PENDEKAR SADIS : JILID-17


Senja itu memang indah bukan kepalang! Han Tiong dan Thian Sin yang kebetulan datang dari arah timur bisa sepenuhnya menikmati keindahan senja itu. Kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan keindahan pada saat itu, keindahan senja tak dapat digambarkan, hanya dapat dirasakan. Seolah-olah terbuka pintu sorga dalam dongeng-dongeng nun jauh di langit barat.

Langit yang pada kakinya seperti terjadi kebakaran, memerah jingga di lereng belakang bukit. Makin tinggi makin muda warna merah itu sampai menjadi warna setengah merah setengah kuning, dengan dilatar belakangi warna kebiruan, biru yang mengandung sedikit kehijauan, maka terjadilah percampuran warna antara merah, kuning dan biru, tiga warna pokok yang dapat membentuk segala macam warna yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Di antara langit yang dicoreng-moreng bermacam warna itu, di antara awan-awan yang menghitam kelabu dan yang membentuk bermacam corak dan bentuk yang melampaui segala yang dapat dikhayalkan otak, nampak sinar-sinar kuning emas dari matahari senja yang sudah mulai bersembunyi di balik puncak Gunung Cin-ling-san.

Makin jauh matahari tenggelam, makin remang-remang cuaca dan keremangan itu seperti mendatangkan suatu keheningan yang baru, keheningan yang ajaib menyelimuti seluruh permukaan bumi. Pohon-pohon mulai menyembunyikan diri, menarik diri dari penonjolan di waktu siang, membuat persiapan untuk tenggelam dalam kegelapan yang segera akan tiba.

Sebatang pohon yang-liu yang tinggi nampak di kejauhan, terpencil sehingga merupakan sesuatu yang hitam menentang keindahan berwarna-warni itu, dengan cabang-cabangnya yang melengkung indah dan halus, seakan-akan menunduk serta menghormati suasana yang hening, sedikit pun tidak bergerak, tidak seperti pada saat-saat lain di mana pohon yang-liu itu merupakan pohon yang paling luwes menari-nari lemah gemulai tertiup angin berdesir.

Beberapa burung yang merupakan kelompok terbang mendatang dari selatan, seolah-olah merupakan seekor makhluk besar yang bergerak sambil mengeluarkan bunyi bercicit-cicit nyaring karena gerakannya yang seirama. Anehnya gerakan terbang dan bunyi bercicit itu sama sekali tidak mengganggu keheningan, bahkan merupakan bagian dari keheningan yang maha mendalam itu, sehingga terdapat perpaduan yang aneh di antara yang hening dan yang bising, yang diam dan bergerak.

Keadaan yang tadinya diam dan hening seperti keadaan mati kini mengandung gairah dan bunyi yang menjadi pertanda hidup sehingga di dalam kematian itu terkandung kehidupan dan di dalam kehidupan itu pun terkandung kematian, keduanya tak terpisahkan lagi.

Dua orang kakak beradik itu juga merupakan bagian dari pada keheningan maha luas itu dan mereka seperti dua titik tenggelam ke dalam suatu keluasan yang membuat mereka tidak ada artinya lagi, yang berarti hanyalah keluasan itu sendiri, keheningan itu sendiri di mana mereka tergulung. Hingga beberapa lamanya mereka berdua terpesona, melangkah tanpa terasa, namun dengan batin yang sadar akan semua itu, dan kebahagiaan yang mukjijat memenuhi rongga dada.

“Ahh, tanpa terasa kini hari telah mulai gelap. Mari kita mempercepat langkah, itu puncak Cin-ling-san sudah kelihatan dari sini, Sin-te,” kata Han Tiong dan kata-kata ini bagaikan menyeret mereka kembali ke dalam alam dunia fana.

“Mari, Tiong-ko,” jawab Thian Sin singkat, hatinya masih penuh pesona.

Baru saja sampai di luar pintu gerbang pagar tembok yang mengelilingi perkampungan Cin-ling-pai, mereka telah disambut oleh para murid Cin-ling-pai yang sedang melakukan penjagaan. Karena kini Han Tiong telah menjadi seorang pemuda dewasa dan ketika dia dulu mengunjungi Cin-ling-pai dia masih kecil, pula karena waktu itu malam telah tiba dan tempat itu hanya diterangi dengan beberapa buah teng yang tergantung di pintu gerbang, maka tidak ada murid Cin-ling-pai yang mengenalnya.

“Berhenti!” bentak murid Cin-ling-pai dan beberapa orang murid langsung mengepung dua orang pemuda itu, “Siapakah kalian dan ada perlu apa malam-malam begini datang ke sini?”

Melihat sikap mereka yang gagah itu, Han Tiong tersenyum. “Agaknya saudara-saudara tak lagi mengenalku. Beberapa tahun yang lalu, kurang lebih delapan tahun yang lalu, aku pernah datang bersama ayah dan ibu untuk berkunjung kepada ketua Cin-ling-pai.”

“Ehhh, siapakah engkau…?” pemimpin para penjaga itu bertanya sambil mencoba untuk mengenal wajah yang nampak tenang dan jujur itu.

“Kami datang dari Lembah Naga!” kata Thian Sin yang sudah tidak sabar lagi.

Kini semua murid Cin-ling-pai terkejut dan makin mendekat untuk melihat wajah mereka. Mereka masih belum dapat mengenali Han Tiong, bahkan sama sekali tidak mengenal wajah Thian Sin yang tampan itu.

“Lembah Naga…?” tanya mereka gagap.

“Ketua Cin-ling-pai Cia Bun Houw adalah kakek kami,” kata Han Tiong.

“Ohhh…! Jadi kongcu ini adalah putera Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong…?”

Han Tiong mengangguk dan para murid Cin-ling-pai itu dengan gembira lalu mengiringkan Han Tiong dan Thian Sin masuk, ada pun beberapa orang anak murid Cin-ling-pai sudah lebih dulu berlari-lari ke dalam untuk memberi kabar gembira itu kepada ketua mereka.

Tidak lama kemudian, nampak Kakek Cia Bun Houw bersama Nenek Yap In Hong keluar menyambut. Cia Bun Houw telah menjadi seorang kakek yang usianya enam puluh tahun, sedangkan Nenek Yap In Hong telah berusia lima puluh delapan tahun. Akan tetapi ketua Cin-ling-pai itu masih tampak sehat dan segar, sedangkan isterinya pun mempunyai tubuh yang langsing dan biar pun rambutnya sudah banyak yang putih, tapi garis-garis mukanya masih jelas membayangkan bekas-bekas kecantikan dan kegagahan.

Biar pun sudah bertahun-tahun dia tidak pernah jumpa dengan kakek dan neneknya itu, dan biar pun mereka sudah menjadi tua, namun Han Tiong masih mengenal mereka dan cepat dia pun maju menghampiri, menjatuhkan diri berlutut di hadapan dua orang tua itu. Thian Sin juga mengikuti perbuatan kakaknya, karena betapa pun juga, kakek yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai ini adalah paman dari ibunya.

Ketika tadi mendengar laporan bahwa ada tamu dua orang pemuda yang mengaku datang dari Lembah Naga dan mengaku bahwa ketua Cin-ling-pai adalah kakeknya, segera Cia Bun Houw dan Yap In Hong bergegas keluar dengan gembira. Mereka sudah menduga bahwa tentu Cia Han Tiong yang datang, hanya mereka agak merasa heran mengapa ada dua orang pemuda. Setahu mereka, Han Tiong tidak mempunyai adik.

Yap In Hong tersenyum memandang kepada Han Tiong. Cucu ini sudah menjadi seorang pemuda yang bersikap gagah dan wajahnya membayangkan kejujuran serta ketenangan, sedangkan sinar matanya tajam penuh wibawa.

“Aihh, engkau tentu Han Tiong! Sudah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang! Bagai mana dengan ayah-bundamu? Mereka baik-baik sajakah?”

“Terima kasih, ayah dan ibu dalam keadaan baik-baik saja dan mereka menitipkan salam hormat kepada kakek dan nenek berdua,” jawab Han Tiong dengan sikap hormat.

“Han Tiong, siapakah pemuda ini?” tanya Cia Bun Houw.

Dia bersama isterinya memandang kepada wajah yang tampan, cahaya mata yang tajam penuh membayangkan kecerdikan dan sikap yang lemah lembut dari pemuda yang juga berlutut di dekat Han Tiong itu.

“Dia ini adalah adik angkat saya, akan tetapi sebenarnya dia pun masih keluarga sendiri, karena dia ini adalah putera tunggal mendiang Bibi Lie Ciauw Si. Namanya adalah Ceng Thian Sin.”

“Ahhh…!” Yap In Hong menahan seruannya.

Cia Bun Houw juga terkejut lantas terbayanglah olehnya akan segala yang dialami oleh keponakannya, Lie Ciauw Si itu. “Dia she Ceng, jadi dia adalah keturunan dari Ceng Han Houw?” Kemudian disambungnya dengan suara lirih, “Dan Lie Ciauw Si telah meninggal dunia?”

Thian Sin cepat memberi hormat. “Benar sekali, Ceng Han Houw dan Lie Ciauw Si adalah mendiang ayah-bunda saya.”

Cia Bun Houw merasa terharu dan dia cepat membangkitkan pemuda ini sedangkan Yap In Hong juga memegang pundak Han Tiong menyuruhnya bangun. “Mari, mari kita bicara di dalam…,” kakek dan nenek itu berkata dengan ramah dan mereka pun lalu memasuki rumah induk Cin-ling-pai yang cukup besar itu.

Setelah mandi dan makan malam, dua orang pemuda Lembah Naga itu baru dipersilakan memasuki ruang duduk di mana telah menunggu kakek dan nenek mereka. Tadinya Han Tiong mengira bahwa tentu dia akan bertemu dengan Cia Kong Liang, pamannya yang sebaya dengan dia hanya tiga tahun lebih tua, akan tetapi ketika dia tidak melihat adanya pemuda yang telah dikenalnya itu di ruangan duduk, dia yang bersama Thian Sin sudah disuruh duduk, segera bertanya,

“Kongkong, di manakah adanya Paman Cia Kong Liang? Mengapa sejak tadi saya tidak melihatnya?”

“Ahhh, pamanmu? Dia baru kemarin berangkat pergi ke Bwee-hoa-san untuk menengok bibinya, yaitu Enci Cia Giok Keng yang kabarnya sakit,” jawab Cia Bun Houw.

Mendengar disebutnya nama Cia Giok Keng ini, Thian Sin mengerutkan alisnya kemudian sambil memandang pada kakaknya dia berkata, suaranya lirih dan mengandung getaran haru.

“Bukankah… beliau itu… nenekku, ibu mendiang ibuku? Ah, Tiong-ko, betapa ingin hatiku untuk berjumpa dengan nenekku itu… sudah begitu sering aku mendengar tentang beliau dari ibu…”

Dia berhenti berbicara karena teringat bahwa dia berada di depan ketua Cin-ling-pai dan isterinya, dan betapa kekanak-kanakan sikapnya tadi.

Akan tetapi Cia Bun Houw mengelus jenggotnya, diam-diam merasa terharu juga teringat akan riwayat kehidupan pemuda yang amat tampan ini. “Sungguh baik sekali bila engkau mempunyai keinginan itu di hatimu, Thian Sin. Memang sudah sepatutnyalah jika engkau pergi mengunjungi nenekmu. Beliau sudah tua dan kunjunganmu sebagai wakil mendiang ibumu tentu akan menggirangkan hatinya.”

Kedatangan dua orang pemuda itu sungguh merupakan hal yang sangat membahagiakan hati Cia Bun Houw beserta isterinya sehingga hampir semalam suntuk mereka berempat bercakap-cakap dalam ruangan itu, di mana kakek dan nenek itu minta kepada Thian Sin untuk menceritakan segala hal yang telah terjadi dan menimpa keluarga Ceng Han Houw yang menyedihkan itu.

Cia Bun Houw dan isterinya hanya dapat saling pandang sambil kadang-kadang menarik napas panjang ketika mendengar betapa Pangeran Ceng Han Houw tewas dalam sebuah pengeroyokan dan betapa isterinya Lie Ciauw Si, dengan gagah perkasa sudah membela suaminya sampai tetes darah terakhir.

“Ibumu adalah seorang isteri yang hebat!” demikian komentar kakek dan nenek itu kepada Thian Sin setelah mereka mendengar penuturannya. Mereka sama sekali tidak memberi komentar apa-apa mengenai diri Pangeran Ceng Han Houw.

Dan Thian Sin bukan seorang bodoh. Dia amat cerdik dan dia pun sudah tahu apa yang terkandung dalam hati kakek dan nenek itu setelah mendengar ceritanya. Dia tahu bahwa di dalam pandangan mereka, di dalam pandangan semua keluarga Cin-ling-pai, ayahnya hanya seorang laki-laki yang berambisi besar dan tidak segan-segan untuk memberontak, sehingga kematian ayahnya merupakan kematian seorang pemberontak yang telah wajar menerima hukuman, sebaliknya kematian ibunya adalah kematian seorang wanita gagah perkasa yang setia dan mencinta suaminya!

Mendengar betapa neneknya, Cia Giok Keng, yang hidup berdua dengan suaminya, yaitu pendekar Yap Kun Liong di puncak Bwee-hoa-san kini sudah berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun itu, Thian Sin merasa khawatir kalau-kalau dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan neneknya yang sudah tua itu. Maka kemudian diambil keputusan bahwa dua orang pemuda itu pada besok pagi-pagi akan berangkat ke Bwee-hoa-san menyusul Cia Kong Liang yang telah menuju ke pegunungan itu pada hari kemarin…..

********************

Sebaiknya kita mengikuti dulu perjalanan Cia Kong Liang. Seperti kita ketahui, suami isteri pendekar ketua Cin-ling-pai itu hanya mempunyai seorang putera, yaitu Cia Kong Liang. Ada pun Cia Sin Liong, Pendekar Lembah Naga, adalah putera dari ketua Cin-ling-pai itu dari seorang wanita yang lain.

Sebagai putera tunggal, tentu saja semenjak kecil Cia Kong Liang digembleng oleh ayah bundanya yang berilmu tinggi dengan bermacam ilmu silat. Dari ayahnya, dia digembleng dengan ilmu-ilmu khas dari Cin-ling-pai seperti Thai-kek Sin-kun, San-in Kun-hoat dan lain sebagainya, dan dari ayah bundanya itu dia juga menerima ilmu Thian-te Sin-ciang yang hebat, karena merupakan gabungan dari Thian-te Sin-ciang kedua orang tuanya, bahkan ibunya juga mengajarkan penggunaan Siang-tok-swa (Pasir Harum Beracun).

Akan tetapi, sesuai dengan watak seorang pendekar, pemuda ini tidak mau menggunakan pasir beracun, akan tetapi kepandaian itu bisa dilakukan dengan segala macam pasir atau tanah. Pendek kata, segala macam tanah kalau sudah berada di tangan pemuda ini dan digunakannya sebagai senjata rahasia, maka merupakan serangan yang amat berbahaya bagi lawan.

Cia Kong Liang bertubuh tegap dan gagah sekali. Pakaiannya tidak mewah, akan tetapi juga tak terlalu sederhana dan selalu rapi. Sinar matanya yang tajam pada wajahnya yang tampan gagah itu mengandung keangkuhan, seolah-olah dia memandang rendah kepada orang lain, memandang orang lain dari tempat ketinggian!

Memang sesungguhnyalah bahwa pemuda Cin-ling-pai ini memiliki watak yang agak tinggi hati. Dia tidak sombong, tetapi agak memandang rendah kepada orang lain. Dia berwatak pendekar, dan merasa dirinya seorang pendekar perkasa, putera ketua Cin-ling-pai yang terkenal dan disegani, karena itu tidaklah mengherankan kalau ketinggian hati menyentuh batin pemuda yang perkasa dan masih belum masak ini, sungguh pun usianya sudah dua puluh dua tahun.

Kong Liang melakukan perjalanan seenaknya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang perjalanannya. Dia sedang mewakili ayah bundanya untuk dua urusan. Pertama adalah menengok pasangan suami isteri pendekar Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng, kakek dan nenek yang menjadi kakak dari ayah dan ibunya itu, dan kedua kalinya dia harus mewakili ayah bundanya, bahkan mewakili Cin-ling-pai untuk hadir dalam pesta ulang tahun dari datuk persilatan dari pantai timur, yaitu Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur) yang juga mengirim undangan kepada ketua Cin-ling-pai.

Masih banyak waktu, pikirnya, karena hari ulang tahun itu masih lebih dari satu bulan lagi. Karena perjalanan yang dilakukan seenaknya itu, maka dua hari kemudian barulah Kong Liang tiba di Bwee-hoa-san. Hati pemuda ini lega melihat betapa paman dan bibi tuanya itu dalam keadaan selamat, walau pun memang benar bibi tuanya nampak lesu dan tidak bersemangat.

Yap Kun Liong yang dahulu amat terkenal sebagai seorang pendekar yang berilmu tinggi, kini telah menjadi seorang kakek yang usianya telah tujuh puluh enam tahun. Rambutnya sudah hampir putih semua, akan tetapi tubuhnya yang tinggi agak kurus itu masih dapat berdiri tegak dan gerak-geriknya masih sigap dan ringan. Demikian pula, Cia Giok Keng, puteri pendiri Cin-ling-pai itu pun masih nampak sigap, akan tetapi pada saat itu wajahnya agak pucat dan nampak tidak bersemangat, lesu bagaikan orang yang tidak sehat.

Yap Kun Liong dan isterinya merasa girang sekali melihat kedatangan keponakan mereka itu dan setelah Kong Liang menceritakan tentang keadaan orang tua mereka yang berada dalam keadaan selamat dan sehat, Yap Kun Liong lalu berkata, sikapnya sangat tenang akan tetapi alisnya berkerut,

“Kong Liang, tentu saja kami merasa sangat gembira melihat engkau datang berkunjung dan menjenguk kami dua orang tua yang kesepian ini. Akan tetapi, selain kegembiraan kami, juga hati kami merasa risau karena engkau datang sebelum urusan kami selesai. Kami harap saja engkau tidak akan terlibat dalam urusan kami ini.”

Pemuda itu menatap wajah paman dan bibinya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Memang sejak tadi dia dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang merisaukan hati mereka terutama sekali hati bibinya.

“Paman, urusan apakah yang membuat risau hati paman dan bibi berdua?” Dia merasa heran bagaimana ada urusan yang dapat merisaukan hati paman dan bibinya yang gagah perkasa ini, apa lagi dalam usia setinggi itu dan berada di tempat yang demikian sunyi. Seharusnya tak mungkin lagi mereka itu menemui urusan-urusan yang bisa menimbulkan kesukaran.

Yap Kun Liong menarik napas panjang. “Karena bibimu sedang kurang sehat, ditambah dengan munculnya urusan ini, sungguh menimbulkan ketidak tenteraman juga.”

“Kong Liang, setua ini kami masih diancam oleh orang-orang jahat. Aku telah siap untuk menghadapi mereka dengan kekerasan, akan tetapi pamanmu ini sudah menjadi lemah, dia tidak setuju sehingga timbullah pertentangan di antara kami,” tiba-tiba Cia Giok Keng berkata sambil melirik ke arah suaminya.

Kong Liang telah mendengar bahwa bibinya ini mempunyai watak yang keras pada waktu mudanya, dan agaknya, biar pun sekarang sudah tua, tapi kekerasan dalam menghadapi musuh itu masih nampak, berbeda dengan pamannya yang agaknya telah menjadi orang yang tidak bersemangat untuk menghadapi kekerasan.

“Paman dan bibi, apakah yang sudah terjadi? Siapakah musuh yang berani mengancam ji-wi (anda berdua)?”

Yap Kun Liong memandang kepada isterinya, kemudian menoleh ke arah keponakannya lantas berkata, “Kong Liang, urusan ini tidak ada sangkut-pautnya denganmu, akan tetapi oleh karena engkau sudah dewasa dan kebetulan engkau berada di sini, biarlah engkau ketahui semuanya. Nah, dua hari yang lalu kami menerima surat ini, kau bacalah sendiri.”

Cia Kong Liang menerima gulungan surat itu, segera membukanya dengan sikap tenang, sikap yang mengagumkan paman serta bibinya yang mengamati semua gerak-geriknya. Kemudian dibacanya surat itu, dengan alisnya yang tebal itu berkerut, sepasang matanya bersinar-sinar saat dia membaca surat itu, dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa-apa akan tetapi pandang matanya berkilat mengejutkan ketika dia menatap wajah paman dan bibinya berganti-ganti. Kemudian, untuk meyakinkan hatinya, dia lantas membaca sekali lagi.

Pada hari ke tiga setelah surat ini dibaca sebelum matahari terbit, Yap Kun Liong beserta Cia Giok Keng akan mati berikut semua makhluk bernyawa yang berada pada kalian, sebagai pembayar hutang!

Tertanda,
KETURUNAN PADANG BANGKAI.


“Paman dan bibi, apa artinya surat ini? Siapa pengirimnya dan mengapa dia mengirimkan surat seperti ini?” Akhirnya Kong Liang bertanya, suaranya tetap tenang akan tetapi pada pandang matanya terkandung kemarahan terhadap si penulis surat.

Yap Kun Liong menghela napas. “Siancai (damai)… sungguh tak kusangka bahwa setua ini kami masih saja dicari musuh dan dimusuhi oleh orang. Kami sendiri tidak tahu siapa penulis surat ini, akan tetapi melihat yang menandainya, kiranya mudahlah diduga bahwa mereka ini tentu keturunan atau segolongan dengan Ang-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Merah) dan isterinya, Coa-tok Sian-li (Bidadari Racun Ular), suami isteri yang dulu pernah menjadi majikan dari Padang Bangkai di dekat Lembah Naga. Kurang lebih empat puluh tahun yang lalu, dalam suatu pertandingan pada waktu kami membantu pemerintah untuk menghadapi pemberontak, yaitu pasukan liar Sabutai, kami sudah menewaskan mereka, aku merobohkan Ang-bin Ciu-kwi ada pun bibimu itu menewaskan isterinya, yaitu Coa-tok Sian-li. Kami sama sekali tidak menyangka bahwa urusan empai puluh tahun yang lalu itu akan berekor sampai sekarang. Ah, usia setua ini, sudah mendekati akhir usia, masih saja dimusuhi orang.” Kembali kakek itu menarik napas panjang.

“Aku tidak takut!” tiba-tiba Nenek Cia Giok Keng berkata. “Biar pun sudah tua begini, aku tidak akan undur selangkah pun dalam menghadapi musuh!”

“Aihh… sudahlah, engkau sedang tidak sehat, mengapa harus menuruti perasaan marah? Kemarahan amatlah tidak baik bagi orang-orang tua seperti kita,” suaminya menghibur.

“Paman dan bibi harap jangan khawatir. Serahkan saja urusan ini kepada saya. Tiga hari berarti besok pagi kalau surat ini sudah dua hari paman terima. Bila mana musuh datang, biarlah saya yang akan menghadapi mereka!” kata Kong Liang dengan sikap gagah.

“Engkau tidak perlu ikut campur, anakku.”

“Tapi, paman. Bukankah mereka itu mengaku keturunan dari Padang Bangkai? Dan kalau sekarang yang menghadapi adalah saya, sebagai keturunan paman pula, bukankah hal itu sudah adil dan selayaknya? Dahulu, penghuni Padang Bangkai lawan paman dan bibi, sekarang keturunan mereka biarlah saya yang menghadapinya.”

Yap Kun Liong menarik napas panjang. “Kong Liang, menurut kata hati bibimu, kita harus melawan dan bibimu memang benar, biar pun kami berdua sudah tua, akan tetapi karena selama ini kami hidup dalam sehat maka kiranya kami masih dapat melidungi diri sendiri. Akan tetapi, sampai sekarang aku masih merasa menyesal kalau kuingat betapa dahulu aku menanam banyak sekali benih-benih permusuhan sehingga sampai di hari tua masih saja dimusuhi orang.”

“Tetapi itu sudah kewajiban paman dan bibi sebagai pendekar-pendekar! Kita harus selalu menentang kejahatan!”

Yap Kun Liong menggeleng kepalanya. “Semenjak ribuan tahun kita dibuai oleh khayalan seorang pendekar, anakku. Akan tetapi, bagaimana hasilnya? Dulu sudah banyak sekali orang-orang yang kita anggap jahat itu kita basmi, kita bunuh, akan tetapi kejahatan tetap saja merajalela sampai sekarang! Kita bisa membunuh orangnya dengan kekerasan, akan tetapi kejahatan tidak mungkin dapat terbasmi oleh kekerasan.”

“Tapi, kebenaran hanya dapat ditegakkan melalui kekerasan!”

“Memang demikian pendapat kalangan pendekar pada umumnya. Akan tetapi begitukah sebenarnya? Apakah semua kekerasan yang dilakukan untuk membasmi kejahatan dapat berhasil? Kurasa tak mungkin! Kejahatan adalah kekerasan, maka membasminya dengan kekerasan hanyalah berarti melakukan kejahatan dalam bentuk lain. Bayangkan saja. Kita menganggap seorang pembunuh itu jahat lantas kita menentangnya dan membunuhnya! Berarti kita pun menjadi pembunuh yang tidak ada bedanya dengan pembunuh yang kita bunuh!”

“Tapi, paman!” Kong Liang membantah. “Walau pun keduanya itu sama membunuhnya, akan tetapi alasannya sungguh berbeda! Penjahat membunuh karena dia hendak berbuat jahat demi keuntungan dirinya sendiri, namun seorang pendekar membunuh justru untuk menolong orang lain terbebas dari pada kejahatan selanjutnya!”

Yap Kun Liong tersenyum. “Memang demikianlah anggapan setiap orang pendekar. Dulu pun kami berdua beranggapan demikian, bahkan bibimu ini masih sulit melihat kejahatan walau pun anggapan seperti itu tidak benar. Apa pun alasannya, melakukan kekerasan, melakukan pembunuhan, sudah pasti mengandung kebencian dan juga pembunuhan. Dan setiap kebencian itu sudah pasti mendatangkan pertentangan dan permusuhan yang tiada hentinya. Tidak mungkin memadamkan api dengan api lain. Tidak mungkin melenyapkan kekerasan dengan kekerasan pula.”

“Saya masih tetap belum mengerti, paman. Bukankah dengan tindakan kita yang selalu menentang kaum penjahat, berarti kita berusaha untuk membuat dunia ini tenteram dan melenyapkan semua bentuk kejahatan agar supaya rakyat bisa hidup dengan tenang dan makmur?”

“Kejahatan memang dapat ditundukkan dengan kekerasaan, akan tetapi penundukan itu hanya bersifat sementara karena yang tunduk oleh paksaan hanyalah orang-orang yang menyimpan dendam dan sakit hati. Buktinya, kami dulu berhasil menundukkan majikan-majikan Padang Bangkai yang dianggap jahat, bahkan berhasil membunuh mereka. Akan tetapi apakah hal itu berarti kami berhasil menghentikan kejahatan? Bahkan yang jelas, keturunan mereka mendendam kepada kami dan sekarang buktinya mereka itu, agaknya setelah merasa kuat, lalu datang hendak menuntut balas. Kekerasan selalu menghasilkan kekerasan lainnya! Kebencian lain. Perdamaian tak mungkin diciptakan oleh peperangan! Kalau toh dapat, itu hanya karena satu fihak kalah dan terpaksa tunduk, namun dendam sudah bernyala di dalam hati yang kalah dan setiap ada kesempatan, tentu mereka akan menuntut balas. Damai semacam itu hanya untuk sementara saja.”

Baru sekarang ini Cia Kong Liang mendengar hal seperti itu, maka dia merasa bingung sekali sehingga akhirnya dia bertanya. “Habis, kalau begitu, apakah semua orang jahat itu harus didiamkan saja dan kita kaum pendekar tidak harus menentang mereka? Lalu kalau begitu, dengan apakah kejahatan dapat dihilangkan dari dunia ini, paman?”

Yap Kun Liong tersenyum. “Jangan bertanya kepadaku, aku sendiri juga tidak tahu, Kong Liang. Agaknya hanya penyadaran lewat batin, agaknya hanya cinta kasih saja yang akan dapat melenyapkan kejahatan. Yang jelas, jika menggunakan pedang, melalui darah dan pembunuhan, rasanya tidak mungkin kejahatan akan lenyap dari permukaan bumi ini.”

Kong Liang tidak berani membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya dia merasa tidak setuju sama sekali. “Habis, apakah yang harus kita lakukan pada besok pagi-pagi apa bila mereka itu datang dan hendak membunuh paman serta bibi berdua?” Akhirnya dia pun bertanya dengan suara mengandung kekhawatiran.

“Engkau jangan sembarangan turun tangan, Kong Liang. Biarlah aku seorang menghadapi mereka. Aku ingin mendamaikan urusan ini. Akan kuhadapi dengan kelembutan supaya mereka itu sadar dan tidak melanjutkan dendam permusuhan yang tiada gunanya ini.”

“Hemmm, kaum sesat yang jahat itu mana mau tahu tentang damai? Bagaimana kalau mereka itu berkeras dan hendak membunuh kita? Apakah kita akan diam saja?” Cia Giok Keng bertanya penasaran.

“Tenanglah, biarlah aku menghadapi mereka. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti. Aku tidak percaya bahwa mereka tidak akan mau mendengarkan kata-kata yang baik.”

Karena Kun Liong berkeras dengan kehendaknya untuk menghadapi fihak musuh dengan jalan damai, akhirnya isterinya pun tidak mau membantah dan mereka lalu membicarakan hal yang mengenai keadaan fihak kedua keluarga dan bercakap-cakap dengan gembira. Kesehatan Cia Giok Keng agaknya pulih kembali dengan kedatangan keponakannya itu.

Memang sesungguhnyalah, dia merasa girang sekali dengan kedatangan Cia Kong Liang, bukan hanya girang karena memperoleh kunjungan keponakannya yang disayangnya itu, akan tetapi juga diam-diam hatinya lega karena dia maklum bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang sakti dan telah mewarisi kepandaian adiknya yang menjadi ketua Cin-ling-pai, maka tentu saja dia dapat mengandalkan bantuan Kong Liang kalau musuh yang datang itu terlalu kuat. Memang dia sangat percaya akan kesaktian suaminya, Yap Kun Liong, akan tetapi suaminya, juga dia sendiri, sudah amat tua dan sudah belasan tahun lebih tidak pernah berkelahi.

Malam itu Yap Kun Liong bisa tidur dengan nyenyak. Pendekar tua ini seolah-olah sudah melupakan ancaman dalam surat itu. Akan tetapi tidak demikian dengan Cia Giok Keng. Nenek ini sukar sekali pulas karena perasaannya selalu membayangkan datangnya para musuh yang tentu amat tangguh itu. Fihak musuh tentu bukanlah orang-orang tolol yang hendak mengantar nyawa. Apa bila mereka sudah berani datang secara itu, yaitu dengan mengirim peringatan dahulu, tentu mereka itu sudah merasa yakin akan kekuatan mereka sendiri.

Nenek ini tidak tahu bahwa keponakannya, Cia Kong Liang, pada malam itu beberapa kali bangun kemudian keluar dari kamar untuk meronda, memeriksa di sekeliling pondok sunyi itu. Kemudian, sesudah lewat tengah malam, Kong Liang tidak tidur lagi melainkan duduk bersila untuk berjaga-jaga.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, puncak Bwee-hoa-san diselimuti kabut. Pondok kecil tempat tinggal suami isteri tua itu juga terbungkus oleh kabut. Hawa amat dingin dan suasana demikian sunyinya. Bahkan burung-burung agaknya malas untuk meninggalkan pohon karena kabut demikian tebalnya. Matahari juga masih jauh tenggelam di balik bukit di sebelah timur, akan tetapi cahayanya telah mulai mengusir kegelapan malam sehingga kabut mulai nampak keputihan bergerak perlahan seperti sekumpulan domba malas yang digiring meninggalkan puncak.

“Kukuruyuuuuukkk…!”

Mendadak keruyuk jago di dalam kandang di belakang pondok itu terdengar nyaring dan merdu. Keruyuk perlama yang bergema di seluruh permukaan puncak. Keruyuk pertama ini segera disambut oleh keruyuk ayam hutan yang pendek-pendek suaranya, akan tetapi yang nyaringnya melebihi suara ayam jago peliharaan penghuni pondok itu.

Dan nun jauh di bawah puncak, terdengar keruyuk ayam yang lain lagi. Mulailah keruyuk ayam bersahut-sahutan, sebagai tanda bahwa sang malam telah mulai mengundurkan diri untuk memberi tempat kepada matahari.

“Kukuru… kokkk!” Keruyuk itu terhenti di tengah-tengah.

Cia Kong Liang membuka mata. Dia masih duduk bersemedhi. Dia tadi dapat mendengar dengan jelas suara keruyuk yang terputus di tengah-tengah, mengerti bahwa hal itu tidak wajar. Ada sesuatu yang membuat ayam jantan itu menghentikan keruyuknya. Sesuatu yang tidak wajar dan mencurigakan sekali.

Tiba-tiba saja terdengar gonggong anjing peliharaan pamannya, anjing kecil berbulu tebal. Akan tetapi, mendadak gonggong itu pun terhenti.

“Kokk…!” tiba-tiba terdengar bunyi lantas suasana menjadi sunyi bukan main. Sunyi yang menyeramkan dan menegangkan, karena terhentinya bunyi keruyuk ayam jago dan anjing itu sungguh tidak wajar dan menjadi tanda bahwa pasti telah terjadi sesuatu yang sangat menyeramkan.

Dengan hati-hati sekali Cia Kong Liang segera turun dari atas pembaringan, menyambar pedang Hong-cu-kiam dan memakai pedang pemberian ayahnya itu sebagai sabuk pada pinggangnya, kemudian memakai sepatunya lantas dengan hati-hati sekali dia membuka daun jendela. Dia tak berani lancang meloncat keluar, melainkan dengan hati-hati dia naik ke ambang jendela, kemudian keluar sambil berjingkat-jingkat menuju ke belakang melalui samping rumah, lalu bersembunyi di balik tiang di samping pondok.

Cuaca masih remang-remang, akan tetapi dia dapat melihat bahwa ada beberapa buah benda hitam berserakan di pelataran belakang. Pada saat dia memandang dengan penuh perhatian, jantungnya berdebar tegang. Tidak salah lagi, benda-benda itu adalah bangkai beberapa ekor ayam dan seekor anjing!

Dia mengepal tinju. Musuh-musuh pamannya sudah datang, dan sesuai dengan isi surat, telah mulai melakukan pembunuhan-pembunuhan. Mula-mula mereka membunuh semua ayam-ayam di dalam kandang, kemudian membunuh anjing yang agaknya bisa mencium kedatangan mereka tadi.

Kong Liang merasa betapa jantungnya berdebar dan hatinya panas bukan main. Sungguh kurang ajar musuh-musuh yang datang ini, pikirnya. Dia sudah ingin meloncat keluar dan menantang musuh-musuh itu ketika tiba-tiba dia melihat berkelebatnya orang dan kiranya pamannya, Yap Kun Liong, telah berada di situ, berdiri di tengah-tengah pekarangan itu dengan tegak.

“Yap Kun Liong telah berada di sini, yang mempunyai urusan dengan aku silakan datang!” terdengar pendekar tua itu berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

“Bagus sekali, orang she Yap sudah siap menerima kematiannya!” terdengar suara wanita yang amat nyaring, kemudian berturut-turut dari tiga penjuru nampak bayangan-bayangan berkelebatan cepat dan tahu-tahu di situ telah muncul empat orang!

Orang pertama yang muncul adalah seorang dara yang usianya masih muda, tidak lebih dari sembilan belas tahun. Pakaiannya terbuat dari sutera yang halus tetapi potongannya ringkas sehingga mencetak tubuhnya yang langsing dan padat. Rambutnya digelung dan terhias dengan hiasan emas permata, di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagang dan sarungnya diukur indah, dihias ronce-ronce warna kuning, kedua lengannya memakai gelang emas.

Seorang dara yang manis sekali dan dia pun sama sekali tak nampak seperti orang jahat karena selain manis dia pun berwajah ramah penuh senyum, sungguh pun pada saat itu dia memandang pada kakek Yap Kun Liong dengan sinar mata mengandung kemarahan dan kebencian.

Sedangkan tiga orang lainnya adalah laki-laki yang berusia kurang lebih lima puluh tahun, ketiganya mengenakan pakaian serba putih seperti orang berkabung dan wajah mereka memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup menghadapi kesulitan dan kekerasan.

Yang termuda di antara mereka mempunyai tahi lalat besar pada tepi hidungnya, seorang lagi berjenggot panjang sampai ke dada, ada pun yang tertua kehilangan sebelah telinga kirinya. Tiga orang kakek ini pun masing-masing mempunyai sebatang pedang tergantung di punggung mereka.

Kalau dara itu hanya tersenyum sambil memandang tajam, tiga orang kakek itu tertawa girang dan orang tertua yang telinga kirinya lenyap itu berkata, “Setelah Yap Kun Liong muncul, mana wanita bernama Cia Giok Keng itu? Suruh dia keluar sekalian menerima kematian!”

Yap Kun Liong sudah memesan kepada isterinya supaya jangan keluar, akan tetapi dia merasa khawatir melihat sikap orang-orang yang datang ini. Kalau mereka mengeluarkan kata-kata kasar, dia tidak berani menentukan bahwa isterinya akan dapat bersabar untuk tidak keluar. Maka cepat dia lalu menjura kepada mereka.

“Sekarang cu-wi berempat sudah datang,” katanya sambil melirik ke arah bangkai anjing dan beberapa ekor ayam itu, “dan kalau aku tidak salah menduga, agaknya cu-wi yang mengirim surat tiga hari yang lalu. Apakah cu-wi masih ada hubungan dengan Padang Bangkai? Bukankah Padang Bangkai telah menjadi wilayah kediaman Pendekar Lembah Naga?” Dia memancing, karena dia tahu bahwa kini yang mendiami Istana Lembah Naga adalah Cia Sin Liong dan Padang Bangkai merupakan bagian dari Lembah Naga.

“Yap Kun Liong, lupakah engkau kepada Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li? Mereka itu adalah kakek dan nenekku, aku So Cian Ling hari ini datang hendak membalas dendam kematian mereka! Suruh Cia Giok Keng keluar untuk menebus kematian nenekku seperti engkau, yang harus menebus kematian kakekku!” dara itu berkata dengan suaranya yang nyaring.

“Dan kami bertiga adalah murid-murid mereka, kami bertigalah yang mewarisi ilmu-ilmu dari suhu Ang-bin Ciu-kwi dan subo Coa-tok Sian-li. Sayang ketika mereka terbunuh, kami baru berusia sepuluh tahun lebih, akan tetapi kami mewarisi ilmu-ilmu mereka dan setelah belajar selama puluhan tahun, hari ini kami datang untuk membalas dendam!” kata kakek yang telinga kirinya buntung.

Yap Kun Liong mengangguk-angguk. “Memang, tidak perlu kusangkal lagi bahwa Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang ketika itu menjadi penghuni Padang Bangkai telah tewas di tangan kami. Akan tetapi tahukah kalian berempat mengapa mereka itu bertentangan dengan kami kemudian tewas dalam pertempuran? Karena mereka berdua itu membantu pemberontak, yaitu Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko, dua orang iblis yang menjadi guru raja liar Sabutai. Antara mereka dan kami tidak ada urusan pribadi, dan pada waktu itu mereka membantu pemberontak dan kami membantu pemerintah. Nah, dengan demikian, kematian mereka itu adalah kematian yang wajar, bukan karena urusan pribadi. Karena itu, perlukah ada dendam sakit hati? Andai kata kami gugur pada saat mengabdi kepada pemerintah, apakah keluarga kami juga harus mendendam dan sakit hati atas kematian kami? Kami rasa tidak. Nah, terutama sekali engkau, nona! Engkau masih begini muda, perlukah engkau hidup menanggung dendam yang tiada artinya itu? Bukankah sebaiknya kalau nona sadar bahwa kakek dan nenek nona itu tewas karena akibat dari perbuatan mereka sendiri dan bahkan bisa dijadikan contoh agar nona sendiri tak sampai melakukan penyelewengan di dalam hidup?”

“Tua bangka she Yap! Tidak perlu kau membujuk-bujuk!” bentak kakek bertelinga satu.

“Hemm, pengecut kau! Saking takut mati engkau hendak membujuk kami?” bentak kakek berjenggot panjang.

Yap Kun Liong tetap tenang, “Kalian tidak mengerti. Orang setua aku ini sudah tidak takut dengan kematian lagi. Tanpa kalian bunuh pun kematian agaknya sudah dekat denganku dan sewaktu-waktu akan datang menjemputku dan aku sudah siap untuk itu. Aku hanya tidak ingin nona muda ini melakukan hal yang akan membuat dia menyesal kelak. Nona So, sekali lagi kuharap engkau suka merenungkan hal ini.”

So Cian Ling, dara muda itu, mengerutkan alisnya dan dia pun meragu. Sesungguhnya dia hanyalah cucu angkat saja dari Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li. Mereka, majikan Padang Bangkai itu, tidak mempunyai anak, hanya pernah memungut anak perempuan yang ketika terjadi keributan yang mengakibatkan mereka tewas itu bisa menyelamatkan diri. Dan akhirnya anak perempuan ini lalu menikah dengan salah seorang anak buah dari See-thian-ong, yaitu yang kini menjadi datuk nomor satu di wilayah barat.

Anak perempuan itu adalah ibu dari So Cian Ling! Dari ibunyalah dia tahu bahwa ibunya itu, anak angkat dari Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang ditewaskan oleh pendekar-pendekar sakti Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng. Tentu saja hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan dalam hatinya. Akan tetapi ibunya sering kali mengingatkannya akan hal itu.

Kebetulan sekali ayahnya adalah seorang anak buah dari See-thian-ong. Lalu pada suatu hari, See-thian-ong melihat dia dan memuji bakatnya, bahkan dia lantas diangkat menjadi murid oleh datuk yang sakti itu sampai dia memperoleh ilmu silat yang tinggi! Akan tetapi, walau pun demikian, dia tidak pernah mempunyai pikiran untuk mencari pembunuh kakek dan nenek angkatnya itu.

Kemudian, muncullah tiga orang kakek itu. Mereka ini adalah pewaris dari kitab-kitab yang berisikan ilmu-ilmu kepandaian dari mendiang Ang-bin Ciu-kwi dan Coa-tok Sian-li yang berhasil dilarikan oleh seorang anak buah Padang Bangkai ketika terjadi keributan. Dan mereka bertiga inilah yang diam-diam merasa sakit hati dan mendendam.

Setelah mempelajari semua ilmu itu, mereka kemudian terkenal dengan julukan See-ouw Sam-ciu-ong (Tiga Raja Arak dari Telaga Barat). Namun pada suatu hari mereka bentrok dengan See-thian-ong dan akhirnya mereka bertiga ditundukkan hingga menakluk!

Di sinilah mereka bertemu dengan ibu So Cian Ling. Dan oleh bujukan-bujukan See-ouw Sam-ciu-ong itulah akhirnya So Cian Ling, dibujuk pula oleh ibunya, pergi dan membantu ketiga orang kakek itu untuk menuntut balas kepada Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng yang tempat tinggalnya sudah diketemukan oleh tiga orang kakek itu. Demikianlah sedikit keadaan So Cian Ling, dara murid See-thian-ong yang amat lihai itu.

“Nona So, apa bila nona memang masih berkeras dan merasa bahwa nona benar untuk menuntut balas, nah, silakan. Aku orang tua Yap Kun Liong tidak takut mati dan dari pada dalam usia setua ini harus menanam permusuhan lagi, biarlah nona membunuhku. Aku tidak akan melakukan perlawanan.”

Mendengar kata-kata ini, dan melihat sikap kakek yang berdiri tegak dengan agung itu, hati So Cian Ling sudah menjadi gentar dan tunduk. Tak mungkin dia dapat turun tangan membunuh seorang kakek yang sikapnya begini agung dan gagah perkasa.

Dia sudah tunduk dan merasa kagum, bahkan mulai merasa malu atas sikapnya dan juga atas perbuatan tiga orang kakek itu membunuhi anjing dan ayam-ayam itu. So Cian Ling ragu-ragu dan bengong, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bahkan dikatakan.

Akan tetapi, kakek ke tiga yang bertahi lalat di dekat hidungnya, agaknya sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. “Tua bangka pengecut!” teriaknya dan dia sudah menerjang ke depan dan memukulkan tangan kanannya yang terkepal ke dada Yap Kun Liong.

Tentu saja, sebagai seorang pendekar yang sudah memiliki tingkat kepandaian ilmu silat yang amat tinggi, secara otomatis tenaga sinkang dari pusar telah menjalar ke arah dada yang akan terpukul. Kakek ini amat lihai, bahkan dialah pewaris pertama dari ilmu mukjijat Thi-khi I-beng dari pendiri Cin-ling-pai sehingga jika dia menghendaki, tentu saja dengan mudahnya dia dapat menangkis, mengelak atau juga menerima pukulan itu tanpa melukai dirinya.

Akan tetapi, kakek ini sudah mengambil keputusan untuk menghindarkan kekerasan dan menghadapi kekerasan lawan dengan kelembutan dan usaha damai, maka dia pun cepat menarik kembali tenaganya dan menerima pukulan itu dengan begitu saja, tanpa disertai tenaga sinkang yang melindungi tubuhnya.

“Bukkk!”

Pukulan itu keras sekali dan karena tubuh tua itu tidak terlindung sinkang, maka tubuh Yap Kun Liong terlempar sampai tiga meter jauhnya lalu terbanting ke atas tanah sampai bergulingan!

Semenjak tadi Cia Kong Liang sudah merasa marah bukan kepalang dan hanya karena hormatnya kepada kakek yang menjadi kakak ibunya itu maka dia bertahan diri dan hanya mengintai saja dengan muka berubah merah mendengar betapa kakek itu dihina orang. Akan tetapi ketika dia melihat paman tuanya itu dipukul sampai tunggang langgang dan dia tahu bahwa pamannya itu sama sekali tidak mau mengerahkan tenaga, dia terkejut bukan main. Pukulan itu bisa mematikan!

Akan tetapi pada saat itu, dua orang kakek, yaitu yang bertahi lalat dan yang berjenggot panjang, kakek ke tiga dan ke dua, sudah berloncatan untuk menyerang Yap Kun Liong yang belum bangkit duduk. Pada saat itu pula nampak berkelebat bayangan dua orang yang tahu-tahu sudah tiba di depan Yap Kun Liong dan dua orang pemuda itu langsung menangkis pukulan dua orang kakek itu.

“Plakk! Plakk!”

Kedua orang kakek itu terkejut ketika merasakan betapa kuatnya lengan yang menangkis serangan mereka terhadap Yap Kun Liong sehingga mereka itu cepat-cepat meloncat ke belakang sambil memandang dengan penuh selidik. Kiranya yang muncul dengan cepat dan tak terduga-duga itu adalah dua orang pemuda yang usianya belum ada dua puluh tahun, yang seorang bertubuh tegap berwajah gagah dengan sepasang mata yang penuh wibawa, sedangkan pemuda yang kedua amat tampan dan juga bersikap gagah.

“Hemm, tidakkah kalian malu, memukul orang tua yang sama sekali tidak mau melawan?” Thian Sin, pemuda yang tampan itu, menudingkan jari telunjuknya ke arah muka kakek bertahi lalat di dekat hidung.

Mereka itu adalah Han Tiong dan Thian Sin. Biar pun mereka itu berangkat belakangan, namun karena mereka berdua melakukan perjalanan cepat, maka pada pagi itu mereka telah dapat menyusul dan tiba di puncak Bwe-hoa-san. Kebetulan sekali mereka sempat melihat munculnya empat orang musuh yang datang untuk membunuh kakek dan nenek itu!

Begitu melihat Yap Kun Liong dipukul, Han Tiong yang sudah pernah berjumpa dengan mereka dan mengenal mereka, cepat meloncat disusul adiknya yang telah dibisiki bahwa kakek itu adalah kakek tirinya, atau ayah tiri ibunya, kemudian mereka cepat menangkis serangan ke dua itu.....

Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner