PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-30


Sin Liong memandang penuh perhatian. Wakil ketua dari perkumpulan itu bertubuh tinggi besar, mukanya penuh bopeng, dan kepalanya yang botak itu mengkilap agak kebiruan. Melihat julukannya, Tiat-thouw (Kepala Besi) dapat diduga bahwa kepala yang botak itu tentu ampuh sekali.

"Para calon dipersilakan naik untuk memperkenalkan diri," berkata pula Sin-ciang Gu Kok Ban yang memberi isyarat kepada Tong Siok untuk kembali ke tempat duduknya di fihak tuan rumah. Gu Kok Ban sendiri, yaitu seorang kakek berusia empat puluh lima tahun yang tinggi kurus dan bermuka pucat, masih berdiri di situ menanti datangnya calon-calon untuk diperkenalkan.

Tidak banyak tokoh yang berani muncul di atas panggung. Pemilihan bengcu bukanlah hal yang remeh dan hanya orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi sajalah yang patut menjadi bengcu. Kepandaian dua orang ketua dari Sin-ciang Tiat-thouw-pang sudah terkenal sekali, maka majunya wakil ketua itu sebagai calon sudah merupakan hal yang membuat jeri para calon lain karena mereka merasa tak akan mampu untuk menandingi kepandaian Tiat-thouw Tong Siok!

Tetapi tentu saja ada pula beberapa golongan yang merasa penasaran dan menginginkan tokoh dari golongan masing-masing yang menjadi bengcu. Mereka segera mengajukan tokoh yang mereka pilih sebagai calon.

Pertama-tama yang melayang ke atas panggung dengan gaya yang kasar adalah seorang kakek yang pakaiannya penuh tambalan. Dari pakaiannya jelas dapat dikenal bahwa dia adalah seorang pengemis tua yang memegang sebatang tongkat butut. Mukanya selalu tertawa-tawa penuh kepercayaan pada diri sendiri. Kakek ini adalah seorang tokoh yang sangat terkenal di selatan dan semua orang, termasuk Sin-ciang Tiat-thouw-pang sendiri menjadi tercengang karena mereka tak menyangka bahwa kakek tokoh pengemis ini juga akan muncul menjadi calon bengcu!

Padahal biasanya, kaum pengemis itu seperti ‘tahu diri’ sehingga tidak pernah ada yang mencalonkan diri sebagai bengcu, sungguh pun pada setiap pemilihan mereka hadir dan mereka juga ikut menentukan pilihan. Akan tetapi baru sekarang ini mereka mengajukan seorang calon yang keluar dari golongan mereka sendiri.

Kakek ini adalah Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan) yang biar pun tidak secara resmi menjadi ‘raja pengemis’ namun sudah diakui sebagai datuk yang ditaati oleh semua perkumpulan pengemis di daerah selatan.

Hadirnya Lam-thian Kai-ong sebagai calon bengcu benar-benar mencengangkan, seakan merupakan tanda bahwa kini fihak pengemis juga sudah mulai menaruh perhatian kepada kedudukan dan pengaruh, dan hal ini ada hubungannya dengan kemelut yang terjadi di kota raja sebagai akibat dari penggantian kaisar.

Setelah Lam-thian Kai-ong diperkenalkan kepada hadirin sebagai calon ke dua, banyak tokoh yang tadinya berniat memasuki pemilihan ini diam-diam mengundurkan diri. Setelah orang-orang lihai seperti Tiat-thouw Tong Siok dan Lam-thian Kai-ong maju, maka siapa yang akan berani menandingi mereka? Dari pada kalah dan mendapat malu, lebih baik siang-siang mengundurkan diri! Karena itu, sekarang yang berani muncul menjadi wakil golongan masing-masing hanya tinggal lima orang saja!

Calon pertama adalah Tiat-thouw Tong Siok, wakil ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang menjadi tuan rumah. Calon kedua adalah Lam-thian Kai-ong, pengemis tua yang mewakili golongan pengemis dan gelandangan. Ke tiga adalah seorang tosu renta bermuka putih yang bermata tajam dan bersikap angkuh. Tosu ini bernama Kim Lok Cinjin, wakil ketua Pek-lian-kauw bersama belasan orang tokoh perkumpulan itu.

Calon ke empat adalah seorang guru silat yang terkenal sekali dari kota Amoi, memiliki kepandaian tinggi dan menerima murid-murid dengan bayaran mahal. Guru silat ini dipilih oleh golongan tukang pukul, guru silat, dan para piauwsu. Dia bernama Ouw Bian, dikenal dengan sebutan Ouw-kauwsu, berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan matanya lebar.

Ada pun calon ke lima yang dicalonkan oleh para maling tunggal dan dunia pelacuran, adalah seorang maling tunggal yang sangat terkenal di wilayah selatan. Dia seorang pria berusia empat puluh lima tahun dan berwajah tampan. Tubuhnya sedang saja, akan tetapi pakaiannya selalu indah seperti pakaian seorang hartawan. Namanya adalah Bouw Song Khi.

Orang ini selain terkenal sebagai seorang maling tunggal yang lihai dan ditakuti, juga dia terkenal sebagai seorang hidung belang yang biasa keluyuran di tempat-tempat pelacuran dan selain itu juga dia dikenal sebagai seorang yang suka mengganggu wanita, seorang jai-hwat-cat (penjahat pemerkosa wanita) yang cabul, sungguh pun dia tidak pernah mau melakukan kejahatan-kejahatan itu di daerahnya sendiri, melainkan memilih daerah di luar kekuasaannya sehingga namanya disegani dan dihormati. Itulah sebabnya mengapa dia sampai dapat terpilih menjadi seorang calon bengcu.

Lima calon ini saja sudah terhitung cukup banyak, karena andai kata pada saat itu muncul orang-orang seperti Lam-hai Sam-lo, agaknya beberapa orang di antara mereka akan mundur lagi! Para gerombolan yang termasuk golongan bajak sudah merasa tidak puas dan heran mengapa datuk-datuk mereka itu tidak muncul.

Melihat tidak ada orang lainnya yang maju sebagai calon, Sin-ciang Gu Kok Ban sebagai ketua penyelenggara pemilihan bengcu lantas berseru nyaring kepada semua yang hadir. "Apakah tidak ada lagi saudara-saudara yang hendak mengajukan calon bengcu kecuali lima orang ini saja?"

Memang pemilihan sekali ini agak sepi. Pemilihan bengcu pada beberapa tahun yang lalu diikuti oleh belasan orang calon! Hal ini disebabkan calon yang maju adalah orang-orang yang sangat terkenal sehingga para calon yang merasa tidak mungkin dapat menandingi calon-calon yang terkenal ini telah lebih dulu mundur untuk menghindarkan diri mendapat malu, kalah dalam perebutan itu. Lima orang yang tinggal ini adalah tokoh-tokoh yang biar pun sudah saling mengenal namun belum pernah menguji kepandaian masing-masing, maka mereka berani untuk maju.

Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara yang nyaring. "Aku maju sebagai seorang calon!"

Yang membuat semua orang terkejut kemudian memandang heran adalah karena mereka melihat bahwa yang berseru nyaring itu adalah seorang pemuda remaja yang tadi sudah mengaku sebagai utusan atau wakil dari Cin-ling-pai! Sekarang semua mata memandang kepada Kwee Siang Lee dengan penuh perhatian.

Pemuda itu memang gagah dan tampan, sepasang matanya yang lebar dan bukan seperti kebanyakan orang itu sangat tajam, menentang semua orang dengan penuh keberanian. Memang pemuda ini memiliki mata seperti mata ibunya, wanita Tibet itu.

Pemuda ini memang mengesankan sekali. Usianya baru delapan belas tahun, wajahnya bersih tampan dengan rambut hitam lebat yang disisir rapi lalu digelung ke atas dibungkus dengan kain berwarna merah. Bajunya berwarna biru, diikat dengan sabuk sutera kuning, dan celananya berwarna putih bersih.

Walau pun pakaiannya tidak dapat disebut mewah, bahkan terbuat dari bahan sederhana, namun karena bersih dan yang memakainya seorang pemuda remaja yang tampan, maka kelihatan amat pantas dan rapi. Tubuhnya sedang saja, tetapi padat dan membayangkan tenaga muda yang kuat.

Semua orang yang hadir merasa terkejut dan heran karena mereka semua mendengar bahwa Cin-ling-pai adalah sebuah partai yang besar dan termasuk partai dari golongan pendekar, partai bersih yang biasanya menjadi lawan dari golongan sesat atau golongan hitam. Apa bila Cin-ling-pai hanya mengirim utusan sebagai peninjau saja, seperti partai-partai lain yang juga mengirim utusan seperti partai-partai Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain itu, maka hal ini tak mengherankan. Akan tetapi bagaimana Cin-ling-pai mengirim seorang wakil yang mencalonkan diri menjadi bengcu?

Namun karena pemuda yang mengaku sebagai wakil Cin-ling-pai itu sudah mengajukan diri sebagai calon bengcu, maka ketua Sin-ciang Toat-thouw-pang menjadi bingung juga. Dia tentu saja tidak berani menolak, apa lagi ketika para wakil golongan bersih yang lain bertepuk tangan dan mengangguk-angguk tanda setuju. Tentu saja mereka ini merasa suka sekali kalau bengcu terjatuh ke tangan seorang Cin-ling-pai yang terkenal menjadi pusat para pendekar.

Semenjak tadi Sin Liong memang sudah memperhatikan Kwee Siang Lee yang mengaku sebagai wakil Cin-ling-pai. Kini, ketika melihat pemuda tampan itu bahkan mengajukan diri sebagai wakil yang mencalonkan diri sebagai bengcu, tentu saja Sin Liong menjadi makin terheran-heran.

Kehadirannya di tempat itu hanya karena dorongan suheng-nya Ouwyang Bu Sek yang menyuruh dia menghadiri pemilihan bengcu hanya untuk melihat dan mencari pengalaman saja. Kini, mendengar pemuda tampan itu mewakili Cin-ling-pai mengajukan diri sebagai calon bengcu, tentu saja dia amat tertarik karena dia menjunjung tinggi nama Cin-ling-pai sebagai partai dari kongkong-nya (kakeknya).

Selagi ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu meragu dan tidak berani menolak, akan tetapi juga belum menerima Kwee Siang Lee sebagai calon bengcu yang ke enam, tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring, "Tidak pantas...!"

Dan nampak bayangan orang meloncat ke atas panggung, langsung berdiri menghadapi Sin-ciang Gu Kok Ban ketua perkumpulan tuan rumah.

Semua orang memandang. Kiranya yang meloncat ke atas panggung itu adalah Kim Lok Cinjin, wakil ketua Pek-lian-kauw yang tadi telah diangkat menjadi salah seorang di antara calon-calon bengcu.

Kim Lok Cinjin ini adalah sute dari Kim Hwa Cinjin, ketua Pek-lian-kauw di selatan. Dan sejak dulu, Pek-lian-kauw memang membenci Cin-ling-pai yang dianggap menjadi musuh mereka. Oleh karena itu, Kim Lok Cinjin juga membenci Cin-ling-pai sehingga begitu tadi melihat Cin-ling-pai diwakili seorang pemuda remaja yang mengajukan diri sebagai calon bengcu, hatinya sudah terasa panas dan dia cepat meloncat ke atas panggung sambil mencela.

Melihat tosu ini, Sin-ciang Gu Kok Ban menjura kemudian bertanya, “Apakah yang totiang maksudkan?”

"Pangcu, kami menolak keras jika bocah itu menjadi calon bengcu mewakili Cin-ling-pai!" bentaknya dengan nada keras dan menghina. "Semua calon bengcu yang berada di sini adalah orang-orang terhormat, yang menjadi calon karena diangkat oleh golongan masing-masing sebagai orang pilihan. Akan tetapi, siapakah yang mengangkat wakil Cin-ling-pai ini? Huh, siapakah yang tidak mendengar Cin-ling-pai itu perkumpulan macam apa? Mana mungkin ada kerja sama antara Cin-ling-pai dengan kita? Lihat saja buktinya. Cin-ling-pai mengirim wakilnya yang hanya seorang, itu pun masih seorang bocah ingusan pula, dan sekarang bocah itu malah mengajukan diri sebagai calon bengcu! Bocah ingusan seperti itu menjadi bengcu? Ha-ha-ha, bisa ditertawakan oleh cucu-cucu kita! Coba cu-wi (anda sekalian) pikir baik-baik, bukankah perbuatan Cin-ling-pai itu berarti memandang rendah dan menghina jagoan-jagoan selatan? Apa Cin-ling-pai mengira bahwa pemilihan bengcu di antara kita ini hanya permainan kanak-kanak belaka yang boleh dimasuki oleh bocah ingusan itu?"

"Tosu sombong...!" terdengar teriakan nyaring.

Semua orang melihat pemuda Cin-ling-pai yang tampan itu tiba-tiba saja meloncat tinggi sekali dan tubuhnya lalu membuat poksai (salto) berjungkir balik tiga kali dengan gaya yang indah sekali, baru dia turun ke atas panggung tanpa menimbulkan suara tanda bahwa pemuda ini memiliki ginkang yang sudah lumayan tingkatnya. Ketika Kwee Siang Lee meloncat, banyak orang bertepuk tangan memuji.

Sin Liong mengerutkan kedua alisnya. Dia mengerti pula bahwa loncatan dengan gaya jungkir balik seperti itu memerlukan latihan dan juga membutuhkan tenaga ginkang yang lumayan, akan tetapi dengan memamerkan kepandaian seperti itu di hadapan demikian banyaknya orang pandai sungguh merupakan suatu kebodohan dan menandakan bahwa pemuda Cin-ling-pai itu benar-benar berwatak angkuh, sombong dan tolol! Akan tetapi dia hanya melihat saja dan mencurahkan penuh perhatian untuk melihat perkembangannya.

Kwee Siang Lee sudah berdiri di depan tosu Pek-lian-kauw yang memandangnya dengan mulut mencibir, ada pun ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang telah turun dari atas panggung. Ketua perkumpulan ini memang cerdik juga.

Dia tahu siapa adanya tosu itu dan tosu itu tentu saja akan merupakan saingan berat bagi sute-nya yang dia calonkan menjadi bengcu. Kalau sekarang tokoh Pek-lian-kauw ini ribut dengan wakil Cin-ling-pai yang ternyata memiliki ginkang yang boleh juga itu, hal ini akan merupakan sebuah keuntungan besar baginya. Dua orang calon bengcu yang datang dari perkumpulan besar sudah hendak ribut dan bermusuhan sebelum pemilihan dilakukan, hal itu baik sekali bagi fihaknya, setidaknya akan mengurangi seorang saingan, fihak yang kalah.

Maka dia pun diam saja bahkan segera menyingkir untuk memberi ‘kesempatan’ kepada kedua fihak agar keributan itu makin berkobar. Dan semua orang yang hadir di situ adalah kaum sesat yang paling senang menyaksikan perkelahian dan pertumpahan darah, maka kini terdengar suara-suara yang memihak keduanya, bagaikan para penonton adu ayam yang hendak bertaruhan!

"Tosu bau, siapa tidak mengenal nama Pek-lian-kauw di mana engkau tadi diperkenalkan sebagai wakil ketuanya? Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang biasa menipu rakyat, memeras, membohongi dengan agama palsu, dan memikat perempuan-perempuan untuk diperkosa! Dan kau masih berani menghina Cin-ling-pai? Jangan kira bahwa aku, biar pun hanya seorang anggota muda Cin-ling-pai, takut menghadapimu!" Ucapan yang dilakukan dengan sikap gagah dan dengan suara lantang itu disambut tepuk tangan dari mereka yang memihak pemuda ini.

Kim Lok Cinjin tertawa mengejek. "He-heh-heh, bocah ingusan! Baru memiliki kepandaian ginkang macam itu saja sombongnya sudah demikian hebat sampai memuakkan perutku! Padahal ginkang seperti itu hanya patut untuk dipamerkan di dalam permainan komidi di pasar saja, untuk menarik perhatian orang supaya menderma. Kami tadi bicara menurut aturan, bukan seperti engkau yang hanya pandai menyombongkan diri saja. Bila engkau ingin menjadi calon bengcu, siapakah yang mencalonkanmu? Kalau tidak ada, siapakah percaya bahwa engkau ini orang Cin-ling-pai? Jangan-jangan engkau ini bocah sinting hanya mengaku-aku saja wakil Cin-ling-pai! Hayo jawab, siapa yang mencalonkan engkau sebagai wakil Cin-ling-pai?"

Tiba-tiba terdengar suara melengking, "Aku yang mencalonkan dia!"

Tentu saja semua orang menengok ke bawah panggung, ke arah penonton dan melihat seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun mengacungkan jari telunjuknya. Bahkan wakil ketua Pek-lian-kauw dan Kwee Siang Lee yang berada di atas panggung juga ikut menoleh dan memandang kepada Sin Liong. Siang Lee memandang dengan perasaan terheran-heran karena dia sama sekali tidak mengenal pemuda remaja yang berpakaian sederhana itu.

"Aku mencalonkan dia sebagai wakil Cin-ling-pai untuk menjadi calon bengcu! Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan yang maha besar, maka cukuplah dengan mengutus anggota mudanya. Karena dia sudah ada yang mengangkatnya sebagai calon, maka dia sudah memenuhi syarat dan dia harus diterima menjadi seorang calon bengcu!" kata Sin Liong dan karena memang anak ini memiliki hawa sinkang yang luar biasa kuatnya di dalam pusarnya, ketika dia berteriak suaranya melengking nyaring sekali.

Mereka yang berfihak kepada Kwee Siang Lee lalu menyambut dengan sorakan gembira. Akan tetapi Kim Lok Cinjin mengangkat kedua tangan ke atas dan suaranya terdengar melengking tinggi mengatasi sorakan itu,

"Kesaksian itu lebih tidak pantas lagi! Lihatlah, siapa yang mengangkat bocah ini sebagai calon bengcu? Benar-benar kita semua sedang dihina orang! Yang diajukan adalah bocah ingusan, akan tetapi yang mengajukan malah bocah yang masih menetek!" Mereka yang pro kakek ini tertawa dan bersorak mengejek.

"Pendeknya, bocah ingusan ini terlebih dulu harus membuktikan bahwa benar-benar dia adalah wakil Cin-ling-pai dan buktinya hanyalah kalau dia dapat memperlihatkan ilmu-ilmu asli dari Cin-ling-pai. Kalau mellhat usianya, andai kata benar dia murid Cin-ling-pai, tentu kepandaiannya masih terlalu rendah dan mentah, maka biarlah kami akan mengajukan jago tingkat empat saja untuk mengujinya. Kita semua dapat melihat apakah benar-benar dia mempunyai ilmu Cin-ling-pai dan sanggup mengalahkan jago tingkat ke empat dari Pek-lian-pai!"

Mendengar ini, Siang Lee menjadi marah bukan main. Wajahnya yang tampan menjadi merah sekali dan dia sudah ingin menerjang kakek Pek-lian-pai itu. Akan tetapi pada saat itu, Kim Lok Cinjin sudah melompat turun dan sebagai gantinya dari tempat kehormatan tadi melompatlah seorang kakek yang berpakaian sebagai petani, kakek yang usianya sudah enam puluh tahun, namun gerakannya masih gesit, sepasang matanya liar.

Memang Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang anggotanya terdiri dari banyak macam orang, terutama sekali para petani dan penduduk dusun. Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) adalah perkumpulan yang selain menyebar luaskan agama campuran dari Buddha dan Tao dicampur dengan mistik dan sihir, juga mengandung cita-cita untuk menguasai kerajaan demi berkembangnya agama mereka. Agar maksud itu tercapai, Pek-lian-kauw selalu menyusup ke dusun-dusun dan mempengaruhi rakyat kecil. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau tokoh ke empat ini berpakaian sebagai seorang petani.

"Orang muda, coba perlihatkan jurus-jurus Cin-ling-pai kepadaku," kata kakek petani itu. Tubuhnya yang kurus itu sudah memasang kuda-kuda dan sikapnya memandang rendah. Tokoh ke empat dari Pek-lian-kauw sudah terhitung seorang pandai kerena ilmu silatnya sudah mencapai tingkat pelatih bagi para anggota muda, yaitu pelatih dasar-dasar ilmu silat Pek-lian-kauw.

Siang Lee yang berwatak keras dan memang dia seorang pemuda berdarah panas sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi, juga tak dapat mengeluarkan kata-kata karena marahnya, maka tanpa bicara apa-apa lagi dia lantas membentak nyaring dan dia sudah menyerang kakek itu dengan pukulan yang amat keras.

Cin-ling-pai bukanlah sebuah partai sembarangan, melainkan sebuah partai perkumpulan yang dipimpin oleh seorang pendekar sakti, yaitu Cia Keng Hong. Seperti kita ketahui dari cerita Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum), Cia Keng Hong telah menguasai banyak ilmu silat tinggi yang hebat dan sukar dicari bandingnya di dunia persilatan.

Sesudah mendirikan perkumpulan Cin-ling-pai, pendekar sakti ini kemudian menciptakan ilmu silat khusus untuk perkumpulannya, yang diambilnya dari ilmu-ilmu silat yang sudah dikuasainya dan para anak murid Cin-ling-pai digembleng dengan ilmu yang khas ini. Ilmu silat itu dinamakan Cin-ling Kun-hoat dan terdiri dari ilmu silat yang dapat dimainkan baik dengan tangan kosong mau pun dengan senjata apa saja.

Hanya para anggota Cap-it Ho-han yang merupakan sebelas orang murid utama sajalah yang diberi pelajaran ilmu-ilmu hebat seperti Siang-bhok Kiam-sut dan sebagian Thai-kek Sin-kun, akan tetapi murid-murid lainnya hanya digembleng dengan Cin-ling Kun-hoat saja yang sudah merupakan ilmu silat lengkap dan amat tangguh.

Siang Lee juga sudah mempelajari Cin-ling Kun-hoat sampai tingkatan yang cukup tinggi sehingga dia merupakan seorang ahli dalam mainkan ilmu silat itu dengan pedang mau pun dengan tangan kosong. Karena itu, begitu menyerang dia lantas menggunakan jurus Cin-ling Kun-hoat yang ampuh.

Tangan kanannya dikepal menyerang dengan jotosan ke arah muka lawan ada pun tangan kirinya dengan jari-jari terbuka dan miring membacok ke arah ulu hati. Sesungguhnya, serangan tangan kiri inilah yang merupakan inti jurus serangan ini, sedangkan yang kanan walau pun dilakukan dengan kuat sebenarnya bertugas sebagai pancingan dan menutupi serangan inti itu.

"Dukkk!"

Kakek itu menangkis jotosan tangan kanan, dan terkejutlah dia ketika merasa ada angin dahsyat menyambar disusul bacokan tangan miring sebelah kiri.

"Plakkk!"

Kembali dia berhasil menangkis, namun dia terhuyung ke belakang dan dadanya terasa sesak.

"Hehhhh...!" Dia membuang napas dan dengan marah kakek itu lalu menubruk ke depan dengan jurus Singa Mengejar Mustika.

Tubrukan itu berbahaya sekali karena kakek itu menggunakan kedua tangan dan kedua kakinya untuk menyerang, setelah meloncat, kedua tangannya mencengkeram dan kedua kakinya menginjak dengan pengerahan tenaga.

Namun, Siang Lee menggunakan ginkang-nya dan tubuhnya telah mencelat ke belakang lalu dilanjutkan dengan loncatan ke samping sehingga tubrukan kakek itu yang dilanjutkan pula dengan tendangan kaki kiri tidak mengenai sasaran.

Para penonton tertarik sekali hingga suasana di sekeliling panggung menjadi riuh dengan suara penonton. Tentu saja hanya semua anak buah Pek-lian-kauw saja yang menjagoi kakek petani itu, sedangkan para penonton selebihnya tidak berfihak, melainkan menjagoi karena penafsiran masing-masing akan kekuatan dua orang yang sedang bertanding itu.

Dan mulailah mereka itu mengadakan taruhan. Akan tetapi karena gerakan Siang Lee amat sigap dan cepat, sedangkan sikap pemuda itu pun angkuh dan angker, maka lebih banyak yang menjagoi pemuda ini.

Kalau di bawah panggung orang ramai bertaruhan, di atas panggung terjadi perkelahian yang semakin lama semakin seru. Kakek itu makin merasa penasaran sekali. Dia adalah seorang tokoh tingkat ke empat dari Pek-lian-kauw, dia dianggap sebagai tokoh besar dan juga pelatih yang amat pandai oleh ratusan orang anggota Pek-lian-kauw, terlebih pula, melihat lawan yang baru belasan tahun usianya itu sedangkan dia sudah berusia enam puluh tahun, tentu saja dia merasa menang segala-galanya, baik tenaga, ilmu silat, mau pun pengalaman. Maka sesudah pertandingan berlangsung hampir lima puluh jurus dan dia belum mampu mengalahkan pemuda itu, dia merasa penasaran bukan main.

Pada lain pihak, Siang Lee yang terlalu percaya kepada kepandaian sendiri juga merasa penasaran sekali. Karena keduanya sudah marah, maka sekarang perkelahian itu bukan sekedar menguji kepandaian, melainkan menjadi perkelahian mati-matian untuk mencari kemenangan, kalau perlu dengan merobohkan dan membunuh lawan!

Tiba-tiba saja kakek itu mengeluarkan suara menggereng laksana harimau dan dia sudah menubruk lagi, serangannya sekali ini adalah serangan nekat untuk mengadu nyawa. Dia tak peduli lagi dengan segi penjagaan diri, melainkan mengerahkan seluruh kemampuan dan perhatian untuk menyerang dalam nafsunya untuk menjatuhkan lawan dan mendapat kemenangan. Tentu saja sikap seperti ini tidak benar sama sekali bagi seorang ahli silat yang menghadapi lawan pandai, yang seharusnya membagi kekuatan untuk menjaga diri, tidak semua dikerahkan untuk menyerang dan membiarkan diri terbuka.

Siang Lee terkejut juga menyaksikan serangan nekat itu. Memang hebat sekali serangan itu dan dia pun tahu bahwa kalau dia menangkis berarti keras lawan keras dan karena dia tahu pula bahwa tenaganya hanya seimbang dengan tenaga lawan, maka hal itu sangat berbahaya dan bisa membuat dia terluka, baik menang mau pun kalah dalam adu tenaga itu.

Maka, dengan kecepatan kilat menggunakan ginkang-nya yang diandalkan, dia melempar diri ke samping hingga berhasil lolos melalui bawah lengan kiri lawan, akan tetapi sambil mengelak itu pemuda ini masih sempat mengayun tangan menyerang ke bawah pangkal lengan kiri itu.

"Dukkk!"

Tubuh kakek itu terpelanting, lambungnya kena ditonjok dan dia roboh, meringis sambil memegangi lambungnya yang kena pukul.

Pada saat itu terdengar gerengan keras dan seorang kakek yang seperti raksasa telah muncul di atas panggung. Kakek ini menyeramkan sekali, selain tubuhnya tinggi besar dan otot-ototnya menonjol pada seluruh bagian tubuhnya, juga mukanya bengis, alisnya tebal, matanya lebar, kumis dan jenggotnya pendek namun lebat dan kaku seperti kawat. Bajunya berlengan pendek sampai di pundaknya, memperlihatkan sepasang lengan yang besar berotot, di kedua pergelangan tangannya nampak masing-masing seekor ular kecil melingkar seperti gelang.

Dua ekor ular itu sebenarnya adalah ular-ular asli, hanya saja ular yang sudah mati lalu diberi obat sehingga menjadi kaku dan keras. Di punggungnya nampak tersembul gagang golok besar, gagangnya berbentuk kepala harimau dan dandanan seperti itu menambah seram keadaan raksasa yang usianya sekitar lima puluh tahun ini.

"Sute, minggirlah engkau!" bentaknya dengan suara kasar dan parau kepada kakek petani yang telah kena dipukul oleh Siang Lee tadi. Kakek petani itu meringis, mengangguk dan kembali ke tempatnya di mana dia lalu diberi sebutir obat oleh Kim Lok Cinjin yang segera ditelannya.

"Bocah sombong dari Cin-ling-pai! Engkau sudah mengalahkan sute-ku, marilah engkau bermain-main sebentar denganku! Apa bila engkau takut, biarlah aku mengampuni orang Cin-ling-pai, akan tetapi engkau harus berlutut dan memberi hormat kepadaku sembilan kali sambil minta ampun, kemudian menggelundung pergi dari tempat ini!" Suara kakek raksasa ini lantang dan ketika dia bicara, matanya melotot dan perutnya bergerak-gerak, kedua lengannya yang diayun-ayun itu mengeluarkan suara berkerotokan!

Melihat ini, Sin Liong terkejut bukan main dan maklumlah dia bahwa kalau pemuda murid Cin-ling-pai itu tetap memaksa diri maju, maka dia akan celaka di tangan raksasa itu. Dia melihat betapa selain raksasa itu mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada kakek petani tadi dan juga pemuda itu, raksasa ini memiliki sifat kejam dan besar sekali kemungkinan si pemuda akan terbunuh kalau dia berani melawan. Dan dia tahu pula bahwa dari sinar matanya, pemuda itu tentu malu untuk mundur, apa lagi kini pemuda itu sudah membusungkan dada, sangat bangga karena kemenangannya tadi, kemenangan yang amat tipis.

"Hemm... siapa takut..."

"Haii, nanti dulu! Penasaran ini! Melanggar peraturan dan merusak tata susila pemilihan bengcu!"

Teriakan ini nyaring sekali dan semua orang memandang, lalu terdengar suara tertawa di sana-sini ketika mereka melihat betapa yang berteriak itu ternyata adalah pemuda remaja yang tadi mengangkat Siang Lee sebagai calon bengcu, dan kini pemuda remaja itu telah memanjat tiang penyangga panggung untuk naik ke atas. Hal ini membuat orang merasa geli.

Mereka semua adalah ahli-ahli silat dan untuk naik ke atas panggung yang hanya kurang lebih dua meter tingginya itu, tentunya mereka akan menggunakan kepandaian meloncat. Akan tetapi pemuda remaja itu agaknya tidak pandai meloncat tinggi, maka dia memanjat seperti seekor monyet.

Akan tetapi karena teriakan itu nyaring sekali, Siang Lee tidak melanjutkan kata-katanya, dan si kakek raksasa juga ikut menoleh, memandang ke arah Sin Liong yang kini sudah muncul kepalanya dan dengan susah payah kakinya mengait pinggir panggung, berdiri di depan Siang Lee untuk menghalangi pemuda itu berhadapan dengan kakek raksasa.

"Cu-wi (tuan-tuan sekalian) yang mulia adalah orang-orang gagah yang tentu mengenal peraturan!" Demikian Sin Liong mulai berteriak sambil memandang ke empat penjuru dan menggerak-gerakkan dua lengannya yang dikembangkan seperti gaya seorang ahli pidato di hadapan rapat umum. "Saudara ini adalah seorang di antara para calon bengcu yang mewakili Cin-ling-pai. Tadi ada fihak yang meragukan dan ingin mengujinya apakah dia benar-benar tokoh Cin-ling-pai dan cu-wi sudah melihat sendiri bahwa dia keluar sebagai pemenang. Jelas bahwa dia adalah seorang tokoh Cin-ling-pai dan sebagai calon bengcu tentu saja tidak boleh bertanding dulu. Hal ini merugikannya karena kalau calon-calon lain masih segar bugar, dia tentu menjadi lelah. Apa bila ada fihak yang hendak menantang Cin-ling-pai di sini, jangan ditujukan kepada calon bengcu, biarlah aku yang akan mewakili Cin-ling-pai untuk menghadapi fihak yang menantang Cin-ling-pai!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat Sin Liong menghadapi Siang Lee dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu berkata dengan sikap hormat, "Taihiap, harap taihiap sudi duduk saja di tempat kehormatan, menanti sampai dimulainya sayembara perebutan kedudukan bengcu. Ada pun badut-badut yang hendak mengacau, biarlah serahkan saja kepadaku."

Jelas bahwa sikap dan kata-kata Sin Liong ini amat mengangkatnya tinggi sekali, maka tentu saja Siang Lee tidak hendak membantah. Dengan sikap bangga dan angkuh dia lalu mengangguk kepada Sin Liong, sikapnya persis seperti kaum atasan memandang kepada bawahannya dan dia masih berkata,

"Kau hati-hatilah!" lalu Siang Lee berlenggang menuju ke tempat duduknya semula. Tentu saja diam-diam Sin Liong merasa geli menyaksikan sikap pemuda yang kosong itu.

Sementara itu, selagi semua penonton terheran-heran menyaksikan pemuda remaja yang naik ke panggung saja harus memanjat itu tapi kini hendak mewakili pemuda Cin-ling-pai menghadapi tokoh-tokoh Pek-lian-kauw, kakek raksasa tadi juga bengong hingga sejenak tak dapat berkata apa-apa. Akan tetapi setelah melihat Kwee Siang Lee, calon lawannya yang tadi telah mengalahkan sute-nya itu mundur, dia menjadi marah sekali.

"He, bocah ingusan! Apakah kau sudah gila? Mau apa engkau naik ke sini dan menyuruh lawanku mundur? Kalau dia tidak berani, dia harus berlutut dulu dan minta ampun...!"

Sin Liong menggerakkan tangan kanannya mencela. "Eihh! Siapa bilang dia tidak berani? Kedudukannya masih terlampau tinggi untuk melawanmu. Bukankah dia calon bengcu? Masih ada aku di sini, kenapa dia harus turun tangan sendiri?"

Kakek itu terbelalak. "Kau...?! Kau maksudkan bahwa kau berani melawan aku? Ha-ha-ha-ha!" Kakek itu tertawa geli karena merasa lucu, dan banyak orang yang hadir ikut pula tertawa.

"Kakek harimau, engkau menggereng seperti harimau dan mukamu juga seperti harimau, jangan tertawa dahulu. Ketahuilah bahwa Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan besar yang namanya setinggi langit. Pendirinya, pendekar sakti Cia Keng Hong adalah seorang pendekar sakti yang tanpa tanding, kepandaiannya sudah mencapai langit. Ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai tak ada keduanya di dunia ini. Dan aku mendapat berkah, pernah aku belajar sedikit ilmu dari Cin-ling-pai, oleh karena itu, kalau ada yang menghina dan memandang rendah Cin-ling-pai, biarlah aku mewakili Cin-ling-pai untuk membuka mata orang yang menghina itu!"

Kakek itu tidak marah, bahkan tertawa semakin keras karena dia menganggap bocah di depannya itu seperti badut sedang berlagak saja. "Ehh, anak lucu, siapakah namamu?"

Melihat kakek itu bertanya sambil berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, dua tangan bertolak pinggang dan dadanya dibusungkan, Sin Liong lalu meniru dengan berdiri tegak, kedua kaki dipentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang, lalu berkata lantang.

"Ahh, kakek yang tidak lucu, siapakah namamu?"

Bagi orang-orang yang pernah mengenal Sin Liong semenjak kecil sampai dia berada di Cin-ling-pai ikut kakeknya, tentu akan terheran-heran kenapa terjadi perubahan demikian besar pada diri anak ini. Semenjak masih kecil sampai dia berada di Cin-ling-pai, anak ini berwatak pendiam dan serius, wajahnya lebih sering muram dari pada cerah dan dia tidak pandai berkelakar.

Akan tetapi, semenjak dia menjadi sute dari Ouwyang Bu Sek, terjadi perubahan pada wataknya yang pendiam itu. Ouwyang Bu Sek adalah seorang kakek yang pandai bicara, jenaka dan lucu, maka selain ilmu kepandaiannya, juga sifatnya ini agaknya menurun pula kepada Sin Liong. Akan tetapi, karena pada dasarnya Sin Liong pendiam, maka sifat itu hanya sewaktu-waktu saja timbul padanya, terutama ketika menghadapi saat berbahaya, dan sifat ini timbul sebagian besar sebagai siasat.

Tentu saja sikap ini memancing suara ketawa geli dari banyak hadirin sampai ada yang terkekeh-kekeh, terutama sekali bagi mereka yang memang merasa tidak suka terhadap Pek-lian-kauw. Melihat kakek yang wajahnya menyeramkan itu dipermainkan dan diejek oleh seorang bocah ingusan yang baru berusia belasan tahun, benar-benar merupakan penglihatan yang lucu dan tentu saja memuaskan hati mereka yang anti Pek-lian-kauw.

Kakek itu terbelalak. Dia adalah seorang tokoh besar Pek-lian-kauw. Bahkan orang-orang kang-ouw yang pandai pun tidak berani sembarangan terhadap dia, bahkan banyak pula yang takut. Akan tetapi kenapa anak ini demikian beraninya? Akan tetapi kakek raksasa itu mempunyai dua dugaan. Pertama, tentu saja anak ini sama sekali buta akan keadaan di dunia kang-ouw, dan karena tidak mengenal siapa dia maka berani bersikap seperti itu, dan yang ke dua, boleh jadi anak ini agak miring otaknya maka berani bersikap demikian gila-gilaan!

"Engkau malah berani balas bertanya sebelum menjawab?!" bentaknya.

"Tentu saja! Engkau adalah fihak yang mencari perkara, ada pun aku hanyalah fihak yang melayanimu, maka boleh dibilang engkau ini tamunya dan aku ini tuan rumahnya. Maka, tidakkah sudah sepatutnya kalau tuan rumah lebih dulu mengetahui nama si tamu baru memperkenalkan diri? Betul tidak, cu-wi yang mulia?" Dia menoleh ke bawah panggung.

"Betul...! Betul…!"

Tentu saja mereka yang menonton pertunjukan lucu itu menyetujui. Di dalam keadaan seperti itu, pada saat Sin Liong mendapatkan simpati karena kelucuan dan keberaniannya mempermainkan seorang tokoh besar yang ditakuti, tentu saja apa pun yang dikatakan anak itu akan disetujui mereka.

Sin Liong kini menghadapi lagi kakek raksasa sambil tersenyum lebar. "Nah, kakek yang tidak lucu, kalau aku saja yang bicara tentu engkau tidak percaya, akan tetapi pendapat semua orang gagah yang terhormat itu, apakah engkau berani untuk melanggarnya? Nah, jawablah dulu, siapakah namamu!"

Kulit muka yang kasar dan agak hitam itu menjadi lebih hitam lagi karena kakek itu sudah marah sekali dan mukanya menjadi kemerahan, matanya melotot dan anehnya, bila mana kakek ini sedang marah terjadilah hal yang lucu di luar kesadarannya sendiri, yaitu cuping hidungnya yang kiri bergerak-gerak kembang kempis dengan keras sehingga kumisnya sebelah kiri juga ikut pula bergerak-gerak, persis seperti kumis kelinci! Melihat hal ini, Sin Liong merasa geli sekali dan dia pun terkekeh-kekeh.

Kakek raksasa itu menjadi makin marah. "Anak bedebah! Mengapa engkau tertawa?"

"Heh-heh-ha-ha-ha, engkau lucu sekali! Aku menarik kembali omonganku tadi, kalau tadi aku menyebutmu kakek yang tidak lucu, sekarang aku menamakan engkau kakek yang lucu. Nah, kakek yang lucu, siapakah sih namamu? Jangan jual mahal, ah!"

Kembali banyak orang tertawa dan kakek itu kembali mendongkol. "Bocah sial! Kau kira aku ini orang apa maka kau berani main gila seperti ini? Dengar baik-baik agar terbawa mampus olehmu. Aku adalah tokoh tingkat ke tiga di Pek-lian-kauw, dan julukanku adalah Kiu-bwee-houw, namaku... ahhh, bocah macam engkau tidak pantas mengenal namaku. Biarlah arwahmu nanti ingat selalu bahwa engkau mampus di tangan Kiu-bwee-houw!"

Bukan tidak ada sebabnya kenapa kakek yang berjuluk Kiu-bwee-houw (Harimau Berekor Sembilan) ini tidak mau memperkenalkan namanya kepada Sin Liong. Melihat anak itu amat lincah dalam bicara, pandai mempermainkan orang dan kelihatan nakal dan kurang ajar, maka kakek ini sengaja menyembunyikan namanya karena khawatir kalau namanya diperkenalkan, maka nama itu akan menjadi bulan-bulan dan olok-olok anak itu. Namanya adalah Toa Bhi dan dia she Bhe. Nama itu dapat pula diartikan Si Hidung Besar!

"Pantas... pantas...!" Sin Liong mengangguk-angguk. "Wajahmu seperti harimau, lagakmu seperti harimau, gerakanmu seperti harimau hendak menubruk, dan gagang golokmu pun ukiran kepala harimau. Pantas julukanmu Harimau Ekor Sembilan, akan tetapi aku sama sekali tidak melihat ekormu! Apakah benar-benar ekormu itu ada sembilan? Cobalah kau perlihatkan kepadaku, kakek lucu!"

Tentu saja ucapan ini segera disambut oleh ketawa riuh rendah oleh para penonton dan Kiu-bwee-houw menjadi makin gemas. "Bocah yang sudah bosan hidup! Hayo lekas kau katakan siapa namamu agar kelak aku dapat memberitahukan kepada Cin-ling-pai bahwa engkau telah mampus di tanganku!"

"Uuuhhhh, tidak gampang, sobat. Namaku adalah Sin Liong!"

Kwee Siang Lee yang sejak tadi memperhatikan anak itu, diam-diam terkejut bukan main. Dia belum pernah bertemu dan berkenalan dengan Sin Liong, akan tetapi tentu saja dia pernah mendengar nama Sin Liong, nama anak yang katanya merupakan murid baru dan murid terakhir dari sucouw-nya, yaitu Cia Keng Hong!

Pernah dia mendengar betapa seorang anak kecil aneh diambil murid oleh sucouw-nya itu, dan kabarnya anak itu dilarikan penjahat sakti pada saat peti mati sucouw-nya sedang dihormati dalam upacara berkabung oleh keluarga sucouw-nya. Jadi dia inikah anak yang menjadi murid terakhir dari sucouw-nya itu? Diam-diam dia terkejut bukan main.

Anak yang usianya paling banyak enam belas tahun ini ternyata masih terhitung paman kakek gurunya! Karena kakeknya, mendiang Kwee Kin Ta, salah seorang di antara Cap-it Ho-han, adalah murid dari Cia Keng Hong, dan bocah yang menjadi murid bungsu dari Cia Keng Hong ini terhitung sute dari kakeknya sendiri.

Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh pemuda ini. Dia tadi telah bersikap keterlaluan! Dia telah dengan lancang mengangkat diri sendiri menjadi wakil Cin-ling-pai! Bahkan lebih dari itu, dia telah lancang dan berani mencalonkan dirinya menjadi calon bengcu sebagai wakil Cin-ling-pai pula! Padahal di situ ada pemuda ini yang masih terhitung susiok-kong atau paman kakek guru darinya!

"Sin Liong? Heiii, bocah sombong! Engkau ini tokoh tingkat berapakah dari Cin-ling-pai? Dengan nyali sebesar ini, agaknya engkau tentu seorang tokoh yang penting juga!" Kakek itu memancing untuk kelak memperolok Cin-ling-pai bila mana dia sudah merobohkan, ah, bahkan membunuh bocah yang telah memanaskan perutnya itu.

"Tokoh tingkat berapa? Wah, orang macam aku ini di Cin-ling-pai dapat kau temui losinan banyaknya, sulit dihitung, dan belum masuk hitungan kelas sama sekali! Aku sepatutnya hanya menjadi jongos atau tukang sapu saja di sana!"

Makin mengkal rasa hati kakek raksasa itu. Dengan kata-kata itu, kembali bocah itu yang kelihatan meremehkan diri, sebetulnya menyeret dia ke tempat rendah, karena bukankah bocah itu seakan mengatakan bahwa dia hanya patut bertanding melawan jongos atau tukang sapu dari Cin-ling-pai saja? Kalau dia belum terlanjur maju, tentu dia tak akan sudi untuk melayani seorang kacung Cin-ling-pai!

Akan tetapi karena mereka sudah berhadapan, tak ada jalan lain baginya untuk menebus penghinaan dan rasa malu itu dengan merobohkan atau pun membunuh anak ini secepat mungkin. Dia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau dan memang gerengannya itu dilakukan dengan pengerahan khikang, suara yang keluar dari dalam perut dan dapat menggetarkan jantung para pendengarnya, terutama sekali Sin Liong yang berdiri tepat di depannya. Apa bila anak ini tidak mempunyai kepandaian, tentu dia akan menjadi pucat, menggigil atau lumpuh seketika, mirip seperti pengaruh gerengan harimau tulen terhadap manusia.

Akan tetapi, murid kakek sakti Ouwyang Bu Sek ini tentu saja cepat-cepat mengerahkan sinkang-nya sehingga gerengan itu baginya tidak lebih berbahaya dari pada bunyi suara kucing saja. Dia tersenyum mengejek.

"Wah, julukanmu macan, gerenganmu seperti macan pula. Seekor macan muda dan kuat memang berbahaya, akan tetapi macan tua ompong macam engkau ini tidak menakutkan melainkan menggelikan. Aku berani bertaruh bahwa menghadapi seekor domba muda saja engkau tidak akan mampu merobohkannya. Eh, orang tua, percaya tidak engkau?"

Ditanya demikian, seperti orang tua latah raksasa itu menjawab, "Tidak percaya!" Akan tetapi dia segera sadar bahwa dia telah melayani pembicaraan anak itu maka dengan marah dia membentak, "Bersiaplah untuk mampus!"

"Mampus ya mampus, akan tetapi aku ingin melihat apakah macan ompong ini mampu membunuh seekor domba. Biar aku yang menjadi dombanya."

"Biar engkau berubah menjadi anjing, kau akan tetap mampus di tanganku, bocah setan!"

"Ehhh, kau menantang anjing? Ingat, anjing lebih kuat dari pada domba, lho! Kau tidak menyesal nanti kalau dikalahkan aniing? Biar aku menjadi anjing dulu!"

Dan seketika itu juga Sin Liong menjatuhkan diri merangkak-rangkak dengan empat kaki seperti seekor anjing. Selagi semua orang masih merasa terheran-heran, mendadak anak itu mengeluarkan gonggongan keras dan menyalak-nyalak, suaranya persis seekor anjing tulen! Orang-orang tertawa dan memuji karena andai kata tidak melihat anak itu, tentu mereka mengira bahwa memang anjing tulen yang menyalak-nyalak itu.

Hal ini sebenarnya tidaklah mengherankan. Karena semenjak bayi dipelihara oleh monyet-monyet liar, maka penangkapan dari pendengaran Sin Liong lebih peka dari pada manusia biasa sehingga dia lebih dapat menangkap ‘inti’ dari suara binatang-binatang hutan. Yang ditirunya itu adalah suara yang memang dikenalnya benar, suara anjing hutan, maka dia dapat mengeluarkan bunyi yang persis dengan suara anjing tulen.

Saat melihat pemuda remaja itu merangkak-rangkak, menyalak-nyalak dan menggoyang-goyang pinggul yang tidak ada ekornya, meledaklah suara ketawa mereka yang hadir dan disuguhi tontonan lucu ini. Hanya orang-orang dari Pek-lian-kauw yang tidak bisa tertawa karena mereka itu ikut merasa gemas dan marah ketika melihat betapa tokoh ke tiga dari Pek-lian-kauw itu dipermainkan oleh seorang bocah!

"Mampuslah!" Tiba-tiba tubuh tinggi besar itu menubruk.

Tubrukan ini bukan tubrukan ngawur belaka yang didorong oleh nafsu amarah, melainkan tubrukan yang telah diperhitungkan masak-masak, yang hendak ditangkap ialah tengkuk dan pinggul Sin Liong. Sekali tertangkap, tentu tubuh anak itu akan dibantingnya sampai tulang-tulangnya remuk.

Akan tetapi, seperti gerakan seekor anjing tulen, Sin Liong meloncat dengan tekanan kaki dan tangannya sehingga tubrukan itu pun luput! Hal ini amat mengejutkan hati para tokoh Pek-lian-kauw.

Mereka tahu bahwa Kui-bwee-houw tadi telah mempergunakan jurus Harimau Menerkam Domba yang sangat dahsyat, dan tubrukan pertama itu disusul dengan cengkeraman ke mana pun lawan yang diserang itu mengelak. Akan tetapi, seperti seekor anjing, anak itu benar-benar telah melompat cepat ke samping kemudian cepat pula memutar sehingga si raksasa sama sekali tidak mampu melanjutkan serangannya dan gagallah jurus pertama dari serangannya itu.

Terpaksa dia membalik sambil memutar dan mengayun kaki kirinya. Itulah jurus Harimau Memutar Tubuh yang mirip dengan ilmu para tokoh kaipang (perkumpulan pengemis), yaitu ilmu yang sangat diandalkan oleh mereka dan yang dinamakan Ilmu Silat Mengusir Anjing.

"Huk-huk-huk!" Sin Liong menyalak-nyalak. Melihat sambaran kaki itu, dia menggerakkan kepala dan kaki depan ke samping, kemudian dia menggigit ke arah betis yang lewat di depan mukanya.

"Brettt...!”

“Aughh...!" Kakek itu mengguncang kakinya yang tergigit dan semua orang bersorak-sorai melihat pemuda cilik itu betul-betul menggigit betis lawan, persis seperti seekor anjing.

Celana si raksasa itu robek dan sesudah kaki yang tergigit diguncang-guncang, terpaksa Sin Liong melepaskan gigitannya.

"Monyet cilik, akan kubunuh kau!" Kiu-bwee-houw berteriak, mukanya merah dan kedua matanya terbelalak liar.

Akan tetapi sebelum kakek ini menyerang kembali, Sin Liong segera membuat gerakan meloncat ke atas dan berdiri dengan sikap seperti seekor monyet!

"Aha, kebetulan sekali, engkau menyuruh aku menjadi monyet? Baiklah, dan marilah kita lihat apakah macan ompong mampu mengalahkan monyet!"

Pemuda itu langsung mengeluarkan suara aneh, suara monyet tulen. Dan cara dia berdiri dengan kedua pundak diangkat, mukanya dengan mulut agak meringis, kedua tangannya, memang mirip, bahkan persis monyet. Dan hal ini tentu saja lebih tidak aneh lagi karena Sin Liong sudah tahu benar bagaimana gerak-gerik seekor monyet. Bahkan sebelum dia bertemu dengan ibu kandungnya, dahulu dia adalah seekor monyet cilik.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner