PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-19


Pada saat itu pula tujuh di antara sembilan orang pengawal pribadi kaisar telah bergerak, tombak mereka berkelebatan dan mereka mulai menyerang ke arah pangeran mahkota dan kaisar yang masih berpelukan di atas pembaringan!

Akan tetapi Han Houw sudah menerjang dan menyambut mereka dengan pedangnya dan pemuda cilik ini mengamuk dengan hebatnya, sedangkan di fihak lain Kim Hong Liu-nio sudah mendesak sang panglima pemberontak dengan sabuk merahnya.

Barulah para panglima beserta pembesar yang berada di sana menjadi geger dan sadar bahwa telah terjadi pemberontakan. Ternyata pemberontakan yang didesas-desuskan itu, yang kemudian hendak dicegah dengan penjagaan ketat, tidak datang dari luar, melainkan dari dalam, bahkan komplotan pemberontak itu telah berkumpul di dalam kamar kaisar!

Panglima Lee Cin dan Lee Siang cepat bergerak pula membantu Han Houw menghadapi tujuh orang pengawal pemberontak. Dengan adanya Kim Hong Liu-nio di situ, bersama juga Han Houw yang biar pun lengan kirinya sudah terluka namun masih mengamuk dan sebentar saja dia sudah merobohkan dua orang pengawal pemberontak, maka akhirnya pemberontak itu dapat dihancurkan sebelum menjalar keluar.

Dengan sabuk suteranya, Kim Hong Liu-nio berhasil menotok leher dan sepasang lengan panglima pemberontak sehingga panglima itu roboh pingsan sedangkan Han Houw yang dibantu oleh dua orang Panglima Lee telah dapat menewaskan tujuh orang pengawal itu.

"Jangan bunuh panglima khianat itu!" kata Panglima Lee Siang kepada Kim Hong Liu-nio maka wanita ini pun tidak bergerak untuk membunuhnya.

Dia tahu bahwa tentu panglima pemberontak ini akan dipaksa mengaku siapa penggerak pemberontakan. Akan tetapi, mendadak terdengar jerit mengerikan dan orang muda yang sejak tadi sudah berada di situ, yaitu Pangeran Ceng Su Kiat, sudah roboh dengan dada tertusuk pedang pendek yang dipegang oleh tangan kanannya. Kiranya pangeran ini telah membunuh diri di situ setelah melihat betapa usaha pemberontakan itu gagal!

Semua mayat dan panglima yang tertawan itu sudah dibawa keluar dengan cepat, lantas tempat itu dibersihkan. Akan tetapi sri baginda kaisar minta dipindahkan ke kamar lain, mengajak pangeran mahkota yang sudah diobati pundaknya, Han Houw yang juga telah dibalut lengannya, dan ditemani pula oleh Kim Hong Liu-nio, Panglima Lee Siang beserta para panglima lain.

Di dalam kamar ini sri baginda kaisar dan pangeran mahkota menyatakan kekaguman dan terima kasih mereka kepada Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio, karena harus diakui bahwa kalau tadi tidak ada mereka, keadaan pangeran dan kaisar sungguh bisa terancam bahaya maut. Apa lagi Pangeran Ceng Hwa, dia tahu betul bahwa serangan tiba-tiba dari panglima tadi tentu akan menewaskannya kalau di sana tidak ada Han Houw yang cepat menangkis dengan mengorbankan lengannya sendiri sehingga terluka itu.

Panglima pemberontak yang tentu saja dijatuhi hukuman mati itu, sebelum tewas sudah mengakui bahwa pemberontakan itu diatur oleh Pangeran Ceng Su Liat. Sesungguhnya bukan merupakan pemberontakan umum yang besar-besaran, namun hanya merupakan niat untuk membunuh pangeran mahkota supaya Pangeran Ceng Su Liat memperoleh kesempatan untuk menggantikan pangeran mahkota kalau pangeran ini tewas.

Maka tadi ketika melihat sri baginda kaisar terguling karena serangan jantung, panglima pengkhianat itu menyangka bahwa sri baginda telah meninggal dunia, maka dia melihat kesempatan bagus sekali untuk turun tangan, sesuai dengan perintah Pangeran Ceng Su Liat yang menjanjikan pengampunan bahkan kedudukan tinggi apa bila usaha itu berhasil!

Tentu saja Ceng Han Houw serta Kim Hong Liu-nio menjadi orang-orang yang berjasa besar di dalam istana kaisar! Mereka menjadi orang-orang terhormat yang dikagumi, dan karena Ceng Han Houw sudah diumumkan oleh kaisar sendiri sebagai pangeran, maka tentu saja di mana-mana dia diterima dengan terhormat.

Ada pun Kim Hong Liu-nio yang dikenal sebagai pengasuh sekaligus pengawalnya, juga dikagumi orang karena di samping cantik jelita dan bersikap agung pendiam, juga semua orang kagum bahwa wanita cantik ini mampu menundukkan seorang yang telah demikian terkenal sebagai seorang panglima yang pandai ilmu silat seperti Panglima Boan yang membantu pemberontakan atau pengkhianatan Pangeran Ceng Su Liat itu.

Akan tetapi, peristiwa di dalam kamar kaisar itu membuat penyakit yang diderita kaisar menjadi makin berat. Perbuatan puteranya sendiri yang hampir saja membunuh pangeran mahkota dan dia sendiri, mendatangkan kedukaan yang sangat hebat sehingga sesudah menderita serangan jantung berkali-kali, akhirnya sebulan kemudian Kaisar Ceng Tung meninggal dunia!

Seluruh istana berkabung, bahkan seluruh rakyat diharuskan untuk berkabung. Sesudah ikut hadir dalam pemakaman kaisar dan turut pula berkabung, Han Houw yang merasa kehilangan ayah kandungnya kemudian merasa bahwa tidak ada perlunya lagi baginya untuk lebih lama tinggal di istana Kerajaan Beng.

Juga suci-nya membujuk kepadanya untuk segera berpamit dan kembali ke utara, karena suci-nya selalu merasa tidak enak hati bila teringat akan ancaman orang-orang kang-ouw kepadanya, seperti yang telah terjadi sebelum mereka memasuki istana, yaitu pada saat mereka bertemu dengan tokoh-tokoh Hwa-i Kaipang.

Han Houw lalu menghadap Pangeran Ceng Hwa untuk mohon diri pulang ke utara. akan tetapi Pangeran Ceng Hwa menahannya. Pangeran ini merasa suka sekali kepada Han Houw, yang biar pun hanya seorang pangeran kelahiran utara, di daerah setengah liar itu, tapi ternyata tak mengecewakan menjadi seorang Pangeran Beng, karena selain pandai ilmu silat, juga pangeran muda ini cukup luas pengetahuannya yang didapatkannya dari kitab-kitab yang dia pelajari di utara. Pangeran Ceng Hwa menahan Han Houw agar suka tinggal di kota raja hingga hari penobatannya sebagai kaisar pengganti ayah mereka yang telah meninggal dunia.

"Sebaiknya biar Kim Hong Liu-nio kembali lebih dulu ke utara untuk memberi laporan dan menyampaikan undangan kami kepada Raja Sabutal untuk menghadiri hari penobatan kami sebagai kaisar." demikian Pangeran Ceng Hwa berkata.

Akhirnya diputuskan bahwa Kim Hong Liu-nio akan kembali dulu ke utara dan Ceng Han Houw untuk sementara tinggal di istana. Kim Hong Liu-nio tidak merasa keberatan karena keamanan sute-nya itu tentu saja akan terjamin selama berada di dalam istana Kerajaan Beng. Maka berpamitlah dia dan berangkatlah wanita perkasa yang cantik jelita itu keluar dari istana, di mana dia telah hidup terhormat sampai lebih dari satu bulan lamanya…..

********************

Kita tinggalkan dulu keadaan Ceng Han Houw yang masih tinggal di istana, dan Kim Hong Liu-nio yang melakukan perjalanan kembali ke utara, dan mari kita menengok keadaan Sin Liong untuk memperlancar jalannya cerita.

Seperti kita ketahui, Sin Liong kini tinggal di rumah Na-piauwsu, yaitu Na Ceng Han yang gagah perkasa dan ramah sekali itu. Pada waktu itu, tanpa terasa lagi, Sin Liong sudah hampir satu tahun tinggal di dalam rumah keluarga Na. Setiap hari dia berlatih ilmu silat dari Na Ceng Han, bersama-sama dengan Na Tiong Pek dan Bhe Bi Cu. Dia bersahabat akrab sekali dengan dua orang yang disebut sumoi dan suheng itu. Usia Sin Liong kini sudah empat belas tahun, sebaya dengan Tiong Pek, sedangkan Bi Cu telah berusia dua belas tahun.

Bi Cu memang manis sekali. Biar pun usianya baru dua belas tahun, namun jelas nampak sudah bahwa dia merupakan seorang dara yang sangat manis. Dan Sin Liong juga dapat melihat betapa Tiong Pek selalu bersikap manis kepada Bi Cu, agak berlebihan malah, membuktikan bahwa pemuda tanggung itu agaknya amat menyukai dan mencinta sumoi mereka! Bahkan kadang kala nampak Tiong Pek bermanis-manis muka, membujuk rayu, sehingga kalau melihat hal ini, Sin Liong cepat menjauhkan diri karena dia merasa malu sendiri.

Diakuinya bahwa Tiong Pek amat ramah dan baik, akan tetapi dia melihat bahwa sikap Tiong Pek kepada Bi Cu agaknya terlalu mendesak dan selalu mencoba untuk mengambil hati anak perempuan itu. Dan dia melihat betapa Bi Cu selalu bersikap hormat dan manis kepada Tiong Pek, bahkan demikianlah sikap Bi Cu kepada seisi rumah keluarga Na. Hal ini dapat dimengerti oleh Sin Liong karena tentu dara kecil itu merasa betapa dia adalah seorang yang menumpang hidup di dalam rumah keluarga Na!

Diam-diam Sin Liong merasa kasihan kepada anak perempuan ini karena merasa betapa mereka berdua mempunyai nasib yang hampir mirip. Memang benar bahwa dia tidak seperti Bi Cu, hanya ditinggal mati ibu dan masih mempunyai seorang ayah, akan tetapi dia tidak tahu di mana ayahnya berada dan selamanya belum pernah bertemu dengan ayahnya, sehingga dibandingkan dengan Bi Cu yang kematian ayahnya, agaknya tidaklah begitu banyak bedanya.

Pada suatu hari, Sin Liong yang sudah selesai melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah itu, ingin sekali berlatih silat dan dia lalu mencari-cari dua orang suheng dan sumoi-nya itu. Rumah itu nampak kosong karena keluarga wanita sibuk di belakang, di dapur, ada pun Na-piauwsu sedang pergi ke luar kota untuk mengawal sendiri barang kiriman yang penting. Maka rumah itu kelihatan sunyi.

Sin Liong merasa heran kenapa suheng dan sumoi-nya itu tidak nampak. Padahal, tadi mereka masih kelihatan di ruangan depan. Dia tidak berani memanggil-manggil, karena takut menimbulkan bising dan mengganggu seorang bibi keluarga yang tidur di kamarnya karena bibi tua ini sedang tidak enak badan. Maka dia terus mencari dan akhirnya dia pergi mencari ke kamar Bi Cu.

Ketika dia tiba di luar kamar itu, dia mendengar sesuatu di dalam kamar. Dia mendekati pintu kamar dan mendengarkan.

"Jangan... suheng...," terdengar Bi Cu berkata lirih sambil menahan tangis.

"Sumoi, mengapa engkau tidak mau bersikap manis kepadaku? Kurang baik apakah aku kepadamu? Kurang banyakkah budi yang dilimpahkan oleh kami sekeluarga kepadamu?"

Terdengar Bi Cu terisak. "Aku berterima kasih... uh-uhhh... aku berterima kasih kepada kalian... tapi... tapi..."

"Aku tak akan mengganggumu, aku tak ingin menyakitimu, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku suka sekali kepadamu, sumoi..."

Sin Liong tidak dapat menahan lagi ketegangan hatinya dan dia mendorong pintu kamar itu dengan keras. Dia melihat Tiong Pek sedang memegangi kedua tangan Bi Cu dan hendak memaksa untuk merangkul dara cilik itu, sedangkan Bi Cu terlihat menolak halus. Mereka bersitegang sampai Bi Cu jatuh berlutut di atas lantai dan Tiong Pek berusaha untuk mendekatkan mukanya, untuk mencium wajah yang manis akan tetapi agak pucat ketakutan itu.

"Tiong Pek!" Sin Liong membentak dan mencengkeram baju pundak Tiong Pek sambil menariknya ke belakang.

Memang Sin Liong tidak pernah menyebut suheng dan sumoi kepada Tiong Pek dan Bi Cu, karena memang dia tidak dianggap sebagai murid oleh Na Ceng Han, sungguh pun dia dilatih ilmu silat dan dia selalu berlatih bersama dengan dua orang anak itu. Mereka bertiga itu seperti teman-teman baik, bukan seperti kakak beradik seperguruan.

Tiong Pek terkejut sekali dan segera menengok dengan alis berkerut. Dia melepaskan kedua lengan tangan Bi Cu yang tadi dipegangnya, kemudian dia menggerakkan tangan kanannya menangkis ke belakang.

"Dukkk!"

Tangan itu menyampok tangan Sin Liong yang mencengkeram baju pundaknya sehingga terlepas dan bajunya robek. Tiong Pek meloncat bangun dan berdiri dengan muka merah menandakan bahwa dia marah bukan main. Akan tetapi Sin Liong juga sudah menentang pandang matanya dengan bengis.

"Sin Liong!" Tiong Pek berseru marah sekali. "Engkau berani lancang mencampuri urusan orang lain? Sungguh tidak tahu malu engkau hendak menghalangi cinta orang? Apakah engkau merasa iri hati?"

Diserang dengan kata-kata seperti itu, tiba-tiba saja muka Sin Liong menjadi merah dan dia menjadi bingung. "Akan tetapi kau... kau..." Sukar baginya untuk melanjutkan karena hatinya masih menilai-nilai apakah artinya perbuatan yang dilakukan Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi.

"Aku cinta kepada Bi Cu sumoi, kau mau apa? Aku siap untuk bertanding melawan siapa pun juga untuk memperebutkan sumoi! Hayo, apakah kau hendak memperebutkan sumoi dengan aku?" Pemuda tanggung itu mengepal tinju dan siap untuk berkelahi!

Sin Liong menjadi semakin bingung. Kalau tadi dia bersikap kasar terhadap Tiong Pek adalah akibat dia melihat seolah-olah Tiong Pek hendak melakukan pemaksaan terhadap Bi Cu, akan tetapi sekarang dia menjadi bingung ketika ditantang dan ditanya apakah dia hendak memperebutkan Bi Cu dengan pemuda itu!

"Ahh, siapa yang akan memperebutkan siapa?" katanya masih bingung.

Akan tetapi dia dapat menekan dan menenangkan perasaannya, lalu memandang kepada Tiong Pek dengan sikap lebih tenang, sungguh pun kemarahannya belum mereda karena dia melihat Bi Cu sekarang berdiri dengan kepala menunduk dan masih kadang-kadang menahan isak.

"Tiong Pek, Bi Cu bukanlah sebuah benda yang boleh diperebutkan oleh siapa pun juga. Dalam hal rasa suka... hal itu Bi Cu berhak menentukan sendiri, jangan kau memaksa-maksanya seperti itu."

"Bi Cu juga cinta kepadaku! Kau mau apa?" Tiong Pek yang masih marah itu menyerang lagi dengan kata-katanya yang penuh tantangan.

Dia memang marah bukan main karena merasa terganggu. Kalau Sin Liong tidak datang mengganggu, tentu dia sudah berhasil mencium Bi Cu, suatu hal yang sudah sering kali direnungkan dan diimpikan itu!

Mendengar ucapan ini, Sin Liong memandang kepada Bi Cu penuh keraguan. Benarkah itu? Kalau Bi Cu benar mencinta Tiong Pek, mengapa tadi bersikap seperti menentang? Dan apa gerangan yang hendak dilakukah oleh Tiong Pek terhadap Bi Cu tadi? Sin Liong sudah berusia empat belas tahun, atau hampir, akan tetapi dia belum tahu benar tentang cinta kasih antara pria dengan wanita. Melihat Bi Cu menunduk dan kini mukanya tidak sepucat tadi, bahkan menjadi agak kemerahan, dia lalu melangkah menghampiri.

"Bi Cu, apakah Tiong Pek... ehh, hendak berlaku jahat kepadamu?" Dia tidak tahu bagai mana harus menanyakan urusan tadi.

Bi Cu mengangkat muka dan ketika dia bertemu pandang dengan Sin Liong, dia cepat menunduk kembali, jari-jemari tangannya bermain dengan ujung rambutnya yang panjang terurai, lalu kepalanya digelengkannya sebagai jawaban pertanyaan Sin Liong tadi.

"Dan kau... kau... cinta kepada Tiong Pek?"

Muka Bi Cu menjadi merah sekali dan kepalanya makin menunduk. Sekali ini dia sama sekali tidak mau menjawab.

"Bagaimana, Bi Cu? Jawablah, apakah benar kau cinta kepada Tiong Pek?" Sin Liong mendesak.

Dara cilik itu mengangkat muka dengan gugup, memandang kepada Sin Liong sebentar, lalu memandang kepada Tiong Pek, dan menunduk kembali tanpa menjawab, hanya ada dua titik air matanya yang turun mengalir di sepanjang kedua pipinya yang merah.

Melihat ini, kembali timbul rasa kasihan di dalam hati Sin Liong dan teringatlah dia akan percakapan yang didengarnya tadi. Dia kembali menghadapi Tiong Pek kemudian berkata dengan alis berkerut,

"Tiong Pek, sungguh tidak patut sekali kalau engkau hendak mempergunakan kekerasan. Apakah engkau ingin menjadi penjahat hina? Aku tadi mendengar engkau membujuk dan juga melihat engkau menggunakan kekerasan. Engkau menonjolkan jasa-jasa serta budi keluargamu yang kau limpahkan kepada Bi Cu. Apakah itu kebaikan namanya kalau kau tonjolkan dan kalau engkau minta imbalan dari pertolongan yang kalian berikan kepada Bi Cu?"

"Sin Liong, kau ini siapa berani bermulut selancang ini?" Tiong Pek marah sekali dan dia segera menerjang dengan pukulan ke arah mulut Sin Liong. Akan tetapi Sin Liong cepat mengelak dan ketika Tiong Pek menerjang lagi, dia menangkis kemudian bersiap untuk melawan.

Akan tetapi, sambil menangis Bi Cu cepat melerai dengan melompat ke tengah-tengah antara mereka, "Jangan berkelahi... ahh, harap jangan berkelahi...!"

Tentu saja Sin Liong cepat meloncat mundur, dan Tiong Pek juga tidak mendesak setelah melihat Bi Cu menangis sambil melerai itu. Kedua orang pemuda tanggung itu sekarang memandang kepada Bi Cu yang menangis sesenggukan di tengah-tengah antara mereka, menutupi muka dengan kedua tangannya. Mereka berdua menjadi bingung.

"Sumoi, jangan menangis, sumoi. Maafkanlah kalau aku bersalah...," akhirnya terdengar Tiong Pek berkata halus. "Aku tadi hanya ingin menciummu... jahatkah perbuatan itu... padahal aku hanya ingin membuktikan cintaku...?"

Mendengar kata-kata itu, diam-diam Sin Liong menjadi jengah sekaligus terheran-heran bagaimana Tiong Pek berani bicara terang-terangan seperti itu!

Bi Cu menahan isaknya dan tangisnya agar mereda, kemudian terdengarlah kata-katanya lirih di antara isaknya, "Aku tidak tahu... aku tidak tahu apa itu cinta! Aku... aku suka kepada suheng karena suheng baik sekali, dan seluruh keluarga suheng baik kepadaku, menganggap aku seperti keluarga sendiri. Aku telah berhutang budi besar sekali kepada suheng sekeluarga, akan tetapi... aku tidak tahu tentang cinta, dan aku tidak tahu... jahat atau tidak di... dicium, akan tetapi aku takut sekali..."

Diam-diam Sin Liong tersenyum. Biar pun usia mereka berdua ini sebaya dengan dia, Bi Cu berusia dua belas tahun dan Tiong Pek empat belas tahun, namun mereka berdua ini seperti anak-anak yang masih kecil saja! Anak-anak kecil yang ingin masuk ke permainan orang-orang dewasa!

"Tiong Pek, apa bila engkau tahu bahwa Bi Cu takut, kenapa kau hendak memaksanya? Kalau engkau memang kasihan dan suka kepadanya, tidak mungkin engkau main paksa membikin dia takut dan menangis..."

Tiong Pek menarik napas panjang, kini dia melihat bahwa dia telah benar-benar membuat Bi Cu berduka, takut dan malu. Seakan-akan baru sekarang dia merasa sadar, sesudah gairah aneh yang membuat seluruh tubuhnya panas, membuat dia ingin sekali mencium Bi Cu itu kini mendingin dan lenyap. Baru dia tahu bahwa dia memang bersalah.

"Maafkan aku, Bi Cu. Kau benar, Sin Liong, aku memang layak dipukul karena aku telah membikin sumoi ketakutan dan menangis. Sumoi, sekali lagi, kau maafkanlah aku."

Bi Cu menghapus air matanya. Kini barulah dia dapat memandang suheng-nya itu dengan senyum yang tampak mulai berkembang mengusir kedukaannya. "Tidak kenapa, suheng, kita lupakan saja hal tadi."

"Seorang yang dapat menyadari kesalahannya sendiri barulah patut disebut orang gagah, Tiong Pek," kata Sin Liong.

"Ahh, benarkah itu?" Tiong Pek berkata girang, sekarang wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar penuh kenakalan.

"Akan tetapi jangan hal itu membuat engkau keenakan dan setiap kali ingin menjadi orang gagah lalu melakukan kesalahan lebih dulu untuk kemudian disadari!" sambung Sin Liong. Tiong Pek tertawa, Bi Cu juga tertawa dan mereka berdamai kembali. Lenyaplah semua dendam dan kemarahan.

"Eh, kalau kalian berdua benar-benar sudah memaafkan aku, harus kalian buktikan dulu!" tiba-tiba Tiong Pek berkata.

"Buktikan bagaimana?" Sin Liong menuntut dan memandang tajam. Jangan-jangan bocah nakal ini minta bukti aneh-aneh, seperti cium dari Bi Cu misalnya! Kalau begitu dia tentu tidak akan ragu-ragu untuk menjotosnya!

"Buktinya adalah bahwa kalian tak akan mengatakan sesuatu tentang urusan tadi kepada ayah."

"Kau tahu bahwa aku tidak akan berkata apa-apa kepada paman, suheng," kata Bi Cu cepat.

"Akan tetapi aku hanya mau berjanji tidak akan menyampaikan kepada paman Na asal engkau pun berjanji tidak akan mengulangi perbuatan sesat tadi!" kata Sin Liong.

"Sesat? Ahhh, memang salah akan tetapi jangan namakan itu sesat, Sin Liong. Baiklah, dengarkan kalian. Aku berjanji tidak akan mencoba untuk mencium Bi Cu kecuali kalau memang sumoi Bi Cu mau kucium!"

Tentu saja mendengar janji yang seperti itu, seketika wajah Bi Cu kembali menjadi merah sekali.

"Dasar engkau setan!" Sin Liong menegur sambil tertawa dan Tiong Pek juga tertawa. Bi Cu terpaksa ikut pula tertawa dan ketiga orang anak itu kemudian memasuki lian-bu-thia (ruangan berlatih sliat) di mana mereka berlatih silat dengan tekunnya…..

********************

Wanita cantik itu melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara. Para penjaga di pintu gerbang itu segera berdiri dengan sikap menghormat ketika wanita itu berjalan keluar dari pintu gerbang. Bahkan komandan jaga yang bertubuh tinggi besar itu memberi hormat dan berkata,

"Selamat jalan, lihiap!"

Wanita itu bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio. Semenjak terjadi peristiwa pemberontakan di dalam istana yang bermaksud membunuh pangeran mahkota dan kaisar, dan usaha jahat itu digagalkan oleh Kim Hong Liu-nio dan Ceng Han Houw, maka wanita ini menjadi seorang tokoh yang terkenal di kota raja, terutama di lingkungan istana dan di antara para pengawal. Oleh karena itu, ketika dia keluar dari pintu gerbang, semua penjaga memberi hormat, bahkan komandan jaga menghaturkan selamat jalan.

Seperti kita ketahui, Kim Hong Liu-nio terpaksa berangkat pulang ke utara seorang diri saja, meninggalkan sute-nya di istana karena Pangeran Mahkota Ceng Hwa, calon kaisar, atau juga saudara tiri dari Han Houw, menahan pemuda tanggung itu untuk tidak lebih dahulu meninggalkan istana sampai hari penobatannya sebagai kaisar. Maka Kim Hong Liu-nio pulang seorang diri untuk melaporkan semua peristiwa yang dialami oleh sute-nya itu kepada Raja Sabutai dan Permaisuri Khamila, dan di samping itu juga menyampaikan undangan pangeran mahkota kepada Raja Sabutai untuk menghadiri hari penobatannya sebagai kaisar pengganti ayahnya.

Hati Kim Hong Liu-nio lega karena sute-nya itu berada dalam keadaan aman, maka dia melakukan perjalanan cepat sekali, tak mempedulikan orang-orang yang memandangnya dengan heran. Siapa orangnya tidak akan terheran-heran melihat seorang wanita cantik berjalan sedemikian cepatnya seperti terbang saja? Sebentar saja dia sudah keluar dari pintu gerbang itu diikuti oleh pandang mata semua penjaga sampai bayangannya lenyap.

Akan tetapi ketika dia tiba di padang rumput di sebelah utara pintu gerbang utara kota raja itu, tiba-tiba saja dia memandang ke depan dengan alis berkerut karena jauh di depannya dia melihat banyak orang sedang berdiri menghadangnya dan dari jauh saja dapat dilihat pakaian mereka yang berkembang-kembang dan tangan mereka yang memegang tongkat dengan punggung memanggul buntalan-buntalan kuning. Orang-orang Hwa-i Kaipang!

Setelah agak dekat Kim Hong Liu-nio melihat bahwa di antara mereka terdapat beberapa orang yang memanggul buntalan sedikit saja. Ada dua orang yang memanggul tiga buah buntalan kuning, bahkan ada seorang yang memanggul dua buntalan saja, berarti bahwa di antara mereka itu ada dua orang tokoh Hwa-i Kaipang tingkat tiga dan bahkan ada seorang tokoh tingkat dua!

Jantung Kim Hong Liu-nio berdebar tegang. Dia maklum bahwa yang menghadangnya adalah tokoh-tokoh Hwa-i Kaipang tingkat tinggi! Dan selain tiga orang tokoh yang tinggi tingkatnya itu, dia melihat tokoh-tokoh tingkat empat dan lima yang jumlahnya ada tujuh belas orang!

Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio adalah murid terkasih dari Hek-hiat Mo-li, dan dia sama sekali tidak pernah mengenal arti takut. Dengan sikap tenang penuh kewaspadaan dia berjalan terus dengan cepat tanpa mengurangi pengerahan ginkang-nya, maka sebentar saja dia sudah berhadapan dengan belasan orang yang sengaja menghadang memenuhi jalan itu. Terpaksa Kim Hong Liu-nio berhenti dan memandang mereka dengan sinar mata mengejek, tak mempedulikan pandang mata belasan orang itu yang ditujukan kepadanya dengan penuh kemarahan.

Yang menjadi perhatian Kim Hong Liu-nio adalah tiga orang kakek di depan itu, yaitu dua orang tokoh tingkat tiga dan seorang yang bertingkat dua, karena dia tidak memandang sebelah mata kepada mereka yang bertingkat empat dan lima.

"Perlahan dulu, nona!" kata pengemis baju kembang yang memanggul dua buah buntalan kuning di punggungnya.

Pengemis ini usianya tentu mendekati enam puluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti cecak mati saking kurusnya sehingga tubuh yang tingginya biasa saja itu kelihatan lebih jangkung. Pakaiannya sederhana akan tetapi bersih dan berpakaian tambal-tambalan dari kain-kain berkembang dan berwarna itu nampak lucu karena banyak merahnya, mungkin menjadi tanda bahwa pemakainya memang mempunyai kesukaan akan warna merah.

"Hemmm, kulihat kalian ini tentulah tokoh-tokoh Hwa-i Kaipang," jawab Kim Hong Liu-nio sambil mengerling ke arah tiga orang kakek pengemis yang pernah dikalahkannya tempo hari, yaitu mereka yang bertingkat lima. "Apakah orang-orang Hwa-i Kaipang yang sangat tersohor itu kini sudah berubah menjadi segerombolan perampok yang suka menghadang orang lewat di jalan raya?"

Kakek kurus kering itu tersenyum lebar. Biar pun dia marah sekali, akan tetapi kakek ini dapat menguasai kemarahannya dan menghadapi wanita yang dia dengar sangat lihai itu dengan tenang. "Andai kata kami menjadi perampok sekali pun, kami tak akan merampok nyawa orang yang tidak berdosa seperti yang telah kau lakukan pada seorang pengemis she Tio di kota Huai-lai."

Kim Hong Liu-nio sudah tahu mengapa para pengemis itu menghadangnya, maka dengan jujur dan penuh keberanian dia berkata, "Memang aku telah membunuh pengemis she Tio itu."

Mendengar jawaban yang berani itu, para pengemis kelihatan makin marah dan terdengar mereka ramai-ramai mengeluarkan suara sehingga keadaan menjadi bising. Akan tetapi Kim Hong Liu-nio sama sekali tidak mempedulikan mereka.

"Kenapa?" bentak tokoh kedua Hwa-i Kaipang. Kakek ini memiliki julukan Lo-thian Sin-kai (Pengemis Sakti Pengacau Langit). "Setiap orang akan merasa kasihan kepada seorang pengemis yang hidup serba kekurangan, akan tetapi mengapa engkau malah membunuh pengemis tidak berdosa itu?"

"Karena dia she Tio! Baik dia pengemis mau pun seorang raja, karena dia she Tio, maka berjumpa dengan aku dia harus mati! Dia yang she Tio atau yang she Cia dan yang she Yap!" kata Kim Hong Liu-nio dan tahu-tahu dia telah mengeluarkan papan kayu sallb yang bertuliskan nama keluarga Tio, Yap, dan Cia itu.

"Apa?!" Lo-thian Sin-kai terbelalak. "Kau hendak membunuh semua orang yang memiliki tiga macam she itu? Jadi engkau membunuh pengemis she Tio itu tanpa ada permusuhan pribadi sama sekali?"

"Kenal pun tidak aku kepadanya, hanya aku mendengar dia she Tio maka dia harus mati."

"Iblis betina keji!" Terdengar bentakan marah.

Dua orang tokoh Hwa-i Kaipang tingkat tiga yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, agaknya sudah tidak mampu menahan kemarahan mereka dan kini mereka berdua sudah menerjang maju, menggerakkan tongkat mereka dari kanan dan kiri menyerang Kim Hong Liu-nio. Yang memaki itu adalah kakek pengemis yang punggungnya agak bongkok.

"Hutang nyawa bayar nyawa!" bentak kakek pengemis kedua yang mukanya hitam sekali, agaknya hitam karena bekas penyakit karena melihat leher serta tangannya, sebetulnya dia berkulit putih.

Kakek bongkok dan kakek muka hitam ini berusia kurang lebih lima puluhan tahun dan mereka merupakan tokoh-tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kaipang, maka tentu saja mereka mempunyai kepandaian silat yang tinggi. Yang punggungnya bongkok itu terkenal dengan julukan Tiat-ciang Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Besi), sedangkan yang bermuka hitam berjuluk Hek-bin Mo-kai (Pengemis Iblis Muka Hitam). Mereka berdua pun maklum betapa lihainya wanita itu karena sudah mendengar dari tiga orang pengemis tingkat lima, maka mereka maju berbareng dan serentak telah menyerang dengan senjata tongkat mereka.

Melihat cara menyambarnya tongkat-tongkat itu, maklumlah Kim Hong Liu-nio bahwa dia menghadapi lawan yang cukup tangguh dan cepat dia menggerakkan tubuhnya mengelak ke belakang. Dua sinar hitam dari tongkat itu menyambar dahsyat di dekat tubuhnya.

"Wuuut…! Wuuutt…!"

Sebelum menyentuh tanah, ujung-ujung tongkat itu telah ditahan oleh para pemegangnya dan kelihatan ujung tongkat itu menggetar hebat.

"Wiirrrrrrr…!"

Ujung tongkat sampai mengeluarkan suara saking kerasnya sambaran itu dan kini ditahan oleh dua orang kakek pengemis itu. Kemudian tongkat itu menyambar lagi dan Kim Hong Liu-nio sudah didesak dan dihujani serangan bertubi-tubi yang kesemuanya mengandung tenaga kuat sekali.

"Hemm, kalian mencari penyakit!" bentak wanita itu.

Begitu dua tangannya bergerak, tampak sinar merah yang panjang bergulung-gulung dan ternyata wanita ini dengan tenang namun cepat bukan main sudah menggerakkan sabuk merahnya dan sambil mengelak dia telah balas menyerang!

"Wirrrrr... syuuuuttt...!”

“Plakkk!"

Sabuk merah itu hebat bukan main, menyambar dahsyat menyilaukan mata dan hampir saja leher Hek-bin Mo-kai kena totok. Untung dia dapat menangkis dengan cepat dan kini tongkatnya terlibat ujung sabuk merah yang bergerak seperti ular itu. Pada saat Hek-bin Mo-kai bersitegang untuk melepaskan tongkat dari libatan sabuk, Tiat-ciang Sin-kai sudah menghantamkan tongkatnya dari samping ke arah kepala wanita itu.

"Cringgg...!"

Tiat-ciang Sin-kai terkejut bukan main. Tongkatnya yang menghantam kepala itu ditangkis oleh lengan kecil halus yang bergelang kerincing. Tapi anehnya, lengan kecil dan gelang-gelang emas kecil itu tidak saja mampu menangkis tongkatnya, malah dia sendiri sampai terhuyung ke belakang saking kuatnya tangkisan itu! Dengan marah dia cepat mengatur keseimbangan tubuhnya lantas menubruk lagi, kini tongkatnya menusuk ke arah lambung dari sebelah kanan wanita itu.

Pada saat itu, ujung sabuk merah masih melibat ujung tongkat di tangan Hek-bin Mo-kai dan agaknya Kim Hong Liu-nio tidak akan dapat menghindarkan diri dari tusukan tongkat kakek pengemis bongkok. Akan tetapi tiba-tiba Kim Hong Liu-nio mengeluarkan bentakan nyaring dan bentakan ini disusul teriakan keras Hek-bin Mo-kai yang tak dapat menguasai tongkatnya lagi. Bagai ditarik tenaga gajah, tongkatnya yang terlibat itu terbetot sehingga dia tidak mampu mempertahankan ketika tongkatnya itu bergerak ke kiri.

"Takkkkk...!"

Keras bukan main pertemuan antara tongkat Hek-bin Mo-kai itu yang menangkis tongkat Tiat-ciang Sin-kai yang menusuk tadi sehingga keduanya merasa betapa telapak tangan mereka nyeri dan senjata mereka itu hampir saja terlepas dari tangan. Keduanya memang memiliki tenaga yang seimbang dan tadi mereka sudah mempergunakan seluruh tenaga, yang seorang ingin menarik kembali tongkatnya ada pun yang ke dua sedang menyerang.

"Wuuuttt...!" Baru saja kedua tongkat itu bertemu tiba-tiba sinar merah menyambar dan tahu-tahu ujung sabuk telah melibat kedua batang tongkat itu dengan eratnya!

"Iblis jahat...!" Tiat-ciang Sin-kai berseru marah dan dia menerjang maju dengan tangan kanannya, mengirim pukulan yang sangat dahsyat. Kakek bongkok ini berjuluk Tiat-ciang (Si Tangan Besi) maka tentu saja dia memiliki tangan gemblengan yang amat hebat, kuat seperti besi dan ketika dia melancarkan pukulan itu tangannya berubah agak kehitaman!

Akan tetapi, melihat datangnya pukulan itu, Kim Hong Liu-nio sama sekali tak mengelak, bahkan dia segera mengangkat tangan kirinya menerima pukulan itu dengan tangkisan, gerakannya seenaknya saja seolah-olah dia tidak tahu bahwa pukulan itu adalah pukulan ampuh, bukan sembarang pukulan. Melihat ini, giranglah kakek pengemis bongkok itu. Remuk tulang tanganmu sekarang, pikirnya girang, dan dia mengerahkan seluruh tenaga Tiat-ciang-kang ke dalam tangannya itu.

"Dessss...!"

Hebat sekali pertemuan ke dua tangan itu kemudian terdengar Tiat-ciang Sin-kai berteriak kesakitan dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Dia melepaskan tongkatnya yang masih terlibat menjadi satu dengan tongkat Hek-bin Mo-kai dan pada saat yang sama, Kim Hong Liu-nio membetot sabuknya dengan kuat dan ketika Hek-bin Mo-kai mempertahankan, dia tiba-tiba melepaskan libatan sabuknya sehingga si muka hitam ini pun terhuyung seperti temannya!

Tiat-ciang Sin-kai menyeringai karena tangan kanannya terasa nyeri bukan main, seperti patah-patah rasa tulang-tulang tangannya. Dia tidak tahu bahwa wanita cantik itu tadi telah melindungi tangannya yang kecil berkulit halus itu dengan sarung tangannya yang istimewa, yaitu sarung tangan halus dengan warna sama dengan kulitnya. Sarung tangan ini dapat dipakai untuk menyambut senjata tajam, apa lagi hanya pukulan tangan kosong, biar pun tangan itu sama kerasnya dengan besi!

"Wanita kejam, engkau boleh juga!" Tiba-tiba saja terdengar bentakan halus dan si kakek kurus kering, Lo-thian Sin-kai, tokoh tingkat dua dari Hwa-i Kaipang, telah menerjang dan menyerang Kim Hong Liu-nio dengan tongkatnya.

Terdengar suara berdesir-desir dan kini tongkat yang digerakkan secara istimewa itu telah membentuk lingkaran-lingkaran yang lima buah banyaknya. Itulah Ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat yang sangat hebat! Lima lingkaran sinar tongkat itu bergerak-gerak, lantas dari setiap lingkaran menyambar-nyambar ujung tongkat yang mengeluarkan suara berdesing tanda bahwa tongkat yang terlihat seperti kayu itu ternyata menyembunyikan benda logam keras di dalamnya dan tenaga yang dipergunakan untuk menggerakkan tongkat itu amat kuatnya!

"Hemm! Kalian benar-benar hendak memusuhi aku? Majulah!" bentak Kim Hong Liu-nio. Dia sama sekali tidak merasa jeri menghadapi ilmu tongkat lawan ini, bahkan dia merasa gembira sekali.

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang suka sekali akan ilmu silat. Sudah banyak dia mengumpulkan dan mempelajari ilmu-ilmu silat dari semua aliran yang ada di dunia persilatan, dan kalau bertemu dengan suatu ilmu baru yang belum dikenalnya, dia merasa gembira sekali dan ingin mengenal serta mempelajarinya. Maka, begitu dia melihat ilmu tongkat dari kakek pengemis kurus kering ini, dia melihat ilmu tongkat yang sangat hebat sehingga timbul pula kegembiraannya dan dia cepat menghadapi ilmu tongkat itu dengan kedua tangan kosong sambil mainkan sabuk merahnya.

Sekarang terjadilah pertandingan yang amat hebat. Tongkat yang dimainkan oleh Lo-thian Sin-kai memang luar biasa sekali. Ujung tongkat itu nampak menjadi lima buah sehingga seakan-akan kakek kurus itu memainkan lima batang tongkat, dan setiap ujung tongkat membentuk lingkaran-lingkaran yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Sedangkan Kim Hong Liu-nio juga memutar sabuk merahnya sehingga nampak gulungan cahaya merah yang sangat indah dan kuat menyelimuti dirinya yang menghalau setiap sambaran tongkat. Kadang-kadang wanita perkasa ini mempergunakan tangannya untuk menangkis tongkat sebab tangannya telah terlindung oleh sarung tangan mukjijat itu, dan kadang kala dia membalas dengan serangan kilat, menggunakan ujung sabuknya untuk menotok ke arah jalan darah di tubuh lawan yang berbahaya.

Diam-diam kakek pengemis itu terkejut bukan main. Ketika dia mendengar bahwa tiga orang murid keponakannya, tokoh-tokoh tingkat lima dari Hwa-i Kaipang dikalahkan oleh seorang wanita cantik yang sudah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, dia menyangka bahwa wanita itu adalah seorang wanita kang-ouw yang memiliki kepandaian lumayan saja. Akan tetapi pada waktu tadi dia melihat dua orang pengemis tingkat tiga dikalahkan, dia merasa penasaran. Dan kini dia terkejut setelah memperoleh kenyataan betapa lihainya wanita ini.

Selama lima puluh jurus, nampaknya pengemis tua kurus itu dapat mendesak wanita itu, buktinya, Kim Hong Liu-nio lebih banyak menghindari serangan atau menangkis dari pada membalas. Karena mengira bahwa jagoan mereka akan menang, maka para pengemis itu hanya menonton saja, mengharapkan dalam waktu singkat wanita itu akan dirobohkan.

Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Kim Hong Liu-nio memang sengaja membiarkan dirinya diserang dan dia hanya mempertahankan diri sebab dia memang ingin memancing keluar semua jurus ilmu tongkat yang menarik hatinya itu. Walau pun dia tidak mungkin dapat menguasai atau menghafal semua gerakan yang dilihatnya dalam pertandingan itu, namun setidaknya dia dapat mengenal ilmu ini dan dapat mengingat semua intinya yang penting.

Setelah lewat lima puluh jurus, dia merasa cukup menonton ilmu tongkat orang, maka kini dia mengeluarkan lengking panjang yang sangat nyaring, kemudian tubuhnya berkelebat cepat dan terjadilah perubahan hebat dalam pertandingan itu!

"Wiirrrr... plak-plakk!"

"Ahhhh...!" Lo-thian Sin-kai berseru kaget.

Hampir saja ubun-ubun kepalanya kena disambar oleh ujung sabuk yang disusul dengan tamparan tangan kilat ke arah ulu hatinya. Untunglah dia masih sempat mengelak lantas menangkis berkali-kali. Dia dapat selamat dari ancaman maut akan tetapi dia terhuyung ke belakang dan pada saat itu Kim Hong Liu-nio menerjang maju dan menghujani kakek itu dengan serangan-serangan dahsyat!

Baru sekarang tahulah kakek kurus itu bahwa tadi lawannya belum bersungguh-sungguh, dan baru sekarang mengeluarkan serangan-serangannya yang dahsyat sehingga repotlah dia memutar tongkatnya untuk membentuk benteng pertahanan yang melindungi dirinya dari ancaman maut.

Semua pengemis amat terkejut melihat perubahan ini. Jagoan mereka terdesak hebat dan mundur terus. Melihat hal ini, Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai berteriak keras dan mereka sudah maju membantu jagoan mereka itu dengan memutar tongkat. Gerakan ini diikuti pula oleh semua pengemis yang sudah mengepung Kim Hong Liu-nio dan mulailah terjadi pengeroyokan yang ketat.

Akan tetapi wanita itu tidak menjadi jeri dan sabuk merahnya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, bukan hanya untuk menahan semua tongkat yang menyambar dari sekelilingnya, akan tetapi juga untuk membagi-bagi totokan. Dalam beberapa jurus saja dia sudah merobohkan tiga orang pengemis tingkat lima.

Akan tetapi karena dia tak ingin menanam permusuhan yang hebat dengan perkumpulan pengemis yang amat besar dan berpengaruh ini, Kim Hong Liu-nio tidak mau membunuh orang, hanya merobohkan mereka dengan totokan-totokan pada bagian jalan darah yang tidak mematikan untuk membikin mereka tidak dapat mengeroyoknya lagi.

Betapa pun juga, Kim Hong Liu-nio mulai terdesak hebat. Para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi, terutama sekali desakan dari Lo-thian Sin-kai yang dibantu Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, sangatlah berbahaya baginya sehingga Kim Hong Liu-nio sudah mengambil keputusan untuk kabur dan melarikan diri saja. Akan tetapi pengemis itu agaknya maklum akan niatnya ini, karena itu pengepungan dilakukan makin rapat, gerakan tongkat-tongkat mereka menutup semua jalan keluar.

Pada saat itu terdengarlah derap kaki kuda dari depan dan tak lama kemudian muncullah seorang penunggang kuda. Dia adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang perkasa, berpakaian sangat indahnya, pakaian seorang panglima pengawal Kim-i-wi yang mentereng, dengan bajunya yang disulam benang emas, kepalanya yang memakal topi berhiaskan bulu burung dewata, dengan tanda pangkatnya di dada kiri yang berkilauan.

Melihat wanita cantik itu dikepung oleh para pengemis, panglima itu cepat melompat turun dari pelana kudanya, lantas sambil mengangkat kedua tangan ke atas dia berteriak-teriak, "Tahan senjata...! Hentikan perkelahian...! Para tokoh Hwa-i Kaipang, dengarkan dahulu penjelasanku!"

Lo-thian Sin-kai menoleh dan ketika mengenal panglima itu adalah Lee Siang, Panglima Kim-i-wi yang gagah dan telah dikenalnya, dia lalu meloncat mundur dan berteriak kepada para temannya untuk menahan senjata.

Kim Hong Liu-nio juga mengenal panglima itu, ialah panglima pengawal yang pertama kali menerimanya di istana, bahkan yang mengawalnya sampai menghadap kaisar. Maka dia segera menahan gerakannya dan menyimpan kembali sabuk merahnya, lalu mengusap sedikit peluh di dahinya dengan sapu tangan.

Wajahnya menjadi merah pada saat dia bertemu pandang dengan panglima yang gagah perkasa itu. Semenjak pertemuannya yang pertama dengan Panglima Lee Siang ini, dia memang sudah amat tertarik dan diam-diam dia mengakui bahwa panglima ini merupakan seorang pria gagah yang pertama kali menarik hatinya dan membuatnya merasa kagum.

"Locianpwe Lo-thian Sin-kai, harap locianpwe serta sahabat-sahabat dari Hwa-i Kaipang mengetahui bahwa lihiap Kim Hong Liu-nio ini bukan seorang musuh, sebaliknya malah, dia adalah seorang pendekar wanita yang telah berjasa, sudah menyelamatkan mendiang sri baginda kaisar dan pangeran mahkota."

Lo-thian Sin-kai tentu saja tidak akan memandang kepada Panglima Lee Siang kalau saja tidak mengingat bahwa pria ini adalah seorang panglima pasukan pengawal Kim-i-wi yang amat kuat! Tentu saja akan merupakan bunuh diri bagi perkumpulan Hwa-i Kaipang kalau berani menentang seorang panglima Kim-i-wi seperti panglima gagah ini. Karena itu dia pun menjura dan berkata dengan suara halus, "Harap Lee-ciangkun mengetahui bahwa wanita ini sudah membunuh seorang di antara anak buah kami sehingga terpaksa kami menuntut balas."

Lee Siang terkejut. Dia sudah mendengar akan kesetia kawanan para pengemis, dan dia tahu pula bahwa Hwa-i Kaipang adalah perkumpulan pengemis yang paling berpengaruh di daerah kota raja dan mempunyai anggota yang ribuan orang banyaknya. Dia menoleh kepada Kim Hong Liu-nio dengan pandang mata bertanya.

Kim Hong Liu-nio tersenyum kepada panglima yang amat dikaguminya itu, "Lee-ciangkun, harap jangan percaya omongan mereka ini. Benar bahwa aku telah membunuh seorang pengemis she Tio di Huai-lai, akan tetapi pengemis itu kukira bukanlah anggota Hwa-i Kaipang karena sama sekali tidak memakai pakaian berkembang. Pula, aku membunuh dia sama sekali bukan karena dia pengemis, bukan pula karena dia ada sangkut pautnya dengan Hwa-i Kaipang atau kaipang dari mana pun juga, namun karena urusan pribadi ying tidak ada sangkut pautnya dengan jagoan-jagoan tukang keroyok dari Hwa-i Kaipang ini."

Kata-kata itu sekaligus merupakan tamparan kepada para tokoh Hwa-i Kaipang sehingga Lo-thian Sin-kai menjadi merah mukanya. Memang memalukan sekali orang-orang seperti mereka ini terpaksa mengeroyok seorang wanita dan masih dibantu oleh belasan orang anak buah mereka lagi!

Lee Siang merasakan ketegangan yang timbul dari sikap kedua belah fihak, maka untuk melenyapkan ketegangan itu dia tertawa. "Nah, para locianpwe serta sahabat dari Hwa-i Kaipang telah mendengar penjelasan lihiap Kim Hong Liu-nio bahwa sekali-kali lihiap tidak memusuhi Hwa-i Kaipang dan kejadian ini hanya timbul karena salah sangka belaka. Kini, mengingat bahwa lihiap ini merupakan sahabat pangeran mahkota, bahkan telah berjasa besar, maka aku percaya bahwa Hwa-i Kaipang suka menghabiskan perkara ini dan tidak menimbulkan keributan yang hanya akan mengacaukan keadaan!" jelas bahwa di dalam ucapan itu terkandung ancaman bagi Hwa-i Kaipang dan panglima itu berdiri tegak penuh wibawa!

Lo-thian Sin-kai menarik napas panjang. "Biarlah sekali ini kami anggap bahwa Kim Hong Liu-nio tidak bermaksud menghina Hwa-i Kaipang. Kawan-kawan, hayo kita pergi!" Kakek ini lalu menjura kepada panglima itu. "Lee-ciangkun, maafkan kami dan terima kasih atas peringatanmu."

Para pengemis itu segera pergi dari situ meninggalkan Kim Hong Liu-nio yang kini berdiri saling berhadapan dengan Lee Siang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner