PENDEKAR SADIS : JILID-02


Saking tekunnya mempelajari agama, maka setelah hwesio tua yang menyadarkannya itu meninggal dunia, dialah yang lalu dipilih menjadi ketua Kuil Thian-to-tang itu dan berjuluk Hong San Hwesio. Seperti kebiasaan para hwesio lainnya, Hong San Hwesio juga sering mengadakan perjalanan berkelana, menyebarkan pelajaran agama sambil mendatangkan penerangan kepada banyak orang, dan di samping itu juga tekun berprihatin dan makan hanya dari hasil pemberian dan kasih sayang orang-orang lain saja. Maka pada hari itu dia tiba di dusun tempat tinggal adik kandungnya juga tanpa sengaja dan hanya kebetulan belaka.

Mendengar pertanyaan kakaknya yang terkejut mendengar bahwa anaknya mempunyai she Ceng, Ciauw Si lalu bangkit, menggandeng tangan kakaknya diajak duduk di ruangan tamu. “Mari kita duduk dan bicara dengan leluasa, koko.”

Lie Seng atau lebih tepat kalau kita sebut Hong San Hwesio sudah kembali memperoleh ketenangannya ketika dia duduk berhadapan dengan Ciauw Si yang merangkul puteranya. Dia menatap wajah adiknya. Melihat wajah adiknya yang cantik segar dan menyinarkan cahaya kebahagiaan itu, diam-diam dia memuji syukur dan merasa ikut berbahagia.

“Seng-ko, bagaimana mendadak engkau menjadi hwesio? Kukira engkau telah… di mana adanya Sun Eng?”

Mulut itu masih tersenyum, dan memang peristiwa yang dahulu pernah membuat hatinya berdarah itu kini sudah tak membekas lagi.

“Dia sudah bebas dari kesengsaraan, dia sudah meninggalkan dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kesengsaraan ini,” jawabnya lembut.

“Ahhh…!” Ciauw Si terbelalak dan menatap wajah kakaknya penuh rasa iba. “Dan… sejak itu… engkau lalu menjadi hwesio?”

“Ya, semenjak aku sadar melihat betapa hidup ini penuh dengan kepalsuan, permusuhan, dendam, kebencian, maka aku mengalihkan langkah hidup menyusuri lorong yang bersih dan diterangi oleh sinar cinta kasih. Dan engkau sendiri, bagaimana tahu-tahu bisa tinggal di sini, Si-moi? Aku girang sekali melihat bahwa engkau hidup berbahagia.”

Adik itu memandang kepada kakaknya, dan melihat bahwa kakaknya tersenyum dengan wajah berseri itu, dia pun tak lagi merasa berduka dan sekarang wajahnya malah berseri. “Memang aku hidup berbahagia, koko! Lihat, inilah keponakanmu, Thian Sin. Aku hidup tenteram dan bahagia di sini, jauh dari pada segala macam kekerasan dan permusuhan.”

Hong San Hwesio meraih pundak anak itu, lantas memangkunya sambil mengelus-elus kepalanya. “Anak baik… anakmu ini sungguh baik sekali…,” dia memuji dan berdoa untuk memberkahi anak itu.

Thian Sin hanya tersenyum dan memandang kepada wajah Toapek-nya dengan terheran-heran. Tak dikiranya sama sekali bahwa kakak ibunya yang dikabarkan seorang pendekar perkasa itu kini telah menjadi seorang hwesio!

“Si-moi, anakmu ini she Ceng, apakah engkau menjadi…”

“Ceng Han Houw adalah suamiku, koko,” jawab Ciauw Si cepat sambil menatap wajah kakaknya.

Dia tidak akan heran apa bila melihat wajah itu terkejut. Akan tetapi kini dia malah agak heran namun juga lega melihat betapa wajah kakaknya itu tetap biasa dan tenang saja, sungguh pun ada sinar keheranan pada pandang mata yang lembut itu.

“Ya, aku sudah menjadi isteri Pangeran Ceng Han Houw dan Thian Sin ini adalah anak kami. Dan… koko… perjodohan antara kami juga tak ada bedanya dengan perjodohanmu dengan Sun Eng sehingga aku mengalami penderitaan batin yang hebat. Hampir saja aku tidak kuat menanggungnya, koko. Akan tetapi semua itu telah berlalu dan kini kami hidup bahagia, sungguh pun putus dengan keluarga.”

Kemudian Ciauw Si lalu menceritakan semua pengalamannya kepada kakaknya, dengan singkat namun cukup jelas. Diceritakannya betapa dia membantu usaha pemberontakan Pangeran Ceng Han Houw karena dianggapnya suaminya itu benar, dan kaisar yang lalim dan telah memusuhi keluarga Cin-ling-pai. Kemudian betapa keluarga Cing-ling-pai malah membantu pemerintah menumpas gerakan suaminya, maka sebagai akibatnya, suaminya menderita luka-luka parah dan hampir saja suaminya tewas kalau tidak bertemu dengan mendiang Yok-sian dan mengalami perawatan secara teliti selama dua tahun.

“Pengalaman yang amat pahit, koko, akan tetapi kami sudah melupakan itu semua, kami anggap sebagai mimpi buruk saja. Sekarang kami bertiga hidup penuh bahagia di tempat sunyi ini.”

Hong San Hwesio mengangguk-angguk dan masih tersenyum. Memang perubahan yang terjadi dalam batin hwesio ini hebat bukan main. Adik kandungnya kini telah menjadi isteri Pangeran Ceng Han Houw, padahal Pangeran itulah yang dahulu menyebabkan kematian kekasihnya secara demikian menyedihkan. Akan tetapi, mendengar semua itu, batinnya tenang saja dan sedikit pun tidak timbul kemarahan atau kebencian terhadap Pangeran Ceng Han Houw!

“Bersyukurlah pada Tuhan bahwa segala-galanya berakhir dengan baik, Si-moi. Di mana adanya suamimu sekarang?”

“Tadi dia sedang mencangkul di sawah,” kata Ciauw Si.

Hong San Hwesio tertawa. Seorang Pangeran yang dulu demikian tinggi kedudukannya, kini mencangkul di sawah. Betapa aneh dan lucu kedengarannya.

“Itu ayah pulang…!” Thian Sin cepat turun dari atas pangkuan Toapek-nya lalu menuding keluar, menyambut ayahnya yang datang memanggul cangkul.

“Ehh, ada tamu? Siapa tamunya? Seorang hwesio…?” Ceng Han Houw yang kini sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang pangeran melainkan seperti seorang petani yang tampan dan gagah itu bertanya sambil memandang ke dalam dengan heran.

Ketika dia memasuki ruangan depan, Hong San Hwesio bangkit berdiri dan merangkap kedua tangannya memberi hormat. “Selamat bertemu, Pangeran,” katanya hormat.

“Ehhh, siapakah… suhu…?” Ceng Han Houw membalas penghormatan itu, agak terkejut disebut pangeran oleh hwesio itu.

“Dia ini adalah kakakku Lie Seng,” Ciauw Si yang merasa gembira dengan pertemuan ini cepat memperkenalkan setelah keharuan mereda.

“Lie Seng…?” Ceng Han Houw terkejut bukan kepalang dan memandang dengan mata terbelalak keheranan. “Pendekar Cin-ling-pai itu…?”

“Omitohud… bukan pendekar melainkan seorang hwesio yang mengemis sedekah,” kata Hong San Hwesio sambil menjura.

Tiba-tiba Ceng Han Houw tertawa bergelak, suara ketawa yang bebas dan wajar saking gelinya. “Ha-ha-ha-ha, betapa dunia ini sudah berubah banyak! Pendekar Cin-ling-pai Lie Seng yang gagah perkasa kini sudah menjadi seorang hwesio peminta-minta sedekah! Dan aku, seorang pangeran, lihat, kini menjadi petani miskin sederhana. Ha-ha-ha-ha!”

Mereka saling pandang dan setelah melihat betapa pangeran itu bicara sewajarnya dan sejujurnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda mengejek, Hong San Hwesio juga tertawa sehingga suasana pertemuan itu menjadi semakin gembira.

“Mari, duduklah, Lie-toako… ehhh, apakah aku harus menyebut suhu? Bagaimana ini?” tanya Han Houw bingung.

“Meski dia menjadi hwesio seratus kali pun, dia tetap saja kakakku Lie Seng. Di dunia ini aku hanya mempunyai seorang kakak, apakah itu pun akan diambil dariku? Tidak, engkau panggil saja dia Toako.”

“Bolehkah itu, Lie-toako?” tanya Han Houw.

Hong San Hwesio tersenyum. “Apakah artinya nama? Pinceng boleh disebut apa pun, dan karena engkau adalah Moihu-ku (adik iparku) maka tentu saja engkau boleh menyebut pinceng Toako.”

Tentu saja Ciauw Si melarang kakaknya makan makanan dari mangkok tadi dan sebagai gantinya dia pun cepat mengeluarkan masakan-masakan tanpa daging, kemudian mereka makan bersama sambil bercakap-cakap dengan penuh kegembiraan. Thian Sin kelihatan amat sayang kepada Pekhu-nya, demikian pula Lie Seng juga sayang sekali pada Thian Sin yang dipujinya sebagai seorang anak yang memiliki tulang baik sekali. Selesai makan, mereka duduk di ruangan depan.

“Koko, engkau harus bermalam di sini, tinggal di sini barang seminggu!” Ciauw Si berkata dengan suara menuntut.

“Ya, tinggallah di sini, Toako, dan anggap saja seperti di rumah sendiri,” kata Han Houw.

“Terima kasih, aku akan tinggal di sini barang beberapa hari sebelum kembali melanjutkan perjalananku. Kalian tentu tahu bahwa seorang hwesio memiliki tugas untuk menyebarkan pelajaran agama serta memberi penerangan kepada yang sedang kegelapan. Selain itu, Kuil Thian-to-tang masih membutuhkan bimbinganku.” Hong San Hwesio menolak halus.

Akhirnya Ciauw Si terpaksa mengalah dan tidak dapat memaksa kakaknya untuk tinggal terlalu lama di situ dan mereka berjanji bahwa kakak itu akan tinggal selama tiga hari di rumah adik kandungnya.

“Seng-koko, semenjak tadi engkau belum menceritakan tentang bagaimana matinya Sun Eng,” tiba-tiba Ciauw Si bertanya.

“Sun Eng siapa…?” Ceng Han Houw bertanya, suaranya lirih dan dia menahan perasaan kagetnya, lalu memandang kepada Hong San Hwesio.

Hwesio ini menarik napas panjang, kemudian balas memandang kepada wajah pangeran itu, akan tetapi pandang matanya tetap lembut dan tenang. “Si-moi, dia sudah mati, sudah terbebas dari pada kekejaman dunia, kiranya tak perlu dibicarakan lagi. Dia tewas dalam usahanya yang amat baik, dan pinceng sudah lupa lagi bagaimana dia mati.”

Jantung di dalam dada Han Houw berdebar keras sekali. Dia yakin bahwa kakak kandung isterinya ini tahu apa yang sudah terjadi dengan diri Sun Eng, dan tahu pula siapa yang menyebabkan kematian wanita itu, akan tetapi pendekar yang sudah menjadi hwesio ini benar-benar tidak menaruh dendam, bahkan tidak nampak sedikit pun rasa penasaran di dalam pandang matanya!

“Sun Eng itu… masih apakah dengan Lie-toako?” Dia memberanikan diri bertanya kepada isterinya.

Dengan suara amat terharu Ciauw Si berkata. “Dia adalah isterinya yang sangat dicintai Seng-koko dan juga amat mencintanya, keduanya saling mencinta bahkan Seng-ko tidak mempedulikan larangan semua keluarganya. Seperti keadaan kita…”

Wajah pangeran itu berubah menjadi pucat ketika dia memandang kepada Lie Seng atau Hong San Hwesio. Isterinya malah! Cepat dia bangkil berdiri dan menjura dengan penuh keharuan dan penuh penyesalan, akan tetapi dengan sikap yang jujur dan suara gemetar, “Lie-toako, aku… aku ikut menyesal sekali atas mala petaka yang menimpa dirimu…”

Lie Seng atau Hong San Hwesio itu bangkit berdiri, tersenyum sambil merangkap kedua tangan di depan dada. “Omitohud, kehendak Tuhan tidak mungkin dapat dielakkan. Yang sudah lewat tak baik untuk dibicarakan. Batin harus kosong dari segala kenangan karena kenangan hanya mendatangkan kekeruhan. Semoga Thian memberkahi kita semua!”

Pelarian dari duka merupakan hal sia-sia belaka. Hiburan-hiburan untuk menutupi duka juga merupakan pelarian. Dengan demikian, mungkin duka akan tidak terasa, akan tetapi hal itu hanya berlangsung sejenak saja, seperti api di dalam sekam. Api duka itu masih belum padam, hanya tertutup tetapi masih membara di sebelah dalam. Sewaktu-waktu akan berkobar lagi. Kalau hiburan itu sudah mereda, maka duka akan muncul kembali sehingga kita terpaksa sibuk mencari-cari hiburan yang lain lagi.

Mengapa kita harus lari dari kenyataan? Jika timbul duka atau takut atau kesengsaraan yang lain lagi, mari kita hadapi dengan penuh kewaspadaan! Mengamati diri sendiri lahir batin setiap saat dengan penuh kewaspadaan berarti mempelajari segala sesuatu tentang kehidupan manusia di dunia ini!


Hong San Hwesio tinggal selama tiga hari di rumah adik kandungnya dan kehadirannya selama tiga hari itu sangat membahagiakan hati keluarga itu. Dia memberi tahu pula di mana dia menjadi hwesio kepala dari sebuah kuil dekat kota raja. Setelah lewat tiga hari dia pun berpamit untuk melanjutkan perjalanan lantas dia meninggalkan dusun itu diantar oleh Han Houw, Ciauw Si dan Thian Sin sampai ke pinggir dusun…..

********************

Dua tahun telah lewat lagi dan kini Thian Sin telah berusia sepuluh tahun. Semakin besar, anak ini menjadi semakin mengerti keadaan dan sering kali dia bertanya kepada ayah dan ibunya mengapa dia tidak diajak menghadap nenek-neneknya.

“Kata ibu, nenek masih hidup, baik ibu dari ibu mau pun ibu dari ayah. Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan nenekku? Kenapa pula aku tidak boleh bertemu dengan keluarga ayah dan ibu?”

Mendengar puteranya merengek itu, Ceng Han Houw tidak mampu menahan hatinya lagi. Selama ini, dia sudah berusaha menahan-nahan keinginannya untuk pergi mengunjungi ibu kandungnya. Dia merasa sangat rindu kepada ibunya itu dan ingin melihat bagaimana keadaan ibunya. Maka dia lantas mengajak isterinya untuk pergi berkunjung kepada Ratu Khamila, ibu kandungnya.

“Akan tetapi, bukankah kita telah mengambil keputusan untuk tidak berhubungan dengan keluarga kita lagi dan hidup menyendiri di sini?”

Han Houw menarik napas panjang, “Memang benar, isteriku, dan bagaimana pun rinduku terhadap ibuku, agaknya aku masih akan dapat bertahan. Akan tetapi kita harus kasihan kepada anak kita. Betapa akan senangnya kalau dia bertemu dengan ibuku, juga betapa akan bahagianya hati ibu kalau melihat cucunya.”

Ciauw Si mengerutkan alisnya. “Tapi… tapi… mendiang Yok-sian…”

“Ahh, isteriku, aku percaya akan ramalan itu kalau kita pergi ke kota raja, di mana banyak orang yang memusuhiku. Akan tetapi kalau mengunjungi ibu kandungku di utara, apakah bahayanya? Lagi pula, ibuku sangat sayang kepadaku, dan mempunyai kekuasaan besar di sana, bahkan Raja Sabutai sendiri tidak berani bertindak sembarangan, maka siapakah yang akan berani mengganggu kita?”

Walau pun merasa ragu, akan tetapi melihat suaminya kelihatan begitu rindu kepada ibu kandungnya, dan melihat pula Thian Sin yang sudah mendengar akan maksud kepergian itu menjadi demikian gembira, akhirnya Ciauw Si mengalah dan menyetujui. Bukan main gembiranya Han Houw mendapat persetujuan isterinya. Dia seolah-olah menjadi seperti kanak-kanak yang dijanjikan hadiah besar, begitu girangnya sehingga berhari-hari dalam persiapan itu dia nampak luar biasa gembiranya.

Demikian pula dengan Thian Sin yang ikut terbawa oleh kegembiraan ayahnya, kelihatan penuh semangat. Melihat keadaan suami dan puteranya ini, tentu saja Ciauw Si menjadi semakin tidak tega dan demikianlah, pada suatu hari mereka bertiga berangkat menuju ke utara!

Mereka tidak mau mengambil jalan melewati Lembah Naga, pertama karena hal itu akan memakan waktu lebih lama dan jaraknya menjadi lebih jauh, juga terutama sekali karena pasangan suami isteri itu tak mau mendekati Lembah Naga lagi, tempat yang hanya akan menimbulkan kenangan pahit saja bagi mereka. Mereka langsung menuju ke kerajaan kecil yang dikuasai ayah tirinya, yang sering berpindah tempat dan kini berada di sebelah timur Huhehot.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan amat menarik bagi Thian Sin, tanpa ada halangan sesuatu berkat kepandaian suami isteri itu, biar pun Han Houw kini tidaklah sehebat dulu, tibalah mereka di kerajaan kecil itu yang lebih tepat merupakan sekelompok besar suku-suku campuran di utara yang dahulu dipimpin oleh Raja Sabutai yang terkenal perkasa.

Mereka disambut oleh Permaisuri Khamila dengan banjir air mata, dan Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw bersama isteri dan puteranya segera diajak masuk ke dalam istana kecil Sang Permaisuri. Di situ Han Houw mendengar bahwa Raja Sabutai telah meninggal dunia dan sebagai penggantinya kini diangkat seorang adik misannya Raja Sabutai yang bernama Agahai, terhitung paman dari Han Houw yang semenjak mudanya telah menjadi pembantu Raja Sabutai yang paling setia.

Puteri Khamila merangkul puteranya sambil menangis. Dalam tangisnya ini samar-samar dia menyesalkan kepergian puteranya karena kalau tidak, tentu puteranya ini yang kini menggantikan Raja Sabutai, bukan Agahai! Puteri Khamila yang cantik dan agung itu kini ternyata amat lemah dan sering sakit, terutama sekali karena memikiran puteranya yang tadinya disangka telah tewas karena gagal dalam pemberontakannya.

Raja Agahai yang maklum akan kelihaian Han Houw menerimanya dengan ramah, malah dengan sikap manis menawarkan kedudukan tinggi kepada Han Houw kalau saja dia mau tinggal di situ dan membantu raja.

“Kami sangat membutuhkan bantuanmu, Pangeran,” antara lain raja ini berkata, “karena kita harus dapat menundukkan kembali suku-suku dan kelompok-kelompok kecil di utara sebelum mereka itu dikuasai oleh suku Mongol. Kita harus menjadi bangsa yang besar dan mengembalikan kejayaan mendiang ayahmu.”

Akan tetapi Han Houw hanya menghaturkan terima kasih dan tidak menerima penawaran ini, karena dia sudah berjanji kepada isterinya bahwa kedatangan mereka itu hanya untuk menengok Puteri Khamila, dan sama sekali tidak akan mencampuri urusan kerajaan lagi.

Han Houw dan isterinya tinggal di tempat itu selama hampir sebulan. Kemudian mereka berpamit dan diantar oleh tangisan Puteri Khamila, mereka meninggalkan kerajaan kecil itu dengan membawa bekal yang diberikan oleh Raja Agahai, bahkan mereka diberi tiga ekor kuda yang amat baik untuk melakukan perjalanan pulang.

Perjalanan itu sangat berkesan dalam hati Thian Sin, dan diam-diam dia merasa bangga dapat melihat sendiri bahwa ayahnya adalah seorang pangeran, bahwa dia merupakan keturunan darah bangsawan, tidak seperti anak-anak lain di dalam dusunnya. Akan tetapi, terpengaruh oleh pendidikan ayah bundanya, kebanggaan ini hanya disimpannya dalam hati saja sehingga pada lahirnya, anak ini tidak menyombongkan keadaan keturunannya.

Ciauw Si merasa girang sekali melihat bahwa suaminya sudah benar-benar insyaf dan sudah benar-benar tidak mempunyai ambisi lagi seperti dulu. Hal ini dapat dibuktikannya dengan sikap suaminya pada waktu diminta oleh Raja Agahai untuk tinggal di sana dan membantu raja itu.

Akan tetapi, nyonya muda beserta sekeluarganya ini sama sekali tidak tahu bahwa ada bahaya besar yang mengancam mereka dan sedang diatur oleh orang-orang yang tidak suka kepada mereka. Tanpa mereka sangka sama sekali, Raja Agahai merasa khawatir sekali melihat munculnya Han Houw.

Tadinya dia sendiri menyangka bahwa pangeran itu telah tewas pada waktu gagal dalam pemberontakannya di Lembah Naga. Kini, tahu-tahu pangeran itu muncul dan dia maklum betapa lihainya keponakannya itu. Apa lagi melihat sikap Puteri Khamila yang agaknya ingin sekali melihat puteranya itu menggantikan kedudukan raja, maka diam-diam raja ini mengatur rencana untuk melenyapkan bahaya bagi kedudukannya ini. Dia khawatir sekali kalau-kalau Pangeran Oguthai akan merebut kedudukannya, maka sebelum pangeran itu bergerak, dia harus bergerak terlebih dahulu.

Beginilah kalau orang sudah terikat kepada sesuatu yang dianggap merupakan sumber kenikmatan dan kesenangan hidupnya. Selalu merasa khawatir dan berprasangka pada orang lain, khawatir kalau-kalau kedudukannya itu akan lenyap. Maka dipertahankannya sesuatu itu, kalau perlu tidak segan-segan dia membinasakan orang lain yang dianggap sebagai penghalang. Dari sinilah timbulnya segala perbuatan kejam dan jahat.

Raja Agahai mengirim berita kepada Kaisar Beng-tiauw bahwa Pangeran Ceng Han Houw yang dulu telah memberontak itu masih hidup dan memberitahukan tempat sembunyinya. Bahkan kemudian bersekutu dengan Kaisar untuk sama-sama mengirimkan orang-orang pandai beserta pasukan untuk menangkap atau membinasakan pemberontak yang amat berbahaya itu!

Demikianlah, kurang lebih tiga bulan kemudian semenjak Han Houw dan anak isterinya mengunjungi Puteri Khamila, pada suatu hari di dusun lereng bukit itu nampak ada dua orang kakek mendaki lereng dan memandang ke kanan kiri ke arah rumah para penduduk dusun. Kedatangan dua orang tua itu menarik perhatian karena dusun itu memang agak terpencil dan jarang dikunjungi orang luar, akan tetapi karena kakek yang usianya kurang lebih enam puluh tahun itu kelihatan juga tidak luar biasa, maka para penghuni dusun tak terlalu menaruh perhatian.

Akhirnya dua orang kakek itu memasuki sebuah warung, satu-satunya warung makanan yang terdapat di dusun itu. Dengan sikap hormat pemilik warung mempersilakan mereka duduk.

Mereka duduk, melepaskan topi lebar yang dipakai melindungi kepala dari terik matahari siang itu kemudian mereka menggunakan topi itu untuk mengipasi leher sambil membuka kancing baju bagian atas. Hari itu memang agak panas, apa lagi kalau orang melakukan perjalanan mendaki bukit itu. Mereka memesan arak dingin.

Sambil menghidangkan arak kasar, pemilik warung itu pun bertanya, “Agaknya ji-wi baru datang dari tempat jauh?”

Dua orang kakek itu saling pandang dan bersikap tak acuh. Seorang di antara mereka bertubuh tinggi kurus, berjenggot panjang dan sepasang matanya agak juling, membuat wajah itu nampak lucu akan tetapi juga menyeramkan, sungguh pun dia bersikap lemah lembut, sikap yang nampak dibuat-buat karena sepasang mata yang juling itu bergerak liar dan sama sekali tidak lembut sinarnya.

Ada pun kakek ke dua yang usianya sebaya, bertubuh tinggi besar dan suaranya besar lantang, kelihatan kokoh kuat walau pun dia berusaha menutupi keadaannya itu dengan pakaian longgar dan sikap yang lemah lembut.

“Kami memang telah melakukan perjalanan jauh,” jawab Si Mata Juling.

Pada saat itu, ada seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun memasuki warung. Melihat anak ini, pemilik warung tersenyum dan menyambutnya dengan ramah,

“Thian Sin, sepagi ini kau sudah datang ke sini?” tegurnya ramah.

Anak itu memang Thian Sin adanya, putera Han Houw dan Ciauw Si. Semua orang dusun mengenalnya dan sayang kepadanya. Walau pun anak ini tahu benar bahwa dia masih keturunan kaisar dan raja, dan bahwa sesungguhnya orang-orang dusun itu tidak berhak memanggil namanya saja seperti itu, namun dia tidak pernah menolak dan membiarkan semua orang memanggil namanya begitu saja, seperti terhadap anak-anak lain.

Ayah bundanya juga tidak pernah merasa keberatan, karena memang ayahnya hendak menyembunyikan keadaan dirinya sehingga tidak ada seorang pun tahu bahwa ayahnya adalah seorang pangeran! Bahkan nama ayahnya pun tidak ada yang tahu, dan ayahnya hanya dikenal sebagai ‘Ceng-siauwya’ atau tuan muda Ceng karena semua orang dapat menduga bahwa ayahnya itu bukanlah seorang petani biasa saja.

“Paman A-coan, saya disuruh ibu untuk membeli tao-co, karena ibu sedang kehabisan tao-co,” katanya sambil menyerahkan panci kecil.

“Baik… baik, kau masuklah ke dapur dan minta tao-co yang paling baik dari A-sam,” kata pemilik warung sambil tersenyum ramah.

Sementara itu, kakek yang bertubuh tinggi besar dan bermuka agak kehitaman itu tanpa mempedulikan anak itu lalu bertanya, “Eh, A-coan, kami ingin bertanya sesuatu padamu.”

Mendengar nada suara yang agak sombong ini, Si Pemilik Warung menengok dengan alis berkerut. Tidak biasa penghuni dusun mendengar nada suara yang sombong seperti itu, apa lagi dari orang asing yang baru saja mendengar namanya disebut oleh Thian Sin tadi.

“Hemmm, bertanya tentang apakah?” jawabnya dengan sederhana dan memang pemilik warung ini, seperti para penghuni lain di dusun itu, tidak biasa berbasa-basi sehingga cara bicara mereka pun agak kasar sungguh pun kekasaran itu berdasarkan kejujuran, bukan kesombongan.

“Di dusun ini tinggal seorang pangeran pemberontak! Di manakah rumahnya?”

Pemilik warung itu terkejut bukan main, akan tetapi juga terheran-heran. Dia tidak melihat betapa Thian Sin sudah keluar dari dalam membawa panci berisi tao-co, dan anak itu kini memandang dengan mata terbelatak dan jantung berdebar. Siapa lagi yang dimaksudkan oleh orang itu kalau bukan ayahnya. Hanya ayahnyalah pangeran di dusun itu, akan tetapi mengapa disebut pemberontak?

“A-coan, demi keselamatanmu, kau berterus terang sajalah, di manakah rumah pangeran pemberontak itu?” kata Kakek Mata Juling dengan suara meninggi.

A-coan, pemilik warung itu memandang kepada dua orang kakek itu bergantian dengan mata penuh keheranan dan penasaran.

“Apakah ji-wi sudah gila?” tanyanya dengan marah, “di dalam dusun kami ini, mana ada seorang pangeran, pemberontak pula? Yang ada hanyalah petani-petani yang bersih dan jujur. Harap ji-wi tidak mengada-ada yang bukan-bukan!”

Tiba-tiba Si Mata Juling yang kelihatan lemah lembut itu menggebrak meja.

“Krakkk!”

Ujung meja segi empat itu terbuat dari papan tebal, pecah dan patah terkena hantaman telapak tangannya. Kemudian, sekali dia bergerak, Si Mata Juling itu sudah meloncat dari atas bangkunya dan di lain saat, dia telah mencengkeram punggung baju pemilik warung itu dan mengangkatnya ke atas, matanya yang juling itu melotot dan menjadi makin juling.

“Kau berani mengatakan kami gila? Ehh, tukang warung dusun, jaga hati-hati mulutmu itu, atau ingin kuhancurkan seperti ujung meja itu?” Si Mata Juling mengancam.

Tentu saja tukang warung itu menjadi ketakutan. Mula-mula dia hendak melawan, akan tetapi ketika dia tahu betapa tubuhnya tidak mampu bergerak dan cengkeraman itu amat kuat, maklumlah dia bahwa dia berada dalam cengkeraman seorang yang amat lihai.

“Maaf… maafkan saya…,” katanya gugup.

“Katakan dahulu di mana pangeran itu tinggal, baru aku akan memaafkan kamu!” Si Mata Juling berkata dengan suara penuh ancaman, tangan kanannya mencengkeram tubuh itu ke atas dan tangan kirinya menampar dua kali dari kanan kiri.

“Plak! Plak!” Dan kedua pipi pemilik warung yang sial itu menjadi bengkak, bibirnya pecah berdarah.

“Hayo katakan!”

Akan tetapi, tepat pada saat itu ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Sin sudah menerjang ke depan, memukul ke arah perut Si Mata Juling itu. Si Mata Juling terkejut bukan kepalang karena pukulan itu tidak boleh dipandang ringan, melainkan pukulan yang cukup keras sehingga mungkin saja dapat mendatangkan rasa nyeri, bahkan luka dalam! Maka dia pun cepat melepaskan tubuh A-coan dan menangkis pukulan anak itu.

“Dukkk!”

Tubuh Thian Sin terdorong ke samping, akan tetapi kakek bermata juling itu amat terkejut karena dia merasa lengannya agak tergetar, tanda bahwa pukulan bocah itu mengandung tenaga dalam!

“Ehh, bocah setan, siapa kau?!” bentaknya.

“Manusia kejam, sembarangan memukuli orang yang tidak bersalah!” Thian Sin berkata, wajahnya yang tampan itu berubah merah, matanya yang bening indah itu bersinar-sinar. “Pangeran yang kalian tanyakan itu adalah ayahku! Kalian mau apa?”

Dua orang kakek itu saling pandang dan nampak girang sekaligus terkejut. Anak itu masih kecil, paling banyak baru sepuluh tahun usianya dan tubuhnya sedang, malah agak kurus, kulit mukanya halus bagaikan kulit muka anak perempuan, nampaknya lemah lembut dan tidak mempunyai tenaga, akan tetapi pukulannya tadi mengandung hawa sinkang!

Siapakah dua orang kakek itu? Mereka itu adalah dua orang perwira tinggi yang bertugas jaga di perbatasan. Mereka menerima tugas dari pasukan yang datang dari kota raja dan dipimpin oleh dua orang kakek sakti, untuk pergi menyelidiki dusun di mana kabarnya tinggal pangeran pemberontak Ceng Han Houw. Maka berangkatlah dua orang perwira tinggi itu, menyamar dengan pakaian biasa.

Mereka adalah tentara-tentara kasar yang sudah biasa melakukan perbuatan sewenang-wenang, mengandalkan kekuasaan mereka untuk menindas rakyat dan mereka berdua itu agaknya belum mengenal siapa adanya Pangeran Ceng Han Houw yang hendak mereka selidiki itu, maka mereka bersikap sombong dan ceroboh sekali.

Di dusun itu mereka bersikap kasar, sebab mereka memandang rendah kepada pangeran yang kabarnya pemberontak itu. Kini, mendengar pengakuan Thian Sin bahwa pangeran yang dicari-cari itu adalah ayah dari anak ini, tentu saja mereka girang dan juga kaget.

Sebenarnya dua orang perwira tinggi ini mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, maka mereka ditugaskan untuk itu. Dan mereka itu pun sudah mempunyai kedudukan, hanya karena mereka sudah biasa menyiksa tawanan untuk memaksa mereka mengaku, maka terhadap A-coan mereka pun bersikap kasar untuk memaksa tukang warung itu mengaku. Namun kini, sikap mereka lain ketika menghadapi anak itu.

“Eh, bocah lancang, jangan main-main kau!” kata Si Tinggi Besar muka hitam. “Kami tidak mau salah tangkap. Coba katakan, siapa she ayahmu?”

“Ayah she Ceng, dan dialah satu-satunya pangeran di sini! Kalian ini orang-orang kejam mau apakah mencari Ayahku?”

Dua orang itu girang bukan kepalang. “Ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Kami akan menangkap ayahmu yang memberontak!”

Sungguh Si Tinggi Besar muka hitam ini tiada bedanya dengan temannya, ceroboh dan menganggap rendah kepada Pangeran Ceng Han Houw. Sebetulnya tugas mereka hanya untuk menyelidiki saja apakah benar Ceng Han Houw tinggal di dusun itu, sama sekali tidak bertugas untuk menangkap keluarga itu, karena yang memerintah mereka cukup mengetahui betapa lihainya Pangeran Ceng Han Houw dan isterinya.

Akan tetapi, mereka berdua ini adalah orang-orang yang biasa ditakuti orang dan sudah terlalu percaya kepada diri sendiri, karena itu mereka berpikir bahwa kalau mereka dapat menangkap pemberontak itu tentu mereka akan berjasa besar dan selain naik pangkat tentu akan menerima banyak hadiah.

Sementara itu, mendengar bahwa ayahnya dituduh pemberontak dan hendak ditangkap, Thian Sin yang berusia sepuluh tahun itu menjadi amat marah. “Ayah bukan pemberontak, kalian bohong dan jahat!”

Dia lalu menerjang ke depan memukul kakek tinggi besar bermuka hitam itu. Di antara anak-anak sebaya, agaknya Thian Sin tentu merupakan anak paling kuat dan sukar dicari tandingannya, bahkan menghadapi orang dewasa pada umumnya saja agaknya dia masih akan menang.

Akan tetapi yang diserangnya itu adalah seorang perwira tinggi yang sudah mempunyai kepandaian tinggi dan tenaga besar, maka betapa pun cepat dan kuat serangannya itu, Si Tinggi Besar yang sudah siap dan tidak memandang rendah anak itu telah menyambutnya dengan sambaran tangan untuk menangkapnya.

“Plakkk!”

Lengan tangan Thian Sin yang kecil mungil tertangkap oleh tangan berjari panjang dan besar-besar itu. Namun, dengan kecepatan luar biasa Thian Sin mempergunakan sebelah tangan lagi memukul ke arah sambungan siku dari tangan yang memegangnya.

Cepat sekali pukulan ini sehingga Si Tinggi Besar berteriak kaget. Tangannya kesemutan karena yang terkena pukulan adalah tepat pada sambungan siku bawah, maka tentu saja pegangannya terlepas ketika anak itu menarik lengannya dan membuat gerakan memutar ke belakang!

“Bocah setan!” Si Tinggi Besar muka hitam berseru marah bukan main.

Sambil mengembangkan kedua lengannya yang besar dan panjang itu dia menubruk ke arah Thian Sin dengan cepat. Akan tetapi betapa terkejutnya ketika tubrukannya itu luput, mengenai tempat kosong karena anak itu sudah menggeser ke tempat lain secara cepat dan aneh sekali! Dia menubruk lagi, lebih cepat, akan tetapi kembali tubrukannya luput dan anak itu telah berhasil mengelak dengan baiknya.

Dengan kemarahan makin meluap dan rasa penasaran yang membuat mukanya menjadi semakin hitam, Si Tinggi Besar itu menubruk dan menubruk lagi, seperti orang mengejar-ngejar ayam yang terlepas dan amat gesitnya. Akan tetapi anak itu sulit sekali ditangkap, tubuhnya licin bagaikan belut dan kakinya bergerak-gerak aneh dengan langkah-langkah yang membuat tubuhnya menyelinap ke sana-sini dan semua tubrukan itu tidak mengenai sasaran.

Tidaklah aneh karena anak kecil itu sudah mahir sekali mempergunakan langkah-langkah yang dinamakan langkah Pat-kwa-po yang diajarkan oleh ayahnya kepadanya.

Melihat kawannya tidak juga berhasil menangkap anak itu, Si Mata Juling membantu dan mencegat. Kalau saja Thian Sin sudah lebih besar dan memiliki tenaga lebih kuat, dengan kombinasi langkah Pat-kwa-po dan ilmu pukulan dari apa yang telah dimilikinya, tentu dia akan mampu melawan dua orang ini.

Akan tetapi, betapa baiknya langkah Pat-kwa-po itu, kedua kakinya masih terlalu pendek untuk mengatur langkah-langkah secara cukup sempurna bagi orang dewasa, maka tentu saja langkah-langkahnya kurang lebar dan sekarang dicegat oleh Si Mata Juling, akhirnya dia tertangkap, pundaknya dicengkeram dan dia diangkat ke atas oleh Si Mata Juling!

“He-heh-heh, engkau hendak lari ke mana, anak pemberontak?” Si Mata Juling mengejek dengan bangga karena akhirnya dia dapat berhasil menangkap bocah itu. “Hayo cepat ajak kami ke rumah orang tuamu!”

Meski pun dia telah ditangkap dan cengkeraman pada pundaknya itu mendatangkan rasa nyeri, namun Thian Sin menegangkan tubuhnya dan memandang dengan mata melotot, lalu membentak, “Aku tidak sudi!”

“Ehhh, bocah setan! Apakah kau sudah bosan hidup?” Si Mata Juling mengancam sambil memperkuat cengkeramannya.

“Siapa takut mampus?!” Thian Sin juga membentak.

Melihat ini, A-coan, pemilik warung itu cepat maju berlutut di hadapan Si Mata Juling dan berkata dengan suara memohon, “Harap ji-wi tidak mengganggu dia… apa bila ji-wi ingin mengetahui rumah orang tuanya, biar saya yang mengantar…”

“Paman A-coan!” Thian Sin membentak.

Akan tetapi Si Tinggi Besar sudah menangkap lengan A-coan dan berkata dengan suara penuh ancaman. “Awas, kalau kau bohong, kupatahkan kedua lenganmu ini!”

Kemudian dia mengerahkan sedikit tenaga sehingga membuat pemilik warung itu meringis kesakitan karena lengannya seperti akan patah-patah rasanya.

“Baik… baik… tidak bohong… tidak bohong…”

Dua orang kakek itu kemudian keluar dari dalam warung, Si Tinggi Besar menyeret tubuh A-coan sambil memegang lengannya, ada pun Si Mata Juling masih mengangkat Thian Sin di atas kepala sambil mencengkeram pundaknya, bagaikan orang membawa seekor kucing saja.

A-coan menjadi penunjuk jalan menuju ke rumah Han Houw dan semua penghuni dusun yang melihat peristiwa ini menjadi terkejut dan heran, lantas mengikuti mereka dari jauh, tidak tahu harus berbuat apa. Ada beberapa orang di antara mereka yang setia kawan, hendak menyerbu untuk menolong A-coan dan Thian Sin, akan tetapi banyak pula yang mencegah niat ini ketika melihat betapa pemilik warung dan anak itu telah berada dalam kekuasaan kedua orang kakek asing itu sehingga kalau mereka menyerbu, dikhawatirkan dua orang tawanan itu akan celaka. Maka mereka hanya mengikuti dari belakang.

Dua orang kakek itu sama sekali tidak peduli bahwa para penghuni dusun mengikuti dari belakang dengan pandang mata penuh kemarahan, sebab tentu saja mereka sama sekali tidak memandang mata kepada para petani dusun itu.

Ketika rombongan yang diikuti banyak orang ini sampai di pekarangan rumah Han Houw, nampaklah seorang wanita cantik keluar dari rumah itu dan seketika dia terbelalak kaget saat melihat Thian Sin masih diangkat oleh seorang kakek bermata juling dan pundaknya dicengkeram. Wanita itu bukan lain adalah Lie Ciauw Si. Tentu saja dia kaget dan marah sekali melihat ini.

Dua orang kakek itu memandang rendah pada Ciauw Si, maka mereka tetap melangkah masuk sampai jarak mereka dari tempat nyonya itu berdiri tinggal lima meter lagi. Mereka berhenti dan Si Tinggi Besar menghardik A-coan,

“Inikah rumah pangeran pemberontak itu?!”

“Saya… saya tidak tahu pangeran mana… tapi inilah rumah orang tua anak itu…” A-coan berkata dan dia lalu didorong pergi oleh Si Tinggi Besar hingga tubuhnya terbanting dan terguling-guling sampai jauh. Sambil merintih pemilik warung ini lantas tertatih-tatih pergi menjauhkan diri, mencampurkan diri dengan para penghuni dusun yang sekarang berdiri menonton di luar pekarangan.

Mendadak nyonya yang cantik itu mengeluarkan suara teriakan melengking nyaring yang mengejutkan semua orang dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali dan kini meluncur turun ke arah kepala Si Mata Juling, dengan kedua tangan membentuk cakar garuda dan menyerang dengan dahsyatnya!

Bukan main kagetnya Si Mata Juling melihat ini, dan cepat dia mempergunakan tangan kanan untuk melindungi kepalanya. Akan tetapi pada saat itu pula, Thian Sin yang melihat ibunya sudah turun tangan, dan melihat pula betapa tangan kanan kakek itu sudah tidak mengancamnya, cepat menggerakkan kakinya menendang sekerasnya.

“Dukkkk!” dengan tepat sepatu kecil itu menghantam hidung yang agak pesek itu dengan cukup keras.

“Auhhh…!” Si Mata Juling terkejut sehingga cengkeramannya terlepas.

Thian Sin langsung meloncat turun dan cepat lari ke depan, sedangkan tamparan tangan Ciauw Si menyerempet pundak Si Mata Juling yang sudah kesakitan karena hidungnya berdarah itu, maka tubuhnya terjengkang. Si Tinggi Besar muka hitam cepat menubruk ke arah nyonya cantik itu untuk membantu temannya, akan tetapi tiba-tiba Ciauw Si memutar tubuh dengan kaki kiri menyambar ke depan.

“Ngekkk!”

Cepat sekali gerakan kaki dengan tubuh memutar itu sehingga Si Tinggi Besar tidak lagi sempat mengelak dan perutnya yang gendut besar itu kena ditendang oleh ujung sepatu Ciauw Si.

“Aduhhh…!” Dia terpelanting dan memegangi perutnya yang seketika terasa mulas.

Kini dua orang kakek itu bangkit berdiri, Si Mata Juling menyusut darah yang mengucur dari hidungnya, sedangkan Si Tinggi Besar menekan-nekan perutnya yang tertendang. Mereka marah dan malu bukan main.

“Srattt! Srattt!”

Keduanya menggerakkan tangan ke bawah baju dan tercabutlah dua batang golok tajam. Ciauw Si sudah merangkul anaknya dan cepat memeriksa. Melihat bahwa puteranya itu tidak terluka, hatinya lega dan kemarahannya mereda.

“Ibu, mereka ini orang-orang kejam yang menuduh ayah pemberontak!” Thian Sin berkata sambil menuding ke arah dua orang kakek itu.

Ciauw Si terkejut sekali. Agaknya terjadi sesuatu yang gawat sehingga pemberontakan suaminya yang terjadi lebih sepuluh tahun yang lalu itu kini disebut-sebut orang, pikirnya. Maka dia lalu mendorong puteranya ke belakang.

“Kau mundurlah,” bisiknya dan kini dia menghadapi kedua orang kakek itu, memandang tajam penuh selidik, akan tetapi tetap saja dia tidak merasa kenal dengan mereka.

“Siapakah kalian? Dan apakah keperluan kalian datang ke sini?” dia bertanya kepada dua orang yang sudah memegang golok dengan sikap mengancam itu.

Akan tetapi dua orang perwira yang kasar itu sudah terlalu marah dan malu, dan bagai mana pun juga, mereka masih terlampau memandang ringan kepada nyonya muda yang cantik itu. Mereka telah dibikin malu di hadapan banyak orang, yaitu para penghuni dusun yang bergerombol di luar pekarangan, maka mereka menjadi amat penasaran dan marah, sehingga pertanyaan Ciauw Si itu tidak mereka jawab. Bahkan sebaliknya mereka lantas mengeluarkan suara gerengan seperti dua ekor biruang terluka dan mereka lalu memekik panjang dan menerjang nyonya itu dengan golok diputar dan dibacokkan!

Tentu saja para penghuni dusun memandang dengan muka pucat. Meski mereka semua dapat menduga bahwa tetangga mereka itu bukanlah orang-orang dusun sembarangan, akan tetapi mereka tidak mengira bahwa nyonya cantik itu pandai ilmu silat. Tadi mereka melihat betapa nyonya itu dapat ‘terbang’ bagaikan burung, akan tetapi kini melihat dua orang kakek galak itu menerjang dengan golok diputar seperti itu, mereka merasa ngeri dan mengkhawatirkan keselamatan wanita itu. Sementara itu, melihat ibunya dikeroyok dan diancam, Thian Sin cepat lari memanggil ayahnya yang dia tahu berada di ladang!

Para penghuni dusun yang tadinya khawatir kini menjadi terbelalak kagum melihat betapa nyonya cantik itu dengan sangat mudah mengelak dari sambaran dua batang golok yang berupa dua gulung sinar putih itu. Ke mana pun golok membacok, selalu hanya mengenai angin belaka. Tubuh nyonya itu terlalu gesit dan ringan sehingga gerakannya jauh lebih cepat dari pada sambaran dua batang golok.

Lie Ciauw Si adalah cucu luar sekaligus juga murid mendiang ketua Cin-ling-pai. Dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai yang hebat-hebat seperti San-in Kun-hoat yang terdiri dari delapan jurus dan Thai-kek Sin-kun yang penuh dengan jurus-jurus sakti yang halus sekali itu, bahkan sudah menguasai ilmu silat pedang Siang-bhok Kiam-sut yang pernah mengangkat tinggi nama Cin-ling-pai. Maka, menghadapi serangan kedua orang kasar ini tentu saja terlalu ringan baginya.

Dia membiarkan kedua orang lawannya itu menyerang sepuasnya. Setelah mengelak dan berloncatan dengan cepat selama kurang lebih tiga puluh jurus, tiba-tiba saja dia lantas mengeluarkan pekik dahsyat yang menggetarkan jantung kedua orang penyerangnya.

Gerakannya luar biasa cepatnya sehingga tidak nampak oleh para penonton, bahkan dua orang itu sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi tiba-tiba saja tangan kanan mereka menjadi lumpuh, golok pada tangan mereka terlepas dan sambaran tangan halus menampar leher mereka, membuat mereka terpelanting dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang!

“Isteriku, jangan membunuh orang…!” Tiba-tiba terdengar suara mencegah.

Ciauw Si yang telah akan menyusulkan pukulan itu meloncat ke belakang dan menengok. Kiranya Han Houw dan Thian Sin sudah berada di situ. Han Houw mengerutkan alisnya ketika dia memandang kedua orang kakek yang juga tidak dikenalnya itu. Kemudian dia memandang kepada para penduduk dusun yang berkumpul di luar pekarangannya, maka dihampirinya mereka.

“Harap saudara sekalian kembali ke tempat kerja masing-masing. Tidak ada apa-apa di sini, hanya ada sedikit kesalah pahaman.”

Mereka semua amat menghormat Han Houw yang selalu bersikap ramah dan selalu siap menolong mereka, maka sesudah mereka menyatakan syukur bahwa keluarga itu tidak sampai celaka, semua penghuni itu meninggalkan tempat itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner