PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-70


Pada waktu itu, Sin Liong dan pangeran itu melihat Lie Ciauw Si yang tengah membela ketua-ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang sedang dihajar oleh dua orang bengcu, yaitu dua orang dari Lam-hai Sam-lo. Ketika itu pun dia melihat hubungan antara kedua orang itu akrab sekali, akan tetapi sungguh tidak pernah disangkanya bahwa mereka akhirnya menjadi suami isteri!

Dia tahu siapa adanya Lie Ciauw Si. Pada saat dia ikut kongkong-nya di Cin-ling-san, dia juga sudah mendengar tentang keluarga Cin-ling-san itu, atau yang sesungguhnya adalah keluarganya. Kakeknya, mendiang Cia Keng Hong, memiliki dua orang anak, yaitu yang pertama adalah Cia Giok Keng yang sudah janda dan kini menjadi isteri pendekar sakti Yap Kun Liong. Dari suaminya yang pertama, she Lie, Cia Giok Keng memiliki dua orang anak, yaitu Lie Seng dan Lie Ciauw Si. Sedangkan putera ketua Cin-ling-pai yang ke dua adalah Cia Bun Houw atau ayah kandungnya sendiri!

Memang benarlah bahwa Lie Ciauw Si itu masih piauwci-nya sendiri, dan kalau memang piauwci-nya itu kini menikah dengan pangeran ini, maka hal itu berarti bahwa pangeran ini bukan hanya kakak angkatnya, melainkan juga kakak iparnya sendiri! Betapa pun juga, Sin Liong masih belum mau percaya. Bukankah pangeran ini selalu memusuhi keluarga Cin-ling-pai? Bagaimana mungkin menjadi suami piauwci-nya? Andai kata betul demikian, tentu pangeran ini menggunakan akal dan kelicikannya untuk menipu piauwci-nya itu!

Melihat Sin Liong yang mengerutkan alis seperti orang termenung kemudian memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, pangeran itu dapat pula menduga apa yang diragukan oleh adik angkatnya itu, maka dia lalu berkata,

"Liong-te, engkau tidak tahu apa yang sudah terjadi. Telah terjadi perubahan besar pada diriku dan kehidupanku. Pada waktu aku dan Si-moi saling berjumpa, seperti engkau juga mengetahui, yaitu di pusat Sin-ciang Tiat-thouw-pang, kami saling jatuh cinta. Semenjak itu, aku bersimpati dengan keluarga Cin-ling-pai. Engkau pun tahu bahwa yang memusuhi keluarga Cin-ling-pai selama ini adalah bekas subo dan suci-ku, sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai urusan dengan Cin-ling-pai. Ketika aku jatuh cinta kepada Si-moi, maka aku segera mengusahakan kebebasan keluarga itu dari tuduhan pemberontak dan pelarian. Nah, karena perbuatanku itu, maka kaisar menaruh curiga dan benci kepadaku, apa lagi akibat ada hasutan Pangeran Hun Chih yang ingin mencari kedudukan. Sahabat-sahabatku ditangkapi oleh kaisar yang lalim. Oleh karena itu, aku lalu melarikan diri dari kota raja setelah aku menikah dengan Si-moi, dan kami telah mengambil keputusan untuk menentang kaisar lalim!"

"Hemm, memberontak?" Sin Liong bertanya, masih tertarik oleh cerita pangeran itu.

"Ahhh, engkau tentu dapat membedakan antara memberontak dan menentang kelaliman, Liong-te. Aku bukan memberontak untuk merebut kedudukan, namun hendak menentang kelaliman yang menyengsarakan rakyat. Dan aku berbesar hati karena isteriku, Lie Ciauw Si, berdiri di sampingku dan siap membantuku, dan demikian pula kelak seluruh keluarga Cin-ling-pai akan membantuku bila saatnya telah tiba. Ketahuilah, Liong-te, aku sekarang sedang berusaha untuk mengadakan pertemuan di Lembah Naga dengan seluruh tokoh kang-ouw dan ahli-ahli silat, berikut partai-partai persilatan di seluruh dunia. Aku hendak mengadakan pemilihan bengcu dan jago nomor satu di dunia. Sesudah itu, aku hendak menghimpun seluruh kekuatan kang-ouw kemudian kita akan mengadakan gerakan orang gagah sedunia untuk menentang kelaliman kaisar. Nah, karena itulah maka aku menyuruh mengajak nona Bhe Bi Cu ke sini, Liong-te, dengan harapan engkau juga akan suka ikut membantu pergerakan kami ini."

Sin Liong merasa terheran-heran dan terkejut sekali, akan tetapi dia belum sepenuhnya dapat mempercayai apa yang diucapkan oleh pangeran itu, yang terdengar terlalu aneh baginya.

"Aku tidak peduli mengenai itu semua, Houw-ko. Aku hanya menghendaki Bi Cu selamat dan kami dibiarkan pergi tanpa gangguan. Aku akan berterima kasih kepadamu, Houw-ko, kalau engkau dan siapa pun tidak mengganggu selembar rambut Bi Cu."

Diam-diam Han Houw girang bahwa selama ini dia memperlakukan Bi Cu dengan baik. Memang hal ini sudah diduganya. Orang seperti Sin Liong ini tidak boleh dihadapi dengan kekerasan, akan tetapi harus dengan kehalusan budi untuk menundukkannya.

"Liong-te, tentu engkau belum percaya apa bila belum melihatnya sendiri. Marilah, adikku, mari kita menemui piauwci-mu dan kekasihmu itu. Mereka sedang menanti kita di Istana Lembah Naga."

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan dan penuh harapan, Sin Liong lalu mengikuti Han Houw. Akan tetapi baru beberapa langkah, pangeran itu lantas bertepuk tangan dan muncullah pasukan-pasukan terpendam dari semua penjuru!

Melihat ini, Sin Liong terkejut bukan main. Kiranya tempat itu telah dikurung oleh ratusan orang prajurit yang bersenjata lengkap. Dia bersikap tenang dan waspada, akan tetapi pangeran itu hanya minta disediakan dua ekor kuda. Dua ekor kuda terbaik dikeluarkan dan berangkatlah dua orang muda ini naik kuda ke Istana Lembah Naga.

"Lihat, adikku, bukankah kita sekarang kembali seperti dulu lagi, ketika kita mengadakan perjalanan bersama?"

Sin Liong tidak menjawab. Memang kenangan itu manis dan membayangkan kebaikan-kebaikan pangeran terhadapnya, akan tetapi juga membuat dia merasa sebal mengingat akan tingkah pangeran ini setiap kali bertemu wanita muda dan cantik, dan diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan Lie Ciauw Si, cucu kongkong-nya itu. Mengapa wanita cantik yang gagah perkasa itu mau menyerahkan diri kepada seorang pria macam pangeran ini, pikirnya heran.

Di sepanjang perjalanan menuju ke Lembah Naga yang sangat dikenalnya itu, Sin Liong mendapat kenyataan betapa tempat itu terjaga dengan sangat ketatnya, penuh dengan pasukan, baik yang nampak menjaga di kanan kiri jalan mau pun yang menjaga sambil bersembunyi-sembunyi di balik pohon, di dalam semak-semak.

Diam-diam Sin Liong terkejut sekali, dan maklumlah dia bahwa kalau dia tidak bersama pangeran itu, maka agaknya tak akan mudah baginya untuk dapat menyelundup ke dalam daerah itu. Dan kenyataan ini pun agak melegakan hatinya, karena seandainya pangeran itu mempunyai niat buruk terhadap dirinya, perlu apa dia akan disambut dan diajak masuk ke Istana Lembah Naga?

Akan tetapi ketika dia dan pangeran itu tiba di depan Istana Lembah Naga yang sangat dikenalnya walau pun kini keadaan jauh berbeda dengan dahulu pada waktu dia tinggal di situ, kini menjadi sebuah istana yang megah dan indah, dia melihat dua orang wanita berdiri di depan istana itu menyambut. Dan seorang di antara mereka adalah Bi Cu!

Seketika lenyaplah semua kekhawatirannya. Dia meloncat turun dari atas kudanya dan di lain saat dia sudah berlari ke depan. Demikian juga Bi Cu sudah berlari cepat ke depan menyambut.

"Sin Liong...!"

"Bi Cu...!"

Di lain detik mereka berdua sudah saling berangkulan dan berpelukan dengan ketat.

"Sin Liong... ahh, Sin Liong...!" Bi Cu terisak di dada pemuda itu yang merangkul dan mendekapnya dengan hati penuh asa girang dan bahagia.

Jika saja tidak ingat bahwa di situ berdiri Lie Ciauw Si yang memandang dengan terharu, dan berdiri pula Ceng Han Houw yang tersenyum lebar dan menghampiri isterinya, juga beberapa orang dayang, pengawal dan pelayan, tentu dia dan Bi Cu sudah berciuman. Akan tetapi hanya pandang mata mereka saja yang saling berciuman dan menyatakan kebahagiaan mereka serta kerinduan hati masing-masing.

Sin Liong tidak perlu bertanya lagi akan keadaan Bi Cu. Dara itu nampak amat sehat, dan pakaiannya rapi, rambutnya pun rapi, meski pun wajahnya agak pucat dan sinar matanya menunjukkan bahwa dara itu banyak berduka. Hal itu lumrah, karena tentu Bi Cu selalu memikirkan dia, seperti juga dia yang tidak pernah dapat melupakan Bi Cu dan selalu mengkhawatirkan keselamatannya.

"Mari kita ke dalam dan bicara di dalam, Liong-te dan nona Che Bi Cu. Marilah, Si-moi."

Mereka berempat lalu memasuki istana itu, Sin Liong bergandengan tangan dengan Bi Cu yang agaknya tidak mau lagi melepaskan tangannya. Setelah mereka masuk di ruangan dalam dan pangeran itu mempersilakan mereka duduk, Sin Liong cepat menjura kepada pangeran itu dan berkata dengan suara terharu,

"Ternyata ucapanmu terbukti benar, Houw-ko, sebab itu terimalah ucapan terima kasihku. Aku sungguh bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa Bi Cu berada dalam keadaan baik dan tidak terganggu."

"Siapakah hendak membohongimu. Liong-te? Apa lagi setelah aku menjadi kakak iparmu pula. Si-moi, Liong-te, kalian berdua adalah saudara-saudara misan, keduanya merupakan cucu ketua Cin-ling-pai, mengapa tidak saling tegur?"

Karena tidak mungkin lagi menyembunyikan dirinya, Sin Liong segera menjura dengan hormat kepada Ciauw Si dan berkata merendah, "Mana mungkin aku yang rendah berani mengaku adik misan Lie-lihiap?"

Ciauw Si memandang tajam. Ketika dia tadi mendengar dari suaminya bahwa Sin Liong sesungguhnya adalah anak kandung pamannya, Cia Bun Houw, dia tidak percaya dan merasa ragu-ragu. Kalau benar pamannya itu mempunyai seorang putera, mengapa tidak ada seorang pun di antara keluarga mereka yang tahu? Pula, anak ini katanya pernah ikut kongkong-nya di Cin-ling-pai, bahkan katanya berkenan menerima ilmu-ilmu lengkap dari kongkong-nya itu, termasuk Thi-khi I-beng! Akan tetapi kalau sudah begitu, kenapa masih juga belum ada yang tahu?

"Sin Liong, tidak perlu kiranya merendah atau merasa tinggi. Sebaiknya kalau berterus terang saja seperti kenyataannya. Aku sudah mendengar dari pangeran bahwa engkau adalah putera kandung paman Cia Bun Houw. Sungguh hal ini aku tidak mengerti sama sekali dan tidak ada seorang pun di antara keluarga Cin-ling-pai yang tahu pula. Bagai manakah sesungguhnya? Kalau engkau putera paman Cia Bun Houw, lalu siapakah ibu kandungmu dan bagaimana sampai tak seorang pun di antara keluarga Cin-ling-pai yang tahu?"

Sin Liong tahu bahwa semua ucapan itu dikeluarkan oleh wanita perkasa itu dengan hati jujur dan tanpa prasangka buruk, namun dia mendengarnya dengan hati merasa tertusuk. Dia menundukkan mukanya kemudian berkata lirih, "Sesungguhnya rahasia ini tidak akan kuceritakan kepada siapa pun juga, hanya tanpa kusengaja telah bocor hingga diketahui orang. Maafkan aku, lihiap, aku tidak bisa menceritakan duduknya perkara, karena hal ini merupakan rahasia pribadi dari pendekar Cia Bun Houw." Dia menyebut nama ini dengan keras, menandakan bahwa hatinya amat marah kepada pendekar itu. "Maka, jika sampai urusan ini dibicarakan sehingga rahasia ini dibongkar, biarlah yang membongkarnya dan membicarakannya yang bersangkutan sendiri!"

Lie Ciauw Si dapat memaklumi keadaan Sin Liong yang agaknya diliputi rahasia yang tak menyenangkan, "Akan tetapi, engkau sudah pernah dididik oleh mendiang kongkong. Apa bila engkau putera kandung paman Bun Houw, berarti kongkong Cia Keng Hong adalah kongkong-mu pula, bahkan engkau merupakan keturunan langsung! Engkau she Cia dan engkau laki-laki pula! Kenapa engkau pun tidak mau mengaku kepada kakekmu sendiri?"

Disebutnya nama kakek itu membuat Sin Liong merasa berduka. Dia pun menarik napas panjang dan berkata, "Beliau yang sudah berada di tempat baka tentu sudi mengampuni aku. Aku memang sengaja tak ingin menonjolkan diri sebagai keturunan Cin-ling-pai yang terkenal sebagai keluarga yang gagah perkasa! Sedangkan aku ini orang apakah? Hanya orang yang tidak diakui! Haruskah aku mendesak-desak untuk membonceng ketenaran nama besar Cin-ling-pai?"

Diam-diam Ciauw Si terkejut dan dia mengerutkan alisnya. Bocah ini sungguh memiliki watak angkuh, pikirnya. Akan tetapi dia tidak mendesak, juga tidak menegur karena dia segera dapat menduga bahwa tentu ada rahasia yang mungkin menyakitkan hati anak itu sehingga dia berkukuh tidak mau mengaku sebagai keluarga Cin-ling-pai. Di samping itu, mana mungkin dia mau menerima pengakuan itu demikian saja bahwa anak itu adalah putera kandung pamannya kalau pamannya Cia Bun Houw itu sendiri tidak pernah mau mengakui hal itu?

Bi Cu yang merasa tidak enak mendengar percakapan itu dan melihat betapa kekasihnya seperti orang yang tidak senang kalau disinggung soal keturunannya, padahal selama ini Lie Ciauw Si demikian ramah dan baiknya, tiba-tiba segera berkata, "Ahh, apa sih artinya keturunan? Bagiku, meski Sin Liong itu putera raja atau anak pengemis sekali pun sama saja. Menilai manusia bukan dari keturunannya, atau kedudukannya, atau keluarganya atau kekayaan melainkan kepandaiannya, bukan?"

Oleh karena ucapan ini dikeluarkan dengan suara yang terbuka dan jujur, disertai dengan wajah yang cerah dan berseri, maka mereka semua yang mendengarnya menjadi kagum dan tersenyum, juga seketika mengusir suasana yang tidak enak yang ditimbulkan oleh percakapan antara Ciauw Si dan Sin Liong tentang keturunan itu tadi.

"Ha-ha-ha-ha, memang tepat sekali ucapan nona Bhe. Ucapan itu sekaligus membuktikan bahwa cintanya terhadapmu sungguh tidak terbatas, Liong-te! Biarlah aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua!"

Tentu saja Sin Liong dan Bi Cu menerima ucapan selamat dengan minum arak ini dengan hati girang dan balas menghormat. Sin Liong adalah seorang pemuda yang jujur dan tidak mempunyai prasangka-prasangka buruk. Oleh karena itu, dengan adanya Ciauw Si di situ, juga melihat betapa sikap Bi Cu terhadap Ciauw Si demikian akrab, melihat pula sikap pangeran yang demikian halus dan ramah, yang bicara seperti seorang pahlawan pejuang yang hendak memperjuangkan nasib rakyat dan hendak menentang kelaliman kaisar, maka dia pun kena dibujuk.

Dia sanggup untuk membantu Ceng Han Houw ikut mengatur dan menjaga terlaksananya pemilihan bengcu itu, dan diam-diam dia pun tidak memiliki maksud untuk ikut memasuki pemilihan itu. Dia hanya ingin melihat apa yang akan terjadi dan akan membiarkan kakak angkatnya itu menjadi bengcu dan berhasil merebut julukan jago nomor satu di dunia. Dia sendiri sama sekali tidak tertarik dan tidak ingin disebut apa-apa.

Mereka berempat kemudian makan minum dalam suasana yang cukup menggembirakan! Secara diam-diam Sin Liong merasa heran, mengapa pangeran itu tidak mengajak para pembantu lainnya untuk turut pula berpesta. Dan dia pun masih bingung apa yang akan dilakukannya apa bila dia melihat musuh-musuhnya, Kim Hong Liu-nio dan Hek-hiat Mo-li berada di situ.

Melihat tiba-tiba wajah pemuda itu kelihatan murung dan alisnya berkerut, Pangeran Ceng Han Houw yang cerdik itu agaknya sudah dapat menduga karena melihat adik angkatnya mencari-cari dengan pandang mata, kemudian nampak termenung dan muram wajahnya.

"Liong-te setelah engkau mendengarkan semua keteranganku, maka engkau tentu sudah mengerti sekarang bahwa kita menghadapi sebuah perjuangan yang sangat penting, yang membutuhkan penghimpunan tenaga yang kuat serta kerja sama yang erat. Oleh karena itu, agaknya engkau tentu tahu pula bahwa dalam keadaan seperti ini, di mana kita amat membutuhkan kerja sama dari semua golongan rakyat untuk menentang kelaliman, maka semua urusan pribadi haruslah dikesampingkan lebih dulu."

Sin Liong memandang wajah pangeran itu dengan pandang matanya yang mencorong tajam. "Houw-ko, apa maksudmu dengan ucapan itu?"

"Liong-te, aku tahu bahwa engkau mempunyai musuh-musuh pribadi, dan terus terang saja, agaknya akan timbul perkelahian bila mana engkau bertemu dengan suci Kim Hong Liu-nio dan subo Hek-hiat Mo-li. Aku tidak akan mencampuri urusan itu karena aku tidak mempunyai sangkut-paut dengan urusan pribadi itu. Bahkan isteriku sendiri, Lie Ciauw Si ini, tentu saja juga bermusuhan dengan mereka berdua. Namun, dalam keadaan seperti sekarang ini, kuharap engkau tak akan menimbulkan keributan di sini dengan menyerang mereka, karena hal ini akan memberi contoh yang buruk sekali kepada semua pembantu kita dan hanya akan melemahkan kedudukan kita yang sedang menyusun kekuatan dan kerja sama ini. Mengertikah engkau maksudku, Liong-te?"

Diam-diam Sin Liong terkejut. Pangeran ini sungguh sangat cerdik dan berpemandangan tajam sehingga bisa tepat sekali membicarakan apa yang sedang dipikirkannya. Dia lalu mengangguk dan berkata. "Aku berjanji tidak akan membikin ribut, Houw-ko. Akan tetapi dengan syarat bahwa mereka pun tak boleh mengganggu aku dan Bi Cu seujung rambut pun."

Pangeran itu tersenyum dan diam-diam dia pun kagum. Kini Sin Liong benar-benar telah menjadi seorang dewasa yang gagah dan bersikap keras, bukan seperti anak-anak lagi. Maka dia akan bertindak hati-hati menghadapi orang yang dia tahu merupakan saingan paling berat baginya ini.

"Baik, akan kuperingatkan mereka, Liong-te. Sekarang, karena Liong-te baru saja tiba dan tentu lelah, kami persilakan Liong-te dan nona Bhe Bi Cu mengaso. Kamar kalian sudah dipersiapkan, tak jauh dari kamar kami."

Mendadak wajah Sin Liong menjadi merah sekali dan cepat dia berkata, "Houw-ko, kami berdua memang saling mencinta, hal itu hanya Thian saja yang mengetahui. Akan tetapi kami belum menjadi suami isteri maka tidak mungkin kami tinggal sekamar!"

"Aku akan tinggal di dalam kamarku sendiri yang biasa saja!" Bi Cu juga cepat berkata, mukanya merah sekali dan dia menunduk.

"Akan tetapi harap Houw-ko berbaik hati untuk memberi sebuah kamar untukku yang tidak berjauhan dari kamar Bi Cu." Sin Liong tidak mengatakan bahwa dia ingin menjaga dan melindungi kekasihnya itu, akan tetapi hal ini sudah dimengerti oleh semua orang.

"Baik, baik, tentu saja akan kuatur itu. Maafkan, Liong-te, aku lupa betapa engkau adalah seorang laki-laki sejati dan bahwa kalian belum menikah," pangeran itu berkata sambil tertawa, teringat betapa dahulu Sin Liong sangat ‘takut’ terhadap wanita, dan sampai kini pun, walau pun sudah sama-sama saling mencinta, tetap saja dia tidak mau melakukan "pelanggaran". Tentu saja bagi Ceng Han Houw, hal ini dianggapnya sebagai suatu sikap kekanak-kanakan dan hijau.

Pangeran itu memberi kesempatan kepada Sin Liong dan Bi Cu untuk bicara empat mata, maka dia lalu mengajak Ciauw Si masuk, Bi Cu lalu mengajak Sin Liong pergi ke sebuah taman di Istana Lembah Naga itu, sebuah taman yang indah dan terawat baik, berbeda dari dahulu ketika dia masih tinggal di situ.

Setelah mereka berada berdua saja di dalam taman itu, Sin Liong dan Bi Cu tidak dapat menahan lagi kerinduan hati masing-masing maka mereka pun saling rangkul dan saling berciuman sampai hampir kehabisan napas. Dan akhirnya, gelora hati yang rindu itu agak mereda dan mereka duduk berdampingan di atas sebuah bangku panjang, dekat kolam ikan di dalam taman itu.

"Sin Liong, aku merasa seperti hidup kembali melihat engkau datang. Untung aku belum mengambil keputusan nekat untuk bunuh diri."

"Ihh!" Sin Liong terkejut dan merasa ngeri. "Jangan sekali-kali engkau melakukan hal itu, Bi Cu. Selama hayat masih dikandung badan, kita tidak boleh putus asa, dalam keadaan apa pun juga. Lupakah akan cengkeraman maut terhadap diri kita di jurang itu? Buktinya kita berdua masih dapat menyelamatkan diri. Pula, bukankah engkau di sini diperlakukan dengan baik dan patut sebagai tamu?"

"Memang betul, akan tetapi aku diculik! Dan aku dipisahkan darimu, Sin Liong! Jangankan baru tinggal di istana macam ini, biar disuruh tinggal di sorga sekali pun, tanpa engkau di sampingku, lebih baik aku berada di dalam jurang seperti dulu itu asal bersamamu."

Sin Liong merasa terharu sekali lantas memegang tangan Bi Cu. Jari-jari tangan mereka saling genggam dengan getaran perasaan yang amat mesra. "Kita tak akan berpisah lagi untuk selamanya, Bi Cu. Percayalah bahwa aku pun tidak akan mau hidup tanpa engkau di dekatku."

Bi Cu menarik napas panjang penuh bahagia dan dia menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Sampai lama mereka duduk diam seperti itu, sama sekali tanpa berkata-kata karena kata-kata sudah tak ada artinya lagi dalam keadaan seperti itu. Kata-kata bahkan dapat membuyarkan perasaan dan mengurangi kemesraan yang terasa sekali sampai di sanubari dalam keadaan hening tetapi sadar sepenuhnya akan kehadiran masing-masing itu.

Akhirnya Bi Cu berbisik, "Sin Liong, hatiku merasa tidak enak kalau kita berada di sini. Bagaimana pun baiknya pangeran ini, akan tetapi jelas bahwa dia hendak menggunakan engkau maka dia menyuruh orangnya menculikku."

"Akan tetapi, dia sekarang telah berubah sejak menikah dengan..."

"Enci Ciauw Si? Ahh, kau tahu, enci Ciauw Si sendiri agaknya pun merasa tidak enak dan tidak suka dengan gerakan dari suaminya itu. Memberontak! Phuh..."

"Bukan memberontak, Bi Cu, melainkan berjuang melawan kelaliman kaisar..."

"Itu kan alasannya! Betapa pun juga, aku merasa tidak enak dan tidak suka, Sin Liong. Perlu apa kita turut campur dengan segala macam gerakan itu? Lebih baik mari kita pergi saja meninggalkan tempat ini!"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, Bi Cu. Berbahaya sekali..."

"Tapi Sin Liong, dengan kepandaianmu yang demikian tinggi... ehhh, kau tahu, pangeran sendiri memujimu di hadapanku, mengatakan bahwa di dunia ini hanya engkaulah yang memiliki kepandaian yang hampir setingkat dengan kepandaiannya!"

Sin Liong menggelengkan kepala. "Apa dayaku jika menghadapi penjagaan ribuan orang pasukan? Kau tahu, sekarang Lembah Naga sudah terkurung oleh ribuan orang pasukan. Memang mungkin bagiku sendiri untuk lolos melalui hutan-hutan lebat yang dulu menjadi tempatku bermain-main pada saat aku masih kecil. Akan tetapi membawamu bersamaku berarti akan menyeret engkau ke dalam bahaya besar. Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu, Bi Cu. Lebih baik kita bersabar, tinggal di sini dahulu melihat perkembangan dan melihat gelagatnya. Kurasa enci Ciauw Si bukanlah seorang wanita lemah. Dia seorang pendekar wanita keturunan Cin-ling-pai, mungkin saja dia mencinta pangeran, akan tetapi kalau dia dibawa sesat, apa lagi memberontak terhadap kerajaan begitu saja dengan niat memperebutkan kedudukan, pasti dia tidak akan mau." Dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Biar pun aku sudah berjanji kepada pangeran untuk membantu, akan tetapi hanya membantu melakukan penjagaan dan dalam menghimpun orang-orang kang-ouw serta melakukan pemilihan bengcu, bukan membantunya untuk memberontak. Aku tidak sudi kalau harus membantu dia melakukan kejahatan."

Kedua orang muda ini tentu saja tidak tahu akan segala kepalsuan yang terjadi di dalam dunia ini. Tiap pemberontakan, tiap pembaharuan, tiap gerakan untuk menumbangkan yang lama kemudian menggantikan dengan yang baru, sudah tentu saja didasari oleh kelemahan-kelemahan dan cacat-cacat dari yang lama, yang akan diberontak itu.

Dan yang memberontak, yang baru ini, tentu mengeluarkan janji-janji yang muluk-muluk. Karena, tidak mungkin pemberontakan dan pembaharuan dapat berjalan lancar dan bisa berhasil tanpa adanya bantuan rakyat. Rakyat harus diberi janji-janji muluk, menonjolkan kelemahan dan cacat-cacat yang hendak dirobohkan dan mengemukakan janji-janji dan kebaikan-kebaikan dari yang memberontak.

Semua ini hanya merupakan siasat belaka. Atau mungkin juga janji-janji itu dikeluarkan dengan hati murni oleh para pimpinan. Akan tetapi sayang, begitu maksudnya tercapai sudah, maka mereka yang duduk di kursi pimpinan menjadi mabuk kemenangan lantas sama sekali melupakan atau memang sengaja tidak mau ingat lagi akan janji-janji yang telah dikeluarkan ketika mereka mendorong rakyat untuk mem¬bantu gerakan mereka itu.

Dan hal seperti ini terus menerus berulang. Yang berhasil dan menang kemudian harus menghadapi lagi golongan baru yang hendak menumbangkannya, dengan janji-janji yang sama pula, dengan penonjolan-penonjolan kesalahan dari yang sedang berkuasa, persis seperti ketika pemberontakan atau pergolakan pertama atau terdahulu itu terjadi. Dan yang menyedihkan sekali, rakyat pun selalu menurut saja dan dapat saja dimakan oleh propaganda dan dibodohi oleh janji-janji muluk yang tak kunjung terpenuhi itu!

Kapankah di dunia ini muncul pemimpin-pemimpin yang memimpin rakyat berdasarkan cinta kasih, kasih sayang dan sama sekali tidak mendasarkannya untuk memenuhi atau mencapai ambisi pribadi, mengejar-ngejar kemuliaan, kekayaan dan kesenangan pribadi? Kapankah segala semboyan dan anjuran mengenai hal-hal yang baik itu bukan hanya menjadi semboyan kosong belaka melainkan dihayati dalam kehidupan sehari-hari oleh mereka yang mengeluarkan semboyan itu sendiri, oleh para pemimpin rakyat sehingga tanpa dianjurkan lagi rakyat sudah akan dapat melihatnya dan otomatis akan bersikap dan berwatak sama dengan para pemimpinnya?

Pemimpin sama dengan ayah dan rakyat sama dengan anak. Setiap perbuatan ayahnya merupakan pendidikan langsung bagi sang anak. Sebaliknya apa gunanya seorang ayah gembar-gembor melarang anaknya melakukan sesuatu kalau dia sendiri melakukannya? Atau apa gunanya para pemimpin menganjurkan rakyat melakukan ini atau pun itu kalau mereka sendiri tidak melakukannya? Yang penting dalam hidup ini adalah penghayatan, atau kelakuan sehari-hari yang dapat dilihat, bukan kata-kata kosong yang dapat saja dikeluarkan oleh lidah yang tak bertulang.


Demikianlah, diam-diam Sin Liong dan Bi Cu merasa tak senang tinggal di Lembah Naga sebagai tamu-tamu agung dari Pangeran Ceng Han Houw, dan mereka merasa khawatir, akan tetapi mereka tidak berdaya karena tempat itu dijaga oleh ribuan orang pasukan. Dan kecuali mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua, secara diam-diam Sin Liong juga amat berprihatin akan nasib Lie Ciauw Si yang telah menyerahkan diri menjadi isteri pangeran itu berdasarkan cinta kasih.

Bahkan dia telah mendengar dari Bi Cu yang juga mendengar dari Ciauw Si sendiri bahwa wanita gagah itu menikah dengan Ceng Han Houw tanpa persetujuan keluarga, bahkan tidak disaksikan orang lain karena mereka menikah diam-diam di kuil!

********************

Menerima kebaikan orang lain merupakan hal yang mendatangkan perasaan tidak enak kepada seseorang kalau dia tidak mampu untuk melakukan sesuatu sebagai imbalan atau balasan. Demikian pula dengan Sin Liong. Dia merasa tidak enak sekali karena di dalam Istana Lembah Naga itu dia diperlakukan dengan amat baiknya oleh Pangeran Ceng Han Houw. Bahkan semua komandan pengawal menghormatinya dan memandangnya sebagai adik angkat, keluarga dan juga orang terpercaya dari sang pangeran!

Dan memang demikianlah. Sin Liong boleh pergi ke mana pun juga di seluruh daerah itu, akan tetapi tentu saja kalau sendirian. Apa bila dia mengajak Bi Cu, maka mendadak saja penjagaan lalu diperketat dan tempat itu dikurung sehingga tahulah dia bahwa pangeran menghendaki agar Bi Cu tetap tinggal di istana sebagai sandera!

Betapa pun juga, Sin Liong sudah membawa Bi Cu berjalan-jalan, keluar masuk hutan dan menunjukkan tempat-tempat di mana dia ketika kecil bermain-main, bahkan dia juga pergi bersama Bi Cu ke dalam hutan di mana dulu dia dipelihara oleh monyet betina besar.

Dia sempat bertemu pula dengan rombongan monyet-monyet, akan tetapi tentu saja tidak ada seekor pun monyet yang mengenalnya. Padahal dulu, hampir semua monyet di hutan itu mengenalnya, bahkan mentaati perintahnya.

Akan tetapi dia pun cukup cerdik untuk mengetahui bahwa tak mungkinlah baginya untuk melarikan diri bersama Bi Cu dari tempat itu karena sudah terkepung oleh anak buah pangeran, kecuali kalau dia mau mengambil jalan liar melalui hutan-hutan lagi yang tentu akan menghadapi bahaya-bahaya lain lagi yang tidak mau dia menempuhnya karena dia tidak mau membawa kekasihnya ke dalam bahaya.

Karena tidak mau kalau hanya makan tidur saja, maka mulailah Sin Liong ikut melakukan penjagaan. Waktu pertemuan besar antara orang-orang kang-ouw masih sebulan lagi dan selama itu seluruh lembah dijaga. Sin Liong sering kali melakukan perondaan di sekeliling lembah yang sangat sunyi itu, kadang-kadang dia membayangkan apa yang akan terjadi di lembah itu.

Sudah beberapa kali dia mengajak Bi Cu mengunjungi kuburan ibu kandungnya, sebuah makam sederhana, kemudian di situ dia bersembahyang bersama Bi Cu. Kepada Bi Cu dia menceritakan terus terang semua riwayat mengenai ibunya yang sebelah tangannya buntung, tentang dirinya yang sesungguhnya adalah putera ibunya yang bernama Liong Si Kwi dan pendekar Cia Bun Houw.

"Aku tidak tahu apakah yang terjadi dengan ibu kandungku dan ayah kandungku itu. Akan tetapi jelaslah bahwa aku terlahir akibat hubungan antara ibu kandungku dengan Cia Bun Houw. Akan tetapi, melihat bahwa ibuku kemudian menjadi isteri paman Kui Hok Boan dan Cia Bun Houw menikah dengan wanita lain, pendekar wanita Yap In Hong itu, maka kuduga bahwa hubungan itu tentu hubungan gelap. Buktinya sampai sekarang menurut enci Ciauw Si, seluruh keluarga Cin-ling-pai tidak ada yang mengetahuinya. Biar pun aku putera pendekar Cia Bun Houw, akan tetapi agaknya... aku hanyalah anak gelap..."

Bi Cu merangkul kemudian mencium muka yang muram itu. "Sin Liong, baik engkau anak terang, anak gelap atau setengah gelap, bagiku sama saja. Aku sudah bilang, aku tidak peduli engkau ini anak pendekar Cia Bun Houw, anak raja, anak jembel, anak malaikat atau anak setan! Maka, tidak perlu engkau bermuram seperti ini!" Tentu saja Sin Liong lalu tersenyum dan wajahnya menjadi cerah kembali.

Sudah beberapa kali semenjak dia dan Bi Cu berada di Lembah Naga, dia mengajak Bi Cu untuk mengunjungi makam ibunya dan pada senja hari itu dia pun baru saja kembali dari makam ibu kandungnya seorang diri. Dia pun ingin sekali tahu apa yang sebenarnya telah terjadi antara mendiang ibu kandungnya dan pendekar Cia Bun Houw.

Sayang ibunya tidak sempat bercerita kepadanya tentang hal itu. Dan agaknya pendekar Cia Bun Houw juga merahasiakannya, tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun juga. Buktinya keluarga Cin-ling-pai tidak ada yang tahu! Dan dia pun tidak sudi bertanya kepada pendekar itu atau mengaku bahwa dia puteranya. Dia tidak mau mengemis belas kasihan dan kasih sayang dari pendekar yang menjadi ayah kandungnya itu atau pun dari siapa juga. Kecuali dari Bi Cu agaknya!

Terhadap Bi Cu, apa pun akan dilakukannya, tanpa kecuali! Hemmm, kalau pendekar itu mau mengakuinya sebagai putera, baik. Jika tidak mau, dia pun tidak butuh menjadi anak pendekar! Dan dia tersenyum girang mengingat akan sikap Bi Cu terhadapnya. Dara itu mencintanya, mencinta dirinya tanpa kecuali, tidak mempedulikan dia itu keturunan siapa. Sedikit kekecewaan dan kedukaan tentang ayah kandungnya itu segera lenyap ketika dia teringat Bi Cu yang mencinta dirinya, bukan keturunannya.

Senja telah mendatang dan biar pun cuaca mulai menyuram, karena cahaya matahari yang mulai bersembunyi di balik puncak itu sudah amat lemah, namun pandang matanya yang tajam masih dapat melihat dan merasakan adanya sesuatu yang tidak beres ketika dia memasuki sebuah hutan kecil di luar Lembah Naga menuju pulang itu. Biasanya, di situ tentu ada belasan orang penjaga yang melakukan penjagaan sambil bersembunyi.

Tadi saat pergi menuju ke makam ibunya, dia masih tersenyum melihat gerakan-gerakan mereka. Para penjaga yang melakukan penjagaan bersembunyi itu hanya berguna untuk menjaga musuh-musuh biasa, akan tetapi kalau yang masuk itu orang pandai, tentu orang itu dapat melihat gerakan-gerakan mereka, pikirnya.

Akan tetapi sekarang, tidak ada gerakan sedikit pun juga. Suasana di tepi hutan itu sunyi bukan main, sunyi dan mati! Timbil kecurigaannya karena biasanya, setiap tempat selalu dijaga siang dan malam secara bergilir. Penjagaan yang merupakan sebuah hutan di tepi Lembah Naga merupakan jalan masuk ke lembah itu tidak terjaga? Ke manakah perginya semua penjaga di situ yang jumlahnya belasan orang itu?

Sebagai orang yang oleh pangeran dipercaya untuk melakukan perondaan dan menjaga keamanan lembah itu, Sin Liong merasa berkewajiban untuk melakukan pemeriksaan dan kalau perlu menegur komandan penjaga di hutan itu yang dianggapnya lengah sekali.

Dengan gerakan ringan sekali Sin Liong lalu meloncat ke arah sebatang pohon tinggi dan dari puncak pohon itu dia lantas meneliti ke bawah, untuk melihat ke mana perginya para penjaga itu. Dan tiba-tiba saja dia menahan seruan heran ketika melihat tubuh beberapa orang penjaga malang-melintang di belakang semak-semak seperti orang tidur nyenyak, ataukah sudah tewas?

Cepat dia meloncat turun dan lari ke tempat itu. Ternyata nampak belasan orang penjaga yang biasanya menjaga di bagian itu rebah malang-melintang, sama sekali bukan tertidur nyenyak atau mati, melainkan tidak sadar dalam keadaan tertotok semua!

Ada musuh yang menyelundup masuk! Musuh yang lihai sekali, karena hanya musuh lihai saja yang berani merobohkan para penjaga hanya dengan totokan dan tidak membunuh mereka! Sin Liong tidak mau membuang waktu lagi dan cepat dia lalu berkelebat masuk ke dalam hutan kecil itu dan kembali tak lama kemudian dia sudah memeriksa keadaan sekeliling dengan meloncat dan memanjat ke puncak pohon yang tinggi.

Akhirnya dia melihat gerakan dua orang yang cepat sekali di tengah hutan. Agaknya dua orang itulah musuh yang menyelundup, dan agaknya kedua orang itu sedang menunggu malam gelap untuk melanjutkan gerakan mereka, tentu saja untuk menyelundup ke Istana Lembah Naga. Sin Liong lalu meloncat turun dan cepat sekali dia lalu menuju ke tempat itu, berindap-indap dengan hati-hati, akan tetapi cepat bukan main.

Mereka itu adalah seorang pria dan seorang wanita. Kini keduanya sedang duduk bersila di atas rumput, dan tampaknya berunding sambil berbisik-bisik. Sin Liong mendekati dan mengintai, ingin melihat siapa adanya mereka itu. Kedua orang itu dari belakang kelihatan belum tua benar.

Akan tetapi, tanpa menoleh tiba-tiba saja wanita itu telah menggerakkan tangan kirinya ke belakang dan nampak sinar hijau menyambar ke arah rumpun semak-semak di belakang mana Sin Liong mengintai! Itulah Siang-tok-swa (Pasir Beracun Harum), senjata rahasia yang amat berbahaya!

Sin Liong mengenal bahaya, maka dia pun meloncat berdiri dan mengelak ketika sinar hijau itu menyambar. Akan tetapi tiba-tiba wanita yang tadinya duduk bersila itu tahu-tahu sudah melayang ke arahnya dan menyerangnya sambil membentak,

"Robohlah!"

Akan tetapi tentu saja Sin Liong tidak demikian mudah dirobohkan walau pun dia merasa terkejut bukan main menyaksikan kelihaian wanita yang cantik ini. Dia lalu menggerakkan tangan menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Dukkk!”

“Aihhhh...!" Wanita itu agak terhuyung sambil mengeluarkan seruan tertahan, karena dia merasa terkejut dan heran betapa pemuda itu bukan hanya mampu menangkis, bahkan tangkisannya sedemikian kuatnya, membuat dia hampir terhuyung.

Mendadak Sin Liong merasa betapa ada angin yang dahsyat menyambar dari samping. Tahulah dia bahwa ada orang pandai yang menyerangnya. Tentu pria tadi, pikirnya, maka sambil memutar kakinya, dia pun menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang karena dia tahu bahwa pukulan ini hebat sekali.

"Dessss...!"

Dan akibatnya, keduanya terpental ke belakang dan keduanya sama-sama terkejut. Apa lagi ketika mereka saling mengenal. Sin Liong memandang terbelalak kepada pria gagah perkasa yang ternyata bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri, Cia Bun Houw! Maka sekarang dia teringat bahwa wanita itu adalah Yap In Hong, yaitu ibu tirinya, isteri ayah kandungnya!

Pada fihak Cia Bun Houw, dia pun mengenal pemuda ini dan alisnya berkerut, mukanya berubah merah karena dia teringat betapa pemuda yang pernah dikasihi oleh mendiang ayahnya itu, bahkan yang sudah mewarisi semua ilmu dari ayahnya, ternyata merupakan pemuda yang tidak berbudi, yang telah menghalangi dia dan isterinya membunuh musuh besar mereka, Kim Hong Liu-nio. Dan sekarang, pemuda ini agaknya malah membantu Pangeran Ceng Han Houw!

"Engkau...?!" Cia Bun Houw membentak.

Mendengar ini, Yap In Hong juga menunda serangan lanjutannya. Dia memandang dan sekarang pun dia teringat kepada Sin Liong.

"Ehh, kiranya setan cilik ini berada di sini?" Dia pun membentak marah.

Sin Liong menghadapi mereka dan memandang tajam. Dia khawatir sekali melihat ayah kandungnya berkeliaran di situ. Akan tetapi dia pun merasa tak senang melihat ibu tirinya, apa lagi setelah mendengar dia disebut setan cilik!

"Harap ji-wi segera pergi dari sini!" katanya kemudian. "Di sini amat berbahaya."

Cia Bun Houw sudah merasa penasaran sekali. "Dan engkau sendiri?"

"Aku... adalah penjaga di sini, maka aku tahu betapa bahayanya tempat ini."

"Bocah lancang!" Cia Bun Houw membentak marah. "Apakah kau kira, kalau engkau yang berjaga, aku lalu merasa takut padamu?"

"Bocah setan ini memang perlu dihajar!" Yap In Hong berseru karena dia pun merasa betapa anak ini amat buruk wataknya, tidak mengenal budi yang sudah dilimpahkan oleh ketua Cin-ling-pai, yaitu mendiang ayah mertuanya. Sepatutnya Sin Liong ingat budi dan membantu Cin-ling-pai, bukan malah membantu pangeran pemberontak itu!

Sin Liong juga marah, merasa direndahkan, akan tetapi dia menahan sabar dan hanya menggerak-gerakkan kedua tangannya. "Pergilah... pergilah...!"

"Engkau yang pergi ke neraka, bocah murtad!" Cia Bun Houw membentak dan dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala Sin Liong.

Akan tetapi, dengan sigap dan cepatnya Sin Liong mengelak, lalu memutar tubuhnya dan tahu-tahu dia pun sudah menyerang, bukan kepada ayah kandungnya, melainkan kepada Yap In Hong, dengan pukulan tangan kiri yang cepat dan dahsyat.

Namun Yap In Hong adalah seorang wanita pendekar sakti yang berilmu tinggi, maka dengan cepat dia dapat menangkis pukulan itu. Lalu terjadilah perkelahian yang seru dan membuat suami isteri pendekar sakti itu terheran-heran tiada habisnya.

Pemuda itu ternyata mampu menghadapi pengeroyokan mereka! Bahkan sama sekali tak pernah terdesak, dan membalas setiap serangan dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat dan ampuhnya! Bahkan pemuda itu juga dapat mainkan Thai-kek Sin-kun dengan amat baiknya, dan menangkis tenaga pukulan Thian-te Sin-ciang dengan tenaga pukulan Thian-te Sin-ciang pula yang tidak kalah kuatnya!

Bahkan ketika kedua orang suami isteri yang amat lihal itu mendesaknya dengan gerakan cepat, Sin Liong sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan menurut ajaran mendiang Kok Beng Lama dan juga mengerahkan Thi-khi I-beng untuk menyedot tenaga dua orang pengeroyoknya! Dua orang suami isteri itu berkali-kali mengeluarkan seruan kaget sekali. Mereka teringat akan kehebatan Kok Beng Lama dan Cia Keng Hong, karena kehebatan kedua orang kakek sakti itu seolah-olah telah pindah ke dalam diri anak ini!

Tentu saja Sin Liong harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada di dalam tubuhnya dan mengeluarkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya untuk menghadapi pengeroyokan dua orang yang demikian saktinya. Hanya dia belum mau mempergunakan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw karena bagaimana pun juga, dia hanya membela diri dan membalas serangan dengan ilmu-ilmu yang didapatnya dari Kok Beng Lama serta Cia Keng Hong sehingga boleh dibilang bahwa pemuda ini menghidapi dua orang lawannya dengan ilmu-ilmu yang sama!

Maka mereka itu seolah-olah hanya ‘berlatih’ saja, sungguh pun sebenarnya, sama sekali bukan demikian karena suami isteri yang merasa penasaran itu mendesak dengan hebat. Apa lagi setelah lewat lima puluh jurus kedua orang suami isteri yang lihai itu sama sekali belum mampu merobohkan Sin Liong!

Mereka berdua adalah pendekar-pendekar besar sehingga biar pun kelihatannya mereka mengeroyok Sin Liong dengan dahsyat, namun mereka selalu mengendalikan serangan mereka sehingga kalau saja Sin Liong sampai terkena pukulan, tentu saja bukan pukulan mematikan.

Diam-diam Sin Liong juga merasa kagum bukan kepalang. Ayah kandungnya ini memang hebat, dan ibu tirinya pun hebat. Melawan mereka satu lawan satu saja kiranya amat sulit baginya untuk mendapat kemenangan, apa lagi harus melayani dua sekaligus. Entahlah kalau dia mempergunakan ilmunya Hok-mo Cap-sha-ciang.

Akan tetapi dia merasa tidak enak dan malu kalau harus menggunakan ilmu ini kepada mereka, sungguh pun di dalam gerakannya itu sudah dibantu oleh kemajuan yang didapat ketika dia mempelajari ilmu peninggalan Bu Beng Hud-couw itu.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncullah puluhan orang prajurit yang dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar yang bukan lain adalah Hai-liong-ong Phang Tek, yaitu orang pertama dari Lam-hai Sam-lo! Mereka adalah pasukan penjaga dari sekitar hutan itu yang tertarik oleh perkelahian itu dan segera memasuki hutan dipimpin oleh kakek itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner