PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-50


Ouwyang Bu Sek membuka tutup peti, maka muncullah seekor ular merah. Han Houw mengenal jenis ular yang sangat berbisa. Ular macam ini jarang ada, dan di daerah utara memang kadang-kadang muncul ular seperti ini, akan tetapi kemunculannya tentu selalu menggemparkan karena mengakibatkan banyak manusia atau binatang lain yang jauh lebih besar, mati berserakan di mana ular itu muncul!

"Kim-coa-ko, tenanglah, aku hendak mengambil tiga kitab terakhir itu," kata Ouwyang Bu Sek dan sesudah ‘berdiri’ dan menggerak-gerakkan kepalanya, ular itu lalu melingkar lagi seperti tidur.

Ouwyang Bu Sek mengambil tiga buah kitab kuno yang lapuk dari dalam peti, kemudian dia menutupkan kembali petinya. Di bagian belakang peti itu telah diberinya lubang kecil sehingga ular itu sewaktu-waktu dapat keluar kalau lapar, untuk mencari makanan. Akan tetapi, biar pun peti itu sudah kosong, dia tidak mau membuangnya, membiarkan peti itu di sana agar kelak kalau ada orang yang hendak mencuri kitab, hanya akan menemukan peti kosong yang mengandung racun, ditambah lagi penjaganya yang amat berbahaya itu! Mereka lalu keluar membawa tiga buah kitab itu.

"Pangeran, tiga buah kitab inilah yang masih belum selesai kuterjemahkan. Kalau engkau mampu membantuku, kemudian kau latih isinya, hemm, engkau tentu akan mendapatkan ilmu-ilmu aneh yang tidak kalah oleh Hok-mo Cap-sha-ciang yang dikuasai oleh sute Sin Liong."

Han Houw menyembunyikan kegembiraan hatinya. "Akan kucoba, suheng. Akan tetapi, apakah hanyalah ini sisa kitab dari suhu? Bukankah peti itu besar sekali dan baru sebuah kitab saja yang diambil untuk Liong-te?"

"Bukan hanya sebuah, melainkan sute Sin Liong juga mempelajari hingga tiga buah kitab. Sedangkan kitab-kitab lain... ahh, yang tiga ini saja sudah cukup, pangeran. Kalau terlalu banyak, kita tak akan mempunyai waktu, selain melatihnya, juga harus mentafsirkannya. Ini saja kalau sudah kau kuasai dengan baik, agaknya akan sukar engkau mencari orang yang akan mampu menandingimu."

"Akan tetapi, tentu masih ada kitab-kitab lainnya itu, bukan suheng? Kita adalah saudara seperguruan, tentu suheng percaya kepadaku, bukan?"

"Tentu saja! Ada kitab-kitab itu, dan kusimpan baik-baik agar jangan sampai diambil oleh orang yang tidak berhak. Jangan khawatir, kalau memang kelak engkau masih ada waktu, engkau dapat saja menambah ilmumu dari kitab-kitab yang lain itu, pangeran."

Han Houw tidak berani mendesak lagi, takut kalau-kalau kakek itu curiga lantas menjadi tidak suka kepadanya. Dia membuka-buka lembaran kitab-kitab itu dan mulai hari itu juga, bersama Ouwyang Bu Sek, Han Houw mulai membantu suheng-nya itu menyelesaikan penterjemahan.

Dan memang Han Houw tidak membobong atau membual ketika dia mengatakan bahwa dia sanggup membantu tadi. Bahasa yang dipergunakan dalam kitab itu adalah bahasa kuno, dan bahasa suku pedalaman di utara masih dekat dengan bahasa ini sehingga Han Houw yang sejak kecil banyak mempelajari bahasa-bahasa itu di utara, benar saja dapat membantu banyak sehingga menggirangkan hati Ouwyang Bu Sek.

Mulailah Pangeran Ceng Han Houw mempelajari ilmu-ilmu silat aneh-aneh dari tiga buah kitab itu di bawah bimbingan Ouwyang Bu Sek. Pangeran ini sangat tekun. Memang dia keras hati dan besar keinginannya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, di samping memang dia berbakat baik sehingga makin sukalah Ouwyang Bu Sek kepada pangeran ini.

Hampir tidak ada waktu yang terluang begitu saja oleh Han Houw, selalu diisinya dengan berlatih silat menurut kitab itu atau berlatih sinkang menurut petunjuk kitab pula. Secara kebetulan sekali, di dalam kitab itu terdapat pula pelajaran semacam yoga dari India yang mengharuskan dia berjungkir balik seperti yang dilakukannya pada hari pertama ketika diuji oleh Ouwyang Bu Sek, maka kini sering kali pemuda bangsawan ini berdiri dengan kaki di atas kepala di bawah, kadang-kadang dia sanggup berlatih seperti ini sampai tiga hari tiga malam! Kemajuan yang diperolehnya pesat sekali…..

********************

Harap-harap cemas memenuhi hati Lie Seng pada saat pemuda itu memasuki hutan itu. Hari itu sudah diperhitungkannya benar-benar, bahkan semenjak setahun yang lalu, boleh dibilang setiap saat dia menghitung hari. Dia tidak akan salah hitung.

Hari itu adalah genap satu tahun dari janjinya dengan Sun Eng untuk saling berjumpa di hutan itu! Hitungannya tidak akan keliru, akan tetapi bagaimana kalau wanita itu yang lupa akan hari itu, keliru hitung, atau lebih celaka lagi kalau... telah lupa kepadanya?

Ahh, tidak mungkin! Dia yakin akan cinta kasih dalam hati Sun Eng terhadap dirinya. Dan dia lebih yakin lagi akan cinta kasih di dalam hatinya terhadap gadis itu. Dia sadar bahwa Sun Eng bukanlah seorang gadis lagi, bukan seorang perawan melainkan seorang wanita yang sudah banyak melakukan penyelewengan dalam hidupnya sehingga sudah banyak mengalami penderitaan batin.

Kenyataan ini bukan membuat muak atau membenci, sebaliknya malah, semakin diingat akan semua penderitaan yang dialami gadis itu, makin besar pula rasa belas kasih dalam hatinya terhadap Sun Eng, dan belas kasih ini agaknya memperdalam cintanya. Dia harus melindungi Sun Eng, harus menuntunnya dan menunjukkan bahwa hidup tidaklah seburuk yang pernah dialaminya, bahwa tidak semua laki-laki yang mendekatinya hanya mengaku cinta semata-mata untuk menikmati tubuhnya belaka!

Pagi hari itu amat cerah, bahkan sinar matahari pagi yang berkilauan berhasil menerobos masuk ke dalam hutan, melewati celah-celah daun pohon. Pagi yang cerah, secerah hati yang penuh harapan itu, penuh keyakinan dan penuh cinta!

Dengan langkah ringan Lie Seng menuju ke tempat di mana pada setahun yang lalu dia bertemu dan mencurahkan kasih sayang dengan Sun Eng, kemudian membuat janji untuk saling bertemu pula di situ setahun kemudian. Ini adalah kehendak Sun Eng, gadis yang merasa rendah diri itu, yang masih juga belum percaya benar bahwa orang seperti Lie Seng dapat mencinta gadis yang pernah menyeleweng seperti Sun Eng!

Ahh, kerendahan hati ini amat mengharukan hati Lie Seng. Itu saja sudah menjadi tanda betapa Sun Eng sudah menyesali semua perbuatannya dan orang yang telah menyesali semua perbuatannya jauh lebih baik dari pada orang yang selalu membanggakan semua perbuatannya sebagai orang yang bersih! Sun Eng minta waktu setahun untuk menguji perasaan kasih sayang di antara mereka, pertama karena merasa rendah diri, ke dua mungkin untuk menguji Lie Seng setelah berulang kali dia dikecewakan oleh kaum pria.

Akan tetapi kecerahan pada pagi itu tetap saja tak dapat mengusir bayang-bayang hitam gelap yang diciptakan oleh pohon-pohon yang rindang daunnya. Bayang-bayang panjang yang rebah ke barat. Bayangan-bayangan gelap berupa kecemasan juga mengganggu kegembiraan hati Lie Seng. Dia cemas dan gelisah membayangkan bagaimana kalau Sun Eng sampai tidak datang! Ke mana dia harus mencari gadis itu? Dia merasa cemas sekali membayangkan ini sehingga kini kakinya yang melangkah terasa amat berat.

Akhirnya tibalah dia di depan pohon. Dia tak pernah melupakan pohon itu dan huruf-huruf yang setahun lalu diukirnya pada batang pohon itu masih ada! Akan tetapi, Sun Eng tidak ada! Dia memandang ke sekeliling, lalu duduk di atas akar pohon itu. Mungkin dia datang terlalu pagi! Dan hatinya mulai cemas.

Mengapa dia begitu bodoh ketika dahulu mereka saling berjanji? Mengapa yang dijanjikan hanya harinya saja, ada pun jamnya tidak dijanjikan? Bagaimana bila Sun Eng baru akan datang pada sore hari nanti? Tidak apa! Dia akan menanti, biar pun sampai sore, bahkan sampai malam sekali pun! Dia sudah bertahan menanti selama setahun, dan apa artinya ditambah sehari atau dua hari?

Lie Seng lalu duduk termenung di bawah pohon itu. Dia merenungi perjalanan hidupnya, terutama sekali mengenai cintanya dengan Sun Eng. Usianya kini sudah dua puluh tujuh tahun, sudah cukup dewasa. Akan tetapi, selama ini belum pernah dia jatuh cinta kepada seorang wanita.

Hatinya selalu merasa dingin terhadap wanita, dan dia seakan-akan merasa ngeri kalau memikirkan pernikahan. Mungkin karena dia melihat begitu banyak kepahitan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga, banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi akibat cinta dan pernikahan.

Dia melihat atau mendengar tentang kehidupan paman Yap Kun Liong, tentang kehidupan ibunya sendiri yang kini menjadi isteri paman Yap Kun Liong, melihat akibat cinta kasih dari pamannya yang lain, adik kandung ibunya, yaitu Cia Bun Houw.

Banyak sudah dia mendengar mengenai kegagalan cinta dan rumah tangga dan mungkin hal-hal inilah yang mendatangkan kesan mendalam hingga dia merasa ngeri untuk jatuh cinta dan menikah. Akan tetapi sungguh luar biasa, begitu dia bertemu dengan Sun Eng seketika dia jatuh cinta! Bahkan sesudah mendengar penuturan gadis itu tentang riwayat Sun Eng yang tidak harum, cintanya bahkan makin mendalam!

Bagi orang yang sedang menantikan sesuatu, waktu berjalan melebihi lambatnya seekor siput merayap. Terlampau lama waktu merayap, seolah-olah tidak pernah maju! Memang demikianlah anehnya waktu. Kalau dilupakan, dia meluncur seperti pesatnya anak panah dilepas dari busur, sebaiknya kalau diperhatikan, dia merayap sangat lambat!

Tentu saja bukan sang waktu yang bertingkah seperti ini, melainkan sang pikiran! Pikiran selalu menginginkan hal-hal yang lain dari pada apa yang ada, sehingga apa yang ada itu selalu nampak tidak menyenangkan, selalu berlawanan dengan apa yang dikehendaki agar waktu segera berlalu dan dia dapat bertemu dengan yang dinantikannya itu secepat mungkin, dan tentu saja, kenyataan yang ada sangat berlawanan dengan keinginannya sehingga terasa amat menyiksa. Konflik batin memang selalu menyiksa diri!


Lie Seng merasa sangat tersiksa. Sampai siang dia menanti, waktu merayap terus dan yang dinanti-nantinya belum juga muncul! Dia sampai lupa akan waktu, tidak sadar bahwa hari telah siang, hanya dia merasakan betapa lamanya sudah dia menanti. Serasa sudah bertahun-tahun! Waktu dari pagi sampai siang itu bahkan dirasakannya lebih menyiksa, lebih lama dari pada waktu setahun yang telah lalu!

Namun dia masih terus menanti di bawah pohon itu. Bayang-bayang pohon yang tadinya panjang rebah ke barat itu kini menjadi semakin pendek, sampai kemudian hanya berada di bawah pohon, tanda bahwa matahari telah berada di atas benar. Kini perlahan-lahan, bayangan pohon itu menggeser ke timur dan matahari pun mulai turun ke barat. Sebentar lagi, senja pun tibalah!

Lie Seng sudah tidak sabar lagi. Jangan-jangan Sun Eng lupa, atau salah hitung! Mungkin besok dia baru datang! Jangan-jangan... tiba-tiba saja Lie Seng menjadi pucat dan cepat dia menggoyang kepalanya membantahnya sendiri. Tidak, tidak ada apa-apa yang buruk terjadi atas diri wanita yang dikasihinya itu. Atau mungkin sengaja tidak mau datang?

Bermacam bayangan pikiran inilah yang menyiksa batin Lie Seng, membuatnya semakin gelisah hingga akhirnya dia tidak kuat bertahan lagi. Dia bangkit berdiri, dan mulailah dia berjalan-jalan, mula-mula hanya di bawah pohon, mengelilingi batang pohon, kemudian semakin menjauh seakan-akan dia hendak mencari Sun Eng di antara semak-semak dan pohon-pohon.

Mendadak dia mendengar suara isak tangis di sebelah kiri. Cepat Lie Seng meloncat ke arah suara itu dan bukan main kagetnya ketika dia melihat seorang wanita duduk di atas rumput di balik semak-semak sambil menangis, menutupi muka dengan dua tangannya, terisak-isak.

"Eng-moi...!" Dia meloncat, menubruk dan merangkul.

Akan tetapi Sun Eng terus menangis, bahkan kini mengguguk dalam rangkulan pemuda itu.

"Eng-moi, ada apakah? Apa yang terjadi? Kenapa engkau di sini dan bersembunyi, dan menangis?"

Akan tetapi Sun Eng tidak mampu menjawab, tangisnya makin mengguguk membuatnya tidak mungkin bicara, hanya kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu dan dia menyusupkan muka di dada yang bidang itu. Lie Seng mengelus rambut itu, membiarkan Sun Eng menangis karena dia pun maklum bahwa dalam keadaan seperti itu tak mungkin bagi gadis itu untuk bicara. Akhirnya Sun Eng mulai dapat menguasai hatinya, tangisnya mereda.

Lie Seng mengangkat muka yang basah itu, lalu menggunakan sapu tangan mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian dia mencium dahi yang halus putih itu dengan sepenuh hatinya. Hati yang lega seperti bunga kering tertimpa tetesan embun setelah dia bertemu dengan orang yang dinanti-nantinya sejak pagi tadi dengan gelisah.

"Nah, sekarang hentikanlah tangismu dan ceritakan mengapa engkau bersembunyi di sini dan mengapa engkau menangis?"

"Aku... aku tidak berani keluar...," jawabnya di sela isak.

"Ehh, kenapa? Sejak kapan engkau berada di sini, Eng-moi?"

"Sejak kemarin pagi!"

"Hah?" Lie Seng terkejut bukan main. "Akan tetapi... salahkah hitunganku? Setahun sejak dahulu itu adalah hari ini! Salahkah aku...?"

"Tidak, memang hari ini, koko. Akan tetapi aku... aku tidak dapat menahan lagi, aku ingin cepat-cepat ke sini..."

"Lalu kenapa engkau bersembunyi di sini? Apakah engkau tidak melihat aku datang pagi tadi di bawah pohon kita itu?"

Gadis itu mengangguk dan sesenggukan. "Aku... aku melihatmu... aku takut untuk keluar, ahhh, kau ampunkan aku, koko..."

Lie Seng memandang dengan mata terbelalak dan mulut tersenyum. "Betapa anehnya engkau ini, Sun Eng! Engkau datang lebih pagi sehari karena engkau ingin cepat-cepat ke sini, bertemu dengan aku, kemudian setelah aku datang engkau malah bersembunyi! Apa artinya ini?"

"Entah, koko, aku... selama setahun ini... setiap hari aku rindu kepadamu, ingin sekali aku cepat-cepat bertemu denganmu..."

"Eng-moi kekasihku..., percayalah bahwa aku pun demikian..." Lie Seng mendekap kepala gadis itu penuh kasih sayang.

Sejenak mereka berdekapan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, begitu ketat mereka saling dekap sampai keduanya dapat saling merasakan denyut jantung masing-masing.

"Akan tetapi... begitu melihatmu... ahhh, aku takut, koko. Engkau demikian mencintaku, engkau memenuhi janji, engkau datang dan ketika melihat betapa engkau menanti di situ dengan wajah berseri, wajah yang kurindukan selama ini... aku makin merasa betapa aku terlalu rendah untukmu, koko, bahwa engkau tidak patut menjadi..."

Sun Eng tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena mulutnya sudah ditutup oleh bibir Lie Seng yang menciumnya. Mata pemuda ini menjadi basah. Sun Eng meronta lembut, akan tetapi kemudian dia merangkulkan kedua lengan ke leher pemuda itu dan membalas ciuman itu dengan penuh pasrah dan kasih sayang, juga dengan air mata bercucuran!

Akhirnya mereka memisahkan muka mereka, saling pandang melalui air mata, dan Lie Seng mendekap lagi, berbisik di dekat telinga gadis itu. "Eng-moi, jangan kau ulangi lagi ucapan seperti itu. Aku cinta padamu, engkau adalah seorang wanita yang paling mulia di dunia ini untukku! Jangan kau selalu merendahkan diri, kita lupakan saja segala hal yang telah lalu, maukah engkau?"

Sun Eng mengangguk, mengangguk berkali-kali di atas pundak pemuda yang masih terus mendekapnya itu, air matanya bercucuran membasahi pundak Lie Seng. Hampir dia tidak percaya bahwa hidupnya menjadi begini bahagia, bahwa ada pria yang dapat mencinta dirinya seperti ini! Hampir dia tidak percaya bahwa semua ini bukan mimpi belaka!

"Koko..."

"Ya...?"

"Aku bersumpah..."

"Tak perlu bersumpah..."

"Aku bersumpah bahwa selama hidupku aku akan setia kepadamu, bahwa baru sekali ini aku jatuh cinta dalam arti yang sedalam-dalamnya pada seorang pria, yaitu engkau, dan hidupku selanjutnya hanyalah untukmu, koko, untuk membahagiakanmu, mengawanimu, membantumu..."

"Cukuplah, moi-moi, aku percaya kepadamu, kita saling mencinta, kenapa engkau harus bersumpah seperti itu?"

"Karena aku berhutang budi kepadamu, koko."

"Ahh, menyelamatkanmu ketika engkau terluka merupakan kewajiban, tidak layak disebut budi..."

"Bukan soal itu, koko. Pertolongan seperti itu memang sudah wajar di antara orang-orang kang-ouw, apa lagi seorang pendekar sepertimu. Akan tetapi maksudku budi yang lebih mulia lagi, yaitu bahwa... engkau telah sudi mencintaku, koko..."

"Hushhh...! Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku, mana ada hutang budi segala? Kalau engkau hutang budi, aku pun berhutang budi kepadamu. Nah, kita saling hutang, sudah lunas, bukan?"

"Tidak, belum lunas, sampai mati pun belum lunas, kita harus saling membayar selama kita hidup."

"Kau benar..."

Mereka kembali saling pandang dan sekali ini, atas kehendak berdua karena dorongan hati yang penuh gelora asmara, muka mereka saling mendekat hingga bibir mereka saling bertemu dalam kecup cium yang mesra dan dengan sepenuh perasaan kasih mereka.

Dunia seakan-akan berhenti berputar dan mereka berdua seperti tenggelam dalam lautan madu asmara, mabuk dan lupa segala, seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua dan cinta kasih mereka. Akhirnya, ketika senja mulai gelap, Lie Seng menarik kekasihnya bangkit berdiri, menggandeng tangannya dan berkata,

"Mari, Eng-moi, mari kita sahkan ikatan jodoh kita."

"Mau... mau kaubawa ke mana aku ini...?" Sun Eng bertanya khawatir, namun hatinya ikhlas mau diajak ke mana pun oleh kekasihnya.

"Kepada keluargaku! Akan kuperkenalkan engkau kepada mereka sebagai calon isteriku agar kita memperoleh doa restu mereka."

Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi pucat sekali. "Tapi... suhu dan subo..."

Lie Seng mencium kening di antara kedua mata yang menakutkan itu. "Eng-moi, setelah engkau menjadi calon jodohku, setelah aku mencintamu dengan sepenuh jiwaku, apa lagi yang engkau khawatirkan? Katakanlah bahwa engkau pernah bersalah dalam pandangan paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, akan tetapi semua itu adalah hal yang telah lalu, dan sekarang setelah kita saling mencinta dan sudah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri, tak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mencelamu! Siapa yang mencelamu akan berhadapan dengan aku, Eng-moi, karena engkau dan aku tidak akan terpisahkan lagi selama masih hidup!"

"Ahhh, koko..." Sun Eng merangkul dan sesenggukan, merasa terharu sekali akan tetapi juga bahagia.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka keluar dari hutan yang mulai gelap itu. Dalam perjalanan, Sun Eng menyatakan kekhawatiran hatinya sebab ibu dari kekasihnya itu juga termasuk seorang di antara mereka dianggap pemberontak buronan oleh pemerintah.

"Ke mana kita harus mencari ibumu?"

"Ibu dan ayah tiriku, juga paman Cia Bun Houw dan isterinya, telah menyembunyikan diri di Bwee-hoa-san. Aku pernah pergi ke sana, akan tetapi aku belum bicara tentang dirimu, karena kupikir belum tiba waktunya sebelum ada ketentuan antara kita seperti yang kita janjikan akan diadakan dalam pertemuan kita hari ini. Akan tetapi, kurasa amat berbahaya kalau kita ke sana. Tempat itu harus dirahasiakan, dan mengunjungi mereka di sana amat berbahaya, apa lagi kita berdua telah dikenal pula oleh fihak musuh."

"Siapakah fihak musuh itu, koko? Dan kenapa dulu suhu dan subo ditangkap dan dituduh pemberontak?"

"Hemmm, semua ini adalah fitnah, merupakan siasat dari musuh keluarga kami, keluarga Cin-ling-pai. Telah kuselidiki dan ternyata yang melakukan siasat ini adalah musuh-musuh lama dari keluarga Cin-ling-pai."

"Siapakah mereka?"

"Hek-hiat Mo-li dari utara. Dia pernah sakit hati terhadap keluarga Cin-ling-pai, terutama kepada paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, juga kepada mendiang Tio Sun yang telah dapat terbunuh. Pula, Hek-hiat Mo-li dibantu oleh muridnya yang lihai, bernama Kim Hong Liu-nio. Bahkan kematian kongkong Cia Keng Hong juga setelah dia diserang oleh guru dan murid itu sehingga mengalami luka."

"Ah, jahat benar mereka. Bagaimana kalau kita langsung mencari mereka dan membasmi guru serta murid itu? Aku akan membantumu dengan taruhan nyawaku, koko!" kata Sun Eng dengan sikap gagah.

Lie Seng tersenyum pahit, "Aihh, Eng-moi, gampang saja engkau bicara. Ilmu kepandaian Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio itu demikian tinggi, dan agaknya yang akan sanggup menanggulangi mereka itu hanyalah orang-orang yang tingkat kepandaiannya telah tinggi sekali seperti paman Yap Kun Liong. Kalau hanya kita berdua, walau pun aku tidak takut, akan tetapi melawan mereka sama halnya dengan membunuh diri tanpa guna. Tidak, kita harus lebih dahulu menyelesaikan urusan kita di depan keluargaku, dan mengingat bahwa pernah ada sesuatu yang kurang enak di antara engkau dan paman Bun Houw serta bibi In Hong, maka sebaiknya kalau kita pergi menemui suci-ku dan minta dia yang menjadi penengah sehingga lebih mudah bagiku untuk menghadapi mereka tanpa timbul kesalah pahaman antara keluarga."

"Suci-mu? Siapakah dia itu, koko?"

"Dia adalah suci Yap Mei Lan, puteri dari paman Yap Kun Liong. Setahun yang lalu dia sudah menikah dengan Souw Kwi Beng dan kini tinggal di Yen-tai. Dia itu suci-ku, akan tetapi juga dapat disebut saudara tiri, karena ayah kandungnya, Yap Kun Liong, kini telah menjadi suami dari ibu kandungku. Nah, dengan perantaraan suci-ku, maka agaknya akan lebih mudah untuk menyelesaikan urusan kita di depan ibu. Yang penting bagiku adalah ibu kandungku. Jika beliau sudah setuju dengan perjodohan antara kita, orang lain peduli apa? Kalau setuju syukur, kalau tidak pun tidak apa-apa!"

Bukan main besar dan lapang rasa hati Sun Eng mendengar ucapan kekasihnya ini, maka dia menaruh kepercayaan penuh, menyerahkan jiwa raganya ke tangan pria yang sangat dicintanya dan dikaguminya ini. Mereka bermalam dalam sebuah rumah penginapan kecil dalam dusun di depan, dan diam-diam Lie Seng makin kagum ketika melihat kekasihnya itu berkeras minta agar mereka menggunakan dua buah kamar.

Sungguh pun dengan latar belakang riwayat seperti itu, ternyata kini Sun Eng benar-benar sudah insyaf dan tidak mau menjadi budak nafsu birahi, pandai menjaga diri dan pandai pula memasang batas-batas di antara mereka, biar pun dia sudah pasrah dan rela kepada Lie Seng yang dicintanya.

"Percayalah, koko, aku berkeras melakukan ini demi engkau. Aku tidak ingin melihat kau menjadi seorang pria yang merusak kepercayaan kita masing-masing. Pelanggaran yang terjadi karena tidak kuat menahan nafsu birahinya menunjukkan tipisnya cinta." Demikian katanya dan Lie Seng merasa terharu sekali, berjanji di dalam hati bahwa dia tidak akan menjamah kekasihnya, sebelum mereka menikah dengan resmi!

Pada suatu hari mereka memasuki kota besar Cin-an yang terletak di Propinsi Shan-tung. Mereka bermalam di kota ini, berbelanja dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju ke timur, ke kota Yen-tai yang berada di tepi Lautan Po-hai.

Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota Cin-an, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan ketika mereka menoleh, nampak pasukan besar menunggang kuda keluar dari pintu gerbang itu, dipimpin oleh seorang panglima tua yang gagah didampingi oleh seorang kakek tinggi besar dan seorang kakek pendek kecil yang masing-masing juga menunggang seekor kuda yang besar.

Lie Seng dan Sun Eng cepat minggir dan memalingkan muka. Mereka sudah dikenal, biar pun hanya sepintas lalu, oleh pasukan yang dahulu menangkap dua pasang suami isteri pendekar, maka sekarang Lie Seng tak ingin dikenal dan memalingkan muka. Akan tetapi, tiba-tiba pasukan itu berhenti di dekat mereka, bahkan panglima dan dua orang kakek itu sudah meloncat turun dari atas kuda dan menghampiri mereka!

Berdebar jantung Lie Seng. Dia memberi isyarat dengan kerling mata kepada Sun Eng agar kekasihnya itu bersiap-siap namun agar jangan membuka mulut dan membiarkan dia yang bicara bila mana datang pertanyaan. Dan ketika dia akhirnya terpaksa membalikkan tubuhnya karena komandan pasukan beserta dua orang kakek itu telah berdiri dekat, Lie Seng terkejut sekali, kekejutan yang ditekannya dan tidak diperlihatkan pada wajahnya.

Ia mengenal komandan itu, seorang komandan tua, seorang panglima pasukan pengawal kaisar, pasukan Kim-i-wi, yaitu pasukan pengawal baju bersulam emas, dan komandan itu bernama Lee Cin, seorang komandan yang gagah perkasa dan lihai, juga dahulu sering bekerja sama dengan keluarga Cin-ling-pai! Komandan itu kini sudah tua, sedikitnya tentu enam puluh lima tahun usianya, namun masih nampak gagah dan gerak-geriknya halus dan sabar.

Lie Seng pura-pura tidak mengenalnya dan dia hanya berdiri dengan hormat, seolah-olah tidak tahu atau tidak mengerti bahwa mereka itu berhenti untuk menemuinya! Akhirnya, sesudah menatap dengan tajam beberapa saat lamanya, terdengar komandan itu berkata dengan suara halus,

"Harap ji-wi (anda berdua) suka menyerah saja untuk kami tangkap!"

Barulah Lie Seng tahu bahwa memang dia dan Sun Eng yang sedang diincar, maka dia pun mengangkat muka, tidak pura-pura lagi meski pun dia tak mau memperkenalkan diri. "Apakah kesalahan kami berdua maka hendak ditangkap? Kami tidak merasa melakukan kejahatan apa pun!"

Komadan Lee Cin tersenyum getir, "Lie Seng taihiap, jangan menyangka bahwa kami pun senang menerima tugas ini. Taihiap merupakan cucu dari ketua Cin-ling-pai yang gagah perkasa, ada pun ibu kandung taihiap, Cia Giok Keng, merupakan seorang di antara para buronan. Semenjak taihiap berdua muncul di Cin-an, gerak-gerik ji-wi telah diawasi."

"Tapi... tapi kami berdua tidak melakukan pelanggaran apa-apa!" bantah Lie Seng.

"Biarlah kelak pengadilan yang akan memutuskan soal itu. Kami hanya mentaati perintah dan amat tidak baik kalau taihiap menambah dosa keluarga dengan membangkang pula. Menyerahlah ji-wi!" bujuk Lee Cin yang benar-benar merasa canggung sekali bahwa dia kini harus mengejar-ngejar keluarga Cin-ling-pai, padahal semenjak dahulu keluarga itu amat berjasa kepada kerajaan dan sering kali dia bekerja sama menghadapi pemberontak dengan para pendekar Cin-ling-pai itu.

"Baik, aku menyerah, akan tetapi nona ini tidak ada sangkut-pautnya, maka kuminta agar dia dibebaskan!"

"Koko, tidak...! Aku tidak mau kita saling berpisah!" teriak Sun Eng dengan kedua mata terbelalak.

"Perintah yang diberikan kepada kami adalah untuk menangkap kalian berdua, tak dapat ditawar-tawar lagi!" Kata pula Lee Cin yang mulai hilang kesabaran karena sebetulnya dia amat tidak menyukai tugas ini, akan tetapi dia tadi sudah bersikap terlalu manis terhadap orang-orang yang dianggap pemberontak ini, sehingga dia merasa tidak enak dan malu kepada dua orang kakek itu.

Dua orang kakek ini adalah dua orang tokoh dari daerah selatan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Ceng Han Houw untuk membantu kerajaan menangkap para pemberontak buronan. Mereka berdua adalah orang-orang yang berilmu tinggi, dua orang ‘bengcu’ atau pemimpin kaum kang-ouw di selatan, yang tinggi besar bernama Hai-liong Phang Tek dan yang pendek kecil bernama Kim-liong-ong Phang Sun.

Karena membawa surat pribadi dari Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja kedua orang kakek ini diterima dengan hormat oleh komandan di kota raja, dan kini dibantukan kepada Panglima Lee Cin yang diserahi tugas menangkap para pemberontak buronan membantu Kim Hong Liu-nio. Panglima ini selain merupakan kakak kandung dari mendiang Panglima Lee Siang yang tewas oleh para pemberontak, juga dianggap mengenal baik wajah-wajah para keluarga pemberontak, maka dianggap tepat untuk memimpin pasukan membantu Kim Hong Liu-nio, kini ditemani oleh dua orang kakek lihai itu.

Dan memang Lee Cin mengenal mereka semua, bahkan juga mengenal Lie Seng yang jarang dijumpainya karena pemuda ini lama pergi menjadi murid Kok Beng Lama, apa lagi setelah dia mendengar bahwa adik kandungnya itu tewas di tangan seorang pemuda lihai yang diduganya tentu Lie Seng adanya.

Lie Seng merasa bimbang. Dia tidak takut ditangkap, akan tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Sun Eng! Tiba-tiba kakek pendek kecil yang tubuh bagian atasnya tertutup jubah prajurit lebar akan tetapi di balik baju yang tidak dikancingkan ini ternyata telanjang sama sekali, kakinya juga telanjang, terkekeh aneh dan kedua tangannya menyambar ke arah beberapa orang prajurit, tahu-tahu dia telah merampas empat batang tombak yang dilemparkannya ke depan.

"Cep-cep-cep-cep!"

Empat batang tombak itu meluncur seperti anak panah ke arah Lie Seng dan Sun Eng, akan tetapi ternyata tidak menyerang tubuh mereka, melainkan menancap sampai lenyap setengahnya di empat penjuru, mengurung dua orang muda itu! Benar-benar demonstrasi yang mengejutkan, membayangkan kekuatan sinkang yang hebat sekaligus kepandaian yang tinggi karena empat batang tombak itu dilontarkan berbareng akan tetapi mengenai sasaran empat macam sekaligus!

Panglima Lee Cin berkata, suaranya berwibawa, "Sebaiknya ji-wi menyerah saja. Kami tahu bahwa taihiap seorang yang lihai sekali, akan tetapi kami sudah siap-siap dan dua orang locianpwe ini pun memiliki kepandaian tinggi. Dari pada kami harus..."

"Eng-moi, larilah, biar kutahan mereka!" tiba-tiba saja Lie Seng berteriak dan dia segera menerjang ke depan, menangkap dua orang prajurit lantas melemparkan mereka ke arah dua orang kakek tinggi besar dan pendek kecil itu. Dua orang kakek ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh dua orang prajurit malang itu terlempar dan terbanting tanpa bangkit kembali!

"Mati hidup di sampingmu, koko!" teriak Sun Eng pula, lantas dengan sigapnya dia pun menerjang ke depan merobohkan dua orang prajurit lain dengan pukulan dan tendangan kakinya. Gegerlah para prajurit mengeroyok, akan tetapi Lee Cin cepat berseru menyuruh mereka untuk mundur.

"Biarkan ji-wi locianpwe menangkap mereka!" teriaknya dan ini merupakan permintaan pula kepada dua orang kakek itu untuk membantu.

Dengan lagak angkuh, Hai-liong-ong Phang Tek maju menghadapi Lie Seng, sedangkan Kim-liong-ong Phang Sun sambil cengar-cengir menghadapi Sun Eng. "Nona manis, mari kita main-main sejenak!"

Sun Eng marah sekali. Dia tidak mengenal si kecil pendek ini, dan melihat bahwa tubuh kakek ini seperti tubuh kanak-kanak saja, dia agak memandang rendah. Tubuhnya segera menerjang ke depan hingga tubuh itu menjadi bayangan merah karena pakaiannya yang berwarna merah, didahului oleh sinar pedangnya yang membabat ke leher, seakan-akan dengan satu sabetan saja dia hendak membuntungi leher kecil dari Kim-liong-ong Phang Sun!

"Cringgg…!"

Sun Eng terkejut dan meloncat mundur, pedangnya telah terlepas ketika bertemu dengan gelang di lengan kiri kakek itu!

"Awas, Eng-moi!" Lie Seng yang belum bergebrak dengan lawan, kini meloncat ke kiri dan dia masih sempat menangkis pukulan tangan kanan kakek pendek yang menampar ke arah kepala Sun Eng.

"Dukkk!" Akibat benturan kedua lengan ini, Lie Seng terhuyung akan tetapi Kim-liong-ong juga terpental ke belakang!

"Ehh, kau boleh juga...!" Kakek kecil pendek ini berseru.

"Serahkan dia padaku, Sun-te, kau tangkap saja nona itu!"

Setelah berkata demikian, Hai-liong-ong Phang Tek sudah melompat ke depan kemudian menyerang Lie Seng dengan tongkatnya yang diputar secara hebat. Memang kakek ini mempunyai tenaga besar sekali maka tongkat yang diputar itu mengeluarkan suara angin mengerikan dan nampak gulungan sinar tongkat seperti seekor naga bermain-main.

Melihat itu, Lie Seng terkejut bukan main. Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan tangguh, akan tetapi yang dikhawatirkannya Sun Eng yang terpaksa harus menghadapi kakek kecil pendek yang lihai itu dengan tangan kosong. Tanpa menggeser kaki dia cepat menggerakkan kedua tangan untuk menangkis serangan-serangan tongkat lawan dengan menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang, akan tetapi dia terus melirik ke arah kekasihnya yang benar saja, telah dipermainkan oleh Kim-liong-ong Phang Sun.

Kakek kecil pendek ini sengaja tidak mau cepat-cepat merobohkan gadis itu, akan tetapi menghujankan serangan-serangan berbahaya yang mengerikan, termasuk menusuk mata, mencengkeram buah dada, menotok jalan darah maut dan lain-lain serangan mengerikan yang selalu ditahannya dan tidak dilanjutkan setelah mendekati sasaran!

Repotlah Sun Eng harus mempertahankan diri, hingga akhirnya dengan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun yang lihai barulah dia dapat selalu mengelak dan mempertahankan diri biar pun sama sekali tak sempat lagi membalas karena memang tingkat kepandaiannya jauh di bawah kalau dibandingkan dengan orang ke dua dari Lam-hai Sam-lo ini.

Selagi dua orang muda ini terdesak dan terhimpit, tiba-tiba saja terdengar teriakan tinggi melengking kemudian nampak berkelebat bayangan orang didahului segulung sinar putih diputar cepat!

"Tahan! Atas nama Pangeran Ceng Han Houw, mundurlah kalian!"

Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun menoleh dan terkejutlah mereka ketika mengenal nona muda yang dahulu pernah membantu dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang!

"Ehh, kau mau apa? Mengantar nyawa?"

"Hemm, nyawa kalian yang berada di tanganku!" bentak Lie Ciauw Si, dara itu.

"Si-moi...!" Lie Seng berseru kaget dan girang melihat adiknya, akan tetapi Ciauw Si cepat menghampiri Panglima Lee Cin.

"Ciangkun, apakah engkau komandan pasukan ini?"

"Benar, nona. Siapakah nona, dan... eh, bukankah nona ini nona Lie Ciauw Si cucu ketua Cin-ling-pai...?" Kini dia mengenalnya dan merasa heran.

"Betul, dan atas nama Pangeran Ceng Han Houw, kuperintahkan agar engkau membawa pasukanmu beserta dua orang tua bangka ini mundur, dan jangan mengganggu kepada kakakku! Lihat, siapakah berani menentang aku yang sudah memperoleh kekuasaan dari Pangeran Ceng Han Houw?" Sambil berkata demikian, Ciauw Si memindahkan pedang Pek-kong-kiam ke tangan kirinya, lalu dia mengangkat tangan kanan dan memperlihatkan cincin yang melingkari jari tengah tangan kanannya.

Cincin bermata biru itu adalah cincin tanda kekuasaan Pangeran Ceng Han Houw yang diperolehnya dari kaisar sendiri dan semua pejabat tinggi tentu saja mengenali cincin ini! Maka Lee Cin lalu memberi hormat sambil menjura.

"Maafkan kami, kami mentaati perintah," katanya lalu dia memberi aba-aba kepada para prajurit untuk mundur.

Biar pun terheran-heran, tentu saja semua prajurit tak berani membangkang dan mereka itu terpaksa mundur, dan terus menjauhkan diri dari tempat itu sesuai dengan perintah yang dikeluarkan oleh Panglima Lee Cin.

Dua orang bengcu selatan yang dipilih oleh Ceng Han Houw itu, yaitu Phang Tek dan Phang Sun, terpaksa ikut pula mengundurkan diri, akan tetapi setelah pasukan bergerak meninggalkan tempat itu, Hai-liong-ong Phang Tek yang merasa amat penasaran berkata,

"Tapi... tapi, ciangkun...! Kita sudah hampir dapat menguasai dan menangkap mereka...!"

Tanpa menghentikan langkahnya memimpin para pasukan yang meninggalkan tempat itu, Lee Cin lalu berkata, "Apakah locianpwe berani membantah dan membangkang terhadap cincin kekuasaan Pangeran Ceng Han Houw?"

"Tapi... tapi gadis itu..."

"Locianpwe, cincin yang diperlihatkan oleh nona itu adalah cincin kekuasaan beliau!"

Mendengar ucapan ini, dua orang kakek itu bungkam dan diam-diam terkejut dan heran. Bukankah menurut Panglima Lee Cin ini, dara itu adalah cucu ketua Cin-ling-pai pula? Keluarga Cin-ling-pai dianggap pemberontak dan buronan yang harus ditangkap, bahkan mereka berdua itu dipanggil ke kota raja supaya membantu Kim Hong Liu-nio menangkap pemberontak dan buronan ini, maka dengan sendirinya seorang cucu ketua Cin-ling-pai tentu merupakan buronan pula. Akan tetapi mengapa nona itu tadi malah memiliki cincin tanda kekuasaan dari Ceng Han Houw? Mereka bingung akan tetapi menghadapi cincin kekuasaan pangeran yang mereka takuti itu, tentu saja mereka tidak berani membantah lagi, apa pula melihat sikap Panglima Lee yang begitu takut menghadapi cincin tadi.

Sementara itu, sesudah semua pasukan itu mundur, barulah Ciauw Si yang berdiri tegak dengan gagah memandang kakaknya sambil tersenyum dan mengembangkan sepasang lengannya.

"Koko...!"

Pemuda dan pemudi itu lari saling menghampiri kemudian saling berangkulan. Suasana menjadi amat mengharukan saat kakak beradik ini berangkulan ketat tanpa mengeluarkan sepatah pun kata, dan dara yang gagah perkasa itu tidak mampu menahan air matanya yang mengalir turun.

"Seng-ko... betapa rinduku kepadamu...!"

"Ahhh, Ciauw Si, engkau adikku yang nakal...!"

Mereka melepaskan rangkulan, saling pandang dan keduanya tersenyum lebar walau pun wajah Ciauw Si masih basah air mata dan dua titik air mata juga membasahi bulu mata pemuda perkasa itu.

"Engkau... sungguh cantik dan gagah, adikku!"

"Dan engkau pun tampan dan gagah koko. Engkau tadi mengamuk seperti seekor naga sakti!"

"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak keburu datang aku sudah menjadi naga tanpa nyawa!"

"Koko, siapakah enci yang manis itu?"

Wajah Lie Seng berubah merah, akan tetapi karena merasa sudah cukup dewasa, dia tidak mau menyembunyikan lagi persoalannya dengan Sun Eng. Dia menggapai Sun Eng dan gadis ini melangkah maju mendekat, saling berpandangan dengan Ciauw Si.

"Eng-moi, ini adalah adik kandungku, seperti yang pernah kuceritakan kepadamu. Adikku, dia ini bernama Sun Eng, dia adalah... ehh... calon soso-mu (kakak iparmu)!"

"Aihhh...!" Ciauw Si berseru girang dan dia cepat memberi hormat yang dibalas oleh Sun Eng dengan muka merah, kemudian Ciauw Si memegang lengan calon kakak iparnya itu. "Engkau sungguh cantik, soso...!"

"Ihh, Si-moi, belum waktunya engkau menyebut soso. Kami belum menikah!" kata Sun Eng tertawa.

"Maaf, Eng-cici, aku hanya bergurau. Akan tetapi aku ingin segera memanggilmu soso. Seng-koko, engkau sekarang sudah menjadi seorang pendekar perkasa setelah engkau belajar kepada locianpwe Kok Beng Lama! Hayo ceritakan semua pengalamanmu sejak engkau meninggalkan kami, koko!"

Mereka bertiga lantas duduk di atas rumput, maka berceritalah Lie Seng tentang semua pengalamannya semenjak dia meninggalkan rumah untuk ikut belajar kepada Kok Beng Lama sampai dia kembali, sampai dia bertemu dengan Sun Eng dan sampai perjumpaan mereka pada saat itu. Semua dia ceritakan secara singkat, akan tetapi tentu saja dia tidak pernah menyinggung tentang riwayat atau pun asal-usul Sun Eng, bahkan dia juga tidak menceritakan kepada adiknya bahwa calon isterinya itu adalah murid dari paman mereka Cia Bun How.

"Sekarang engkau harus ceritakan semua pengalamanmu, adikku yang nakal. Aku hanya bisa ikut merasa gelisah pada saat tidak melihatmu di Cin-ling-san dan hanya mendengar bahwa engkau minggat dari Cin-ling-san! Ke mana saja engkau pergi?"

Ciauw Si menarik napas panjang. Dia sudah merasa menyesal sekali setelah mendengar penuturan ibu kandungnya yang telah diselamatkannya dari kepungan pasukan kerajaan, mendengar bahwa kongkong-nya telah tewas, bahwa ibunya, ayah tirinya, dan pamannya serta isteri pamannya telah menjadi orang-orang buronan, dianggap sebagai pemberontak oleh kerajaan.

Dengan singkat dia pun menceritakan semua pengalamannya. Lie Seng merasa gembira sekali mendengar bahwa adiknya ini sudah menyelamatkan ibu kandungnya serta isteri pamannya yang sedang mengandung.

"Dan ke mana sekarang perginya ibu beserta bibi In Hong?" tanyanya. "Apakah mereka bersembunyi di rumah suci di Yen-tai?"

Ciauw Si menggeleng kepalanya. "Memang tadinya ibu dan bibi Hong bermaksud untuk pergi mengungsi ke sana, akan tetapi kemudian kami berpendapat bahwa hal itu akan amat membahayakan keselamatan keluarga enci Mei Lan sendiri. Tentu para penyelidik akan mudah diketahui orang. Maka, untuk sementara ini kutitipkan ibu dan bibi Hong ke tempat tinggal seorang sahabat baikku di Yen-ping."

"Di Yen-ping? Siapakah dia?"

"Ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang. Kebetulan aku pernah menyelamatkan dia dan kurasa tempat itu sangat aman bagi ibu untuk menjadi tempat tinggal atau tempat bersembunyi sementara, sambil menanti bibi Hong melahirkan."

"Dan bagaimana dengan... paman Kun Liong dan paman Bun Houw?" Sampai sekarang sukarlah bagi Lie Seng untuk menyebut ayah kepada Kun Liong yang telah menjadi ayah tirinya, maka dia masih menyebutnya paman.

"Setelah aku menitipkan ibu dan bibi Hong kepada perkumpulan itu, aku lalu pergi ke kota Yen-tai untuk mengabarkan hal itu kepada enci Mei Lan. Di sana aku bertemu dengan mereka berdua. Malah bersama mereka aku kembali lagi ke Yen-ping, dan kini mereka semua berkumpul di sana."

"Kau sekarang ini sedang hendak ke sana, Si-moi?"

"Tadinya aku hendak pergi ke kota raja..."

"Kau? Ke kota raja? Keluarga kita dituduh memberontak dan kau malah hendak ke kota raja? Apakah mencari celaka?"

"Tidak, aku hendak mencari Pangeran Ceng Han Houw..."

"Ah, pangeran yang cincinnya engkau bawa dan telah menjadi jimat yang menyelamatkan kami tadi? Ehh, Si-moi, bagaimana engkau bisa memperoleh cincin pangeran itu?"

Jantung Ciauw Si berdebar kencang dan mukanya menjadi merah, akan tetapi cepat dia menekan perasaannya yang terguncang. "Aku bertemu dengan dia di selatan dan kami telah menjadi sahabat baik. Dia kemudian memberikan cincin ini kepadaku sebagai tanda persahabatan dan agar mudah bagiku kalau hendak mencarinya di kota raja. Sungguh tidak kusangka cincin ini dapat kupergunakan untuk mengundurkan semua pasukan itu. Baru kuketahui bahwa kekuasaan pangeran itu benar-benar tinggi."

"Lalu mau apa engkau mencarinya di kota raja?"

"Aku dapat menduga niat yang bijaksana dari adik Ciauw Si," tiba-tiba saja Sun Eng ikut bicara. "Setelah mempunyai sahabat seorang pangeran yang kedudukannya begitu tinggi, yang memiliki cincin kekuasaan yang mampu mengundurkan pasukan kerajaan itu, tentu adik Ciauw Si ingin minta bantuan pangeran itu untuk membersihkan nama Cin-ling-pai, bukan?"

Ciauw Si memandang kepada wanita cantik itu dengan kagum, lalu mengerling kepada kakaknya dan berkata, "Wah, calon soso-ku rupanya jauh lebih cerdik dari pada engkau, Seng-ko! Memang dugaannya itu tepat sekali!"

Lie Seng tersenyum bangga. "Kalau tidak cerdik, masa dia menjadi pilihanku?" Mereka tertawa gembira.

"Karena pertemuan ini, biarlah terlebih dahulu kuantar kalian ke Yen-ping menjumpai ibu sebelum aku melanjutkan perjalananku ke kota raja. Marilah koko, mari enci Eng."

Akan tetapi Ciauw Si merasa heran sekali melihat mereka berdua itu saling memandang penuh keraguan, terlebih lagi Sun Eng yang memandang calon suaminya dengan wajah berubah agak pucat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner