PENDEKAR SADIS : JILID-11


Sang waktu berjalan cepat sekali seperti meluncurnya anak panah. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Tanpa terasa kini Han Tiong sudah menjadi seorang pemuda yang berusia delapan belas tahun, sedangkan Thian Sin telah berusia tujuh belas tahun.

Han Tiong nampak semakin matang. Memang dia seorang pemuda yang serius, pendiam, tenang dan penuh kesabaran, welas asih, dengan perasaan yang sangat halus dan peka, mudah sekali merasa iba kepada siapa pun juga.

Sedangkan Thian Sin juga menjadi seorang pemuda yang gerak-geriknya halus dan kini ketampanan wajahnya semakin menonjol. Dia masih merupakan seorang pemuda yang periang, akan tetapi halus dan ramah. Dan biar pun semua wanita muda di dusun-dusun sekeliling Lembah Naga makin tergila-gila kepada pemuda yang mulai dewasa dan yang amat ganteng ini, namun agaknya pengalamannya dengan Bhe Cu Ing membuat Thian Sin merasa jera untuk berdekatan dengan wanita lagi.

Namun hal ini bukan berarti bahwa di lubuk hatinya tidak ada rasa suka terhadap wanita. Sama sekali bukan begitu karena pemuda ini makin besar makin tertarik kepada wanita dan biar pun dia tidak lagi mau berhubungan dengan wanita, namun diam-diam dia sering melirik dan memandang penuh perhatian dan terpesona. Mungkin hanya karena tidak ada yang dianggapnya secantik atau semanis Cu Ing sajalah maka sampai demikian lamanya Thian Sin belum mendekati wanita lain.

Dalam hal ilmu silat, keduanya sudah memperoleh kemajuan pesat sekali. Sin Liong telah mengajarkan Thai-kek Sin-kun, San-in Kun-hoat, juga Cin-ling Kun-hoat yang diciptakan oleh mendiang Cia Keng Hong pendiri Cin-ling-pai, bahkan sudah mulai menurunkan ilmu Thian-te Sin-ciang yang amat hebatnya itu.

Memang pendekar ini belum mengajarkan Thi-khi I-beng dan juga ilmu mukjijat yang dulu didapatnya dari kitab-kitab Bu Beng Hud-couw karena kedua ilmu ini dianggap terlampau berbahaya untuk diturunkan secara ceroboh saja. Dia ingin agar kedua orang muda itu memperoleh kematangan lebih dahulu dalam ilmu-ilmu yang telah diajarkannya, terutama memperoleh inti dari tenaga sakti Thian-te Sin-ciang, baru dia akan memutuskan siapa yang akan pantas mempelajari Thi-khi I-beng dan Hok-mo Cap-sha-ciang.

Kedua orang pemuda itu sama-sama tekun mempelajari ilmu silat dan ternyata keduanya mempunyai kelebihannya sendiri-sendiri, biar pun keduanya tidak dapat dikatakan kurang atau lemah dalam suatu hal.

Thian Sin amat maju dalam ilmu sastera, pandai sekali bersajak dan mengutip ayat-ayat kuno, tulisannya indah sekali dan juga suaranya merdu kalau dia membaca sajak. Selain kelebihan dalam hal sastera, juga dalam hal gerakan ilmu silat, dia lebih cekatan dan lebih indah, lebih mudah menguasai perkembangan suatu gerakan dibandingkan dengan kakak angkatnya.

Di lain fihak, Han Tiong memiliki keunggulan dalam hal ketenangan, kematangan dasar gerakan silat, juga di samping ini dia memiliki dasar sinkang yang lebih kuat dan hal ini berkat ketekunan dan ketenangannya.

Dengan kelebihan masing-masing, kalau mereka berlatih silat dan saling serang di dalam latihan, Han Tiong kadang-kadang kewalahan menghadapi perubahan-perubahan gerakan adik angkatnya yang selain cepat juga amat bervariasi dan penuh gerak tipu itu, ada pun Thian Sin sendiri kewalahan kalau harus mengadu tenaga dengan lengan kakaknya yang terisi penuh getaran hawa sakti yang amat kuatnya.

Pada suatu hari, keluarga Istana Lembah Naga itu mendengar berita yang mengejutkan sekali, yaitu bahwa di sebuah dusun tetangga, di ujung lembah yang juga masih termasuk daerah Lembah Naga, sejauh kurang lebih tiga puluh li dari Istana Lembah Naga, pada malam harinya sudah terjadi perampokan! Harta benda yang tidak banyak milik penduduk dusun itu dirampok, beberapa orang laki-laki dilukai dan lima orang gadis muda dilarikan perampok.

Pada jaman itu, peristiwa seperti ini sebetulnya tidaklah aneh bila terjadi di dusun-dusun, namun yang sangat mengejutkan hati para penghuni Istana Lembah Naga adalah karena terjadi di daerah itu! Padahal, selama mereka menjadi penghuni istana itu, di lembah itu tak pernah terjadi kejahatan apa pun juga, dan semua orang kang-ouw tahu belaka siapa penghuni Istana Lembah Naga.

Sekarang perampok dari manakah yang berani main gila dan mengganggu daerah yang termasuk daerah kekuasaan Pendekar Lembah Naga beserta keluarganya? Sungguh hal ini amat mengejutkan sehingga Sin Liong menganggap mereka bukan sebagai perampok biasa, melainkan sebuah tantangan untuknya!

“Ayah, biarkan aku bersama Sin-te mengejar mereka!” Han Tiong berkata dengan sikap tenang.

Sin Liong mengerutkan alisnya. Secara diam-diam dia mengukur kepandaian kedua orang puteranya itu dan yakin bahwa kalau hanya menghadapi perampok-perampok saja, sudah dapat dipastikan Han Tiong dan Thian Sin dapat mengatasi mereka, betapa pun lihainya para perampok itu. Apa lagi dia sangat percaya akan ketenangan Han Tiong yang selalu waspada dan tidak ceroboh. Di samping kepercayaannya yang penuh kepada puteranya dan putera angkatnya, juga inilah kesempatan yang sangat baik bagi dua orang muda itu untuk mempraktekkan apa yang selama ini mereka pelajari siang malam dengan penuh ketekunan.

“Baiklah, kalian berangkat dan selamatkan lima orang wanita yang diculik itu. Kalian tidak usah membawa senjata untuk menghadapi perampok-perampok itu. Akan tetapi ingatlah, kalian tak boleh sembarangan membunuh orang. Hanya ada dua kemungkinan pada para perampok itu. Mereka adalah perampok-perampok kecil yang memang belum mendengar nama keluarga kita di sini atau memang mereka itu sengaja hendak memancing-mancing permusuhan. Maka, waspadalah kalian. Nah, berangkatlah sebelum mereka pergi jauh!”

Han Tiong dan Thian Sin lalu berangkat. Mereka menggunakan ilmu berlari cepat menuju ke dusun di sebelah selatan itu, di ujung lembah atau di kaki gunung. Thian Sin kelihatan gembira bukan main dan dia pun segera mengerahkan ilmunya berlari cepat sampai Han Tiong menegurnya.

“Hati-hati, Sin-te, jangan menghamburkan terlalu banyak tenaga untuk berlari. Kita masih amat membutuhkan tenaga kalau sudah berhadapan dengan mereka.”

“Akan kuhajar mereka! Akan kuhajar bedebah-bedebah itu!” kata Thian Sin dan sepasang matanya bersinar aneh, dingin sehingga membuat Han Tiong merasa kaget dan khawatir. Selama ini belum pernah dia melihat sepasang mata adik angkatnya bersinar seperti itu, kecuali ketika adiknya ini sakit karena patah hati setahun lebih yang lalu.

Karena dua orang pendekar muda dari Istana Lembah Naga ini menggunakan ilmu berlari cepat, maka tidaklah sulit bagi mereka untuk menyusul gerombolan perampok yang telah melarikan diri ke sebuah bukit yang penuh hutan itu. Lewat tengah hari, Han Tiong dan Thian Sin sudah menyelinap ke dalam hutan lebat itu dan menemukan jejak gerombolan yang memasuki hutan.

Akhirnya mereka melihat belasan orang lelaki yang bersikap kasar berada di luar sebuah pondok di tengah-tengah hutan itu, yang agaknya memang merupakan tempat perhentian atau persembunyian para gerombolan itu. Orang-orang itu terlihat lelah, ada yang tertidur pulas di bawah pohon, ada pula yang duduk bersandar batang pohon, ada yang sedang bercakap-cakap.

Han Tiong memberi isyarat kepada adiknya agar jangan sembrono turun tangan sebelum tahu jelas bahwa mereka adalah gerombolan perampok yang mereka kejar, maka dengan amat hati-hati, mengandalkan ginkang mereka yang membuat tubuh mereka amat ringan, keduanya meloncat ke atas pohon dan dari sini berloncatan sampai ke atas wuwungan pondok lalu mereka mengintai dan mendengarkan ke sebelah dalam.

Pondok itu cukup luas dan pada bagian belakang atau dalam, di mana terdapat sebuah kamar yang besar, nampak ada lima orang gadis dusun yang sedang berlutut di sudut, berhimpitan saling rangkul, nampak ketakutan seperti sekelompok kelinci terkurung. Akan tetapi yang menarik perhatian kedua orang pendekar muda itu adalah seorang dara yang berdiri tegak menghadapi seorang laki-laki setengah tua tinggi besar dan agaknya terjadi pertengkaran di antara mereka berdua.

“Tidak, pendeknya, selama ada aku di sini, aku tidak mau melihat mereka diganggu oleh siapa pun juga!” demikian dara itu berkata, suaranya lantang dan nyaring sekali, penuh kemarahan dan tantangan.

Han Tiong dan Thian Sin memandang dengan penuh perhatian kepada dua orang yang berdiri berhadapan dan bertengkar itu. Dara itu masih sangat muda. Paling banyak tujuh belas tahun usianya, berpakaian serba hijau, pakaian yang kasar dan ringkas, yang ketat menyelimuti tubuhnya yang padat dan langsing, tubuh yang membayangkan ketangkasan dan kekuatan.

Wajahnya manis, dengan dagu meruncing dan hidung kecil mancung. Biar pun pada saat itu dia sedang marah, tetapi kemanisan wajahnya tidak berkurang, bahkan nampak gagah dengan sepasang mata bersinar sinar itu. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek yang gagangnya dihias ronce biru. Rambutnya disanggul sederhana ke atas, dan diikat dengan ikatan rambut sutera merah. Pendeknya, dara itu nampak gagah dan manis sekali.

Sedangkan pria itu usianya mendekati lima puluh tahun, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu nampak tegap kuat serta menyeramkan. Pakaiannya berbeda dengan pakaian orang-orang yang berada di luar pondok, agak lebih rapi dan bersih, dan di pinggangnya tergantung sebatang golok besar. Agaknya pria ini setengah mabuk karena tangan kirinya masih membawa sebuah guci arak yang isinya tinggal sedikit. Sepasang matanya yang lebar agak kemerahan dan dia pun memandang kepada dara itu dengan alis berkerut dan sikap marah.

“Leng-ji, lupakah engkau dengan siapa kau berhadapan?” terdengar lelaki itu membentak marah, suaranya parau dan lantang.

“Aku berhadapan dengan ayah,” jawab dara itu, sikapnya tetap menentang.

“Hemm, kau masih ingat aku ayahmu, dan bukan itu saja, bahkan aku juga gurumu! Dan sekarang kau berani menentangku?”

“Ayah, ingatlah dengan apa yang ayah katakan dan janjikan kepadaku! Ayah melakukan kekacauan di dusun itu, lantas menawan wanita-wanita itu hanya untuk memenuhi tugas ayah sebagai anggota Jeng-hwa-pang saja, untuk memancing keluar Pendekar Lembah Naga. Bukankah begitu? Akan tetapi di dusun itu ayah sudah melakukan pembunuhan-pembunuhan…”

“Bukan aku yang melakukannya!”

“Benar, anak buah ayah, akan tetapi mengapa ayah tidak melarang mereka? Kemudian penawanan kelima orang wanita ini, yang ayah katakan sebagai umpan untuk memancing pendekar itu keluar dari istananya, akan tetapi mengapa sekarang ayah… ayah hendak… melakukan kekejian…?”

“Ahh, kau anak kecil tahu apa! Kau keluarlah dan tinggalkan aku bersama mereka!”

Namun dengan sikap tegas dara itu menggeleng kepalanya dan matanya memancarkan sinar penuh kemarahan. “Tidak! Aku adalah seorang wanita, dan mereka pun wanita! Apa bila mereka dihina di depanku, sama saja dengan aku yang terhina. Aku akan melindungi mereka dari gangguan siapa pun juga, ayah. Jika perlu aku rela mengorbankan nyawaku. Yang kubela bukanlah perorangan, melainkan kehormatan wanita!”

“Ehh…? Kau berani…? Leng-ji, sudahlah. Aku tak mau membiarkan hatiku menjadi marah kepadamu. Biarlah aku mengalah, kau berikan seorang saja di antara mereka kepadaku, yang mana saja.”

“Jangan, ayah. Pula, mengapa ayah menjadi begini? Mengapa Ayah mau melakukan hal yang jahat itu?” Di dalam suara dara itu terkandung isak dan kedukaan.

“Hemm, kau anak tolol. Semenjak ibumu tiada, aku menderita. Berikanlah seorang saja di antara mereka untuk menghibur hati ayahmu yang kesepian ini.”

“Tidak akan kuberikan kepada siapa pun juga selama aku masih hidup dan berada di sini!”

“Apa? Kau berani menentang ayahmu, gurumu?”

“Apa boleh buat! Biar ayah atau pun guru, kalau tidak benar, harus ditentang!” Ucapan ini terdengar gagah sekali dan membikin kagum dua orang muda yang berada di atas pondok sehingga mereka tertarik dan menjadi lengah.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di bawah pondok. “Mata-mata di atas pondok!”

“Musuh datang…!”

“Kepung! Tangkap!”

Han Tiong dan Thian Sin terkejut bukan kepalang dan ketika mereka memutar tubuh dan memandang, ternyata sekeliling pondok itu sudah terkepung oleh kurang lebih dua puluh orang, bahkan tak lama kemudian kepala perampok yang tadinya ribut-ribut mulut dengan gadisnya itu pun sudah berada di luar pondok dan memandang ke atas.

“Sin-te, kita ketahuan. Mari hajar mereka, akan tetapi engkau jangan menurunkan tangan kejam, jangan membunuh orang.”

“Baik, Tiong-ko!” Baru saja menjawab demikian, tubuh Thian Sin sudah melayang turun ke bawah, tepat di tengah-tengah gerombolan itu lantas pemuda ini pun mulai mengamuk dengan hebatnya.

Han Tiong juga cepat meloncat turun dan menyerbu para pengeroyok itu, selalu berusaha agar dia berdekatan dengan adiknya dan dapat mengamati sepak terjang adiknya itu. Dan apa yang dilihatnya sungguh membuat dia terkejut.

Thian Sin mengamuk bagaikan seekor naga, gerakannya cepat dan kuat sehingga dalam beberapa gebrakan saja dia sudah merobohkan dua orang pengeroyok dengan hantaman keras sehingga yang seorang roboh dengan tulang pundak remuk-remuk sedangkan yang seorang lagi dengan tulang lutut hancur! Sungguh ganas sekali bekas tangan pemuda ini. Wajahnya nampak beringas dengan sinar mata berkilat walau pun mulutnya tersenyum, senyum dingin yang menyeramkan.

“Sin-te, jangan membunuh orang…!”

Han Tiong merobohkan seorang perampok. Pemuda ini membatasi tenaganya sehingga orang yang dirobohkannya tadi tidak sampai terluka parah, kemudian mendekati adiknya. Akan tetapi karena para pengeroyok itu menjadi marah melihat robohnya teman-teman mereka lantas mengeroyok lebih ketat, maka kakak beradik ini terpisah lagi dan terpaksa Han Tiong mencurahkan perhatiannya untuk melindungi diri sendiri.

Dua orang muda itu tidak bersenjata, akan tetapi pengeroyokan belasan orang bersenjata itu sama sekali tidak membuat mereka kerepotan karena para pengeroyoknya itu adalah orang-orang kasar yang kebanyakan hanya mengandalkan kekuatan tenaga kasar serta keras atau tajamnya senjata di tangan saja, namun mereka semua rata-rata memiliki ilmu silat yang tingkatnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat dua orang pendekar muda itu.

Sementara itu, kepala gerombolan yang tadi bertengkar dengan anaknya dan kini sudah keluar dari pondok, ketika melihat kehebatan dua orang muda yang mengamuk dan telah merobohkan beberapa orang anak buahnya, menjadi marah sekali. Dia segera mencabut golok besarnya dan membentak nyaring,

“Dua bocah setan dari mana berani mengacau di sini?!”

“Tiong-ko, biar aku menghadapi dia!” kata Thian Sin dan pemuda ini sudah meloncat dan menyambut kepala gerombolan itu.

Melihat seorang di antara dua pemuda itu melompat ke depan, kepala gerombolan itu lalu menyambut dengan bacokan golok yang dengan cepat sekali menyambar ke arah leher Thian Sin, membentuk sinar dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan. Akan tetapi dengan mudah Thian Sin mengelak dengan menundukkan kepala, dan berbareng kakinya menyambar ke bawah mengarah pusar lawan.

“Ehhh…!” Kepala gerombolan itu amat terkejut dan terpaksa melempar tubuh ke belakang karena tendangan itu luar biasa cepat datangnya.

“Siapa kau?!” bentaknya sambil melintangkan golok besarnya yang mengkilap, sepasang matanya menatap Thian Sin dengan pandang mata terbelalak menyeramkan. Sementara itu Han Tiong masih terus menghadapi pengeroyokan banyak orang.

“Perampok busuk! Engkau memancing penghuni Istana Lembah Naga untuk keluar? Nah, kami sudah datang!” kata Thian Sin dan tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menjawab, dia telah menerjang dengan pukulan-pukulan yang amat kuat dan cepat, yang membuat kepala gerombolan itu cepat memutar golok untuk membabat lengan lawan dan balas menyerang.

“Tangkap mereka, hidup atau mati!” bentak kepala gerombolan. Kembali mereka terpecah menjadi dua kelompok, sebagian kecil membantu kepala gerombolan mengeroyok Thian Sin dan sebagian besar yang lain mengeroyok Han Tiong.

Dan terjadilah pertempuran yang sangat seru. Akan tetapi dua orang pendekar muda dari Istana Lembah Naga itu telah mempunyai ilmu silat yang hebat, jauh terlampau tinggi bagi para pengeroyoknya. Jangankan baru dikeroyok belasan orang-orang kasar itu, biar pun ditambah dua kali lipat lagi pun mereka takkan mungkin dapat mengalahkan murid-murid atau putera-putera Pendekar Lembah Naga ini. Kalau saja mereka berdua tidak menjaga kaki tangan agar jangan sampai membunuh lawan, tentu pertempuran itu berakhir dengan cepat saja.

Mereka berdua merobohkan lawan, akan tetapi tetap menjaga jangan sampai membunuh. Sesungguhnya Han Tiong sajalah yang betul-betul melakukan hal ini, karena yang roboh oleh tamparan atau pukulan atau tendangan Thian Sin, biar pun tidak tewas akan tetapi sudah setengah mati dan terluka parah.

Melihat betapa kepala gerombolan yang memainkan goloknya itu cukup tangguh apa bila dibandingkan dengan para anak buahnya, dan tidak roboh ketika terkena tamparan pada pangkal lengan kirinya, maka Thian Sin menjadi penasaran. Dia segera merobohkan dua orang pengeroyok dan menyambar ke depan, ke arah kepala gerombolan itu.

Si kepala gerombolan ini cepat menyambut dengan goloknya, membacok ke arah kepala. Ketika Thian Sin mengelak sambil miringkan tubuhnya, golok itu menyambar lagi dengan tusukan ke arah dadanya.

“Mampuslah!” bentak Kepala Gerombolan itu.

“Hemmm…!” Thian Sin mendengus.

Cepat sekali kakinya bergeser, tubuhnya mengelak maka golok yang ditusukkan dengan kuat-kuat itu hanya meluncur lewat bersama lengan yang memegang gagang golok. Thian Sin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, cepat jari tangannya menyambar, menangkap pergelangan tangan kanan lawan, mengetuk urat besar di siku membuat lengan itu seperti lumpuh lantas secepat kilat dia membalikkan lengan itu sehingga goloknya menyambar ke arah tubuh pemegangnya sendiri! Si Tinggi Besar ini terkejut dan berusaha menahan dengan lengan kirinya, namun golok itu malah menyambar lengan kirinya, tak tertahankan lagi.

“Crokkkk!”

“Aughhhh…!” Kepala rombongan itu menjerit, darah muncrat-muncrat dari lengan kirinya yang buntung di bawah sikunya!

Melihat hal ini, para anak buah gerombolan menjadi gentar, apa lagi dua orang muda itu mengamuk lebih hebat. Tanpa ada yang menyuruh lagi, mereka lalu melarikan diri sambil menyeret teman-teman yang terluka.

Thian Sin sudah berdiri di dekat tubuh kepala gerombolan yang rebah miring, kemudian menginjakkan kakinya ke dada orang itu sambil membentak. “Hayo katakan, siapa yang menyuruhmu!”

Kepala gerombolan mencoba menjawab, akan tetapi suara yang keluar hanya, “Ti… tidak, tidak…!”

“Apa kau ingin kuinjak hancur dadamu?” Thian Sin membentak lagi dan menekan sedikit dengan kakinya.

“Aughhh… aduhh… ampun… kami disuruh… Jeng-hwa-pang…”

“Dan kau telah membunuhi orang dusun, menculik wanita-wanita? Kau layak mampus!”

“Sin-te, jangan!” Tiba-tiba saja Han Tiong sudah tiba di situ karena semua penjahat telah melarikan diri. “Lepaskan dia!”

Thian Sin memandang kakaknya, lalu dia mengangguk dan melepaskan injakan kakinya. Kepala gerombolan yang telah ditinggal pergi oleh sisa-sisa anak buahnya itu bangkit dan merangkak bangun dengan terengah-engah dan tangan kanannya memegangi lengan kiri yang buntung.

“Nah, katakan kepada ketua Jeng-hwa-pang agar tidak main-main lagi di Lembah Naga. Kami keluarga Istana Lembah Naga bukan orang-orang yang mencari permusuhan, akan tetapi juga tidak akan tinggal diam kalau melihat orang-orang melakukan kekacauan dan kejahatan seperti yang kalian lakukan. Sekarang pergilah!” bentak Han Tiong dan kepala gerombolan itu lalu pergi terhuyung-huyung.

Dua orang pemuda itu lalu memasuki pondok, akan tetapi Thian Sin yang masuk terlebih dulu itu disambut dengan sambaran pedang.

“Singgg…!”

“Hemmm…!” Dia cepat mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia sudah menampar lengan kecil itu.

“Plakkk…!”

“Aihh…!” Dara itu menjerit kecil dan pedangnya terlepas dari pegangan, lalu pedang yang melayang itu disambar oleh tangan Thian Sin.

Sambil menatap wajah yang manis dan yang sedang terbelalak keheranan itu, Thian Sin memegang pedang dengan dua tangannya, kemudian dengan gerakan enak saja dia lalu mematahkan pedang itu seperti mematah-matahkan ranting yang kecil saja.

“Krekkk!” Pedang patah di tengah-tengah dan Thian Sin melemparkan pedang itu ke atas lantai.

“Ohhh…!” Dara itu mengeluh dan sepasang mata yang amat indah itu memandang penuh kagum kepada pemuda tampan yang mematahkan pedangnya seperti orang mematahkan sebatang lidi saja itu.

Tadi dia telah mengintai melalui celah-celah pintu dan menyaksikan betapa ada dua orang muda gagah perkasa yang mengaku datang dari Istana Lembah Naga mengamuk dan merobohkan semua anggota gerombolan, bahkan telah membuntungi lengan kiri ayahnya dengan golok ayahnya sendiri. Hal itu saja tadi sudah membuat dia terheran-heran penuh kagum, akan tetapi pada waktu dua orang pemuda itu memasuki pondok, teringat bahwa mereka itu adalah musuh-musuh, dia lalu menyerang dengan pedangnya dan akibatnya, bukan saja serangan itu sia-sia belaka, bahkan pedangnya dipatahkan.

“Nona, kami bukan musuhmu. Biar pun engkau puteri kepala gerombolan itu, akan tetapi kami tadi melihat betapa dengan gagah engkau telah melindungi tawanan-tawanan ini dari gangguan kepala gerombolan,” kata Han Tiong dengan suara halus.

“Hemmm, sungguh mengherankan sekali. Engkau gagah perkasa dan sangat baik, nona, akan tetapi ayahmu itu orang jahat…,” kata Thian Sin.

“Dia bukan ayahku!” Dara itu berkata dengan suara lantang.

“Ehh, bukan? Bagus sekali kalau begitu!” kata Thian Sin tersenyum. “Akan tetapi tadi kami mendengar nona menyebutnya ayah.”

Dara itu menarik napas panjang, lalu menjatuhkan diri dan duduk di atas bangku dengan tubuh lemas. “Memang dia bukan ayahku, bukan ayah kandungku. Ayah tiri yang kubenci sekali! Dia… ketika aku berusia sepuluh tahun, dia membunuh ayahku dan melarikan ibu beserta aku. Ibu lalu menjadi isterinya. Dia memang baik kepadaku, mengajarku ilmu silat, memperlakukan aku sebagai anak sendiri. Akan tetapi aku benci padanya! Aku menaruh dendam atas kematian ayahku dan atas kekejamannya terhadap ibu yang sekarang telah meninggal dunia pula. Dan tadi, ketika melihat dia hendak memperkosa tawanan ini, aku menjadi semakin benci padanya!”

Kakak beradik itu saling lirik dan mereka merasa terharu. Kiranya demikian persoalannya dan mereka merasa kasihan kepada dara ini. Apa lagi Thian Sin. Dia merasa kasihan dan juga amat tertarik. Dara ini telah yatim piatu, sama dengan keadaan dia! Hal ini saja telah membuat dia merasa amat suka dan merasa senasib dengan dara itu.

“Nona tadi mengatakan bahwa semua perampokan ini hanya merupakan pancingan saja terhadap Pendekar Lembah Naga… bagaimanakah sesungguhnya persoalannya, nona?”

“Ayah tiriku itu adalah seorang anggota Jeng-hwa-pang dan dia sudah diperintahkan oleh ketua Jeng-hwa-pang agar memancing keluar Pendekar Lembah Naga, yaitu dengan cara mengacau dusun itu. Ayah lalu mengumpulkan kawan-kawannya dan aku pun ikut serta, bukan untuk turut melakukan pekerjaan itu, melainkan untuk mengamati perbuatan ayah. Dan aku kecewa dan menyesal bukan main melihat watak ayah tiriku yang sebenarnya. Dia ganas dan kejam, bersama kawan-kawannya melakukan perampokan bukan hanya untuk pancingan saja melainkan dengan penuh nafsu, dan memang pekerjaan itu agaknya merupakan kesenangan mereka. Agar tidak dicurigai bahwa diam-diam aku menentang mereka, maka aku pun menawarkan diri untuk menjadi penjaga lima orang gadis ini. Dan melihat niat ayah yang kejam, aku lantas menentangnya. Ayah sedang mabuk, bila tidak, biasanya dia tidak berani atau enggan untuk berbantah dengan aku. Agaknya… agaknya dia memang benar-benar sayang kepadaku sebagai anaknya. Akan tetapi aku tidak sudi! Aku tidak sudi punya ayah semacam dia! Dan aku tidak akan kembali kepadanya…” Dan sepasang mata yang jernih itu menjadi basah.

Thian Sin merasa terharu sekali dan hampir dia ikut menitikkan air mata. Dengan halus dia kemudian bertanya, “Kalau sudah begini, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya, nona?”

Dara itu memandang kepada Thian Sin sambil mengusap beberapa butir air mata yang tergenang pada pelupuk matanya. “Aku akan mengantar kembali lima orang gadis ini ke dusun mereka…”

“Sesudah itu…?” Thian Sin mendesak.

“Sesudah itu… aku tidak tahu, pendeknya aku tidak sudi kembali kepadanya!”

“Apakah… apakah engkau tidak mempunyai keluarga yang lain, nona?”

Gadis itu menggelengkan kepala. “Tidak, aku seorang diri saja di dunia ini…”

Tiba-tiba seorang di antara lima gadis dusun itu menghampirinya dan memeluknya. “Adik yang baik, engkau telah menyelamatkan kami, marilah kau ikut dan tinggal bersama kami saja, kami akan menganggapmu sebagai saudara kami, sebagai penolong, dan pelindung kami…” Empat orang gadis yang lain menyetujui dan membujuk-bujuk dara itu.

“Bagus sekali! Memang usul mereka itu baik sekali, nona, dan aku turut mendukungnya! Ketahuilah, nona, kami datang dari Istana Lembah Naga. Dia ini kakak angkatku, Cia Han Tiong, dan aku sendiri bernama Ceng Thian Sin. Kalau kau mau tinggal di dusun itu… kita akan berdekatan dan dapat saling mengunjungi sebagai sahabat.”

Han Tiong memandang kepada adik angkatnya itu dan diam-diam dia merasa geli sendiri. Agaknya adiknya ini benar-benar sudah jatuh hati lagi kepada gadis ini, pikirnya. Hatinya lega karena hal itu menandakan bahwa Thian Sin sudah melupakan peristiwa patah hati dahulu itu bersama Bhe Cu Ing.

Dara itu bangkit dan nampak terkejut, lalu menjura ke arah kedua orang pemuda gagah perkasa itu. “Ahh, maafkan, karena tidak tahu maka saya bersikap kurang hormat. Aihh, betapa tololnya ayah tiriku itu, berani mengganggu naga yang sedang tidur! Ji-wi sangat gagah perkasa dan baik, saya Loa Hwi Leng merasa kagum dan berterima kasih bahwa ji-wi tidak menganggap saya sebagai anggota gerombolan pengacau.”

Karena bujukan lima orang gadis itu, akhirnya Hwi Leng menyetujui untuk tinggal di dusun mereka. Para orang tua lima orang gadis itu tentu saja merasa gembira sekali melihat puteri-puteri mereka selamat, dan berterima kasih kepada Hwi Leng. Semua orang dusun menghormati gadis ini dan mulai saat itu menganggapnya sebagai pelindung dusun.

Cia Sin Liong dan isterinya merasa gembira dan bangga mendengar penuturan dua orang muda itu mengenai hasil tugas mereka mengejar gerombolan pengacau, akan tetapi Sin Liong mengerutkan alisnya ketika mendengar betapa kepala gerombolan itu sudah putus sebelah lengannya.

“Memang dia seorang jahat yang patut dihukum, akan tetapi engkau juga agak keterlaluan jika membikin putus lengannya, Thian Sin. Sebetulnya sudah cukup dengan mematahkan tulang lengannya saja.”

“Maaf, ayah, saya merasa dalam keadaan marah dan mata gelap ketika dia menyerang saya dengan golok, dan mengingat betapa dia sudah membunuh orang dusun, menculik wanita, maka…”

“Sudahlah, mungkin perbuatanmu itu ada baiknya, membikin jera kepadanya. Tetapi yang amat menggemaskan adalah Jeng-hwa-pang itu. Apa pula maksud mereka memancingku keluar dari sini? Mengapa mereka masih terus hendak mencari permusuhan denganku?”

“Ayah, apakah Jeng-hwa-pang itu dan mengapa memusuhi ayah?” tanya Han Tiong.

“Aku tahu siapa Jeng-hwa-pang itu! Perkumpulan jahat yang dahulul ikut membunuh ayah bundaku!” tiba-tiba Thian Sin berkata dengan suara mengandung kemarahan dan dendam sehingga Sin Liong menjadi terkejut dan cepat memandang kepada anak angkatnya itu.

Sejenak dua pasang mata bertemu dan Thian Sin menundukkan mukanya, sadar bahwa kembali dia membiarkan dirinya dikuasai nafsu dendam yang amat hebat. Dan Sin Liong diam-diam merasa khawatir sekali karena mendapatkan kenyataan bahwa sesungguhnya api dendam yang hebat itu masih selalu membara di dalam hati Thian Sin.

“Jeng-hwa-pang adalah sebuah perkumpulan besar di perbatasan, dan mereka memusuhi kami, yaitu aku dan mendiang ayah Thian Sin, karena urusan lama sekali. Tak kusangka hingga sekarang mereka masih menaruh dendam. Bagaimana pun juga, mudah-mudahan mereka tidak berani lagi mengacau setelah menerima hajaran kalian.”

Sin Liong merasa tidak enak untuk banyak bercerita tentang diri Ceng Han Houw dan dua orang muda itu pun tidak banyak mendesak lagi. Pengalaman itu membuat mereka kini semakin giat berlatih ilmu silat, dan juga Sin Liong tidak ragu-ragu lagi untuk menurunkan ilmu silat rahasia kepada mereka berdua, yaitu Ilmu Thi-khi I-beng kepada Thian Sin dan Ilmu Cap-sha-ciang kepada Han Tiong!

Ia menurunkan Ilmu Cap-sha-ciang kepada Han Tiong dan tidak kepada Thian Sin sebab dia tahu akan dahsyatnya ilmu ini. Kalau sampai dipergunakan secara liar oleh Thian Sin yang wataknya mudah berubah itu, sungguh akan menimbulkan geger di dunia persilatan! Sebaliknya, Thi-khi I-beng adalah ilmu yang mengandung kelemasan sehingga diharapkan ilmu itu akan dapat mengendalikan Thian Sin, memberinya watak yang lebih lemas, tidak kaku dan keras.

Maka berlatihlah dua orang muda itu dengan sangat tekunnya, dan sesuai dengan pesan Sin Liong, mereka merahasiakan ilmu masing-masing karena kedua macam ilmu itu tidak boleh diajarkan kepada dua orang, melainkan hanya boleh diturunkan kepada satu orang saja.

Akan tetapi di samping menurunkan kedua macam ilmu silat yang luar biasa itu kepada masing-masing, secara diam-diam Sin Liong juga mengajarkan cara untuk melindungi diri terhadap Thi-khi I-beng kepada Han Tiong. Hal ini dilakukan bukan karena dia pilih kasih, melainkan karena dia percaya penuh akan watak putera kandungnya ini dan merasa perlu adanya orang yang dapat mengamati dan kalau perlu mengendalikan keliaran Thian Sin kelak. Ilmu ini adalah ilmu totok jalan darah yang memang diciptakannya sendiri, khusus untuk melindungi diri terhadap penyedotan hawa Thi-khi I-beng, yang diberi nama It-sin-ci (Jari Tunggal Sakti).

Mudah sekali diduga semenjak terjadinya pengacauan di dusun itu, Thian Sin sering kali berkunjung ke dusun dan mengadakan pertemuan dengan dara yang bernama Loa Hwi Leng itu. Mereka bersahabat akrab dan hubungan mereka makin lama semakin erat, dan mudah diduga bahwa Hwi Leng pun tidak dapat menguasai hatinya lagi ketika berkenalan dengan pemuda tampan yang pandai membawa diri ini sehingga dia pun jatuh cinta!

Dan karena dia tidak bertepuk sebelah tangan, maka keduanya nampak akrab sekali dan sering kali mereka berdua berjalan-jalan di luar dusun, di antara sawah ladang dan ada kalanya ke dalam hutan di dekat dusun. Di tempat sunyi itu, dengan leluasa keduanya saling menumpahkan kerinduan hati mereka dan kasih sayang mereka dengan bercumbu, akan tetapi Thian Sin selalu dapat mempertahankan nafsu birahinya sehingga hubungan mereka hanya terbatas pada cumbu-cumbuan dan peluk cium belaka, tak melebihi batas yang akan menghanyutkan mereka ke dalam perjinahan hubungan kelamin.

Maka terobatlah sakit hati Thian Sin kehilangan pacarnya yang pertama, yaitu Cu Ing dan sekarang seluruh orang muda di dusun-dusun sekitar Lembah Naga tahu belaka bahwa Ceng-kongcu yang tampan itu telah mempunyai seorang pacar baru, yaitu Hwi Leng gadis perkasa yang namanya terkenal sebagai pendekar wanita yang dengan berani mati sudah melindungi lima orang gadis yang ditawan gerombolan perampok.

Sekali ini, tidak ada gadis-gadis yang dapat melapor kepada siapa pun, karena Hwi Leng adalah seorang gadis yatim piatu yang berdiri sendiri di dunia ini. Pula, untuk menyatakan rasa iri dan cemburu secara berterang tentu saja tidak ada yang berani karena gadis itu terkenal sebagai seorang yang lihai!

Han Tiong juga melihat perkembangan ini, dan Han Tiong inilah yang lantas membisikkan nasehat kepada adik angkatnya agar adik angkatnya itu selalu dapat menahan nafsunya. “Ingat, adikku yang baik. Sekali engkau tidak dapat menahan nafsu kemudian melakukan pelanggaran, hal itu akan merusak nama baikmu dan nama baik gadis yang kau cinta. Maka hati-hatilah engkau.”

Thian Sin tersenyum dan mukanya berubah menjadi merah. “Jangan khawatir, Tiong-ko. Aku selalu dapat menahan diri. Aku cinta padanya, dan aku tidak ingin mempermainkan cinta kami dengan pelanggaran nafsu birahi.”

Hemmm, begitu mudah patah hati dan begitu mudah mendapat gantinya, bisik hati Han Tiong, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung perasaan adiknya. “Kalau begitu, apakah ada niat di hatimu untuk menikah dengan Hwi Leng, Sin-te?”

Ditanya demikian, Thian Sin kelihatan terkejut sehingga sejenak dia menatap wajah kakak angkatnya seperti orang bodoh. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala bagai orang bingung dan berkata, “Menikah? Ahhh, itu… itu… entahlah, Tiong-ko, sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku.”

“Aihhh, kau ini bagaimana, Sin-te? Habis untuk apa engkau berpacaran dengan Hwi Leng kalau tidak ada niatmu untuk menjadi suaminya kelak?”

Kini sepasang mata yang tajam itu menatap Han Tiong dan suaranya tegas ketika dia bertanya, “Tiong-ko, apakah cinta harus selalu diakhiri dengan pernikahan?”

“Cinta antara sahabat, antara saudara, tentu saja tidak. Akan tetapi cinta antara pria dan wanita yang sudah berpacaran, apa lagi kalau tidak diakhiri dengan pernikahan?”

“Apakah tidak bisa kita hidup dengan cinta di hati tanpa diikat pernikahan, Tiong-ko?”

“Ah, pertanyaanmu amat aneh, adikku, Mana mungkin dalam kebudayaan dan kesopanan kita itu ada cinta antara pria dan wanita yang tidak disudahi dengan pernikahan?”

“Aku ingin ada cinta tanpa ikatan pernikahan, Tiong-ko.”

“Hemmm, kalau memang kedua fihak menghendaki, tentu saja hal itu dapat terjadi. Akan tetapi wanita manakah yang mau dijadikan kekasih selamanya tanpa dinikahi? Mereka semua tentu ingin dinikahi secara resmi, menjadi isteri, menjadi ibu, terjamin dan terikat erat-erat!”

Semenjak percakapan itu, sering kali Thian Sin kelihatan termenung dan menarik napas panjang. Dia juga mulai agak mengurangi kunjungannya kepada Hwi Leng karena setiap kali dia berdekatan dengan Hwi Leng, maka bayangan pernikahan langsung muncul dan menghantuinya. Dia tak ingin terikat sebagai suami, sebagai ayah, dia masih ingin bebas, ingin memasuki dunia yang luas ini, ingin bertualang, merantau meluaskan pengetahuan, akan tetapi dia pun senang sekali berdekatan dengan wanita cantik seperti Hwi Leng…..

********************

Petani tua itu datang dengan wajah pucat dan tubuh menggigil ketakutan. Keluarga Istana Lembah Naga pagi itu sedang duduk lengkap di serambi depan, Cia Sin Liong, isterinya dan dua orang puteranya. Mereka berada dalam suasana gembira dan sepagi itu mereka telah menghadapi hidangan-hidangan lezat karena pagi itu mereka merayakan hari ulang tahun Cia Sin Liong yang ke empat puluh!

Perayaan keluarga yang sangat sederhana, tanpa dihadiri orang luar. Dan ini pun bukan kehendak pendekar itu yang tidak ingin diadakan pesta apa pun untuk peringatan genap usia empat puluh tahun saja, melainkan kehendak isterinya. Sejak pagi sekali Bi Cu telah bangun dan dibantu pelayan telah masak-masak, maka pagi itu mereka telah menghadapi sarapan besar dengan gembira.

Kedatangan petani tua itu tentu saja amat mengherankan mereka semua. Sin Liong dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka petani itu nampak demikian ketakutan. Dengan halus dia cepat mempersilakan orang itu duduk dan bertanya apakah keperluannya datang pagi-pagi dengan sikap seperti itu.

“Celaka, taihiap… semalam dusun kami kembali didatangi penjahat-penjahat!” kata petani itu dengan suara gemetar.

Keluarga itu menjadi terkejut, terutama sekali Thian Sin yang menatap tajam dengan mata terbelalak.

“Ahh, mereka masih berani datang lagi?” seru Han Tiong.

“Jahanam-jahanam itu menjemukan!” Thian Sin juga berseru.

“Lalu apakah yang mereka lakukan? Perampokan dan pembunuhan lagi?” Cia Sin Liong bertanya penuh kekhawatiran.

“Hanya satu pembunuhan, taihiap… Nona Hwi Leng mereka bunuh…”

“Ahhhh…!” Thian Sin mengeluarkan teriakan nyaring dan di lain saat dia sudah meloncat dan lari dari situ.

“Sin-te…!” Han Tiong berteriak, akan tetapi ayahnya mencegahnya dan malah berkata,

“Tiong-ji, biarkan dia. Akan tetapi kau cepat kejar dan susul dia, jangan sampai adikmu melakukan hal-hal yang tidak semestinya.”

“Baik, ayah.” Dan pemuda ini pun lalu meloncat dan berlari cepat mengejar adiknya yang lari menuju ke arah dusun di mana tinggal Loa Hwi Leng itu.

“Sekarang harap kau ceritakan apa yang telah terjadi di dusunmu semalam, paman,” kata Sin Liong kepada kakek petani yang mukanya keriputan itu.

Kakek itu dengan suara gemetar bercerita. Semalam di dusun mereka, menjelang tengah malam terdengar derap kaki banyak kuda. Karena sudah pernah mengalami gangguan para perampok, penduduk dusun itu menjadi penakut dan mendengar derap kaki banyak kuda ini, mereka tidak berani keluar pondok, menutupkan pintu, memadamkan lampu dan mengintai keluar dari rumah-rumah yang gelap, bahkan ada yang sama sekali tidak berani mengintai, hanya berjubel dengan ketakutan di dalam kamar masing-masing.

“Saya memberanikan diri mengintai keluar dan kebetulan rumah saya berdekatan dengan rumah di mana Nona Hwi Leng tinggal.” kata kakek itu melanjutkan. “Saya melihat Nona Leng keluar dari rumah itu, dengan pedang di tangan dan dengan berani dia lalu menegur para penunggang kuda yang jumlahnya belasan orang itu.” Dia berhenti dan kelihatan bingung dan ketakutan, sebentar-sebentar menoleh ke kanan kiri seakan-akan dia takut kalau-kalau di tempat itu sewaktu-waktu akan muncul perampok-perampok.

“Lalu bagaimana, paman? Jangan takut, di sini aman,” kata Sin Liong.

“Terjadi pertempuran, akan tetapi hanya sebentar dan tahu-tahu Nona Leng telah ditawan oleh mereka. Kemudian… kemudian…” Kakek itu tidak mampu melanjutkan ceritanya lagi dan menutupi mukanya dengan dua tangannya, seolah-olah dia hendak menghindar dari penglihatan yang masih membayang di depan matanya.

Sin Liong dan Bi Cu sudah dapat menduga. “Mereka itu membunuhnya?” tanya Sin Liong kepada petani itu.

“Bukan hanya dibunub. Dia disiksa… saya tidak berani lagi melihatnya… dan kami semua tidak berani keluar biar pun kaki kuda mereka itu sudah meninggalkan dusun. Baru pada keesokan harinya kami berani keluar dan melihat… mayat Nona Leng sudah tergantung di pohon tanpa pakaian, tubuhnya hancur disayat-sayat…”

“Keparat jahanam!” Bi Cu membentak dan bangkit berdiri, kedua tangannya dikepal sebab nyonya ini sudah menjadi marah bukan main.

Sin Liong memegang lengan isterinya dan dengan pandangan matanya dia menenangkan isterinya. Bi Cu yang mukanya berubah menjadi merah sekali itu menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu duduk kembali.

“Paman, apakah paman mendengar apa yang diucapkan oleh para penjahat itu?”

“Mereka itu orang-orang kasar dan tertawa-tawa ketika menyiksa Nona Leng. Saya hanya mendengar suara Nona Leng merintih, akan tetapi ada yang bersuara besar dan berkata: Engkau berani mengkhianati Jeng-hwa-pang? Hanya itulah yang saya dengar…”

“Hemm, Jeng-hwa-pang lagi…!” Sin Liong berkata. “terima kasih atas laporanmu, paman.”

Setelah petani tua itu pergi, Sin Liong lalu berkata kepada isterinya, “Jeng-hwa-pang tak boleh dipandang ringan. Sebaiknya kalau aku melihat keadaan anak-anak kita.”

Bi Cu mengangguk. Sebenarnya nyonya ini ingin sekali ikut supaya dapat mengamuk dan memberi hajaran kepada Jeng-hwa-pang. Akan tetapi karena kedua orang puteranya itu kini telah mempunyai kepandaian tinggi, bahkan lebih lihai dari pada dia sendiri, dan lebih lagi karena suaminya juga menyusul mereka, maka sebaiknya bagi dia untuk menjaga dan menanti di rumah. Maka pergilah Sin Liong dengan cepat untuk menyusul dua orang puteranya.

Ketika Thian Sin yang berlari secepat terbang itu tiba di rumah yang ditinggali kekasihnya dan melihat peti mati dengan hio mengepul di depan pintu, bagaikan orang gila dia segera menjerit. “Hwi Leng…!” Dan dia segera menghampiri peti mati.

Semua orang terkejut, terharu dan juga takut melihat pemuda yang biasanya ramah dan tersenyum-senyum itu kini kelihatan berwajah beringas dan pucat, matanya merah.

“Brakkk…!”

Sekali renggut, tutup peti mati itu pun terbuka. Nampak wajah Hwi Leng yang pucat dan putih, namun masih nampak cantik biar pun muka itu penuh luka tersayat-sayat kulitnya. Dari pipi sampai ke dagu dan lehernya penuh dengan goresan senjata tajam dan tanpa membuka pakaiannya Thian Sin bisa menduga bahwa seluruh tubuh itu tentu juga penuh dengan luka-luka goresan pedang.

“Hwi Leng…!” Dia menjerit, kemudian tubuhnya membalik dan matanya liar mencari-cari, lantas dia memekik sangat mengerikan. “Bedebah kalian semua! Mampuslah orang-orang Jeng-hwa-pang!” Dan dia pun melesat dan lari cepat sekali dari tempat itu.

Kurang lebih setengah jam kemudian Han Tiong baru tiba di rumah duka itu. Mendengar bahwa adiknya telah tiba di situ dan sudah pergi dalam keadaan marah hendak mengejar orang-orang Jeng-hwa-pang, Han Tiong merasa khawatir sekali. Maka dia pun tidak lama berada di situ dan cepat dia pergi mengejar adiknya.

Sekali ini Han Tiong berlari cepat bukan kepalang, mengikuti jejak rombongan kuda orang Jeng-hwa-pang yang keluar dari daerah itu menuju ke selatan. Dia merasa yakin bahwa adiknya tentu juga melakukan pengejaran mengikuti jejak itu.

Menjelang tengah hari, tibalah dia di sebuah lereng yang sunyi dan di atas padang rumput itu dia melihat bahwa kiranya kekhawatirannya terbukti. Hingga di situlah jejak rombongan berkuda itu dan tidak lama kemudian dia berdiri sambil bertolak pinggang memandang ke sekeliling, di mana terdapat mayat-mayat dua belas orang berserakan.

Dua belas orang itu semua tewas dalam keadaan sangat mengerikan dan kepala mereka pecah-pecah. Han Tiong dapat melihat bekas pukulan Thian-te Sin-ciang adiknya, karena itu wajahnya menjadi pucat, perasaannya diliputi kesedihan dan perutnya langsung terasa mual menyaksikan belasan orang yang tewas oleh tangan adiknya itu!

“Thian Sin…!” dia mengeluh dan dengan punggung tangan dia mengusap kedua matanya yang basah. Dia merasa menyesal sekali mengapa dia tidak dapat menyusul lebih cepat sehingga dia dapat mencegah terjadinya pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Thian Sin.

Han Tiong lalu menggali lubang besar, hanya menggunakan golok yang banyak terdapat di tempat itu. Golok, pedang serta tombak malang melintang dan patah-patah. Dia dapat membayangkan betapa adiknya telah mengamuk bagaikan seekor naga di tempat itu tadi. Belum lama terjadinya, karena darah yang membanjiri tempat itu masih basah.

Ingin dia cepat-cepat menyusul adiknya, akan tetapi mayat-mayat itu harus dikubur dulu. Tak mungkin dia membiarkan saja mayat-mayat itu, apa lagi mayat-mayat yang terbunuh oleh tangan adiknya. Dengan khidmat dia kemudian mengangkat semua mayat itu, lantas memasukkannya ke dalam lubang besar yang sudah dibuatnya.

Dalam lubuk hatinya dia menganggap bahwa sikapnya ini setidaknya akan meringankan kekejaman adiknya, sebagai sekedar penebusan dosa yang dilakukan adiknya. Dia lantas menimbuni kuburan itu dengan tanah dan secepatnya dia melanjutkan pengejarannya…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner