PENDEKAR SADIS : JILID-15


Akan tetapi Thian Sin yang sejak tadi memang sudah kagum sekali, timbul kegembiraan hatinya pada saat mendengar nyanyian ini. Dia sendiri adalah seorang pemuda yang suka sekali akan seni suara, bahkan dia pun merupakan seorang yang amat berbakat dan ahli membuat sajak, karena itu dia merasa digerakkan dan didorong oleh sikap Siangkoan Wi Hong yang menggembirakan itu.

Bagaikan tidak sadar dia lalu menjawab nyanyian itu dengan nyanyiannya, nyanyian yang sederhana saja sehingga amat mudah diikuti oleh suara yang-kim, akan tetapi suaranya terdengar nyaring dan merdu, juga gagah, tidak kalah bagusnya dari suara Siangkoan Wi Hong tadi!

Lemah lembut, ramah dan baik budi
sebagai sahabat yang menarik hati
dengan sumpit menyuguhkan hidangan berarti
dengan sumpit pandai membela diri
dengan yang-kim pandai menghibur hati
membuat sajak dan bernyanyi memuji
sungguh seorang pendekar yang pantas dihargai!


Sepasang mata Siangkoan Wi Hong terbelalak dan dia pun bertepuk tangan memuji, lalu menuangkan arak dari guci ke dalam cawannya, “Sungguh hebat, Thian-lote! Sungguh hebat! Aku terima kalah!” Dan dia pun minum arak secawan itu.

Sementara itu, melihat sikap mereka, Siang Hwa sudah pulih kembali keberaniannya dan tak lama kemudian bernyanyilah wanita ini, diiringi suara yang-kim dan memang benarlah keterangan Siangkoan Wi Hong tadi. Wanita ini selain cantik manis, juga memiliki suara nyanyian yang merdu sekali.

Suasana di loteng restoran itu menjadi riang gembira karena para tamu yang tadi diberi hadiah suguhan arak dan daging gratis itu, dan kini disuguhi nyanyian merdu lagi, sudah pada bertepuk tangan, mengiringi irama nyanyian karena mereka pun telah mulai mabuk.

Hanya Han Tiong yang masih nampak tenang dan serius, meski pun kegembiraan itu juga membuat wajahnya yang tampan membayangkan kejujuran dan kebaikan hati itu berseri. Akan tetapi, pandang matanya terhadap Siangkoan Wi Hong kadang-kadang amat tajam penuh selidik dan dia pun merasa gembira melihat Thian Sin mengetuk-ngetukkan sumpit pada meja untuk mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh Siang Hwa dengan sangat indahnya.

Dia tahu bahwa agaknya adik angkatnya itu menemukan ‘dunianya’ karena belum pernah dia melihat adiknya segembira itu, sungguh pun adiknya itu pun, seperti juga dia, hanya minum sebanyak dua cawan arak saja dan sama sekali tidak mabuk seperti para tamu di loteng itu, juga seperti Siangkoan Wi Hong yang agaknya juga sudah mabuk.

Sampai kurang lebih dua jam mereka bersenang-senang dan para pelayan restoran sibuk menambahkan daging dan arak yang terus diminta. Tiba-tiba para pelayan berlarian dan para tamu yang duduk di pinggir loteng dan menjenguk ke bawah menjadi pucat. Biar pun sebagian besar dari mereka itu sudah mabuk, akan tetapi melihat orang-orang berpakaian seragam dan naik kuda mengurung restoran itu, mereka tahu apa yang akan terjadi.

“Celaka, restoran itu dikurung pasukan! Wah, kita semua akan ditangkap!”

“Mungkin dibunuh!”

“Dituduh pemberontak!”

Siangkoan Wi Hong mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata, suaranya nyaring dan tenang, “Saudara-saudara semua, duduklah di tempatnya masing-masing dan jangan bergerak, jangan panik. Serahkan semua kepada aku orang she Siangkoan, sebab akulah yang bertanggung jawab. Jangan khawatir, tak akan terjadi apa-apa. Kalau ada di antara saudara yang sampai tewas dalam peristiwa ini, aku akan menebusnya dengan seribu tail perak yang akan kuserahkan kepada keluarganya! Siang Hwa, bernyanyilah lagi…”

“Aku… aku tidak sanggup… kongcu…” Siang Hwa menggelengkan kepala dan mukanya sudah pucat lagi, telinganya dipasang baik-baik untuk mendengarkan derap kaki kuda dan ringkik mereka di bawah loteng.

“Siangkoan-toako, biarlah aku yang bernyanyi,” tiba-tiba Thian Sin berkata.

“Bagus!” Siangkoan Wi Hong memuji dan Thian Sin segera bernyanyi, nyanyian gembira.

Kaisar dan para pembesar berpesta-pora
dalam kemewahan gedung istana
siapa berani mengganggunya?
Kita rakyat biasa
dengan hidangan seadanya
bergembira ria
apa salahnya?
Eh, tahu-tahunya dikepung pasukan tentara
yang katanya pelindung rakyat jelata
Hayaaaaa…!


Baru selesai dia bernyanyi, tiba-tiba terdengar suara gaduh banyak kaki naik ke tangga dan muncullah seorang komandan pasukan yang berusia lima puluh tahun lebih, bersikap galak, bertubuh tinggi kurus dengan pakaian indah mengkilap, diikuti oleh belasan orang pasukan pengawal yang kesemuanya mengenakan pakaian seragam dan masing-masing memegang sebatang pedang mengkilap di tangan kanan dan perisai di tangan kiri.

“Jangan bergerak semua yang berada di loteng!” komandan itu membentak dengan suara terlatih sehingga terdengar mengandung wibawa. “Siapakah di antara kalian yang sudah berani memukul Ji-siauwya?” Sepasang mata komandan itu dengan tajamnya menyapu ruangan, jelas kemarahan hebat membayang di wajahnya yang kurus.

Sunyi senyap di tempat itu sesudah pertanyaan ini. Sunyi yang menegangkan dan Siang Hwa mulai tak dapat menahan isaknya yang ditahan-tahan. Dengan tenang Siangkoan Wi Hong bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah ke depan menghadapi kapten pasukan itu sambil menjawab,

“Akulah orangnya!”

Komandan itu memandang kepada pemuda itu seolah-olah pandang mata seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Tangan kanannya telah meraba gagang pedangnya dan kini anak buahnya telah maju, siap membantu komandan mereka bila diperintahkan.

“Hemmm, engkaukah Ji-cianbu (kapten Ji) yang memimpin pasukan ini? Lihat baik-baik, Cianbu, lupakah engkau padaku? Bukankah seminggu yang lalu engkau juga hadir ketika Giam-ciangkun menjamuku sebagai tamunya? Aku datang dari Tai-goan, sudah lupakah engkau?”

Sementara mata yang tadinya marah itu semakin terbelalak dan wajah itu berubah agak pucat sesudah dia teringat lagi dan tangan yang sudah meraba pedang itu menjadi lemas dan tergantung di sisi. Kemudian dia menjura.

“Ahh, kiranya Siangkoan-kongcu! Ahh, maaf… akan tetapi mengapa kongcu…”

“Hemm, puteramu yang tidak tahu diri, Cianbu. Semua orang di sini dapat menjadi saksi. Puteramu yang datang membikin kacau dan menggangguku, menyerangku. Terpaksa aku menghajarnya.” Suara pemuda itu kini penuh wibawa dan kereng.

Mendadak wajah yang tadinya marah itu kini berubah menjadi penuh kekhawatiran dan kedukaan, dan suara yang tadi kereng memerintah itu kini berubah penuh permohonan. “Siangkoan-kongcu, harap suka mengasihani kami… kongcu tolonglah putera kami itu…”

“Hemm, jika aku tidak mengampuni mereka, apakah kau kira mereka itu sekarang masih hidup?” kata Siangkoan Wi Hong dengan sikap yang membayangkan ketinggian hati dan memandang rendah kepada kapten itu.

“Kongcu, sudah kuperiksakan pada tabib istana… katanya tak ada harapan… keracunan hebat, tolonglah, kongcu, kami hanya mempunyai seorang putera saja…”

Siangkoan Wi Hong menggerakkan hidungnya dengan sikap menghina. “Jika sudah tahu puteranya hanya seorang, kenapa tidak dididik sebaiknya menjadi orang yang berguna?” Dia membentak.

Perwira itu menjura dan mengangguk-angguk, mengucapkan kata-kata yang maksudnya mohon pertolongan. Siangkoan Wi Hong mengangguk. “Baiklah!” Dia lalu merogoh saku jubahnya, melemparkan kantong berisi uang yang nyaring bunyinya ke atas meja.

“Siang Hwa, kau bayar semua hidangan, dan sisanya untukmu.”

Wanita itu mengambil kantung uang, kemudian menjura. “Terima kasih, kongcu,” katanya dengan suara merdu.

“Ji-wi lote, kuharap akan dapat bertemu lagi dengan kalian. Sungguh aku merasa gembira sekali dapat berkenalan dengan kalian. Thian-lote, engkau sungguh hebat. Di dalam hal bernyanyi dan bersajak, aku mengaku kalah. Sampai jumpa pula.”

Dia lalu melangkah turun dari loteng dengan sikap dan lagak yang sembarangan, sambil mengangguk dan tersenyum ke kanan kiri kepada orang-orang yang memandang dirinya dengan penuh kagum. Yang-kim itu dipanggulnya bagaikan seorang prajurit memanggul tombak, sambil jemari tangan kirinya yang memanggul itu mempermainkan kawat-kawat yang-kim sehingga terdengar bunyi trang-tring nyaring.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda dari tempat itu ketika perwira dan pasukannya itu mengiringkan Siangkoan Wi Hong yang juga diberi seekor kuda pilihan. Barulah sekarang para tamu berisik membicarakan pribadi pemuda yang sangat hebat itu dan dari pembicaraan-pembicaraan ini tahulah Han Tiong dan Thian Sin bahwa Siangkoan Wi Hong memang seorang pemuda yang kaya raya dan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan para pembesar tingkat tinggi di kota raja.

Oleh karena itu, tentu saja seorang perwira berpangkat cianbu sama sekali tidak berani menentangnya, karena komandan tertinggi pasukan itu, yaitu atasan dari Ji-cianbu sendiri adalah sahabat baik pemuda itu, bahkan pada minggu yang lalu Ji-cianbu melihat sendiri betapa atasannya menjamu pemuda itu dengan penuh kehormatan.

Siang Hwa membayar semua harga hidangan dan sisa uang itu dibawanya pulang, diantar oleh dua orang pelayannya dengan naik kereta. Han Tiong mengajak adiknya untuk pergi meninggalkan restoran dan di sepanjang perjalanan, Thian Sin memuji-muji pemuda itu.

“Bukan main! Sungguh membuat aku kagum sekali. Orang she Siangkoan itu benar-benar hebat, seorang pendekar tulen yang patut dikagumi!”

“Memang dia hebat, Sin-te, kaya raya, pengaruhnya besar, ilmu silatnya lihai dan dia juga pandai main yang-kim, pandai bersajak dan bernyanyi. Akan tetapi sayang, hatinya kejam bukan main.”

“Ehh…?” Thian Sin menoleh kepada kakaknya dengan pandang mata heran. “Dia kejam? Justru sebaliknya. Dia baik sekali, ramah dan suka menolong…”

“Itulah, adikku. Suka akan sesuatu atau tidak suka akan sesuatu secara berlebihan akan membuat orang kehilangan kewaspadaan. Bila mana engkau menyukai seseorang secara berlebihan, yang nampak dari orang itu hanyalah baiknya saja, sebaliknya kalau engkau membenci orang secara berlebihan, yang nampak darinya hanya buruknya saja. Namun sebaliknya, apa bila kita bebas dari ikatan suka dan tidak suka, maka barulah kita dapat memandang dengan penuh kewaspadaan. Tidak tahulah engkau betapa dia tadi memberi pukulan-pukulan maut kepada tiga orang itu? Tepukan-tepukan yang membuat tiga orang itu jatuh ke bawah tangga adalah pukulan yang akan membunuh tiga orang itu. Tidakkah perbuatan itu ganas dan kejam sekali?”

Thian Sin mencoba membantahnya, “Tapi… mereka bertiga itu adalah orang-orang jahat yang menggunakan kekuasaan untuk bertindak sewenang-wenang. Si Bopeng itu sangat sombong, ada pun dua orang yang lain adalah kaki tangannya, mereka jahat, sudah layak dipukul!”

“Hemm, dan layak dibunuh pula?”

Thian Sin tak menjawab. Dia memang benci sekali kepada mereka bertiga yang sombong dan sewenang-wenang itu, akan tetapi tidak terdapat dalam pikirannya untuk membunuh mereka. Betapa pun juga, dia tetap membela,

“Tiong-ko, hendaknya engkau bersikap adil. Coba andai kata Saudara Siangkoan itu tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, apakah bukan dia yang sudah menggeletak tanpa nyawa, menjadi korban keganasan orang she Ji itu?”

“Kalau memang terjadi demikian, tentu kita turun tangan melindunginya. Dan andai kata terjadi dia dibunuh oleh mereka, tentu bukan dia yang kukatakan kejam, melainkan orang she Ji dan dua temannya.”

“Tapi dia hanya membela diri, Tiong-ko!”

“Hemm, kau melihat jelas bahwa pukulan maut itu dilakukan bukan untuk membela diri. Dia dengan mudah dapat mengalahkan mereka bertiga tanpa harus menurunkan tangan maut! Adikku, bagaimana pun juga, kita harus berusaha menyelamatkan nyawa orang itu. Mereka terkena pukulan sinkang yang kuat sekali, tetapi agaknya kita masih akan dapat menolong mereka. Kita coba saja!”

“Ahh, kita menolong orang jahat itu?”

“Bukan, adikku. Kita bukan menolong orang-orang jahat, bukan membantu orang-orang jahat, melainkan mencoba untuk menolong orang-orang yang diancam maut. Marilah!”

Terpaksa Thian Sin mengikuti kakaknya dan sesudah bertanya-tanya, dengan mudahnya mereka dapat menemukan rumah gedung dari Ji-cianbu, yakni perwira pengawal istana itu. Teringat bahwa tadi orang she Siangkoan juga diajak pergi oleh Ji-cianbu ke tempat ini, dan kini nampak banyak pengawal dengan kuda mereka menanti di depan gedung.

Han Tiong lalu mengajak adiknya mengambil jalan memutar, kemudian mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk melompati pagar tembok, memasuki taman dan dengan loncatan-loncatan tanpa menimbulkan suara mereka telah naik ke atas wuwungan rumah dan mengintai ke dalam dari atas genteng.

Mereka melihat Siangkoan Wi Hong tengah duduk berhadapan dengan Ji-cianbu di dalam ruangan yang luas dan di sana terdapat tiga buah pembaringan di mana rebah terlentang tiga orang yang tadi membikin ribut di restoran. Wajah mereka pucat agak kehijauan dan ketiganya mengeluh lirih dan bergerak lemah.

“Hemm, mengapa begini lama?” terdengar Siangkoan Wi Hong bertanya, nada suaranya mengandung ketidak sabaran.

Dengan gugup perwira itu bangkit dan menjura, “Harap kongcu bersabar… tentu kongcu maklum betapa sukar bagi kami untuk mengumpulkan uang lima puluh tail emas dengan pangkat dan gaji kecil seperti saya… sabarlah, karena tentu isteri saya sedang mencari pinjaman ke sana-sini…”

“Ha-ha-ha-ha, Ji-cianbu, tak perlu lagi engkau bersandiwara di depanku. Siapa yang tidak mengetahui keadaan para pembesar di kota raja? Gajimu boleh jadi memang kecil dan tidak seberapa, seperti gaji para pembesar lainnya, bahkan pembesar tinggi sekali pun berapa sih gajinya? Akan tetapi lihat gedung-gedung kalian, lihat isi rumah kalian, lihat isi gudang kekayaan kalian! Jika hanya mengandalkan gaji kalian, biar kalian bekerja sampai tujuh turunan sekali pun tidak mungkin dapat mengumpulkan kekayaan sebesar itu. Lalu dari mana? Ha-ha-ha, semua orang pun sudah tahu, hanya kalian saja orang-orang tolol yang mengira bahwa tidak ada orang yang tahu. Sudahlah, cepat sediakan jumlah yang kuminta, itu masih terlalu murah untuk mengganti tiga nyawa. Kalau tidak, aku akan pergi, karena aku masih mempunyai banyak urusan!”

“Baikiah, baiklah…” Ji-cianbu lalu bertepuk tangan dan ketika seorang pengawal masuk, dia berbisik, “Cepat, minta kepada hujin untuk cepat datang membawa uang itu.”

Siangkoan Wi Hong sudah mengentrang-ngentrang yang-kimnya, sikapnya acuh tak acuh dan kepada pemuda ini, Ji-cianbu menjura dan bertanya, “Yakin benarkah kongcu bahwa kongcu akan dapat menyembuhkan anakku?”

“Cringgg!” Bunyi kawat paling kecil dari yang-kim itu begitu nyaringnya sehingga Ji-cianbu terkejut dan melangkah mundur.

“Aku yang memukul, tentu saja aku dapat menyembuhkan!”

Tak lama kemudian muncullah seorang nyonya setengah tua tergopoh-gopoh membawa bungkusan kain kuning yang berisi uang. Ji-cianbu mengambil bungkusan ini dari tangan isterinya dan menyerahkannya kepada Siangkoan Wi Hong.

Pemuda itu menerimanya, sambil tersenyum dia membuka kantung itu dan melihat isinya yang ternyata uang-uang emas, berupa potongan-potongan besar yang berkilauan. Dia menimang-nimang dengan tangan seperti hendak memeriksa beratnya, lalu memasukkan kantung itu ke dalam saku jubahnya yang lebar. Setelah itu dia berkata,

“Buka baju mereka!”

Ji-cianbu memanggil pengawal dan dia bersama dua orang pengawal lalu membuka baju Ji Lou Mu dan dua orang tukang pukulnya. Ketika tubuh mereka dibalikkan, di punggung mereka nampak cap tangan menghitam, jelas sekali bagaikan dilukis dengan tinta. Itulah bekas tangan Siangkoan Wi Hong ketika menepuk punggung mereka satu demi satu itu!

Siangkoan Wi Hong menghadapi mereka, lalu dengan cepat jari-jari tangannya menotok beberapa jalan darah pada sekitar punggung, kemudian dia menempelkan telapak tangan kirinya ke punggung yang terluka. Tak lama kemudian, nampak asap atau uap mengepul dari punggung yang ditempeli telapak tangan itu, seolah-olah dibakar!

Ji Lou Mu mengeluh dan mengerang kesakitan, tetapi dihardik oleh Siangkoan Wi Hong. “Pengecut, diamlah! Masa menderita nyeri sedikit saja sudah merengek cengeng?”

Dibentak seperti itu, Si Muka Bopeng terdiam dan menahan nyeri sampai mukanya penuh keringat. Tidak lama kemudian Siangkoan Wi Hong melepaskan tangannya dan ternyata tanda hitam itu telah lenyap.

“Kau telan ini sehari sekali, tiga hari berturut-turut,” katanya sambil menyerahkan tiga butir pil hitam kepada Ji Lou Mu yang menerimanya dan kini pemuda muka bopeng itu sudah mampu duduk dan menghaturkan terima kasih.

Dengan sikap tak acuh Siangkoan Wi Hong mengobati pula dua orang tukang pukul itu. Mereka tidak berani mengeluh sungguh pun jelas bahwa mereka menderita nyeri hebat. Akhirnya mereka pun disembuhkan dan masing-masing diberi tiga butir pil hitam.

“Nah, aku pergi sekarang. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi puteramu agar lain kali jangan bersikap sembarangan dan sewenang-wenang!”

Setelah berkata demikian, dengan diantar oleh Ji-cianbu yang membungkuk-bungkuk dan berkali-kali menyatakan terima kasih, pemuda itu memanggul yang-kimnya lantas keluar dari gedung itu. Dia menolak ketika diberi kuda dan melangkah ke jalan raya lalu berjalan seenaknya pergi dari situ.

Sejak tadi, Han Tiong dan Thian Sin melihat semua peristiwa itu dan diam-diam Thian Sin merasa kaget sekali. Melihat betapa Siangkoan Wi Hong yang dikaguminya itu memeras meminta uang emas sebelum mau mengobati Ji-kongcu dan dua orang tukang pukulnya! Segera sesudah Siangkoan Wi Hong pergi, mereka pun diam-diam meloncat turun dari atas genteng melalui bagian belakang gedung dan pergi dari tempat itu.

“Hemm, lima puluh tail emas…!” Han Tiong bersungut-sungut.

Thian Sin maklum bahwa kakaknya mencela perbuatan Siangkoan Wi Hong. Akan tetapi semenjak tadi memang ada dua hal yang bertentangan berada di dalam benaknya.

Yang pertama dia sendiri juga mencela perbuatan pemuda tampan itu yang melakukan pemerasan, akan tetapi di lain fihak dia pun merasa geli dan kagum karena perbuatan itu dapat pula diartikan sebagai hukuman terhadap pembesar itu yang seperti hampir semua pembesar di jaman itu, merupakan koruptor-koruptor besar yang memeras keringat rakyat dan harta milik negara.

“Akan tetapi, uang itu adalah uang hasil korupsi pembesar itu, Tiong-ko. Sudah layak bila orang macam Ji-cianbu itu dihukum seperti itu.”

Han Tiong menoleh dan memandang pada adiknya dengan alis berkerut. “Sin-te, apakah dengan kata-kata itu engkau hendak maksudkan bahwa engkau membenarkan perbuatan orang she Siangkoan itu.”

“Tidak, koko. Dia melakukan pemerasan dan itu sama saja dengan perampokan. Akan tetapi aku setuju kalau orang-orang seperti keluarga Ji itu diberi hajaran agar mereka itu dapat sadar dari perbuatan-perbuatan mereka yang tidak baik.”

Lega rasa hati Han Tiong saat mendengar jawaban adiknya itu. “Di kota raja ini banyak terdapat orang pandai, tepat seperti yang diceritakan ayah. Baru orang she Siangkoan itu saja sudah memiliki kepandaian begitu hebat, belum lagi tokoh-tokoh tuanya. Maka kita harus berhati-hati, Sin-te, sedapat mungkin jangan sampai terlibat dengan mereka seperti yang telah terjadi tadi.”

Mereka melanjutkan perjalanan ke losmen di mana mereka menyewa kamar. “Betapa pun juga, orang she Siangkoan itu amat menarik hati. Aku ingin sekali mendapat kesempatan untuk mencoba kepandaian silatnya.”

“Hemm, kurasa dia merupakan lawan yang cukup tangguh. Lihat saja suara yang-kimnya. Kalau saja dia mau, dia dapat menyerang lawan dengan suara yang-kimnya, itu saja telah membuktikan bahwa dia memiliki khikang yang amat kuat. Dan ketika dia meloncat untuk menghadang tiga orang itu jelas nampak kelihatan ginkang-nya, kemudian pada waktu dia mengobati mereka bertiga itu, dia mampu menggunakan sinkang untuk membakar racun pukulannya sendiri. Hemm, dia seorang lawan yang tangguh sekali!”

“Justru karena itulah aku ingin sekali mencobanya, Tiong-ko, akan tetapi sebagai sahabat, bukan sebagai musuh.”

Pada saat mereka sampai di depan losmen, bukan pengurus atau pelayan losmen yang menyambut mereka di depan pintu, akan tetapi Siangkoan Wi Hong! Sambil tersenyum ramah pemuda tampan itu berdiri menyambut mereka sambil menjura.

“Selamat malam, sahabat-sahabatku yang baik,” kata pemuda itu.

Dan terpaksa dua orang kakak beradik ini membalas penghormatan orang tapi diam-diam merasa heran bagaimana orang itu dapat mengetahui tempat mereka bermalam! Setelah sekarang mereka berdiri berhadap-hadapan dengan Siangkoan Wi Hong, maka tampaklah betapa pemuda itu bertubuh agak jangkung, lebih tinggi dari pada mereka berdua.

“Siangkoan-toako, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa kami bermalam di losmen ini?” tanya Thian Sin, tak dapat menyembunyikan rasa gembiranya bertemu dengan orang ini.

“Ha-ha-ha!” Deretan gigi yang teratur bagus itu berkilat ketika dia tertawa dan sinar lampu depan losmen menimpanya. “Sudah kukatakan bahwa di kota raja ini aku memiliki banyak sekali kenalan, maka apa sukarnya mencari tahu di mana kalian bermalam!”

“Saudara Siangkoan Wi Hong, sesungguhnya ada keperluan apakah yang membuat anda bersusah payah datang ke sini dan menanti kami berdua?” Han Tiong bertanya, sikapnya terbuka dan ramah, akan tetapi dari pandang matanya terpancar cahaya yang membuat Siangkoan Wi Hong merasa gugup.

Siangkoan Wi Hong cepat menutupi kegugupannya dengan senyumnya yang manis, “Ah, setelah mendengar bahwa kalian tinggal di sini, aku lalu cepat-cepat datang ke sini untuk menawarkan kamar di dalam rumahku kepada kalian. Sebagai sahabat-sahabatku yang sangat baik, tidak semestinya kalau Anda berdua tinggal di tempat ini. Marilah, ji-wi lote, mari ikut bersamaku, aku mengundang ji-wi untuk tinggal di rumahku selama ji-wi berada di kota raja.” Dengan mengembangkan lengannya orang she Siangkoan itu berkata sambil tersenyum, sikapnya ramah dan menyenangkan sekali sehingga Thian Sin telah menoleh ke arah kakaknya kemudian memandang kakaknya dengan sinar mata penuh persetujuan menerima undangan itu.

Akan tetapi sambil tersenyum Han Tiong berkata dan menjura. “Banyak terima kasih atas segala kebaikan loheng (kakak). Akan tetapi kami tidak berani banyak mengganggu. Kami akan merasa lebih leluasa bermalam di kamar losmen ini dari pada di rumah Siangkoan-loheng, oleh sebab itu harap loheng tak kecewa dan juga tidak menganggap kami kurang terima. Sesungguhnya kami merasa tidak enak sekali untuk menerima banyak kebaikan darimu. Tidak, Siangkoan-loheng, kami akan bermalam di sini saja dan sekali lagi terima kasih.”

Di bawah sinar lampu losmen itu, Siangkoan Wi Hong menatap wajah Thian Sin dengan mata bersinar-sinar. Dia melihat betapa Thian Sin melirik ke arah kakaknya tetapi segera menunduk, maka tahulah dia bahwa sang adik angkat itu amat tunduk kepada sang kakak angkat. Dia pun tersenyum.

Dari sinar matanya, dia maklum bahwa orang seperti Han Tiong yang memilki sinar mata bagaikan naga itu adalah seorang yang berhati teguh dan sekali mengeluarkan kata-kata sudah pasti tidak akan mudah dibelokkan lagi. Maka dia pun tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan membujuk seorang pemuda seperti Han Tiong dan dia pun menjura.

“Baiklah, jika ji-wi tidak mau tinggal di rumahku, harap ji-wi suka berjanji untuk sekali-kali singgah di rumahku sebelum pergi meninggalkan kota raja. Toko dan rumah ayah berada di sebelah kanan pasar, di seberang Jembatan Ayam Putih. Asal ji-wi menanyakan rumah she Siangkoan setiap orang pun di sana akan dapat menunjukkan di mana adanya rumah kami.”

Han Tiong merasa bahwa dia keterlaluan kalau menolak undangan singgah ini, maka dia pun menjura kemudian berkata, “Baiklah, Siangkoan-loheng, kami berjanji akan singgah ke rumah loheng sebelum kami melanjutkan perjalanan ke selatan. Mudah-mudahan kami tidak terlalu mengganggu.”

“Ha-ha-ha, Cia-lote terlalu sungkan. Nah, sampai jumpa!” Orang itu lalu pergi memanggul yang-kimnya, berjalan melenggang seenaknya, diikuti pandang mata dua orang pemuda Lembah Naga itu.

Mereka lalu memasuki kamar dan masih berkesan tentang pertemuan dengan Siangkoan Wi Hong yang tidak disangka-sangkanya itu, “Orang itu sungguh aneh dan mencurigakan sekali,” kata Han Tiong.

“Aku gembira dapat berjumpa dengan dia dan kita sudah berjanji hendak singgah. Koko, kalau kita singgah di rumahnya, kesempatan itu akan kupergunakan untuk mengajaknya mencoba ilmu silat.”

“Tidak, Sin-te. Jangan kau lakukan hal itu. Ketahuilah bahwa orang seperti dia itu tentu amat terkenal di tempat ini, apa lagi kita pun tahu bahwa dia mempunyai kenalan banyak pembesar-pembesar istana. Kalau engkau sampai mengadu ilmu dengan dia, sudah tentu engkau akan berusaha untuk menang dan sekali engkau menang darinya, apa kau kira kita masih dapat menyimpan rahasia kita? Tentu semua di kota raja akan tahu dan akan sukarlah menyimpan rahasia bahwa kita datang dari Lembah Naga, apa lagi kalau sampai diketahui bahwa engkau she Ceng…”

“Hemmm, aku tidak takut!” kata Thian Sin penasaran. She-nya sama dengan she kaisar! Tetapi dia tidak takut ditangkap atau dibunuh seperti yang terjadi pada ayahnya. Dia akan melakukan perlawanan!

“Siapa bilang engkau takut adikku? Akan tetapi kita harus dapat bersikap cerdik dan tidak sembarangan menuruti nafsu. Apa sih perlunya mencoba orang seperti dia itu? Ingat, kita pergi merantau ini untuk meluaskan pengetahuan, dan bukan untuk memancing terjadinya keributan. Kukira engkau tidak akan suka untuk membikin pusing dan susah kepadaku, bukan?”

Ditanya demikian, Thian Sin memegang lengan kakaknya “Ah, tentu saja tidak, Tiong-ko. Apa kau sangka aku sudah gila ingin menyusahkanmu? Maafkan aku, biarlah kucabut lagi keinginanku untuk mencoba kepandaian Siangkoan Wi Hong kalau memang engkau tidak menyetujuinya. Aku hanya akan melakukan sesuatu dengan persetujuanmu, Tiong-ko dan kau tentu tahu akan hal ini.”

Demikianlah, dengan hati lega melihat adiknya yang telah ‘tenang’ kembali itu, Han Tiong lalu mengajak adiknya tidur. Namun baru saja mereka akan pulas, mendadak pintu kamar mereka diketuk orang! Sebagai ahli silat tingkat tinggi, sedikit suara itu sudah cukup untuk membuat mereka sadar benar dan berloncatan turun dari tempat tidur.

Dengan amat hati-hati Han Tiong membuka pintu kamar dan dua orang pria dengan tubuh sempoyongan memasuki kamar sambil tertawa-tawa. Ketika melihat Han Tiong dan Thian Sin, dua orang itu lalu saling pandang.

“Eh, kenapa begini? Mana dua orang nona manis itu? Heh-heh, sobat-sobat, lekas keluar, kalian telah menempati kamar kami, dan ke mana perempuan-perempuan manis itu kalian sembunyikan?”

“Hayo keluar!” kata orang ke dua kemudian mereka mengambil sikap mengancam hendak mengusir Han Tiong dan Thian Sin dengan kekerasan.

“Keparat pemabukan!” Thian Sin membentak dan sudah hendak turun tangan, akan tetapi lengannya dipegang oleh Han Tiong.

“Mereka ini sedang mabuk, perlu apa dilayani?” katanya kepada adiknya. Kemudian dia melangkah maju menghadapi kedua orang itu. “Saudara-saudara salah masuk, ini adalah kamar kami, harap kalian suka keluar lagi.” Sambil berkata demikian, dengan halus Han Tiong mendorong mereka keluar.

“Apa?! Kau hendak memukul?” seorang di antara mereka membentak dan orang itu telah mengayun tangan memukul ke arah Han Tiong.

Akan tetapi pemuda ini hanya mengelak sedikit dan dia terus mendorong mereka keluar dari kamar tanpa membalas. Setelah keduanya tak dapat bertahan dan terdorong keluar, dia lalu menutupkan lagi pintu kamarnya. Dua orang itu menggedor-gedor dari luar, akan tetapi Han Tiong mendiamkan saja dan dia melarang Thian Sin yang marah-marah ingin menghajar mereka itu. Akhirnya dua orang mabuk itu pergi juga.

“Tiong-ko, engkau terlalu sabar!” Thian Sin mencela. “Orang-orang mabuk kurang ajar itu sepatutnya diberi hajaran biar kapok!”

“Adikku yang baik, bukankah engkau tahu bahwa mereka itu mabuk dan tidak sadar? Kita yang tidak mabuk dan yang sadar sepatutnya kalau mengalah.”

“Tapi tadi mereka memukulmu!”

“Memang, dan itulah kalau orang mabuk. Apa bila aku yang tidak mabuk balas memukul, habis lalu apa bedanya antara dia yang mabuk dan aku yang tidak mabuk? Adikku, bukan berarti bahwa aku sabar, melainkan karena mana mungkin aku marah terhadap orang mabuk?”

Mereka tidur kembali dan malam itu tidak terjadi hal-hal menarik. Pada keesokan harinya, mereka berdua melanjutkan pesiar mereka untuk melihat-lihat kota raja yang amat ramai itu. Mereka pergi ke pasar dan Han Tiong bersama adiknya membeli beberapa macam buah-buahan yang belum pernah mereka makan atau bahkan lihat sebelumnya. Dengan dua tangan membawa keranjang-keranjang berisi macam-macam buah, mereka berjalan kembali ke losmen.

Pada waktu mereka tiba di sebuah mulut gang yang sempit di dekat pasar, tiba-tiba saja seorang pemuda tinggi besar menabrak Han Tiong. Karena tak menyangka-nyangka, biar pun dia dapat mengatur kakinya sehingga tidak sampai jatuh, namun dua buah keranjang terisi buah-buahan itu lantas terbuka keranjangnya sehingga buah-buahan itu berceceran dan menggelinding di atas tanah!

“Heii, di mana matamu?!” bentak pemuda tinggi besar itu.

Dari belakangnya datang lima orang pemuda lain, juga bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar, berlagak bagaikan jagoan-jagoan muda yang banyak terdapat di kota-kota besar. Dengan angkuh mereka lalu menginjak-injak buah-buahan yang berserakan di jalan itu.

“Heiii, itu buah-buah kami…!” Thian Sin membentak marah, tapi Han Tiong mengedipkan matanya kepada adiknya, lantas dia menjura kepada Si Tinggi Besar yang menabraknya tadi.

“Harap kau maafkan saya, sobat. Karena tempat ini sempit dan aku lengah, maka sudah menabrakmu. Sudahlah, kesalahanku sudah ditebus dengan hilangnya semua buah-buah yang kubeli.”

Sejenak Si Tinggi Besar itu menatapnya, kemudian tertawa-tawa, diikuti oleh kelima orang temannya. Mereka mentertawakan Han Tiong, namun anehnya mereka tidak menghalang ketika Han Tiong mengajak adiknya pergi cepat-cepat dari tempat itu, diikuti suara ketawa mereka.

“Ahh, Tiong-ko, sungguh penasaran sekali!” Demikian Thian Sin mengeluh ketika mereka tiba kembali di kamar losmen mereka. Pemuda ini masih merasa marah, mukanya merah dan kadang-kadang dia mengepal tinju tangannya.

“Apa maksudmu Sin-te?”

“Aku merasa malu bukan main harus lari terbirit-birit dari lima orang berandal tadi. Betapa ingin aku menghajar mereka sampai jatuh bangun. Kenapa kita harus bersikap demikian pengecut dan membiarkan mereka menghina kita, Tiong-ko? Apakah perbuatan kita tadi tidak menimbulkan buah tertawaan karena sama sekali bukan selayaknya dilakukan oleh seorang pendekar melainkan lebih patut menjadi sikap pengecut dan penakut?”

Han Tiong tersenyum tenang, memandang wajah adiknya dengan tajam lalu dia berkata, suaranya tenang dan tegas, “Adikku yang baik, engkau pun tahu bahwa justru seorang pendekar adalah orang yang tak mudah marah menurutkan perasaannya saja. Kalau kita menghadapi orang gila, apakah kita juga harus menjadi gila pula?”

“Tapi mereka itu bukan gila, mereka itu orang-orang jahat!” Thian Sin membantah.

“Mereka itu gila, adikku. Kalau mereka itu menggunakan kekerasan, lalu kita menghadapi mereka dengan kekerasan pula, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita? Mereka gila dan kita pun akan menjadi gila pula. Mereka adalah orang-orang gila karena mereka mencari dan memancing keributan tanpa urusan dan sebab, mereka itu orang-orang sakit yaitu batin mereka yang sakit. Sebaliknya, kita yang waras ini, yang mampu menjauhkan diri dan menghindari keributan, mengapa kita harus melayani mereka? Bukankah itu akan menjadi sama gilanya, sama sakitnya, dan sama jahatnya?”

“Tetapi, koko, sungguh penasaran sekali kalau kita, putera-putera dari Pendekar Lembah Naga, harus lari terbirit-birit menghadapi tikus-tikus pasar itu!”

Han Tiong tersenyum lebar dan merangkul pundak adiknya. “Aihh, Sin-te, apakah masih kurang gemblengan yang diberikan oleh Paman Lie Seng dan oleh ayah sendiri kepada kita? Apa bila semua pendekar di dunia sudi melayani pengacau-pengacau kecil seperti mereka tadi, tentu setiap hari akan terjadi keributan dan para pendekar tidak ada waktu lagi untuk menghadapi urusan-urusan besar. Mereka itu hanya orang-orang yang sengaja hendak memancing keributan karena itulah kesenangan mereka. Jika kita mau melayani, berarti kita ini malah membantu pengacauan mereka. Sudahlah, kita anggap saja tadi itu sebagai latihan mental bagimu, adikku.”

Akhirnya Thian Sin mau juga menerima semua alasan kakaknya karena dia pun melihat kebenarannya. Memang sesungguhnyalah, dia sudah digembleng sedemikian rupa oleh ayah angkat atau juga pamannya, sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sungguh tidak sepatutnya kalau kepandaian itu dipergunakan hanya untuk urusan yang sedemikian remehnya. Justru kalau dia terkena pancingan pemuda-pemuda berandalan tadi, hal itu hanya menunjukkan bahwa dia bukanlah sebagai pendekar yang sudah ‘masak’. Maka hatinya pun menjadi dingin dan tenang kembali.

“Adikku, kota raja ini ternyata bukan merupakan tempat yang menyenangkan, dan kiranya penuh dengan orang-orang jahat seperti pernah diceritakan oleh ayah. Betapa jauhnya perbedaan kehidupan di desa dan di kota. Di dusun begitu aman tenteram dan kejahatan manusia tidak begitu menyolok, sebaliknya di kota raja ini suasananya demikian panas, dan hampir tidak pernah aku melihat wajah-wajah yang membayangkan kedamaian hati. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita saja Sin-te. Tidak enak kalau kita terlalu lama berdiam di lempat seperti ini.”

“Terserah kepadamu, Tiong-ko, akan tetapi jangan lupa bahwa kita sudah berjanji untuk singgah di tempat kediaman Siangkoan Wi Hong.”

Han Tiong mengangguk dan mengerutkan alisnya. Di dalam hatinya, dia tidak begitu suka kepada pemuda pesolek yang berhati kejam itu, akan tetapi karena dia memang sudah menerima undangan, dan pula dia pun tahu bahwa adiknya ini diam-diam sangat kagum dan suka kepada orang she Siangkoan itu, maka dia pun berkata,

“Baik, Sin-te. Kita singgah sebentar di rumahnya, kemudian melanjutkan perjalanan kita menuju ke Cin-ling-san.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi kedua orang pemuda itu sudah meninggalkan losmen dan mereka lalu pergi mencari rumah tinggal Siangkoan Wi Hong. Ternyata tidak sukar untuk mencari rumah gedung besar di samping toko itu, karena memang nama Siangkoan Wi Hong telah terkenal di kota raja.

Ternyata sepagi itu Siangkoan Wi Hong telah duduk di serambi depan rumahnya sambil memandang ke jalan, wajahnya berseri dan pakaiannya tetap pesolek dan mewah seperti biasanya. Dan hebatnya, di atas meja di dekatnya nampak alat musik yang-kimnya itu.

Agaknya yang-kimnya ini tak pernah terpisah dari dekatnya, dan memang sesungguhnya demikianlah. Yang-kim ini menjadi senjata yang sangat diandalkan di samping merupakan alat musik yang amat disukainya. Ketika pemuda kaya itu melihat munculnya Han Tiong dan Thian Sin, dia tersenyum dan bangkit menyambut dengan wajah gembira.

“Ah, selamat pagi, selamat pagi! Girang sekali hatiku mendapat kunjungan kalian berdua! Silakan duduk… ehh, tidak, mari kita sarapan pagi di dalam taman saja sambil menikmati bunga-bunga indah.”

Dengan ramahnya Siangkoan Wi Hong lalu mengajak mereka untuk langsung memasuki taman bunga di sebelah kiri gedungnya lantas mengajak mereka duduk di pondok kecil terbuka yang beraneka warna. Memang indah dan segar nyaman sekali hawa di dalam taman itu. Tanpa diperintah lagi, dua orang pelayan wanita yang muda-muda berdatangan membawa minuman.

Siangkoan Wi Hong memesan supaya dibawakan makanan, kemudian ditambahkannya agar dipanggilkan tiga orang nona dari Rumah Bunga Seruni! Thian Sin dan Han Tiong tidak mengerti apa yang dimaksudkan ketika Siangkoan Wi Hong berkata,

“Katakan kepada bibi pemilik Rumah Bunga Seruni agar Kim Hiang bersama dua orang kawannya cepat datang ke sini, sekarang juga!”

Dua orang pemuda Lembah Naga itu sama sekali tidak tahu bahwa Rumah Bunga Seruni adalah sebuah rumah pelacuran tingkat tinggi yang paling terkenal di kota raja, tempat yang hanya dapat dikunjungi oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan-hartawan karena segala sesuatu di tempat itu teramat mahal. Juga mereka tidak menyangka sama sekali bahwa tuan rumah ini telah memesan tiga orang pelacur pilihan untuk melayani mereka!

Han Tiong dan Thian Sin menjadi sungkan serta malu-malu ketika para pelayan datang dan membawa hidangan yang amat banyak dan bermacam-macam. Sungguh luar biasa royalnya tuan rumah, karena hidangan yang dihadapkan mereka itu sama sekali bukan sarapan pagi, melainkan lebih mewah dari pada makan siang atau makan malam!

Dan kedua orang pemuda ini menjadi semakin tersipu malu ketika tidak lama kemudian datang tiga orang gadis cantik jelita yang berpakaian indah dan memakai minyak wangi yang semerbak harum, juga sikap mereka amat lincah dan genit, walau pun harus mereka akui bahwa mereka bertiga itu selain cantik sekali juga tidak kasar, melainkan genit-genit halus seperti dara-dara remaja yang jinak-jinak merpati!

Diam-diam Han Tiong terkejut dan juga terheran-heran kenapa ada tiga orang dara muda seperti ini yang mau datang menemani mereka, hal yang sungguh luar biasa sekali. Akan tetapi alisnya lalu berkerut ketika Siangkoan Wi Hong memperkenalkan mereka sebagai ‘bunga’ pilihan dari Rumah Bunga Seruni!

Biar pun dia sama sekali tidak berpengalaman, namun berkat luasnya bacaan buku-buku yang pernah dibacanya, maka Han Tiong dan juga Thian Sin dapat menduga bahwa tiga orang wanita ini adalah pelacur-pelacur kelas tinggi, seperti juga halnya pelacur yang dulu pernah menemani kongcu ini di rumah makan.

Maka, Han Tiong merasa kikuk dan malu sekali dilayani oleh para pelacur itu, sedangkan Thlan Sin juga nampak ‘alim’, padahal di dalam hatinya dia merasa gembira sekali. Hanya karena sungkan kepada kakaknya sajalah maka dia pura-pura alim!

Melihat betapa kikuk sikap dua orang tamunya menghadapi para pelacur itu, Siangkoan Wi Hong bersikap bijaksana. Dengan mulutnya dia menyuruh mereka mundur dan hanya membiarkan mereka bermain yang-kim, suling dan bernyanyi saja, tak lagi membolehkan mereka mendekati dan melayani dua orang tamunya.

“Siangkoan-loheng, bagaimana jadinya dengan putera Ji-cianbu itu? Apa yang terjadi saat engkau dipanggil oleh Ji-cianbu dari rumah makan itu?” Thian Sin tidak mampu menahan hatinya untuk memancing tuan rumah dengan pertanyaan ini.

Kakaknya menganggap pemuda ini curang, kejam dan juga jahat, akan tetapi dia sendiri merasa tertarik dan menganggap pemuda ini sangat gagah perkasa, selain juga ramah menyenangkan. Maka dia ingin mendengar bagaimana pandangan Siangkoan Wi Hong sendiri tentang urusannya dengan keluarga Ji itu, dan apakah pemuda hartawan itu mau mengakui semua perbuatannya.

Mendengar pertanyaan itu, Siangkoan Wi Hong tertawa gembira dan mengangkat cawan arak lalu minum araknya. Kemudian dia meletakkan cawan kosong di atas meja, tertawa lagi dengan gembira seolah-olah dia tak dapat menahan kegelian hatinya membayangkan kembali peristiwa yang lucu.

“Ha-ha-ha, aku sudah memberi hajaran kepada keluarga Ji yang brengsek itu! Ha-ha-ha, puas benar hatiku. Orang-orang macam ayah dan anak itu sudah sepatutnya kalau diberi hajaran keras. Kalian tahu apa yang sudah kulakukan? Aku telah memeras lima puluh tail emas dari kantong Kapten Ji itu, ha-ha-ha!”

Thian Sin saling pandang dengan kakaknya dan di dalam sinar mata Thian Sin nampak sinar kemenangan, seolah-olah pandang matanya berkata, “Lihat, bukankah dia ini gagah dan jujur?”

“Aku memang sengaja memukul anaknya serta tukang-tukang pukulnya dengan pukulan yang mengancam keselamatan nyawa mereka agar ayahnya datang dan memang benar dugaanku. Maka, aku menyembuhkan anaknya asal ayahnya mau membayar lima puluh tail emas. Ha-ha-ha, ayah dan anak busuk itu memang patut dihajar!”

“Mengapa loheng menganggap mereka busuk?” Thian Sin mendesak sambil memandang kagum.

“Tidakkah busuk mereka itu? Kalian sudah menyaksikan sikap anak Ji-ciangkun itu yang amat sombong dan kasar, dan dia telah biasa bersikap sewenang-wenang kepada rakyat, memaksa wanita dan sebagainya. Ada pun ayahnya… hemm, coba bayangkan, petugas berpangkat kapten seperti dia sanggup membayarku lima puluh tail emas secara tunai! Kalau menurut jumlah gajinya, biar dia bekerja sampai seratus tahun pun dia belum dapat menyimpan lima puluh tail emas! Ayahnya tukang korup besar, pencuri uang negara dan rakyat, anaknya sebagai pemuda yang sewenang-wenang, maka tidakkah pantas apa bila mereka itu dihajar?” Kembali Siangkoan Wi Hong tertawa dan Thian Sin mengerling ke arah kakaknya, kekaguman terbayang pada wajahnya yang tampan.

“Akan tetapi, Saudara Siangkoan berarti main-main dengan nyawa orang. Nyaris saja tiga orang itu terbunuh…,” Han Tiong berkata mencela halus.

Siangkoan Wi Hong memandang kepada Han Tiong dengan alis terangkat, seperti heran mendengar kata-kata ini, akan tetapi kemudian dia tersenyum. “Agaknya saudara Cia Han Tiong tidak mengerti tentang jiwa pendekar! Lagi pula, andai kata tiga orang itu mampus, bukankah itu berarti menyingkirkan mala petaka bagi para penghuni kota raja?”

Han Tiong menunduk dan tak mau membantah lagi, dan tiba-tiba terdengar langkah orang memasuki pondok taman itu dan mucullah sebagai laki-laki muda tinggi besar berpakaian pengawal atau tukang pukul. Dengan sikap gagah orang itu lalu memberi hormat kepada Siangkoan Wi Hong sambil berkata,

“Maaf jika saya mengganggu, kongcu. Akan tetapi di luar terdapat Kang-thouw-kwi (Setan Kepala Baja) yang minta bertemu dengan kongcu.”

“Hemm… Kang-thouw-kwi? Baik, antarkan dia ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dan suruh dia menanti di sana. Aku akan segera datang!” kata Siangkoan Wi Hong.

Akan tetapi pada saat itu Han Tiong dan Thian Sin terkejut melihat pengawal tinggi besar itu, oleh karena mereka berdua mengenalnya sebagai pemuda berandal yang mengepalai gerombolan lima orang yang mengganggu mereka di pasar.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner