PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-11


"Awas, yang dimainkan itu adalah pecahan dari Lo-han-to yang tidak asli lagi, akan tetapi masih memiliki dasar-dasar Lo-han-to!" mendadak wanita cantik itu berseru ketika melihat gerakan golok Twa-sin-to Kui Lok.

Diam-diam si gemuk pendek ini kaget bukan main, kaget dan juga marah. Dia merasa sudah menguasai Lo-han-to, ilmu golok yang sangat hebat dari cabang persilatan Siauw-lim-pai itu dengan baik, kini disebut pecahan yang tidak asli lagi! Memang dia bukan murid langsung dari Siauw-lim-pai, akan tetapi dia mengira sudah menguasai Ilmu Golok Siauw-lim-pai itu. Lo-han-to (Golok Orang Tua Gagah) memang merupakan Ilmu Golok Siauw-lim-pai yang hebat, gerakannya gagah bersemangat dan sungguh pun digerakkan dengan lambat, namun mengandung lweekang yang sangat kuat dan sinarnya bergulung-gulung seperti ombak.

Akan tetapi, Kui Lok tidak mau perhatiannya terpecah oleh kata-kata wanita itu, dia telah menerjang ke depan, gerakannya ringan dan goloknya menyambar-nyambar seperti kilat dari atas, mengarah tubuh atas anak itu.

"Itulah jurus Yan-cu Tiak-sui (Burung Walet Menyambar Air), engkau tahu sifatnya, sute, jaga yang atas jangan lupakan yang bawah!" kembali wanita itu berseru.

Anak itu menggerakkan pedangnya menangkis. Terdengarlah bunyi trang-tring-trang-tring nyaring sekali dan kemana pun golok itu menyambar dari atas, selalu bertemu dengan bayangan pedang. Kui Lok terkejut juga dan cepat kakinya bergerak.

Memang tendangan merupakan imbangan dari serangan golok jurus itu, dan karena itulah maka tadi wanita itu mengingatkan sute-nya supaya tidak melupakan yang bawah! Maka begitu kaki Kui Lok bergerak menendang, tiba-tiba saja anak itu membalikkan pedangnya menyambut kaki yang menendang.

"Ehhhh…!" Si gemuk pendek cepat menarik kembali kakinya dan meloncat ke belakang sehingga dia agak terhuyung.

Mukanya berubah dan keringat dingin membasahi lehernya karena dia mengingat betapa hampir saja dalam satu gebrakan kakinya dibikin buntung oleh bocah lihai ini. Dengan kemarahan meluap dia lantas menerjang lagi dengan kecepatan yang lebih dari tadi, dan sekali ini dia sengaja mengeluarkan ilmu golok simpanannya yang biasanya hanya dia pergunakan kalau menghadapi lawan tangguh.

"Sute, itulah Ngo-houw-toan-bun-to (Lima Harimau Menjaga Pintu) yang terkenal itu. Akan tetapi yang ini lebih palsu lagi, hanya tinggal gayanya saja, akan tetapi hati-hati terhadap tangan kirinya!" kembali wanita itu berseru.

Makin marahlah hati Kui Lok. Tadi, Lo-han-to yang dikuasainya dikatakan tidak asli, kini Ngo-houw-toan-bun-to yang dibanggakan itu dikatakan tinggal gayanya saja, bahkan lebih palsu lagi! Maka goloknya sampai mengeluarkan suara berdesing-desing dan bersiutan ketika dia menyerang dengan dahsyat.

Anak itu ternyata hebat sekali. Dengan lincah anak itu bergerak dengan sepasang kakinya digeser ke sana-sini, melangkah ke depan belakang, kanan kiri dengan cara yang aneh, tetapi semua sambaran sinar golok selalu mengenai tempat kosong. Kalau Kui Lok sudah merasa yakin bahwa goloknya akan mengenai tubuh lawan, ternyata kemudian bahwa yang diserangnya hanya bayangan saja dan anak itu sudah mengelak dengan cepat dan tak terduga-duga.

Dalam menghindarkan semua serangan-serangan, anak itu lebih mengandalkan gerakan kakinya dari pada menangkis, sungguh pun kadang-kadang dia menangkis juga dengan pedangnya. Agaknya dia seperti orang sedang berlatih, melatih kelincahan atau melatih langkah-langkah kakinya menghadapi hujan serangan golok itu.

Kui Lok yang memainkan goloknya sampai menjadi sangat heran dan penasaran karena telah tiga puluh jurus dia menyerang, tapi sama sekali goloknya belum mampu mengenai tubuh lawan, bahkan mencium ujung bajunya belum pernah!

Sementara itu, tiga orang saudara seperguruan yang tadi mengatakan hendak menuntut balas atas kematian sute mereka she Yap, sekarang telah mencabut pedang mereka dan menyerang ke depan untuk membantu Kui Lok merobohkan anak itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring disusul berkelebatnya sinar merah dan teguran suara halus wanita itu,

"Jangan kalian berani mengganggu sute yang sedang berlatih!"

Sinar merah itu bergulung-gulung menyambar ke arah tiga orang pemegang pedang itu. Mereka terkejut bukan main melihat sinar yang panjang seperti seekor naga itu, dan cepat mereka menggerakkan pedang untuk membacok putus sinar yang ternyata adalah sehelai sabuk merah itu.

"Wuut-wuut-wuuttt...!" Pedang itu bertemu dengan sinar merah dan otomatis sinar merah itu melibat tiga batang pedang.

"Ouhhhh...!" Tiga orang itu terkejut bukan main ketika tahu-tahu pedang mereka terlibat sabuk merah dan ketika wanita itu menggerakkan tangan, sabuk itu menyendal dan tiga batang pedang itu sudah terampas biar pun mereka tadi telah mengerahkan tenaga untuk mempertahankan. Mereka hanya melongo melihat tiga batang pedang mereka terbang ke atas terbelit sabuk merah dan beberapa kali tiga pedang itu beterbangan di atas kepala wanita itu.

"Terimalah!" Tiba-tiba wanita itu berseru dan ketika dia menggerakkan tangan, tiga batang pedang yang tadi terbelit sabuk itu lantas meluncur ke depan, menuju ke arah pemiliknya masing-masing!

Ketiga orang itu terkejut bukan main dan berusaha untuk mengelak, akan tetapi lontaran pedang dalam belitan sabuk merah itu cepat bukan main dan tahu-tahu pedang-pedang itu telah menembus tubuh mereka, ada yang terkena dadanya, ada pula yang tertembus perutnya. Mereka roboh, sejenak berkelojotan, kemudian tewas!

Sebelum mereka roboh, wanita cantik itu sudah tidak memperhatikan mereka lagi dan kini sudah memperhatikan lagi sute-nya yang ‘berlatih’ di bawah hujan sinar golok. Ilmu golok dari Kui Liok memang hebat.

Meski pun ilmu atau jurus Ngo-houw-toan-bun-to yang dimainkannya itu tidak asli, namun karena sudah terlalu sering dilatihnya, maka memiliki daya serang yang hebat dan lihai. Setiap serangan yang luput dari sasaran selalu disambung dengan serangan lain, tusukan disambung tikaman, bacokan disusul bacokan membalik. Dan sampai lima jurus lamanya anak itu dapat selalu menghindarkan diri. Akan tetapi apa yang diperingatkan oleh wanita tadi tidak kunjung tiba, yaitu tangan kiri Kui Liok.

Tadi wanita itu sudah memperingatkan sute-nya agar berhati-hati terhadap tangan kiri si pemegang golok itu, akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, tetap saja Kui Liok belum pernah mempergunakan tangan kirinya. Hal ini sama sekali bukan karena peringatan itu keliru, melainkan karena Kui Liok sengaja tidak mau mempergunakan tangan kirinya yang belum apa-apa sudah diterka oleh wanita itu!

"Sute, sekarang latihlah serangan pedangmu!" wanita yang semenjak tadi memperhatikan jalannya pertandingan itu tiba-tiba berseru.

Anak itu tak menjawab, melainkan mengubah gerakannya. Kini pedangnya mengeluarkan suara berdengung yang nadanya naik turun, seperti suara orang bersenandung! Kui Liok terkejut melihat pedang itu tahu-tahu telah berada di dekat lehernya.

"Tranggg...!"

Dia menangkis dengan keras. Pedang terpental akan tetapi tahu-tahu telah hinggap dekat pundaknya. Pundaknya tentu akan putus kalau pedang itu membabat turun, maka cepat dia melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik sambil bergulingan dan memainkan ilmu golok yang dinamakan Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan). Tubuhnya bergulingan dan dari gulingan itu goloknya menyambar, membabat ke arah kaki lawan. Kalau tadi dia bergulingan untuk menghindarkan diri dari ancaman pedang, kini tubuhnya bergulingan mengejar lawan untuk balas menyerang!

Namun, dengan cekatan anak itu melompat dan tahu-tahu pedangnya telah menusuk dari belakang ke arah tengkuk Kui Liok. Orang gemuk pendek ini merasa tengkuknya dingin, cepat dia meloncat dan menyampok ke belakang. Akan tetapi, anak itu menarik kembali pedangnya dan kini tahu-tahu pedang telah menodong lambung lawan!

Kembali Kui Liok menahan jeritnya dan ia cepat meloncat ke belakang sambil menangkis. Bulu tengkuknya benar-benar meremang saking ngerinya menghadapi ilmu pedang yang amat aneh ini. Telinganya terus mendengar bunyi pedang bersenandung dan tampak sinar pedang putih bergulung-gulung, kemudian ujung pedang secara aneh tiba-tiba saja sudah berada di sekitar tubuhnya, sudah menempel tinggal menusuk saja!

Twa-sin-to Kui Liok maklum bahwa meski pun yang dihadapinya itu masih kanak-kanak, akan tetapi ternyata telah mempunyai kepandaian yang amat luar biasa. Maka dia cepat menangkis pedang itu dengan goloknya sambil mengerahkan tenaga sinkang menyedot sehingga pedang dan golok melekat.

Saat itu dipergunakannya untuk menggerakkan tangan kirinya, secepat kilat tangan itu terbuka lantas menghantam ke arah dada anak itu. Itulah pukulan Ang-see-jiu yang amat hebat. Pukulan beracun yang sudah dilatih dengan pasir merah beracun dan yang sejak tadi tidak dipergunakan karena telah didahului oleh peringatan wanita itu.

"Awas, sute!" Wanita itu memperingatkan.

Akan tetapi semenjak tadi anak itu agaknya memang tidak pernah melupakan peringatan suci-nya. Melihat sinar merah dari telapak tangan kiri lawan, dia lalu membuka mulut dan mengeluarkan bentakan nyaring.

“Huiiihhh!" Dari mulut anak itu menyambar sinar putih ke arah tenggorokan Twa-sin-to Kui Liok.

"Aughhhh...!" Tubuh yang pendek gemuk itu langsung terjengkang, matanya terbelalak, di tenggorokannya menancap sebatang jarum putih yang amblas sampai lenyap. Akan tetapi Kui Liok masih dapat melanjutkan pukulan tangan kirinya ke arah dada anak itu.

"Dessss...!"

Wanita itu mendorong dari samping dan walau pun tangannya tidak sampai menyentuh tubuh Kui Liok, namun angin pukulannya yang kuat membuat tubuh itu terpelanting roboh, pukulan Ang-see-jiu tadi tidak sampai mengenai dada anak itu dan begitu roboh, Kui Liok sudah tegang kaku dan tewas seketika!

Anak itu menyimpan kembali pedangnya lantas memandang mayat Kui Liok. Ada sedikit peluh pada dahinya dan suci-nya cepat menghampiri lalu menyusut peluh itu dengan sapu tangannya yang halus dan berbau harum.

"Sute, latihanmu berhasil dan baik sekali. Akan tetapi sayang, ketika engkau menyerang dia dengan pek-ciam (jarum putih) tadi, sasarannya kurang tepat. Kalau sasaranmu kau tujukan ke dahinya, tepat di antara kedua alisnya, tentu pukulan Ang-see-jiu dari tangan kirinya itu tak dapat dilanjutkan. Karena kau memilih tenggorokan sebagai sasaran, maka hampir saja engkau terkena pukulan. Harap lain kali engkau lebih cermat lagi."

Anak itu mengangguk. "Suci memang benar, dan tadi aku pun sudah berpikir demikian. Akan tetapi aku merasa sangsi untuk menyerang antara sepasang alisnya, karena kupikir bagian itu lebih keras. Dengan sinkang yang belum kuat seperti yang kumiliki ini, aku khawatir jarumku tidak akan dapat menembus tulang kepalanya dan tentu hal itu malah berbahaya sekali."

"Ah, engkau kurang percaya kepada diri sendiri, sute. Sekarang engkau boleh mencoba!" Dia lalu menggunakan kakinya mencokel pundak mayat Kui Liok dan tiba-tiba mayat itu mencelat ke atas, berdiri dan seperti hendak menyerang anak itu.

Anak itu tiba-tiba membuka mulut dan mengeluarkan seruan. "Huuihhh...!"

Sinar putih menyambar, kini ke arah dahi mayat itu yang segera roboh kembali. Anak itu membungkuk dan memeriksa dahi yang ditembusi jarumnya dan dia tersenyum.

"Engkau benar, suci. Jarum itu masuk hampir seluruhnya!"

"Nah, engkau harus mempunyai rasa kepercayaan kepada diri sendiri, sute. Kepercayaan kepada diri sendiri akan menambah kesanggupanmu dan menenangkan hatimu apa bila engkau bertemu dengan lawan yang pandai. Akan tetapi jangan sekali-kali kepercayaan kepada diri sendiri itu berbalik menjadi kesombongan tanpa perhitungan. Sekarang cabut pedangmu. Tadi aku melihat ada beberapa gerakan inti yang masih kurang tepat, maka sebaiknya kau perhatikan seranganku dan lawanlah dengan pedangmu sebaik mungkin!" Tanpa memberi kesempatan sute-nya untuk menjawab, wanita itu segera menggerakkan sabuknya.

"Wirrr... suitttt...!" Sabuk itu melayang ke udara, bergulung-gulung dan menukik ke bawah dan ujungnya sudah menotok ke arah ubun-ubun kepala sute-nya.

"Wessss...!"

Anak itu tahu-tahu sudah mencabut pedang dan cepat menangkis dengan niat hendak membabat sabuk itu. Namun sabuk lemas itu sudah bergerak lagi ke atas, seperti burung terbang dan berlatihlah dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan cepat sekali.

Siong Bu yang masih mendekam di balik semak-semak merasa silau, maka terpaksa dia memejamkan matanya yang menjadi berair, karena kecepatan gerakan sinar bergulung-gulung itu benar-benar amat hebat. Dia tidak dapat melihat lagi dua orang itu, melainkan hanya dua sinar putih dan merah bergulung-gulung amat cepatnya. Jantungnya seperti berhenti berdetik ketika dia mendengar suara bersuitan dan angin menyambar sampai ke atas semak-semak itu dan ketika dia melihat ujung semak-semak itu, daun-daun muda jatuh berhamburan seperti dibabat pisau tajam!

Tiba-tiba saja terdengar bunyi melengking dari dalam hutan sebelah utara. Sinar putih dan merah yang bergulung-gulung itu berhenti dan wanita itu telah berdiri tegak bersama anak laki-laki, sambil menoleh ke utara. Terdengarlah suara nyaring seorang pria,

"Maaf, toanio. Saya hanyalah seorang utusan dari Jeng-hwa-pang, mohon menghadap toanio untuk menyampaikan undangan dari ketua kami!"

Wanita itu mencibirkan bibir lantas mendengus, "Merangkaklah ke sini!" katanya dengan nada merendahkan.

Nampak sosok bayangan berkelebat cepat dan seorang lelaki berusia empat puluh tahun tinggi kurus berpakaian sederhana, di dada kirinya terhias setangkai bunga hijau terbuat dari pada kertas dan lilin, membawa sebuah bungkusan yang besar, bentuknya persegi, kurang lebih tiga puluh sentimeter setiap seginya.

Siong Bu melihat betapa sebelum laki-laki ini muncul, wanita cantik itu telah mengenakan sepasang kaus tangan yang warnanya sama dengan kulitnya sehingga sesudah dipakai, sama sekali tidak kentara. Kini, wanita itu memandang pria yang membawa bungkusan, lalu bertanya, "Selain menyerahkan undangan, engkau disuruh apa lagi?"

Orang itu menjura dengan hormat, "Hanya menyampaikan undangan ini lalu diharuskan pergi agar jangan mengganggu toanio lebih lama."

"Hemm, kalau begitu lemparkan undangan itu ke sini dan segera menggelindinglah pergi!" bentaknya.

Orang itu kemudian melontarkan bungkusan itu ke arah anak laki-laki tadi. Anak itu cepat menggerakkan tangan hendak menyambut, akan tetapi dia didahului oleh suci-nya yang meloncat dan menyambar bungkusan itu dengan kedua tangannya.

"Ehkh? Kenapa, suci?" tanya anak itu, heran sekali melihat suci-nya berbuat seperti itu.

"Bungkusan ini pasti mengandung racun, sute."

"Ahhh, keparat!" Anak itu menjadi marah dan begitu melihat di situ terdapat sebuah batu besar sekali, sebesar perut kerbau bunting, dia lalu menyambarnya dengan kedua tangan dan melontarkannya ke arah laki-laki yang sudah membalik dan pergi itu.

"Sute, jangan...!" Wanita itu masih sempat menepuk lengan sute-nya sehingga lontaran itu menyeleweng. Akan tetapi tetap saja masih dapat melampaui laki-laki tadi kemudian jatuh berdebuk tidak jauh di depannya, melesak dalam sekali ke dalam tanah.

Laki-laki itu terbelalak dan mukanya berubah pucat. Kalau dia tertimpa batu sebesar itu, tentu akan remuk tubuhnya! Dia menoleh dengan ngeri, akan tetapi melihat anak yang luar biasa itu tidak mengejarnya, dia cepat-cepat lari dari tempat itu.

"Suci, mengapa pula engkau mencegah aku membunuh keparat curang itu?"

"Dia hanyalah seorang utusan dan engkau tentu lebih tahu bahwa kita sama sekali tidak boleh membunuh seorang utusan, sute. Bukan dia yang menaruh racun di bungkusan ini, melainkan orang yang menyuruhnya. Hemm, Jeng-hwa-pangcu telah mengirim undangan, agaknya dia tidak main-main lagi sekarang. Hendak kulihat sampai di mana kelihaiannya!" Wanita ini lalu meletakkan bungkusan di atas batu besar.

"Jangan menyentuhnya, sute, dan kau lihat saja, jangan mendekat. Harap mundur lima langkah dari sini."

Biar pun alisnya berkerut, anak itu menurut juga, melangkah mundur dan melihat dengan penuh perhatian. Juga Siong Bu menonton dengan jantung berdebar penuh ketegangan. Sejak tadi dia sudah merasa ngeri melihat orang-orang yang dibunuh itu, kini dia melihat hal lain yang lebih aneh sehingga membuat dia semakin ketakutan.

Wanita cantik itu memandang kepada sepasang telapak tangannya yang telah terbungkus sarung tangan, lalu tersenyum mengejek, "Kau lihat, sute."

Dia lalu menggunakan kedua tangannya meraba rumput-rumput di dekatnya dan rumput-rumput itu seketika menjadi layu dan agak gosong seperti dibakar!

"Racun yang dioleskan pada bungkusan ini saja sudah cukup untuk membuat kulit tangan terbakar hebat."

Kemudian dengan hati-hati sekali dia membuka tali bungkusan itu. Ternyata isinya adalah sebuah doos merah. Dibukanya tutup doos merah dan hampir saja Siong Bu menjerit bila dia tidak cepat-cepat mendekap mulutnya. Dari doos merah itu muncul seekor ular yang tiba-tiba saja menyerang ke arah leher wanita itu!

"Capppp!"

Bagaikan sepasang gunting yang amat tajam, dua jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri wanita itu telah menangkap leher ular kemudian sekali mengerahkan tenaga, leher ular itu pun putus!

"Hemmm, kiranya hanya begini saja kepandaian orang-orang Jeng-hwa-pang!" Wanita itu mengejek lantas dia menarik keluar sebuah doos yang berukuran lebih kecil dari dalam doos besar itu. Doos ini pun tertutup.

"Suci, hati-hati. Mereka itu terlalu curang!" Anak itu berseru.

Tadi dia terkejut menyaksikan ular yang demikian ganasnya. Dia tahu bahwa ular merah seperti itu sangat berbahaya karena bisanya dapat membunuh orang dengan sekali gigit saja. Wanita itu menengok dan hanya tersenyum penuh kepercayaan kepada diri sendiri, lalu tanpa ragu-ragu lagi tutup doos yang lebih kecil itu dibukanya.

Tiba-tiba nampak asap mengepul dari dalam doos itu dibarengi suara mendesis. Wanita itu terkejut dan cepat sekali dia meloncat ke belakang, tepat pada saat terdengar ledakan keras. Banyak sekali paku dan jarum yang menyambar ke empat penjuru dan wanita yang sedang meloncat itu pun terserang sambaran paku dan jarum.

Akan tetapi, dengan cekatan dua tangannya menyampok dan menangkap, sehingga pada waktu dia meloncat turun, kedua tangannya penuh dengan jarum dan paku yang dapat ditangkapnya tadi. Asap masih mengepul dan doos itu pecah, memperlihatkan selembar kertas yang sebagian hangus.

Wanita cantik itu lalu menghampiri batu dan melemparkan jarum dan paku yang beracun itu ke dalam doos yang telah hangus dan pecah-pecah, lalu dia mengambil kertas merah itu dan membaca huruf-huruf hitam yang tertulis di situ.

JENG HWA PANG MENGUNDANG KIM HONG LIU-NIO UNTUK MEMBUAT PERHITUNGAN

Demikianlah bunyi huruf-huruf besar yang tertulis di kertas merah. Wanita itu meremasnya hancur dan biar pun mulutnya masih tersenyum mengejek, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi karena marahnya. Sute-nya sudah mendekatinya, terbelalak memandang ke arah jarum-jarum dan paku-paku yang mengeluarkan sinar kehijauan itu.

"Sungguh berbahaya...," katanya ngeri.

"Jeng-hwa-pang memang terkenal dengan caranya yang kotor, suka bermain racun. Akan tetapi aku akan membalas semua ini, sute. Memang aku sudah bersiap-siap sehingga aku menggunakan sarung tangan. Betapa pun kebalnya tangan kita, kalau terkena racun yang berada di kertas pembungkus itu, atau tergigit oleh ular merah tadi, apa lagi racun hijau di paku dan jarum itu, tentu kita celaka. Racun hijau pada puku dan jarum ini lebih lihai lagi, sute. Itulah racun jeng-hwa (bunga hijau) yang menjadi keistimewaan mereka sehingga perkumpulan mereka pun memakai nama Jeng-hwa-pang (Perkumpulan Bunga Hijau)."

"Siapakah mereka itu, suci?"

Wanita itu menarik napas panjang. "Menurut penuturan subo, pendirinya adalah mendiang Jeng-hwa Sian-jin, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang lihai dan selain ilmu silatnya tinggi, juga mahir ilmu sihir. Akan tetapi, kakek itu sudah tewas dan kini perkumpulannya dipegang dan dipimpin oleh muridnya yang ahli dalam soal racun. Mereka bersarang di daerah perbatasan, di dekat tembok besar."

"Mengapa perkumpulan itu memusuhi suci?"

Wanita itu melepaskan sarung tangan yang melindunginya dari racun tadi. Sarung tangan itu memang istimewa sekali, bukan hanya dapat melindungi kulit tangan dari racun, akan tetapi juga segala macam racun yang tersentuh oleh sarung tangan itu menjadi hilang dayanya, dan di samping ini, juga sarung tangan itu dapat menahan bacokan senjata-senjata tajam.

Setelah menyimpan sarung tangannya, wanita itu lalu menurunkan papan kayu salib dari punggungnya, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata, "Seperti juga halnya lima orang tolol ini, Jeng-hwa-pang memusuhi aku karena ini."

Anak itu sudah tahu akan maksud kayu salib yang ditulisi tiga huruf itu. Dia tahu bahwa tiga huruf itu adalah tiga nama keturunan yang menjadi musuh besar subo mereka dan suci-nya ini sudah bersumpah kepada subo mereka untuk membasmi semua orang yang memiliki she Yap, Cia dan Tio. Untuk tugas inilah maka subo mereka menurunkan seluruh kepandaiannya kepada suci-nya ini hingga suci-nya menjadi seorang wanita yang bukan main saktinya.

"Suci, apakah ketua Jeng-hwa-pang itu she Yap, Cia, ataukah Tio?"

"Bukan, akan tetapi isterinya she Tio dan sembilan orang keluarga isterinya yang she Tio sudah kubunuh semua. Itulah sebabnya dia memusuhi aku," jawab suci-nya dengan sikap tak peduli.

Anak laki-laki itu lalu memandang ke arah papan kayu salib dan melihat betapa suci-nya menggunakan kuku jari telunjuknya yang panjang terpelihara rapi untuk membuat guratan lima kali di bagian bawah papan salib itu. Itulah tanda bahwa suci-nya sudah membunuh lima orang.

Setiap guratan menandakan satu nyawa dan hanya mereka yang dibunuh karena urusan permusuhan itu saja yang dicatat di papan kayu salib ini. Palang kiri untuk korban she Tio, papan atas untuk yang she Cia dan papan kanan untuk she Yap, ada pun papan bagian bawah untuk orang-orang she lainnya yang membela tiga she itu kemudian terlibat dalam permusuhan ini.

Anak itu melihat betapa yang banyak sekali coretannya justru papan bawah di bagian she Tio lebih banyak dari papan bagian Cia dan she Yap. Akan tetapi di bagian papan atas, untuk yang she Cia, baru ada dua guratan saja.

Anak itu termenung. Dia selalu tertarik kalau membicarakan urusan permusuhan pribadi subo-nya yang aneh itu, dan yang pembalasannya diwakili oleh suci-nya, sebab subo-nya kini telah menjadi pikun dan lemah.

"Suci, sudah berapa lamakah suci mulai melaksanakan perintah subo untuk membasmi orang-orang dari tiga she itu?"

"Sudah belasan tahun, sute, sejak aku berusia dua puluh tahun kurang."

"Dan sampai kapan berakhirnya? Apakah selama hidup suci akan terus menerus mencari orang-orang dari tiga she itu untuk kemudian dibunuh?" Anak itu merasa betapa tugas ini benar-benar gila!

Wanita itu menggeleng kepala. "Tugasku baru sempurna dan berakhir kalau musuh yang sesungguhnya dari subo sudah dapat kubunuh. Mereka itu adalah Cia Bun Houw, Yap In Hong, dan Tio Sun. Mereka bukanlah orang-orang lemah, melainkan pendekar-pendekar yang berkepandaian tinggi sekali, akan tetapi aku sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh mereka bertiga. Oleh karena itu, sekarang aku mengantarmu ke kota raja sambil hendak menyelidiki mereka, sute."

"Aku akan membantumu, suci."

Suci-nya menggeleng kepala. "Engkau baik sekali, sute, dan biar pun usiamu baru empat belas tahun, namun kepandaianmu sudah boleh diandalkan. Akan tetapi mereka itu lihai sekali, terutama Cia Bun Houw itu. Subo pernah terluka pada saat menghadapinya. Akan tetapi... aku telah mempelajari ilmu-ilmu khusus yang diciptakan oleh subo, ilmu istimewa untuk menghadapi mereka bertiga. Aku tidak takut."

Tiba-tiba wanita itu lalu bersuit nyaring. Suaranya melengking bergema di seluruh hutan, dan Siong Bu yang mengintai hampir saja terjengkang. Dia cepat-cepat menutupi kedua telinganya dan menahan napas.

Terdengar suara derap kaki kuda dan roda kereta, dan tidak lama kemudian nampaklah sebuah kereta yang amat indah, ditarik oleh empat ekor kuda dan di belakang kereta itu nampak belasan orang penunggang kuda, kesemuanya gagah perkasa, tinggi besar dan berpakaian sebagai perwira-perwira. Mereka semua turun dari kuda dan memberi hormat secara militer kepada anak itu, dengan berlutut sebelah kaki.

Anak itu mengangkat tangan ke atas sebagai tanda menerima salut mereka dan wanita itu lalu berkata, "Kalian antar kami sampai ke perbatasan, di sana harus berganti kuda. Akan tetapi kita singgah lebih dulu di Istana Lembah Naga karena aku ada urusan dengan para penghuninya."

Para perwira itu mengangguk dan wanita tadi lalu memasuki kereta bersama sute-nya. Kereta berderak-derak meninggalkan tempat itu diikuti oleh tujuh belas orang pengawal yang membuang ludah ketika melihat mayat lima orang tadi.

Sesudah mereka pergi, barulah Siong Bu berani bernapas. Akan tetapi jantungnya masih berdebar tegang. Wanita itu mengatakan hendak singgah di Istana Lembah Naga! Ke rumah pamannya!

Dia teringat ketika dia mengintai ke kamar Sin Liong di dekat kandang kuda, ketika anak monyet itu menangis di pangkuan bibinya dan dia teringat betapa bibinya mengatakan bahwa Sin Liong adalah seorang she Cia, bahkan menyebutkan nama ayahnya, yaitu Cia Bun Houw! Dan bukankah Cia Bun Houw ini merupakan musuh utama dari wanita tadi? Siong Bu lalu menyelinap di antara semak-semak, segera menuju pulang dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Siapakah wanita cantik dan anak laki-laki yang tampan dan lihai itu? Pernah diceritakan di bagian depan cerita ini bahwa sepuluh tahun yang lalu, ketika diadakan pesta pernikahan di Istana Lembah Naga, pernikahan antara Liong Si Kwi dengan Kui Hok Boan, muncul wanita cantik ini di dalam pesta di mana secara mengerikan dia sudah membunuh enam orang di antara para tamu yang mempunyai she Tio, Yap, dan Cia.

Wanita ini adalah yang menjadi utusan Sabutai itu, seorang wanita cantik yang mengaku bernama Kim Hong Liu-nio, yang memiliki ilmu kepandaian amat mengerikan. Sekarang dia masih tampak cantik sekali, biar pun usianya sudah kurang lebih tiga puluh lima tahun sekarang, masih cantik dan agung, bagaikan seorang puteri raja saja, sikapnya angkuh, dingin, akan tetapi tahi lalat kecil di dagunya itu membuat dia nampak manis sekali.

Siapakah sebenarnya Kim Hong Liu-nio ini? Melihat wajahnya dan suaranya ketika bicara tadi, jelas bahwa dia adalah seorang wanita bersuku Han. Akan tetapi kenapa dia menjadi utusan raja liar Sabutai?

Kim Hong Liu-nio adalah seorang dayang atau pelayan wanita yang amat disayang oleh Permaisuri Khamila, yaitu isteri Raja Sabutai. Dia adalah seorang wanita Han yang ketika kecilnya menjadi tawanan perang, yaitu pada waktu pasukan Raja Sabutai menyerbu ke selatan.

Karena Raja Sabutai tertarik melihat kecantikan anak yang ketika itu baru berusia belasan tahun, maka dia tidak dibunuh, tidak pula dijadikan korban perkosaan oleh para prajurit dan perwira seperti yang menjadi nasib para wanita tawanan perang. Bahkan dia ditarik ke dalam istana dan dijadikan dayang. Karena ternyata dia cerdik, setia, serta cekatan, akhirnya sang permaisuri merasa suka kepadanya, maka diangkatlah dia menjadi dayang yang melayani sang permaisuri yang amat tercinta itu.

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Raja Sabutai mempunyai dua orang guru yang memiliki kepandaian luar biasa, merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingannya pada saat itu. Mereka berdua itu adalah Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, dua orang kakek dan nenek iblis yang tadinya berasal dari Negara Sailan.

Dalam pertempuran mereka menghadapi para pendekar sakti, Pek-hiat Mo-ko tewas dan Hek-hiat Mo-li terluka parah. Dengan mengandalkan kekuasaannya, Raja Sabutai berhasil menyelamatkan subo-nya itu dari kematian dan membawa subo-nya untuk dirawat, pergi meninggalkan Istana Lembah Naga di mana tadinya kakek dan nenek iblis itu tinggal.

Karena Hek-hiat Mo-li sudah tua, pikun, mempunyai watak aneh, suka marah dan mudah membunuh orang begitu saja, maka sulitlah untuk merawat dan melayaninya. Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio yang cerdik sekali itu dapat merawatnya dengan baik sehingga sangat menyenangkan hati nenek itu dan akhirnya dayang inilah yang ditugaskan untuk merawat Hek-hiat Mo-li.

Kim Hong Liu-nio memang cerdik bukan main. Semenjak dia menjadi tawanan kemudian menjadi dayang, dia selalu mencari jalan untuk dapat meningkatkan kedudukannya dan akhirnya dia berhasil menjadi dayang kesayangan permaisuri, dan hal ini tentu saja sudah merupakan kemajuan besar karena kedudukannya menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan dayang-dayang istana yang biasa. Namun dia belum juga puas.

Dia tahu bahwa nenek seperti iblis itu adalah guru dari sri baginda sendiri, maka tentu saja merupakan seorang yang amat terhormat dan disegani semua orang. Dan dia sendiri selama ini telah rajin berlatih silat dari para pelatih silat yang biasa melatih para pengawal di istana. Dia sendiri suka akan ilmu silat, maka melihat nenek itu terluka dan dirawat di istana, melihat betapa jarang ada yang berani dan sanggup melayaninya, dia kemudian ‘memperlihatkan’ kesetiaannya, menawarkan diri untuk merawatnya! Dan dia berhasil!

Kim Hong Liu-nio melihat kesempatan baik sekali baginya. Bukan saja kesempatan untuk membikin senang hati nenek itu beserta sri baginda, akan tetapi juga kesempatan untuk mempelajari ilmu kesaktian karena dia tahu bahwa Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek luar biasa yang mempunyai ilmu kepandaian seperti dewa!

Memang harus diakui bahwa wanita muda itu memang cerdik bukan main. Bukan hanya ilmu silat yang menariknya mendekati Hek-hiat Mo-li, meski pun memang dia ingin sekali menjadi seorang yang berilmu tinggi. Akan tetapi lebih dari itu, apa bila dia bisa menjadi murid nenek itu, berarti dia menjadi adik seperguruan Sri Baginda Sabutai sendiri dan hal ini tentu saja akan mengangkat derajatnya tinggi sekali, dari seorang dayang menjadi adik seperguruan raja!

Dan dia memang berhasil menyenangkan hati nenek itu. Hek-hiat Mo-li adalah seorang nenek yang sudah pikun, maka melihat ada dayang yang merawatnya penuh ketekunan, melayaninya dan merawatnya ketika dia masih menderita sakit sehingga dia berak dan kencing di atas pembaringan, dibersihkan dan dicuci, dimandikan oleh dayang ini, hatinya tertarik sekali dan dia menjadi suka kepada dayang itu.

Mulailah nenek pikun ini mengajaknya bercakap-cakap, bahkan lalu menceritakan tentang sakit hatinya terhadap para musuhnya. Menyatakan betapa dia sudah terlalu tua sehingga sakit hatinya itu tentu akan dibawanya sampai mati tanpa terbalas, karena muridnya yang hanya seorang, yaitu Sabutai, adalah seorang raja yang tidak mungkin mengurus urusan pribadi. Mendengar ini, secara cerdik sekali Kim Hong Liu-nio lalu menawarkan diri untuk mewakili nenek itu membalas musuh-musuhnya!

"Kau...? Hi-hi-hi-hi! Tiga orang musuh besarku itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Orang semacam engkau mana mampu mewakili aku untuk membunuh mereka?" Nenek itu mentertawakan.

Kim Hong Liu-nio segera menjatuhkan diri berlutut. "Kalau locianpwe mau mendidik saya dan suka menurunkan semua kepandaian locianpwe kepada saya, apa sulitnya bagi saya untuk membunuh mereka sehingga kelak locianpwe boleh naik ke alam baka dengan hati tenang?"

Hek-hiat Mo-li terbelalak, berpikir dan akhirnya dia mengangguk-angguk. "Hendak kulihat dulu bakatmu!" Dia lalu mencoba dan menyuruh wanita itu mainkan ilmu silat yang pernah dipelajarinya. Hatinya girang sekali pada waktu mendapatkan kenyataan bahwa Kim Hong Liu-nio ternyata memiliki bakat yang amat baik!

"Baik! Kau berlututlah dan bersumpahlah! Aku menerimamu menjadi muridku!" akhirnya dia berkata.

Kim Hong Liu-nio ketika itu berusia dua puluh tahun lebih dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan pembaringan nenek itu. Hek-hiat Mo-li terkekeh, lalu mengelus kepala muridnya dan tiba-tiba bertanya, "Engkau masih perawan?"

Pertanyaan ini tentu saja amat mengejutkan dan mengherankan hati gadis itu, dan juga membuat pipinya menjadi merah sekali karena malu. Akan tetapi dia mengangguk.

"Bagus! Aku telah menciptakan beberapa macam ilmu yang hanya dapat dipelajari secara sempurna oleh perawan-perawan dan jejaka-jejaka. Sekarang terlebih dulu engkau harus bersumpah bahwa kelak engkau akan membunuh semua orang she Yap, Tio, serta Cia yang kau temukan, dan kau tidak akan berhenti melakukan pembunuhan terhadap semua keturunan tiga she itu sebelum engkau berhasil membunuh ketiga orang musuh besarku, yaitu Yap In Hong beserta kakaknya Yap Kun Liong, Cia Bun Houw, dan Tio Sun. Hayo bersumpahlah...!"

Sambil berlutut, Kim Hong Liu-nio kemudian bersumpah menurutkan kata-kata nenek itu. Selesai bersumpah, tiba-tiba gadis itu merasa dagunya sakit sekali ketika tangan nenek itu menyambar, kepalanya pening dan dia roboh pingsan! Ketika dia siuman kembali, dia merasakan dagunya masih amat sakit. Dia merabanya dan ternyata dagunya terluka.

"Biarkan saja, sudah kuobati. Nanti di sana akan tumbuh sebuah tahi lalat kecil, dan tahi lalat itu adalah tanda bahwa engkau masih perawan. Sekarang bersumpahlah lagi bahwa sebelum kau berhasil membunuh tiga orang musuh besarku itu, maka engkau tidak boleh menikah! Dan awas, sekali saja engkau melanggar pantangan itu dan keperawananmu lenyap, tentu tahi lalat di dagumu itu pun akan lenyap dan aku akan membunuhmu!"

Bukan main kagetnya hati gadis itu. Akan tetapi dia tahu bahwa nenek ini memang amat sakti dan luar biasa keji. Dengan suara tenang dia kemudian mengucapkan sumpahnya lagi bahwa dia tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh tiga orang musuh besar dari gurunya.

Hek-hiat Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati senang. "Hi-hik-hik, sekarang engkau menjadi muridku, akan tetapi jangan kira bahwa engkau akan dapat melepaskan diri dari sumpahmu. Hayo lekas panggil suheng-mu ke sini."

"Su... suheng...?"

"Raja Sabutai itu! Siapa lagi dia kalau bukan suheng-mu?" bentak nenek itu. "Hayo lekas minta supaya dia datang ke sini, sekarang juga."

Bukan main girang dan bangganya rasa hati gadis itu. Raja Sabutai adalah suheng-nya! Dia mengangguk lalu berlari ke luar, terus memasuki istana Raja Sabutai. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani selancang itu dan setelah tiba di depan sri baginda tetap saja dia bersikap hormat seperti biasanya.

"Ehh, Kim Hong, kenapa engkau pergi meninggalkan subo dan datang menghadap tanpa diundang?" sri baginda berkata dengan halus.

"Harap paduka sudi memaafkan hamba. Hamba diutus oleh... oleh lo-thai-thai (nyonya tua) untuk minta paduka suka datang kepada beliau sekarang juga..." Tentu saja dia tidak berani lancang menyebut ‘subo’ kepada nenek itu.

Raja Sabutai mengenal watak gurunya yang aneh, maka dia pun bergegas pergi bersama Kim Hong Liu-nio memasuki kamar subo-nya. Begitu dia masuk, Hek-hiat Mo-li langsung berkata, "Ehh, sri baginda, sekarang engkau mempunyai seorang sumoi."

"Sumoi...?"

"Heh-heh, dia itulah sumoi-mu!"

"Kim Hong...?" Sabutai terbelalak.

Kim Hong Liu-nio merasa jantungnya berdebar tegang. Dia takut kalau-kalau raja marah dan merasa terhina, sebab itu dia cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut dan tanpa berani mengangkat muka dia lalu berkata, "Mohon paduka sudi memberi ampun kepada hamba. Hamba mendengar penuturan... lo-thai-thai..."

"Ihh, kau menyebut nyonya tua kepadaku? Murid macam apa kau ini?" Tiba-tiba nenek itu membentak.

Kim Hong Liu-nio terkejut, kemudian melanjutkan kata-katanya, "...subo bercerita tentang musuh-musuh beliau dan hamba merasa kasihan, maka hamba menawarkan diri untuk mewakili subo membalas sakit hati itu... lalu subo mengangkat hamba menjadi murid..."

Raja Sabutai menoleh kepada nenek itu. "Subo, apakah dia pantas menjadi murid subo? Apakah kelak dia tidak akan mengecewakan dan memalukan kita?"

"Huuh-huh-he-heh! Sri baginda lihat saja, beberapa tahun lagi kepandaiannya sudah akan melampaui tingkat kepandaianmu sendiri, hi-hik-hik! Dan pula dia sudah bersumpah akan membunuh empat orang she Yap, Cia dan Tio itu. Sri baginda saya panggil ke sini untuk menjadi saksi. Lihatlah tahi lalat di dagunya itu, sekarang merupakan luka, beberapa hari lagi akan tumbuh tahi lalat di situ sebagai tanda keperawanannya. Dia bersumpah tidak akan menikah sebelum berhasil membunuh musuh-musuh kita dan kalau aku sudah mati, harap sri baginda mengawasinya. Apa bila musuh-musuh belum mati namun tahi lalat itu lenyap, berarti dia melanggar sumpah dan harus dibunuh!"

Raja Sabutai mengangguk-angguk. "Jangan khawatir, subo, aku akan mengamatinya."

Diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Ketika dia tadi bersumpah, memang timbul perasaan mengejek di dalam hatinya. Nenek itu sudah tua, mana bisa mengawasi dia terus? Dan tentang tahi lalat tanda keperawanan itu tentu tidak akan ada orang lain yang tahu. Siapa sangka, nenek iblis itu kini membuka rahasia ini kepada Raja Sabutai, bahkan sudah memesan kepada raja itu untuk mewakilinya menghukum kalau dia berani melanggar sumpahnya.

Demikianlah, mulai hari itu Kim Hong Liu-nio menjadi murid Hek-hiat Mo-li dan ternyata dia memang berbakat baik sekali. Dia masih bersikap hormat kepada raja, dan hanya di depan gurunya saja dia berani menyebut suheng kepada raja. Di tempat biasa, dia masih bersikap sebagai seorang dayang terkasih.

Akan tetapi, semua orang dari pelayan terendah sampai panglima tertinggi tahu belaka, bahwa dayang ini adalah murid dari Hek-hiat Mo-li, adik seperguruan raja dan mempunyai ilmu kepandaian yang sangat hebat, maka tentu saja semua orang menghormatinya dan tidak ada yang memperlakukannya sebagai seorang dayang.

Apa lagi sesudah putera dari Raja Sabutai mulai dilatih ilmu silat, maka pengaruh Kim Hong Liu-nio lebih besar lagi. Dialah yang diserahi tugas untuk mendidik anak laki-laki itu! Anak laki-laki itu bukan lain adalah Ceng Han Houw, putera tunggal dari Raja Sabutai. Nama Ceng Han Houw adalah nama pemberian dari Khamila, ibu kandung anak itu, ada pun nama pemberian ayahnya adalah Pangeran Oguthai!

Mengapa Permaisuri Khamila memberi nama Ceng Han Houw kepada puteranya? Hal ini ada rahasianya yang hanya diketahui oleh Permaisuri Khamila beserta suaminya sendiri, yaitu Raja Sabutai. Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan peristiwa itu yang terjadi belasan tahun yang lalu.

Ketika itu, Raja Sabutai dan isterinya yang tercinta, yang masih sangat muda dan cantik jelita, belum memiliki keturunan. Waktu itu, Kaisar Ceng Tung dari Kerajaan Beng, yang baru berusia dua puluh tiga tahun, dijebak oleh kecurangan dan pengkhianatan seorang pembesar.

Pada waktu melakukan perjalanan ke utara, kaisar muda ini telah menjadi tawanan raja liar, yaiti Raja Sabutai dan ditahan di daerah liar di utara. Kaisar Ceng Tung yang muda itu memperlihatkan sikap gagah perkasa, dan hal ini sangat menarik dan mengagumkan hati Raja Sabutai. Kaisar Ceng Tung tidak dibunuh oleh Sabutai karena memang hendak dijadikan sandera kalau dia menyerbu ke selatan.

Ketika itu, Raja Sabutai merasa berduka dan kecewa karena dari permaisurinya yang amat cantik dan tercinta itu, dia belum juga memperoleh keturunan. Karena sejak dahulu sebelum menikah dengan isteri tercinta ini pun belum pernah ada selirnya yang berhasil memperoleh keturunan, maka dia pun dapat menduga bahwa dirinyalah yang tidak dapat memberikan keturunan kepada permaisurinya yang tercinta itu. Padahal dia ingin sekali mempunyai anak dari permaisurinya terkasih ini.

Pada saat dia kelihat kegagahan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanannya, timbullah rencananya yang amat luar biasa. Dia hendak menggunakan kaisar yang dikaguminya itu agar dapat meninggalkan keturunan di dalam rahim permaisurinya, keturunan yang kelak akan menjadi anaknya secara resmi! Dia tidak akan merasa malu mempunyai anak yang sebetulnya memiliki darah kaisar yang besar dan gagah perkasa itu. Bahkan kedudukan kaisar itu masih jauh lebih tinggi dari pada kedudukannya sebagai raja liar.

Demikianlah, dengan sepengetahuannya, bahkan atas perintahnya, Permaisuri Khamila yang muda dan cantik jelita itu mendekati tawanan terhormat itu. Kemudian terjadilah hal yang tidak mengherankan mengingat bahwa keduanya masih sama muda dan keduanya merupakan pria dan wanita yang tampan dan cantik. Kedua orang muda itu saling jatuh cinta!

Kemudian, tepat seperti yang diharapkan oleh Raja Sabutai, permaisurinya mengandung, bahkan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Sementara itu, Kaisar Ceng Tung telah berhasil lolos dari tawanan dan kembali ke Tiong-goan untuk menjadi kaisar lagi.

Demikianlah cerita ringkas dari peristiwa itu yang dituturkan dengan jelas di dalam cerita Dewi Maut. Rahasia tentang diri anak yang kini bernama Pangeran Oguthai alias Ceng Han Houw itu hanya diketahui oleh ayah dan ibunya sendiri. Raja Sabutai memberi nama Oguthai kepada puteranya, diambil dari nama seorang pangeran gagah perkasa bangsa Mongol, putera ke tiga dari raja besar Jenghis Khan yang termashur itu.

Akan tetapi atas permintaan Permaisuri Khamila, anak itu diberi nama Ceng Han Houw. She Ceng diambilnya dari nama Kaisar Ceng Tung yang sebetulnya adalah ayah kandung dari anak itu, dan nama Han Houw adalah nama pemberian Kaisar Ceng Tung sendiri yang diam-diam disampaikan kepada bekas kekasihnya itu. Hal itu membuktikan bahwa sampai saat itu pun sang permaisuri itu masih belum dapat melupakan kekasihnya, ayah kandung dari anaknya.

Meski pun dia seorang raja, namun Sabutai adalah seorang yang suka akan kegagahan, maka tentu saja dia ingin melihat putera tunggalnya itu menjadi seorang gagah perkasa dan berilmu tinggi. Oleh karena itu, semenjak masih kecil, Oguthai atau Ceng Han Houw itu oleh Raja Sabutai diserahkan kepada subo-nya supaya digembleng kepandaian silat, maka dengan sendirinya anak itu dekat sekali dengan suci-nya, Kim Hong Liu-nio yang kadang-kadang mewakili gurunya untuk melatih sang pangeran ini.

Demikianlah keadaan anak laki-laki berusia empat belas tahun yang tampan dan lihai itu, yang bukan lain adalah Ceng Han Houw, dan Kim Hong Liu-nio yang kini sudah menjadi seorang wanita yang luar biasa lihainya, dan tepat seperti apa yang pernah dijanjikan oleh Hek-hiat Mo-li kepada Sabutai, kepandaian Kim Hong Liu-nio kini sedemikian hebatnya sehingga sudah melampaui tingkat kepandaian Raja Sabutai sendiri!

Banyak ilmu-ilmu baru ciptaan nenek yang sudah tua renta itu berhasil dikuasai oleh Kim Hong Liu-nio, ilmu-ilmu yang sengaja diciptakan oleh Hek-hiat Mo-li bagi muridnya untuk menghadapi musuh-musuh besarnya, ilmu yang bahkan Hek-hiat Mo-li sendiri tak mampu menguasainya karena tidak sempat lagi melatih diri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner