PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-37


Wajah In Hong menjadi merah, sinar matanya berkilat penuh api kemarahan ketika dia mendengarkan penuturan kekasihnya sampai selesai. "Hemmm, bocah itu sungguh tidak tahu diri dan tak tahu malu!" gumamnya.

"Memang dia telah melakukan hal yang tidak sopan sama sekali, Hong-moi. Akan tetapi kasihanilah dia, dia itu masih kanak-kanak dan perlu bimbingan dan nasehat kita. Kukira sebaiknya kalau dia mengerti bahwa engkau sudah tahu akan perbuatannya itu agar dia menjadi takut. Bagaimana kalau kita panggil dia kemudian kita bersama menasehatinya dan memarahinya agar dia sadar kembali dari kesesatannya itu?"

In Hong menarik napas panjang untuk menekan kepanasan hatinya, lalu dia mengangguk. "Kurasa sebaiknya demikian. Kalau dipikir mendalam, memang kita pun bersalah, koko. Kita bertanggung jawab. Ketika dia kita bawa, dia adalah seorang anak perempuan yang belum tahu apa-apa dan masih bersih. Kalau dia sekarang ternoda oleh pikiran penuh gejolak nafsu itu, adalah karena dia terlalu banyak bergaul dengan orang-orang luar yang menghambakan diri kepada nafsu. Dan ini tentu saja tidak terlepas dari tanggung jawab kita yang agaknya kurang keras terhadap Sun Eng."

Bun Houw mengangguk. "Engkau benar, Hong-moi. Dan mudah-mudahan saja kita belum terlambat untuk mendidiknya kembali ke jalan benar supaya kelak di alam baka aku tidak usah merasa malu terhadap Kiam-mo Sun Bian Ek."

Maka dipanggillah Sun Eng. Ketika dara itu melihat wajah suhu dan subo-nya, wajahnya menjadi agak pucat. Dari sinar mata kedua orang gurunya yang seperti pengganti orang tuanya sendiri itu, tahulah dia bahwa sudah terjadi hal yang sangat penting dan dia dapat meraba apa adanya hal penting itu. Karena itu, sesudah memberi hormat, dia lalu duduk dan menundukkan mukanya.

Sejenak lamanya kedua orang pendekar itu menatap wajah yang menunduk itu, kemudian terdengar In Hong berkata, suaranya angker dan penuh wibawa, dingin akan tetapi juga mengandung rasa sayang,

"Sun Eng, engkau adalah murid kami, dan juga seperti keluarga kami sendiri, oleh karena itu, mengingat bahwa engkau kini sudah mulai dewasa, kukira sebaiknya kalau kita bicara dari hati ke hati secara terbuka."

Ucapan ini membuat Sun Eng makin gelisah dan tegang karena dia masih belum dapat meraba ke mana dia hendak dibawa oleh subo-nya dalam percakapan ini, karena itu dia hanya mengangguk, dan menjawab, "Baik, subo."

"Sun Eng, aku sudah tahu akan perbuatanmu terhadap suhu-mu beberapa malam yang lalu."

"Aihh...!" Sun Eng mengangkat mukanya yang berubah merah dan memandang kepada wajah Bun Houw.

Pendekar ini mengangguk. "Aku menceritakan hal itu kepada subo-mu, Sun Eng, demi kebaikan kita bersama dan supaya engkau mengerti benar betapa tidak benar dan tidak patut adanya sikap dan tindakanmu itu."

Sun Eng mengeluh kecil dan menunduk kembali.

"Eng-ji, engkau tentu sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa sikapmu terhadap suhu-mu, terutama tindakanmu malam itu, sungguh amat tidak patut dan tersesat sekali. Suhu-mu adalah gurumu yang sekaligus menjadi pengganti ayahmu, atau seorang kakak yang membimbingmu. Bagaimana mungkin engkau merubah pandanganmu dari ketaatan dan kehormatan sebagai seorang murid kepada guru, menjadi cinta birahi seorang wanita terhadap pria? Kau tahu bahwa suhu-mu adalah seorang pendekar yang tentu tidak akan mau terperosok ke dalam perbuatan hina seperti itu! Lagi pula, engkau adalah seorang dara remaja, bagaimana engkau hendak merendahkan diri sedemikian rupa? Di manakah kesopananmu? Apakah engkau sudah tidak mempunyai rasa malu lagi?" Suara In Hong meninggi terbawa oleh perasaan marahnya.

"Dan engkau harus tahu bahwa sikap dan perbuatanmu itu merupakan suatu hal yang paling menyakitkan dan menghancurkan hatiku, Eng-ji. Engkau kuanggap sebagai adik sendiri, atau anak sendiri, dan sekarang engkau melakukan hal seperti itu kepadaku! Ah, hal itu dapat lebih mencelakakan dari pada kalau engkau menyerangku dengan pedang di tangan!" Bun Houw menambahkan.

Kepala itu terangkat dan menjadi pucat sekali, air matanya bercucuran kemudian dengan terisak-isak Sun Eng berkata. "Harap suhu dan subo mengampunkan teecu, atau kalau suhu dan subo menjadi marah dan hendak menghukum teecu, biar teecu dibunuh sekali pun teecu tidak akan merasa penasaran. Teecu tidak sadar bahwa perbuatan teecu itu menghancurkan hati suhu dan menyedihkan hati subo. Sebetulnya teecu kasihan kepada suhu, kasihan mendengar riwayat suhu dan subo, dan teecu... teecu hanya bermaksud ingin menghibur hati suhu..."

"Hemm, menghibur dengan jalan menyerahkan diri seperti itu?" In Hong berkata.

"Ampunkan, subo... teecu pikir... jangankan hanya menyerahkan diri... jangankan hanya mengorbankan badan... walau menyerahkan nyawa berkorban jiwa pun teecu rela untuk membalas budi kebaikan suhu dan subo..."

In Hong dan Bun Houw saling pandang, kemudian memandang pula kepada Sun Eng yang sudah menunduk dan menangis lagi.

"Sudahlah, kami hanya ingin agar engkau mengerti bahwa perbuatanmu itu tidak pantas kau lakukan dan agar mulai detik ini engkau merubah pandanganmu terhadap suhu-mu, menjadi seperti dulu lagi, ketika engkau masih kecil, pandangan seorang murid terhadap gurunya dan agar perasaan yang bukan-bukan itu kau enyahkan dari hatimu. Mengerti?"

Sun Eng mengangguk berkali-kali dan bibirnya menggumam di antara isaknya, "...teccu salah... teecu salah..."

Melihat murid itu, Bun Houw merasa kasihan sekali. "Sun Eng, sadarlah bahwa aku dan subo-mu menyayangmu sebagai guru-guru terhadap murid, atau sebagai kakak terhadap adik, maka jangan engkau menafsirkan secara keliru dan sesat. Yang sudah lalu biarlah lalu dan kita lupakan bersama, mulai detik ini engkau harus kembali ke jalan benar."

Demikianlah, sepasang pendekar itu mengampuni murid mereka. Akan tetapi semenjak hari itu, terdapat suatu kerenggangan dan kecanggungan antara murid dan kedua orang gurunya itu, suatu celah dan batas yang membuat guru dan muridnya itu tidak dapat sedekat dan seakrab dahulu lagi. Pandang mata antara mereka terselubung, dan senyum mereka dibuat-buat.

Agaknya peristiwa itu telah menimbulkan luka yang cukup mendalam, baik bagi si murid mau pun bagi dua orang gurunya. Dan karena kerenggangan ini, maka Sun Eng makin mendekatkan diri dan bergantung kepada teman-temannya, kepada para tetangganya.

Di dalam hati Bun Houw dan In Hong juga timbul semacam kehambaran dan kehampaan terhadap murid mereka, membuat mereka bersikap tak begitu mempedulikan lagi. Bahkan ketika mereka melihat dan mendengar betapa Sun Eng sering bergaul dengan pemuda-pemuda yang suka berkeliaran dengan pakaian-pakaian indah, pemuda-pemuda hartawan dan bangsawan yang pekerjaannya setiap hari hanya mengincar gadis-gadis cantik untuk dijadikan teman, sepasang pendekar ini yang tadinya kadang-kadang masih menegur dan menasehati, akhirnya juga diam saja. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa kini mereka membenci Sun Eng, melainkan karena tidak ingin dianggap terlalu mengekang oleh gadis yang bukan keluarga mereka itu.

Beberapa bulan kemudian sepasang pendekar ini merasa terkejut sekali ketika menerima serombongan tamu yang ternyata adalah utusan dari keluarga Auw, seorang pembesar yang kaya raya di kota itu. Utusan ini datang untuk meminang Sun Eng, untuk menjadi jodoh Auw-kongcu, putera tunggal pembesar Auw itu.

Auw-kongcu adalah seorang pemuda yang sudah sangat terkenal sebagai pemuda mata keranjang di kota itu, berandalan dan terkenal pengganggu wanita-wanita di daerah itu, mengandalkan ketampanannya, hartanya dan kedudukan orang tuanya. Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa murid mereka dilamar oleh pemuda yang tersohor buruk watak ini, tentu saja Bun Houw beserta Yap In Hong menjadi marah dan serta merta menolak pinangan itu.

Apa lagi In Hong! Kurang lebih dua tahun yang lalu pendekar wanita ini pernah menghajar Auw-kongcu, bahkan kalau saja tidak dicegah oleh Bun Houw tentu telah membunuhnya karena Auw-kongcu berani main gila kepadanya, berani mengeluarkan kata-kata yang tak sopan dan hendak menggodanya di depan kuil pada waktu dia melakukan sembahyang seorang diri. Dan kini pemuda kurang ajar itu telah mengirim utusan melamar Sun Eng! Maka, tidaklah mengherankan apa bila pendekar wanita yang berwatak keras ini seketika mengusir utusan-utusan itu dengan jawaban sejelas-jelasnya bahwa mereka menolak pinangan itu.

Para utusan itu lalu pergi dengan ketakutan, akan tetapi Bun Houw dan In Hong melihat betapa wajah murid mereka membayangkan kemarahan dan ketidak senangan hatinya oleh penolakan itu.

"Eng-ji, yang meminangmu itu adalah seorang pemuda yang namanya tersohor jahat dan busuk di kota ini, karena itu kami menolaknya dengan keras," kata In Hong.

"Terserah suhu dan subo," jawab dara itu dengan singkat kemudian meninggalkan kedua gurunya, jelas nampak bahwa dia merasa tidak senang.

Bun Houw menarik napas panjang. "Aihh, untunglah dia bukan adik atau anak kita, kalau demikian halnya, tentu benar-benar mengesalkan hatiku bukan main."

"Betapa pun juga, dia adalah murid kita maka sudah sepatutnya kita jaga agar jangan memperoleh suami yang brengsek," kata In Hong.

Peristiwa penolakan pinangan Aw-kongcu itu agaknya makin merenggangkan hubungan antara kedua orang guru dengan muridnya itu. Atau lebih tepat lagi, Sun Eng kini makin menjauhkan diri, dan kalau berada di hadapan kedua orang gurunya, dia selalu cemberut. Bahkan kini, dia tidak pernah lagi bertanya-tanya tentang ilmu silat kepada mereka, lebih banyak pergi ke tetangga dari pada berlatih silat, setelah selesai membantu subo-nya di dapur.

Bahkan beberapa hari kemudian sepasang pendekar itu melihat perubahan besar pada diri murid mereka. Wajahnya agak pucat dan sepasang matanya banyak melamun. Hal ini mencurigakan hati In Hong dan pendekar wanita ini membisiki kekasihnya bahwa mereka harus lebih memperhatikan Sun Eng.

Demikianlah, pada suatu malam, ketika mereka menaruh perhatian, mereka mendengar jendela kamar murid mereka terbuka perlahan kemudian mereka melihat berkelebatnya bayangan murid mereka itu keluar meninggalkan kamarnya, lalu meninggalkan rumah itu. In Hong dan Bun Houw langsung membayangi dari jauh dan dengan penuh keheranan mereka melihat murid mereka itu memasuki sebuah hutan kecil di pinggir kota. Ketika tiba di padang rumput yang diterangi bulan purnama, di situ mereka melihat seorang laki-laki telah menanti kedatangan Sun Eng dan begitu mereka bertemu, keduanya saling rangkul dan saling berciuman dengan penuh gelora nafsu!

"Ah, kau datang juga... betapa aku sudah khawatir kau tidak dapat datang," terdengar pria itu berkata dan dengan hati mendongkol sekali Bun Houw dan In Hong mengenal bahwa pria itu bukan lain adalah Auw-kongcu!

"Aku tentu datang, kongcu, aku pun rindu sekali padamu."

"Ahhh, Eng-moi, engkau memang manis, sayang," kata Auw-kongcu.

Kini sepasang pendekar itu memandang dengan mata terbelatak ketika mereka melihat betapa murid mereka mandah saja dirangkul dan direbahkan di atas rumput, lalu digumuli pemuda itu dan bahkan tertawa cekikikan pada saat tangan pemuda itu meraba-raba lalu mulai membukai pakaiannya!

"Keparat!" In Hong memaki dan dia telah meloncat ke depan, tubuhnya melayang seperti seekor burung garuda menyambar dan di lain saat tubuh Aw-kongcu sudah diangkat dan dibantingnya, bagaikan membanting seekor anjing saja. Auw-kongcu berteriak kaget dan kesakitan.

"Anjing hina-dina!" kembali In Hong membentak ketika melihat muridnya dengan pakaian setengah terbuka itu menatapnya dengan mata terbelalak. "Manusia she Auw keparat, engkau memang sudah layak dibunuh!"

Akan tetapi tiba-tiba Sun Eng menubruk dan dara ini sudah berdiri menghadang subo-nya melindungi tubuh Aw-kongcu yang sudah merangkak bangun dengan muka ketakutan itu. Dengan muka merah sekali karena malu, akan tetapi sepasang matanya bersinar penuh keheranian Sun Eng menghadapi subo dan suhu-nya, lalu berkata dengan suara lantang.

"Subo tidak berhak membunuhnya! Subo tidak berhak memukulnya. Apakah kesalahan Ang-kongcu terhadap subo maka subo menyerangnya?"

Hampir In Hong tidak percaya mendengar pertanyaan itu. "Tidak berhak...? Dan dia... dia dan kau..."

"Memang aku telah menyerahkan diriku kepadanya! Aku telah menjadi... isterinya. Malah sudah lima kali aku menyerahkan diriku kepada laki-laki yang kucinta. Apa hubungannya ini dengan subo?" teriak Sun Eng menantang.

In Hong merasa mukanya seperti ditampar oleh tangan yang tak nampak, juga Bun Houw mengeluarkan seruan tertahan. Dara yang sejak kecil mereka pelihara, mereka didik dan mereka sayang itu kini berdiri tegak, menentang mereka bahkan berbicara dengan kasar, ber-aku dan tidak lagi menyebut teecu (murid) untuk diri sendiri!

"Sun Eng! Kau... kau...!" Saking marahnya, In Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya, dan tangannya menyambar, mengirim pukulan maut ke arah kepala muridnya itu.

"Plakkk!" Tangan Bun Houw menahan lengannya.

"Sabarlah, Hong-moi, tak perlu kita menggunakan kekerasan."

In Hong terengah-engah saking marahnya.

"Suhu dan subo harus mengerti bahwa kami telah saling mencinta. Aku rela menyerahkan diri dan kehormatanku kepada orang yang kucinta, tapi mengapa suhu dan subo hendak menghalangi kami? Bahkan suhu dan subo sudah menolak pinangannya. Apakah suhu dan subo hendak mengulangi sikap dan perbuatan ayah suhu yang menolak dan tidak menyetujui perjodohan antara suhu dan subo yang saling mencinta?"

Ucapan-ucapan itu seperti ujung-ujung pedang berkarat yang menusuk hati sepasang pendekar itu. Wajah mereka menjadi pucat dan sejenak mereka tak mampu berkata-kata.

"Perbandinganmu itu tidak tepat, Sun Eng!" Bun Houw menahan kemarahannya. "Kalau engkau memilih pemuda yang tepat, kami tentu tidak akan mencampuri dan akan setuju saja. Akan tetapi, pilihanmu keliru. Yang kau pllih adalah pemuda yang berwatak busuk, seorang pemuda pemogoran, mata keranjang dan..."

"Suhu, selera orang memang tidak sama. Suhu mencinta subo maka tentu menganggap subo wanita yang paling baik di dunia ini, akan tetapi bagaimana pandangan ayah suhu yang tidak menyetujui subo menjadi isteri suhu? Tentu berbeda antara selera suhu dan ayah suhu, seperti juga selera antara aku dan suhu juga berbeda. Bagiku, Auw-kongcu adalah pria yang paling baik di dunia." Mendengar ini, sambil meringis menahan takut dan kaget, pemuda itu menggandeng tangan Sun Eng yang tersenyum kepadanya.

"Hemmm, pilihanmu yang kau lakukan dengan mata buta itu pun bukan soal yang terlalu berat, akan tetapi engkau telah menyerahkan kehormatan diri di luar pernikahan sah, apa hal itu patut dilakukan seorang gadis yang mengenal susila?" tanya In Hong dengan sepasang mata bersinar-sinar.

"Subo, bila aku menyerahkan kehormatan diriku kepada orang yang kucinta, itu tandanya aku cinta kepadanya! Auw-kongcu menghendaki bukti dari cintaku, dan bukti yang paling utama adalah penyerahan diri dan kehormatan. Maka aku menyerahkan, karena memang aku cinta kepadanya. Kami saling mencinta, maka apa lagi halangannya bagi kami untuk bermain cinta?"

"Bodoh! Orang semacam dia ini mana bisa dipercaya? Engkau akan disia-siakan setelah engkau dinodainya, akan dibuangnya setelah habis manis dan tinggal sepahnya. Butakah engkau tidak melihat bahaya itu?" bentak In Hong.

"Memang pendirian subo demikian, maka sampai kini pun subo tidak rela menyerahkan diri kepada suhu. Itu tandanya subo kurang mencinta suhu. Akan tetapi aku mencinta dan percaya kepada Auw-koko..., koko, bukankah engkau tidak akan pernah menyia-nyiakan diriku, bukan?"

Auw-kongcu merangkul. "Tentu saja tidak, sayang, aku bersumpah..."

Sungguh kasihan sekali Sun Eng. Dara remaja yang telah dibutakan oleh nafsunya sendiri itu dengan mudah tunduk dan menyerah, percaya akan bujukan manis seorang pria. Dia tidak tahu bahwa pria semacam Auw-kongcu ini hanya mengutamakan pemuasan birahi belaka.

Bagi pria macam ini, seperti kebanyakan pria di dunia, cinta adalah hubungan kelamin, cinta adalah pemuasan nafsu birahi! Jadi bagi mereka ini, bukti cinta adalah penyerahan diri seorang gadis kepadanya! Kalau tidak mau menyerahkan diri, berarti tidak cinta!

Betapa banyaknya gadis-gadis yang mau menyerahkan diri sebelum resmi menjadi isteri, sehingga mengandung dan membawa akibat-akibat yang amat menyedihkan. Tentu saja ada pula pria yang bertanggung jawab, tetapi hal ini tidak banyak dan lebih banyak yang melarikan atau menjauhkan diri karena memang cintanya hanya terletak pada pemuasan nafstu birahi belaka. Dan gadis-gadis yang dungu itu tidak mau membuka mata melihat kenyataan bahwa dalam hubungan di luar nikah ini, yang terancam adalah fihak wanita. Terancam keadaan jasmani dan keadaan rohaninya, terancam lahir batinnya. Tentu saja hal ini ada hubungannya dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Karena itu, betapa pentingnya untuk mempelajari dengan sesungguhnya apa yang oleh kita dinamakan cinta itu! Apakah itu yang dinamakan cinta kalau cinta hanya mengejar pemuasan nafsu birahi belaka,? Dan yang amat menyedihkan, betapa pun kita selubungi dengan berbagai istilah muluk, namun pada dasarnya banyak di antara kita, juga para wanita, yang mempunyai anggapan bahwa hubungan kelamin adalah tanda cinta! Itu saja!

Ini bukanlah berarti bahwa kita harus menentang hubungan kelamin, bukan berarti kita menganggap bahwa cinta menolak hubungan kelamin. Sama sekali bukan!

Kita TIDAK BERPENDAPAT APA-APA, hanya mengajak kita semua untuk menyelami, untuk menyelidiki secara mendalam akan apa yang dinamakan cinta oleh kita semua itu. Cinta kasih tidak bersifat merusak, baik merusak badan mau pun batin. Maka sesudah melakukan hubungan badan lalu meninggalkannya dan merusak batinnya, jelas bahwa di situ sama sekali tidak terkandung cinta kasih, dan sepenuhnya hanya terisi oleh nafsu birahi belaka. Mengapa orang-orang muda buta terhadap hal yang gamblang ini?


Demikian pula halnya dengan Sun Eng. Gadis ini percaya sepenuhnya akan bujuk rayu Auw-kongcu, didorong oleh rangsangan serta dorongan nafsu birahinya sendiri, kemudian menyerahkan diri karena Auw-kongcu menuntut penyerahan diri sebagai bukti cintanya.

Bun Houw dan In Hong merasa sedih bukan main, sedih dan marah. "Sun Eng, engkau kelak akan menyesal! Bedebah ini menipumu, biar kubunuh dia!"

"Jangan subo bergerak! Jika subo hendak membunuhnya, bunuhlah dulu aku! Dan kalau subo membunuh kami berdua, itu hanya berarti bahwa subo merasa iri hati terhadap kami!" kata Sun Eng.

Sampai puyeng rasa kepala In Hong mendengar kalimat terakhir itu. Dia membelalakkan mata, wajahnya berubah beringas dan Bun Houw melihat sinar maut di dalam pandang mata kekasihnya. Cepat dia merangkulnya dan dengan marah dia berkata,

"Sun Eng, mulai saat ini, detik ini, engkau bukan murid kami lagi dan kami juga bukan guru-gurumu lagi! Biarlah kelak akan kupertanggung jawabkan hal ini dengan roh ayahmu yang dahulu menitipkan engkau kepadaku. Mulai saat ini juga segala perbuatanmu adalah menjadi tanggung jawabmu sendiri. Marilah, Hong-moi!" kata Bun Houw dan dia setengah memaksa kekasihnya meninggalkan hutan itu.

Sesudah tiba di luar hutan, tanpa tertahankan lagi In Hong menangis tersedu-sedu! Bun Houw merangkulnya, dan In Hong lalu menumpahkan semua rasa duka, penasaran dan marah itu melalui air matanya yang membasahi baju di dada Bun Houw.

Bun Houw merangkul sambil mengelus-elus rambut kepala kekasihnya menguras semua perasaannya. Sesudah tangis itu reda, In Hong mengangkat mukanya yang kini menjadi pucat dan basah air mata, memandang wajah Bun Houw.

"Houw-ko, aku tahu betapa sedih dan kecewa hatimu... ahhh, Houw-koko yang malang, betapa buruk nasib kita..."

Bun Houw menunduk. Dalam keadaan berduka yang membutuhkan hiburan itu mereka menemukan hiburan dalam diri masing-masing, dan tanpa mereka sengaja, kedua mulut itu bertemu dalam ciuman yang amat mendalam, penuh kemesraan, penuh permohonan untuk dihibur, untuk dilindungi, dan juga penuh kerinduan yang ditahan-tahan.

Malam itu bulan purnama. Karena memang keduanya telah bertahun-tahun menanggung rindu dendam yang sangat mendalam, yang mereka jaga dengan segala kekuatan batin mereka, sekarang setelah mereka berpelukan dan berciuman di dalam cahaya bulan, dan mungkin pula karena dipengaruhi peristiwa tadi, melihat murid mereka dan kekasihnya saling menumpahkan rasa cinta mereka melalui hubungan badan, maka pelukan mereka menjadi makin ketat dan ciuman mereka makin hangat.

Akhirnya sambil terengah-engah In Hong melepaskan ciuman dan pelukannya, lalu terisak melarikan diri pulang ke rumah, diikuti oleh Bun Houw yang napasnya juga agak terengah dan seluruh tubuhnya panas dingin.

Mereka tiba di dalam rumah, di ruangan dalam. Pintu dua buah kamar masing-masing masih terbuka. Mereka saling pandang, lalu seperti ada daya tarik luar biasa, keduanya saling tubruk, saling rangkul dan saling berciuman lagi. Akhirnya, Bun Houw memondong kekasihnya itu melangkah menuju ke pintu kamarnya.

Akan tetapi ketika tiba di depan pintunya, tiba-tiba In Hong meronta, melepaskan diri dan melangkah mundur. Kembali mereka saling berpandangan dan dari pandang mata mereka itu terpancar suara hati yang lebih jelas dari pada suara melalui kata-kata. Bun Houw menatap wajah yang cantik itu, melihat sinar mata kekasihnya yang harap-harap cemas dan bingung. Dia sadar lalu menunduk dan pada saat itu keduanya sudah mengeluarkan kata-kata yang sama dalam saat yang sama pula.

“Maafkan aku..."

"Maafkan aku..."

Keduanya saling pandang lagi, merasa lega sesudah saling minta maaf, kemudian Bun Houw memegang kedua pundak kekasihnya, memandang dengan tatapan penuh kasih sayang, lalu berbisik,

"Sudah terlalu lama kita menanggung derita... bagaimana kalau kita... eh, menengok ayah di Cin-ling-san...?" Tentu saja dengan ucapan ini Bun Houw membayangkan harapannya bahwa ayahnya sekarang sudah tidak marah lagi dan akan merestui perjodohan mereka setelah lewat sepuluh tahun lebih. Juga dia sudah merasa rindu kepada ibunya.

Akan tetapi In Hong mengerutkan alisnya. "Koko, selama ini, biar pun kita menanggung rindu dan tertekan derita batin, namun kita telah kuat bertahan. Kalau... kalau seandainya kita ke Cin-ling-san hanya untuk mendengar ayahmu masih menentang kita, kehancuran hati yang lebih hebat tentu akan kita derita dan belum tentu kita kuat bertahan seperti sekarang. Kenapa tidak menanti saatnya yang baik dan kita menyerahkan diri saja pada kehendak Tuhan?"

Bun Houw maklum betapa berat rasa hati kekasihnya untuk menghadap ayah bundanya setelah ditolak sebagai mantu! Dia hanya mengangguk, menarik napas, mencium dahi In Hong, kemudian membalikkan tubuh dan memasuki kamarnya, menutupkan daun pintu kamarnya, diikuti oleh pandang mata In Hong.

Wanita ini berlinang air mata dan hatinya merasa kasihan sekali. Betapa besar keinginan hatinya untuk menghibur hati Bun Houw, untuk melayaninya, untuk menyenangkannya, untuk menyerahkan dirinya!

Tiba-tiba dia teringat kepada Sun Eng dan dengan cepat dia pun memasuki kamarnya, merasa ngeri terhadap bayangan pikirannya sendiri karena kini dia dapat merasakan apa yang diperbuat oleh Sun Eng di dalam hutan tadi! Namun, dia mengerti benar bahwa hal itu adalah tidak benar, oleh karena itu, sampai bagaimana pun dia tidak akan melakukan apa yang diperbuat oleh Sun Eng!

Beberapa bulan semenjak peristiwa di dalam hutan itu yang mengakibatkan Sun Eng tak pernah kembali lagi ke rumah kedua orang gurunya, meninggalkan semua barang serta pakaiannya sebab kekasihnya yang kaya raya itu membelikan sebanyaknya pakaian baru untuknya, Bun Houw dan In Hong mendengar berita mengejutkan.

Mereka mendengar bahwa Auw-kongcu kedapatan tewas di dalam hutan di mana dia dahulu mengadakan pertemuan dengan Sun Eng dan menurut berita itu, pemuda Auw ini tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan karena leher serta mukanya berlubang-lubang, berwarna kehijauan dan berbau wangi.

Tentu saja suami isteri ini terkejut bukan main karena luka-luka di leher dan muka seperti itu hanya dapat diakibatkan oleh senjata rahasia Siang-tok-swa (Pasir Beracun Wangi), yaitu senjata rahasia dari In Hong yang sudah diajarkan pula kepada Sun Eng! Mereka dapat menduga bahwa tentu Sun Eng yang sudah membunuh Auw-kongcu itu. Mereka lalu menyelidiki dan tahulah mereka bahwa memang Sun Eng yang membunuh pemuda itu karena mereka mendengar keterangan bahwa Auw-kongcu tidak mau mengawini gadis itu.

Bun Houw dan In Hong hanya dapat merasa berduka dan kasihan kepada murid mereka itu, akan tetapi di samping perasaan duka dan kasihan, terdapat perasaan marah yang besar terhadap murid yang dengan perbuatannya berarti juga menodakan nama mereka yang menjadi gurunya. Biar pun mereka berdua sudah tidak mengakuinya sebagai murid, namun baru penggunaan Siang-tok-swa ini saja sudah merupakan bukti langsung bahwa gadis itu adalah murid mereka.

Apa lagi ketika mereka mendengar berita bahwa kini setelah terlepas dari Auw-kongcu, Sun Eng bergaul dengan segala macam pemuda bangsawan mata keranjang yang kaya raya dan hidup berfoya-foya, terkenal sebagai seorang gadis yang mempunyai banyak pacar, hati sepasang pendekar ini menjadi semakin marah. Mereka memutuskan untuk tidak mau memusingkan lagi soal Sun Eng dan mencoba untuk melupakan bekas murid itu dengan tak pernah membicarakannya satu sama lain dan juga mengambil keputusan untuk tidak menceritakan tentang diri gadis itu kepada siapa pun juga.

Demikianlah, ketika Sun Eng tiba-tiba muncul di waktu sepasang pendekar ini bersama sepasang pendekar Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng berada dalam penjara, dan gadis itu hendak menolong mereka, tentu saja Bun Houw dan In Hong menjadi marah lantas mengusir bekas murid itu. Dan peristiwa itu tentu saja memaksa mereka berdua untuk menceritakan tentang diri bekas murid itu kepada Yap Kun Liong dan isterinya.

"Tidak disangka perempuan hina itu muncul di sini, sungguh hanya untuk membikin kami berdua merasa malu dan penasaran!" kata In Hong dengan gemas, menutup penuturan Bun Houw yang kini telah menjadi suaminya.

Yap Kun Liong mendengarkan penuturan itu dan mengerutkan alisnya, berulang kali dia menarik napas panjang. "Ahh, anak itu patut dikasihani..."

"Tapi, Liong-ko, dia tak berakhlak, tak tahu malu, merusak nama kami!" In Hong berkata marah.

"Itulah, kalian hanya mengingat nama kalian saja, mengingat kepentingan kalian sendiri dan tidak pernah mengingat kebutuhan anak itu. Memang harus diakui bahwa anak itu lemah menghadapi nafsunya sendiri, akan tetapi jahatkah hal itu? Ataukah hal itu justru merupakan hal yang patut dikasihani, hal yang tidak terlepas dari pada pendidikan dan lingkungan? Kalian masih terlalu muda untuk mendidik, mungkin juga dia terlalu dimanja. Dia tidak jahat, buktinya, biar pun kalian telah membencinya, dia masih ingat budi, masih berani menempuh bahaya untuk menolong kalian. Hal ini saja membuktikan bahwa anak itu bukan orang yang tak ingat budi, bukan orang yang jahat. Dia hanya menjadi korban salah didik, salah asuhan sungguh pun kalian berdua tidak insyaf akan kesalahan kalian yang tidak disengaja."

Mendengar ini, In Hong dan Bun Houw tidak membantah lagi karena mereka juga dapat melihat kebenaran dalam ucapan Yap Kun Liong itu. Akan tetapi tentu saja In Hong tidak dapat menerima kesalahannya secara rela, maka secara diam-diam dia masih penasaran dan masih belum lenyap rasa bencinya kepada Sun Eng.

Sementara itu, di dalam gedung tempat tinggal Ciong-taijin, jaksa kota Po-teng di mana Ma-ciangkun bermalam, yaitu pembesar yang menjadi sahabat Lee-ciangkun, yang sudah membantu Ma Kit Su dalam menjaga para tahanan itu, datang beberapa orang tamu. Kedatangan mereka itu secara rahasia, tidak diketahui orang lain kecuali tuan rumah yang menyambut mereka dengan penuh hormat.

Tamu ini adalah Lee Siang atau Lee-ciangkun dari kota raja, Kim Hong Liu-nio, dan nenek Hek-hiat Mo-li. Ciong-taijin sendiri sampai merasa ngeri dan seram ketika dia berjumpa dengan nenek muka hitam yang sangat tua itu, dan memandang dengan penuh curiga kepada nenek itu, kemudian memandang dengan sinar mata penuh tanda tanya kepada sahabatnya dari kota raja itu.

Di samping ketiga orang ini, masih ada belasan orang tinggi besar, dan mereka ini adalah orang-orang yang menjadi pengikut Hek-hiat Mo-li, yang datang dari utara dan merupakan jagoan-jagoan dari utara yang oleh Raja Sabutai diberikan kepada gurunya supaya dapat membantu gurunya menghadapi musuh-musuhnya. Belasan orang ini diterima oleh para pembantu Ciong-taijin di tempat tersendiri dan dijamu oleh mereka.

Bagaimanakah Hek-hiat Mo-li bisa muncul di Po-teng? Seperti kita ketahui, penangkapan atas diri keempat orang pendekar itu adalah pelaksanaan siasat yang dilakukan oleh Lee Siang yang berdaya upaya untuk menyelamatkan kekasihnya dari ancaman hukuman mati oleh guru kekasihnya itu, yaitu waktu tiga bulan yang diberikan kepada Kim Hong Liu-nio untuk menangkap Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng, hidup atau mati.

Maka setelah mereka mendengar berita bahwa siasat itu telah dilaksanakan dengan hasil baik, Kim Hong Liu-nio cepat menghadap gurunya dan melaporkan bahwa empat orang musuh besar itu telah ditawan dan kini sedang menuju ke kota raja.

"Mengingat lihainya mereka, sebaiknya kalau subo sendiri yang turun tangan membunuh mereka yang sudah ditawan dalam kerangkeng dan sedang dikawal menuju ke kota raja," kata Kim Hong Liu-nio.

Nenek itu terkekeh girang. "Bagus, begitu baru engkau muridku yang baik!"

Raja Sabutai juga merasa girang dan raja ini kemudian memilih tiga belas orang jagoan di antara para pengawal pribadinya dan memerintahkan mereka mengawal serta membantu gurunya yang hendak menewaskan musuh-musuh besar yang lihai itu.

Dengan cepat mereka pun berangkat menjemput Lee-ciangkun, kemudian bersama-sama menuju ke selatan untuk menyambut tawanan itu. Kini kebetulan mereka bertemu dengan rombongan tawanan yang sedang berhenti di Po-teng, karena itu Lee Siang lalu langsung membawa rombongannya itu ke gedung Ciong-taijin. Mereka berempat lalu mengadakan perundingan rahasia.

"Ciong-taijin, empat orang tawanan itu adalah orang-orang yang amat lihai dan berbahaya sekali. Sri Baginda sendiri sudah memberi perintah rahasia kepadaku bahwa mereka itu harus dapat dibunuh secepat mungkin, karena kalau mereka sampai lolos, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin pemberontak yang amat membahayakan keamanan negara. Mengingat akan lihainya mereka, maka kami menunjuk locianpwe ini untuk melaksanakan perintah rahasia kaisar itu, dibantu oleh murid beliau ini." Dia memperkenalkan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio kepada Jaksa Ciong.

Oleh karena menganggap bahwa nenek dan muridnya yang cantik itu adalah pelaksana-pelaksana dari perintah rahasia kaisar, maka tentu saja Ciong-taijin memandang kepada mereka dengan penuh hormat dan juga takut karena memang wajah dan sikap nenek itu amat menakutkan.

Sambil duduk di atas bangku dengan tegak dan kedua lengannya disilangkan di depan dada, mukanya seperti topeng yang sama sekali tidak pernah bergerak, nenek itu tanpa memandang kepada Ciong-taijin berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh pembesar itu. Setelah berkata-kata agak lama, nenek itu diam dan muridnya yang cantik lalu berkata sambil memandang kepada tuan rumah.

"Ciong-taijin, guruku baru berkata bahwa untuk melaksanakan perintah kaisar membunuh empat orang itu tidaklah begitu mudah kalau tidak memperoleh bantuan taijin. Maka subo mengusulkan untuk membakar penjara di mana empat orang itu terkurung. Hal ini untuk mencegah agar mereka jangan sampai lolos, karena kalau sampal lolos, tentu kaisar akan marah dan taijin juga ikut bertanggung jawab."

Mendengar ini, wajah pembesar itu lantas berubah pucat dan keringat dingin membasahi lehernya. "Akan tetapi... membakar… penjara...? Lalu... bagaimana dengan para tahanan yang lain? Tentu akan jatuh korban, mereka akan terbakar hidup-hidup!"

Agaknya untuk mendengarkan omongan pembesar itu, Hek-hiat Mo-li tidak memerlukan terjemahan muridnya. Memang sesungguhnya dia juga pandai bicara dalam bahasa Han, akan tetapi dasar wataknya agaknya aneh, dia terlalu memandang rendah terhadap para pembesar sehingga tidak mau bicara secara langsung kepada pembesar Ciong itu. Kini mendengar ucapan Ciong-taijin, dia cepat bicara dalam bahasanya sendiri yang kemudian disalin pula oleh muridnya.

"Menurut subo, tidak mengapa jika sampai jatuh beberapa orang korban karena bukankah mereka itu orang-orang berdosa yang layak mati? Juga, yang dibakar hanyalah sekeliling ruangan di mana keempat orang tahanan itu berada, jadi tidak akan membakar seluruh penjara, karena itu, andai kata ada orang tahanan yang ikut tewas, kami rasa tidak akan begitu banyak jumlahnya."

Akhirnya Ciong-taijin terpaksa menyetujui juga dan menyerahkan semua pelaksanaannya kepada Lee-ciangkun.

"Jangan khawatir, Ciong-taijin, saya yang bertanggung jawab akal hal ini!" kata Lee Siang dengan girang, karena kini terbuka harapan besar baginya untuk dapat memiliki Kim Hong Liu-nio secara resmi dan keselamatan kekasihnya itu tidak akan terancam lagi.

Siang hari itu juga mereka sudah melakukan persiapan. Tanpa diketahui orang, secara rahasia, ruangan penjara di mana empat orang pendekar itu dikurung ditimbuni kayu-kayu dan bahan bakar lainnya, dan dari ruangan itu hanya ada satu jurusan saja terbuka, yaitu di pintu yang akan dijaga ketat oleh Hek-hiat Mo-li dan orang-orang Mongol yang sudah mempersiapkan segalanya untuk mencegah empat orang pendekar itu keluar dari tempat tahanan dan akhirnya dapat mati terbakar di sebelah dalam.

Tidak ada orang tahu bahwa diam-diam ada dua orang yang mengikuti semua kesibukan itu dari jauh. Dua orang yang melakukan kegiatan secara terpisah ini bukan lain adalah Sun Eng dan Lie Seng.

Walau pun sudah diusir oleh suhu dan subo-nya, akan tetapi Sun Eng yang benar-benar mengkhawatirkan keselamatan kedua orang gurunya itu tidak pergi benar-benar, namun berkeliaran di sekitar tempat itu, di kota dan akhirnya kembali lagi ke dekat penjara. Dia melihat kesibukan penuh rahasia itu, melihat pula belasan orang tinggi besar yang meski pun mengenakan pakaian penjaga penjara namun gerak-geriknya mencurigakan. Selain mereka itu semua tinggi besar dan memiliki bentuk muka asing, juga gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Sun Eng merasa makin gelisah. Dia melihat seorang komandan jaga yang nampak lelah dan kurang tidur, siang hari itu keluar dari lingkungan penjara, meloncat ke atas kudanya dan agaknya hendak pulang, karena di pintu penjara dia memesan kepada para penjaga agar berhati-hati dan menyatakan bahwa dia hendak beristirahat dan pulang sebentar.

Ketika komandan jaga ini melarikan kudanya, tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba seorang wanita muda menyeberang jalan dengan tak terduga-duga. Komandan itu terkejut sekali, berusaha menahan namun sudah terlambat karena kaki depan kudanya sudah menerjang wanita itu yang terpelanting dan terbanting ke atas tanah. Komandan itu menghentikan kudanya dan lari menghampiri.

Wanita itu masih muda dan cantik sekali, dan kini terlentang pingsan, pakaiannya agak tersingkap sehingga memperlihatkan sebuah betis yang berkulit putih mulus!

Wanita itu mengeluh, lirih, merintih dengan mata masih terpejam, "Aauhhhh... tolonglah aku..."

Komandan itu menelan ludahnya. Ketika melihat wanita itu mengeluh dan menggeliat, dia menjadi terpesona, kemudian setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, dia lalu mengangkat tubuh yang setengah pingsan itu, segera membawanya ke atas kuda dan melarikan kudanya, bukan pulang ke rumahnya melainkan menuju ke tepi kota di mana terdapat sebuah pondok kosong, pondok ini adalah pondok tempat dia bersenang-senang dengan kawan-kawannya, jauh dari rumah dan isterinya!

Ketika komandan itu membaringkan tubuh yang hangat dan menggairahkan ketika berada dalam pelukannya tadi ke atas dipan, wanita itu kembali mengeluh dan mencoba untuk duduk.

"Auuuh, kakiku...," keluhnya.

"Mengapa kakimu, nona? Sakitkah? Coba kuperiksa." Komandan itu menghampiri lantas duduk di atas pembaringan.

Nona itu tidak membantah, segera melonjorkan kaki kirinya. Sang komandan yang mata keranjang itu lalu menyingkapkan celana kaki kiri, dan terus membukanya hingga ke lutut. Kembali dia menelan ludah melihat sebuah kaki yang bentuknya indah dan kulitnya putih halus dan hangat. Diusapnya kaki itu seperti orang memeriksa, akan tetapi usapannya itu makin kurang ajar, merupakan belaian dari tangannya yang gemetar.

"Aduh, sakit di situ... di bawah lutut...!" Wanita cantik itu mengeluh lagi.

Menduga bahwa lutut itu terkilir, sang komandan lantas mengurutnya dan menaruh obat, kemudian dibalutnya, "Tulangnya tidak patah, hanya terkilir, nona. Dalam waktu sehari saja akan sembuh kembali. Kau mengapa lari-lari menyeberang jalan sehingga tertabrak oleh kuda?"

Nona itu mengerling tajam, kemudian tersenyum malu-malu. "Aku... aku memang ingin melihatmu, ciangkun. Engkau begitu sering lewat dengan kudamu, dan aku... aku kagum melihat engkau begini gagah..."

Hampir komandan yang usianya sudah empat puluh tahun ini tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai. "Benarkah, nona? Dan setelah sekarang kita berhadapan, engkau mau apa?" tanyanya nakal, penuh pancingan dan bujukan, kemudian dia hendak merangkul.

Akan tetapi nona itu mencegahnya dengan kedua tangannya. "Ahhh, kakiku masih sakit sekali, ciangkun. Nanti kalau sudah sembuh, tentu boleh..."

"Boleh apa...?"

Wanita itu tersenyum malu, mengerling tajam seperti kilat, "Ihhh, engkau tentu mengerti sendiri. Sekarang, dipakai bergerak saja kakiku sakit, mari kita omong-omong saja dulu. Kalau tidak salah, ciangkun bekerja di penjara sana, bukan?"

"Benar, aku seorang di antara komandan penjara!" komandan itu menjawab bangga.

"Pantas pakaianmu begitu mentereng! Aku sudah menduga bahwa engkau tentu seorang perwira tinggi. Aku sering lewat dekat penjara hanya untuk dapat melihatmu, ciangkun."

"He-he-he, benarkah?" Komandan itu menyeringai sambil menelan ludah, kemudian dia mendekatkan hidungnya untuk mencium.

Wanita itu memalingkan mukanya, memberikan pipinya yang langsung dikecup dengan bernafsu oleh sang komandan, "Engkau manis, he-he-he, engkau cantik manis!"

Wanita itu mendorong dada komandan itu dengan kedua tangannya, dengan gerakan halus, "Sabarlah, ciangkun, kakiku tidak dapat digerakkan. Biarlah nanti... ehh, beberapa hari ini aku melihat kesibukan di dalam penjara, ada apakah? Apakah ada hubungannya dengan kereta kerangkeng di mana terdapat empat orang penjahat itu?" Secara sambil lalu wanita itu bertanya.

"Ha-ha-ha, rahasia manis, rahasia besar yang hanya diketahui oleh orang-orang penting macam aku ini. Tak boleh kuceritakan kepada siapa pun..."

Wanita itu cemberut lantas berusaha turun dari pembaringan, mukanya membayangkan kekecewaan dan kemarahan.

"Ehh, engkau mau ke mana?"

"Biarlah aku pergi. Biar pun engkau gagah dan tampan menarik, akan tetapi engkau tidak percaya kepadaku! Aku begini percaya kepadamu, mau kau bawa ke pondok ini, akan tetapi engkau masih menganggap aku orang asing yang tak boleh dipercaya. Untuk apa persahabatan berat sebelah ini dilanjutkan? Biarkan aku pergi!" Wanita itu terpincang-pincang hendak pergi.

"Ehh-ehh, nanti dulu... sayang, jangan marah. Aku hanya main-main. Siapakah namamu, manis?"

"Namaku Ang Bwee Hwa."

"Ang Bwee Hwa (Bunga Bwee Merah)? Heh-heh, nama yang bagus, sebagus orangnya. Dan aku bernama Ciok Kwan."

"Apa artinya perkenalan ini kalau kau tidak percaya..."

"Siapa bilang tidak percaya? Aku percaya padamu seratus prosen, manis."

"Kenapa kau tidak mau menceritakan rahasia orang tawanan itu?"

"Ssstttt, jangan keras-keras, aku takut terdengar orang. Dengar, mereka itu orang-orang penting dan berbahaya sekali sehingga sri baginda kaisar sendiri berkenan mengeluarkan perintah rahasia untuk membunuh mereka di sini..."

"Ohhh...?" Wanita itu terkejut dan sang komandan tersenyum karena tidak heran melihat seorang wanita lemah terkejut mendengar tentang pembunuhan. "Mengapa?"

"Aku sendiri tidak tahu, hanya menurut perintah atasanku, kami harus bersiap, dan karena empat orang itu sangat lihai, maka pelaksanaan pembunuhan itu akan dilakukan dengan membakar ruangan tahanan di mana mereka dikurung."

"Ahhh...!" kembali wanita itu terkejut dan membelalakkan mata.

"Dan untuk menjaga agar mereka tidak dapat lolos, kota raja telah mengirim jagoan yang mengerikan. Engkau tentu akan takut bila melihatnya, dia seorang nenek bermuka hitam seperti iblis, bersama seorang muridnya yang cantik sekali akan tetapi kabarnya murid itu pun lihai bukan main. Selain itu, masih ada belasan orang jagoan yang mengawal dan membantu mereka."

"Ihhh, mengerikan sekali. Kapan pembakaran itu akan dilaksanakan?"

"Sekarang juga, setelah lewat senja ini, untung aku sudah bebas tugas, karena tugasku hanya menjaga sampai sore ini, lalu diganti oleh petugas-petugas dari kota raja itu... eh, ada apa?" Komandan itu terkejut karena tiba-tiba berubahlah sikap wanita cantik itu. Tadi kelihatan begitu lemah ketakutan dan menderita nyeri, akan tetapi kini wajah yang manis itu kelihatan keras dan pandang matanya berkilat.

Akan tetapi wanita cantik yang bukan lain adalah Sun Eng itu kini sudah meloncat turun dari pembaringan. Ketika komandan Ciok itu mengulur tangan hendak meraih, tiba-tiba Sun Eng menampar dengan tangan kirinya, dengan kecepatan seperti kilat menyambar. Komandan Ciok hanya sempat menjerit satu kali lantas roboh dengan kepala retak-retak dan tewas seketika.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner