PENDEKAR SADIS : JILID-09


Kalau dilihat dari belakang, orang-orang akan merasa kagum dan suka kepada dua orang anak laki-laki yang dalam usia belasan tahun itu sudah membayangkan tubuh yang sehat kuat, tubuh yang punggungnya tegak lurus, kepala tegak dan sepasang kaki kokoh kuat, bayangan tubuh calon-calon pendekar. Akan tetapi kalau orang melihat dari depan, baru nampak banyak perbedaan.

Thian Sin memiliki wajah yang amat tampan dan halus, garis-garis mukanya halus seperti muka wanita, alisnya, matanya, bahkan telinganya berbentuk indah, sehingga dia tampan sekali, malah terlalu tampan sehingga akan menarik perhatian setiap orang yang bertemu dengannya.

Sedangkan Han Tiong merupakan seorang anak laki-laki biasa saja, tidak terlalu tampan walau pun tak dapat disebut buruk, hanya sinar matanya amat dalam dan tenang, seperti lautan. Sikapnya serta gerak-geriknya juga sangat tenang dan membayangkan kekuatan luar biasa.

Akhirnya waktu tiga tahun itu lewat sudah. Waktu memang berlalu dengan amat cepatnya dan tidak terasa jika tidak diperhatikan. Tiga tahun seolah-olah terasa baru tiga hari saja, tanpa dirasakan, tahu-tahu sekarang Han Tiong telah menjadi seorang pemuda tanggung berusia empat belas tahun!

Dan selama tiga tahun itu, mereka telah digembleng siang malam oleh Hong San Hwesio hingga mereka telah mampu membaca kitab-kitab kesusasteraan dan filsafat kuno, baik kitab-kitab Agama Buddha mau pun Agama To atau kitab-kitab Su-si Ngo-keng! Berkat latihan-latihan ilmu silat yang terus mereka latih dengan tekun, juga karena mereka sudah mempunyai dasar ilmu silat tingkat tinggi, maka dalam usia tiga belas dan empat belas tahun, mereka sudah nampak seperti seorang pemuda dewasa!

Ketika Sin Liong dan Bi Cu datang menjemput, suami isteri ini memandang dengan wajah berseri-seri kepada putera mereka yang ternyata kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dan gerak-geriknya halus, dengan wajah yang menyinarkan kelembutan hati dan kebijaksanaan yang menyambut kedatangan mereka dengan sikap hormat dan gembira namun tidak berlebihan.

Betapa besar perbedaannya antara Han Tiong kini dan tiga tahun yang lalu. Kini nampak begitu masak, seolah-olah telah menjadi seorang pemuda dewasa! Dan diam-diam timbul rasa iri di dasar hati Bi Cu pada saat dia melihat betapa pemuda yang berdiri di samping puteranya itu, Ceng Thian Sin, ternyata sudah menjadi seorang pemuda yang luar biasa tampannya! Akan tetapi rasa iri ini segera ditutupnya dengan sedikit kebanggaan ketika mengingat bahwa pemuda tanggung yang sangat tampan dan ganteng itu adalah anak angkatnya!

Sin Liong lalu menghaturkan terima kasih kepada Hong San Hwesio atas bimbingannya kepada kedua orang anak itu selama tiga tahun, dan dalam kesempatan ini, Hong San Hwesio mengajak Sin Liong masuk untuk bicara empat mata saja. Setelah mereka duduk berhadapan, Hong San Hwesio menghela napas dan berkata,

“Adikku Sin Liong, sebelum engkau menurunkan ilmu-ilmu silat tinggi kepada kedua orang puteramu, sebaiknya kalau pinceng memberi tahukan hal-hal penting yang pinceng lihat dalam diri mereka.”

Sin Liong merasa girang sekali. “Tentu saja, toako. Memang selama ini tentu toako yang lebih mengetahui perkembangan batin mereka berdua, dan amatlah penting bagiku untuk mengetahui perkembangan itu dan dasar-dasar watak mereka.”

“Tentang Han Tiong, tak ada yang perlu diragukan. Dia boleh dipercaya sepenuhnya dan dia merupakan calon pendekar yang sempurna. Hal ini bukan merupakan pujian kosong di depan ayahnya belaka, akan tetapi sesungguhnya puteramu Han Tiong itu mempunyai dasar watak dan batin yang amat kuat dan murni.”

“Dan bagaimana dengan Thian Sin?” tanya Sin Liong khawatir karena dia dapat menduga bahwa dengan mengemukakan kebaikan Han Tiong, berarti ada sesuatu yang tidak beres pada diri Thian Sin.

“Itulah…, dia adalah seorang anak yang sangat baik, penurut, rajin dan patuh. Juga dia amat peka, mudah sekali mempelajari hal-hal yang baik, dan dia pun cerdas bukan main, bahkan lebih cerdas bila dibandingkan dengan Han Tiong. Tapi justru kepekaannya inilah yang mengkhawatirkan, membuat dia mudah sekali dipengaruhi perasaan dan membuat dia mudah berobah. Pinceng sudah mencoba menanamkan dasar-dasar watak pendekar utama di dalam batinnya, akan tetapi tetap saja pinceng khawatir kalau-kalau kelak ada sesuatu yang akan membongkar semua itu dan perasaan hatinya yang akan menang. Dan kecerdikannya itu kadang-kadang terlalu luas sehingga sukarlah menyelami hatinya. Dia amat pandai menyelimuti perasaannya, pandai menyimpan segala sesuatu, di waktu murung bisa saja dia berseri-seri dan tersenyum-senyum, dan demikian pula sebaliknya sehingga kadang-kadang pinceng merasa terkejut juga. Nah, kini engkau telah mengenal kelebihan dan kekurangannya, maka harap kau menjadi waspada dan didiklah dia sebaik-baiknya.”

Sin Liong tersenyum. Gejala-gejala seperti itu bagi seorang pemuda tanggung adalah hal wajar saja. Namun dia tidak tahu bahwa pendeta itu telah mempunyai kemampuan untuk memandang dengan lebih mendalam lagi!

“Baiklah, toako. Akan kuperhatikan dia.”

“Dan selain itu… pinceng tak pernah mencoba untuk mengetahui rahasianya, akan tetapi kalau tidak salah dia menyimpan suatu rahasia, mungkin berupa kitab-kitab peninggalan ayahnya, entah kitab apa yang selalu disimpannya baik-baik dan tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun juga termasuk pinceng itu. Harap kau amati hal itu.”

Sin Liong mengangguk-angguk dan di dalam hatinya dia dapat menduga bahwa agaknya Ceng Han Houw sudah meninggalkan ilmu-ilmu mukjijatnya yang dahulu dipelajarinya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw itu kepada putera kandungnya itu.

Ketika dua orang pemuda tanggung itu hendak berangkat untuk turut bersama pendekar itu dan isterinya ke Lembah Naga, mereka menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hong San Hwesio dan menghaturkan terima kasih atas segala bimbingan dan kebaikan hwesio itu. Hong San Hwesio menyentuh kepala mereka dan berdoa untuk mereka, kemudian memberi wejangan-wejangan terakhir.

“Semoga ketika mempelajari ilmu silat di Lembah Naga, kalian akan selalu ingat bahwa semua ilmu ini kita pelajari demi untuk membantu alam, demi untuk kesejahteraan seluruh manusia di dunia ini, bukan hanya untuk alat mengejar kesenangan diri sendiri belaka.”

Berangkatlah Cia Sin Liong, isteri dan dua orang puteranya itu meninggalkan Kuil Thian-to-tang, meninggalkan Hong San Hwesio yang berdiri di depan kuil memandang ke arah mereka dan merasakan betapa hatinya bagaikan terbawa keluar dari tubuhnya mengikuti bayangan dua orang muda yang disayangnya itu.

Pada sepanjang perjalanan, suami isteri itu dengan gembira mendapat kenyataan betapa akrabnya hubungan antara dua orang muda itu, dan diam-diam mereka berdua merasa girang bahwa jelas sekali betapa Thian Sin selain amat sayang kepada kakak angkatnya, juga amat penurut. Diam-diam Sin Liong membandingkan keadaan dirinya dengan Ceng Han Houw di masa lalu.

Dia pun sangat menyayang Ceng Han Houw, akan tetapi dia tidak bisa dibilang penurut. Dan hal itu terjadi karena kesalahan Han Houw sendiri yang terlampau mementingkan diri sendiri sehingga untuk mengejar cita-cita itu dia tak segan-segan melakukan hal-hal yang sesungguhnya tidak patut. Tentu saja dia tidak mungkin mau menuruti permintaan orang yang menyeleweng dari pada kebenaran itu. Diam-diam dia berdoa semoga puteranya, Han Tiong, tidak akan menyeleweng sehingga dapat menuntun adik angkatnya yang amat sayang dan taat kepadanya itu…..

********************

Thian Sin membuka mata lebar-lebar ketika dia bersama Han Tiong dan ayah ibu mereka memasuki daerah Lembah Naga. Jadi inikah yang dinamakan Lembah Naga, pikirnya. Ada suatu keanehan di dalam hatinya. Mengapa dia merasa seolah-olah dia tidak asing berada di tempat ini? Mengapa dia merasa seolah-olah dia sudah pernah, bahkan sering, melihat tempat-tempat ini?

Akan tetapi dia menyimpan saja keanehan ini dalam hatinya dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Han Tiong menceritakan kepadanya mengenai keadaan di daerah itu.

“Daerah ini dahulu dinamakan Rawa Bangkai. Menurut cerita ayah, dahulu di sini banyak sekali terdapat rawa-rawa yang berbahaya, berisi lumpur-lumpur yang dapat membunuh siapa saja yang terperosok ke dalamnya karena mempunyai daya sedot dan amat dalam. Akan tetapi semenjak di sini merupakan daerah terbuka bagi rakyat dari seluruh penjuru, tempat ini sekarang berubah menjadi pedusunan. Lihat, mereka adalah penghuni dusun pertama yang telah melihat kedatangan kami. Ayah dan ibu amat dihormat di sini, karena kami membiarkan mereka tinggal di daerah Lembah Naga tanpa dipungut pajak apa pun.”

Dan memang sebenarnyalah. Dari dalam sebuah dusun pertama, berduyun-duyun keluar orang-orang, laki-laki dan perempuan, tua muda dengan wajah riang gembira menyambut kedatangan rombongan itu.

Thian Sin melihat bahwa mereka adalah petani-petani yang bertubuh sehat dan berwajah gembira, bahkan agaknya berpakaian cukup rapi walau pun sederhana. Dan bentuk tubuh serta wajah mereka cukup tampan dan manis, menandakan bahwa kehidupan mereka tenteram dan mereka tidak kekurangan makan di tempat itu. Nampak olehnya beberapa orang anak-anak, yang laki-laki juga kelihatan periang serta kuat sedangkan anak-anak wanitanya juga manis-manis dan lucu-lucu.

“Selamat datang, Cia-kongcu!” Demikian semua orang menyambut Han Tiong. Mereka masih mengenal pemuda yang telah pergi selama tiga tahun itu dan beberapa orang anak lelaki sebaya Han Tiong telah datang mendekat dan tersenyum-senyum agak malu-malu.

Han Tiong mengangkat tangan dan berseru ke kanan kiri. “Apa kabar? Mudah-mudahan kalian baik-baik saja semua!”

Demikianlah, mereka melalui beberapa buah pedusunan lagi yang hanya ditinggali oleh puluhan orang, dan semua penghuni pedusunan itu menyambut dengan gembira, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah istana tua, Istana Lembah Naga dan jantung Thian Sin berdebar keras!

Dia berdiri di depan istana kuno itu dan merasa bagaikan mimpi. Istana ini tidak asing baginya! Di dalam mimpi dia sering bertemu dengan bangunan ini! Mimpikah dia ketika bertemu dengan bangunan ini, ataukah sekarang ini dia sedang mimpi? Cepat digosok-gosoknya matanya dan dia merasa terheran-heran!

“Ada apakah dengan matamu, Sin-te (adik Sin)?” Han Tiong bertanya sambil menyentuh pundaknya.

Thian Sin menoleh sambil tersenyum, menghentikan menggosok-gosok mata akan tetapi masih mengerling ke arah bangunan itu dengan penuh keheranan. “Ahhh, tidak apa-apa, Tiong-ko, aku hanya kagum melihat bangunan ini yang begini kokoh kuat dan… demikian menyeramkan!”

“Thian Sin, dahulu bangunan ini pernah menjadi tempat tinggal Raja Sabutai, juga pernah menjadi tempat tinggal mendiang ayahmu, sebelum engkau terlahir…”

Mendengar ucapan Sin Liong yang kelihatan terharu itu, Thian Sin mengangguk-angguk dan mengertilah dia sekarang kenapa ada suatu pertalian batin antara dia dengan tempat ini. Kiranya tempat ini pernah menjadi tempat tinggal ayahnya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa tempat ini pun merupakan tempat di mana ayahnya jatuh, di mana ayahnya melihat hancurnya semua cita-citanya, bahkan di mana ayahnya mengalami kekalahan mutlak, yaitu dari Pendekar Lembah Naga yang sekarang menjadi ayah angkatnya itu!

Demikianlah, mulai hari itu Thian Sin tinggal di Istana Lembah Naga, dan dengan tekun dia bersama Han Tiong mulai berlatih ilmu silat tinggi di bawah bimmbingan Cia Sin Liong. Sin Liong menurunkan semua kepandaiannya dengan sungguh hati, mengajarkan semua ilmu silat yang dimilikinya, tentu saja disesuaikan dengan bakat kedua anak itu.

Setelah mulai mengajarkan ilmu silat tinggi kepada dua orang pemuda itu, Sin Liong baru dapat melihat bahwa bakat pada diri Thian Sin sungguh amat menonjol! Dia terkejut dan kagum sekali, dan harus diakuinya bahwa Thian Sin ternyata lebih menonjol dibandingkan dengan puteranya sendiri, sungguh pun puteranya juga seorang yang berbakat amat baik. Hal ini karena Thian Sin memiliki kecerdikan yang luar biasa sehingga anak ini mampu merangkai sendiri gerakan-gerakan ilmu silat dan menambahkan kembangan-kembangan yang baik sekali.

Akan tetapi dia pun melihat bahwa Han Tiong mempunyai ketenangan dan kewaspadaan sehingga anak ini lebih matang dalam melatih ilmunya, tidak seperti Thian Sin yang ingin segera memperoleh kemajuan dan ingin segera mempelajari ilmu lain. Setiap satu jurus gerakan silat tinggi tentu akan dilatih oleh Han Tiong secara tekun, dan anak ini belum merasa puas apa bila belum mampu memainkan jurus itu dengan sempurna, tanpa mau menengok kepada jurus baru yang lain.

Sebaliknya, Thian Sin ingin cepat menguasai jurus ini agar segera bisa mempelajari jurus lain. Dia seakan-akan merupakan seorang yang rakus dan kelaparan, ingin mempelajari ilmu silat sebanyak-banyaknya.

Sifat anak ini kadang-kadang membuat Sin Liong termenung hingga teringat betapa besar persamaan antara sifat anak ini dengan sifat mendiang ayahnya, Pangeran Ceng Han Houw. Akan tetapi, agaknya, bekas gemblengan Hong San Hwesio masih nampak, anak itu kelihatan alim dan halus budi, bahkan suka sekali membaca kitab, suka sekali bersajak sehingga dia amat sayang kepada Thian Sin.

Bi Cu sendiri pun yang tadinya masih selalu membenci mendiang ayah anak itu, setelah melihat sikap Thian Sin, tidak lama kemudian juga merasa suka sekali dan menganggap Thian Sin sebagai anak sendiri.

Memang Thian Sin mempunyai pembawaan yang memikat sehingga dengan mudah bisa menundukkan hati orang. Apa lagi semakin dia besar, ketampanannya semakin menonjol. Semua penghuni dusun-dusun sekeliling Lembah Naga amat suka kepadanya karena dia ramah sekali, berbeda dengan Han Tiong yang pendiam.

Thian Sin selalu menegur dan menyapa orang-orang dusun yang dijumpainya, mengajak mereka beramah-tamah dan senang bersendau-gurau, jenaka dan pandai menyenangkan hati orang dengan kata-katanya. Dia lemah lembut dan mempunyai daya tarik yang luar biasa. Apa lagi terhadap wanita!

Semua wanita di dusun-dusun sekitar Lembah Naga mengenal dan sering membicarakan dirinya dengan hati penuh kagum. Apa lagi para gadisnya. Boleh dibilang semua gadis di dusun-dusun sekitarnya tergila-gila belaka kepada pemuda tanggung ini!

Karena Thian Sin belum dewasa benar, maka para gadis itu pun tidak malu-malu untuk menegurnya dan mengajaknya berbicara setiap kali bertemu dan ada kesempatan. Dan sikap para gadis ini pun tidak menyembunyikan rasa suka mereka terhadap Thian Sin sehingga terasa benar oleh pemuda tanggung ini.

Akan tetapi Thian Sin masih hijau. Maka dia pun menanggapi semua sikap memikat para wanita itu dengan halus, bahkan agak malu-malu dan manja hingga membuat para wanita itu semakin tergila-gila!

Bila terhadap Thian Sin para wanita ini berani menggoda, mengajak bercanda, sebaliknya menghadapi Cia-kongcu, yaitu Cia Han Tiong yang pendiam dan serius, yang halus dan jujur, para gadis itu amat segan dan takut, tidak berani main-main. Bahkan sikap terbuka dari mereka yang mengajak Thian Sin bercanda itu pun lenyap apa bila di sana ada Han Tiong.

Han Tiong mempunyai wibawa yang sangat terasa oleh siapa pun juga. Thian Sin sendiri merasakan wibawa ini dan terhadap kakak angkatnya ini, Thian Sin merasa amat tunduk di samping rasa sayang dan kagum yang besar.

Juga dengan pemuda-pemuda tanggung dari dusun sekitarnya, baik Thian Sin mau pun Han Tiong tidaklah asing. Hanya bedanya, apa bila pemuda-pemuda itu bersama dengan Han Tiong, maka pemuda pendiam ini bersikap membimbing dan menuntun mereka untuk membebaskan mereka dari cara berpikir yang terlalu sederhana dan bodoh dari seorang anak desa, memberi penerangan-penerangan hingga dia dianggap sebagai seorang yang besar dan semua pemuda dusun memandangnya seperti pemimpin yang patut dihormati dan disegani.

Sebaliknya, Thian Sin bergaul dengan mereka seperti sahabat, bercanda dengan mereka, bermain-main dengan mereka. Sungguh pemuda tanggung ini sangat pandai bergaul dan dapat menarik hati siapa pun juga!

Berkat bimbingan selama tiga tahun dari Hong San Hwesio, agaknya pemuda tanggung ini telah berhasil melenyapkan atau menekan dendam sakit hatinya atas kematian kedua orang tuanya. Memang demikianlah nampaknya secara lahiriah. Akan tetapi apakah betul dendam sudah lenyap dari dalam hati pemuda tampan ini?

Apakah dendam, sakit hati, perasaan marah, kebencian, iri hati, keserakahan, rasa takut, dan sebagainya dapat lenyap dari batin dengan jalan melarikan diri dari semua itu atau pun dengan jalan menekannya? Hal ini penting sekali bagi kita untuk menyelidikinya dan mempelajarinya karena dalam kehidupan kita setiap hari tentu ada saja satu di antara nafsu-nafsu itu muncul di dalam hati kita. Mungkinkah kita terbebas dari semua nafsu itu dengan daya upaya kita?

Dari mana timbul nafsu-nafsu seperti dendam, kebencian, marah, iri, serakah, takut dan sebagainya itu? Semua itu timbul dari adanya pikiran yang membentuk si aku dengan keinginannya untuk mengejar kesenangan dan menjauhi kesusahan. Karena si aku ini merasa diganggu, dirugikan baik lahir mau pun batin, kemudian timbullah kemarahan, kebencian dan sebagainya. Karena si aku ini ingin mengejar kesenangan, maka lahirlah keserakahan, iri hati dan sebagainya.

Setelah muncul kemarahan, baik dari pengalaman atau dari penuturan orang lain, si aku melihat bahwa kemarahan itu tidak akan menguntungkan. Maka timbullah keinginan lain lagi, yaitu keinginan untuk melenyapkan kemarahan! Jelas bahwa yang marah dan yang ingin bebas dari kemarahan itu masih yang itu-itu juga, masih si aku yang ingin senang karena ingin bebas dari kemarahan itu pun pada hakekatnya hanya si aku ingin senang, menganggap bahwa bebas marah itu senang atau menyenangkan! Jadi, si marah adalah aku sendiri, dia yang ingin bebas marah pun aku sendiri.

Bermacam daya upaya dilakukan oleh kita untuk bebas dari kemarahan atau kebencian dan sebagainya. Ada yang melarikan diri dari kenyataan itu dengan cara menghibur diri, minum arak sampai mabuk, bersenang-senang hingga mabuk atau mengasingkan diri di tempat sunyi. Ada pula yang mempergunakan kekuatan kemauan untuk menghimpit dan menekan kemarahan yang timbul itu, pendeknya, segala macam daya upaya dilakukan orang untuk membebaskan diri dari pada kenyataan, yaitu amarah itu.

Bagaimana hasilnya? Memang nampaknya berhasil, nampak dari luar memang berhasil. Yang marah itu tidak marah lagi oleh penekanan kemauan atau oleh hiburan. Akan tetapi, tidak mungkin melenyapkan penyakit dengan hanya menggosok-gosok supaya nyerinya berkurang atau lenyap. Karena penyakitnya masih ada, maka rasa nyeri itu pun tentu akan timbul kembali!

Begitu pula dengan kemarahan, kebencian dan sebagainya. Memang dengan penekanan atau hiburan, kemarahan itu seolah-olah pada lahirnya sudah lenyap, api kemarahan itu seakan-akan sudah padam. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian! Api itu masih membara, seperti api dalam sekam, di luarnya tidak nampak bernyala namun di sebelah dalamnya membara masih ada dan sewaktu-waktu akan berkobar lagi. Karena itulah, tercipta lingkaran setan pada diri kita. Marah, disabarkan atau ditekan lagi, marah lagi, ditekan lagi dan seterusnya selama kita hidup!

Mengapa kita tidak hadapi secara langsung segala yang timbul itu? Pada waktu timbul marah, timbul benci, timbul iri, timbul takut dan sebagainya. Kenapa, kita lari? Kenapa kita tak menanggulanginya secara langsung, mengamati, menyelidiki dan mempelajarinya secara langsung? Mengapa kita tidak membuka mata dan waspada, penuh kesadaran akan semua itu?

Kalau marah timbul dan kita membuka mata penuh kewaspadaan, mengamatinya tanpa ada akal bulus si aku yang ingin merubah, ingin sabar dan sebagainya seperti itu, kalau yang ada hanya kewaspadaan saja, pengamatan saja, maka apakah akan terjadi dengan kemarahan yang timbul itu?

Cobalah! Segala pengertian itu tiada guna kalau tidak disertai penghayatan! Pengertian berarti penghayatan! Tanpa penghayatan maka pengertian itu hanya akan merupakan pengetahuan kosong saja, hanya akan menjadi teori-teori usang yang pantasnya hanya disimpan di lemari lapuk untuk hiasan belaka, tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Nah, apa bila ada timbul marah, benci, takut dan sebagainya, kita hadapi dan kita buka mata mengamatinya dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan dan kesadaran.

Kemarahan dan dendam timbul karena adanya sang pikiran, si aku yang tersinggung atau dirugikan. Kalau tidak ada si aku yang merasa dirugikan, apakah ada kemarahan itu? Hanya pengamatan dengan penuh kewaspadaan yang akan mendatangkan pengertian yang berarti penghayatan pula, melahirkan tanggapan-tanggapan spontan seketika.

Dan pengertian dari pengamatan ini yang akan meniadakan marah atau dendam. Dan tidak adanya marah atau dendam mendekatkan kita kepada kebebasan dan cinta kasih. Dan kalau sudah begitu tidak perlu lagi belajar sabar!


Dalam pergaulan mereka dengan para muda-mudi di dusun-dusun, terutama dengan para gadisnya, Han Tiong bersikap wajar, sopan dan tertib. Akan tetapi Thian Sin, pada usia yang lebih lima belas tahun, mulai merasa betapa mudahnya dia tertarik oleh kemanisan seorang wanita. Akan tetapi, dia pun maklum bahwa dia harus mampu mengekang nafsu seperti yang telah diajarkan oleh Hong San Hwesio kepadanya.

Memang pengekangan nafsu, pengendalian diri, tekanan, tekanan dan sekali lagi tekanan demikianlah yang selama ini diajarkan dan ditekankan kepada kita! Justru pelajaran ini yang menimbulkan konflik-konflik dalam batin kita, antara kenyataan dan angan-angan seperti yang kita kehendaki. Kenyataannya kita serakah, akan tetapi angan-angannya, yang dijejalkan kepada kita adalah agar kita tidak serakah, dan demikian seterusnya.

Jadi sumber penyakitnya tidak diobati dan dilenyapkan, hanya rasa nyeri yang timbul dari penyakit itu saja yang kita usahakan untuk diringankan atau dilenyapkan. Maka tentu saja akan selalu timbul pula. Dan sumber penyakitnya itu berada pada si aku yang selalu ingin senang dan ingin menjauhi susah.


Dua tahun sudah mereka digembleng ilmu silat oleh Cia Sin Liong. Keduanya tekun sekali berlatih sehingga mereka memperoleh kemajuan yang sangat cepat, apa lagi pengajarnya adalah pendekar yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Sebagai dasar, Sin Liong mengajarkan Thai-kek Sin-kun kepada mereka. Memang ilmu silat ini dapat menjadi dasar yang sangat baik untuk kemudian mempelajari ilmu-ilmu lain yang tinggi dan aneh.

Di samping ilmu silat, juga dua orang pemuda itu melanjutkan latihan mereka bersemedhi dengan duduk bersila seperti yang diajarkan oleh Hong San Hwesio, akan tetapi sekarang mereka bersemedhi bukan hanya untuk menenteramkan batin, akan tetapi untuk melatih pernapasan dan untuk menghimpun tenaga sakti. Dan dianjurkan untuk berlatih di tempat-tempat terbuka, di bawah cahaya matahari, terutama matahari pagi dan matahari senja.

“Pada saat matahari mulai timbul dan matahari mulai tenggelam, matahari menyinarkan daya-daya kekuatan yang mukjijat dan kalian akan dapat menyerap tenaga-tenaga sakti dari sinarnya kalau melakukan semedhi di saat-saat seperti itu,” demikian antara lain Sin Liong berkata.

Oleh karena itu, tidak jarang dua orang pemuda itu melakukan siulian di tempat-tempat terbuka. Di waktu mereka melakukan pekerjaan di sawah ladang dan selagi istirahat dari pekerjaan itu, tentu mereka pergunakan untuk melakukan siulian (semedhi).

Pada saat mereka dididik oleh Hong San Hwesio, secara terpaksa mereka hanya makan sayur-sayuran saja seperti juga para hwesio itu, akan tetapi sekarang, di Istana Lembah Naga, mereka makan seperti orang biasa, juga makan daging. Dan dalam hal makanan ini pun terdapat perbedaan di antara keduanya.

Thian Sin suka sekali makan daging, sebaliknya Han Tiong lebih suka makan sayur dan buah-buahan, sungguh pun dia tidak berpantang daging. Juga kalau Thian Sin suka pula minum arak, sungguh pun bukan pemabuk, maka Han Tiong tidak begitu suka dan hanya minum arak untuk menghangatkan tubuh saja.

Memang sudah nampak perbedaan besar di antara kedua orang muda ini. Thian Sin lebih peka terhadap kesenangan dan kenikmatan, sedangkan Han Tiong lebih sederhana dan lebih bijaksana untuk tidak terlalu menyerah kepada kehendak bersenang diri melainkan lebih memperhatikan tentang menjaga kesehatan dirinya.

Usia Han Tiong kini telah enam belas tahun dan Thian Sin berusia lima belas tahun. Usia menjelang dewasa bagi para muda, dan bagi pria khususnya, perubahan peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke dewasa ini ditandai oleh perubahan dalam suara mereka.

Dalam usia seperti ini pada umumnya birahi mulai mengusik batin seorang muda. Hal ini adalah wajar, terdorong oleh pertumbuhan badan dan mulailah terdapat daya tarik yang memikat hati apa bila melihat lawan kelaminnya. Mulailah Thian Sin memandang ke arah gadis-gadis dusun dengan sinar mata yang lain, dengan denyut jantung berbeda dari pada biasanya. Sinar matanya penuh dengan keinginan tahu, mulai dapat melihat bahwa pada diri gadis-gadis itu terdapat rahasia-rahasia yang amat menarik keinginan tahunya.

Perkembangan atau pertumbuhan naluri sex para muda adalah suatu yang amat wajar. Pertumbuhan jasmani dengan sendirinya membentuk pula dorongan-dorongan ke arah gairah birahi sebagai suatu kewajaran karena segala sesuatu yang ada, termasuk pula manusia, sudah memiliki kecondongan ke arah pertemuan lawan kelamin.

Ini adalah hal yang wajar, digerakkan oleh kekuasaan yang mengatur seluruh alam maya pada dengan segala isinya agar tidak sampai habis binasa, agar ada perkembang biakan pada setiap jenis makhluk, termasuk manusia. Pertumbuhan ke arah kedewasaan mulai menumbuhkan pula tuntutan jasmani ke arah pendekatan dengan lawan kelamin ini.


Thian Sin memiliki kepekaan dan juga memiliki gairah yang amat besar, oleh karena itu dialah yang lebih dahulu terlanda gairah birahi ini. Bermula dengan perasan senang untuk memandang wanita, terutama yang sebaya dengannya. Dan keadaan sekelilingnya yang mengajarkan tentang hubungan kelamin kepadanya.

Sekarang dia memandang dengan sinar mata berbeda kalau dia melihat sepasang ayam melakukan hubungan kelamin, atau bila mana dia yang suka bermain-main adu jangkerik dengan teman-temannya, yaitu anak-anak dusun sekitarnya, melihat jangkerik jantan dan jangkerik betina melakukan hubungan kelamin.

Kalau pada waktu kecil, penglihatan ini tidak mendatangkan sesuatu dalam perasaannya, hanya nampak sebagai suatu peristiwa wajar dalam mata kanak-kanak yang lantas lewat begitu saja dalam ingatannya tanpa membekas, setelah dia mulai dewasa kini penglihatan itu berubah menjadi sesuatu yang aneh, yang mendatangkan perasaan mesra dan ingin tahu di hatinya, kemudian berhenti dalam ingatannya untuk dibayang-bayangkan kembali di dalam renungan!

Akan tetapi, teringat akan wejangan-wejangan Hong San Hwesio tentang birahi, Thian Sin lalu menahan dan menekan dorongan-dorongan birahi ini.

“Birahi merupakan satu di antara kekuatan-kekuatan yang mengandung tenaga sakti di dalam tubuh,” demikian antara lain Hong San Hwesio memberi wejangan. “Kalau engkau dapat mengekangnya, maka hal itu akan menjadi tenaga sakti di dalam tubuhmu. Akan tetapi kalau dituruti, hal itu akan menghancurkan tenaga sakti. Birahi itu adalah hawa sakti yang ingin keluar, oleh karena itu kendalikanlah, pertahankanlah sedapat mungkin.”

Wejangan seperti itu memang dianggap wajar dan betul karena sudah menjadi tradisi dan kepercayaan umum bagi agamanya. Memang dapat dinyatakan bahwa dalam wejangan itu terdapat suatu kebenaran bahwa dorongan birahi itu, yang wajar, yang bukan buatan pikiran yang membayang-bayangkan kenikmatan, ialah merupakan suatu dorongan hawa sakti, bahkan pelepasannya tak luput dari pengaruh kekuatan yang amat mukjijat hingga pelepasannya merupakan sarana bagi perkembang biakan semua makhluk hidup di dunia ini!

Sungguh terdapat kemukjijatan yang amat ajaib dalam semua ini, terdapat sesuatu yang amat suci dan gaib dalam hubungan kelamin. Betapa kekuasaan yang tidak terbataslah mengatur semua itu dengan tertib dan indah. Hubungan itu adalah syarat mutlak untuk perkembang biakan manusia dan juga untuk menuntun manusia ke arah itu setelah mulai dewasa, maka terdapatlah gairah-gairah birahi dan di dalam pelaksanaannya itu sendiri terkandung kenikmatan. Semua ini akan mendorong manusia untuk condong melakukan hubungan kelamin dan dengan demikian terjaminlah berlangsungnya perkembang biakan manusia. Betapa mukjijatnya!

Kurang sedikit saja dalam ketertiban yang sudah diatur sempurna itu, timbullah bahaya kehancuran dan lenyaplah kemanusiaan! Andai kata tidak terdapat kenikmatan, maka manusia tentu tidak akan terdorong melakukannya dan kelanjutan manusia tentu akan terancam karenanya. Dorongan itu bahkan sudah ada di dalam diri setiap orang, gairah birahi adalah pembawaan lahir, alamiah.

Hubungan kelamin merupakan hal yang suci. Manusia sendirilah yang merusak semua keindahan serta kesempurnaan ini, dengan memelihara kesenangan dan kenikmatannya sehingga hal yang suci ini berubah menjadi kesenangan yang dikejar-kejar dan dicari-cari hanya untuk diraih sebagai pelepas nafsu dan untuk mencapai kepuasan belaka! Maka muncullah hal-hal yang hanya akan mendatangkan sengsara!

Kita memang selalu merusak keindahan dan ketertiban yang alamiah dan wajar. Setiap manusia sejak lahir sudah mempunyai selera dan gairah untuk makan. Kekuasaan yang maha sempurna telah mengaturnya sehingga kalau tubuh membutuhkan makan, timbul selera dan gairah dan perut sendiri memberontak minta diisi. Dengan demikian, proses makan mau pun kebutuhan lain dari tubuh seperti pernapasan dan sebagainya, adalah hal yang wajar dan untuk memberi dorongan kepada manusia untuk memenuhi tuntutan jasmani melalui perut ini, manusia telah diberi rasa enak di waktu mengisi perut.

Seperti juga tuntutan birahi yang menjadi sarana perkembang biakan, bukankah hal ini merupakan suatu kewajaran? Bukankah rasa enak di dalam makanan, juga rasa nikmat dalam hubungan kelamin, merupakan mukjijat dan anugerah yang berlimpah?

Namun sayang, seperti juga dalam gairah birahi, dalam gairah makan pun juga kita tidak lagi mementingkan kebutuhan jasmani atau kebutuhan perut, tetapi lebih mementingkan rasa enak itulah! Kita melupakan artinya yang hakiki, kita melupakan kepentingannya dan hanya mengejar rasa enak dalam makan, dan mengejar rasa nikmat dalam hubungan sex. Seperti juga dalam hubungan kelamin yang terjadi karena pengejaran kenikmatan belaka, maka bermunculanlah akibat-akibat yang menyengsarakan dalam makan yang terjadi karena pengejaran keenakan belaka!

Harus kita akui bahwa dalam pelaksanaan gairah itu memang terdapat rasa enak, ada rasa nikmat dan perasaan nikmat itu adalah anugerah yang terbawa lahir oleh kita semua. Jadi, bukan berarti bahwa kita harus MENOLAK makan enak atau menolak kenikmatan sex, sama sekali bukan. Keenakan, kelezatan atau kenikmatannya itu adalah anugerah, kita berhak menikmatinya, dan sama sekali TIDAK berbahaya. Yang berbahaya adalah bila sudah timbul PENGEJARAN. Pengejaran kesenangan, pengejaran kenikmatan inilah yang menjadi sumber segala derita, segala konflik dan kesengsaraan.


Thian Sin yang mulai merasakan dorongan-dordngan gairah nafsu birahi itu teringat akan wejangan Hong San Hwesio, maka dia pun cepat-cepat bersemedhi untuk menghalaunya, untuk menekannya di waktu gairah itu timbul. Namun, begitu dia melakukan penekanan-penekanan itu, gairah birahi itu timbul semakin sering! Timbul lagi, ditekan lagi, timbul lagi, ditekan lagi dan terjadilah lingkaran setan yang membuat pemuda itu gelisah.

Dan pada suatu malam, di dalam mimpi, gairah birahi ini mendesak sedemikian kuatnya sehingga dia terbangun dengan kaget dan dia menjadi semakin gelisah pada saat melihat betapa celananya menjadi basah! Maka teringatlah dia akan semua wejangan Hong San Hwesio tentang tenaga sakti dalam tubuh!

Hong San Hwesio dulu memperingatkan bahwa setelah menjelang dewasa, ada dorongan yang sukar dilawan untuk menyalurkan gairah itu, dan dia menasehati dua orang murid atau juga keponakan itu untuk mempertahankan sekuat tenaga agar jangan sampai mani keluar dari badan, apa lagi sengaja mengeluarkannya melalui permainan sendiri! Semua itu telah diungkapkan oleh Hong San Hwesio dan memang ada baiknya bagi orang muda untuk mengetahui seluk-beluk tentang sex ini.

Banyak pemuda yang didorong oleh gairah seksuilnya, dan ditambah khayalan-khayalan mengenai hubungan sex yang dapat dilihatnya pada binatang-binatang yang melakukan hubungan sex atau didengarnya dari teman-teman, atau dibacanya melalui buku-buku, maka banyak sekali yang kemudian melakukan permainan dengan dirinya sendiri, baik mempermainkan batinnya dengan bayangan-bayangan dan khayalan-khayalan mengenai hubungan sex, mau pun mempermainkan alat kelamin dengan tangan sendiri dan lain-lain yang disebut onani.

Thian Sin sudah mendengar tentang itu dan karena Hong San Hwesio memperingatkan dia tentang bahayanya hal itu, tentang kerugiannya, bahkan samar-samar hwesio itu telah mengatakan bahwa perbuatan itu tidak baik, maka begitu dia terbangun dari mimpi dan melihat celananya basah, tahulah dia bahwa dia telah mengeluarkan mani dalam tidurnya, melalui mimpinya!

Bukan main gelisah hati Thian Sin. Setelah membersihkan diri dengan air dan berganti pakaian, maka dia cepat-cepat duduk melakukan siulian untuk memulihkan tenaga sakti yang terbuang melalui pemancaran mani itu.

Pada keesokan harinya, Han Tiong dapat melihat perubahan muka pada adik angkatnya. Wajah Thian Sin nampak lesu dan dibayangi kegelisahan.

“Sin-te, apakah yang terjadi padamu? Engkau nampak begitu lesu dan muram?” tegurnya dengan halus dan penuh perhatian.

Melihat wajah kakak angkatnya, mendengar teguran yang halus itu, seketika terhiburlah hati Thian Sin karena dia seperti melihat uluran tangan yang hendak menolongnya.

“Tiong-ko, celaka sekali. Malam tadi… aku bermimpi dan… dan aku sudah… celanaku basah…” Dia menerangkan dengan gagap, meski pun biasanya dia tak pernah ragu-ragu untuk menceritakan segalanya kepada kakak angkat yang amat disuka dan dihormatinya itu.

Berkerut kedua alis Han Tiong yang tebal hitam itu, sepasang matanya membayangkan kekhawatiran. Bagaimana pun juga, sama dengan Thian, dia amat memperhatikan semua nasehat dan wejangan Hong San Hwesio maka mendengar bahwa adik angkatnya telah bermimpi sehingga mengeluarkan mani yang dianggap sebagai tenaga sakti dalam tubuh, dia merasa gelisah juga.

“Aihh, Sin-te… bagaimana dapat terjadi itu? Apakah engkau terlalu memikir-mikirkan hal itu?”

Thian Sin mengangguk. “Kemarin aku berbicara dengan beberapa orang kawan di dusun. Seorang di antara mereka menceritakan betapa dia pernah melihat kakaknya dan isteri kakaknya itu melakukan hubungan kelamin. Dari cerita itulah lantas datang khayalan dan kenangan yang kemudian terbawa dalam mimpi, Tiong-ko. Bagaimana baiknya, Tiong-ko, aku gelisah sekali. Tadi malam aku sudah melakukan semedhi, sampai pagi, akan tetapi aku tetap saja merasa gelisah…”

Han Tiong sendiri tak pernah mengalami hal itu, maka dia pun menjadi bingung. “Jangan gelisah, adikku. Mari kita minta nasehat ayah.”

“Ahh, aku… aku takut, Tiong-ko…”

“Kenapa harus takut? Engkau tidak melakukan sesuatu yang salah, hal itu terjadi di luar kesadaranmu, hanya dalam mimpi. Orang yang melakukan sesuatu tanpa disengaja, tidak berbuat salah, jangan takut, biar aku yang bercerita kepada ayah.”

“Tapi aku… aku malu…”

“Mengapa harus malu? Hal itu sudah terjadi, Sin-te, dan kalau hanya karena malu lantas diam-diam saja dalam kegelisahan, malah hal itu lebih tidak baik lagi. Kalau kita bercerita kepada ayah dengan sejujurnya, tentu ayah akan dapat menasehati bagaimana baiknya menghadapi hal seperti ini.”

Sesudah ditenangkan oleh Han Tiong, akhirnya maulah Thian Sin pergi menghadap ayah angkatnya dan Han Tiong yang menceritakan kepada ayahnya tentang pengalaman Thian Sin semalam. Thian Sin hanya duduk sambil menundukkan muka, tak berani menentang pandang mata ayah angkatnya itu, dan dia merasa malu sekali.

Mendengar penuturan Han Tiong itu, Cia Sin Liong tersenyum maklum dan pendekar ini mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik sekali kalau engkau tidak menyembunyikan hal itu, Thian Sin. Akan tetapi, kenapa harus kakakmu yang menceritakannya padaku, bukan engkau sendiri?”

Thian Sin mengangkat muka memandang wajah ayah angkatnya, kemudian dengan lirih dia menjawab, “Aku… aku merasa takut dan malu, Gi-hu (ayah angkat).”

Cia Sin Liong mengerutkan alisnya dan bersikap sungguh-sungguh. “Justru hal inilah yang berbahaya, yaitu merasa dirimu bersalah sehingga engkau menjadi ketakutan dan malu. Mengapa engkau harus takut dan malu, Thian Sin?”

Pertanyaan itu tentu saja mencengangkan hati kedua orang muda itu.

“Tapi… Gi-hu, menurut wejangan paman Hong San Hwesio, hal itu amat berbahaya bagi kami. Paman Hong San Hwesio telah memesan dengan sungguh-sungguh supaya kami jangan bermain-main dengan diri sendiri sehingga mengeluarkan mani, bahkan menjaga agar jangan sampai mengeluarkan mani sama sekali karena hal itu akan menghilangkan tenaga sakti di dalam tubuh.”

Cia Sin Liong mengangguk-angguk. “Memang tidak terlalu keliru pernyataan bahwa hal itu akan melemahkan akan tetapi bukan untuk seterusnya. Tenaga sakti yang keluar itu akan dapat pulih kembali. Memang hal itu tidak baik, akan tetapi yang lebih tak baik lagi, yang lebih berbahaya lagi adalah perasaan takut dan malu itulah. Hal itu akan membuat engkau menjadi rendah diri, merasa berdosa dan selalu merasa malu menentang pandang mata orang lain karena merasa seolah-olah orang-orang lain tahu belaka akan keadaan dirimu. Tidak, Thian Sin, jangan engkau merasa takut dan malu! Hal yang seperti kau alami itu adalah hal yang lumrah dan banyak dialami oleh para muda, oleh karena itu tenangkan hatimu. Itu bukan merupakan hal yang terlampau hebat. Tentu saja akan lebih baik kalau hal itu tidak sampai terjadi dan jika engkau lebih mencurahkan perhatian pada pelajaran-pelajaranmu, baik pelajaran silat atau pelajaran sastera, mengisi waktumu dengan hal-hal yang berharga dan tidak terlalu membayang-bayangkan hal-hal yang dapat menimbulkan nafsu birahi, maka hal ini pun tak akan terjadi, atau tidak sering mengganggumu.”

Bukan main leganya rasa hati Thian Sin mendengar keterangan ayah angkatnya itu, akan tetapi dia pun merasa malu karena pendekar itu menyambung. “Betapa pun juga, apa bila hal itu terlalu sering terjadi, amat tidak baik bagi kemajuan latihan silatmu, dan juga hal itu menandakan suatu batin yang lemah.”

Memang harus diakui, hal seperti yang dialami oleh Thian Sin itu, yaitu bermimpi dan menumpahkan mani di waktu tidur, banyak dialami oleh pemuda-pemuda yang menanjak dewasa. Bahkan perbuatan onani pun sering kali dilakukan oleh pemuda-pemuda untuk memperoleh kepuasan seksuil tanpa harus berhubungan dengan wanita karena untuk hal itu mereka belum berani melakukannya dan mereka tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan hal itu.

Dan betapa banyaknya pemuda yang merasa tersiksa, diam-diam merasa seolah-olah dia telah melakukan sesuatu yang amat buruk dan berdosa, namun hal itu telah menjadi, kebiasaan yang mencandu, yang sukar dilepaskannya, dia telah terikat oleh rangsangan kenikmatan yang menuntut pengulang-ulangan, dan setiap kali habis melakukan hal itu timbul rasa menyesal yang membuat dia akan merasa semakin rendah diri.

Tidak keliru pernyataan pendekar Cia Sin Liong bahwa rasa bersalah yang menimbulkan perasaan takut dan malu itu akan menciptakan perasaan rendah diri dan hal ini jauh lebih berbahaya dari pada perbuatan onani itu sendiri! Oleh karena itu, bagi para pemuda yang merasa mempunyai ‘penyakit’ ini, waspadalah, buanglah jauh-jauh rasa rendah diri yang timbul dari penyesalan, rasa takut, dan malu dan rasa berdosa itu.

Akan tetapi, selain itu harus waspada juga bahwa perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang timbul dari kebiasaan yang telah mencandu dan bahwa perbuatan akibat kebiasaan itu memang amat tak baik bagi kesehatan hati dan batin. Mengekang atau menekannya tiada guna karena akan selalu timbul, makin dikekang semakin kuat daya rangsangnya sehingga tidak tertahankan, kemudian berbuat lagi, sehabis berbuat menyesal. Demikian selanjutnya.

Ini bukanlah berarti bahwa hal itu harus dibiarkan saja berlangsung. Sama sekali tidak, karena jika sampai berlarut-larut, akibatnya amat tidak baik bagi badan dan batin. Akan tetapi kita harus menghadapi hal itu setiap kali dia timbul, setiap kali rangsangan untuk melakukan onani itu timbul, malah sebelum timbul, kita membuka mata dengan waspada dan penuh kesadaran, tanpa ada keinginan untuk menekannya, hanya mengamati saja dengan penuh perhatian, mempelajarinya, menyelidikinya. Itu saja!

Dan hal ini hanya dapat dilaksanakan, bukan hanya merupakan teori lapuk, tapi dihayati dan dilaksanakan setiap kali dia timbul. Buka mata, amati dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan. Akan terlihat bahwa pendorongnya bersumber kepada si aku yaitu pikiran yang mengenangkan atau mengingat-ingat, membayang-bayangkan kembali kenikmatan-kenikmatan yang pernah dirasakannya.

Si aku yang ingin mengejar kenikmatan inilah yang menjadi pembujuk, pendorong hingga ‘pertahanan’ yang kita bangun itu ambruk dan kita menyerah kepada kehendak si aku, yaitu nafsu ingin memuaskan diri, ingin menikmati. Maka, bila mana kita membuka mata memandang penuh perhatian, tanpa adanya si aku, maka si aku yang mengejar-ngejar kesenangan itu tidak ada, yang ada hanya kewaspadaan yang menimbulkan kesadaran dan pengertian, dan lahirlah tindakan-tindakan spontan yang akan melenyapkan semua kebiasaan itu.

Mimpi tentang hubungan sex, mau pun onani, keduanya adalah akibat dari pada si aku atau pikiran yang mengenang dan mengingat-ingat kembali kenikmatan. Kalau ingatan itu bertumpuk di bawah sadar, lalu timbul dalam mimpi. Sedangkan onani dilakukan karena tidak dapat menahan dorongan gairah yang timbul dan mendesak.

Hubungan sex adalah sesuatu yang wajar, yang suci. Akan tetapi kalau terdorong oleh pikiran yang mengejar kenikmatan, lalu terjadilah hal-hal yang tidak wajar. Pengamatan diri tanpa pamrih sesuatu akan melahirkan kebijaksanaan mendisiplin diri, bukan disiplin paksaaan melainkan timbul dengan sendirinya sehingga hubungan seks menjadi sesuatu yang indah, dilakukan tepat pada waktunya, tempatnya, keadaannya dan sebagainya.


Mendengar ucapan pendekar Cia Sin Liong itu, maka lenyaplah kekhawatiran Thian Sin. Akan tetapi berbareng dengan terjadinya peristiwa itu, mulailah dia menjadi dewasa dan perhatiannya terhadap gadis-gadis sebayanya pun makin besar pula.

Akan tetapi pemuda tanggung ini selalu dapat menahan nafsunya, sesuai dengan ajaran kebatinan yang sudah diterimanya dari Hong San Hwesio. Dengan demikian, rasa tertarik itu hanya dilampiaskannya saja melalui kerling memikat dan senyum manis setiap kali dia bertemu dengan gadis-gadis dusun.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner