PENDEKAR SADIS : JILID-04


Akibat dari guncangan batin yang sangat hebat, dengan terjadinya peristiwa yang amat mengejutkan serta menyedihkan hatinya, Thian Sin yang baru berusia sepuluh tahun itu roboh pingsan dan ketika siuman, tubuhnya panas sekali dan dia menderita sakit demam. Dia dirawat oleh para tetangga dan tiga hari kemudian, setelah menangis tersedu-sedu di depan kuburan ayah bundanya, maka Thian Sin bersumpah bahwa dia akan membalas kematian ayah bundanya itu.

“Ayah, ibu, kelak akan kucari mereka! Akan kubalaskan kematian ayah dan ibu!” katanya berkali-kali.

Setelah dibujuk-bujuk oleh Kakek Lai Sui, yaitu kakek yang dimintai tolong oleh mendiang ayah bundanya untuk mengantarkannya kepada pamannya yang menjadi hwesio di dekat kota raja, akhirnya Thian Sin mau juga diajak berangkat melanjutkan perjalanan.

“Sebagai anak berbakti, engkau harus memenuhi pesan terakhir ayah bundamu, harus pergi menghadap Hong San Hwesio. Mari kita kumpul-kumpulkan barang apa yang akan kau bawa serta,” kata kakek Lai Sui yang sabar.

Akan tetapi Thian Sin tidak mau membawa apa-apa. Dia hanya membawa bungkusan pakaian dan kitab-kitab yang oleh ayahnya telah diberikan kepadanya, kitab-kitab tulisan ayahnya dan yang hanya dapat dimengerti olehnya sendiri karena tulisan itu sudah dibuat sedemikian rupa oleh ayahnya sehingga tidak dapat dimengerti dan dipelajari orang lain, sedangkan kunci rahasianya telah diketahui oleh Thian Sin.

“Rumah beserta semua isinya kuserahkan kepadamu, Lai-pek.” kata Thian Sin kepada Lai Sui. “boleh kau pakai dan kau tinggali sampai aku kembali.”

Maka berangkatlah mereka menuju ke selatan, suatu perjalanan yang sangat jauh dan sukar, melalui Tembok Besar dan menuju ke kota raja, karena Kuil Thian-to-tang di mana Hong San Hwesio tinggal itu terletak di sebelah selatan kota raja.

Akan tetapi karena Lai Sui dan Thian Sin hanya berpakaian sederhana seperti ayah dan anak dusun yang tidak membawa barang berharga, maka perjalanan mereka itu dapat dilakukan dengan aman. Tidak ada penjahat yang mau gatal tangan untuk mengganggu orang-orang miskin yang lewat. Dan di dalam perjalanan ini, kakek Lai Sui-lah yang sering harus berhenti untuk beristirahat, karena betapa pun juga, dia tidak mampu menandingi kekuatan Thian Sin yang sejak kecil sudah digembleng oleh ayah bundanya itu.

Akhirnya, tanpa terjadi sesuatu yang penting di jalan, mereka sampai di depan Kuil Thian-to-tang. Kuil itu berada di lereng dekat puncak bukit yang sunyi, akan tetapi dari lereng itu nampak pedusunan di bagian bawah.

Di ruangan depan kuil itu nampak asap hio mengepul dan suasananya amat tenang dan tenteram. Seorang hwesio berusia tiga puluh tahun yang tengah membersihkan halaman di sebelah kanan kuil cepat melepaskan sapunya dan membungkuk-bungkuk menyambut Lai Sui dan Thian Sin yang disangkanya tamu-tamu yang hendak datang bersembahyang, walau pun waktunya masih terlampau pagi bagi tamu untuk bersembahyang.

“Apakah ji-wi (kalian berdua) akan bersembahyang?” tanya hwesio itu setelah merangkap kedua tangan di depan dada tanda menghormati, suaranya halus dan sopan.

Melihat sikap ini saja Thian Sin telah merasa tertarik dan girang. Betapa bedanya dengan orang-orang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan, yang rata-rata memandang rendah dan bersikap angkuh pada mereka berdua yang berpakaian seperti orang dusun miskin. Akan tetapi hwesio ini menyambut mereka dengan wajah ramah dan sikap yang sopan, dan memang agaknya beginilah hwesio ini menyambut semua tamu, tanpa membedakan dan membandingkan keadaan pakaian para tamunya.

“Maaf, Siauw-suhu, kami datang bukan untuk bersembahyang, tetapi mohon menghadap Hong San Hwesio, Ketua Kuil Thian-to-tang,” kata Lan Sui.

Kini hwesio itu memandang kepada Lai Sui penuh perhatian, dari atas sampai ke bawah, lalu memandang kepada Thian Sin, wajahnya membayangkan keheranan karena jarang ada tamu yang datang untuk ketuanya itu. Kemudian dia menjawab. “Sayang sekali, Hong San Hwesio sedang melakukan sembahyang dan doa pagi.”

Lai Sui dan Thian Sin lapat-lapat dapat menangkap suara orang berdoa yang diikuti irama ketukan genta kayu yang dipukul.

“Kalau begitu, biarlah kami menunggu sampai dia selesai berliam-kheng (membaca doa),” kata Lai Sui.

“Silakan duduk di ruangan tamu, Lo-heng, akan tetapi setelah selesai berdoa, biasanya dia lalu duduk semedhi.”

“Biarlah, Siauw-suhu, kami datang dari jauh sekali, dan kami telah melakukan perjalanan berpekan-pekan lamanya, maka menanti sampai setengah hari pun tidak ada artinya bagi kami.” jawab Lai Sui sambil tersenyum.

Setelah mempersilakan tamu-tamunya duduk, pendeta itu lalu pergi meninggalkan mereka untuk melanjutkan pekerjaannya. Kemudian, dari pintu belakang dia memasuki kuil dan ketika melihat ketuanya sudah selesai membaca liam-kheng, dia lalu melaporkan tentang kedatangan dua orang tamu itu.

“Omitohud…! Sepagi ini sudah ada tamu yang datang mencari pinceng?” kata Hong San Hwesio. “Entah dari mana gerangan mereka?”

“Teecu juga tidak tahu, akan tetapi mereka tampak lelah sekali dan mengaku telah datang dari tempat yang jauh sekali, melakukan perjalanan berpekan-pekan lamanya.”

“Omitohud…! Kalau begitu tentu mereka mempunyai maksud kedatangan yang sangat penting sekali. Cepat persilakan mereka masuk, akan pinceng terima di sini saja,” hwesio itu berkata dengan serius. Dia menghargai tamu-tamu yang datang dari tempat demikian jauhnya yang tentu membawa berita penting sekali.

Tidak lama kemudian, muncullah Kakek Lai Sui dengan Thian Sin. Melihat dua orang ini memberi hormat kepadanya dan berlutut, Hong San Hwesio menatap penuh perhatian, dan dia merasa tidak mengenal kakek itu, akan tetapi wajah anak laki-laki itu tidak asing baginya, hanya dia lupa lagi di mana dia pernah berjumpa dengan anak ini.

“Paman, apakah paman lupa kepada saya? Saya Thian Sin yang malang, menghadap paman memenuhi pesan ayah…,” kata Thian Sin, tidak menangis, akan tetapi suaranya mengandung kedukaan besar.

Disebut paman oleh anak itu, Hong San Hwesio menjadi terkejut, “Ah, kiranya engkau….” dia meragu.

“Dua tahun yang lalu paman mengunjungi kami…”

“Ahh, benar, engkau putera Ciauw Si! Siapa namamu? Ya, benar, Thian Sin, Ceng Thian Sin! Dan siapakah Saudara ini?”

Lai Sui memperkenalkan diri sebagai utusan keluarga anak itu, kemudian dengan suara terputus-putus karena duka dan haru kakek ini lalu menceritakan betapa keluarga anak itu telah tertimpa mala petaka, diserbu oleh pasukan-pasukan dari kaisar dan dari raja utara, dan mereka telah tewas bersama para penduduk dusun.

“Mereka telah merasa akan datangnya mala petaka, maka mereka telah mengutus saya untuk mengantar anak ini ke sini dan menyerahkan surat mereka kepada suhu di sini,” Kakek itu mengakhiri ceritanya. “Ternyata surat ini merupakan pesan terakhir mereka.”

Tentu saja Lie Seng atau Hong San Hwesio terkejut bukan main mendengar penuturan itu. Sejenak dia terdiam, kedua alisnya berkerut dan pandang matanya menjadi sayu, lalu sejenak dia memejamkan kedua matanya sambil berdoa untuk kematian adik kandungnya dan adik iparnya itu. Setelah hatinya tenang, dia membuka mata dan memandang kepada Thian Sin, keponakannya itu.

Anak itu nampak berduka, kurus dan pucat, akan tetapi tidak menangis dan di wajahnya jelas terbayang kekerasan dan dendam yang amat hebat. Kembali dia menarik napas, lalu dibukanya sampul surat dari adik iparnya itu. Dia membaca surat terakhir yang ditulis oleh dua tangan itu, tangan adik kandungnya dan tangan moihu-nya, yang isinya minta tolong kepadanya agar suka merawat serta mendidik Thian Sin untuk sementara waktu, karena mereka berdua terancam bahaya. Minta padanya agar mendidik soal kerohanian kepada Thian Sin, di samping membimbing dan mengamati latihan silatnya.

Sesudah membaca surat terakhir itu, Lie Seng atau Hong San Hwesio menarik napas panjang dan membisikkan doa-doa. Pada saat menulis surat itu, meski pun adiknya masih belum yakin akan kematiannya, akan tetapi adiknya itu agaknya sudah merasa tidak ada harapan! Dia lalu memandang kepada Kakek Lai Sui dan berkata,

“Saudara Lai Sui, engkau telah melaksanakan tugasmu dengan baik sekali dan untuk itu, pinceng menghaturkan banyak terima kasih. Pinceng telah menerima surat dari mendiang adik pinceng dan telah menerima Thian Sin, maka silakan Saudara Lai untuk beistirahat.”

Lai Sui cepat memberi hormat. “Terima kasih, suhu. Tetapi, sesudah saya menyerahkan surat dan anak ini, perkenankan saya untuk cepat-cepat kembali ke dusun kami, karena di samping dusun kami sedang tertimpa mala petaka dan dalam keadaan berkabung, juga saya yang telah dipercaya oleh anak ini harus menjaga rumahnya yang ditinggalkan oleh ayah bundanya. Thian Sin, engkau baik-baik saja di sini, memenuhi pesan terakhir dari orang tuamu, ya?”

Thian Sin mengangguk dan dia lalu merangkul kakek itu yang duduk di sampingnya, tidak menangis, akan tetapi jelas dia merasa sangat terharu. “Terima kasih, Lai-pek, sungguh engkau baik sekali dan aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu. Kau tolong… tolong kadang-kadang menengok dan merawat makam orang tuaku, ya?”

“Tentu saja, Thian Sin, tentu saja, kau jangan khawatir… nah, selamat tinggal, anak baik. Suhu, terima kasih dan saya akan berangkat pulang sekarang.”

Lai Sui lalu meninggalkan kuil itu untuk kembali ke dusunnya yang sudah tertimpa mala petaka itu. Oleh karena tidak berkeluarga, maka dia sendiri tidak mengalami kehancuran keluarga. Akan tetapi kehidupan di dusun amatlah akrab antara tetangga, seperti keluarga sendiri saja. Maka kakek ini pun merasakan kedukaan hebat dan dia ingin lekas-lekas pulang.

Sementara itu, Hong San Hwesio yang melihat bayangan dendam hebat bukan main di wajah keponakannya itu lalu berkata. “Thian Sin, apakah engkau sudah tahu siapa yang membunuh ayah bundamu?”

Anak itu mengangkat muka memandang wajah pamannya yang penuh kelembutan itu, lalu dia menggeleng kepalanya. “Saya belum tahu paman. Akan tetapi kelak akan saya selidiki hal itu! Saya tahu bahwa yang menyerbu rumah kami adalah pasukan dari Raja Agahai dan pasukan dari kaisar. Kelak saya pasti akan menyelidiki siapa yang memimpin penyerbuan itu dan akan saya bunuh mereka semua untuk membalaskan kematian ayah dan ibu!” Dari sepasang mata anak itu memancar api dendam yang hebat, dan diam-diam Hong San Hwesio bergidik dan dia cepat menarik napas panjang.

“Omitohud…! Anak yang baik, agaknya engkau sama sekali tak pernah berpikir mau pun bertanya mengapa ayah bundamu sampai mengalami penyerbuan itu?”

Sesudah anak itu menggelengkan kepalanya, dengan suara lembut dan sabar Hong San Hwesio lantas menceritakan secara singkat semua perbuatan mendiang Ceng Han Houw yang dahulu pernah hendak menimbulkan pemberontakan. Dia hendak membimbing anak itu agar meneliti diri sendiri dan sadar akan kesalahan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Dia hendak membuat anak itu sadar bahwa apa yang terjadi atas diri Ceng Han Houw hanya merupakan akibat dari pada perbuatan-perbuatannya sendiri di masa lampau.

Mendengar cerita pamannya itu, Thian Sin termenung dan diam-diam dia terkejut juga. Kiranya ayahnya pernah melakukan dosa-dosa yang besar, bahkan pernah memberontak terhadap kaisar.

“Nah, sekarang engkau tentu mengerti, Thian Sin. Tidak ada perbuatan tanpa akibat dan tidak ada akibat tanpa sebab. Yang tidak mengerti akan hal ini akan terjerumus ke dalam lingkaran setan dari sebab akibat, dari balas-membalas, dendam-mendendam! Dan kalau sudah begitu, kita hanya akan menjadi hamba-hamba dari nafsu kekerasan saja, menjadi hamba-hamba dari nafsu dendam dan permusuhan, menciptakan sebab-sebab baru yang nantinya akan mendatangkan akibat-akibatnya pula. Orang bijaksana akan menghentikan berputarnya sebab akibat ini dengan berdiam diri.”

“Tapi… tapi… ayah bundaku dibunuh orang… mana mungkin saya akan berdiam diri saja, paman?”

Hong San Hwesio lalu memejamkan matanya dan bibirnya bergerak-gerak membaca doa yang berupa ajaran-ajaran Sang Buddha, yang diucapkan satu demi satu sehingga jelas terdengar dan dimengerti oleh Thian Sin.

Tiada yang lebih panas
dari pada nafsu
tiada yang lebih ganas
dari pada kebencian
tiada yang lebih menjerat
dari pada kebodohan
tiada yang lebih menghanyutkan
dari pada keserakahan,
Kesalahan orang lain mudah nampak
kesalahan diri sendiri sukar terlihat
orang menyaring kesalahan orang lain
seperti menampi dedak
namun kesalahannya sendiri disembunyikannya
seperti penipu menyembunyikan
dadu lemparannya
terhadap penjudi lainnya.


Setelah mendengarkan nyanyi dan yang berupa ajaran-ajaran dari kitab Dhammapada ini, Thian Sin yang baru berusia sepuluh tahun itu mencoba untuk menangkap artinya, dan dia pun segera membantah, “Akan tetapi, paman. Mereka itu membunuh ayah bundaku, mereka itu sudah melakukan kekejaman dan kejahatan. Kalau perbuatan mereka itu tidak kuberantas, kalau orang-orang kejam semacam itu tidak kubasmi, bukankah mereka akan melakukan kekejaman lebih jauh lagi kepada orang-orang lain?”

Hong San Hwesio masih memejamkan sepasang matanya, tersenyum dan berkata sambil merangkapkan kedua tangan.

“Omitohud… hatimu penuh dendam dan kebencian, tentu saja tak mungkin dapat berpikir jernih. Nah, kau dengarkanlah, Thian Sin, pelajaran pertama dari ayat-ayat suci.”

Tanpa membuka mata, dengan duduk bersila dan kedua tangan dengan jari-jari terbuka menyembah di depan dada, hwesio itu lantas bernyanyi, membacakan ayat-ayat pertama dari Dhammapada.

Segala keadaan kita adalah hasil
dari apa yang telah kita pikirkan
didasarkan atas pilihan kita
dan dibentuk oleh pikiran kita
Jika seseorang bicara atau berbuat
dengan pikiran jahat,
penderitaan akan mengikutinya,
seperti roda gerobak
mengikuti jejak kaki lembu
yang menariknya.
Jika seseorang bicara atau berbuat
dengan pikiran murni
kebahagiaan akan mengikutinya,
seperti bayang-bayang
yang tak pernah meninggalkannya
Dia mencaci maki saya, memukul saya,
mengalahkan saya, merampok saya,
yang menyimpan pikiran ini,
kebencian takkan berakhir,
yang tidak mmyimpan pikiran ini,
dendam kebencian akan berakhir.
Karena kebencian tak dapat dipadamkan
oleh kebencian,
kebencian hanya musnah
oleh cinta kasih
inilah suatu aturan yang abadi…


Suara nyanyian halus yang keluar dari mulut hwesio yang masih memejamkan matanya itu, entah bagaimana terdengar demikian mempesona oleh Thian Sin sehingga anak ini bagaikan terhanyut, dan tidak lama dia pun duduk bersila seperti hwesio itu, memejamkan mata, merangkapkan kedua tangan, kemudian mendengarkan dengan penuh perhatian, dan dia merasakan suatu ketenangan yang amat indah dalam hatinya yang semula penuh dengan kebencian dan dendam yang membara!

Demikianlah, mulai hari itu juga Thian Sin digembleng oleh Hong San Hwesio dalam ilmu kebatinan dan keagamaan dan karena dia sendiri adalah seorang hwesio yang memeluk Agama Buddha, maka tentu saja dia mengajarkan filsalat kehidupan menurut pelajaran agama itu.

Selain setiap hari mempelajari ayat-ayat suci, Hong San Hwesio juga memberi pelajaran kesusasteraan kepada Thian Sin, dan kadang-kadang anak itu juga berlatih ilmu silat di bawah petunjuk pamannya yang dulu sebelum menjadi hwesio juga merupakan seorang pendekar, ahli silat yang berilmu tinggi.

Di samping mempelajari ilmu silat, ilmu sastera dan keagamaan dari pamannya, juga dari beberapa orang hwesio yang tinggal di Thian-to-tang itu, Thian Sin belajar menulis sajak dan meniup suling dan dalam kesenian ini ternyata dia memiliki bakat yang kuat sekali.

Sungguh patut disayangkan bahwa kita ini semenjak kecil biasanya hanya memperoleh petunjuk-petunjuk saja, bagaimana untuk dapat menjadi seorang yang baik, yang benar, yang sabar dan sebagainya. Seakan kebaikan itu dapat dipelajari! Seakan kebenaran itu mempunyai garis tertentu! Seakan kesabaran itu dapat dibuat!

Biasanya, kalau kita mendendam, kalau kita membenci, bila kita marah, kita dinasehati untuk bersabar. Kita dinasehati untuk mengendalikan diri, mengendalikan kemarahan itu, menekannya dengan kesabaran, dengan mengingat bahwa kemarahan itu tidak baik, dan kesabaran itu baik dan sebagainya.

Kita diajarkan untuk menjauhi kemarahan, kebencian dan lain-lain itu seperti menjauhi penyakit, dan kita dipaksa agar berpaling kepada kesabaran, cinta kasih antara sesama, kebaikan dan sebagainya. Semua ini membuat kita seperti sekarang ini, penuh dengan teori-teori tentang kebajikan, kebaikan, teori-teori kosong yang sama sekali tidak pernah kita hayati dalam kehidupan, karena penghayatan dalam kehidupan melalui teori-teori ini hanya merupakan peniruan belaka, sedang setiap bentuk peniruan tentu mendatangkan kepalsuan dalam tindakan itu karena di balik itu sudah pasti mengandung pamrih.

Sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi orang baik sehingga kita selalu ingin disebut baik, kita mempunyai anggapan baik itu searah dengan senang, atau baik itu akan dapat mendatangkan senang di hati. Maka ‘perbuatan baik’ yang kita lakukan itu, jika kita mau membuka mata mengenal diri sendiri, bukan lain hanyalah merupakan suatu daya upaya atau jembatan bagi kita untuk memperoleh hasil yang menyenangkan itu tadi saja. Hasil yang dianggap akan mendatangkan kesenangan dari perbuatan baik, dan hasil yang menyenangkan itu mungkin saja berupa kesenangan bagi lahir mau pun batin. Mungkin bersembunyi di bawah sadar, namun karena pendidikan budi pekerti yang diberikan kepada kita semenjak kecil, maka kita selalu berbuat baik dengan harapan agar dapat memperoleh buah dari semua perbuatan itu yang tentu saja akan menguntungkan atau menyenangkan kita lahir batin.

Bisa saja kita menyangkal bahwa hal ini tidak benar, akan tetapi setiap perbuatan yang kita anggap sebagai perbuatan kebaikan, yang kita lakukan dengan unsur kesengajaan untuk berbuat baik, sudah pasti mengandung pamrih, walau pamrih itu bersembunyi di bawah sadar sekali pun! Maka, yang penting adalah mengenal apakah perbuatan tidak baik itu! Kita tahu dan mengenal tindakan-tindakan palsu dan tidak baik itu, kita mengenal dan sudah mengalami betapa nafsu-nafsu seperti marah, benci, dendam, iri, serakah itu mendatangkan hal-hal yang amat buruk. Untuk dapat terbebas dari pada dendam, bukanlah hanya sekedar belajar sabar!

Memang, dengan kesabaran atau pengendalian diri, kemarahan mungkin dapat berhenti, nampaknya lenyap dan padam, akan tetapi sebenarnya, api kemarahan itu masih belum padam, hanya tertutup oleh kesabaran yang dipaksakan menurut ajaran-ajaran itu tadi. Seperti api dalam sekam. Sekali waktu api itu akan berkobar lagi, mungkin lebih hebat untuk dikendalikan dan ditutup lagi oleh kesabaran, dan lain kali berkobar kembali, lalu ditutup lagi, maka kita pun terseret ke dalam lingkaran setan seperti keadaan hidup kita sekarang ini!

Mengapa kita harus lari dari kenyataan kalau sekali waktu amarah atau benci datang? Mengapa kita harus menyembunyikan diri ke balik pelajaran kesabaran untuk melarikan diri dari kemarahan itu? Mengapa kita tidak berani menghadapi kenyataan itu bahwa kita marah?

Marilah kita mencoba untuk menghadapinya, setiap kali kemarahan timbul, setiap kali iri hati kebencian, dan sebagainya datang ke dalam batin kita. Kita hadapi semua itu, kita amati, kita pandang, kita pelajari tanpa melarikan diri, tanpa ingin sabar, ingin baik dan sebagainya lagi! Dengan pengamatan ini, dengan kewaspadaan ini, dengan perhatian ini, maka kita akan awas, dan sadar, kita akan melihat bahwa kemarahan dan kita tidaklah berbeda, maka tidaklah mungkin melarikan diri dari kemarahan yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, si aku itu sendiri. Kita hadapi saja, amati saja, pandang saja, dan akan terjadilah sesuatu yang luar biasa, yang tidak dapat diteorikan, hanya dapat dihayati, dilakukan pada saat semua itu timbul!


Begitu pula dengan Thian Sin. Dia dijejali oleh pelajaran untuk mengendalikan diri, untuk menekan dan menghilangkan dendam yang membara di dalam hati. Memang nampaknya berhasil, nampaknya dia sudah kembali menjadi seorang anak yang riang dan berwajah manis, murah senyum, tampan sekali dan tidak pernah dia menyinggung-nyinggung lagi tentang kematian orang tua dan dendamnya. Namun, benarkah api dendamnya itu telah padam? Hanya kenyataan yang akan menentukan dan menjawabnya…..

********************

Bangunan kuno yang sebenarnya amat indah itu dari luar nampak menyeramkan karena dikelilingi tumbuh-tumbuhan yang besar dan lebat. Bangunan itu dinamakan orang Istana Lembah Naga! Lembah ini terietak di kaki Pegunungan Khing-an-san, di dekat tikungan Sungai Luan-ho, termasuk daerah Mongol dan berada di luar Tembok Besar.

Dulu, sebelum lembah ini dibersihkan oleh pasukan kaisar, kemudian diserahkan sebagai hadiah kepada pendekar sakti Cia Sin Liong, tempat ini merupakan tempat yang ditakuti orang karena selain angker juga menjadi tempat tinggal keluarga mendiang Raja Sabutai yang terkenal kejam. Akan tetapi semenjak pendekar Cia Sin Liong bersama isterinya yang dicintanya, yaitu Bhe Bi Cu, tinggal di istana itu, keadaannya berubah sama sekali.

Lembah yang memang amat indah itu tidak ditakuti orang lagi, bahkan kini banyak orang berdatangan untuk tinggal di sekitar lembah, terbentuk dusun-dusun yang cukup makmur karena tanah di sekitar pegunungan itu memang cukup subur. Dan pendekar itu bersama isterinya dikenal sebagai orang-orang yang sangat baik, bahkan yang melindungi para penghuni dusun itu. Tidak mengherankan apa bila keluarga ini dicinta dan dihormati, dan dusun di sekeliling lembah itu menjadi semakin ramai.

Memang pemandangan di lembah itu amat mentakjubkan. Padang rumput luas di bawah kaki lembah yang dahulu dinamakan orang Padang Bangkai dan amat menyeramkan itu, kini sebagian telah menjadi sawah ladang. Tempat-tempat berbahaya yang mengandung lumpur yang dapat menyedot telah ditutup oleh pasukan kaisar saat mereka mengadakan pembersihan di tempat ini sehingga kini padang maut itu tidak pernah mengambil korban lagi.

Istana itu sendiri sekarang terawat baik, mempunyai taman bunga dan tembok-temboknya juga tidak penuh lumut seperti dahulu sebelum menjadi tempat tinggal pendekar itu. Kini ada saja penduduk dusun yang beberapa pekan sekali membantu pendekar ini untuk membersihkan bangunan yang kokoh kuat itu. Kini suasananya betul-betul jauh berbeda dibandingkan dengan dahulu pada saat istana ini masih menjadi tempat tinggal sepasang kakek dan nenek iblis yang terkenal dengan nama Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, dua orang guru dari mendiang Raja Sabutai.

Seperti yang telah diceritakan dalam kisah Pendekar Lembah Naga, untuk terakhir kalinya tempat ini menjadi sarang pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Ceng Han Houw yang dibantu oleh Hek-hiat Mo-li dan yang lain-lainnya, di mana akhirnya terjadi keributan. Sesudah pemberontakan itu dapat dibasmi, dan istana itu diserahkan oleh kaisar kepada pendekar Cia Sin Liong yang berjasa menumpas pemberontakan, maka tempat itu sama sekali berubah keadaannya.

Sampai sekarang Lembah Naga sudah menjadi tempat yang indah, yang banyak menarik datangnya para pelancong yang melewati Tembok Besar. Bahkan karena dusun-dusun di sekitarnya semakin ramai dan di sana banyak menghasilkan rempah-rempah dan bahan obat-obatan, banyak pula berdatangan pedagang-pedagang dari sebelah dalam Tembok Besar untuk berdagang, membawa barang-barang keperluan para penduduk dari kota di sebelah selatan, dan ketika pulang mereka membawa rempah-rempah dan bahan-bahan obat.

Telah kurang lebih dua belas tahun pendekar Cia Sin Liong dan isterinya tinggal di Istana Lembah Naga itu dan di dunia kang-ouw, tempat ini pun terkenal sebagai istana tempat tinggalnya Pendekar Lembah Naga, demikianlah orang-orang kang-ouw memberi julukan kepada Cia Sin Liong. Dan dari pernikahannya dengan Bhe Bi Cu yang amat dicintanya, pendekar ini sudah memperoleh seorang putera yang mereka beri nama Cia Han Tiong dan yang kini telah berusia sebelas tahun.

Semenjak kecil Han Tiong menerima cinta kasih yang berlimpah-limpah dari kedua orang tuanya, bukan pemanjaan melainkan cinta kasih, dan semenjak kecil dia tinggal di tempat yang selalu hening dan tenteram, di antara para penduduk dusun yang hidup sederhana, terbuka, jujur dan tenang. Maka tidaklah mengherankan apa bila keadaan sekelilingnya ini membentuk watak yang tenang dan pendiam kepada diri anak itu.

Cia Han Tiong yang mempunyai ayah yang tampan dan gagah, ibu yang cantik manis itu ternyata tidaklah memiliki wajah yang terlalu tampan. Wajahnya biasa saja, wajah yang tidak terlampau menonjol seperti wajah anak-anak lain di dusun itu, tidak terlalu tampan sungguh pun juga tidak dapat dikatakan buruk.

Hidungnya agak pesek, matanya sipit, namun wajah yang biasa ini amat menyenangkan karena gerak-geriknya yang lembut, bibirnya yang selalu membayangkan keramahan dan sepasang mata sipit itu memancarkan sinar yang bening tajam. Bila dia bicara, suaranya terdengar tenang, halus dan jelas, dan apa bila dia memandang wajah orang lain, dalam pandangannya itu terdapat rasa suka dan terbuka. Karena itu, sejak kecil Han Tiong amat disuka oleh semua orang yang mengenalnya.

Sebagai putera seorang pendekar sakti, tentu saja sejak kecil Han Tiong telah digembleng ilmu oleh ayahnya, juga ayah ibunya mengajarkan ilmu membaca dan menulis sedapat mereka karena mereka pun bukanlah ahli dalam ilmu ini. Di samping berlatih silat setiap hari, Han Tiong suka pula bekerja di ladang, dia suka bercocok tanam, merawat tanaman, dia suka berjalan-jalan seorang diri menikmati pemandangan alam, pada waktu pagi-pagi sekali atau waktu senja, dia merasa sangat dekat dengan alam, menyayang binatang dan sikapnya selalu gembira, yang nampak pada seri wajahnya, sinar mata dan senyumnya, walau pun dia adalah seorang anak yang pendiam dan tidak mau bicara kalau tidak perlu sekali.

Bentuk tubuhnya juga sedang saja, dan sikapnya sederhana sungguh pun dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang taihiap, seorang pendekar sakti yang disegani dan ditakuti lawan serta dihormat semua orang. Sikapnya yang sederhana ini justru membuat semua orang merasa suka sekali kepadanya dan ke mana pun Han Tiong berada, orang-orang akan menyambutnya dengan sangat hormat dan gembira.

Setelah Han Tiong berusia sebelas tahun, timbullah kekhawatiran di dalam hati Sin Liong. Biar pun selama ini puteranya menunjukkan sikap yang amat baik dan ternyata memiliki bakat besar dalam ilmu silat, namun dia tahu bahwa puteranya itu kurang memperoleh pendidikan dalam hal sastera dan kebatinan. Dia tidak sanggup untuk mengajarkan kedua hal itu lebih mendalam kepada puteranya. Dia tahu bahwa dia akan menurunkan ilmu-ilmu silat yang dahsyat kepada puteranya, akan tetapi dia tahu pula betapa besar bahayanya memiliki ilmu-ilmu silat dahsyat itu tanpa memiliki dasar watak yang kuat.

Betapa banyak orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi lalu menyeleweng di dalam hidupnya, karena merasa mempunyai sesuatu yang bisa diandalkan, mempunyai kekuasaan atas orang lain, karenanya lalu timbul penyelewengan dan sikap sewenang-wenang. Kalau dia membayangkan puteranya dapat menyeleweng seperti halnya kakak angkatnya, Ceng Han Houw misalnya, dia merasa lebih baik kalau puteranya itu tidak diwarisi ilmu-ilmu yang dahsyat itu. Akan tetapi kalau tidak diwariskan kepada puteranya, lalu untuk apa? Apakah hendak dibawanya sampai mati?

Kekhawatiran dalam hati Sin Liong itu memang bukan tanpa alasan. Dalam pengalaman hidupnya, pendekar ini sudah melihat betapa banyaknya orang-orang dengan kepandaian tinggi lebih mudah melakukan penyelewengan dan kejahatan di dalam kehidupan mereka dibandingkan dengan orang-orang bodoh seperti orang-orang dusun umpamanya.

Orang-orang yang tidak memiliki batin yang bersih sangat mudah menyeleweng. Apa lagi orang-orang yang mempunyai kepandaian silat, mereka mengisi hidupnya hanya dengan perkelahian, permusuhan dan dendam mendendam!

Memang demikianlah, kemajuan ilmu pengetahuan bukan mendatangkan berkah dalam kehidupan, bahkan sebaliknya mendatangkan mala petaka apa bila tidak disertai dengan kemajuan di bidang batin. Kemajuan ilmu pengetahuan memberi kekuasaan yang lebih besar pada manusia, dan tanpa batin yang bersih maka kekuasaan itu akan digunakan oleh manusia untuk mementingkan diri sendiri, mengejar kesenangan kemudian dengan kekuasaannya itu manusia akan membasmi manusia-manusia lain yang menghalang di depan, yang mengganggu usahanya untuk meraih kesenangan pribadi itu. Hal ini nampak dengan jelas di mana pun dalam dunia ini.

Kemajuan ilmu haruslah disertai kemajuan batin, kalau tidak, maka kemajuan ilmu itu hanya akan mendatangkan bencana bagi manusia. Kekuasaan yang berada di dalam tangan manusia yang berbatin lemah hanya akan dipergunakan untuk mengumbar nafsu-nafsunya tanpa mempedulikan betapa untuk mencari kesenangan dia mempergunakan kekuasaan dari ilmu itu untuk mencelakakan orang lain.


“Lalu apakah yang dapat kita lakukan?” Bhe Bi Cu berkata kepada suaminya pada suatu malam setelah suaminya itu mengeluarkan isi hatinya. “Di tempat seperti ini, mana ada orang yang akan mampu memberi pendidikan batin kepada anak kita? Siapa yang dapat menolong kita…?”

“Aku ingat,” tiba-tiba Sin Liong berkata, “ada satu orang yang mungkin akan tepat sekali menjadi pendidik untuk Hai Tiong, entah dia masih berada di sana atau tidak.”

“Siapa dia?” Bi Cu bertanya penuh gairah.

“Dia adalah saudara misan sendiri, dia cucu luar dari mendiang Kakek Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai.”

“Siapa sih?”

“Dia Kanda Lie Seng yang sekarang telah menjadi hwesio. Kalau tidak salah, julukannya sekarang adalah Hong San Hwesio dan dia menjadi ketua Kuil Thian-to-tang di sebelah selatan kota raja.”

“Ahh, bagus sekali kalau begitu! Jadi, anak kita masih keponakannya sendiri.”

“Memang sebaiknya kalau kita menyerahkan anak kita kepadanya untuk dididik selama beberapa tahun. Engkau tahu, aku belum berani mengajarkan ilmu-ilmu silat yang terlalu dahsyat kepada anak kita, sebelum dia memiliki dasar kebatinan yang kuat. Biarlah dia belajar di sana selama beberapa tahun dan sesudah dasarnya kuat, baru kita bawa dia pulang.”

“Aku setuju, biar pun tidak enak harus berpisah dari anak tunggal kita,” kata isterinya.

“Bagus! Kalau engkau setuju, itu baik sekali. Sekarang bersiaplah, dalam pekan ini juga kita berangkat ke selatan bersama Han Tiong. Dia pun perlu memperluas pengetahuan dan pengalamannya dengan perjalanan jauh, bukan hanya terpendam di tempat sunyi ini saja.”

“Apakah kita langsung saja ke kuil Thian-to-tang?”

“Tidak, kesempatan ini kita gunakan untuk mengunjungi keluarga. Sudah bertahun-tahun kita seperti orang-orang bertapa saja di tempat ini, tidak pernah mengunjungi dunia ramai, tidak pernah mengunjungi keluarga. Maka sekali ini, sekalian membawa Han Tiong pergi merantau dan meluaskan pengalamannya, kita lebih dulu mengunjungi Cin-ling-san, lalu menengok Lan-moi dan Lin-moi di Su-couw, setelah itu baru kita mengantarnya ke kuil Hong San Hwesio atau Lie Seng Koko.”

Wajah yang manis itu berseri gembira membayangkan perjalanan itu. Memang harus dia akui bahwa selama berada di Istana Lembah Naga, Bi Cu merasa berbahagia sekali di samping suaminya yang sangat dicintanya, apa lagi setelah terlahir Han Tiong, dan juga hidup sederhana di tempat itu bersama sekumpulan penghuni-penghuni dusun yang jujur dan bersahaja, sungguh amatlah menyenangkan. Belum pernah dia mempunyai perasaan ingin mengunjungi tempat ramai di luar lembah.

Akan tetapi begitu kini suaminya hendak mengajak dia beserta putera mereka merantau, hatinya menjadi gembira bukan main lalu nyonya muda ini segera berkemas dan dengan girang dia memberi tahu kabar gembira itu kepada Han Tiong yang menerima kabar itu dengan tenang-tenang saja, walau pun wajahnya menjadi berseri dan matanya bersinar-sinar.

“Sudah lama aku ingin sekali bertemu dengan kakek, ibu,” katanya. “Benarkah kakek Cia Bun Houw adalah seorang pendekar yang tiada tandingannya di kolong langit? Dan bahwa Cin-ling-pai adalah perkumpulan yang paling besar di dunia?”

Pada saat itu, Sin Liong memasuki ruangan dan mendengar pertanyaan puteranya, maka dia lalu duduk dan menjawab, “Kakekmu memang seorang pendekar sejati yang gagah perkasa, akan tetapi janganlah menganggap bahwa dia seorang pendekar yang tidak ada bandingannya di kolong langit. Gunung Thai-san yang menjulang tinggi menembus awan sekali pun tidak dapat dikatakan sebagai benda yang paling tinggi, karena ada langit di atasnya. Demikian pula Cin-ling-pai, memang merupakan perkumpulan silat yang sangat baik dan terkenal, akan tetapi tidak perlu dikatakan paling besar di dunia. Ingatlah selalu bahwa amatlah berbahaya memandang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, anakku. Hal itu akan mendatangkan watak besar kepala, sombong, dan memandang rendah pihak lain.”

Anak itu mengangguk dan diam-diam, seperti biasanya, dia mencatat semua kata-kata ayahnya itu di dalam hatinya dan dia melihat kebenaran dalam ucapan itu. “Ayah dan ibu telah banyak bercerita tentang kakek dan nenek di Cin-ling-pai, akan tetapi kata ibu tadi kita akan pergi mengunjungi Bibi Lan dan Bibi Lin, juga mengunjungi Paman Lie Seng di mana aku akan disuruh belajar ilmu. Siapakah mereka itu, ayah?”

Memang selama ini Sin Liong hanya menceritakan keadaan Cin-ling-pai pada puteranya, maka tidaklah mengherankan kalau Han Tiong kini bertanya mengenai mereka itu. Maka dengan singkat dia lalu memperkenalkan nama-nama itu kepada puteranya.

“Bibimu Kui Lan dan Kui Lin adalah adik-adik tiri ayahmu satu ibu berlainan ayah. Mereka adalah dua orang wanita kembar yang kini sudah menikah dan bertempat tinggal di kota Su-couw. Sudah belasan tahun aku tidak mendengar berita tentang mereka, maka sekali kita keluar dari lembah ini, aku hendak mengajak ibumu dan engkau pergi mengunjungi mereka pula ke Su-couw. Sedangkan pamanmu Lie Seng itu sekarang sudah menjadi seorang hwesio berjuluk Hong San Hwesio, ketua Kuil Thian-to-tang di sebelah selatan kota raja. Dia pun seorang pendekar yang berilmu tinggi di samping dia seorang pendeta yang suci, oleh karena itulah engkau harus belajar darinya barang beberapa tahun, Han Tiong.”

Saat menyebut nama adik-adik tirinya itu, diam-diam Sin Liong membayangkan keadaan mereka dan diam-diam timbul perasaan rindunya. Dia amat sayang kepada adik-adiknya itu, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.

Apakah mereka telah mempunyai anak? Ahh, sungguh lucu rasanya jika membayangkan adik-adiknya itu memiliki anak-anak! Dan tentu saja di dalam hatinya, pendekar ini merasa girang sekali membayangkan betapa akan gembiranya perjumpaannya dengan Kui Lan dan Kui Lin nanti.

Tetapi pendekar ini tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dua orang wanita kembar ini. Sudah hampir tiga belas tahun dia tidak pernah bertemu dengan dua orang adik kandung lain ayah itu.

Seperti yang telah diceritakan dalam kisah Pendekar Lembah Naga, Kui Lan dan Kui Lin adalah adik-adiknya seibu berlainan ayah dan mereka berdua telah menikah. Perjumpaan Sin Liong dengan dua orang adiknya ini adalah ketika dia hadir dalam upacara pernikahan mereka.

Untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan dua orang wanita kembar ini, sebaiknya kita menengok keadaan mereka di Su-couw. Seperti yang telah diceritakan dalam kisah Pendekar Lembah Naga, mendiang Kui Hok Boan, yaitu ayah tiri Sin Liong atau ayah kandung Kui Lan dan Kui Lin, bersama anak-anaknya itu pindah ke Su-couw atau lebih tepat lagi di dalam keadaan tidak waras ingatannya dibawa pergi ke Su-couw oleh dua orang puteri kembarnya itu.

Kebetulan sekali, puteranya yang bernama Beng Sin, atau kakak satu ayah berlainan ibu dari Lan dan Lin, juga berada di Su-couw dan Kui Beng Sin ini, putera Kui Hok Boan dari wanita lain lagi, juga menikah dengan seorang gadis Su-couw, bernama Ciok Siu Lan, putera seorang piauwsu dari Hek-eng-piauwkiok di Su-couw. Semua ini telah diceritakan di dalam kisah Pendekar Lembah Naga.

Kui Lan telah menikah dengan Ciu Khai Sun, seorang pendekar murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa dan bertubuh tinggi besar seperti tokoh Si Jin Kui. Sedangkan Kui Lin, adik kembarnya, menikah dengan Na Tiong Pek yang masih terhitung suheng dari Bi Cu di waktu mereka masih kecil, karena sejak kecil Bi Cu dirawat dan dididik oleh ayah dari Na Tiong Pek ini.

Setelah menikah, Kui Lan ikut dengan suaminya, yaitu Ciu Khai Sun yang tetap tinggal di Su-couw, di rumah yang diberikan pamannya kepadanya. Adapun Kui Lin ikut suaminya, Na Tiong Pek yang memiliki perusahaan piauwkiok juga, yaitu Ui-eng Piauwkiok di kota Kun-ting, Propinsi Ho-pei. Maka berpisahlah dua orang wanita kembar itu ketika mereka menikah.

Akan tetapi perpisahan itu tidak lama, hanya berjalan satu tahun. Hal ini adalah karena Ciu Khai Sun agak sulit memperoleh pekerjaan yang cocok dengan kepandaiannya, yaitu kepandaian silat tinggi yang dilatihnya semenjak dia masih kecil. Sedangkan di lain fihak, Na Tiong Pek juga membutuhkan bantuan orang pandai untuk memperkuat perusahaan piauwkiok (ekspedisi, pengawal barang).

Oleh karena itu, dalam pertemuan di antara mereka, Na Tiong Pek membujuk Ciu Khai Sun agar ipar ini suka membantunya. Dua orang wanita kembar itu ikut membujuk karena sebagai saudara kembar, tentu saja mereka akan merasa lebih senang kalau dapat hidup bersama, atau setidaknya tinggal di satu kota sehingga lebih mudah bagi mereka untuk saling berkunjung. Akhirnya, Ciu Khai Sun menerima bujukan Na Tiong Pek ini, apa lagi mengingat bahwa baginya, pekerjaan menjadi piauwsu tentu saja sangat cocok, sesuai dengan kepandaiannya.

Bukan main girangnya hati Na Tiong Pek setelah Khai Sun bekerja membantunya. Khai Sun adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang sangat lihai, jauh lebih lihai dari pada dia sendiri, oleh karena itu, masuknya Khai Sun di Ui-eng Piauwkiok tentu saja memperkuat nama piauwkiok-nya dan dia tidak takut lagi perusahaannya akan mengalami gangguan dari para penjahat karena ada jagoan yang boleh diandalkan. Maka selain memberi upah yang amat besar kepada Khai Sun, dia juga bahkan menarik Khai Sun sebagai pesero, dan menyerahkan kekuasaan kepada Khai Sun sebagai wakil ketua atau orang ke dua di dalam piauwkiok itu setelah dia sendiri.

Pada permulaannya, perpindahan Khai Sun ke Kun-ting itu berjalan lancar hingga kedua keluarga ini merasa berbahagia, terutama sekali Kui Lan dan Kui Lin. Sesudah Kui Lan pindah ke Kun-ting dan tinggal di sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari rumah adik kembarnya, setiap hari mereka pun dapat saling berkunjung dan tentu saja bagi mereka berdua yang memiliki pertalian batin yang lebih kuat dari pada saudara-saudara biasa, hal ini amat membahagiakan.

Akan tetapi, kehidupan manusia di dunia ini tidaklah kekal, dan kebahagiaan atau yang dianggap sebagai kebahagiaan pun tidak kekal adanya, sungguh pun segala peristiwa itu merupakan akibat dari pada ulah manusia itu sendiri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner