawan dengan kedua tangan pula. Akan tetapi sekali ini dia tidak mengadu pukulan, melainkan menangkap kedua pergelangan tangan lawan.

"Ihhhhh…!" Pek-hiat Mo-ko terkejut dan marah.

Kedua pergelangan tangannya sudah ditangkap oleh tangan pemuda itu, tangkapan yang sangat kuat dan walau pun dia sudah mengerahkan seluruh kekuatan sinkang-nya untuk menarik kedua tangannya, tetap saja dia tak mampu meloloskan diri. Dia menjadi marah. Ditangkap kedua pergelangan tangannya seperti itu tidak ada artinya dan dengan cara demikian pemuda itu pun tidak akan mampu menang, maka dia tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, engkau takut melanjutkan pertempuran?"

"Pek-hiat Mo-ko, hendak kulihat bagaimana engkau dapat melepaskan peganganku!" Bun Houw juga mengejek lantas memperkuat pegangannya sehingga agaknya kalau kakek itu mengerahkan seluruh tenaga untuk memaksa, cekalan itu tidak akan terlepas akan tetapi kedua lengan kakek itu yang akan copot atau patah seperti tongkat tadi!

Pek-hiat Mo-ko maklum akan hal ini, maka dia menjadi makin gelisah dan marah. Semua pengikutnya telah tewas, hanya tinggal Hek-hiat Mo-li yang masih bertanding mati-matian melawan gadis perkasa itu dan ternyata kawannya itu pun tidak mampu mendesak gadis bertangan kosong itu yang sekarang memiliki tenaga Thian-te Sin-ciang yang luar biasa kuatnya pula. Dipengaruhi oleh patahnya tongkat pusakanya yang dianggapnya sebagai pertanda akhir hidupnya, maka kakek yang marah ini menjadi nekat.

"Lepaskan tanganku!" bentaknya dan dia menendang ke arah bawah pusar Bun Houw!

Inilah yang dikehendaki oleh pemuda itu! Dia hendak memaksa lawannya agar melakukan tendangan karena hanya pada waktu menendang sajalah telapak kaki dari lawannya itu ‘terbuka’ dan tidak terlindung atau tersembunyi. Akan tetapi Bun Houw memang cerdik.

Dia tidak terlalu membiarkan kegirangan menguasainya dan dia maklum bahwa sekali dia tidak berhasil merobohkan kakek itu melalui serangan pada telapak kakinya, berarti dia gagal dan kakek itu tentu akan menjadi lebih berhati-hati menyembunyikan rahasianya. Maka dia masih berpura-pura tidak tahu bahwa rahasia kelemahan itu terletak di telapak kaki, dan ketika tendangan menyambar ke arah bawah pusar, dia cepat-cepat miringkan tubuhnya untuk mengelak, kemudian dengan mengurangi kecepatan gerakan elakannya dia sengaja membiarkan pahanya tertendang.

"Dessss...!"

Bun Houw menyeringai tanda kesakitan dan kakek itu tertawa bergelak, merasa bahwa dia berada dalam keadaan unggul maka selagi pemuda itu menyeringai kesakitan, dia sudah menggerakkan kaki kirinya menendang kembali, mengarah paha yang baru saja tertendang, yang dianggapnya merupakan tempat yang baik untuk dihantam terus selagi bagian itu terasa nyeri.

Namun, pemuda perkasa itu telah memperhitungkan saat ini dengan tepat dan dia sudah mengumpulkan seluruh tenaga Thian-te Sin-ciang ke dalam lengan kanannya sampai ke ujung jari kanan. Melihat kaki kiri melalui menyambar, secara mendadak dia melepaskan cekalan tangan kanannya dari pergelangan tangan lawan dan tangan itu menyambar ke bawah, cepat mencengkeram ke arah telapak kaki kiri lawan dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang yang dahsyat bukan main. Batu karang yang bagaimana kerasnya pun tentu akan hancur lebur oleh cengkeraman yang mengandung tenaga mukjijat Thian-te Sin-ciang sepenuhnya itu.

Dan ternyata, tidak seperti anggota badan pada bagian lainnya yang sudah membuktikan kekebalannya terhadap kedahsyatan Thian-te Sin-ciang, pada waktu telapak kaki kiri dari Pek-hiat Mo-ko itu kena dicengkeram, kaki itu menjadi remuk-remuk tulangnya dan hancur kulit dagingnya!

Pek-hiat Mo-ko mengeluarkan pekik mengerikan, matanya terbelalak ketika mulutnya memekik dan pada saat itu pula tangan kiri Bun Houw yang sudah melepaskan pegangan pada pergelangan tangan lawan langsung menyambar dengan kecepatan seperti kilat ke arah dadanya.

"Krekkkk...!"

Tubuh Pek-hiat Mo-ko terpelanting, tulang iganya patah-patah dan seluruh isi dadanya terguncang hebat. Kekebalannya langsung lenyap setelah telapak kakinya hancur. Tetapi, dalam keadaan yang sudah seperti itu, yang tentu merupakan sebab kematian bagi orang lain yang bagaimana kuat pun, kakek bermuka putih itu masih bisa meloncat bangun dan seperti sebuah mayat hidup dia menubruk ke arah Bun Houw! Namun, pemuda ini dengan gerakan lincah telah menggeser kaki miringkan tubuh dan kakinya menyambar.

"Desssss...!"

Tubuh yang seperti mayat hidup itu terjengkang, roboh terbanting dan tidak bergerak lagi karena memang Pek-hiat Mo-ko sudah menghembuskan napas terakhir pada waktu dia mengerahkan seluruh tenaga terakhir untuk menubruk tadi.

"Hong-moi, mundurlah, biarkan aku menghadapinya," kata Bun Houw sambil mendekati In Hong yang masih bertempur dengan mati-matian melawan Hek-hiat Mo-li.

"Tidak, aku harus dapat merobohkan dia sendiri, Houw-ko. Engkau mundurlah dan jangan khawatir!" In Hong menjawab.

Gadis ini merasa penasaran sekali. Bun Houw telah berhasil merobohkan lawan, namun dia masih juga belum berhasil. Dia tahu bahwa memang Bun Houw mempunyai tingkat kepandaian yang amat tinggi, akan tetapi dengan ilmu kepandainya, apa lagi setelah dia berhasil menyempurnakan tenaga Thian-te Sin-ciang, dia merasa sanggup mengalahkan nenek ini, lebih-lebih lagi karena dia sudah mendapat bisikan dari Kok Beng Lama.

Akan tetapi, biar pun dia terus mengarahkan semua serangan pukulan mautnya ke arah kaki dan sudah beberapa kali mengenai kaki lawan, tetap saja nenek itu belum dapat dia robohkan. Dia tak dapat melihat bagaimana Bun Houw tadi merobohkan Pek-hiat Mo-ko, maka dia pun belum tahu di mana sesungguhnya letak kelemahan lawannya. Akan tetapi, walau pun demikian, dia merasa enggan dan malu kalau harus menyerahkan lawan ini kepada Bun Houw, apa lagi karena pertempuran itu sedang ditonton oleh banyak orang, di antaranya terdapat kakak kandungnya sendiri yaitu Yap Kun Liong, ada lagi Cia Giok Keng, Cia Keng Hong, Kok Beng Lama, Souw Kwi Beng, Tio Sun dan masih banyak lagi yang lain, bahkan semua prajurit pasukan kota raja juga menonton!

Dengan alis berkerut Bun Houw mundur lagi kemudian dia berlari meninggalkan tempat itu menuju ke sebelah dalam dan tak lama kemudian muncullah pemuda ini membawa sebatang pedang yang bukan lain adalah pedangnya sendiri yang tadinya dirampas oleh musuh, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Dia menanti kesempatan baik kemudian melontarkan pedang itu ke arah In Hong sambil berseru,

"Hong-moi, pakailah pedangmu ini!"

Sekali ini In Hong tidak menolak. Dia menyambut pedang itu dan diputarnya sehingga merupakan gulungan sinar emas yang menyilaukan mata. Dia mau menggunakan pedang karena bukankah lawannya juga menggunakan tongkat? Begitu Hong-cu-kiam berada di tangannya, semangat In Hong berkobar lagi. Dia harus mampu merobohkan lawannya. Harus!

"Cring-cring-tranggg...!"

Bunga api berpijar-pijar pada saat pedang bertemu bertubi-tubi dengan tongkat di tangan Hek-hiat Mo-li dan nenek itu terhuyung ke belakang ketika tangan kiri In Hong menyusul dengan dorongan-dorongan yang mengandung tenaga mukjijat Thian-te Sin-ciang.

Aku harus menyerang kakinya bawah lutut. Akan tetapi bagian yang mana? Demikian In Hong berpikir.

"Telapak kakinya... telapak kakinya...!" Tiba-tiba dia mendengar bisikan suara Bun Houw.

In Hong mengerling dengan bibir tersenyum dan mata berkilat penuh kegirangan. Tahulah dia sekarang. Kiranya di telapak kaki! Pantas saja semua pukulannya yang mengenai kaki tadi tidak berhasil. Habis, siapa yang dapat memukul telapak kaki? Kiranya begitu baik rahasia kelemahan itu tersembunyi.

Akan tetapi, In Hong adalah seorang dara yang selain cantik jelita dan gagah perkasa, juga cerdik sekali. Setelah dia mendengar bisikan ini, tiba-tiba saja dia merubah caranya menyerang lawan dan kini dia melempar diri ke atas tanah, lalu bergulingan hingga sinar emas menyambar-nyambar ke bawah kaki lawan!

"Ihhhh...!" Hek-hiat Mo-li terkejut bukan main dan memutar tongkat melindungi kakinya.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan seperti seekor burung terbang cepatnya, In Hong bergulingan ke arah kiri nenek itu dan tiba-tiba sinar emas pedangnya mencuat ke atas menusuk ke arah mata kanan lawan.

"Ihhhh...!" Nenek itu menjerit dan cepat melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik.

Hampir saja matanya yang tinggal sebelah menjadi korban. Karena mata kirinya sudah buta, maka pada waktu lawannya tadi bergulingan ke sebelah kirinya, dia tidak dapat memandang dengan cukup jelas gerakan lawan dan tahu-tahu sinar emas menyambar ke arah mata kanannya, padahal sejak tadi dia mencurahkan perhatian untuk melindungi kakinya! Dan ketika dia berhasil menyelamatkan mata kanannya dan baru saja kakinya menginjak tanah, sinar emas itu menyambar ke bawah, membabat tanah di bawah kaki Hek-hiat Mo-li.

Tepat pada saat itu, Hek-hiat Mo-li sendiri yang menjadi marah sedang menghantamkan tongkatnya ke arah kepala In Hong! Melihat dara itu hanya miringkan kepalanya sehingga hantaman tongkat itu masih menyambar ke pundak, nenek itu menjadi girang sehingga dia kurang waspada. Baru sesudah sinar emas itu membabat tanah dan terus mengenai telapak kaki kirinya, dia menjerit mengerikan.

"Dessss!”

“Crottttt...!"

Tubuh In Hong terlempar dan bergulingan sedangkan nenek itu mengangkat kaki kirinya yang berdarah sambil berteriak-teriak kesakitan. Bagian belakang telapak kaki kirinya telah terbabat dan terluka oleh Hong-cu-kiam, sedangkan pundak In Hong juga terkena pukulan tongkat.

"Hong-moi...!" Bun Houw berseru kaget, akan tetapi hatinya lega ketika dia melihat In Hong dapat bangkit kembali dan dengan pedang Hong-cu-kiam di tangan dia siap untuk mengejar dan membunuh Hek-hiat Mo-li yang masih mengangkat kaki kiri yang berdarah sambil menjerit-jerit kesakitan.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bunyi terompet dan tambur. Semua orang menengok dan terkejutlah mereka karena tempat itu sudah dikurung oleh pasukan yang sedikitnya tentu ada seribu orang jumlahnya.

"Keparat!" Kok Beng Lama berseru dengan suaranya yang besar. "Mari kita mengamuk kepada mereka!"

"Nanti dulu, locianpwe. Jumlah mereka terlalu banyak dan dalam keadaan seperti ini lebih baik bagi kita untuk menunggu dan membela diri, dari pada menyerang," kata Cia Keng Hong dan Kok Beng Lama tidak jadi bergerak. Kepala pasukan itu, Panglima Lee Cin, juga menyerukan aba-aba supaya semua pasukan tidak bergerak, melainkan membentuk barisan pertahanan.

"Tahan semua senjata!" Mendadak terdengar bentakan nyaring dan dari dalam pasukan besar itu muncullah seorang tinggi besar yang kemudian ternyata adalah Raja Sabutai sendiri!

Semua orang terkejut dan memandang raja liar itu, akan tetapi agaknya In Hong tidak mau peduli dan dia sudah melangkah maju menghampiri Hek-hiat Mo-li dengan pedang di tangan.

"In Hong jangan bergerak...!" Yap Kun Liong berseru kepada adiknya.

Mendengar kesungguhan di dalam suara kakaknya itu, In Hong meragu lantas menoleh kepada kakaknya. Seperti juga Cia Keng Hong, Kun Liong melihat ancaman bahaya. Kalau saja Raja Sabutai memerintahkan pasukannya menyerbu, biar pun mereka memiliki kepandaian tinggi, tentu mereka semua akhirnya akan tewas dalam pengeroyokan ribuan orang prajurit musuh.

Dengan cepat Bun Houw meloncat ke dekat In Hong dan memegang lengan dara itu dengan mesra. "Suheng berkata benar, Hong-moi. Bagaimana dengan pundakmu? Mari kuobati..."

Dengan sikap mesra Bun Houw segera memeriksa pundak yang terpukul tongkat tadi, kemudian melihat betapa pundak itu tidak terluka, hanya berwarna merah kebiruan, dia merasa lega, karena tulang pundak dara itu pun tidak patah. Dengan penyaluran sinkang yang hangat, dia mengusir rasa nyeri pada pundak itu. Tentu saja semua orang melihat kemesraan itu, juga Souw Kwi Beng melihat dengan muka berubah pucat sekali.

Sementara itu, melihat bahwa Raja Sabutai melangkah maju ke dalam kurungan ribuan prajurit itu, menghampiri mereka dan raja itu membawa sebatang pedang yang dikenalnya baik, ketua Cin-ling-pai Pendekar Sakti Cia Keng Hong lalu melangkah maju menyambut dan menjura kepada raja itu.

"Apa maksud sri baginda datang bersama pasukan dan menghentikan pertandingan?" tanya Cia Keng Hong dengan sikap tenang.

Raja Sabutai tertawa dan memandang kepada mayat-mayat yang bergelimpangan di situ, mayat dari semua pengikut dua orang gurunya, bahkan suhu-nya, Pek-hiat Mo-ko, juga telah tewas. Dia berhenti tertawa dan menarik napas panjang.

"Cia-taihiap, kami melihat betapa semua pengikut suhu dan subo sudah tewas, bahkan suhu telah tewas dan subo terluka hebat. Suhu dan subo tidak mau mendengar bujukan kami bahwa memusuhi jagoan-jagoan dari kota raja merupakan hal yang bodoh sekali. Sekarang mereka telah merasakan sendiri akibatnya dan tentu suhu sudah kapok. Urusan ini dimulai dengan pedang Siang-bhok-kiam. Nah, kini kami datang untuk mengembalikan Siang-bhok-kiam yang oleh suhu dititipkan kepada kami kepada pemiliknya, akan tetapi sebagai gantinya, kami harap taihiap bersama semua teman taihiap suka membebaskan subo."

Cia Keng Hong maklum bahwa di balik ucapan itu terkandung ancaman hebat. Kalau dia dan teman-temannya tidak mau menerima penukaran itu, tentu raja ini akan mengerahkan ribuan pasukan mengeroyoknya dan tak mungkin melawan ribuan orang lawan! Maka dia menjura dan menjawab,

"Kami semua datang bukan hanya karena ingin minta kembali Siang-bhok-kiam, namun juga untuk menyelamatkan nona Yap In Hong yang diculik oleh kedua guru sri baginda. Sesudah sekarang nona Yap In Hong selamat, tentu saja kami pun tidak akan terlampau mendesak. Terima kasih atas kebaikan sri baginda yang suka mengembalikan pedang pusaka kepada yang berhak memiliki."

"Ha-ha-ha, Cia-taihiap sebagai ketua Cin-ling-pai memang berpandangan bijaksana. Nah, terimalah Siang-bhok-kiam ini," kata Sabutai sambil menyerahkan Pedang Kayu Harum itu kepada Cia Keng Hong yang menerimanya dengan sikap penuh hormat.

"Subo, marilah pergi bersama kami!" Sabutai berkata sambil menghampiri nenek itu, lalu dia memondong nenek yang mata kirinya buta dan kaki kirinya terluka pula itu.

Semua orang memandang dengan penuh kagum kepada Raja Sabutai. Ternyata orang yang gagah perkasa ini bukan hanya merupakan seorang yang sanggup menundukkan orang-orang liar di antara para Suku Nomad di utara, akan tetapi juga mempunyai watak gagah dan berbakti terhadap gurunya. Oleh karena itu semua orang diam saja ketika Raja Sabutai memerintahkan pasukannya untuk mengangkat semua mayat dari gurunya serta para pengikutnya, lalu pergilah pasukan itu sesudah Raja Sabutai menjura kepada para orang gagah dan berkata sambil tersenyum kepada Tio Sun,

"Jangan lupa untuk menyampaikan apa yang telah kau lihat di tempat kami kepada kaisar, Tio-sicu!"

Tio Sun maklum apa yang dimaksudkan oleh raja itu, maka dia pun mengangguk. Maka berangkatlah Raja Sabutai pergi meninggalkan Lembah Naga, diiringi oleh ribuan orang pasukannya.

Sesudah pasukan itu pergi, barulah semua orang dapat kembali kepada urusan pribadi masing-masing. Cia Giok Keng dan Lie Seng saling berlari menghampiri dan ibu dengan anaknya ini saling berpelukan dengan linangan air mata. Demikian pula Mei Lan berlutut di hadapan kaki Yap Kun Liong dan ayah itu dengan air mata berlinang juga merangkul puterinya.

Pertemuan yang mengharukan antara ibu dan anak, dan ayah dan anak ini terjadi tanpa banyak kata terucap, hanya pandang mata yang berlinang air mata dari mereka sudah bicara banyak sekali. Semua orang memandang dengan hati penuh keharuan, karena melihat Giok Keng berlutut dan mendekap puteranya sedangkan Kun Liong mengangkat bangun Mei Lan dan dipeluknya puterinya itu penuh kasih sayang dan dengan air mata membasahi pipi karena tentu saja pertemuannya dengan Mei Lan ini mengingatkan Kun Liong akan kematian isterinya.

"Ayah... maafkan aku..." bisik Mei Lan lirih. Kun Liong menggunakan jari-jari tangannya untuk meraba dan menutup bibir mulut puterinya itu, seolah-olah hendak mencegah gadis cilik itu bicara lebih lanjut karena dia sudah dapat memahami semua persoalannya.

Pada saat itu, nampak seorang wanita berpakaian serba merah berlari menghampiri Bun Houw dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda yang telah selesai mengobati luka di dalam pundak In Hong.

"Taihiap... saya harap taihiap suka mengasihani saya... harap taihiap sudi menerima saya menghambakan diri... setelah semua yang telah terjadi..." Wanita yang bukan lain adalah Liong Si Kwi itu menangis, tangan kanan mengusap air matanya yang bercucuran, juga tangan kirinya yang buntung itu ikut bergerak ke depan mukanya sehingga kelihatan amat mengerikan sekaligus menyedihkan.

Wajah Bun Houw berubah pucat ketika dia memandang Si Kwi. Terbayanglah semua yang telah terjadi antara dia dan Si Kwi di dalam kamar wanita itu dan marahlah hatinya. Dia tahu bahwa Si Kwi mencinta dirinya, akan tetapi dia marah sekali mengingat betapa wanita ini menggunakan kesempatan saat dia tercengkeram oleh pengaruh hawa beracun yang membangkitkan birahinya, sudah melakukan hubungan kelamin dengan dia dan dia merasa malu, menyesal dan marah sekali dengan terjadinya hal itu.

Kalau saja di sana tidak terdapat banyak orang, di antaranya malah ada ayahnya sendiri, tentu wanita itu telah ditendangnya. Akan tetapi dia menahan kemarahannya dan berkata dengan suara dingin. "Engkau bukan wanita baik-baik. Pergilah kau dari sini!"

"Taihiap...!" Wajah Si Kwi pucat sekali, matanya terbelalak memandang kepada pemuda yang dipuja dan dicintanya itu.

"Pergilah!"

Si Kwi bangkit berdiri, menangis sesenggukan dan lari meninggalkan tempat itu. Semua orang memandang sampai bayangan wanita itu lenyap di antara pohon dan kini Cia Keng Hong memandang puteranya dengan sinar mata penuh selidik. Dia tidak senang melihat sikap puteranya terhadap Si Kwi tadi, yang dianggapnya amat keras dan kejam, sungguh pun dia sendiri tidak tahu apa dan siapa wanita berpakaian merah yang tangan kirinya buntung itu.

"Bun Houw...!" Cia Keng Hong memanggil.

Pemuda itu terkejut, menoleh kepada ayahnya, kemudian dia menggandeng tangan In Hong dan berbisik kepada dara itu untuk ikut bersamanya menghadap ayahnya. In Hong menatap wajah pemuda itu dengan senyum dan sinar mata penuh kemesraan, kemudian mengangguk. Keduanya lalu menghadap Cia Keng Hong dan mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar sakti itu.

Melihat sikap pemuda dan gadis itu, Souw Kwi Beng menarik napas panjang dan ketika dia merasa betapa tangan Tio Sun memegang lengannya, dia menoleh dan tersenyum getir kepada pemuda itu. Mereka sudah sama maklum dan Tio Sun menatapnya dengan sinar mata mengandung iba.

"Houw-ji, bagaimana engkau bisa berada di sini dan tertawan bersama In Hong?" tanya ayah itu yang merasa tak senang melihat puteranya yang bergandengan tangan demikian mesranya di depan orang banyak dengan In Hong. Jelas kelihatan oleh semua orang yang berada di situ bahwa ada pertalian cinta kasih mesra antara puteranya dan In Hong, sedikit pun mereka berdua tidak menyembunyikan perasaan saling mencinta itu.

"Ayah, di kota raja aku mendengar bahwa Hong-moi diculik orang, maka aku melupakan segalanya dan segera mengejar ke sini. Untuk menyelamatkan Hong-moi, terpaksa aku membiarkan diriku ditawan dan... untung sekali bahwa ayah, suhu dan para sahabat yang gagah datang menolong..."

"Dan surat untuk ke Yen-tai itu...?"

"Maaf, ayah. Belum sempat kusampaikan... sebab... sesungguhnya aku… aku tidak dapat melaksanakan tali perjodohan itu, ayah..."

"Apa...?!" Ayahnya membentak.

"Maaf, ayah. Aku... aku dan Hong-moi... kami... saling mencinta dan sudah berjanji untuk hidup berdua dan mati bersama..."

Jantung Cia Keng Hong terasa tergetar hebat yang tidak dia ketahui apa sebabnya, entah marah entah girang. Memang sejak dahulu dia ingin sekali mempunyai mantu keturunan Yap Cong San dan Gui Yan Cu. Mula-mula, niatnya untuk menjodohkan puterinya Giok Keng dengan Kun Liong mengalami kegagalan karena ternyata puterinya tidak mencinta Kun Liong dan Kun Liong pun mencinta gadis lain.

Kemudian, dia ingin sekali mengambil adik Kun Liong, yaitu Yap In Hong untuk menjadi mantunya, dijodohkan dengan puteranya, Cia Bun Houw. Tetapi hal itu pun mengalami kegagalan ketika In Hong mengantar Yalima ke Cin-ling-san dan secara kasar dan keras memutuskan hubungan atau ikatan perjodohan antara In Hong dan Bun Houw itu.

Hal ini sangat menyedihkan dan menyakitkan hatinya dan baru saja sakit hati itu sedikit terobati pada saat dia dapat menjodohkan puteranya dengan keturunan Souw Li Hwa dan sekarang tiba-tiba saja dia melihat puteranya dengan In Hong berlutut di depannya dan menyatakan bahwa mereka saling mencinta!

Cia Keng Hong mengelus jenggotnya. Dia seperti lupa bahwa banyak sekali orang melihat dan mendengar apa yang terjadi di situ, akan tetapi dia tidak merahasiakan urusan pribadi keluarganya dan langsung dia bertanya kepada In Hong, "Yap In Hong, benarkah bahwa engkau mencinta Bun Houw?"

Wajah In Hong seketika berubah merah. Sungguh luar biasa sekali ketua Cin-ling-pai ini! Bertanya kepada seorang gadis tentang cinta di depan begitu banyak orang! Akan tetapi, sejak kecil In Hong hidup dalam keadaan penuh kekerasan, penuh keanehan dan penuh bahaya, maka hanya sebentar saja dia merasa canggung dan malu, kemudian dengan lantang dia menjawab, "Benar, supek, saya mencinta Houw-ko seperti juga dia mencinta saya."

"Hemm... benarkah itu? Lupakah engkau, In Hong, baru beberapa bulan yang lalu engkau pernah datang ke Cin-ling-san dan apakah yang kau katakan kepada kami orang tua dari Bun Houw? Bukankah engkau telah memutuskan tali perjodohan yang tadinya telah diikat antara kau dan Bun Houw oleh kakakmu Yap Kun Liong dan kami?"

"Benar, supek, dan saya tidak lupa akan hal itu," jawab In Hong dengan suara lantang dan tenang.

"Dan engkau sekarang...?"

"Supek, sudah tentu saja keadaannya jauh berbeda antara waktu itu dan sekarang ini. Pada waktu itu, saya dan Houw-koko tidak saling mengenal, bahkan belum pernah saling bertemu. Mana mungkin ada rasa cinta kasih di antara kami berdua? Lagi pula, karena penuturan Yalima tentang dia dengan Houw-koko, mana mungkin saya menerima ikatan jodoh dari seseorang yang sudah memiliki pacar? Sekarang lain lagi keadaannya. Yalima telah bersuami dan urusan dia telah jernih, tidak menghalangi hubungan antara Houw-ko dan saya, dan kami sudah saling mencinta."

Ketika mengeluarkan kata-kata ini, In Hong masih berlutut di samping Bun Houw, malah tangan kanannya masih saling bergandengan dengan tangan kiri pemuda itu, dan jari-jari tangan kiri Bun Houw tergetar dan pegangannya makin erat ketika dia mendengar ucapan kekasihnya dan melihat sikap yang demikian tabah dan tegas.

"Ayah, harap ayah sudi mengampuni semua kesalahanku dan kesalahan Hong-moi, dan sudi merestui cinta kasih antara kami..."

Namun Cia Keng Hong menggeleng kepalanya dengan tegas, wajahnya membayangkan kekerasan dan kedukaan, dua tangannya dikepal dan dia menarik napas panjang setelah menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Bun Houw. Tidak mungkin aku dapat memberi restu dan persetujuanku dan tidak boleh aku membiarkan engkau menjadi seorang yang melanggar peraturan dan kesusilaan. Engkau sudah kami tunangkan dengan puteri Yuan de Gama dan Souw Li Hwa, engkau sudah menjadi calon suami Souw Kwi Eng di kota Yen-tai."

"Tidak, ayah! Tidak, aku tidak mau!" tiba-tiba Bun Houw berkata dengan keras, mukanya berubah merah.

"Hemmm, kehormatan lebih berharga dari pada nyawa, anakku."

"Maksud ayah...?"

"Engkau boleh memilih karena aku sebagai ayahmu hanya ingin melihat engkau antara dua pilihan itu, menjadi suami Souw Kwi Eng atau mati sebelum melanggar kehormatan yang akan menjatuhkan nama baik keluarga!"

"Ayah, aku memilih mati! Lebih baik aku mati dari pada harus berpisah dari Hong-moi!" jawab pemuda itu sambil berlutut dan sikapnya menantang.

"Hemmm...!" Wajah pendekar sakti ketua Cin-ling-pai itu berubah agak pucat.

"Dan sebelum supek membunuh Houw-ko, lebih dulu supek harus membunuh saya!" In Hong juga berkata dan menggeser kedua lututnya, berlutut di depan kekasihnya untuk melindunginya!

"Hemmm, kalian mengira aku akan mengingkari kehormatan demi nyawa anak?" Sambil berkata demikian, tangan kanan Cia Keng Hong sudah memegang gagang pedang Siang-bhok-kiam kemudian menghunusnya dari sarung pedang!

Bun Houw dan In Hong masih berlutut dan dahi mereka hampir menempel tanah. Mereka siap untuk menyerahkan nyawa mereka berdua, rela untuk mati bersama jika tidak boleh hidup sebagai suami isteri.

"Ho-ho, nanti dulu, Cia Keng Hong!" Terdengar suara nyaring dan Kok Beng Lama sudah melompat maju ke hadapan ketua Cin-ling-pai itu dengan muka merah dan senyumnya mengandung ancaman, matanya mengeluarkan cahaya mencorong. "Enak saja engkau hendak membunuh muridku! Jangan engkau lupa, Bun Houw dan In Hong adalah murid-muridku dan seorang guru tidak nanti akan membiarkan murid-muridnya dibunuh orang begitu saja, sungguh pun orang itu adalah ayahnya! Selama hidupku, belum pernah aku melihat seorang ayah begitu kejam dan tega untuk membunuh puteranya. Bahkan seekor harimau pun tidak akan membunuh anaknya. Apakah harus kukatakan bahwa Cia Keng Hong adalah seorang manusia yang lebih buas dari pada harimau?"

Cia Keng Hong, pendekar sakti yang terkenal gagah perkasa itu, yang namanya pernah menggegerkan dunia kang-ouw, kini menjadi makin berduka, akan tetapi dia menentang pandang mata pendeta Lama itu yang amat dia kagumi, lalu menarik napas panjang dan dengan pedang Siang-bhok-kiam tetap di tangannya, dia berkata dengan suara tenang tidak dikuasai perasaan.

"Kok Beng Lama locianpwe, hidup di dunia tidaklah lama, hanya beberapa puluh tahun yang kalau tidak betul-betul dirasakan seperti hanya beberapa hari saja lamanya. Apakah artinya hidup sependek itu apa bila tidak diisi dengan kehormatan? Apakah artinya hidup tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan yang dicita-citakan oleh semua manusia? Manusia haruslah mempunyai cita-cita, menjunjung tinggi cita-cita, tidak hanya menuruti hati yang lemah. Dan cita-cita seorang pendekar hanyalah menjunjung tinggi kegagahan dan kehormatan, menjaga nama agar bersih sampai tujuh turunan!"

"Ha-ha-ha, betapa waspadanya kakek Bun Hwat Tosu! Ha-ha-ha, baru saja dia membuka mataku dan bicara tentang cita-cita, dan sekarang... ha-ha, ketua Cin-ling-pai juga bicara tentang cita-cita dan pandangannya persis seperti pandanganku pada saat itu! Ha-ha-ha, Cia-taihiap, bicaramu mengenai cita-cita itu justru merupakan kebodohan manusia pada umumnya yang terbuai oleh kehormatan palsu, oleh cita-cita yang merusak kewajaran hidup, yang menyelewengkan kemurnian hidup."

Cia Keng Hong mengerutkan alisnya. Cita-cita dan kehormatan adalah ‘pegangan’ semua orang gagah, mengapa dikatakan merusak dan menyelewengkan? "Hemmm, locianpwe, apa maksud locianpwe?"

"Bun Hwat Tosu," Kok Beng Lama memandang ke angkasa, "semoga saja kenyataan yang akan kubicarakan ini akan dapat membuka kesadaran orang-orang lain seperti telah membuka kesadaranku." Kemudian dia melangkah maju mendekati Cia Keng Hong dan berkata lagi, suaranya tenang, "Cia-taihiap, apakah artinya cita-cita? Bukankah cita-cita hanyalah merupakan bayangan yang tidak ada, merupakan sesuatu yang dianggap lebih indah dari pada kenyataan yang ada, merupakan bayangan khayal yang dikejar-kejar oleh manusia yang ingin mencapainya? Bukankah cita-cita itu merupakan sesuatu yang telah digambarkan, merupakan bayang-bayang yang dipuja-puja sebagai teladan untuk dicapai dengan cara bagaimana pun."

"Agaknya benarlah demikian, locianpwe. Cita-cita adalah sesuatu yang sangat baik, yang menjadi arah tujuan hidup. Tanpa cita-cita yang tinggi, hidup akan menyeleweng."

"Benarkah demikian? Apakah tidak sebaliknya? Apakah bukan justru karena mengejar cita-cita itu maka manusia saling gempur, saling jegal, dan saling hantam demi mencapai cita-citanya masing-masing? Apakah bukan cita-cita yang malah menimbulkan perbuatan-perbuatan kejam, keras, dan pengejarannya membuat kita menyeleweng dari kebenaran? Cita-cita adalah suatu contoh yang sudah digambarkan lebih dulu, dan jika kita memaksa diri menjangkaunya, mengekornya, bukankah kita menjadi manusia-manusia yang paling munafik dan palsu? Kita bercita-cita menjadi orang baik, akan tetapi kalau memang kita tidak baik, maka kita akhirnya menjadi orang baik yang palsu, baik pura-pura hanya untuk memenuhi gambaran contoh yang dicita-citakan itu belaka!"

"Tidak begitu, locianpwe. Cita-cita membawa orang yang bodoh menjadi pintar, yang tidak baik menjadi baik, membawa dan mendorong manusia agar mendapat kemajuan. Tanpa cita-cita kita akan mandeg!" bantah Keng Hong.

"Ha-ha-ha, persis seperti pandanganku tempo hari!" Kakek raksasa itu tertawa, kemudian menjawab dengan suara tenang kembali. "Andai kata orang bodoh itu telah mengenal diri sendiri dan melihat kebodohannya, dia sudah bukan orang bodoh lagi! Sebaliknya, orang bodoh yang tidak melihat kebodohannya dan merasa diri pintar, dialah sebodoh-bodohnya orang, taihiap! Begitu pula andaikata orang tidak baik itu mengenal diri sendiri dan melihat ketidak baikannya, maka pengertian ini menimbulkan kesadaran dan dia bukan lagi orang tidak baik dan dia tidak perlu mencari untuk menjadi orang baik lagi! Sebaliknya, dalam keadaan tidak baik lalu mengejar untuk menjadi orang baik, maka pengejarannya itu akan menimbulkan banyak ketidak baikan, mungkin dia akan pura-pura berbuat baik, mungkin dia akan menggunakan kekerasan, kedudukan, harta benda, untuk dapat disebut orang baik sehingga di dalam semua kebaikan yang dilakukan oleh orang tidak baik terkandung ketidak baikan yang paling jahat! Kita sudah terbiasa menganggap bahwa cita-cita akan mendatangkan kemajuan, anggapan kuno yang sudah mendarah daging dan kita terima begitu saja tanpa penyelidikan akan kebenarannya. Mendatangkan kemajuan? Kemajuan yang bagaimanakah? Kita bercita-cita menjadi seorang berkedudukan tinggi maka dalam mengejar cita-cita itu, sudah hampir bisa dipastikan terjadi perebutan, terjadi penyogokan, terjadi kekerasan, bahkan mungkin kita harus menginjak orang lain sebagai batu loncatan dan setelah kita berhasil mencapai cita-cita itu, memperoleh kedudukan tinggi, apakah itu kemajuan namanya?"

Semua orang yang mendengarkan memandang dengan mata terbelalak karena baru satu kali ini mereka mendengar perdebatan yang aneh itu.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner