PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-55


Bukan main kagetnya Thian Bun Hwesio melihat kakak seperguruannya dikalahkan oleh pemuda itu. Sejak tadi, dia sudah menonton dengan mata terbelalak, makin lama makin kagum dan heran pada pemuda bangsawan yang benar-benar amat lihai itu dan hampir dia tidak percaya melihat betapa suheng-nya benar-benar kalah oleh pemuda itu! Dia pun menjadi penasaran sekali.

Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, hwesio ini tak mau menuruti rasa penasaran dalam hatinya dan tetap berdiri dengan sikap tenang. Sebagai seorang kepala bagian pelajaran silat, tentu saja suheng-nya yang tadi baru saja kalah itu lebih kuat dari padanya, akan tetapi Thian Bun Hwesio juga memiliki suatu keistimewaan yang melebihi suheng-nya, yaitu dalam hal ilmu ginkang atau meringankan tubuh.

Setelah memperoleh kemenangan itu dengan amat mudah sesudah dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari kitab rahasia Bu Beng Hud-couw, Han Houw tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri. Hatinya merasa gembira bukan main bahwa dengan ilmunya yang hebat itu, dia sudah merobohkan hwesio Siauw-lim-pai yang merupakan tokoh besar itu hanya dalam waktu tiga jurus saja! Padahal ilmu-ilmunya itu belum dilatihnya dengan matang.

Makin besarlah kepercayaannya kepada diri sendiri, akan tetapi juga makin tinggilah dia memandang diri sendiri sehingga menimbulkan kesombongan. Perasaan sombong serta tinggi hati ini yang membuat dia tertawa lalu memandang kepada Thian Bun Hwesio dan timbul pula keinginannya untuk juga mengalahkan hwesio ini!

Dia merasa belum puas kalau hanya mengalahkan seorang hwesio saja, apa lagi dia tadi telah menggunakan waktu seratus jurus lebih karena tadinya dia menggunakan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Hek-hiat Mo-li. Kini dia ingin membuka mata semua hwesio di situ bahwa dia mampu merobohkan guru-guru mereka dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja dan dia merasa yakin akan dapat melakukan hal ini jika dia langsung menggunakan ilmunya yang amat hebat dari Bu Beng Hud-couw. Maka dia kini tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, locianpwe, kalau engkau mau maju, aku berani pastikan bahwa aku akan mampu merobohkanmu dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!"

Mendengar ini, hampir semua murid Siauw-lim-pai yang mendengarnya menjadi merah mukanya dan mereka itu marah sekali. Thian Bi Hwesio, guru dan pelatih mereka sudah kalah dalam pertandingan yang sewajarnya, namun hal ini bagi mereka tidak menjadikan rasa penasaran karena mereka telah digembleng lahir batin dan maklum bahwa menang kalah dalam adu silat adalah hal yang lumrah dan mereka pun tidak berpendapat bahwa guru mereka merupakan orang tak terkalahkan dalam dunia persilatan.

Akan tetapi, ketika mendengar pemuda itu mengatakan akan merobohkan susiok (paman guru) mereka dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, sungguh merupakan ucapan yang amat keterlaluan dan berlebihan! Mereka tahu akan kelihaian susiok mereka yang dalam hal ilmu silat setingkat atau hanya berselisih sedikit saja dari pada suhu mereka, bahkan mereka juga maklum bahwa susiok mereka ini memiliki kelebihan dalam ginkang. Maka pernyataan pemuda bangsawan itu bahwa dia akan merobohkannya dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, sungguh merupakan suatu penghinaan yang keterlaluan.

"Pangeran, harap pangeran menghentikan adu kepandaian yang tiada manfaatnya ini dan suka duduk sebagai tamu terhormat atau paduka pergi saja meninggalkan tempat ini dan tidak mengganggu kami." Dengan sikap amat sopan dan lemah lembut Thian Bun Hwesio berkata sambil menjura dengan sikap hormat.

"Ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi bahwa aku hendak menguji sampai di mana kehebatan ilmu silat dari Siauw-lim-pai, locianpwe. Kalau locianpwe tak mau melayaniku untuk saling menyelami kepandaian masing-masing, aku pun tak dapat memaksa, hanya saja kuharap locianpwe suka memberi pernyataan tertulis bahwa ilmu silatku lebih tinggi dari pada ilmu silat Siauw-lim-pai!"

Berkerut alis pendeta yang bersikap halus itu. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Omitohud... apa akan jadinya kalau ada orang berkedudukan tinggi bersikap seperti ini? Pangeran, pinceng tidak berwenang untuk memutuskan sesuatu mengenai tindakan yang harus diambil oleh Siauw-lim-pai. Suhu kami sedang tidak berada di sini, ada pun pinceng tidak berani membuat pernyataan seperti itu."

"Jika tidak berani, majulah supaya aku dapat mencoba tingginya ilmu silatmu, locianpwe," Mulutnya saja menyebut locianpwe atau orang tua yang gagah dan dihormati, akan tetapi sikap pangeran itu benar-benar memandang ringan sekali. Hal ini terasa oleh Thian Bun Hwesio dan dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat mengelak lagi, maka dia lalu menarik napas panjang.

"Agaknya paduka tidak akan puas apa bila belum merobohkan pinceng. Nah, bersiaplah. Pinceng hendak memperlihatkan kebodohan pinceng!"

Sesudah berkata demikian, hwesio itu menekan kedua kakinya di atas tanah dan di lain saat tubuhnya telah melayang naik ke atas, langsung menerjang dari atas ke arah Han Houw.

"Uhhhh...!" Pangeran itu terkejut bukan main. Tak pernah disangkanya bahwa pendeta itu memiliki ginkang yang sedemikian hebatnya.

Akan tetapi, dengan jalan merendahkan tubuhnya Han Houw sudah dapat menghindarkan diri dan balas mengirim pukulan dari bawah. Terpaksa Thian Bun Hwesio mengelak dan berjungkir balik lalu turun beberapa meter jauhnya dari pemuda itu, kemudian dia sudah menerjang lagi dengan kecepatan luar biasa. Kedua lengan bajunya yang panjang lebar itu berkibar dan menyambar-nyambar, merupakan dua buah senjata yang menotok ke arah jalan-jalan darah yang penting dari tubuh Han Houw.

Namun, dengan langkah-langkah Pat-kwa-po yang indah dan lihai itu Han Houw berhasil menghindarkan diri dengan sangat mudahnya. Kemudian secara mendadak pemuda ini berjungkir balik, kepala di bawah, kaki di atas dan mulailah dia menyerang dengan kaki tangannya. Itulah jurus-jurus dari Ilmu Hok-te Sin-kun yang amat hebat itu.

Thian Bun Hwesio mengeluarkan seruan kaget dan biar pun dia telah berusaha mengelak secepatnya, namun serangan tangan dari bawah oleh pemuda itu tetap masih mengenai pahanya. Padahal waktu itu Thian Bun Hwesio meloncat ke belakang, maka loncatannya terdorong oleh pukulan itu menjadi keras sekali dan dia melayang seperti sebuah layang-layang putus talinya, dan dari pahanya nampak darah membasahi celana!

"Omitohud...!" Terdengar seruan halus dan tahu-tahu ada seorang hwesio tua lain yang menerima tubuh Thian Bun Hwesio dengan sebelah tangannya, lalu menurunkan tubuh Thian Bun Hwesio. Hwesio yang terluka pahanya itu cepat bersila dan memeriksa lukanya yang terkena pukulan ampuh dari tangan pemuda yang mengandung hawa beracun itu.

Han Houw memandang hwesio yang baru muncul itu dengan penuh perhatian. Hwesio itu bertubuh gemuk, berwajah halus dan penuh kesabaran, akan tetapi sepasang mata yang bersinar lembut itu kelihatan amat berwibawa, usianya beberapa tahun lebih tua dari pada Thian Bi Hwesio dan Thian Bun Hwesio. Hwesio ini melangkah maju menghampirinya lalu menjura dengan penuh hormat, sikapnya halus sekali.

"Omitohud...! Dari laporan beberapa anak murid, pinceng tadi mendengar bahwa paduka adalah Pangeran Ceng Han Houw dari kota raja. Perkenankanlah pinceng menghaturkan maaf sebesarnya atas kekasaran dua orang sute pinceng terhadap paduka."

Han Houw tersenyum. Kedua orang hwesio yang pertama tadi juga bersikap halus dan hormat kepadanya, dan kini sikap amat halus dari hwesio ke tiga ini dianggapnya sebagai sikap takut terhadapnya. Setelah berhasil mengalahkan dua orang hwesio itu dia merasa makin bangga dan angkuh, memandang rendah kepada Siauw-lim-pai.

Setelah dia mampu merobohkan dua orang itu, maka dia pikir bahwa untuk melawan guru mereka pun dia tentu akan menang. Dia memandang hwesio tua yang menyebut sute kepada kedua orang hwesio tadi, lalu bertanya.

"Siapakah locianpwe?"

"Omitohud, paduka masih begini muda dan memiliki kedudukan begitu tinggi akan tetapi paduka sudah pandai bersikap, sebagai seorang gagah yang menghormati orang tua, dan telah mempunyai tingkat kepandaian yang demikian tingginya! Pinceng adalah Thian Sun Hwesio, murid tertua dari suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai di kuil ini. Oleh karena itu, pincenglah yang mewakili suhu menghaturkan maaf sebesarnya kepada paduka."

"Hemmm, Thian Sun Hwesio. Kedatanganku ini bukan untuk beramah-tamah, bukan pula untuk menjadi tamu, bukan untuk mengacau atau pun mencari permusuhan. Akan tetapi, sejak kecil aku amat suka mempelajari ilmu silat dan aku ingin sekali menguji kepandaian semua tokoh persilatan, untuk melihat apakah aku telah patut menjadi jagoan nomor satu di dunia! Aku tadinya hendak mencari Thian Khi Hwesio untuk kuuji kepandaiannya, akan tetapi karena dia tidak ada, maka kuharap engkau sebagai murid tertua suka mewakilinya untuk menguji kepandaian denganku."

"Omitohud, mana pinceng berani begitu lancang? Pendeta-pendeta tua dan bodoh seperti pinceng ini mana ada kepandaian untuk memukul orang? Pinceng hanya dapat membaca liam-keng dan apa bila paduka minta petunjuk tentang peri kemanusiaan dan kehidupan, maka bolehlah pinceng memberinya sebisa pinceng. Akan tetapi ilmu silat? Pinceng tidak mengenal ilmu silat untuk memukul orang."

"Hemmm, Thian Sun Hwesio, locianpwe seperti anda ini tidak perlu lagi menyembunyikan kenyataan. Siapakah yang tidak tahu bahwa di samping ilmu keagamaan, para pendeta di Siauw-lim-si merupakan ahli-ahli silat yang pandai? Aku telah menguji kepandaian kedua orang sute-mu yang ternyata tidak seberapa tinggi, maka kini aku minta locianpwe suka mewakili Thian Khi Hwesio untuk mengadu kepandaian melawanku."

"Pinceng tidak berani."

"Jika tidak berani, harap locianpwe suka membuat pernyataan tertulis bahwa fihak Siauw-lim-pai tidak dapat menandingi ilmu silatku!"

"Ahh, untuk membuat itu pun pinceng mana berani? Sebaiknya kelak apa bila suhu telah pulang saja paduka datang kembali dan bicara sendiri kepada suhu. Tentang kepandaian silat, di dunia ini siapakah yang dapat menentukan atau mengukur?"

"Thian Sun Hwesio, bicaramu bercabang! Jika memang ada kepandaian, hayo keluarkan untuk kutandingi!"

"Omitohud... harap paduka pangeran jangan salah artikan. Memang pinceng tidak pernah mempelajari ilmu untuk berkelahi, tetapi hanya pernah belajar sedikit ilmu untuk menjaga kesehatan."

"Hemm, kalau begitu coba locianpwe memperlihatkan ilmu untuk menjaga kesehatan itu!" Han Houw mendesak dan menantang. Hwesio ini tentu merupakan tokoh nomor satu di kuil ini sesudah ketuanya yang sedang pergi, maka hatinya belum puas kalau dia belum mengalahkan hwesio ini.

Thian Sun Hwesio tersenyum ramah, lalu dia menghampiri sebuah sapu yang bersandar di sudut ruangan itu. "Beginilah pinceng menjaga kesehatan, yaitu dengan pekerjaan yang bermanfaat, misalnya menyapu lantai." Sambil berkata demikian, Thian Sun Hwesio lalu menggerakkan sapu tua itu dengan sekali ayun.

Han Houw terkejut bukan main karena dia langsung merasakan adanya sambaran angin yang berputar-putar hingga semua debu dan kotoran di dalam ruangan itu ikut berputaran seperti terbawa angin puyuh, kemudian semua kotoran dan debu terkumpul di suatu sudut ruangan itu. Dengan sekali ayun saja kakek itu sudah dapat ‘menyapu’ lantai ruangan itu sampai bersih, dan angin yang berputar-putar keluar dari ayunan sapunya tadi saja sudah menunjukkan betapa kuatnya tenaga sinkang dari Thian Sun Hwesio!

Hwesio ini benar-benar tak boleh dipandang ringan, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan dua orang hwesio pertama tadi, dan dia harus berpikir sepuluh kali terlebih dahulu untuk dapat memastikan bahwa dia akan menang melawan kakek ini!

"Bagus sekali! Kekuatanmu demikian hebatnya, Thian Sun Hwesio, sekarang marilah kita bertanding mengadu ilmu beberapa jurus!" tantangnya dan dia telah melangkah maju lalu memasang kuda-kuda.

Akan tetapi hwesio itu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Omitohud, pinceng sudah menyatakan bahwa pinceng tidak pernah mempelajari ilmu silat untuk berkelahi. Karena itu biar pinceng dipukul mati pun pinceng tak berani melawan dengan kekerasan. Pinceng hanya bisa menyapu lantai seperti tadi, tidak bisa berkelahi," jawab pendeta itu.

Han Houw mengerutkan alisnya. Dia merasa penasaran sekali, akan tetapi dia pun tahu bahwa amat tidak baik kalau dia menyerang orang yang tidak akan mau melawan. Selain hal itu amat tidak baik, terutama bagi namanya yang diharapkan akan bisa disebut jagoan nomor satu di dunia, juga dia tidak sudi dan tidak tertarik. Maka dia pun menarik napas panjang, dan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya, dia lalu menghampiri sapu yang sudah disandarkan di pojok tadi. Dipegangnya gagang sapu yang terbuat dari kayu itu, ditimang-timangnya, kemudian digerak-gerakkan seperti orang sedang menyapu, lalu diletakkannya kembali menyandar dinding.

"Jelas aku tak akan mampu menandingi kepandaianmu dalam menyapu lantai, Thian Sun Hwesio! Maafkan aku!" Han Houw berkata sambil mengangguk, kemudian membalikkan tubuhnya, pergi dari situ, diikuti oleh penghormatan Thian Sun Hwesio yang menjura dan merangkap kedua tahgan di depan dada.

Sesudah Han Houw pergi jauh, hwesio muda murid Thian Bi Hwesio yang tadi dikalahkan oleh Han Houw berkata, "Omitohud... baiknya ada supek yang membuat dia jeri dan pergi. Kepandaian supek hebat bukan main sehingga pemuda sombong itu mundur tanpa berani mendesak!"

Thian Sun Hwesio mengerutkan alisnya sambil menggelengkan kepalanya. "Pangeran itu sungguh hebat luar biasa dan dunia kang-ouw tentu akan geger dengan kemunculannya, bukan hanya karena ilmunya amat tinggi, akan tetapi terutama sekali karena dia seorang pangeran. Kau kira dia takut? Kau periksa sapu itu baik-baik."

Mendengar kata-kata ini, hwesio yang bertubuh tinggi besar itu memandang heran, lantas dihampirinya sapu yang tadi dipegang oleh Han Houw. Nampaknya sapu itu tak apa-apa, akan tetapi begitu jari tangan pendeta itu menyentuhnya, sapu yang tadi kelihatan masih utuh itu tiba-tiba hancur berantakan! Tentu saja hwesio itu terkejut bukan main, kemudian mengeluarkan seruan kaget sambil melompat ke belakang.

"Nah, kalian lihat betapa lihai dan berbahayanya tangan pangeran itu. Pinceng sendiri pun belum tentu akan mampu menandingi kekuatan sinkang-nya yang mengandung keajaiban. Sute berdua apakah tadi mengenal gerakan-gerakannya, dan dari golongan manakah ilmu silatnya?" tanya hwesio ini kepada dua orang sute-nya.

Thian Bi Hwesio dan Thian Bun Hwesio saling pandang, kemudian menggeleng kepala dengan pandang mata terheran. "Gerakannya amat aneh dan selama hidup belum pernah pinceng melihat dasar ilmu silat seperti itu," kata Thian Bi Hwesio.

"Terutama gerakan-gerakannya dengan kepala di bawah dan kaki di atas itu," sambung Thian Bun Hwesio. "Seperti didasari gerakan yoga dari India, akan tetapi tentu bercampur dengan ilmu kaum sesat."

Setelah munculnya Han Houw yang seperti badai mengamuk mendatangkan kekalutan di dalam kuil itu, suasananya menjadi sunyi dan tenteram setelah pemuda itu pergi dan para hwesio melanjutkan tugas masing-masing, sungguh pun badai yang baru saja mengamuk itu mendatangkan kesan di dalam hati mereka dan menimbulkan kekhawatiran…..

********************

Sementara itu, Han Houw pergi dengan hati yang puas. Bagaimana pun juga, dia sudah mengalahkan dua orang tokoh besar dari Siauw-lim-pai, dan peristiwa ini saja tentu akan mengangkat namanya tinggi-tinggi di dunia kang-ouw! Dia lalu melanjutkan perjalanannya ke utara, ke kota raja, akan tetapi di setiap kota dia tentu berhenti, mencari tokoh-tokoh kang-ouw untuk diajak mengadu ilmu silat!

Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang dirobohkannya, sebagian besar dikalahkannya dengan ilmu silatnya yang memang sangat tinggi itu, akan tetapi ada pula sebagian tokoh besar dunia kang-ouw yang tidak berani melawan sungguh-sungguh sesudah tahu bahwa pemuda yang sangat lihai itu adalah Pangeran Ceng Han Houw, adik dari kaisar! Mereka lebih baik mengalah dari pada harus melukai atau salah-salah dapat membunuh seorang pangeran karena hal ini akan menimbulkan akibat yang amat hebat sekali!

Maka, kemenangan demi kemenangan diraih oleh Han Houw yang menjadi makin angkuh dan merasa bahwa sesungguhnya dialah jagoan nomor satu di dunia ini! Dan tentu saja, sepak terjangnya itu tersiar luas di dunia kang-ouw ketika berita bahwa di dunia persilatan muncul seorang jago muda yang sangat lihai, yaitu Pangeran Ceng Han Houw.

Bahkan tersiar pula berita bahwa selain banyak orang kang-ouw di selatan yang sudah kalah oleh pangeran ini, juga tokoh-tokoh Siauw-lim-pai roboh pula oleh jagoan muda ini! Berita ini tentu saja disiarkan oleh Han Houw sendiri dan para tokoh kang-ouw menjadi semakin ribut dan kagum…..

********************

Pemuda itu menghempaskan tubuhnya di atas rumput hijau di bawah pohon besar yang teduh. Dia mengeluh panjang, lalu mengambil sehelai sapu tangan lebar dan menyusuti keringatnya di muka dan lehernya, membuka kancing bajunya bagian atas untuk merogoh dada dengan sapu tangannya yang kini menjadi basah kuyup. Diperasnya sapu tangan itu sehingga air keringat mengucur, kemudian diusapnya lagi mukanya yang kemerahan. Dia mengeluh lagi.

Sinar matahari amat teriknya di waktu siang hari itu, lewat tengah hari. Dan keteduhan di bawah pohon besar itu sangat nyaman. Sehabis tertimpa panas matahari setengah harian lalu duduk berteduh di tempat itu, di tepi hutan, benar-benar menimbulkan rasa nyaman. Apa lagi ketika ada angin berhembus lembut, membuat muka, leher dan dada yang kini terbuka sedikit itu tertiup angin, nikmatnya bukan kepalang. Kulit yang tadinya gatal-gatal panas itu ditiup angin hingga terasa sejuk nyaman dan pemuda itu pun menguap. Kedua matanya mulai letih dan mengantuk.

"Aihh... Lan-moi dan Lin-moi, benar-benar membikin sengsara orang...!" keluhnya.

Dia pun merebahkan tubuhnya yang gemuk itu di atas rumput, berbantal lengan kiri, ada pun lengan kanannya memegangi golok pada gagangnya, golok besar yang diletakkannya di atas rumput di samping tubuhnya yang besar. Tak lama kemudian dia pun mendengkur, sudah tertidur dengan nyenyaknya!

Pemuda itu bukan lain adalah Tee Beng Sin, keponakan dari Kui Hok Boan yang tinggal di dusun Pek-jun dekat kota raja. Pemuda bertubuh gendut berwajah lucu ini seperti kita ketahui telah meninggalkan dusun Pek-jun bersama Kwan Siong Bu, seorang keponakan lain dari Kui Hok Boan, untuk mencari jejak Lan Lan dan Lin Lin yang melarikan diri akibat mereka hendak diberikan kepada Pangeran Ceng Han Houw. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, Beng Sin dan Siong Bu bersimpang jalan dan mereka tidak diperkenankan pulang oleh Kui Hok Boan sebelum menemukan dua orang gadis kembar yang minggat itu.

Sudah berbulan-bulan, kurang lebih enam bulan lamanya, Beng Sin mencari-cari kedua orang adik seperguruan atau adik misan itu, dan akhirnya dia memperoleh jejak mereka di daerah ini. Dia mencari terus dan siang hari itu, saking lelah dan sedihnya dia jatuh pulas di tepi hutan lebat!

Betapa hati pemuda gendut ini tak akan berduka? Dia telah setengah tahun meninggalkan rumah dan tidak berani pulang karena belum juga berhasil menemukan kembali Lan Lan dan Lin Lin. Dia amat suka kepada dua orang gadis kembar itu, mencinta mereka seperti adik-adik kandung sendiri, maka biar pun dia tidak dipesan oleh Kui Hok Boan sekali pun, agaknya dia tidak mau pulang sebelum dapat bertemu dengan mereka.

Kalau dia membayangkan nasib kedua orang dara kembar itu, dia merasa kasihan sekali. Secara diam-diam dia menyesalkan sikap dan tindakan pamannya yang begitu tega untuk menyerahkan dua orang puterinya kepada pangeran tanpa persetujuan kedua orang dara itu!

Memang menurut pendapat umum, diambil selir oleh seorang pangeran merupakan suatu kehormatan yang besar bagi seorang gadis, dan Beng Sin tentu saja terseret pula oleh anggapan umum ini. Akan tetapi pemuda gendut ini tetap berpendirian bahwa betapa baik pun nasib dua orang dara itu karena telah dipilih oleh pangeran, namun karena urusan itu mengenai nasib kehidupan kedua orang dara itu, maka tentu harus mendapat persetujuan dari mereka sendiri.

Saking kesalnya dan juga saking lelahnya, Beng Sin tidur pulas di bawah pohon dengan nyenyaknya sampai dia mendengkur! Tiba-tiba dia tersentak kaget dan sebagai seorang pemuda yang semenjak kecil belajar silat, begitu terbangun dia segera meloncat dengan golok di tangan dan waspada, celingukan ke kanan kiri. Sungguh menyeramkan melihat pemuda yang gendut dan nampak tubuhnya kokoh kuat itu berdiri tegak dengan sebatang golok yang besarnya bukan main itu di tangan kanan, golok besar sekali yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Beng Sin memandang ke kanan kiri dengan alis berkerut. Biar pun dia tadi tidur pulas, tak salah lagi, telinganya menangkap jeritan nyaring yang membuatnya tersentak kaget. Akan tetapi kenapa keadaan di situ sunyi saja dan dia tidak melihat atau mendengar apa-apa? Apakah dia mimpi? Tak mungkin.

"Tolongggg... ohh, tolonggg...!"

Beng Sin terperanjat, lalu meloncat dan lari ke arah suara itu, yaitu ke dalam hutan. Dia harus membabat semak-semak belukar dengan goloknya, juga menyusup-nyusup hingga mukanya terasa gatal-gatal karena melanggar ranting-ranting semak-semak. Akan tetapi dia berlari terus dan akhirnya tibalah dia di tengah hutan.

Nampak sebuah kereta tua yang ditarik oleh dua ekor kuda kurus di tengah hutan itu, di atas jalan hutan yang kasar. Lima orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar sambil tertawa-tawa sedang menarik-narik seorang gadis cantik ada pun seorang wanita setengah tua menangis dan berusaha mencegah lima orang laki-laki itu.

"Keparat!" Beng Sin membentak dan cepat dia meloncat ke dekat kereta itu.

Lima orang lelaki kasar itu terkejut mendengar bentakan Beng Sin. Mereka menoleh dan melihat munculnya seorang pemuda gendut yang memegang golok yang bukan kepalang besarnya, mereka langsung melepaskan gadis itu dan mencabut senjata masing-masing dengan sikap mengancam.

"Jangan takut, nona, aku akan membasmi mereka!" kata Beng Sin dengan sikap gagah dan dia mendekati gadis dengan ibunya itu yang dengan tubuh gemetar lalu berlindung di belakangnya.

Lima orang perampok kasar itu dipimpin oleh seorang pria setengah tua yang rambutnya riap-riapan dan mukanya bercambang bauk, matanya lebar serta sikapnya menakutkan sekali, membayangkan keganasan dan keliaran. Bajunya terbuat dari kulit harimau yang memperlihatkan sebelah pundak dan sebagian dari dada kanannya yang tegap. Tangan kanannya memegang sebuah penggada yang sangat besar, besar dan berat, seimbang dengan besar dan beratnya golok di tangan Beng Sin. Empat orang anak buahnya berdiri di belakangnya, masing-masing memegang senjata mereka, ada yang memegang golok, ada pula yang memegang pedang atau tombak pendek.

Dengan marah Beng Sin bertolak pinggang dan melintangkan golok besarnya di depan tubuhnya. "Hemmm, kalian para perampok laknat berani mengganggu wanita baik-baik di siang hari, ya? Sekarang setelah bertemu dengan tuan mudamu, kalian tentu tak dapat diberi ampun lagi!"

Kepala perampok itu adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dan kuat. Pada saat dia melihat tubuh Beng Sin yang gendut dan besar, bahkan lebih besar dari pada tubuhnya sendiri, dan melihat pemuda itu memegang sebatang golok yang amat besar dan agaknya tak kalah berat dibandingkan dengan penggadanya, dia terbelalak dan kelihatannya agak jeri.

"Kawan...," katanya sambil mengedip-ngedipkan mata bagaikan memberi isyarat rahasia. "Kita... kita bagi rata saja, dah! Berikan barang-barangnya kepada kami dan kau boleh mendapatkan orangnya."

Sejenak Beng Sin melongo, tidak mengerti. Akan tetapi segera dia mencak-mencak dan membanting-banting kaki kanannya. Celaka, pikirnya. Tentu kepala perampok itu mengira bahwa dia adalah sebangsa pencoleng! Ingin dia menghadapi cermin agar dapat melihat wajahnya sendiri. Benarkah wajahnya seperti wajah pencoleng?

"Bangsat keparat jahanam laknat bermulut busuk!" Dia memaki-maki saking jengkelnya. Tangan kiri yang tadinya bertolak pinggang itu kini menuding ke hidungnya sendiri. "Buka lebar-lebar mata bangsatmu! Kau kira aku ini orang apa? Aku adalah seorang pendekar muda, tahu? Bagi-bagi nenek moyangmu itu! Hayo kalian pergi, kalau tidak, golokku yang sudah haus darah penjahat ini yang akan bicara!"

"Wah, pendekarnya kok gendut amat...!" Terdengar seorang anak buah perampok berkata lirih.

"Agaknya kurang latihan, sikat saja, twako!" kata orang ke dua.

Didorong oleh anak buahnya, kepala perampok itu segera mengeluarkan suara gerengan dan penggada itu diputar-putar di atas kepala sampai mengeluarkan suara berdesir-desir.

"Taihiap, hati-hati...!" bisik gadis itu.

Beng Sin yang tadinya merasa gentar juga melihat penggada yang besar itu, tiba-tiba saja membusungkan dadanya yang memang sudah besar dan lebar itu. Dia disebut ‘taihiap’. Dia pendekar besar! Ha! Untuk sebutan itu ingin rasanya dia menari-nari dan bermain silat mendemonstrasikan kemahirannya memainkan golok besarnya! Maka timbul keberanian dan kegagahannya, dan dia lalu menggerakkan golok sehingga nampak sinar berkelebat.

"Kalian mau melawan? Bosan, hidup, ya? Nah, sambut ini!" Dia lalu membacokkan golok besarnya itu ke depan.

Kepala rampok yang lebih biasa menaklukkan korban dengan gertakan dari pada tindakan ini, cepat menangkis. Biasanya, orang sudah bertekuk lutut minta ampun kalau dia sudah memutar penggadanya, akan tetapi pemuda gendut ini tidak takut!

"Tranggg...!"

Penggada itu terpental kemudian terlepas dari pegangan si kepala perampok! Beng Sin tersenyum-senyum, biar pun senyumnya menjadi agak kecut karena dia harus menahan rasa nyeri pada lengannya yang menjadi kesemutan karena getaran pertemuan senjata tadi.

"Nah, ambil senjatamu, jahanam!" katanya dengan lagak gagah, sambil bertolak pinggang lagi.

Tentu saja peristiwa ini mengagetkan semua perampok itu. Kepala perampok itu memiliki tenaga besar sekali. Penggada itu sekali gempur dapat menghancurkan batu karang dan dapat menumbangkan sebatang pohon sekali hantam. Akan tetapi ketika bertemu dengan golok pemuda gendut itu, ruyung atau penggadanya itu terlepas dan lengannya terasa lumpuh! Tentu saja nyalinya terbang seketika dan dia menggeleng-geleng kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan lari, diikuti oleh empat orang anak buahnya.

Memang mereka itu hanyalah perampok-perampok kasar yang biasanya mengandalkan gertakan saja, sama sekali tidak mempunyai kepandaian berarti. Betapa pun juga, kalau mereka itu bukan pengecut dan mengeroyok Beng Sin, tentu pemuda ini akan repot juga!

Bukan main lega hati Beng Sin. Dia pun tertawa sambil mengamang-amangkan goloknya ke atas. "Tikus-tikus busuk! Kalau lain kali bertemu denganku, jangan harap golokku akan mengampuni kalian!"

Gadis itu bersama ibunya lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Beng Sin.

"Taihiap, terima kasih atas pertolonganmu...," gadis yang manis itu berkata, juga ibunya menghaturkan terima kasih.

Beng Sin menjadi sibuk juga. Dengan tangan kirinya dia lalu menyentuh pundak gadis itu untuk membangunkannya, akan tetapi begitu jari tangannya menyentuh kulit daging yang hangat lunak, dia menggigil dan menariknya kembali.

"Maaf... ehh, nona dan bibi... harap bangkit dan mari kuantar kalian..."

Ibu dan anak gadisnya itu lalu bangkit dan celingukan.

"Apa yang kalian cari?" tanya Beng Sin ketika melihat mereka celingukan seperti itu.

"Kusir kami... tadi ketika perampok-perampok muncul, dia lari entah ke mana..."

Beng Sin kemudian berteriak nyaring, "Heiii! Kusir kereta! Keluarlah, perampok telah pergi semua!"

Tak lama kemudian terdengar suara menjawab dan si kusir yang bertubuh kurus tinggi itu muncul dengan tubuh gemetar, muka pucat. Beng Sin merasa geli sekali, apa lagi melihat betapa celana kusir itu basah. Entah basah terkena air ketika bersembunyi, entah basah ngompol saking takutnya.

"Hayo lekas naik dan antar nona dan bibi ini pulang. Aku akan mengawal mereka!" kata Beng Sin dengan gagah.

Gadis dan ibunya itu lalu masuk ke dalam kereta dan Beng Sin juga masuk ke dalamnya, duduk berhadapan dengan gadis dan ibunya itu. Kusir kereta segera menjalankan kuda dan kereta itu pun membalap keluar dari dalam hutan secepatnya.

Di sepanjang perjalanan ini, ibu si gadis yang kini menjadi malu-malu dan bahkan jarang berani menatap wajah pemuda gendut yang dengan gagah perkasa sudah menolongnya itu, menceritakan siapa adanya mereka.

Kiranya suami wanita itu adalah seorang piauwsu, yaitu pengawal barang-barang kiriman atau orang-orang yang melakukan perjalanan jauh. Ciok-piauwsu ini bekerja pada sebuah piauwkiok (perusahaan pengawalan) yang bernama Hek-eng Piauwkiok di kota Su-couw di Ho-nan.

"Kami ibu dan anak baru saja pulang dari menengok keluarga ke dusun, taihiap. Biasanya perjalanan ke dusun lewat hutan ini aman saja, namun tak nyana hari ini kami mengalami gangguan penjahat. Untung tadi ada taihiap yang menolong kami. Karena biasanya aman, maka suami saya tidak mengantar."

"Kalau ayah ikut mengawal, penjahat-penjahat itu tentu sudah dibunuhnya!" kata gadis itu yang oleh ibunya diperkenalkan dengan nama Ciok Sui Lan.

"Eh... nona Ciok adalah puteri seorang piauwsu yang pandai, kenapa tadi tidak melawan penjahat-pejahat itu?" tanya Beng Sin.

Nona itu menunduk, tersenyum dan mengerling wajah pemuda gendut itu, membuat hati Beng Sin berdebar tidak karuan!

"Ayah melarangku belajar silat, katanya tidak pantas bagi seorang wanita...," jawab gadis itu malu-malu.

"Dan memang betul, aku sendiri pun melarangnya, taihiap. Lebih baik bila seorang wanita mempelajari ilmu-ilmu yang halus, menulis, membuat sajak, menjahit, menari, bernyanyi dan memasak. Lebih berguna kalau kelak menjadi isteri orang."

"Ihhh, ibu...!" Siu Lan berkata sambil menunduk, mukanya menjadi merah sekali.

"Tentu... tentu ilmu silat paman Ciok lihai sekali," Beng Sin berkata dan dia pun merasa sungkan dan tidak enak pada waktu ibu itu menyebut-nyebut tentang wanita menjadi isteri orang!

Wanita itu menarik napas panjang. "Semenjak muda, suamiku paling senang dengan ilmu silat. Dia seorang kasar, taihiap, akan tetapi dalam hal ilmu silat, dia cukup terkenal dan di Hek-eng Piauwkiok dia menjadi piauwsu yang diandalkan oleh majikan piauwkiok."

Ketika mereka sampai di rumah keluarga Ciok yang cukup besar, mereka disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang kelihatan gagah dan bermata tajam. Dia ini bukan lain adalah Ciok-piauwsu sendiri. Betapa kaget hati piauwsu ini ketika mendengar penuturan isteri dan puterinya bahwa kereta mereka dihadang oleh perampok dan bahwa puterinya hampir saja celaka kalau tidak ditolong oleh pemuda gendut yang terus mengawal mereka sampai tiba di rumah.

"Ahhh, sicu muncul seperti dituntun tangan Thian! Betapa besar rasa terima kasih kami kepadamu, sicu!" Piauwsu itu cepat memberi hormat kepada pemuda itu.

Beng Sin cepat-cepat membalas dengan menjura. "Aih, lo-enghiong, aku telah mendengar bahwa engkau juga seorang ahli silat yang pandai. Antara kita sesama orang yang suka menentang kejahatan, bantu-membantu adalah wajar. Mana bisa bicara tentang budi?"

Piauwsu itu merasa amat kagum dan tahulah dia bahwa pemuda ini adalah seorang yang berwatak gagah dan jujur. Beng Sin lalu dipersilakan masuk dan mereka pun berkenalan. Ketika Beng Sin minta diri dan berpamit, piauwsu itu dan isterinya menahan-nahannya.

"Tee-sicu sudah menyelamatkan keluargaku, berarti sudah menjadi seperti keluarga atau sahabat baik kami sendiri, mengapa begitu tergesa-gesa? Sicu akan mengecewakan hati kami sekeluarga apa bila tidak mau tinggal di sini untuk beberapa hari lamanya, sekedar memberi kesempatan kepada kami untuk menyatakan terima kasih kami," Ciok-piauwsu berkata.

Oleh karena dibujuk-bujuk, akhirnya Beng Sin merasa tidak enak juga hingga akhirnya dia menyetujui. Pada sore harinya, ketika Beng Sin dan tuan rumah bercakap-cakap di kebun belakang, Ciok-piauwsu bertanya dari mana pemuda itu mempelajari ilmu silat dan dari golongan apa.

"Saya belajar dari paman saya sendiri, lo-enghiong. Saya sudah yatim piatu, ayah saya telah tiada dan ibu saya sudah masuk menjadi nikouw dan tidak berurusan lagi dengan dunia, dan sejak kecil saya dirawat dan dididik oleh paman saya yang bernama Kui Hok Boan. Karena paman saya pernah menjadi murid Go-bi-pai, maka saya kira ilmu silat yang diajarkan kepada saya tentu dari aliran Go-bi-pai."

Wajah Ciok-piauwsu berseri. "Ahhh, kalau begitu kita adalah orang sendiri!" Dia berseru girang. "Ketahuilah, sicu. Aku sendiri pun adalah seorang murid Go-bi-pai!"

"Kalau begitu, lo-enghiong mengenal paman saya?"

Piauwsu itu menggeleng kepala. "Murid Go-bi-pai ribuan orang banyaknya dan berpencar di mana-mana. Menurut penuturanmu, pamanmu datang dari utara ada pun aku tinggal di selatan, biar pun antara kami memiliki sumber ilmu silat yang sama, tetapi tentu diajarkan oleh guru-guru yang berbeda. Sicu, kalau boleh, aku ingin melihat ilmu silatmu. Harap kau perlihatkan ilmu golokmu, barang kali saja kita dapat saling memberi petunjuk karena ilmu kita satu aliran."

Dengan girang Beng Sin lalu bersilat. Goloknya yang besar dan berat itu diputar sampai mengeluarkan suara berdesing sehingga nampak gulungan sinar yang besar menyambar-nyambar. Setelah selesai, piauwsu itu mengangguk-angguk.

"Ilmu golokmu sudah cukup baik, akan tetapi sayang..."

"Bagaimana, lo-enghiong?"

"Masih banyak kekurangannya karena agaknya tercampur dengan ilmu dari sumber lain sehingga agak lemah, terutama sekali di bagian penyerangan. Ilmu golok Go-bi-pai yang asli banyak menggunakan penyerangan dari bawah yang amat lihai dan berbahaya bagi lawan. Coba kau lihat, akan tetapi golokmu terlampau berat untukku, sicu, maka biarlah aku memakai golok biasa dan kau lihatlah baik-baik."

Ciok-piauwsu lalu bersilat dengan sebatang golok biasa dan gerakannya memang dikenal oleh Beng Sin sebagai ilmu golok Go-bi-pai, akan tetapi terdapat perbedaan-perbedaan dan terutama sekali sesudah kakek setengah tua itu bersilat semakin cepat, gerakannya berbeda dan sekarang dia melihat berkali-kali piauwsu itu bergulingan kemudian goloknya menyambar-nyambar dari bawah dengan amat cepatnya.

Melihat ini, Beng Sin kagum sekali. Ternyata benar ucapan Siu Lan dan ibunya bahwa piauwsu ini memang benar mempunyai ilmu silat yang tinggi sehingga kalau piauwsu ini mengawal anak isterinya, tentu lima orang perampok itu akan ketemu batunya!

"Lo-enghiong, saya mohon petunjuk!" Beng Sin berkata setelah piauwsu itu menghentikan permainan silatnya.

Ciok-piauwsu berdiri sambil tertawa dan mengangguk-angguk, "Boleh, boleh... akan tetapi untuk itu sicu harus tinggal di sini selama beberapa hari."

Tentu saja Beng Sin setuju dan menghaturkan terima kasih. Mulai hari itu pemuda gendut ini menerima petunjuk-petunjuk dalam ilmu golok Go-bi-pai dari Ciok-piauwsu. Bila dibuat perbandingan, belum tentu Kui Hok Boan kalah oleh Ciok-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu golok Go-bi-pai, memang ilmu yang dimiliki Kui Hok Boan kalah murni.

Kui Hok Boan adalah murid Go-bi-pai, murid mendiang Kauw Kong Hwesio, akan tetapi dia pun telah memperdalam ilmu silatnya dengan ilmu-ilmu dari sumber lain sehingga ilmu golok yang diajarkannya kepada Beng Sin sudah tidak asli lagi. Sebaliknya, Ciok-piauwsu adalah murid Go-bi-pai yang tidak mencampurkan ilmu golok itu dengan ilmu lainnya, dan selain itu, memang dia paling suka dengan senjata ini sehingga dalam hal memainkan golok dia lebih mahir.

Selama kurang lebih sepuluh hari Beng Sin tinggal di situ, dan setiap hari dengan tekun menerima petunjuk-petunjuk sehingga kepandaiannya dalam hal memainkan golok dalam ilmu golok Go-bi-pai menjadi lebih matang, bahkan dia kini mampu melakukan jurus-jurus bergulingan yang sangat lihai itu. Akan tetapi di samping itu, juga hubungannya dengan keluarga itu menjadi semakin akrab.

Pada hari ke sebelas, pada saat Beng Sin bermohon diri dari tuan rumah, Ciok-piauwsu mengajaknya duduk bercakap-cakap di ruang belakang. Piauwsu yang selama beberapa hari ini sangat memperhatikan Beng Sin dan merasa suka kepada pemuda gendut yang ramah dan jujur ini, berkata, "Tee-sicu, ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan kepada sicu, harap sicu tidak menjadi kecil hati."

"Ahhh, lo-enghiong sudah begitu baik kepada saya, seperti seorang guru saya, mengapa masih begitu sungkan? Kalau ada sesuatu, tanyakanlah saja tanpa ragu-ragu."

"Begini, sicu. Hal ini sudah saya bicarakan dengan isteri dan puteri kami, dan kami ingin sekali tahu apakah sicu sudah berkeluarga? Maksud saya, apakah sudah menikah?"

Pertanyaan ini membuat Beng Sin yang jujur terbelalak heran, akan tetapi cepat-cepat dia menggelengkan kepala.

"Dan sudah bertunangan ataukah belum?"

"Belum, lo-enghiong... akan tetapi kenapa...?"

"Bagus! Ketahuilah, sicu, setelah berkenalan dengan sicu, apa lagi mengingat betapa sicu telah menyelamatkan puteri kami dari bahaya, maka kami mengambil keputusan hendak menyerahkan puteri kami kepada sicu, yaitu kami ingin mengikatkan perjodohan di antara puteri kami dengan sicu... harapan kami agar sicu tidak menolak maksud baik kami ini."

Tentu saja Beng Sin menjadi kaget dan bingung bukan main, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Mukanya yang gemuk menjadi kemerahan sebab memang sesungguhnya dia sama sekali belum berpikir tentang perjodohan, sungguh pun diam-diam dia merasa telah ‘jatuh cinta’ kepada Lin Lin, adik misannya itu.

"Ini... ini... saya belum pernah berpikir tentang perjodohan, lo-enghiong, dan pula... tentu saya harus bertanya dahulu kepada paman saya sebelum memberi keputusan...," katanya gagap.

Piauwsu itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sikap pemuda ini jelas menunjukkan bahwa pemuda ini masih hijau dan polos, masih seorang perjaka tulen sehingga hatinya menjadi semakin suka.

"Tentu saja, sicu. Sewaktu-waktu aku akan pergi mendatangi pamanmu itu untuk minta persetujuannya. Dalam waktu dekat aku akan mengunjungi dusun Pek-jun untuk bicara dengan pamanmu kalau saja engkau sendiri sudah setuju. Kecuali kalau sicu menolak karena anak kami memang buruk rupa dan bodoh..."

"Ahh, tidak, tidak demikian, lo-enghiong. Puterimu adalah seorang gadis yang cantik dan baik... akan tetapi harap lo-enghiong tidak tergesa-gesa sebab terus terang saja, keluarga kami sedang mengalami persoalan yang menyedihkan. Paman saya sedang dalam duka karena kehilangan kedua orang puterinya, bahkan saya sekarang ini pun sedang dalam tugas untuk mencari jejak kedua orang adik misan saya itu. Sudah setengah tahun saya meninggalkan rumah dan belum juga berhasil. Saya sudah menemukan jejak mereka ke daerah ini, akan tetapi belum juga berhasil menemukan kedua orang adik misan saya itu."

"Ahh!" Ciok-piauwsu nampak terkejut, "Kalau saya boleh tahu, apakah yang terjadi, sicu? Siapa tahu saya dapat membantumu."

Dengan singkat Beng Sin menceritakan peristiwa yang menimpa diri dua piauw-moinya (adik perempuan misan) itu. Dia sudah percaya kepada piauwsu ini yang telah dianggap sebagai guru sendiri. Tentu saja dia tidak bercerita terlalu banyak, hanya menceritakan bahwa dua orang gadis kembar itu melarikan diri akibat tidak mau dijadikan selir pangeran dan sekarang dia harus mencari mereka sampai dapat.

Mendengar cerita ini, Ciok-piauwsu menjadi terheran-heran. "Diangkat selir oleh pangeran adik kaisar? Itu merupakan kehormatan yang amat tinggi! Kenapa mereka melarikan diri... ehh, tadi kau bilang mereka itu adalah saudara kembar? Ahh, betapa kebetulan sekali!" Tiba-tiba piauwsu itu berkata dengan wajah berseri-seri. "Aku... aku tahu di mana adanya mereka! Ahh, kenapa tidak sejak dulu engkau menceritakan padaku, sicu? Mari, mari kau ikut aku!"

Bukan main kagetnya Beng Sin mendengar ini. Tidak disangkanya sama sekali bahwa piauwsu ini justru tahu tentang Lan Lan dan Lin Lin!

"Benarkan engkau tahu, lo-enghiong? Di mana mereka?"

"Agaknya tidak salah lagi! Majikanku, yaitu ketua atau pemilik Hek-eng Piauwkiok sudah memungut sepasang gadis yatim piatu sebagai anak-anak angkatnya! Agaknya mereka itulah adik-adikmu itu! Tidak salah lagi. Mereka pun pandai ilmu silat. Majikanku melihat mereka ketika mereka dibajak di Sungai Huang-ho dan majikanku menolong mereka, lalu membawa mereka pulang dan mereka diambil anak angkat!"

Bergegas mereka lalu pergi ke rumah ketua Hek-eng Piauwkiok yang bernama Ciang Lok, yaitu seorang piauwsu kawakan yang tidak memiliki keturunan dan yang pada beberapa bulan yang lalu telah mengangkat dua orang gadis kembar menjadi anak-anak angkatnya. Setelah tiba di situ, mereka disambut oleh Ciang Lok sendiri.

Begitu bertemu, Ciok-piauwsu cepat memberi hormat dan berkata, "Ciang-twako, di mana adanya dua orang anak angkatmu itu? Bila tidak salah, mereka itu adalah adik-adik piauw dari Tee-sicu ini yang mencari-carinya!"

Mendengar ucapan itu, Ciang Lok mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang, lalu memandang kepada pemuda gendut itu sejenak, kemudian tanpa menjawab pertanyaan pembantunya itu dia lalu bertanya kepada Beng Sin, "Apakah engkau mengenal seorang pemuda bernama Kwan Siong Bu?"

"Tentu saja!" Beng Sin menjawab. "Dia adalah kakak misanku pula, dan juga masih kakak misan dari kedua orang adik Lan dan Lin, sepasang gadis kembar yang saya cari itu!"

Piauwsu berusia lima puluh tahun lebih itu mengangguk-angguk, lantas kembali menarik napas panjang. "Harap kalian suka duduk dan mendengarkan ceritaku. Namun agaknya kedatanganmu terlambat, orang muda."

Tentu saja Beng Sin kaget sekali. Dia lalu cepat duduk bersama Ciok-piauwsu kemudian dengan hati tegang dia bertanya, "Terlambat bagaimana, lo-enghiong?"

"Baru tiga hari yang lalu datang seorang pemuda yang bernama Kwan Siong Bu itu, dan ternyata kedua orang anak angkatku itu mengenalnya sebagai kakak misan. Kemudian mereka berpamit karena dua orang anak angkatku itu terpaksa harus pulang ke dusun Pek-jun di utara bersama piauw-ko (kakak misan) mereka. Walau pun dengan hati sangat berat, tentu saja aku tidak berhak untuk melarang mereka."

Wajah Beng Sin berseri-seri. "Ahh, saya girang mendengar hal ini, lo-enghiong. Syukurlah kalau kedua piauw-moi telah pulang bersama Kwan-twako. Dan sebagai kakak misannya saya mengucapkan beribu terima kasih kepada lo-enghiong yang telah menolong mereka, bahkan bersikap baik kepada mereka, menampung dan memelihara mereka selama ini!" Beng Sin lalu bangkit berdiri dan memberi hormat. Tuan rumah itu balas menghormat.

"Hemmm, engkau sungguh baik sekali sicu, jauh lebih baik dari pada kakak misanmu itu yang kelihatan angkuh. Sebaiknya kalau sicu cepat menyusul mereka, karena hatiku akan merasa lebih tenang kalau sicu sendiri yang mengantar mereka pulang."

Beng Sin bergegas pamit dan kembali bersama Ciok-piauwsu. Dia langsung mengemasi pakaiannya kemudian berangkat hari itu juga setelah berjanji kepada Ciok-piauwsu untuk membicarakan hal usul perjodohan itu kepada pamannya. Juga di dalam kesempatan ini Beng Sin berpamit kepada nyonya Ciok dan kepada Siu Lan yang nampak berduka, akan tetapi dia melihat betapa dara ini makin cantik saja.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner