PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-24


Begitu tubuhnya ditangkap dan dibawa lari seperti terbang, Sin Liong memandang dan tahulah dia bahwa dia terjatuh ke dalam tangan musuh lamanya! Tadi pada waktu Kim Hong Liu-nio membunuh tiga orang penyerbu rumah keluarga Na, dia pun telah mengenal wanita itu dan saking heran dan terkejutnya dia sampai tidak mampu berkata apa-apa.

Kini, melihat dirinya ditawan, dia tidak berusaha meronta karena dia pun tahu bahwa dia telah tertotok dan tidak akan mampu membebaskan diri dari cengkeraman wanita yang amat lihai ini. Akan tetapi, sekali ini Sin Liong tidak menjadi marah, bahkan diam-diam dia berterima kasih kepada wanita ini.

Dia tahu bahwa tanpa adanya wanita aneh ini, tentu Tiong Pek dan Bi Cu sudah tewas, juga dia sendiri. Wanita aneh ini telah menyelamatkan nyawa mereka bertiga, maka kalau sekarang menawannya bahkan hendak membunuhnya sekali pun, dia tidak akan merasa penasaran!

Cepat bukan kepalang larinya Kim Hong Liu-nio dan dia membawa Sin Liong ke sebuah puncak pegunungan yang tandus dan kering, sunyi bagaikan kuburan. Setelah tiba di atas puncak yang sangat sunyi dan panas, Kim Hong Liu-nio melemparkan tubuh Sin Liong ke atas tanah.

Sin Liong rebah terlentang tanpa mampu bergerak dan ketika wanita itu menotoknya dan membebaskan dirinya, dia pun bangkit duduk dan memandang kepada wanita itu dengan mulut tersenyum dan mata berseri, lalu dia mengelus-elus bagian tubuhnya yang terasa nyeri karena luka-luka bekas pukulan lawan dalam perkelahian tadi.

Melihat anak itu tersenyum kepadanya, Kim Hong Liu-nio mengerutkan alisnya. Senyum anak itu demikian terbuka dan sekiranya dia tidak begitu benci terhadap anak ini sebagai putera musuh besarnya, tentu dia tidak ingin mencelakai seorang anak laki-laki seperti ini. Dan sepasang matanya demikian tajam.

"Uhh...!" Kim Hong Liu-nio mengusap peluh di dahinya dan diam-diam dia memaki dirinya sendiri mengapa tiba-tiba saja dia merasa begitu lemah.

Dia tidak tahu bahwa setelah dia menjadi korban asmara, setelah dia jatuh cinta terjadi perubahan dalam dirinya dan dia sebenarnya mendambakan kehidupan yang damai dan tenteram, jauh dari kekerasan, penuh dengan cinta kasih dan kebahagiaan. Ada sesuatu yang mendorong hatinya untuk hidup akur dan damai dengan siapa pun juga, mengajak senyum dan bergembira kepada siapa pun juga.

"Kenapa kau pringas-pringis seperti itu?" bentaknya marah.

Senyum di bibir Sin Liong melebar. "Bibi yang baik, engkau telah menyelamatkan nyawa Tiong Pek dan terutama Bi Cu, karena itu aku merasa girang sekali dan berterima kasih kepadamu. Ternyata engkau bukanlah iblis betina seperti yang selama ini kukira, akan tetapi orang yang gagah perkasa dan baik, yang kadang-kadang berpura-pura jahat dan kejam."

"Hemm, apa maksudmu? Siapa itu Tiong Pek dan Bi Cu?" bentak Kim Hong Liu-nio.

"Tiong Pek dan Bi Cu adalah dua orang anak yang telah kau selamatkan nyawanya tadi, bibi yang baik..."

"Aku bukan bibimu!" bentak wanita itu marah.

"Tentu saja bukan, akan tetapi... ahh, agaknya engkau tidak suka kusebut bibi? Baiklah, kusebut kau enci juga boleh!"

"Huh, kau anak ceriwis!" bentaknya lagi dan Sin Liong ini diam saja.

Sampai lama mereka berdua tidak berkata-kata, dan wanita itu duduk di atas batu besar, matanya memandang jauh seperti orang melamun. Sin Liong juga memandang ke sana sini. Keadaan amat sunyi dan tiba-tiba Sin Liong melihat betapa tempat itu penuh dengan burung-burung gagak. Ada yang beterbangan di atas dan ada pula yang hinggap di atas pohon, di atas batu-batu. Bulu mereka yang hitam itu mengkilap tertimpa sinar matahari pagi. Hari itu masih belum siang benar, akan tetapi panas matahari telah menyengat. Dia ternyata telah dilarikan selama semalam suntuk oleh wanita itu, wanita yang luar biasa.

"Luar biasa...!" tanpa disadarinya, kata-kata ini keluar dari mulutnya.

Ucapan itu agaknya menyadarkan Kim Hong Liu-nio dari lamunannya. Dia sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia banyak melamun. Dia terkejut dan menoleh.

"Apa katamu?!" bentaknya.

Sin Liong juga terkejut karena dia sendiri tidak sadar bahwa jalan pikirannya keluar dari mulutnya. "Ehh, apa...? Oh, aku hanya ingin tahu apa yang akan kau lakukan terhadapku, enci? Mengapa kau mengajak aku ke tempat yang sunyi ini?"

Mendadak terdengar bunyi burung gagak. Seekor berbunyi, yang lain lalu menjawab dan mereka berkaok-kaok saling bersahutan. Sin Liong merasa seram. Memang bunyi burung gagak selalu menimbulkan rasa seram dalam hatinya, mengingatkan dia akan kematian.

Kematian? Ibunya sudah mati! Ibu kandungnya sudah mati dibunuh oleh wanita ini! Dan tiba-tiba saja Sin Liong meloncat dengan penuh kemarahan, langsung saja dia menyerang Kim Hong Liu-nio dengan jurus ilmu silat yang selama ini dipelajarinya dari Na Ceng Han!

Pada waktu Sin Liong menyerang, wanita itu masih duduk di atas batu dan dia hanya memandang saja ketika Sin Liong menyerangnya. Sesudah anak itu tiba dekat, kaki Kim Hong Liu-nio baru bergerak.

"Bukkkk!" Tubuh Sin Liong terlempar dan terbanting dengan keras sekali.

Sin Liong memang sudah menderita luka-luka, dan tubuhnya masih lelah dan sakit-sakit, maka bantingan itu membuat dia seketika merasa pening. Akan tetapi dia sudah bangkit lagi, kemudian dengan hati terbakar kemarahan karena mengingat betapa wanita ini telah membunuh ibu kandungnya yang tercinta, dia menerjang lagi dengan nekat.

"Iblis betina, kau telah membunuh ibuku!" bentaknya.

Sekali ini, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangannya menotok.

"Brukkk!" untuk kedua kalinya tubuh Sin Liong roboh, bahkan sekali ini dia tidak mampu bergerak lagi.

"Aku memang telah membunuh ibumu, dan aku akan segera membunuh ayahmu juga!" Kim Hong Liu-nio menghardik, kini kebenciannya timbul karena dia pun seperti Sin Liong sudah teringat bahwa anak ini adalah putera dari musuh besarnya.

Walau pun tubuhnya sudah lumpuh tak mampu bergerak, namun Sin Liong masih dapat bicara. Dengan suara mengejek dia berkata, "Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya menghina yang lemah. Jika kau bertemu dengan ayah kandungku, dalam sepuluh jurus saja engkau tentu akan mampus!"

Sin Liong memang sengaja mengeluarkan kata-kata ini untuk mengejek dan menghina, satu-satunya hal yang mampu dilakukannya untuk melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya. Akan tetapi ucapan itu diterima girang oleh Kim Hong Liu-nio.

"Ah, jadi ayahmu berada di sini? Lekas katakan, di mana dia? Kalau kau memberi tahu di mana adanya Cia Bun How, aku akan mengampuni nyawamu!"

Sin Liong adalah seorang anak yang luar biasa sekali. Wataknya amat keras dan dia tak pernah mengenal takut. Kalau orang bersikap baik dan halus kepadanya, maka dia akan menjadi lunak dan tunduk. Akan tetapi kalau ada orang bersikap keras kepadanya, meski dia diancam maut, biar dia disiksa, dia tidak akan sudi tunduk. Maka, mendengar ucapan itu, matanya yang bersinar tajam itu memandang dengan mendelik, sementara mulutnya tersenyum mengejek.

"Aku tidak sudi mengatakannya!" Padahal, tentu saja dia sendiri pun tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya itu. Akan tetapi dia memang sengaja ingin membikin panas hati wanita pembunuh ibunya ini.

Dan memang Kim Hong Liu-nio menjadi marah sekali. Kini dia yakin bahwa anak itu tentu tahu di mana adanya Cia Bun Houw, dan dia telah mengambil keputusan untuk memaksa anak ini memberi tahu di mana adanya musuh besarnya itu.

"Katakan di mana adanya Cia Bun Houw!" kembali dia membentak sambil mencengkeram tengkuk Sin Liong.

"Tidak sudi!" anak itu balas membentak.

"Hemm, kau agaknya ingin kusiksa sampai setengah mati!"

"Huh, apa artinya siksaanmu? Dahulu pun kau meracuni tubuhku, dan aku tidak takut!"

Ucapan ini mengingatkan Kim Hong Liu-nio, maka cepat dia memeriksa tubuh anak itu, meraba pergelangan tangannya dan dadanya. Mata wanita itu terbelalak heran. Anak itu sudah bebas sama sekali dari Hui-tok-san!

"Siapa yang mengobatimu? Ayahmu itu?"

Sin Liong yang diangkat ke atas sehingga mukanya berdekatan dengan muka wanita itu, tersenyum mengejek. "Kau tidak akan dapat mengetahui!"

"Bressss…!" Kim Hong Liu-nio langsung membanting sehingga untuk ketiga kalinya tubuh Sin Liong terbanting ke atas tanah.

"Hayo katakan, di mana ayahmu itu! Di mana Cia Bun Houw!" kembali dia berteriak-teriak penuh kemarahan.

Sin Liong merasa kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit tanpa dia mampu bergerak. Akan tetapi nyalinya tidak pernah berkurang besarnya. Dia memandang wanita itu lantas berkata, "Hemmm, kau ternyata lebih curang dari pada seekor ular, lebih ganas dari pada seekor srigala dan lebih jahat dari pada ketua Jeng-hwa-pang atau iblis sekali pun!"

"Hayo katakan di mana ayahmu!"

"Tidak sudi! Kau mau apa?"

"Keparat, hendak kulihat apakah engkau masih tetap akan membandel!" Dengan marah Kim Hong Liu-nio, menyambar tubuh Sin Liong, yang dibawanya kepada sebatang pohon dan dia menggunakan akar pohon untuk mengikatnya pada batang pohon itu, diikat dari kaki sampai ke leher. Sesudah itu, dia lalu membebaskan totokan di tubuh anak itu agar Sin Liong merasakan sepenuhnya siksaan itu.

"Kau mau bunuh sekali pun jangan harap aku akan sudi mengaku kepada orang jahat macam engkau!" Sin Liong memanaskan hati wanita itu.

"Aku tidak akan membunuhmu. Kau lihat burung-burung itu? Nah, merekalah yang akan membunuhmu perlahan-lahan, mencabik-cabik dagingmu sekerat demi sekerat. Aku tidak akan pergi jauh, dan kalau kau berteriak memanggilku apa bila engkau sudah mengubah sikap kepala batumu itu, tentu aku akan mendengarmu!"

Setelah berkata demikian, Kim Hong Liu-nio tersenyum, senyum yang manis sekali, akan tetapi senyum yang membuat Sin Liong bergidik karena anak ini sudah mulai mengenal musuhnya yang dapat melakukan hal yang teramat keji. Dengan sekali berkelebat saja, wanita itu sudah lenyap dari situ, meninggalkan Sin Liong terikat di batang pohon dengan muka menghadap ke matahari yang sudah mulai naik agak tinggi dan sinarnya yang terik itu sepenuhnya menimpa muka dan tubuh Sin Liong.

"Gaooookkk...!"

Seekor burung gagak hitam melayang turun dan hinggap di atas batu di mana tadi Kim Hong Liu-nio duduk. Burung itu memandang ke arah Sin Liong, kepalanya dimiringkan ke kanan kiri seperti hendak memandang lebih teliti atau mendengarkan sesuatu. Tidak lama kemudian nampak bayangan hitam menyambar turun dari atas dan seekor burung gagak lain telah hinggap di atas tanah, di depan Sin Liong.

Anak itu memandang tajam, heran melihat burung-burung itu berani mendekatinya dan dia belum mengerti apa maksudnya Kim Hong Liu-nio meninggalkannya terikat di situ. Dia tidak tahu bahwa burung-burung ini adalah burung-burung pemakan bangkai yang sudah kelaparan karena sudah lama tidak makan, dan betapa mereka itu sudah tidak sabar menanti adanya bangkai yang boleh mereka makan.

Agaknya burung-burung lain tertarik oleh dua ekor burung yang berkaok-kaok di dekat Sin Liong itu karena kini banyak burung melayang turun dan mengurung tempat di mana Sin Liong diikat pada batang pohon itu. Sin Liong masih belum tahu akan datangnya bahaya mengerikan mengancamnya, bahkan dia memandang tanpa bergerak-gerak.

Inilah salahnya! Kalau saja dia bergerak atau mengeluarkan suara, tentu burung-burung itu akan menjadi takut.

Tiba-tiba seekor burung gagak terbang dan hinggap di atas pundak kiri Sin Liong. Anak ini barulah merasa terkejut, apa lagi karena kuku-kuku jari kaki burung yang mencengkeram pundaknya itu menembus baju melukai kulitnya.

"Hehhhhh....!" Dia membentak dan burung itu terbang dengan kaget, akan tetapi segera hinggap di atas tanah karena melihat anak itu tidak dapat bergerak.

Keringat dingin mulai membasahi dahi dan leher Sin Liong. Kini dia memandang dengan kedua mata terbelalak kepada burung-burung yang bergerak-gerak di depannya dan bagi pandang matanya, burung-burung itu seperti sudah berubah menjadi iblis-iblis hitam yang menakutkan.

Kembali ada dua ekor burung terbang atau meloncat dan mereka ini menerkam. Sin Liong membentak lagi dan dua ekor burung itu terbang turun, hanya untuk mengulang kembali perbuatan mereka. Sin Liong membentak-bentak lagi, akan tetapi dua ekor burung yang hinggap di pundak dan lengannya tidak mau pergi, bahkan sekarang dua ekor burung itu mulai mematuk-matuk ke arah mata Sin Liong!

Anak itu terkejut dan merasa ngeri, cepat dia memejamkan mata, akan tetapi tak mampu mengelak karena lehernya tercekik kalau dia menggerakkan kepalanya. Dia mendengus-dengus dan agaknya suaranya inilah yang membuat kedua ekor burung itu meragu dan tidak mematuknya, hanya sayap mereka yang bergerak-gerak dan mengibas-ngibas, ada pun paruh mereka itu mengeluarkan bunyi berkaok yang terdengar nyaring sekali di dekat telinga Sin Liong!

Sin Liong sama sekali tidak berani membuka mata dan hanya mendengus-dengus sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan kiri untuk mengusir burung-burung itu. Namun dua ekor burung gagak itu tidak mau pergi, sungguh pun mereka juga belum menyerang sebab mereka masih meragu dan agaknya hendak menanti hingga calon mangsa mereka itu sama sekali tidak mampu bergerak.

Sin Liong merasa ngeri bukan main. Baru sekarang dia merasakan kengerian yang seolah mencekiknya, lebih mengerikan dari pada ketika dia dilempar ke dalam sumur ular oleh ketua Jeng-hwa-pang. Hampir saja dia berteriak minta tolong, akan tetapi bila dia teringat pada wanita yang membunuh ibunya itu, dia tidak jadi berteriak bahkan dia mengatupkan mulutnya dan mengambil keputusan untuk tidak sudi berteriak sampai mati. Lebih baik mati dicabik-cabik burung-burung ini dari pada dia berteriak, mengaku kalah dan tunduk kepada iblis betina itu, demikian tekad hatinya.

Matahari naik makin tinggi. Sinarnya makin panas dan hampir Sin Liong tidak kuat untuk menahannya lagi. Anak ini merasa bahwa kalau sampai dia pingsan dan tidak bergerak, tentu burung-burung ini akan menyerangnya. Karena itu, biar pun panasnya membuat dia hampir tidak kuat bertahan, kepalanya pening dan matanya yang dipejamkan itu melihat warna merah, lehernya laksana dicekik oleh kehausan, namun dia mempertahankan diri sekuatnya. Dia merasa tubuhnya kering sama sekali, diperas habis airnya yang menguap menjadi peluh.

Dari jauh Kim Hong Liu-nio mengintai. Wanita ini merasa kagum bukan kepalang. Kembali timbul rasa sayangnya kepada anak itu di balik kebenciannya. Anak itu benar-benar hebat sekali! Selama ini, hanya kepada sute-nya sajalah dia kagum dan menganggap sute-nya seorang anak laki-laki yang paling hebat.

Akan tetapi, melihat sikap Sin Liong, dia benar-benar merasa heran dan kagum dan harus mengakui bahwa anak itu benar-benar luar biasa, lebih hebat dari pada sute-nya. Akan tetapi, rasa sayang ini diusirnya dengan ingatan bahwa anak itu adalah putera Cia Bun Houw, musuhnya yang terbesar.

"Gaoookkkkk...!" Kembali burung yang hinggap di pundak kanan anak itu mengeluarkan bunyi tak sabar lagi.

Kim Hong Liu-nio melihat betapa burung itu menggerakkan paruhnya, mematuk ke arah mata kanan yang terpejam itu. Akan tetapi, pada saat itu pula ada debu mengebul dari sebelah kanan anak itu dan ketika dia memandang, ternyata tiga ekor burung yang tadi hinggap pada kedua pundak dan lengan, kini telah jatuh dan mati di dekat kaki Sin Liong yang masih memejamkan matanya!

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main, dan cepat-cepat dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia meloncat dan berlari ke tempat itu. Juga Sin Liong yang merasa betapa di pundaknya tidak ada lagi burung yang mencengkeramnya, membuka mata dan terheranlah dia melihat bangkai tiga ekor burung di lekat kakinya.

Akan tetapi pandang matanya langsung berkunang karena ketika dia membuka mata, dia melihat wanita itu datang berlari-lari. Habislah harapannya dan dia memejamkan matanya kembali. Akan tetapi, Sin Liong terkejut dan merasa heran ketika mendengar suara Kim Hong Liu-nio membentak marah.

"Iblis dari mana yang berani bermain gila dengan Kim Hong Liu-nio?"

Mendengar ini Sin Liong cepat membuka matanya. Dengan menggoyangkan kepala dia mengusir kepeningannya serta bintang-bintang yang menari-nari di depan matanya itu. Akhirnya dia melihat seorang kakek tua berjalan perlahan menuju ke tempat itu.

Seperti juga Kim Hong Liu-nio, Sin Liong membuka matanya lebar-lebar dan memandang kakek yang mendatangi itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Sin Liong masih tidak tahu bagaimana burung-burung itu mati secara aneh. Tadinya dia menyangka bahwa Kim Hong Liu-nio yang membunuh binatang-binatang rakus itu, akan tetapi melihat munculnya kakek ini, dia meragu dan hatinya tertarik sekali.

Sebaliknya, Kim Hong Liu-nio juga memandang penuh selidik dan hatinya menduga-duga. Benarkah kakek ini yang membunuhi tiga ekor burung gagak secara aneh itu? Dia masih belum tahu bagaimana burung-burung itu mati.

Melihat adanya debu mengebul, tentu orang telah menggunakan pukulan jarak jauh. Akan tetapi, burung-burung itu hinggap di tubuh Sin Liong dan memukul mati burung-burung itu dengan hawa pukulan jarak jauh tanpa mengenai anak itu sendiri, sungguh merupakan ilmu yang luar biasa. Dia masih meragu dan memandang tajam penuh selidik.

Kakek itu sudah tua sekali, paling sedikitnya tentu sudah tujuh puluh lima tahun usianya. Rambutnya yang halus dan terpelihara rapi dan bersih, sudah putih semua dan digelung ke atas dengan rapi, diikat dengan kain kuning yang bersih. Pakaiannya sederhana sekali, seperti pakaian petani, akan tetapi pakaiannya juga bersih.

Wajah itu dihias kumis dan jenggot yang halus dan sudah putih pula. Namun, wajah kakek ini masih kelihatan sehat dan segar kemerahan, keriput di pipinya hampir tidak kelihatan. Wajah manis budi dan sabar, akan tetapi cahaya matanya membayangkan wibawa dan kekerasan hati seorang pendekar! Kakek ini berpakaian polos, agaknya tidak membawa senjata apa pun.

Setelah tiba di tempat itu, kakek yang mendatangi dengan langkah ringan dan perlahan, sejenak memandang kepada Sin Liong, kemudian dia menoleh dan memandang kepada wanita cantik itu. Kim Hong Liu-nio merasa betapa jantungnya berdebar tegang ketika melihat sepasang mata tua itu menyambar ke arahnya dengan ketajaman pandang yang menyeramkan. Lalu terdengar suara kakek itu, halus dan lembut akan tetapi mengandung teguran dan wibawa.

"Mengganggu orang yang tidak mampu melawan merupakan perbuatan yang pengecut, apa lagi bila menyiksa seorang bocah yang tak dapat melawan, itu merupakan perbuatan keji. Bagaimanakah seorang wanita muda dan cantik seperti engkau ini dapat melakukan perbuatan keji dan pengecut?"

Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi dan dia tidak pernah mengenal takut. Biar pun dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang yang pandai, akan tetapi tentu saja dia sama sekali tidak merasa jeri dan kini mendengar kakek itu mencelanya, tentu saja dia menjadi marah sekali.

"Kakek yang lancang tangan dan lancang mulut! Apakah orang setua engkau ini masih belum tahu bahwa mencampuri urusan orang lain adalah perbuatan hina yang tidak akan dilakukan oleh seorang kang-ouw?"

"Menyelamatkan siapa pun dari perbuatan keji bukanlah berarti mencampuri urusan orang lain, melainkan sudah menjadi tugas setiap manusia yang waras. Bahkan andai kata anak yang akan kau siksa ini adalah anak kandungmu sekali pun, pasti aku akan turun tangan menyelamatkannya dan mencegah perbuatanmu yang keji itu."

Tentu saja Kim Hong Liu-nio menjadi semakin marah. Pertama karena kakek itu barusan mengatakan anak itu anak kandungnya! Padahal dia adalah seorang perawan. Dan ke dua, dengan terang-terangan kakek itu menyatakan akan menentangnya!

"Tua bangka yang bosan hidup!" bentaknya marah, mulutnya tersenyum, tanda bahwa kemarahannya telah mencapai puncaknya dan dia sudah siap untuk membunuh. Dengan tenang dia lalu mengenakan sarung tangannya.

"Apakah engkau belum mendengar siapa aku? Tentu engkau tidak mengenal Kim Hong Liu-nio maka engkau berani bersikap seperti ini."

"Hemmm, tentu saja aku tahu siapa engkau. Engkau adalah seorang wanita yang sudah berhasil mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi akan tetapi gurumu adalah seorang yang jahat sehingga tidak mendidik batinmu. Ilmu tinggi yang jatuh ke tangan seorang yang kejam, hanya akan mendatangkan bencana di dunia ini."

"Keparat, terimalah ini!" Kim Hong Liu-nio yang sudah marah itu tak dapat bertahan lagi dan sudah mencelat ke depan dengan kecepatan kilat dan melakukan serangan pukulan dengan kedua tangannya.

Pukulan maut yang datangnya sangat cepat sambil mengeluarkan suara angin bercuitan mengerikan. Karena menduga bahwa lawannya lihai, begitu menyerang Kim Hong Liu-nio telah mengerahkan sinkang-nya sehingga pukulan itu merupakan pukulan maut yang sulit dilawan!

Akan tetapi kakek itu malah membalikkan tubuhnya, kemudian dengan kedua tangannya dia membuka ikatan tangan yang membelenggu Sin Liong! Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menahan pukulannya dan alisnya berkerut. Demikian hebatkah kakek ini sehingga tidak memandang sebelah mata terhadap serangannya?

Ketika dia melihat bahwa kakek ini sudah membebaskan ikatan Sin Liong yang segera jatuh terduduk dengan lemas dan anak itu menggosok-gosok kedua pergelangan tangan dan terengah-engah, Kim Hong Liu-nio membentak keras dan sekarang dia benar-benar menyerang ke arah kakek itu dengan pukulan maut yang mengarah pelipis dan ulu hati kakek itu.

Diam-diam kakek itu tersenyum. Ternyata dugaannya tadi sudah keliru. Wanita ini tidak memiliki watak curang, buktinya serangan pertama tadi ditundanya pada saat dia sedang membuka ikatan anak itu. Akan tetapi dugaannya bahwa wanita ini memiliki ilmu tinggi adalah benar karena melihat serangan itu saja tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar lihai sekali. Untuk mencoba kekuatan wanita itu, maka dia sengaja menggerakkan kedua tangannya menangkis. Dua kali dua pasang tangan bertemu.

"Dukkk! Plakkk!"

Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main. Tubuhnya lantas terdorong mundur oleh tangkisan-tangkisan itu! Pada lain fihak, kakek itu semakin kagum karena ternyata bahwa serangan wanita ini mampu membuat kedua lengannya tergetar!

Maklum bahwa dia kalah kuat dalam hal sinkang oleh kakek aneh yang tak dikenalnya ini, Kim Hong Liu-nio menjadi penasaran dan marah. Dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tiba-tiba tubuhnya sudah menerjang dengan gerakan cepat bukan main yang membuat dia seperti lenyap berubah menjadi bayang-bayang yang luar biasa cepatnya. Kaki tangannya menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuh berbahaya dari kakek itu, setiap serangan merupakan serangan maut!

Sementara itu, kakek yang ternyata amat luar biasa kepandaiannya itu, dengan alis putih berkerut memperhatikan gerakan lawan dan diam-diam dia pun merasa terheran-heran karena dia tidak mengenal ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu. Padahal, dia hampir mengenal semua dasar ilmu silat tinggi dari seluruh partai-partai besar! Akan tetapi, dia pun selalu mengimbangi kecepatan wanita itu dan selalu dapat menghindarkan diri atau menangkis.

Kembali Kim Hong Liu-nio terkejut bukan kepalang. Kakek petani ini ternyata amat hebat! Bukan saja sanggup menandingi sinkang-nya, bahkan tidak terdesak oleh ginkang-nya! Diam-diam dia lalu mencabut tiga batang hio dan dengan kuku jari tangannya menyentik batu api, maka muncratlah batu api membakar ujung tiga batang hio itu.

Hio-hio ini sebetulnya dia sediakan untuk membunuh musuh-musuh gurunya, seperti yang telah dilakukannya kepada beberapa orang yang sudah berhasil dibunuhnya. Akan tetapi menghadapi seorang lawan tangguh seperti kakek ini, dia akan mempergunakannya juga karena senjata hio itu merupakan senjata istimewa pula.

Kakek itu hanya memandang sambil mengelak ke sana-sini pada waktu wanita itu sambil menyerang mengeluarkan dan menyalakan tiga batang hio. Dia tidak tahu apa artinya dan tertarik sekali, menduga bahwa agaknya wanita ini adalah seorang ahli ilmu hitam yang hendak mempergunakan ilmu sihirnya. Dia tidak takut, melainkan tertarik sekali dan ingin melihat bagaimana wanita itu hendak menggunakan sihir atas dirinya!

Akan tetapi, tiba-tiba saja wanita itu mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan kakek itu melihat sinar-sinar keemasan kecil menyambar ke arah tiga jalan darah pada tubuhnya! Tahulah dia bahwa hio-hio menyala itu sama sekali bukan dipergunakan untuk main sulap atau sihir, melainkan untuk dipergunakan sebagai senjata rahasia yang menyerangnya!

Kakek itu mengeluarkan seruan panjang, tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat ke atas dan ketika dia melayang turun kembali, tiga batang hio menyala itu sudah disambarnya dan berada di tangannya. Sekali dia melempar, tiga batang hio itu menancap di atas tanah dan asapnya bergulung-gulung kecil ke atas!

Kim Hong Liu-nio terkejut, juga semakin penasaran dan marah. Tiba-tiba dia bergerak, tubuhnya didahului oleh sinar merah dan ternyata wanita ini telah menyerang lagi dengan menggunakan sabuk merahnya. Dengan gerakan seperti seekor ular hidup, ujung sabuk merah itu secara bertubi sudah menotok ke arah tujuh jalan darah kematian di sebelah depan tubuh kakek itu!

"Hemm, sungguh keji...!" kakek itu mencela dan cepat dia menggunakan telapak kanan untuk menangkap ujung sabuk merah.

Akan tetapi, begitu melihat lawan hendak menangkap ujung sabuknya, Kim Hong Liu-nio menggerakkan tangan dan kini ujung sabuk itu meluncur dan menotok ke arah telapak tangan itu secara langsung, untuk menotok jalan darah antara ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang terbuka itu.

Akan tetapi, kakek itu agaknya tidak tahu akan serangan ini dan tetap saja membuka tangan hendak menangkap ujung sabuk itu. Kim Hong Liu-nio menjadi girang sekali dan menambah tenaganya ketika ujung sabuk bertemu dengan telapak tangan lawan.

"Plakkk...!" Ujung sabuk itu tepat mengenai telapak tangan dan melekat di situ.

Tiba-tiba wajah cantik itu berubah pucat, matanya terbelalak lebar memandang kepada kakek itu ketika Kim Hong Liu-nio merasa betapa tenaga sinkang-nya memberobot keluar dari tangannya yang ujungnya menempel pada telapak tangan kakek itu.

"Thi-khi I-beng...!" Dia berteriak kaget lantas membuat gerakan tiba-tiba menarik sabuk merahnya.

"Pratttt...!" Sabuk merah itu terputus di tengah-tengah!

"Ahhh...!" Kakek itu berseru kagum sekali.

Kim Hong Liu-nio masih memandang terbelalak. Dia mengenal Thi-khi I-beng seperti yang pernah diceritakan oleh subo-nya. Thi-khi I-beng adalah ilmu yang aneh, sesuai dengan namanya yang memiliki arti Curi Hawa Pindahkan Nyawa, ilmu itu dapat menyedot hawa sinkang lawan sampai habis! Untung dia sudah mempelajari ilmu untuk melepaskan diri dari sedotan Thi-khi I-beng yang ampuh itu!

"Siapakah engkau...?" Kim Hong Liu-nio bertanya, suaranya membayangkan kejerian hati menghadapi kakek yang hebat itu.

Kakek itu melemparkan sabuk merah yang putus itu ke atas tanah. Ia pun menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih dan seperti orang membaca sajak, "Namaku tidak lebih terkenal dibandingkan sebatang pedang, akan tetapi pedangku adalah pedang kayu yang tidak keras, juga tidak berbau darah kering melainkan harum semerbak. Ah, sampai terpaksa aku mempergunakan Thi-khi I-beng, menandakan bahwa kepandaianmu hebat sekali, nona."

Kim Hong Liu-nio makin terkejut dan hatinya makin gentar. Dalam kata-kata perkenalan dari kakek itu terkandung kata-kata pedang kayu dan harum. Pedang Kayu Harum, Siang-bhok-kiam! Dia cepat membuat gerakan membungkuk.

"Sudah kuduga...," bisiknya, "kiranya... maafkan saya..." Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Kim Hong Liu-nio membalikkan tubuhnya dan melarikan diri dengan cepat seperti terbang.

"Nona, tunggu dulu...!" Kakek itu berseru, akan tetapi Kim Hong Liu-nio menjawab tanpa menoleh.

"Lain kali kita akan saling bertemu berjumpa kembali!"

Cia Keng Hong, atau ketua dari Cin-ling-pai, pendekar sakti yang amat terkenal dengan pedang kayu harumnya itu, memandang dan tidak mengejar. Dia merasa kagum sekali karena setelah puluhan tahun tidak bertemu lawan, baru sekarang dia bertemu tanding seorang wanita yang masih muda akan tetapi juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan dia tidak mengenal dasar ilmu silat yang dimainkan oleh wanita itu!

Para pembaca dari cerita Siang-bhok-kiam, lalu cerita Petualangan Asmara, dan Dewi Maut, tentu tidak asing lagi dengan pendekar sakti Cia Keng Hong ini. Dia adalah seorang pendekar sakti yang namanya sangat terkenal di kalangan kang-ouw, sebagai ketua dari Cin-ling-pai di Pegunungan Cin-ling-san, di mana dia hidup dengan isterinya yang tercinta seorang bekas pendekar wanita yang lihai pula.

Di dalam cerita Dewi Maut telah diceritakan betapa Cia Keng Hong telah meninggalkan keramaian dunia kang-ouw dan dia yang sudah tua hidup tentram di puncak Pegunungan Cin-ling-san sampai cerita ini terjadi. Pada waktu sekarang, Cia Keng Hong, dalam usia yang sudah tujuh puluh tahun lebih, pendekar sakti ini merasa betapa hidupnya penuh dengan duka.

Isterinya, satu-satunya manusia di dunia ini yang paling dicintanya, telah meninggal dunia dua tahun yang lalu, meninggal dunia dalam usia yang sudah cukup tinggi, kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi sayangnya meninggal dalam keadaan duka pula karena kematiannya tidak ditunggui oleh puteranya yang terkasih, yaitu Cia Bun Houw.

Diam-diam di dalam hati pendekar sakti ini timbul penyesalan besar. Dia tidak dapat menyalahkan Bun Houw yang sampai sepuluh tahun lebih lamanya belum pernah pulang itu. Dia sendirilah yang menyebabkannya. Dia yang seolah-olah mengusir puteranya itu karena puteranya itu nekat hendak hidup sebagai suami isteri bersama Yap In Hong, adik dari pendekar Yap Kun Liong. Dia melarang dan tidak setuju, akan tetapi Bun Houw nekat sehingga puteranya itu lalu pergi bersama In Hong dan sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya.

Setelah isterinya meninggal dunia, maka satu-satunya hiburan bagi Cia Keng Hong adalah cucunya yang semenjak kecil sudah digemblengnya di Pegunungan Cin-ling-san itu. Cucu perempuan ini bukan lain Lie Ciaw Si, puteri dari Cia Giok Keng dan mendiang Lie Kong Tek.

Dengan tekun pendekar sakti itu menurunkan kepandaiannya kepada cucunya ini, dan walau pun Ciauw Si tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, akan tetapi dara ini telah mewarisi banyak ilmu tinggi kakeknya sehingga dia sekarang menjadi seorang dara yang hebat juga dan jarang ada yang akan mampu menandinginya.

Betapa pun juga, setelah neneknya meninggal, dara yang kini berusia dua puluh tahun itu sering kali melihat kakeknya termenung di dalam duka, bahkan sering kali kakeknya itu seperti seorang pikun turun gunung dan merantau di kaki Pegunungan Cin-ling-san, lupa makan lupa tidur dan baru pulang kalau sudah disusul dan dibujuknya.

Kemudian Ciauw Si mendengar dari penuturan ibunya yang masih tinggal di Sin-yang, di rumah mendiang suaminya, mengenai pamannya, adik ibunya, yaitu Cia Bun Houw dan bahwa kedukaan kakeknya itu disebabkan oleh kepergian Bun Houw yang hingga kini tak pernah ada beritanya itu. Mendengar ini, Ciauw Si yang mencinta kakeknya itu merasa sangat kasihan. Maka, pada suatu pagi pergilah dia meninggalkan Cin-ling-san sesudah meninggalkan surat untuk kakeknya, yang memberi tahu bahwa dia pergi untuk mencari pamannya, Cia Bun Houw!

Akan tetapi, kejadian ini sama sekali tidak menggirangkan hati kakek pendekar itu. Malah sebaliknya. Dia merasa prihatin dan khawatir. Meski pun cucunya itu sudah mempunyai kepandaian tinggi, namun cucunya adalah seorang wanita muda dan kurang pengalaman, padahal dia tahu betul betapa bahayanya merantau di dunia kang-ouw seorang diri bagi seorang wanita muda. Kekhawatiran ini membuat hatinya tidak tenang, maka kakek ini pun lalu turun gunun untuk mencari cucunya!

Demikianlah keadaan singkat dari kakek pendekar Cia Keng Hong yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun itu. Dalam perantauannya mencari cucunya itulah secara kebetulan dia melihat Sin Liong yang sedang tersiksa oleh Kim Hong Liu-nio dan dia segera turun tangan menolongnya.

Biasanya, kakek yang tengah merantau ini menyembunyikan diri dan kepandaiannya, dan kalau sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya, adalah karena dia terpaksa sekali oleh kelihaian Kim Hong Liu-nio. Kakek itu merasa amat kagum menyaksikan sikap anak yang disiksa itu, maka diam-diam dia memperhatikan, bahkan ketika dia membebaskan belenggu itu jari-jari tangannya mengusap dan dia memperoleh kenyataan bahwa anak itu benar-benar memiliki tulang yang baik sekali.

Sekarang kakek itu menghampiri Sin Liong yang sudah bangkit berdiri dengan bibir yang pecah-pecah. Biar pun anak itu lebih patut dikatakan setengah hidup dan dalam keadaan payah sekali, namun anak itu sudah bangkit berdiri dan memandang kepada kakek itu dengan mata merah, mata yang tadi disiksa oleh panasnya matahari.

Setelah kakek itu datang mendekat, tiba-tiba Sin Liong tak dapat bertahan lagi. Dia pun terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat disambar oleh tangan kakek itu. Sin Liong roboh pingsan, hal yang ditahan-tahannya sejak tadi.

Sin Liong mengecap-ngecap bibirnya yang basah. Dia membuka mata dan melihat bahwa dia sedang rebah di bawah pohon yang teduh sedangkan kakek itu membasahi mukanya dan memberi minum air jernih yang dingin dan nikmat sekali terasa olehnya. Cepat dia bangkit duduk dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Sin Liong maklum bahwa tanpa adanya kakek ini, dia tentu sudah mati dalam keadaan mengerikan, dagingnya dirobek-robek oleh burung-burung gagak pemakan bangkai! Biar pun tadi kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang, namun dia masih dapat menyaksikan betapa kakek yang sederhana ini ternyata mampu menandingi Kim Hong Liu-nio, bahkan wanita iblis itu melarikan diri! Maka Sin Liong yang cerdik mengerti bahwa kakek tua renta ini adalah seorang manusia sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Saya menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan locianpwe."

Cia Keng Hong mengurut jenggotnya yang putih sambil memandang pada bocah itu penuh perhatian. Ketika dia merawat Sin Liong dari pingsannya tadi, kembali dia meraba-raba dan makin yakin dia akan bakat yang terpedam dalam diri anak ini.

"Anak yang baik, siapakah namamu?"

"Nama saya Sin Liong..."

Tercengang juga hati kakek itu mendengar nama yang gagah itu. Nama anak ini berarti Naga Sakti!

"Engkau she apakah, Sin Liong?"

Sin Liong tahu bahwa dia adalah she Cia. Akan tetapi dia tak mau membawa-bawa nama ayahnya yang belum pernah dijumpainya itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab, "Locianpwe, semenjak kecil saya tidak tahu apakah she saya. Saya hanya bernama Sin Liong, tanpa she."

Cia Keng Hong tercengang, alisnya berkerut. "Kalau begitu, siapakah ayah bundamu?"

Sin Liong menggeleng kepalanya. "Saya hidup sebatang kara, tidak mempunyai ayah dan bunda. Saya bekerja sebagai pelayan dari Na-piauwsu yang tinggal di Kun-ting. Akan tetapi beberapa hari yang lalu Na-piauwsu serumah dibunuh orang-orang yang menjadi musuhnya. Lalu muncul wanita iblis itu yang berbalik membunuhi semua orang yang telah membasmi keluarga Na-piauwsu, akan tetapi wanita itu lalu membawa saya ke sini."

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih dan alis matanya tetap berkerut. Benar-benar aneh cerita anak ini. "Dan mengapa kau dibawanya ke sini dan akan disiksanya sampai mati? Apakah dia memaksamu untuk menceritakan sesuatu?"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Saya sendiri tidak tahu, locianpwe."

Cia Keng Hong adalah seorang kakek bijaksana. Dia sudah mengenal seorang anak yang luar biasa dan dia menduga bahwa tentu ada rahasia di balik diri anak ini dan bahwa anak ini sengaja tidak mau menceritakan tentang dirinya. Maka dia pun tidak mau mendesak. Hatinya merasa kasihan sekali dan entah mengapa, dia merasa amat tertarik kepada Sin Liong, merasa seolah-olah wajah anak ini tidak asing baginya.

"Sin Liong, setelah keluarga Na itu dibasmi orang, lalu sekarang engkau akan tinggal di mana?" tanyanya.

Sin Liong tidak mampu menjawab, akan tetapi akhirnya dia berkata, "Locianpwe, dunia begini luas, saya tidak merasa khawatir untuk tidak kebagian tempat tinggal. Bukankah di mana pun bisa ditinggali, misalnya di hutan ini sekali pun?"

Cia Keng Hong terharu. Anak ini masih wajar, masih polos dan murni, belum dikotori oleh ‘kebudayaan’ dunia di mana setiap orang manusia bergulat untuk memperoleh kemuliaan dan kesenangan, kalau perlu dengan jalan mendorong dan menginjak orang lain. Anak ini agaknya belum membutuhkan apa-apa!

"Sin Liong, apakah engkau suka belajar ilmu silat?"

Sejenak wajah anak itu berseri gembira. "Tentu saja, locianpwe."

"Bagus! Kalau begitu marilah kau turut bersamaku dan aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

Sin Liong memang telah merasa kagum dan suka sekali kepada kakek ini. Pelindungnya, Na-piauwsu telah tewas, maka tidak ada tempat lain baginya dan kakek ini ternyata jauh lebih lihai dari pada Na-piauwsu, bahkan agaknya lebih lihai atau setidaknya pun tidak kalah oleh Kim Hong Liu-nio! Maka dia segera berlutut lagi.

"Terima kasih atas kebaikan locianpwe."

Cia Keng Hong membangunkan anak itu dengan wajah berseri-seri. Semenjak dia pergi menyusul dan mencari cucunya, baru sekarang dia merasa girang. "Bangunlah dan mari kita berangkat sekarang juga, Sin Liong. Aku tidak ingin terjadi banyak keributan, namun kalau wanita itu kembali lagi, tentu akan terjadi keributan."

Berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu dan Cia Keng Hong mengambil keputusan untuk kembali ke Cin-ling-san dengan jalan memutar karena dia masih ingin mendengar-dengar dan mencari jejak cucunya yang pergi meninggalkan Cin-ling-san tanpa pamit itu.

Hati Cia Keng Hong makin merasa suka kepada Sin Liong. Di sepanjang perjalanan, anak ini memperlihatkan sikap yang pendiam, tidak cerewet, tidak pernah mengeluh, kuat dan tahan uji, juga amat cerdik.

Pernah dia mencobanya dengan mengajaknya berjalan semalam suntuk. Akan tetapi Sin Liong tidak pernah mengeluh, sungguh pun ketika berjalan semalam suntuk itu beberapa kali dia terhuyung dan kedua kakinya membengkak. Dan pada waktu diajak berpuasa itu pendengaran telinga kakek pendekar yang amat tajam itu dapat menangkap bunyi perut anak itu berkeruyuk berkali-kali, namun dia tetap tidak mengeluh.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner