PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-59


Seorang di antara mereka yang mengenakan pakaian komandan, sambil tersenyum lebar melangkah maju. Pria ini usianya lebih dari tiga puluh tahun, kumisnya tebal dan matanya lebar. Sambil tersenyum mengejek komandan itu berkata. "Kim-gan Yan-cu, susah payah kami mencari-carimu, kiranya engkau berada di sini. Ha-ha, engkau hendak lari ke mana sekarang?"

Disebut nama julukannya, timbullah semangat dalam diri Bi Cu. Ketika dia masih menjadi pemimpin para pengemis, hidupnya penuh petualangan dan dia tak pernah merasa takut terhadap apa pun juga. Berkelahi merupakan ‘pekerjaan’ sehari-hari, maka kini begitu dia disebut Kim-gan Yan-cu, semangatnya segera terbangun dan biar pun dia dikepung oleh lima belas orang prajurit, dia bersikap tenang saja dan memanggul buntalan terisi pakaian dan bekal roti kering.

"Hemm, kalian adalah prajurit-prajurit kerajaan, apakah tidak malu mengganggu seorang wanita di tengah jalan sunyi dalam hutan? Kalian mau apakah?"

"Ha-ha-ha-ha, tidak perlu kau berpura-pura lagi, Kim-gan Yan-cu. Engkau adalah seorang pemberontak, dan kami adalah prajurit-prajurit kerajaan maka kalau kami bertemu dengan seorang pemberontak, lantas mau apa? Tentu saja hendak menangkap dan meringkusmu untuk kami bawa ke kota raja dan dijebloskan ke dalam penjara!" kata komandan itu.

"Biarkan aku menangkapnya!"

"Aku saja!"

"Aku saja!"

Di antara empat belas orang prajurit itu beramai-ramai hendak berebut. Mereka tentu saja tak berani bertindak lebih sebelum memperoleh ijin dari komandan mereka. Pula mereka tahu bahwa dara ini pernah berurusan langsung dengan Pangeran Ceng Han Houw, maka tentu saja mereka tidak berani mencoba untuk melakukan hal yang berlebihan. Tapi, jika diperbolehkan menangkap, setidaknya mereka mendapatkan kesempatan untuk sekedar merangkul, meraba dan mencolek tubuh dara remaja yang sedang mekarnya ini!

Melihat kegairahan anak buahnya, komandan itu tersenyum lebar. "Kalian semua boleh maju dan coba tangkap dia, akan tetapi jangan sampai dia terluka. Ingat, dia itu seorang buronan yang amat penting dan beliau sudah memesan khusus kepadaku agar berusaha menangkapnya tanpa mengganggunya!"

Empat belas orang prajurit itu bersorak dan tiba-tiba mereka itu saling bergerak berlomba untuk lebih dulu meraba tubuh Bi Cu yang memang mulai dewasa seperti buah meranum atau bunga sedang terbuka kuncupnya. Seorang prajurit bertubuh tinggi kurus menubruk dari depan. Akan tetapi Bi Cu sudah menggerakkan kakinya.

"Dukkk!”

“Waaahhh…!" Orang itu terjengkang karena perutnya kena ditendang ujung sepatu Bi Cu. Orang ke dua dari kiri juga disambar tendangan, tepat mengenai lututnya sehingga orang itu jatuh berlutut.

"Wah, A-piauw, begitu hebatkah engkau tergila-gila padanya sampai berlutut?" komandan itu mengejek anak buahnya ini.

Maka terjadilah perkelahian yang ribut bukan main dan Bi Cu mengamuk dengan pukulan-pukulan, tamparan dan tendangan-tendangan. Akan tetapi para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang bertubuh kuat dan karena jumlahnya banyak, dia kewalahan juga.

Tiba-tiba, saat dia menghadapi lawan yang mendesak dari depan, seorang prajurit berhasil menubruk dan menyikapnya dari belakang dan kedua tangan dengan jari-jari yang panjang itu mencengkeram ke arah dadanya! Bi Cu menjerit lirih.

"Heh-heh, lihat, aku berhasil menangkapnya!" seru prajurit itu sambil tertawa-tawa.

"Ngekkk!" Tiba-tiba dia meringis, kemudian kedua tangannya yang nakal itu terlepas dari pegangannya karena hidungnya pecah dan berdarah ketika dihantam oleh siku kanan Bi Cu.

"Desss...!”

“Auuuughh...!" Sekarang dia terhuyung lalu roboh terjengkang, kedua tangan memegangi bawah pusarnya karena tadi dengan kemarahan meluap-luap Bi Cu sudah menyepakkan kakinya ke belakang, seperti seekor kuda betina yang diganggu dari belakang.

Tumit sepatu dengan tepat mengenai anggota tubuh di bawah pusar sehingga laki-laki itu langsung mengaduh-aduh bagaikan seekor babi disembelih. Hanya mereka yang pernah merasakannya sajalah yang mampu menggambarkan betapa nyeri, kiut-miut rasanya jika bagian itu kena tendang!

Bi Cu sudah marah sekali. Sekarang dia bukan sekedar membela diri, melainkan balas menyerang untuk membunuh! Dia seperti seekor harimau betina yang sudah tersudut dan menjadi buas dan liar! Kedua tangannya menampar dengan pengerahan seluruh tenaga, dan ketika ada seorang prajurit menjerit kesakitan dan sebuah biji matanya copot kena ditusuk jari tangan Bi Cu, kaget dan marahlah komandan pasukan kecil itu.

"Robohkan dia!" bentaknya.

Kini para prajurit yang juga marah setelah melihat betapa seorang teman mereka cedera demikian parah, lalu mendesak maju dan mulai menyerang dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan, tak seperti tadi yang hanya sekedar ingin menangkap dan meraba saja!

Dan mulailah Bi Cu merasa kewalahan! Beberapa pukulan dan tendangan telah mengenai tubuhnya, membuat dia terhuyung-huyung. Namun dia sama sekali tidak mau menyerah, bahkan mengamuk seperti seekor harimau memukul, mencakar, kalau perlu menggigit!

"Hantam perempuan liar ini! Baru kita ringkus!" bentak lagi komandan yang juga pernah kebagian tendangan kaki Bi Cu yang mengenai betisnya hingga menimbulkan kenyerian yang cukup membuat dia menjadi semakin marah.

Para prajurit itu yang seperti sekumpulan srigala mengeroyok seekor harimau betina, kini menubruk dari empat jurusan, menampar, menjambak sehingga akhirnya robohlah Bi Cu karena kakinya kena ditangkap dan ditarik. Begitu dia roboh, para prajurit itu bersorak dan mereka berlomba untuk menubruk dan meringkus Bi Cu.

"Siancai...! Anjing-anjing pemerintah lalim kembali menghina rakyat…!" Suara ini tiba-tiba saja terdengar, disusul teriakan dua orang prajurit yang terpelanting ke kanan kiri dengan kepala pecah karena ada tongkat butut yang menyambar dan menghantam kepala dua orang itu secara cepat sekali.

Tongkat itu berada di tangan seorang kakek renta yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, berpakaian jubah pendeta berwarna putih kumal dan rambutnya yang sudah putih semua itu digelung ke atas, seperti seorang tosu yang baru saja keluar dari tempat pertapaannya.

Melihat robohnya dua orang teman mereka yang tewas dengan kepala pecah itu, semua prajurit terkejut bukan main dan mereka segera mengurung pertapa itu, meninggalkan Bi Cu yang masih rebah. Bi Cu bangkit duduk, mengelus-elus kaki kirinya yang terasa nyeri sekali terkena tendangan keras dari si komandan, lantas dengan heran dia memandang kepada kakek yang tak dikenalnya itu.

"Pertapa jahat!" komandan itu membentak dan menundingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu. "Berani engkau membunuh dua orang prajurit kerajaan?"

"Huh, siapa yang tidak berani? Kalau bisa aku akan membunuh seluruh prajurit kerajaan yang lalim dan menindas rakyat!" jawab pendeta itu.

"Kakek pemberontak!" Komandan itu berteriak lalu dia memberi aba-aba. "Tangkap atau bunuh dia!"

Komandan itu sendiri kini mencabut pedangnya, dan semua anak buahnya juga mencabut golok masing-masing. Ketika mereka mengeroyok Bi Cu tadi, tidak seorang pun di antara mereka yang menggunakan senjata, karena memang mereka hendak menangkap Bi Cu hidup-hidup, pula mereka agak memandang ringan terhadap dara muda remaja itu. Akan tetapi sekarang, melihat betapa kakek itu sudah membunuh dua orang kawan mereka, tentu saja mereka menjadi marah dan sinar kejam dalam mata semua prajurit itu.

"Ha-ha-ha, marilah kuantar nyawa kalian ke neraka!" Kakek itu tertawa dan si komandan sudah menerjang dengan pedangnya, diikuti oleh anak buahnya.

Tiba-tiba terdengar suara angin bercuitan dan tongkat itu lenyap berubah menjadi cahaya bergulung-gulung yang menyambar semua prajurit yang sudah menyerang. Terdengarlah teriakan-teriakan mengerikan dan disusul robohnya para prajurit itu seorang demi seorang! Golok-golok beterbangan dan akhirnya, dalam waktu yang sangat singkat, seluruh prajurit termasuk komandannya telah roboh dan tewas sebab semua roboh dengan kepala pecah!

Melihat ini, diam-diam Bi Cu terkejut dan juga merasa ngeri sekali. Dia hanya duduk dan terbelalak memandang kepada kakek yang kini sedang berdiri tegak dengan tongkat butut di tangan kanan, tangan kiri bertolak pinggang dan kakek itu tertawa menyeramkan.

Betapa pun, karena mengingat bahwa kakek yang amat kejam dan menyeramkan ini telah menyelamatkanya, Bi Cu lalu bangkit dan dengan terpincang-pincang menghampiri kakek itu sambil berkata, "Terima kasih atas pertolongan locianpwe."

Kakek itu sudah berhenti tertawa, lalu membersihkan ujung tongkatnya yang berlumuran darah itu pada baju yang menutupi tubuh salah seorang di antara para korbannya yang terdekat. Kemudian dia menunduk dan memandang kepada dara remaja itu, berkata lirih,

"Anak yang baik, kau angkatlah mukamu dan pandang aku."

Biar pun merasa seram, Bi Cu mengangkat muka memandang. Kakek itu sudah tua, akan tetapi mulutnya yang selalu tersenyum itu membayangkan ketampanan, terutama sekali sepasang matanya mencorong menakutkan.

Bi Cu terkejut dan ingin mengalihkan pandang matanya, akan tetapi dia tidak sanggup! Sinar matanya seperti melekat atau tertangkap oleh sinar mata kakek itu, membuat dia tidak mampu menggerakkan mata untuk mengalihkan pandangan!

Kakek itu mengangguk-angguk, kelihatan puas. "Bagus, engkau seorang perawan remaja yang cantik manis, berdarah bersih serta bertulang baik. Engkau patut menjadi muridku. Siapakah namamu?"

Dengan suara gemetar yang seakan-akan keluar di luar kehendaknya, Bi Cu menjawab, "Nama saya adalah Bhe Bi Cu..."

"Bagus! Nah Bi Cu, mulai sekarang engkau kuambil sebagai muridku."

Di dalam batinnya Bi Cu menolak, akan tetapi anehnya, dia tak kuasa untuk menolaknya! Dia sudah ditolong, diselamatkan nyawanya, bagaimana mungkin dia menolak kehendak kakek sakti ini yang hendak mengangkatnya sebagai murid? Selain dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak, juga dia tidak akan berani! Dan yang lebih aneh lagi, bagaikan digerakkan oleh tenaga yang tidak nampak, dia lalu memberi hormat dan berkata,

"Suhu...!" Bi Cu merasa heran sendiri mengapa dia melakukan hal ini.

"Ha-ha-ha-ha, bagus sekali, Bi Cu. Engkau akan hidup senang menjadi murid Kim Hwa Cinjin! Hayo, kau ikutlah bersamaku."

Kakek itu tertawa girang dan Bi Cu lalu bangkit berdiri dengan taat. Dia sudah terlanjur mengangkat kakek ini sebagai guru, kakek yang namanya Kim Hwa Cinjin! Tentu saja dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa kakek ini adalah seorang tokoh besar, ketua dari perkumpulan Pek-lian-kauw di selatan!

Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang menentang pemerintah, oleh karena itu tidaklah mengherankan bila Kim Hwa Cinjin membunuh semua prajurit kerajaan itu, semata-mata bukan untuk menyelamatkan Bi Cu. Dan Bi Cu juga sama sekali tidak tahu bahwa Kim Hwa Cinjin dahulu di waktu mudanya adalah seorang penjahat cabul yang sangat ditakuti semua wanita.

Lebih lagi dia tidak pernah mimpi bahwa biar pun pada lahirnya dia diambil murid, namun istilah mengambil murid dari ketua Pek-lian-kauw ini mengandung maksud lain yang lebih buruk lagi, bahkan maksud yang sangat keji terhadap diri Bi Cu. Tanpa disadarinya, dara remaja ini sudah terjatuh ke dalam tangan ketua Pek-lian-kauw yang telah menggunakan kekuatan sihirnya, membuat dara itu tunduk dan kehilangan kekuatan dan kemauan untuk menolak ketika diambil sebagai murid.

Seperti telah kita kenal di bagian depan cerita ini, juga dalam cerita Dewi Maut, dahulunya Kim Hwa Cinjin adalah seorang jai-hwa-cat. Dan kini, setelah usianya menjadi amat lanjut, kecabulannya berubah dan kini dia mencari kenikmatan dengan cara menonton kecabulan berlangsung, bukan melakukannya sendiri.

Tokoh ini sudah biasa menghadiahkan wanita-wanita cantik kepada para muridnya yang dianggap berjasa, lalu diam-diam dia mengintai bagaimana para muridnya itu menikmati hadiah yang diberikannya kepada mereka itu. Kini setelah melihat Bi Cu sebagai seorang dara remaja yang cantik manis dan bertulang baik, dia tertarik sekali.

Kalau dara seperti ini menjadi muridnya dan dihadiahkan kepada para murid terbaik, kelak kalau sampai dara ini melahirkan keturunan, maka keturunan itu tentu dapat diharapkan menjadi anggota Pek-lian-kauw yang sangat hebat! Inilah yang terutama mendorongnya untuk menolong Bi Cu dan mengambilnya sebagai murid.

Baik itu dinamakan kecabulan, kemaksiatan, yang menjurus pada perbuatan kejahatan, mau pun yang dinamakan pengejaran cita-cita, ambisi yang menjurus kepada persaingan dan perebutan kedudukan sampai kepada perang, atau kepada pengejaran terhadap apa yang dianggap murni dan agung, seperti daya upaya untuk menjadi orang baik, orang suci, atau tempat yang damai di alam baka, semua itu mempunyai dasar dan sifat yang sama, yaitu pamrih untuk menyenangkan diri sendiri!

Mengejar dan memperebutkan uang, kedudukan, wanita, nama besar, kehormatan dan sebagainya itu memang dapat mendatangkan kesenangan! Begitu pula, orang mengejar kedamaian baik di alam fana mau pun baka karena mengganggap bahwa kedamaian itu menyenangkan. Boleh saja dipakai kata lain untuk kesenangan, misalnya kebahagiaan.

Karena menganggap bahwa semua yang dikejar itu akan mendatangkan kebahagiaan, maka terjadilah pengejaran-pengejaran itu. Jadi, semua tindakan itu selalu didasari oleh keinginan memperoleh sesuatu! Yaitu pamrih! Kita seakan lupa bahwa segala sesuatu yang didorong oleh pamrih sudah pasti akan mendatangkan konflik dan pertentangan.

Pamrih adalah pementingan diri pribadi, dan pementingan diri pribadi ini yang sering kali menimbulkan konflik, baik konflik dalam batin sendiri atau konflik dengan orang lain. Orang yang mengejar-ngejar uang akan menyamakan dirinya dengan uang itu dan uang dianggap lebih penting dari pada apa saja. Demikian halnya dengan pengejaran terhadap kedudukan, dan sebagainya. Jadi yang terpenting bukan si kedudukan, si kehormatan, si bangsa, si keluarga, si uang, melainkan si aku!

Maka terjadilah demikian: Yang dibela mati-matian adalah kedudukanku, kehormatanku, bangsaku, keluargaku, agamaku dan seterusnya yang berpusat pada si aku. Uang orang lain, kehormatan orang lain, bangsa orang lain, agama orang lain, sama sekali tak masuk hitungan! Tentu saja sikap ini memancing datangnya pertentangan. Ini sudah amat jelas, bukan?

Apakah kita dapat hidup tanpa pamrih ini, tanpa adanya si aku yang mendorong segala perbuatan kita menjadi tindakan pementingan si aku? Hanya kalau sudah begini, maka uang, kedudukan, kehormatan, keluarga, bangsa, agama dan lain-lain memiliki arti dan nilai yang sama sekali berbeda!


Orang semacam Kim Hwa Cinjin semenjak kecil telah menjadi budak dari nafsu-nafsunya sendiri, yaitu selalu mengejar kesenangan! Kesenangan itu dapat berbentuk seribu satu macam, tercipta dari keadaan lingkungan, tradisi, pendidikan, kebiasaan dan sebagainya.

Sampai berusia setua itu, Kim Hwa Cinjin masih saja diperhamba oleh akunya yang selalu mendambakan kesenangan. Sifat kesenangannya sama saja, hanya bentuknya berubah menurut perubahan usianya. Dari pengejaran-pengejaran kesenangan ini maka timbullah segala macam maksiat, kejahatan dan kekacauan di dunia ini!

Bi Cu yang berada di bawah pengaruh sihir itu seperti seekor domba dituntun ke tempat jagal. Dia menurut saja ketika diajak ke sarang Pek-lian-kauw yang pada waktu itu berada di puncak pegunungan di depan. Ada juga naluri sehat yang membuat dara ini meragu, dan ketika mereka mendaki sebuah bukit, dara itu berkata,

"Suhu...!"

"Eh, ada apakah, Bi Cu yang manis?" Kim Hwa Cinjin berhenti dan menoleh kepada dara itu yang berdiri dengan muka pucat dan pandang mata meragu.

"Teecu... teecu tidak ingin naik ke sana... teecu ingin... pergi mencari Sin Liong..."

"Sin Liong? Siapa itu?"

"Dia... dia seorang sahabatku yang amat baik..."

"Hemm, engkau adalah muridku, Bi Cu, maka engkau harus ikut denganku dan menurut semua perintahku."

"Tapi, suhu..."

"Agaknya engkau belum yakin akan kemampuan gurumu, ya? Nah, kau lihatlah ini!" Kim Hwa Cinjin menghampiri sebongkah batu yang besarnya seperti kerbau bunting. Dengan kakinya dia mengungkit batu itu dan melontarkannya ke atas, lalu dengan tongkatnya dia menerima batu itu, diputar-putar di atas ujung tongkat. Melihat permainan sulap ini, Bi Cu menjadi bengong dan kagum.

"Hiaaaattt…!"

Kim Hwa Cinjin melontarkan batu dengan ujung tongkat. Batu melambung tinggi dan turun menimpa kepala kakek itu. Bi Cu hampir menjerit, akan tetapi ketika batu itu tiba di atas kepala, Kim Hwa Cinjin menggerakkan tangan kirinya menampar.

"Blaaarrr...!" Batu besar itu pecah berkeping-keping.

"Dan kau lihat pukulan api dari tanganku ini!" katanya pula menghampiri sebatang pohon.

Dengan tangan kirinya dia menampar ke arah batang pohon. Terdengarlah suara keras seperti ledakan dan... pohon itu terbakar dan api menyala tinggi! Tentu saja Bi Cu makin terbelalak kagum. Dia tidak tahu bahwa yang dipertunjukkan itu bukanlah ilmu pukulan yang sesungguhnya, melainkan ilmu sihir! Demikian kagum rasa hati dara itu sehingga dia menjatuhkan diri berlutut dengan hati penuh takluk dan kagum.

"Nah, apakah engkau ingin mempelajari semua kesaktian itu, Bi Cu?"

"Tentu saja, suhu, teecu ingin sekali."

"Kalau begitu, mulai saat ini engkau harus mentaati segala perintahku."

"Baik suhu, teecu akan taat."

Girang bukan main hati Kim Hwa Cinjin dan dia langsung mengajak dara itu melanjutkan perjalanan menulu sarang Pek-lian-kauw. Sebulan lagi Pek-lian-kauw akan mengadakan pesta ulang tahunnya, dan di dalam pesta itulah dia akan menghadiahkan Bi Cu kepada beberapa orang muridnya yang berjasa.

Sambil terus melangkah, diikuti oleh muridnya yang baru, kakek ini tersenyum-senyum, mengelus jenggotnya dan memilih-milih, siapa di antara muridnya akan dihadiahi dara ini! Bi Cu tidak sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, seperti seekor domba dituntun oleh harimau ke dalam sarangnya…..!

********************

Sin Liong mendaki bukit yang nampak sunyi itu dengan hati-hati. Dia sudah menemukan jejak Bi Cu! Di dusun terakhir di kaki pegunungan ini, dia mendengar dari seorang petani bahwa hampir sebulan yang lalu ada seorang dara remaja yang wajahnya mirip dengan yang dia gambarkan datang ke dusun itu, bahkan bermalam di dalam rumah keluarga petani itu. Dari penuturan mereka, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu dara itu Bi Cu.

Yang meyakinkan dia adalah karena Bi Cu juga bertanya-tanya tentang dia, mencari-cari dia! Hatinya berdebar girang dan penuh harapan ketika dia mendaki bukit itu. Biar pun dia sudah ketinggalan hampir satu bulan, akan tetapi kini dia telah menemukan jejaknya dan tentu akan bisa memperoleh keterangan lebih lanjut di sana, atau di balik pegunungan itu.

Akan tetapi, timbul kekhawatiran di dalam hatinya pada waktu dia mendengar keterangan dari seorang pemburu yang dijumpainya di dalam hutan di lereng gunung, bahwa daerah pegunungan itu termasuk pula wilayah yang secara diam-diam dikuasai oleh perkumpulan Pek-lian-kauw yang membuka sarang di puncak pegunungan.

Mendengar disebutnya nama Pek-lian-kauw dia merasa amat khawatir. Bi Cu telah tiba di wilayah ini, daerah kekuasaan Pek-lian-kauw dan dia tahu betapa berbahayanya bagi dara itu apa bila melewati daerah ini. Maka timbullah kecurigaannya dan dia harus lebih dahulu menyelidiki sarang Pek-lian-kauw. Kalau di sana tidak terdapat Bi Cu, baru dia akan pergi meninggalkan tempat itu sebab ia sendiri tak ingin berurusan dengan fihak Pek-lian-kauw. Mudah-mudahan saja Bi Cu tidak bertemu dengan fihak mereka, pikirnya.

Setelah tiba di lereng gunung itu, nampaklah olehnya bangunan-bangunan Pek-lian-kauw yang merupakan perkampungan tersendiri, terletak di dekat puncak. Dan mulai terdengar olehnya suara musik yang membuatnya merasa heran bukan main. Pek-lian-kauw adalah perkumpulan agama, mengapa kini terdengar suara musik seakan-akan di sana diadakan pesta, di mana orang bergembira ria? Melihat betapa tempat pendakian itu sunyi saja, Sin Liong lalu mempercepat pendakiannya menuju ke perkampungan di dekat puncak itu.

Setelah melewati daerah yang berbatu-batu lalu dia sampai di padang rumput yang penuh dengan rumput tebal dan subur. Rumput itu sampai setinggi lututnya dan Sin Liong berlari terus karena dusun Pek-lian-kauw itu berada di ujung padang rumput itu.

Tiba-tiba kakinya tersangkut semacam tali halus yang tidak nampak karena tersembunyi di dalam rumput. Begitu kakinya tersangkut, terdengar suara berdesir dan bercuitan dari bawah. Sin Liong terkejut bukan main, maklum bahwa ada penyerangan gelap dari bawah maka seketika dia sudah meloncat ke atas lalu berjungkir balik di udara sampai tiga kali.

Benar saja, dari bawah menyambar empat batang tombak dari depan, belakang, kiri dan kanan. Agaknya ketika tali halus tadi tersangkut di kakinya, secara otomatis alat rahasia sudah menggerakkan empat batang tombak itu! Sin Liong lalu melompat turun kembali ke depan, kurang lebih empat meter dari tempat di mana kakinya tersangkut tali penggerak alat yang melucurkan tombak-tombak itu.

"Blussss...!"

Begitu kedua kakinya menginjak tanah di bawah rerumputan, tiba-tiba dia berseru keras karena ternyata kedua kakinya menginjak tempat kosong! Ternyata di bawah itu adalah lubang yang ditutupi rumput, sebuah lubang jebakan yang amat berbahaya! Karena tidak mengira sama sekali, tentu saja Sin Liong tidak dapat mencegah tubuhnya terjeblos. Dia cepat melihat ke bawah dan ternyata lubang sumur itu dipasangi tombak-tombak runcing yang siap menerima tubuhnya yang terjeblos ke bawah!

Kalau orang hanya memiliki kepandaian ginkang biasa saja, agaknya tidak akan mungkin dapat lolos dari ancaman maut ini. Tubuh Sin Liong sudah meluncur turun dan di bawah nampak ujung tombak-tombak runcing seperti deretan gigi mulut raksasa yang sudah siap mencaplok dan menggigitnya.

Sin Liong memiliki ketenangan yang luar biasa. Dia tidak mudah putus asa, maka dengan waspada dia memandang ke bawah, mengerahkan ginkang-nya dan ketika dekat dengan ujung-ujung runcing itu, dia malah hinggap di atas dua ujung tombak sambil mengerahkan sinkang pada telapak kakinya sehingga ujung tombak yang menembus sepatunya itu tak mampu melukai kaki dan dia lalu mengenjot tubuhnya, meloncat ke atas, keluar lagi dari sumur itu!

Dia tiba di luar sumur, berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, waspada memandang ke sekeliling, akan tetapi tidak nampak gerakan seorang pun manusia, tanda bahwa dia tadi hanya menjadi korban jebakan-jebakan saja yang diatur sedemikian baiknya hingga amat membahayakan orang yang terjeblos ke dalamnya. Dia melangkah terus, sekarang dengan hati-hati supaya tidak sampai terjeblos ke dalam perangkap lagi. Kalau kakinya menginjak sesuatu yang tidak wajar, dia cepat meloncat jauh ke depan, melewati daerah yang dipasangi jebakan itu.

Akhirnya dia keluar dari padang rumput itu dengan selamat dan sampailah dia di sebuah taman penuh dengan pohon-pohon besar yang merupakan pekarangan depan yang luas dari perkampungan Pek-lian-kauw. Suara musik makin jelas terdengar, berasal dari pusat perkampungan itu. Perkampungan Pek-lian-kauw terkurung dinding tembok putih, dan tak nampak seorang pun di luar tembok.

"Syet-syet-syetttt...!"

Tiba-tiba nampak sinar-sinar berkelebatan dan tahu-tahu ada belasan batang anak panah menyambar dari atas, menancap di atas tanah di hadapan Sin Liong, merupakan pagar anak panah yang menghadang perjalanannya. Melihat ini, Sin Liong mengerling ke atas dan melihat bayangan orang-orang di atas pohon besar.

"Hemmm, beginikah cara Pek-lian-kauw menyambut kedatangan seorang tamu? Dengan perangkap-perangkap dan anak panah?" tanyanya dengan suara yang melengking nyaring sehingga suara itu berdengung sampai jauh.

Hening sejenak sesudah terdengar suara nyaring dari Sin Liong ini. Kemudian terdengar suitan-suitan tanda rahasia, dan tidak lama lagi banyak bayangan orang melayang turun dari atas pohon, dan ternyata orang ini adalah seorang yang berjubah pendeta, berusia kurang lebih lima puluh tahun. Setelah dia melayang turun berturut-turut tampak bayangan orang berloncatan turun dari atas pohon-pohon sekitar tempat itu dan dalam waktu singkat saja ada tujuh orang tosu Pek-lian-kauw yang berdiri menghadapi Sin Liong, memandang pemuda itu penuh perhatian dan kecurigaan.

"Sicu datang dari daerah terlarang, bukan sebagai tamu undangan, maka maafkan kami yang melepas anak panah peringatan tadi. Siapakah sicu dan ada urusan apa sicu datang ke tempat kami?" tanya seorang di antara mereka, pendeta yang pertama melayang turun tadi.

Sin Liong mengangkat tangan menjura kepada mereka, lantas menjawab dengan tenang, "Saya adalah seorang pelancong yang sedang melakukan perjalanan lewat di daerah ini. Mendengar suara musik dari perkampungan Pek-lian-kauw, hati saya amat tertarik untuk mengunjungi dan berkenalan dengan para pemimpin Pek-lian-kauw, sedikit pun saya tidak mempunyai niat untuk melakukan hal yang tidak bersahabat," jawabnya karena memang dia tidak berniat bermusuhan dengan fihak Pek-lian-kauw, tentu saja kalau Pek-lian-kauw juga tidak melakukan sesuatu terhadap Bi Cu, misalnya. Dan dia tidak mau menyebutkan namanya kepada mereka, kecuali kepada para pimpinan Pek-lian-kauw sendiri.

Tiba-tiba melayang turun seorang pendeta lain yang menghampiri pendeta penanya tadi, dan orang baru ini kemudian berbisik. Dialah pendeta yang melapor ke dalam, dan ketua Pek-lian-kauw memberi perintah bahwa kalau orang muda yang datang itu bukan musuh dan bermaksud baik, boleh saja diterima sebagai tamu, sebab pada hari itu Pek-lian-kauw memang sedang merayakan hari ulang tahunnya.

Pendeta pembicara itu kemudian tersenyum. "Baiklah, sicu. Ketua kami menyuruh kami menerima sicu sebagai tamu, dan mari kami persilakan sicu untuk masuk ke dalam dan berkenalan dengan para pimpinan kami."

Perkumpulan Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang selalu menentang pemerintah, oleh karena itu kalau merayakan ulang tahun tidak pernah mengundang umum karena mereka selalu menyembunyikan tempat atau sarangnya, dan hanya mengundang golongan atau kawan-kawan sendiri yang sudah dipercaya penuh saja. Dan undangan itu pun baru akan dilaksanakan beberapa hari sesudah mereka merayakannya sendiri sampai beberapa hari lamanya. Pada saat itu, hari undangan bagi para kawan mereka belum tiba dan pada hari itu mereka sedang merayakan hari ulang tahun perkumpulan mereka tanpa ada seorang pun tamu dari luar.

Akan tetapi seluruh anggota, juga termasuk yang berada dan bertugas jauh dari tempat itu, pada hari itu sudah hadir sehingga suasana menjadi amat meriah dan penjagaan pun tidak begitu ketat seperti biasanya hingga Sin Liong sampai dapat memasuki pekarangan itu dan baru setelah tiba di situ dia dihadang oleh para anggota Pek-lian-kauw. Kini pintu gerbang dibuka dan Sin Liong diantar masuk ke dalam perkampungan yang cukup luas.

Semua rumah di perkampungan itu dihias dengan kertas-kertas merah hingga suasana di sana cukup meriah. Di bangunan induk berkumpul para pimpinan, di mana para anggota bagian musik sedang memeriahkan suasana dengan permainan musik dan nyanyian serta tarian.

Munculnya pemuda ini tentu saja menimbulkan sedikit keheranan dan kecurigaan, akan tetapi karena Kim Hwa Cinjin sendiri yang memerintahkan pemuda itu disambut sebagai tamu, maka kini Sin Liong diiringkan memasuki bangunan induk, terus masuk ke dalam ruangan luas di mana terdapat Kim Hwa Cinjin sendiri bersama para tokoh Pek-lian-kauw dan para murid terkasih. Semua orang lalu memandang kepada pemuda yang melangkah masuk dengan tenang itu.

Kim Hwa Cinjin sendiri masih tetap duduk sambil menatap wajah pemuda yang masuk itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Dari kedudukan serta sikap kakek yang memiliki sepasang mata tajam dan aneh menyeramkan seperti mata iblis dalam dongeng itu, Sin Liong dapat menduga tentulah kakek tua yang menyambutnya dengan duduk saja itulah ketua Pek-lian-kauw, maka dia lalu berhenti di hadapan Kim Hwa Cinjin, menjura dengan hormat sambil berkata,

"Harap kauwcu (ketua agama) suka memaafkan kalau saya datang mengganggu."

Pada waktu masuk tadi, Sin Liong sudah mencari-cari dengan pandang matanya, namun dia tidak melihat adanya Bi Cu di sana, maka dia merasa agak lega dan dia pun bersikap sopan agar tidak menyinggung orang-orang Pek-lian-kauw.

Kim Hwa Cinjin mengangguk-angguk. "Hemm, dari pelaporan anak buah kami mendengar bahwa engkau mempunyai kepandaian yang tinggi, sicu. Sungguh membuat kami merasa kagum bahwa seorang pemuda seperti sicu sudah dapat memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Tentu sicu murid seorang sakti dan siapakah nama sicu?"

"Nama saya Sin Liong," jawab pemuda ini tanpa menyebutkan she (nama keturunan), dan ternyata ketua Pek-lian-kauw itu pun tidak bertanya tentang hal itu tanda bahwa ketua ini bersikap ramah dan menanyakan nama hanyalah untuk membalas sikapnya yang sopan saja padahal sebenarnya ketua ini tidak memandang dia sebagai orang penting!

"Saya kebetulan lewat dekat sini dan mendengar suara musik, saya merasa tertarik dan memasuki daerah ini tanpa memiliki niat yang buruk."

Kim Hwa Cinjin hanya mengangguk. Mendadak terdengar suara merdu di sebelah kanan kakek itu, "Suhu, dalam suasana gembira ini kita kedatangan tamu terhormat, bagaimana kalau teecu (murid) mempersiapkan hidangan untuk tamu agung?"

Sin Liong cepat memandang dan ternyata yang bicara ini adalah salah seorang di antara sekelompok wanita-wanita muda yang duduk di dekat kakek itu. Wanita-wanita itu berusia antara dua puluh sampai hampir empat puluh tahun, rata-rata berwajah cantik dan dari sikapnya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai ilmu silat.

Memang mereka itu adalah murid-murid dari Kim Hwa Cinjin, murid-murid wanita yang berbakat. Yang bicara tadi adalah seorang wanita cantik berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun, pakaiannya indah dan rambutnya digelung rapi, dihiasi burung hong terbuat dari emas dan permata yang berkilauan. Di antara para murid wanita itu, wanita inilah yang paling cantik, kerling matanya tajam dan senyumnya amat manis.

Ketika Sin Liong memandang kepadanya, wanita itu pun menatapnya dengan sinar mata yang demikian menantang dan penuh gairah sehingga Sin Liong langsung menundukkan mukanya kembali.

"Ha-ha-ha-ha, Ciauw Ki, kita sedang berulang tahun maka biarlah kuturuti permintaanmu sebagai hadiahku tahun ini. Memang benar sekali, kita harus menjamu tamu agung, nah, kau layanilah sicu ini!"

Sin Liong menjadi kikuk sekali, akan tetapi dia sudah terlanjur masuk ke situ dan memang dia berniat menyelidiki apakah Bi Cu berada di situ, maka ketika wanita cantik itu bangkit dan menghampirinya, lalu dengan sikap manis mempersilakan dia duduk di atas sebuah kursi menghadapi meja yang masih kosong, tidak jauh dari situ, dia pun tidak membantah, mengangguk dan menjura menyatakan terima kasihnya. Ciauw Ki, murid wanita Kim Hwa Cinjin itu, lalu mengeluarkan hidangan dan arak, diatur di atas meja di depan Sin Liong.

Pada waktu wanita itu melakukan semua ini dengan senyum manis dan kerling mata yang menyambar-nyambar penuh tantangan, Sin Liong mencium keharuman keluar dari sapu tangan dan pakaian wanita itu. Dia merasa semakin kikuk, akan tetapi juga tidak berani menolak ketika Kim Hwa Cinjin sendiri dari tempat duduknya mempersilakan dia makan minum. Betapa heran rasa hatinya ketika dia melihat Ciauw Ki duduk di hadapannya dan melayaninya, mengisi cawannya dengan arak bila sudah kosong, menawarkan masakan ini dan itu, dengan sikap amat mesranya.

Padahal di situ terdapat banyak orang, terdapat banyak murid pria, mengapa justru murid wanita cantik ini yang harus melayaninya? Sin Liong yang tidak pernah dilayani wanita seperti itu, tentu saja menjadi gugup dan kikuk sekali, dan sikapnya ini agaknya semakin menarik hati Ciauw Ki.

Oleh karena Ciauw Ki terus mengisi cawan araknya dan mempersilakan minum, akhirnya pengaruh arak membuat Sin Liong agak nanar juga. Ketika tari-tarian yang dilakukan oleh wanita-wanita cantik, nyanyian yang diiringi musik merdu dipertunjukkan, Sin Liong tidak lagi merasa heran, bahkan menonton dengan gembira sambil mendengarkan pula obrolan Ciauw Ki yang bercerita dengan suara merdu.

"Ini adalah perayaan ulang tahun kami yang ke delapan, sicu, sudah delapan tahun kami menggunakan tempat ini sebagai pusat dan tak pernah mengalami gangguan. Dan pesta ulang tahun sekarang ini bagiku paling indah berkesan karena kehadiranmu..."

Sin Liong hanya tersenyum. Telinganya penuh dengan suara-suara merdu merayu yang mempesona dan membuat dirinya lengah. Pada waktu itu para wanita yang menari sudah mengundurkan diri, lantas suara tambur dipukul gencar, musik mengalunkan lagu perang yang dahsyat. Lalu muncullah dua orang wanita dan Sin Liong terbelalak.

Dua orang wanita muda itu mengenakan pakaian tipis yang membayangkan bentuk tubuh mereka, dan kedua tangan mereka memegang dua batang obor yang belum dinyalakan. Sesudah mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan sang ketua, lalu Kim Hwa Cinjin meraih dan obor-obor itu menyala! Seperti main sulap saja!

Kini kedua orang wanita muda itu mulai menari dengan obor-obor di kedua tangan. Sinar obor yang merah itu menyoroti tubuh mereka dan mereka itu seperti telanjang bulat saja karena cahaya itu menembus pakaian yang tipis, memperlihatkan semua lekuk lengkung tubuh mereka yang masih muda dan padat berisi. Para murid Pek-lian-kauw bersorak dan bertepuk-tepuk tangan mengikuti irama musik hingga suasana penuh dengan pesona dan gairah!

Mendadak Sin Liong merasa betapa ada tangan halus yang membelai jari-jari tangannya yang terletak di atas meja. Dia terkejut saat melihat betapa yang mengelus tangannya itu adalah tangan Ciauw Ki! Sin Liong cepat mengibaskan tangannya dan menarik tangan itu dari atas meja. Ciauw Ki menahan jeritnya karena tangannya terasa agak nyeri. Matanya terbelalak menatap wajah Sin Liong, akan tetapi sinar matanya segera melembut kembali dan senyumnya makin manis memikat.

Dari tempat duduknya, Kim Hwa Cinjin melihat adegan ini. Tiba-tiba saja dia mengangkat kedua tangannya ke atas, menghadap ke arah Sin Liong lalu mulutnya berkemak-kemik. Ketika itu Sin Liong masih menentang pandang mata Ciauw Ki. Tiba-tiba saja dia merasa seperti ada dorongan yang mengharuskan dia menoleh, memandang kepada dua orang penari wanita yang menggerak-gerakkan obor mereka. Sinar obor itu menyilaukan kedua matanya dan Sin Liong mengeluh.

Tiba-tiba dia melihat dua buah mata, sepasang mata yang tajam liar dan menyeramkan, seperti mata iblis sendiri, memandangnya sedemikian rupa sehingga dia terbelalak. Sang mata iblis ini seperti menari-nari di antara obor yang bergerak-gerak itu dan mendadak dia merasa tubuhnya lemas serta matanya mengantuk. Rasa kantuk itu tak tertahankan lagi olehnya. Kepalanya terasa berat, dan obor-obor yang bernyala itu kini terputar-putar. Sin Liong lalu memejamkan mata dan merebahkan kepalanya di atas lengannya yang dipakai sebagai bantal di atas meja. Tiba-tiba dia merasa tengkuknya diraba orang dan tubuhnya semakin lemas lalu dia tidak ingat apa-apa lagi!

Pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak pertama kali memasuki rumah induk di mana Kim Hwa Cinjin dan para murid dan pembantunya merayakan pesta ulang tahun mereka, dia telah memasuki perangkap yang amat berbahaya. Mula-mula Kim Hwa Cinjin memperlihatkan sikap ramah sehingga lenyaplah kecurigaan di hati Sin Liong. Pada saat Ciauw Ki, seorang di antara murid-murid wanita yang terkasih, memperlihatkan keinginan untuk memiliki pemuda tampan itu, Kim Hwa Cinjin menyetujuinya.

Sin Liong mulai dijamu dan diperlakukan dengan manis penuh pikatan oleh Ciauw Ki. Biar pun ketika itu Sin Liong sudah terpengaruh arak, namun melihat gadis itu berusaha untuk memikatnya dengan sentuhan tangan, pemuda ini terkejut dan cepat menolak. Kim Hwa Cinjin melihat ini dan dia tidak mau mengecewakan muridnya, maka diam-diam dia lalu mempergunakan ilmu sihirnya.

Sin Liong yang sedang lengah itu sama sekali tidak tahu bahwa dia diserang dengan ilmu sihir, maka dengan bantuan suara musik serta penglihatan indah dari tari obor oleh dua orang murid wanita itu, cahaya obor yang menyilaukan, akhirnya dia berhasil menyihir Sin Liong sehingga pemuda itu tertidur sebelum dia dapat menyadari keadaannya. Ciauw Ki juga cepat mempergunakan jari-jari tangannya menotok dan membuat pemuda itu tidak sadar.

Sin Liong membuka matanya dan pertama kali yang dirasakannya adalah kepalanya yang berdenyut-denyut pening. Dia mengeluh lirih dan mencium bau arak yang memuakkan. Teringatlah dia bahwa dia terlalu banyak minum arak. Ingin dia memijat-mijat kepalanya, akan tetapi ketika dia hendak menggerakkan tangan, dia terkejut dan heran.

Cepat dia membuka mata dan terbelalak memandang pada kedua lengannya yang sudah terbelenggu. Dua lengannya itu terikat di bagian pergelangan tangan. Suara tertawa kecil membuat dia semakin sadar dan sekarang dia memandang wanita yang duduk di pinggir pembaringan itu dengan sinar mata penuh keheranan.

Kini dia sudah rebah di atas pembaringan yang empuk, bersih dan harum, dalam sebuah kamar yang diterangi oleh tiga batang lilin. Wanita itu bukan lain adalah Ciauw Ki yang duduk sambil memegangi sebuah cawan arak dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri wanita itu mengelus-elus pahanya!

Sin Liong lalu menggerakkan kaki untuk mundur dan ternyata bahwa pergelangan kedua kakinya juga terikat! Agaknya Ciauw Ki mendengar dari para saudara seperguruannya akan kelihaian Sin Liong maka biar pun pemuda itu telah ditotoknya, tetap saja dia masih merasa khawatir dan mengikat pergelangan kaki dan tangan pemuda itu.

"Apa... apa artinya ini...?" Sin Liong bertanya sambil mengangkat kepalanya dari bantal.

"Hik-hik...!" Ciauw Ki tertawa genit dengan kepala agak bergoyang-goyang. Wanita cantik ini agaknya sudah setengah mabok.

Diam-diam Sin Liong memperhatikan keadaan sekeliling. Tentu malam telah tiba, pikirnya heran. Betapa lamanya dia pingsan atau tertidur di tempat ini. Dia mengingat-ingat dan ketika dia teringat akan sepasang mata yang membuatnya mengantuk, diam-diam dia lalu mengutuk. Dia sudah disihir! Tidak ragu-ragu lagi dia. Pek-lian-kauw terkenal dengan ilmu sihirnya. Dalam keadaan lengah dan tidak waspada dia telah kena disihir.

"Artinya, orang ganteng... bahwa engkau sedang berada di kamarku dan kita... kita akan bersenang-senang malam ini sepuas hati kita... hik-hik...!"

Diam-diam Sin Liong merasakan betapa masih ada sisa pengaruh totokan di tubuhnya, maka dia segera mengerahkan sinkang melancarkan kembali jalan darahnya. Dia masih belum mau mengambil tindakan keras, otaknya berpikir dan timbul kembali kecurigaannya bahwa jangan-jangan Bi Cu juga menjadi korban seperti dia. Maka dia pura-pura tidak berdaya, dan berkata, "Mengapa aku dibelenggu kaki tanganku?"

"Aku khawatir engkau akan menolak, sayang. Aku membelenggumu, akan tetapi lihatlah, belenggu itu dari ikat pinggang suteraku, baunya amat harum, kau ciumlah, hik-hik. Kalau engkau bersikap manis, tentu belenggumu itu akan kulepaskan. Sekarang, kau minumlah secawan arak ini. Arak ini pemberian suhu, arak istimewa, kau minumlah, sayang, setelah itu baru kubebaskan engkau dan kita bersenang-senang..."

Cawan arak itu didekatkan pada mulut Sin Liong dan dia mencium bau arak bercampur bau yang aneh. Mengertilah Sin Liong bahwa arak ini pun tidak wajar, bukan sembarang arak, karena itu tentu saja dia tidak mau minum.

"Nanti dulu... aku masih pening karena terlalu banyak minum... sebenarnya... aku sedang mencari seseorang... saudaraku..." Sin Liong membohong. Yang dicarinya adalah seorang gadis, jika dia bilang sahabat tentu akan menimbulkan kecurigaan, maka dia mengatakan saudaranya.

"Hemm, saudaramu? Siapakah saudaramu dan mengapa kau mencarinya di sini?" tanya wanita yang mukanya sudah merah karena setengah mabuk itu dan tangan kirinya masih mengelus paha Sin Liong yang membuat pemuda itu merasa geli.

"Saudaraku seorang gadis bernama Bi Cu..." Sin Liong berhenti berbicara karena melihat perubahan pada wajah gadis itu, sepasang mata yang tadinya nampak penuh gairah dan setengah terpejam itu mendadak agak terbelalak. Jantungnya berdebar dan yakinlah dia bahwa wanita ini tahu tentang diri Bi Cu.

Tentu saja Ciauw Ki mengetahui tentang Bi Cu, murid baru gurunya itu. Dia merasa iri hati kepada Bi Cu yang muda dan cantik, dan yang oleh suhu-nya dipilih sebagai kembang untuk diperebutkan pada perayaan ulang tahun itu! Apa bila tidak ada Bi Cu, tentu dialah yang akan diperebutkan, bukan Bi Cu. Dan karena iri hati itulah maka dia sengaja minta ganti kepada suhu-nya ketika dia melihat Sin Liong!

"Aihhh... kiranya engkau saudaranya! Jangan khawatir, orang tampan, saudaramu itu kini sedang dilimpahi kesenangan oleh tiga orang murid Pek-lian-kauw yang paling gagah dan tampan! Akan tetapi engkau pun tidak kalah mujurnya karena engkau mendapatkan aku... heiii... ahhh, aupppp...!"

Tiba-tiba saja Sin Liong menggunakan sinkang-nya hingga semua ikatan tangan kakinya putus. Ketika melihat dia mematahkan belenggu dan tahu-tahu sudah bangkit duduk itu, Ciauw Ki terkejut bukan main dan sebelum dia sempat menjerit, jari tangan kiri Sin Liong telah mendekap mulut yang tadinya tersenyum manis penuh pikatan itu dan meremasnya perlahan sehingga mulut yang manis itu kini nampak peot dan buruk, mata yang tadinya setengah terpejam penuh gairah dan nafsu birahi itu kini terbelalak ketakutan.

"Hemm, kuhancurkan mulutmu jika engkau tidak mengaku terus terang!" desis Sin Liong yang sudah merasa marah dan khawatir sekali. Tidak salah dugaannya, Bi Cu terjatuh ke tangan mereka dan kini agaknya terancam bahaya besar.

"Aa... aku... ahhhhh..." Sukar sekali Ciauw Ki bicara karena mulutnya masih didekap oleh jari tangan Sin Liong.

Tiba-tiba Ciauw Ki menggunakan tangan yang memegang cawan arak untuk menghantam ke arah muka Sin Liong. Akan tetapi Sin Liong menepuk pundaknya, dia pun terkulai lemas dan tidak mampu bergerak lagi. Ketika Sin Liong melepaskan dekapannya pada mulut itu, tubuh Ciauw Ki terkulai di atas pembaringan.

"Hayo katakan, di mana Bi Cu?"

Dengan suara lemah, Ciauw Ki berkata, "Bunuhlah, murid Pek-lian-kauw tidak takut mati! Bi Cu kini tentu sudah habis-habisan diperkosa oleh tiga orang suheng-ku...!"

"Plakkk!"

Tangan Sin Liong menampar dan wanita itu pingsan. Mulutnya berdarah dan beberapa buah gigi di mulutnya patah-patah. Tentu kecantikannya akan banyak berkurang karena tamparan itu, kalau tidak membuat wajahnya kelak bahkan menjadi buruk.

Cepat Sin Liong meloncat keluar dari kamar itu. Dengan beberapa loncatan saja dia telah berada di atas genteng. Pesta kaum Pek-lian-kauw itu masih dilanjutkan dengan meriah, maka sangat mudah baginya untuk melakukan penyelidikan, mencari-cari di mana Bi Cu disembunyikan.

Dia tidak perlu terus memaksa Ciauw Ki agar supaya mengaku sebab wanita itu agaknya merupakan tokoh Pek-lian-kauw yang tak akan mau membuka rahasia perkumpulan, biar diancam atau disiksa sekali pun. Dan Sin Liong takkan tega untuk menyiksa orang, maka dia lalu mengambil keputusan untuk mencari sendiri setelah menampar wanita itu sampai pingsan dalam keadaan tertotok agar tidak membuat gaduh selagi dia mencari tempat Bi Cu disembunyikan.

Dia mengintai dari genteng, sambil melihat ke dalam kamar-kamar yang banyak terdapat di perumahan itu. Banyak dia melihat kecabulan-kecabulan yang menjijikkan hatinya dan membuat dia tidak mengerti mengapa perkumpulan agama seperti Pek-lian-kauw ternyata memiliki pimpinan dan anggota-anggota yang menjadi hamba-hamba nafsu birahi seperti itu. Hampir di setiap kamar dia melihat para anggota Pek-lian-kauw bermain cinta dengan pasangan masing-masing dalam keadaan mabuk.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner