PENDEKAR SADIS : JILID-10


Tentu saja sikap Thian Sin ini makin menarik para gadis itu dan segera pemuda tampan yang mereka sebut Ceng-kongcu ini menjadi bahan percakapan mereka sehari-hari. Sikap Thian Sin ini terbalik sama sekali dibandingkan dengan sikap Han Tiong yang pendiam, terbuka dan jujur. Pemuda ini ‘alim’ bukan karena paksaan, bukan karena pengekangan batin, akan tetapi memang pikirannya bersih dari pada bayangan-bayangan kesenangan birahi seperti yang digambarkan dalam batin Thian Sin.

Pada suatu hari, lewat tengah hari yang panas, dua orang pemuda itu berjalan di dalam hutan. Thian Sin memanggul seekor kijang muda yang berhasil mereka robohkan dalam perburuan itu. Thian Sin-lah yang terus membujuk-bujuk kakak angkatnya untuk berburu hari itu.

“Aku ingin sekali makan daging kijang, Tiong-ko. Dan kau pun tahu, ayah ibu suka sekali makan daging kijang pula. Marilah temani aku berburu kijang.”

Sesudah terus menerus dibujuk-bujuk, akhirnya Han Tiong yang sangat menyayangi adik angkatnya itu pun setuju, dan hampir seharian penuh mereka berkeliaran di dalam hutan memburu kijang. Memang ada binatang-binatang hutan yang lain, akan tetapi karena dari rumah tadi mereka sudah mempunyai niat untuk berburu kijang saja, maka mereka tidak mau mengganggu binatang-binatang lain.

Akhirnya, setelah lewat tengah hari, mereka pun melihat seekor kijang muda yang gemuk. Dengan ilmu berlari cepat mereka mengejarnya hingga akhirnya dapat merobohkan kijang itu dengan sambitan-sambitan batu. Mereka merasa lelah dan haus karena cuaca hari itu panas bukan main.

Ketika mereka melewati sebuah danau kecil yang airnya jernih, mereka lantas berhenti, melempar bangkai kijang itu ke bawah sebatang pohon dan mereka lalu mencuci muka, tangan dan kaki sehingga terasa segar sekali. Rasa sejuk ini kemudian membuat mereka ingin mengaso.

“Tempat ini sunyi, sejuk dan indah. Mari kita mengaso sambil berlatih siulian, Sin-te,” kata Han Tiong.

Adiknya setuju dan mereka berdua segera duduk bersila di antara semak-semak, di atas rerumputan yang hijau tebal. Bangkai kijang itu mereka simpan pula di atas cabang pohon agar jangan diganggu binatang buas. Di balik semak-semak di pinggir danau itu mereka duduk bersila dan bersemedhi, berdampingan dan Thian Sin duduk di dekat danau, kakak angkatnya di sebelah kirinya.

Karena badan lelah, kemudian terasa segar setelah terkena air dingin dan tempat itu pun memang sejuk dan dikipasi angin semilir, maka kedua orang muda itu dapat bersemedhi dengan hening dan tenteramnya sehingga mereka sudah lupa akan waktu. Tanpa mereka sadari, mereka telah duduk berjam-jam sampai matahari mulai condong jauh ke barat dan sinarnya tidak panas lagi.

Juga mereka tidak tahu, tidak melihat dan tidak mendengar suara merdu beberapa orang gadis dusun yang berjalan dan bercanda menuju ke danau itu, sambil membawa pakaian kotor. Para gadis itu mulai mencuci pakaian di tepi danau, di atas batu yang menonjol di danau itu sambil bercakap-cakap. Karena kedua orang itu bersemedhi di balik semak-semak, dan karena biasanya tempat itu tidak pernah ada orangnya, maka empat orang gadis itu sama sekali tidak pernah tahu bahwa tidak jauh dari mereka terdapat dua orang muda tengah bersemedhi.

Setelah selesai mencuci pakaian, empat orang gadis itu kemudian menanggalkan pakaian mereka untuk dicuci pula. Mereka lantas mandi dengan telanjang bulat karena biasanya mereka juga melakukan hal itu di tempat sunyi ini tanpa ada yang pernah mengganggu mereka. Mereka mandi sambil bercanda, bersiram-siraman, tertawa-tawa dan bernyanyi-nyanyi.

Semua suara itu sama sekali tak mengganggu Han Tiong yang masih tekun bersemedhi. Tak nampak segaris kerut pun di wajahnya karena dia tenggelam dalam keheningan yang syahdu. Akan tetapi, suara ketawa merdu gadis-gadis itu agaknya sanggup menembus keheningan yang tadinya memang dapat membuat Thian Sin bersemedhi dengan hening.

Sekarang pemuda itu mulai menggerakkan bola matanya hingga bola matanya pun mulai bergerak-gerak. Kini kesadarannya mendorong perhatian melalui telinganya, ditujukan ke arah suara itu dan jantungnya berdebar. Suara gadis-gadis tertawa-tawa dan bersenda-gurau, diselingi suara percik air.

Mendengar suara yang datang dari arah kanannya itu, perlahan-lahan dia membuka mata kanannya, sedangkan mata kirinya masih tetap terpejam. Dan mata kanan itu terbelalak ketika dari balik semak-semak dia melihat betapa di sebelah kanan, tak jauh dari tempat dia duduk, ada empat orang gadis dusun yang sedang bermain-main di dalam air, sedang mandi dengan bertelanjang bulat!

Wajah Thian Sin menjadi merah. Dia harus mengatur pernapasannya agar tidak terengah-engah. Dia lalu membuka mata kiri, melirik ke arah kakak angkatnya. Han Tiong masih bersemedhi dengan hening dan tekun, sedikit pun tak bergerak dengan pernapasan yang panjang dan halus.

Cepat Thian Sin menutupkan lagi mata kirinya dan sekarang hanya mata kanannya yang mengerling ke kanan, ke arah gadis-gadis yang sedang mandi itu. Jantungnya berdebar semakin keras, apa lagi ketika dia melihat bahwa di antara mereka terdapat Cu Ing!

Gadis ini adalah kembang dusun di sebelah selatan Lembah Naga, seorang dara remaja yang manis sekali dan sudah beberapa kali Thian Sin bertemu dengan dara manis yang menarik hatinya ini, lebih dari pada dara-dara lainnya. Kalau biasanya di waktu bertemu dengan Cu Ing, dara itu sudah tampak manis, kini dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali itu Cu Ing nampak lebih jelita lagi, dengan kulit tubuhnya yang putih kekuningan, dengan lekuk lengkung tubuh yang menggairahkan.

Sesudah mata kanan Thian Sin meliar ke arah tubuh keempat orang dara itu, akhirnya pandang matanya berhenti dan terpesona pada Cu Ing seorang dan dia hampir tak dapat menahan mulutnya untuk berseru kecewa ketika empat orang dara itu menghentikan dan mengakhiri mandi mereka dan setelah mengeringkan tubuh mereka segera mengenakan pakaian bersih.

Karena merasa kurang leluasa mengikuti gerakan-gerakan mereka, maka kini Thian Sin mendoyongkan tubuhnya dan menguak semak-semak agar dapat melihat lebih jelas lagi. Akan tetapi tiba-tiba seorang di antara empat gadis itu melihat gerakan ini. Mata dara itu terbelalak dan dia berseru.

“Ada orang mengintai kita!”

Tiga orang kawannya cepat menengok ke arah tempat yang ditunjuk dara itu, dan mereka semua melihat Thian Sin! Seperti empat ekor kijang melihat harimau, empat orang dara itu itu cepat-cepat menyambar pakaian dan cucian mereka, lalu melarikan diri pontang-panting dari tempat itu. Akan tetapi karena mereka sudah mengenal siapa pria yang tadi mengintai, maka sambil berlari mereka kadang kala menengok dan mereka tertawa-tawa serta menjerit-jerit penuh rasa geli, ngeri dan juga senang!

Jeritan-jeritan ini menggugah Han Tiong dari semedhinya. Dia lantas membuka mata dan melihat betapa adik angkatnya masih bersila dengan antengnya, akan tetapi dari gerakan bola mata adiknya dia dapat menduga bahwa tentu adiknya itu terganggu pula oleh suara jeritan-jeritan tadi.

“Sin-te, suara apakah yang menjerit tadi?” Dan Han Tiong lalu memandang ke arah suara yang masih terdengar lapa-lapat.

“He? Suara apa? Aku tidak tahu… ah, benar, itu masih terdengar suaranya, seperti suara wanita tertawa…,” kata Thian Sin, pandai sekali dia bergaya seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

“Ah, senja telah mulai tiba. Tak terasa kita sudah lama juga beristirahat. Mari kita pulang!” kata Han Tiong, tidak mempedulikan lagi suara ketawa itu.

Adik angkatnya mengangguk sunyi, mengambil bangkai kijang dan pulanglah dua orang muda itu. Akan tetapi di luar tahu Han Tiong, adik angkatnya berjalan memanggul bangkai kijang sambil melamun, mengenangkan kembali penglihatan yang membuat jantungnya masih tetap berdebar dan tiap kali dia membayangkan Cu Ing, dia lalu tersenyum sendiri.

Sejak terjadinya peristiwa itu, mulailah Thian Sin mendekati Cu Ing yang semakin menarik hatinya itu. Dara dusun itu kelihatan manja dan kelihatan seperti jinak-jinak merpati, kalau didekati menjauh malu-malu akan tetapi kalau dari jauh mengerling dan senyum-senyum memikat.

Melihat keadaan dua orang muda remaja ini, teman-teman mereka, yaitu para pemuda dan gadis dusun sering kali menggoda mereka. Cu Ing digoda teman-temannya dan hal ini semakin menambah rasa cinta yang tumbuh di hatinya terhadap pemuda yang menjadi idaman semua gadis di sekitar Lembah Naga itu.

Di dalam hatinya timbul semacam kebanggaan besar karena bukankah Thian Sin terkenal sebagai pemuda perkasa, murid majikan Istana Lembah Naga, bahkan masih keponakan pula, dan juga putera angkat, dan bukankan pemuda ini terkenal amat tampan, gagah dan memikat hati setiap orang wanita? Sebaliknya, dara yang malu-malu dan manja seperti merpati ini, semakin lama makin mempesona hati Thian Sin sehingga timbullah rasa cinta asmara dalam hatinya. Cinta pertama seorang pemuda yang pada waktu itu baru berusia enam belas tahun!

Bhe Cu Ing adalah seorang gadis yang manis, kembang dusunnya dan keadaannya lebih mampu dibandingkan dengan keluarga gadis-gadis lainnya sebab dia adalah anak tunggal dari Bhe Soan yang dianggap sebagai pemuka atau kepala dari dusun kecil itu.

Bhe Soan ini lebih berpengalaman dari pada para penghuni dusun, selain mengenal huruf juga sudah banyak merantau ke luar daerah, pandai bertani dan pandai pula mengatur kerukunan dusun kecil itu. Keadaannya pun lebih mampu dari pada para petani lain.

Dara ini sendiri maklum bahwa dirinya sudah tidak bebas, sejak kecil sudah ditunangkan oleh ayahnya dengan pria lain. Akan tetapi karena dia belum pernah melihat tunangannya itu, maka hal itu seolah-olah sudah dilupakannya, apa lagi ketika dia berjumpa dengan Thian Sin dan melihat mata pemuda itu yang penuh kagum dan kemesraan jika ditujukan kepadanya!

Dara berusia enam belas tahun ini dengan sepenuhnya jatuh hati kepada Thian Sin. Akan tetapi sebagai seorang gadis dusun, dia malu-malu dan setiap kali bertemu dengan Thian Sin, dia tidak berani memandang langsung. Hal ini terasa lebih lagi setelah semua teman menggodanya sebagai kekasih Thian Sin! Ada rasa malu, rasa bangga, rasa girang yang dicobanya untuk ditutupi dengan muka cemberut marah tetapi bibir tersungging senyuman apa bila teman-temannya menggodanya.

Karena rasa malu pulalah maka kedua fihak hampir tidak berani saling pandang, apa lagi saling bertanya kalau ada orang-orang lain. Thian Sin sendiri karena masih ‘hijau’ maka perasaan malu membuat dia yang biasanya pandai bicara itu menjadi pendiam apa bila bertemu gadis itu di depan banyak orang.

Sudah beberapa kali Thian Sin berusaha untuk dapat bicara berdua saja dengan Cu Ing, akan tetapi gadis itu tidak pernah bersendirian, selalu ada kawannya sehingga sukarlah baginya untuk dapat bicara berdua. Karena sudah tak dapat menahan dorongan hatinya, maka Thian Sin menjadi nekat dan pada suatu hari, ketika Cu Ing dan beberapa orang kawannya pagi-pagi pergi ke danau kecil untuk mencuci pakaian, diam-diam Thian Sin membayangi mereka. Dari tempat sembunyinya dia mengintai pada saat mereka mencuci pakaian dan mandi, dengan hati-hati sekali sehingga sekali ini tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat melihatnya.

“Hi-hik-hik, jangan-jangan ada orang laki-laki yang mengintai kita lagi!” terdengar seorang di antara gadis-gadis itu berkata sambil terkekeh genit.

Mendengar kata-kata ini, semua gadis cepat-cepat menutupi tubuh sedapatnya dengan kedua tangan dan mata mereka yang bening itu terbelalak memandang ke kanan dan kiri. Mereka tersenyum geli ketika melihat bahwa tempat itu sunyi saja.

“He-he-he, Cu Ing sih lebih senang dilihat kalau yang melihat itu si dia!”

“Ih, jorok kau! Bukan aku saja yang terilhat, akan tetapi kalian bertiga juga!” bantah Cu Ing dan wajahnya berubah merah sekali.

“Mana bisa? Aku berani bertaruh bahwa pandangan matanya hanya ditujukan kepada Cu Ing seorang! Mana yang lain-lain kelihatan?” goda seorang dara yang mempunyai sebuah tahi lalat besar di punggungnya.

“Cu Ing, kapan sih engkau menikah dengan Ceng-kongcu?” goda pula seorang lain.

Mendengar pertanyaan yang sifatnya kelakar akan tetapi setengah serius itu, alis yang kecil hitam melengkung itu berkerut. “Aiihh, pertanyaan macam apa yang kau katakan ini? Mana dia mau dengan gadis dusun macam aku? Pula, mana ada fihak perempuan bicara tentang perjodohan?”

“Hi-hik, siapa tidak tahu bahwa dia sudah tergila-gila kepadamu?”

“Dan engkau tergila-gila kepadanya?”

“Siapa sih yang tidak tergila-gila kepada kongcu itu?”

Mendengar kelakar teman-temannya, Cu Ing berkata, “Sudahlah, mari kita naik, aku akan pulang.”

Sambil tertawa-tawa gadis-gadis itu segera mengenakan pakaian bersih. Wajah mereka nampak segar kemerahan setelah mandi air yang dingin itu, dan terutama sekali, di dalam pandangan Thian Sin, wajah Cu Ing nampak seperti sekuntum bunga mawar hutan yang amat indah permai.

Ketika empat orang gadis itu sedang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa di dalam hutan menuju ke dusun mereka, mendadak Thian Sin muncul dari balik sebatang pohon besar dan dengan suara gemetar karena tegang dia memandang kepada empat orang itu dan berkata,

“Nona Cu Ing, aku ingin bicara denganmu…”

Empat orang gadis itu terbelalak dan tercengang, kaget melihat munculnya pemuda yang tadi menjadi bahan percakapan mereka itu secara tiba-tiba dari belakang pohon. Dan kini sesudah mendengar ucapannya, Cu Ing menundukkan mukanya yang berubah menjadi merah sekali, sedangkan tiga orang temannya tersenyum-senyum.

Seorang di antara mereka lalu mengambil keranjang pakaian dari tangan Cu Ing sambil berkata, “Aku pergi dulu, hi-hik…”

“Hi-hi-hik…”

“Hi-hik…”

Ketiga orang gadis itu terkekeh-kekeh dan berlari-lari kecil meninggalkan Cu Ing sambil membawakan cuciannya. Cu Ing tadinya menunduk malu, akan tetapi sesudah melihat teman-temannya lari, dia pun lalu ikut melarikan diri.

“Nona Cu Ing…”

Akan tetapi panggilan itu agaknya membuat Cu Ing merasa semakin malu, karena itu dia mempercepat larinya. Akan tetapi, saking gugupnya, kakinya tersandung dan tentulah dia sudah jatuh tertelungkup kalau saja Thian Sin tidak cepat-cepat menyambar pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanan.

“Cu Ing, tunggulah sebentar, aku ingin bicara denganmu…,” kata Thian Sin dan agaknya kelembutan lengan dalam pegangan tangan kanannya itu membuat dia lupa untuk segera melepaskannya!

Cu Ing melihat dengan mata terbelalak kepada tiga orang temannya yang sudah lari jauh dan suara mereka yang terkekeh genit masih terdengar sayup-sayup. Kemudian, merasa betapa tangan kirinya digenggam orang, dia mencoba untuk menariknya, akan tetapi tidak terlepas.

Dia mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu agak lama, kemudian Cu Ing cepat-cepat membuang muka ke samping sambil menunduk, mukanya merah sekali dan tubuhnya menggigil, mulutnya menahan senyum dan dia merasa malu sekali!

“Cu Ing… mengapa kau lari dariku? Aku… aku ingin bicara denganmu, aku… aku hendak mengatakan bahwa aku… aku cinta padamu…,” kata Thian Sin sambil masih memegangi pergelangan tangan kiri dara itu.

Sukar bagi Thian Sin untuk bicara, akan tetapi lebih sukar lagi bagi Cu Ing yang merasa betapa jantungnya berdegup keras sekali, membuat seluruh tubuhnya gemetar dan kedua kakinya menggigil. Akan tetapi akhirnya dia memaksa diri.

“Aihhh… kongcu… mana mungkin itu…?”

“Cu Ing, aku bersumpah… aku cinta padamu. Kau raba jantungku ini…” Dia membawa tangan itu menempel ke dadanya, akan tetapi karena malu Cu Ing cepat menggenggam tangannya.

“Kongcu… lepaskan aku… ahh, aku malu… aku takut…,” bisiknya.

“Cu Ing, kenapa mesti malu-malu kalau memang kita saling mencinta? Aku cinta padamu dan aku tahu bahwa engkau pun cinta padaku…”

“Bagaimana kongcu bisa tahu…?” Dara itu mendesah lirih sambil menundukkan mukanya yang sebentar pucat sebentar merah itu, dan sekarang, tanpa disadarinya sendiri, jari-jari tangannya membalas genggaman tangan Thian Sin.

“Tentu saja aku tahu… dari pandang matamu, dari senyummu…”

“Aku… aku takut, kongcu…”

“Takut apa? Takut kepada siapa? Ada aku di sini, siapa akan berani mengganggumu, Cu Ing? Aku bersumpah, kalau ada yang berani mengganggu ujung rambutmu saja, aku akan mematahkan tangan orang yang mengganggumu itu!”

“Aihhh… kongcu…”

“Cu Ing, janganlah kau merendahkan diri sebagai gadis dusun. Biar ada selaksa bidadari turun dari sorga, aku akan tetap memilih engkau seorang. Jangan engkau menyangsikan cintaku terhadapmu, Cu Ing. Kau tadi bilang, bahwa fihak perempuan tidak bicara tentang perjodohan, nah, sekarang akulah yang bicara…”

Sepasang mata itu terbelalak memandang ke arah Thian Sin. “Kongcu…! Jadi kau… kau tadi… kembali engkau mengintai…” Wajah yang manis itu menjadi semakin merah.

Thian Sin tersenyum dan mengangguk. “Aku ingin sekali melihatmu, ingin sekali bertemu dan bicara denganmu…”

“Ihhh…, kau nakal, kongcu!”

Tadinya Cu Ing hendak marah, akan tetapi aneh, sesudah dia melihat wajah tampan itu tersenyum, semua kemarahannya langsung lenyap begitu saja dan jantungnya berdebar tegang. Thian Sin sendiri merasakan jantungnya berdebar-debar dan kedua tangannya gemetar ketika dia memegang kedua tangan dara itu.

Mereka berdiri berhadapan, saling berpegang tangan dan saling pandang, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Hanya dua pasang mata mereka saja yang saling berbicara dengan getaran-getaran sinar yang mesra. Bahkan bicara tanpa kata melalui pandang mata ini saja membuat Cu Ing tidak dapat bertahan terlampau lama karena dia sudah merasa malu sekali. Maka dia pun lalu menundukkan mukanya, suaranya gemetar ketika dia bicara.

“Kongcu… aku… aku mau pulang dulu… teman-teman sudah pulang, nanti ayah marah kepadaku.”

“Mari, kuantar kau pulang, Cu Ing…,” kata pula Thian Sin dengan suara yang sama pula gemetarnya.

Mereka lalu berjalan sambil bergandengan tangan dan merasa betapa indahnya pagi hari itu. Cahaya matahari pagi seperti menembus dada, menyinari seluruh ruang hati mereka yang gembira. Kaki terasa ringan melangkah, tapi hati terasa berat berpisah.

Sesudah tiba di luar dusun tempat tinggal Cu Ing, Thian Sin menarik kedua tangan gadis itu dalam genggamannya, didekatkan sampai menyentuh dadanya. Karena gerakan ini Cu Ing juga tertarik mendekat dan kembali dua pasang mata saling pandang, sekali ini agak berdekatan.

“Cu Ing, aku cinta padamu… katakanlah, apakah engkau juga cinta padaku?”

Cu Ing tak kuasa mengeluarkan suara, maka sebagai jawabannya dia hanya mengangguk lemah, kemudian cepat menarik kedua tangannya dari genggaman pemuda itu dan berlari memasuki dusun. Sesudah dia terlepas dari pegangan pemuda itu, agaknya mulai timbul keberaniannya maka dia menoleh sambil tersenyum.

“Kongcu… besok… pagi-pagi aku ke danau…!” Lalu berlarilah dia dengan senyum masih menghias bibirnya yang merah.

Thian Sin juga tersenyum, mengikuti dara itu dengan pandangan matanya, melihat betapa manisnya gadis itu kelihatan dari belakang ketika berlari kecil dengan sikap malu-malu.

Mulai hari itu, resmilah di antara muda-mudi pedusunan di sekitar Lembah Naga bahwa Cu Ing adalah pacar Thian Sin! Dan semenjak hari itu pula, Thian Sin sering mengadakan pertemuan berdua saja dengan Cu Ing, yaitu kalau Cu Ing memperoleh kesempatan pergi ke danau untuk mencuci pakaian atau mandi.

Akan tetapi, karena Thian Sin sendiri adalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang masih hijau, maka di dalam pertemuan itu mereka berdua hanya bercakap-cakap dengan lirih dan mesra, dan kemesraan yang terjadi di antara mereka hanya terbatas pada saling sentuh dan saling genggam tangan saja!

Akan tetapi, birahi merupakan pendorong yang kuat dan juga merupakan guru alamiah yang sangat pandai. Apa lagi Thian Sin juga kadang-kadang mendengar percakapan dari teman-temannya apa bila mereka bercanda dan mendengar tentang kemesraan antara suami isteri. Oleh karena itu, sentuhan-sentuhan dan saling genggam tangan itu semakin lama dilanjutkan dengan pencurahan kemesraan yang semakin berani dan akhirnya, pada suatu pagi ketika mereka mengadakan pertemuan berdua saja di dalam hutan, Thian Sin merangkul leher Cu Ing dan mencium pipinya.

Mula-mula Cu Ing terkejut, akan tetapi darah remajanya bergolak sehingga beberapa kali pertemuan berikutnya, mereka sudah berani saling peluk dan saling berciuman dengan mesra dan dengan sepenuh kasih sayang. Mereka tidak tahu betapa ada sepasang mata yang mengintai mereka dari jauh, dengan sinar mata penuh iri hati!

Itulah sinar mata dari seorang gadis lainnya, seorang teman baik Cu Ing, yang diam-diam sudah jatuh cinta pula pada Thian Sin, hal yang sama sekali tidak mengherankan karena hampir semua gadis di pedusunan itu tergila-gila belaka kepada pemuda yang tampan, gagah dan ramah serta manis budi ini.

Thian Sin dan Cu Ing tidak tahu betapa gadis itu diam-diam pergi melapor kepada Paman Bhe, yaitu ayah kandung Cu Ing. Keluarga ini memang pernah mendengar kabar angin mengenai hubungan puteri mereka dengan Ceng-kongcu, akan tetapi karena mereka itu merasa hormat dan segan kepada keluarga penghuni Istana Lembah Naga, maka mereka pura-pura tidak mendengar berita itu dan mereka percaya bahwa hubungan itu hanyalah hubungan persahabatan saja, mengingat bahwa Ceng Thian Sin adalah seorang pemuda yang sopan dan terhormat.

Akan tetapi, pada waktu mendengar laporan gadis itu betapa puteri mereka mengadakan pertemuan berdua saja dengan Thian Sin, bahkan gadis itu melihat betapa mereka saling berpelukan dan berciuman, keluarga Bhe menjadi terkejut dan marah sekali. Tak mereka sangka akan terjadi hal seperti itu, karena biasanya, setiap kali pergi dari rumah untuk mencuci ke danau, tentu Cu Ing selalu disertai oleh beberapa orang teman, bahkan gadis yang melapor itu sendiri pun menemaninya.

Setelah berganti pakaian yang pantas, Paman Bhe itu bergegas pergi mengunjungi Istana Lembah Naga. Dengan wajah mengandung kecemasan, namun sinar mata dipenuhi rasa penasaran, dia lalu mohon bertemu dengan Cia-taihiap, demikian sebutan Cia Sin Liong yang menjadi majikan istana itu.

Tidak aneh bagi keluarga Cia untuk menerima kunjungan seorang petani, sebab memang dia selalu membuka hati dan tangan untuk menerima mereka dan siap membantu semua kesulitan para petani itu. Akan tetapi ketika melihat wajah yang serius dari tamunya itu, dia merasa heran dan juga tertarik.

“Bhe-toako, ada keperluan apakah maka pagi-pagi engkau datang berkunjung?” tanyanya dengan suara ramah.

Petani itu membungkuk dan memberi hormat dengan sikap sungkan yang dibalas dengan penuh keheranan oleh tuan rumah. Pada waktu itu Bi Cu keluar dari dalam, dan melihat bahwa suaminya menerima seorang tamu yang dikenalnya sebagai seorang petani dari sebuah dusun tak jauh dari Lembah Naga, nyonya muda ini pun ikut pula menyambut. Dia tidak tahu betapa kehadiran nyonya ini membuat petani Bhe merasa makin sungkan dan takut-takut untuk mengeluarkan isi hatinya.

“Bhe-toako, agaknya ada sesuatu yang amat penting dan ingin kau sampaikan kepadaku. Hayo, katakanlah, kami siap untuk mendengarkan.” Suara pendekar itu terdengar lembut dan ramah sekali sehingga berhasil mengusir rasa sungkan dan takut di hati tamunya.

Petani Bhe menelan ludah beberapa kali, barulah kemudian dia berkata. “Maafkan saya, Cia-taihiap, saya… saya datang untuk bicara tentang… tentang… Ceng-kongcu…”

Sin Liong dan isterinya saling lirik, hati mereka merasa heran akan tetapi juga khawatir. “Tentang Thian Sin? Apakah yang terjadi?” tanya Sin Liong.

Melihat sikap tamunya yang takut-takut itu, Bi Cu ikut bicara, “Ceritakanlah dengan tenang dan jangan takut.” Suaranya manis dan lembut sehingga sekarang rasa takut petani itu menjadi hilang.

“Harap taihiap berdua maafkan. Saya terpaksa melaporkan hal ini demi kebaikan kedua fihak. Begini, taihiap. Seperti taihiap mungkin telah mengetahui, saya mempunyai seorang anak perempuan bernama Cu Ing, yang sudah menjelang dewasa. Semenjak kecil, anak saya itu sudah kami tunangkan dengan putera keluarga Sung di dusun selatan. Dengan demikian berarti bahwa anak perempuan kami ini telah menjadi calon isteri orang secara sah.” Sampai di sini, petani itu berhenti bicara, seolah-olah dia masih merasa berat untuk melanjutkannya.

“Bhe-toako, apa hubungannya penjelasanmu itu dengan Thian Sin?” Sin Liong mendesak dan ingin tahu sekali.

“Taihiap, sudah beberapa hari lamanya ini… terjalin hubungan yang akrab antara Cu Ing dan Ceng-kongcu…” Kembali dia berhenti.

Sin Liong tersenyum, senyum untuk menutupi hatinya yang mulai merasa tidak enak, lalu katanya ramah, “Aihhh, Bhe-toako, apa salahnya dengan itu? Antara kami dan toako pun terjalin hubungan akrab, bukan? Maka apa salahnya kalau anak-anak kita juga menjadi sahabat yang baik?”

“Tentu saja, taihiap, kalau hanya hubungan akrab, tentu keluarga kami merasa terhormat dan berterima kasih sekali, akan tetapi…”

“Akan tetapi bagaimana?” Bi Cu mendesak.

“Mereka itu bukan hanya berhubungan seperti sahabat biasa, tapi… menurut keterangan beberapa orang saksi, mereka mengadakan pertemuan berduaan, dan mereka itu saling bermesraan, berpacaran…”

“Berpacaran? Apa maksudmu?” Sin Liong bertanya kaget dan heran.

“Menurut keterangan mereka yang pernah memergoki dan melihatnya, mereka itu saling peluk, berciuman… saya khawatir sekali, taihiap…”

“Huhhh!” Bi Cu mendengus.

“Hemmm…!” Sin Liong menggeram.

Suasana lantas menjadi sunyi sekali. Petani Bhe itu menunduk, alisnya berkerut, hatinya gelisah. Sin Liong dan Bi Cu juga menunduk, wajah mereka muram. Sampai cukup lama keadaan menjadi sunyi, sunyi yang amat tidak menyenangkan hati mereka. Kemudian Sin Liong menarik napas panjang.

“Lalu sekarang, apa yang bendak kau lakukan Bhe-toako?” Sin Liong bertanya, suaranya tetap ramah dan halus, sungguh pun kini bercampur nada prihatin.

“Kami merasa khawatir sekali, taihiap. Jika saja anak kami itu belum memiliki calon jodoh yang sah, dan seandainya dia bisa berjodoh dengan Ceng-kongcu, tentu kami sekeluarga akan merasa terhormat, girang dan bangga sekali. Namun anak kami telah bertunangan, maka kalau hubungan itu dilanjutkan, tentu saja selain nama keluarga kami akan rusak, juga nama keluarga taihiap akan terbawa-bawa…”

“Kami dapat mengerti akan kekhawatiranmu itu, toako. Lalu apa yang hendak kau lakukan sekarang?”

“Satu-satunya jalan yang kini dapat kami lakukan adalah mengungsikan Cu Ing ke dusun selatan, ke rumah calon mertuanya, kemudian mendesak calon besan kami untuk segera melangsungkan pernikahan.”

Sin Liong mengangguk-angguk tanda setuju. “Baik sekali, lakukanlah itu, Bhe-toako, dan tentang Thian Sin, kami yang akan menasehatinya.”

Wajah yang muram dari petani itu kini berseri dan dia bangkit sambil menjura berkali-kali kepada suami isteri itu.

“Terima kasih, terima kasih… dan maafkanlah keluarga kami taihiap…”

“Ahh, sebaliknya engkaulah yang harus memaafkan kami, Bhe-toako,” jawab Sin Liong.

Setelah petani itu pergi, Sin Liong duduk kembali dan termenung. Juga Bi Cu ikut duduk termenung. Sampai lama sekali keduanya tenggelam ke dalam lamunan masing-masing, kemudian nyonya itu menoleh, memandang suaminya dan melihat suaminya yang duduk dengan wajah muram itu dia kemudian berkata lirih,

“Salahkah dia…?”

Sin Liong lalu sadar dari lamunannya dan diam-diam dia terkejut karena ternyata bahwa isterinya itu pun agaknya sama dengan dia, melamun dan mengenang masa lalu, bukan hanya mengenai hubungan antara mereka sendiri, di waktu masih muda remaja dahulu, akan tetapi juga hubungan-hubungan cinta antara tokoh-tokoh dalam keluarga Cin-ling-pai yang banyak menimbulkan pertentangan.

“Siapa dapat menyalahkan orang jatuh cinta? Akan tetapi dia masih terlalu muda untuk itu dan dia harus tahu bahwa gadis itu telah menjadi calon isteri orang lain.”

Thian Sin kemudian dipanggil. Pemuda ini belum tahu bahwa ayah Cu Ing sudah datang mengadu kepada suami isteri pendekar itu, sebab itu dia datang menghadap paman atau ayah angkat itu dengan wajah berseri-seri. Hubungannya dengan Cu Ing mendatangkan cahaya baru pada wajahnya.

Melihat pemuda itu berjalan datang dengan wajah tampan berseri, secara diam-diam Sin Liong merasa sangat kagum dan juga dia harus mengakui bahwa keponakannya ini amat tampan, tiada bedanya dengan mendiang Ceng Han Houw. Teringatlah dia dahulu betapa hampir setiap orang wanita jatuh hati kepada pangeran itu, dan melihat ketampanan Thian Sin, dia pun tidak merasa heran kalau pemuda ini menjadi idaman para gadis di dusun sekitar tempat itu.

Dengan wajah berseri-seri Thian Sin memberi hormat kepada suami isteri itu dan berkata dengan suara halus dan sikap menarik, “Selamat pagi, ayah dan ibu! Ayah memanggil saya, hendak mengutus apakah?”

Sejak dia mengangkat persaudaraan dengan Han Tiong, memang pemuda ini menyebut paman dan bibinya itu ayah dan ibu, karena setelah dia menjadi adik angkat Han Tiong, berarti dia telah merjadi anak angkat mereka pula. Sebutan ayah dan ibu yang dilakukan oleh Thian Sin tanpa mereka meminta itu diterima oleh suami isteri ini yang memang menaruh rasa kasihan dan sayang yang terhadap pemuda itu.

“Thian Sin, di mana kakakmu Han Tiong?”

“Dia sedang membantu para paman yang bekerja di ladang. Apakah perlu saya panggil Tiong-ko ke sini, ayah?”

“Tidak usah. Kami memang hendak bicara denganmu. Kau duduklah, Thian Sin.”

Mendengar suara yang singkat dan tegas itu Thian Sin merasa terkejut juga, akan tetapi sesuai dengan ajaran ayah angkatnya ini, dia tetap bersikap tenang dan duduk dengan hormat menghadapi suami isteri itu.

“Thian Sin, apakah yang telah terjadi antara engkau dan Cu Ing, puteri petani Bhe di kaki bukit itu?”

Pertanyaan yang tiba-tiba datangnya dan sama sekali tak pernah disangka-sangkanya ini mengejutkan hati Thian Sin. Namun ternyata dia sudah mampu menguasai perasaannya sehingga pada wajah yang tampan itu tak nampak sesuatu, kecuali sepasang mata yang tajam itu terbelalak dan menatap wajah Sin Liong seperti orang terheran.

“Tidak terjadi apa-apa antara dia dan saya, ayah.” jawabnya, suaranya tenang dan halus sama sekali tak membayangkan kegelisahan sehingga diam-diam Sin Liong kagum sekali akan ketenangan putera angkatnya itu.

Bi Cu yang merasa kasihan melihat putera angkat ini karena dia tahu betapa sakitnya hati kalau diputuskan atau dipisahkan dari orang yang dicinta, bertanya dengan suara lembut, “Thian Sin, apakah antara engkau dan Cu Ing ada hubungan cinta?”

Ketika mendengar ayah angkatnya menyebut nama Cu Ing tadi, Thian Sin telah menduga bahwa tentu orang tua itu sudah tahu akan hubungannya dengan gadis itu, oleh karena itu pertanyaan yang lebih langsung dan terbuka dari ibu angkatnya ini tidak mengejutkan hatinya. Akan tetapi ada perasaan malu-malu menyelinap dalam hatinya sehingga tanpa disadarinya sendiri, walau pun sikapnya tenang, akan tetapi kedua pipinya yang berkulit halus putih seperti pipi wanita itu menjadi kemerahan! Sejenak dia menatap pada wajah ibu angkatnya, kemudian dia menunduk dan mengangguk.

“Benar, ibu,” jawabnya lirih.

Sin Liong dan Bi Cu saling pandang. Mereka sebenarnya tidak suka mencampuri urusan cinta antara seorang pemuda dan seorang gadis, apa lagi kalau pemuda itu anak angkat mereka sendiri. Akan tetapi terdapat ketidak wajaran dalam hubungan, terpaksa Sin Liong mengeraskan hatinya dan suaranya terdengar tegas ketika dia bicara lagi.

“Thian Sin, tahukah engkau bahwa semenjak kecil Bhe Cu Ing sudah dijodohkan dengan orang lain dan menjadi calon isteri pria lain?”

Thian Sin terbelalak, lalu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. “Saya… saya tidak tahu sama sekali tentang hal itu, ayah.”

“Bagus!” Sin Liong mengangguk-angguk dan memang hatinya terasa lapang. Orang yang tidak tahu berarti tak sengaja dan perbuatan yang dilakukan tanpa kesengajaan tak dapat dibilang bersalah atau melanggar. “Nah, apa bila engkau belum tahu, sekarang ketahuilah bahwa Bhe Cu Ing adalah calon isteri orang lain, sejak kecil sudah ditunangkan dan oleh karena itu, mulai saat ini juga engkau harus memutuskan hubunganmu dengan dia!”

Thian Sin terkejut, memandang pendekar itu. “Akan tetapi, ayah…”

“Seorang pendekar tak akan melakukan hal-hal yang melanggar susila!” bentak Sin Liong dan pemuda itu menundukkan mukanya yang berubah agak pucat.

“Thian Sin, tentunya engkau tak ingin menjadi seorang pengacau urusan keluarga orang lain, bukan?” Bi Cu berkata halus. “Cu Ing sudah bertunangan, berarti dia telah memiliki jodoh yang sah, dia tidak bebas lagi.”

“Seorang pendekar harus selalu tertib menjaga perbuatan sendiri, harus selalu memiliki garis kebijaksanaan, tak akan melanggar peraturan dan akan menjaga namanya dengan taruhan nyawa. Kalau engkau mendekati wanita yang sudah memiliki calon suami, berarti engkau telah melakukan suatu hal yang amat busuk dan namamu akan terseret ke dalam lumpur kehinaan. Mengertikah engkau, Thian Sin?”

Thian Sin tidak mampu bicara lagi, hanya mengangguk-angguk dan dia merasa betapa hatinya perih dan nyeri. Setelah menerima peringatan dan nasehat-nasehat, dia lalu pergi meninggalkan suami isteri itu dengan tubuh terasa lemah lunglai, diikuti pandangan mata suami isteri itu yang merasa kasihan kepadanya.

Thian Sin menjadi sedih dan bingung sekali. Apa lagi ketika pada keesokan harinya dia mendengar dari para muda di dusun tempat tinggal Cu Ing bahwa gadis itu sudah diajak pergi meninggalkan dusun oleh keluarganya, dan kabarnya akan segera melangsungkan pernikahan dengan tunangannya di dusun sebelah selatan. Hati Thian Sin terasa hancur. Dia patah hati!

Peristiwa ini merupakan pukulan batin ke dua bagi pemuda ini. Pertama, saat dia melihat ayah bundanya terbunuh, dan ketika dia menangis di hadapan peti-peti mati dan kuburan ayah bundanya. Rasa duka yang mengandung dendam ini menggores di kalbunya, akan tetapi setelah dia mempelajari ilmu dari Hong San Hwesio, perasaan duka dan dendam itu dapat ditekannya dengan pelajaran-pelajaran kebatinan yang diterimanya dari hwesio itu sehingga hampir tak pernah terasa lagi.

Akan tetapi sekarang, sesudah dia menerima pukulan batin untuk ke dua kalinya yang cukup mendatangkan rasa nyeri dan memperbesar perasaan iba diri, maka luka lama itu pun berdarah kembali! Dan dia pun tidak sanggup menahan guncangan batin ini sehingga jatuh sakit!

Sin Liong dan Bi Cu mengerti akan keadaan anak angkat ini, akan tetapi mereka pun tahu bahwa membiarkan anak itu beristirahat dengan tenang akan menyembuhkannya, karena sebenarnya jasmaninya tidak menderita sakit sesuatu, hanya terpengaruh oleh tekanan batin dan kekecewaan belaka.

Akan tetapi Han Tiong merasa khawatir sekali dan pemuda ini boleh dibilang siang malam menjaga adik angkatnya, merawatnya dengan penuh perhatian. Sikap kakak angkat ini, sikap yang tidak dibuat-buat melainkan yang keluar dari kasih sayang murni, merupakan obat dan penghibur yang manjur bagi Thian Sin karena pemuda ini dapat melihat bahwa ada orang lain yang masih benar-benar amat menyayangnya, yaitu Han Tiong!

Betapa menyedihkan melihat bahwa yang kita sebut-sebut cinta itu hampir selalu, atau sebagian besar, berakhir dengan kedukaan! Kalau ada seorang muda dan seorang mudi saling jatuh cinta, terdapat suatu daya tarik yang amat kuat di antara mereka. Daya tarik ini antara lain diciptakan oleh kecocokan selera, akan kecantikan atau pun ketampanan wajah, kecocokan watak masing-masing, lalu dipupuk dan diperkuat oleh pergaulan yang semakin akrab. Semua ini menciptakan daya tarik yang mendorong mereka untuk selalu saling berdekatan karena kehadiran masing-masing merupakan hal yang menyenangkan.

Tentu saja semua itu didasari lebih dulu oleh daya tarik antar kelamin yang telah terbawa semenjak lahir. Kemudian, mereka merasa saling jatuh cinta! Sayangnya, rasa cinta ini selalu ditunggangi oleh nafsu ingin menyenangkan diri belaka sehingga timbullah nafsu ingin menguasai, ingin memiliki, dan yang paling kuat adalah nafsu sex. Setelah begini, maka mulailah bermunculan perangkap-perangkap yang akan menjebak kita ke dalam kedukaan, melalui hubungan cinta kasih yang sebenarnya amat suci itu.

Dua orang muda-mudi saling mencinta dan penunggangan nafsu ingin menguasai, itulah yang menimbulkan duka apa bila mereka berdua berhalangan menjadi suami isteri, atau kalau yang disebut ‘cinta’ mereka itu ‘gagal’ di tengah jalan. Cinta gagal ini, atau lebih jelas hubungan yang terputus ini mendatangkan patah hati yang berarti kedukaan dan kesengsaraan.

Apakah kalau mereka sampai dapat menjadi suami isteri lalu cinta mereka itu menjadi kekal dan apakah hal itu dapat mendatangkan kebahagiaan? Dapat kita lihat kepahitan yang nyata di sekeliling kita!

Betapa banyaknya terjadi perceraian antara suami isteri yang katanya dulu sangat saling mencinta, bahkan yang sudah memiliki anak-anak! Perceraian yang timbul karena rasa cemburu, karena penyelewengan, karena percekcokan, pendeknya karena kekecewaan masing-masing dalam hubungan antara mereka itu.

Lalu ke manakah larinya ‘cinta’ yang mereka ikrarkan bersama dahulu? Lalu ke mana lenyapnya sumpah di antara mereka ketika mereka masih saling ‘mencinta’? Seolah-olah cinta hanyalah sesuatu yang bersifat sementara saja!

Yang bersifat sementara ini sebenarnya hanyalah KESENANGAN. Hanya mereka yang menikah atas dasar ‘mengejar kesenangan’ sajalah yang akan gagal dalam pernikahan mereka, karena kesenangan yang dikejar-kejar itu selalu akan berjalan bersama dengan kesusahan, kepuasan, dengan kekecewaan. Mengejar kesenangan berarti ingin selalu memperoleh kesenangan, sehingga kalau di dalam pernikahan itu muncul hal yang tidak menyenangkan, maka pernikahan itu pun gagal. Dan itu masih kita beri kedok yang kita namakan ‘cinta’! Betapa menyedihkan dan betapa pahit kenyataan hidup ini.


Han Tiong bukanlah seorang pemuda yang bodoh. Sungguh pun dia pendiam dan tidak ingin mencampuri urusan pribadi adik angkatnya yang disayangnya, namun dia pun dapat melihat kenyataan sehingga tahulah dia bahwa adiknya ini sakit karena duka dan kecewa mendengar Cu Ing dibawa pergi dari dusunnya untuk dikawinkan dengan orang lain, yaitu dengan tunangannya semenjak kecil. Ketika melihat keadaan adiknya sudah mendingan, pada suatu malam dia menemani adiknya itu dan dengan halus dia bertanya sambil lalu.

“Sin-te, kuharap engkau sekarang sudah kuat dan dapat mengatasi perasaan kecewamu karena urusan itu.”

Thian Sin tidak menyangka bahwa Han Tiong tahu urusan hatinya, maka dia memandang kakak angkatnya itu dan bertanya. “Urusan apa yang kau maksudkan Tiong-ko?”

“Urusan apa lagi kalau bukan yang membuatmu jatuh sakit ini?”

“Ahhh…!” Thian Sin diam saja dan menunduk, termenung.

“Sin-te, aku percaya bahwa engkau sungguh-sungguh mencinta gadis itu, bukan?”

Thian Sin memandang kepada wajah kakak angkatnya, penuh pertanyaan, kemudian dia menjawab, “Tentu saja, Tiong-ko. Aku sangat… cinta padanya.”

“Sin-te, aku sendiri pun tidak mengerti tentang cinta, akan tetapi kalau engkau mencinta orang, bukankah engkau ingin melihat dia itu berbahagia?”

“Tentu saja.”

“Dan menurut wejangan paman Hong San Hwesio, kebahagiaan itu hanya bisa diperoleh melalui kebenaran.”

“Betul.”

“Nah, sejak kecil gadis kekasihmu itu sudah bertunangan dengan orang lain, maka kalau dia meninggalkan calon suaminya, berarti dia melakukan hal yang tidak benar. Kalau dia sekarang pergi menikah dengan tunangannya, berarti dia bertindak benar dan tentu akan berbahagia. Dan kalau engkau memang cinta kepadanya, Sin-te, bukankah engkau pun akan ikut merasa senang jika melihat atau mendengar dia hidup berbahagia?”

Thian Sin sendiri adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam urusan cinta, maka mendengar pendapat ini dia pun termenung dan bingung. Akhirnya dia hanya menarik napas panjang dan menjawab, “Aku sendiri masih belum mengerti, Tiong-ko. Hanya saja, perpisahan dengannya mendatangkan duka dan aku merasa sangat kehilangan, merasa sunyi dan sedih sekali.”

Akan tetapi, duka seperti juga suka, hanyalah merupakan permainan pikiran belaka dan sifatnya hanya sementara. Baik suka mau pun duka yang timbul dari kepuasan mau pun kekecewaan sebagai akibat tercapainya atau tidak tercapainya hal yang diingin-inginkan, akan lenyap ditelan waktu.

Begitu pula dengan kedukaan yang menyerang hati Thian Sin. Beberapa bulan lamanya dia nampak murung dan pendiam, akan tetapi lambat laun rasa duka itu pun semakin menipis dan akhirnya seperti lenyap tak berbekas dan dia menjadi seorang pemuda yang riang kembali. Dia selalu berpakaian bersih dan cermat, rapi dan sedikit pesolek, selalu bersikap ramah dan periang terhadap siapa pun juga.

Melihat hal ini, hal yang sudah diduganya, diam-diam Sin Liong beserta isterinya menjadi gembira kembali. Juga Han Tiong merasa lega melihat adiknya sudah sembuh kembali lahir batin.

Akan tetapi, segala sesuatu yang menggores batin akan bertumpuk di bawah sadar, dan biar pun nampaknya dua peristiwa hebat itu, kematian orang tuanya dan kehilangan gadis pertama yang dicintanya, sudah lewat dan tidak berbekas, namun sakit hati dan dendam itu mengeram dan menyelinap di dalam tumpukan bawah sadar…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner