PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-09


Beng Sin mulai memainkan jurus itu. Dengan penuh kesungguhan dia mencoba untuk menirukan gerakan pamannya. Anak ini mempunyai gerakan yang mantap dan tenaganya besar, akan tetapi gerakannya terlalu lamban.

"Keluarkan bentakan dan atur napas!" kata Kui Hok Boan.

"Heiiiittt! Ahh...! Heiiittt! Ahh...!"

Anak gendut itu memukul dan menangkis sambil mengatur langkahnya, beberapa langkah maju ke depan sesudah memukul dan menangkis, membalik dengan merubah kuda-kuda dan sekaligus memukul lantas cepat menangkis, mulutnya terus mengeluarkan bentakan-bentakan.

Terlalu lamban, pikir Sin Liong dan ketika memukul, Beng Sin kurang memutar lengannya. Seharusnya lengan itu cepat diputar, dengan kepalan menelungkup ketika tiba di ujung pukulan sehingga pada waktu disambung gerakan menangkis, dapat dilakukan tangkisan dengan tangan miring di depan dada secara tepat. Kelihatan jelas olehnya kelemahan-kelemahan anak gendut itu. Tetapi tentu saja dia tidak berani mengeluarkan pendapatnya itu dan hanya menonton.

Kui Hok Boan masih belum puas juga dengan hasil yang diperlihatkan Beng Sin. Kadang-kadang dia menghentikan gerakan anak itu, lantas memberi petunjuk-petunjuk. Beng Sin mainkan jurus itu berulang-ulang tanpa mengenal lelah.

"Masih belum sempurna, kau harus banyak belajar," kata Kui Hok Boan dan sekarang tiba giliran Siong Bu.

Siong Bu juga memainkan jurus itu di bawah petunjuk pamannya. Gerakannya jauh lebih gesit dari pada gerakan Beng Sin, dia lincah dan kuat, namun tidak semantap gerakan si gendut. Kedudukan kedua tangan Siong Bu sudah banyak lebih baik dari pada Beng Sin, akan tetapi gerakan sepasang kakinya masih kurang berirama dan kurang sesuai dengan gerakan tangan sehingga dia pun mendapat teguran dan harus mengulang terus. Begitu pula Lan Lan dan Lin Lin diharuskan melatih jurus itu di bawah petunjuk-petunjuk ayah mereka.

Agak jengkel hati Kui Hok Boan melihat betapa empat orang anaknya itu tidak mudah menguasai jurus Heng-pai-hud, maka ketika dia melihat Sin Liong sejak tadi berdiri saja menonton, kejengkelan hatinya membuat dia menegur ketus, "Sin Liong, mau apa engkau berdiri di situ? Apakah tidak ada lagi pekerjaan yang lain?"

Sin Liong terkejut, lalu menunduk dan melangkah pergi untuk mengurus kuda yang harus diberi makan dan sapi yang harus dibawa keluar. Akan tetapi, jurus Heng-pai-hud itu tidak pernah terlupa olehnya dan ketika dia mengambil makanan kuda, tanpa disadari kedua kakinya melakukan gerak langkah jurus itu, dari ketika dia sudah menaruh makanan kuda di depan lima ekor kuda itu, tanpa disadarinya pula kedua tangannya melakukan gerakan memukul dan menangkis dalam jurus Heng-pai-hud!

Diam-diam di hatinya timbul rasa iri terhadap empat orang anak itu dan mulai saat itu dia mengambil keputusan untuk mengintai di waktu mereka berlatih dan menirukan gerakan-gerakan mereka. Dengan cara demikian, dalam waktu tiga bulan Sin Liong sudah dapat ‘mencuri’ empat macam jurus dan sudah mampu melakukan gerakan-gerakan itu dengan baiknya. Dia selalu melihat gerakan itu ketika dimainkan oleh ayah angkatnya, kemudian menirunya. Dia tidak mau meniru gerakan empat orang anak itu yang dianggapnya kaku dan tidak sama dengan gerakan ayah angkatnya.

Di dalam pergaulan sehari-hari, Sin Liong seperti sahabat-sahabat biasa dengan keempat orang anak itu. Terutama sekali Lan Lan dan Lin Lin. Kedua orang anak perempuan ini suka sekali kepada Sin Liong yang amat ringan tangan dan kaki, mau memenuhi segala permintaan mereka sungguh pun Sin Liong kurang pandai bergaul, tidak banyak bicara dan lebih suka menyendiri.

Beng Sin sering kali menggoda Sin Liong, akan tetapi diam-diam Sin Liong suka kepada anak gendut yang jujur dan suka melucu ini. Satu-satunya anak yang menimbulkan rasa tidak senang dalam hati Sin Liong hanyalah Siong Bu karena anak ini agak angkuh dan terhadap dirinya bersikap bagaikan seorang majikan. Bahkan kadang-kadang dia merasa sakit hati karena Siong Bu seringkali memakinya sebagai ‘anak monyet’!

Pada suatu hari, dengan amat tekun dan sungguh-sungguh Sin Liong berlatih ‘silat’, yaitu gerakan-gerakan dari empat jurus yang dikenalnya dan dikuasainya dari hasil mengintai itu. Dia tidak mengetahui bahwa Lan Lan, Lin Lin dan Beng Sin, mengintai dengan mata terbelalak heran dari balik semak-semak.

Ketika itu, Sin Liong sedang menggembala sapi di padang rumput tak jauh dari taman istana. Tiga orang anak ini bermain-main dan akhirnya tiba di tempat itu, melihat dari jauh betapa Sin Liong bergerak-gerak seperti orang bersilat maka dengan penuh keheranan mereka menghampiri dan bersembunyi, mengintai.

Pada waktu melihat Sin Liong bergerak dengan jurus Heng-pai-hud, Beng Sin tidak dapat menahan keheranannya dan dia meloncat keluar dari balik semak-semak sambil berseru, "Heii, itu adalah jurus Heng-pai-hud!"

Sin Liong kaget bukan main, cepat menghentikan gerakannya dan menengok. Wajahnya berubah merah ketika dia melihat Beng Sin dan dua orang anak perempuan itu berlari-lari menghampirinya.

"Heiii, Sin Liong, dari mana engkau dapat memainkan jurus-jurus itu?" Beng Sin berkata dengan mata terbelalak, "Apakah paman diam-diam mengajarmu?"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Ahh, aku hanya main-main, Tee-kongcu."

"Aha, kalau di sini tidak ada paman, jangan menyebut kongcu-kongcu-an segala. Namaku Beng Sin dan kau Sin Liong. Bukankah kita sahabat?"

"Terima kasih, Beng Sin. Akan tetapi lebih baik aku menyebutmu kongcu sesuai dengan perintah gihu."

"Sin Liong, aku melihat engkau tadi memainkan Heng-pai-hud. Dari mana engkau dapat melakukan gerakan itu?" Kui Lin bertanya.

"Lin-siocia, aku hanya menonton kalian berlatih dan meniru-niru saja..."

"Ahh, tapi gerakanmu tadi baik benar!" Kui Lan juga memuji.

"Benar!" kata Beng Sin. "Sebaliknya aku belum juga dapat melakukan gerakan jurus itu dengan baik."

"Gerakanmu sudah baik, hanya perlu lebih dipercepat, kongcu. Terlalu lamban sehingga gerakan kedua tanganmu kalah cepat oleh kedua kakimu. Juga di waktu kau memukulkan tanganmu ke depan, engkau kurang memutar lenganmu sehingga saat gerakan memukul itu disambung gerakan menangkis, kurang tepat."

Beng Sin membelalakkan matanya dan menjadi gembira. "Ah, begitukah? Biar kucoba!"

Dan anak ini segera bergerak melakukan jurus Heng-pai-hud dan mengubah gerakannya sesuai dengan petunjuk Sin Liong. Dia merasa betapa setelah dia mempercepat gerakan kedua lengannya, dia dapat mengikuti gerakan kaki secara baik, dan ketika dia memukul, dia memutar lengannya dan mendapat kenyataan bahwa perubahan gerak dari memukul menjadi menangkis dapat dia lakukan dengan baik!

"Horeeee...! Aku dapat melakukannya dengan baik!" Dia bersorak girang sekali dan dua orang anak perempuan itu pun ikut gembira, tertawa-tawa melihat si gendut itu bersorak dan menari-nari dengan pinggul megal-megol.

"Hei, apa-apaan kalian di situ?" tiba-tiba terdengar teguran Siong Bu yang datang berlari ke tempat itu.

"Ahh, Bu-ko, terjadi keajaiban di sini!" Beng Sin berkata sambil tertawa dan menudingkan telunjuknya pada Sin Liong. "Kau lihat, Sin Liong ternyata pandai mainkan Heng-pai-hud, dan dia telah memberi petunjuk sehingga sekarang gerakanku menjadi baik!"

"Betul, Bu-ko, dan Sin Liong dapat pula mainkan jurus-jurus lain dengan baiknya, padahal dia hanya melihat dan meniru-niru kita saja!" Lan Lan berkata.

Alis yang sudah kelihatan panjang tebal di atas sepasang mata Siong Bu berkerut pada saat dia memandang kepada Sin Liong, akan tetapi dia memandang rendah anak angkat bibinya ini dan menganggap seorang bujang yang derajatnya lebih rendah dari pada dia dan saudara-saudaranya.

"Sin Liong, bukankah paman sudah melarangmu untuk belajar silat?!" bentaknya.

Sin Liong menundukkan mukanya. "Memang aku tidak belajar, hanya melihat dan ingat gerakannya."

"Dia benar, Bu-ko. Dia hanya mengenal jurus yang pernah dilihatnya saja, akan tetapi gerakannya hebat. Dia bisa memainkan jurus Heng-pai-hud lebih baik dari pada engkau, Bu-koko!" Beng Sin berkata lagi dengan jujur, tidak tahu betapa kata-katanya itu membuat hati Siong Bu menjadi makin panas dan iri.

"Hemmm, golongan monyet mana bisa bermain silat?" dia mengejek.

"Ah, jangan begitu, Bu-ko. Menurut penuturan paman, bukankah banyak ilmu silat diambil dari gerakan-gerakan binatang, misalnya harimau, bangau, monyet dan lain-lain?" bantah Beng Sin. "Ingat jurus-jurus seperti Hek-wan Hian-ko (Lutung Hitam Memberi Buah), atau Sin-kauw Pai-bwe (Kera Sakti Menggerakkan Ekor) dan lain-lain."

"Hemmm, jurus-jurus itu ciptaan manusia. Mana ada anak monyet bisa bersilat?" kembali Siong Bu mengejek.

"Bu-koko, mengapa kau menghina Sin Liong? Dia tidak mempunyai kesalahan apa-apa," tiba-tiba Lin Lin mencela Siong Bu.

"Benar, kau sengaja hendak memakinya anak monyet. Kau terlalu, Bu-ko, dan kau sudah mengganggu kami yang sedang bergembira di sini!" Lan Lan juga membela Sin Liong.

Melihat dua orang anak perempuan itu membela Sin Liong, semakin panaslah rasa hati Siong Bu. Akan tetapi dia adalah seorang anak yang cerdik. Dia tidak mau mendesak lagi karena biar pun dia sudah dapat memperolok Sin Liong, dia tidak mau kalau untuk itu dia menimbulkan rasa tidak suka di hati Lan Lan dan Lin Lin.

"Aku sebenarnya tidak menghina, hanya tidak percaya. Akan tetapi kalau Sin Liong mau berlatih silat bersamaku, baru aku percaya," katanya sambil menghampiri Sin Liong.

Beng Sin berseru girang. "Bagus! Itu bugus sekali! Sin Liong, hayo layani Bu-ko berlatih. Dia baru akan percaya setelah melihat sendiri dan engkau pun akan mendapat kemajuan kalau mau berlatih dengan dia."

Sin Liong tentu saja tak mengerti apa yang dimaksudkan. Dia memang ingin sekali belajar silat, akan tetapi dia tidak berani belajar dari ayah angkatnya yang sudah melarangnya. Kini dia meragu dan memandang kepada Lan Lan dan Lin Lin.

Kedua orang anak perempuan itu pun mengangguk dengan gembira. Mereka suka sekali belajar silat, dan melihat gerakan Sin Liong tadi, mereka mengira bahwa tentu Sin Liong sudah pandai pula, maka tiada buruknya untuk berlatih bersama Siong Bu.

Sin Liong adalah seorang anak yang keras hati. Tadinya dia ingin meninggalkan mereka pergi, akan tetapi melihat Siong Bu berlagak menantang, hatinya pun menjadi panas. Dia menatap wajah Siong Bu dan berkata, "Kwan-kongcu, kau mau mengajarku?"

Siong Bu menyeringai. "Kata mereka engkau pandai. Kalau engkau lebih pandai, berarti engkaulah yang mengajariku. Mungkin engkau mempunyai jurus-jurus monyet lain yang belum kukenal." Ucapan ini tentu saja bermaksud mengejek.

Beng Sin mengerti juga akan ejekan itu. Hati anak gendut ini berpihak kepada Sin Liong karena tidak jarang dia juga menjadi sasaran kenakalan dan ejekan-ejekan Siong Bu yang lebih tua beberapa bulan dari dia dan merasa lebih menang.

"Sin Liong, apakah kau takut? Aku tahu engkau kuat sekali, dan... hemmm, siapa tahu engkau benar-benar menyimpan jurus-jurus monyet sakti. Hayo, kau layani Bu-ko!" Dia mendesak.

"Benar, kau hadapi dia, Sin Liong!" kata Lan Lan.

"Aku ingin sekali melihatnya!" sambung Lin Lin.

Sin Liong merasa tersudut, apa lagi sekarang Siong Bu telah menghampirinya dekat, lalu mempergunakan jari telunjuk mendorong dada Sin Liong, dengan lagak angkuh berkata, "Kalau takut, kau berlutut saja minta ampun tiga kali!"

Marahlah Sin Liong. "Kwan-kongcu, terhadap setan pun aku tidak takut, apa lagi terhadap engkau!"

"Heh-heh-heh, dia memakimu setan, Bu-ko!" kata Beng Sin tertawa keras. "Dia memaki engkau setan!" Anak nakal ini sengaja mempergunakan kesempatan ini untuk memaki kepada Siong Bu yang sering memakinya tanpa dia berani membalas.

Merahlah wajah Siong Bu. "Anak monyet! Berani kau?" Dan tangannya lalu memukul ke arah muka Sin Liong. Sin Liong terkejut, dan dengan gerakan otomatis dia memalingkan mukanya.

"Plakkk!" Bukan hidungnya yang kena dijotos, melainkan pipinya. Sin Liong terhuyung ke belakang.

"Ehh, kenapa kau memukulku?" tanyanya, matanya terbelalak heran.

"Itu namanya latihan silat, tolol! Habis apa lagi artinya silat jika bukan saling pukul? Nah, kau jaga ini!" Kembali Siong Bu menyerangnya dengan sebuah pukulan yang ditujukan ke arah dada Sin Liong.

Kini Sin Liong sudah siap. Kalau tadi mukanya terkena pukulan adalah karena dia tidak menyangka bahwa ‘latihan’ itu berarti saling pukul! Kini dia pun lalu teringat akan gerakan Heng-pai-hud, yaitu dengan tangan miring melakukan tangkisan, karena itu dia pun cepat memasang kuda-kuda seperti yang sering dilatihnya, melangkah mundur sambil miringkan tangan ke depan dada, menangkis pukulan itu.

"Dessss…!"

Karena cara Sin Liong memasang kuda-kuda tidak tepat, walau pun gerakannya benar namun dia tidak tahu untuk apa kuda-kuda itu, maka penanaman tenaga di kakinya tidak benar dan dia terhuyung oleh pertemuan lengannya dengan lengan lawan, dan sebelum dia tahu harus berbuat apa, tiba-tiba kaki lawan sudah membabatnya dari samping, tepat mengenai belakang lututnya.

"Bresss...!" Tubuh Sin Liong terpelanting roboh.

"Hei, kenapa begitu mudah roboh?" Lan Lan berseru heran.

"Hayo, Sin Liong, kau jangan mengalah. Serampangan kaki itu mestinya bisa dihindarkan dengan loncatan, dan kau boleh balas memukul!" Beng Sin berseru.

Sin Liong bangkit berdiri dan pada saat itu pula Siong Bu sudah menerjang lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Sin Liong masih mencoba untuk bergerak dengan jurus-jurus yang pernah dilihat dan dilatihnya, akan tetapi tentu saja gerakan-gerakan itu biar pun sangat baik akan tetapi tidak tepat, dipergunakan bukan pada saatnya, oleh karena itu mulailah dia menjadi bulan-bulanan pukulan tangan serta tendangan kaki Siong Bu. Sudah empat kali mukanya menerima pukulan keras sehingga kedua pipinya menjadi biru dan mata kanannya membengkak!

"Bu-koko, jangan memukul sungguh-sungguh!" Lin Lin berseru marah.

"Sin Liong, kenapa kau tidak membalas? Kau boleh membalas! Latihan ini umpamakanlah kau sedang berkelahi! Kalau kau diserang harimau, masa diam saja?" Beng Sin berteriak-teriak gemas melihat Sin Liong dijadikan bulan-bulanan.

Mendengar ucapan ‘diserang harimau’, seketika bangkitlah kemarahan di hati Sin Liong. Seperti terbayang olehnya pengalamannya pada waktu kecil ketika dia hampir mati oleh harimau dan diselamatkan oleh teman-temannya, yaitu para monyet. Kini dia tidak peduli akan latihan ilmu silat, tidak peduli akan jurus-jurus ilmu silat, akan tetapi menggunakan naluri dan tanggapan syarafnya terhadap ancaman dari luar.

Dengan cekatan dia lalu meloncat ke sana-sini, seperti seekor monyet, dan dia pun dapat menghindarkan semua pukulan lawan. Pada waktu tangan kiri Siong Bu meluncur lewat, dengan cepat sekali dia menangkap tangan itu, memilinnya ke belakang sampai Siong Bu berteriak kesakitan, dan hampir saja dia lupa.

Hampir saja tadi Sin Liong menggigit leher lawannya! Akan tetapi dia masih teringat dan segera menggunakan kedua tangannya, mencengkeram pakaian lawan dan mengangkat tubuh Siong Bu ke atas dengan kedua tangan kemudian melemparkannya ke depan.

"Brukkk...!" Debu mengepul ketika tubuh Siong Bu terbanting.

"Hebat...! Kau hebat, Sin Liong...!" Beng Sin memuji dan bersorak, akan tetapi tiba-tiba Siong Bu yang sudah bangkit itu menerjang lagi dan sebuah tendangan mengenai perut Sin Liong, membuatnya terhuyung.

"Ehh, kau curang, Bu-ko. Engkau sudah roboh dan latihan ini sudah berakhir," kata Beng Sin.

Akan tetapi Siong Bu tidak peduli dan dia menerjang terus, menghujankan pukulan serta tendangan. Akan tetapi, Sin Liong yang tidak bisa silat itu memiliki tubuh yang jauh lebih kuat, mempunyai daya tahan yang kuat, kegesitan sewajarnya yang didapatkan karena pergaulannya dengan monyet-monyet. Dia dapat mengelak ke kanan kiri, dan satu dua kali pukulan yang mengenai tubuhnya tidak dirasakannya.

Betapa pun juga, mukanya sudah terasa panas dan nyeri karena pukulan-pukulan yang tadi, dan kemarahannya memuncak ketika Siong Bu sambil menyerang memaki-makinya. "Anak monyet bocah hina!"

Dia mengeluarkan suara menggereng seperti binatang dan tiba-tiba dia maju menubruk.

"Bukkk!"

Pukulan yang mengenai lehernya tidak dirasakannya dan kini sepasang tangannya sudah mencengkeram pundak Siong Bu. Meski pun anak ini sudah mempelajari ilmu silat, akan tetapi kepandaiannya masih belum matang, maka ketika merasa pundaknya dicengkeram dan sakit, dia pun Ialu mencengkeram dan terjadilah pergulatan yang tidak memakai jurus ilmu silat lagi! Mereka saling jambak, saling cengkeram dan saling cekik!

Tadinya Sin Liong tak ingin berkelahi sungguh-sungguh. Akan tetapi, dia merasa sangat nyeri ketika rambutnya dijambak, maka dia segera membuka mulut dan menggigit daun telinga Siong Bu! Begitu keras gigitannya sehingga ujung daun telinga Siong Bu robek dan anak ini berteriak-teriak kesakitan!

"Heii, berhenti kalian!" terdengar bentakan keras dan tiba-tiba dua buah tangan yang amat kuat sudah menarik tubuh Siong Bu dan Sin Liong ke kanan kiri dan mendorong mereka terpisah.

Siong Bu cepat berlutut di depan pamannya, terisak menangis sambil memegangi telinga kanannya yang berdarah. Sedangkan Sin Liong berdiri dengan kepala tunduk, mukanya bengkak-bengkak dan biru-biru, akan tetapi sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa dia menderita kesakitan atau menangis!

Kui Hok Boan berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak marah. Tangannya sudah meraih sebatang ranting kayu dan dia menoleh kepada Siong Bu. "Kenapa telingamu?"

"Di... digigit... oleh monyet cilik itu... aduhhhh...!" Siong Bu mengeluh ketika pamannya memeriksa telinga itu. Ternyata hanya ujungnya yang robek bekas gigitan.

"Bocah liar! Berani kau berkelahi dengan kongcu dan menggigit telinganya? Kalau tidak dihajar, engkau tentu akan menjadi monyet liar!" Kui Hok Boan segera menghampiri Sin Liong yang masih berdiri. "Hayo berlutut kau!"

Sin Liong berlutut dan sasterawan yang marah itu kemudian mengayun ranting itu yang segera meledak-ledak dan melecuti tubuh anak itu. Kulit leher dan punggung Sin Liong pecah-pecah dan darah mulai mengalir keluar pada saat ranting itu menyambar-nyambar ganas. Akan tetapi, anak itu hanya menunduk dan memejamkan matanya, menahan rasa nyeri dan sedikit pun tak mengeluarkan suara mengeluh. Juga tak nampak dia menangis.

"Prat-prat-prat-prat!"

Ranting itu terus menari-nari dan sesudah melihat baju itu berdarah, barulah Hok Boan menghentikan sabetannya. Dia terengah-engah dan kemarahannya semakin memuncak melihat anak itu sama sekali tidak mengeluh atau menangis. Hal ini diterimanya sebagai tantangan!

"Kau bandel, ya? Kau berkulit tebal, ya? Ingin kuhajar sampai mampus?" teriak Hok Boan yang semakin marah mengingat bahwa daun telinga puteranya digigit sampai pecah dan melihat Sin Liong sama sekali tidak menangis atau mengeluh.

"Ayah... harap ampunkan Sin Liong, ayah...!" Mendadak terdengar suara Lin Lin meratap dan terdengar isak terkandung dalam suara itu. Anak ini tidak tega dan merasa kasihan melihat keadaan Sin Liong.

Hok Boan tidak jadi mencambuki lagi, lantas menoleh kepada Beng Sin. "Beng Sin, hayo katakan apa yang terjadi!" bentaknya.

Beng Sin berlutut dengan tubuh agak menggigil. "Mereka... mereka berkelahi... dan..." Dia melirik ke arah Siong Bu, melihat pandang mata kakaknya itu sehingga dia tidak berani untuk berterus terang. "Dan... paman lalu datang." Dia menutup mulut dan menunduk.

"Sin Liong, engkau tidak tahu diri! Berani engkau berkelahi dengan seorang dari mereka? Apakah kerjamu di sini hanya untuk menentang dan berkelahi? Hayo jawab!" bentak Hok Boan. Akan tetapi Sin Liong tetap menunduk, tidak mau menjawab.

"Kau sungguh bandel! Apa ingin dihajar lagi?"

"Ayah, Sin Liong tidak bersalah!" tiba-tiba Lan Lan berkata dengan suara lantang.

Hok Boan memandang puterinya itu, dan Lan Lan melanjutkan kata-katanya. "Mula-mula kami bertiga di sini melihat Sin Liong berlatih silat seorang diri, dia pandai mainkan jurus Heng-pai-hud..."

"Ehhh...?!" Hok Boan terkejut bukan main.

"Dia menonton ketika kami berlatih, ayah, lalu dia meniru-niru gerakan kami. Akan tetapi gerakannya baik sekali dan selagi kami bergembira, datang Bu-koko yang menantang Sin Liong."

"Dan Bu-koko memaki Sin Liong monyet," sambung Lin Lin.

"Bu-koko menantang untuk berlatih silat, mereka berkelahi sungguh-sungguh," sambung pula Lan Lan. "Akan tetapi Sin Liong terus didesak, maka dia melawan, apa bila Bu-koko tidak mendesak dan memaksa, tentu dia tidak akan balas memukul dan menggigit."

Kui Hok Boan mengerutkan alisnya. Soal perkelahian antara anak kecil tidak begitu aneh baginya, akan tetapi mendengar Sin Liong pandai memainkan jurus Heng-pai-hud, hal ini benar-benar mengejutkan hatinya. Dan kenyataan yang lebih mengejutkan hatinya adalah bahwa Siong Bu yang sudah dilatihnya selama lima tahun itu ternyata kini tidak mampu mengalahkan Sin Liong biar pun muka Sin Liong matang biru dan kalau dia tidak datang, bukan tidak mungkin Siong Bu akan kalah!

"Sin Liong, benarkah engkau sudah menonton jurus-jurus itu dan menirunya?" bentaknya kepada Sin Liong.

"Benar, gi-hu."

"Mulai sekarang, engkau tidak boleh lagi menonton dan meniru-niru. Mengerti?!"

"Baik, gi-hu."

"Mulai malam nanti, engkau harus menulis kalimat 'Saya tidak boleh melawan terhadap Kwan-kongcu dan Tee-kongcu' sampai seribu kali di atas kertas!"

"Ayah, Sin Liong tidak bersalah!" Lan Lan dan Lin Lin berkata hampir berbareng.

"Diam kalian! Hayo semua pulang! Dan kau jaga sapi-sapi itu baik-baik!" kata Hok Boan dengan bengis.

Empat orang anak itu bangkit dan mengikuti Kui Hok Boan meninggalkan Sin Liong yang masih berlutut di situ. Setelah semua orang pergi, barulah Sin Liong menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap darah dan keringat dari lehernya, kemudian cepat-cepat menghapus dua titik air mata dengan kepalan tangannya.

Malam itu, pada saat semua orang belum tidur, dengan tekun Sin Liong mulai menuliskan kalimat hukuman itu di atas kertas. Akan tetapi setelah semua orang tidur, dia lalu pergi menemui monyet-monyet, jauh tinggi di atas pohon dan monyet betina tua itu menjilati luka-luka bekas cambukan di leher, lengan dan punggungnya. Akhirnya Sin Liong tertidur di atas pohon, tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah kembali ke dalam kamarnya…..

********************

Semenjak terjadi peristiwa itu, sikap Siong Bu semakin angkuh dan menghina Sin Liong. Siong Bu masih merasa penasaran dan sakit hati karena daun telinganya digigit. Biar pun kini lukanya telah sembuh, tetapi ujung telinganya masih berbekas, dan ini mengingatkan dia betapa dia hampir kalah oleh ‘anak monyet’ itu! Kekalahan ini lebih menyakitkan dari pada luka di daun telinganya.

Akan tetapi kini Sin Liong tidak pernah mau melayaninya biar pun dia sudah sering kali menghinanya dan memancing suatu perkelahian lagi. Oleh karena sikap Sin Liong yang mengalah ini, maka hal itu menimbulkan perasaan tidak senang di hati Beng Sin yang menganggap bahwa Sin Liong pengecut dan penakut.

Juga Lan Lan dan Lin Lin merasa tidak senang. Rasa kagumnya terhadap Sin Liong yang berani melawan Siong Bu bahkan hampir saja menang, segera lenyap sebab mereka pun menganggap bahwa Sin Liong penakut. Padahal, bukan demikianlah sesungguhnya. Ada sebabnya mengapa Sin Liong tidak lagi mau melayani penghinaan Siong Bu yang merasa sakit hati kepadanya itu. Bukan karena takut dihajar lagi oleh ayah angkatnya.

Pada keesokan harinya sesudah perkelahian itu, Sin Liong dipanggil oleh Si Kwi. Dalam pertemuan empat mata ini, Si Kwi menerimanya dengan alis berkerut dan memandang wajahnya dengan penuh perhatian.

"Sin Liong, aku mendengar bahwa engkau berkelahi dengan Siong Bu?" tanya nyonya ini dengan suara halus. Semalam dia diceritakan oleh suaminya betapa Sin Liong mencuri belajar silat dan berani berkelahi melawan Siong Bu, lantas dalam keliarannya menggigit telinga Siong Bu hampir putus!

Sin Liong menunduk dan mengangguk. Satu-satunya orang yang dipandang dan dihormati serta dicintanya di dalam rumah itu hanyalah ibu angkatnya ini. Dia tidak ingin membuat ibu angkatnya ikut berduka atau marah kepadanya.

"Dan engkau telah mencuri dan mempelajari ilmu silat mereka?"

"Ibu... saya... saya hanya menonton dan meniru-niru saja."

"Hemm, yang sudah lalu biarlah. Akan tetapi mulai sekarang jangan kau ikut mempelajari ilmu silat mereka, dan terutama sekali jangan engkau berkelahi dengan siapa pun."

Sin Liong menundukkan mukanya, wajahnya kelihatan berduka sekali, akan tetapi dia tak menjawab. Melihat wajah itu, teringatlah Si Kwi kepada Cia Bun Houw maka dia menarik napas panjang.

Dia sendiri merasa heran kenapa anaknya ini, yang semenjak kecil tidak pernah belajar ilmu silat, dapat bersilat hanya dengan menonton saja. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dapat melawan dan menandingi Siong Bu yang sudah memiliki kepandaian lumayan dan paling kuat di antara empat orang anak yang dipimpin suaminya!

"Sin Liong, mengapa kau ingin sekali belajar silat?" Tiba-tiba dia bertanya, pertanyaan yang digerakkan karena teringat akan Cia Bun Bouw.

Tiba-tiba anak itu mengangkat mukanya dan Si Kwi merasa jantungnya tergetar ketika melihat sepasang mata yang mencorong dan tajam sekali itu!

"Ibu, katakan... siapa yang membuntungi tangan kiri ibu?"

Wajah Si Kwi seketika menjadi pucat dan matanya terbelalak. "Ahhhh...!"

"Saya ingin membalasnya, saya ingin memotong dan membuntungi kedua tangannya! Siapa dia, ibu?"

"Ohhh... Liong-ji...!" Si Kwi merintih dan tak dapat menahan air matanya. Dia cepat-cepat menggunakan sapu tangan untuk menyusuti air mata yang mengalir turun di atas kedua pipinya itu.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlutut di depan kaki ibu angkatnya. "Ibu, ampunkan saya... sakit sekali hati saya melihat ada orang berbuat demikian keji terhadap ibu. Saya ingin belajar silat karena ingin membalasnya!"

Si Kwi menggunakan tangan kanannya mengelus-elus rambut kepala anak itu. Sejenak tangannya membelai rambut itu dan jantungnya seperti diremas-remas. Anak ini adalah anaknya! Tidak salah lagi! Anak Cia Bun Houw!

"Jangan salah mengerti, anak yang baik. Tangan kiriku ini bukan dibuntungi oleh musuh, melainkan oleh mendiang guruku sendiri."

"Ahhh...!" Sin Liong memandang wajah ibu angkatnya dengan mata terbelalak. "Betapa kejamnya! Mengapa ibu?"

"Itulah kalau orang belajar ilmu silat, anakku. Guru-guru yang mengajar ilmu silat memang biasanya keras. lbumu ini sudah melakukan kesalahan maka hukumannya adalah potong tangan kiri! Oleh karena itu, janganlah kau belajar ilmu silat, tidak ada gunanya, anakku. Ayah angkatmu masih lunak ketika menghajarmu dengan cambukan. Maka, kalau engkau suka mendengarkan kata-kata ibumu, mulai sekarang, jangan engkau layani siapa pun untuk berkelahi. Belajarlah dengan tekun, anakku, supaya kelak engkau menjadi seorang manusia yang baik dan berguna."

Sin Liong kecewa sekali, akan tetapi dia amat mencinta ibunya ini yang sejak dia kecil amat baik kepadanya, maka dia pun mengangguk, lalu bangkit dan meninggalkan kamar ibunya. Ketika sampai di pintu, dia menengok. "Ibu, apakah sampai sekarang ibu belum juga mendengar siapa adanya ayah dan ibuku yang sesungguhnya?"

"Ahhh...!" Si Kwi merasa ditampar lalu dicekik lehernya. Dia hanya memandang dengan wajah pucat. Entah sudah berapa kali anak ini menanyakan hal itu, dan selalu dijawabnya bahwa dia tidak tahu, bahwa dia akan berusaha untuk menyelidikinya. Dan sekarang anak itu kembali menanyakan masalah itu. Dia tidak mampu menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Sin Liong menunduk, memutar tubuh dan melangkah pergi.

"Liong-ji...!"

Sin Liong berhenti dan ibunya sudah berada dekatnya. Dengan sentuhan mesra Si Kwi membuka baju anaknya, melihat jalur-jalur merah di punggungnya. Dia lalu berkata, "Mari kuobati luka-lukamu akibat cambukan itu dan... heiiii, sudah kering semua..."

"Tidak perlu, ibu. Semalam luka-luka itu sudah dijilati oleh monyet betina tua dan sudah sembuh." Sesudah berkata demikian, Sin Liong melangkah pergi, menghilang di dalam gelap.

Nah, itulah sebabnya mengapa Sin Liong tidak pernah mau melayani godaan dan ejekan Siong Bu. Dia selalu teringat akan pesan ibu angkatnya dan dia tidak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya. Maka ditelannya semua hinaan dan godaan, dan dia sama sekali tidak pernah mau melayani.

Akan tetapi, sebenarnya Sin Liong menderita batin yang sukar dapat dipertahankannya. Pada dasarnya dia memiliki watak keras dan tidak takut terhadap siapa pun juga, maka ejekan, hinaan dan tantangan Siong Bu yang dilontarkan kepadanya dan tidak dijawabnya karena dia teringat akan ibu angkatnya, membuat hatinya sakit sekali.

Akhirnya dia tidak mampu menahan kemarahannya lagi, apa pula ketika melihat betapa Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin mulai tidak suka kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang anak yang pengecut dan penakut. Dia tahu bahwa tiga orang ini tadinya berfihak kepadanya dan tidak suka melihat dia dihina dan ditantang, mereka menghendaki supaya dia melawan. Akan tetapi, bukannya dia takut terhadap Siong Bu, bukan pula takut akan hukuman dari ayah angkatnya, melainkan dia tak ingin menyusahkan hati ibu angkatnya, tidak ingin melanggar pesan ibu angkatnya.

Akan tetapi kekerasan hatinya membuat dia makin tidak kuat bertahan, apa lagi sesudah dia merasa kesepian karena anak-anak yang lain mulai menjauhkan diri darinya. Karena itu, pada suatu malam diam-diam dia meninggalkan kamarnya, pergi menemui kawan-kawannya, yaitu para monyet besar dan bersama mereka dia memasuki hutan lebat dan tidak mau kembali lagi ke Istana Lembah Naga!

Pada keesokan harinya, semua orang di Istana Lembah Naga kehilangan. Si Kwi menjadi bingung sekali.

"Biarlah," kata suaminya. "Aku sudah tahu bahwa dia terlampau banyak terpengaruh oleh monyet-monyet itu sehingga dia tak betah lagi tinggal bercampur dengan manusia biasa. Kita sudah terlalu baik kepadanya, dan kalau kita lebih baik lagi, aku khawatir dia akan menjadi manja dan rusak. Ingat akan sifat-sifatnya yang liar."

Akan tetapi tentu saja Kui Hok Boan tidak tahu bahwa hati seorang ibu kandung mana mungkin bisa menegakan anaknya begitu saja? Si Kwi juga masih tidak berani membuka rahasianya.

Kalau dia mau, tentu saja dia dapat mengerahkan tenaga para anak buah suaminya yang banyak jumlahnya. Akan tetapi dia tahu akan kekerasan hati dan keanehan watak Sin Liong. Kalau hanya mengandalkan para anak buah itu untuk mencari dan membujuknya, sudah pasti anak itu tidak akan sudi pulang! Maka dia lalu diam-diam mencari sendiri dan dia tahu ke mana dia harus mencari.

Si Kwi membawa seperangkat pakaian dan memasuki hutan. Tepat sekali dugaannya, lewat tengah hari dia tiba di tengah hutan dan dengan hati hancur dia melihat anaknya itu sedang berloncatan dari dahan ke dahan di atas pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi bersama beberapa ekor monyet besar.

Yang mengharukan hatinya adalah melihat anak laki-laki itu sama sekali telanjang bulat! Agaknya Sin Liong sudah membuang semua pakaiannya dan bertelanjang seperti teman-temannya. Dan dari tempat dia mengintai, Si Kwi melihat betapa wajah anak itu tampak berseri-seri, penuh keberuntungan dan kegembiraan, terbebas dari kungkungan manusia berikut segala peraturannya, iri hatinya, kebenciannya dan permusuhannya!

Melihat wajah yang tampan dan gembira itu, hampir saja Si Kwi pergi lagi. Tidak tega dia mengganggu kebahagiaan anak itu! Akan tetapi dia kemudian teringat bahwa anaknya itu adalah seorang manusia. Dia akan merasa sangat berdosa, berdosa terhadap Sin Liong, terhadap dirinya sendiri dan terhadap Cia Bun Houw jika dia membiarkan saja anaknya menjadi monyet!

"Liong-ji...!" Dia meratap, memanggil dan air matanya bercucuran.

"Grrrr... grrrr...!" Monyet-monyet itu menggereng dan Sin Liong juga mengeluarkan suara gerengan seperti monyet. Akan tetapi ketika dia melihat ibu angkatnya di bawah pohon, dia terkejut sekali. Cepat dia meloncat ke dahan lain dan hendak melarikan diri.

"Sin Liong... kau... kau... tidak kasihankah kepada ibumu...? Sin Liong, anakku...!"

Mendengar seruan dan ratapan yang dikeluarkan dengan isak tangis ini, Sin Liong segera berhenti, termenung, kemudian dia berloncatan turun.

"Ibu...!" Dia meloncat ke atas tanah lalu berlutut di depan kaki ibunya.

Sudah dua hari dua malam dia tinggal bersama monyet-monyet itu, dan sekarang ibunya menyusulnya. Kalau saja ibunya tidak menangis dan keadaannya demikian menyedihkan, tentu dia tadi sudah melarikan diri.

"Liong-ji... mengapa kau meninggalkan ibumu? Apakah kau tidak suka lagi kepada ibumu, anakku?"

"Ibu..." Sin Liong merasa lehernya seperti dicekik.

Dua hari dua malam tidak bicara, hanya mengeluarkan suara seperti monyet-monyet itu, membuat lidahnya kaku dan sukar baginya untuk bicara. Akan tetapi akhirnya dapat juga dia berkata,

"Aku tidak meninggalkan ibu, tapi aku meninggalkan mereka itu!" Suaranya mengandung kemarahan.

"Akan tetapi, meninggalkan mereka berarti engkau meninggalkan ibu, anakku. Marilah kita kembali, kau tidak boleh meninggalkan aku."

Sin Liong mengangkat mukanya, matanya mengeluarkan sinar berapi lalu dia menggeleng kepalanya. "Tidak, ibu! Aku tidak mau kembali ke sana untuk menerima hinaan mereka!"

Si Kwi merangkul dan memeluk anaknya, mengelus kepala anaknya. "Salahku, Liong-ji, salahku. Sekarang aku berjanji bahwa tidak akan ada orang yang berani mengganggumu lagi. Aku akan melarang mereka! Ya, aku akan melindungi anakku!"

"Akan tetapi... mereka pandai silat dan aku tidak boleh..."

"Aku akan melatihmu, Liong-ji. Aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

"Benarkah?" Sin Liong girang sekali. "Menurut Lan-siocia dan Lin-siocia..."

"Mulai sekarang kau boleh menyebut mereka moi-moi, jangan menyebut siocia!"

"Ahhh...! Menurut mereka, kepandaian ibu tidak kalah oleh gi-hu..."

"Asal engkau rajin belajar, engkau tentu akan pandai, anakku, karena engkau mempunyai bakat dan tenaga yang kuat."

"Akan tetapi, apa artinya belajar silat kalau aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku?"

Si Kwi menarik napas panjang dan membantu anaknya memakai pakaian yang dibawanya dari rumah tadi. "Pakailah ini dan marilah kita pulang, nanti akan kuceritakan kepadamu siapa adanya ayahmu..."

Janji dan bujukan ini berhasil. Wajah Sin Liong berseri, matanya terbelalak lebar penuh harapan. Dia tak membantah lagi, cepat mengenakan pakaian itu kemudian dia mengikuti ibunya pulang.

Mereka tiba di rumah di waktu senja. Karena tidak ingin melihat Sin Liong merasa malu dan sungkan bertemu dengan anggota keluarga lain, maka dia langsung mengajak Sin Liong memasuki kamar anaknya itu di dekat kandang kuda. Sin Liong lalu menyalakan lampu minyak sederhana yang berada di atas meja kasar di dalam kamarnya.

Semua gerak-geriknya terus diikuti oleh pandang mata Si Kwi dengan penuh keharuan. Insyaflah wanita ini bahwa dia memang telah membiarkan anak kandungnya ini terlantar! Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya ketika dia duduk di atas bangku dan melihat keadaan di kamar itu. Dia telah memperlakukan anaknya sendiri seperti seorang bujang saja! Hal itu dia terpaksa lakukan agar suaminya dan semua orang tidak akan ada yang menyangka bahwa Sin Liong adalah anak kandungnya.

Sin Liong menoleh. Melihat ibunya menangis, dia lalu menubruk, menjatuhkan diri berlutut di hadapan ibunya dan berkata, "Ibu... aku hanya tahu bahwa ibu merawatku sejak kecil, bahwa aku adalah anak angkat dari ibu... bahwa katanya ibu menemukan aku di antara monyet-monyet itu. Akan tetapi aku tahu, aku juga melihat perbedaan antara aku dengan mereka, aku tahu bahwa aku bukanlah anak monyet, melainkan anak manusia seperti juga kedua kongcu dan kedua siauw-moi. Hanya ibu yang tahu siapa ayah bundaku yang sesungguhnya..."

"Liong-ji..." Si Kwi memejamkan matanya, membelai kepala anaknya yang rebah di atas pangkuannya itu.

Biar pun anak itu lenyap semenjak dilahirkan, biar pun dia tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anak ini adalah anak yang dilahirkannya di dalam goa itu, namun dia yakin. Inilah anaknya itu! Wajah anak ini mengingatkan dia kepada Cia Bun Houw, terutama matanya.

"Angkatlah mukamu anakku, lapangkan dadamu. Engkau bukan anak orang sembarangan saja, Sin Liong. Ayahmu adalah seorang pendekar sakti yang sukar dicari bandingannya di dunia ini."

Sin Liong mengangkat mukanya, memandang kepada wajah wanita yang selama ini dia anggap sebagai ibunya itu, "Ayah saya... siapa namanya, ibu?"

"Namanya adalah... Cia Bun Houw..."

"She Cia?" Sin Liong yang merasa tegang hatinya itu tidak memperhatikan suara ibunya yang tergetar penuh keharuan ketika menyebut nama itu.

Ibunya mengangguk. "Engkau pun sesungguhnya she Cia..."

"Dan ibuku...?"

"Ibumu... ibumu... dia sudah meninggal dunia, anakku."

"Ahhh...!" Sin Liong tertegun, mukanya berubah agak pucat, akan tetapi dia tak menangis lagi.

Tadi pun dia hanya menitikkan beberapa butir air mata yang cepat diusapnya. Sesudah mendengar bahwa ayahnya adalah seorang pendekar sakti yang tiada keduanya atau tak ada bandingannya di dunia ini, dia merasa malu untuk menangis!

"Ya, dia sudah meninggal dunia, dia adalah murid seorang wanita sakti yang berjuluk Hek I Siankouw dan yang sudah meninggal pula..."

"Namanya, ibu? Siapa namanya?"

"Aku tidak tahu. Kelak engkau akan mengetahuinya dari ayahmu... kalau... kalau engkau ada jodoh bertemu dengan dia..."

"Di mana ayah kandungku itu tinggal, ibu?"

Si Kwi menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri tidak tahu, anakku. Dia adalah putera dari ketua Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san. Hanya itu saja yang kuketahui. Sudahlah, jangan kau bertanya-tanya lagi... mulai sekarang, kau belajarlah ilmu silat yang tekun dan kelak... siapa tahu, engkau akan dapat mencari ayahmu itu."

"Baik, ibu!" Sin Liong berkata penuh semangat. Dia kemudian bangkit berdiri, memandang kepada Si Kwi dengan sepasang matanya yang lebar. "Mulai sekarang, selain menjadi ibu angkatku, engkau juga menjadi guruku!" Dan anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan memberi penghormatan dengan jalan menyentuhkan dahinya ke atas lantai di depan kali ibunya.

"Sin Liong..." Si Kwi merangkulnya penuh keharuan.

Ibu dan anak ini tidak tahu bahwa di dalam keremangan senja, ada orang di luar jendela yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan percakapan mereka. Orang itu adalah Kwan Siong Bu yang memang sejak tadi sudah berada di dekat pondok itu sehingga dia tahu akan kedatangan ibu dan anak itu dan dengan mudah dia dapat mengintai tanpa diketahui oleh Si Kwi yang pandai. Kalau anak itu banyak bergerak, atau kalau Si Kwi tidak sedang dilanda keharuan, tentu wanita yang lihai ini akan segera tahu bahwa ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka di luar jendela pondok itu.

Demikianlah, mulai saat itu, Sin Liong belajar silat di bawah asuhan ibunya sendiri. Dan Si Kwi menegur kedua orang ‘keponakan’ dari suaminya itu agar jangan lagi mengejek dan menghina Sin Liong.

Melihat pembelaan dan perlindungan yang diberikan oleh isterinya kepada anak angkat itu, Kui Hok Boan pun hanya mengangkat bahu saja. Dia tentu saja tidak mau ribut-ribut dengan isteri yang dicintainya itu hanya karena urusan Sin Liong, si anak monyet.

Dengan sangat rajin dan tekun sekali Sin Liong mulai mempelajari dasar-dasar ilmu silat. Ternyata memang dia amat berbakat sehingga pelajaran ilmu silat itu dapat dikuasainya dengan lancar sekali. Hal ini membuat Si Kwi merasa girang.

Akan tetapi, selain mempelajari ilmu silat dari ibunya, Sin Liong masih tetap melakukan pekerjaannya sehari-hari, tak pernah dia kelihatan malas. Anak ini tahu bahwa dia adalah seorang ‘luar’ dalam keluarga itu, hanya seorang anak pungut atau anak angkat, maka dia pun ‘tahu diri’. Karena sikapnya ini, biar pun di dalam hatinya Kui Hok Boan merasa tidak senang dengan anak ini, akan tetapi dia tidak menemukan alasan untuk memperlihatkan ketidak senangannya itu dan Sin Liong dapat bekerja seperti biasa.

Setahun sudah lewat tanpa terasa. Pada suatu pagi yang cerah, terdengar suara nyaring dan merdu dari dua orang anak perempuan yang bermain-main di dalam taman indah Istana Lembah Naga. Mereka adalah Kui Lan dan Kui Lin yang sedang bermain-main di situ.

Tadinya kedua orang anak perempuan kembar ini berlatih silat, tetapi sebagai anak-anak yang baru berusia sepuluh tahun, mereka pun merasa bosan lalu bermain-main sambil tertawa-tawa. Mereka saling berkejar-kejaran, mengumpulkan bunga-bunga, kadang kala mengejar kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang bermekaran. Memang, musim bunga sudah tiba sehingga taman itu penuh dengan bunga-bunga yang beraneka ragam dan warna.

"Ahhh, bunga di pohon itu indah sekali, Lin Lin," kata Kui Lan sambil menuju ke puncak pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah taman.

"Benar," jawab Kui Lin. "Ibu juga suka memakai kembang ini sebagai hiasan rambut. Nah, itu di sana ada beberapa tangkai yang gugur dari atas." Kui Lin berlari dan mengambil bunga berwarna merah muda yang rontok dari atas pohon.

"Ah, aku tidak suka bunga yang sudah gugur, sudah hampir layu dan kotor, Lin Lin. Kalau bisa mendapatkan yang masih segar di atas itu, baru indah!"

"Mana bisa, Lan Lan? Tempatnya begitu tinggi. Ngeri bila harus memanjat pohon setinggi ini dan cabangnya banyak yang basah pula, licin dan sukar."

"Hei, Lin-moi! Kenapa engkau mulai lagi menyebut namaku begitu saja? Sudah berapa kali ibu mengharuskan engkau menyebut cici kepadaku?" Kui Lan menegur.

Kui Lin cemberut. "Memangnya berselisih berapa sih usia kita? Tidak ada sehari, hanya beberapa menit!"

"Kau memang bandel! Sudahlah, kita mencari bunga lain saja, aku tidak suka bunga yang layu itu."

Tiba-tiba muncul Sin Liong yang tadi menyapu di pinggir taman. Jalan menuju ke taman itulah yang harus selalu bersih dan harus disapu setiap pagi karena penuh dengan daun dan bunga gugur.

"Kalian menginginkan bunga merah yang ada di atas itu? Biar kuambilkan untuk kalian." katanya melihat dua orang anak perempuan itu kecewa karena tidak dapat memperoleh bunga-bunga yang mereka inginkan.

"Kau bisa mengambil bunga itu?" Kui Lin menudingkan telunjuknya di atas.

"Tentu saja dia bisa! Dia ahli memanjat pohon! Lekas ambilkan, Sin Liong!" kata Kui Lan dengan girang.

"Lan Lan, bukankah ibu sudah memesan agar kita menyebut koko kepadanya?" Kui Lin menegur kakaknya.

Sekarang Kui Lan yang cemberut dan melotot kepada adiknya. "Huh, kau sendiri tak mau menyebut cici kepadaku!"

Sin Liong tersenyum. "Sudahlah, segala sebut-sebutan itu apa bedanya sih? Lihatlah, aku akan mengambilkan bunga-bunga yang paling segar untuk kalian. Akan kuambilkan yang berada di paling puncak!"

Sebelum dua orang anak perempuan itu menjawab, Sin Liong sudah melompat kemudian bagaikan seekor kera saja, dengan cekatan dan cepat sekali dia sudah memanjat pohon besar itu. Ketika tiba di atas, dia sengaja berayun-ayun di antara cabang-cabang pohon.

Dua orang anak perempuan kembar yang berada di bawah bertepuk tangan dan berteriak-teriak memuji, kadang-kadang mereka menjerit karena merasa ngeri menyaksikan tubuh Sin Liong berayun-ayun seperti itu. Hati mereka merasa ngeri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner