PENDEKAR SADIS : JILID-07


“Apa pula ini? Na Tiong Pek dibunuh orang, kalian malah hendak menyalahkan dia yang sudah mati? Bukannya mencari siapa pembunuhnya, malah…”

“Tidak perlu lagi dicari pembunuhnya, karena kami berdualah pembunuhnya!” tiba-tiba Kui Lin menjawab. Jawaban ini membuat Sin Liong terbelalak hingga dia memandang wajah dua orang adiknya itu dengan muka berubah agak pucat, kemudian menjadi merah sekali.

“Kalian… kalian sudah gila…?” tanyanya gagap.

“Tidak, Liong-ko. Bukan kami yang gila melainkan Na Tiong Pek! Pada suatu malam dia membius Enci Lan dengan asap bius, kemudian dia menodai Enci Lan! Nah, kami berdua lalu mengeroyoknya dan membunuhnya!”

“Ohhh…!” Sin Liong merasa lemas saking kagetnya mendengar ini dan dia tidak tahu lagi harus berkata apa.

Terbayang olehnya ketika masih remaja, Na Tiong Pek pernah mengganggu Bi Cu dan hendak memaksa Bi Cu untuk dicium sehingga pernah dia turun tangan dan menghajar Na Tiong Pek. Sejak remaja pria itu memang berwatak mata keranjang dan kiranya watak itu masih terus berkembang sehingga dia tidak segan-segan untuk memperkosa kakak iparnya sendiri!

“Mengertikah engkau sekarang, Liong-ko?” Kui Lan kini melanjutkan keterangan adiknya, “Aku telah ternoda, walau pun itu terjadi di luar kesadaranku, akan tetapi hampir saja aku membunuh diri kalau suamiku tidak begitu bijaksana untuk memaafkan serta melupakan semua itu. Tentu saja kepada orang lain kami tidak mau menceritakan aib itu, dan kami mengatakan saja bahwa Tiong Pek tewas oleh penjahat yang tak kami kenal. Kemudian, akulah yang membujuk-bujuk Lin-moi untuk menjadi isteri suamiku, agar kami bertiga tak berpisah lagi, dan kami bertiga hidup rukun dan bahagia. Salahkan itu, Liong-ko? Apakah engkau lebih suka melihat Lin-moi menjadi janda kembang, digoda dan dihina oleh setiap orang pria mata keranjang? Adakah yang lebih tepat dari pada suamiku untuk menjadi suaminya seperti sekarang ini?”

Sin Liong tidak mampu menjawab dan pada saat itu masuklah dua orang anak berlari-lari dari belakang, diikuti oleh dua orang pengasuh wanita tua. Dua orang itu berusia kurang lebih lima enam tahun, yang lelaki berusia enam tahun dan yang perempuan lima tahun. Wajah mereka begitu serupa seperti dua anak kembar saja dan mirip dengan Kui Lan dan Kui Lin!

Anak laki-laki itu sudah lagi menghampiri Kui Lan dan merangkul pangkuan wanita ini, sedangkan anak perempuan itu lari merangkul Kui Lin. Mereka tertawa-tawa dan agaknya mereka tadi memang berlomba lari untuk menghampiri ibu mereka. Melihat ini, Sin Liong mengerti bahwa tentu anak laki-laki itu putera Kui Lan dan anak perempuan itu puteri Kui Lin.

“Mereka anak-anak kalian…?” Akhirnya dia dapat bertanya dan semua kekakuan, semua kemarahan lenyap sudah dari suaranya.

Melihat sikap Sin Liong yang sudah tidak marah lagi, barulah Khai Sun menjawab sambil tersenyum. “Yang tua melahirkan yang muda, yang muda melahirkan yang tua.”

Tentu saja jawaban ini sengaja diucapkan seperti itu agar tidak diketahui oleh dua orang anak itu, akan tetapi Sin Liong mengerti maksudnya. Kiranya tadi dia salah sangka, anak laki-laki yang merangkul Kui Lan itu adalah putera Kui Lin, sedangkan anak perempuan yang lebih muda dan merangkul Kui Lin itu justru puteri Kui Lan!

“Hayo kalian memberi hormat kepada pamanmu! Ini adalah Paman Cia Sin Liong!” kata dua orang wanita kembar itu kepada anak-anak mereka dan kini wajah mereka berseri gembira sungguh pun masih ada bekas air mata pada pipi mereka.

“Paman, saya Ciu Bun Hong memberi hormat!” kata anak laki-laki itu dengan sikap gagah.

“Paman, saya Ciu Lian Hong memberi hormat!” sambung anak perempuan itu dengan gaya lucu dan manja.

Sin Liong meraih keduanya dan merangkul mereka. “Anak-anak baik…,” katanya terharu.

Baru dia sadar bahwa kemarahannya tadi sebetulnya tiada gunanya sama sekali. Bukan hanya bahwa kenyataannya dua orang adiknya itu sama sekali tidak dapat disalahkan, demikian pula Ciu Khai Sun yang tidak dapat dipersalahkan, juga apa gunanya ribut-ribut? Mereka berdua sudah hidup dengan rukun dan sejahtera di samping tokoh Siauw-lim-pai itu, dan masing-masing telah mempunyai seorang anak.

Karena mereka masih akan berbicara tentang banyak hal, maka Kui Lan dan Kui Lin lalu menyuruh dua orang anak itu supaya bermain-main di luar. Mereka menjura dan keluar, dan masih terdengar oleh Sin Liong suara mereka.

“Aku yang lebih dulu menyentuh ibu Lan!” kata anak laki-laki itu.

“Tidak, aku yang lebih dulu merangkul ibu Lin!” bantah adiknya.

Sin Liong tersenyum kagum. Agaknya bagi kedua orang anak itu, mereka masing-masing memiliki dua orang ibu yang sama-sama mereka sayang. Betapa bahagianya mempunyai dua orang ibu seperti Kui Lan dan Kui Lin ini, agaknya sedikit pun tidak mempunyai rasa cemburu atau iri, dan seakan-akan mereka itu bersatu hati membagi kebahagiaan berdua!

“Liong-ko, kenapa engkau pergi tidak bersama isterimu?” Kui Lin bertanya.

“Mereka, isteri dan anakku, datang bersamaku dan menanti di losmen.”

“Ahh? Kenapa di losmen? Kenapa tidak diajak ke sini?” Kui Lin menegur.

Wajah Sin Liong menjadi merah. “Karena tadinya… ehhh, kupikir… tidak enaklah dengan adanya urusan… tetapi sekarang tentu saja mereka akan kuajak ke sini. Biarlah kuambil mereka.”

Keluarga Ciu merasa gembira sekali mendengar bahwa Sin Liong datang bersama Bi Cu dan seorang putera mereka. Oleh karena itu, pada waktu Sin Liong meninggalkan rumah itu untuk menjemput anak isterinya, Kui Lan dan Kui Lin langsung sibuk mempersiapkan segala-galanya untuk menyambut tamu-tamu itu.

Dengan hati lapang karena melihat keadaan adik-adiknya itu, Sin Liong bergegas menuju ke losmen di mana anak isterinya menunggu. Dia ingin cepat-cepat menceritakan berita baik tentang adik-adiknya itu kepada Bi Cu. Akan tetapi apa yang dihadapinya ketika dia tiba di losmen?

Anak isterinya sudah tidak ada di situ! Sebagai gantinya, pengurus losmen menemuinya dengan wajah pucat dan membayangkan kekhawatiran hebat. Pengurus losmen itu cepat menyerahkan sebuah sampul surat kepadanya, sampul yang panjang dan ditulisi dengan huruf-huruf berwarna merah!

PAK-SAN-KUI MENGUNDANG
PENDEKAR LEMBAH NAGA
UNTUK DATANG BERKUNJUNG!


Mata Sin Liong terbelalak memandang sampul itu. Dia pun teringat akan percakapannya dengan ayah kandungnya yang menuturkan tentang munculnya datuk-datuk kaum sesat, di antaranya adalah yang berjuluk Pak-san-kui (Setan Pegunungan Utara) yang kabarnya merupakan datuk kaum sesat di daerah utara itu! Dan kini datuk itu telah mengundangnya untuk berkunjung! Akan tetapi apa yang terjadi dengan anak isterinya?

Dengan sikap tetap tenang dia memandang kepada pengurus losmen itu, dan suaranya berwibawa ketika dia bertanya, “Ke mana perginya isteri dan puteraku? Apa yang terjadi dengan mereka? Hayo ceritakan yang sebenarnya!”

Pengurus losmen itu tampak ketakutan. Dia berkali-kali menjura dengan hormat. “Maafkan kami semua, sicu…” Kemudian dengan suara terputus-putus pengurus losmen itu mulai menceritakan apa yang telah terjadi selagi Sin Liong tidak berada di situ.

Sesudah ditinggalkan oleh Sin Liong, Bi Cu dan puteranya, Han Tiong, duduk di serambi depan losmen itu, melihat-lihat ke arah jalan raya yang cukup sibuk itu. Kemudian datang serombongan orang, laki-laki yang kelihatan kasar dan melihat sinar mata mereka yang kurang ajar, Bi Cu lalu mengajak puteranya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Tidak lama kemudian mereka mendengar suara ribut-ribut dan karena hatinya tertarik, Bi Cu lalu mendengarkan dari celah-celah daun pintu yang dibukanya sedikit.

Terdengar suara keras membentak-bentak pengurus losmen. “Hayo cepat periksa dalam buku tamu, apakah ada tamu yang bernama Cia Sin Liong?”

Mendengar ini, tentu saja Bi Cu menjadi terkejut dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Dia mendengar suara pengurus losmen itu tergagap-gagap,

“Ada… ada… tapi dia sedang keluar.”

“Ke mana? Hayo katakan ke mana!”

“Tidak… tidak tahu…”

“Plakk! Plakk!” Terdengar dua kali suara tamparan yang disusul mengaduhnya pengurus losmen itu.

“Sungguh mati, dia keluar tanpa memberi tahu ke mana… ampunkan saya… ampunkan saya…”

“Hemm, kalau tidak berterus terang, mana bisa ada ampun?” bentak suara kasar tadi.

Mendengar ini, Bi Cu tak dapat menahan kemarahannya lagi. Dibukanya daun pintu dan dia pun melangkah lebar menuju ke ruangan depan di mana terjadinya keributan itu. Dia melihat seorang lelaki tinggi besar yang mencengkeram punggung baju pengurus losmen dengan sikap mengancam, sedangkan para pelayan dan tamu di situ bahkan menjauhkan diri dengan sikap ketakutan. Beberapa orang lain yang agaknya menjadi teman-teman Si Tinggi Besar itu memandang dengan mulut menyeringai seolah-olah sedang menghadapi tontonan yang menyenangkan.

“Aku adalah isteri Cia Sin Liong! Siapa yang mencari suamiku?!” Bi Cu membentak sambil melangkah maju. Saking marahnya, nyonya ini tidak tahu bahwa puteranya juga berada di belakangnya, karena tadi Han Tiong mengikuti ibunya.

Orang tinggi besar itu cepat memutar tubuhnya sambil melempar tubuh pengurus losmen itu ke sudut. Orang tinggi besar itu memiliki wajah yang menyeramkan, wajah orang kasar dengan kumis tebal melintang dan muka penuh brewok sehingga yang nampak hanyalah sepasang mata bulat besar menonjol keluar, hidung pesek dan gigi besar-besar nampak ketika dia menyeringai.

“Bagus! Kebetulan sekali, jadi engkau adalah isterinya?”

“Hemmm, engkau orang kasar mengapa hendak mencari suamiku?” bentak Bi Cu yang sudah marah sekali melihat orang ini bersikap kasar terhadap pengurus losmen, bahkan telah menampar sampai muka orang itu matang biru.

“Ehem, suamimu yang berjuluk Pendekar Lembah Naga?” tanya orang kasar itu dengan sikap yang amat memanaskan hati Bi Cu. Sementara itu sedikitnya delapan orang teman Si Kasar itu sudah mengurungnya, dan baru dia melihat bahwa Han Tiong juga berada di situ.

“Han Tiong, mundurlah!” Bi Cu berkata kepada puteranya, akan tetapi sudah tidak ada jalan keluar lagi karena tempat itu telah terkurung.

“Suamiku benar adalah Pendekar Lembah Naga, kalian mau apa?!” Bi Cu membentak.

“Ha-ha-ha-ha, tuan besar kami hendak mengundang Pendekar Lembah Naga, tapi Sang Pendekar tidak ada, yang ada hanyalah isterinya yang cantik dan anaknya, maka biarlah kami mengundang isterinya dan anaknya, agar Sang Pendekar dapat menyusulnya nanti! Marilah, nyonya manis, engkau ikut bersamaku menghadap tuan besar!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Si Tinggi Besar itu mengulurkan tangan hendak mencengkeram, akan tetapi sengaja dia mencengkeram ke arah dada Bi Cu, disambut suara tawa ha-ha he-he oleh para temannya.

“Keparat jahanam kau!” Bi Cu mengelak dan dari samping tangannya menampar ke arah muka yang menyeringai lebar itu. Mungkin karena tamparan Bi Cu terlampau cepat atau memang laki-laki itu memandang terlalu rendah, akan tetapi tahu-tahu telapak tangan Bi Cu sudah tepat mengenai pipi orang itu!

“Plakkk!”

Orang itu terkejut, terhuyung sambil mengusap pipinya yang seketika menjadi bengkak. Matanya melotot dan dia meludah, ludah bercampur darah karena bibirnya telah pecah.

“Serbu! Tangkap!” bentaknya marah dan kini dia sungguh-sungguh menyerang dengan pukulan yang keras ke arah Bi Cu.

Akan tetapi dengan mudah saja nyonya ini mengelak dan kakinya menyambar. Untung Si Kasar masih cepat meloncat ke belakang sehingga tendangan itu luput, kalau mengenai pusarnya tentu dia tak akan mampu bangun kembali. Dan mengamuklah Bi Cu, dikeroyok oleh sembilan orang-orang kasar.

Akan tetapi tiba-tiba Han Tiong berteriak, “Lepaskan aku!”

Bi Cu terkejut dan cepat menengok. Kiranya Han Tiong telah disergap dari belakang dan ditangkap orang, dan kini sebatang golok sudah ditempelkan di leher anak itu. Wajah Bi Cu menjadi pucat dan dia menyerbu ke arah puteranya.

“Mundur! Kalau engkau melawan terus, anak ini akan kami sembelih lebih dulu!” bentak orang yang menangkap Han Tiong.

“Hemm, apa maksud kalian?!” bentak Bi Cu, sedikit pun tidak merasa takut sungguh pun diam-diam dia sangat mengkhawatirkan puteranya. “Sedikit saja kau ganggu dia, kalian akan menyesal dilahirkan di dunia. Akan kukeluarkan semua isi perut kalian, kuhancurkan kepala kalian sampai lumat!”

Si Tinggi besar dan teman-temannya merasa jeri juga menghadapi ancaman wanita yang perkasa itu, yang suaranya terdengar nyaring penuh dengan kesungguhan. Tentu mereka percaya bahwa wanita seperti itu, dengan sinar mata seperti itu, pastilah akan sungguh-sungguh berusaha memenuhi ancamannya apa bila mereka sampai berani mengganggu puteranya.

“Toanio, kami adalah utusan tuan besar kami untuk mengundang Pendekar Lembah Naga. Untuk memastikan bahwa dia akan datang berkunjung, maka kami mengundang toanio dan kongcu ini untuk ikut bersama dengan kami, baik secara halus mau pun kasar. Boleh toanio pilih. Kalau toanio berdua mau ikut dengan baik-baik, maka kami pun tidak berani bersikap kasar.”

Bi Cu berpikir sebentar. Dia tidak takut menghadapi mereka, akan tetapi karena di situ ada Han Tiong, tentu saja dia tidak boleh bertindak sembrono. Kalau saja sampai terjadi kekerasan, bukan tak boleh jadi kalau puteranya akan celaka. Padahal, suaminya sedang tidak berada di situ dan jika hanya mengandalkan kepandaiannya sendiri saja maka amat berbahayalah bagi puteranya. Sebaliknya, kalau dia menurut dan membiarkan dia beserta puteranya dibawa, tentu nanti Sin Liong akan dapat membebaskan mereka.

“Baik, kami ikut asal tidak dilakukan kekerasan!” katanya dengan tegas dan dia pun lalu menghampiri puteranya.

Sambil menggandeng tangan Han Tiong, dia lantas keluar diiringkan oleh sembilan orang laki-laki itu dan ternyata sebuah kereta sudah menunggu di luar. Bi Cu beserta puteranya dipersilakan naik kereta yang segera dibalapkan, diikuti oleh mereka yang menunggang kuda, keluar dari pekarangan losmen, ke jalan raya.

Demikianlah keterangan yang didapatkan Sin Liong dari pengurus losmen yang mukanya masih biru-biru. Sesudah mendengar penuturan ini, Sin Liong mengerutkan kedua alisnya dan memandang kepada tulisan di atas sampul. Tidak terdapat surat di dalam sampulnya, hanya tulisan tinta merah yang merupakan undangan menyolok dari penulis surat yang menamakan dirinya Pak-san-kui (Setan Gunung Utara) itu.

“Di manakah rumah Pak-san-kui ini?” tanyanya kepada pengurus losmen.

Pengurus losmen itu menggeleng kepala. “Saya tidak tahu, sicu, bahkan semua orang di sini yang kutanyai tidak ada yang tahu. Sepanjang pengetahuan kami, di kota ini tidak ada jagoan yang berjuluk Pak-san-kui itu. Dan orang-orang tadi pun agaknya orang-orang dari luar kota, suara mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang dari utara.”

Hati Sin Liong mulai merasa heran dan bercampur gelisah. Menurut penuturan ayahnya, Pak-san-kui adalah seorang datuk besar di daerah utara dan bertempat tinggal di kota Tai-goan, di Propinsi Shan-si. Mengapa kini anak buahnya berada di Lok-yang dan bagai mana pula mengenal dia dan tahu bahwa dia berada di situ, lantas mengirim undangan dengan cara yang kasar seperti itu?

Dia teringat kepada Ciu Khai Sun. Ahh, tentu suami Kui Lan dan Kui Lin itu akan dapat memecahkan teka-teki ini, kemudian memberi tahu ke mana dia akan dapat mencari dan menemukan isteri dan puteranya.

Dia tahu bahwa Bi Cu tentu terpaksa menyerah demi keselamatan Han Tiong dan juga karena isterinya yakin bahwa dia tentu akan menyusul dan menyelamatkan mereka. Dan dia pasti akan dapat membuktikan kebenaran keyakinan hati isterinya!

Sesudah memasuki kamar dan mengambil buntalan pakaian mereka, dengan cepat Sin Liong lalu meninggalkan losmen dan kembali ke rumah Ciu Khai Sun. Khai Sun dan dua orang isterinya menyambut dengan gembira, akan tetapi mereka memandang heran dan kecewa ketika melihat betapa Sin Liong datang sendirian saja tanpa isteri dan puteranya. Akan tetapi timbul kekhawatiran dalam hati mereka ketika melihat wajah Sin Liong yang nampak muram.

“Liong-koko, mana dia? Mana isterimu dan puteramu?” tanya Kui Lin.

“Mari kita berbicara di dalam,” kata Sin Liong yang masih bersikap tenang, namun pada wajahhya jelas membayangkan kegelisahan.

Dengan hati penuh kekhawatiran dan ketegangan, Ciu Khai Sun dan dua orang isterinya bersama Sin Liong masuk ke dalam rumah dan di ruangan dalam, Sin Liong menceritakan kepada mereka tentang apa yang terjadi menimpa isteri dan puteranya di losmen itu.

“Inilah sampul undangan itu,” katanya sebagai penutup dan menunjukkan sampul dengan tulisan merah itu kepada mereka.

“Sungguh kurang ajar!” seru Kui Lan.

“Mengundang dengan cara demikian, orang macam apa dia itu?” seru Kui Lin.

Kedua orang nyonya ini tentu saja merasa marah sekali. Akan tetapi, seperti juga sikap Sin Liong, Ciu Khai Sun menghadapi persoalan ini dengan tenang sekali. Dia mengamati sampul itu dan alisnya berkerut.

“Hemm… Pak-san-kui…”

“Engkau mengenalnya, Moi-hu (adik ipar)?” tanya Sin Liong sambil menatap wajah adik ipar yang lebih tua empat lima tahun darinya itu.

Ciu Khai Sun menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah bertemu dengan dia, akan tetapi namanya sangat terkenal di dunia kang-ouw, terutama di daerah utara. Dia tidak penah mencampuri urusan kang-ouw dan tidak pernah pula mengganggu pekerjaanku, dan dia terkenal angkuh, merasa bahwa dia memiliki tingkat yang tinggi sekali. Pengaruhnya amat besar, kekayaannya juga amat besar. Dia bergerak di kalangan atas, di antara pembesar-pembesar tinggi, bahkan pengaruhnya terasa sampai di kota raja. Akan tetapi kabarnya dia lihai bukan main hingga terkenal sebagai datuk daerah utara. Sungguh mengherankan sekali. Dia tinggal di kota Tai-goan di Propinsi Shan-si, bagaimana kini dia dapat bergerak sampai ke sini, dan bagaimana dia tahu pula bahwa engkau berada di sini?”

“Tai-goan tidak dekat dari sini, agaknya tidak mungkin kalau dia mengirim orang-orang itu dari sana. Sudah pasti dia berada di dekat kota ini atau bahkan mungkin di dalam kota,” kata Sin Liong.

“Ahh, benar! Aku ingat sekarang! Di kota ini terdapat seorang pembesar kejaksaan yang baru saja datang, baru pindahan dari Tai-goan. Mengingat bahwa Pak-san-kui itu terkenal mempunyai hubungan baik dengan para pembesar, sangat boleh jadi sekali apa bila dia datang berkunjung kepada Ciong-taijin itu dan kini berada di kota ini. Akan tetapi entah bagaimana dia dapat tahu bahwa engkau berada di kota ini, Cia-taihiap?”

“Hal itu dapat kuselidiki, sekarang tolong katakan di mana adanya gedung Ciong-taijin itu? Aku akan menyelidiki ke sana.”

“Mari kuantar, taihiap. Aku akan membantumu!”

“Jangan, Moi-hu. Engkau adalah orang yang tinggal di kota ini, sangat tidak baik apa bila engkau sampai tersangkut, apa lagi menentang seorang pembesar kota. Kau tunggulah saja di sini, aku pasti akan dapat membebaskan anak isteriku.”

Karena alasan ini memang tepat, Khai Sun tidak berani memaksa dan dia lalu memberi tahu di mana letak rumah tempat tinggal pembesar itu. Setelah menerima penjelasan, Sin Liong segera berangkat untuk menyelidiki, diantarkan oleh pandangan mata penuh rasa khawatir dan pesanan agar berhati-hati dari Kui Lan dan Kui Lin.

Sin Liong memasuki pintu gerbang depan gedung besar itu dengan hati tabah. Dia tahu bahwa dia memasuki pekarangan seorang pembesar yang berkuasa, akan tetapi karena hal ini menyangkut keselamatan anak dan isterinya, jangankan hanya gedung pembesar kejaksaan, biar pun istana kaisar sekali pun akan dimasuki kalau perlu!

Beberapa orang prajurit penjaga langsung maju menghadangnya dan seorang di antara mereka menegurnya, “Hai, siapa engkau berani memasuki pekarangan ini tanpa ijin?”

Dengan sikap gagah Sin Liong berkata, “Aku datang untuk bertemu dengan Pak-san-kui! Katakanlah kepada Pak-san-kui bahwa Pendekar Lembah Naga sudah datang memenuhi undangannya!”

Enam orang prajurit itu terkejut dan saling pandang. Mereka adalah pengawal-pengawal dari Ciong-taijin, dan karena mereka pun datang dari Tai-goan, maka tentu saja mereka mengenal siapa adanya Pak-san-kui dan mereka pun tahu bahwa datuk itu kini menjadi tamu majikan mereka. Walau pun hanya kabar angin dan tidak secara langsung, mereka sudah mendengar pula bahwa Pak-san-kui mengundang seorang pendekar yang disebut Pendekar Lembah Naga. Maka, ketika mendengar pengakuan Sin Liong mereka menjadi terkejut.

“Tunggulah… tunggulah kami melapor dulu…” kata mereka dan seorang di antara mereka segera lari masuk ke dalam.

Sin Liong menanti dengan tenang, berdiri tegak seperti patung memandang ke arah pintu rumah gedung itu. Apakah anak dan isterinya berada di dalam gedung itu? Apakah masih dalam keadaan selamat?

Tiba-tiba muncul serombongan orang yang berpakaian biasa, orang-orang yang bertubuh tinggi besar dan bersikap angkuh. Mereka keluar dari dalam pintu lantas menghampirinya dengan lagak memandang rendah sambil tertawa-tawa. Seorang di antara mereka, yang bercambang bauk, segera menghadapinya dan memandang dari atas sampai ke bawah, seolah-olah tidak percaya bahwa yang disebut Pendekar Lembah Naga itu hanya seorang pria biasa saja, dengan pakaian sederhana dan tubuhnya yang sedang.

“Engkaukah yang bernama Cia Sin Liong?” tanyanya, nada suaranya seperti kebiasaan seorang pembesar tinggi bertanya kepada seorang rakyat kecil, seperti orang yang duduk di tempat tinggi bertanya kepada orang yang berjongkok jauh di bawahnya.

Sin Liong adalah seorang pendekar sakti yang sudah penuh gemblengan hidup, maka dia hanya tersenyum saja melihat tingkah ini, seperti seorang dewasa yang melihat tingkah seorang bocah nakal. Dia sendiri pernah tinggal di istana, pernah menjadi adik angkat seorang pangeran, maka dia banyak mengenal watak pembesar seperti ini. Akan tetapi dia pun dapat menyangka bahwa orang ini hanyalah kaki tangan pembesar, semacam pengawal atau tukang pukul, dan biasanya memang para tukang pukul atau pembantu yang kasar-kasar ini jauh lebih congkak dari pada si pembesar itu sendiri!

Memang demikianlah keadaan kita manusia di dalam dunia ini. Kita selalu ingin merasa lebih tinggi dari pada orang lain, lebih pandai, lebih tampan, lebih kuat, lebih berkuasa dan segala macam lebih lagi. Dari manakah timbulnya ketinggian hati atau kecongkakan, keangkuhan dan kesombongan itu?

Kita selalu menciptakan suatu gambaran tentang diri sendiri, gambaran yang diambil dari segi baik dan segi lebihnya saja, dan untuk mempertahankan gambaran inilah maka kita bersikap angkuh terhadap orang lain yang kita anggap lebih rendah dari kita. Kalau kita menginginkan untuk memiliki gambaran diri yang demikian tingginya akibat kita melihat kenyataan kita yang rendah, seperti para pembantu pembesar itu.

Kenyataannya sehari-hari, mereka itu merupakan bawahan, dan kenyataan itu membuka mata bahwa mereka itu jauh lebih redah dari pada atasan mereka. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memiliki gambaran diri yang tinggi, dan hal ini menimbulkan sikap yang congkak seolah-olah dia sudah menjadi seorang yang tinggi kedudukannya seperti yang digambar-gambarkannya itu.

Setiap orang ingin menonjolkan diri agar dianggap paling tinggi paling pandai, dan segala macam ‘paling’ lagi. Dan semua ini tentu saja menimbulkan konflik, baik konflik dalam batin sendiri antara kenyataan dan penggambaran, juga konflik keluar menghadapi orang lain.

Gambaran diri ini pasti timbul kalau kita tidak waspada, tidak sadar. Sebaliknya, kalau kita mau membuka mata dan setiap saat waspada kepada diri sendiri, menghadapi kenyataannya tanpa memejamkan mata, melihat segala kekurangan dan kekotoran diri sendiri, maka akan nampaklah oleh kita bahwa yang ingin menonjolkan diri itu, yang menciptakan gambaran diri yang tinggi-tinggi itu, bukan lain adalah juga si aku, si pikiran yang menimbulkan segala kekotoran itulah!

Penglihatan yang amat jelas ini akan menimbulkan pengertian dan ini adalah kesadaran sehingga kita pun terbebaslah dari cengkeraman si aku yang ingin menonjolkan diri itu dan lenyap pula segala kecongkakan dan kesombongan yang menguasai diri kita.


Sin Liong tidak merasa heran melihat lagak dan tingkah orang tinggi besar bercambang bauk itu. Dia mengangguk dan berkata. “Benar, aku bernama Cia Sin Liong.”

“Hemmmm…” Si Kumis Tebal itu mengurut-urut kumisnya. “Jadi engkau inikah orangnya yang berjuluk Pendekar Lembah Naga?”

Sin Liong tersenyum pahit, akan tetapi dia mengangguk sebagai jawaban.

“Bagus, tuan besar kami memanggilmu, marilah kau ikuti kami untuk menghadap beliau!” setelah berkata demikian, Si Cambang Bauk itu bersama dengan empat orang temannya, segera melangkah lebar keluar dan mereka lalu meloncat ke atas punggung kuda mereka yang sudah tersedia di situ, dan melarikan kuda mereka keluar.

“Pendekar Lembah Naga, mari kau ikuti kami! Pendekar Lembah Naga? Ha-ha-ha-ha!” Si Cambang Bauk tertawa bergelak.

Sin Liong maklum bahwa mereka itu sengaja hendak menghinanya, atau mungkin juga mencobanya, dan tentu semua itu sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan mereka, maka dia pun tidak banyak cerewet, lalu melangkah keluar membayangi lima orang yang menunggang kuda itu. Dan mereka lalu menuju ke barat, ke tepi kota di mana terdapat sebuah jembatan yang menyeberangi sebuah sungai yang cukup lebar.

Mereka sengaja membalapkan kuda sambil beberapa kali mereka menengok ke belakang dan tertawa bergelak karena tidak lagi melihat bayangan Sin Liong. Mereka menyeberang jembatan lantas membelok ke kiri di mana terdapat sebuah taman bunga yang sunyi dan menghentikan kuda mereka di depan pintu gerbang taman, lalu menuntun kuda mereka memasuki taman menuju ke sebuah pondok di tengah taman itu. Mereka menengok ke belakang dan ketika tidak melihat Sin Liong, maka mereka tertawa makin keras.

Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka itu berhenti di tengah-tengah setelah mereka melihat ada seorang laki-laki berada di depan mereka, di depan pondok itu dan mereka mengenal laki-laki itu bukan lain adalah Cia Sin Liong yang tadi mereka tinggalkan. Wajah mereka menjadi pucat, mata mereka terbelalak dan bahkan dua orang di antara mereka menggosok-gosok mata mereka karena tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Tadi pria itu mereka tinggalkan dan mereka terus membalapkan kuda. Tidak nampak pria itu menyusul atau pun melanggar mereka, bagaimana tahu-tahu pria itu telah mendahului mereka dan berada di tempat itu? Apakah dia seperti siluman yang pandai menghilang?

Tentu saja tidak. Mereka tidak tahu betapa Sin Liong menggunakan ginkang, berlari cepat bagaikan terbang, lalu berloncatan ke atas genteng rumah-rumah penduduk mendahului mereka jauh sebelum mereka tiba di jembatan itu.

“Nah, di mana adanya Pak-san-kui?” tanya Sin Liong ketika mereka tiba di depannya.

“Ada… ada…, mari silakan masuk…” kata Si Cambang Bauk, kini sikapnya agak berbeda dan agak merendah karena dia kini mulai mengerti bahwa orang yang berjuluk Pendekar Lembah Naga ini ternyata bukan hanya bernama kosong belaka.

Demikianlah ciri dari orang yang sudah diperhamba oleh gambaran dirinya sendiri. Selalu bermuka-muka dan menjilat-jilat apa bila bertemu dengan orang yang dianggapnya lebih berkuasa, lebih pandai dan lebih dari pada gambaran dirinya sendiri, akan tetapi selalu bersikap congkak, sombong dan menekan kepada orang yang dianggapnya lebih rendah dari pada dirinya sendiri. Seorang penjilat tentulah seorang penindas pula. Dapatkah kita hidup bebas dari sikap menjilat atasan dan menindas bawahan? Tentu dapat kalau kita tidak membangun gambaran diri sendiri sehingga kita bersikap wajar terhadap semua orang dari segala macam tingkat.

Apakah kita dapat hidup bebas dari sikap menjilat atasan dan menindas bawahan? Tentu dapat selama kita tidak membangun gambaran diri sendiri sehingga kita bersikap wajar terhadap semua orang dari segala macam tingkat.


Dengan diantar oleh lima orang itu, mereka memasuki serambi depan, kemudian hanya Si Cambang Bauk saja yang mengantarnya masuk ke dalam pondok. Dari luar saja sudah terdengar suara beberapa orang bercakap-cakap dan tertawa-tawa di dalam pondok itu. Begitu mereka berdua tiba di pintu yang menembus ke ruangan dalam, Si Cambang Bauk berkata dengan nada suara penuh hormat,

“Lo-ya, Pendekar Lembah Naga sudah datang menghadap!”

Sin Liong yang sudah tiba di pintu itu memandang dengan penuh perhatian. Hatinya lega bukan main ketika dia melihat isterinya dan puteranya berada di antara beberapa orang yang duduk mengelilingi sebuah meja panjang bundar yang berada di tengah ruangan itu, meja yang penuh dengan hidangan yang masih mengepul panas.

Isterinya duduk dengan tenang dan wajahnya berseri ketika melihat dia. Puteranya juga duduk dengan anteng, akan tetapi Han Tiong segera berkata ketika melihat dia.

“Ayah! Aku tahu ayah pasti datang menyusul kami!”

Sin Liong melihat seorang kakek memandang kepadanya sambil tersenyum lebar. Kakek ini berusia kurang lebih enam puluh tahun, berwajah tampan dan bertubuh jangkung. Dia mengenakan pakaian seperti seorang hartawan, tangan kanannya memegang sebatang huncwe yang tidak mengepulkan asap dan sikapnya ramah. Kuncirnya tebal dan panjang dan kepalanya memakai topi terhias sulaman bunga emas.

Orang yang duduk di sebelah kiri kakek hartawan ini jelas seorang pembesar, tidak sukar dikenal dari pakaiannya. Orang ini sudah berusia lima puluhan tahun, dengan sepasang mata yang cerdik, mata seorang pembesar yang mudah menjadi berbeda sinarnya kalau melihat tumpukan uang banyak, dan pembesar ini agaknya kelihatan tegang, sebentar dia memandang ke arah tamu yang baru datang, sebentar kemudian ke arah si hartawan itu.

Selain dua orang ini dan Bi Cu serta Han Tiong, nampak pula duduk di situ tiga orang pria yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti jago-jago silat dan sikap mereka amat menghormat dan pendiam, sesuai dengan sikap orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi.

Belasan orang pengawal si pembesar dan pengawal si hartawan, hal ini dapat dilihat dari pakaian mereka, berdiri di sekeliling tempat itu melakukan penjagaan. Mendengar seruan Han Tiong yang kegirangan melihat munculnya ayahnya, si hartawan itu tertawa.

“Ha-ha, anaknya gagah berani dan ternyata ayahnya juga tidak mengecewakan. Cia-sicu, sudah lama aku mendengar nama besarmu, dan sekarang gembira sekali dapat bertemu. Silakan duduk…” Dia menunjuk ke arah bangku di dekat Bi Cu yang memang agaknya sudah dipersiapkan.

Sin Liong lantas memasuki ruangan itu dengan sikap tenang, kemudian dia pun duduk di atas bangku yang telah dipersiapkan untuknya itu. Sejenak dia bertukar pandang dengan isterinya dan dari sinar mata isterinya dia tahu bahwa tidak terjadi sesuatu dengan anak isterinya, hanya isterinya minta kepadanya agar berhati-hati, maka legalah hatinya. Tanpa kata-kata pun, hanya dengan saling bertukar pandang, dia sudah bisa mengetahui isi hati isterinya yang tercinta.

“Apakah wan-gwe (tuan hartawan) yang mengundangku ke sini?” tanya Sin Liong sambil mengeluarkan sampul itu, meletakkannya di atas meja di hadapannya.

Melihat sikap pendekar itu yang demikian tenang, sama sekali tidak mau memberi hormat kepadanya dan kepada si pembesar, lantas mendengar pendekar itu menyebut wan-gwe kepadanya, kakek hartawan itu tertawa bergelak dan suara ketawanya bergema di dalam ruangan itu sehingga ruangan itu seolah-olah tergetar hebat.

Diam-diam Sin Liong terkejut dan kagum. Ternyata kakek ini memiliki khikang yang kuat sekali! Teringatlah dia akan penuturan ayahnya bahwa para datuk itu memiliki kepandaian yang tinggi, bahkan kabarnya tidak kalah tinggi dibandingkan kepandaian Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li! Maka dia bersikap hati-hati dan dia pun mengerti mengapa isterinya menghendaki dia berhati-hati. Tentu isterinya juga melihat betapa lihainya kakek itu dan betapa bahaya mengancam di tempat itu.

“Ha-ha-ha, sungguh sikapmu gagah sekali, Cia-sicu. Benar, akulah yang mengundangmu ke sini. Aku disebut orang Pak-san-kui dan daerah utara adalah wilayahku. Sudah lama aku mendengar namamu yang besar, akan tetapi karena engkau sudah menjadi orang kesayangan istana, dan engkau bahkan dihadiahi Istana Lembah Naga sehingga engkau tinggal di luar Tembok Besar, maka jelas bahwa Lembah Naga tidak termasuk wilayahku. Sayang aku tidak sempat datang berkunjung ke Lembah Naga, sungguh pun di antara kita terdapat hubungan yang cukup dekat sekali.”

Sin Liong memandang heran dan dengan penuh selidik dia menatap wajah yang tampan itu, lalu dia berkata, “Apa yang locianpwe maksudkan?”

Wajah tua yang masih tampan itu kelihatan berseri gembira. Agaknya dia senang sekali mendengar pendekar itu mengganti sebutan, tidak lagi wan-gwe tapi locianpwe (sebutan bagi golongan tua yang gagah perkasa), sebab sebutan itu menandakan bahwa Sin Liong mengakui dia sebagai seorang tokoh tinggi dalam dunia persilatan! Dia tidak tahu bahwa sebutan yang digunakan oleh Sin Liong itu bukanlah suatu penjilatan, melainkan karena memang sudah menjadi watak Sin Liong untuk bersikap rendah hati.

“Ingatkah sicu kepada mendiang Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li?” Ketika dia melihat wajah Sin Liong berubah mendengar nama itu, dia lalu tertawa. “Ya, Hek-hiat Mo-li telah tewas di tangan sicu yang gagah perkasa dan itu memang salahnya sendiri, dia diperalat oleh pemberontak. Ketahuilah bahwa Hek-hiat Mo-li masih terhitung bibi guru luar dariku, sungguh pun di antara kami tidak pernah ada hubungah apa pun. Maka, tentu saja sejak lama aku merasa kagum kepadamu, Cia-sicu, dan ingin sekali aku tahu dan mengenalmu, terutama mengenal kepandaianmu. Sayang bahwa engkau tinggal di Lembah Naga, di luar wilayahku. Kemudian dari teman-temanku aku mendengar bahwa sicu turun gunung, keluar dari Lembah Naga mengunjungi Cin-ling-pai. Ha-ha! Mendengar kesempatan baik muncul itu, tentu saja aku langsung mengutus orang-orangku untuk membayangimu dan sesudah tiba di sini, karena kebetulan sekali aku pun sedang berada di Lok-yang, maka aku sengaja mengundang sicu untuk bertemu.”

Diam-dian Sin Liong berpikir. Cara-cara yang dipergunakan oleh orang ini memang aneh dan juga kasar, akan tetapi itulah ciri-ciri sepak terjang seorang datuk kaum sesat dan orang ini pun tak luput dari pada penyakit sombong dan congkak sekali. Betapa pun juga, harus diakui bahwa orang ini sangat lihai dan mempunyai pengaruh yang luas sehingga tahu akan kedatangannya di Cin-ling-pai. Sekarang tahulah dia mengapa kakek ini dapat mengundangnya, tentu ada pula orangnya yang bekerja di losmen itu.

“Locianpwe telah mengundangku, bahkan telah mengundang isteri dan anakku pula, untuk kehormatan itu aku menghaturkan terima kasih. Sekarang, setelah kami tiba di sini, apa yang locianpwe kehendaki?”

“Ha-ha-ha-ha, pertama-tama hanya ingin berjumpa dan berkenalan. Nah, mari, Cia-sicu, toanio dan kau anak yang baik, ehhh, siapa tadi namamu?” tanya kakek itu kepada Han Tiong.

“Namaku Cia Han Tiong,” jawab anak itu.

“Nah, marilah kalian bertiga makan minum, menjadi tamuku, atau juga tamu Ciong-taijin yang terhormat.”

Orang yang berpakaian pembesar itu pun lalu berkata, “Benar, Cia-sicu, mari silakan. Kita berkumpul sebagai sahabat!”

Diam-diam Sin Liong merasa heran sekali dengan sikap orang itu. Apa artinya semua ini? Mula-mula dia diundang secara kasar, yaitu dengan memaksa isteri dan anaknya, lalu di sini diperlakukan dengan hormat!

“Terima kasih,” katanya dan dia pun bersama isteri dan anaknya mulai makan minum bersama.

“Tadi sudah kukatakan bahwa biar pun antara mendiang Hek-hiat Mo-li dan aku terdapat pertalian perguruan, namun aku sama sekali tidak mencampuri urusannya. Dan engkau sendiri sebagai seorang pendekar di luar Tembok Besar sangat patut menjadi sahabatku, Cia-sicu. Maka biarlah undangan ini bisa juga kau anggap sebagai tanda persahabatanku kepadamu.”

Hemm, tentu ada udang di balik batu, pikir Sin Liong.

“Terima kasih. Locianpwe sudah bersikap manis budi, kami mengucapkan terima kasih. Hanya ada sedikit hal yang membikin bingung kepadaku.”

“Cara aku mengundang anak isterimu, bukan? Ha-ha-ha!”

Kembali Sin Liong diam-diam mengakui kelihaian orang ini. Dia harus berhati-hati sekali terhadap orang yang memiliki kecerdikan ini. “Benar, locianpwe. Aku tidak mengerti, dan apakah locianpwe juga mengetahui betapa cara mengundang anak isteriku itu dilakukan oleh anak buah locianpwe?”

“Ha-ha-ha, tentu saja! Apa kau kira mereka itu tidak takut mati melakukan sesuatu di luar apa yang kuperintahkan?”

“Hemm, kalau begitu, mengapa ada sikap kasar terhadap anak isteriku itu, locianpwe?” tanya Sin Liong, hatinya dipenuhi rasa penasaran mengapa sikap terhadap anak isterinya itu jauh berbeda dengan sikap kakek itu sekarang.

Sebelum menjawab, kakek itu mengisi huncwenya dengan tembakau dan salah seorang di antara para pengawal yang berdiri di belakangnya cepat-cepat menyalakan api untuk membakar tembakau di mulut huncwe. Sesudah mengisap-isap dan tembakau itu mulai terbakar, maka asap yang berbau keras mulai tercium di ruangan itu. Kakek ini kemudian menghembuskan asap tipis dari mulutnya, memandang kepada Sin Liong lalu berkata,

“Semua itu dilakukan untuk mengujimu, sicu!”

“Mengujiku?”

“Ya, untuk mengujimu, apakah engkau memang seorang pendekar besar seperti yang namanya kudengar selama ini ataukah hanya seorang pendekar kasar yang mudah sekali menuruti kemarahan hatinya. Akan tetapi ternyata sikapmu sangat mengagumkan, layak menjadi seorang pendekar besar dan lebih patut lagi menjadi sahabatku.”

Sesudah makan minum itu selesai, kakek yang berjuluk Pak-san-kui itu memberi tanda dengan tangannya dan para pengawal cepat membersihkan semua bekas makanan dari atas meja, kemudian meja itu pun disingkirkan atas isyarat Pak-san-kui. Melihat ini, Sin Liong dapat menduga bahwa tentu bukan hanya berakhir dengan makan minum saja, dan karena dia tidak ingin membuat bibit permusuhan dengan siapa pun juga, maka dia pun cepat berkata,

“Locianpwe, kami bertiga sudah menerima kehormatan dan kebaikan lodanpwe, mudah-mudahan lain waktu kami dapat membalas dan mengundang locianpwe ke Lembah Naga. Sekarang, perkenankan kami untuk meninggalkan tempat ini.”

Kakek itu bangkit berdiri dan mengangkat tangan kirinya ke atas, mengepulkan asap dari mulutnya. “Aha, Cia-sicu, orang-orang seperti kita ini saling mengagumi dalam ilmu silat, tentu saja. Kini kita telah saling jumpa, tanpa melihat ilmu silat sicu yang disohorkan orang di seluruh dunia, mana bisa dibilang lengkap? Sicu, mereka bertiga ini adalah murid-murid kepala dariku, dan boleh dibilang mewakili aku di dalam segala hal, juga untuk mengenal ilmu silat Sicu. Oleh karena itu, marilah sicu perlihatkan kepandaianmu agar perkenalan di antara kita dapat lebih matang.”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Dia sudah menduga bahwa memang ke situlah maksud tuan rumah dan tentu saja sedikit pun dia tidak merasa gentar untuk berhadapan dengan siapa pun juga yang akan menguji kepandaiannya. Akan tetapi, sesudah bertahun-tahun dia mengasingkan diri dari dunia kang-ouw, dia tidak mempunyai nafsu sama sekali untuk kini menceburkan diri dalam pertikaian dan permusuhan, maka dia pun sama sekali tidak bernafsu untuk mengadu ilmu.

“Locianpwe, telah bertahun-tahun aku tak pernah lagi berurusan dengan dunia persilatan dan tidak pernah bertanding, maka kalau locianpwe menghendaki, biarlah aku mengaku kalah saja,” katanya sambil menjura.

Melihat ini, Bi Cu mengerutkan alisnya. Memang benar dia tidak pernah diganggu, juga Han Tiong tidak pernah diperlakukan kasar. Akan tetapi, cara menangkap dia serta Han Tiong merupakan hal yang merendahkan sekali. Kalau sekarang suaminya secara begitu saja mengalah dan mengaku kalah, bukankah hal itu akan menanamkan sesuatu yang dapat membuat puteranya akan merasa rendah diri?

Dia sendiri tidak menginginkan puteranya menjadi jagoan yang mengandalkan ilmu silat mengangkat diri, akan tetapi lebih-lebih dia tidak menghendaki puteranya kelak menjadi seorang yang rendah diri dan penakut tentunya!

“Locianpwe ini sudah menghargai kita karena ilmu silatmu, kalau engkau sekarang tidak melayani permintaannya, bukankah akan sia-sia saja semua kebaikannya itu?” Di dalam ucapan ini tentu saja terkandung dorongan mengingatkan kepada Sin Liong, betapa isteri dan anaknya telah dijadikan tawanan namun disembunyikan di dalam kata ‘kebaikan’ itu. Wajah Sin Liong menjadi merah mendengar ucapan isterinya itu.

“Pula sejak tadi Han Tiong menyatakan ingin melihat engkau mengadu ilmu dengan fihak tuan rumah setelah dia diberi tahu bahwa fihak tuan rumah mempunyai banyak jagoan,” sambung pula Bi Cu dengan nada suara mendesak suaminya.

“Ha-ha-ha, Cia-sicu terlalu merendahkan diri, dan toanio sungguh patut bangga memiliki suami seperti Cia-sicu. Nah, lekas kalian bertiga perkenalkanlah dirimu kepada Cia-sicu!” katanya sambil menggerakkan huncwenya.

Tiga orang laki-laki yang kelihatan seperti jagoan itu, dan yang sejak tadi memang sudah siap-siap, sekarang bangkit dari tempat duduk mereka kemudian memberi hormat kepada Pak-san-kui dengan hormat sekali.

“Teecu bertiga mentaati perintah suhu,” kata seorang di antara mereka dan ketiganya lalu menjura kepada Sin Liong.

“Kami bertiga mendapatkan kehormatan untuk melayani Cia-sicu. Silakan!”

Sin Liong tersenyum. Dia maklum bahwa kakek yang menamakan dirinya datuk dari utara itu, yang merasa menjadi orang nomor satu di utara, tentu saja menjual mahal dirinya sendiri dan sekarang hanya mengutus tiga muridnya untuk maju, karena memang niatnya hanya menjajaki lebih dulu sampai di mana kepandaiannya.

Aku tidak boleh terlalu menonjolkan diri, pikir Sin Liong yang cerdik. Bila dianggap terlalu berbahaya bagi kakek ini, tentu datuk sesat ini akan mencari jalan mengalahkannya. Akan tetapi kalau sebaliknya, dia tidak dianggap sebagai saingan berbahaya, mungkin dia akan dapat membebaskan diri dari bibit permusuhan.

Maka dia pun lalu bangkit berdiri dan menjura kepada Pak-san-kui. “Harap locianpwe tidak mentertawai kebodohanku. Sudah lama sekali aku tidak pernah bertanding, rasanya kaku dan canggung.” Dan dia pun lalu menuju ke tengah ruangan yang sudah dibersihkan itu, menghadapi tiga orang yang kini sudah siap menantinya.

“Hemm, kalian hendak maju berbareng?” Sin Liong sengaja bertanya dengan suara ragu untuk memperlihatkan bahwa dia cukup jeri dan ragu.

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, Cia-sicu. Murid-muridku ini hanya ingin menguji kepandaian, dan mereka hendak menggunakan silat gabungan yang hanya dapat dimainkan oleh tiga orang.” kata Pak-san-kui sambil mengepulkan asap huncwenya, sikapnya congkak sekali, dan jelas bahwa dia memandang rendah pada Sin Liong setelah melihat sikap pendekar itu.

Bi Cu yang sudah mengenal betul watak suaminya sebagai seorang pendekar sakti yang tidak pernah mengenal takut, kini merasa sangat penasaran. Dia tahu bahwa suaminya sengaja bersikap demikian, dan inilah yang dia tidak mengerti hingga membuatnya amat penasaran.

Mengapa suaminya tidak robohkan saja mereka semua itu agar mereka mengenal betul siapa adanya Pendekar Lembah Naga? Demikian pikirnya, maka dia memandang semua itu dengan alis berkerut.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner