PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-74


Hek-hiat Mo-li mengeluarkan gerengan laksana seekor binatang marah dan dia langsung menubruk dari samping, menghantamkan tongkat bututnya ke arah belakang kepala Sin Liong sambil tangan kirinya mencengkeram ke arah dada.

Sin Liong yang pada waktu itu sedang tertegun karena melihat betapa dia telah berhasil membunuh wanita yang menjadi musuh besarnya, yang telah membunuh ibu kandungnya itu, segera berbalik ketika merasa ada sambaran angin serangan dahsyat itu. Dari angin pukulan itu tahulah Sin Liong bahwa nenek ini sudah marah sekali dan telah mengerahkan seluruh tenaganya, agaknya hendak mengadu nyawa dengan dia karena marah melihat muridnya yang terkasih itu tewas.

"Hemm, engkau pun harus mampus untuk pergi menghadap arwah kongkong!" bentaknya dan dia pun cepat menangkis dan balas menyerang.

Karena sekali ini Sin Liong tidak mau memberi hati lagi, begitu balas menyerang dia pun telah memilih jurus-jurus dari Hok-mo Cap-sha-ciang yang merupakan ilmu simpanan dan yang belum dikenal oleh orang lain sehingga betapa pun nenek itu hendak mengelak dan menangkis, tetap saja pukulan aneh itu mengenai dadanya.

"Desss...!"

Tubuh nenek itu terlempar lagi ke belakang dan menghantam dinding, gudang itu seperti tergetar saking kerasnya tubuh nenek itu menumbuk dinding. Akan tetapi, sungguh pun pukulan tadi hebat sekali, namun Hek-hiat Mo-li tetap merangkak bangun maju lagi dan memekik-mekik seperti orang gila sambil menyerang dengan tongkatnya, agaknya sedikit pun tidak merasakan pukulan dahsyat itu!

Sin Liong merasa terkejut bukan kepalang. Pukulannya tadi hebat sekali, dan dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang pada tangannya. Namun ternyata nenek tua itu mempunyai kekebalan yang luar biasa sekali, agaknya kekebalan yang sudah melindungi seluruh tubuh bagian dalam sehingga pukulan yang demikian ampuhnya pun tidak dapat melukai luar mau pun dalam!

Ketika tadi Sin Liong merobohkan Kim Hong Liu-nio sesudah melakukan serangan hebat yang langsung membuat guru dan murid itu terdesak hebat, pendekar wanita Yap In Hong memandang dengan mata terbelalak! Dia merasa heran, terkejut, dan kagum bukan main.

Dia sudah mengenal betul siapa adanya Hek-hiat Mo-li dan betapa lihainya nenek iblis itu, dan dia pun tahu bahwa murid nenek itu pun lihai bukan main. Akan tetapi, dikeroyok dua oleh guru dan murid itu, Sin Liong sama sekali tidak kelihatan repot, bahkan dalam waktu singkat saja sudah berhasil menewaskan Kim Hong Liu-nio secara demikian luar biasa, menggunakan hio-hio (dupa biting) yang bernyala yang merupakan senjata rahasia dari lawan itu.

Kini tubuh Kim Hong Liu-nio terlentang tak bernyawa lagi, akan tetapi dua batang hio yang menancap pada dada dan dahi itu masih mengeluarkan asap harum! Dan melihat betapa dalam gebrakan selanjutnya Hek-hiat Mo-li sudah kena dihantam sedemikian kerasnya, benar-benar membuat Yap In Hong kagum bukan main!

Dia sendiri pernah melawan nenek ini dan biar pun akhirnya dia berhasil menang, namun harus melalui pertandingan yang amat lama, amat melelahkan dan amat berbahaya. Dan kini, dalam perkelahian yang belum lama, Sin Liong telah mampu membuat tubuh nenek itu terlempar dua kali!

Akan tetapi, melihat wajah pemuda itu terkejut, dia lantas mengerti sebabnya. Dia sudah mengenal kekebalan nenek itu yang dahulu pernah membuat dia repot dan bingung juga, maka dia pun lalu cepat berkata, "Sin Liong, kau hantam kedua telapak kakinya!"

Mendengar ini, mengertilah Sin Liong bahwa nenek itu memiliki kelemahan pada telapak kakinya. Dan memang benarlah demikian. Di dalam cerita Dewi Maut, pendekar wanita Yap In Hong pernah bertanding mati-matian dengan nenek ini dan seandainya dia tidak dapat menemukan rahasia kelemahan nenek ini, yaitu pada kedua kakinya, belum tentu dia dapat keluar sebagai pemenang. Kini dia membuka rahasia kelemahan itu kepada Sin Liong.

Mendengar ini, girang hati Sin Liong. Tadi dia sudah kaget sekali menyaksikan kehebatan ilmu kekebalan nenek ini dan walau pun hal itu tidak membuat dia merasa gentar, akan tetapi setidaknya membuat dia menjadi bingung karena tidak tahu bagaimana caranya dia akan bisa mengalahkan orang yang tubuhnya kebal seperti itu. Kini, mendengar petunjuk dari Yap In Hong, dia girang sekali dan cepat dia menghantamkan kedua tangannya ke arah kedua kaki nenek itu dengan pengerahan tenaga sinkang-nya.

Akan tetapi, betapa terkejutnya hati Yap In Hong dan juga Sin Liong sendiri ketika nenek itu hanya mengelakkan sebelah kaki saja, lantas sambil terkekeh-kekeh dia menyambut hantaman Sin Liong dengan kaki lainnya! Justru dengan telapak kakinya yang dianggap tempat lemah itu.

"Dukkk!"

Kembali tubuh nenek itu terlempar ke belakang, akan tetapi Sin Liong terkejut bukan main karena tangannya bertemu dengan benda yang amat keras, yang agaknya tersembunyi di dalam sepatu yang tebal itu. Ternyata nenek itu sudah melindungi bagian tubuhnya yang lemah itu, yaitu dua telapak kakinya, dengan logam, mungkin baja murni yang amat kuat dan tebal dan melindungi kedua telapak kaki itu dengan disembunyikan di dalam sepatu. Pantas saja sepatu nenek itu amat tebal!

"He-he-he, Yap In Hong, kau kira masih akan dapat mengalahkan aku dengan memukul telapak kakiku? Heh-heh!" Nenek itu tertawa girang sekali dan dia sudah menerjang lagi ke arah Sin Liong dengan lebih dahsyat!

Sin Liong menjadi marah. Dia menyambut terjangan nenek itu dengan kedua tangannya, tangan kirinya menangkis tongkat dan terus menangkap tongkat itu, sedang tangan kanan menangkis pukulan tangan kiri lawan dan terus dia mengerahkan Thi-khi I-beng sehingga tongkat dan tangan nenek itu tersedot dan melekat.

"Heh-heh, siapa takut Thi-khi I-beng?" Nenek itu berseru sambil menggerakkan tubuhnya meliuk seperti ular, dan tiba-tiba saja tongkat serta tangannya dapat terlepas dari sedotan karena nenek itu segera menarik kembali sinkang-nya, kemudian secepat kilat nenek itu telah menggerakkan tongkatnya dari jarak yang sedemikian dekatnya untuk menotok jalan darah maut di leher Sin Liong, di bawah telinga kiri!

"Tukk! Prakkk!"

Nenek itu terkejut bukan main. Totokannya tadi tepat sekali mengenai sasaran. Biasanya, totokan seperti itu tidak mungkin dapat dilindungi oleh kekebalan, maka dia sudah girang sekali karena mengira bahwa totokannya tentu akan merobohkan pemuda itu.

Dia tidak tahu bahwa dengan latihannya menurut isi kitab-kitab Bu Beng Hud-couw yang aneh, pemuda itu telah dapat membalikkan jalan darahnya sehingga ketika ujung tongkat itu mengenai jalan darah, yang ditotoknya hanyalah urat yang pada saat itu berhenti tidak mengalirkan darah karena darahnya berpindah mengalir melalui tempat lain! Dan ketika itu pula, dengan tangannya Sin Liong menampar ke arah tongkat dengan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tongkat itu patah-patah.

Kini Sin Liong menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, memainkan San-in Kun-hoat dengan kedua tangannya, gerakannya lembut seperti awan gunung, akan tetapi ilmu silat yang dipelajarinya dari ketua Cin-ling-pai ini hebat sekali sehingga biar pun amat lembut, jari-jemari tangannya mengancam ke arah mata nenek itu, bagian yang tentu saja tidak mungkin dilindungi oleh kekebalannya yang amat kuat itu.

"Ihhh...!" Nenek itu mengelak dan menggunakan dua tangan untuk melindungi mukanya.

Memang inilah yang dikehendaki oleh Sin Liong. Begitu kedua lengan nenek itu bergerak melindungi matanya, gerakan sekilat ini sedikit banyak mengurangi kewaspadaan nenek itu karena matanya terhalang lengan dan nenek itu terlalu mengandalkan kekebalannya sehingga tidak melindungi tubuh lain.

Kesempatan ini digunakan oleh Sin Liong untuk melakukan gerakan cepat mencengkeram dengan kedua tangannya, menangkap leher serta baju pada bagian dada nenek itu, dan sebelum Hek-hiat Mo-li tahu apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, mendadak Sin Liong mengeluarkan bentakan nyaring dan dengan sekuat tenaga dia melemparkan tubuh nenek itu ke arah api yang sedang berkobar!

"Hiaaattt...!" Bentakan ini disusul lemparan kedua tangan dan tubuh nenek itu melayang cepat ke arah api!

"Brakkk!"

Pilar kayu di mana tadi Bi Cu dibelenggu dan yang kini sudah berkobar-kobar itu segera patah-patah tertimpa tubuh Hek-hiat Mo-li, disusul oleh pekik dahsyat nenek itu karena pakaiannya terjilat api dan mulailah dia terbakar oleh api yang mulai bernyala di pakaian dan rambutnya! Nenek itu meloncat ke sana-sini, akhirnya bergulingan dan menjerit-jerit. Namun api makin membesar hingga akhirnya dia berkelojotan dan Sin Liong membuang muka. Sesudah nenek itu tidak bersuara lagi, Sin Liong cepat menghampiri Bi Cu.

"Sin Liong...!" Kebetulan Bi Cu siuman dan mereka saling tubruk dan saling berangkulan, dipandang oleh Yap In Hong yang menahan senyumnya.

Sin Liong lalu menggandeng tangan kekasihnya, diajaknya berlutut di hadapan pendekar wanita itu. "Yap-lihiap sudah menyelamatkan nyawa Bi Cu, kami berdua berterima kasih sekali dan kami tidak akan melupakan budi kebaikan lihiap," kata Sin Liong dengan suara terharu.

Yap In Hong tersenyum dan memandang kagum kepada pemuda yang sedang berlutut di hadapannya itu. Baru kini dia tahu bahwa pemuda ini benar-benar memiliki kepandaian yang hebat sekali, dan mulailah dia mengerti mengapa pemuda ini dahulu mencegah dia dan suaminya ketika hendak membunuh Kim Hong Liu-nio. Ternyata pemuda ini hendak membunuh sendiri wanita jahat itu, dan tentu ada alasannya yang amat kuat.

"Sudahlah, Sin Liong, di dalam keadaan seperti ini, tidak perlu sungkan-sungkan. Engkau terus teranglah sekarang, apakah engkau benar-benar hendak membantu pemberontakan Pangeran Ceng Han Houw?"

Sin Liong mengangkat muka memandang, dan wanita perkasa itu terkejut menyaksikan sinar mata yang mencorong seperti mata naga itu!

"Tidak, lihiap. Bahkan aku akan membantu untuk menghancurkan usahanya yang busuk itu!"

"Bagus, kalau begitu lekas kita keluar. Tempat ini mulai terbakar dan aku tidak tahu bagai mana jadinya dengan pertandingan di luar." Yap In Hong lalu cepat meloncat keluar.

Sin Liong yang menggandeng tangan Bi Cu bangkit bersama dara itu dan mereka saling pandang. Ketika Bi Cu melihat tubuh Kim Hong Liu-nio sudah menjadi mayat dan hio-hio itu masih mengepulkan asap harum, sedangkan tubuh nenek itu menjadi semakin hitam karena terbakar, dia pun mengeluh dan merangkul Sin Liong, menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya. Teringatlah dia betapa kalau dia tidak tertolong, tentu dia akan mati secara mengerikan seperti nenek itu pula.

"Semuanya telah berlalu... tenanglah," Sin Liong berkata sambil mendekap dan mengelus rambut kekasihnya, lalu mengajaknya keluar dari tempat itu, menuju ke luar, ke tempat pertemuan dengan jalan memutar, tidak lewat dalam istana, melainkan lewat taman bunga di samping istana.

Mereka melihat betapa Yap In Hong sudah berjalan cepat menuju ke ruangan depan itu. Mereka lalu ikut melangkah perlahan-lahan menuju keluar di mana agaknya masih terjadi keributan-keributan.

Kiranya pertandingan antara Cia Bun Houw yang dikeroyok dua oleh Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun berjalan amat seru dan mati-matian. Pada saat Yap In Hong tadi meninggalkan suaminya untuk melakukan penyelidikan ke belakang istana, dia melihat bahwa suaminya sudah mendesak dua orang lawan itu, maka setelah berunding dengan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, dia meninggalkan tempat itu, menyelinap ke belakang tanpa diketahui orang lain dan di gudang itu dia sempat menyaksikan Sin Liong menewaskan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio. Bahkan dia sempat menyelamatkan Bi Cu yang terancam maut.

Karena ternyata di belakang istana itu tidak terdapat gerakan apa-apa, dan karena girang bahwa Sin Liong ternyata berpihak kepada Cin-ling-pai dan menentang pangeran, maka wanita perkasa itu lalu cepat kembali ke situ. Akan tetapi ternyata, sungguh pun dia tidak menggunakan waktu yang terlalu lama meninggalkan tempat itu, setelah kini dia kembali, pertandingan itu sudah berubah menjadi lebih menegangkan dan mati-matian karena dua orang yang mengeroyok suaminya itu sesudah terdesak hebat lalu mengeluarkan senjata masing-masing.

Phang Tek sudah mempergunakan senjata tongkatnya yang hanya sepanjang sebatang pedang, kemudian memainkan tongkat itu seperti sebatang pedang dengan Ilmu Pedang Liong-jiauw-kiam yang ganas. Juga adiknya, Phang Sun, telah mempergunakan sebatang pisau belati yang berwarna hitam dan mengetuarkan bau amis. Memang belati di tangan Kim-liong-ong Phang Sun ini mengandung racun yang amat jahat, sekali gores pada kulit saja sudah cukup untuk mengirim lawan ke lubang kubur!

Akan tetapi ketika melihat dua orang lawannya yang telah terdesak itu kini menggunakan senjata, Bun Houw tidak berkata apa-apa. Dia maklum bahwa memang dua orang lawan itu bukan sekadar menguji kepandaiannya, melainkan jika mungkin akan membunuhnya, maka dia pun lalu mencabut sebatang pedang.

Semua orang menjadi silau melihat sekilat sinar emas yang kemudian bergulung-gulung. Kiranya itu adalah Hong-cu-kiam, sebatang pedang tipis yang bisa digulung atau dipakai sebagai sabuk, pedang yang pernah menggemparkan kolong langit di tangan pendekar ini.

Dengan pedang di tangan, pendekar ini tentu saja seperti seekor harimau tumbuh sayap. Dua orang kakek dari selatan itu kecele, karena begitu mereka bermain senjata, melawan pedang pemuda itu sungguh merupakan hal yang amat berbahaya.

Belum lagi lima puluh jurus mereka bertanding, Hai-liong-ong Phang Tek telah kehilangan tongkatnya yang patah menjadi dua dan kulit lengan kiri Kim-liong-ong Phang Sun terobek sehingga mengeluarkan darah. Keduanya terkurung hebat oleh gulungan cahaya pedang dan kalau Bun Houw hendak menurunkan tangan kejam, tentu mereka dalam saat-saat berikutnya akan roboh!

Pada saat itu, Pangeran Ceng Han Houw bangkit dan melangkah maju sambil berseru, "Tahan senjata...!"

Mendengar ini, sebagai seorang tamu yang tahu aturan, Bun Houw menahan pedangnya dan lenyaplah sinar gemilang dari pedang itu. Kini pendekar itu berdiri tegak menghadapi pangeran, pedangnya sudah masuk kembali ke sekeliling pinggangnya, dililitkan laksana sebatang sabuk! Hanya sedikit peluh di leher pendekar itu yang menunjukkan bahwa dia sudah mengeluarkan banyak tenaga menghadapi dua orang lawan tangguh tadi, ada pun dua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo itu berdiri di pinggiran sambil terengah-engah dan seluruh muka, leher dan baju mereka basah oleh keringat!

Pangeran Ceng Han Houw sudah melangkah maju dan menjura dengan sikap hormat dan ramah kepada Cia Bun Houw. "Paman Cia Bun Houw sungguh gagah perkasa dan amat mengagumkan..."

"Maaf, pangeran, selamanya saya tidak pernah merasa mempunyai seorang keponakan seperti Pangeran. Bicaralah yang benar!" Cia Bun Houw memotong dengan suara ketus penuh teguran. Tentu saja ucapan ini merupakan tamparan hebat, tetapi Ceng Han Houw masih tersenyum dengan ramahnya.

"Mungkin saja seorang enghiong gagah perkasa seperti Cia-tahiap tak mau menganggap saya sebagai keponakan, akan tetapi adalah merupakan kenyataan bahwa isteri saya, Lie Ciauw Si, ialah keponakanmu. Taihiap telah menundukkan dua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo, dengan demikian berarti sudah memenuhi syarat secukupnya untuk menjadi jago nomor satu di dunia, kecuali bila ada yang akan menandingi taihiap. Dengan kepandaian taihiap yang tinggi, maka kami mengharapkan agar taihiap akan sudi membantu agar kita semua dapat bangkit dan menentang kelaliman kaisar..."

"Cukup, pangeran! Aku bukan seorang pemberontak!"

"Justru itulah, Cia-taihiap. Taihiap beserta semua anggota keluarga Cin-ling-pai bukanlah pemberontak dan tidak pernah memberontak, akan tetapi apa yang telah terjadi? Seluruh dunia kang-ouw tahu belaka bahwa keluarga Cin-ling-pai yang gagah perkasa semuanya sudah dituduh pemberontak oleh kaisar yang tidak mengenal budi, bahkan telah menjadi orang-orang buruan pemerintah. Bukankah hal itu membikin orang menjadi penasaran?"

"Kami sekarang sudah dibebaskan, dan aku tidak mau bicara tentang itu!" Cia Bun Houw berkata dengan ketus.

Pada saat itu pula Lie Ciauw Si sudah bangkit kemudian berkata, "Paman Cia Bun Houw, hendaknya paman mengetahui bahwa yang sudah membebaskan keluarga Cin-ling-pai dari tuduhan pemberontak adalah Pangeran Ceng Han Houw yang telah menjadi suamiku inilah! Dia bermaksud baik, dia hendak menghimpun kekuatan orang-orang gagah, kaum patriot untuk menentang penindasan..."

"Lie Ciauw Si!" Tiba-tiba terdengar suara Cia Giok Keng yang nyaring, membuat semua orang menengok ke belakang, "Aku malu sekali melihat kau menjadi kaki tangan gerakan pemberontak! Aku malu mendengar kata-katamu yang membelanya! Aku malu melihat engkau merendahkan diri menjadi isterinya!"

Seketika wajah Ciauw Si menjadi pucat dan dia memandang ke arah ibunya yang sudah bangkit berdiri dari kursinya itu dengan sinar mata sedih. "Ibu... dia... dia seorang suami yang baik..."

Cia Giok Keng yang marah sekali itu hendak bangkit meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri ke tengah ruangan, akan tetapi lengan tangannya dipegang oleh Yap Kun Liong lantas suaminya ini membujuknya sehingga akhirnya dia duduk kembali, menutupi mukanya dan menangis!

Sementara itu, Cia Bun Houw berkata kepada Pangeran Ceng Han Houw, "Pangeran kita bicara seperti laki-laki ataukah engkau hendak menggunakan wanita untuk membelamu?"

Han Houw tersenyum, memegang tangan Ciauw Si dan membujuknya lalu menuntunnya sehingga akhirnya Ciauw Si kembali duduk di atas kursinya dan menundukkan mukanya, menyembunyikan air matanya yang menetes keluar. Kemudian pangeran itu kembali maju menghampiri Bun Houw sehingga mereka berdiri berhadapan dan saling memandang.

Pangeran itu tahu bahwa bujukannya yang dibantu isterinya tidak akan berhasil, maka kini dia ingin mengambil jalan lain yang akan menguntungkan dia, yaitu hendak merobohkan orang-orang Cin-ling-pai di depan semua orang kang-ouw agar mereka semua tahu bahwa dialah jagoan nomor satu di dunia ini! Kemenangannya atas semua pendekar-pendekar Cin-ling-pai tentu akan membuat para tokoh kang-ouw lainnya menjadi tunduk sehingga pengaruhnya tentu akan menjadi lebih besar sehingga mudah baginya untuk menguasai mereka.

Sesudah kedua orang ini saling pandang dengan sinar mata tajam, akhirnya Han Houw berkata, suaranya lantang karena dimaksudkan agar semua orang dapat mendengarnya, "Cia-taihiap, kami telah bermaksud baik dan mengingat akan pertalian kekeluargaan, akan tetapi taihiap menolaknya. Sekarang, pendekar sakti Cia Bun Houw dari Cin-ling-pai telah maju ke sini dan mengalahkan dua orang yang menjadi penguji. Taihiap adalah seorang calon jagoan nomor satu di dunia."

"Aku tidak ingin menjadi jagoan, hanya ingin mengukur sampai di mana kepandaian orang yang berani mengaku sebagai jagoan nomor satu di dunia, tidak peduli siapa adanya dia itu!"

Ceng Han Houw tersenyum, kemudian dia memandang ke sekeliling. "Cu-wi tentu sudah mendengarnya. Pendekar Cia Bun Houw adalah seorang pendekar yang amat lihai pada waktu ini, dan aku mendengar kabar bahwa ilmu kepandaiannya bahkan telah melampaui tingkat mendiang ayahnya, yaitu ketua sekaligus pendiri dari Cin-ling-pai! Oleh karena itu, kemunculannya ini dapat diartikan mewakili seluruh Cin-ling-pai dan dia sudah lulus ujian dan mengalahkan kedua orang kakek dari Lam-hai Sam-lo. Oleh karena itu, kalau ada di antara para locianpwe dan enghiong yang merasa pantas untuk menjadi calon jago nomor satu di dunia, harap suka maju untuk menghadapi Cia-taihiap!"

Memang pangeran ini cerdik sekali. Dia ingin mengadukan semua orang gagah di sana, dan nanti pemenang terakhir barulah akan dihadapinya. Dengan cara ini di samping tidak terlampau melelahkan baginya, juga dia dapat sekali pukul merobohkan orang terpandai dan otomatis menjadi jagoan nomor satu di dunia!

Secara diam-diam Bun Houw juga mendongkol sekali mendengar ini, akan tetapi karena pangeran itu adalah tuan rumah, maka tentu saja dia berhak untuk bicara kepada semua tamunya bahkan berhak pula untuk mengeluarkan peraturan. Maka dia pun diam saja. Dia yakin bahwa di antara para orang gagah dari golongan bersih tidak akan ada seorang pun yang sudi untuk memperebutkan julukan yang sombong itu dan tidak akan ada yang mau menentangnya sebab mereka semua melihat bahwa dia maju untuk menentang pangeran pemberontak itu.

Maka, dia hanya ingin tahu tokoh golongan hitam yang mana yang akan maju. Dia akan menghadapi mereka semua, karena memang tugasnya bersama keluarga Cin-ling-pai ini hendak membantu Pangeran Hung Chih untuk menumpas persekutuan hitam yang akan memberontak terhadap pemerintah di bawah pimpinan pangeran muda ini.

Akan tetapi, ternyata dari golongan hitam pun tak ada yang berani maju! Setelah mereka semua tadi menyaksikan betapa Bun Houw mampu merobohkan dua orang dari Lam-hai Sam-lo, para tokoh hitam menjadi gentar sekali dan tidak ada seorang pun yang berani lancang maju menghadapi pendekar Cin-ling-pai yang selain kelihaiannya sudah terkenal sekali itu, bahkan sudah mereka saksikan sendiri betapa hebat sepak terjangnya ketika mengalahkan Hai-liong-ong dan Kim-liong-ong tadi.

Maka mereka ingin sekali melihat sang pangeran itu sendiri yang menghadapi pendekar Cia Bun Houw. Mereka tahu bahwa pangeran muda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sudah mengalahkan banyak tokoh-tokoh besar dunia persilatan, bahkan sudah berani pula menantang tokoh-tokoh Siaw-lim-pai! Karena itu, menurut pendapat mereka, hanya pangeran itulah yang patut untuk menghadapi pendekar Cin-ling-pai itu.

"Pangeran saja yang maju!" tiba-tiba terdengar seruan seorang di antara mereka.

Seruan ini seperti menyinggung semua perasaan para tamu golongan hitam maka tempat itu lalu menjadi bising dan semua orang menyatakan agar pangeran yang mau menandingi pendekar Cin-ling-pal itu! Selain mereka menganggap bahwa pangeran muda ini lawannya, juga mereka semua ingin menyaksikan pertandingan yang tentu akan berlangsung amat hebatnya itu.

Diam-diam Pangeran Ceng Han Houw merasa kecewa. Mengapa tidak ada lagi jagoan yang berani maju? Apakah orang-orang yang akan dihimpunnya dan dijadikan pembantu-pembantunya itu hanya terdiri dari orang-orang yang begitu penakut?

Melihat ini, Hai-liong-ong Phang Tek lalu berkata, "Harap paduka pangeran sendiri yang maju menghadapi Cia-taihiap karena agaknya tidak ada lagi yang sanggup."

Memang kakek ini pun ingin melihat sang pangeran merobohkan pendekar yang sudah membikin dia dan adiknya kewalahan sehingga mendapatkan malu itu, dan dia yang telah tahu akan kelihaian pangeran ini, merasa yakin bahwa pangeran muda itu akan sanggup merobohkan lawan tangguh ini.

Ceng Han Houw tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangan ke atas sehingga suara bising itu pun berhenti. Kemudian terdengar suaranya lantang dan halus, "Pendekar Cia Bun Houw adalah paman dari isteriku, maka bagaimana pun juga kami masih terhitung keluarga dekat dan tentu saja tidak sepatutnya kalau aku sebagai mantu keponakan maju melawannya. Tetapi, seperti kita semua ketahui, dalam ilmu silat tidak boleh memandang hubungan apa pun, dan untuk menentukan siapa yang lebih lihai tiada jalan lain kecuali mengadu kepandaian silat. Dan sudah jelas bahwa Cia-taihiap merupakan calon tunggal, maka biarlah saya akan melayaninya untuk melihat siapa di antara kita yang lebih unggul. Tentu saja saya mengharapkan kelonggaran hati Cia-taihiap dengan memandang muka isteriku!" Kalimat terakhir ini ditujukan kepada Cia Bun Houw.

Bun Houw memandang tajam, kemudian berkata, "Kalau engkau berhasrat untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, nah, majulah pangeran. Aku ingin mengukur sampai di mana kelihaian jagoan nomor satu di dunia!"

Dua orang itu telah saling berhadapan dan siap untuk saling serang. Semua mata tertuju ke arah mereka dan semua hati merasa tegang karena mereka semua maklum bahwa sekali ini tentu akan terjadi pertandingan yang amat seru dan hebat. Bahkan Yap In Hong yang baru saja datang dan duduk di kursinya kini memandang dengan jantung berdebar tegang, lalu berbisik-bisik dengan kakaknya, Yap Kun Liong untuk mengatur siasat yang memang telah dipersiapkan sebelumnya. Bagaimana pun juga, Yap In Hong tidak pernah menganggap pertandingan itu sebagai pibu, karena itu dia pun siap membantu suaminya andai kata suaminya terancam bahaya.

Juga Sin Liong yang sudah tiba di luar ruangan itu bersama Bi Cu, menyelinap di antara penonton, pada bagian paling belakang sehingga tidak nampak jelas dari dalam, sambil memegang tangan Bi Cu mereka berdua menonton dengan hati tegang pula. Tidak ada seorang pun memperhatikan pemuda dan dara yang baru datang ini, karena semua orang mencurahkan perhatian mereka ke arah dua orang pria yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago dalam medan laga.

Pangeran yang mengenakan pakaian indah, dengan mantel berikut topi bulu itu nampak gagah dan tampan sekali, bulu burung yang menghias topinya berwarna merah biru dan kuning emas. Senyumnya tidak pernah meninggalkan wajahnya dan dia sedikit pun tidak memperlihatkan wajah gentar, berseri-seri dan sikapnya menunjukkan bahwa dia percaya penuh akan keunggulannya.

Pendekar Cia Bun Houw yang berdiri di hadapannya merupakan seorang laki-laki gagah yang berpakaian dan bersikap sederhana dan kereng, sepasang matanya tajam penuh wibawa dan dia menanti serangan lawan dengan tenang.

"Pangeran...!"

Ketegangan itu melunak dan Pangeran Ceng Han Houw menoleh, memandang kepada isterinya yang tadi memanggilnya dengan suara halus dan menggetar. Dilihatnya wanita cantik itu memandang kepadanya dan sepasang mata yang indah itu agak kemerahan dan basah.

"Pangeran, ingatlah bahwa dia adalah pamanku..." kata Ciauw Si.

Hati wanita ini merasa bingung dan tegang bukan main. Dia tahu benar betapa lihainya suaminya. Dia sudah menguji sendiri kehebatan suaminya itu dan dia bahkan mempunyai keyakinan bahwa pamannya itu sekali pun tidak akan dapat mengalahkan Pangeran Ceng Han Houw, maka kekhawatirannya tertuju kepada pamannya sehingga dia merasa perlu untuk mengingatkan suaminya yang berarti minta suaminya supaya jangan menurunkan tangan keras terhadap adik ibunya itu.

Ceng Han Houw tersenyum bangga. Perkataan isterinya itu, walau pun hanya diucapkan perlahan, namun karena suasana sedang tegang dan sangat sunyi, ucapan itu terdengar oleh semua orang dan ucapan isterinya itu saja sudah mengangkatnya tinggi-tinggi di atas pendekar sakti yang akan menjadi lawannya. Isterinya minta agar dia mau berlaku murah kepada pendekar itu, berarti bahwa isterinya menyatakan kepada semua orang bahwa dia lebih unggul dari pada pendekar Cin-ling-pai itu!

"Jangan khawatir isteriku, ini hanya sebuah pibu, bukan perkelahian, tentu saja aku tidak akan berani kurang ajar apa lagi menyakiti paman sendiri!" jawab Ceng Han Houw sambil tersenyum lebar.

Bukan main panasnya rasa hati Bun Houw mendengar ucapan pangeran itu. Dia merasa direndahkan, dipandang ringan sekali di hadapan para tokoh kang-ouw. "Pangeran, luka atau mati sudah jamak terjadi dalam pibu. Nah, kau sambutlah ini!"

Karena tidak ingin membiarkan pangeran itu bisa berlagak lebih lanjut, Bun Houw sudah mengirim serangan dengan pukulan tangan kirinya yang ditamparkan ke arah leher lawan, tamparan yang terlihat sembarangan dan ringan saja akan tetapi sesungguhnya tamparan itu merupakan serangan Ilmu Thian-te Sin-ciang yang amat ampuh.

"Harap Cia-taihiap jangan bersikap sungkan lagi," kata sang pangeran yang menghadapi serangan itu masih sempat bicara, sambil mengelak dengan amat mudahnya, seolah-olah dengan ucapannya itu dia menegur pendekar Cin-ling-pai itu bahwa serangannya terlalu lemah dan terlalu sungkan!

Tentu saja Cia Bun Houw dapat merasakan sindiran ini, sebab itu dia pun kemudian mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat, mengerahkan sinkang pada sepasang tangannya dan pendekar ini pun menyerang dengan dahsyatnya. Karena dia dapat menduga bahwa pangeran ini bukan sekadar omong kosong atau sombong belaka, melainkan benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi, maka begitu bergerak, Bun Houw sudah menggunakan jurus-jurus Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang ampuh itu.

Kedua lengannya mengandung tenaga dari Ilmu Thian-te Sin-ciang yang sangat dahsyat dan kuat. Setiap gerakannya mendatangkan angin pukulan yang amat mantap sehingga setiap kali dielakkan lawan, jari-jari tangannya seolah-olah tergetar ketika pukulan ditahan, seperti ujung pedang saja!

Girang sekali rasa hati Han Houw. Inilah yang selalu dia nanti-nantikan, yaitu menandingi seorang pendekar yang telah mencapai puncak ketenarannya kemudian mengalahkannya! Kemenangan seperti ini akan jauh lebih menyenangkan dan nikmat dari pada melawan tokoh-tokoh biasa saja.

Dan kalau saja dia dapat mengalahkan pendekar dari Cin-ling-pai ini di depan penyaksian demikian banyaknya orang kang-ouw, sekali ini namanya tentu akan meningkat tinggi dan selain dia berhak menggunakan gelar Thian-te Te-it Tai-hiap (Pendekar Sakti Nomor Satu di Kolong Langit), juga dengan sendirinya dia akan menduduki kursi Bengcu (Pemimpin Rakyat) sehingga akan mudah menghimpun dan mengerahkan tenaga orang-orang dunia kang-ouw untuk niatnya menentang kaisar!

Dialah yang patut menjadi kaisar, bukan Kaisar Ceng Hwa yang sekarang ini, bukan pula Pangeran Hung Chih. Dialah yang paling tepat untuk menjadi kaisar! Dia merasa yakin akan dapat mengalahkan pendekar Cin-ling-pai ini, sungguh pun dia maklum bahwa untuk itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Dua orang pria yang berilmu tinggi itu kini bertanding dengan serunya. Mata semua tamu ditujukan untuk mengikuti pertandingan itu, dengan pandang mata penuh ketegangan dan kekaguman dan hampir tak pernah ada yang berkedip, seolah-olah merasa sayang untuk melewatkan sedikit gerakan tanpa mereka ikuti dengan seksama.

Memang mereka berdua itu hebat sekali. Setiap pukulan mendatangkan angin keras dan merupakan pukulan yang ampuh, dapat menghancurkan batu karang. Akan tetapi, setiap serangan dapat dihindarkan masing-masing dengan cara indah pula, jika tidak mengelak dengan gerakan cepat dan tepat, tentu ditangkisnya dan setiap kali kedua lengan mereka saling bertemu, semua orang dapat merasakan pertemuan dua tenaga dahsyat.

“Dukk! Dukk! Dukk!”

Suara keras dari bertemunya dua lengan itu seolah-olah menggetarkan sekeliling tempat itu, dan seolah-olah terasa oleh mereka yang menonton sehingga makin lama suasana menjadi makin menegangkan, apa lagi karena nampaknya kedua fihak sama kuatnya dan setiap kali mereka beradu tenaga, keduanya tergetar tapi dapat saling mempertahankan sehingga tidak sampai terhuyung.

Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang dimainkan oleh kaki tangan Bun Houw adalah ilmu yang amat tinggi dan memiliki dasar yang amat kuat, apa lagi dimainkan oleh Bun Houw tanpa kesalahan sedikit pun dan didorong pula dengan tenaga sinkang dari Thian-te Sin-ciang, maka amatlah sukarnya menandingi gerakan Bun Houw seperti itu.

Walau pun masih muda, Ceng Han Houw maklum akan lihainya lawan, maka biar pun sikapnya seperti memandang ringan dan senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya, akan tetapi sebenarnya dia berhati-hati sekali. Dia menggerakkan tubuhnya dan bersilat dengan Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Ilmu Silat Sakti Menaklukkan Naga), yaitu satu di antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw.

Akan tetapi, untuk menghadapi langkah-langkah dari Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang amat indah dan ampuh itu, dia pun harus mempergunakan langkah-langkah Pat-kwa-po yang juga amat rapi sehingga dia mampu menghindarkan diri dari setiap kurungan yang diciptakan oleh desakan serangan bertubi-tubi dari lawannya. Bahkan pangeran ini mampu pula untuk membalas sehingga mereka berdua bertanding dengan amat rapi dan serunya, masing-masing tidak mau mengalah.

Walau pun mereka berdua tidak memperlihatkan kemarahan atau mengeluarkan seruan-seruan yang mengejutkan, namun, dari gerakan mereka berdua, para tokoh kang-ouw yang menjadi penonton itu maklum bahwa kedua orang itu tak lagi melakukan pibu biasa sekedar untuk mengukur kepandaian masing-masing, melainkan berkelahi dengan sangat hebatnya, setiap serangan merupakan tangan maut yang haus darah, dan setiap jurus yang dipergunakan sudah diperhitungkan masak-masak sehingga merupakan jurus yang ampuh.

Diam-diam Yap In Hong dan Yap Kun Liong, dua orang pendekar yang sudah tinggi sekali tingkat kepandaiannya, tak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian Cia Bun Houw, menjadi terkejut bukan main menyaksikan kelihaian pangeran itu. Beberapa kali pendekar sakti Yap Kun Liong memuji dalam hatinya melihat betapa pangeran itu dapat menghadapi desakan-desakan yang amat berbahaya dari adik iparnya itu.

Terlebih lagi ilmu langkah sakti Pat-kwa-po yang dimainkan oleh pangeran itu, sehingga langkah-langkah kakinya teratur rapi dan dapat dipergunakan untuk menyelamatkan diri terhadap setiap desakan, mengingatkan dia akan ilmunya sendiri, yaitu Pat-hong Sin-kun yang langkah-langkahnya juga berdasarkan rahasia Pat-kwa (Delapan Segi). Diam-diam dia harus mengakui bahwa menghadapi pangeran itu bukanlah hal yang ringan, dan dia sendiri pun tak berani memastikan bahwa dia akan menang kalau menghadapi pangeran muda yang telah menjadi suami dari anak tirinya itu.

Yap In Hong juga merasa khawatir, karena dia pun dapat merasakan bahwa menghadapi pangeran itu, dia sendiri tidak akan mampu menang, dan suaminya agaknya tentu harus menggunakan seluruh kepandaian dan waktu yang tidak singkat untuk dapat mengatasi pangeran yang biar pun masih muda namun sudah amat hebat itu. Teringatlah dia akan Sin Liong dan dia membandingkan pangeran ini dengan Sin Liong.

Diam-diam dia merasa heran dan kagum bagaimana orang-orang yang masih muda itu telah memiliki kepandaian sehebat itu. Mereka sudah saling serang selama seratus jurus dan belum ada seorang pun di antara mereka yang menang atau kalah, bahkan belum ada yang nampak terdesak. Diam-diam Yap In Hong mengerutkan alisnya.

Ilmu silat tangan kosong dari pangeran itu memang kuat bukan main. Kenapa suaminya tidak mengajaknya bertanding mempergunakan senjata saja? Mungkin kalau bersenjata, suaminya akan dapat lebih unggul, karena ilmu pedang suaminya amat hebat.

Dan memang demikian pula pendapat Bun Houw. Akan tetapi, lawannya hanya seorang pemuda, dan tuan rumah pula, dan dia seorang tokoh Cin-ling-pai, bagaimana mungkin dia sudi menggunakan senjata apa bila lawannya itu hanya bertangan kosong saja? Jika sebelum bertanding tangan kosong selesai lantas menantang mengadu senjata, maka hal itu sama artinya dengan merasa kewalahan dalam pertandingan tangan kosong itu!

Dia merasa serba salah dan diam-diam dia pun kagum bukan main karena mengertilah pendekar ini bahwa tingkat kepandaian pangeran muda itu sungguh-sungguh luar biasa, bahkan masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian mendiang Pek-hiat Mo-ko mau pun Hek-hiat Mo-li sendiri. Selama hidupnya, baru sekarang inilah Cia Bun Houw merasa bertemu tanding yang amat kuatnya.

"Hehhh!" Cia Bun Houw membentak dan dia mengirim tamparan dengan Ilmu Thian-te Sin-ciang sambil mengerahkan seluruh tenaga. Kedua tangannya menyambar dari kanan dan kiri, mengirim tamparan-tamparan yang sampai mengeluarkan suara bercuitan saking cepat dan kuatnya.

Melihat ini, Ceng Han Houw melangkah mundur dua tindak. Ketika lawannya mengejar dengan langkah ke depan sambil melanjutkan tamparan-tamparan itu, ia telah menangkis dengan membuang lengan dari dalam keluar, ke kanan kiri.

"Dukk! Dukk!"

Untuk ke sekian kalinya, tubuh keduanya tergetar hebat karena sekali ini masing-masing mengerahkan seluruh tenaga mereka hingga getaran itu terasa sekali sampai ke jantung mereka. Keduanya terkejut karena keadaan mereka sungguh sangat berbahaya. Kurang kuat sedikit saja tentu jantung mereka akan terguncang sehingga setidaknya mereka akan mengalami luka dalam yang hebat. Baiknya bagi mereka bahwa tingkat kekuatan sinkang mereka berimbang sehingga keduanya mengalami getaran seperti itu.

Pangeran Ceng Han Houw juga terkejut bukan main. Sekarang dia baru percaya bahwa tokoh Cin-ling-pai ini memang hebat sekali. Pantas saja dahulu Pek-hiat Mo-ko, suami Hek-hiat Mo-li, sampai tewas di tangan pendekar ini. Mulailah dia merasa khawatir. Baru pendekar ini saja sudah begini lihainya, apa lagi kalau sampai keluarga Cin-ling-pai maju semuanya!

Padahal, menurut pendengarannya, isteri pendekar ini, yaitu Yap In Hong, memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan suaminya, dan bahwa Yap Kun Liong, ayah tiri dari Ciauw Si, juga memiliki ilmu yang malah lebih matang dan lebih banyak macam ragamnya dibandingkan dengan pendekar Cia Bun Houw ini.

Semua itu telah didengarnya dari penuturan isterinya. Dan dia harus dapat mengalahkan pendekar ini lebih dahulu sebelum menghadapi yang lain-lain, kalau memang mereka itu nanti akan maju pula.

Mendadak pangeran muda itu mengeluarkan teriakan lantang dan terkejutlah Bun Houw ketika melihat betapa lawannya itu mendadak berjungkir balik, dengan kepala di bawah menjadi kaki dan kedua kakinya di atas, lalu kaki serta tangan itu melakukan serangan-serangan dari atas dan bawah secara tangkas sekali dan yang lebih hebat dari pada itu, serangan-serangan dari kaki dan tangan itu mengandung tenaga yang lebih dahsyat dari pada tadi ketika pemuda bangsawan itu masih berdiri di atas kedua kakinya!

Memang itulah hebatnya ilmu simpanan dari Pangeran Ceng Han Houw. Ilmu inilah yang didapatnya dari kitab Bu Beng Hud-couw, yang bernama Hok-mo Sin-kun dan memang dia telah melatih diri dengan semedhi atau siulian yang juga dilakukan dengan berjungkir balik sehingga dia memperoleh sinkang yang lebih kuat dari pada kalau dia berdiri di atas kedua kakinya!

Bun Houw cepat menangkis dan mengelak, dan kembali dia terkejut bukan main karena selain tangkisan itu membuat lengannya terpental ketika bertemu dengan kaki lawan, juga dari bawah kedua tangan lawannya mengirim pukulan-pukulan dahsyat yang berbahaya sekali sehingga dia terpaksa melompat dan berjungkir balik ke belakang!

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ceng Han Houw untuk membentak nyaring sekali dan tubuhnya sudah melesat ke depan, tahu-tahu dia sudah membalikkan tubuhnya lagi dan dia mendesak Bun Houw yang masih belum hilang kagetnya. Kini dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, pangeran itu menusuk ke arah kedua mata lawan, ada pun kaki kanannya diangkat, menggunakan lutut untuk menghantam perut. Ketika Bun Houw yang terdesak itu mengelak ke belakang, tangan kiri pangeran itu menghantam ke arah muka.

"Hiaaattt...!" Pangeran itu mendesak dan bermaksud merobohkan Cia Bun Houw.

"Ehhh...!" Bun Houw cepat melempar tubuh ke belakang dan kembali dia berjungkir balik sampai berturut-turut tiga kali.

Gerakannya ini hebat sekali dan dia berhasil menghindarkan diri dari bahaya maut. Para tokoh kang-ouw yang menonton pertandingan itu juga ikut merasa terkejut. Sungguh pun gerakan pendekar Cin-ling-pai itu sangat indah dan cepat, dan sudah membuat pendekar itu berhasil menghindarkan diri, tapi harus diakui bahwa tadi pendekar itu terdesak hebat dan nyaris celaka!

Ceng Han Houw merasa penasaran karena serangannya yang hampir berhasil tadi pada saat terakhir gagal. Sebelum dia dapat menggunakan ilmunya yang aneh lagi, tiba-tiba terdengar bentakan keras,

"Ceng Han Houw, akulah lawanmu!"

Nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan pangeran itu telah berdiri seorang pemuda remaja yang bukan lain adalah Sin Liong! Semua orang sangat terkejut, baik dari golongan hitam mau pun golongan bersih memandang heran.

Bukankah Sin Liong ini adalah pemuda yang tadi diperkenalkan oleh pangeran itu sebagai adik angkatnya, bahkan diakui sebagai pembantu utamanya? Kenapa sekarang pemuda itu malah muncul dan menantang pangeran itu?

Peristiwa ini memang amat mengejutkan dan mengherankan. Bun Houw sendiri sampai terkejut dan terheran, sehingga dia pun hanya berdiri di pinggir dan tidak dapat berkata apa pun. Dia masih terkejut oleh serangan-serangan aneh dan hebat dari pangeran itu tadi, dan kini melihat munculnya Sin Liong secara tiba-tiba yang menantang pangeran itu, sungguh membuat dia termangu dan tidak mengerti harus berbuat atau berkata apa.

Semua tamu yang menjadi bengong memandang dengan hati semakin tegang. Lie Ciaw Si sampai bangkit dari tempat duduknya dan memandang khawatir, akan tetapi matanya bertemu dengan sinar mata ibunya sehingga kembali dia duduk serba salah. Yap In Hong tersenyum dan Yap Kun Liong juga tersenyum. Pendekar ini sudah mendengar penuturan singkat dari adiknya tentang sepak-terjang Sin Liong di belakang istana, dan diam-diam dia merasa kagum sekali.

Tadi ketika dia menyaksikan serangan pangeran itu yang aneh, dengan cara membalik tubuh, dia tidak merasa heran. Memang dia tahu bahwa di antara kaum sesat banyak terdapat ilmu-ilmu yang aneh dan sifatnya sesat pula, akan tetapi sebagian besar dari ilmu-ilmu hitam itu hanya kelihatannya saja menggiriskan, akan tetapi sesungguhnya tidak mengandung dasar yang kuat. Maka terkejutlah dia ketika ilmu yang dipergunakan oleh pangeran itu tadi telah membuat Bun Houw terdesak hebat dan nyaris kena dipukul. Maka legalah hatinya melihat adik iparnya itu mampu membebaskan diri.

Dia tadi melihat betapa adik kandungnya sudah bangkit dari tempat duduknya, siap untuk menolong suaminya yang terdesak, bahkan dia sendiri pun telah siap untuk turun tangan. Kini, melihat munculnya Sin Liong, dia menjadi ingin sekali melihat apakah pemuda yang telah dipilih oleh ketua Cin-ling-pai sebagai pewaris Thi-khi I-beng ini benar-benar sehebat seperti yang tadi dia dengar dari adiknya. Diam-diam dia menyangsikan cerita adiknya.

Dia membandingkan keadaan Sin Liong dengan keadaannya sendiri. Mungkinkah bocah itu mampu mengumpulkan ilmu-ilmu sehebat itu, melebihi In Hong, dia sendiri, atau Bun Houw? Rasanya tidak mungkin!

Bukankah bocah itu hanya mewarisi ilmu-ilmu yang sesungguhnya merupakan ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai dan dari Kok Beng Lama? Jadi, sama sekali tak ada bedanya dengan kepandaian Bun Houw!

Dan tak mungkin pemuda ini dapat memainkan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai atau pemberian mendiang Kok Beng Lama lebih baik dari pada permainan Bun Houw. Andai kata ada perbedaannya karena bocah itu kabarnya diwarisi Ilmu Thi-khi I-beng oleh mendiang Cia Keng Hong, maka kelebihan itu pun sebetulnya tidak banyak artinya.

Dia sendiri pun ahli Thi-khi I-beng, akan tetapi dia tidak berani menyatakan bahwa dia lebih lihai dari pada Bun Houw dan dia sendiri masih sangsi apakah dapat mengalahkan pangeran itu. Dan latihan dari Sin Liong tentu sekali belum matang.

Biar pun demikian, ada harapan di dalam hati pendekar Yap Kun Liong ini bahwa siapa tahu, mungkin saja Sin Liong menemukan sesuatu yang hebat, yang melebihi dia atau Bun Houw. Buktinya, bukankah menurut cerita In Hong, pemuda itu mampu merobohkan serta mengalahkan pengeroyokan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio? Dan bukankah pangeran itu pun seorang yang masih sangat muda namun telah menemukan ilmu yang aneh dan amat hebat.....?


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner