PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-43


Seperti telah kita ketahui, kurang lebih lima tahun yang lalu keluarga Na Ceng Han di kota Kun-ting telah diserbu oleh para musuhnya yaitu piauwsu dari Gin-to Piauwkiok bernama Ciok Khun yang dibantu oleh Lu Seng Ok, tokoh Hwa-i Kaipang yang murtad dan sudah diusir dari perkumpulan itu, dibantu oleh lima orang anak buah Ciok Khun.

Penyerbuan hebat ini mengakibatkan matinya Na Ceng Han dan isterinya serta beberapa orang anggota Ui-eng Piauwkiok yang dipimpin oleh Na-piauwsu itu. Malah putera tunggal Na-piauwsu, Na Tiong Pek, bersama Bhe Bi Cu dan Sin Liong nyaris tewas pula oleh para penyerbu itu.

Akan tetapi muncul Kim Hong Liu-nio yang timbul watak gagahnya saat melihat tiga orang anak-anak bertanding mati-matian melawan para penyerbu itu sehingga wanita sakti ini turun tangan membunuh Ciok Khun dan enam orang pembantunya, kemudian Kim Hong Liu-nio mengenal Sin Liong dan menculiknya lalu membawanya pergi.

Gegerlah kota Kun-ting dengan terjadinya peristiwa ini. Tiong Pek dan Bi Cu hanya dapat menangisi jenazah Na-piauwsu dan isterinya, lalu muncul para anggota Ui-eng Piauwkiok yang kemudian mengurus mayat-mayat itu. Ui-eng Piauwkiok berkabung dan untung bagi Tiong Pek dan Bi Cu bahwa para anggota piauwkiok itu cukup setia dan telah mengurus kedua jenazah itu sebaiknya sampai selesai dimakamkan.

Bahkan setelah selesai acara pemakaman itu, para tokoh Ui-eng Piauwkiok yang menjadi pembantu-pembantu utama dari mendiang Na Ceng Han segera mengadakan rapat dan kemudian diambil keputusan untuk melanjutkan Ui-eng Piauwkiok yang telah terkenal dan dipercaya oleh para pedagang. Sebagai pengganti Na Ceng Han diangkat Na Tiong Pek.

Akan tetapi karena anak itu baru berusia tiga belas tahun, dan ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat diandalkan menjadi piauwkiok, maka pengangkatan pemimpin ini hanya untuk mempertahankan nama Na-piauwsu saja dan rumah keluarga Na itu tetap dipakai sebagai pusat, namun yang memimpin adalah para pembantu-pembantu utama mendiang Na-piauwsu itulah. Mereka bahkan melanjutkan pelajaran Na Tiong Pek dan melatih ilmu silat kepada pemuda remaja ini.

Bi Cu tetap tinggal di rumah Tiong Pek. Akan tetapi gadis cilik ini merasa kesepian dan kehilangan sekali, dan merasa tak senang lagi tinggal di rumah besar itu. Apa lagi ketika nampak gejala-gejala betapa Tiong Pek makin tergila-gila padanya. Sudah beberapa kali pemuda ini menyatakan bahwa mereka adalah calon suami isteri!

Pada suatu senja, pada saat mereka berdua duduk di dalam taman bunga yang sedang indah-indahnya karena semua bunga sedang mekar di tengah-tengah musim bunga itu, kembali Tiong Pek menyatakan persoalan itu.

"Sumoi, mari duduk dekat denganku di sini." Dia menepuk papan bangku di sebelahnya.

Bi Cu mengerutkan alisnya dan menjawab, "Di sini pun sama saja, suheng." Dia sendiri duduk di atas bangku batu kecil tak jauh dari tempat duduk Tiong Pek.

"Ke sinilah, sumoi, aku mau bicara penting sekali."

"Di sini pun aku sudah dapat mendengarmu, suheng. Mau bicara apakah?" Diam-diam dara kecil ini merasa khawatir karena selama satu tahun sejak tewasnya Na-piauwsu dan isterinya, sering kali dia harus menolak bila Tiong Pek ingin memperlihatkan perasaannya dengan menyentuhnya atau memegang lengannya atau mengeluarkan kata-kata manis merayu!

"Sumoi, mengapa engkau selalu bersikap dingin dan malu-malu terhadap aku? Bukankah kita ini sudah menjadi calon suami isteri? Kita tinggal menanti beberapa tahun lagi sampai kita cukup dewasa dan kita akan menikah, menjadi suami isteri."

Bi Cu telah bosan mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu. "Suheng, engkau selalu membicarakan tentang itu. Sudah kukatakan bahwa aku masih terlalu kecil untuk bicara soal pernikahan, usiaku baru dua belas tahun!”

"Akan tetapi kita telah saling bertunangan!"

"Sejak kapankah kita bertunangan?"

"Eh, semua orang tahu belaka bahwa ayah dan ibuku menghendaki begitu. Semua paman di Ui-eng Piauwkiok juga sudah mendengar sendiri pernyataan mendiang ayahku kepada mereka, yaitu bahwa engkau telah dipilihnya untuk menjadi jodohku."

Bi Cu yang biasanya pendiam itu menjadi khawatir dan bingung. Dia tahu bahwa dia telah berhutang budi kepada keluarga Na, semenjak kecil dia sudah hidup di dalam lingkungan keluarga itu, diperlakukan dengan baik sekali, seperti anggota sendiri. Mendiang ayah dan ibu Tiong Pek sangat baik kepadanya, bahkan dia harus mengakui pula bahwa Tiong Pek sendiri selalu bersikap manis dan baik kepadanya.

Agaknya, pengangkatan dirinya sebagai calon isteri Tiong Pek merupakan hal yang wajar, bahkan sudah semestinya, dan tentu akan disetujui oleh semua tokoh Ui-eng Piauwkiok dan mereka tentu menganggap bahwa nasibnya amat baik! Akan tetapi, dia sendiri tidak merasa suka! Bukan dia tidak suka kepada Tiong Pek yang sangat baik kepadanya, akan tetapi dia sama sekali belum memikirkan soal pernikahan! Apa lagi kalau dia teringat pada ayah kandungnya yang kabarnya dibunuh orang tanpa dia ketahui siapa pembunuhnya!

"Akan tetapi, suheng, hal itu belum resmi, jadi tidak semestinya kalau kau mengatakan bahwa kita telah bertunangan."

Sikap dari Bi Cu ini mengecewakan hati Tiong Pek. Pemuda ini memang semenjak masa kanak-kanak sudah merasa suka sekali kepada Bi Cu dan menjelang dewasa dia makin mencinta sumoi-nya ini. Melihat sikap Bi Cu, dia merasa kecewa dan juga khawatir, maka pada keesokan harinya dia lalu minta bantuan paman-pamannya.

"Seperti para paman sekalian tentu mengetahui, mendiang ayah dan ibu telah mengambil keputusan untuk menjodohkan aku dengan Bi Cu, dan karena mereka berdua meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan, maka keinginan hati mereka itu bagiku adalah pesan dan wasiat terakhir. Dan mengingat bahwa kami berdua sudah semakin besar dan menjelang dewasa, maka aku minta kepada paman agar suka mengatur sembahyangan dan meresmikan pertunangan kami di depan arwah ayah ibu agar mereka dapat tenang di alam baka."

Para tokoh Ui-eng Piauwkiok itu terdiri dari lima orang dan dipimpin oleh pembantu utama mendiang Na-piauwsu yang bernama Louw Kiat Hui, seorang laki-laki tinggi besar yang berwatak jujur dan bermata lebar. Louw Kiat Hui memang masih terhitung sute sendiri dari mendiang Na Ceng Han, yaitu ketika mereka berdua berguru kepada seorang guru silat kenamaan di daerah selatan. Jadi orang she Louw ini masih terhitung susiok dari Tiong Pek. Mendengar kata-kata keponakannya ini, Louw Kiat Hui mengangguk-angguk dengan hati girang.

"Memang kami semua juga sudah mengetahui akan hal itu, Tiong Pek. Dan jika demikian permintaanmu, memang sebaiknya pertunangan itu cepat-cepat diresmikan dan dilakukan sembahyang besar-besaran dengan mengundang tamu-tamu sebagai saksi."

"Terserah kepada Louw-susiok untuk mengaturnya," jawab Tiong Pek dengan girang.

Louw Kiat Hui adalah seorang gagah yang jujur dan berpemandangan luas. "Perjodohan adalah pertalian hidup antara dua orang manusia," katanya dengan wajah serius, "oleh karena itu, yang pertama kali tersangkut dan mempunyai kepentingan adalah dua orang yang akan mengikatkan diri di dalam pertalian perjodohan itulah. Oleh karena itu, sebelum kita mengambil langkah-langkah selanjutnya, sudah selayaknya bila kita mendengar dulu pendapat yang bersangkutan, yaitu Bi Cu."

Bi Cu segera dipanggil dan gadis kecil itu menghadap dengan hati menduga-duga, karena dia melihat lima orang penting dari Ui-eng Piauwkiok itu memandang kepadanya dengan wajah berseri dan bibir tersenyum, sedangkan Tiong Pek sudah lebih dulu berada di situ.

"Ada apakah Louw-susiok memanggilku?" tanyanya.

Bi Cu, seperti juga Tiong Pek, kini dipimpin oleh Louw Kiat Hui dalam pelajaran ilmu silat dan dia pun menyebut susiok kepada tokoh yang kini menggantikan kedudukan mendiang Na-piauwsu memimpin perusahaan itu.

"Duduklah, Bi Cu. Kita akan mengajakmu bicara tentang perjodohanmu dengan Tiong Pek seperti telah berkali-kali dinyatakan oleh mendiang Na-suheng dan isterinya."

Bi Cu mengerling kepada Tiong Pek dan dia dapat menduga bahwa hal ini tentu sengaja telah diatur oleh suheng-nya itu dalam usahanya untuk meresmikan pertunangan mereka. Jantungnya berdebar kencang dan mukanya menjadi merah, hatinya terasa panas dan timbul semacam perlawanan, alisnya berkerut.

"Apakah yang susiok maksudkan? Aku tidak mengerti," jawabnya lirih sambil menunduk.

Kelima orang pimpinan Ui-eng Piauwkiok itu tersenyum dan saling pandang. Menggelikan dan juga mengharukan melihat seorang dara remaja menundukkan muka kemalu-maluan kalau diajak bicara tentang perjodohan!

"Begini, Bi Cu. Semenjak engkau dan Tiong Pek masih kecil, mendiang Na-suheng serta isterinya sudah sering kali menyatakan bahwa kalian berdua akan saling dijodohkan, akan tetapi sayang, sebelum niat itu dilaksanakan, mereka sudah lebih dulu meninggalkan kita. Sekarang, karena kalian berdua sudah menjelang dewasa, kami merasa sudah menjadi kewajiban kami untuk melaksanakan cita-cita mereka berdua itu, dan agar arwah mereka tenang di alam baka, maka kami bermaksud hendak mengadakan sembahyangan untuk meresmikan pertunanganmu dengan Tiong Pek, dengan disaksikan oleh sahabat-sahabat dan para undangan. Maka sebelum itu, kami sengaja memanggilmu untuk memberi tahu dan mendengar bagaimana pendapatmu tentang maksud kami itu, Bi Cu."

Gadis kecil itu masih menundukkan mukanya dan semua orang memandang kepadanya, menyangka bahwa seperti kebiasaan para gadis pada umumnya yang ditanya tentang pernikahan, dia tentu akan menjawab "terserah kepada susiok", atau hanya mengangguk tanpa kata, atau juga lari memasuki kamarnya. Semua itu akan menjadi tanda bahwa Bi Cu sudah setuju!

Akan tetapi, terkejut dan heranlah semua orang di situ pada saat mereka melihat Bi Cu menggeleng kepalanya, mengangkat mukanya yang merah dan menjawab dengan suara gemetar, "Tidak, susiok, aku masih terlampau kecil untuk bicara tentang perjodohan. Aku belum memikirkan perjodohan dan tidak mau bicara tentang itu." Dia lalu menundukkan mukanya kembali.

Louw Kiat Hui saling pandang dengan teman-temannya, lantas mengerling kepada Tiong Pek yang hanya duduk diam sambil menundukkan mukanya pula. Kemudian orang tinggi besar ini memandang kepada Bi Cu yang menunduk itu dan berkata, suaranya lantang dan mendesak.

"Bi Cu, mengapa engkau menolak? Apakah engkau tidak setuju dijodohkan dengan Tiong Pek? Apakah engkau hendak menentang pesan terakhir dari Na-suheng dan isterinya?"

Di dalam hatinya, Louw Kiat Hui merasa penasaran karena dia tahu benar betapa gadis ini telah menerima budi berlimpah-limpah dari keluarga Na, dan bahwa Tiong Pek adalah seorang pemuda cukup tampan, gagah dan berharta sehingga tidak pantaslah jika gadis ini menolaknya.

Gadis yang baru berusia dua belas tahun itu mengangkat mukanya dan kini nampak mukanya agak pucat dan kedua matanya basah. Akan tetapi suaranya cukup tegas ketika terdengar dia berkata,

"Susiok sekalian agaknya hanya mengingat keluarga sefihak saja, mengingat akan pesan dari suhu, yaitu ayah dari suheng. Agaknya sama sekali susiok sekalian tidak pernah mau mengingat keluargaku, tak mengingat orang tuaku sendiri sehingga aku diharuskan untuk memutuskan sendiri tentang perjodohanku."

Louw Kiat Hui terkejut sekali. Kembali dia saling berpandangan dengan teman-temannya, kemudian dia berkata dengan suara lembut, "Ahh, Bi Cu, janganlah engkau beranggapan seperti itu. Andai kata kami tahu bahwa engkau masih mempunyai orang tua, sudah tentu kami tidak akan berani lancang dan tentu kami akan minta pendapat orang tuamu. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa ibumu telah tiada, sedangkan ayahmu..."

"Ayah dibunuh orang dan hingga sekarang aku belum tahu di mana kuburnya! Pantaskah aku sebagai anak tunggalnya kini memutuskan sendiri perjodohanku tanpa mempedulikan keadaan ayah? Tidak, susiok, sebelum aku tahu siapa pembunuh ayah, dan sebelum aku dapat bersembahyang di depan makam ayah kandungku, maka tidak mungkin aku bisa memutuskan tentang ikatan jodoh ini." Setelah berkata demikian, sambil menangis Bi Cu bangkit berdiri kemudian berlari memasuki kamarnya di mana dia langsung membanting dirinya menelungkup dan menangis di atas pembaringan.

"Sudahlah, susiok. Bi Cu memang benar, dan kita kurang memperhatikan hal itu. Biarlah pertunangan resmi diundurkan dulu, bagaimana pun juga kami toh sudah dapat dibilang bertunangan, biar pun belum resmi. Dan sebaiknya kalau susiok sekalian mencoba untuk menyelidiki tentang kematian ayah kandung sumoi di utara," kata Tiong Pek yang merasa terharu juga melihat sikap Bi Cu yang dicintanya.

Akan tetapi, para piauwsu yang sibuk dengan pekerjaan itu, mana memiliki kesempatan untuk dapat menyelidiki tentang kematian ayah Bi Cu jauh di utara, di luar tembok besar? Memang mereka ini sekali-kali pernah juga mengawal barang atau orang sampai keluar tembok besar, akan tetapi tidak sejauh tempat yang pernah menjadi tempat tinggal Bhe Coan, ayah kandung dari Bhe Bi Cu itu. Dan kalau mendiang Na-piauwsu sendiri pernah menyelidiki ke sana dan tidak berhasil mengetahui siapa pembunuh Bhe Coan, apa pula yang bisa mereka lakukan?

Sesudah terjadi peristiwa itu, Bi Cu merasa semakin gelisah dan tidak kerasan berada di rumah Tiong Pek. Dia merasa betapa dia sudah berhutang budi terhadap keluarga Na, betapa pemuda itu memang sangat baik kepadanya. Inilah yang menyebabkan dia makin gelisah. Tiong Pek amat baik kepadanya dan dia tidak ingin menghancurkan hati pemuda itu, akan tetapi dia pun tidak mungkin dapat membalas cinta Tiong Pek.

Setiap hari Bi Cu termenung duka, apa lagi setelah lewat berbulan-bulan, belum juga ada berita tentang hasil usaha Louw Kiat Hui beserta para paman lainnya yang mencari atau menyelidiki tentang pembunuh ayahnya. Sementara itu, sikap Tiong Pek makin hari makin mendesak dan semakin mesra, pandangan mata pemuda itu seperti hendak menembus hatinya dan senyum yang merayu itu mendatangkan rasa iba dalam hatinya.

Akhirnya Bi Cu tidak kuat menahan lagi dan pada suatu malam, dengan bekal beberapa potong pakaian, maka larilah dia meninggalkan rumah Tiong Pek untuk pergi ke utara dan melakukan penyelidikan sendiri!

Pada keesokan harinya, Tiong Pek bersama para tokoh Ui-eng Piauwkiok menjadi geger melihat kepergian Bi Cu yang tak meninggalkan pesan apa pun. Mereka menjadi bingung dan segera melakukan pengejaran ke utara karena mereka dapat menduga bahwa tentu dara cilik itu nekat pergi ke utara untuk menyelidiki tentang pembunuh ayah kandungnya.

Dugaan semua tokoh Ui-eng Piauwkiok itu ternyata tepat. Setelah melakukan pengejaran selama sehari penuh, akhirnya pada malam harinya Louw Kiat Hui beserta empat orang temannya, juga bersama Tiong Pek sendiri, telah dapat menyusul Bi Cu yang beristirahat di rumah seorang petani di dusun sebelah selatan kota raja. Mudah saja mencari jejak seorang gadis kecil yang melakukan perjalanan seorang diri pada waktu itu.

Bi Cu terkejut dan menangis ketika lima orang pamannya itu bersama Tiong Pek muncul.

"Marilah kita pulang ke Kun-ting, Bi Cu," Louw Kiat Hui berkata dengan sikap halus tanpa banyak kata-kata teguran.

"Tidak, aku tidak mau...!" Bi Cu menangis. "Aku hendak pergi mencari pembunuh ayah. Tinggalkan aku sendiri!"

Tiong Pek menghampiri Bi Cu kemudian memegangi tangannya. "Sumoi, kenapa engkau hendak meninggalkan aku? Apakah kesalahanku kepadamu?"

"Tidak, suheng, engkau tak bersalah, kalian semua tidak bersalah. Akulah yang bersalah, akan tetapi... biarkan aku pergi, biarkan aku mencari sendiri pembunuh ayahku, jangan memaksa aku kembali ke Kun-ting."

Louw Kiat Hui memandang gadis yang menangis terisak-isak itu. "Bi Cu, engkau harus ikut kami kembali ke Kun-ting dan marilah di sana kita bicara."

Mendengar ucapan Louw Kiat Hui agak mendesak karena orang tinggi besar ini memang sudah tidak sabar lagi melihat Bi Cu menangis dan memang diam-diam dia pun merasa amat penasaran dan marah melihat gadis kecil itu nekat melarikan diri tanpa pamit, Bi Cu mengangkat mukanya memandang.

"Louw-susiok, mengapa susiok hendak memaksa aku kembali ke sana? Aku tidak mau kembali! Apakah susiok demikian jahat...?"

Louw Kiat Hui memandang tajam kepada murid keponakan itu.

"Bi Cu!" Sekarang suaranya terdengar tegas dan menunjukkan kemarahan, "Omongan apa yang kau keluarkan ini? Kalau kami membiarkan engkau pergi, melakukan perjalanan berbahaya seorang diri sehingga akhirnya engkau mendapat celaka, maka barulah kami benar-benar jahat! Sebaliknya, kalau engkau memaksa hendak pergi minggat begitu saja meninggalkan rumah di mana engkau dibesarkan dan dirawat penuh kasih sayang, maka engkau adalah seorang anak yang tak mengenal budi dan jahat!"

Bi Cu adalah seorang anak yang wataknya pendiam dan keras. Mendengar ucapan itu dia lalu membantah, "Dan kalau aku akan dipaksa menikah hanya untuk membalas budi, apa itu namanya, paman?"

Sejenak Louw Kiat Hui terperanjat, akan tetapi dia lalu berkata, kembali suaranya halus, "Sudahlah. Mari kita semua pulang dulu ke Kun-ting dan segala sesuatu bisa dibicarakan dengan tenang di sana."

Louw Kiat Hui lalu mengeluarkan uang dan membayar secukupnya kepada pemilik rumah dusun itu yang telah mau menampung Bi Cu, kemudian dengan memaksa dia mengajak Bi Cu untuk kembali ke Kun-ting malam itu juga! Tindakan Louw Kiat Hui ini dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

Dia harus melindungi keselamatan Bi Cu, kalau perlu dengan paksaan. Dia tahu bahwa kalau dia membiarkan Bi Cu melanjutkan perjalanan seorang diri, sudah pasti gadis kecil ini akan mengalami mala petaka di tengah jalan. Ilmu silat yang dikuasai gadis itu masih terlampau rendah untuk dapat dipakai menjaga diri.

Karena lelah, maka akhirnya di tengah perjalanan mereka bermalam di sebuah kuil. Kuil itu adalah kuil milik seorang tosu yang merawat kuil bersama beberapa orang muridnya. Dengan ramah tosu-tosu itu menerima kedatangan Louw Kiat Hui yang terkenal sebagai seorang piauwsu yang budiman, dan mereka semua mendapatkan kamar.

Untuk mencegah gadis itu nekat melarikan diri lagi, maka Louw Kiat Hui sendiri bersama empat orang pembantunya menjaga di luar, tidur bergiliran, sedangkan Tiong Pek yang kelelahan sudah lebih dulu tidur di atas sebuah pembaringan di kamar sebelah.

Malam itu sunyi sekali. Semua penghuni dusun di mana kuil itu berdiri sudah tidur karena waktu itu menjelang tengah malam. Para tosu dan sebagian dari para piauwsu juga sudah tidur nyenyak. Hanya Louw Kiat Hui sendiri bersama seorang piauwsu lain yang bergilir melakukan penjagaan masih duduk di depan kamar Bi Cu. Di sebelah dalam kamar itu, Bi Cu sendiri juga tidak dapat tidur, masih menangis perlahan karena merasa tidak berdaya. Dia diharuskan kembali lagi ke rumah itu!

Tiba-tiba kesunyian malam itu terganggu oleh suara batuk-batuk kecil, kemudian disusul menyambarnya sebuah batu kecil yang dengan tepat mengenai lampu yang tergantung di luar kamar Bi Cu. Tentu saja tempat itu seketika menjadi gelap dan Louw Kiat Hui cepat meloncat berdiri, diikuti oleh piauwsu lainnya.

"Siapa di situ?" bentak Louw Kiat Hui yang sudah mencabut pedangnya, lalu dia meloncat ke arah suara batuk tadi.

Akan tetapi pada saat itu dia merasa ada angin menyambar dan ada orang berkelebat di dekatnya. Nampak bayangan remang-remang karena cuaca yang gelap dan yang hanya mendapat penerangan dari lampu yang tergantung agak jauh dari situ. Akan tetapi dapat dibayangkan alangkah kaget hati orang she Louw ini ketika melihat betapa bayangan itu telah mendorong daun pintu dan memasuki kamar Bi Cu!

"Heiii... tahan...!" Dia meloncat ke kamar, akan tetapi cepat menghindar ketika dari dalam kamar itu meloncat bayangan tadi, kini sudah mengempit tubuh Bi Cu!

"Lepaskan dia!" bentak piauwsu yang lain sambil menubruk dengan goloknya.

"Plakk! Tranggg...!" Piauwsu itu roboh dan goloknya terlempar.

"Berhenti! Siapa engkau berani menculik orang?!" teriak Louw Kiat Hui sambil mengejar.

Bayangan itu membalik dan Louw Kiat Hui yang tidak dapat melihat jelas muka orang itu karena cuaca yang terlampau gelap, sudah mendorong dengan tangan kirinya. Dia tidak berani lancang mempergunakan pedangnya.

Akan tetapi bayangan itu tidak mengelak, melainkan menangkis dorongan itu dengan satu gerakan sembarangan.

"Plakkk!”

“Ahhhh...!" Louw Kiat Hui terhuyung dan merasa betapa tangkisan itu membuat lengan kirinya seperti lumpuh rasanya. Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan tangguh, maka dia sudah menubruk lagi dengan pedangnya, membabatkan pedang ke arah kedua kaki lawan, dilanjutkan dengan tusukan ke arah lambung.

Akan tetapi dengan lincah dan mudahnya bayangan itu mengelak terus hingga lima jurus. Kemudian dia membentak dan sebatang tongkat menangkis pedang itu sedemikian kuat hingga pedang terlepas dari tangan Kiat Hui dan sebelum piauwsu ini mampu mengelak, dia sudah roboh tertotok.

Para piauwsu lainnya terbangun akibat suara gaduh. Akan tetapi selagi mereka hendak mengeroyok, bayangan itu sudah meloncat ke atas dan lenyap ditelan kegelapan malam sambil membawa pergi tubuh Bi Cu!

Gegerlah para piauwsu. Setelah Louw Kiat Hui dibebaskan totokannya, dia bersama para piauwsu lainnya mengejar dan mencari-cari, tapi mereka tidak berhasil menemukan jejak bayangan tadi. Mereka menanyakan kepada para tosu, namun para tosu yang lemah itu pun tidak dapat memberi keterangan.

Louw Kiat Hui dengan teman-temannya lalu mencari terus, sampai beberapa hari mereka mencari di sekitar tempat itu, akan tetapi jangankan menemukan jejak orang itu, bahkan keterangan tentang orang itu pun tak bisa mereka dapatkan. Mereka tidak tahu siapakah bayangan yang sedemikian lihainya, bayangan yang mempergunakan tongkat!

Louw Kiat Hui menghibur Tiong Pek yang merasa berduka dan khawatir sekali. Mereka terpaksa lalu kembali ke Kun-ting dengan tangan kosong dan meski pun para piauwsu itu masih selalu mencari-cari, namun mereka tidak pernah berhasil dan Bi Cu tetap lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Siapakah yang menculik Bi Cu? Mari kita ikuti pengalaman dara cilik ini semenjak malam dia lenyap dari kuil itu. Pada saat itu, Bi Cu masih menangis perlahan ketika tiba-tiba dia mendengar suara gaduh lantas pintu kamarnya jebol. Dia hanya melihat bayangan orang menyerbu masuk dan sebelum dia tahu apa yang sudah terjadi, bayangan orang itu telah meloncat ke depan pembaringannya dan berkata,

"Mari kau ikut bersamaku melarikan diri dari mereka, anak yang baik."

Bayangan itu lalu menyambar tubuhnya dan Bi Cu tak mampu bergerak lagi. Dia merasa bingung harus berbuat apa, menyerah atau melawan. Apa bila menyerah, dia belum tahu siapa adanya orang ini, kalau melawan, dia merasa tertarik oleh kata-kata yang sifatnya hendak menolongnya membebaskan diri dari Tiong Pek dan para piauwsu itu. Lebih lagi ketika orang yang membawanya itu kemudian bertanding, dia merasa makin bingung dan khawatir.

Namun ketika dia dibawa pergi dengan berloncatan demikian cepatnya ke atas genteng, maka tahulah Bi Cu bahwa pembawanya adalah seorang yang berilmu tinggi. Apa lagi kini dia sempat melihat orang itu, seorang kakek tua yang berpakaian aneh, bajunya penuh tambalan layaknya baju pengemis, namun tambalan-tambalan itu berkembang-kembang, tubuhnya pendek kurus dan mukanya seperti tikus!

Sesudah terbebas dari pengejaran para piauwsu, kakek itu menurunkan tubuh Bi Cu dan memegang tangannya, menggandengnya dan mengajaknya berjalan kaki menuju ke kota raja.

"Nah, engkau kini sudah terbebas dari mereka, anak baik. Aku melihatmu dibawa mereka dan engkau menangis di sepanjang jalan, maka aku segera tahu bahwa engkau tak suka mereka bawa dan ingin bebas. Siapakah namamu dan mengapa engkau mereka paksa untuk ikut dengan mereka?"

Mendengar keterangan kakek ini, Bi Cu lalu menceritakan keadaan dirinya. "Aku hendak mencari pembunuh ayah kandungku, akan tetapi mereka melarangku, oleh karena itu aku berduka dan menangis, kek." Dia menutup penuturannya.

Kakek itu tersenyum. "Ha-ha-ha-ha, engkau sungguh keras hati dan berbakti. Akan tetapi engkau hanya seorang anak perempuan yang lemah, mana mungkin sendirian saja pergi ke tempat begitu jauh, di luar tembok besar mencari seorang musuh pembunuh ayahmu? Bagaimana kalau engkau belajar ilmu silat dahulu dariku, kemudian setelah pandai baru engkau pergi mencari musuhmu?"

Bi Cu tadi sudah menyaksikan kelihaian kakek ini, maka dia menjadi girang dan segera menjatuhkan diri berlutut. "Terima kasih atas perhatian suhu terhadap diri teecu!" katanya.

Kakek itu tertawa girang dan segera mengangkatnya bangun.

"Ketahuilah, bahwa gurumu ini dinamakan orang Hwa-i Sin-kai dan aku pemimpin seluruh pengemis Hwa-i Kaipang untuk daerah kota raja dan sekelilingnya. Engkau boleh menjadi muridku, akan tetapi Hwa-i Kaipang memiliki suatu peraturan yang melarang menerima anggota wanita. Oleh karena itu, biar pun engkau ini muridku, namun engkau tidak boleh menjadi anggota perkumpulan Hwa-i Kaipang. Mengertikah engkau, Bi Cu?"

"Teecu mengerti, dan pula, teecu memang tidak ingin menjadi pengemis!"

Hwa-i Sin-kai tertawa lagi. "Dan mulai saat ini juga engkau tidak boleh memperkenalkan namamu, karena para piauwsu dari Ui-eng Piauwkiok itu tentu akan mencarimu. Maka kalau sampai ada orang yang mengenal namamu, tentu akan mudah bagi mereka untuk menemukanmu dan aku merasa tidak enak kalau harus bentrok dengan mereka. Mereka terkenal sebagai piauwsu-piauwsu yang baik. Tadi pun untuk menolongmu, aku terpaksa harus menggunakan kecepatan agar tidak sampai dikenal oleh mereka."

"Kalau tidak memakai nama teecu, habis lalu memakai nama apa, suhu?"

"Sudah kuperhatikan dirimu. Matamu amat tajam dan indah, merupakan ciri khas bagimu, maka sepatutnya kalau engkau memakai julukan Kim-gan (Si Mata Emas) dan mengingat engkau seorang anak perempuan kecil hidup sendirian di dunia ini dan sesudah menjadi muridku engkau kelak tentunya akan memiliki kegesitan, maka biarlah engkau tambahkan julukan Yan-cu (Burung Walet). Jadi mulai sekarang kalau kau terpaksa memperkenalkan nama, maka pakailah nama Kim-gan Yan-cu."

Mulai saat itu, Bi Cu menjadi murid Hwa-i Sin-kai, diajak pergi ke dalam hutan di sebelah utara kota raja, tinggal di dalam kuil tua dan di situ dia digembleng ilmu oleh kakek yang lihai itu. Dan mulai saat itu pula dia dikenal di antara para anggota Hwa-i Kaipang sebagai Kim-gan Yan-cu, murid dari ketua mereka.

Biar pun Bi Cu tidak menjadi anggota Hwa-i Kaipang, akan tetapi dia dikenal oleh semua anggota dan disuka oleh para anggota muda, apa lagi karena dia dikagumi sebagai murid sang ketua dan memang Bi Cu amat berbakat sehingga ilmu silatnya maju secara pesat. Dan karena pergaulan inilah maka sedikit demi sedikit sifat pendiam Bi Cu mulai berubah, menjadi lincah, gembira dan juga cekatan dan cerdas sekali.

Demikianlah riwayat Bi Cu seperti yang diceritakannya kepada Sin Liong dan didengarkan dengan penuh perhatian oleh pemuda remaja itu…..

********************

"Menurut ceritamu tadi, engkau tidak boleh menjadi anggota perkumpulan pengemis itu, akan tetapi mengapa engkau kini malah menjadi pemimpin para pengemis muda di pasar itu, Bi Cu?" Sin Liong menegur setelah dara itu selesai bercerita.

"Karena terpaksa. Hal ini terjadi setelah Hwa-i Kaipang bubar!"

"Ehhh?! Bubar? Mengapa?"

"Karena dituduh pemberontak oleh pemerintah dan semenjak suhu tewas."

"Suhu-mu, kakek pangcu yang lihai itu tewas? Siapa yang membunuhnya?"

"Dikeroyok oleh pasukan pemerintah. Saat itu suhu sedang menghadiri pesta pernikahan keluarga pendekar sakti Yap Kun Liong, dan entah mengapa aku sendiri tidak tahu, pesta itu diserbu oleh pasukan tentara, dan suhu tewas dalam serbuan itu oleh pengeroyokan pasukan, sedang para pendekar Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw bersama isteri mereka kabarnya ditangkap pasukan."

"Ahhh...?" Tentu saja Sin Liong terkejut bukan main mendengar berita penangkapan atas diri ayah kandungnya itu.

"Akan tetapi menurut kabar, mereka berempat itu berhasil meloloskan diri lagi dan kini menjadi buronan pemerintah. Pemerintah memang sangat sewenang-wenang, masa suhu dan para pendekar sakti itu dianggap pemberontak! Terpaksa Hwa-i Kaipang bubar dan karena tidak puas dengan kelaliman pemerintah, maka aku lalu memimpin para pengemis muda itu yang sebagian besar merupakan keturunan para anggota Hwa-i Kaipang, untuk sekedar mengacau pemerintah! Dan itu pula sebabnya maka ketika pasukan mengejarmu dan menuduhmu sebagai pemberontak buronan, kami menolongmu mati-matian."

Sin Liong menarik napas panjang. Ternyata dara remaja ini pun mengalami hal-hal yang sangat pahit. Akan tetapi dia mengusir semua itu dari kenangannya dan dia tersenyum memandang wajah yang manis itu. "Aih, kiranya engkau sekarang telah menjadi seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!"

"Tidak berani aku menganggap diri begitu, Sin Liong. Memang benar aku telah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari mendiang suhu sehingga kalau dibandingkan dengan dulu pada waktu kita masih sama-sama belajar kepada Na-piauwsu, tentu saja aku telah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat. Akan tetapi sesudah berkecimpung di dunia kang-ouw, aku tahu benar bahwa kepandaianku masih belum masuk hitungan! Aku harus mematangkan kepandaianku lebih dahulu, barulah aku akan berangkat ke utara mencari pembunuh ayah."

"Aku akan membantumu, Bi Cu. Kita akan mencari keterangan dari ayah tiriku, kemudian aku akan menemanimu mencari ke utara. Ingat, aku datang dari Lembah Naga sehingga aku mengenal daerah di utara."

Bi Cu tersenyum. "Dan aku pun tadi telah berjanji untuk membantumu menghadapi musuh besarmu."

Sin Liong mengangguk. "Memang sebaiknya kalau kita saling bantu. Bersama-sama kita mencari pembunuh ayahmu dan pembunuh ibuku, kita berdua adalah orang-orang yatim piatu, maka memang sudah selayaknya saling bantu."

"Engkau baik sekali, Sin Liong. Aku girang dapat bertemu denganmu."

"Dan aku pun juga girang sekali. Mari kita percepat jalan kita, itu dusun di mana tinggal keluarga Kui sudah nampak. Hari sudah hampir gelap."

Mereka kemudian mempercepat jalan mereka, setengah berlari-larian menuju ke dusun di depan dan waktu itu sudah hampir senja. Akhirnya mereka berjalan memasuki dusun itu dan mereka berdiri di luar pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. Sampai di sini Bi Cu termangu-mangu.

"Sin Liong, kau masuklah saja dulu," bisiknya. "Aku merasa malu, karena kalau kuingat betapa aku telah mencopet barang-barang mereka..."

"Ahh, mereka tidak akan tahu..."

"Kau masuklah dahulu, kalau engkau lihat tidak ada halangan bagiku untuk masuk, baru engkau panggil aku. Kau boleh beri tahukan dulu kepada mereka tentang kehadiranku..."

Akhirnya Sin Liong menyetujui juga karena memang dia sendiri baru saja akan bertemu dengan keluarga Kui, maka tidak enaklah jika datang-datang dia membawa teman. Lebih baik dia melihat gelagat lebih dulu, kalau sekiranya keluarga itu tidak keberatan menerima Bi Cu, baru dia akan memanggil dara itu. Andai kata mereka berkeberatan menerima Bi Cu, dia sendiri pun tidak akan mau tinggal di situ!

"Baik, kau tunggu di sini sebentar," katanya dan dia lalu melangkah masuk.

Pekarangan rumah itu sunyi saja, bahkan pada serambi depan juga kelihatan sunyi tidak terlihat adanya seorang pun. Karena merasa bahwa dia adalah seorang anggota keluarga ini, maka Sin Liong ingin mengejutkan mereka dengan kemunculan yang tiba-tiba melalui pintu belakang. Dia lantas mengambil jalan memutar, melewati samping rumah di mana terdapat sebuah kebun yang cukup luas.

Selagi dia jalan berindap-indap dengan jantung berdebar tegang penuh kegembiraan dan membayangkan betapa keluarga itu akan kaget sekali melihat kemunculan yang tiba-tiba dan betapa akan gembiranya pertemuan antara dia dengan keluarga itu, terutama dengan adik-adiknya, Lan Lan dan Lin Lin, tiba-tiba saja terdengar bentakan-bentakan halus dan nyaring lantas dari ujung tikungan dinding rumah itu berloncatan keluar dua orang gadis remaja yang cantik-cantik dan lincah, yang bukan lain adalah Lan Lan dan Lin Lin. Dua orang dara remaja kembar ini masing-masing memegang sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang Sin Liong dengan ganasnya!

Diserang secara mendadak itu Sin Liong tidak menjadi gugup, dan dengan beberapa kali melangkah ke belakang saja dia sudah dapat menghindarkan serangan-serangan pedang itu.

"Ehh... ohhh... nanti dulu...!" serunya.

"Maling hina, engkau sudah bosan hidup!" bentak salah seorang di antara sepasang dara kembar itu dan dengan loncatan cepat dia sudah menyerbu dan menusukkan pedangnya ke arah dada Sin Liong!

"Dia tentu kawan-kawan para pencopet itu, enci Lan. Hajar saja!" bentak dara ke dua lalu dia pun menerjang ke depan dan mengayun pedangnya menyerang ke arah kedua kaki Sin Liong!

"Eittttt... tahan dulu...!" Sin Liong membuat gerakan kaku menarik tubuh atas ke belakang dengan menekuk lututnya sehingga tusukan pedang Lan Lan tadi luput dan ujung pedang itu berhenti di depan hidungnya, sedangkan ketika pedang Lin Lin menyambar lutut, dia cepat meloncat ke belakang menghindarkan diri. Sungguh pun gerakannya kaku karena memang Sin Liong tidak ingin memamerkan kepandaian, akan tetapi tentu saja gerakan ini dengan mudah dapat membebaskan dia dari serangan yang tiba-tiba itu.

"Lan Lan dan Lin Lin, tahan dulu...!" teriaknya ketika melihat mereka menyerang kembali sehingga terpaksa dia meloncat ke sana-sini seperti monyet menari-nari, namun semua serangan bertubi-tubi itu luput semua.

Mendengar disebutnya nama panggilan sehari-hari mereka, kedua orang dara kembar itu menjadi semakin marah.

"Kurang ajar kau!" bentak mereka hampir berbareng dan kini pedang mereka digerakkan makin gencar, bertubi-tubi mendesak ke arah Sin Liong.

Diam-diam Sin Liong gembira menyaksikan gerakan dua orang adik tirinya itu karena dia mendapat kenyataan bahwa gerakan mereka cukup gesit dan juga mengandung tenaga sinkang yang lumayan. Maka dia pun tak mau memperkenalkan diri lebih dulu karena dia ingin menguji lebih jauh sampai di mana tingkat kepandaian dua orang adik kembarnya. Tentu saja dia selalu membuat gerakan kaku dan terdesak, akan tetapi tak pernah ujung kedua batang pedang itu dapat menyentuh ujung bajunya sekali pun.

Mendadak nampak bayangan orang berkelebat dan ternyata Bi Cu sudah meloncat cepat ke tempat itu dan tangan kanannya memegang sebatang ranting kayu sebesar lengan. Dengan gerakan indah dia menangkis dengan ranting kayu itu.

"Trakk! Trakkk!"

Dua batang pedang itu terpukul mundur. Ternyata tangkisan ranting kayu yang digetarkan hebat itu membuat kedua orang dara kembar ini terkejut karena mereka merasa betapa pedang mereka tergetar dan tangan mereka nyeri!

"Jangan takut, Sin Liong, biar aku menghadapi mereka!" bentak Bi Cu.

Dua orang dara kembar itu terkejut dan heran. Mereka terbelalak memandang kepada Sin Liong dan dengan berbareng bibir mereka bergerak, "Sin Liong...?"

"Lan-moi dan Lin-moi, apakah kalian tidak mengenal kakakmu sendiri? Aku adalah Sin Liong...," kata Sin Liong dengan suara gemetar karena terharu.

Dua orang gadis itu terbelalak, lantas melemparkan pedang dan mereka langsung berlari menghampiri pemuda itu. "Liong koko...!"

Lan Lan dan Lin Lin merangkul dengan wajah berseri gembira. Sin Liong teringat ibunya. Dia merangkul dua orang dara kembar itu dengan penuh kasih sayang.

"Lan-moi dan Lin-moi, kalian sudah menjadi dua orang dara yang amat manis dan cantik jelita, juga kepandaianmu hebat, hampir saja aku kalian jadikan bakso!"

Akan tetapi dua orang dara remaja kembar itu tiba-tiba menoleh dan memandang kepada Bi Cu yang masih berdiri bengong sambil tetap memegang ranting kayu pada tangannya yang tadi digunakannya untuk melindungi Sin Liong. Dia memang mempunyai kepandaian istimewa dalam memainkan senjata tongkat, yaitu ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) yang dipelajarinya dari mendiang Hwa-i Sin-kai.

"Liong-ko, siapakah dia?" tanya Lan Lan.

Sin Liong baru teringat kepada Bi Cu, maka cepat-cepat dia memperkenalkan. "Bi Cu, inilah adik-adikku itu, Kui Lan dan Kui Lin. Lan-moi dan Lin-moi, ini adalah Bhe Bi Cu, yang pernah menjadi sumoi-ku."

"Ahhh...!" Dua orang dara kembar itu berseru girang dan mereka segera tersenyum ramah kepada Bi Cu. Lenyaplah kemarahan Bi Cu tadi ketika melihat dua orang dara kembar itu tersenyum demikian manisnya.

"Liong-ko, engkau mengagetkan orang saja!" Lan Lan menegur, "Mengapa tidak langsung masuk dari pintu depan?"

Sin Liong tersenyum. "Aku memang ingin membikin kalian terkejut. Bagaimana keadaan kalian sekeluarga?"

"Ayah pasti akan girang sekali mendengar kedatanganmu. Mari, Liong-ko, ayah berada di dalam. Mari kita temui dia! Enci Bi Cu, mari ikut!" kata Lin Lin yang mendahului mereka lari melalui pintu samping ke dalam rumah sambil berteriak-teriak.

"Ayah. Liong-koko telah pulang...!"

Sin Liong hanya tersenyum penuh keharuan pada saat dia menggandeng tangan Lan Lan mengikuti Lin Lin, ada pun Bi Cu mengikuti pula dari belakang. Dia ikut gembira melihat penyambutan dua orang dara kembar itu terhadap kedatangan kakaknya dan diam-diam dia merasa iri hati terhadap Sin Liong. Biar pun seperti juga dia, Sin Liong sudah yatim piatu, akan tetapi setidaknya Sin Liong mempunyai adik-adik tiri semanis dua orang dara kembar itu! Sedangkan dia, dia tidak mempunyai siapa-siapa.

Kui Hok Boan tercengang ketika mendengar bahwa Sin Liong muncul secara tiba-tiba di rumahnya. Diam-diam dia merasa tidak senang dan menganggap kedatangan ini sebagai gangguan. Selama beberapa tahun ini, sejak mereka pindah dari Lembah Naga, dia hidup tenteram sebagai seorang hartawan dan tuan tanah yang disegani di dusun itu.

Seperti yang telah diceritakan di bagian depan, semenjak kematian isterinya, yaitu Liong Si Kwi ibu kandung Sin Liong, Kui Hok Boan yang tampan dan selalu berpakaian seperti sasterawan ini segera meninggalkan Lembah Naga karena memang hal ini diharuskan oleh Raja Sabutai. Ketika meninggalkan Lembah Naga, Kui Hok Boan membawa harta bendanya, yaitu harta pusaka yang diperolehnya di Istana Lembah Naga, maka dia dapat hidup sebagai seorang hartawan besar di dusun dekat kota raja itu dan memiliki sawah yang luas sekali.

Dia hidup dengan tenteram, mendidik dua orang puterinya dan dua orang keponakannya, yaitu Kwan Siong Bu dan Tee Beng Sin. Selama ini dia mengambil beberapa orang selir, akan tetapi tidak pernah menikah kembali, dan di antara selir-selirnya tidak ada seorang pun yang memiliki anak. Dia tidak pernah lagi ingat kepada Sin Liong yang dianggapnya dan diharapkannya telah meninggal dunia.

Maka, tentu saja dia amat tercengang ketika mendengar suara Lin Lin yang meneriakkan kedatangan Sin Liong. Betapa pun juga, Kui Hok Boan adalah seorang yang cerdik. Dia dapat menekan perasaan tidak senangnya dan dengan muka berseri dan senyum lebar dia keluar menyambut kedatangan anak tirinya itu. Alisnya terangkat ketika dia melihat Bi Cu ikut masuk bersama dua orang puterinya dan Sin Liong.

Akan tetapi sepasang matanya membuat Bi Cu diam-diam mencatat bahwa tuan rumah ini tergolong seorang laki-laki yang matanya berkilat dan berminyak apa bila memandang wanita! Sebagai seorang dara remaja yang sudah biasa bergaul dan setiap hari berada di pasar, tentu saja Bi Cu dapat mengenal pandang mata para laki-laki yang memandang dirinya.

Sejenak Kui Hok Boan dan Sin Liong saling pandang dan dalam waktu singkat itu masing-masing sudah menilai. Bagi Sin Liong, ayah tirinya itu nampak lebih kurus dari biasanya, dan kini telah berkumis dan berjenggot pendek. Di lain fihak, Kui Hok Boan memandang wajah Sin Liong penuh perhatian dan dia harus mengakui bahwa kini anak tirinya ini telah menjadi seorang pemuda remaja yang amat tampan dan membawa sifat-sifat gagah yang tersembunyi. Karena itu dia bersikap hati-hati sekali dan sambil tersenyum lebar dia maju menghampiri.

"Ahh, anak Sin Liong, ke mana saja engkau selama bertahun-tahun ini?" tegurnya ramah.

"Saya merantau sampai jauh, paman, hingga akhirnya saya tinggal di kota raja, bekerja sebagai pelayan rumah makan," jawab Sin Liong yang sampai sekarang tetap tidak mau menyebut ayah kepada ayah tirinya itu, melainkan menyebut paman, Hok Boan agaknya juga tidak peduli akan hal ini dan dia mendengarkan penuturan Sin Liong dengan penuh perhatian.

"Ahh, bagus sekali kalau begitu! Dan sekarang engkau datang ke sini, apakah hanya ingin berkunjung ataukah ada keperluan yang lain? Dan siapakah nona ini?" Dia memandang kepada Bi Cu dan kembali dara ini melihat sinar mata laki-laki ini berkilat, membuat dia makin tidak senang dan segera menundukkan mukanya.

"Saya datang hendak meminta pertolongan dan perlindungan dari paman Kui," Sin Liong berkata, "Saya dituduh pemberontak dan dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah."

Berubah wajah Kui Hok Boan mendengar ini, dan jelas bahwa dia nampak terkejut sekali dan juga terheran-heran. "Duduklah kalian berdua, dan ceritakanlah semuanya kepadaku, Sin Liong."

Sin Liong dan Bi Cu duduk saling berhadapan dengan orang she Kui itu, sedangkan Lan Lan dan Lin Lin duduk di samping ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner