PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-38


Dengan jantung berdebar tegang penuh kegelisahan mendengar berita itu, Sun Eng lalu berlari secepatnya menuju ke penjara. Senja telah mendatang dan cuaca mulai gelap. Dia khawatir kalau-kalau datangnya terlambat, maka dia mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.

Sementara itu, di luar dan di dalam penjara terjadi kesibukan-kesibukan ketika Kim Hong Liu-nio sendiri bersama Lee Siang menyusun pasukan untuk menjaga dan mengeroyok empat orang pendekar yang hendak dibunuh itu. Juga Hek-hiat Mo-li bersama tiga belas orang pembantunya telah siap di pintu depan. Lampu-lampu sengaja belum dipasang oleh para penjaga sehingga keadaan di sana mulai gelap dan remang-remang. Para penjaga telah diganti dengan tenaga-tenaga baru yang pilihan.

Di dalam kegelapan senja yang mulai menyelimuti bumi itu mendadak terdengar teriakan melengking, teriakan dari seorang wanita dengan suara yang dikeluarkan melalui tenaga khikang sehingga terdengar menembus cuaca remang-remang itu.

"Suhuuuu...! Suboooo...! Keluarlah cepat, penjara hendak dibakar! Suhu dan subo sudah terjebak oleh musuh!"

Dan dari pintu depan penjara itu, muncullah seorang wanita yang bukan lain adalah Sun Eng. Para penjaga menjadi gempar dan cepat mereka menerjang dan mengurung, akan tetapi dengan Siang-tok-swa, pasir beracun harum yang digenggamnya, Sun Eng segera menyambut mereka sehingga dua orang penjaga memekik lantas roboh menutupi muka mereka. Berbareng dengan itu, Sun Eng telah mengelebatkan pedangnya dan roboh pula dua orang penjaga lain.

Keadaan menjadi makin geger, dan kini para penjaga mengurung rapat, belasan batang senjata ditujukan ke arah bayangan wanita yang mengamuk itu. Namun Sun Eng tidak menjadi gentar, pedangnya digerakkan dengan dahsyat dan yang nampak hanya sinarnya saja bergulung-gulung. Akhirnya, empat orang pengeroyok kehilangan senjata mereka, ada yang patah, ada pula yang terlempar entah ke mana!

"Suhuuuu…! Suboooo…! Keluarlah sebelum terlambat!" kembali Sun Eng berteriak sambil mengamuk dan amukannya membuat para pengeroyoknya menjadi gentar juga. Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menjadi marah.

"Dari mana datangnya bocah yang bosan hidup?!" bentaknya dan dengan gerakan yang dahsyat dan cepat sekali murid Hek-hiat Mo-li ini telah meloncat dan menyerang Sun Eng dengan tangan kirinya. Sebelum tangan kiri mengenai sasaran, sudah menyambar hawa panas dan terdengar suara berkerincingnya gelang-gelang emas di pergelangan tangan itu.

Sun Eng terkejut menyaksikan serangan yang dia tahu sangat ampuh ini, maka cepat dia mengelebatkan pedangnya dan menangkis ke arah pergelangan tangan yang bergelang itu untuk membacoknya buntung.

"Trikkk…!"

Sun Eng terkejut bukan kepalang karena wanita cantik yang berpakaian indah itu berani menangkis pedangnya dengan tangan kosong dan pada saat tangan itu bertemu dengan pedangnya, mucrat bunga api dan telapak tangannya terasa panas! Tahulah dia bahwa dia menghadapi seorang lawan tangguh yang tangannya terlindung benda kebal, maka dia sudah memutar pedangnya dan mengirim serangan bertubi-tubi ke arah lawan yang lihai itu.

Namun, dengan lincah dan ringannya, Kim Hong Liu-nio mengelak dan kadang-kadang menangkis dengan tangannya yang terlindung oleh sarung tangan tipis itu.

"Suhuuu…! Subooo…! Lekas keluar...!"

Akan tetapi Sun Eng segera menahan teriakannya karena pada saat itu ada sinar merah menyambar ke arah matanya. Dia cepat-cepat mengelak mundur sambil mengelebatkan pedangnya, namun sinar merah itu tidak takut kepada pedangnya dan ternyata itu adalah sehelai sabuk merah yang kini langsung menotok ke arah lehernya. Dia terkejut, cepat miringkan tubuh, akan tetapi tetap saja pundaknya kena tertotok ujung sabuk yang biar pun kehilangan sasaran leher, namun masih amat kuat sehingga Sun Eng terhuyung ke belakang.

"Cepppp!"

Pada waktu itu, dari belakang menyambar tusukan tombak dan serangan yang dilakukan selagi tubuh Sun Eng terhuyung ini tidak mampu ditangkis atau ditolak oleh dara itu yang hanya mampu membuang diri ke samping sehingga tetap saja belakang pundak kirinya tertusuk tombak.

Darah mengucur keluar dan Sun Eng menahan rasa nyeri yang menyengat-nyengat, terus memutar pedang dan mengamuk. Akan tetapi sinar merah dari sabuk di tangan Kim Hong Liu-nio menahan semua gerakannya, membuatnya tidak berdaya dan kembali dia yang kini terdesak dan terkurung oleh para penjaga yang mendapat hati kembali melihat betapa Kim Hong Liu-nio dapat menguasai amukan wanita muda itu.

Betapa pun lihainya Sun Eng yang telah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya dari Cia Bun Houw dan Yap In Hong, akan tetapi karena memang tingkatnya kalah tinggi oleh Kim Hong Liu-nio, apa lagi karena dia sudah terluka dan dikeroyok oleh banyak penjaga, akhirnya kembali gadis itu harus terluka oleh bacokan golok yang merobek celana berikut kulit paha kanannya, membuat gerakannya makin kacau dan pakaiannya penuh dengan darah. Akan tetapi, seperti singa betina dia mengamuk terus dan setiap ada kesempatan, tentu dia berteriak agar suhu dan subo-nya segera melarikan diri!

"Perempuan sial!" Kim Hong Liu-nio marah karena dia khawatir kalau-kalau empat orang tawanan itu benar-benar dapat meloloskan diri oleh teriakan-teriakan itu. Maka dia segera melengking nyaring dan tiba-tiba ada cahaya api meluncur ke arah dahi Sun Eng. Itulah senjata rahasia berupa hio menyala yang amat hebat.

Sun Eng terkejut dan membuang diri ke belakang, akan tetapi tiba-tiba kaki kirinya terlibat ujung sabuk merah dan di lain saat dia sudah roboh terjengkang karena sabuk itu ditarik oleh Kim Hong Liu-nio. Melihat robohnya gadis ini, dua orang penjaga menubruk dengan golok mereka dan Sun Eng sudah tak berdaya lagi untuk mengelak atau menangkis. Akan tetapi dia membuka mata lebar-lebar, menyambut maut dengan mata terbuka!

"Tranggg-tranggg...!"

Pandang mata Sun Eng silau akibat berpijarnya bunga api dan kedua orang penjaga itu bersama golok mereka terjengkang ke kanan kiri, lantas tubuhnya disambar orang yang memiliki tangan kiri kuat bukan main sehingga sekali tarik saja dia sudah bangkit berdiri kembali. Ketika dia melirik, ternyata yang menolongnya adalah seorang pemuda tampan yang bertubuh tegap dan berwajah gagah. Pemuda itu bukan lain adalah Lie Seng!

Seperti kita ketahui, Lie Seng juga selalu membayangi keadaan ibunya, ayahnya dan dua orang paman dan bibinya itu, dan dia selalu mengamati keadaan penjara di mana empat orang itu ditawan. Dia pun terheran-heran melihat kesibukan para penjaga, tidak tahu apa yang akan terjadi.

Ketika dia melihat ada wanita mengamuk dan dikeroyok, terutama pada waktu wanita itu berteriak-teriak menyebut suhu dan subo ke dalam, dia sama tidak mengerti dan tidak tahu siapa wanita itu, siapa pula yang disebut suhu dan subo. Tentu saja dia tidak pernah menduga bahwa yang disebut suhu dan subo oleh wanita cantik itu adalah paman dan bibinya. Juga dia tidak tahu bahwa ayah tiri dan ibu kandungnya tidak pernah mempunyai murid seperti ini, maka Lie Seng menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi dia merasa kagum akan kegagahan wanita itu dan baru setelah dia melihat gerakan wanita itu, dia menjadi terkejut. Dia mengenal dasar gerakan Thai-kek Sin-kun dalam langkah-langkah wanita itu dan hal ini berarti bahwa wanita ini memang masih ada hubungan perguruan dengan keluarganya! Maka melihat wanita itu terluka dan terancam bahaya maut, dia lalu meloncat turun tangan dan menolongnya, juga ingin tahu apa yang dimaksudkan oleh wanita itu ketika berteriak-teriak ke dalam.

Melihat munculnya seorang pemuda gagah perkasa yang dengan sekali berkelebat dan sekali tangkis langsung merobohkan dua orang pembantunya, Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main.

"Tarr-tarrr-tarrr!" Tiga kali sinar merah sabuknya menyambar, melakukan totokan ke tiga jalan darah maut.

Akan tetapi dengan tenangnya Lie Seng mengangkat lengan menangkis dan setiap kali ditangkis, sinar merah sabuk itu terpental, dan untuk yang terakhir kalinya hampir saja Lie Seng berhasil menangkap ujung sabuk, akan tetapi dengan sentakan halus ujung sabuk itu melejit dan terlepas lagi dari pegangan Lie Seng bagaikan seekor ular bernyawa saja! Keduanya menjadi terkejut dan maklum akan kelihaian lawan masing-masing.

"Terima kasih, aku berhutang nyawa padamu!" kata Sun Eng dengan halus dan wanita ini sudah bangkit lagi dengan pedang di tangan, menyambut serbuan tiga orang pengeroyok dari samping.

Lie Seng juga menggerakkan kaki dan tangan, merobohkan dua orang pengeroyok lain. Kedua orang muda ini segera dikurung dan dikeroyok, akan tetapi Lie Seng menyambut mereka dengan seenaknya dan masih sempat bertanya-tanya kepada wanita gagah yang ditolongnya itu.

"Siapa yang kau sebut suhu dan subo-mu?"

"Cia Bun Houw dan Yap In Hong!"

Lie Seng terkejut. Ternyata wanita muda ini adalah murid paman bibinya! Dia sungguh merasa terheran-heran, akan tetapi karena dia tidak pernah mendengar tentang riwayat paman dan bibinya yang telah menghilang selama belasan tahun, maka dia pun percaya akan hal ini.

"Apa artinya teriakanmu bahwa mereka terjebak dan tempat ini akan dibakar?"

"Memang mau dibakar. Lihat di sana itu mereka sudah mulai membakar. Celaka, lekas minta suhu dan subo keluar!" teriak Sun Eng.

Melihat ini, Lie Seng terkejut sekali. Benar saja, di sebelah kiri ruangan penjara di mana ibunya dan yang lain-lain dikurung itu mulai berkobar api yang amat besar, tanda bahwa api itu bukan sembarangan kebakaran, melainkan kebakaran yang memang sudah diatur dengan diberi bahan bakar dan minyak.

"Ibu...! Ayah...! Paman dan bibi...! Lekas keluar, ruangan itu dibakar orang!" Dia berteriak dan karena Lie Seng mengerahkan khikang-nya, maka suaranya terdengar amat nyaring.

Sekarang giliran Sun Eng yang kaget setengah mati mendengar bahwa pemuda ini masih keluarga dari empat orang pendekar yang ditawan, dan menyebut paman dan bibi kepada suhu dan subo-nya!

Sementara itu, di dalam ruangan penjara itu, Bun Houw dan In Hong sama sekali tidak mempedulikan teriakan-teriakan Sun Eng tadi. Bahkan ketika Yap Kun Liong menyatakan keheranan dan kecurigaannya, Bun Houw berkata, "Harap Liong-ko jangan menghiraukan anak durhaka itu."

Ketika di luar terdengar ribut-ribut, empat orang pendekar ini hanya mendengarkan dan karena memang mereka tidak ingin memberontak, maka mereka diam saja. Biar pun ada golongan yang hendak menolong mereka lolos, mereka tidak akan mau meloloskan diri karena sebagai orang-orang gagah mereka hendak memperlihatkan kepada kaisar bahwa mereka itu bukanlah pemberontak-pemberontak seperti yang difitnahkan orang terhadap mereka. Akan tetapi, sesudah mereka berempat mendengar suara Lie Seng itu, mereka terkejut sekali.

"Celaka, kita benar-benar telah terjebak. Jadi penangkapan ini benar-benar hanya tipuan belaka dari musuh-musuh yang menghendaki kematian kita!" kata Yap Kun Liong. "Hayo kita loloskan diri dan bantu Lie Seng yang agaknya terkepung!"

Mereka cepat mengerahkan sinkang dan karena keempatnya adalah pendekar-pendekar sakti yang mempunyai kepandaian tinggi, maka begitu mereka mengerahkan sinkang dan menggerakkan kedua tangan, belenggu-belenggu di tangan mereka itu lantas patah-patah semua sehingga terdengar suara pletak-pletok.

Yap Kun Liong sedikit membantu isterinya karena di antara mereka berempat, hanya Cia Giok Keng yang tidak begitu kuat sinkang-nya. Sesudah terbebas dari belenggu, mereka berempat lalu menerjang pintu ruji baja itu dengan pengerahan tenaga. Karena pintu itu kuat bukan main, setelah empat kali menerjangnya, barulah pintu itu jebol.

"Awas senjata gelap!" Kun Liong berteriak dan mereka berempat cepat mengelak sambil menangkis anak panah yang datang berhamburan seperti hujan.

Mereka meloncat keluar dan melihat serombongan orang yang dipimpin Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio. Wanita cantik ini ternyata telah bergabung dengan subo-nya untuk membantu subo-nya membunuh empat orang musuh besar itu!

Kini mengertilah empat orang pendekar itu mengapa mereka ditangkap. Kiranya semua itu adalah tipuan belaka dan di balik semua itu berdiri musuh besar mereka ini! Teringat mereka akan cerita dari mendiang Hwa-i Sin-kai dan mereka mengerti bahwa tentu fitnah ini dilaksanakan oleh Panglima Lee Siang yang tergila-gila kepada Kim Hong Liu-nio yang juga telah menjebak sampai tewasnya Tio Sun.

"Ah, kiranya engkau iblis betina yang mengatur semua ini!" In Hong berteriak marah ketika melihat musuh besarnya itu.

"Heh-heh-heh, senang sekali melihat kalian akan mampus semua di tanganku, heh-heh!" Hek-hiat Mo-li tertawa.

Kim Hong Liu-nio cepat mengeluarkan aba-aba dalam bahasa Mongol. Tiga belas orang Mongol itu berbaris rapi dan menghadang sambil memasang kuda-kuda, tangan mereka memegang golok besar dan perisai. Ada pun di belakang mereka masih berdiri puluhan orang prajurit yang dikerahkan oleh Panglima Lee untuk membantu kekasihnya.

Jelaslah bagi empat orang pendekar itu bahwa mereka tidak mungkin dapat lolos begitu saja dan jalan satu-satunya hanyalah membuka jalan berdarah. Di belakang mereka ada ruangan yang mulai terbakar, di depan mereka menjaga nenek iblis itu bersama muridnya dengan dibantu begitu banyak prajurit.

Kembali Kim Hong Liu-nio mengeluarkan aba-aba dan empat orang pendekar itu terpaksa harus bergerak cepat, mengelak dan menangkis sebab kembali datang hujan anak panah. Kun Liong selalu melindungi isterinya, sedangkan Bun Houw dan In Hong tidak khawatir karena dengan Thian-te Sin-ciang mereka memperoleh kekebalan sehingga kedua lengan mereka berani menangkis anak-anak panah itu.

Dan pada saat itu pula, Hek-hiat Mo-li, Kim Hong Liu-nio beserta tiga belas orang Mongol itu sudah menerjang dengan sangat hebatnya, menyerang empat orang pendekar yang tidak bersenjata itu. Maka terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di mana empat orang pendekar itu mengamuk untuk menyelamatkan diri mereka.

Sementara itu, sesudah Kim Hong Liu-nio membantu gurunya untuk menghadapi empat orang musuh mereka yang amat lihai, pimpinan para prajurit penjaga yang mengeroyok Lie Seng dan Sun Eng diambil alih oleh panglima Lee Siang sendiri. Panglima ini berteriak marah,

"Kalian berani memberontak terhadap pasukan pemerintah? Hayo menyerahlah sebelum menerima hukuman berat!"

Akan tetapi Sun Eng yang juga marah sekali dan tidak mempedulikan luka-lukanya itu menerjangnya sambil berteriak, "Engkau hanya mempergunakan nama pemerintah untuk menipu dan mencelakakan orang!"

Pedang di tangan Sun Eng menusuk dengan cepat. Lee Siang cepat menangkis dengan pedangnya. Akan tetapi begitu pedangnya tertangkis, dengan putaran tangannya wanita yang sudah luka-luka itu dapat meneruskan pedang yang tertangkis itu menjadi sabetan yang menyerempet pundak Lee Siang.

"Ahhh!" Lee Siang berteriak kesakitan kemudian bersama empat orang pengawalnya dia menubruk ke depan.

Lie Seng hendak melindungi Sun Eng, namun dia sendiri sedang dikepung oleh banyak prajurit sehingga dia terpaksa mengamuk menggunakan kaki dan tangannya, melempar-lemparkan serta merobohkan banyak orang yang mengepungnya bagaikan serombongan semut.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Sun Eng masih jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian Lee Siang dan beberapa orang pengawalnya. Akan tetapi gadis ini sudah luka-luka dan banyak mengeluarkan darah, maka gerakannya menjadi lemah dan tenaganya juga telah banyak berkurang. Sesudah dia berhasil membunuh dua orang pengeroyok lagi, akhirnya dia terdesak hebat sekali.

Lie Seng juga terkepung ketat dan sibuk sekali menghadapi para pengeroyoknya. Melihat ini, Sun Eng kemudian berseru, "Taihiap, kau larilah cepat, biar aku mencegah mereka menghalangimu! Cepat sebelum terlambat!"

Sun Eng mengerahkan tenaga terakhir untuk membuka jalan mendekati Lie Seng, tanpa mempedulikan luka baru di pangkal lengan kiri yang mengucurkan banyak darah. Melihat keadaan gadis itu yang pakaiannya penuh berlepotan darah, bahkan dari luka-lukanya itu mengucur banyak darah dan mukanya pucat sekali, Lie Seng menjadi terkejut, kagum dan juga terharu.

"Kau menyuruh aku lari? Dan kau sendiri?" tanyanya sambil menendang roboh seorang pengeroyok.

"Aku...? Biarlah, aku girang sekali dapat membalas budimu dan budi suhu serta subo! Kau larilah... selamat jalan...!" Sun Eng berkata dan karena bicara ini maka dia menjadi kurang waspada.

"Nona, awas...!" Lie Seng berteriak akan tetapi terlambat, tusukan pedang dari Lee Siang itu mengenai punggung Sun Eng.

Gadis ini menggeliat miringkan tubuhnya, dan walau pun dengan jalan itu pedang lawan tidak menembus punggungnya, akan tetapi tetap saja punggungnya terluka parah dan dia roboh terguling.

"Keparat curang!" Lie Seng berteriak marah dan menjadi beringas, cepat menubruk ke depan dan melancarkan pukulan dengan tenaga Thian-te Sin-ciang ke arah Lee Siang.

Panglima ini mencoba untuk mengelak, akan tetapi dia kalah cepat sehingga pukulan itu menyambar pelipisnya. Terdengar suara keras karena kepala panglima ini retak-retak dan tubuhnya roboh ke atas tanah, tewas seketika!

Lie Seng menyambar tubuh Sun Eng dan mengamuk, membuka jalan berdarah. Ketika dia melihat betapa empat orang pendekar dari dalam penjara sudah menerjang keluar, hatinya lega dan dia pun segera meloncat, merobohkan setiap orang penghalang, sambil memondong tubuh Sun Eng yang pingsan dan berlumuran darah itu, terus melarikan diri meninggalkan tempat berbahaya itu. Dia merasa yakin bahwa orang-orang seperti ibunya, ayah tirinya, paman serta bibinya itu pasti akan sanggup meloloskan diri dari kepungan musuh.

Dugaan Lie Seng tadi memang tidak berlebihan. Tingkat ilmu kepandaian empat orang pendekar itu sudah tinggi sekali, terutama sekali Yap Kun Liong, Cia Bun Houw,dan Yap In Hong. Seorang demi seorang, ketiga belas pengawal Mongol yang diandalkan sebagai pembantu-pembantu Hek-hiat Mo-li sendiri bersama Kim Hong Liu-nio, terdesak mundur dan mundur terus, apa lagi para pengawal penjaga, setiap kali empat orang pendekat itu bergerak, tentu ada yang terjungkal!

Hal ini sama sekali tidak pernah dapat disangka oleh Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio, yang sudah merasa yakin akan dapat membunuh empat orang itu. Dan suasana menjadi tambah geger ketika ruangan itu terbakar hebat. Akan tetapi, empat orang itu telah keluar dari ruangan dan kini mengamuk di depan penjara.

Terdengar jerit mengerikan dari mulut Kim Hong Liu-nio pada saat dia melihat kekasihnya telah menggeletak tewas dengan kepala pecah! Dia menubruk kekasihnya dan menangis, tidak mempedulikan lagi kepada empat orang musuhnya.

Mundurnya Kim Hong Liu-nio dari pertempuran ini membuat Hek-hiat Mo-li makin lemah dan akhirnya empat orang pendekar itu dapat meloloskan diri dari kepungan dan secepat kilat mereka lenyap dari tempat itu menggunakan ginkang dengan loncatan-loncatan jauh. Hek-hiat Mo-li menyumpah-nyumpah dan malam itu juga nenek ini pergi meninggalkan kota itu, kembali ke utara dengan wajah muram, diikuti oleh muridnya yang terus-menerus menangis di sepanjang jalan!

"Sudah, apa perlunya menangis lagi? Engkau kini sudah bukan perawan lagi, dan dia sudah mampus. Di dunia ini masih banyak laki-laki, mengapa kau tangisi seorang laki-laki yang sudah mampus?" Hek-hiat Mo-li membentak.

Bentakan ini malah membuat Kim Hong Liu-nio menangis makin sedih sehingga gurunya menjadi makin marah dan meninggalkannya. Kim Hong Liu-nio mengikuti gurunya dengan terisak-isak, di dalam hati bersumpah untuk mencari jalan membunuh keluarga pendekar yang telah menewaskan kekasihnya itu!

Dendam, sakit hati, kemarahan dan kebencian meracuni kehidupan manusia. Dari mana timbulnya dendam yang melahirkan kebencian ini? Dendam-mendendam yang sebetulnya hanya merupakan rangkaian akibat dari tindakan-tindakan kekerasan, permusuhan serta kebendan itu pasti selalu timbul karena pementingan diri sendiri, karena merasa bahwa kesenangan dirinya terganggu oleh orang atau golongan lain.

Jadi jelaslah bahwa di mana ada pengagungan si aku, di sana pastilah timbul tindakan kekerasan yang dianggap sebagai tindakan pembelaan si aku atau pengejaran cita-cita dan kesenangan untuk si aku. Mengejar kesenangan seperti yang dicita-citakan untuk diri sendiri tak dapat tidak tentu menimbulkan tindakan kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap merintangi tercapainya kesenangan yang dicita-citakan itu. Dan semua cita-cita adalah bayangan kesenangan yang diharapkan akan diperoleh, baik kesenangan untuk diri sendiri atau untuk keluargaNya, kelompokNya, bangsaNya dan lain-lain yang semuanya hanya merupakan perluasan dan pembesaran dari pada si aku juga.

Dan bagaimana terjadinya si aku, baik dalam keadaan tipis mau pun tebal, dalam batin kita? Si aku diciptakan oleh pikiran yang menimbulkan pengalaman dan ingatan tentang yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, yang enak dan tidak enak. Pikiran mengenang pengalaman-pengalaman itu, membayangkan semua itu sehingga timbullah keinginan untuk mengulang yang enak dan membuang yang tidak enak.

Begitu pikiran bekerja mengenangkan itu semua, si aku pun muncullah. Si aku sebagai pemikir, si aku sebagai yang ingin mengulang, si aku yang ingin menghindarkan yang tidak enak. Makin lama si aku ini makin menebal dan akhirnya manusia menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sendiri yang selalu ingin menikmati yang dianggap menyenangkan dan menjauhi yang dianggap tidak menyenangkan. Dan di dalam pergulatan ini terjadilah konflik-konflik di dalam batin yang mencetus keluar menjadi konflik antara manusia karena masing-masing hendak memperebutkan kesenangan bagi dirinya sendiri, dan kalau perlu menyingkirkan orang lain yang menjadi penghalang, dengan kekerasan tentu saja!

Oleh karena kenyataan itu, maka timbullah pernyataan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri, yaitu: Dapatkah kita terbebas dari pikiran yang selalu mengenangkan yang enak-enak dan yang tidak enak-enak sehingga tidak timbul si aku yang selalu mengejar-ngejar kesenangan dan karenanya menimbulkan konflik dan kekerasan? Pertanyaan ini penting sekali bagi kehidupan kita dan sudah selayaknya kalau diajukan oleh setiap orang manusia hidup kepada dirinya sendiri! Kalau sudah begitu, barulah hidup ini mempunyai arti, bukan hanya menjadi ajang kesengsaraan dan penderitaan yang timbul dari konfilk dan permusuhan setiap hari.


Melihat keadaan Sun Eng yang mandi darah, Lie Seng menjadi gelisah bukan main. Dia melarikan Sun Eng yang pingsan itu jauh meninggalkan Po-teng dan memasuki daerah pegunungan yang sunyi, karena khawatir kalau-kalau ada pasukan yang mengejarnya, padahal dia membutuhkan tempat sunyi untuk dapat menolong gadis yang penuh luka itu.

Fajar telah menyingsing ketika akhirnya dia menghentikan larinya dan dia berada di atas puncak bukit yang lengang, di padang rumput yang luas dengan pohon-pohon tua di sana sini. Sinar matahari pagi menyinari wajah cantik manis yang pucat itu.

Lie Seng cepat menurunkan tubuh itu ke atas tanah bertilamkan rumput hijau di bawah pohon besar, lalu memeriksa keadaan gadis itu. Tubuhnya penuh luka, pada punggung, pundak dan paha. Cepat Lie Seng menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah yang masih menetes-netes.

Kemudian dia pergi mencari sumber air yang bening, mengambil air dengan daun dan mencuci luka-luka yang parah itu, terutama di paha dan punggung. Untuk ini terpaksa dia merobek celana di bagian paha dan baju di punggung. Dia tidak lagi ingat bahwa matanya melihat kulit paha yang putih mulus dan kulit punggung yang amat halus, melainkan sibuk mencuci luka itu penuh perhatian.

Untung bahwa luka-luka itu diakibatkan oleh senjata yang tidak beracun, pikirnya. Dengan mencuci bagian-bagian yang terluka itu, tentu saja jari-jari tangannya harus menyentuh dan mengusap kulit halus mulus itu, namun hal ini sama sekali tidak disadari olehnya.

Memang demikianlah! Selama pikiran tidak mengenang dan membayangkan apa-apa, selama pikiran kosong tidak sibuk dengan ingatan-ingatan masa lalu, dengan bayangan-bayangan kenikmatan dan kesenangan, maka segala sesuatu adalah bersih dan wajar.

Sungguh pun kita melihat manusia dengan kelamin lain dalam keadaan telanjang bulat umpamanya, bila pikiran ini tidak diisi dengan bayangan-bayangan kotor, maka keadaan telanjang dari manusia lain itu sama sekali tidak menimbulkan apa-apa, seperti kalau kita melihat ketelanjangan seekor kucing saja. Akan tetapi, begitu pikiran kita terisi dengan bayangan-bayangan yang muncul dari kenangan, bayangan-bayangan yang kita anggap menyenangkan, mendatangkan nikmat, maka mulailah nafsu bangkit, baik itu merupakan nafsu birahi, nafsu amarah, dan segala macam nafsu lagi.

Jelaslah bahwa nafsu-nafsu itu diciptakan oleh pikiran yang mengenangkan segala yang enak-enak dan yang tidak enak, yang menyenangkan dan sebaliknya. Jadi pikiran yang mengingat-ingat inilah sumber dari segala konflik batin yang akhirnya pasti akan tercetus keluar dan menjadi konflik lahir antara manusia.


Sun Eng mengeluh lirih kemudian merintih. Kini barulah lega hati Lie Seng karena hal ini menandakan bahwa dia sudah berhasil menyelamatkan dara itu. Setelah menaruh obat bubuk pada luka-luka itu dan membalutnya, dia lalu mengangkat tubuh bagian atas dari Sun Eng dengan memangkunya dan memberinya minum air jernih.

"Aahhh...!" Kembali Sun Eng mengeluh setelah minum beberapa teguk air dan membuka matanya.

Melihat betapa dia dipangku oleh seorang pemuda tampan dan gagah, sepasang mata yang jeli itu terbelalak, akan tetapi dia segera teringat bahwa pemuda ini adalah pemuda perkasa yang telah membantunya menghadapi pengeroyokan pasukan saat dia berusaha menyelamatkan suhu dan subo-nya. Sungguh aneh sekali. Mengapa sekarang pemuda ini memangkunya dan memandangnya demikian mesra?

"Apakah... apakah aku sudah mati?" dia bertanya dengan suara berbisik karena merasa tegang dan takut. Membayangkan bahwa dia sudah mati dalam usia semuda itu, hatinya merasa ngeri.

Semenjak tadi, sesudah dia berhasil mengobati dara itu sehingga siuman, Lie Seng mulai memperhatikan wajah gadis yang dipangkunya itu dan dia terpesona. Bagi dia, wajah itu sedemikian cantik jelitanya, sedemikian lembut hingga sekaligus mendatangkan perasaan suka dan iba di dalam hatinya.

Rasanya belum pernah dia berjumpa dengan seorang gadis seperti ini, apa lagi tadi dia pun melihat betapa gadis ini telah berusaha menyelamatkan keluarganya dengan taruhan nyawa. Hal ini saja sudah membuat dia merasa herhutang budi, kagum dan suka.

Dia seperti tenggelam ketika memandangi wajah dari gadis yang dirangkunya itu, maka ketika melihat mata dan bibir yang manis itu mengajukan pertanyaan seperti itu, dia pun tersenyum. Hatinya girang karena dia yakin bahwa gadis itu akan selamat.

"Jangan khawatir nona. Engkau sudah terhindar dari bahaya dan luka-lukamu tentu akan sembuh."

"Luka-luka...?" Sun Eng seperti baru teringat dan merasa terkejut.

Tadi dia tidak merasa apa-apa, hanya lemas dan terasa demikian nikmat rebah di atas pangkuan pemuda itu yang merangkul pundak dan menyangga tubuhnya. Kini, diingatkan akan luka-luka, tiba-tiba saja dia tersentak dan ingin duduk, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, terutama sekali punggungnya.

"Aduhhhh... punggungku..." Dia menggeliat.

Lie Seng cepat membantunya duduk. "Maaf, aku... aku lupa dan menyentuh punggungmu yang terluka. Sebaiknya engkau duduk di atas rumput ini. Nah, begitu lebih enak, bukan? Engkau menderita banyak luka, nona, terutama yang agak parah adalah luka-luka pada paha, pundak dan punggung."

Sun Eng meraba paha dan pundaknya, melihat betapa pakaiannya di bagian luka-luka itu robek dan lukanya telah diobati dan dibalut. Dia mengangkat muka memandang pemuda yang duduk di depannya itu dan mendadak wajahnya berubah merah sekali, jantungnya berdebar tegang.

"Kau... kau yang mengobati luka-lukaku...?" tanyanya dan kedua matanya memandang penuh selidik.

Lie Seng mengangguk. "Bisa berbahaya kalau tidak cepat dicuci dan diobati. Maafkan aku yang telah lancang..."

"Maafkan? Ahhh, engkau sudah menolongku, menyelamatkan nyawaku, mengobatiku dan masih minta maaf? Engkau tentu seorang gagah perkasa yang sakti maka engkau dapat menyelamatkan aku dari kepungan begitu banyak lawan tangguh. Taihiap, aku berhutang nyawa padamu. Siapakah engkau?"

"Aku she Lie, bernama Seng. Engkau tak perlu bersikap sungkan padaku karena menurut pengakuanmu, engkau adalah murid dari Paman Cia Bun Houw, sedangkan dia adalah pamanku, karena dia adik kandung ibuku yang juga ikut tertawan bersama dengan paman dan bibi. Maka, kalau engkau murid mereka, berarti kita masih ada hubungan dan bukan orang lain."

"Ahhh...!" Sun Eng terbelalak dan wajahnya agak berubah, tidak lagi merah seperti tadi, melainkan agak kepucatan.

"Mengapa? Apakah luka-luka itu amat menyiksamu...?" Lie Seng mendekat dan pandang matanya penuh iba.

Melihat ini, Sun Eng menggelengkan kepalanya, menunduk dan memejamkan matanya, berusaha mengusir perasaan nyeri yang menikam hatinya. Teringat dia betapa suhu dan subo-nya amat membencinya, bahkan tidak sudi ketika dia berusaha menolong mereka.

Dan pemuda perkasa yang sudah menyelamatkan nyawanya ini, adalah keponakan dari suhu-nya! Dan hubungan antara dia dengan kedua gurunya telah putus, kelak pemuda ini tentu akan mendengar tentang dia, dan suhu serta subo-nya tentu akan bercerita banyak tentang dia!

Hal ini mendatangkan rasa nyeri di jantungnya, serasa tertusuk pedang berkarat. Dia tak akan ada harganya lagi dalam pandang mata pemuda ini. Pandang mata yang sekarang demikian penuh dengan kehalusan, iba dan mesra, tentu akan berubah menjadi marah, jijik dan benci.

Lie Seng memandang dengan alis berkerut, hatinya penuh dengan perasaan iba. Ingin dia menyentuhnya, ingin dia menghiburnya, ingin dia membantu menanggung rasa nyeri dari gadis itu, akan tetapi kini dia tidak berani menyentuh, bahkan jantungnya berdebar aneh ketika dia teringat betapa tadi dia telah melihat dan menyentuh paha dan punggung dara itu!

"Nona... ehh, siapakah namamu?"

"Aku she Sun, namaku Eng."

"Namamu bagus sekali. Sungguh aku merasa heran kenapa aku tidak pernah mendengar namamu dari paman dan bibi, nona Sun Eng..."

"Lie-taihiap, kalau engkau keponakan dari suhu, mengapa masih bersikap sungkan dan menyebutku nona?"

"Engkau pun menyebutku taihiap (pendekar besar)..."

"Engkau memang seorang pendekar yang sakti dan hebat, mana bisa aku menyebut lain? Akan tetapi aku..."

"Engkau seorang gadis yang hebat, gagah perkasa dan berani, juga setia dan berbakti sehingga hampir saja engkau mengorbankan nyawa untuk paman dan bibi, juga untuk ibu kandungku, dan ayah tiriku yang ikut tertawan."

"Ahhh... jadi engkau putera dari enci suhu, pendekar wanita Cia Giok Keng, dan pendekar sakti Yap Kun Liong itu ayah tirimu?"

Lie Seng mengangguk.

"Jadi engkau ini cucu mendiang pendekar sakti Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai yang terkenal itu?"

Kembali Lie Seng mengangguk.

"Ahh, dan aku hanya... seorang gadis bodoh dan sesat... ahhh, dan aku tentu lebih tua darimu, taihiap. Usiaku sudah dua puluh lima tahun..." Sun Eng seperti mengomel dan bicara pada diri sendiri, suaranya penuh penyesalan dan kekecewaan akan kenyataan-kenyataan yang pahit ini.

"Kita sebaya. Aku berusia dua puluh empat, hanya selisih setahun denganmu."

"Nah, apa kataku? Aku lebih tua, sepatutnya engkau menyebut cici kepadaku."

Melihat wajah yang cantik itu sudah tak begitu pucat lagi dan sepasang mata yang tadinya membayangkan kedukaan dan kemuraman itu agak berseri, Lie Seng tersenyum, bangkit berdiri dan menjura. "Baiklah, cici Sun Eng. Mulai sekarang aku menyebutmu cici yang baik, dan aku..."

"Engkau tetaplah Lie-taihiap bagiku! Engkau keturunan keluarga yang sangat besar dan agung, sebaliknya aku..."

"Engkau seorang dara yang cantik jelita, cici. Jangan kau terlampau merendahkan dirimu. Aku masih terheran-heran mengapa paman Bun Houw dan bibi sama sekali tidak pernah bercerita tentang dirimu. Aku akan menegur mereka kalau sempat bertemu kelak."

"Ah, jangan...!" Sun Eng berseru dan dengan nekat dia bangkit berdiri, biar pun dia harus menyeringai kesakitan. Dia mengangkat kedua tangan ke atas. "Jangan tegur mereka... bahkan jangan sebut-sebut tentang diriku... ah, Lie-taihiap, engkau tidak tahu... aku sama sekali tidak berharga engkau tolong, bahkan tidak berharga untuk berhadapan dan bicara denganmu. Ah, sebaiknya engkau tinggalkan aku sekarang juga, taihiap..."

Dan wanita itu tak dapat menahan kedukaan hatinya lagi, menangis terisak-isak, teringat betapa bencinya suhu dan subo-nya padanya, betapa dia telah dianggap sebagai seorang wanita yang sudah rusak akhlaknya, dan betapa tidak mungkinnya dia berkenalan dengan seorang pemuda seperti Lie Seng ini, pemuda yang sangat menarik hatinya, yang amat mengagumkan hatinya.

"Ehh, cici Sun Eng... kenapa engkau? Apa artinya semua ucapanmu itu?" Lie Seng tentu saja terkejut bukan main dan memandang dengan penuh kekhawatiran.

"Tidak perlu engkau tahu... taihiap... hanya ketahuilah bahwa aku... aku tidak berharga... kau pergilah, tinggalkan aku seorang diri..."

Melihat dara itu menangis mengguguk dan berdiri dengan dua tangan menyembunyikan mukanya, pundaknya tenguncang-guncang dalam tangisnya, Lie Seng tak dapat menahan keharuan hatinya. Dia melangkah maju dan menyentuh kedua lengan dara itu.

"Enci Eng... jangan begitu... mengapa engkau merendahkan diri seperti ini...? Aku tidak akan mau meninggalkan engkau seorang diri dalam keadaan terluka seperti ini."

"Kalau begitu... biarlah aku... aku yang pergi, taihiap…"

Dara itu lalu membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk meloncat pergi. Akan tetapi dia mengaduh dan terguling roboh, bangkit lagi, merangkak, bangun dan mencoba untuk lari lagi, akan tetapi terhuyung-huyung dan dia tentu akan roboh lagi kalau tidak cepat-cepat dipegang oleh Lie Seng yang merangkulnya.

"Enci Eng, jangan engkau bersikap seperti itu. Mengapa engkau seperti sengaja hendak menghancurkan hatiku? Apakah salahku maka engkau hendak pergi begitu saja?"

Gadis itu menangis makin mengguguk dan membiarkan dirinya didekap oleh pemuda itu. Setelah dia bisa menguasai keharuan hatinya, dengan lembut dia melepaskan rangkulan itu, menghapus air matanya, memandang kepada pemuda itu dan berkata,

"Ahh, engkau tidak tahu, taihiap. Aku tidak berharga untukmu, bahkan untuk berkenalan atau bercakap-cakap denganmu sekali pun..."

"Siapa bilang demikian? Akan kuhancurkan mulutnya kalau ada yang berani mengatakan demikian kepadamu!" Lie Seng mengepal tinju, penasaran. "Aku kasihan kepadamu, enci Eng, aku.... suka padamu, engkau seorang gadis yang baik, yang gagah, berbudi, siapa bilang tidak berharga menjadi sahabatku? Dan mengapa?"

"Engkau tidak tahu, taihiap... ahhh, lebih baik kita berpisah seperti ini, sekarang sebelum engkau pun membenciku. Aku... aku pasti tak akan dapat tahan lagi. Semua orang boleh membenciku, akan tetapi kalau engkau... ikut pula membenciku, aku lebih baik mati saja. Biarlah kita berpisah dalam keadaan begini, sebelum engkau membenciku pula."

"Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu, enci Eng. Apa pun yang terjadi denganmu, aku tak mungkin akan membencimu. Aku... aku cinta padamu. Dengarkah engkau? Aku cinta padamu begitu aku bertemu denganmu, enci Eng!" Pemuda itu berkata penuh semangat karena dia tidak lagi meragukan perasaan hatinya terhadap gadis ini.

Ucapan pemuda itu demikian mengejutkan hati Sun Eng sehingga dia terlonjak kaget dan meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Lie Seng. Akan tetapi Lie Seng tak mau melepaskannya sehingga akhirnya Sun Eng mengguguk lagi, menangis dan membiarkan kepalanya didekap di dada pemuda yang amat dikaguminya itu. Dia memejamkan mata ketika merasa betapa pemuda itu menciumi rambutnya, kemudian dahinya dan tiba-tiba dia meronta.

"Tidak... tidak pantas itu...!" Dia meronta sekuatnya sehingga Lie Seng cepat melepaskan pelukannya. Wajah pemuda itu menjadi merah sekali.

"Maaf... kau maafkanlah aku, enci Eng. Aku telah lupa diri sehingga berlaku tidak sopan padamu, maafkan aku."

"Bukan itu maksudku, taihiap. Bukan engkau yang berbuat tidak pantas, melainkan tidak pantaslah bagiku untuk menerima cintamu itu, untuk kau perlakukan sebaik ini. Aku tidak pantas kau cinta, aku... aku..."

"Jangan berkata demikian, enci Eng. Aku jatuh cinta kepadamu, mengapa tidak pantas? Engkau seorang gadis yang cantik dan gagah, dan... ahh!" Pemuda itu nampak terkejut. "Apakah... kau hendak maksudkan bahwa engkau telah... bersuami?"

Tentu saja ingatan ini membuat dia terkejut dan wajahnya menjadi pucat seketika. Gadis itu bersikap demikian sungkan, jangan-jangan dia itu bukanlah seorang gadis yang masih bebas, melainkan seorang wanita yang sudah bersuami! Celaka kalau begitu! Berarti dia telah melakukan hal yang benar-benar tidak patut!

Akan tetapi hatinya menjadi lega seketika melihat dara itu menggeleng kepalanya. "Tidak, taihiap. Aku tidak menikah, akan tetapi... malah lebih baik tidak kau dengarkan. Aku tidak akan dapat tahan kalau melihat engkau membenciku, taihiap. Biarlah kita berpisah dalam keadaan begini, berarti aku masih akan kuat mempertahankan hidup dengan bayanganmu sebagai kenangan indah. Aku akan selalu ingat bahwa seperti apa pun juga adanya diriku yang hina ini, di dunia masih ada orang yang mencintaku... selamat tinggal, taihiap..."

"Sun Eng...!" Lie Seng meloncat dan menubruk, dan kembali dia sudah merangkul gadis itu. "Enci Eng, engkau menyiksa diri sendiri. Coba ceritakanlah kepadaku semuanya, dan jangan takut!"

"Tidak... tidak mungkin... engkau akan membenciku...!"

"Enci Eng, kau anggap aku ini orang apakah? Aku cinta padamu karena engkau, karena keadaanmu, dan aku tidak akan terpengaruh oleh cerita yang bagaimana pun mengenai dirimu! Demi Tuhan, ceritakanlah, dan itu hanya merupakan satu-satunya jalan untuk bisa menyembuhkanmu dari cengkeraman siksaan batin yang kau derita ini."

Beberapa lama Sun Eng memejamkan mata di dalam pelukan Lie Seng, kemudian dia menarik napas panjang dan melepaskan diri dari pelukan itu. "Baiklah, memang agaknya engkau benar. Aku tidak boleh lari dari kenyataan hidup, taihiap. Maka biarlah ceritaku ini merupakan keputusan terakhir di dalam hidupku, tergantung dari anggapanmu terhadap ceritaku ini. Aku siap untuk menghadapi yang terburuk, siap menghadapi kiamat dan maut karena hanya itulah bagiku bila engkau pun membenciku. Nah, kau dengarkan baik-baik, taihiap…"

Dengan tubuh lemas dara itu menjatuhkan diri duduk di atas rumput dan Lie Seng juga duduk di hadapannya. Jantung pemuda ini berdebar tegang dan pandang matanya makin mesra dan lembut karena dia merasa amat kasihan kepada dara ini yang dia duga tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang amat pahit.

Sun Eng menarik napas panjang berulang kali, agaknya ingin mencari kekuatan dari hawa udara sejuk yang disedotnya. Dia telah mengambil keputusan untuk menceritakan segala-segalanya mengenai dirinya, tanpa menyembunyikan apa-apa karena dia tidak ingin kelak pemuda yang sangat mengagumkan hatinya ini akan menemukan sesuatu yang belum diceritakannya.

Pendeknya dia ingin berdiri telanjang di depan pemuda yang luar biasa ini, tanpa punya rahasia sedikit pun juga. Tinggal terserah kepada pemuda itu, apakah cintanya masih akan utuh, ataukah berbalik menjadi benci sesudah mendengar ceritanya. Kalau pemuda itu berbalik membencinya, dia tidak akan menyalahkan Lie Seng, sungguh pun dia tahu bahwa dia tidak akan kuat hidup menghadapi pukulan batin ini.

"Lie-taihiap, mendiang ayahku adalah seorang yang bernama Sun Bian Ek dan berjuluk Kiam-mo. Dahulu dia hidup sebagai seorang perampok besar, kemudian setelah berhenti menjadi perampok sampai dia meninggal dunia dia hidup sebagai pemilik sebuah rumah perjudian di kota Kiang-shi."

Dara itu berhenti sebentar untuk meneliti wajah pemuda itu sesudah dia berterus terang menceritakan keadaan mendiang ayahnya yang tidak dapat dibanggakan itu. Akan tetapi wajah yang tampan dan gagah itu tidak berubah, hanya mengandung kesungguhan dan penuh pengertian, bahkan di balik kesungguhan itu Sun Eng masih dapat melihat cahaya gemilang dari kasih sayang serta kemesraan yang ditujukan kepadanya hingga membuat dia merasa betapa kedua pipinya menjadi panas dan jantungnya berdegup kencang.

"Mendiang ayahku bersahabat dengan pamanmu, yaitu suhu Cia Bun Houw ketika beliau masih muda dan sedang menyelidiki musuh-musuh keluarganya. Ayah lalu membantunya mencari jejak musuh-musuh itu, dan ketika suhu menyerbu bersama ayah, maka ayahku itu gugur, tewas oleh musuh-musuh suhu."

"Hemm, ayahmu ternyata merupakan seorang sahabat sejati dan setia," Lie Seng memuji dengan setulusnya hati. Pujian ini tidak mendatangkan rasa girang di hati Sun Eng akan tetapi malah memberatkan perasaannya karena dia harus menceritakan keadaaan dirinya sendiri yang sama sekali tidak boleh dibuat bangga!

"Sebelum meninggal dunia dalam pangkuan suhu, ayah pesan kepada suhu agar kelak suhu suka merawat dan mendidik aku yang masih kecil ketika ditinggal ayah, baru berusia sepuluh tahun. Suhu memenuhi permintaan itu, dan ketika suhu pergi merantau bersama subo, suhu mengambilku dan semenjak itu aku ikut bersama suhu dan subo, dirawat dan dididik oleh mereka berdua dengan penuh kasih sayang bagaikan anak mereka sendiri..." Kembali dara itu berhenti dan menarik napas panjang, kini wajahnya yang cantik itu agak pucat dan kelihatan berduka sekali.

Lie Seng mengangguk-angguk. "Itu sudah sepatutnya sebab engkau adalah seorang anak dan murid yang amat baik dan berbakti."

"Jauh dari pada itu, Lie-taihiap. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku berusia kurang lebih delapan belas tahun... suhu dan subo telah mengusirku dan tidak mau lagi mau mengaku sebagai murid..."

Ucapan ini benar-benar amat mengejutkan hati Lie Seng. Wajahnya menjadi pucat dan memandang dengan mata terbelalak. "Apa...?! Mengapa begitu? Apa yang terjadi...?"

Sun Eng menundukkan mukanya yang pucat. Jantungnya berdebar penuh rasa tegang dan takut. Ya, dia sangat takut. Beranikah dia mengakui kesemuanya itu? Beranikah dia menelanjangi dirinya sendiri di depan pemuda yang telah menarik hatinya ini, menuturkan segala kebusukannya? Beranikah dia menempuh bahaya dibenci oleh pria hebat ini.....?


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner