PENDEKAR LEMBAH NAGA : JILID-76


Akan tetapi ternyata lawannya tidak mengelak melainkan mundur sedikit dan membiarkan pundaknya terbuka tidak terlindung. Melihat ini, tentu saja Hai-liong-ong Phang Tek tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menang. Tangannya yang masih terbuka seperti cakar harimau itu tiba-tiba mencengkeram ke arah pundak lawan yang tak terlindung itu.

"Cappp...!"

Seperti cakar baja kelima jari tangan kanan kakek itu mencengkeram ke arah pundak dan Yap Kun Liong sama sekali tidak mengelak mau pun menangkis, melainkan membiarkan pundaknya dicengkeram.

"Auhhhhh...!" Terdengar Hai-liong-ong Phang Tek berseru kaget sekali.

Dia merasa betapa cengkeramannya mengenai benda lunak yang kemudian melekat dan terus mengeluarkan tenaga menyedot sehingga hawa sinkang dari tubuhnya menerobos keluar melalui tangannya itu! Dia berusaha menggunakan tenaga untuk menarik kembali tangannya, akan tetapi makin dia mengerahkan tenaga, semakin hebat pula sinkang-nya mengalir dan membanjir keluar!

Pucatlah wajah Hai-liong-ong Phang Tek dan tubuhnya menggigil. Dengan nekat tangan kirinya lantas menghantam, akan tetapi sekali ini tangan itu ditangkap oleh lawan. Begitu tertangkap, kembali sinkang-nya mengalir kuat dari pergelangan tangan yang tertangkap itu sehingga kini makin banyaklah sinkang yang membanjir keluar itu.

"Aduh... celaka...!" Kakek itu berseru. Barulah dia teringat akan Ilmu Thi-khi I-beng yang mukjijat sehingga dia menjadi takut bukan main.

"Hemm, agaknya kejahatanmu sudah melewati takaran. Pergilah!" Yap Kun Liong tiba-tiba menampar dengan tangan kirinya, tepat mengenai belakang telinga lawan. Hai-liong-ong Phang Tek mengeluh, tubuhnya terpelanting dan dia tewas pada saat itu juga.

Melihat kakaknya roboh, Kim-liong-ong Phang Sun menjadi makin jeri. Dia mengeluarkan teriakan panjang, lantas tiba-tiba saja dia meloncat pergi. Akan tetapi wanita perkasa itu membentak.

"Hendak lari ke mana kau?!"

Dan Yap In Hong mengejar dengan cepat, tangan kirinya lalu bergerak dan cahaya hijau menyambar. Itulah Siang-tok-swa, senjata rahasia istimewa merupakan pasir hijau yang berbau harum. Akan tetapi pasir halus ini mengandung racun yang amat berbahaya.

Kim-liong-ong Phang Sun cepat melempar tubuh ke samping lantas bergulingan sehingga sambaran pasir beracun itu hanya lewat saja di atas kepalanya, akan tetapi baru saja dia hendak meloncat bangun, lawannya sudah menerjangnya. Kakek kecil pendek ini hendak mengelak, namun dia kalah cepat dan begitu tangan Yap In Hong mengenai tengkuknya dengan tamparan Thian-te Sin-ciang yang ampuh, robohlah kakek itu dan nyawanya pun melayang sebelum tubuhnya terbanting ke atas lantai.

Cia Bun Houw, Yap Kun Liong, Yap In Hong dan Cia Giok Keng masih terus mengamuk, membantu para tokoh kang-ouw golongan bersih untuk menghadapi kaum sesat yang ikut membantu Pangeran Ceng Han Houw. Biar pun jumlah kaum sesat lebih banyak, namun dengan bantuan mereka berempat ini mereka menjadi kocar-kacir hingga banyak di antara mereka yang roboh dan tewas.

Sementara itu, Lie Ciauw Si masih tetap duduk bagaikan patung di kursinya yang tadi, sedikit pun tak bergerak, tidak membantu suaminya, juga tidak menentang suaminya. Dia seperti orang kehilangan semangat menyaksikan keruntuhan cita-cita pria yang dicintanya itu dan diam-diam dia merasa ikut bersedih untuk suaminya itu. Semenjak tadi dia tidak melihat yang lain kecuali menonton suaminya yang masih bertanding dengan hebat dan serunya melawan Sin Liong!

Sesudah merobohkan banyak orang dari golongan hitam dan ikut menonton pertandingan antara Sin Liong dan pangeran itu, kini para tokoh Cin-ling-pai itu mulai mendekat. Tetapi Sin Liong berkata sambil tetap mendesak lawannya,

"Harap cu-wi dari Cin-ling-pai membiarkan saya menghadapi musuh besar ini sendiri."

Mendengar ini, tiga orang itu segera berhenti dan hanya menonton dengan penuh kagum. Pertandingan itu sudah mencapai puncaknya, dan keduanya sudah mengerahkan seluruh kepandaian serta tenaga mereka untuk saling mendesak dan kalau mungkin merobohkan lawan.

Ceng Han Houw masih mempergunakan ilmunya yang aneh, dengan berjungkir balik dia berusaha untuk mendesak lawan dengan kedua tangan dari bawah dan kedua kaki dari atas. Namun, dengan ilmu Hok-mo Cap-sha-ciang, Sin Liong selalu dapat membuyarkan semua serangannya, malah serangan balasan Sin Liong senantiasa membuat tubuh yang berjungkir balik itu tergetar dan bergoyang, malah kadang-kadang memaksa pangeran itu untuk berloncatan ke belakang sehingga kepala yang menyentuh lantai itu mengeluarkan suara dak-duk-dak-duk.

Dengan sekilas pandang saja tahulah Pangeran Ceng Han Houw bahwa dia telah gagal total. Para tokoh kang-ouw golongan hitam yang membantunya sudah roboh satu demi satu, para pembantunya yang dipercaya, seperti subo dan suci-nya, juga telah tewas dan bahkan kedua orang Lam-hai Sam-lo telah roboh pula. Dari gemuruh suara pertempuran antara pasukannya dan pasukan pemerintah, dia maklum pula bahwa pasukannya terus terdesak mundur, karena suara gemuruh itu makin lama semakin dekat juga.

Hatinya menjadi sedih dan kecewa sekali, akan tetapi kemarahannya terhadap Sin Liong mengatasi semua itu. Bocah inilah yang menjadi gara-gara semua kegagalanku, demikian pikirnya. Kini dia telah dikurung oleh tokoh-tokoh Cin-ling-pai. Dia harus bisa merobohkan Sin Liong terlebih dahulu, harus dapat menewaskan bocah ini. Maka, nekatlah Ceng Han Houw.

Dengan mengeluarkan pekik dahsyat yang melengking tinggi, tubuhnya yang berjungkir balik itu meluncur ke depan dan mendadak tubuh itu meloncat tinggi kemudian dari atas tubuhnya meluncur turun lantas dia menubruk ke arah Sin Liong seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor kijang! Tubrukannya ini hebat, cepat dan dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, tenaga yang dipusatkan kepada dua tangan dan kepalanya karena dia hendak menyerang lawan dengan kedua tangan dan kepala!

Menghadapi serangan seperti ini, Sin Liong menjadi terkejut. Inilah serangan yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah nekat, yang tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri, yang kalau perlu hendak mengadu nyawa dengan musuhnya!

Sin Liong maklum bahwa apa bila dia menyambut serangan itu dengan kekerasaan pula, sungguh pun dia akan dapat merobohkan lawan, akan tetapi dia sendiri terancam bahaya maut. Tenaga yang dipergunakan Han Houw dalam serangan itu merupakan tenaga yang dipusatkan, ditambah tenaga luncurannya yang kuat, sehingga amatlah berbahaya kalau disambut dengan kekerasan.

Oleh karena itu, dia pun segera mainkan jurus terakhir dari Hok-mo Cap-sha-ciang yang dahulu memang khusus diciptakan untuk menggunakan tenaga lemas melawan serangan dahsyat yang keras. Sin Liong berdiri tegak, mengerahkan tenaga ‘Im’ dan mula-mula dia hendak mempergunakan Thi-khi I-beng, akan tetapi niat ini segera dibatalkan karena dia maklum bahwa ilmu ini akan membahayakan dirinya bila ada tenaga sinkang yang begitu kuat dan kerasnya membanjir masuk dengan kekuatan sepenuhnya, maka bisa merusak seluruh isi perutnya.

Karena itu dia lalu melakukan jurus terakhir itu. Lagi pula, ketika dua tangan lawan sudah hampir mengenai dadanya, dia menangkis dari bawah dan karena saat itu dia menyimpan tenaga, maka tidak terjadi benturan tenaga tetapi dia terjengkang atau sengaja melempar diri ke belakang sehingga dia terlentang dan karena lawannya meluncur dengan tenaga penuh, maka tubuh pangeran itu meluncur terus di atas tubuhnya tanpa bisa ditahan oleh pangeran itu sendiri.

Saat itulah Sin Liong menggerakkan tangan kanan dari bawah, menghantam ke atas dan ujung-ujung jari tangannya dengan cepat telah menampar perut lawan agak ke atas dekat ulu hati dengan tenaga Thian-te Sin-ciang.

"Plaakkk!"

Tubuh pangeran itu masih meluncur terus, akan tetapi kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbanting ke atas tanah, lalu bergulingan dan tidak bergerak lagi. Dari mulutnya mengalir darah segar dan sepasang matanya mendelik, napasnya empas-empis. Kiranya dia sudah menerima pukulan yang sangat hebat dan tepat sehingga sebelum tubuhnya itu terbanting, pangeran ini sudah pingsan dan dia telah menderita luka dalam yang sangat hebat.

"Pangeran...!" Terdengar suara jeritan dan Lie Ciauw Si langsung meloncat dan menubruk tubuh suaminya sambil menangis.

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, memandang kepada pangeran itu. Hatinya dipenuhi oleh rasa penyesalan dan kedukaan. Betapa pun juga, dia teringat akan semua kebaikan pangeran itu dan kini, begitu melihat pangeran itu roboh pingsan dan dia tahu pangeran berada dalam keadaan gawat karena pukulannya tadi amat kuat dan tepat mengenai ulu hati, timbul rasa terharu dan kasihan di dalam hatinya.

Dia tahu bahwa sebetulnya banyak terdapat sifat-sifat baik pada diri pangeran ini, hanya sayang, karena kemanjaan dan karena ambisi yang luar biasa besarnya maka pangeran itu tidak segan-segan melakukan segala kecurangan serta kejahatan. Dia menunduk dan memandang kepada Lie Ciauw Si dengan penuh iba, lalu berkata lirih.

"Piauw-ci... dia... semua ini adalah salahnya sendiri..."

Lie Ciauw Si menoleh lantas memandang kepada Sin Liong. Pemuda ini sudah menduga bahwa tentu wanita yang amat mencinta pangeran itu akan membenci dan marah sekali padanya. Akan tetapi dia merasa heran melihat betapa wanita yang pucat dan basah air mata itu memandangnya tanpa membayangkan kemarahan atau kebencian sama sekali.

"Aku tahu... dan terima kasih atas sikapmu. Engkaulah satu-satunya orang yang agaknya tidak membencinya, Sin Liong. Biarlah aku membawanya..."

"Silakan, piauw-ci..."

Dengan terisak Ciauw Si lalu memondong tubuh itu, kemudian tanpa menoleh lagi kepada para tokoh Cin-ling-pai dia lalu meloncat dan membawa lari tubuh yang pingsan itu dari tempat itu.

"Ciauw Si...!" Cia Giok Keng berseru dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya segera dipegang dengan halus oleh suaminya.

"Jangan ganggu dia... pangeran itu tentu akan tewas, sebaiknya biarkan dia seorang diri dalam kedukaannya..."

Cia Giok Keng lalu menjerit dan menangis di atas dada suaminya yang merangkulnya. Sementara itu, pertempuran di ruangan itu sudah berhenti sebab semua tokoh kang-ouw golongan hitam sudah berhasil dirobohkan. Di antara para tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan yang menentang pangeran tadi, terdapat beberapa orang yang terluka dan kini mereka sedang dirawat oleh teman-teman sendiri.

Dan benar seperti dugaan Pangeran Ceng Han Houw, bahwa perang kecil-kecilan itu pun tidak lama berlangsung karena fihak pasukan Lembah Naga jauh kalah kuat dan sisanya segera melarikan diri meninggalkan mayat teman-teman mereka. Orang-orang kang-ouw dari golongan sesat yang tadi sudah membuang senjata dan menakluk, setelah menerima peringatan dari komandan-komandan pasukan yang mewakili Pangeran Hung Chih, lalu dibebaskan.

Pangeran Hung Chih sendiri menghampiri tokoh-tokoh Cin-ling-pai, dan dengan senyum lebar lantas menghaturkan terima kasih, terutama sekali kepada Cia Sin Liong. Ketika dia mendengar bahwa pemuda itu adalah putera Cia Bun Houw, dia cepat-cepat menjura dan berkata kagum. "Ah, seekor naga sakti tentu mempunyai turunan seekor naga pula!"

Sesudah melakukan pembersihan di lembah itu, Pangeran Hung Chih menyuruh seorang komandan agar mengepalai pasukan kecil untuk melakukan penjagaan di Istana Lembah Naga, kemudian dia memimpin pasukannya kembali ke kota raja. Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Yap In Hong, dan Cia Bun Houw menitipkan puteranya yang masih kecil di dalam istana Pangeran Hung Chih. Tentu saja rombongan keluarga Cin-ling-pai ini juga mengajak Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu yang telah diterima sebagai keluarga Cin-ling-pai, dan bersama-sama mereka juga pergi ke kota raja.

Di dalam perjalanan inilah, dalam keadaan gembira karena berhasil melaksanakan tugas membela negara, Sin Liong menceritakan semua pengalamannya semenjak dia kecil dan dipelihara oleh monyet-monyet besar di hutan-hutan sekitar Lembah Naga, didengarkan oleh semua orang dengan rasa penuh keharuan dan kekaguman. Terutama sekali hati Cia Bun Houw menjadi terharu dan juga bangga.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa peristiwa yang terjadi antara dia dan Liong Si Kwi yang mencintanya pada waktu dua puluh tahun yang lalu itu, akan menghasilkan seorang anak seperti Sin Liong ini! Tidak pernah diduga-duganya bahwa dia mempunyai seorang anak laki-laki seperti ini, ketemu sesudah dewasa.

Hanya Cia Giok Keng seorang yang mendengarkan dengan wajah lesu dan hati diliputi kedukaan. Betapa pun juga, hati nyonya ini terasa prihatin dan berduka sekali kalau dia mengingat puterinya. Baru saja hatinya merasa tertusuk dan berduka dengan peristiwa yang terjadi atas diri puteranya, Lie Seng. Kini, sebelum perasaan dukanya itu sembuh, dia tertimpa lagi oleh peristiwa ke dua yang menimpa diri puterinya. Secara diam-diam dia merasa berduka sekali mengapa kedua orang anaknya, putera dan puterinya, mengalami kesengsaraan dan kemalangan dalam kehidupan mereka, dalam perjodohan mereka?

Ketika pada malam hari itu rombongan terpaksa harus bermalam di tengah jalan, di luar daerah kota raja di sebelah dalam Tembok besar, Yap Kun Liong yang baru mendapat kesempatan untuk berdua saja dengan isterinya, membiarkan isterinya menangis ketika mereka membicarakan tentang dua orang anak isterinya itu. Sebagai seorang pendekar yang sudah mengalami gemblengan hidup yang amat mendalam, Yap Kun Liong maklum sepenuhnya akan kesengsaraan hati isterinya, oleh karena itu dia tidak mencela dan tidak menegur isterinya yang membiarkan dirinya terseret oleh duka.

Menjelang tengah malam, pada saat dia berhasil menghibur isterinya dan perasaan duka tidak terlalu menghimpit hati isterinya lagi sehingga mengaburkan kewaspadaan, baru dia mengajak isterinya bicara dengan hati terbuka.

"Isteriku, sungguh pun aku telah menganggap Seng-ji dan Ciauw Si sebagai anak-anakku sendiri, akan tetapi selama ini aku tidak berani mencampuri urusan antara mereka dengan engkau. Sekarang, semuanya itu telah terjadi, marilah kita bicara dari hati ke hati dengan hati terbuka, dengan kewaspadaan sepenuhnya untuk melihat peristiwa-peristiwa itu tanpa dicampuri oleh pendapat dari pikiran kita yang selalu ingin memenangkan diri sendiri dan membenarkan diri sendiri saja. Marilah kita memandang dengan mata terbuka kemudian mempelajarinya, menyelidikinya, di mana letak kesalahannya sehingga perjodohan kedua orang anak kita itu mengalami kegagalan seperti itu."

Giok Keng mengangguk kemudian berkata sambil menarik napas panjang. "Apa lagi yang perlu kita selidiki? Sudah jelas bahwa semua kegagalan dan kesengsaran itu diakibatkan oleh karena mereka itu terburu nafsu, terdorong oleh darah muda dan mereka salah pilih."

"Isteriku yang baik, bagaimana kau dapat mengatakan bahwa mereka salah pilih. Pikirlah dengan tenang dan dengan teliti, penuh kebijaksanaan, apa sebabnya engkau berkata bahwa mereka salah pilih?"

"Tentu saja, mereka memilih jodoh tanpa melihat bagaimana keadaan orang yang mereka pilih. Lie Seng memilih seorang wanita yang sama sekali tidak berharga menjadi isterinya sehingga mengakibatkan bencana yang demikian hebat dan mematahkan hatinya, ada pun Ciauw Si... ahhh... perlukah kukatakan lagi betapa kelirunya pilihannya itu?"

Tiba-tiba Kun Liong merangkul isterinya. Walau pun usianya sudah lima puluh lebih dan demikian pula isterinya, tetapi kedua orang suami isteri ini masih saling mencinta dan tak jarang menunjukkan cinta kasih mereka melalui pandang mata, suara, mau pun rangkulan mesra.

"Isteriku, katakanlah, apakah engkau cinta padaku?"

Sepasang mata Giok Keng terbelalak, lalu dia merangkul. "Ahhh, jangan kau main-main. Perlukah hal itu ditanyakan lagi? Tentu saja aku mencintamu."

"Aku pun percaya akan hal itu. Engkau cinta sepenuh hati kepadaku seperti juga aku cinta kepadamu, Giok Keng. Nah, seandainya ada orang-orang lain yang mengatakan bahwa pilihanmu terhadap diriku itu keliru, bagaimana pendapatmu?"

"Aku tidak akan peduli! Aku cinta kepadamu dan aku tidak peduli siapa pun yang akan mengatakan bagaimana pun tentang dirimu, tentang hubungan kita."

"Nah, itulah! Dan dua orang anakmu itu pun mempunyai watak seperti engkau, setia dan penuh cinta kasih murni, dan aku kagum dan menghormat mereka seperti aku kagum dan menghormatimu, isteriku!" Kun Liong lalu mencium isterinya.

"Eh, ehh, apa maksudmu?" Giok Keng bertanya heran, menatap wajah suaminya melalui sinar api unggun yang merah.

"Perjodohan adalah urusan dua orang saja, urusan pria dan wanita yang bersangkutan, urusan hati dan perasaan mereka, dan orang lain, siapa pun mereka itu, baik orang tua sendiri sekali pun, tidak semestinya mencampuri! Orang tua atau keluarga hanya boleh membantu pelaksanaannya belaka, akan tetapi sedikit pun tidak boleh mencampurinya, karena sekali mencampuri, maka hanya akan merusak suasana! Cobalah kita pikir secara mendalam dan jujur. Andai kata... andai kata keluarga Cin-ling-pai tidak ikut mencampuri urusan cinta kasih antara Lie Seng dengan Sun Eng, kurasa cinta kasih mereka tak akan berakhir sedemikian menyedihkan."

Cia Giok Keng diam saja, tak bergerak bagaikan pulas di dalam pelukan suaminya. Akan tetapi sesungguhnya dia merasa terpukul, tertusuk dan ucapan suaminya itu mengena benar di hatinya dan terbayanglah semua peristiwa yang terjadi dengan diri Lie Seng dan Sun Eng.

"Aku tidak mencela siapa-siapa, tidak mencela keluarga kita yang mencampuri, karena aku tahu bahwa maksud kalian semua itu baik saja. Akan tetapi baik untuk siapa? Untuk kalian sendiri tentu saja, bukan untuk Lie Seng dan Sun Eng. Itulah akibatnya kalau kita sebagai orang-orang tua mencampuri urusan cinta kasih antara dua orang anak muda."

Hening sejenak. Akhirnya terdengarlah suara pembelaan Cia Giok Keng, lirih dan lemah, "Akan tetapi mana mungkin seorang ibu seperti aku mendiamkannya saja kalau melihat puteranya keliru memilih calon jodoh? Aku ingin melihat puteraku bahagia..."

"Nah, di sanalah letak kesalahannya, bukan? Kita ingin melihat putera kita bahagia, oleh karena itu kita hendak memilihkan jodoh yang tepat untuk putera kita! Ahhh, seolah-olah jodoh itu seperti sehelai baju yang dapat kita patut-patut. Bahkan baju pun tergantung dari pada selera, isteriku, dan selera kita tentu belum tentu sama dengan selera putera kita! Apa yang kita anggap baik belum tentu baik pula bagi putera kita, oleh karena itu wajarlah kalau apa yang dianggap baik oleh putera kita pun belum tentu baik bagi pandangan kita. Kalau kita berkata bahwa kita ingin melihat putera kita bahagia, maka dia harus menurut pilihan kita, bukankah itu berarti bahwa sesungguhnya, di balik semua kata-kata kita itu, sesungguhnya kita ingin melihat hati kita sendiri senang karena putera kita memilih jodoh yang kita sukai? Kita harus jujur, isteriku. Dalam perjodohan, yang terutama adalah cinta-mencinta. Itu saja, hal yang lain tidak masuk hitungan! Dan cinta kasih, apakah cinta itu mengenal usia, mau pun kedudukan, mau pun baik buruk? Cinta adalah cinta karena itu bagaimana mungkin kita dapat menyalahkan seseorang, apa lagi putera kita sendiri kalau dia jatuh cinta kepada seseorang? Kalau engkau jatuh cinta kepadaku dan aku jatuh cinta kepadamu, siapakah yang berhak menyalahkan kita, isteriku?"

Giok Keng termenung. "Jadi... kau pikir... dahulu Lie Seng dan Sun Eng telah saling jatuh cinta, maka mereka berdua sudah berhak untuk saling berjodoh, dan kita, fihak keluarga dan orang-orang tua, sama sekali tidak boleh mencampurinya?"

"Tidakkah begitu menurut kesadaranmu?"

"Ahh, engkau mengatakan begitu karena sekarang akibatnya buruk bagi mereka."

"Bukan, isteriku. Aku tidak mengatakan bahwa andai kata dahulu keluarganya tidak turut mencampuri, maka Lie Seng dengan Sun Eng akan hidup berbahagia atau tidak sampai mendapatkan halangan. Soal halangan dan apakah hidup bisa beruntung atau tidak sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Akan tetapi, sesudah kita mencampuri urusan jodoh mereka sehingga akhirnya persoalan menjadi berlarut-larut dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan, bukankah hal itu menyadarkan kita bahwa urusan jodoh adalah urusan dua orang dan di mana ada cinta-mencinta, maka perjodohan itu sudah benar, asalkan tak melanggar suatu hal lain yang merugikan orang lain? Lie Seng masih bebas, dan Sun Eng pun wanita bebas, mereka saling mencinta, maka sudah benarlah itu, dan sudah benar pula apa bila mereka itu saling berjodoh. Kita harus dapat melihat kesalahan kita yang telah mencampuri urusan mereka, lepas dari soal apakah hal itu mendatangkan kerusakan atau kebaikan."

Kembali hening sejenak, dan perlahan-lahan semua ucapan suaminya itu bisa menembus kekerasan hati Cia Giok Keng dan dapat membuka mata hatinya.

"Akan tetapi... bagaimana kalau apa yang terjadi dengan pilihan Ciauw Si itu?"

"Apa salahnya pilihan Ciauw Si? Dia pun memilih pangeran itu karena saling mencinta, dan kita harus menghormatinya bahwa dia memang benar-benar mencinta pilihan hatinya itu, sampai mati sekali pun! Memang demikianlah seharusnya orang memilih jodohnya, berdasarkan cinta, bukan berdasarkan sifat-sifat baik dari yang dipilihnya, karena memilih jodoh berdasarkan apakah yang dipilihnya itu tampan, cantik berpangkat, berbudi, pandai, kaya dan sebagainya sama sekali bukan berdasarkan cinta, melainkan berdasarkan ingin menyenangkan hati sendiri. Bukankah demikian?"

Akhirnya ibu yang merana ini kembali terisak dan merangkul suaminya. "Engkau benar... mengapa aku hendak mencampuri urusan cinta kasih anak-anakku? Aku tidak ingat akan pengalamanku sendiri, pengalaman kita..."

"Sudahlah, isteriku. Segala sesuatu telah terjadi, dan betapa pun juga, kita harus bangga mempunyai anak-anak yang demikian tulus cinta kasihnya seperti Lie Seng dan Ciauw Si."

Memang demikianlah adanya. Betapa banyaknya orang tua yang tanpa mereka sadari sendiri telah melakukan tindakan-tindakan yang sama sekali menyimpang dari pada cinta kasih dan kebenaran. Kita selalu ingin menyatakan cinta kasih kita pada anak-anak kita dengan jalan mengatur sedemikian rupa untuk anak-anak kita, bukan hanya mengatur pendidikannya, pemeliharaannya, akan tetapi juga kita ingin mengatur masa depannya, mengatur kesukaannya, bahkan mengatur jodoh mereka!

Kita beranggapan bahwa bila anak-anak kita itu menurut kepada kita, mereka pasti akan hidup berbahagia, seolah-olah kehidupan merupakan garis tertentu yang telah mati, yang dapat diatur sedemikian rupa menuju kepada kebahagiaan! Seakan-akan apa yang kita anggap baik dan menyenangkan itu tentunya akan baik serta menyenangkan pula bagi anak-anak kita!

Kita lupa bahwa kehidupan itu selalu berubah, bahwa alam-pikiran dan selera manusia itu pun berkembang dan mengalami perubahan-perubahan. Apa yang kita sendiri senangi di saat kita masih kanak-kanak akan menjadi membosankan di kala kita sudah dewasa, dan apa yang menyenangkan kita saat kita dewasa mungkin akan menjadi memuakkan di waktu kita telah tua.

Oleh karena itu, benarkah itu bila mana kita memakai ukuran mata kita untuk mengatur kehidupan anak-anak kita yang lebih muda dan mempunyai selera lain sama sekali dari kita? Benarkah kita mencinta anak-anak kita kalau kita hanya ingin mereka itu menurut kepada kita, yang pada hakekatnya menunjukkan bahwa sebenarnya kita ingin senang sendiri, ingin melihat anak-anak kita menuruti kemauan hati kita?

Cinta adalah demi si anak, demi perasaan hati si anak, sekarang, bukan kelak! Bukan masa depan, melainkan saat demi saat! Maukah kita sebagai orang tua yang bijaksana memberikan kebebasan seluasnya kepada anak-anak kita, dengan memberi petunjuk-petunjuk, bukan mendikte, akan tetapi memberi petunjuk dan menjaga, membuka mata batin mereka kalau mereka itu tanpa mereka sadari menyeleweng, dengan penuh kasih sayang dan demi kebahagiaan mereka saat demi saat? Hal ini hanya mungkin dilakukan kalau sudah tidak ada keinginan dalam hati kita untuk menikmati kesenangan diri sendiri melalui anak kita!


Setelah tiba di kota raja, keluarga Cin-ling-pai mengajak Sin Liong dan Bi Cu untuk ikut ke Cin-ling-pai.

"Engkau adalah puteraku, dan Bi Cu adalah calon menantuku," demikian Cia Bun Houw berkata dengan terus terang kepada mereka, "maka sebaiknya kalau kalian berdua turut bersama kami ke Cin-ling-pai. Engkau adalah keluarga Cin-ling-pai dan berhak tinggal di sana, dan karena semenjak kecil kita saling berpisah, maka sebaiknya jika sekarang kita berkumpul."

"Benar, Sin Liong. Ayahmu dan aku hendak membangun kembali Cin-ling-pai. Marilah ikut bersama kami di sana, ke Cin-ling-san!" Cia Giok Keng juga membujuk.

"Akan tetapi... sri baginda kaisar sudah menganugerahkan Lembah Naga kepada kami...," Sin Liong menjawab agak ragu-ragu.

"Maksudku untuk sementara kalian tinggal di Cin-ling-san sampai kalian menikah. Kalau kalian sudah menikah, maka terserah kalau kalian ingin tinggal di Istana Lembah Naga," kata Bun Houw.

"Apakah tidak terlalu sunyi tinggal di tempat itu?" Cia Giok Keng bertanya.

"Ah, kalau tinggal berdua, mana bisa merasa sunyi?" Yap Kun Liong menyambung sambil tertawa dan semua orang tertawa, juga Bi Cu tersenyum malu-malu.

"Banyak terima kasih atas kebaikan ayah, ibu, paman serta bibi berempat. Kami berdua pasti akan pergi ke Cin-ling-san, akan tetapi sekarang ini kami ingin pergi ke selatan untuk menengok adik-adik saya Kui Lan dan Kui Lin. Sesudah menengok mereka, kami tentu akan menyusul ke Cin-ling-pai dan selanjutnya tentang pernikahan kami, terserah kepada semua orang tua di Cin-ling-pai."

Akhirnya mereka semua setuju dan berangkatlah Sin Liong dan Bi Cu ke kota Su-couw di Ho-nan. Sesungguhnya mereka pergi ke Su-couw bukanlah semata untuk menengok Lan Lan dan Lin Lin saja, namun untuk melihat keadaan Kui Hok Boan.

Di tengah perjalanan menuju ke kota raja, Sin Liong sudah menceritakan secara terus terang kepada Bi Cu bahwa dia menduga keras bahwa pembunuh ayah kandung Bi Cu yang bernama Bhe Coan itu adalah Kui Hok Boan, ayah tirinya sendiri.

"Aku mendengar ketika dia mengigau," demikian antara lain Sin Liong menuturkan. "Dan agaknya dialah yang membunuh ayahmu."

"Keparat, sungguh jahat jahanam itu! Aku harus membalas kematian ayah!" Bi Cu berkata dengan marah.

"Nanti dulu, Bi Cu, dengarlah dahulu baik-baik. Ketahuilah, bahwa ketika dia mengigau itu, dia berada dalam keadaan tidak sadar dan dia telah berubah ingatannya."

"Ahh? Maksudmu, dia..." Bi Cu membuat tanda dengan melintangkan jari telunjuk di atas dahinya.

"Benar, dia sudah mengalami tekanan batin sehingga menjadi gila."

Kemudian Sin Liong menceritakan tentang semua riwayat Kui Hok Boan, juga tentang dua orang pemuda yang sebenarnya adalah anak-anaknya sendiri akan tetapi yang diakuinya sebagai keponakannya dan betapa dua orang anaknya itu saling bermusuhan dan saling bunuh sendiri. Semua itu membuat Kui Hok Boan merasa menyesal lantas membikin dia menjadi gila.

"Karena itu, dalam keadaannya seperti sekarang ini, dalam keadaan hidup menderita dan merana sampai menjadi gila, apakah engkau masih mempunyai gairah untuk membalas dendam? Membalas kepada orang yang sudah terhukum sehebat itu karena perbuatan-perbuatannya sendiri?"

Bi Cu termangu-mangu, kemudian berkata, "Memang tidak enak memusuhi orang sakit, apalagi sakit gila. Akan tetapi aku masih penasaran sebelum melihat keadaannya dengan mata sendiri, Sin Liong. Mari kita mengunjunginya dan setelah melihat keadaannya, baru aku akan memutuskan apakah aku akan membalas kematian ayah ataukah tidak."

Demikianlah, sesudah mendapatkan persetujuan para tokoh Cin-ling-pai, Sin Liong dan Bi Cu lalu berangkat ke selatan. Mereka menunggang dua ekor kuda yang amat baik karena mereka mendapatkan hadiah dari Pangeran Hung Chih. Pakaian mereka pun serba indah dan bersih. Bukankah mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjasa menentang dan menggagalkan pemberontakan?

Mereka sudah menerima banyak hadiah berupa pakaian dan uang emas dari pangeran itu, bahkan kaisar sendiri berkenan menyerahkan Istana Lembah Naga kepada Sin Liong sesudah mendengar bahwa pendekar itu terlahir di dalam istana itu. Raja Sabutai telah dihubungi melalui utusan dan raja itu pun tidak membantah pada saat kaisar menentukan bahwa istana itu diserahkan dan menjadi hak milik yang dilindungi dari Cia Sin Liong!

Tentu saja perjalanan yang dilakukan oleh Sin Liong dan Bi Cu kali ini sangat berbeda dengan perjalanan-perjalanan yang lalu sebagai orang yang dikejar-kejar oleh kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw. Kini mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai dan dengan hati penuh keriangan, karena dalam hati mereka penuh dengan cinta kasih yang terpancar dari sinar mata mereka yang saling memandang penuh kelembutan, kata-kata yang penuh kemesraan dan sentuhan-sentuhan yang menggetar.

Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencinta, melakukan perjalanan bersama. Kadang-kadang mereka berlomba dengan kuda mereka dan ada kalanya mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan, menuntun dua ekor kuda itu di belakang mereka, dan kalau mereka beristirahat, Bi Cu menyandarkan dadanya di pundak atau dada Sin Liong.

Akan tetapi, betapa pun mesra hubungan di antara mereka, dan betapa pun besar cinta kasih mereka, keduanya selalu menjaga diri sehingga mereka tidak sampai melakukan pelanggaran di dalam hubungan mereka itu. Sebaliknya, seorang wanita yang sejak kecil hidup sendiri dan tak malu-malu seperti kebanyakan wanita muda, pernah dalam keadaan istirahat itu Bi Cu menyatakan terus terang kepada Sin Liong.

"Sin Liong, kita sudah bertunangan secara resmi, juga direstui oleh ayahmu dan keluarga Cin-ling-pai."

"Ya, kita beruntung sekali, Bi Cu," jawab Sin Liong sambil mengelus rambut yang hitam halus dan panjang itu.

"Dan kulihat engkau tidak pernah mencoba untuk membujukku, untuk mengajakku... ehh, menyerahkan diri kepadamu... sungguh pun... hemm, mungkin sekali... ah, tiada bedanya bagiku, aku merasa bahwa aku telah menjadi milikmu lahir batin. Mengapa, Sin Liong?"

"Ahh, kita belum menikah dengan resmi, Bi Cu."

"Hemmm, aku tahu, akan tetapi... andai kata engkau minta kepadaku dan aku menuruti permintaanmu, kita melakukan hubungan sebelum menikah, lalu mengapa?"

"Tidak, hal itu tidak mungkin Bi Cu."

"Mengapa, Sin Liong? Apakah karena engkau tidak menginginkannya?"

Sin Liong mendekap kepala itu penuh kasih sayang. "Tentu saja aku ingin sekali!"

"Kalau begitu, sama dengan aku. Lalu apa halangannya?"

Bukan main, kekasihnya ini sungguh seorang gadis yang jujur dan terbuka sekali, tidak pura-pura!

"Tidak, Bi Cu, karena aku cinta padamu!"

"Jika engkau cinta padaku kenapa engkau malah tidak menuntut penyerahan diri dariku?"

"Ahh, kekasihku, dewiku, betapa polos dan jujurnya engkau. Engkau percaya sepenuhnya kepadaku, dan justru karena kepercayaanmu itulah, justru karena cinta kita itulah, maka aku tidak akan melakukan hal itu, betapa pun besar dorongan gairah nafsuku! Aku cinta padamu, Bi Cu, dan karena aku cinta padamu, tentulah aku menghormatimu, tentu aku menjaga namamu, aku tentu akan menjaga dengan nyawaku agar tidak merendahkanmu, meremehkanmu. Bagaimana pun juga, kita hidup di dalam belenggu-belenggu peraturan, kesusilaan, dan budaya. Belenggu-belenggu itu telah menentukan bahwa tak semestinya hubungan itu dilakukan sebelum menikah, dan siapa melanggarnya, apa lagi wanita, tentu akan dikutuk dan dipandang rendah! Nah, karena cintaku kepadamu, betapa pun besar keinginan hatiku, maka harus kujaga agar engkau jangan sampai dikutuk dan dipandang rendah. Aku sayang kepadamu, aku ingin engkau senang dan hidup bahagia. Kalau aku membujukmu untuk melakukan hubungan suami isteri, hal itu berarti bahwa aku hanya ingin mencari senang dan enak sendiri, namun membiarkan engkau yang terancam aib. Mengertikah engkau, Bi Cu?"

Bi Cu bergerak perlahan dan membalik, mengangkat muka ke atas dan merangkul leher kekasihnya. Sin Liong kemudian menunduk dan mereka berciuman sampai napas mereka terengah-engah dan terpaksa mereka melepaskan ciuman karena sukar untuk bernapas!

"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalau begini terus, bisa-bisa aku tidak kuat dan mata gelap!" Sin Liong mendorong dara itu dengan halus dan mereka pun bangkit berdiri. Bi Cu tersenyum dan memandang kekasihnya dengan sinar mata menggoda.

"Kalau begitu kenapa? Kalau aku rela, siapa peduli?"

"Ihh, engkau nekat!" Sin Liong tertawa. "Ingat, kebahagiaan itu adalah kita punya, maka perlu apa kita rusak sendiri? Mengapa kita tidak menahan bersama, agar kelak sesudah tiba saatnya kita berdua akan lebih dapat menikmatinya?"

Demikianlah, dengan dasar cinta kasih yang mendalam, kedua orang muda itu mampu mempertahankan kemurnian mereka dan mereka tidak sampai menjadi buta oleh nafsu birahi. Sesungguhnya kasih sayang itu membuat kita menjadi kuat menghadapi apa pun juga, bahkan kuat pula menghadapi godaan setan berupa nafsu birahi yang biasanya tak terkalahkan oleh manusia itu!

Pada suatu hari, setelah mereka sampai di perbatasan Propinsi Ho-nan. Mereka melewati sebuah hutan yang amat luas. Dari pagi sampai matahari hampir naik menjelang tengah hari, mereka masih tetap berada di dalam hutan. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang-orang bertempur di depan dan mereka lalu membedalkan kuda mereka menuju ke arah suara hiruk-pikuk itu.

"Bi Cu, engkau jangan sembarang bergerak, ya?" Sin Liong memesan dan Bi Cu hanya mengangguk.

Dan sampailah mereka di tempat pertempuran itu. Kiranya ada banyak orang bertempur. Sedikitnya terdapat sebelas orang yang berpakaian sebagai piauwsu, yaitu para pengawal kiriman barang, melawan hampir dua puluh orang-orang yang berpakaian kasar dan tidak sulit diduga bahwa mereka itu tentu perampok-perampok yang buas.

Perhatian Bi Cu segera tertarik pada seorang pemuda yang memainkan sebatang pedang dengan gagah, melawan kepala perampok yang berambut panjang dan bermuka brewok. Biar pun pemuda yang kelihatannya seperti melakukan perlawanan mati-matian itu sudah berusaha mati-matian dan gagah perkasa, namun jelas bahwa dia mulai terdesak hebat oleh sepasang golok kepala perampok yang amat lihai itu.

Melihat wajah pemuda itu, Bi Cu amat tertarik dan cepat dia mengerling ke arah gerobak piauwkiok, dan begitu dia melihat bendera piauwkiok yang berdasar merah dengan lukisan garuda berwarna kuning, maka terkejutlah dia lantas dia yang sudah meloncat turun dari atas kudanya itu memegang lengan Sin Liong.

"Dia itu twako Na Tiong Pek...!"

Kini Sin Liong juga mengenal ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan gagah itu. "Benar, dialah itu!"

"Lihat, itu bendera Ui-eng Piauwkiok! Aku harus membantunya, dia sudah terdesak!" kata Bi Cu dan dia lalu mengambil sebatang ranting kayu pohon, kemudian dengan cepat dia sudah meloncat ke depan dan menyerbu ke medan laga sambil berseru keras.

"Na-twako, jangan khawatir, minggirlah, biarkan aku menghajar babi hutan ini!"

Tongkat di tangannya berkelebat dan membentuk segulung sinar hijau yang mengejutkan kepala perampok itu sehingga dia meloncat ke belakang karena gulungan sinar hijau itu dapat menembus sinar goloknya dan hampir saja ujung ranting itu menusuk hidungnya!

Sementara itu, Na Tiong Pek yang sudah terdesak itu melompat mundur dengan napas terengah-engah dan dia terkejut serta heran melihat munculnya seorang dara cantik yang bergerak cepat bukan main seperti burung terbang saja dan tahu-tahu sudah mendesak kepala perampok itu dengan sebatang ranting di tangan! Ketika dia melihat wajah dara itu, hampir dia tidak percaya.

"Bi... Bi Cu...!" Dia tergagap, karena biar pun dara itu wajahnya persis Bi Cu, akan tetapi mana mungkin Bi Cu dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga hanya dengan sebatang ranting saja mampu menahan sepasang golok di tangan kepala perampok yang lihai dan yang tadi membuat dia kewalahan?

"Betul, twako, lekas kau hajar anak-anak babi itu dan biarkan aku merobohkan babi hutan yang satu ini!" teriak Bi Cu dengan nada suara gembira sekali dapat berjumpa dengan pemuda ini.

Na Tiong Pek kembali memandang dengan penuh kagum dan dia menoleh, memandang kepada Sin Liong yang masih berdiri memegangi dua ekor kuda. Agaknya, pemuda itu datang bersama Bi Cu, akan tetapi dia tidak tahu siapa pemuda itu.

Maka, melihat betapa anak buahnya masih dengan gigihnya melawan para perampok, dia segera berteriak nyaring kemudian mengamuk, menyerang para anak buah perampok itu, mengeluarkan kegesitan serta seluruh kepandaiannya karena dia ingin memamerkan ilmu kepandaiannya kepada Bi Cu, lupa bahwa dia tadi hampir kalah oleh kepala perampok yang kini ditandingi oleh Bi Cu itu.

Ternyata bahwa dibandingkan dengan teman-temannya, yaitu para piauwsu, kepandaian pemuda she Na ini memang lebih menonjol. Begitu dia terjun ke dalam pertempuran itu, maka beberapa orang perampok roboh hingga mereka menjadi kacau-balau dan terdesak oleh pemuda yang mengamuk seperti seekor harimau marah itu.

Sin Liong hanya menonton, akan tetapi tentu saja setiap waktu dia siap untuk melindungi kekasihnya. Dia melihat bahwa gerakan kepala perampok itu hanya dahsyat dipandang saja, akan tetapi hanya merupakan orang kasar yang mengandalkan tenaga otot, tidak mempunyai dasar kepandaian berarti sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu bergebrak, dia tahu bahwa kekasihnya itu tidak akan kalah.

Dan memang benar, baru belasan jurus saja Bi Cu yang mempergunakan ilmu Ngo-lian Pang-hoat yang dipelajarinya dari mendiang Hwa-i Sin-kai, sudah berhasil melecut muka kepala perampok itu berkali-kali, bahkan paling akhir dia berhasil menusuk samping mata kiri kepala perampok itu sehingga terobek dan berdarah.

Kepala perampok itu merasa bahwa dia tidak akan menang, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras kemudian meloncat jauh ke belakang terus melarikan diri, diikuti oleh para anak buahnya yang sudah mendengar aba-aba lari tadi, sambil menyeret dan membawa teman-teman mereka yang terluka, memasuki hutan lebat, diikuti oleh suara tertawa dan sorakan para piauwsu yang merasa gembira memperoleh kemenangan.

Na Tiong Pek cepat menghampiri Bi Cu dan sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling pandang. Melihat betapa sinar mata pemuda tampan itu ditujukan kepadanya dengan penuh kagum, kekaguman seperti yang dulu sering dia lihat dari tatapan pandang mata Tiong Pek, tiba-tiba Bi Cu merasa jantungnya berdebar dan kedua pipinya merah. Apa lagi ketika Tiong Pek berkata,

"Bi Cu... betapa cantiknya engkau sekarang! Dan betapa hebat kepandaianmu, sungguh aku merasa kagum bukan main!"

Untuk mengalihkan rasa jengah dan malu, Bi Cu tersenyum. "Ahhh, engkau masih sama saja seperti dulu, Na-twako. Mari kau temui dia..."

"Siapa?" Tiong Pek menoleh dan memandang kepada pemuda yang menuntun dua ekor kuda itu.

"Hei, lupakah engkau kepadanya? Lihat baik-baik, siapa dia?" Bi Cu berkata lagi sambil menghampiri Sin Liong, diikuti oleh Tiong Pek.

Kini mereka berhadapan. Sin Liong tersenyum. "Saudara Na Tiong Pek, lupakah engkau kepada Sin Liong?"

"Sin Liong...? Ah, engkaukah ini?" Tiong Pek berseru kaget dan girang. Tak disangkanya bahwa pemuda itu adalah Sin Liong, anak yang dahulu ditolong oleh mendiang ayahnya! "Ahh, bagaimana kalian dapat datang bersama? Di manakah saja engkau tinggal selama ini, Bi Cu? Dan bagaimana bisa bersama-sama Sin Liong berjumpa denganku di sini?" Bertubi-tubi pertanyaan itu diajukan kepada Bi Cu.

"Kami... hanya kebetulan saja bertemu dan kami berdua sedang mengadakan perjalanan bersama menuju ke Ho-nan, ke kota Su-couw."

"Aih, tidak pernah aku bermimpi kalau akan dapat bertemu denganmu di sini, Bi Cu. Dan kepandaianmu demikian hebat! Dari mana engkau mempelajari ilmu tongkat yang begitu lihai? Sungguh lucu sekali, begitu bertemu, malah engkau yang menyelamatkan aku! Haii, teman-teman, lihatlah baik-baik, nona penolong kita ini tidak lain adalah sumoi-ku sendiri! Kalau tidak ada dia yang lihai, mungkin barang-barang kita terampas dan kita belum tentu selamat!" Semua piauwsu memandang dengan kagum.

"Ahh, sudahlah jangan banyak sungkan, twako."

"Kita bukan suheng dan sumoi lagi!"

"Terserah, akan tetapi karena aku sudah menjadi murid orang lain, maka biarlah kusebut engkau Na-twako saja. Bagaimana keadaanmu selama ini, twako? Apakah engkau sudah berumah tangga?"

Tiong Pek menggelengkan kepalanya dan dia pun tertawa, ketawanya polos dan Sin Liong dapat melihat bahwa biar pun pemuda ini masih mempunyai sifat sombong, akan tetapi kini sudah berubah dan lebih jujur.

"Sesudah ditolak olehmu, aku jera untuk mencari jodoh, takut ditolak lagi. Pula, di mana mencari orang yang melebihimu?"

"Aihh, jangan bergurau, twako!" Bi Cu berkata dan mukanya berubah merah lagi.

"Siapa bergurau? Coba tanya Sin Liong ini! Betul tidak ucapanku tadi, Sin Liong? Mana ada gadis melebihi dia ini? Ehhh, dan kau sendiri bagaimana, Sin Liong? Apakah engkau sudah memperoleh jodoh?"

Sin Liong memandang wajah Bi Cu dan melihat dara itu kelihatan malu sekali, Sin Liong menjawab lirih, "Belum."

"Ha-ha-ha, kita masih sama seperti dulu! Kalau kuingat betapa kita bertiga melawan para penyerbu itu. Ah... sungguh malang ayah dan ibuku... ehh, kau dibawa pergi wanita sakti itu, lalu apa yang terjadi, Sin Liong?"

"Aku hanya merantau ke segala tempat sampai... kebetulan bertemu dengan Bi Cu dan kami lewat di sini, kebetulan bertemu denganmu."

"Kita harus merayakan pertemuan kita! Akan tetapi di hutan begini bagaimana kita bisa merayakannya? Hayo kalian mampir dahulu di rumahku, aku masih tinggal di Kun-ting, di rumah yang dulu. Sumoi... ehh, Bi Cu, tidak maukah engkau singgah di rumahku lagi?"

"Tentu saja twako, akan tetapi, aku ada urusan penting sekali, harus pergi ke Su-couw, nanti kalau aku kembali dari selatan, tentu aku mau mampir..."

"Ke Su-couw? Kau sendiri, atau bersama Sin Liong?"

"Kami berdua ke Su-couw..."

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu. Ada urusan apa, Bi Cu? Biar kubantu engkau!" Tiong Pek menawarkan jasanya.

Akan tetapi sebelum mereka melanjutkan percakapan itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda kemudian muncullah seorang tosu yang menunggang kuda. Pakaiannya bagai tosu, rambutnya pun seperti tosu, akan tetapi sikapnya seperti perampok ganas!

Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, biar pun jenggot dan kumisnya terpelihara rapi, akan tetapi sepasang matanya melotot liar dan sikapnya kasar. Di belakang tosu ini nampak kepala perampok yang sebelah matanya masih terluka dan kini dibalut sehingga nampak lucu sekali.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner