PENDEKAR SADIS : JILID-05


Khai Sun yang merasa ‘ditolong’ oleh adik iparnya itu, bekerja keras dan tidak mengenal lelah. Dia mengawal sendiri semua barang kiriman yang cukup berharga, apa lagi kalau harus melalui tempat-tempat berbahaya. Beberapa kali rombongan pengawal ini diganggu penjahat, namun gangguan dapat disapu bersih oleh Khai Sun yang gagah perkasa.

Tentu saja Na Tiong Pek menjadi girang bukan main dan amat berterima kasih, sehingga setiap kali Khai Sun pulang dari perjalanan jauh setelah mengawal barang berharga, tentu disambutnya dengan pesta kehormatan yang dirayakan oleh mereka berempat bersama para pembantu piauwkiok yang penting-penting saja.

Dengan adanya Khai Sun, perusahaan itu memperoleh kemajuan pesat sekali, mendapat kepercayaan dari para bangsawan dan hartawan yang mengirim barang atau melakukan perjalanan bersama keluarga mereka dan membutuhkan pengawalan yang kuat. Tentu saja keuntungan yang mereka peroleh menjadi semakin besar sehingga dalam waktu satu tahun saja Khai Sun sudah mampu membangun rumahnya dan hidup serba kecukupan. Pendeknya dua keluarga ini menjadi semakin makmur.

Akan tetapi, hal yang buruk adalah bahwa dengan adanya Khai Sun, Tiong Pek menjadi keenakan dan malas! Dia menyerahkan urusan-urusan penting kepada kakak ipar itu, ada pun dia sendiri bermalas-malasan dan dalam keadaan makmur ini, timbullah pula penyakit yang memang sejak muda mengeram dalam sanubari Na Tiong Pek.

Dia mulai mengejar kesenangan, terutama sekali mencari hiburan di antara wanita-wanita cantik dengan mempergunakan hartanya. Memang sejak muda remaja dahulu, Na Tiong Pek memiliki kelemahan terhadap wajah cantik wanita. Kini, setelah makmur dan banyak menganggur, mulailah dia mengumbar hawa nafsunya.

Hal ini lambat-laun diketahui oleh isterinya dan Kui Lin mulai merasa sakit hati dan marah. Dengan marah dia menegur suaminya dan setiap kali ditegur oleh isterinya, Na Tiong Pek kelihatan jinak di rumah dan tidak berani banyak keluar. Akan tetapi, diam-diam hatinya tersiksa dan nafsunya bergulung-gulung di dalam batin.

Karena halangan ini, maka mulailah dia menujukan pandangan matanya yang ceriwis dan mata keranjang itu kepada Kui Lan! Memang dua orang saudara kembar ini hampir setiap hari saling mengunjungi, bahkan bila mana Khai Sun sedang melakukan tugas mengawal barang yang jauh sehingga sampai beberapa hari meninggalkan rumah, Kui Lan kadang-kadang suka bermalam di rumah adik kembarnya.

Wajah keduanya hampir tiada bedanya, dan sesungguhnya, tidak ada sesuatu pada diri Kui Lan yang tidak ada pada diri Kui Lin. Daya tarik, kecantikan dan kemanisan mereka itu sesungguhnya tidak berbeda. Akan tetapi tetap saja Kui Lan lebih menggairahkan bagi Tiong Pek!

Memang beginilah watak manusia pada umumnya. Buah pisang yang tumbuh di kebun orang lain nampaknya lebih lezat dari pada buah pisang di kebun sendiri. Bunga mawar di taman orang nampak lebih indah dan harum dari pada bunga mawar di taman sendiri. Isteri orang nampak lebih menggairahkan dari pada isteri sendiri! Padahal, Kui Lan dan Kui Lin hampir sama segala gerak-geriknya.

Semenjak kecil manusia telah terdidik untuk menjangkau yang lebih, yang dianggap lebih menyenangkan dari pada apa yang sudah ada! Oleh karena inilah, tanpa disadari sejak kecil manusia telah terdidik untuk tidak menghargai apa yang telah dimilikinya. Matanya selalu tertuju ke luar, kepada apa yang belum ada, yang belum dimilikinya. Selalu ingin lebih pandai, ingin lebih besar, ingin lebih tinggi, lebih kaya, lebih senang, lebih bahagia, dan segala yang ‘lebih’ lagi.

Semua keinginan ini menciptakan perasaan kurang puas dan tidak dapat menikmati apa yang ada, dan semua keinginan ini dihias dengan sebutan-sebutan indah seperti cita-cita, kemajuan dan sebagainya. Padahal, menginginkan sesuatu yang belum ada dan belum dimilikinya ini menjadi pangkal segala macam perbuatan jahat, korupsi, dan sebagainya, karena dorongan keinginan untuk memperoleh sesuatu yang belum dimilikinya itu akan membutakan mata batin sehingga tidak segan-segan lagi untuk melakukan pelanggaran apa pun demi memperoleh yang diidam-idamkannya.


Na Tiong Pek mulai dimabuk nafsunya sendiri. Dalam penglihatannya, segala gerak-gerik Kui Lan nampak luar biasa manis dan cantiknya, bagaikan bidadari yang baru turun dari sorga saja! Dengan berbagai akal mulailah dia mendekati Kui Lan, dengan sikap yang luar biasa manisnya, dengan pancingan-pancingan omongan.

Akan tetapi, Kui Lan adalah seorang wanita yang mencinta suaminya dan keras hati, dan tidak mudah ditundukkan oleh rayuan dan sikap manis. Juga dia tidak memiliki sangkaan buruk, mengira bahwa memang suami adik kembarnya itu seorang yang manis budi dan amat ramah!

Dorongan nafsu birahi yang semakin diperkuat oleh khayal pikirannya, membayangkan betapa nikmat dan senangnya kalau dia dapat berhasil memiliki tubuh Kui Lan, membuat Tiong Pek menjadi semakin nekat. Pada suatu hari, dia melihat Kui Lan seorang diri di ruangan belakang, sedang menyulami kain yang akan dipergunakannya untuk alas meja di rumahnya.

Hawa pada siang hari itu agak panas sedangkan isterinya, Kui Lin, tengah tidur siang di kamarnya. Hawa yang panas dan ketekunannya menyulam membuat wajah Kui Lan yang menunduk dan terus memperhatikan sulamannya itu kemerahan dan ada sedikit keringat membasahi dahi dan lehernya. Jari-jari tangannya yang mungil dan runcing itu bergerak cekatan sekali, menggerakkan jarum sulam dan saking asyiknya, wanita muda ini bekerja sambil menggigit bibir bawahnya. Kadang kala dia berhenti untuk menghapus peluh dari dahi dan lehernya, membuka sedikit belahan baju di leher sehingga nampak kulit lehernya yang putih mulus dan berkilat karena agak basah oleh keringat itu.

Kui Lan sama sekali tidak sadar bahwa dari balik pintu, sepasang mata mengikuti gerak-geriknya dengan berkilat-kilat penuh nafsu! Mata itu adalah milik Na Tiong Pek yang pada siang hari itu timbul kembali gairahnya, apa lagi melihat isterinya sedang tidur dan wanita yang membuatnya tergila-gila, yaitu kakak kembar isterinya, sedang berada di ruangan itu sendirian saja!

Kebetulan sekali Kui Lan juga mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh isterinya! Memang, semenjak Kui Lan tinggal satu kota, apa lagi kalau kebetulan Kui Lan tinggal di rumah Kui Lin selagi suaminya bertugas keluar kota, seperti hari ini, Kui Lan dan Kui Lin hampir selalu mengenakan pakaian yang sama.

Inilah kesempatan baik bagiku, pikir Tiong Pek, untuk mempergunakan kesempatan itu, menyampaikan gairah nafsunya dan juga sekaligus untuk ‘menguji’ isi hati Kui Lan! Telah diperhitungkan baik-baik apa yang hendak dilakukan, dan semua kecerdikan serta akal ini timbul pada waktu nafsu mendorongnya dan membuatnya menjadi buta akan segala hal, karena dalam dorongan gairah nafsu, yang ada hanyalah melaksanakan dan memuaskan hasrat keinginannya itu saja!

Tentu saja dia tidak berani menggunakan kekerasan terhadap Kui Lan. Pertama, karena wanita ini mempunyai kepandaian silat yang cukup tinggi dan dia sendiri belum tentu akan dapat mengatasinya, apa lagi kalau diingat bahwa suami wanita ini lihai bukan kepalang! Tidak, dia tidak akan begitu bodoh, pikirnya, dan mulailah dia melaksanakan siasat cerdik yang diaturnya dengan cepat itu.

Dengan hati-hati sekali, sambil mengindap-indap, degup jantungnya terdengar memenuhi kedua telinganya akibat tegang, dia menghampiri wanita itu dari arah belakang. Hati-hati sekali dia berjalan mengelilingi meja kursi sampai akhirnya dia berdiri di belakang Kui Lan yang masih menyulam dan duduk di atas bangku itu. Tiong Pek menahan napas, lantas dengan tiba-tiba saja dia merangkul leher yang berkuiit putih mulus itu, kedua tangan merangkul pundak dan dia berbisik mesra,

“Lin-moi, isteriku sayang… ahhh, betapa aku cinta padamu…”

Tentu saja Kui Lan terkejut bukan main. Kain yang disulamnya terlepas dan dia cepat mengangkat muka. Akan tetapi, sebelum dia sempat bicara, tahu-tahu Tiong Pek sudah mencium mulutnya yang setengah terbuka, membuat dia tak dapat mengeluarkan suara!

Saking kagetnya, Kui Lan seperti menjadi kaku seketika, semangatnya melayang dan dia hampir pingsan! Akan tetapi dia sadar kembali dan cepat dia mendorong dengan kedua tangannya pada dada Tiong Pek kemudian meloncat berdiri, mukanya merah sekali dan matanya terbelalak.

“Aih, isteriku… aku… aku ingin sekali…” Tiong Pek terus bersandiwara, masih menikmati ciuman yang dicurinya dan dilakukannya semesra-mesranya tadi.

“I-thio… ini aku… Kui Lan…!” Kui Lan akhirnya mampu berkata dan muka yang tadinya merah seperti udang direbus itu berubah pucat sekali ketika dia teringat apa yang sudah dilakukan oleh iparnya itu kepadanya tadi.

Tiong Pek pandai bersandiwara. Dia segera terbelalak, melangkah mundur tiga langkah, memandang penuh perhatian, kemudian dia menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan kaki Kui Lan!

“Ahh… Lan-i… maafkan aku… ampunkan aku… ahhh, kusangka bahwa engkau adalah Lin-moi isteriku… ahhh, sungguh aku menyesal sekali…”

Sepasang kaki Kui Lan masih menggigil, jantungnya berdebar keras dan tubuhnya terasa panas dingin. Betapa pun juga, dia telah dapat menguasai dirinya, maklum bahwa iparnya ini sudah keliru sangka dan salah mengenal orang.

Memang sering kali iparnya ini keliru, kadang kala mengajaknya bicara sebagai isterinya! Dia tidak tahu bahwa hal itu memang disengaja oleh Tiong Pek yang sesungguhnya dapat membedakan mereka dengan baik! Bahkan sepekan yang lalu, pernah Tiong Pek bicara kepadanya sambil berbisik,

“Isteriku, terima kasih semalam tadi engkau sungguh mesra…,” dan tentu saja ucapan itu membuat Kui Lan menjadi merah mukanya dan cepat memperkenalkan diri.

Semua kesalahan sangka dari Tiong Pek itu tentu saja membuat Kui Lan mengerti bahwa sekali ini pun Tiong Pek sudah salah lihat, jadi tidak mungkin dia terlalu menyalahkannya! Kini, melihat suami adiknya itu berlutut dan minta ampun, maka lenyaplah kemarahannya, meski pun dia merasa betapa perbuatan tadi sungguh sudah keterlaluan sekali dan akan terjadi geger kalau sampai terlihat oleh orang lain. Bayangkan saja andai kata Kui Lin atau suaminya melihat dia dicium seperti itu oleh Tiong Pek!

“I-thio (sebutan untuk suami saudara perempuan), lain kali engkau jangan begitu ceroboh!” tegurnya.

“Maaf, I-i… maaf, ah, aku layak mampus! Mataku seperti telah buta… akan tetapi sudilah engkau memaafkan aku dan tidak memberitahukan kebodohanku ini kepada orang lain…”

“Tentu saja… asal lain kali engkau jangan begitu ceroboh lagi, I-thio,” kata Kui Lan yang segera meninggalkan laki-laki yang masih berlutut itu.

Pengalaman ini membuat gairah nafsu di dalam hati Tiong Pek semakin berkobar-kobar! Dia menganggap bahwa ketidak marahan Kui Lan itu sebagai tanda bahwa wanita itu secara diam-diam memang menyambut cintanya! Dan dia seperti masih terus merasakan kelembutan bibir Kui Lan yang diciumnya tadi. Semakin dibayangkan, semakin mesra dan menyenangkan pengalaman itu, makin mendesaknya untuk mendapatkan yang lebih dari pada itu!

Demikianlah terciptanya gelora segala macam nafsu dan gairah. Dari pikiran kita! Pikiran mengunyah-ngunyah pengalaman dalam kenangan, memupuk dan bahkan membumbui dengan khayalan sehingga pengalaman yang menyenangkan itu dianggap semakin hebat lagi, memiliki daya tarik yang amat kuat sehingga mendorong kita untuk mengulangnya.

Kenikmatan yang pernah dirasakan itu dikunyah-kunyah, terbayang semakin nikmat dan timbul keinginan untuk mengalami kembali yang membuat kita mengejar-ngejar hal yang merupakan bayangan kesenangan hebat itu.

Pikiran adalah sumber segala macam nafsu keinginan, hal ini dapat dilihat dengan jelas. Pikiran yang membayangkan kembali hal-hal yang lalu, mengenang kembali hal-hal yang menyenangkan, dan pikiran pula yang membayangkan hal-hal yang belum ada, selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang amat hebat, nikmat dan menyenangkan.

Pikiran menimbulkan nafsu-nafsu. Pikiran pula yang membanding-banding, menimbulkan perasan iri. Pikiran pula yang membayangkan hal-hal yang belum ada, hal-hal buruk yang mungkin menimpa kita, menimbulkan rasa takut. Dapatkah kita bebas dari pada pikiran yang mengenang-ngenang itu?

Bukan berarti kita tidak harus menggunakan pikiran. Pikiran mutlak perlu bagi kehidupan kita, namun pada tempatnya yang benar, dalam melakukan pekerjaan dan sebagainya. Akan tetapi, sekali kita membiarkan pikiran mengenang-ngenang, membanding-banding, memasuki hati dan merasuk urusan batin, maka akan terjadilah kekacauan dan segala nafsu-nafsu yang menguasai semua tindakan kita akan bangkit.


Makin dibayangkan oleh Tiong Pek, makin hebatlah pengalaman tadi, mendorong hatinya untuk memperoleh yang lebih dari itu!

Nafsu birahi, seperti segala macam nafsu-nafsu keinginan untuk memperoleh kepuasan dan kesenangan, amatlah kuatnya hingga kadang-kadang membutakan mata kita, mata lahir mau pun mata batin. Yang nampak hanyalah bayangan kesenangan itu saja, yang terlihat amat menyilaukan.

Apa lagi karena sudah beberapa pekan ini isterinya sering kali kelihatan tidak senang dan marah-marah padanya, berhubung dengan seringnya dia keluar rumah dan mengumbar kesenangan di luar rumah.

Sementara itu, pengalaman tadi membuat Kui Lan menjadi tidak tenang. Ada kemarahan berkobar di dadanya, kalau saja dia tidak yakin benar bahwa Tiong Pek memang salah mengenalnya dan menyangka dia Kui Lin, tentu dia telah turun tangan dan agaknya mau rasanya dia membunuh pria itu! Mengingat akan ciuman yang begitu mesra, begitu penuh nafsu, mukanya menjadi panas sekali rasanya.

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia akan marah atau menyatakan kemarahannya secara berterang? Tiong Pek tidak sengaja, jadi tidak bisa terlalu disalahkan. Dan di samping itu, Tiong Pek adalah penolongnya, penolong suaminya yang telah berjasa dalam mengangkat kehidupan suaminya!

Dan juga, kalau peristiwa yang terjadi tadi, yaitu peristiwa yang terjadi di luar kesengajaan dan hanya akibat kesalahan Tiong Pek mengenalnya saja, sampai terdengar oleh Kui Lin, bukankah hal itu berarti bahwa dia akan menyakiti hati adik kembarnya itu? Dan mungkin sekali rumah tangga adiknya akan menjadi retak!

Dia tahu bahwa suaminya adalah seorang bijaksana dan andai kata suaminya mendengar akan hal itu, dengan hatinya yang amat terbuka dan jujur itu tentu suaminya hanya akan tertawa dan menganggap hal itu sangat lucu. Suaminya amat mencintanya dan dia tahu bahwa cinta suaminya itu bersih, tanpa cemburu seperti cintanya kepada suaminya.

Betapa pun juga, peristiwa itu membuat Kui Lan merasa tubuhnya lemas karena terjadi keguncangan di dalam hatinya, terjadi pertentangan-pertentangan serta tekanan-tekanan. Oleh sebab itu, setelah makan malam bersama adik kembarnya, dia terus saja memasuki kamarnya dengan dalih bahwa kepalanya terasa agak pening. Kui Lan tidak ingin gejolak batinnya akan nampak pada wajahnya sehingga Kui Lin yang sangat peka perasaannya terhadap dia itu akan bertanya-tanya.

Andai kata pada siang harinya dia tidak sudah berjanji akan tidur di rumah adiknya ini, tentu dia akan pulang saja. Akan tetapi, apa bila mendadak menyatakan pulang padahal suaminya belum kembali dari perjalanan keluar kota, tentu malah akan mendatangkan kecurigaan Kui Lin saja!

Demikianlah, sore-sore dia sudah memasuki kamarnya dan kelelahan batin membuat dia bahkan cepat tidur pulas. Kalau Kui Lan dapat tidur nyenyak dengan mudahnya karena batinnya lelah, ada pun Kui Lin juga dapat tidur nyenyak karena tak menyangka sesuatu, adalah Tiong Pek yang gelisah hingga sama sekali tak dapat tidur di samping isterinya.

Hati dan pikirannya penuh dengan bayangan peristiwa siang tadi ketika dia mencium bibir Kui Lan! Dan memang semenjak siang tadi dia telah mengatur rencana! Khai Sun sedang bertugas jauh, sedikitnya lima hari lagi baru akan pulang. Dan Kui Lan berada di situ, di dalam kamar sendirian saja, dan melihat gelagatnya siang tadi, agaknya Kui Lan mudah memaafkannya dan tidak marah, tentu wanita itu pun menderita kesepian dan akan mau menerimanya dengan girang biar pun di luarnya kelihatan marah! Sejak siang tadi semua ini terbayang di dalam benaknya dan diam-diam dia pun telah mengatur rencana sebaik-baiknya.

Ketika dia melihat bahwa isterinya sudah tidur nyenyak, hal ini mudah diketahuinya dari pernapasan yang halus sejak tadi, dengan hati-hati sekali dia lalu turun dari pembaringan! Ketika itu sudah lewat tengah malam dan keadaan sudah amat sunyi. Hawa yang masuk ke dalam kamar melewati lubang-lubang di atas jendela mendatangkan hawa dingin yang membuat Kui Lin tidur semakin nyenyak lagi.

Dengan berjingkat-jingkat akhirnya Na Tiong Pek dapat keluar dari kamarnya, kemudian menghampiri kamar di mana Kui Lan tidur sendirian. Sebenarnya kamar itu tidak berapa jauh letaknya dari kamar Kui Lin, akan tetapi karena nafsu birahi sudah memuncak dan membikin mata buta, Tiong Pek tidak peduli akan semua kenyataan ini.

Suasana amat sunyi dan semua pelayan sudah tidur di bagian belakang. Dengan hati-hati dia menghampiri kamar Kui Lan, lantas mendengarkan di dekat jendela kamar. Dia tahu bahwa pembaringan di dalam kamar itu berada di dekat jendela. Dengan mencurahkan perhatiannya, dia dapat menangkap pernapasan halus dan tahulah dia bahwa wanita itu pun telah tidur.

Dengan jari-jari tangan gemetar dan jantung berdebar penuh ketegangan dan nafsu, dia kemudian mengeluarkan tiga batang hio (dupa biting) dan dinyalakannya dupa-dupa itu, lalu dupa-dupa yang bernyala itu dia sisipkan di antara celah-celah jendela, dimasukkan ke dalam kamar sehingga kini tiga batang dupa itu melepaskan asapnya yang harum ke dalam kamar. Sambil tersenyum simpul Tiong Pek memegang ujung biting dupa itu di luar jendela. Matanya berkilat-kilat dan bibirnya agak gemetar tanda bahwa hatinya tegang sekali.

Sesungguhnya Tiong Pek bukanlah sebangsa penjahat yang suka mempergunakan asap pembius. Tetapi pekerjaannya sebagai piauwsu membuat dia banyak berkenalan dengan penjahat-penjahat dan dari seorang Jai-hoa-cat yang juga seorang maling dia mendapat hio-hio itu. Jai-hoa-cat (penjahat tukang memperkosa wanita) itu mempergunakan asap hio untuk membius pemilik rumah yang akan dimalinginya, atau wanita dalam kamar yang akan diperkosanya.

Kini, dalam keadaan buta oleh gejolak nafsu birahi, Tiong Pek mempergunakan alat yang keji ini untuk mengirim asap hio pembius ke dalam kamar Kui Lan! Dia membiarkan hio itu terbakar sampai habis. Dengan girang dia mula-mula mendengar suara Kui Lan terbatuk-batuk, kemudian pernapasan wanita itu terdengar makin berat dan panjang, tanda bahwa wanita itu sudah terbius dan berada dalam keadaan pulas benar-benar!

Maka dia pun lalu membuka jendela itu, dan menggunakan sapu tangan basah menutupi hidung dan mulutnya, memasuki kamar dan menggunakan jubahnya untuk mengusir asap yang memenuhi kamar itu keluar.

Setelah asap yang mengandung bius itu terbang keluar dan kamar itu bersih kembali, dia lalu menutupkan lagi daun pintu, tetapi dalam keadaan tergesa-gesa dan tegang, dia tidak menguncikan daun jendela, hanya merapatkannya saja.

Kamar itu gelap, hanya mendapat penerangan dari luar sehingga agak remang-remang. Dia melihat tubuh Kui Lan sudah rebah terlentang dan hatinya tidak dapat menahan lagi. Ditubruknya wanita itu dengan penuh gairah dan Kui Lan tidak mampu bergerak melawan, bahkan dia berada dalam keadaan tidak sadar sehingga mudah bagi Na Tiong Pek untuk melakukan apa saja sesuka hatinya. Maka terjadilah peristiwa yang kotor dan menjijikkan di dalam kamar itu, menimpa diri Kui Lan yang berada dalam keadaan tidak sadar sama sekali akan apa yang terjadi pada dirinya.

Nafsu membuat manusia menjadi lupa segala, dan celakanya, makin dituruti nafsu itu, bukannya dia mereda, bahkan menjadi semakin berkobar dan selalu menghendaki yang lebih lagi dari pada yang telah didapatkannya!

Na Tiong Pek lupa diri sehingga sampai malam terganti pagi, dia masih berada di dalam kamar itu. Dia lupa bahwa dia sudah mengusir keluar asap bius sehingga kekuatan obat bius itu tidak bertambah dan kini mulailah Kui Lan bergerak dan mengeluh. Akan tetapi hal ini tidak menakutkan Tiong Pek yang mengira bahwa setelah kini dia berhasil memiliki tubuh Kui Lan tentu wanita ini akan menyerahkan diri dengan suka rela! Maka dia pun masih memeluk tubuh wanita itu.

Kui Lan membuka matanya dan mula-mula dia tidak sadar, mengira bahwa dia berada di dalam pelukan suaminya. Akan tetapi ketika di dalam cuaca yang remang-remang itu dia melihat wajah pria yang merangkulnya, dia pun menjerit dan meronta, lalu bangkit duduk! Dapat dibayangkan betapa kagetnya pada saat dia mengenal Na Tiong Pek dan melihat betapa tubuhnya tidak berpakaian sama sekali, seperti juga tubuh Na Tiong Pek! Seketika tahulah dia apa yang telah terjadi!

“Jahanam! Keparat hina-dina… ouhhhh, engkau jahanam laknat…!” Kui Lan menjerit-jerit.

Tanpa mempedulikan dirinya yang masih telanjang bulat, dia sudah menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat ke arah kepala dan dada Na Tiong Pek! Mula-mula Na Tiong Pek tersenyum pada saat melihat Kui Lan terbangun, akan tetapi alangkah kagetnya melihat reaksi wanita ini.

“I-i… eh, Kui Lan… sssttt, jangan ribut… sudah terlanjur… aku… aku cinta padamu…”

“Jahanam…!”

Kui Lan menyerang lagi saat pria itu mengelak. Maka kini terjadilah perkelahian di dalam kamar itu, perkelahlan yang terjadi dengan seru antara dua orang yang sama sekali tidak berpakaian!

“Ssst, Kui Lan… kau akan mengejutkan semua orang… kita berpakaian dahulu…” Tiong Pek membujuk dan mulai merasa khawatir, akan tetapi Kui Lan terus saja menyerangnya sambil menangis.

“Dukkk!”

Sebuah tendangan kaki Kui Lan mengenai paha Tiong Pek sehingga pria ini terhuyung ke belakang dan terguling ke atas pembaringan. Kui Lan mengejar, menubruk dengan kedua tangan menghantam sekuatnya.

“Bukkk!”

Hanya bantal dan kasur yang kena dihantamnya karena Tiong Pek sudah menggulingkan tubuhnya turun dari pembaringan dan sekarang karena dia didesak dan diserang secara bertubi-tubi, dia mencari jalan untuk melarikan diri. Akan tetapi celakanya, Kui Lan terus menyerangnya dan agaknya Kui Lan juga tahu akan maksudnya, maka wanita itu selalu mencegahnya melarikan diri melalui jendela atau pintu.

“Kui Lan… aduhhh, Kui Lan… sudah terlanjur… mengapa engkau mengamuk…?” Tiong Pek menjadi takut sekali.

“Brakkkkk…!”

Mendadak daun pintu terpental dan terbuka, dan tubuh Kui Lin sudah meloncat masuk. Wanita ini membawa pedang dan wajahnya agak pucat. Dia tadi terkejut bukan kepalang saat mendengar suara ribut-ribut, kemudian cepat mengambil pedang dan melihat bahwa suaminya tidak berada di sisinya, maka dia pun cepat berlari keluar.

Mendengar suara perkelahian di dalam kamar enci-nya, dia cepat menerjang jendela dan memasuki kamar itu. Biar pun cuaca remang-remang, akan tetapi Kui Lin dapat melihat betapa suaminya yang telanjang bulat itu diserang dengan gencar oleh enci-nya yang juga bertelanjang bulat!

“Apa… apa yang terjadi…?” tanyanya dengan suara gemetar. “Enci Lan… apa yang telah terjadi…?” Dia bertanya sambil memandang mereka berganti-ganti, seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan diduganya.

Tiba-tiba Kui Lan menangis, mengguguk menutupi mukanya. “Hu-huu-huuuhh… dia… dia membiusku dan… dan… menodaiku… hu-hu-huuuhh…”

Pengakuan ini bagai sebatang pedang yang menusuk jantung Kui Lin. Wajahnya menjadi semakin pucat dan matanya terbelalak memandang ke arah suaminya.

“Kau… kau… jahanam busuk…!” Dan Kui Lin langsung menerjang ke depan, menusukkan pedangnya ke arah dada suaminya!

“Eeiiiiitt… sabar dulu, Lin-moi…!” Tiong Pek mengelak dan dengan gugup menyabarkan isterinya. Akan tetapi alasan apa yang dapat dikemukakannya? Dia tertangkap basah dan tidak mungkin lagi dia mengatakan salah lihat!

“Sabar? Manusia berhati binatang, engkau sudah merusak segala-galanya, engkau layak mampus!” Dan Kui Lin kembali menerjang dengan pedangnya.

Na Tiong Pek menyambar bangku dan menangkis, kemudian terpaksa balas menyerang. Ketika melihat betapa pria yang sudah menodainya itu malah berani menyerang Kui Lin, kemarahan Kui Lan memuncak dan dia pun menyambar pedang yang digantungkannya di dalam kamar itu. Dia memang masih membawa pedang kalau datang bertamu karena dia sering kali berlatih pedang dengan adik kembarnya. Sekarang tanpa kata-kata lagi dia pun membantu adiknya menyerang Na Tiong Pek!

Tentu saja Tiong Pek menjadi bingung bukan main, dan karena bujukan-bujukannya dan permohonan ampunnya tidak berhasil, dia pun lantas melawan sekuat tenaga. Akan tetapi dengan kecepatan bagai kilat, ujung pedang Kui Lan berhasil menusuk lengannya hingga membuat bangku itu terlepas dari pegangannya dan saat itu, pedang Kui Lin menyambar dan menusuk memasuki perutnya!

“Aduhhh…!” Tiong Pek terhuyung dan hendak lari ke pintu, akan tetapi pedang di tangan Kui Lan menyambar dan menusuk dada sehingga menembus jantung! Dia roboh terkapar dan darah bercucuran dari perut dan dadanya.

Melihat ini, kedua orang wanita itu saling memandang dan terbelalak. Kemudian Kui Lan melepaskan pedangnya dan berbisik, “Ya Tuhan… kita… kita telah membunuhnya…”

Kui Lin bersikap tenang. Dia melemparkan pedangnya dan berkata. “Memang dia sudah layak mampus! Enci Lan, cepat berpakaian!” katanya.

Baru teringat oleh Kui Lan bahwa dia masih telanjang bulat, maka sambil terisak dia lalu mengenakan pakaiannya. Dengan air mata bercucuran Kui Lin juga mulai mengenakan pakaian suaminya pada mayat suaminya yang mandi darah.

Sesudah selesai, kembali mereka saling pandang dan melihat wajah masing-masing yang pucat dan basah. Serentak keduanya saling tubruk dan saling rangkul sambil menangis sesenggukan dengan hati hancur luluh.

Tiba-tiba saja Kui Lan merenggutkan rangkulannya dan melangkah mundur, memandang adiknya dengan dua mata terbelalak, kemudian berkata dengan bisikan parau, “Aku layak mati…” Dia mengambil pedangnya yang berada di atas lantai dan menggunakan pedang itu untuk menggorok leher sendiri!

“Enci Lan…!”

Dengan cepat sekali Kui Lin sudah menubruk, merampas pedang dan membuang pedang itu ke atas pembaringan. “Apa yang akan kau lakukan ini?” bentaknya.

Kui Lan menangis. “Untuk apa aku hidup lagi…? Aku sudah ternoda… bahkan aku telah membunuh suamimu… aku telah menghancurkan kebahagiaanmu… dan aku layak mati, jangan kau halangi aku…” Kui Lan meronta.

Akan tetapi Kui Lin memeluknya dengan ketat sambil menangis, tidak mau membiarkan enci-nya melepaskan diri. “Enci Lan, jangan… jangan kau lakukan itu…”

“Apa gunanya aku hidup lebih lama? Dia… dia membiusku dengan asap harum… dan dalam keadaan tak sadar dia… dia menodaiku… Adikku, apa gunanya lagi aku hidup dan bagaimana aku dapat menghadapi suamiku?”

“Enci Lan, apakah hanya dirimu sendiri saja yang engkau pikirkan?” Tiba-tiba saja Kui Lin melepaskan rangkulannya. “Sekarang, sesudah apa yang terjadi, kau hendak membunuh diri? Enak saja engkau, mau melarikan diri dan kemudian membiarkan aku hidup sendiri menanggung semua aib ini di pundakku? Dia akan mati dalam caci-maki orang, dikatakan manusia jahanam, dan engkau akan mati dalam keadaan terhormat, sebagai isteri yang setia dan baik, tapi aku? Aku akan hidup menjadi cemoohan kanan kiri! Sekejam itukah hatimu padaku, Enci Lan? Apakah kau kira hatiku tidak hancur lebur dengan terjadinya peristiwa ini? Dan aku pula yang telah kehilangan suami, kehilangan rumah tangga, dan kehilangan kebahagiaan? Engkau mau lari meninggalkan aku hidup menderita seorang diri? Nah, kalau memang engkau sekejam itu, lakukanlah niatmu, biar aku yang… hidup… merana dan menanggung semua aib…!”

Kui Lin menangis tersedu-sedu, ada pun Kui Lan berdiri dengan muka pucat memandang adiknya. Baru dia sadar bahwa penderitaan batin adiknya itu sebenarnya jauh lebih hebat dari pada dia!

“Lin-moi…!” Dia menubruk dan keduanya sudah saling merangkul dan bertangisan lagi.

Sementara itu, di luar kamar mulai terdengar suara ribut-ribut karena para pelayan sudah terbangun akibat mendengar suara ribut-ribut itu. Mendengar ini, Kui Lin lantas merangkul kakaknya dengan erat sambil berbisik, “Enci, apa pun yang terjadi sekarang, kita hadapi berdua, hidup atau mati. Setuju?”

Kui Lan mengangguk pasrah.

“Kalau begitu, serahkan segala-galanya padaku,” bisik Kui Lin lagi dan dia pun membuka daun pintu dan masih dalam keadaan menangis.

Juga Kui Lan hanya bisa menangis di belakang Kui Lin. Pada saat para pelayan melihat keadaan dalam kamar itu yang awut-awutan seperti bekas dipakai berkelahi, dan melihat majikan mereka menggeletak di atas lantai mandi darah, mereka menjadi terkejut sekali. Para pelayan wanita menjerit dan menangis.

Sambil terisak Kui Lin lalu menceritakan kepada mereka bahwa semalam rumah mereka didatangi penjahat. Penjahat itu hendak mencuri dan memasuki kamar di mana Kui Lan tidur. Kui Lan terbangun dan melawan penjahat sambil berteriak-teriak. Dia dan suaminya terbangun dan membantu Kui Lan.

“Akan tetapi penjahat itu lihai sekali, suamiku roboh dan tewas sedangkan kami berdua tidak mampu menangkapnya.”

Cerita nyonya majikan mereka itu tentu saja mereka percaya sepenuhnya dan seisi rumah lalu sibuk merawat jenazah itu sehingga pagi hari itu jenazah sudah dimasukkan ke dalam peti dan semua orang bersembahyang dan berkabung. Peti jenazah itu tidak akan dikubur sebelum Ciu Khai Sun pulang.

Selama menunggu pulangnya suaminya ini, jantung Kui Lan berdebar penuh ketegangan, kekhawatiran serta kedukaan. Hanya berkat adanya Kui Lin saja maka wanita ini tidak mengambil keputusan nekat. Rasanya dia tidak sanggup untuk menemui suaminya lagi, namun Kui Lin menghiburnya, bahkan menyatakan bahwa kalau enci-nya tidak sanggup menceritakan kepada suaminya, dialah yang akan menghadapi suami enci-nya itu.

Betapa pun juga, nyonya muda ini merasa hatinya hancur dan dia selalu merasa sangat ketakutan, merasa seolah-olah dirinya kotor dan tidak berharga untuk suaminya. Dia telah ternoda, tercemar dan kotor! Bukan itu saja, bahkan dia telah membunuh suami adiknya, dia sudah menghancurkan kehidupan adik kembarnya! Hal ini lebih menyakitkan hatinya lagi, maka nyonya ini selalu mencucurkan air mata, seolah-olah sumber air matanya tidak akan ada habisnya.

Memang demikianlah kehidupan manusia di dunia ini. Seperti berputarnya bumi, seperti beredarnya matahari, sebentar terang sebentar gelap. Hidup ini nampaknya seolah-olah begitu penuh dengan penderitaan, kekecewaan, penyesalan, kesengsaraan yang saling tumpang tindih. Ada kadang-kadang datang suka ria, akan tetapi hanya seperti selingan kilat di waktu hujan gelap saja.

Manusia hidup seakan-akan dibayangi oleh duka nestapa selamanya. Semua hal yang dikejar-kejarnya mati-matian, dengan pengorbanan macam-macam, malah yang kadang-kadang dalam pengejaran itu tak sungkan-sungkan untuk memperebutkan dengan orang lain, kalau perlu menjatuhkan orang lain, mencelakainya, bahkan membunuhnya, setelah terdapat ternyata tidaklah mendatangkan kebahagiaan seperti yang diharapkannya atau dia bayangkan semula!

Si miskin membayangkan bahwa jika dia memiliki banyak harta, hidupnya akan menjadi bahagia. Namun si kaya tidak lagi merasakan kebahagiaan lewat hartanya! Rakyat kecil membayangkan bahwa jika dia memiliki kedudukan tinggi, maka hidupnya akan menjadi bahagia. Namun para pembesar tidak lagi merasakan kebahagiaan lewat kedudukannya, bahkan sebaliknya, kebanyakan dari mereka justru menderita banyak kepusingan akibat kedudukannya yang tinggi! Si orang awam ingin terkenal, akan tetapi mereka yang telah terkenal merasa terganggu hidupnya oleh ketenarannya!

Demikianlah, manusia akan selalu sengsara dan hidupnya tidak berbahagia selama dia diburu oleh keinginan untuk memperoleh sesuatu yang belum dimilikinya. Dan keinginan ini akan terus mengejarnya sampai liang kubur sekali pun, tak pernah terpuaskan karena keinginan itu merupakan penyakit yang akan terus mendorongnya mengejar sesuatu yang baru lagi. Kita selalu menginginkan yang baru, karena yang baru itu menarik dan kita anggap amat menyenangkan. Kita lupa sama sekali bahwa yang baru ini akan menjadi lapuk dan kita akan terus mencari yang lebih baru lagi!

Menuruti keinginan takkan ada habisnya, dan tidaklah mungkin bagi kita untuk memiliki segala-galanya di alam mayapada ini. Hanya dia yang sudah tidak menginginkan apa-apa lagilah maka segala-galanya ini adalah untuknya! Atau dengan kata lain, hanya orang yang sudah tidak menginginkan apa-apa lagilah maka dia itu benar-benar seorang kaya raya lahir batin! Tidak menginginkan apa-apa ini dalam arti kata tidak mengejar sesuatu yang tidak ada padanya, tidak menghendaki sesuatu yang tak terjangkau olehnya. Bukan berarti menolak segala sesuatu, bukan berarti acuh tak acuh, bukan berarti mandeg dan menjadi seperti patung hidup.


Tiga hari kemudian, datanglah rombongan piauwsu yang dipimpin oleh Ciu Khai Sun dari perjalanan mengawal barang berharga. Tentu saja berita tentang kematian Na Tiong Pek datang bagaikan sambaran petir di siang hari bagi Ciu Khai Sun.

Pada saat pengawal piauwkiok menyambutnya di pintu gerbang kota dan menyampaikan berita bahwa Na Tiong Pek sudah tewas oleh penjahat yang menyerbu rumahnya tiga hari yang lalu, Ciu Khai Sun terbelalak, wajahnya pucat dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu mendahului rombongan, lari ke rumah Na Tiong Pek.

Ketika dia tiba di ruangan depan, melihat peti mati terbujur di situ, dan dia disambut oleh ratap tangis, kemudian melihat isterinya lari terhuyung menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut, merangkul kedua kakinya sambil menangis, melihat pula adik isterinya menangis di belakang isterinya, pendekar ini berdiri dengan muka pucat dan sampai lama dia tidak dapat mengatakan sesuatu. Dia mengepal kedua tinjunya dan akhirnya dia berkata,

“Siapa yang melakukan itu? Siapa…?! Aku akan mencari pembunuhnya… hemmm, aku akan mencari pembunuhnya sampai dapat!”

Melihat sikap suaminya ini, Kui Lan menangis tersedu-sedu. Barulah pendekar itu merasa heran dan dia segera membungkuk, memegang kedua pundak isterinya dan menariknya berdiri. Akan tetapi sungguh aneh, Kui Lan meronta halus melepaskan diri dan menutupi muka dengan kedua tangan sambil menangis sesenggukan.

“Ada… ada apakah…?” Pendekar itu mulai merasakan adanya sesuatu yang luar biasa pada diri isterinya. Tentu saja isterinya ikut pula berduka dengan tewasnya suami adiknya terbunuh orang itu, akan tetapi mengapa isterinya kelihatan begini sengsara?

Kui Lin yang tidak ingin urusan itu sampai terdengar orang lain, dan hal ini mungkin akan menimbulkan kecurigaan orang lain kalau sampai Kui Lan tidak mampu mempertahankan perasaannya, segera maju merangkul kakak kembarnya dan berkatalah dia dengan halus kepada suami kakaknya, “I-thio… sebaiknya kita bicara di dalam saja…” Sesudah berkata demikian, dengan setengah memaksa dia menarik tubuh kakaknya lantas membawanya masuk ke dalam.

Ciu Khai Sun lalu menghampiri peti mati dan bersembahyang dengan penuh khidmat. Alisnya yang tebal hitam itu berkerut, sedangkan wajahnya yang gagah itu diliputi awan duka, namun sepasang matanya mengeluarkan cahaya kilat oleh kemarahannya terhadap si pembunuh yang belum diketahuinya siapa.

Sementara itu, Souw Kiat Hui, yaitu pembantu utama dari Na Tiong Pek yang dahulunya merupakan pembantu utama ayahnya, seorang tokoh Ui-eng Piauwkiok yang amat setia, segera menggantikan sebagai wakil keluarga yang kematian untuk menyambut para tamu yang datang berlayat. Souw Kiat Hui ini juga baru datang karena dia menemani Ciu Khai Sun mengawal barang yang amat berharga itu.

Tentu saja dia pun merasa sangat berduka karena Na Tiong Pek baginya sudah seperti keponakannya sendiri. Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa ada penjahat yang datang menyerbu ke rumah itu dan hanya membunuh Na Tiong Pek, sedangkan isterinya dan isteri Ciu Khai Sun yang juga kabarnya melawan penjahat itu tak diganggu, lagi pula tidak ada barang berharga yang dilarikan.

Akan tetapi dia pun tahu bahwa sebagai seorang piauwsu, tentu saja bukan tak mungkin apa bila ada penjahat yang menaruh dendam terhadap Na Tiong Pek. Akan tetapi yang membuat hatinya merasa penasaran adalah mengapa penjahat itu datang seperti maling dan memasuki kamar isteri Ciu Khai Sun. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani bertanya tentang hal ini kepada dua orang wanita kembar itu dan hanya diam-diam merasa amat penasaran sungguh pun dia tidak berani menduga yang bukan-bukan.

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga kaget rasa hati Ciu Khai Sun ketika dia tiba di ruangan dalam. Dia melihat Kui Lin langsung menutupkan semua pintu dan jendela, ada pun isterinya, Kui Lan kembali menubruk kakinya dan menangis tersedu-sedu. Sesudah menutupkan semua pintu dan jendela, Kui Lin juga menangis dan duduk di atas bangku tidak jauh dari situ.

Jantung pendekar itu mulai berdebar keras dan dia merasa tidak enak. Pasti telah terjadi sesuatu yang hebat, pikirnya, kalau tidak demikian, tidak nanti isterinya bersikap seperti ini.

Memang harus dia akui bahwa peristiwa kematian Na Tiong Pek itu merupakan peristiwa hebat yang mendatangkan duka dan bingung, akan tetapi kalau tidak terjadi sesuatu yang hebat, tidak mungkin isterinya akan bersikap seperti ini. Kematian Na Tiong Pek saja tidak akan membuat isterinya bersikap seperti ini, apa lagi dia melihat keanehan dalam sikap Kui Lin yang turut pula bersama mereka ke ruangan itu dan bahkan menutupkan semua pintu dan jendela, seolah-olah mereka berdua ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, suatu rahasia yang tidak boleh didengar atau dilihat orang lain!

“Lan-moi, ada apakah? Engkau tenanglah dan ceritakan kepadaku,” akhirnya dia berkata sambil mengelus kepala isterinya yang berlutut di hadapannya itu sambil mencoba untuk membangunkan Kui Lan.

Akan tetapi Kui Lan tidak mau bangun, bahkan merangkul kedua kaki suaminya lebih erat dan tangisnya makin sesenggukkan, dan di antara isak tangisnya itu terdengar suaranya tersendat-sendat, “Sun-koko… kau… kau bunuhlah saja aku…”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Khai Sun mendengar kata-kata isterinya ini. Dia terbelalak, mengerutkan alisnya kemudian merangkul isterinya yang masih berlutut.

“Ahh… apakah yang telah terjadi? Mengapa engkau… berkata demikian, isteriku?”

“Koko… dia… dia itu…,” Kui Lan terisak-isak sambil menudingkan jari telunjuknya keluar dengan tangan menggigil, “…akulah yang… membunuhnya…”

“Aihhh…?” Khai Sun merasa kepalanya laksana disambar kilat hingga dia bangkit berdiri, mukanya pucat dan matanya terbelalak memandang kepada kepala isterinya yang masih terus menunduk itu.

Kui Lin cepat menghampiri enci-nya dan juga berlutut merangkul enci-nya, lalu dengan air mata bercucuran dia menengadah, berkata kepada suami enci-nya. “Bukan! Bukan dia saja yang melakukannya, melainkan kami berdua! Kami berdua yang mengeroyoknya dan membunuhnya!”

Mendengar ini, Khai Sun semakin bingung dan heran. Dia berdiri sambil mengepal kedua tinjunya, memandangi mereka bergantian dengan bingung sekali, lalu membentak penuh penasaran, “Apakah kalian sudah menjadi gila? Kalian… kalian yang telah membunuh Na Tiong Pek? Apa artinya ini?”

Melihat keadaan pria yang tinggi besar serta gagah perkasa itu seperti marah, Kui Lin khawatir akan keselamatan enci-nya, maka dia pun berkata dengan cepat sambil terisak menangis, “Bukan kami… melainkan dialah yang gila… dia layak mati… karena dia telah memperkosa Enci Lan…!”

“Ohhhhh…?” Seketika tubuh Khai Sun terasa lemas seperti dilolosi seluruh urat syarafnya sehingga dia terjatuh duduk kembali ke atas kursinya, mukanya pucat sekali dan matanya memandang ke arah isterinya yang masih sesenggukan di depannya. Tangan kanannya meraba ujung meja lalu mencengkeram ujung meja itu.

Ada perasaan marah yang sangat hebat membakar hatinya, namun dia tidak tahu harus menumpahkan kemarahannya kepada siapa. Tanpa disadari, tangannya mencengkeram dan meremas ujung meja yang terbuat dari pada kayu yang keras itu. Terdengar suara berkerotokan dan ujung meja itu hancur menjadi tepung di dalam genggaman tangannya! Agaknya pelampiasan kemarahan ini menyadarkannya.

Dengan mata nanar dia membuka tangannya kemudian memandang kepada tepung kayu di dalam genggaman itu, sedangkan dua orang wanita itu masih menangis terisak-isak. Sejenak Khai Sun tidak dapat berkata apa-apa, bahkan tidak dapat berpikir apa-apa, dia seperti kehilangan semangat, merasa tubuhnya bagaikan terapung di dalam mimpi, tidak menentu apa yang harus dipikirkannya. Akan tetapi, memandang ujung meja yang sudah menjadi bubuk di dalam tangannya itu, dia pun sadar kembali dan terdengar dia menarik napas panjang, seakan-akan hendak melepaskan semua ganjalan hatinya melalui napas panjang itu.

Setelah tiga kali dia menarik dan membuang napas panjang sambil mengerahkan tenaga dalam untuk menyedot hawa murni, pikirannya kembali menjadi terang dan tenang, lantas terdengarlah suaranya yang parau dan berat,

“Lan-moi, bangkit dan duduklah, dan ceritakan semua yang telah terjadi padaku.”

Akan tetapi Kui Lan tidak sanggup mengeluarkan suara kecuali menangis sesenggukan, hingga akhirnya Kui Lin yang merangkulnya itu menariknya bangun dan berkata dengan suara gemetar, “Enci Lan, duduklah… biar aku yang akan menceritakan…”

Kui Lin membawa enci-nya duduk di atas bangku di hadapan Khai Sun, dan dia sendiri berdiri di samping enci-nya, merangkulnya kemudian mempergunakan lengan baju untuk menghapus air matanya. Muka wanita itu pucat sekali, matanya cekung tanda bahwa dia menderita tekanan dan kedukaan batin yang amat mendalam.

“I-thio Khai Sun, harap kau dengarkan dengan tenang dan jangan menyalahkan Enci Lan karena dia sama sekali tidak berdosa. Mendiang suamiku itulah yang bersalah, dan sudah selayaknya dia tewas. Malam itu… dengan mempergunakan asap pembius, dia membuat Enci Lan tidak sadar dan dia lalu menodai Enci Lan. Ketika paginya Enci Lan sadar, Enci Lan lalu menyerangnya dan aku mendengar ribut-ribut lalu datang dan setelah kuketahui duduknya perkara, aku pun lalu membantu Enci Lan mengeroyoknya hingga akhirnya dia tewas di tangan kami berdua! Nah, itulah apa yang terjadi, I-thio, dan… untuk menjaga nama baik keluarga, terpaksa kami menceritakan bahwa dia terbunuh oleh penjahat…”

Mendengar ini, Khai Sun termangu-mangu, perasaannya terasa kosong dan hampa. Dia memang tahu bahwa iparnya, Na Tiong Pek itu, mempunyai watak yang mata keranjang dan suka main perempuan. Akan tetapi sungguh tak pernah disangkanya bahwa orang itu akan mau dan tega mengganggu isterinya. Kakak dari isterinya sendiri.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner