PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-42


"Heh, A-sin bangun kau!" terdengar gadis itu membentak halus dan jari-jari tangan yang kecil halus itu mencengkeram pundak Sin Liong dan mengguncangnya!

Sin Liong pura-pura kaget, akan tetapi tiba-tiba dia kelihatan ketakutan ketika pundaknya dicengkeram makin kuat.

"Diam, jangan bergerak atau bersuara! Kalau berteriak, kubunuh kau!" bentak gadis itu.

"Ehh... ehhh... kabarnya Giam-lo-ong itu laki-laki, akan tetapi... kenapa ada Giam-lo-ong wanita...?" Sin Liong pura-pura gugup dan terheran-heran, terbelalak memandang wajah yang kini tidak lagi berlepotan lumpur sehingga kelihatan manis, nampak remang-remang di bawah sinar lilin yang lemah.

"Kau ngaco-belo apa? Siapa Giam-lo-ong?" Gadis itu juga menjadi heran dan membentak lirih.

"Kau bukan Giam-lo-ong? Mengapa mau mencabut nyawaku?" Sin Liong bersikap ketolol-tololan.

"Huh, ceriwis kau! Cerewet kau! Awas, kau lihat baik-baik ini!" Setelah berkata demikian, gadis itu menengok ke kanan kiri dalam kamar. Melihat ada sebuah sapu dengan gagang kayu sebesar lengan orang, dia lantas mengambil dan dengan sekali tekuk menggunakan kedua tangannya, gagang sapu itu pun patah kemudian dilemparkannya ke atas lantai. Sin Liong terbelalak dan bersikap ketololan.

"Ehh, ehh... apa dosanya sapu itu? Mengapa kau patahkan gagangnya? Wah, celaka, kau bikin aku susah, harus membuatkan gagang baru...!"

Gadis itu kelihatan gemas. Dia mendemonstrasikan kekuatannya untuk membikin takut pemuda tolol ini, si pemuda bukannya takut akan kekuatannya, malah mengomel karena gagang sapunya patah!

"Goblok! Kau bernama A-sin?"

"Benar, dan kau siapa, kenapa masuk kamarku? Apa kau babu baru di sini?"

"Cerewet! Aku datang untuk memperingatkanmu, mengerti? Dan kau harus taat padaku, kalau tidak, lehermu akan kupatahkan seperti gagang sapu tadi!"

"Wahhh... kau galak... mengerikan..." Sin Liong bangkit duduk dan meraba lehernya.

"Nah, kau takut padaku, bukan?"

Sin Liong menggelengkan kepala.

"Apa?!" Gadis itu mengerutkan alisnya dan menarik muka seram, akan tetapi akibatnya menjadi tambah manis dan jauh dari pada mengerikan. "Kau tidak takut padaku?"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Kenapa mesti takut?"

"Karena aku menakutkan!"

"Tidak, kau tidak menakutkan sama sekali..."

"Aku ingin kau takut!"

"Wah, kau ini aneh. Ehh, nona cilik..."

"Aku tidak cilik lagi!"

"Baiklah, nona gede, dengarkan. Apa kau suka menggigit?"

"Ehhh? Menggigit...? Wah, kau mau kurang ajar, ya? Porno, ya?"

"Lhoh! Mengapa kurang ajar? Aku tanya apakah kau suka menggigit maka kau ingin aku takut padamu. Kau tidak suka menggigit, bukan?"

"Gila kau! Aku anak perempuan masa menggigit, menggigit apamu?" dengan hati jengkel gadis itu membentak.

"Ya menggigit apaku, boleh kau pilih, akan tetapi aku tidak takut padamu. Habis, kau tidak menakutkan, sih!"

Gadis itu kini menyambar paku yang menancap di dinding, paku yang dipergunakan oleh SinLiong untuk menggantungkan pakaiannya. Dicabutnya paku itu dengan jari tangannya, lalu di depan mata Sin Liong, dia menggunakan jari-jari tangannya untuk menekuk-nekuk paku itu! Sin Liong memandang dan membelalakkan matanya penuh keheranan.

Dengan puas dan bangga, dan sedikit membusungkan dadanya yang masih belum terlalu besar itu, gadis itu mendengus, "Huh, sekarang kau sudah takut padaku? Lihat kekuatan tanganku!"

"Ehh, apakah kau main sulap? Wah, kalau kau bermain sulap seperti itu besok siang di depan restoran, tentu banyak orang suka membayar..."

"Sulap hidungmu!" Gadis itu makin marah. Kiranya tolol benar orang yang namanya A-sin ini!

Sin Liong yang sudah bangkit duduk itu pun pura-pura marah. "Dengar kau, nona cilik... ehh, gede! Mau apa kau memasuki kamarku? Masa anak perempuan masuk kamar anak laki-laki! Cih, tak tahu malu!"

"Dengarkan aku, bocah tolol! Bukalah telinga keledaimu lebar-lebar! Aku adalah pimpinan anak-anak miskin di kota raja dan kalau kau banyak membantah, sekali tampar saja aku akan bisa membikin nyawamu melayang! Sore tadi engkau telah menghina anak buahku, mengatakan mereka mencopet! Awas, jika kau berani berkata kepada siapa pun tentang itu, kalau sampai ada anak buahku yang ditangkap polisi, aku akan datang lagi dan akan kupatahkan batang lehermu. Atau akan kubuat kepalamu seperti ini..."

“Crokkk…!”

Gadis itu menggunakan tiga jari tangannya menusuk meja dan... papan kayu meja itu tembus berlubang oleh tiga jari yang kecil mungil itu!

Sin Liong pura-pura terkejut dan membelalakkan matanya, di dalam hatinya dia memang kagum juga, bukan hanya kagum akan kelihaian gadis ini, melainkan akan keberaniannya dan juga sikapnya yang membela kawan.

"Nah, kau mengerti? Jangan bilang siapa pun juga atau aku akan kembali!"

"Siapakah namamu, nona?"

Gadis yang sudah hendak pergi itu membalik kembali dan memandang dengan sepasang matanya yang bening dan tajam, "Mau apa kau tanya-tanya namaku segala?"

"Lhoh, nona sudah tahu namaku, akan tetapi aku belum mengenal nona. Bukankah kita sudah saling mengenal jadi sudah sepatutnya aku mengenal namamu?"

Diam-diam gadis itu merasa amat jengkel akan tetapi juga geli menyaksikan ketololan ini. Betapa pun juga, dia merasa kagum akan keberanian bocah tolol yang wajahnya tampan ini!

"Semua anak miskin di kota ini mengenal Kim-gan Yan-cu!" Setelah berkata demikian, dia meloncat keluar dari jendela dan keadaan di situ menjadi sunyi kembali.

Sin Liong masih duduk termenung di atas pembaringannya. "Kim-gan Yan-cu (Walet Mata Emas)?"

Dan dia makin geli. Anak perempuan itu hebat! Sayang semuda itu sudah menjadi kepala jembel, kepala copet dan agaknya menjadi jagoan penjahat! Semalaman dia tidak dapat tidur kembali. Wajah anak perempuan itu terus terbayang olehnya dan dia merasa seperti telah mengenal gadis itu semenjak lama sekali. Wajah itu tidak asing sama sekali! Sinar mata itu!

Sin Liong masih mengantuk karena kurang tidur ketika pada keesokan harinya dia sudah harus bekerja lagi melayani tamu-tamu yang datang untuk sarapan pagi. Tiba-tiba muncul beberapa orang prajurit berkuda yang berhenti di depan restoran dan dengan suara galak memerintahkan majikan restoran supaya bersiap-siap melayani seorang pembesar yang ingin sarapan di restoran itu.

Majikan restoran menjadi sangat gugup dan segera mengerahkan semua anak buahnya untuk membersihkan meja-meja dan siap melayani pembesar dengan para pengikutnya, yang menurut para prajurit pengawal yang datang terlebih dulu adalah seorang pembesar dari luar kota raja yang datang berkunjung ke kota raja.

Majikan restoran menyuruh para pembantunya untuk cepat-cepat bertukar pakaian bersih sedangkan dia sendiri pun sibuk keluar masuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kunjungan seorang pembesar pada sebuah rumah makan merupakan peristiwa besar dan sangat menegangkan bagi pemiliknya, karena peristiwa itu dapat mengakibatkan berbagai kemungkinan, yang baik mau pun yang buruk!

Tak lama kemudian, sebuah kereta berhenti di depan rumah makan dan turunlah seorang lelaki berpakaian pembesar dari kereta itu, kemudian dengan iringan para pembantu dan pengawalnya, rombongan itu memasuki restoran, disambut dengan penuh penghormatan oleh majikan restoran, sedangkan para pelayan, juga termasuk Sin Liong, hanya berdiri di kanan kiri dengan tubuh membungkuk penuh sikap hormat.

"Ehh, Liong-kongcu... kenapa berada di sini...?"

Sin Liong terlonjak kaget mendengar ini dan cepat dia mengangkat mukanya.

Kiranya pembesar yang memasuki restoran dan diiringi banyak pembantu dan pengawal itu bukan lain adalah Gu-taijin, pembesar dari kota Ku-kiang? Tentu saja pembesar Gu ini masih mengenalnya, karena dia pernah bermalam di rumah gedung pembesar ini, bahkan di rumah pembesar inilah dia mengangkat saudara dengan Han How!

"Siapa... ehh, paduka... salah lihat...," dia berkata gagap.

Akan tetapi Gu-taijin yang telah mengenalnya, tertawa. "Aihh, Liong-kongcu harap jangan main-main! Biar pun kongcu menyamar, tetap saja saya akan mengenalmu. Kalau tidak, tentu pangeran akan marah terhadap saya. Kongcu adalah tuan muda Liong Sin Liong, kenapa berada di sini dan apakah yang saya lihat ini? Apakah kongcu sedang menyamar sebagai pelayan...? Ha-ha-ha...!"

"Bukan... bukan...! Hamba adalah A-sin... pelayan restoran ini..."

"Ha-ha-ha, saya sudah tahu akan kesenangan pangeran untuk merantau dan menyamar seperti rakyat biasa. Kongcu sebagai adik angkatnya tentu mempunyai kesukaan yang sama. Akan tetapi saya tetap mengenali Liong-kongcu. Marilah, beri kesempatan kepada saya untuk menghormati kongcu dengan tiga cawan arak. Dan saya hendak memohon pertolongan kongcu..." Pembesar itu mendekatkan mulutnya. "Mengenai puteriku..."

"Tidak... bukan... aku bukan..." Sin Liong bingung bukan kepalang, apa lagi ketika melihat majikannya menjadi pucat dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

Baru pagi tadi A-tong, pembantu tukang masak bercerita bahwa ada setan penjaga kebun menangkapnya dan setan itu bertanya tentang A-sin. Hal itu tentu saja ditertawakan dan orang-orang menganggap A-tong bermimpi, sedangkan A-sin yang mendengar itu hanya tertawa saja.

Dan sekarang, seorang pembesar yang berpakaian indah datang-datang memberi hormat kepada A-sin seakan-akan pelayan itu adalah seorang pemuda bangsawan yang sangat tinggi kedudukannya. Apa lagi pembesar itu juga menyebut-nyebut pangeran!

"Ah? Liong-kongcu menyimpan rahasia? Kalau begitu biarlah kita bicara di dalam saja... "

"Harap taijin sudi memaafkan hamba, akan tetapi hamba... hamba A-sin... pelayan, bukan orang lain... "

"Hemmm, benarkah itu?!" Tiba-tiba terdengar bentakan wanita. "Akulah yang akan dapat memaksa harimau keluar dari kulit domba!"

Bukan main kagetnya hati Sin Liong ketika dia mendengar suara wanita ini karena wanita itu bukan lain adalah seorang wanita cantik yang sudah amat dikenalnya. Seorang wanita cantik jelita dengan pakaian mewah dan indah, rambutnya digelung ke atas seperti model gelung rambut seorang puteri istana, wajahnya manis akan tetapi kelihatan angkuh dan dingin, matanya bersinar kejam, lengan kirinya penuh dengan gelang-gelang emas dan di punggungnya tergantung kayu salib, ada pun di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang. Kim Hong Liu-nio!

Melihat musuh besar yang dicari-carinya ini tahu-tahu berdiri di depannya, tentu saja Sin Liong menjadi terkejut bukan main, gembira dan juga gugup karena dia berada di dalam restoran, di tempat ramai sehingga amat berbahaya baginya bila dia bertanding melawan musuh besarnya ini karena wanita ini merupakan seorang tokoh kepercayaan istana!

Akan tetapi, menghadapi Kim Hong Liu-nio dia tidak mungkin dapat menyangkal keadaan dirinya lagi, dan juga hal itu akan sia-sia karena pada saat itu, Kim Hong Liu-nio sudah menggerakkan tangan kirinya dan dua batang hio (dupa biting) langsung meluncur seperti anak panah, menyambar ke arah kedua matanya! Kiranya wanita itu bukan hanya ingin membuka rahasia, melainkan juga ingin membunuhnya secara keji.

Dan dugaan ini memang benar. Begitu melihat Sin Liong, kemarahan Kim Hong Liu-nio bangkit karena dia ingat bahwa anak ini mengaku keturunan Cia Bun Houw. Sakit hatinya karena kematian kekasihnya, Panglima Lee Siang, membuat dia langsung menurunkan tangan kejam, menyerang sepasang mata Sin Liong dengan senjata rahasia hionya yang telah banyak merobohkan korban manusia itu.

Diserang sehebat itu, tentu saja Sin Liong tidak dapat menyembunyikan kepandaiannya lagi. Dia melihat jelas dua batang hio yang sedang menyambarnya itu, maka dia cepat mengerahkan tenaga pada tangan kirinya dan dengan menggunakan tenaga sinkang dia berhasil memukul patah dua batang hio itu.

Dia tidak mungkin mengelak karena kalau hal ini dilakukan, maka dua batang hio itu tentu akan menelan korban, yaitu mengenai orang-orang yang berada di sebelah belakangnya. Maka terpaksa dia memperlihatkan kehebatannya dan kedua batang hio itu ditangkisnya runtuh.

Hal ini sangat mengejutkan Kim Hong Liu-nio karena dia tahu benar bahwa jarang ada tokoh di dunia kang-ouw ini yang berani menangkis sambaran hionya, dan kalau ada yang berani mencobanya pun tentu akan celaka, karena hionya itu didorong oleh tenaga sakti yang amat kuat sehingga jika ditangkis akan bisa melesat dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi, dua batang hionya itu patah dan runtuh begitu bertemu dengan tangan Sin Liong!

Marahlah Kim Hong Liu-nio. Dia tahu bahwa Sin Liong pernah digembleng oleh kakek Cia Keng Hong, maka dia pun tidak heran kalau anak ini telah mewarisi ilmu yang hebat dari ketua Cin-ling-pai itu. Hal ini mendorongnya untuk segera membunuhnya, karena kalau tidak, kelak akan menambah deretan musuhnya yang berilmu tinggi.

"Hyaaaaattt...!" Kim Hong Liu-nio mengeluarkan suara melengking tinggi hingga membuat semua orang terkejut, bahkan ada beberapa orang yang terguling roboh karena jantung mereka tergetar dan kedua kaki mereka terasa lumpuh ketika mereka mendengar suara melengking tinggi itu.

Terasa angin menyambar ketika wanita itu sudah menerjang ke depan dan mengirimkan pukulan maut dengan tangan kirinya yang bergelang kerincing, dengan tangan terbuka menghantam ke arah dada Sin Liong. Sebelum tangan itu tiba, terlebih dulu sudah terasa angin pukulan dahsyat yang berhawa panas datang menyambar.

"Ehhhh...!" Sin Liong terkejut, maklum akan kehebatan pukulan itu. Maka dia pun cepat mengangkat tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka didorongkannya tangan itu ke depan menyambut pukulan lawan.

"Plakkk!"

Kedua telapak tangan bertemu dan seketika tubuh Kim Hong Liu-nio tergetar hebat dan tenaga sinkang-nya memberobot keluar tersedot melalui telapak tangan pemuda remaja itu.

"Eiiihhhhh...!" Kim Hong Liu-nio menjerit dan tangan kanannya cepat menyambar dengan totokan ke arah kedua mata Sin Liong!

Wanita ini telah mengenal Thi-khi I-beng maka dia merasa ngeri dan cepat mengeluarkan serangan yang dapat menolong dirinya dari ilmu sedot yang hebat itu. Ketika Sin Liong menggerakkan tangan kanan menangkis, maka wanita itu secepat kilat menarik tangan kirinya yang tersedot melekat pada tangan lawan sambil mengerahkan sinkang-nya dan terlepaslah tangannya. Dia menjadi marah bukan main.

"Tarrrrr...!"

Sabuk sutera merahnya telah menyerang, meluncur ke arah leher Sin Liong. Akan tetapi Sin Liong maklum pula bahwa dia berada dalam bahaya sesudah kini semua orang tahu keadaan dirinya yang sebenarnya. Karena itu dia cepat mengerahkan tenaga lemas untuk menangkis sabuk.

"Pratttt…!"

Ujung sabuk merah itu membelenggu pergelangan tangannya. Akan tetapi Sin Liong lalu mengerahkan Ilmu Thian-te Sin-ciang, mengebutkan tenaga itu dengan telapak tangannya ke arah muka lawan.

"Ihhhhh...!" Kim Hong Liu-nio kembali menjerit.

Dia cepat mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya terdorong angin pukulan Thian-te Sin-ciang yang ampuh hingga dia terhuyung, sedangkan pergelangan tangan lawan yang terbelit sabuk sudah terlepas pula. Kesempatan selagi lawannya terhuyung ini digunakan oleh Sin Liong untuk meloncat keluar restoran dan menyelinap di antara penonton yang memenuhi tempat itu karena tertarik oleh kedatangan pembesar, kemudian oleh keributan yang terjadi di restoran itu.

"Tangkap dia! Dia itu putera pemberontak Cia Bun Houw...!" Kim Hong Liu-nio berteriak sambil mengejar. Akan tetapi dia terhalang oleh banyak orang, dan melihat para pasukan melakukan pengejaran, wanita ini dengan cemberut lalu masuk kembali ke dalam restoran di mana dia disambut oleh Gu-taijin yang masih terheran-heran.

Sementara itu, melihat dirinya dikejar-kejar oleh pasukan yang makin lama makin banyak jumlahnya, Sin Liong terus melarikan diri. Dia menjadi bingung. Apa bila dia dikabarkan sebagai anak pemberontak yang melarikan diri, tentu sukar baginya untuk keluar dari kota raja ini. Tentu pintu-pintu gerbang yang kuat itu telah terjaga dengan ketat, dan ke mana pun dia bersembunyi, tentulah dia akan terus dicari oleh para prajurit.

Mana mungkin dia mampu melawan pasukan yang banyak jumlahnya? Dan dia pun tidak mempunyai ingatan untuk melawan pemerintah. Dalam gugupnya dia segera membelok lantas masuk ke dalam pasar ketika arah berlarinya melewati tempat ini. Dari belakang terdengar hiruk-pikuk para prajurit yang mengejarnya.

Pasar itu menjadi geger ketika para prajurit memasukinya dan orang-orang berlarian ke mana-mana ketika mendengar betapa para prajurit itu sedang mengejar-ngejar seorang pemberontak! Makin ribut dan terkejutlah orang-orang itu ketika mendengar bahwa yang dikejar-kejar dan dianggap seorang sebagai pemberontak yang buron itu adalah seorang pelayan rumah makan bernama A-sin!

Saat Sin Liong tengah kebingungan, berdiri di antara orang-orang pasar yang menyelinap ke sana-sini itu, tiba-tiba tangannya dipegang oleh seorang pengemis muda yang lantas berbisik, "A-sin... cepat, kau ikut aku...!"

Melihat bahwa pemuda pengemis itu adalah seorang di antara ‘langganannya’, Sin Liong yang sedang kebingungan itu mengangguk dan cepat dia mengikuti pengemis muda itu menyelinap di antara orang-orang yang sedang panik itu. Dia dibawa ke bagian belakang pasar, di tempat pengumpulan sampah dan di sana dia melihat empat orang pengemis muda lainnya bersama seorang gadis.

Melihat gadis ini, jantungnya berdebar tegang karena dia segera mengenal yang semalam memasuki kamarnya! Gadis itu tetap memakai baju biru, entah baju yang semalam entah memang bajunya semua berwarna biru, akan tetapi sepasang matanya tetap bening dan bersinar tajam, pantas kalau dijuluki Walet Mata Emas! Melihat dia, gadis itu tersenyum mengejek.

"Aihh, kiranya si pelayan restoran yang tolol ini seorang pelarian pemberontak?"

"Aku... aku bukan..."

"Ahhh, sikapmu yang tolol itu hanya kedok belaka. Lekas kau sembunyi ke sini, itu para prajurit sudah datang!" Gadis itu dengan cekatan sudah menyambar tangan Sin Liong dan mendorong pemuda itu ke tempat sampah, kemudian dia bersama teman-temannya lalu menimbuni tubuh Sin Liong yang duduk di atas tanah itu dengan sampah!

Baunya bukan main, maka terpaksa Sin Liong mengerahkan tenaganya supaya jangan muntah-muntah dan juga agar jangan sesak napas. Dia tidak dapat melihat keluar, akan tetapi dia dapat mendengar suara para prajurit yang tiba di situ.

"He! Apakah kalian melihat pemberontak yang lari ke sini?" terdengar bentakan nyaring.

"He! He! Engkau berbicara dengan orang atau setan? Begitukah pendidikan sopan santun yang kau terima selama kau menjadi prajurit, menyapa orang hanya dengan he-he saja?" tiba-tiba terdengar suara gadis itu marah.

"Apa...?! Kalian ini sekumpulan pengemis...!" suara pertama menghardik.

"Ahh, jangan ceroboh, Ciong-ko, dia ini adalah Kim-gan Yan-cu...!" terdengar suara orang ke dua, agaknya seorang prajurit lain yang mengenal gadis itu.

"Ahhh... maafkan aku, nona. Aku tidak tahu...," kata suara pertama.

Terdengar gadis yang berjuluk Walet Mata Emas itu mengomel. "Hmm, setelah mengenal orang baru bersikap sopan, itu namanya sopan yang palsu. Biar pun kami orang miskin, apakah para prajurit berhak untuk memandang rendah dan menghina kami? Kalau tidak mampu bertanya dengan sopan, kami pun tidak mampu menjawab!"

"Kim-gan Yan-cu, maafkan kawan kami ini. Dia prajurit baru, pindahan dari luar kota raja. Kami sedang bingung dan sibuk, mengejar-ngejar seorang buronan, seorang pemberontak yang amat berbahaya. Biasanya engkau dan kawan-kawanmu tidak pernah mengganggu, bahkan sering kali membantu kami mengamankan daerah-daerah. Maka kini kami mohon bantuanmu dan kawan-kawanmu untuk mencari buronan itu. Dia seorang muda, namanya A-sin, tadinya bekerja sebagai pelayan restoran."

"Hemm, kami tidak melihat dia sekarang."

"Kalau kalian melihatnya, harap suka membantu kami menangkapnya, dan harap kalian menyuruh kawan-kawan kalian yang banyak untuk ikut mencarinya."

"Baik, baik...!"

Tak lama berselang para prajurit itu sudah pergi, kemudian Sin Liong disuruh keluar dari tumpukan sampah. Dia merasa heran bukan main. Ternyata para prajurit itu tidak hanya mengenal gadis ini, bahkan kelihatan takut dan sangat menghormatinya! Maka dia pun cepat menjura.

"Terima kasih atas pertolongan kalian..."

"Pertolongan apa? Kau masih terancam bahaya. Hayo kerjakan dia!" perintah gadis itu.

Empat orang pengemis muda itu lalu beramai-ramai mengenakan pakaian butut kepada Sin Liong kemudian dengan arang dan lumpur mereka menyulap wajah Sin Liong menjadi wajah yang kotor, wajah seorang pengemis yang terlantar. Sin Liong tak sempat menolak karena dia tahu bahwa mereka itu bermaksud baik terhadap dirinya.

"Nah, kau diam saja, pura-pura sakit dan kelaparan. Jangan mengeluarkan suara, kecuali rintihan dan keluhan kalau bertemu dengan prajurit," kata gadis itu.

Sin Liong yang masih sangat keheranan itu hanya mengangguk. Dia benar-benar merasa canggung sekali berhadapan dengan gadis yang ternyata amat berwibawa ini dan merasa makin canggung lagi ketika empat orang itu menggotongnya, seperti menggotong seekor kerbau yang akan disembelih! Dan gadis itu berjalan di depan!

Beberapa kali mereka bertemu dengan pasukan dan seperti yang dipesankan oleh gadis itu, setiap kali ada pasukan berhenti dan memandang kepadanya, dia mengeluh.

"Ini ada seorang pengemis kelaparan dari luar daerah. Mengotori kota raja saja, dan kami hendak mengirim dia kembali ke tempatnya, biarlahh kalau sampai mati pun dia mati di tempatnya sendiri, tidak di kota raja!" demikian gadis itu menerangkan setiap kali ada pertanyaan dari para prajurit yang masih sibuk mencari-cari Sin Liong itu.

Akhirnya, dengan mudah para pengemis muda itu menggotong Sin Liong keluar dari pintu gerbang selatan. Agaknya mereka itu sangat dipercaya oleh para penjaga pintu gerbang, apa lagi keterangan gadis lincah itu agaknya tidak pernah diragukan orang.

Sesudah keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan dan para pengemis yang menggotong tubuh Sin Liong itu sudah tiba jauh dan tidak nampak lagi oleh para penjaga, Sin Liong lalu diturunkan.

"Nah, sekarang kita harus berlari cepat. Hayo ikut dengan kami, A-sin!" kata gadis baju biru itu. Sin Liong hanya mengangguk saja, lantas dia ikut berlari bersama gadis itu dan empat orang pengemis muda, menuju ke sebuah hutan kecil di lereng bukit yang nampak dari situ.

Ternyata di tengah hutan itu terdapat sebuah kuil rusak yang kosong dan ke tempat inilah mereka menuju. Agaknya gadis itu dan kawan-kawannya sudah biasa di tempat ini karena mereka langsung masuk dan membersihkan sebuah ruangan yang masih belum begitu bobrok dan dapat dipergunakan untuk tempat bersembunyi yang teduh dan terlindung dari panas atau hujan.

Memang demikianlah, tempat-tempat seperti kuil kosong, kolong-kolong jembatan, emper-emperan toko merupakan tempat-tempat yang tidak asing bagi kaum gelandangan seperti mereka itu, yang tidak mempunyai rumah atau keluarga.

Setelah membersihkan ruang itu dengan dibantu oleh empat orang pengemis muda yang agaknya menjadi anak buah gadis itu, mereka lalu berunding.

"Kalian harus cepat kembali ke kota raja dan menyelidiki keadaan. Apa bila ada bahaya mengancam, lekas beri tahu kami di sini. Aku terpaksa harus melindungi si lemah ini!" kata gadis berbaju biru itu kepada empat orang anak buahnya yang menyatakan setuju. Mereka segera berangkat meninggalkan Sin Liong berdua gadis itu.

Diam-diam Sin Liong merasa kagum menyaksikan kesigapan dara itu, kecerdikannya, wibawanya, dan juga kesederhanaannya. Gadis itu tentu paling banyak lima belas atau enam belas tahun usianya, akan tetapi sudah dapat memimpin pengemis-pengemis muda yang kelihatan begitu taat kepadanya!

Setelah empat orang pengemis muda itu pergi, gadis baju biru itu keluar dari dalam kuil. Tanpa diperintah, Sin Liong lalu mengikutinya dan ketika gadis itu duduk di atas sebuah bangku batu rendah yang berada di belakang kuil rusak, Sin Liong hanya berdiri sambil memandang, sinar matanya masih membayangkan rasa kekaguman dan juga keheranan karena kembali ada perasaan mengganggunya bahwa dia pernah bertemu dengan gadis ini!

Wajah gadis ini tidak asing baginya! Akan tetapi biar pun dia payah mengingat-ingat, dia merasa belum pernah berkenalan dengan seorang gadis pengemis, apa lagi pemimpin pengemis!

Tiba-tiba saja gadis itu menoleh dan memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu pandang, melekat sebentar. Gadis itu cemberut. "Ada apa engkau memandangku seperti itu? Engkau berani mengandung pikiran kurang sopan? Kugampar mukamu nanti!"

Sin Liong menjadi gugup dan mukanya menjadi merah, seperti sudah dipukul saja. Dia cepat menundukkan mukanya dan tidak berani memandang. Terdengar gadis itu tertawa kecil.

"Hik-hik, aku hanya main-main. Mengapa kau begini pemalu? Ehhh, A-sin, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata bukan sembarang orang, melainkan seorang penting yang menyembunyikan diri dan menyamar sebagai pelayan! Hebat! Semuda ini engkau sudah dijadikan buruan pemerintah. Wah, engkau pasti orang penting yang menyamar. Siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau dikejar-kejar prajurit kerajaan?"

Sin Liong tidak ingin diketahui sebabnya dia dikejar-kejar para prajurit. Dia dikejar prajurit karena hasutan Kim Hong Liu-nio bahwa dia adalah putera pemberontak Cia Bun Houw dan dia sama sekali tidak suka mengaku sebagai putera pendekar itu. Akan tetapi, para pengemis muda pembantu gadis itu pergi menyelidiki ke kota raja. Mereka itu tentu akan mendengar pula bahwa dia menjadi buronan karena dia putera pendekar Cia Bun Houw. Setelah berpikir sejenak dia menemukan akal.

"Ahhh, aku adalah orang biasa dan bekerja sebagai pelayan untuk mencari sesuap nasi. Akan tetapi sungguh sial, mungkin karena persamaan wajah, aku dituduh sebagai anak pemberontak dan dikejar-kejar. Kalau tidak ada engkau yang menolongku, tentu aku telah ditangkap dan dihukum mati."

Gadis itu bangkit berdiri menghadapi Sin Liong, kemudian dengan penuh selidik sepasang matanya yang jeli itu mengamati Sin Liong, dari rambut sampai ke kaki, kemudian dia cemberut, menggelengkan kepalanya.

"Tidak, engkau bukan seorang pelayan restoran biasa! Engkau tidak setolol seperti yang ingin kau perliliatkan. Aku lebih percaya kalau engkau benar-benar seorang penting yang menyamar pelayan dari pada seorang pelayan tulen dari dusun yang buta huruf dan tolol. Dan... wajahmu ini tidak asing bagiku! Benar, aku merasa pasti sudah pernah melihatmu. Hayo, kau mengaku sajalah!"

Sin Liong terkejut dan dia kembali memandang. Mereka berpandangan dan makin terasa oleh mereka bahwa mereka memang pernah saling berjumpa, dan betapa wajah itu tidak asing sama sekali. Sekarang, setelah tidak berada dalam keadaan tegang, mereka dapat memperhatikan wajah masing-masing. Akan tetapi tetap saja Sin Liong tidak ingat pernah berkenalan dengan seorang gadis pemimpin pengemis, sebaliknya gadis itu agaknya juga tidak ingat pernah bertemu dengan seorang pelayan atau buronan pemberontak.

"Nona, siapakah namamu?" akhirnya Sin Liong bertanya karena dia merasa yakin bila dia mengetahui nama gadis ini tentu dia akan teringat.

Kembali sinar mata gadis itu memperlihatkan perasaan tak senang sekaligus juga curiga. "Mau apa kau tanya-tanya nama orang?" bentaknya curiga, menduga bahwa pemuda ini, seperti pemuda-pemuda lain berwatak ceriwis.

Galak betul bocah ini, pikir Sin Liong. Akan tetapi karena gadis ini telah menolongnya, dia tetap bersikap sabar. "Terus terang saja, nona, aku pun merasa seperti pernah bertemu denganmu. Apa bila aku mengetahui namamu, mungkin saja aku akan teringat lagi dan kenal padamu."

"Hemm, engkau sudah mendengar bahwa namaku dikenal sebagai Kim-gan Yan-cu!" kata nona itu dan mendengar nama julukan ini, mau tidak mau Sin Liong memperhatikan mata gadis itu dan memang pantaslah kalau gadis itu dijuluki Kim-gan (Si Walet Emas) karena sepasang mata itu memang amat indahnya!

"Aku tidak mengenal julukan itu."

"Hemmm, kalau tidak mengenal sudah saja!" Gadis itu mendengus marah karena hatinya merasa tidak senang mendengar ada orang yang tidak mengenal ‘nama besarnya’.

Ketika mendengus marah itu, dia menggerakkan kepalanya sehingga rambut yang dikucir menjadi dua itu berpindah ke depan pundak dan gerakan itu membuat lehernya tersibak. Nampak kulit tengkuk leher yang amat mulus, akan tetapi bukan kemulusan kulit itu yang membuat Sin Liong terbelalak, melainkan setitik tahi lalat di kulit tengkuk yang putih mulus itu. Tahi lalat itu!

Sekarang dia teringat dan matanya terbelalak memandang kepada gadis itu. Tahi lalat itu membuat sepasang mata yang tajam dan jeli, hidung kecil mancung dan mulut dengan sepasang bibir mungil itu menjadi sama sekali tidak asing lagi baginya.

"Bi Cu...!" suara ini hanya terdengar sebagai bisikan saja keluar dari mulut Sin Liong yang masih menatap wajah itu tanpa berkedip.

Kini gadis itu yang kelihatan kaget bukan main. Selama ini tidak ada seorang pun yang mengenal namanya, dan dia hanya memperkenalkan nama dengan julukannya itu.

"Ehhh, bagaimana kau bisa mengenal namaku? Kau... kau siapa...?!" bentaknya, heran, kaget dan curiga.

Mendengar ini, yakinlah hati Sin Liong dan tiba-tiba dia merasa terharu sekali. Ia teringat akan mala petaka yang menimpa keluarga Na yang amat baik kepadanya itu.

"Bi Cu, lupakah engkau kepadaku? Aku Sin Liong...!"

Sepasang mata itu terbelalak lebar, amat indahnya. "Sin Liong...? Ahh, tentu saja...! Akan tetapi siapa sangka engkau menjadi pelayan restoran bahkan seorang buronan pasukan pemerintah pula?" Gadis itu juga teringat akan masa lalu, maka menjadi terharu dan juga gembira sekali. "Sin Liong...!"

Mereka saling berpegang tangan, lalu keduanya berloncatan menari-nari dengan gembira laksana dua orang anak kecil bermain-main. Kegembiraan meluap di dalam hati mereka karena mereka berdua sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat saling berjumpa sesudah mala petaka itu menimpa mereka di dalam rumah keluarga Na Ceng Han atau Na-piauwsu.

Akhirnya keduanya ingat bahwa mereka sudah bersikap seperti anak kecil. Dengan muka berubah merah Bi Cu melepaskan pegangan tangannya, lantas terengah-engah duduk di atas bangku batu tadi. Wajahnya berseri dan merah sekali, akan tetapi matanya basah air mata.

"Aihh... siapa kira aku dapat bertemu denganmu lagi, Sin Liong," katanya dan dia terhenti karena lehernya seperti tercekik oleh rasa haru.

Sin Liong tersenyum. Bukan main gembira rasa hatinya, Bi Cu yang dahulu seorang anak perempuan pendiam itu kini sudah menjadi seorang gadis remaja yang lincah, cantik dan cerdik. Teringat akan waktu lampau, dia tertawa dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah gadis itu.

"Dan siapa sangka akan dapat bertemu engkau yang kini sudah menjadi ratu pengemis? Engkau dahulu begitu pendiam dan pemalu dan sekarang..."

Kegembiraan Sin Liong menular kepada Bi Cu yang kini memang berwatak lincah itu. Dia membuat gerakan lucu dan bersungut-sungut, tangan kirinya terbentang. "Dan sekarang kau hendak mengatakan bahwa aku cerewet dan tak tahu malu?"

"Ihh, tentu saja tidak!" Sin Liong tersenyum. "Engkau kini menjadi seorang gadis cerdas, lincah dan berani, sungguh mengagumkan sekali, Bi Cu! Sungguh mati, mana mungkin aku bisa mengenalmu lagi?"

"Tapi toh engkau tadi mengenalku lebih dulu!"

"Atas bantuan tahi lalatmu."

"Eh?" Bi Cu meloncat bangun dan berdiri menghadapi Sin Liong, menatap wajah pemuda itu dengan tajam. "Tahi lalat?"

"Ya, tahi lalat di tengkukmu. Tadi tampak pada waktu engkau memindahkan kuncirmu ke depan. Engkau mempunyai sebuah tahi lalat kecil di tengkuk, apakah engkau tidak dapat melihatnya?"

"Hik-hik, tolol engkau. Apa kau kira aku sudah menjadi siluman yang mempunyai mata di belakang kepala? Mana bisa melihat tahi lalat di tengkuk sendiri!"

Sin Liong juga tertawa. "Akan tetapi, sejak dahulu engkau sudah mempunyai tahi lalat itu, apakah kau lupa betapa tahi lalatmu itu dijadikan bahan godaan oleh... Tiong Pek?"

"Ohhh...!" Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Bi Cu dan dia duduk kembali di atas bangku, termenung!

Tanpa ragu-ragu Sin Liong juga duduk di atas bangku itu sesudah Bi Cu menggeser ke pinggir. Mereka duduk berdampingan, seperti dulu pada waktu mereka baru berusia dua belas tahun. Sin Liong maklum bahwa tentu gadis ini mengalami banyak sekali hal luar biasa, maka dia sampai menjadi seorang pemimpin kaum jembel di pasar kota raja itu.

"Bi Cu, bagaimana engkau dapat berada di sini dan menjadi pemimpin para pengemis muda itu? Bukankah dahulu engkau masih bersama Tiong Pek dan tinggal di Kun-ting?"

Bi Cu bertopang dagu, mukanya masih muram dan bibirnya cemberut, seolah-olah saat itu dia terkenang akan hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya, kemudian dia melirik ke arah muka Sin Liong dan bertanya, "Dan engkau sendiri, sesudah dulu dibawa pergi oleh wanita itu, bagaimana tahu-tahu dapat muncul di kota raja sebagai pelayan restoran yang kemudian dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah?"

Sin Liong tersenyum dan memandang kagum. "Ahh, engkau benar-benar sudah berubah banyak sekali, Bi Cu. Engkau dulu pemalu dan pendiam, kini engkau demikian lincah dan pandai berbicara. Belum menjawab pertanyaan orang, engkau sudah menyerang kembali dengan pertanyaanmu."

"Sudah sepatutnya dan selayaknya seorang pria mengalah terhadap wanita, bukan? Nah, kau ceritakan pengalamanmu."

"Seperti yang engkau ketahui, ketika keluarga paman Na diserbu penjahat dan engkau bersama aku dan Tiong Pek melawan para penjahat, muncul wanita iblis itu dan aku lalu dibawanya pergi..."

"Wanita iblis? Apakah kau maksudkan wanita cantik gagah perkasa yang sudah berhasil membunuh semua penjahat keji yang telah menewaskan suhu sekeluarganya itu? Kenapa kau menyebut wanita gagah itu iblis?"

"Engkau tidak tahu saja, Bi Cu. Memang dia, entah mengapa, telah membunuh penjahat-penjahat yang membasmi keluarga paman Na itu, dan memang agaknya ada kegagahan tersembunyi dalam dirinya, akan tetapi wanita itu adalah seorang manusia iblis yang amat kejam sekali. Namanya Kim Hong Liu-nio, ahh, engkau tidak tahu betapa kejamnya. Aku nyaris tewas disiksa olehnya, untung aku dapat... ehhh, membebaskan diri, ditolong oleh seorang kakek."

Sin Liong tak ingin menceritakan tentang kakek Cia Keng Hong yang sebenarnya adalah kakeknya sendiri itu, juga dia tak ingin menceritakan bahwa dia telah mempelajari banyak ilmu yang tinggi. Dia ingin dikenal oleh Bi Cu sebagai Sin Liong yang dahulu pada saat mereka bersama-sama belajar di bawah bimbingan Na-piauwsu yang baik hati.

"Nona... nona Kim-gan Yan-cu...!"

Sin Liong dan Bi Cu segera menengok dan mereka melihat dua orang pengemis muda yang tadi membantu, kini datang dengan muka pucat dan penuh keringat, napas mereka terengah-engah. Semua pengemis muda yang menjadi anak-anak buah Bi Cu memang diharuskan menyebut nona oleh gadis itu. Melihat keadaan dua orang pembantunya yang dia tahu tidak mudah ketakutan itu, Bi Cu maklum bahwa tentu terjadi hal-hal yang hebat.

"Hemm, A-sam dan A-khun, ada apakah?" tanyanya dengan alis berkerut sambil bangkit berdiri. Sin Liong sudah berdiri, memandang penuh perhatian.

A-khun memandang kepada Sin Liong dengan mata terbelalak, sedangkan A-sam setelah menoleh ke arah Sin Liong berkata, "Nona, kita sudah tertipu... dia... dia ini benar-benar orang yang menyamar..., kabarnya dia... dia ini seorang yang berkedudukan tinggi, masih saudara dengan seorang pangeran, akan tetapi juga kabarnya dia dicari-cari karena dia keluarga pemberontak... wah, benar-benar celaka, nona, sekarang ada pasukan kerajaan sedang menuju ke sini untuk menangkap dia, dan juga untuk menangkap nona sendiri...!"

"Biar mereka menangkap aku!" Sin Liong berkata penasaran. "Akan tetapi kenapa mereka hendak menangkap Kim-gan Yan-cu?"

"Ya, mengapa mereka bendak menangkap aku, A-sam?"

“Karena mereka sudah mengetahui bahwa nona telah menolong dia melarikan diri. Cepat, nona, itu sudah terdengar bunyi derap kuda mereka!"

Benar saja dari jauh terdengar derap kaki kuda memasuki hutan. Sin Liong tidak merasa gentar, akan tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Bi Cu, sementara itu, A-sam serta A-khun sudah menyelinap dan melarikan diri di antara semak-semak belukar.

"Bi Cu, cepat mari ikut aku pergi!"

Dia lalu menggandeng tangan gadis itu dan mengajak lari. Bi Cu yang biasanya menjadi pemimpin, sekarang menurut saja karena dia masih terlampau kaget dan bingung. Dikejar pasukan pemerintah bukan merupakan hal yang remeh, pikirnya.

"Ke mana kita akan pergi, Sin Liong?"

Mereka sudah tiba di luar hutan bagian belakang atau bagian selatan dan derap kaki kuda kini tidak terdengar lagi. Agaknya pasukan yang mengejar mereka itu sedang mencari-cari dan berkeliaran di dalam hutan karena memang hutan belukar itu tidak memungkinkan mereka melarikan kuda cepat-cepat tanpa mengetahui pasti ke arah mana mereka harus mengejar.

"Bi Cu, aku menyesal sekali bahwa engkau terseret oleh kesialanku. Akan tetapi, aku sudah mempunyai tempat yang baik sekali untuk melarikan diri. Mari kau ikut bersamaku ke dalam dusun di mana tinggal keluarga Kui...!"

"Siapa itu keluarga Kui?" Bi Cu bertanya sambil terus melangkah mengikuti Sin Liong. Mereka tidak lari lagi, hanya berjalan cepat menyusup-nyusup di antara batu-batu besar, pohon-pohon dan semak-semak.

"Sin Liong, engkau ini aneh sekali. Benarkah engkau menjadi saudara seorang pangeran? Dan benarkah engkau keluarga pemberontak?" Di tengah perjalanan itu Bi Cu bertanya, suaranya penuh keheranan.

Sin Liong mengerutkan alisnya. Tak salah lagi, tentu Gu-taijin yang mengabar-ngabarkan keadaan dirinya sebagai saudara Pangeran Ceng Han Houw, dan tentu Kim Hong Liu-nio yang mengabarkan bahwa dia adalah putera pemberontak Cia Bun Houw! Dia tetap tidak ingin bercerita mengenai Cia Bun Houw kepada siapa pun juga, apa lagi kepada Bi Cu, hanya kenyataan tentang hubungannya dengan Han Houw tentu tidak mungkin lagi untuk dirahasiakannya.

"Baik, kuceritakan semuanya kepadamu, Bi Cu. Pertama-tama tentang keluarga Kui yang akan kita datangi dan dimana kita akan berlindung dan bersembunyi. Dia... Kui Hok Boan itu adalah ayah tiriku..."

"Ahhhh...!" Bi Cu menoleh dan memandang wajah Sin Liong dengan tertarik. Selama Sin Liong berada dan tinggal di rumah gurunya atau paman Na Ceng Han, belum pernah anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang dirahasiakan. "Dan ibumu masih ada...?"

Sin Liong menggeleng kepala. "Ibu telah meninggal dunia. Beberapa hari yang lalu aku melihat keluarga Kui di kota raja, bahkan melihat mereka berbelanja di pasar kemudian melihat betapa engkau dan kawan-kawanmu mengganggu mereka dan mencopet barang-barang mereka..."

"Ahh, kau maksudkan... pemuda gendut itu?"

"Dia itu keponakan dari Kiu Hok Boan. Dua orang gadis..."

"Dua gadis kembar yang cantik manis itu?"

"Ya, mereka adalah saudara-saudara tiriku."

Bi Cu mengangguk-angguk, kemudian dia kelihatan meragu. "Kalau si gendut dan yang lain-lainnya itu mengenali aku, tentu mereka curiga dan mana bisa aku tinggal di tempat orang yang pernah kuganggu?"

"Tidak, Bi Cu. Mereka tidak mungkin mengenalmu. Pula, ada hal lain yang sangat perlu bagimu. Kui Hok Boan pernah tinggal lama di utara, dan mungkin dia pernah mendengar tentang ayahmu yang tinggal di utara."

"Ahh...! Bagus sekali kalau begitu, Sin Liong. Sekarang ceritakan tentang pangeran itu."

Dengan hati-hati Sin Liong menceritakan tentang Ceng Han Houw, betapa dia bertemu dengan pangeran ini kemudian sang pangeran suka kepadanya sehingga mengangkatnya sebagai saudara. Akan tetapi dia tetap tidak menuturkan tentang kepandaiannya, bahkan tidak menyinggung mengenai kelihaian Ceng Han Houw. Meski pun demikian, Bi Cu tidak mendesak lebih lanjut karena dara ini sudah merasa terlalu heran mendengar betapa Sin Liong menjadi saudara angkat seorang pangeran!

"Sungguh hebat pengalamanmu, Sin Liong. Akan tetapi engkau yang menjadi saudara angkat pangeran, mengapa lalu tinggal di restoran sebagai pelayan?"

"Aku tidak suka akan cara hidup mewah pangeran itu, disanjung-sanjung dan dihormati orang, dijilat-jilat secara berlebihan. Aku lebih suka menjadi orang biasa, bebas berbuat apa pun tanpa diperhatikan orang."

"Lalu apa sebabnya engkau yang menjadi saudara angkat pangeran dituduh pemberontak dan dikejar-kejar pasukan? Bukankah engkau dapat mengatakan bahwa engkau adalah saudara angkat pangeran dan pasukan itu tidak akan berani mengganggumu?"

Sin Liong menarik napas panjang. Bi Cu terlampau cerdik untuk menerima ceritanya yang tidak lengkap itu. Kalau dia tidak hati-hati, dia tentu akan terpaksa membuka rahasianya bahwa dia adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi. Akan tetapi, dia pun amat cerdik dan langsung dia mengambil keputusan untuk membuka sedikit rahasia pribadinya untuk tetap menutupi rahasia lain.

"Ahh, semua itu adalah gara-gara wanita iblis itu, Bi Cu."

"Ehh? Kau maksudkan... wanita cantik yang berjuluk Kim Hong Liu-nio itu?"

"Benar."

"Oya, kau pernah diculiknya dan kau bilang nyaris tewas disiksanya, tentu ada apa-apa antara dia dan engkau."

"Memang benar, dan karena itu pula aku berada di kota raja, menyamar sebagai pelayan rumah makan. Aku memang sedang menyelidikinya. Siapa kira dia telah melihat aku lebih dulu dan mengabarkan bahwa aku adalah pemberontak maka aku dikejar-kejar pasukan."

"Mau apa engkau menyelidiki wanita itu?"

"Karena dia musuh besarku. Dialah yang telah membunuh ibu kandungku."

"Ahh...!" Bi Cu sampai menghentikan langkahnya saking kagetnya.

Sebelum mendengar hal ini, dia selalu mengenangkan wanita yang telah membunuh para penyerbu dan para pembunuh keluarga Na itu dengan hati penuh kagum dan dia selalu menganggap wanita itu seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan budiman, biar pun dia tidak mengerti mengapa pendekar wanita itu melarikan Sin Liong. Sekarang, dia mendengar bahwa wanita itu dianggap iblis oleh Sin Liong dan ternyata wanita itulah yang telah membunuh ibu kandung Sin Liong! Pemuda itu terpaksa berhenti pula. Sampai lama mereka hanya saling pandang.

"Dan ayah kandungmu, Sin Liong?"

Pemuda itu menggelengkan kepala. "Sudah mati!"

"Kasihan engkau, sudah yatim piatu."

"Sama dengan engkau, Bi Cu."

"Dan engkau menyelidiki wanita itu untuk apa?"

"Untuk apa? Apa bila kelak engkau mengetahui siapa pembunuh ayahmu, apa yang akan kau lakukan, Bi Cu?"

"Membunuhnya!"

"Demikian juga aku."

"Tapi, wanita itu demikian lihainya! Apa kau mampu menandinginya?"

"Demi membalas kematian ibuku, akan kucoba."

"Tapi... apakah engkau selama ini mempelajari ilmu-ilmu silat?"

"Hanya dari Na-piauwsu."

"Ahhh, dengan kepandaianmu seperti itu, mana engkau sanggup menandingi wanita itu? Akan tetapi, biar aku membantumu, Sin Liong!"

"Terima kasih, agaknya engkau sekarang telah memiliki kepandaian tinggi, Bi Cu."

"Cukup lumayan, walau pun aku juga tidak berani memastikan apakah aku akan mampu menandingi Kim Hong Liu-nio yang kelihatannya sangat lihai itu. Kini dengarlah ceritaku tentang pengalaman semenjak kita saling berpisah, Sin Liong."

Dengan sikapnya yang polos, gerak-gerik yang lincah dan sangat menarik bagi Sin Liong, gerak bibir yang manis dan gerak mata yang menunjukkan kecerdikan, dara remaja itu lalu menceritakan semua pengalamannya selama kurang lebih lima tahun ini…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner