PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-56


Dengan menunggang kuda pemberian Ciok-piauwsu, Beng Sin lalu melakukan perjalanan cepat menuju pulang ke utara. Di sepanjang jalan dia mencari keterangan dan mendapat petunjuk bahwa memang benar dua orang gadis kembar itu ditemani oleh Kwan Siong Bu melakukan perjalanan, akan tetapi ternyata mereka melakukan perjalanan cepat berkuda pula sehingga dia yang sudah tertinggal selama tiga hari itu sukar untuk dapat menyusul mereka.

Sesudah melakukan perjalanan cepat, akhirnya Beng Sin tiba juga di pekarangan rumah pamannya di dusun Pek-jung. Dia melompat turun dari kudanya yang bermandi keringat, membiarkan seorang pelayan merawat kuda itu, dan dia sendiri segera berlari memasuki rumah pamannya.

Rumah itu sunyi saja! Hanya ada pelayan-pelayan yang memandang kepadanya dengan kaget karena tuan muda yang baru datang ini kelihatan tergesa-gesa dan begitu tegang.

"Di mana tuan besar? Di mana kedua orang siocia?" Berkali-kali dia bertanya dan para pelayan hanya menggelengkan kepala.

Beng Sin tidak sabar lagi dan berlari mencari ke seluruh kamar di rumah itu. Akhirnya dia pun melihat Siong Bu seorang diri di dalam lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang luas, agaknya habis berlatih silat karena pedang telanjang masih di tangannya dan mukanya berkeringat. Dia sedang mengusap peluhnya, dan segera tersenyum lebar ketika melihat masuknya Beng Sin.

"Ha, kau baru datang Sin-te (adik Sin)? Ha-ha-ha, aku lebih berhasil menemukan Lan-moi dan Lin-moi dan membawa mereka pulang tiga hari yang lalu. Kau tahu di mana mereka itu? Ha, betapa bodohnya kita, mencari ke timur dan ke barat, padahal mereka itu pergi..."

"Aku sudah tahu, Bu-ko. Aku baru saja datang dari Su-couw, bahkan aku lebih dulu tiba di Su-couw dari pada engkau, hanya tidak kebetulan... ah, sudahlah. Engkau telah berhasil menemukan mereka dan membawanya kembali ke sini, itu yang penting. Tetapi di mana mereka sekarang? Dan di mana paman?"

Kembali Siong Bu tertawa dan pemuda ini nampak girang bukan main. "Duduklah, Sin-te, duduklah di sini. Kita bernasib baik sekarang! Ahhh, kita akan bisa menjadi orang-orang penting di istana! Pendeknya, kita dapat menjadi pembesar tanpa melalui ujian apa pun, dan Pangeran Ceng Han Houw tentu akan menolong kita. Paman juga gembira bukan main, dan kemarin paman sendiri pergi ke kota raja untuk menemui pangeran!"

Berubah wajah Beng Sin, alisnya berkerut dan jantungnya berdebar tegang. "Apa...? Apa maksudmu, Bu-ko? Di mana Lan-moi dan Lin-moi?"

Melihat ini, Siong Bu memandang dengan heran. "Tentu saja mereka berada di istana Pangeran Ceng Han Houw! Masa engkau masih harus bertanya lagi, Sin-te? Kita disuruh mencari untuk membawa mereka pulang dan untuk diserahkan kepada pangeran, karena kalau tidak, sudah tentu kita sekeluarga akan celaka. Dan begitu berhasil, aku kebetulan bertemu pangeran sebelum tiba di rumah, maka tentu saja menjadi lebih mudah bagiku untuk menyerahkan mereka kepada pangeran dan beliau girang sekali, bahkan langsung membawa mereka berdua ke istana dan menjanjikan kepadaku bahwa keluarga kita akan memperoleh kedudukan tinggi! Bukan hanya kemuliaan di istana atau di kota raja, Sin-te, bahkan lebih lagi! Diam-diam pangeran telah menjanjikan sesuatu yang lebih hebat lagi!" Pemuda berwajah tampan itu tersenyum-senyum dan wajahnya berseri tanda bahwa dia merasa gembira sekali.

Diam-diam Beng Sin merasa terkejut, marah akan tetapi juga heran bukan main. Dia tahu bahwa kakak misannya ini mencinta Kui Lan, akan tetapi kenapa sekarang begitu girang menyerahkan dara yang dicintanya itu kepada pangeran? Dia masih berusaha menahan kemarahannya, dan dengan suara dingin dia bertanya, "Hemmm, sesuatu apakah yang dijanjikannya itu?"

Dalam kegembiraannya, Siong Bu tidak mendengar betapa suara adik misannya itu dingin sekali dan sinar mata yang biasanya jenaka itu berapi-api. Maka sambil tersenyum dia menjawab, "Ahh, hal ini hanya kuberi tahukan kepadamu, Sin-te, tentu paman tidak kuberi tahu karena ini merupakan rahasia kita berdua. Apa yang dijanjikan oleh pangeran itu? Beliau berkata bahwa kelak, kalau dia tidak membutuhkan lagi dia akan menghadiahkan Lan-moi dan Lin-moi kepadaku! Ha-ha-ha, tentu saja Lin-moi akan kuserahkan kepadamu, Sin-te!"

"Plakkk!"

"Hei, gilakah engkau?!" Siong Bu meloncat ke belakang, segera melintangkan pedangnya dan menggosok-gosok pipinya yang tadi ditampar oleh Beng Sin dengan keras sekali itu. Ujung bibirnya berdarah. Dia dapat ditampar karena sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa adik misan yang sejak kecil takut dan taat kepadanya itu tiba-tiba menyerangnya seperti itu.

"Bu-ko, sungguh hatimu busuk dan kotor sekali!" Beng Sin membentak marah.

Memang semenjak kecil dia mengenal Siong Bu sebagai orang yang nakal, disangkanya bahwa Siong Bu yang sangat mencinta Kui Lan itu akan melindungi dara itu. Siapa kira, dengan keji sekali Siong Bu bahkan menyerahkan kedua orang dara kembar itu kepada pangeran dan merasa gembira akan memperoleh hadiah kedudukan, bahkan begitu tidak tahu malu untuk bergirang hati oleh janji pangeran bahwa kelak apa bila pangeran sudah bosan, dara kembar itu akan dihadiahkan kepadanya!

Memang sejak kecil dia takut dan menurut kepada Siong Bu karena memang dia merasa kalah. Akan tetapi sekarang, setelah mereka sama-sama dewasa, apa lagi demi membela Kui Lan dan terutama sekali Kui Lin yang dicintanya, dia tidak akan takut melawan Siong Bu. Apa lagi Siong Bu, siapa pun akan dilawannya demi untuk membela dara kembar itu.

"Sin-te, apakah engkau sudah gila? Engkau berani menamparku?" Siong Bu memandang marah.

"Bu-ko, hatimu busuk! Kusangka engkau menyayang Lan-moi dan Lin-moi, kukira engkau mencari mereka untuk melindungi, akan tetapi siapa sangka, engkau malah menyerahkan mereka kepada pangeran, seperti mendorong masuk dua ekor domba ke kandang srigala! Engkau layak ditampar, bahkan patut dibunuh karena engkau jahat!"

"Keparat! Jadi engkau bukan hanya berani menentangku, bahkan engkau hendak menjadi pemberotak menentang pangeran? Jahanam busuk, aku harus membunuhmu!" Siong Bu membentak sambil memegang sarung pedang dengan tangan kiri dan pedang di tangan kanannya digerakkan di depan mukanya.

"Hemm, boleh kau coba! Akulah yang akan menamatkan riwayatmu karena engkau busuk dan hina, dan aku harus membalaskan penghinaan yang kau timpakan atas diri Lan-moi dan Lin-moi!"

"Beng Sin, tutup mulutmu yang kotor! Kubunuh engkau!" bentak Siong Bu makin marah.

Beng Sin melintangkan golok di depan dada, tangan kirinya memegang punggung golok besar itu dan dengan tenang berseru, "Majulah, manusia busuk!"

Pada saat itu, terdengar teriakan dari pintu. "Tahan! Jangan berkelahi!"

Suara itu adalah suara Kui Hok Boan yang muncul di pintu dan terkejut melihat dua orang pemuda itu saling berhadapan dengan senjata di tangan, dan kelihatannya bukan seperti sedang berlatih silat seperti biasa karena wajah mereka tegang dan kelihatan marah.

Akan tetapi, begitu melihat munculnya pamannya yang dianggapnya tentu cocok dengan dia mengenai urusan Lan Lan dan Lin Lin, Siong Bu sudah menubruk maju dan berkata, "Paman, bocah ini hendak memberontak!" Lantas pedangnya sudah menyambar-nyambar ganas.

Beng Sin cepat mengelak sambil menangkis dengan penuh kewaspadaan karena dia pun maklum betapa kakak misan atau juga suheng-nya ini pandai sekali bermain pedang.

"Jangan berkelahi!" bentak pula Kui Hok Boan.

Akan tetapi dua orang muda itu sudah begitu marah, dan terutama sekali Beng Sin sudah membenci sekali karena tahu betapa dua orang dara itu seakan-akan disuguhkan begitu saja oleh Siong Bu kepada pangeran itu dan dia dapat membayangkan betapa sengsara dan sedihnya hati dua orang dara kembar itu dan bahwa keadaan mereka sukar ditolong lagi karena kini sudah berada dalam cengkeraman pangeran itu. Maka segala kedukaan, penyesalan serta kemarahannya dia timpakan kepada Siong Bu yang dianggap sebagai biang keladinya.

Siong Bu yang merasa bahwa pamannya tentu membenarkannya juga menyerang dengan ganas sekali dan meski pun pamannya sudah berteriak agar mereka jangan berkelahi, dia masih terus menyerang dan tidak mau mengalah, apa lagi karena di fihak Beng Sin juga sudah terus menyerangnya dengan nekat.

Kui Hok Boan sendiri sejenak termangu-mangu, tak tahu harus berbuat apa. Dia baru saja kembali dari kota raja dan berjumpa dengan Pangeran Ceng Han How, diterima sebagai tamu terhormat dan diberi janji-janji muluk oleh sang pangeran. Akan tetapi, dia tak dapat bertemu dengan dua orang anaknya. Meski pun dia sudah memohon kepada pangeran itu untuk bertemu dengan kedua orang anaknya, akan tetapi Pangeran Ceng Han Houw tidak mengijinkannya dan hanya berkata bahwa dua orang puterinya itu telah berada di bagian keputren dan tidak bisa sembarangan begitu saja keluar dari istana.

"Harap engkau tidak khawatir, mereka akan baik-baik saja, hidup di dalam kemuliaan dan kemewahan," Ceng Han Houw berkata sambil tersenyum, lalu Kui Hok Boan dipersilakan untuk bermalam di dalam istana.

Walau pun dia memperoleh kamar yang sangat mewah dan indah, namun Kui Hok Boan merasa gelisah. Sebagai seorang ayah, betapa pun juga dia mengkhawatirkan keadaan dua orang puteri yang dicintanya.

Sejak Lan Lan dan Lin Lin minggat, selama berbulan-bulan lamanya dia berduka sekali dan sesudah kini kedua orang puterinya itu ditemukan oleh Siong Bu, dia belum sempat bertemu karena mereka telah diserahkan kepada Pangeran Ceng Han Houw oleh Siong Bu. Dia merasa rindu sekali dan ingin melihat wajah dua orang puterinya, akan tetapi tidak ada kesempatan baginya.

Diam-diam dia mulai menyesal. Walau pun dia akan mendapatkan hadiah dan mendapat kedudukan, apa artinya kalau dia tidak dapat lagi bertemu dengan mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka itu benar-benar hidup berbahagia?

Karena itu, biar pun dia mendapat pelayanan sebagai tamu agung, Kui Hok Boan merasa tidak betah tinggal di istana dan pada keesokan harinya dia sudah berpamit dan pulang ke rumahnya di dusun Pek-jun. Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dua orang keponakan itu sedang saling berhadapan kemudian berkelahi mati-matian. Hatinya terlalu pedih, terlalu risau untuk dapat bertindak cepat sehingga dia hanya bisa berteriak-teriak melarang mereka berkelahi, seolah-olah tidak tahu harus berbuat apa lagi, bahkan sama sekali tidak turun tangan melerai mereka.

Tiba-tiba Kui Hok Boan terbelalak kaget melihat Beng Sin menjatuhkan diri bergulingan di lantai. Itulah jurus-jurus Trenggiling asli dari Go-bi-pai yang tak sempat dia pelajari! Heran bukan main hatinya. Dari mana Beng Sin dapat mainkan jurus-jurus yang berbahaya dan lihai ini?

Juga Siong Bu terkejut bukan main. Beberapa kali pedangnya masih mampu melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba tangannya yang memegang pedang kena tendangan dari bawah sehingga pedangnya terlepas dan pada saat itu pula golok Beng Sin menyambar.

"Cappp!"

"Ughhh!" Siong Bu menjerit dan darah bercucuran dari perutnya yang robek.

"Heiiiii...!" Kui Hok Boan juga berseru dan meloncat ke depan, menendang tangan Beng Sin yang memegang golok.

Beng Sin yang berdiri terbelalak memandang kepada kakak misannya yang roboh sambil mendekap perut yang terobek itu, tidak mengelak dan goloknya terlepas ketika tangannya ditendang oleh pamannya.

"Siong Bu...!" Kui Hok Boan menubruk pemuda yang berkelojotan itu.

Siong Bu merintih-rintih, kedua tangan mendekap perut menahan isi perutnya yang mau keluar. "Paman... aduhhh... mati aku, paman..." Dia merintih dan menangis.

"Siong Bu... ahh, Siong Bu, anakku...! Ah, Beng Sin, apa yang kau lakukan ini? Apa yang telah kalian lakukan ini?"

Hok Boan menjerit-jerit dan memukul-mukul tanah dengan tangan kanan, ada pun tangan kirinya merangkul leher Siong Bu. "Kalian adalah saudara-saudara seayah, kalian adalah anak-anakku sendiri berlainan ibu, tetapi sekarang kalian saling serang, saling bunuh! Ya Tuhan...!"

Beng Sin terbelalak dan wajahnya menjadi pucat sekali. Dia pun berlutut dan memandang ayahnya dengan bingung.

"Paman... ayahku... bagaimana ini...?" dia tergagap.

"Siong Bu, ibumu adalah mendiang Kwan Siang Li, dia seorang janda... dan akulah ayah kandungmu... dan kau Beng Sin, ibumu yang kini menjadi nikouw bernama Tee Cui Hwa, dan akulah ayah kandungmu pula... namun sekarang kau… membunuh saudara tirimu, seayah...!" Kui Hok Boan tak dapat menahan diri lagi, menangis terisak-isak karena Siong Bu mulai lemas dan kepala pemuda itu terkulai.

Beng Sin memegang tangan yang makin lemas itu. "Bu-ko, maafkan aku... aku tidak tahu, bahwa... kita... kita masih seayah...," katanya seperti berbisik.

Perlahan-lahan Siong Bu membuka matanya, bibirnya tersenyum. Agaknya sekarang rasa nyeri telah meninggalkannya. "Aku... aku... yang salah...!" Dia memejamkan matanya dan napasnya putus!

Kui Hok Boan menangis dan menjambak-jambak rambutnya. Sekarang Beng Sin bangkit berdiri, memandang kepada ayahnya itu dengan sepasang mata berapi-api. Sesudah kini dia mendengar bahwa paman atau juga gurunya ini ternyata adalah ayah kandungnya sendiri, hatinya merasa makin sedih dan menyesal.

Ayah macam apa yang dimilikinya ini? Anak-anak sendiri, dia dan Siong Bu tak diakuinya sebagai anak, dirahasiakan! Kemudian, Lan Lan dan Lin Lin, dara kembar yang menjadi puteri kandungnya sendiri, juga secara keji telah diserahkan kepada Pangeran Ceng Han Houw. Dan dia teringat pula betapa penakut dan pengecut sikap ayahnya ini saat muncul musuh-musuh yang tangguh, yaitu Kim Hong Liu-nio dan Pangeran Ceng Han Houw.

Kini, mengingat akan nasib Lan Lan dan Lin Lin, melihat pula akibatnya yang membuat dia sampai membunuh Siong Bu yang ternyata malah saudaranya sendiri, yaitu saudara seayah, Beng Sin merasa menyesal hingga semua penyesalan itu ditimpakannya kepada ayahnya yang kini terisak-isak di tempat itu seperti seorang anak kecil yang tidak diberi permen!

"Kau... kau manusia busuk, manusia tak berperasaan, engkau telah menjual puteri sendiri kepada pangeran! Engkau adalah manusia terkutuk!" Setelah berkata demikian, Beng Sin memungut goloknya kemudian berlari meninggalkan tempat itu, tak mempedulikan suara ayahnya yang berteriak-teriak memanggilnya.

"Beng Sin...! Beng Sin anakku, kembalilah...!"

Hok Boan bangkit berdiri, hendak lari mengejar, akan tetapi teringat kepada Siong Bu, lalu kembali dan menjatuhkan diri berlutut lagi, lalu menangis, meratapi nasibnya yang buruk. Dua orang puterinya diambil pangeran, Siong Bu tewas, dan Beng Sin melarikan diri! Dia ditinggal seorang diri saja di dunia ini!

Para pelayan yang mendengar ribut-ribut kemudian datang ke lian-bu-thia itu terkejut dan segera mundur kembali dengan ngeri melihat majikan mereka meratapi mayat tuan muda yang mandi darah!

Betapa sebagian besar dari kita ini sering kali bersikap seperti Kui Hok Boan! Kita selalu menyesali nasib dan menyalahkan segala peristiwa yang kita anggap buruk kepada sang ‘nasib’. Mengapa kita begitu buta, tidak pernah mau membuka mata untuk memandang dan melihat kenyataan bahwa semua sebab dari segala ‘nasib’ berada di dalam diri kita sendiri? Kitalah sumber segala penyakit itu, kitalah sumber segala duka, sumber segala kesengsaraan! Dan hal ini baru dapat nampak kalau kita memandang diri sendiri setiap waktu tanpa membenarkan atau menyalahkan, tanpa pendapat atau kesimpulan, tanpa pamrih!

Segala peristiwa yang terjadi merupakan rangkaian yang sambung-menyambung seperti lingkaran setan, dan semua pendapat serta penilaian adalah hasil pekerjaan dari pikiran kita sendiri. Pikiran menciptakan sang aku yang selalu ingin senang, ingin benar, ingin baik, ingin enak!

Kita membenci seseorang. Mengapa? Demikian pikiran bekerja. Karena orang itu jahat, karena orang itu merugikan aku, baik merugikan secara lahir mau pun batin. Pendeknya, orang itu merugikan aku, tidak menyenangkan aku, maka aku membencinya.

Kebencian ini adalah buatan pikiran yang menilai atas dasar untung rugi bagi sang aku, dan kebencian ini menerbitkan serangkaian perbuatan kekerasan, seperti memaki orang itu atau memukulnya dan sebagainya, pendeknya agar dapat melampiaskan dendam dan kebencian kita terhadap orang itu.

Apakah perbuatan ini dapat menghilangkan kebencian tadi? Tidak sama sekali tentunya, bahkan perbuatan ini akan menimbulkan serangkaian akibat-akibat lainnya yang berupa kekerasan-kekerasan. Ada kalanya kita merasa menyesal karena kita ingat, baik melalui orang lain atau pun diri sendiri bahwa kebencian merupakan hal yang tidak baik. Kini kita membalik pandangan kita terhadap diri sendiri. Tadinya, kita menujukan pandangan kita kepada orang lain, pandangan dengan penuh penilaian pikiran, pertimbangan untung rugi sehingga menimbulkan kebencian. Kini, setelah kita memandang kepada diri sendiri, kita memandang pula dengan penilaian pikiran.

Ada kalanya pikiran menganggap bahwa kebencian ini tidak baik dan harus disingkirkan, dilenyapkan. Di lain saat pikiran membela diri sendiri, perbuatannya sendiri, menganggap bahwa kebencian kita itu sudah tepat dan betul karena memang orang itu jahat dan layak dibenci, dan sebagainya. Jelaslah, bahwa yang menimbang, yang menilai ini, juga masih si pikiran atau sang aku itu tadi. Yang menilai ini tidak ada bedanya dengan yang menilai orang yang dianggap jahat tadi, yang menilai kebencian baik atau buruk ini pun adalah sang kebencian itu sendiri, tiada bedanya dengan si pikiran itulah.

Dengan demikian, pikiran kadang-kadang berubah menjadi ini dan menjadi itu, akan tetapi kesemuanya itu merupakan lingkaran setan yang masih terjadi dalam lingkungan pikiran. Dengan demikian, kebencian itu akan selalu tetap ada, bahkan makin diperkuat, makin diperbesar karena dipupuk oleh pikiran sendiri yang menilai-nilai.

Dapatkah kita memandang tanpa penilaian? Baik memandang kepada orang yang kita lalu nilai sebagai jahat itu, mau pun memandang kepada kebencian kita yang kita nilai pula sebagai benar atau salah itu? Kalau kita dapat memandang tanpa ada sesuatu yang memandang, tanpa ada sesuatu yang menilai, melainkan memandang dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran, tanpa ada yang waspada atau sadar, karena apa bila ada berarti akan timbul pula penilaian-penilaian, maka dengan sendirinya kebencian itu akan kehilangan tenaganya, akan lenyap dengan sendirinya karena tidak ada lagi pemupukan.

Kita sadar bahwa ada kebencian di dalam hati kita, akan tetapi kita tidak menilai, tidak membenarkan atau menyalahkan, kita memandang saja! Kita dalam hal ini, adalah sang pikiran itu, dan kebencian merupakan sang pikiran itu pula. Biarkan pikiran memandang pikiran sendiri, tanpa ada kesatuan lain yang menilai atau menimbang, tanpa ada sesuatu yang membenarkan atau menyalahkan.


Kui Hok Boan terguncang batinnya akibat semua peristiwa itu, terhimpit oleh penyesalan, kedukaan, ketakutan dan akhirnya semua pelayan melihat orang yang dianggap pandai, baik dalam kesusasteraan mau pun dalam ilmu silat, juga kaya raya ini, menangis sambil tertawa, menjambak-jambak rambutnya sendiri dan bersikap seperti orang yang otaknya miring atau gila…..!

********************

Dengan muka merah karena marah, Beng Sin terus berlari meninggalkan dusun itu dan di sepanjang perjalanan banyak hal memenuhi pikirannya. Kui Lin ternyata adalah adiknya sendiri, adik tiri seayah! Dia merasa sangat heran mengapa Kui Hok Boan, paman yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri itu terus merahasiakan bahwa dia dan Siong Bu adalah anak-anak kandungnya sendiri.

Tentu ada rahasia di balik semuanya ini! Dan dia harus dapat mengetahui rahasia itu. Dia harus dapat bertemu dengan ibu kandungnya. Bukankah ibu kandungnya sudah menjadi nikouw? Pernah Kui Hok Boan yang ketika itu sebagai pamannya, menjawab pertanyaan tentang ibunya, yaitu bahwa ibunya kini telah menjadi nikouw di Kelenteng Kwan-im-bio di tepi Sungai Fen-ho di kaki Pegunungan Lu-liang-san, di luar sebuah dusun yang bernama Kwan-si-men. Dia akan mencari ibunya, untuk bertanya tentang riwayat ibunya agar tahu siapa sebetulnya Kui Hok Boan yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu! Dan setelah itu, barang kali, dia akan pergi ke selatan, mencari keluarga Ciok yang telah berlaku baik kepadanya dan yang mengusulkan perjodohan antara dia dan Ciok Siu Lan.

Pemuda gendut yang pergi tanpa membawa pakaian, hanya membawa goloknya dan sisa bekal uang yang masih ada padanya, kini melanjutkan perjalanan menuju ke Pegunungan Lu-liang-san yang terletak di barat daya. Perjalanan yang sangat sukar, melalui daerah-daerah yang liar, pegunungan dan hutan-hutan lebat, namun pemuda yang sudah merasa bahwa sekarang dia hidup seorang diri itu dengan tabah menempuh segala kesukaran itu, mengandalkan golok besarnya, melanjutkan perjalanannya tanpa mengenal lelah.

Sesudah melakukan perjalanan selama berpekan-pekan, akhirnya dia tiba juga di daerah kaki Pegunungan Lu-liang-san. Pegunungan itu nampak dengan puncak-puncaknya yang menjulang tinggi menembus awan, nampak seperti raksasa tidur yang sangat angker dan menyeramkan.

Senja itu indah sekali. Matahari sudah menyembunyikan diri di balik puncak Lu-liang-san, akan tetapi cahayanya masih membakar langit di barat, menciptakan warna-warna yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena indahnya. Ada warna merah yang aneh, merah bercampur kuning dan biru, dan di bagian agak ke utara nampak awan bergumpal-gumpal dengan bentuk-bentuk yang beraneka macam, bentuk-bentuk yang bukan main anehnya dan yang tak mungkin ada yang sama. Awan-awan itu bergerak perlahan dan setiap saat berubah bentuk, akan tetapi di sisi agak ke selatan nampak lautan hitam dari awan yang kokoh dan tak pernah bergerak nampaknya, seolah-olah selamanya tak akan berubah.

Puncak gunung mulai kelihatan kehitaman, sementara pohon-pohon juga kelihatan mulai tenang seolah siap untuk mengundurkan diri ke dalam kegelapan malam di mana mereka akan beristirahat dalam kegelapan dan kesunyian. Melihat keadaan di sekeillingnya pada saat itu, yang menciptakan ketenangan dan keheningan, sejenak Beng Sin lupa akan diri sendiri, lupa bahwa dia ada, dan merasa betapa dia sudah dilebur menjadi satu dengan segala yang nampak itu.

Akan tetapi, begitu pikirannya masuk memecahkan keheningan itu, lenyaplah keheningan dan datanglah iba diri karena dia merasa betapa dia hidup seorang diri dan betapa dia terpencil dan sunyi seperti sebatang pohon pek di kejauhan yang tumbuh terpencil di tepi sebuah jurang. Maka datanglah kedukaan.

Tak lama kemudian, ketika kegelapan mulai menyelubungi bumi, pemuda itu sudah duduk bersandar pada sebatang pohon. Di dekatnya bernyala api unggun dan ia pun termenung memandang api yang bergerak-gerak, satu-satunya yang nampak hidup pada waktu itu, dengan lidah-lidah api merah kekuningan yang seperti menari-nari dengan gembira. Akan tetapi, api yang indah bercahaya itu pun akhirnya akan padam dan lenyap, yang tinggal hanyalah abu dan asap yang kemudian pun akan menghilang tanpa bekas.

Pada keesokan harinya, Beng Sin mulai mencari keterangan. Akan tetapi para petani dan penghuni gunung yang ditemuinya, tidak seorang pun di antara mereka yang mengenal nama dusun Kwan-si-men atau Kuil Kwan-im-bio. Mereka hanya tahu di mana letaknya Sungai Fen-ho dan akhirnya Beng Sin mencari sungai ini. Setelah bertemu dengan sungai ini, dia mulai menyusuri sungai itu karena dia yakin bahwa dengan cara ini akhirnya dia akan bertemu dengan dusun yang dimaksudkan karena bukankah dusun itu terletak di tepi Sungai Fen-ho, di kaki Pegunungan Lu-liang-san?

Perhitungannya itu ternyata tepat karena beberapa hari kemudian, dari seorang nelayan, dia mendengar bahwa dusun Kwan-si-men terletak di depan, hanya tinggal belasan li lagi jauhnya dan bahwa memang di luar dusun itu terdapat sebuah kuil, yaitu kuil di mana Dewi Kwan Im dipuja sehingga dinamakan Kwan-im-bio. Mendengar ini, berdebar rasa jantung dalam dada Beng Sin dan dia mempercepat langkahnya menuju ke dusun itu.

Kuil itu kecil saja, merupakan beberapa buah bangunan kecil dengan bangunan pusat di depan yang digunakan sebagai tempat sembahyang. Halamannya cukup luas dan melihat halaman yang bersih itu menunjukkan bahwa kuil itu terurus dengan baik dan setiap hari halaman itu tentu disapu. Dari jauh sudah terdengar suara ketukan kayu yang mengiringi suara wanita berdoa. Sesudah dekat orang akan melihat asap hio mengepul, dan makin dekat lagi orang akan mencium bau harum dupa.

Walau pun para pengurus Kwan-im-bio adalah wanita-wanita yang sudah menjadi nikouw, namun pengunjungnya tidak terbatas golongan wanita saja. Oleh karena itu, munculnya Beng Sin di kuil itu tidak membuat heran para nikouw yang melayani para pengunjung yang hendak bersembahyang. Hanya keadaan pakaian serta sikap pemuda itulah yang mendatangkan rasa heran.

Biasanya, para pengunjung kuil itu hanyalah terdiri dari orang-orang dusun, petani-petani yang minta berkah supaya hasil sawah ladang mereka baik, dan para nelayan yang juga minta berkah supaya hasil penangkapan ikan mereka baik. Ada juga orang kota yang kadang-kadang datang, yaitu mereka yang mendengar berita dari bibir ke bibir bahwa kuil itu terkenal murah hati dan suka memenuhi atau mengabulkan doa-doa dan permintaan mereka yang datang bersembayang.

Akan tetapi pemuda ini selain jelas bukan petani atau pemuda nelayan, melainkan orang kota yang agaknya datang dari jauh bila melihat pakaiannya yang agak kotor, dan dapat diduga bahwa pemuda ini adalah seorang ahli silat kalau melihat golok besar mengerikan yang tergantung di punggungnya.

Para nikouw itu merupakan orang-orang yang hidup dengan bersih, yang menjauhi segala macam kekerasan, apa lagi yang mereka puja adalah Dewi Kwan Im yang juga terkenal sebagai Dewi Welas Asih, maka tentu saja mereka merasa ngeri melihat seorang pemuda gendut yang membawa-bawa golok besar yang berkilauan saking tajamnya itu!

Seorang nikouw tua cepat maju menghampiri dan mengangkat kedua tangan depan dada dengan jari-jari terbuka dan dimiringkan. "Omitohud..., agaknya sicu memiliki kepentingan sehingga jauh-jauh datang mengunjungi kuil kami. Apakah sicu hendak bersembahyang kepada Hud-couw?"

Beng Sin cepat memberi hormat dan berkata sejujurnya, "Maaf kalau saya mengganggu, akan tetapi kedatangan saya ini bukan untuk bersembahyang, melainkan hendak mencari seorang nikouw..."

Wajah halus nikouw itu kelihatan meragu dan pandang matanya penuh selidik, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, "Harap sicu maafkan. Para nikouw di sini adalah orang-orang yang sudah mengundurkan diri dari dunia ramai, berarti sudah tidak memiliki keluarga dan handai-taulan lagi, seluruh hidupnya telah diserahkan untuk mengabdi pada Kwan Im Hud-couw dan kepada peri kemanusiaan, tidak terikat lagi oleh ikatan keluarga atau sahabat."

"Saya tahu, akan tetapi yang saya cari adalah... ibu kandung saya sendiri yang menjadi nikouw di sini..."

Kembali nikouw tua itu menarik napas panjang. "Yang dimaksud keluarga juga termasuk anak, sicu, sebab itu semua nikouw yang berada di sini sudah tak ada ikatan lagi dengan dunia, tidak ada ikatan dengan keluarga, termasuk anak. Karena itu, apa bila sicu bukan bermaksud untuk bersembahyang, pinni mohon agar sicu suka meninggalkan kuil ini dan harap jangan mengganggu ketenteraman kehidupan para nikouw."

Beng Sin mengerutkan alisnya. Dia sudah melakukan perjalanan jauh dan susah payah akan tetapi setelah tiba di tempat yang dicarinya, dia disuruh pergi begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibunya, bahkan untuk sekedar mendapat keterangan apakah ibunya masih hidup ataukah sudah mati!

"Hemm, beginikah yang dinamakan peri kemanusiaan dan mengabdi peri kemanusiaan?" Dia berkata penasaran. "Agaknya para pendeta hanya mementingkan diri para pendeta sendiri, akan tetapi sama sekali tak mau mempedulikan perasaan hati orang-orang biasa! Apakah suthai tidak merasakan betapa rindu hati seorang anak kepada ibu kandungnya? Apakah suthai hendak membiarkan seorang anak menjadi kecewa dan berduka karena dia tidak diperbolehkan berjumpa dengan ibu kandungnya yang selamanya belum pernah dikenalnya karena sejak kecil telah dipisahkan? Bukankah itu merupakan perbuatan yang amat kejam, bertentang dengan sifat welas asih dari Kwan Im Hud-couw sendiri?"

Nikouw tua itu menarik napas panjang. "Ahhh, sicu tidak tahu tentang belas kasih! Belas kasih adalah cinta kasih, dan cinta kasih tidak lagi membeda-bedakan antara anak atau orang lain, tidak lagi mementingkan diri pribagi, tidak ada lagi iba diri. Kami para nikouw memandang semua orang seperti anak sendiri, seperti diri sendiri, dan pemisah-misahan antara anak dan orang lain itu hanya mendatangkan ikatan belaka dan mengembalikan kami kepada asal semula, yaitu dunia yang penuh dengan ikatan-ikatan. Harap sicu dapat memaklumi keadaan kami dan sudilah sicu pergi meninggalkan kami, dan tak pernah lagi menganggap bahwa ada ibu kandung di tempat ini. Tempat ini tak ada bedanya dengan tanah kuburan dan yang tinggal hanya namanya saja. Cukuplah, sicu, semoga Hud-couw memberkahimu." Setelah berkata demikian, nikouw itu menjura lantas pergi meninggalkan Beng Sin yang masih berdiri termangu-mangu di tempat itu.

Akhirnya dia tahu bahwa berdebat pun tidak akan ada gunanya, dan untuk memaksa pun selain dia tidak berani dan tidak mau, juga apa hasilnya? Dia tak akan dapat mengetahui yang mana ibu kandungnya. Dia tidak mungkin dapat berjumpa dengan ibu kandungnya kecuali kalau ibu itu sendiri yang memperkenalkan diri.

Dengan kedua kaki lemas Beng Sin keluar dari kuil itu dan akhirnya dia menjatuhkan diri di bawah pohon tak jauh dari kuil. Baru sekarang terasa olehnya betapa seluruh tubuhnya lemas dan lelah sekali.

Tadinya dia masih penuh semangat dan bayangan kegembiraan berjumpa dengan ibu kandungnya membuat dia lupa akan segala kesengsaraan perjalanan jauh itu. Akan tetapi setelah sekarang dia kehilangan harapan dan semangat, maka lemaslah dia dan terasalah semua kelelahannya. Mengingat akan semua itu, kalau saja dia tidak memiliki kekerasan hati ingin rasanya dia menangis!

Selagi dia duduk dengan muka pucat dan berulang kali menarik napas panjang, hatinya penuh kekecewaan dan kedukaan, tiba-tiba saja terdengar suara halus menegurnya,

"Sicu, bukankah engkau she Tee bernama Beng Sin?"

Beng Sin terkejut dan melompat berdiri, lantas membalikkan tubuhnya. Dilihatnya seorang nikouw yang agak gemuk berdiri di depannya, seorang nikouw yang usianya kurang lebih tiga puluh lima lebih, masih kelihatan muda karena wajahnya terang dan bibirnya selalu mengandung senyuman biar pun sepasang matanya lembut sekali.

Sejenak mereka berdua berdiri berhadapan dan saling pandang dengan penuh perhatian. Jantung Beng Sin berdebar penuh ketegangan, akan tetapi dia ragu-ragu dan dengan lirih dia bertanya sambil menjura.

"Benar sekali, bagaimana suthai mengetahuinya?"

"Tentu saja aku tahu, karena wajahmu dan tubuhmu persis sekali, seperti kembar saja kalau dibandingkan dengan pamanmu yang tiada," jawab nikouw itu.

Beng Sin menatap wajah nikouw itu, melihat betapa bibir serta pelupuk mata nikouw itu gemetar, biar pun pandang matanya tetap lunak dan lembut.

"Suthai... siapakah...?"

"Pinni Thian Sin Nikouw, seorang anggota kuil ini..."

"Suthai... suthai mengenal Tee Cu Hwa yang saya cari-cari...?" Beng Sin bertanya dan sepasang matanya menatap tajam.

Nikouw itu mengangguk dan matanya berkejap dua kali, alisnya agak berkerut "Tee Cui Hwa telah mati, tidak ada lagi di dunia ini... apa yang kau kehendaki?"

Beng Sin tidak terkejut mendengar ini, akan tetapi dia menatap wajah itu semakin tajam, wajah yang mendatangkan rasa aneh di dalam hatinya, seolah-olah dia selama hidupnya pernah mengenal wajah ini.

"Saya... saya hanya ingin mengetahui apakah benar saya adalah anak kandung dari Kui Hok Boan, dan agaknya hanya ibu kandung saya yang dapat menceritakannya kepada saya. Maka saya harap ibu... saya harap suthai sudi membebaskan saya dari keraguan dan kegelisahan, sudi menceritakan kepada saya tentang riwayat ibu kandung saya dan juga ayah kandung saya!"

Sepasang mata itu terpejam rapat-rapat seolah-olah hendak mencegah mengalirnya air mata dan menekan perasaan haru yang menghimpit, akan tetapi ketika kedua mata itu dibuka, biar pun tidak ada air mata mengalir tetap saja kedua mata itu basah.

"Betul, Kui Hok Boan adalah ayah kandungmu. Akan tetapi apakah sicu perlu mengetahui riwayat yang tidak baik itu? Perlukah segala kekotoran dibongkar kembali? Sungguh tidak ada manfaatnya bagimu, sicu."

"Tidak, saya harus mengetahuinya! Lebih tidak baik lagi kalau kekotoran itu dirahasiakan dan ditutup-tutupi karena saya sudah mencium baunya yang busuk! Demi Tuhan, demi segala dewa, demi Kwan Im Pouwsat, harap suthai suka menaruh kasihan kepada saya, seorang yang ayah bundanya masih hidup dan segar-bugar, akan tetapi merasa seakan telah menjadi yatim piatu, karena baik ayahnya mau pun ibunya sudah lama sekali tidak mempedulikan lagi kepada saya!"

"Sicu! Jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu," Nikouw itu menunduk, dan dengan halus dia menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus dua titik air mata yang turun dari sepasang matanya. "Sicu tidak tahu betapa mendiang Tee Cui Hwa menderita dengan hebat, menderita lahir batin, jauh lebih hebat dari pada perasaan yang sicu derita sekarang ini."

"Tetapi sebagai anak kandung ibu dan ayah, saya berhak sepenuhnya untuk mengetahui riwayat mereka, suthai!" Beng Sin mendesak.

"Baiklah, baiklah, mari kita masuk ke ruangan tamu di kuil, nanti pinni ceritakan semua kepadamu, sicu." Setelah berkata demikian, nikouw itu kemudian berjalan menuju ke kuil dengan kepala tunduk, diikuti oleh Beng Sin dari belakang.

Nikouw yang mengaku bernama Thian Sin Nikouw itu memasuki ruangan tamu kuil dari pintu samping, kemudian ia duduk sambil mempersilakan pemuda itu duduk di depannya. Sejenak mereka yang duduk saling berhadapan itu saling pandang dan akhirnya nikouw itu menarik napas panjang.

"Omitohud... sama sekali bukan maksud pinni untuk membongkar kebusukan orang, akan tetapi memang benar seperti ucapan sicu tadi, sebagai putera mereka, sicu berhak untuk mendengar dan mengetahui kesemuanya itu." Dia berhenti sejenak, memejamkan mata seolah-olah sedang berdoa mohon pengampunan kepada Dewi Kwan Im Pouwsat yang dipujanya atas kelancangannya membongkar kebusukan orang. Kemudian dia membuka matanya yang menjadi jernih dan tenang, lalu mulailah dia bercerita dengan suara datar dan halus tanpa disertai ketegangan atau keharuan hati, seolah-olah hanya mulutnya saja yang bergerak akan tetapi hatinya tidak ikut bicara.

Belasan tahun yang lalu, hampir dua puluh tahun yang lampau, gadis Tee Cui Hwa yang ketika itu berusia tujuh belas tahun hidup berdua saja dengan Tee Kang, yaitu kakaknya yang berusia dua puluh lima tahun. Kakak beradik ini sudah yatim piatu. Mereka hanya hidup berdua saja dari hasil pekerjaan Tee Kang sebagai seorang penjaga keamanan di sebuah rumah judi yang besar.

Tee Kang adalah seorang pemuda yang bertubuh kuat dan mempunyai kepandaian silat lumayan, maka dia dapat bekerja sebagai penjaga keamanan rumah perjudian itu. Biar pun hidup sederhana, namun kakak beradik ini tidak kekurangan dan mereka hidup saling menyayangi karena mereka hanya berdua saja di dunia ini.

Pada suatu hari, Tee Kang pulang membawa seorang tamu. Tamu ini adalah sahabatnya yang bernama Kui Hok Boan, seorang pemuda yang tampan dan menarik sekali, pandai dalam ilmu sastera dan ilmu silat, akan tetapi pemuda ini juga menjadi langganan setia dari rumah perjudian itu sehingga kenal dengan Tee Kang.

Tee Kang yang diam-diam hendak mencarikan jodoh untuk adik perempuannya, tertarik melihat teman ini dan dia membayangkan betapa akan bahagianya adiknya dan dia kalau Kui Hok Boan yang disebut Kui-siucai ini dapat berjodoh dengan Cui Hwa!

Setelah Kui Hok Boan bertemu dengan Cui Hwa, pemuda tampan ini langsung tertarik, bukan oleh kecantikan Cui Hwa karena sebenarnya gadis itu bukan tergolong gadis yang terlalu cantik sungguh pun wajahnya bersih dan tubuhnya montok. Akan tetapi memang Kui-siucai adalah seorang pemuda mata keranjang dan hidung belang, hanya saja semua watak ini tertutup oleh sikapnya yang halus sebagai sasterawan sehingga Tee Kang bisa terkelabui dan mengira bahwa pemuda itu adalah seorang yang baik budi!

Melihat seorang gadis bagi Kui Hok Boan tiada bedanya dengan melihat seonggok daging segar bagi seekor srigala yang kelaparan, maka tentu saja dia diam-diam sudah mengilar! Hubungannya dengan Tee Kang menjadi semakin erat sehingga akhirnya kadang-kadang Kui Hok Boan sampai bermalam di rumah kakak beradik itu.

Pada suatu sore, ketika Tee Kang pulang dari tempat kerjanya, dia terkejut sekali melihat adiknya menangis di dalam kamarnya. Pada saat ditanya, Tee Cui Hwa mengaku bahwa siang tadi, ketika Tee Kang sedang bekerja, Kui Hok Boan datang lantas memaksanya menuruti kehendaknya. Dia menolak, karena mereka belum menikah, akan tetapi Kui Hok Boan memaksa dan dengan kejam telah memperkosanya!

Mendengar ini, Tee Kang menjadi marah bukan main. Memang betul dia ingin sekali agar adiknya ini menjadi isteri Kui Hok Boan, namun tidak dengan cara dipaksa dan diperkosa! Karena itu dia cepat pergi lagi mencari Kui Hok Boan dan sesudah bertemu, dia minta pertanggungan jawab Kui Hok Boan untuk segera mengawini adiknya.

Namun Kui Hok Boan menolak, bahkan menantangnya. Tee Kang menjadi marah sekali dan mereka lalu berkelahi. Akan tetapi akhirnya Tee Kang roboh dan tewas di tangan Kui Hok Boan yang lebih lihai.

Nikouw itu menghentikan ceritanya dan memejamkan kedua matanya. "Demikianlah, sicu, pamanmu itu tewas di tangan pria yang jahat itu..."

"Dan ibuku? Apa jadinya dengan ibuku?" Beng Sin mendesak, mukanya menjadi merah karena diam-diam dia marah sekali kepada Kui Hok Boan.

"Dia telah kehilangan satu-satunya orang yang bisa dijadikan pelindungnya, satu-satunya keluarganya di dunia ini. Orang she Kui itu lalu datang lagi dan memaksanya ikut pergi, memperkosanya dan mempermainkan sesuka hati sampai dia mengandung, lalu ditinggal pergi..."

"Keparat jahanam Kui Hok Boan!" Beng Sin berseru sambil mengepal tinjunya.

"Omitohud... semoga Pouwsat menerangi batinmu, sicu. Engkau tidak boleh memaki dan mengutuk orang yang menjadi ayah kandungmu sendiri."

"Lalu bagaimana dengan ibuku, suthai?"

"Ia melahirkan engkau, sicu... kemudian setelah menitipkan atau memberikanmu kepada sebuah keluarga dusun yang baik hati, dia lalu masuk menjadi nikouw..."

"Dan orang bernama Kui Hok Boan itu kemudian mengambilku dan mengakuinya sebagai keponakannya!"

Nikouw itu mengangguk. "Pinni mendengar bahwa sicu telah diambilnya dan tadinya hati pinni ikut merasa gembira karena agaknya ayah kandung itu masih ingat kepada anaknya sendiri..."

"Tetapi dia tetap jahat! Dan ibu... ibuku adalah engkau, suthai...! Ibu...!" Beng Sin lantas menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki nikouw itu.

Nikouw itu bangkit berdiri, memejamkan mata sambil merangkap kedua tangan di depan dada. "Tidak...! Ibumu, Tee Cui Hwa telah mati bagimu dan bagi dunia, sicu. Pinni adalah Thian Sin Nikouw..."

"Ibu... tidak kasihankah engkau kepadaku, anakmu?" Beng Sin meratap, masih berlutut.

"Pinni kasihan kepadamu seperti kepada semua orang yang menderita, sicu. Pouwsat tak pernah memilih-milih orang dalam belas kasihan beliau! Ibumu telah mati dan pinni adalah seorang nikouw..."

Nikouw itu menyentuh kedua pundak Beng Sin, sejenak kedua tangannya menyentuh mesra dan jari-jari tangan itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian seperti ada tenaga baru yang menghilangkan getaran itu, lalu dia membangkitkan Beng Sin.

"Bangkitlah dan jangan menuruti hati yang lemah, sicu."

Beng Sin bangkit berdiri, memandang kepada nikouw itu dengan mata basah. "Baiklah, suthai, akan tetapi tentu suthai sudi untuk menggantikan kedudukan ibuku dan memberi kepastian dan pendapat suthai tentang perjodohanku."

"Perjodohan? Sicu hendak menikah? Ahh, baik sekali itu, tentu saja pinni merasa sangat bersyukur dan akan pinni doakan selalu kepada Pouwsat supaya hidupmu penuh dengan kebahagiaan, sicu, tidak seperti kehidupan ibumu dahulu!"

Beng Sin lalu menceritakan mengenai usul yang diajukan keluarga Ciok kepadanya, dan menceritakan pula semua peristiwa yang terjadi di dalam keluarga Kui Hok Bean, betapa dia hendak membela dua orang gadis kembar yang ternyata masih merupakan adik-adik tirinya sendiri seayah itu, dan juga betapa dalam perkelahian dia telah membunuh kakak tirinya.

Nikouw itu mendengarkan dengan alis berkerut. Kemudian dia berkata setelah pemuda itu menghabiskan ceritanya, "Sicu, biar pinni mewakili ibumu dan menasehatimu. Sebaiknya engkau jangan kembali lagi kepada ayah kandungmu yang ternyata hingga kini pun masih belum juga insaf dari kesesatannya itu. Sebaiknya, mulai saat ini sicu tidak mendekatinya supaya tidak timbul segala urusan yang tidak baik dan pergilah engkau kepada keluarga Ciok itu, terimalah usul mereka untuk menjodohkan sicu dengan gadis she Ciok itu. Pinni akan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu, sicu. Nah, sekarang terpaksa pinni mempersilakan sicu pergi."

Beng Sin merasa girang sekali mendengar betapa nikouw ini, yang dia yakin adalah ibu kandungnya, telah menyetujui perjodohannya, dia merasa girang dan terharu sekali, maka dia lalu kembali menjatuhkan diri berlutut,

"Ibu... suthai... terima kasih atas segala nasehatmu... kelak pada suatu hari... aku akan mengajak isteriku untuk datang menghadap ibu...!"

Sejenak nikouw itu berdiri seperti patung, kedua matanya menjadi basah dan cepat-cepat dia mengusapnya dengan ujung lengan bajunya, lalu dia tersenyum.

"Bangkitlah, Beng Sin! Pouwsat akan selalu melindungimu, nak. Dan selamat jalan, doa restuku selalu menyertaimu!" Dan dia lalu membalikkan tubuh, mengucapkan doa sambil pergi dari ruangan tamu itu.

Beng Sin juga bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari kuil, hatinya kini terasa lapang. Dia dapat memaklumi akan sikap ibu kandungnya. Dia pun dapat membayangkan betapa sengsara ibu kandungnya pada saat diperkosa oleh Kui Hok Boan, dipermainkan bahkan dipisahkan dari kakak kandungnya yang terbunuh, kemudian, sesudah mengandung lalu ditinggalkan oleh pria yang jahat itu. Dan pria itu adalah ayah kandungnya sendiri.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner