PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-72


Cia Giok Keng tak dapat menahan diri dan dia cepat-cepat mengusap air matanya dengan sapu tangan pada saat melihat puterinya demikian cantik dan agungnya di samping sang pangeran. Harus diakui bahwa pilihan puterinya itu memang tidaklah keliru. Pangeran itu amat tampan dan gagah. Akan tetapi, apa bila dia mengingat bahwa pangeran itu adalah seorang pemberontak, dan bahkan murid dari musuh besar Cin-ling-pai, hatinya seperti ditusuk.

Tiba-tiba dia merasa tangannya digenggam tangan lain dengan halus dan mesra. Tahulah dia bahwa tangan suaminya yang menggenggam tangannya itu, maka dia menarik napas panjang dan dapat menahan perasaannya, dapat memandang pula dan air matanya pun berhenti mengalir.

Empat orang pendekar ini mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong juga berjalan di samping kiri sang pangeran. Hati mereka diliputi perasaan marah, bahkan Yap Kun Liong yang biasanya tak mudah marah dan memiliki pandangan yang luas itu pun mengerutkan alisnya. Sungguh dia tidak dapat mengerti mengapa anak itu bisa diperalat oleh Pangeran Ceng Han Houw.

Bukankah anak itu pernah menjadi pilihan orang-orang sakti seperti mendiang Cia Keng Hong dan mendiang Kok Beng Lama? Mungkinkah dua orang sakti itu salah pilih dan di dalam tubuh anak yang berbakat ini terdapat batin yang rendah?

Dia bergidik melihat sepasang mata anak muda itu yang mencorong, bahkan lebih tajam dari pada sinar mata sang pangeran sendiri, ada pun wajah pemuda itu membayangkan keteguhan dan kekerasan hati. Bagaimana mungkin wajah seperti itu kini dimiliki seorang yang dapat diperalat sedemikian mudahnya oleh pemberontak ini?

Dari tempat duduk para tamu, semua orang dapat melihat pangeran bersama dua orang pendampingnya itu, karena memang tempat itu lebih tinggi. Sesudah pangeran bersama Ciauw Si dan Sin Liong mengangguk ke arah tamu, mereka lalu duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan, yaitu di bagian dalam ruangan dan kurang lebih satu meter lebih tinggi dari pada tempat duduk para tamu.

Dari tempat duduknya pangeran menyapu seluruh tamu dengan sinar matanya dan dia dapat melihat keluarga Cin-ling-pai di sebelah luar, akan tetapi dia pura-pura tidak melihat mereka, sungguh pun hatinya merasa gembira sekali. Kalau saja dia mampu membujuk mereka itu membantunya, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat. Selain itu, andai kata tidak berhasil sekali pun, dia akan dapat membuktikan bahwa dia lebih lihai dari pada mereka sehingga julukan jago nomor satu di dunia patut dia miliki!

Akan tetapi, Ciauw Si yang memang merasa ngeri untuk bertemu pandang dengan ibu kandungnya di tempat penuh orang itu, lebih banyak menunduk dan membatasi pandang matanya agar jangan sampai bentrok dengan pandang mata ibu kandungnya. Sebaliknya, dengan berani Sin Liong juga menyapukan pandang matanya ke arah semua tamu, dan dia melihat betapa empat pasang sinar mata keluarga Cin-ling-pai memandang padanya dengan marah.

Dia pun mengerti akan isi hati mereka, akan tetapi, dia tidak peduli. Kalian akan melihat bahwa aku bukan membantu pangeran ini, melainkan melindungi Bi Cu, pikirnya.

Kini semua tamu sudah berkumpul semua dan ternyata jumlah mereka tidak kurang dari tiga ratus orang! Namun ruangan yang luas itu sama sekali tidak kelihatan penuh, bahkan masih tampak kursi yang kosong di sebelah luar. Semua tamu merasa tegang dan juga gembira.

Ruangan itu selain luas dan sejuk karena memperoleh angin dari luar yang terbuka, juga dihias indah dan megah. Pilar-pilarnya yang besar itu dicat putih, dan dihias kertas-kertas kembang. Langit-langitnya juga penuh dengan kertas-kertas berwarna dan lampu-lampu teng bermacam-macam bentuk dan warna. Kain-kain sutera warna-warni menghias pula tempat yang luas itu. Kursi-kursinya terbuat dari kayu yang terukir halus, demikian pula meja-mejanya. Guci-guci kuno terdapat di sudut-sudut dengan ukiran arca-arca binatang yang seperti hidup.

Ketika para pelayan datang menyuguhkan arak yang amat baik dengan guci-guci perak, para tamu menjadi semakin gembira. Setiap orang tamu menerima sebuah cawan perak yang terukir indah, maka mulailah mereka minum arak sehingga ruangan itu penuh bau arak yang sedap.

Setelah melihat semua tamu sudah menerima hidangan arak, Pangeran Ceng Han Houw lalu bangkit berdiri. Tubuhnya yang tinggi sedang itu kelihatan tegak lurus dan nampak wajahnya yang tampan berseri-seri. Tiba-tiba terdengar suara mengguntur dari komandan jaga yang juga bertugas sebagai pengatur tata tertib,

"Silakan cu-wi menaruh perhatian, sang pangeran hendak bicara!"

Sebetulnya tidak perlu komandan ini berteriak karena semua tamu sudah memandang ke arah pangeran itu, dan semua suara berisik telah berhenti. Suasana menjadi sunyi sekali, semua mata kini ditujukan kepada orang yang sudah berani mengundang seluruh kaum kang-ouw tanpa pilih bulu itu.

Biasanya pertemuan orang kang-ouw hanya dihadiri oleh golongan mereka sendiri. Andai kata partai Siauw-lim-pai yang mengadakan pertemuan hendak membicarakan keadaan masyarakat, atau juga membicarakan soal persilatan, tentu yang diundang oleh partai itu hanyalah partai-partai bersih lainnya atau tokoh-tokoh golongan bersih, sama sekali tidak akan mengundang tokoh-tokoh sesat. Sebaliknya, golongan sesat pun kalau mengadakan pertemuan tentu tidak akan mengundang golongan bersih yang mereka anggap sebagai orang-orang sombong dan selalu menentang mereka.

Akan tetapi sekali ini, Pangeran Ceng Han Houw mengundang semua golongan, pendek kata, dunia persilatan tanpa membedakan antara yang mana pun juga! Tentu saja hal ini amat menarik, apa lagi ketika di dalam undangan itu disebutkan pula bahwa pertemuan itu dimaksudkan untuk memilih jago silat nomor satu di dunia!

Mereka sudah mendengar pula akan sepak terjang pangeran itu yang telah menundukkan tidak sedikit tokoh-tokoh persilatan, bahkan sudah berani menantang ketua Siauw-lim-pai dan mengalahkan tokoh-tokohnya! Mereka mendengar berita bahwa pangeran ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa!

"Cu-wi yang mulia," terdengar suara pangeran itu, suaranya halus dan diucapkan secara perlahan saja akan tetapi dapat terdengar sampai jauh di luar ruangan itu karena dia telah mengerahkan tenaga khikang-nya sehingga pidato itu sekaligus merupakan demonstrasi kekuatan khikang-nya yang mengagumkan semua orang,

"Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran cu-wi. Seperti yang telah kami sebutkan di dalam surat selebaran atau undangan, pertemuan ini dimaksudkan untuk mengadakan pemilihan bengcu. Mengapa kita harus memilih seorang bengcu yang akan memimpin pergerakan seluruh rakyat jelata? Tentu cu-wi sudah mendengar akan tindakan-tindakan pemerintah yang kurang bijaksana! Semua orang tahu belaka betapa kaisar telah berlaku lalim, dengan menjatuhkan tuduhan memberontak terhadap orang-orang gagah perkasa! Juga akhir-akhir ini banyak pejabat tinggi yang bijaksana sudah ditangkapi, dan banyak perkumpulan-perkumpulan orang gagah di selatan yang telah diobrak-abrik oleh pasukan pemerintah! Oleh karena itu, kita orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan harus bertindak, menghimpun kekuatan untuk menentang kelaliman ini. Dan hal ini baru dapat dilaksanakan dengan baik apa bila kita mempunyai seorang bengcu yang bijaksana dan tangguh! Maka dari itu, kita berkumpul semua ini untuk lebih dulu memilih seorang yang mempunyai ilmu kepandaian silat paling tinggi, merupakan seorang yang paling lihai dan paling tangguh sehingga boleh disebut sebagai jago silat nomor satu di dunia dan dialah yang patut kita angkat menjadi seorang bengcu!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring berseru, "Kami tidak setuju...!"

Dan seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap berwajah tampan gagah seperti tokoh Si Jin Kui, berpakaian sederhana telah bangkit dari kursinya sambil mengacungkan kepalan tangan kanan ke atas. Semua orang tentu saja amat terkejut lantas menoleh kepadanya. Kiranya pemuda itu berdiri di antara kelompok yang membawa bendera Siauw-lim-pai.

Pangeran Ceng Han Houw ikut memandang dan tersenyum tenang. "Setiap orang tamu berhak untuk berbicara. Harap enghiong (orang gagah) yang bicara memperkenalkan diri sebelum mengemukakan alasannya tidak setuju!"

Dengan sinar mata berapi-api, pemuda Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu memandang kepada pangeran yang masih berdiri tenang, sedikit pun tak nampak gentar oleh wibawa pangeran itu, dan terdengar dia menjawab lantang.

"Saya bernama Ciu Khai Sun sebagai murid dan utusan Siauw-lim-pai kami. Atas nama Siauw-lim-pai saya menyatakan tak setuju dengan apa yang dikemukakan oleh pangeran tadi. Memilih seorang bengcu tentu saja tidak dapat disamakan dengan memilih seorang kepala tukang pukul. Seorang bengcu adalah pemimpin rakyat, karena itu dia harus dipilih berdasarkan kebijaksanaannya dan cinta kasihnya terhadap rakyat, bukannya diukur dari kepandaiannya bersilat. Kalau memilih kepala tukang pukul tentu saja dipilih yang paling kuat."

Terdengar suara tawa di sana-sini yang disambut oleh tepuk tangan menyambut ucapan lantang dari pemuda Siauw-lim-pai ini. Pangeran Ceng Han Houw juga tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangan ke atas minta agar suasana menjadi tenang kembali.

"Harap Ciu-enghiong suka melanjutkan," katanya tenang.

"Kami fihak Siauw-lim-pai juga tidak setuju kalau memilih bencu mengingat akan keadaan negara, apa lagi kalau dipergunakan untuk menentang pemerintah! Itu namanya berbau pemberontakan. Bengcu di kalangan persilatan adalah seorang bijaksana yang tentu akan mencegah bentrokan-bentrokan, mengambil kebijaksanaan dengan musyawarah apa bila terjadi kesalah pahaman, bukan sekali-kali menuntun kita semua dalam pemberontakan terhadap pemerintah." Sesudah berkata demikian, pemuda gagah itu berhenti sebentar, memandang ke kanan kiri kemudian berkata kembali. "Hanya itulah pernyataan kami yang tidak setuju." Suasana menjadi berisik kembali karena para tamu berbisik-bisik dan saling bicara sendiri.

"Cu-wi harap tenang!" tiba-tiba saja terdengar suara pangeran itu yang mengatasi semua suara berisik.

Semua orang memandang dan suasana menjadi tenang kembali. Ceng Han Houw masih tersenyum ramah, kemudian dia segera menyambung kata-katanya, "Terima kasih atas sambutan Cui Khai Sun enghiong wakil dari Siauw-lim-pai. Memang setiap orang atau golongan boleh saja mempunyai pendapat masing-masing. Akan tetapi kita berkumpul di sini bukan untuk memperebutkan kebenaran pendapat masing-masing. Kita berkumpul untuk melakukan pemilihan bengcu! Dan apa yang akan diperbuat oleh bengcu yang kita pilih kemudian, itu adalah urusan bengcu itu, dan setuju atau tidak setuju di antara kita boleh diajukan kepada bengcu. Mengatur apa yang akan dan tidak akan dilakukan oleh seorang bengcu, sedangkan bengcu itu sendiri belum dipilih, merupakan hal yang sia-sia saja, bukan? Kita akan memilih bengcu berdasarkan suara. Namun karena kita adalah orang-orang yang semenjak kecil belajar silat, maka pertemuan ini tidak akan lengkap bila tidak diadakan pertunjukan ilmu silat. Oleh karena itu, tentulah akan meriah dan menarik sekali apa bila kita mengadakan pemilihan jagoan nomor satu di dunia. Siapa pun boleh mengajukan diri sebagai calon dan aku sendiri sebagai fihak tuan rumah juga mengajukan diri, bersama jago pilihan kami, yaitu adik angkatku sendiri yang bernama Cia Sin Liong!"

Sin Liong kaget bukan main. Pertama dia terkejut karena namanya disebut-sebut sebagai calon jago pilihan pangeran dan sebagai adik angkat, ke dua dia terkejut karena she-nya disebut sebagai she Cia. Rahasianya telah dibongkar oleh pangeran itu di tempat itu, di mana hadir pula keluarga Cin-ling-pai, bahkan hadir pula di situ ayah kandungnya!

"Houw-ko," bisiknya. "Aku tidak dapat menerima ini!"

Sin Liong segera bangkit berdiri dan di antara para tamu ada yang bertepuk dan bersorak menyambut jago muda pilihan pangeran ini, akan tetapi Sin Liong segera berseru nyaring, "Cu-wi, maafkan. Akan tetapi aku tidak berniat menjadi jago apa pun, tidak ingin ikut-ikut memperebutkan pilihan jago silat. Pangeran hanya berkelakar saja!" Dan dia pun duduk kembali.

Ceng Han Houw tertawa dan berkata lagi dengan lantang, "Cu-wi, lihat betapa sederhana dan pemalunya adik angkatku ini. Akan tetapi mengenai ilmu silat... kiranya aku sendiri masih harus banyak belajar dari dia! Apa bila dia tidak mau menjadi calon jagoan, tidak mengapalah, akan tetapi aku mengangkat dia menjadi penguji! Calon-calon yang hendak memasuki pemilihan jago nomor satu di dunia harus sanggup melawan dan menandingi kepandaian adik angkatku ini lebih dulu!"

Kembali semua orang bertepuk tangan dan bersorak.

"Houw-ko, aku tidak mau!" Sin Liong berbisik.

Han Houw mundur dan mendekati Sin Liong, menghardik dalam bisikan pula.

"Liong-te, mengapa engkau hendak mengacau aku? Ingat, Bi Cu berada di tanganku, dia kusuruh jaga subo dan suci. Engkau harus membantuku kalau tidak..."

Lie Ciauw Si mendengar bisikan-bisikan ini dan dia memandang dengan mata terbelalak. Sedangkan Sin Liong sudah menjadi terkejut setengah mati mendengar ucapan itu. Tak disangkanya bahwa dalam saat terakhir itu pangeran ini masih hendak bersikap curang dan ternyata bahwa dia sengaja dipisahkan dari Bi Cu agar pangeran itu dapat menguasai Bi Cu untuk memaksanya!

Akan tetapi ia melihat betapa amat berbahayanya paksaan yang dilakukan oleh pangeran itu. Dia tidak mungkin mau memenuhi permintaan gila itu, dan lebih baik dia dan Bi Cu mati dari pada dia harus membantu pangeran dengan rencana gilanya.

"Aku tidak sudi!" katanya dan dia pun sudah meloncat lantas pergi dari situ, menuju ke dalam untuk mencari Bi Cu.

Para tamu yang sedang berbisik itu hanya melihat Sin Liong melarikan diri ke dalam. Hal ini menambah kuat pernyataan sang pangeran tadi betapa pemuda perkasa itu wataknya sederhana dan amat pemalu. Agaknya saking malunya pemuda itu telah melarikan diri ke dalam maka mereka pun makin keras tertawa dan bersorak.

Sementara itu, Ciauw Si berbisik kepada suaminya, "Apa yang sudah kau lakukan ini, pangeran?"

"Sstt, Si-moi, tanpa siasat tidak mungkin kita akan berhasil." Pangeran itu berbisik kembali dan dia sudah mengangkat tangan memberi tanda agar para tamu tidak berisik.

"Cu-wi yang mulia! Adik angkatku itu memang pemalu sekali. Akan tetapi jangan cu-wi khawatir. Setiap orang boleh mengajukan diri sebagai calon dan selain adik angkatku itu, aku masih memiliki seorang penguji lain, yaitu isteriku sendiri! Jangan cu-wi memandang rendah kepada isteriku yang tercinta ini, karena kepandaian silatnya tidak berselisih jauh dari kepandaianku sendiri. Nah, siapa saja yang dapat menandingi isteri saya dalam lima puluh jurus, maka dia berhak menjadi calon jago nomor satu di dunia! Inilah isteri saya, Lie Ciauw Si!"

Di bawah tepuk tangan dan sorak-sorai, terpaksa Ciauw Si bangkit berdiri dan menjura ke arah penonton yang menjadi makin riuh bertepuk tangan memuji karena memang Ciauw Si nampak cantik jelita dan menarik sekali. Wajah Ciauw Si agak pucat, apa lagi ketika dia bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api, sepasang mata milik ibu kandungnya! Dia menjadi lemas dan cepat duduk kembali ke kursinya. Betapa pun juga, dia harus membela suaminya yang tercinta, pikirnya sambil mengepal tinju kirinya.

Sementara itu, keluarga Cin-ling-pai, yaitu empat orang pendekar itu, semenjak tadi telah berbisik-bisik saling bicara dengan serius dan juga penuh keheranan.

"Pangeran gila, kenapa dia menyebut she Sin Liong sebagai she Cia?" kata Bun Houw dengan marah. "Apa dia sengaja hendak menghina keluarga Cia kami?"

"Mungkin dia hendak memancing supaya kita turun tangan membantah," Cia Giok Keng berbisik. "Akan tetapi dia tidak menyinggung-nyinggung tentang Ciauw Si."

Mereka berempat merasa bingung dan tidak mengerti, apa lagi ketika melihat Sin Liong melarikan diri ke dalam. Apakah yang sedang terjadi? Permainan apakah yang dilakukan oleh Pangeran itu?

Ketika pangeran itu mengangkat Ciauw Si yang diperkenalkan sebagai isterinya sebagai penguji, Giok Keng dengan gemas memandang kepada puterinya yang menerima pujian para tamu itu, lantas dia berbisik dengan suara mendesis, "Biar aku maju sebagai calon menghadapinya!"

"Ahh, jangan begitu, enci Keng!" adiknya mencela.

"Ingat, kita menghadapi banyak orang, jangan menimbulkan keributan yang hanya akan mendatangkan aib bagi nama keluarga," kata Yap Kun Liong menyabarkan isterinya.

Para tamu menjadi semakin berisik ketika mereka melihat seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya kasar, meloncat dengan gerakan yang cukup lincah ke depan lalu hinggap di tengah-tengah ruangan yang tinggi itu, tersenyum dan memberi hormat ke arah pangeran.

Orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya yang tinggi besar itu membayangkan kekuatan dahsyat, sikap dan pakaiannya yang kasar itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang petualang di dunia kang-ouw. Wajahnya lebar dan matanya, hidungnya serta mulutnya juga serba besar.

"Pangeran, saya Loa Khi berjuluk Tiat-pi-ang-wan (Lutung Merah Berlengan Besi) sama sekali tidak berani mengajukan diri sebagai calon jago nomor satu di dunia, akan tetapi saya mempunyai semacam penyakit, yaitu di mana terdapat pertandingan pibu, tangan saya menjadi gatal-gatal. Biarlah saya memelopori para enghiong di sini agar pertemuan ini menjadi lebih gembira." Sambil berkata demikian, matanya yang lebar itu melirik ke arah Ciauw Si.

Mengertilah Pangeran Ceng Han Houw bahwa yang mendorong laki-laki kasar ini untuk maju adalah karena pengujinya adalah isterinya yang cantik jelita. Atau kasarnya, pria itu ingin bersilat menandingi Ciauw Si yang cantik! Akan tetapi Han Houw hanya tersenyum dan dia berkata kepada isterinya dengan suara halus.

"Isteriku, harap kau suka melayani Loa-enghiong."

Sebenarnya di dalam hatinya Ciauw Si merasa mendongkol sekali. Dia harus melayani segala macam orang kasar seperti itu! Akan tetapi karena dia maklum bahwa suaminya itu sedang berusaha untuk menentang kelaliman kaisar, dan karena betapa pun juga dia harus membela suaminya yang tercinta, maka dia tak berkata sesuatu melainkan bangkit berdiri dan menghampiri orang yang berjuluk Lutung Merah Berlengan Besi itu.

Jantung di dalam dada yang bidang itu terguncang dan berdebar-debar penuh kegirangan. Loa Khi adalah seorang kang-ouw golongan sesat dan merupakan seorang yang kasar, gila akan kecantikan wanita. Tadi dari jauh dia melihat betapa cantiknya isteri pangeran itu, dan kini sesudah berhadapan, dia terpesona. Belum pernah rasanya dia berhadapan dengan wanita secantik ini!

Sungguh kali ini tidak rugi, pikirnya. Dapat bersentuhan lengan dan tangan dengan wanita seperti ini benar-benar merupakan hal yang sangat menyenangkan, apa lagi kalau diingat bahwa wanita ini bukanlah sembarangan wanita, melainkan isteri seorang pangeran dan tentu saja merupakan seorang puteri bangsawan simpanan! Maka dia pun menyeringai dan mematut-matut diri agar kelihatan tampan dan gagah.

"Orang she Loa, kau mulailah!" Ciauw Si berkata, membuyarkan lamunannya itu.

"Ehh... ohh... mana saya berani mendahului?" kata Loa Khi yang meringis seperti seekor lutung asli.

Berbicara demikian, selain meringis Loa Khi juga memainkan matanya yang bundar besar sambil menggerak-gerakkan alisnya. Melihat lagak ini hati Ciauw Si menjadi sangat muak dan panas, dan kalau dia tidak mengingat bahwa suaminya sedang berusaha mengambil hati dunia kang-ouw, tentu dia sudah menjatuhkan tangan maut menyerang orang ini.

"Hemm, kalau begitu sambutlah seranganku!" kata Ciauw Si. Dia memberi kesempatan kepada orang itu untuk memasang kuda-kuda.

Memang Loa Khi dengan mulut masih menyeringai sudah memasang kuda-kuda dengan gaya yang gagah. Kedua kakinya dipentang lebar, kedua lutut ditekuk rendah dan kedua lengan disilangkan, tangannya dibuka membentuk cakar naga, tubuh atasnya tegak lurus dan matanya mengerling ke arah lawan yang berada di samping kanan.

Semua tamu menyambut pasangan kuda-kuda ini dengan berbagai macam sikap. Mereka yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi memandang dengan senyum mengejek, karena mereka segera tahu bahwa kuda-kuda seperti itu hanya indah dipandang saja akan tetapi sesungguhnya tidak memiliki inti yang kuat. Sebaliknya, mereka yang belum begitu tinggi tingkatnya, merasa amat kagum karena memang Loa Khi kelihatan gagah dan kokoh kuat dengan kuda-kudanya itu.

Ciauw Si yang sudah tidak sabar lagi melihat lagak orang, mengeluarkan seruan lembut lantas mulai menyerang dengan kedua tangannya, menyambar dari kanan kiri, yang kiri menampar ke arah pelipis lawan sedangkan yang kanan menotok ke arah lambung. Dua serangan ini sebenarnya hanya merupakan pancingan belaka karena pendekar wanita itu tak mau sembarangan mengeluarkan ilmunya yang tinggi hanya untuk menghadapi orang seperti laki-laki sombong ini.

Melihat serangan yang cukup cepat dan dahsyat ini, Loa Khi cepat menggerakkan kedua tangannya untuk menangkap pergelangan tangan lawan. Memang yang mendorong dia maju adalah supaya dia dapat menyentuh tubuh atau memegang lengan wanita cantik itu, maka melihat serangan lawan, dia berusaha secepatnya untuk menangkap pergelangan tangan lawan dan akan memegangnya dengan kuat dan mesra!

Namun Ciauw Si tentu saja maklum akan hal ini dan dia pun tidak sudi membiarkan kedua lengannya dipegang. Dengan cepat dia sudah menarik kembali kedua tangannya dan kini kaki kirinya yang bergerak menendang dengan cepat. Akan tetapi, sambil tersenyum lebar lawannya menggerakkan tangan ke bawah dengan maksud menangkis atau jika mungkin menangkap kaki yang mungil itu! Sedangkan tangan kiri Loa Khi sudah menyelonong ke depan, ke arah dada Ciauw Si!

"Hemmm...!" Ciauw Si mendengus marah.

Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak cepat, kedua tangannya bergerak mendorong ke depan. Itulah pukulan sakti yang merupakan jurus ke tiga dari Ilmu San-in Kun-hoat, ilmu ampuh dari Cin-ling-pai! Angin pukulan dahsyat langsung menyambar ke depan. Loa Khi terkejut bukan kepalang dan cepat dia berusaha menangkis sambil mengerahkan tenaga kepada kedua kakinya dan tubuhnya untuk menjaga diri.

"Desss...!"

Betapa pun kuatnya dia menangkis, tetap saja kedua tangan Ciauw Si dapat menerobos di antara lengan lawan yang menangkis dan terus menghantam dada. Untung bagi Loa Khi bahwa Ciauw Si masih ingat bahwa dia hanya bertugas menguji kepandaian lawan, maka dia tidak menggunakan seluruh tenaga sinkang-nya. Akan tetapi biar pun demikian, tetap saja tubuh Loa Khi yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai. Dia terengah-engah, merasa dadanya sesak dan sukar bernapas!

Karena Loa Khi tidak datang bersama teman-teman sehingga tidak memiliki rombongan, maka tidak ada yang menolongnya dan Han Houw memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya. Dua orang pengawal cepat maju membantu Loa Khi berdiri dan membawa orang yang masih terengah-engah itu ke tempat duduknya yang agak di belakang. Loa Khi tidak berani banyak cakap lagi dan membiarkan dirinya dituntun kembali ke kursinya, mukanya pucat sekali. Dia telah dirobohkan kurang dari lima jurus!

Berisiklah para tamu melihat kehebatan Ciauw Si. Mereka yang tadinya berminat untuk memasuki pemilihan jagoan itu, menjadi kecil nyalinya dan langsung mengurungkan niat hati mereka. Tentu saja tidak demikian dengan mereka yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Seorang tosu sudah mengeluarkan seruan lantas tubuhnya melayang ke tengah ruangan itu. Tosu ini tinggi kurus, mukanya pucat laksana orang berpenyakitan, jubahnya kuning dan matanya sipit seperti orang mengantuk. Sesudah dia menjura ke arah pangeran, dia melangkah maju tiga langkah dan terkejutlah pangeran itu melihat betapa di atas lantai itu nampak jejak kaki tosu itu sedalam dua senti! Tahulah dia bahwa tosu ini amat lihai dan telah mendemonstrasikan kelihaiannya dengan mengerahkan tenaga pada kedua kakinya yang melesak ke dalam lantai ketika dia melangkah perlahan-lahan.

Jika tadi Han Houw menyebutkan nama isterinya, dan juga memperkenalkannya sebagai pembantunya untuk menguji para calon jagoan, maksudnya hanya untuk memperlihatkan kepada para tokoh kang-ouw, khususnya kepada keluarga Cin-ling-pai bahwa di samping Lie Ciauw Si sudah menjadi isterinya, juga membantunya untuk menghimpun tenaga dan menentang kaisar lalim!

Tetapi tentu saja bukan maksud hati Han Houw untuk membiarkan isterinya menghadapi semua orang yang hendak mencoba kepandaian. Dia hanya mengajukan isterinya untuk menghadapi kalau-kalau ada di antara tokoh Cin-ling-pai yang maju, maka kini melihat kelihaian tosu itu, tentu saja Han Houw merasa khawatir dan tidak membiarkan isterinya menghadapi bahaya.

Setelah menjura dan memperlihatkan tenaganya melalui injakan kaki yang meninggalkan jejak dalam di atas batu, tosu itu lalu berkata kepada Ceng Han Houw, suaranya seperti suara ular mendesis namun dapat terdengar satu-satu sampai di bagian luar tempat itu,

"Pangeran, harap maafkan kelancangan pinto. Sebenarnya pinto datang bukan sekali-kali untuk memperebutkan kedudukan bengcu atau pun jagoan nomor satu, melainkan karena telah lama pinto mendengar nama besar pangeran sebagai seorang ahli silat yang pandai maka pinto ingin sekali menguji kebodohan sendiri untuk membuktikan sampai di mana kelihaian pangeran."

Ini merupakan tantangan langsung! Semua orang kang-ouw memandang dengan penuh perhatian karena mereka semua maklum bahwa ucapan itu merupakan tantangan yang tentu didasari urusan pribadi antara tosu itu dan Pangeran Ceng Han Houw!

Han Houw sendiri mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya masih tersenyum ramah ketika dia berkata halus dan lantang, "Dalam menghadapi urusan besar ini, kami terpaksa harus melupakan urusan pribadi. Akan tetapi jika totiang ingin saling menguji kepandaian dengan aku, dapat saja totiang memasuki pemilihan jago menurut yang telah ditentukan. Akan tetapi lebih dulu hendaknya totiang memperkenalkan diri."

"Pinto bernama Ciu Hek Lam dan banyak orang menyebut pinto dengan julukan yang amat buruk, yaitu Tok-ciang Sian-jin (Manusia Dewa Bertangan Racun). Tentu pangeran belum mengenal nama pinto, akan tetapi perlu kiranya diketahui bahwa mendiang Gak Song Kam ketua Jeng-hwa-pang adalah sute dari pinto."

Mendengar ini, sebagaian besar di antara para tokoh kang-ouw terkejut. Memang nama tosu ini tidak terkenal dan hanya beberapa orang saja di antara mereka yang banyak melakukan perjalanan ke utara melewati Tembok Besar mengenal namanya, akan tetapi nama Jeng-hwa-pang tentu saja sudah dikenal mereka. Kiranya tosu yang lihai ini adalah saudara tua dari mendiang ketua Jeng-hwa-pang, maka tentu saja ilmu kepandaiannya amat tinggi.

Diam-diam Ceng Han Houw mengerti sekarang, Gak Song Kam, ketua Jeng-hwa-pang itu tewas di tangan dia dan Sin Liong, maka agaknya tosu ini datang dengan maksud untuk membalas dendam atas kematian ketua Jeng-hwa-pang itu! Dia sama sekali tidak merasa takut menghadapi tosu ini, akan tetapi untuk menjaga kewibawaannya, dia tak mau begitu saja terjun ke dalam urusan pribadi di tempat itu, apa lagi karena dia sedang menghadapi urusan besar.

"Ahhh, ternyata totiang ingin menguji kepandaianku. Baiklah, akan tetapi kita tidak boleh melanggar peraturan. Cu-wi yang mulia, kami sekarang menunjuk bengcu dari selatan, yaitu locianpwe Hai-liong-ong Phang Tek beserta Kim-liong-ong Phang Sun untuk menjadi penguji. Siapa dapat mengalahkan mereka berdua berarti cukup berharga untuk menjadi calon jago nomor satu di dunia!"

Mendengar ini, Phang Tek dan Phang Sun segera melangkah maju. Sementara itu, Han Houw sendiri bangkit dari kursinya, menghampiri Ciauw Si yang masih berdiri memandang ke arah ibunya seperti orang terpesona, kemudian menggandeng tangan Ciauw Si untuk kembali ke tempat duduknya. Dengan sikap mesra Han Houw berbisik,

"Terima kasih atas bantuanmu, Si-moi."

Mendengar kedua orang ini, tahulah tosu itu bahwa dia berhadapan dengan orang-orang pandai. Dia pernah mendengar tentang Lam-hai Sam-lo yang kabarnya kini tinggal dua orang kakak beradik ini. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar, melainkan malah merasa mendongkol karena pangeran itu ternyata tidak mau langsung menghadapinya melainkan menyuruh kedua orang ini dengan alasan untuk mengujinya! Hal ini dianggapnya sebagai tanda bahwa pangeran itu jeri kepadanya, maka dia pun menghadapi dua orang kakek itu dan memandang dengan sinar mata tajam dari kedua matanya yang sipit.

"Pinto pernah mendengar mengenai nama besar Lam-hai Sam-lo," katanya dengan nada suara mengejek, "Pangeran sudah memerintahkan kalian untuk maju, apakah ji-wi (kalian berdua) hendak maju berbareng dan mengeroyok pinto?"

Ucapan ini biar pun hanya merupakan sebuah pertanyaan, namun bernada mengejek dan merendahkan, maka kedua orang datuk dari selatan itu tentu saja menjadi marah sekali. Mereka tadi maju hanya untuk memperkenalkan diri kepada para tamu sesudah nama mereka disebut-sebut oleh pangeran, bukan sekali-kali hendak mengeroyok tosu itu.

Kim-liong-ong Phang Sun, kakek berkepala gundul lonjong yang bertubuh kecil pendek seperti kanak-kanak, yang hanya memakai celana tanpa baju dan kakinya pun telanjang, sudah meloncat ke depan. Dengan lengan kiri yang dihias gelang emas tebal dia berkata, suaranya sungguh mengejutkan, karena lantang besar tidak seperti bentuk tubuhnya.

"Tosu bulukan! Takabur sekali ucapanmu! Menghadapi seorang tosu bulukan semacam engkau, cucuku pun akan berani. Sayang aku tidak pernah punya cucu! Maka biarlah aku mencoba, hendak kulihat apakah kepandaianmu seluas mulutmu! Twako, mundurlah, biar aku yang menghajar manusia sombong ini!"

Hai-liong-ong Phang Tek mengerutkan alisnya, lantas mundur sambil berkata, "Hati-hati, jangan pandang rendah dia." Hai-liong-ong yang tahu akan kemarahan adiknya merasa khawatir karena ketika menghadapi seorang lawan tangguh seperti tosu ini, kemarahan merupakan hal yang amat merugikan dan mengurangi kewaspadaan.

Sekarang dua orang itu sudah saling berhadapan. Keduanya sama kurusnya, hanya yang seorang tinggi dan yang lainnya pendek kecil. Semua orang kang-ouw yang hadir di situ memandang dengan penuh perhatian dan hati tegang karena mereka semua mengenal siapa adanya Kim-liong-ong, sedangkan tosu tua itu tidak begitu dikenal karena memang jarang muncul di dunia kang-ouw.

Oleh karena yang hadir di dalam pertemuan besar ini merupakan tokoh-tokoh campuran, banyak pula yang terdiri dari tokoh-tokoh kaum sesat, maka di antara mereka ini sudah ramai mengadakan pertaruhan! Dan rata-rata menurut anggapan mereka, Kim-liong-ong menduduki tempat unggul, bahkan ada yang mempertaruhkan uang sebesar dua kali lipat menjagoi kakek pendek kecil itu.

Tok-ciang Sian-jin memandang dengan alis berkerut kepada calon lawannya, kemudian berkata, suaranya halus dan penuh penyesalan, "Kim-liong-ong, engkau adalah seorang tokoh jauh di selatan sana, sedangkan pinto selamanya berada di utara. Kiranya sampai kita dua orang tua mati oleh usia pun kita tak akan dapat saling berjumpa, apa lagi harus saling berkelahi seperti lawan. Oleh karena itu, pinto menyesal sekali harus berhadapan denganmu, sebab sebenarnya kedatangan pinto ini hanya ingin menghadapi pangeran..."

"Cukup, Tok-ciang Sian-jin. Apa bila engkau takut, masih belum terlambat bagimu untuk cepat-cepat mengundurkan diri!" Kim-liong-ong yang bersama Hai-liong-ong kakaknya itu memang sudah lama menjadi kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw, sudah memotong dengan suara lantang dan sikap merendahkan.

Marahlah tosu itu. Kini mukanya menjadi merah dan tidak pucat seperti biasanya, dan biar pun matanya masih sipit, akan tetapi tidak seperti orang mengantuk lagi.

"Engkau hendak menjadi perisai bagi pangeran? Bagus, majulah, orang sombong!" bentak tosu itu dan dia pun sudah menggerakkan jari-jari tangannya sehingga terdengar bunyi berkeretakan pada buku-buku jari tangannya dan kedua tangan itu kini nampak kehijauan.

Kiranya kakek ini memang memiliki ilmu yang amat mengerikan, dan kalau sudah begitu, sepasang tangannya merupakan benda-benda yang lebih berbahaya dari pada sepasang senjata tajam, karena kedua tangan itu dari jari-jari tangan sampai ke siku yang berwarna kehijauan, mengandung hawa beracun yang amat berbahaya bagi lawan. Itulah sebabnya mengapa dia berani menerima julukan Tok-ciang (Si Tangan Racun).

Akan tetapi, Kim-liong-ong Phang Sun menyeringai melihat ini. Dia sendiri adalah seorang ahli tentang racun, maka biar pun dia tahu betapa hebat dan berbahayanya kedua tangan lawan itu, namun dia tidak menjadi gentar.

"Kedua tanganmu itu hanya baik untuk menakut-nakuti anak kecil saja. Bagiku tidak ada harganya sama sekali, seperti dua batang gagang sapu butut!" dia mengejek.

Tok-ciang Sian-jin menjadi semakin marah. Memang cerdik Kim-liong-ong ini. Pada saat menerima peringatan dari kakaknya tadi, dia pun sadar akan kemarahan yang membakar hatinya, maka dia sengaja mengeluarkan ejekan-ejekan untuk membakar hati lawan. Dia berhasil, karena kini tosu itu menjadi semakin marah dan dengan gerengan dahsyat dia sudah maju menyerang lawan yang bertubuh pendek kecil itu. Kini keadaannya menjadi terbalik, bukan Kim-liong-ong yang dicekik kemarahan, melainkan lawannya.

Tok-ciang Sian-jin menyerang dengan kedua tangan terbuka, sepuluh jari-jari tangannya mencengkeram dari kanan kiri dan sebelum serangan itu sampai, hawa pukulannya yang mengandung hawa beracun itu sudah menyambar lebih dahulu dengan dahsyatnya. Akan tetapi, mendadak nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek kecil itu lenyap dari depannya, tubrukan dan cengkeramannya mengenai tempat kosong dan begitu merasa ada angin menyambar dari kanan, tosu itu cepat membalik dan menangkis.

Kiranya, Kim-liong-ong telah mempergunakan kecepatan gerakannya dan mengandalkan tubuhnya yang kecil dan gesit itu untuk menyelinap ketika tadi lawannya menyerang, dan cepat memberi pukulan balasan dari arah kanan.

"Dukkk!"

Lengan Tok-ciang Sian-jin bertemu dengan gelang emas tebal yang melingkar di lengan kiri Phang Sun dan akibatnya, tubuh Tok-ciang Sin-jin terdorong ke belakang dan agak terhuyung.

Terkejutlah tosu ini dan maklumlah dia bahwa kakek kecil pendek gundul telanjang ini mempunyai tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya! Karena itu dia pun cepat menerjang lagi dengan memperlipat gandakan kecepatan gerakannya. Maka terjadilah perkelahian yang seru dan sangat dahsyat.

Kim-liong-ong Phang Sun sudah mengeluarkan sebuah bungkusan sambil berloncatan ke sana-sini, lalu membalurkan bubuk putih ke atas lengannya. Itulah bubuk penolak racun. Sesudah ini, dia dapat menangkis dan mengadu lengan dengan lawannya, tidak seperti tadi yang menggunakan gelang emas untuk melindungi lengannya dari hawa racun yang keluar dari lengan lawan.

Memang tak percuma kalau Kim-liong-ong menjadi tokoh nomor dua dari Lam-hai Sam-lo yang ditakuti oleh semua tokoh di dunia selatan. Ilmu kepandaiannya memang sangat hebat, gerakannya aneh dan cepat, dan biar pun kaki tangannya kecil-kecil, tetapi setiap gerakan kaki dan tangan itu mengandung hawa pukulan yang kuat, sehingga bahkan tosu itu sendiri sampai beberapa kali terhuyung kalau mereka terpaksa mengadu tenaga.

Banyak di antara mereka yang bertaruh dan menjagoi Kim-liong-ong menjadi kecele. Ada yang bertaruh bahwa dalam waktu kurang dari tiga puluh jurus tosu itu tentu akan kalah. Akan tetapi ternyata tosu itu hebat bukan main! Dia bisa mengimbangi semua kelincahan Kim-liong-ong dan sesudah bertanding selama lima puluh jurus, ternyata kakek itu sama sekali tidak kalah, bahkan terdesak pun tidak, sungguh pun dia sendiri juga tidak mampu mendesak kakek kecil itu.

Setelah perkelahian itu berlangsung kurang lebih enam puluh jurus, mendadak Tok-ciang Sian-jin meloncat mundur dan keluar dari lapangan pertandingan lalu membalikkan tubuh menghadapi Pangeran Ceng Han Houw yang sejak tadi terus menonton dengan penuh perhatian, menjura dan berkata, "Sekarang pinto mengharapkan agar pangeran sendiri..."

Baru sampai di situ dia berbicara, tiba-tiba ada angin dahsyat menyambar dari belakang, memukul ke arah lambungnya! Bukan main kagetnya Tok-ciang Sian-jin. Cepat-cepat dia membalik untuk mengelak dan menangkis.

"Plakkk! Desss…!"

Tubuh tosu itu terpelanting dan roboh, dari mulutnya keluar darah segar karena biar pun dia berhasil menangkis pukulan Kim-liong-ong, akan tetapi tangkisannya kurang tepat dan pukulan kakek pendek kecil itu masih meleset sehingga mengenai punggungnya.

Tosu itu bangkit duduk lantas memejamkan mata untuk mengumpulkan hawa murni dan menahan dadanya yang terguncang hebat. Walau pun dia tidak sampai terluka separah kalau pukulan itu mengenai lambung, namun dia sampai muntah darah dan tentu saja dia tidak mungkin depat melanjutkan pertempuran.

"Sungguh curang!" Cui Kai Sun membentak dengan suara lantang. Pemuda gagah murid Siauw-lim-pai ini menegur marah sekali.

Kim-liong-ong hanya tersenyum mengejek ke arah pemuda itu. Melihat betapa di antara para orang kang-ouw yang hadir itu banyak yang memperlihatkan muka tak senang, Ceng Han Houw cepat bangkit berdiri dan berkata dengan suara yang halus namun berwibawa dan terdengar sampai jauh di luar.

"Cu-wi, hendaknya cu-wi bersikap adil! Tidak ada kecurangan terjadi di sini!"

"Siapa bilang tidak curang? Bukan aku hendak membela Tok-ciang Sian-jin, akan tetapi kami semua tadi melihat tosu itu sedang bicara dengan pangeran ketika Kim-liong-ong menyerangnya dari belakang secara curang sekali!" Ciu Kai Sun berteriak lagi dan banyak tokoh kang-ouw, terutama sekali yang berasal dari golongan bersih, mengangguk untuk menyatakan persetujuan mereka dengan ucapan pemuda gagah itu.

Akan tetapi Pangeran Ceng Han Houw tersenyum. "Itu adalah kesalahan tosu itu sendiri, pertandingan belum selesai dan..."

"Aku menghitung sendiri bahwa tosu itu telah dapat melayani Kim-liong-ong sampai lima puluh jurus!" Terdengar suara orang lain membenarkan.

Sekarang Ceng Han Houw tersenyum semakin lebar dan dia mengangkat kedua tangan ke atas untuk minta para tamu diam. Setelah mereka semua itu tidak berisik lagi, dia lalu berkata, suaranya jelas dan halus,

"Cu-wi sekalian yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw tentunya tahu bahwa syarat untuk menjadi orang kang-ouw bukan hanya tergantung kepada kepandaian silat saja, melainkan juga membutuhkan kecerdikan dan ketelitian! Memang betul bahwa kami tadi berjanji kepada siapa yang bisa menandingi isteri saya selama lima puluh jurus maka dia berhak untuk menjadi calon jagoan. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berjanji tentang lima puluh jurus itu terhadap dua orang pembantu kami, yaitu Hai-liong-ong dan Kim-liong-ong. Karena tidak ada perjanjian maka pibu melawan mereka pun tidak terbatas jumlah jurusnya. Tadi dalam keadaan belum ada yang kalah atau pun menang, Tok-ciang Sian-jin menghentikan pibu secara sepihak tanpa memberi tahu kepada Kim-liong-ong, maka kalau dia sampai terpukul, baik dari belakang mau pun dari depan, bawah atau dari atas, hal itu adalah kesalahannya sendiri karena dia telah ceroboh dan lengah. Bukankah demikian, cu-wi?"

Ucapan yang dilakukan dengan suara halus dan penuh wibawa itu diikuti oleh kesunyian yang lengang karena semua tamu saling pandang dan mereka semua mau tak mau harus membenarkan pembelaan pangeran itu. Memang tadi pangeran itu berjanji tentang ujian selama lima puluh jurus dalam menghadapi isteri pangeran itu, dan terhadap dua orang pembantunya itu dia tidak berjanji apa-apa. Oleh karena itu, kekalahan Tok-ciang Sian-jin merupakan kekalahan mutlak, walau pun kekalahan itu adalah akibat dari kelengahannya, bukan akibat dari kalah tinggi ilmunya dibanding dengan Kim-liong-ong Phang Sun.

"Pinto yang bodoh... pinto kena ditipu orang... pinto mengaku kalah." Tiba-tiba tosu itu bangkit berdiri, dengan muka pucat dan mata bersinar memandang kepada pangeran itu, menjura lalu dengan langkah lebar dia meninggalkan tempat itu sambil mengusap darah dari ujung bibirnya.

Semua tamu hanya mengikuti langkah tosu itu dengan pandang mata dan sekarang tidak ada lagi yang mau mencampuri karena orang yang bersangkutan sendiri sudah mengakui kebodohannya dan mengaku kalah!

Karena ada yang merasa penasaran, berturut-turut terdapat beberapa orang tokoh yang belum mengenal betul kepandaian Lam-hai Sam-lo, maju memasuki ujian calon jagoan nomor satu di dunia. Namun, satu demi satu mereka itu dikalahkan oleh Kim-liong-ong atau Hai-liong-ong yang maju bergantian. Bagi mereka yang sudah tahu akan kelihaian Lam-hai Sam-lo, siang-siang sudah kuncup nyalinya dan tidak berani maju.

Sesudah tujuh orang calon semua kalah, kini agaknya tidak ada lagi yang berani maju. Melihat ini, diam-diam Pangeran Ceng Han Houw merasa amat penasaran. Tak mungkin di antara tokoh kang-ouw tidak ada yang mampu mengalahkan Lam-hai Sam-lo, pikirnya. Apa lagi di situ terdapat tokoh-tokoh Cin-ling-pai yang belum bertindak sesuatu.

"Siapa lagi yang akan maju mencoba kemampuannya?" Hai-liong-ong Phang Tek berkata dengan suaranya yang lantang. Akan tetapi para tamu hanya saling pandang dan agaknya tidak ada lagi yang berani maju.

Pangeran Ceng Han Houw bangkit berdiri. "Cu-wi, kenapa cu-wi merasa sungkan? Saya percaya bahwa di antara cu-wi masih banyak orang pandai! Ataukah hanya demikian saja kepandaian para tokoh kang-ouw? Sungguh di luar dugaan kami kalau di dunia kang-ouw ini tidak ada tokoh yang mampu menandingi Lam-hai Sam-lo!"

Ucapan itu halus, tetapi juga bernada mengejek dan membakar. Semenjak tadi wajah Cia Giok Keng sudah merah sekali dan dia sudah hendak bangkit berdiri. Akan tetapi adiknya, Cia Bun Houw, memegang lengannya dan berbisik, "Enci, Lam-hai Sam-lo itu terlalu lihai bagimu."

"Biar!" Cia Giok Keng, wanita berusia setengah abad yang nampak cantik dan gagah itu, menjawab dengan bisikan mendesis hingga membuat beberapa orang tamu yang duduk dekat menengok.

"Aku tidak takut. Kalau kalah pun, biar aku mati di depan mata anak durhaka itu!" Jelaslah bahwa sumber kemarahan wanita ini adalah melihat puterinya, selain telah menjadi isteri pangeran itu tanpa minta ijin dulu darinya, juga melihat puterinya itu membantu pangeran yang hendak memberontak itu.

"Enci, tindakan itu kurang bijaksana. Apakah engkau ingin semua orang kang-ouw tahu akan pertentangan antara engkau dengan puterimu sendiri? Biarkan aku saja yang maju, mereka itu bukan lawanmu, melainkan lawanku!"

Sebelum Cia Giok Keng dapat membantah, disetujui oleh isterinya, yaitu Yap In Hong dan juga Yap Kun Liong yang maklum bahwa dua orang kakek dari selatan Lam-hai Sam-lo itu memang lihai sekali, sekali bergerak Cia Bun Houw sudah meloncat ke depan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner