PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-28


"Ha-ha-ha-ha, dengarlah baik-baik, kalian keluarga dari Cia Keng Hong! Aku Ouwyang Bu Sek, mewakili keluarga Ouwyang dan kedatanganku tadinya ingin menagih hutang nyawa kepada Cia Keng Hong. Akan tetapi dia sudah mati dan dia menebus dosanya dengan menyerahkan cucunya ini kepadaku. Ha-ha, biarlah aku menerimanya dan hitung-hitung sudah lunas hutangnya kepada keluarga Ouwyang!" Setelah berkata demikian, kakek itu meloncat dan semua orang terkejut karena kakek itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, loncatannya membawa tubuhnya melayang jauh dan dia lalu melarikan diri sambil membawa Sin Liong.

Yap Kun Liong mengerutkan alisnya. "Ouwyang...? Ahh, kiranya keluarga dari dia si jahat itu...!"

Semua orang mendekati pendekar ini.

"Siapakah yang kau maksudkan, Yap twako?" tanya Bun Houw.

"Dahulu ada musuh besar ayahmu yang bernama Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, salah seorang di antara datuk-datuk kaum sesat dari utara. Ouwyang Bu Sek tadi tentu masih keluarganya yang datang untuk membalas dendam," jawab Yap Kun Liong.

"Dan dia telah membawa pergi Sin Liong!" In Hong berkata dengan suara menyesal.

"Kita tidak mampu mencegahnya," kata pula Cia Giok Keng penasaran.

"Biarlah aku yang akan mengejarnya dan merampas kembali anak itu, ibu," kata Lie Seng dengan penuh semangat.

"Benar kata sute, biarlah aku membantunya. Kami tentu akan dapat merampas kembali anak itu, ayah!" kata Yap Mei Lan kepada ayahnya.

Yap Kun Liong menggeleng kepalanya dan mengerutkan alisnya. "Kukira tidak bijaksana itu. Merampas kembali anak itu dengan kekerasan bahkan mungkin akan membahayakan nyawa anak itu. Kurasa kakek cebol itu tidak akan membunuh anak itu, karena kalau dia berniat demikian, tentu tadi sudah dibunuhnya. Dia hanya ingin menggunakan Sin Liong tadi sebagai sandera supaya dia dapat lari dari sini dan mungkin dia hendak membalas dengan cara menculik anak itu supaya kita menjadi berduka. Dia tidak tahu bahwa anak itu bukan keluarga Cia, bukan cucu dari musuh besarnya."

Sekarang semua orang teringat betapa tadi Sin Liong berteriak supaya kakek itu jangan mengganggu jenazah kongkong-nya, jadi anak itu seolah-olah mengaku sebagai cucu Cia Keng Hong. Kakek cebol itu telah salah mengerti, mengira bahwa Sin Liong adalah cucu ketua Cin-ling-pai!

"Kalau begitu, biarkan sajalah," kata Bun Houw yang merasa tidak suka kepada anak itu. "Anak itu hanya mendatangkan sial belaka, bahkan urusan sampai berlarut-larut, keluarga kita terperosok ke dalam permusuhan pula, sampai-sampai ayah harus turun tangan dan menghadapi lawan, semua adalah gara-gara bocah itu. Biarlah, memang dia lebih pantas berdekatan dengan orang-orang macam kakek iblis tadi."

Semua orang tidak ada yang mau membantah, karena mereka pun tidak mengenal siapa sebenarnya Sin Liong, anak yang begitu disayang oleh mendiang Cia Keng Hong hingga ditarik sebagai muridnya. Mereka semua sama sekali tidak pernah menduga bahwa anak yang bernama Sin Liong itu oleh kakek Cia Keng Hong sudah dipilih untuk menjadi ahli warisnya dan telah diberi pelajaran dari seluruh ilmu yang dimilikinya, walau pun sebagian besar hanya baru dipelajari teorinya saja. Dan tentu saja mereka itu, terutama Bun Houw, tidak pernah mimpi bahwa anak itu adalah benar-benar cucu dari ayahnya, karena anak itu adalah anak kandungnya…..!

********************

Kita tinggalkan keluarga yang masih berkabung dan yang sebentar saja sudah melupakan Sin Liong yang diam-diam tidak mereka sukai itu, dan mari kita mengikuti pengalaman Sin Liong yang dilarikan oleh kakek cebol yang amat sakti itu.

Ouwyang Bu Sek tertawa-tawa dengan hati puas. Ia telah memperlihatkan kepada semua keluarga musuhnya, dan juga kepada para tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw, bahwa keluarga Ouwyang bukanlah keluarga yang lemah, bahwa keluarga Ouwyang tidak melupakan penghinaan yang ditimpakan orang kepadanya dan hari ini keluarga Ouwyang telah membalas sakit hati keluarga itu dengan menculik cucu dari ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi terjadi keanehan dalam perasaan hatinya terhadap Sin Liong. Dia tadi sudah terkejut dan kagum sekali pada saat bocah ini menyerangnya. Seorang bocah yang belum dewasa, paling banyak empat belas tahun usianya, sudah memiliki tenaga yang demikian dahsyat. Cucu dari pendekar sakti Cia Keng Hong ini memang tidak memalukan menjadi cucu ketua Cin-ling-pai yang terkenal sekali kelihaiannya itu.

Dan yang lebih mengagumkannya lagi adalah sikap anak ini. Sama sekali tidak mengeluh! Sama sekali tidak ketakutan, apa lagi menangis! Setiap kali dia melirik dan memandang wajah anak yang dipanggulnya itu, dia melihat sepasang mata yang mencorong bagaikan mata naga, dan wajah yang sedikit pun tidak kelihatan takut atau khawatir!

Ouwyang Bu Sek melarikan diri dengan cepat sekali dan tidak pernah berhenti. Dia hanya berhenti untuk menotok lagi tubuh Sin Liong bila mana merasa betapa anak itu telah mulai dapat bergerak, sehinga anak itu terus menerus dalam keadaan lumpuh.

Sesudah hari mulai gelap, baru kakek itu melempar tubuh Sin Liong ke atas tanah yang berumput. Mereka tiba di sebuah hutan yang sunyi. Sejenak kakek cebol itu memandang kepada Sin Liong yang rebah terlentang. Anak itu pun memandangnya dengan sinar mata berapi-api.

"Ha-ha-ha, kenapa engkau melotot kepadaku?" Ouwyang Bu Sek bertanya, tertawa untuk menutupi kemendongkolan hatinya.

Ia ingin melihat cucu dari musuhnya ini menderita, menangis, atau setidaknya mengeluh. Hal itu amat baik baginya. Dia sudah mengorbankan waktu puluhan tahun lamanya untuk dapat membalas dendam kepada Cia Keng Hong, tetapi setelah dia memiliki kepandaian, ternyata musuh besar itu telah mati. Tentu saja dia amat kecewa, dan kalau dia melihat cucu musuhnya ini menderita, hal itu tentu akan memperingan kekecewaannya.

"Kakek cebol, engkau adalah seorang manusia yang berhati iblis, jahat dan kejam. Tentu saja semua orang akan memandang kepadamu dengan penuh kebencian!"

Wajah kakek itu menjadi merah. Dia belum pernah melakukan hal yang kejam, kecuali tentu saja kalau menghadapi musuhnya! Apa lagi jahat, dia malah menentang kejahatan! Maka ucapan itu tentu saja membuat dia marah.

"Bocah bandel, lancang mulut! Kau mau memamerkan keberanianmu kepadaku, ya? Kau sombong bukan main, mentang-mentang menjadi cucu Cia Keng Hong kau boleh bersikap kepala batu, ya? Merasa gagah dan tidak takut mati, ya?"

"Aku memang tidak takut mati. Hayo kau bunuhlah aku, kakek tua bangka yang berhati curang dan pengecut besar, beraninya hanya kepada anak kecil!"

Kakek itu makin marah dan penasaran. Anak ini akan tahu rasa, pikirnya. Dia dihadapkan pada suatu tantangan lain sekarang. Dia harus melihat anak ini ketakutan, menangis dan minta ampun. Baru akan dilepaskannya anak ini.

"Wah, kau benar-benar tidak mengenal takut? Mari kita sama-sama melihatnya! Jika aku tidak bisa membikin kau menjerit-jerit minta ampun, menangis ketakutan, jangan panggil aku Ouwyang Bu Sek!" Setelah berkata demikian, dia menyambar tubuh Sin Liong dan menyeretnya memasuki hutan itu lebih dalam lagi.

Setelah hari menjadi gelap, kakek itu sudah berada di puncak sebuah bukit yang penuh dengan padang rumput dan alang-alang yang liar dan amat luas. Sambil terkekeh senang kakek itu lalu membuat salib dari dua batang balok besar, lalu mengikat tangan dan kaki Sin Long pada kayu salib itu.

"Kau tidak mengenal takut? Benar-benar kau tidak mau minta ampun kepadaku?"

Sejenak Sin Liong memandang wajah kakek yang tingginya hanya sampai di dadanya itu, lalu tiba-tiba dia meludah, "Cuhh! Dari pada minta ampun kepadamu, lebih baik aku mati seribu kali!"

Ouwyang Bu Sek berjingkrak dan berloncatan saking marahnya. Kedua tangannya sudah gatal-gatal hendak menghantam anak itu dan dengan sekali hantam saja tentu Sin Liong akan mati.

"Begitu, ya? Nah, kau boleh mati seribu kali, selaksa kali!" teriak kakek itu dengan marah dan dia lalu meninggalkan Sin Liong yang terbelenggu di atas kayu salib dengan kedua lengan terpentang itu.

Malam itu bulan hanya muncul seperempat bagian saja. Cuaca remang-remang sangat menyeramkan, apa lagi ditambah dengan suara angin yang menggerakkan ujung rumpun ilalang dan yang mengeluarkan bunyi mengerikan, seolah-olah semua siluman, setan dan iblis sedang berkeliaran di tempat itu.

Malam semakin larut dan di langit terdapat banyak awan berarak. Sin Liong menengadah dan memandang ke atas. Awan-awan itu membentuk makhluk-makhluk aneh dan berarak perlahan-lahan menuju bulan. Kalau awan-awan itu melintasi bulan, maka cuaca menjadi gelap remang-remang dan nampak betapa bayangan bulan sepotong itu bagaikan berlari cepat di antara awan-awan yang sebentar-sebentar merubah bentuknya. Indahnya bukan main!

Sin Liong hampir lupa bahwa dia sedang terbelenggu dan berada dalam keadaan tertotok lumpuh. Bahkan ada rasa gembira di dalam hatinya ketika menyaksikan keindahan langit itu! Dan rasa gembira ini bukan hanya karena melihat pemandangan indah itu, melainkan juga oleh perasaan bahwa dia sudah berkorban untuk kongkong-nya! Dia tidak percuma menjadi cucu kakeknya yang gagah perkasa itu, dia telah membela nama kakeknya dan biar pun dia akan mati karenanya, dia merasa puas.

Akan tetapi kalau dia teringat kepada ayah kandungnya dan semua keluarga kakeknya, dia merasa marah dan benci. Jelas bahwa ayah kandungnya itu benci kepadanya. Dia dilarikan musuh, namun tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempedulikannya. Dia juga tidak butuh dengan pertolongan mereka! Keangkuhan dan perasaan tinggi hati ini memenuhi benak dan hati Sin Liong. Tidak, dia tidak membutuhkan mereka!

Tiba-tiba saja terdengar suara aneh di antara suara desir angin yang menggerakkan ujung rumpun ilalang di sekelilingnya,. Suara melengking nyaring yang makin lama makin keras, yang datangnya dari arah kanan. Sin Liong tak mampu bergerak karena terbelenggu dan juga tertotok, akan tetapi dia dapat melirik dan tiba-tiba matanya terbelalak.

Ia merasa tengkuknya dingin sekali dan seolah-olah semua bulu tubuhnya bangkit berdiri karena merasa seram. Sin Liong bukan seorang penakut, akan tetapi apa yang dilihatnya membuat dia terkejut dan ngeri. Dia melihat sesosok tubuh tanpa kepala yang berloncat-loncatan di sebelah kanannya dan mengeluarkan suara melengking nyaring memekakkan telinga. Setan! Iblis! Tak salah lagi. Mana mungkin ada makhluk lain seperti ini?

Akan tetapi, Sin Liong adalah seorang anak yang memiliki kekuatan luar biasa, dia tabah dan sebentar saja rasa kaget serta ngerinya sudah mereda, bahkan kini dia memandang dengan penuh perhatian karena amat tertarik. Dia melihat betapa makhluk itu berkerudung kain putih, tanpa kepala, akan tetapi kedua kakinya kecil bersepatu, karena itu tiba-tiba dia tersenyum.

"Kakek cebol tolol! Kaukira aku takut dengan permainanmu ini?"

Mendengar ucapan itu, makhluk aneh itu mengeluarkan seruan kecewa, kemudian sekali berkelebat makhluk itu telah lenyap dan suasana menjadi sunyi kembali.

Sin Liong menengadah dan melanjutkan lamunannya. Kakek itu sengaja ingin menakut-nakutinya, pikirnya. Hemmm, dia ingin sekali melihat aku ketakutan dan mengeluh, lantas minta-minta ampun. Engkau takkan berhasil! Biar sampai mati sekali pun aku tidak akan memperlihatkan rasa takut di depanmu.

Demikianlah watak Sin Liong, makin dia ditekan, makin melawan pula dia. Makin dihimpit, maka makin keras dia menentang. Dia seperti baja keras yang tidak tunduk menghadapi tempaan yang mengandalkan kekerasan.

Mendadak dari sebelah kirinya terdengar suara seperti orang menangis dan merintih. Sin Liong mengerling ke kiri dan dia pun melihat bayangan sebuah kerangka manusia dengan tengkorak yang menakutkan bergerak-gerak. Kini Sin Liong sudah bebas dari rasa takut. Dia memandang penuh perhatian dan pandang matanya yang amat tajam itu bisa melihat tali-tali halus di antara kerangka itu yang menggerak-gerakkan kaki tangan kerangka itu, maka dia kembali tertawa.

"Ha-ha-ha, kakek tolol. Kau kira aku anak kecil yang mudah kau takut-takuti begitu saja? Membuang-buang waktu saja. Kalau kau mau bunuh, lekas bunuh, siapa takut padamu?"

Kerangka manusia itu kembali lenyap, dan Sin Liong melanjutkan renungannya.

Memang, perasaan takut hanya timbul dari bayangan yang dipantulkan oleh pikiran kita sendiri. Kita tidak mungkin dapat takut akan sesuatu yang tidak kita kenal. Kita hanya takut akan sesuatu yang sudah kita kenal, baik kita kenal melalui pengalaman kita sendiri, mau pun melalui pengalaman lain orang yang kita dengar atau baca dalam buku.

Orang yang takut terhadap setan tentu pernah mengenal setan itu, baik melalui cerita orang atau pun dongeng dalam buku. Dia membayangkan setan itu dalam benaknya dan membayangkan betapa akan ngerinya apa bila dia bertemu setan itu. Maka terpantullah bayangan-bayangan setan yang menakutkannya ketika dia berada seorang diri di tempat sunyi, dan terjadilah rasa takut.

Orang yang tidak pernah mendengar tentang setan takkan mungkin takut kepada setan. Orang yang tidak pernah mendengar tentang siksa neraka tentu tak akan takut terhadap neraka. Dan selanjutnya lagi.

Jadi rasa takut timbul dari kenangan masa lalu yang dihubungkan dengan kemungkinan masa depan. Kita pernah membaca tentang setan sehingga terbentuk bayangan setan dalam benak kita. Lalu kita merasa khawatir kalau-kalau kita akan diganggu setan, dan timbullah rasa takut. Kita pernah melakukan sesuatu pada masa lampau, perbuatan yang tidak patut dan memalukan, dan kita khawatir kalau-kalau di masa depan akan ada orang mengetahui perbuatan itu, maka timbullah rasa takut.

Jelaslah bahwa rasa takut timbul kalau kita membayang-bayangkan sesuatu yang tidak enak bagi kita! Dan segala yang dibayangkan itu pastilah sesuatu yang belum atau yang tidak ada! Yang merasa takut akan wabah tentulah dia yang belum terkena penyakit itu, dia membayangkan betapa bahaya dan ngerinya kalau terkena penyakit wabah itu, maka takutlah dia. Bagaimana kalau dia sudah benar-benar terkena penyakit itu? Tentu saja hilang pula rasa takut terhadap penyakit itu, akan tetapi rasa takut yang berikutnya yaitu takut kalau-kalau akan mati! Dan demikian selanjutnya.

Dengan membuka mata memandang semua ini, maka timbullah pengertian bahwa yang menyebabkan rasa takut adalah pikiran kita, pikiran yang membayangkan hal yang lalu, yaitu ingatan-ingatan, kemudian membayangkan hal yang mendatang, yang kita sangka mungkin akan terjadi menimpa diri kita.

Oleh karena itu kalau kita terbebas dari masa lalu, terbebas dari segala macam ingatan masa lalu dan kepercayaan dan ketahyulan yang termasuk hal-hal masa lampau, apakah masih ada rasa takut di dalam batin kita? Kalau kita tidak mengenangkan soal-soal yang berhubungan dengan setan umpamanya, maka kiranya andai kata pada suatu waktu ada setan yang muncul di hadapan kita, tanpa kenangan masa lalu tentang setan, kita akan memandang dan timbullah keinginan tahu untuk menyelidiki, seperti kalau kita tiba-tiba melihat seekor kupu-kupu yang aneh dan belum pernah kita lihat! Hidup penuh dengan rasa takut, kekhawatiran, hampir di semua lapangan. Setelah mengerti akan semua itu, tidak mungkinkah bagi kita untuk hidup tanpa rasa takut sama sekali?


Akhirnya Sin Liong tak dapat menahan kelelahan dan kantuknya. Dia dapat tidur pulas dengan kedua lengan bergantung pada kayu salib itu!

Memang luar biasa anak ini, pikir Ouwyang Bu Sek sambil berdiri bertolak pinggang di depan anak itu, memandangi anak yang tidur pulas sambil bergantung pada kayu salib. Anak itu tidur pulas, mendengkur halus dan wajahnya tenang dan cerah, bahkan bibirnya agak tersenyum seolah-olah anak itu sedang mimpi indah!

Rasa kagum dan heran membuat hati tua itu semakin penasaran karena dia ingat bahwa anak ini adalah cucu dari musuh besarnya.

"Ingin kulihat apakah dia masih dapat bersikap setabah itu kalau benar-benar menghadapi ancaman bahaya maut yang sangat mengerikan," katanya penasaran dan kakek cebol itu lalu berkelebat pergi.

Salak dan gonggongan anjing yang riuh rendah membangunkan Sin Liong. Dia membuka kedua matanya dan menjadi silau oleh sinar matahari. Kiranya matahari telah naik tinggi. Dia cepat memandang ke bawah dan melihat ada empat ekor anjing menyalak-nyalak dan menggonggong-gonggong di sekelilingnya. Bukan anjing, pikirnya, namun srigala! Srigala-srigala yang liar dan buas!

Kedua matanya terbelalak dan otaknya segera bekerja untuk mencari akal. Dia terancam bahaya! Srigala-srigala itu meraung-raung, dan lidah mereka terjulur keluar, lidah yang basah dan air liurnya berpercikan ke mana-mana, tanda bahwa mereka itu sudah sangat lapar dan ingin menikmati daging manusia muda itu!

"Ha-ha-ha, anak bandel. Kalau tidak minta ampun kepadaku, empat ekor srigala itu akan mencabik-cabik kulit berikut dagingmu, mengganyangmu hidup-hidup!" Tiba-tiba terdengar suara kakek cebol di sebelah kanannya.

Kehadiran kakek ini seketika mengusir semua kekhawatiran dalam hati Sin Liong, terganti dengan keangkuhan dan kekerasan hati yang luar biasa. Maka dia tersenyum. "Anjing-anjingmu ini tidaklah sekejam engkau, kakek iblis. Biar pun kau tambah dengan engkau sendiri yang menyalak-nyalak, aku tidak merasa takut sama sekali!"

"Bocah setan!" Kakek itu berkelebat pergi dengan hati kecewa.

Dari jauh dia mengintai karena dia tidak percaya kalau anak itu benar-benar sedemikian tabahnya sehingga sanggup menghadapi kematian yang amat mengerikan dengan sikap begitu tenang saja. Lihat kalau dia sudah digigit srigala, pikirnya.

Sin Liong kembali memandang kepada empat ekor srigala yang mengelilinginya sambil terus menyalak-nyalak itu. Naluri kebinatangannya timbul seketika dan dia pun langsung menyeringai, memperlihatkan gigi seekor monyet muda dan mengeluarkan gerengan dari kerongkongannya. Srigala-srigala itu terkejut dan mundur, akan tetapi melihat orang muda itu tidak bergerak menyerang, mereka berani lagi dan mulai mengelilingi lebih dekat.

Aku harus dapat membebaskan diri, pikir Sin Liong. Dia lalu memejamkan kedua matanya sambil mengingat-ingat pelajaran yang dia terima dari kakek Cia Keng Hong. Dia sudah menguasal Thi-khi I-beng, dan dia sudah menghafalkan semua bagian jalan darah pada tubuh. Kini dia tertotok oleh kakek cebol itu, dan dia merasa betapa jalan darah utama di punggungnya yang dibikin lumpuh sehingga kaki tangannya tidak mampu bergerak.

Dia memutar otak mengingat-ingat jurus Thai-kek Sin-kun, lantas dengan tenaga sinkang dari pusar, mulailah dia menyalurkan tenaga itu menurut pelajaran Ilmu Thai-kek Sin-kun yang telah dia hafal di luar kepala. Semua pelajaran yang telah diterimanya dari kakeknya adalah teorinya belaka yang sudah dihafalnya baik-baik dan kini dalam keadaan terhimpit bahaya maut, Sin Liong mulai menyalurkan hawa dari pusar itu sesuai dengan pelajaran itu.

Mula-mula hawa itu macet di sana-sini karena dia berada dalam keadaan tertotok, hawa murni di dalam tubuhnya seperti air mengalir yang berhenti di tempat-tempat saluran yang tersumbat. Akan tetapi, hawa itu berkumpul dan menjadi makin kuat di setiap sumbatan, bagaikan air yang kelihatan lembut tetapi mengandung kekuatan dahsyat, satu demi satu sumbatan itu jebol dan hawa murni seperti air itu mengalir terus, makin lama makin kuat membobolkan sumbatan-sumbatan akibat totokan itu dan jalan darahnya pun mulai lancar kembali.

Perlahan-lahan Sin Liong berhasil membebaskan diri dari totokan yang amat luar biasa dari kakek itu! Hal ini saja sudah merupakan sesuatu yang amat hebat dan tentu akan membuat kakek itu terheran-heran dan terkejut sekali karena jarang ada tokoh persilatan di dunia kang-ouw yang akan mampu membebaskan totokannya dalam waktu sesingkat itu, apa lagi hanya seorang anak-anak!

Akan tetapi, pada saat itu pula empat ekor anjing srigala tadi telah mulai menerjangnya! Dengan suara gerengan menyeramkan, mereka menubruk dan ada yang menggigit kaki Sin Liong, ada yang mencakar dadanya sehingga bajunya robek dan kakinya berdarah.

Dari jauh, Ouwyang Bu Sek memandang penuh perhatian dan bersiap untuk turun tangan membunuh empat ekor srigala itu begitu dia mendengar anak itu menjerit, menangis atau mengeluh. Akan tetapi anak itu sama sekali tidak mengeluarkan suara keluhan! Bahkan sebaliknya, gigitan srigala pada kakinya itu dibarengi gonggong dan gerengan binatang-binatang itu membangkitkan hawa murni dari dalam pusar Sin Liong.

Dia terbelalak dan dari dadanya, melalui kerongkongannya, terdengar suara lengking yang menyeramkan dan pada saat itu pula putuslah semua tali yang mengikat tubuhnya! Itulah tenaga sinkang yang diwarisinya dari Kok Beng Lama, tumbuh sepenuhnya dan bangkit serentak sehingga hanya dengan sedikit gerakan saja tali-tali itu pun putuslah! Dan kini Sin Liong mengamuk!

Srigala yang masih menggigit kakinya itu langsung terlempar ke atas pada saat Sin Liong menggerakkan kakinya. Tangan kirinya dikepal dan memukul muka anjing yang menggigit dadanya.

"Prakkk!"

Tubuh anjing srigala itu terbanting dan kepalanya pecah, dengan rintihan aneh srigala itu menggerak-gerakkan tubuh, berkelojotan dan mati! Anjing yang terlempar tadi terbanting ke atas tanah, akan tetapi dia sudah menerjang lagi bersama dua ekor temannya.

Sin Liong mengeluarkan suara gerengan seperti seekor monyet, disambarnya ekor srigala yang terdekat, kemudian diangkatnya dan dia membanting tubuh srigala itu.

“Krakkk!” terdengar suara dan kepala srigala itu pecah berantakan karena menimpa batu!

Dua ekor lagi menubruk dan menggigit Sin Liong, akan tetapi kini tubuh anak itu sudah menjadi kebal dan keras sehingga gigitan itu sama sekali tidak merobek kulitnya, hanya merobek bajunya. Sin Liong mempergunakan kedua tangannya, yang kiri mencekik leher srigala ke tiga sedangkan yang kanan kembali memukul kepala srigala ke empat.

Pukulannya itu pun membuat pecah kepala srigala, dan saking marahnya, Sin Liong lalu menggunakan mulutnya menggigit leher srigala yang dicengkeramnya dengan tangan kiri. Demikian kuat dia menggigit sehingga robeklah leher srigala itu yang sia-sia saja meronta karena cengkeraman tangan Sin Liong telah membuat jari-jari tangannya menembus kulit srigala! Setelah puas merobek-robek leher srigala, dia mengangkat tubuh srigala itu dan membantingnya.

"Nguikk!" Srigala terakhir itu berkelojotan dan mati pula.

Dari tempat sembunyinya, Ouwyang Bu Sek terbelalak dan melongo, bagai melihat setan di tengah hari. Akan tetapi, dia melihat anak itu terhuyung, mengeluh sambil memegangi kepalanya, lalu terhuyung ke depan dan hampir roboh.

Melihat ini, kakek cebol itu lalu melompat dan mulutnya berkata, "Ah, anak luar biasa...!" Dan tepat ketika Sin Liong terguling, dia sudah tiba di situ dan dia menyambut tubuh anak itu sehingga tidak sampai terbanting.

"Anak luar biasa... anak baik... anak ajaib...!" Ouwyang Bu Sek berkali-kali mengeluarkan pujian ini ketika dia memeriksa tubuh Sin Liong dan melihat bahwa pada tubuh itu hanya terdapat sedikit luka-luka, dan di dalam tubuh itu mengandung hawa sinkang yang luar biasa sekali, yang tarik-menarik secara kuat sehingga anak itu sendiri sampai tidak kuat menahan dan menjadi pingsan. Dia segera mendukung anak itu dan dibawanya lari cepat meninggalkan tempat itu.

Ouwyang Bu Sek adalah seorang manusia yang berwatak aneh. Tadinya dia memang tak berniat untuk menculik Sin Liong. Hanya setelah menduga bahwa anak itu adalah cucu musuh besarnya yang sudah mati, juga melihat betapa di Cin-ling-san terdapat banyak sekali orang sakti yang takkan sanggup dilawannya kalau dikeroyok, maka dia menawan anak itu untuk dipergunakan sebagai perisai agar dia dapat meloloskan diri.

Kemudian, dia pun tak mempunyai niat untuk membunuh atau menyiksa anak itu. Hanya melihat kebandelan dan kekerasan hati Sin Liong, dia menjadi penasaran, merasa seperti ditantang dan dia kemudian menakut-nakuti anak itu untuk mematahkan kebandelannya.

Namun, melihat betapa Sin Liong bahkan dapat membebaskan diri dan membunuh empat ekor srigala, dia merasa terkejut, terheran-heran dan juga kagum sekali. Timbul rasa suka di dalam hatinya, maka dengan rasa sayang dia lantas membawa pergi Sin Liong untuk dirawat.

Sebelum dia mengambil keputusan dan memberanikan diri pergi ke Cin-ling-san mencari ketua Cin-ling-pai untuk membalaskan sakit hati atas kematian pamannya, Ouwyang Bu Sek yang baru turun dari Gunung Himalaya itu berada di selatan sampai selama hampir tiga tahun. Karena kepandaiannya memang tinggi sekali, maka sebentar saja dia sudah dikenal oleh semua tokoh kang-ouw di dunia selatan, bahkan dia diakui sebagai seorang di antara datuk-datuk dunia persilatan dan disegani orang.

Akan tetapi kakek ini memang seorang yang sangat aneh, dia selalu menjauhkan diri dan tidak mau menerima murid. Akan tetapi hampir semua tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw mengenal kakek cebol ini, dan setiap ada pertemuan-pertemuan penting, pesta-pesta dan sebagainya, tentu kakek cebol ini menerima undangan dan menjadi tamu kehormatan.

Sepak terjang Ouwyang Bu Sek memang aneh dan kadang kala mencengangkan orang di dunia kang-ouw. Kakek ini agaknya sudah tidak mau mengenal lagi rasa sungkan dan tidak mau mempedulikan segala peraturan dan sopan santun, akan tetapi ketika terjadi pemilihan bengcu di daerah selatan, kakek ini sempat menghebohkan dunia kang-ouw.

Pada waktu itu, dua tahun yang lalu, di daerah selatan diadakan pemilihan bengcu, yaitu seorang yang dianggap cukup pandai, berwibawa dan cakap untuk menjadi kepala atau pemimpin dari apa yang dinamakan golongan hitam wilayah selatan. Dan yang memiliki harapan besar untuk terpilih sebagai bengcu dan wakil-wakilnya adalah tiga orang tokoh besar di selatan yang dikenal sebagai Lam-hai Sam-lo (Tiga Datuk Laut Selatan).

Mereka bertiga ini di samping terkenal sebagai tokoh-tokoh tua di selatan, juga terkenal mempunyai kepandaian tinggi dan juga mempunyai pengaruh yang sangat luas, terutama sekali karena seluruh bajak laut di laut selatan merupakan anak buah mereka atau paling tidak mengakui mereka sebagai datuk para bajak laut.

Akan tetapi, kesempatan baik dan harapan tiga orang datuk ini hancur akibat munculnya Ouwyang Bu Sek dalam persidangan pemilihan bengcu itu, dengan membongkar rahasia tiga orang kakek itu yang oleh Ouwyang Bu Sek dinyatakan tidak patut menjadi bengcu karena mereka bertiga adalah orang-orang berjiwa cabul dan suka mengeram dara-dara muda untuk perbuatan-perbuatan cabul!

Semua hadirin tercengang menyaksikan keberanian Ouwyang Bu Sek, akan tetapi karena Ouwyang Bu Sek mengajukan hal itu sebagai fakta-fakta dengan mengajukan pula bukti dan saksi, maka tiga orang datuk itu tidak mampu menyangkal lagi, hanya dengan marah menyatakan bahwa urusan dalam kamar adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan pemilihan bengcu.

Bagaimana pun juga, pembongkaran rahasia oleh Ouwyang Bu Sek itu tentu saja sudah menjatuhkan nama mereka dan banyak pemilih yang menarik kembali suara mereka sehingga akhirnya pemilihan bengcu jatuh pada orang lain.

Tentu saja tiga orang datuk ini menaruh dendam yang amat mendalam kepada Ouwyang Bu Sek. Mereka tidak berani menyatakan permusuhan itu secara berterang, karena hal itu akan membuat mereka makin jatuh dalam mata para tokoh kang-ouw yang memandang tinggi kepada Ouwyang Bu Sek.

Bagi dunia kang-ouw di daerah selatan perbuatan Ouwyang Bu Sek membongkar rahasia kecabulan tiga orang Lam-hai Sam-lo itu bukan dianggap sebagai penyerangan pribadi, melainkan sebagai tindakan bijaksana demi pemilihan bengcu yang tepat. Dan memang sesungguhnya Ouwyang Bu Sek tidak memusuhi Sam-lo itu, hanya karena dia seorang yang aneh dan tidak mau memakai banyak peraturan dan sopan santun maka dia berani membongkar rahasia kecabulan mereka di depan umum, bukan dengan niat menghina atau mendatangkan aib, melainkan untuk melihat bahwa bengcu yang dipilih benar-henar tepat.

Kalau tiga orang datuk itu mendendam kepada Ouwyang Bu Sek, sebaliknya kakek cebol ini sama sekali tidak memusuhi mereka, bahkan dia sudah lupa lagi bahwa dia pernah menghalangi mereka untuk menjadi bengcu. Akan tetapi, kenapa Ouwyang Bu Sek selalu menyembunyikan diri dalam sebuah pondok sunyi di puncak Bukit Tai-yun-san di Propinsi Kwan-tung di selatan? Apa bila dia tidak merasa bermusuhan dengan Lam-hai Sam-lo, mengapa dia harus bersikap seperti orang yang mengasingkan diri atau menyembunyikan diri?

Memang kakek aneh ini menyimpan suatu rahasia besar dan memang dia selalu merasa takut akan sesuatu. Rahasia itu adalah bahwa kepergiannya dari Pegunungan Himalaya adalah sebagai seorang pelarian!

Dari sebuah kuil yang amat tua di Pegunungan Himalaya, kuil yang disebut Kuil Sanggar Dewa, di mana hampir semua pendeta dan pertapa dari seluruh dunia singgah ke tempat suci itu untuk berdoa, dia melarikan sebuah peti hitam yang berisi pusaka-pusaka yang sudah ratusan tahun usianya, pusaka-pusaka yang merupakan kitab-kitab kuno yang tak pernah dibuka orang, karena selain tulisan-tulisan dalam kitab-kitab itu amat sukar dibaca, juga kitab-kitab itu dianggap sebagai benda keramat dan tak boleh sembarangan disentuh tangan. Para pendeta dan pertapa mempunyai kepercayaan bahwa kitab-kitab itu adalah peninggalan dari Sang Buddha, oleh karena itu dianggap sebagai benda keramat.

Inilah sebabnya mengapa Ouwyang Bu Sek kini melarikan diri jauh ke selatan dan jarang mencamputi urusan dunia kang-ouw walau pun namanya dikenal sebagai seorang datuk yang disegani. Di luar tahunya siapa pun, dia menyimpan kitab-kitab kuno itu dan dengan penuh ketekunan dia mempelajarinya, mencoba untuk memecahkan rahasia tulisan kuno dalam kitab-kitab itu.

Demikianlah sedikit catatan tentang keadaan kakek cebol yang luar biasa itu, yang tanpa direncanakan lebih dulu telah menawan Sin Liong dan kemudian karena merasa suka dan kagum, dia lalu membawa Sin Liong yang pingsan untuk pulang ke tempat tinggalnya di dalam pondok sunyi di puncak Bukit Tai-yun-san, di mana dia merawat dan mengobati Sin Liong yang menderita luka dalam.

Pada saat Sin Liong siuman dari pingsannya dan merasa betapa tubuhnya dipondong dan dilarikan dengan sangat cepatnya oleh si kakek cebol, dia merasa amat heran. Kemudian teringatlah dia betapa dia telah disiksa oleh kakek ini, bahkan diberikan kepada srigala-srigala untuk dikeroyok, maka dia cepat meronta.

"Eh, ehh, kau sudah sadar...?" Ouwyang Bu Sek yang merasa betapa tubuh yang sedang dipanggul dan dipondongnya itu meronta, lalu berhenti berlari dan menurunkan tubuh Sin Liong.

Pemuda kecil itu turun dan terhuyung-huyung, kepalanya terasa pening sekali. Tentu dia sudah jatuh kalau tidak cepat dipegang tangannya oleh kakek cebol itu.

"Heh, hati-hatilah, engkau masih lemah, tidak boleh mengerahkan tenaga dulu biar pun sudah tidak berbahaya lagi."

Sin Liong mengerutkan alisnya dan menatap wajah kakek cebol itu, memandang dengan sinar mata penuh perhatian. Teringat dia betapa dia dikeroyok srigala-srigala dan setelah berhasil membunuh binatang-binatang itu, dia roboh pingsan.

Dia memandang ke sekeliling dan mendapatkan dirinya berada di lereng sebuah gunung. Dia merasa kepalanya masih pening dan dadanya masih terasa nyeri. Mendengar ucapan kakek itu dia bertanya, "Apakah engkau telah menolongku dan mengobatiku?"

Kakek itu terkekeh dan mengangguk. "Kalau tidak begitu dan aku meninggalkan engkau di sana, apa kau kira masih hidup saat ini?"

Sepasang mata Sin Liong memandang dengan sinar mata mencorong, membuat kakek itu semakin kagum sekali. "Kau menawanku, menyiksaku, kenapa lalu menolongku? Apa kehendakmu?"

Bukan main, pikir Ouwyang Bu Sek. Bocah ini memang luar biasa sekali, sikapnya penuh wibawa. Benar-benar seorang bocah yang memiliki dasar dan bakat hebat sekali. Akan tetapi dia pun berwatak aneh dan biasanya dia pun tidak mau tunduk kepada siapa pun juga.

"Aku memang mau begitu."

"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu."

"Aku pun tidak perlu engkau minta tolong, aku memang mau menolong."

"Engkau memusuhi keluarga Cin-ling-pai."

"Huh, apa kau kira engkau disuka oleh mereka? Engkau agaknya amat berbakti kepada kongkong-mu, akan tetapi jelas engkau tidak disuka oleh keluarga Cin-ling-pai."

"Buktinya?"

"Mereka itu tentu sudah mengejarku kalau memang mereka sayang kepadamu. Mereka tidak mengejar, berarti mereka tidak menghiraukan nasibmu."

Sin Liong menundukkan mukanya, menarik napas panjang dan perasaan hatinya terasa sakit. Memang benar, mereka itu, termasuk ayah kandungnya, sama sekali tak berusaha menolongnya, padahal dia sudah membela peti mati kakeknya, ketika hendak diganggu oleh kakek cebol ini. Hatinya menjadi panas.

"Betul juga, mereka tidak suka kepadaku," katanya.

Kakek itu memandang wajah yang menunduk itu dengan mata terbelalak heran. Anak ini makin aneh saja dalam pandang matanya. "Siapakah ayahmu? Apakah ayah bundamu tidak berada di sana dan ikut berkabung?"

Sin Liong mengangkat mukanya yang menjadi agak pucat dan memandang kepada kakek yang wajahnya lucu itu. "Aku tidak punya ayah bunda, tidak punya keluarga, tidak punya siapa-siapa di dunia ini!"

"Ehh? Dan kau bilang engkau cucu dari mendiang Cia Keng Hong?"

Sin Liong menggelengkan kepalanya. "Dia pernah menolongku dan kusebut kongkong... beliau satu-satunya orang yang baik kepadaku..."

"Tapi beliau sudah meninggal, dan yang lain-lain itu tidak suka kepadamu? Ah, kebetulan sekali!"

"Apa kebetulan?"

"Kau sebatang kara, aku sebatang kara, aku suka kepadamu dan..."

"Dan aku tidak suka padamu!"

"Kenapa?"

"Kau jahat! Kau mengganggu peti jenazah kongkong."

"Dia yang mulai lebih dulu. Dia dahulu membunuh pamanku. Aku terlambat datang karena dia telah mati, maka sedikit mengganggu peti jenazahnya untuk melepaskan rasa dongkol di hatiku, apa salahnya?"

"Kau jahat, engkau menyiksaku, hampir membunuh."

"Anak bodoh! Itu hanya untuk mengujimu, karena engkau bandel hingga membikin hatiku penasaran."

"Lalu kau mau apa sekarang?" tanya Sin Liong.

"Mau apa? Aku mau mengajakmu ke tempatku di puncak Tai-yun-san, tinggal bersamaku di sana, menjadi muridku, menjadi anakku... he-he, kita memiliki sifat-sifat yang cocok!"

"Tidak, aku mau pergi saja!"

"Kembali ke Cin-ling-san di mana semua orang tidak suka padamu?"

"Tidak, aku tidak sudi ke Cin-ling-san. Aku akan pergi ke mana saja!"

"Kalau tidak karuan yang kau tuju, mengapa tidak bersamaku saja ke selatan? Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepadamu."

Sin Liong memandang dengan sinar mata penuh selidik, lalu berkata dengan nada suara mengejek sekali, "Engkau? Mengajarku? Huh, apa sih kepandaianmu, baru menghadapi orang-orang Cin-ling-pai saja engkau lari terkencing-kencing!"

"Aku? Lari? Hah, bocah tolol, engkau tidak tahu siapa Ouwyang Bu Sek! Kalau aku sudah berhasil menguasai ilmu-ilmu rahasiaku, biar mereka semua itu ditambah seratus orang lagi, semua takkan mampu melawanku. Sekarang pun, jika mereka maju satu demi satu, apa kau kira aku akan kalah?"

"Cin-ling-pai adalah gudang orang-orang sakti, dan mendiang kongkong merupakan orang yang luar biasa tinggi ilmunya. Aku pernah dididik oleh kongkong, sekarang mana bisa aku merendahkan diri menjadi muridmu? Kepandaianmu sampai di mana saja aku belum tahu."

Kakek itu mencak-mencak saking marahnya. Kemudian dia meloncat ke depan, tangan kanannya menghantam sebatang pohon kayu sebesar tubuh manusia, sedangkan tangan kirinya menampar sebongkah batu sebesar kerbau di bawah pohon itu.

“Plakk! Plakk!”

Sin Liong hanya mendengar suara itu, akan tetapi pohon dan batu itu sama sekali tidak bergoyang! Anak ini hampir tidak kuat menahan ketawanya. Dia lalu memandang dengan senyum mengejek. Kakek ini lucu seperti badut, pikirnya.

"Uhh, hanya sebegitu saja kepandaianmu? Lalat pun tidak akan mati kau tampar, dan kau bilang mau mengambil aku sebagai murid?"

"Eh, apakah engkau buta? Bocah bodoh, lihatlah baik-baik!" Kakek itu lalu menggunakan tangannya mendorong batu dan batang pohon itu.

Sin Liong terbelalak memandang dengan kaget sebab batu itu ternyata telah hancur lebur dan batang pohon itu tumbang. Dua pukulan yang kelihatan perlahan dan tidak berakibat apa-apa tadi ternyata sudah meremukkan batu serta mematahkan bagian dalam pohon, akan tetapi permukaan batu dan kulit pohon tidak kelihatan pecah.

Dia tidak dapat membandingkan siapa yang lebih sakti antara kakeknya dan kakek cebol ini, akan tetapi dia tahu bahwa kakek ini benar-benar lihai sekali. Kalau dia dapat terdidik langsung oleh kakek ini, sungguh merupakan keuntungan baik. Pula, biar pun dia sudah banyak mempelajari ilmu dari mendiang kongkong-nya, akan tetapi yang dia pelajari baru teorinya saja, karena kongkong-nya agaknya sudah dapat menduga bahwa tak lama lagi dia akan meninggal dunia, karena itu semua ilmunya diturunkan kepada Sin Liong secara tergesa-gesa.

"Bagaimana? Kau masih memandang rendah padaku?" Ouwyang Bu Sek bertanya ketika melihat anak itu bengong saja.

"Aku... aku suka belajar silat kepadamu, locianpwe, akan tetapi aku tidak tahu apakah aku mau menjadi muridmu...?"

Mendengar anak itu kini menyebutnya locianpwe, Ouwyang Bu Sek tersenyum dan dia pun berkata, "Aku pun tidak mudah menerima murid dan selama hidupku belum pernah aku mempunyai murid. Mari kita saling mencoba dahulu, seperti orang hendak membeli buah boleh dicoba dulu, kalau cocok baru beli. Kita pun saling coba, kalau cocok, barulah menjadi guru dan murid."

Sin Liong tidak dapat menolak lagi. Memang dia tak ingin kembali ke Cin-ling-san setelah kongkong-nya tidak ada, dan ke manakah dia hendak pergi? Keluarga Na Ceng Han telah terbasmi musuh dan dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Na Tiong Pek dan Bhe Bi Cu.

Dulu, ketika dia meninggalkan utara, dia masih mempunyai tujuan, yaitu hendak mencari ayah kandungnya di Cin-ling-san. Kini, sesudah melihat ayah kandungnya memiliki isteri lain dan tidak suka kepadanya meski pun belum tahu bahwa dia adalah puteranya, maka dia tidak lagi mempunyai tujuan.

"Baik, saya mau ikut locianpwe," katanya.

Ouwyang Bu Sek girang sekali dan dia cepat menyambar tubuh Sin Liong lalu dibawanya berlari lagi seperti terbang cepatnya. Dan karena kakek cebol ini ingin memamerkan ilmu kepandaiannya kepada bocah yang agaknya masih belum percaya kepadanya itu, maka dia mengerahkan seluruh tenaganya dan Sin Liong terpaksa memejamkan mata ketika melihat tubuhnya meluncur seperti terbang di atas tanah, kadang-kadang melewati jurang yang amat curam. Dan diam-diam dia makin kagum kepada kakek yang benar-benar amat sakti ini.

Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, sampai hampir satu bulan barulah mereka tiba di puncak Pegunungan Tai-yun-san di selatan itu. Di sepanjang perjalanan, tiap hari Sin Liong dibantu memulihkan kesehatannya oleh Ouwyang Bu Sek, yang menempelkan telapak tangan di dada anak itu dan menyalurkan sinkang-nya mengobati luka di dalam dada Sin Liong.

Beberapa kali kakek ini terheran-heran dan merasa takjub ketika dia merasakan sinkang yang benar luar biasa sekali, yang terkandung dalam tubuh anak itu. Dia tidak tahu bahwa anak itu telah mewarisi sinkang dari Kok Beng Lama, dan hanya menduga bahwa anak ini memang memiliki bakat yang amat hebat.

Setelah mereka tiba di puncak Pegunungan Tai-yun-san yang amat sepi, melihat pondok sederhana dan kebun luas di belakang pondok yang menjadi tempat tinggal kakek itu, Sin Liong merasa suka sekali. Tempat itu amat indah, hawanya sejuk dan kesunyian tempat itu yang penuh dengan hutan mengingatkan Sin Liong akan Lembah Naga di mana dia terlahir.

Sin Liong mulai dengan hidup baru yang penuh keheningan dan ketenteraman di tempat sunyi itu, setiap hari hanya mengurus kebun sayur dan mempelajari ilmu silat yang mulai diajarkan oleh Ouwyang Bu Sek kepadanya. Akan tetapi di samping mempelajari ilmu silat yang aneh dari kakek itu, diam-diam Sin Liong mulai pula melatih diri dengan teori-teori ilmu-ilmu yang pernah dia pelajari dari mendiang kongkong-nya.

Tiga bulan telah lewat dengan aman dan damai di pondok sunyi puncak Bukit Tai-yun-san itu. Akan tetapi pada suatu malam terang bulan, terjadilah hal yang sangat mengejutkan hati Sin Liong dan yang seketika mengusir ketenteraman hidup yang telah tiga bulan itu.

Pada waktu itu, bulan purnama menciptakan pemandangan yang sangat indah dan hawa yang amat sejuk sehingga Sin Liong merasa sayang untuk meninggalkan semuanya itu, maka dia tidak mau memasuki kamarnya yang sederhana, melainkan duduk di belakang pondok, di atas batu besar dalam keadaan setengah bersemedhi atau merenung.

Tiba-tiba anak itu dikejutkan oleh suara orang bercakap-cakap dan ketika dia mendengar bahwa di antara suara itu terdapat suara Ouwyang Bu Sek, dia cepat meloncat turun dan berindap-indap menuju ke depan pondok dari mana suara-suara itu datang. Dia kemudian terheran-heran melihat tiga orang kakek berdiri berhadapan dengan Ouwyang Bu Sek di depan pondok itu, di bawah sinar bulan purnama. Sikap tiga orang kakek itu sangat kaku dan marah, sebaliknya Ouwyang Bu Sek tersenyum ramah.

"Ha-ha-ha-ha, ternyata Lam-hai Sam-lo, tiga iblis penghuni laut selatan yang kini datang berkunjung. Ha-ha-ha-ha, selamat datang, tiga orang sahabat baik. Agaknya sinar bulan purnama yang mendorong kalian bertiga berkunjung ke pondokku yang buruk!" Ouwyang Bu Sek menyambut mereka sambil tertawa-tawa.

Sin Liong memperhatikan ketiga orang kakek yang kelihatan marah itu. Orang pertama ialah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan muka menyeramkan, seperti muka Panglima Tio Hui di jaman Sam Kok, penuh cambang bauk yang membuatnya tampak gagah. Kakek ini dijuluki Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) Phang Tek. Kakek ini orangnya pendiam, serius dan ilmu pedangnya amat disegani oleh seluruh dunia kang-ouw di selatan.

Hai-liong-ong Phang Tek inilah yang mewarisi kepandaian dari mendiang Lam-hai Sin-ni, seorang di antara datuk-datuk dunia hitam pada waktu puluhan tahun yang lalu. Karena dia tidak pandai berbicara, maka dia menyerahkan kesempatan kepada adik kandungnya untuk menjadi wakil pembicara dari Lam-hai Sam-lo (Tiga Kakek Laut Selatan) di dalam segala macam pertemuan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner