PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-63


Tidak lama kemudian, seorang laki-laki tua yang berpakaian biasa memasuki ruangan itu kemudian cepat dia memberi hormat kepada Souw Kwi Beng dan yang lain-lain. Kwi Beng mengenal orang ini sebagai orang kepercayaan Ciong-taijin, yaitu kepala daerah Yen-tai.

"Saya tidak dapat bicara banyak dan lama,” kata orang itu sesudah dipersilakan duduk. “Saya diutus oleh taijin supaya menyampaikan kepada Souw-wangwe (hartawan Souw) bahwa ada bahaya besar mengancam keluarga wangwe. Taijin hanya mengatakan bahwa Pangeran Ceng Han Houw yang merupakan seorang pemegang kekuasaan dari kaisar sendiri, telah memerintahkan kepada penjaga keamanan kota agar mengerahkan pasukan untuk mengawalnya menangkap keluarga wangwe! Taijin tidak dapat menolong, dan tidak berani berbuat apa-apa selain mengutus saya untuk memberi tahu. Taijin menganjurkan agar wangwe sekeluarga cepat-cepat pergi dari kota ini, dan kalau mungkin menyeberang lautan!"

Souw Kwi Beng yang sudah menduga akan hal itu mengucapkan terima kasih dan orang itu pun cepat-cepat pergi melalui pintu belakang.

“Nah, tidak urung begini jadinya,” kata Souw Kwi Beng, “itulah jalan satu-satunya. Isteriku, cepatlah berkemas. Kita akan membawa barang-barang berharga saja dan terpaksa yang lain-lain kita tinggalkan pada orang-orang kita. Sebelum keadaan menjadi dingin, biarlah kita lari menyeberang ke selatan."

Yap Mei Lan nampak gelisah. “Ahh, lalu... bagaimana dengan engkau, sute?”

"Suci, cihu benar. Kalian harus melarikan diri. Tidak mungkin melawan pemerintah. Kalian memiliki perahu-perahu besar dan membawa bekal kekayaan, pula, cihu memiliki banyak teman di luar negeri. Takut apa? Tentang aku..."

"Mari kalian ikut saja bersama kami!” kata Souw Kwi Beng.

Lie Seng menggelengkan kepala. “Terima kasih, cihu. Kalian sudah melimpahkan banyak kebaikan terhadap kami. Dan memang agaknya kami belum boleh hidup tenang. Kalian berangkatlah, sedangkan kami berdua akan mengambil jalan sendiri. Mari kubantu kalian berkemas, dan kau, Eng-moi... kau pulanglah dan berkemaslah sehingga kalau aku sudah selesai membantu suci sampai mereka berangkat, engkau sudah siap dan kita pun akan segera pergi hari ini juga."

Sun Eng memandang kepada Mei Lan yang juga memandangnya. Kedua orang wanita ini saling pandang dan biar pun keduanya adalah wanita-wanita perkasa yang tidak berwatak cengeng atau lemah, akan tetapi menghadapi perubahan hidup yang tiba-tiba itu mereka menjadi terharu dan akhirnya Sun Eng menubruk Mei Lan lalu keduanya berpelukan dan menangis.

"Enci, hati-hatilah di jalan...,” Sun Eng berkata.

"Engkau pun berhati-hatilah, adik Eng... mari kau ikut ke kamar, engkau harus membawa bekal...”

Mei Lan menarik tangan Sun Eng memasuki kamarnya dan memberi banyak perhiasan-perhiasan berharga kepada Sun Eng yang menerimanya dengan hati terharu.

Akhirnya, dengan hati berat Sun Eng meninggalkan gedung itu untuk berkemas pula. Ada pun Lie Seng sibuk membantu suci-nya dan cihu-nya berkemas lalu mengangkuti barang-barang ke sebuah perahu besar milik Souw Kwi Beng yang sudah dipersiapkan. Kwi Beng mengumpulkan orang-orangnya kemudian menunjuk beberapa orang untuk menjadi wakil dalam mengatur perusahaannya.

Persiapan itu dilakukan secepatnya dan ketika lewat tengah hari berangkatlah perahu itu meninggalkan pelabuhan, melakukan pelayaran ke selatan. Lie Seng berdiri di pantai dan melambaikan tangan yang dibalas oleh suci-nya dan cihu-nya. Dia berdiri memandang sampai perahu itu hanya merupakan titik hitam.

Teringatlah dia kepada Sun Eng maka cepat dia berjalan pulang. Dia dan Sun Eng juga harus pergi secepatnya, karena kalau nanti pangeran itu mencari dan tidak menemukan Mei Lan dan Kwi Beng, tentu pangeran itu menjadi marah dan akan mencarinya.

Akan tetapi, ketika tiba di rumah dia melihat rumahnya sunyi dan kosong. Sun Eng tidak dapat ditemukan di dalam rumah itu. Memang dia melihat buntalan-buntalan, dan nampak bekas-bekas Sun Eng berkemas. Anehnya, perhiasan-perhiasan pemberian Yap Mei Lan pun ditinggalkan oleh Sun Eng dalam buntalan pakaiannya yang diletakkan di atas meja.

Jantung Lie Seng mulai berdebar penuh kekhawatiran ketika dia menemukan sesampul surat di atas buntalan pakaiannya. Dengan jari-jari gemetar dibukanya sampul surat itu dan wajahnya makin pucat ketika dia membaca surat tulisan tangan Sun Eng!

Kanda Lie Seng tercinta.

Terbuka kesempatan untuk melakukan sesuatu demi keselamatanmu serta keluargamu. Pangeran itulah yang menjadi sumber mala petaka bagi keluargamu. Maka tiba saatnya bagi kita untuk berpisah. Perkenankan aku menunjukkan harga diriku, koko. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluarga Cin-ling-pai. Kalau aku gagal dengan menempuh jalan halus, akan kucoba membunuh pangeran itu. Selamat tinggal, koko, aku selamanya cinta padamu dan kenekatanku sekali ini pun karena cintaku kepadamu.

Yang mencinta selamanya,
Sun Eng


"Eng-Moi...!" Lie Seng mengeluh.

Ingin dia menjerit, dan ingin dia mengejar, memaksa Sun Eng kembali kepadanya. Akan tetapi ke mana dia harus mencarinya? Apakah yang akan dilakukan oleh gadis itu?

Sejenak dia termangu, terduduk di atas kursi dengan muka pucat dan mata tak bersinar. Dia mengingat-ingat apa yang menyebabkan Sun Eng mengambil keputusan nekat seperti itu. Nekat dan berbahaya! Kemudian dia mengerti.

Selama ini Sun Eng merasa rendah diri, merasa tidak patut menjadi jodohnya, apa lagi melihat kebaikan yang dilimpahkan oleh Mei Lan dan suaminya kepada mereka berdua. Sekarang tiba-tiba saja muncul pangeran itu yang bukan hanya merupakan musuh besar keluarga Cin-ling-pai, juga pangeran ini yang menyebabkan keluarga Mei Lan terpaksa harus melarikan diri, bahkan menghancurkan pula kebahagiaan Sun Eng yang telah hidup aman tenteram bersama Lie Seng di Yen-tai. Inilah agaknya yang menjadi pendorong besar, dan memang seperti yang ditulis oleh Sun Eng, dia melihat kesempatan baik.

Akan tetapi, apa yang akan dilakukan? Membunuh pangeran itu? Ahhh, lamunan kosong belaka dan sama dengan membunuh diri! Lalu apa? Apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu?

"Sun Eng...! Eng-moi...!" Lie Seng mengeluh.

Tanpa mempedulikan buntalan-buntalan itu, dia meloncat keluar dan dengan nekat dia lalu mencari keterangan di mana adanya Pangeran Ceng Han Houw! Dia harus mencari kekasihnya, harus mencegah kekasihnya berlaku nekat. Kalau perlu, dia akan melindungi Sun Eng dengan taruhan nyawanya!

Akan tetapi, dalam penyelidikannya dia mendengar bahwa pangeran itu sedang menjadi tamu agung di gedung Ciong-taijin, kepala daerah kota Yen-tai! Kemudian menurut hasil penyelidikannya pula, dia mendengar Sun Eng tidak berada di tempat itu. Hatinya merasa lega, akan tetapi segera dia merasa bingung kembali karena dia tidak tahu ke mana dia harus menyusul dan mencari Sun Eng.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja, karena menurut suratnya, Sun Eng hendak berusaha menyelamatkan keluarga Cin-ling-pai. Ini berarti bahwa tentu kekasihnya itu akan pengi ke kota raja untuk berusaha menghapus fitnah terhadap nama keluarga Cin-ling-pai itu. Bahkan di dalam surat itu, Sun Eng mengatakan bahwa kalau usahanya gagal, maka dia akan mencoba untuk membunuh Pangeran Ceng Han Houw. Ke mana lagi perginya kekasihnya itu kalau tidak ke kota raja?

Akan tetapi, Lie Seng yang kini melakukan perjalanan cepat ke kota raja itu tidak tahu bahwa sesungguhnya Sun Eng masih berada di Yen-tai! Wanita ini setelah mengadakan pembicaraan dengan kekasihnya, Mei Lan dan Kwi Beng, ketika pulang ke rumahnya dan berkemas, tidak pernah dapat membendung mengalirnya air matanya.

Mei Lan dan Kwi Beng demikian baik kepadanya, dan sekarang mereka itu menghadapi mala petaka! Dan sekarang dia harus bertindak! Tak mungkin dia diam saja. Sekarang dia harus menunjukkan baktinya terhadap keluarga Lie Seng. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengangkat namanya sendiri, harus melakukan perbuatan yang akan menariknya keluar pecomberan yang pernah diciptakannya akibat penyelewengan-penyelewengannya sehingga ibu kekasihnya tak sudi menerimanya sebagai mantu. Dia akan memperlihatkan kepada mereka bahwa biar pun dia pernah menyeleweng, namun dia masih mempunyai kegagahan, masih memiliki harga diri yang ditimbulkan oleh perbuatannya yang membela Cin-ling-pai dan kalau perlu dia akan berkorban nyawa!

Tentu saja hatinya seperti disayat-sayat rasanya kalau dia teringat kepada Lie Seng, pria yang dicintanya dan sangat mencintanya. Dia akan jauh dari pria itu, dia akan menderita rindu, dia akan merasa kehilangan cumbu rayu dan selangit kemesraan yang dinikmatinya bersama Lie Seng. Akan tetapi, dia mengeraskan hatinya, dia harus melakukan ini selagi terdapat kesempatan, karena kalau tidak, segala kemesraan dengan Lie Seng itu selalu akan tidak lengkap, selalu akan ternoda oleh rasa rendah diri!

Demikianlah, dia lalu mempersiapkan segala sesuatu untuk pria yang dicintanya, bahkan pemberian perhiasan dari Mei Lan ditinggalkan untuk kekasihnya. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kepergiannya demikian menghancurkan hati Lie Seng hingga pria ini pun sampai tidak mempedulikan lagi semua benda-benda itu, bahkan pergi tanpa membawa apa pun!

Sun Eng yang merupakan penduduk baru di Yen-tai, dengan mudahnya dapat melakukan penyelidikan dan terus membayangi Pangeran Ceng Han Houw, tanpa dicurigai orang lain karena dia memang belum mempunyai banyak kenalan. Dia melihat betapa pangeran itu membawa pasukan setempat menyerbu ke rumah Souw Kwi Beng, akan tetapi tentu saja kedua suami isteri itu telah lama meninggalkan rumah, bahkan telah lama meninggalkan pelabuhan. Para pegawai mereka yang diperiksa menyatakan dengan terus terang bahwa majikan mereka bersama nyonya majikan berlayar ke selatan.

Pangeran Ceng Han Houw menjadi sangat kecewa dan marah, akan tetapi karena dia tak membutuhkan para pengawal itu, dia hanya memesan kepada Ciong-taijin supaya terus mengawasi dan kalau sewaktu-waktu suami isteri itu pulang, harus segera ditangkap dan dibawa ke kota raja! Kemudian, atas petunjuk dari para pegawai, dia membawa pasukan menyerbu rumah Lie Seng di mana dia pun mendapatkan rumah kosong belaka karena Lie Seng dan kekasihnya juga sudah kabur entah ke mana.

Sun Eng menyaksikan semua ini dari tempat persembunyiannya dan dia terus mengikuti perjalanan pangeran itu. Han Houw tidak lama tinggal di Yen-tai. Pada keesokan harinya, dia menunggang kereta yang disediakan oleh Ciong-taijin, menuju ke arah utara karena dia hendak kembali ke kota raja.

Akan tetapi dua hari kemudian, pada saat kereta itu melewati sebuah hutan, dia melihat sesosok tubuh wanita menggeletak di tengah jalan liar itu. Tentu saja kusir kereta cepat menghentikan keretanya dan ketika Han Houw membuka tirai memandang, dia melihat tubuh wanita itu dan dia merasa tertarik sekali, apa lagi melihat betapa pakaian wanita itu robek-robek hingga nampaklah kulit paha yang putih mulus! Hal seperti ini tentu saja amat menarik mata pangeran itu.

Dia segera meloncat turun, kemudian dengan beberapa lompatan saja dia sudah tiba di dekat wanita itu menelungkup dalam keadaan lemas, masih hidup namun keadaannya amat memelas sekali, selain pakaiannya robek-robek, juga lengan dan kakinya lecet-lecet dan sepatunya juga bolong-bolong, rambutnya awut-awutan.

Han Houw lalu membalikkan tubuh itu dengan memegang pundaknya. Sesudah tubuh itu membalik, dia pun terbelalak. Wanita ini masih amat muda dan cantik manis bukan main! Wajah itu pucat, akan tetapi kulitnya halus bukan main dan agaknya tadinya terpelihara baik-baik, dengan alis yang seperti dilukis saja, mata terpejam dengan bulu mata panjang, hidung kecil mancung dan mulut yang menggairahkan, dengan bibir penuh lembut serta lehernya panjang, putih mulus berbentuk indah.

Usia wanita ini tak akan lebih dari dua puluh tahun, dan di balik pakaian yang robek-robek itu, bahkan di bagian dada juga robek, membayanglah buah dada yang padat dan lekuk lengkung tubuh yang penuh berisi, tubuh seorang wanita muda yang mulai masak!

Han Houw cepat-cepat meraba nadi pergelangan tangan wanita itu. Lemah sekali! Dari pengetahuannya yang cukup tentang keadaan tubuh manusia, dia mengerti bahwa wanita ini tidak terluka, hanya sangat lelah dan mungkin sekali kelaparan! Wanita itu pun tidak pingsan, melainkan setengah sadar karena dia menggerakkan mata dan mulut. Mata itu terbuka perlahan dan untuk kedua kalinya Han Houw terpesona. Mata itu pun demikian indahnya, bening dan penuh perasaan, hanya terselimut duka yang mendalam.

Bibir yang kemerahan dan lunak itu berbisik-bisik, "Biarkan aku mati... ahhh, biarkan aku mati..."

"Hemm, engkau masih muda dan cantik, kenapa ingin mati, nona?"

Wanita muda itu menangis sesenggukkan. "...lebih baik mati dari pada hidup merana... aku akan tersiksa..."

"Hemmm, jangan takut! Setelah aku berada di sampingmu, biar raja setan neraka sekali pun takkan berani mengganggumu. Aku akan melindungimu. Mari engkau ikut denganku, nona."

Wanita itu lalu bangkit duduk dengan lemah, matanya yang seperti hendak terpejam saja, seperti mata orang mengantuk karena lemahnya itu, memandang wajah pria yang tampan itu. "Kau... kau... siapakah...?"

Wajah tampan itu tersenyum penuh gaya. "Aku adalah Pangeran Ceng Han Houw...!"

"Aduh...! Ampunkan hamba...!" Wanita itu cepat-cepat berlutut dan memberi hormat, akan tetapi karena badannya lemah dia terguling dan tentu sudah roboh lagi kalau tidak cepat dirangkul Han Houw.

"Siapa namamu?"

"Hamba... hamba she Sun bernama Eng..."

Han Houw yang merangkul wanita itu mendekatkan mukanya dan mencium bau sedap, membuat hatinya makin berdebar penuh gairah.

"Maukah engkau ikut bersamaku, menikmati hidup dan terlepas dari penderitaanmu?" Dia berbisik dekat telinga wanita itu, hidungnya menyentuh pipi dengan lembut.

"Hamba... hamba mau... akan tetapi suami hamba..."

Sepasang alis pangeran itu berkerut, akan tetapi hatinya sudah terlampau tertarik dengan kecantikan dan kelembutan yang sudah terasa oleh kedua tangannya yang merangkul dan sudah tercium oleh hidungnya. "Suamimu...?"

"Hamba... melarikan diri dari suami hamba... kalau dia tahu hamba... hamba tentu akan dibunuhnya..."

Lega rasa hati Han Houw dan dia tersenyum. "Engkau lari darinya? Mengapa engkau lari dari suamimu?"

"Hamba... hamba dipaksa menikah dengan suami yang tua bangka itu... biar pun dia kaya raya, hamba tidak suka... dan setelah tiga bulan menjadi isterinya, hamba tidak sanggup menahan lagi maka hamba lalu melarikan diri. Sampai tiga hari tiga malam hamba lari... hamba tidak makan dan..."

Semakin giranglah hati Han Houw. Diciumnya mata kanan yang bening itu dengan ujung hidungnya. Sun Eng memejamkan matanya kemudian membuat suara dengan napasnya seperti tersentak kaget, sikap seorang wanita yang tidak biasa bermain gila dengan pria lain!

"Pangeran...! Jangan..."

Tentu saja sikap ini sangat menyenangkan bagi Han Houw, maka dia tersenyum. "Kalau begitu jangan khawatir, mari kau ikut bersamaku dan hidup senang di kota raja. Tentang suamimu tua bangka itu, kalau dia berani muncul, akan kujebloskan ke dalam penjara!" Tanpa menanti jawaban lagi, dia lalu memondong tubuh Sun Eng kemudian dibawanya ke dalam kereta.

Tirai kereta ditutup lantas dengan suara lantang gembira Han Houw memerintahkan kusir untuk membalapkan kereta itu menuju ke kota raja!

Dapatlah dibayangkan alangkah senangnya hati Han Houw menemukan seorang wanita secantik manis Sun Eng. Selama dalam perjalanan itu dia membelai dan membujuk rayu sehingga wanita itu tidak berani banyak berkutik atau bersuara karena merasa malu sekali terhadap kusir yang duduk di depan. Dia terpaksa diam saja ketika dipeluk, diciumi dan digerayangi oleh pangeran itu.

Sun Eng hanya memejamkan matanya, bahkan dicobanya untuk membayangkan bahwa yang diciuminya itu adalah Lie Seng, pria yang amat dicintanya! Hatinya perih bukan main bahwa dia terpaksa harus melakukan hal ini, terpaksa harus menyerahkan dirinya kepada seorang pria lain, betapa pun tampan, gagah dan tingginya kedudukan pria yang sedang memangkunya ini. Dia melakukan akal ini dengan perasaan hancur.

Hanya ini satu-satunya jalan, pikirnya. Satu-satunya jalan untuk mengorbankan diri demi kebaikan keluarga Lie Seng. Pertama, dia akan dapat berusaha menyelamatkan keluarga Cin-ling-pai dengan cara menundukkan pangeran yang berkuasa ini. Ke dua, dia pun bisa memutuskan hubungannya dengan Lie Seng karena dia insyaf bahwa sesungguhnya dia tidak patut menerima cinta yang demikian besarnya dari Lie Seng.

Diam-diam Sun Eng merasa heran, betapa cintanya terhadap Lie Seng sudah merubah dirinya sama sekali, merubah perasaan hatinya. Dia tahu pasti bahwa dulu, sebelum dia berjumpa dengan Lie Seng, tentu dia akan merasa bangga, merasa gembira bukan main bila bertemu dengan seorang seperti pangeran ini. Masih muda, tampan, pandai merayu, pandai bermain cinta, berkepandaian tinggi sekali, serta berkedudukan tinggi pula! Akan tetapi mengapa kini dia menerima belaian dan peluk cium pangeran ini dengan hati yang demikian perihnya?

"Ehh, mengapa engkau menangis?" bisik pangeran itu di dekat telinganya sesudah puas menciuminya dan melihat ada beberapa butir air mata menuruni kedua pipi yang halus dan kemerahan itu.

"Hamba... hamba takut...," bisik Sun Eng.

"Takut? Ha-ha-ha, aku suka padamu, Eng-moi, jangan takut, aku akan melindungimu dan mulai saat ini, semua orang akan menghormatimu. Hai, kusir, kita berhenti di kota ini dan pergi ke rumah kepala daerah!" Pangeran Ceng Han Houw berkata ketika melihat bahwa keretanya memasuki pintu gerbang sebuah kota.

Sun Eng digandeng turun sesudah kereta berhenti di depan gedung kepala daerah, dan pangeran itu bersama Sun Eng lalu disambut dengan penuh kehormatan. Memang benar seperti yang dijanjikan oleh pangeran itu, karena dia datang sambil digandeng oleh sang pangeran, maka Sun Eng disambut dengan penuh penghormatan!

Han Houw diberi kamar yang terindah di gedung itu, dan atas perintah Han Houw, kepala daerah itu bergegas mencarikan pakaian-pakaian yang paling indah untuk Sun Eng! Dan mereka berdua pun lalu dijamu dengan hidangan-hidangan istimewa yang serba lezat dan mahal! Sun Eng merasa seakan-akan dia hidup di dalam mimpi. Kepala daerah kota itu mengadakan pesta untuk menghormati dan menyenangkan dia!

Akan tetapi kembali dia menangis dan hatinya terasa hancur ketika pada malam itu dia terpaksa harus melayani sang pangeran bermain cinta. Dia hanya bisa menyerah, bahkan demi tercapainya rencana yang sedang dijalankannya, dia tidak hanya melayani dengan pasrah dan diam saja, bahkan sebaliknya dari pada itu, dia mempergunakan kepandaian dan pengalamannya untuk menyenangkan pangeran itu.

Pangeran Ceng Han Houw makin tergila-gila kepada Sun Eng dan pangeran yang cerdik ini merangkul dan bertanya, "Eng-moi, dari mana engkau mempelajari semua kelihaianmu yang penuh gairah ini?"

Sun Eng tersenyum dan bersikap malu-malu, lalu mencubit lengan pangeran itu.

"Ah, pangeran... saya yang setiap hari harus menderita... merasa tersiksa dalam pelukan seorang tua bangka yang napasnya sudah empas-empis, yang untuk mengangkat tubuh sendiri saja sudah tidak kuat... betapa setiap saat saya selalu merindukan seorang pria yang muda, kuat dan tampan seperti paduka... karena itu, tentu saja saya merasa sangat berterima kasih dan girang..."

Han Houw tertawa dan malam itu mereka bermain cinta tanpa mengenal lelah atau puas. Pada keesokan harinya, Han Houw melanjutkan perjalanan ke kota raja. Mulai saat itu, Sun Eng menjadi selir yang terkasih dari Han How. Selir baru ini, seperti biasa, diterima dengan penuh kerelaan dan sikap manis oleh selir-selir yang lain.

Pada jaman itu, selir-selir dari seorang bangsawan atau hartawan tidak ada yang berani menentang apa bila suami mereka yang lebih tepat disebut majikan mengambil selir baru. Apa lagi selir-selir Pangeran Ceng Han Houw yang kesemuanya tunduk dan takut sekali terhadap sang pangeran, di samping rasa kagum mereka dan keinginan mereka untuk menjadi orang yang paling dikasihi.

Sun Eng memang mengalami kehidupan yang mewah dan enak. Setiap hari dilayani para pelayan, hidup serba mewah, dan satu-satunya pekerjaan hanyalah bersama para selir lain melayani sang pangeran, berusaha menyenangkan hati pangeran sebaik mungkin. Dia terkenal sebagai selir baru yang pendiam terhadap lain selir, akan tetapi amat manis budi dan menarik terhadap sang pangeran sehingga sampai beberapa bulan lamanya dia menjadi selir terkasih dan paling dipercaya oleh Han Houw.

Menggunakan saat-saat sang pangeran terbuai oleh pelayanannya di dalam kamar, pada waktu pangeran muda itu dalam keadaan setengah mabuk oleh rayuannya, sedikit demi sedikit Sun Eng dapat memperkuat kepercayaan pangeran itu kepadanya hingga sedikit demi sedikit pula dia dapat mengorek rahasia pribadi sang pangeran!

"Aku adalah putera tiri dari Raja Sabutai yang besar!" demikian Han Houw berbisik dalam ‘mabuknya’ sambil membelai Sun Eng penuh gairah birahi. "Dan aku akan menjadi orang terbesar di seluruh dunia! Aku mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi dan aku harus menjadi Jago Nomor Satu di dunia ini!"

Perlahan-lahan, dengan beberapa pertanyaan yang seolah-olah mengagumi dan memuji, dengan sikap manja yang amat menarik, disertai ciuman-ciuman hangat dan penyerahan diri penuh gairah, Sun Eng berhasil ‘menuntun’ Han Houw sehingga pangeran muda ini akhirnya menceritakan semua cita-citanya.

Dia ingin menjadi jago nomor satu di dunia bukan sekedar memuaskan hatinya melainkan mengandung niat yang lebih besar. Yaitu, sesudah menjadi jagoan nomor satu, dia akan dapat menghimpun seluruh kekuatan kang-ouw untuk berdiri di belakangnya! Dan dia pun perlahan-lahan hendak menguasai para pimpinan bala tentara Kerajaan Beng-tiauw agar mereka pun berdiri di belakangnya. Kemudian, dengan bantuan ayah tirinya, Raja Sabutai yang akan melakukan penyerbuan lagi ke selatan, dia yang sudah siap di sebelah dalam ini akan menjatuhkan kekuasaan Kaisar Ceng Hwa, yaitu saudara tirinya, dan merebut tahta kerajaan.

"Ha-ha-ha, kekasihku, akulah yang patut menjadi kaisar, bukan?"

Sun Eng merangkul manja. "Tentu saja, pangeran. Di dunia ini tidak ada seorang pria lain mana pun yang lebih pantas menjadi kaisar selain paduka."

Han Houw tertawa dan mencium bibir yang setengah terbuka dan menantang itu. "Dan engkau mungkin menjadi permaisuriku!"

"Ahhh... pangeran, mana hamba ada harga untuk itu..."

"Kau cukup berharga, atau setidaknya engkau akan menjadi permaisuri ke dua, ke tiga atau selir terkasih."

"Ahhh, terima kasih, pangeran junjungan hamba..."

Demikianlah, dengan segala kepandaian yang ada padanya, Sun Eng membikin pangeran itu tergila-gila kepadanya dan mabuk rayuannya sehingga dia percaya benar dalam waktu kurang dari dua bulan saja.

Pada suatu senja, Pangeran Ceng Han Houw sedang mengaso di ruangan dekat taman. Dia duduk di atas sebuah kursi panjang yang dibuat amat indahnya, sebuah kursi rotan yang kepalanya berupa kepala seekor ular raksasa. Dengan santai pangeran itu duduk dengan kedua kaki lurus di atas kursi panjang itu, tersenyum nikmat dikelilingi oleh para selirnya terkasih.

Sun Eng duduk paling dekat dengannya, bahkan Sun Eng inilah yang bertugas memijati tubuh pangeran itu. Sun Eng memijati atau lebih tepat disebut membelai paha pangeran itu. Ada pula selir yang mengipasi leher pangeran karena hawa senja hari itu agak panas. Seorang selir lainnya membawa buah-buahan segar, dan ada seorang selir yang sedang melakukan tari sutera yang indah dengan diiringi suara musik merdu yang dimainkan oleh beberapa orang selir lain dengan yang-kim dan suling. Para selir itu semua cantik-cantik dan muda-muda, akan tetapi agaknya memang Sun Eng yang menjadi selir terkasih saat itu.

Sun Eng kelihatan diam termenung. Memang hatinya sedang gelisah sekali sesudah apa yang didengarnya dan dapat dikoreknya dari Pangeran Ceng Han Houw semalam, ketika dia melayani pangeran itu. Untung bahwa saat itu pangeran sedang kelelahan dan malas memperhatikan sesuatu sehingga tak nampak oleh sang pangeran betapa kekasihnya itu termenung. Pangeran itu terlampau lelah karena sesudah semalam dia hampir tidak tidur dan berenang dalam lautan permainan asmara bersama Sun Eng, pada siang hari tadi dia masih mengumbar nafsu birahinya dengan para selir lain.

Di dalam hati Sun Eng terjadi keraguan akan hasil dari pada semua pengorbanannya. Dia mendengar dari pangeran ini bahwa yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai bukanlah kaisar atau pemerintah. Kaisar hanya terkena hasutan dari Kim Hong Liu-nio yang mendendam kepada keluarga Cin-ling-pai karena dua hal.

Pertama, karena keluarga itu adalah musuh besar subo-nya. Ke dua karena Kim Hong Liu-nio merasa sakit hati atas kematian Panglima Lee Siang, dan justru pembunuh dari panglima kekasih Kim Hong Liu-nio itu adalah Lie Seng! Jadi bukan pangeran inilah yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai!

Apa bila demikian, percuma saja dia menghambakan diri kepada pangeran ini! Hampir dia putus asa, akan tetapi setidaknya dia hendak mempergunakan pengaruhnya sebagai selir terkasih, menggunakan pengaruh tangannya pula! Dia harus membongkar semua rahasia Pangeran Ceng Han Houw ini kepada kaisar! Akan tetapi bagaimana caranya dan mana buktinya? Tanpa bukti, tentu saja tidak mungkin hal itu dilakukan. Kaisar tentu akan jauh lebih mempercayai seorang adik tiri dari pada seorang selir pangeran!

Pada waktu itu, selagi Pangeran Ceng Han Houw hampir tertidur karena keenakan dibuai oleh suara musik dan dipijati Sun Eng, dengan silirnya kebutan kipas, mendadak seorang pengawal melaporkan bahwa ada tamu dari utara yang hendak datang menghadap. Saat mendengar kedatangan tamu dari utara, Pangeran Ceng Han Houw seketika bangkit dan wajahnya membayangkan kesungguhan serta penuh semangat, kemudian dengan berseri dia berkata,

"Suruh dia menanti di ruangan baca di dalam."

Pengawal itu memberi hormat kemudian cepat keluar. Ruangan baca merupakan ruangan di sebelah dalam yang menjadi kamar rahasia dari pangeran itu. Biasanya siapa pun tidak boleh memasukinya. Kalau sekarang seorang tamu dipersilakan masuk ke dalam ruangan itu, maka mudah diduga bahwa tamu itu tentu seorang yang amat penting.

"Pangeran, bolehkah hamba ikut?" tiba-tiba Sun Eng berbisik.

Pangeran menoleh dan sudah bersiap untuk menolak dan menyuruhnya pergi, akan tetapi pada saat dia memandang sinar mata lembut penuh cinta kasih itu, mata dan mulut yang membayangkan permohonan mendalam agar diperkenankan selalu di dekatnya, maka dia tersenyum, merangkul dan mencium bibir Sun Eng sampai lama, dipandang dengan rasa iri tersembunyi oleh para selir lainnya.

"Hanya engkau saja yang boleh, aku percaya kepadamu," bisik pangeran itu yang segera menggandeng tangannya dan diajaklah selir terkasih ini ke dalam menuju ke kamar baca itu.

Tiga orang yang duduk di dalam kamar yang luas dengan diterangi lampu-lampu besar itu langsung bangkit berdiri dan mereka cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pangeran Ceng Han Houw. Pangeran itu lantas menggerakkan tangannya menyuruh mereka berdiri, lalu dia sendiri duduk di atas kursi kepala, menarik tangan Sun Eng dan menyuruh selir ini duduk di samping kirinya.

"Duduklah dan ceritakan hasil dari tugas-tugas kalian," katanya tenang.

Tiga orang itu kelihatan ragu-ragu dan dengan alis berkerut mereka memandang kepada Sun Eng, agaknya merasa heran, bingung dan khawatir. Sang pangeran tersenyum ketika melihat sikap mereka itu. Sambil merangkul pundak selimya dia berkata,

"Jangan kalian meragu. Dia ini adalah selirku yang tercinta, orang yang paling kupercaya di sini. Kalian boleh bicara tanpa ragu-ragu."

Sun Eng menundukkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya sebab saat itu dia merasa tegang bukan main. Dia tidak mengenal ketiga orang ini dan tadi dia memandang penuh perhatian.

Salah seorang di antara mereka adalah seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, mukanya hitam brewok menyeramkan. Dia tidak tahu bahwa orang ini adalah seorang tokoh selatan yang sangat terkenal, karena dia adalah Hai-liong-ong Phang Tek, orang pertama dari Lam-hai Sam-lo yang amat ditakuti orang.

Ada pun orang ke dua dan ke tiga adalah orang asing, kemungkinan orang Mongol, dan pandang mata mereka itu tajam sekali, tanda bahwa mereka adalah orang-orang cerdik. Salah seorang di antara keduanya, yang usianya kurang dari lima puluh tahun, sesudah membungkuk-bungkuk dengan hormat kemudian bicara singkat dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Sun Eng kepada pangeran.

Dan sambil tersenyum-senyum sang pangeran menjawab dalam bahasa itu pula, agaknya menghibur dan menenangkan hati orang Mongol itu. Orang ke dua yang usianya kurang lebih enam puluh tahun membuat Sun Eng merasa tidak enak karena sinar mata orang ke dua ini seolah-olah mampu menelanjanginya. Mata pria yang cabul.

"Nah, sam-wi, silakan sekarang membuat laporan. Selirku yang satu ini sama saja dengan isteriku, maka boleh dipercaya sepenuhnya."

Kembali orang Mongol yang lebih tua itu bicara dalam bahasa Mongol, lalu menyerahkan sebuah kotak hitam. Sun Eng ingin sekali mengetahui, akan tetapi karena tidak mengerti bahasa mereka, dia hanya termangu-mangu. Girang hatinya ketika dia melihat pangeran membuka peti itu lantas mengeluarkan gulungan kertas yang merupakan surat dari Raja Sabutai kepada puteranya! Sang pangeran membaca surat itu lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, ayahanda Raja Sabutai masih suka menggunakan peraturan kuno, mengirim surat secara resmi! Syukurlah bahwa kini di utara telah diadakan persiapan. Nah, Phang-lo-enghiong, ketahuilah bahwa sekutu kita di utara sudah siap. Karena itu kita juga harus cepat-cepat mempersiapkan diri. Apakah engkau telah menghubungi fihak Pek-lian-kauw yang sudah kutundukkan?"

Dengan sikap sangat menghormat, kakek tua yang tinggi besar itu mengangguk. "Sudah, pangeran, Kim Hwa Cinjin sudah menyatakan bahwa seluruh anggota Pek-lian-kauw telah siap untuk membantu paduka."

"Bagus! Kalau demikian tinggal menghimpun orang-orang kang-ouw, dan untuk itu perlu lebih dulu diadakan pertemuan besar untuk memperebutkan gelar jago nomor satu. Kalau aku dapat merebut gelar itu, tentu mudah untuk mempengaruhi mereka. Kau boleh atur pertemuan besar itu..."

"Baik, pangeran."

Melihat selirnya yang tercinta itu kelihatan kesal karena agaknya tidak tertarik, Pangeran Ceng Han Houw lalu memegang lengannya dan berkata, "Eng-moi, kau lebih baik pergi mengaso dulu. Ehh, baiknya kotak ini kau bawa dan kau simpan dulu baik-baik di dalam kamarmu. Aku masih hendak mengadakan perundingan penting dengan para tamu ini dan engkau tidak perlu mendengarkan karena engkau tentu tidak tertarik."

Sun Eng menyembunyikan debar jantungnya karena girang. Dia memberi hormat dengan sikap manis dan berkata, "Baik, pangeran. Hamba akan menanti paduka dan menyiapkan segalanya untuk menyenangkan paduka..." Dalam ucapan ini terkandung janji-janji yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Wajah pangeran itu berseri-seri akan tetapi dia lalu mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara lirih.

"Ah, agaknya malam ini kami akan berunding sampai jauh malam, mungkin sampai pagi. Kau mengasolah saja, Eng-moi, engkau perlu beristirahat setelah..." dia tidak melanjutkan kata-katanya, hanya tersenyum dan Sun Eng berhasil memperlihatkan sikap tersipu-sipu.

Memang selama hampir dua bulan itu, hampir setiap malam sang pangeran tentu berada di dalam kamarnya dan mereka itu seperti sepasang pengantin baru berbulan madu saja. Kembali dia memberi hormat, lalu mengundurkan diri membawa kotak hitam terukir indah itu.

Setelah tiba di dalam kamamya, Sun Eng cepat-cepat mengeluarkan alat tulis dan kertas kosong, lalu dengan cepat dia mengerahkan seluruh ingatannya untuk menyusun sebuah surat pelaporan kepada kaisar! Ditulisnya semua rahasia dari Pangeran Ceng Han Houw, betapa pangeran ini sudah mengadakan persekutuan dengan Raja Sabutai dan dengan orang-orang kang-ouw, bahkan dengan Pek-lian-kauw yang telah siap membantu apa bila Raja Sabutai mengadakan serbuan!

Betapa keluarga Cin-ling-pai difitnah oleh Kim Hong Liu-nio, diceritakannya selengkapnya dalam pelaporan itu tentang asal mula keluarga Cin-ling-pai kena fitnah. Semua ini telah didengarnya sendiri dari penuturan Pangeran Ceng Han Houw!

Sesudah selesai membuat surat itu, Sun Eng berganti pakaian ringkas yang disimpannya secara sembunyi, kemudian dia meninggalkan gedung besar itu melalui jendela dan terus berloncatan di atas genteng. Selir yang biasanya sangat manja dan lemah lembut penuh daya tarik kewanitaan itu, kini berubah menjadi bayangan yang amat gesit dan ringan.

Selama menjadi selir terkasih Pangeran Ceng Han Houw, merayu pangeran itu di dalam belaiannya, Sun Eng telah pula mengenal nama-nama para pejabat tinggi yang dianggap musuh oleh sang pangeran, sebab pejabat itu merupakan pembesar-pembesar yang amat setia kepada kaisar.

Oleh karena itu bayangan hitam yang berkelebatan pada malam hari berlompatan di atas genteng-genteng itu kini menuju sebuah gedung besar, yaitu tempat tinggal dari Menteri Liang, seorang menteri tua yang terkenal sangat setia terhadap pemerintah. Akan tetapi karena kedudukannya hanyalah sebagai menteri bagian kebudayaan, maka kejujuran dan keadilannya tak dapat berbuat banyak terhadap para menteri durna yang lain. Maklumlah, kedudukannya tidak mengijinkan dia mencampuri urusan-urusan lain yang lebih penting dan lebih dekat dengan kaisar.

Para pengawal cepat mengepung Sun Eng ketika wanita ini tiba di pintu gerbang besar menteri itu, "Saya bernama Sun Eng, dan saya mohon menghadap Liang-taijin karena ada urusan yang amat penting sekali. Urusan yang menyangkut keamanan negara."

Mendengar ini, para pengawal segera melaporkan kepada Liang-taijin. Pembesar ini tidak pernah takut menghadapi apa pun juga, maka mendengar betapa malam-malam begitu ada seorang wanita cantik yang diduga adalah seorang wanita kang-ouw ingin menghadap membawa berita penting, tentang keamanan negara, dia segera menyuruh para pengawal mengantar wanita itu ke ruang tamu. Tentu saja demi keamanan dirinya sendiri, dia juga memerintahkan para pengawal untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.

Dengan jantung berdebar Sun Eng lalu memasuki kamar tamu, diiringkan oleh belasan orang pengawal yang memegang tombak. Sesudah dia berjumpa dengan pembesar tua yang berwibawa itu, dia segera menjatuhkan diri berlutut. "Hamba adalah seorang selir baru dari Pangeran Ceng Han Houw..."

"Ahhh...!" Menteri tua itu bangkit dari tempat duduknya dan memandang dengan penuh selidik.

"Hamba sengaja menjadi selirnya hanya untuk menyelidiki keadaan Pangeran Ceng Han Houw dan inilah hasil penyelidikan hamba, harap paduka sudi melaporkannya kepada sri baginda kaisar untuk menyelamatkan kerajaan." Dengan singkat tetapi jelas Sun Eng lalu menceritakan kedatangan tamu dari utara yang membawa surat dari Raja Sabutai itu, dan menambahkan, "Semua fitnah yang dijatuhkan kepada keluarga Cin-ling-pai telah hamba tulis dalam laporan ini. Sekarang hamba mohon diri sebelum hamba ditangkap oleh sang pangeran di tempat ini. Hamba harus cepat melarikan diri."

Melihat wanita cantik itu memberikan sebuah bungkusan kain berwarna kuning, menteri itu tidak berani lancang menerima dan menyuruh seorang kepala pengawal menerimanya dan melihat wanita itu sudah bangkit dan hendak pergi, dia cepat bertanya. "Nanti dulu, nona. Kami ingin mengetahui siapakah nona dan mengapa nona melakukan semua ini?"

"Hamba adalah seorang yang berhutang budi kepada keluarga Cin-ling-pai, maka hamba sengaja melakukan ini demi untuk menolong keluarga Cin-ling-pai. Selamat tinggal, taijin."

Dengan mempergunakan ginkang-nya, Sun Eng sudah melompat dan lenyap dari tempat itu. Gerakannya sedemikian cepat dan gesitnya sehingga membuat menteri itu terkejut. Ketika para pengawalnya bergerak hendak mengejar, dia memberi tanda dengan tangan mencegah mereka kemudian dia menyuruh pengawal membuka buntalan itu.

Di lain saat Liang-taijin sudah memeriksa gulungan surat dalam kotak hitam dengan mata terbelalak seolah-olah dia tidak percaya akan apa yang dilihat dan dibacanya. Jelaslah isi surat dalam bahasa Mongol itu bahwa Raja Sabutai mengatur rencana pemberontakan lagi dan kini dibantu oleh putera angkatnya yang sebetulnya putera dari mendiang Kaisar Ceng Tung, atau saudara tiri Kaisar Ceng Hwa yang sekarang!

Dengan jari-jari tangan gemetar Liang-taijin lalu membaca semua pelaporan yang ditulis secara tergesa-gesa namun lengkap dan jelas oleh Sun Eng. Maka dia lalu menyimpan baik-baik semua benda itu kemudian memerintahkan para pengawal supaya melakukan penjagaan yang seketatnya dan secara diam-diam dia menyuruh panggil para pembesar lain yang sehaluan, yaitu para pembesar yang setia kepada kaisar dan yang diam-diam menentang semua sepak terjang Pangeran Ceng Han Houw dan Kim Hong Liu-nio yang selama ini bersikap sewenang-wenang, bahkan telah menyebabkan keluarga Cin-ling-pai yang sejak dahulu terkenal sebagai keluarga gagah yang dianggap pemberontak.

Malam itu juga para pembesar ini mengadakan perundingan dan memeriksa surat-surat itu. Akhirnya diambil keputusan untuk menyerahkan surat-surat itu kepada Pangeran Hung Chih, yaitu seorang pangeran kakak tiri dari kaisar sendiri yang terkenal sebagai seorang pangeran yang bijaksana dan seolah-olah dialah yang menjadi penasehat dari kaisar.

Malam itu juga Pangeran Hung Chih menerima berita itu berikut semua bukti-buktinya, maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pangeran ini telah menghadap kaisar dan melaporkan segala yang didengarnya itu berikut bukti-buktinya, yaitu surat Raja Sabutai kepada Pangeran Ceng Han Houw, dan juga laporan yang ditulis oleh Sun Eng.

Kaisar terkejut bukin main, wajahnya berubah merah karena marah. Akan tetapi dengan bijaksana dia lalu memberi kekuasaan kepada Pangeran Hung Chih untuk menanggulangi persoalan itu dengan pesan agar pangeran itu berhati-hati dalam menghadapi Ceng Han Houw, mempergunakan kebijaksanaan agar tidak sampai terjadi perang saudara. Apa lagi bila diingat bahwa di samping Ceng Han Houw merupakan seorang pangeran yang diakui oleh mendiang ayah mereka sendiri, juga Kim Hong Liu-nio, suci dari pangeran ini pernah berjasa terhadap mendiang Kaisar Ceng Tung.

"Akan tetapi, bagaimana pun juga, kepentingan kerajaan harus didahulukan dan mereka yang hendak memberontak, siapa pun juga harus ditumpas secara halus mau pun, kalau perlu, kasar!"

Demikianlah, Pangeran Hung Chih yang telah mendapat kekuasaan penuh secara tertulis dari kaisar sendiri, lalu membuat persiapan-persiapan dan mengatur rencana dan siasat untuk menghadapi Pangeran Ceng Han Houw secara halus…..

********************

Sun Eng merasa lega sekali sesudah dia menyerahkan semua benda itu kepada Menteri Liang. Dia merasa yakin bahwa usahanya tentu akan berhasil dengan baik. Menteri Liang tentu akan terkejut sekali dan pasti akan menyampaikan berita yang sangat penting bagi keamanan kerajaan itu kepada kaisar. Tugasnya telah selesai dan dia sudah melakukan sesuatu demi keselamatan keluarga Cin-ling-pai. Bukan itu saja, bahkan dia telah berjasa untuk kerajaan!

Akan tetapi di samping perasaan bangga bahwa dia telah mampu mengangkat namanya, memberi isi kepada namanya sehingga dia tak akan terlampau rendah dalam pandangan keluarga Cin-ling-pai, ada perasaan duka yang mendalam kalau dia teringat betapa untuk semua hasil itu, dia telah menyerahkan diri dan menjadi permainan Pangeran Ceng Han Houw! Setelah semua yang dia lakukan itu, apakah dia ada harga lagi untuk melanjutkan hubungannya dengan Lie Seng? Ah, rasanya untuk bertemu muka saja pun dia sudah tak sanggup lagi!

Mengingat hal ini Sun Eng tak dapat menahan air matanya yang bercucuran. Dia merasa betapa dirinya kotor sekali, lebih kotor dan tidak berharga dari pada sebelum dia membuat jasa terhadap keluarga Cin-ling-pai! Memang dia telah melakukan sesuatu untuk keluarga Cin-ling-pai atau lebih tepat untuk Lie Seng karena memang inilah tujuannya, akan tetapi cara yang digunakannya untuk mencapai tujuan itu membuat dia merasa semakin kotor!

Padahal tujuannya adalah untuk membersihkan dirinya. Kini tujuan itu telah tercapai, akan tetapi dia tak merasa bangga, tak merasa bahagia, malah sebaliknya, tercapainya tujuan itu membuat dia merasa dirinya semakin kotor lagi dari pada sebelumnya.

Tidaklah mengherankan keadaan Sun Eng ini. Apa yang dia lakukan semua itu menurut jalan pikirannya adalah pengorbanan untuk Lie Seng, untuk keluarga Cin-ling-pai. Padahal, pada hakekatnya, sama sekali tidaklah demikian.

Pada dasarnya, semua yang dilakukannya itu timbul dari rasa sayang diri, timbul dari rasa iba diri, dan semua itu untuk menyenangkan hatinya sendiri. Sebaliknya, dia melakukan itu dengan dasar agar dia dihargai, agar dia dikagumi, agar dia tak dipandang rendah lagi karena penyelewengan yang pernah dilakukannya. Semua ini dilakukannya demi dirinya sendiri, yang oleh pikirannya sendiri lantas ‘disulap’ menjadi perbuatan ‘baik’ demi orang lain. Bahkan jalan pikiran yang palsu membuat dia tadinya condong beranggapan bahwa pengorbanan yang dilakukannya adalah suci.

Oleh karena pikirannya mendorong dia selalu memandang kepada tujuan saja, sedangkan semua tujuan ini sudah pasti menuju kepada kesenangan diri pribadi, sungguh pun boleh saja mengenakan pakaian lain sehingga kelihatannya seolah-olah demi kesenangan atau kebahagiaan orang lain, maka mata menjadi buta tidak dapat melihat lagi yang terpenting dari pada segala gerakan hidup, yaitu tindakannya itu sendiri atau cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan itu.

Tujuan membutakan mata terhadap cara. Tujuan bahkan kadang-kadang menghalalkan segala cara! Tujuan adalah nafsu keinginan memperoleh sesuatu. Dan kalau cara yang digunakan tidak benar, mana mungkin akhirnya benar? Tidak mungkin menanam rumput keluar padi! Tidak mungkin cara yang tidak benar menghasilkan sesuatu yang benar.

Hanya kalau batin tak lagi dibutakan oleh tujuan yang pada hakekatnya hanyalah nafsu keinginan memperoleh kesenangan, maka batin menjadi waspada akan segala tindakan, akan segala cara hidup yang ditempuhnya setiap saat. Dan kewaspadaan ini tentu akan melahirkan tindakan yang benar. Tindakan benar adalah tindakan wajar tanpa didorong oleh nafsu keinginan memperoleh hasil atau kesenangan atau keuntungan dari tindakan itu.


Akan tetapi Sun Eng terjebak oleh pikirannya sendiri. Tadinya dia menganggap bahwa dia telah mengorbankan diri demi orang lain, demi orang yang dicintanya, dan dia buta untuk melihat bahwa pengorbanan yang dilakukannya itu, cara yang ditempuhnya itu merupakan cara yang kotor bagi seorang wanita. Dia hendak mencuci kekotoran yang dianggapnya menempel pada dirinya dengan melumuri badan dengan kotoran lain! Tentu saja hal ini tidak mungkin.

Dan akibatnya kini dia menyesal, kini dia meragu, kini dia merasa takut untuk berjumpa dengan Lie Seng, sungguh pun dia telah ‘berjasa’ terhadap Cin-ling-pai, bahkan terhadap kerajaan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner