PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-07


Setelah tiga puluh jurus lewat dan selama itu Hok Boan hanya dapat mempertahankan diri selalu, kini mulailah dia balas menyerang! Serangan-serangan Hok Boan sangat kuatnya, mendatangkan angin bersiutan sehingga Si Kwi harus berhati-hati. Sebaliknya dari lawan, dia mengandalkan kecepatan gerakan ketika menghadapi serangan pemuda itu.

Diam-diam Si Kwi terkejut dan juga kagum. Sasterawan muda yang bersikap sopan dan halus ini ternyata benar-benar sangat hebat! Dia teringat akan Cia Bun Houw, pendekar sakti pujaan hatinya yang juga kelihatan seperti seorang pemuda sasterawan lemah tapi sesungguhnya memiliki kesaktian yang amat luar biasa. Meski pun pemuda ini tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan pendekar muda yang sakti itu, namun keadaan pemuda yang menjadi ketua Padang Bangkai ini cukup menimbulkan rasa kagum di dalam hati Si Kwi.

Seratus jurus lewat dan pertandingan itu bertambah seru. Kalau diam-diam Si Kwi kagum bukan main dan rasa penasaran di hatinya mulai lenyap karena memang harus diakuinya bahwa lawan ini berbeda dengan Coa Lok dan memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, sebaliknya Hok Boan juga kagum bukan main dan kekagumannya diucapkan berkali-kali oleh mulutnya.

"Hebat sekali!"

"Ahh, engkau amat cepat, nona!"

Si Kwi tidak mempedulikan pujian-pujian ini, akan tetapi sebenarnya di dalam hati wanita ini telah timbul semacam perasaan yang aneh. Tadi dia merasa penasaran dan membenci pemuda ini yang dianggap menghinanya. Akan tetapi sekarang lenyap rasa penasaran di hatinya kerena dia mengakui kehebatan pemuda ini, dan perlahan-lahan rasa bencinya juga menipis mendengar betapa pemuda itu memuji-mujinya dengan suara bersungguh-sungguh, bukan pujian yang bersifat mengejek. Apa lagi ketika dia melihat munculnya lima orang pelayannya dalam keadaan sehat dan tidak mengalami cedera.

"Nona, cukuplah. Harap nona suka memaafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud untuk memusuhi nona. Cukuplah, biar aku mengaku kalah!" berkali-kali Hok Boan berkata.

Akan tetapi Si Kwi masih terus mendesaknya. Wanita ini merasa malu ketika lima orang pelayannya muncul dan melihat pertempuran itu, malu bahwa dia masih juga belum dapat merobohkan laki-laki ini. Kalau tidak ada lima orang pelayan itu, agaknya dia masih akan mempertimbangkan permintaan Kui Hok Boan ini, akan tetapi di depan para pelayannya, dia tak ingin dilihat bahwa dia memperoleh kemenangan karena lawannya telah mengalah dan mengaku kalah padahal sebenarnya tidak demikian!

"A Ciauw, kau cepat ambilkan pedangku!" teriaknya sambil terus menerjang.

Melihat A Ciauw mentaati perintah nona majikannya itu dan berlari-lari menuju ke istana, hati Hok Boan merasa tidak enak. Dia tidak takut biar pun nona ini menggunakan pedang, akan tetap hal itu hanya akan membuat permusuhan makin menjadi-jadi, dan dia sama sekali tidak menghendaki ini. Tidak, dia tidak bisa bermusuhan dengan nona yang telah mencuri hatinya ini!

Diam-diam dia telah jatuh hati, jatuh cinta kepada Si Kwi dan dia sendiri merasa heran mengapa dia begini tertarik kepada Si Kwi yang tangan kirinya buntung, dan yang meski pun cantik manis, akan tetapi tidak lebih cantik dari pada kebanyakan wanita yang pernah dijumpai dan diperolehnya.

Dia tidak tahu mengapa dia begitu tertarik dan suka kepada nona majikan istana lembah itu! Segala sesuatunya pada diri wanita itu menarik hatinya, bahkan buntungnya tangan kiri itu tidak menimbulkan rasa jijik dan buruk, sebaliknya bahkan menimbulkan rasa iba dan juga kagum betapa dengan tangan kiri buntung nona itu masih demikian hebat!

Kalau sampai nona itu menggunakan pedang, maka tak mungkin dia membiarkan dirinya terancam bahaya begitu saja, dan melawan orang yang bersenjata, apa lagi kalau lawan itu selihai nona ini, akan memaksa dia menggunakan tangan besi pula dan sama sekali dia tidak menghendaki hal ini.

"Nona, kenapa engkau mendesak aku? Aku datang dengan niat baik, biarlah aku mohon maaf dan mohon diri, lain hari bila mana hatimu sudah dingin kembali, aku akan datang berkunjung lagi. Selamat tinggal, nona." Hok Boan lalu meloncat ke belakang, jauh sekali lalu melarikan diri dari tempat itu setelah melambaikan tangannya kepada Si Kwi sambil meninggalkan senyum dan lirikan matanya yang amat mesra dan memikat.

Si Kwi tidak mengejar dan sampai beberapa lamanya dia berdiri bengong memandang ke arah lenyapnya bayangan sasterawan muda itu. A Ciauw datang membawa pedang, akan tetapi melihat lawan nonanya sudah pergi, dia lalu berkata,

"Memang sebaiknya kalau dia pergi. Kui-taihiap itu tidak berniat buruk maka sangat tidak baik kalau sampai dia tewas di sini." Ucapan itu ditujukan kepada teman-temannya atau kepada diri sendiri.

Si Kwi menoleh lantas memandang kepada pelayan manis berbaju hijau itu. Dia sudah menggerakkan bibirnya akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan mengambil pedangnya dari tangan A Ciauw dan mencari-cari Sin Liong dengan matanya. Akan tetapi di atas pohon itu sudah tidak nampak Sin Liong yang tadi dipondong monyet besar, maka dia lalu kembali ke istana.

Di dalam hatinya ada rasa malu untuk bicara tentang pria itu dengan para pelayannya. Ada pun tentang Sin Liong dia tidak merasa khawatir karena kini dia maklum bahwa anak itu mempunyai dua dunia, yaitu dunia bersama monyet-monyet di atas pohon dan dunia bersama dia di dalam istana.

Dia tidak mengganggu lagi karena yakin bahwa nanti sebelum malam tiba, Sin Liong tentu akan pulang atau diantar pulang oleh monyet-monyet itu. Dugaannya benar karena sore hari itu, selagi duduk termenung di dalam kamarnya, Sin Liong meloncat masuk melalui jendela!

Semenjak peristiwa pertempurannya dengan Hok Boan itu, sering kali Si Kwi nampak duduk termenung di dalam kamarnya atau kadang-kadang di taman bunga di belakang istana. Apa lagi semenjak hari itu, sering kali ada kiriman dari Padang Bangkai! Kadang-kadang ada kiriman emas dan permata berbentuk hiasan rambut, sutera halus, sepatu baru model terakhir, bahkan kadang-kadang ada kiriman masakan yang masih panas!

Mula-mula ditolaknya kiriman-kiriman yang datang dari Kui Hok Boan dan sengaja dikirim kepadanya itu, akan tetapi dibacanya surat terlampir yang berisi sajak-sajak indah yang memuji-muji kecantikannya, menghibur kesunyiannya. Huruf-huruf indah itu mengandung rasa cinta dan iba yang amat mengharukan hatinya. Akhirnya, diterimanya juga kiriman-kiriman itu, bahkan beberapa bulan kemudian, Kui Hok Boan yang datang berkunjung secara resmi itu, diterimanya sebagai seorang tamu terhormat!

Memang tidak terlalu mengherankan jika melihat kekerasan hati Liong Si Kwi mencair. Dia adalah seorang wanita yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya. Dia pernah jatuh cinta, pernah merasakan belaian cinta kasih seorang pria sungguh pun hal itu terjadi di luar kesadaran pria itu.

Dia mencinta Cia Bun Houw dan di dalam batinnya dia sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada pemuda itu. Akan tetapi, setelah Cia Bun Houw pergi meninggalkannya, dia melihat kenyataan yang mengerikan dan amat pahit. Cintanya ditolak. Hatinya hancur luluh.

Kemudian, hati itu menjadi dingin membeku. Betapa pun juga, dia adalah seorang wanita normal yang masih muda, yang di balik kebekuannya itu sebenarnya bernyala api gairah yang besar, bersembunyi kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria. Keadaan di Istana Lembah Naga yang sunyi, jauh dari dunia ramai, jauh dari kaum laki-laki, sedikit banyak telah menolong dan menghiburnya, mempertebal kebekuan hatinya terhadap pria.

Namun, kini muncul Kui Hok Boan, seorang pria yang masih muda, tampang halus dan juga lihai. Walau pun tidak sesakti Cia Bun Houw, setidaknya merupakah pemuda yang keadaannya seperti Bun Houw. Apa lagi Hok Boan pandai merayu, pandai memuji-muji, dan dari sinar mata pemuda itu memancar kasih sayang yang besar dan mesra. Maka, herankah bila hati wanita itu menjadi terbakar, bila kebekuan itu mencair dan jantungnya berdebar penuh gairah?

Anehkah itu kalau sebulan kemudian semenjak kunjungan resmi dari Hok Boan, dia mau pula membalas kunjungan pemuda itu, pergi ke Padang Bangkai dan mengagumi segala kemajuan yang dicapai oleh daerah itu di bawah pimpinan Kui Hok Boan? Dan anehkah jika dia tidak marah, melainkan tunduk dengan muka merah dan jantung berdebar ketika pada suatu hari Kui Hok Boan menyatakan cintanya dan mengajukan pinangan padanya?

Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk. Kedua pipinya merah sekali, bibirnya tersenyum malu-malu dan jari tangan kanannya memilin-milin rambutnya yang terlepas dari sanggul dan berjuntai ke depan dadanya.

"Liong-moi, engkau tahu bahwa lamaranku ini keluar dari hati yang tulus dan mencintamu, maka harap engkau bersikap jujur untuk menjawabku supaya aku tidak tersiksa di dalam kebimbangan." Kui Hok Boan mengulang dan mendesak. Setelah berkenalan kurang lebih dua bulan saja, dia sudah menyebut moi-moi (adik) kepada Si Kwi dan wanita itu pun menyebutnya ko-ko (kakak)!

Jantung di dalam dada Si Kwi berdebar. Sungguh dia sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa akan ada seorang laki-laki yang dapat jatuh cinta kepadanya, bahkan yang akan meminangnya sebagai isteri! Apa lagi seorang pria setampan dan selihai Kui Hok Boan!

Tentu saja hatinya menerima pinangan ini dengan rasa gembira dan terharu, akan tetapi dia bukanlah seorang wanita muda yang sembrono. Dia maklum bahwa ikatan pernikahan adalah hal yang tidak boleh dipandang ringan, dan merupakan suatu ikatan selama hidup.

Karena itu, sebelum diambil keputusan untuk mengikatkan diri di dalam suatu pernikahan, dia harus bersikap terus terang. Antara kedua fihak harus membuka diri, sehingga tidak terdapat rahasia lagi di antara mereka yang kelak hanya akan menggagalkan ikatan itu. Biar pun hal yang dikeluarkan itu amat sukar dan membuatnya merasa malu sehingga dia bicara sambil menundukkan terus mukanya, namun akhirnya dapat juga dia bicara.

"Kui-koko, sebelum aku menjawab, sebaiknya engkaulah yang harus mempertimbangkan terlebih dahulu pinanganmu itu dengan baik dan tidak tergesa-gesa karena engkau belum mengenal betul siapa adanya diriku."

"Liong-moi, apa lagi yang harus kupertimbangkan? Meski pun baru selama dua bulan kita berkenalan, akan tetapi rasanya aku sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya. Aku tahu bahwa engkau adalah Liong Si Kwi, akan tetapi aku lebih tahu lagi bahwa engkau adalah seorang wanita yang hidup sebatang kara di tempat sunyi ini, hidup ditemani lima orang pelayan serta seorang anak angkat yang diasuh oleh monyet-monyet itu. Engkau belum mau menceritakan kepadaku mengapa engkau sampai kehilangan tangan kirimu, akan tetapi agaknya hal itu yang membuat engkau merasa malu dan menyembunyikan diri di sini. Bagiku, engkau adalah seorang wanita yang pandai dan yang menimbulkan rasa iba dalam hatiku, yang membuat aku ingin menghibur hatimu yang seperti tertekan, selalu melindungi dirimu yang seperti orang putus asa itu. Dan lebih dari semua itu, aku meminangmu karena aku cinta padamu, moi-moi."

Si Kwi memejamkan matanya. Hatinya terharu sekali. Pernyataan itu dahulu dia rindukan dari mulut Bun Houw, akan tetapi pernyataan itu tidak kunjung muncul, dan kini keluar dari mulut Hok Boan! Selama hidupnya, baru kali ini ada seorang pria mengaku cinta padanya, pengakuan yang dia tahu amat jujur dan setulus hati. Hampir dia menangis.

"Kui-koko...," katanya dengan suara gemetar. "Engkau belum tahu akan riwayatku, akan latar belakang hidupku..."

"Aku tak peduli, moi-moi. Tak peduli apa pun latar belakang hidupmu, apa pun riwayatmu yang telah lalu, yang kucinta bukanlah Liong Si Kwi yang dahulu, melainkan Liong Si Kwi sekarang ini, yang duduk di depanku ini!"

"Tetapi, koko... aku... aku bukanlah seorang perawan seperti yang mungkin kau duga..." Muka wanita itu menjadi pucat dan dia tidak berani mengangkat muka.

"Hemm, perawan atau bukan bagiku tidak ada bedanya, moi-moi. Akan tetapi... apakah engkau sudah menikah? Ataukah seorang janda?"

Liong Si Kwi menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat muka menatap wajah pria itu penuh selidik dan hatinya girang melihat bahwa pernyataan bahwa dia bukan perawan itu, agaknya tidak merobah sikap pria itu terhadap dirinya.

"Aku tidak pernah menikah, karena itu tentu saja bukan janda. Akan tetapi..." kembali dia menunduk, "Aku bukan perawan, bahkan aku... aku pernah melahirkan anak..."

Hening sejenak setelah kata-kata ini. Akan tetapi Hok Boan tidak terkejut. Bagi seorang petualang asmara seperti dia, soal perawan atau bukan tidaklah penting, apa lagi kini dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita ini. Dan dia pun bukan seorang bodoh. Dia sudah banyak pengalaman sehingga ketika pertama jumpa saja dia pun sudah tahu bahwa Si Kwi bukanlah seorang perawan. Dan dia tidak peduli.

Akan tetapi, ketika mendengar bahwa Si Kwi pernah melahirkan, membuat dia terkejut juga. Bukan main-main kalau begitu hubungan antara Si Kwi dengan ayah dari anak yang dilahirkannya itu.

"Dan di mana sekarang dia? Ayah dari anak itu? Apakah masih ada ikatan antara engkau dan dia?" tanyanya meragu.

Si Kwi kembali mengangkat mukanya. Terheran dia, juga girang karena kembali tidak ada perubahan sikap Hok Boan sesudah mendengar bahwa dia pernah melahirkan! Ahh, dia tidak boleh bertindak terlalu jauh.

Pria ini hebat, penuh pengertian dan penyabar! Akan tetapi tentu ada batasnya, karena itu sekali-kali dia tidak boleh mengemukakan dugaannya Sin Liong adalah anak kandungnya yang dibesarkan oleh monyet. Hal itu tentu kelak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak! Pria ini baik sekali, akan tetapi dia tidak boleh terlalu mendesaknya, tidak boleh mengujinya terlalu berat.

"Dia? Dia masih hidup, entah di mana, akan tetapi, Kui-koko, bagiku dia telah mati."

"Apakah dia mencintamu?"

Si Kwi menggeleng kepala keras-keras. "Sama sekali tidak! Seujung rambut pun tidak!"

"Hemmm... dan kau? Cintakah kau kepadanya, moi-moi?"

Kembali Si Kwi menggeleng kepala, akan tetapi tidaklah begitu keras. "Tidak, kukira tidak, aku menganggapnya telah mati."

"Baik sekali, kalau begitu berarti engkau bebas, moi-moi! Dan anak itu?"

"Dia... dia mati ketika terlahir."

"Ahhh, kalau begitu, sama sekali tidak ada hal yang memberatkanmu untuk menerima pinanganku, Liong-moi!"

Si Kwi mengangkat mukanya, menatap wajah pemuda itu penuh selidik bercampur rasa keheranan. "Koko! Engkau sudah mendengar semua itu dan engkau masih melanjutkan pinanganmu kepadaku? Engkau seorang pemuda sasterawan yang pandai dalam hal bun dan bu, bahkan engkau telah menjadi majikan Padang Bangkai yang terhormat, seorang pemuda pilihan dan yang akan mudah saja mencari isteri seorang dara cantik yang jauh lebih baik dari pada aku! Koko, berpikirlah dulu sebelum kelak engkau menyesal!"

"Ha-ha-ha, engkau terlalu merendahkan diri, sayang. Aku sendiri, biar pun belum menikah dalam usia tiga puluh tahun lebih ini, mana berani mengaku perjaka? Ha-ha-ha, apa sih artinya perjaka atau... atau bukan? Yang terpenting adalah kita saling mencinta. Dan aku cinta kepadamu, moi-moi, Dengan cintaku ini, aku menerimamu seperti apa adanya, aku menerima engkau baik dengan keperawananmu mau pun dengan kejandaanmu, dengan segala kebaikan berikut semua cacad-cacadmu. Nah, engkau sudah mendengar semua, Liong-moi, sekarang jawablah, maukah engkau menerima pinanganku? Apakah engkau bersedia menjadi isteriku?"

Sepasang mata itu tak dapat menahan lagi air mata yang bercucuran keluar membasahi kedua pipinya. "Koko... engkau... engkau baik sekali... baik sekali..."

Hok Boan bangkit berdiri dan menghampiri wanita itu yang duduk sambil menangis dan menundukkan mukanya. Dengan lembut dan mesra, Hok Boan memegang dagu wanita itu, mengangkat muka yang basah itu menghadap kepadanya, lalu dia bertanya,

"Jawablah, moi-moi, maukah kau...?"

Dengan air mata masih bercucuran, Si Kwi menggerakkan kepalanya mengangguk dan bibirnya hanya dapat berbisik serak. "Aku mau... aku mau... ahhh, aku mau, koko..."

"Moi-moi...!" Hok Boan sudah mencium mulut itu, menciumi muka yang basah air mata itu, kemudian mencium lagi mulut Si Kwi.

Si Kwi tersedu, kemudian menggerakkan kedua lengannya, merangkul leher Hok Boan dan menariknya sehingga mereka berpelukan ketat.

Segala menjadi indah kalau cinta sudah berpadu. Cinta tidak membedakan baik buruk, tidak membedakan derajat dan tingkat. Cinta tidak memandang kedudukan, kepandaian, harta, kebangsaan, agama, kepercayaan, dan sebagainya lagi. Semua itu hanya pakaian belaka.

Bagi cinta, yang mutlak adalah manusianya dan semua embel-embel itu sudah tercakup di dalamnya. Bagi cinta, yang terpenting adalah si dia! Apa pun adanya dia, bagaimana pun adanya dia, karena dalam cinta dia menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupan, dan tanpa si dia yang dicinta, hidup menjadi tidak lengkap!

Dengan cinta, kita menjadi bijaksana dan kebijaksanaan itu membuat kita dapat melihat bahwa tidak ada yang tanpa cacad di dunia ini. Setiap kali kita menilai segi kebaikannya, sudah pasti muncul segi keburukannya karena baik dan buruk adalah saudara kembar, seperti senang dan susah. Tiada sesuatu yang tanpa cacad, dan si dia yang kita cinta itu pun termasuk di dalam segala sesuatu yang pasti ada cacadnya, itu kebaikannya dan juga ada keburukannya.


Padang Bangkai yang kini sudah menjadi tempat yang indah dan tidak berbahaya untuk dikunjungi orang luar itu terhias meriah. Semua anak buah Padang Bangkai sibuk, dibantu oleh para penghuni dusun di sekitar tempat itu, dan suasana yang gembira dan meriah diramaikan oleh suara musik itu menandakan bahwa di tempat itu sedang diadakan pesta.


Memang demikianlah. Hari itu adalah hari yang gembira, semua orang bergembira karena hari itu adalah hari pernikahan antara majikan Padang Bangkai, Kui Hok Boan, dengan penghuni Istana Lembah Naga, Liong Si Kwi!

Dalam kesempatan ini, Kui Hok Boan memperlihatkan kepopulerannya di dunia kang-ouw dengan mengundang banyak tokoh kang-ouw! Dengan sejumlah besar harta pusaka yang ditemukannya di Padang Bangkai, tentu saja dia dapat mengadakan pesta besar dengan mengundang tukang-tukang masak dari selatan.

Daerah kaki Pegunungan Khing-an-san yang biasanya amat sunyi dan jarang dikunjungi orang itu, pada hari itu menjadi ramai dan sejak kemarin sudah berdatangan tamu-tamu dari selatan yang sebagian besar terdiri dari orang-orang kang-ouw yang bersikap gagah. Dan memang hanya orang-orang kang-ouw saja yang berani dan sanggup mengadakan perjalanan sejauh dan sesukar itu.

Yang sangat menggirangkan dan mengharukan hati Hok Boan adalah ketika dia melihat munculnya seorang hwesio tinggi besar yang bermuka hitam dan bermata lebar. Hwesio ini adalah Lan Kong Hwesio, seorang tokoh Go-bi-pai. Lan Kong Hwesio masih terhitung sute dari Kauw Kong Hwesio, guru Hok Boan yang telah meninggal dunia. Pada saat Hok Boan mengirim undangan kepada bekas gurunya, ternyata gurunya itu sudah meninggal dunia dan sebagai wakilnya kini yang datang adalah Lan Kong Hwesio atau susiok-nya (paman gurunya).

Sebenarnya, kedatangan Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang sudah berusia enam puluh lima tahun ini, sama sekali bukan hanya untuk menghadiri pernikahan bekas murid keponakannya itu. Akan tetapi sesungguhnya dia berkewajiban untuk menyelidiki, apakah murid Go-bi-pai yang telah diusir oleh mendiang suheng-nya dan tak boleh mengaku lagi sebagai murid Go-bi-pai itu telah berubah menjadi orang yang baik dan benar-benar tidak lagi mencemarkan atau menggunakan nama Go-bi-pai.

Dan giranglah hati Lan Kong Hwesio ketika mendapat berita betapa Kui Hok Boan yang dikenal sebagai Kui-taihiap di daerah Khing-an-san, sama sekali tidak pernah menyebut Go-bi-pai, dan lebih lagi, nama sasterawan muda itu cukup baik, bahkan berjasa dalam membangun Padang Bangkai yang tadinya merupakan daerah maut yang berbahaya itu menjadi daerah terbuka dan maju. Maka hwesio ini memasuki ruangan pesta dengan hati gembira.

Di samping tokoh Go-bi-pai ini, banyak pula wakil-wakil dari partai-partai persilatan lainnya yang hadir, akan tetapi lebih banyak lagi adalah tokoh-tokoh dari golongan yang biasanya disebut golongan hitam atau golongan sesat! Memang Kui Hok Boan memiliki hubungan yang sangat luas di dunia kang-ouw, oleh karena itu pesta pernikahannya itu merupakan pertemuan di antara dua golongan yang menamakan dirinya golongan putih dan golongan hitam sehingga di dalam pesta itu terdapat ketegangan-ketegangan yang berbahaya.

Namun karena mereka semua menghormat tuan rumah yang menjadi pengantin, dan juga karena kedua fihak bersikap hati-hati mengingat bahwa mereka bukan berada di daerah sendiri, melainkan daerah liar yang sesungguhnya termasuk wilayah kekuasaan raja liar Sabutai, maka mereka tidak berani menimbulkan kekacauan dan bersikap sabar menanti serta berjaga-jaga saja.

Pesta berjalan dengan lancar dan hidangan-hidangan yang dikeluarkan adalah hidangan-hidangan pilihan karena memang Kui Hok Boan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk menjamu para tamunya.

Selagi para tamu menikmati hidangan yang disuguhkan, mendadak terdengar suara hiruk pikuk, lantas teriakan-teriakan kaget itu menjalar ke dalam dan suasana gembira menjadi geger ketika para tamu melihat puluhan ekor monyet besar kecil menyerbu tempat pesta dipimpin oleh seorang anak kecil yang usianya belum ada empat tahun!

Seperti juga monyet-monyet lainnya, anak itu berloncatan dengan gerakan yang sangat cekatan. Mereka segera menyerbu makanan-makanan di atas meja, ada pun para tamu menjauhkan diri karena kaget dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ketika para orang kang-ouw itu pulih kembali ketenangan mereka, tentu saja mereka menjadi marah saat melihat bahwa yang datang menyerbu itu adalah monyet-monyet liar besar dan kecil, maka mereka sudah siap untuk menghajar binatang-binatang itu.

Akan tetapi mendadak terdengar suara merdu dan nyaring, "Cu-wi sekalian harap jangan turun tangan mengganggu monyet-monyet itu!"

Semua orang terkejut dan menoleh. Yang berbicara adalah pengantin wanita yang sudah bangkit berdiri di samping pengantin pria yang juga telah ikut berdiri. Dari balik tirai manik yang bergantungan di depan muka pengantin wanita, nampak sepasang mata yang tajam bersinar, kemudian terdengar suara nyaring yang ditujukan kepada anak kecil yang masih menikmati makanan di atas meja bersama monyet-monyet itu,

"Liong-ji (anak Liong), hayo lekas kau ajak teman-temanmu pergi! Lekas pergi!"

Anak itu memandang ke arah pengantin wanita, kelihatan sangat penasaran dan marah, kemudian mengeluarkan gerengan dari kerongkongannya seperti seekor kera marah.

"Sin Liong, lekas ajak teman-temanmu pergi!" Kembali Si Kwi membentak dan sekali ini di dalam suaranya terkandung kemarahan.

Anak itu menyambar sepotong paha ayam, lalu meloncat turun dan sambil mengeluarkan mengeluarkan teriakan segera berlari keluar, diikuti oleh monyet-monyet besar dan kecil itu. Lucunya, ada monyet yang menyambar seguci arak, dan ada pula yang menyambar mangkok berikut sumpitnya.

Para tamu tertawa ketika melihat lagak monyet-monyet itu dan mereka terheran-heran memandang kepada pengantin wanita. Tadi pengantin itu menyebut anak yang memimpin monyet-monyet itu dengan ‘anak Liong’! Apa artinya ini? Apakah pengantin itu, yang bagi seorang pengantin usianya sudah tidak muda lagi, telah mempunyai anak?

"Cu-wi sekalian yang mulia," terdengarlah suara Hok Boan sambil menjura ke arah para tamu ada pun Si Kwi sudah duduk kembali sambil menundukkan mukanya. "Harap cu-wi memaafkan bila kedatangan rombongan monyet tadi mengejutkan dan mengganggu cu-wi. Hendaknya diketahui bahwa kumpulan monyet itu adalah monyet-monyet yang tinggal di sekitar tempat ini dan dipimpin oleh seorang anak kecil. Ketahuilah bahwa di sini terjadi hal aneh sekali. Dua tahun yang lalu anak itu ditemukan oleh isteri saya dalam keadaan luka-luka tergigit oleh ular beracun dan dirawat oleh monyet-monyet besar. Isteri saya lalu menolongnya dan merawatnya sampai sembuh, kemudian mengangkatnya sebagai anak dan diberi nama Sin Liong. Akan tetapi, karena sejak kecil dirawat oleh monyet-monyet, agaknya anak itu masih suka bermain-main dengan rombongan monyet-monyet dan tidak kami sangka bahwa hari ini dia mengajak para monyet itu untuk ikut berpesta!"

Keterangan yang lucu ini disambut suara ketawa, akan tetapi semua tamu menjadi amat terheran-heran hingga suasana menjadi berisik karena membicarakan peristiwa aneh ini. Seorang bocah yang jelas adalah seorang manusia cilik, dirawat oleh monyet-monyet dan hidup di antara monyet-monyet!

Akan tetapi, dengan cekatan para pelayan cepat membereskan tempat-tempat yang telah dikacaukan oleh rombongan monyet tadi, mengganti semua hidangan masakan dan arak. Pesta dilanjutkan lagi dan kini suasana menjadi lebih gembira sebab mereka memperoleh bahan percakapan yang amat mengasyikkan, yaitu anak kecil pemimpin monyet-monyet tadi. Mereka menduga-duga dan mengkhayal menurut perkiraan masing-masing.

"Hemmm, anak angkatmu itu perlu dididik secara baik, kalau tidak kelak dia bisa menjadi binal," bisik Hok Boan kepada isterinya.

Dengan muka masih tetap menunduk, Si Kwi menjawab suaminya dengan bisikan pula. "Aku mengharapkan kebijaksanaanmu untuk mendidiknya."

"Jangan khawatir, anak angkatmu berarti juga anak angkatku. Karena telah menjadi anak angkat kita, maka dia harus dididik. Bukankah akan memalukan kalau anak angkat kita berwatak seperti monyet?"

Hok Boan berkelakar dan isterinya hanya tersenyum. Akan tetapi karena wajah itu berada di balik tirai manik, maka Hok Boan tidak melihat betapa wajah isterinya agak pucat dan betapa jantung wanita itu berdebar tegang.

Di antara para tamu itu terdapat seorang guru silat dari kota Koan-sun-jiu, seorang yang bernama Tio Kok Le. Dia mengenal baik Hok Boan sebab itu dia datang pula, akan tetapi diam-diam dia merasa iri hati melihat kemakmuran hidup Hok Boan.

Dulu pernah dia bersama Hok Boan menjadi teman senasib dalam keadaan yang serba kekurangan. Kini, setelah melihat betapa Hok Boan menjadi majikan Padang Bangkai dan menikah dengan wanita cantik, juga dapat mengadakan pesta pernikahan yang demikian mewahnya, mengundang banyak tokoh kang-ouw, hatinya menjadi iri.

Dia tahu pula akan peristiwa di kota Koan-sui, di mana Hok Boan hampir dikeroyok oleh murid-murid guru silat yang juga dikenalnya, pada saat Hok Boan berani main gila merayu anak perempuan guru silat itu. Bahkan dialah yang dahulu sudah membantu Hok Boan menyembunyikan diri ketika dikejar-kejar, dan membantunya mencari jalan keluar dan lari ke utara. Dia tahu pula siapakah Kui Hok Boan, tahu bahwa temannya ini adalah bekas murid Go-bi-pai yang telah diusir karena berjinah dengan isteri petani dan ketahuan oleh gurunya.

Sekarang, melihat keadaan temannya serta melihat pula kehadiran seorang hwesio yang diketahuinya sebagai seorang tokoh Go-bi-pai, susiok dari temannya itu, dia memperoleh kesempatan untuk melampiaskan iri hatinya dengan jalan merusak suasana yang meriah dan tenang itu! Keberaniannya diperbesar karena semenjak tadi dia sudah terlalu banyak minum arak untuk menutupi iri hatinya. Kini dia bangkit berdiri, membawa guci dan cawan arak, agak terhuyung menghampiri tempat duduk kedua mempelai.

"Ha-ha-ha, Kui-hiante, apakah engkau sudah lupa kepadaku?" Tio Kok Le berkata sambil tertawa, berdiri di depan pengantin pria yang masih duduk.

Kui Hok Boan tersenyum, "Tentu saja tidak, Tio-twako. Duduklah dan nikmatilah hidangan kami seadanya."

"Cukup... sudah cukup... aku hanya ingin memberi selamat kepadamu dengan secawan arak, Kui-hiante." Biar pun dia agak limbung tetapi guru silat ini masih dapat menuangkan arak ke dalam cawan itu lalu menyerahkannya kepada Hok Boan.

Pengantin pria ini maklum bahwa bekas sahabat baiknya ini sudah mabok, maka dia pun menerima cawan itu dan berkata, "Terima kasih atas ucapan selamatmu, twako," lalu dia minum cawan itu sampai kosong.

"Ehh, mana walimu, Kui-hiante? Aku ingin memberi selamat kepada walimu."

Hok Boan mengerutkan alisnya. "Tio-twako, agaknya engkau sudah lupa bahwa aku tidak mempunyai ayah bunda lagi."

"Ha-ha-ha, yang kumaksudkan adalah gurumu, hiante."

Makin dalam kerut di antara kedua mata pengantin pria itu. "Tio-twako, kau tahu aku tidak mempunyai guru."

"Ahhh, di hari baik begini mengapa membohong, hiante? Engkau adalah murid Go-bi-pai yang pandai dan terkenal! Engkau adalah Kui-taihiap, jago muda dari Go-bi-pai, seorang tokoh kang-ouw baru di daerah utara ini!" Suaranya meninggi dan mengeras sehingga kini banyak tamu yang sudah menoleh dan memperhatikan guru silat itu.

"Tio-twako, sudahlah. Bekas suhu-ku juga sudah meninggal dunia. Kembalilah ke tempat dudukmu, twako, dan terima kasih atas kebaikanmu," Hok Boan membujuk.

Akan tetapi tentu saja Tio Kok Le tidak mau berhenti sampai di situ, karena memang dia bermaksud untuk mengacau dan membongkar rahasia riwayat busuk pengantin pria yang menimbulkan iri dalam hatinya itu. Dia menoleh ke arah tempat duduk hwesio tinggi besar muka hitam itu dan tiba-tiba wajahnya berseri,

"Haaa, bukankah beliau itu Lan Kong Hwesio, tokoh Go-bi-pai yang menjadi susiok-mu, hiante?" Tio Kok Le lalu menghampiri tempat itu sambil membawa guci arak dan cawan kosong.

"Tio-twako, jangan...!" Hok Boan mencoba untuk mencegah.

Akan tetapi guru silat itu sudah menghampiri Lan Kong Hwesio dengan langkah lebar dan diikuti oleh pandang mata banyak tamu yang merasa tertarik. Dia lalu menjura di depan hwesio bermuka hitam itu.

"Locianpwe, harap locianpwe sudi menerima pemberian selamat saya kepada locianpwe untuk hari yang berbahagia ini."

Tentu saja pendeta itu tidak menerima suguhan cawan arak itu dan dengan alis berkerut dia bertanya, "Apakah maksudmu, sicu?"

Para tamu kini memandang ke arah mereka dengan penuh perhatian.

"Ah, bukankah locianpwe adalah Lan Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai?" Tio Kok Le bertanya dengan suara nyaring hingga terdengar oleh para tamu yang kini makin memperhatikan.

"Benar, pinceng seorang murid Go-bi-pai, bukan tokoh besar. Habis, mengapa?"

"Ha, kalau begitu saya tidak keliru. Kui Hok Boan merupakan murid mendiang Kaw Kong Hwesio tokoh Go-bi-pai, sebab itu pengantin pria adalah keponakan locianpwe. Bukankah sepantasnya kalau locianpwe saya anggap sebagai walinya dan saya memberi selamat kepada locianpwe dengan secawan arak?"

Pendeta itu memandang dengan penuh selidik kepada wajah guru silat itu. "Omitohud, pinceng tidak mengerti apa yang sicu maksudkan dengan sikap ini, akan tetapi ketahuilah bahwa sudah sejak lama Kui-sicu bukan lagi terhitung murid Go-bi-pai. Pinceng datang bukan sebagai paman gurunya, melainkan sebagai tamu biasa, karena itu pinceng tidak dapat menerima selamat itu."

"Wah, wah ini namanya penasaran!" Guru silat itu berseru dengan muka merah, ditujukan kepada para tamu. "Pengantin pria adalah seorang gagah perkasa yang berkedudukan tinggi sebagai majikan Padang Bangkai dan sudah jelas dia merupakan tokoh Go-bi-pai, mengapa tidak diakui oleh golongan atasan dari Go-bi-pai sendiri? Locianpwe, agar tidak membikin para tamu yang terdiri dari kaum kang-ouw menjadi penasaran, harap sukalah locianpwe memberi tahu apa sebabnya pengantin pria tidak lagi dianggap sebagai murid Go-bi-pai?"

Wajah Kui Hok Boan menjadi pucat, maka dia memandang kepada guru silat itu dengan marah. Dia tidak tahu mengapa bekas sahabat baiknya itu secara tiba-tiba menyerangnya dengan ucapan seperti itu? Kalau saja dia tidak sedang menjadi pengantin dan menjadi tuan rumah, tentu sudah diserangnya bekas sahabat yang kini berkhianat itu, agaknya berusaha untuk mencemarkan namanya di dalam pesta ini!

"Sicu, urusan Go-bi-pai adalah urusan kami sendiri, sebagai orang luar sicu tidak berhak mencampuri atau bertanya-tanya!" ucapan hwesio itu dilakukan dengan nada menegur dan suara menggeledek sehingga terdengar oleh semua orang. Secara diam-diam Hok Boan merasa kagum dan berterima kasih kepada bekas susiok-nya itu.

Tio Kok Le menyeringai setelah mendengar bentakan itu. Dia tidak berani main-main di depan hwesio ini, akan tetapi dia merasa belum puas apa bila belum berhasil menyeret nama teman atau bekas teman yang kini makmur itu ke lumpur penghinaan, maka dia lalu berkata lantang,

"Cu-wi sekalian, apakah cu-wi ingin mendengar mengapa pengantin pria tidak diakui lagi sebagai murid Go-bi-pai? Apakah cu-wi ingin mendengar apa yang pernah terjadi di kota Koan-sui ketika pengantin pria ini masih menjadi sahabat baikku senasib sependeritaan? Ha-ha-ha, cu-wi akan tertawa kegelian mendengar cerita-cerita saya yang amat lucu..."

"Orang she Tio! Apakah engkau bermaksud hendak mengacau hari baikku ini?" Tiba-tiba terdengar Hok Boan berteriak karena dia sudah marah sekali.

"Siapa dia yang mempunyai she Tio?" Suara ini nyaring merdu dan mengandung getaran sedemikian hebatnya sehingga mengatasi semua suara yang ada dan memaksa semua muka menoleh dan memandang ke arah pintu luar.

Sepasang pengantin itu sendiri merasa terheran-heran saat melihat bahwa tahu-tahu dari luar berjalan masuk seorang wanita yang amat luar biasa. Wanita ini tampak masih amat muda, agaknya paling banyak berusia dua puluh dua tahun, wajahnya memiliki kecantikan campuran antara wajah orang Han dan wajah orang Mongol. Kulitnya halus kuning seperti wanita Han.

Wajah yang cantik itu dirias dengan bedak dan yanci, juga bibirnya yang berbentuk indah itu dipermerah lagi dengan gincu. Rambutnya digelung dengan model seperti gelung puteri kerajaan dan agaknya rambutnya panjang sekali karena gelung itu malang melintang dan terhias hiasan rambut dari emas permata. Pakaiannya juga merupakan kombinasi pakaian Han dan Mongol, maka bila dilihat pantasnya dia adalah puteri bangsawan Mongol yang sudah ‘terpelajar’, yaitu sudah mempelajari kebudayaan Han.

Dari hiasan pakaian, tata rambut dan sikapnya yang angkuh, dengan dagu terangkat dan dada dibusungkan, dapat diduga bahwa dia tentu tergolong wanita keluarga bangsawan atau hartawan. Akan tetapi, sebatang pedang yang terikat di punggungnya mendatangkan rahasia keanehan meliputi dirinya. Lebih aneh lagi, wanita cantik ini membawa sebungkus hio (dupa bergagang) yang membuka bagian gagangnya.

Semua mata terus mengikuti gerakan wanita ini yang melangkah memasuki ruang pesta dengan sikap angkuh. Ketika dia menggerakkan tangan kiri yang memegang bungkusan hio itu, terdengar bunyi gelang-gelangnya berkerincing nyaring. Biar pun dia cantik manis dan memiliki bentuk tubuh yang padat menggiurkan, namun terdapat sesuatu yang amat dingin menyelubungi seluruh pribadinya, yang membuat orang-orang merasa seram dan berhati-hati.

Pada punggung wanita itu, selain sebatang pedang juga tergantung sebatang kayu papan yang bentuknya seperti salib dan sesudah tiba di tengah-tengah ruangan itu, mata yang berbentuk indah, lebar serta bersinar tajam itu memandang ke kanan kiri, lalu terdengar suaranya yang merdu dan nyaring seperti tadi.

"Siapa di antara kalian yang memiliki nama keturunan ini?" Tangan kanannya bergerak ke punggung melalui atas pundaknya dan tahu-tahu dia sudah memegang papan kayu yang berbentuk salib tadi lantas mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepalanya, membalikkan papan itu sehingga kini dapat terbaca tiga huruf besar yang tertulis di situ. Di atas papan yang melintang, terdapat tiga huruf yang berbunyi, CIA-YAP-TIO, tiga macam she (nama keluarga) Bangsa Han.

Semua orang membaca tiga huruf itu, akan tetapi tidak ada yang mengerti apa maksud wanita itu menanyakan tiga buah nama keturunan atau nama keluarga itu.

"Siapa tadi yang mengaku she Tio?" terdengar lagi dia bertanya, suaranya merdu sekali, akan tetapi juga nyaring melengking sehingga dapat terdengar oleh mereka yang duduk di bagian paling sudut dari ruangan pesta itu.

Tio Kok Le yang tadi sudah berada di puncak hendak menyeret turun pengantin laki-laki yang membuat dia iri hati itu, telah siap untuk mencemarkan nama Hok Boan di hadapan orang banyak, merasa amat mendongkol akibat kemunculan wanita ini yang dianggapnya mengganggu dan menggagalkan usahanya melampiaskan isi hatinya. Akan tetapi, ketika melihat wanita ini cantik dan berpakaian mewah, dia cepat-cepat melangkah maju dengan guci arak masih di tangan, menyeringai dan memandang wanita itu dengan mata haus.

"Sayalah she Tio bernama Kok Le, nona. Apakah saya akan menerima nasib baik seperti sahabatku Kui Hok Boan itu? Ha-ha, percayalah, mutu diriku tidak kalah oleh sahabatku itu!" Kok Le adalah manusia kasar, akan tetapi saat itu dia menjadi lebih kasar lagi karena pengaruh arak.

Akan tetapi suara ketawanya mendadak terhenti ketika secara tiba-tiba sinar mata wanita itu menyambar laksana kilat kepadanya. Dan wanita itu kembali berseru, "Siapa lagi yang she Cia, she Yap dan she Tio? Majulah yang merasa mempunyai she itu, jangan bersikap pengecut dan aku hendak bicara!"

Biar pun wanita itu memperlihatkan sikap luar biasa dan penuh rahasia, tapi nampaknya dia hanyalah seorang wanita muda yang cantik, maka tentu saja tidak menimbulkan rasa takut kepada orang-orang kang-ouw itu. Terdengar suara tertawa-tawa kemudian nampak beberapa orang laki-laki maju dan menghampiri wanita itu. Dua orang mengaku she Tio dan tiga orang pula mengaku she Yap. Tidak ada seorang pun she Cia.

"Hemm, hanya tiga orang she Tio dan tiga orang she Yap?" Wanita cantik itu bertanya dengan suara kecewa. "tidak seorang pun she Cia di sini?"

Tidak ada yang menjawab, dan agaknya memang tidak ada, atau kalau pun ada, tentu orang itu diam saja. Dan memang ada seorang she Cia dan beberapa orang lagi she Yap dan she Tio yang tidak mau melayani panggilan wanita itu. Enam orang laki-laki itu kini berdiri menghadapi si wanita, sikap mereka seperti anak-anak yang akan diberi hadiah, tersenyum-senyum agak malu-malu.

"He, nona manis. Engkau telah memanggil kami berenam di sini, sebenarnya kau hendak memberi apakah?" tanya salah seorang di antara mereka yang bernama keluarga Yap, orangnya tinggi besar dan kelihatan kuat sekali, di punggungnya terselip sebatang golok besar.

Selain Tio Kok Le dan orang she Yap tinggi besar ini, empat orang yang lain juga jelas memperlihatkan diri sebagai orang-orang kang-ouw yang mempunyai kepandaian. Malah salah seorang di antara mereka, she Tio yang bertubuh tinggi kurus, membawa sepasang senjata siang-kek (sepasang tombak cagak) dan orang yang mahir memainkan senjata ini tentu memiliki ilmu silat yang sudah tinggi.

Akan tetapi wanita itu mencibirkan bibirnya dan makin tampak nyata sebuah titik tahi lalat hitam yang menghias dagunya sebelah kiri, menambah manis wajahnya. Wanita ini tidak menjawab, melainkan mengambil enam batang hio dari dalam bungkusan hio, kemudian menyelipkan sisa bungkusan di ikat pinggangnya.

Dengan sikap tenang sekali dia lalu membuat api dan menyalakan enam batang hio itu. Gerak-geriknya dilakukan dengan sikap tenang dan dingin sehingga di dalam kesunyian yang mencekam itu semua orang mengikuti semua gerak-geriknya sambil di dalam hati masing-masing semua orang menduga-duga apa yang hendak dilakukan oleh wanita luar biasa ini.

Sementara itu, Kui Hok Boan sudah hendak bangkit dari tempat duduknya untuk menegur wanita yang aneh dan yang dianggapnya hendak mengacaukan pestanya itu, akan tetapi tiba-tiba tangannya disentuh oleh tangan kanan Si Kwi. Dia menoleh dan melihat isterinya memandang dengan dua mata terbelalak ke arah papan salib yang bertuliskan tiga buah nama keluarga itu, bibirnya berbisik,

"Jangan bergerak..."

Kui Hok Boan terheran-heran, akan tetapi melihat sikap isterinya dan juga melihat wajah isterinya yang tiba-tiba berubah pucat itu, ia merasa seram sehingga tidak jadi melakukan sesuatu, hanya menonton saja dengan berdebar dan dengan urat syaraf siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak wajar.

Kini wanita cantik itu telah selesai membakar enam batang hio. Enam orang she Tio dan she Yap itu sudah menjadi tidak sabar. Mereka berdiri bagaikan anak wayang, menjadi tontonan banyak orang akan tetapi didiamkan saja oleh wanita yang memanggil mereka, seolah-olah wanita itu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada mereka.

"Heiiiii! Engkau memanggil kami mau bicara apakah?" bentak orang she Yap yang tinggi besar itu, nadanya kehilangan kesabaran dan sudah mulai marah.

"Nona yang baik, kalau aku akan kau ajak kawin, sebelum sembahyang harus memakai pakaian pengantin dulu!" Tio Kok Le berkelakar dan terdengar suara tertawa di sana-sini karena kelakar ini setidaknya mengurangi ketegangan hati mereka yang penuh dengan dugaan-dugaan.

"Aku akan menyembahyangi roh yang baru saja meninggalkan badannya."

"Ehh, dalam pesta pernikahan ini kenapa menyebut-nyebut orang mati? Siapa yang akan mati dan siapa yang akan kau sembahyangi itu?" tanya Tio Kok Le dengan mulut masih menyeringai dan menganggap ucapan wanita itu sebagai kelakar belaka.

"Hari ini yang kusembahyangi adalah enam orang, yaitu tiga oreng she Tio dan tiga orang she Yap. Semua orang she Cia, Yap dan Tio harus mati!"

"Heiii...!" Tio Kok Le membentak marah,

Akan tetapi tiba-tiba tampak sinar-sinar api menyambar. Orang she Yap yang tinggi besar itu cepat mencabut golok, demikian pula empat orang lain sudah siap, akan tetapi mereka itu tidak mampu menghindar ketika ada sinar-sinar api meluncur dan menyambar ke arah mereka.

"Oughhh...!"

"Aduhhh...!"

"Iiiihkkk...!"

Jerit-jerit mengerikan terdengar susul-menyusul dan keenam orang itu roboh terpelanting, berkelojotan sebentar dan tidak bergerak lagi. Mereka itu tewas seketika dengan gagang-gagang hio menancap pada ulu hati mereka, menancap sampai dalam sekali, menembus jantung sehingga yang terlihat hanya sebagian hio yang masih terbakar dan mengepulkan asap. Senjata-senjata mereka terlempar ke sana-sini dan guci arak di tangan Tio Kok Le yang masih dipegangnya erat-erat itu tumpah hingga arak wangi berhamburan baunya.

Sesudah suara berisik jeritan mereka, diikuti jatuhnya senjata-senjata mereka lalu disusul robohnya tubuh mereka, disusul pula oleh teriakan dari para tamu, kini keadaan menjadi sunyi sekali. Sunyi yang menyeramkan dan semua wajah menjadi pucat, semua mata memandang kepada wanita itu dengan terbelalak dan kebanyakan dari para tamu merasa ngeri dan jeri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner