PENDEKAR SADIS : JILID-20


Memang semenjak tadi dia sudah marah sekali. Pertama-tama, karena sebagai wakil, apa lagi sebagai putera ketua Cin-ling-pai, dia hanya diberi tempat duduk di bawah panggung. Kemudian, percakapan antara fihak tuan rumah dan putera Pak-san-kui itu sungguh telah menyinggung perasaannya, yaitu bahwa mereka yang duduk di bawah panggung hanyalah tamu-tamu kelas rendahan saja!

Hal ini tak mungkin dapat dibiarkannya saja, karena dengan membiarkan hal itu berarti dia mengakui bahwa Cin-ling-pai adalah perkumpulan ‘kelas rendahan’ dan hal ini tentu akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw bila mendengar bahwa putera ketua Cin-ling-pai dihina dalam pesta datuk kaum sesat itu! Betapa pun juga, dia masih menahan sabar, teringat akan pesan ayahnya agar dia tidak sembarangan membikin ribut di luar.

Akan tetapi, dengan majunya Thian Sin, tak mungkin lagi dia dapat mendiamkannya saja. Thian Sin adalah keponakannya, dan dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan keponakan itu. Juga, dia khawatir kalau-kalau Thian Sin akan celaka jika maju bertanding. Semua itu ditambah lagi dengan rasa penasaran ketika mendengar Siangkoan Wi Hong menyebut-nyebut Ilmu Thi-khi I-beng yang dikatakannya dimiliki oleh Thian Sin.

Ia sendiri belum tahu bahwa ilmu mukjijat dari kakeknya, yaitu pendiri Cin-ling-pai itu telah diturunkan kepada Thian Sin, padahal ayahnya sendiri yang kini sedang menjadi ketua Cin-ling-pai juga tidak mewarisi ilmu itu, apa lagi dia! Benarkah ilmu itu telah diwarisi oleh Thian Sin putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kabarnya jahat itu? Dia merasa penasaran, maka dia langsung meloncat ke atas panggung dan menyuruh Thian Sin turun, yang diturut oleh keponakannya itu.

Sekarang dia harus memberi penjelasan akan sikapnya. “Cu-wi yang terhormat,” katanya ditujukan kepada fihak tuan rumah, berikut juga para tamu. “Saya adalah Cia Kong Liang, datang ke sini untuk mewakili ayah saya, yaitu ketua Cin-ling-pai, memenuhi undangan fihak tuan rumah, bersama dua orang keponakan saya, yang seorang di antaranya adalah Ceng Thian Sin tadi. Nah, sebagai wakil Cin-ling-pai, kami mengajukan diri, bukan untuk memamerkan kepandaian, melainkan memperlihatkan bahwa kepandaian seseorang tak dapat diukur dari kekayaan atau nama besar, juga untuk sekedar membantu memeriahkan suasana pesta. Biarlah kami sekalian menjadi wakil dari para tamu kelas rendahan yang duduk di bawah panggung!”

Ucapan Cia Kong Liang ini nadanya keras bukan main, seolah-olah menampar muka tuan rumah sehingga wajah Tung-hai-sian seketika menjadi pucat, kemudian berubah merah. Dia merasa tak enak sekali dan diam-diam menyesalkan para pembantunya yang kurang teliti sehingga pemuda-pemuda wakil dari perkumpulan-perkumpulan besar diberi tempat di bawah, bahkan putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw juga diberi tempat di bawah panggung!

Akan tetapi, diam-diam dia pun gembira melihat bahwa pemuda perkasa deri Cin-ling-pai itu mau melayani puterinya. Dengan demikian, kini makin banyak bermunculan pemuda-pemuda yang baik sehingga memudahkan pemilihannya. Mula-mula Siangkoan Wi Hong, lalu putera pangeran itu yang belum sempat disaksikannya sampai di mana tingkat ilmu silatnya sungguh pun dia sudah girang sekali mendengar dari Siangkoan Wi Hong tadi bahwa putera pangeran itu memiliki ilmu mukjijat Thi-khi I-beng. Selain putera pangeran itu, kini putera ketua Cin-ling-pai!

Dia sendiri pernah mendengar tentang Cin-ling-pai, akan tetapi karena sudah lama sekali Cin-ling-pai tidak pernah menonjolkan diri di dunia kang-ouw, maka kini nama Cin-ling-pai tidak terkenal lagi dan nama besarnya seolah-olah semakin pudar. Maka kini kemunculan putera ketua Cin-ling-pai menarik perhatian para tokoh kang-ouw, terutama sekali kaum tuanya yang dulu pernah mengalami masa jayanya perkumpulan itu.

Sejak tadi Bin Biauw memandang dan memperhatikan Cia Kong Liang dari kepala sampai ke kaki dan dara ini merasa kagum bukan main! Pemuda ini sungguh gagah! Meski pun tidak setampan pemuda putera pangeran tadi, akan tetapi pemuda ini gagah perkasa dan sikapnya demikian penuh wibawa dan matang, kokoh kuat dan penuh keberanian!

Kalau saja ilmu silatnya sehebat sikapnya ini, maka dia merupakan seorang pemuda yang sangat hebat! Maka ingin sekali dia menguji kepandaian pemuda ini, apakah selihai ilmu silat Siangkoan Wi Hong yang agaknya memandang rendah wanita itu? Pemuda ini sama sekali tidak memandangnya dengan sikap merendahkan, bahkan memandangnya dengan sekilas saja, dengan pandang mata sopan!

“Terima kasih bahwa Cia-enghiong suka memberi petunjuk kepadaku yang bodoh ini,” dia berkata sambil tersenyum manis.

Akan tetapi sikap Kong Liang biasa saja, tidak membalas senyum itu, melainkan berkata dengan sikap hormat dan tegas, “Silakan, ilmu pedang nona indah dan lihai, namun saya kira saya akan mampu menjaga diri.”

Bin Biauw gembira sekali dan dia sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat. Kong Liang juga segera melepaskan pedang Hong-cu-kiam yang tadinya melingkari pinggangnya sehingga nampaklah sinar keemasan yang menyilaukan mata.

Melihat ini, Bin Biauw lalu memuji, “Po-kiam (pedang pusaka) yang bagus! Cia-enghiong, bersiaplah dan lihat serangan!” Dia menyebut eng-hiong (pendekar) kepada pemuda yang berwibawa ini, dan di dalam hatinya, dara ini sudah tunduk kepada putera Cin-ling-pai ini!

Bin Biauw sudah menyerang dengan gerakan yang sangat cepat. Akan tetapi Kong Liang tidak pindah dari tempat dia berdiri, bahkan sedikit pun kakinya tidak tergeser. Dia tidak mempedulikan sinar pedang yang bergulung-gulung itu, hanya setiap kali cahaya pedang berkelebat ke arahnya, dia baru menggerakkan Hong-cu-kiam untuk menangkis.

“Cringgg…!”

Tangkisan pertama itu amat mengejutkan hati Bin Biauw karena seluruh tangan kanannya tergetar hebat. Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sinkang yang sangat kuat dan bahwa pedang tipis bersinar emas itu benar-benar merupakan pedang yang ampuh. Maka dia bersikap hati-hati dan menyerang dengan lebih cepat.

Namun, ke mana juga pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan sinar emas yang menangkisnya! Padahal pemuda itu sama sekali tidak menggeser kaki. Bahkan ketika dia menyerang dari belakang, sinar emas itu pun telah menangkis di belakang tubuh pemuda itu.

Berkali-kali terdengar bunyi berdencing nyaring dan nampaklah bunga api yang berpijaran menyilaukan mata ketika semakin lama semakin sering pula pedang Bin Biauw bertemu dengan pedang yang berubah menjadi gulungan sinar emas yang menyilaukan mata itu. Hebatnya, pemuda itu selain tak pernah membalas serangan, juga tubuhnya hampir tidak mengubah kedudukan kakinya, hanya memutar tubuh ke kanan atau kiri dan ke mana pun sinar pedang Bin Biauw datang menyambar, tentu selalu bertemu dengan cahaya emas yang menangkisnya.

Dengan ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, Kong Liang mampu membangun pertahanan yang kokohnya bagaikan benteng baja dan tidak mudah ditembus oleh sinar pedang Bin Biauw. Apa lagi dia memang memiliki sinkang yang kuat sekali, sehingga setiap tangkisan yang disertai tenaga membuat lengan dara itu merasa tergetar hebat sekali. Makin lama serangan Bin Biauw menjadi semakin lemah dan belum lima puluh jurus kemudian, ketika Kong Liang memperkuat tenaganya dan menangkis, maka terdengar bunyi keras sekali.

“Tranggg…!”

Tubuh Bin Biauw terhuyung ke belakang. Dia menghentikan serangannya, dahinya penuh keringat sedangkan wajahnya menjadi merah sekali, mulutnya tersenyum malu-malu dan matanya mengerling tajam melebihi tajam pedangnya, dan dia pun menjura.

“Cia-enghiong sungguh pandai, saya mengaku kalah!”

Setelah berkata demikian, dara itu lalu mundur dan lari menuju ke tempat duduk ayahnya dengan muka merah dan sikap malu-malu! Melihat hal ini, Tung-hai-sian mengerti bahwa selain pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu memang lebih lihai dari pada puterinya, juga agaknya Bin Biauw sudah jatuh hati kepada pemuda itu, maka mau mengalah sebelum dirinya dikalahkan.

Tung-hai-sian pun bangkit berdiri dan di bawah tepuk tangan para tamu yang menyambut kemenangan Cia Kong Liang dengan rasa girang, terutama mereka yang duduk di bawah panggung, karena bagaimana pun juga, tadi Kong Liang mengatakan bahwa dia mewakili para tamu di bawah panggung, dia menghampiri pemuda itu.

“Cia-sicu sungguh memiliki ilmu pedang yang sangat lihai. Itukah yang disohorkan orang sebagai Siang-bhok Kiam-sut?” kata datuk itu sambil tersenyum.

Secara diam-diam Kong Liang terkejut juga. Menurut ayahnya, selama belasan tahun ilmu pedang ini tak pernah dimainkan di depan umum, apa lagi digunakan dalam pertandingan, maka sekarang begitu melihatnya, padahal hanya dipergunakan sebagai pertahanan saja, kakek ini telah mampu menerkanya dengan tepat, menandakan bahwa kakek ini memang memiliki pengetahuan yang luas sekali.

“Pandangan locianpwe sangat tajam dan memang tadi adalah Siang-bhok Kiam-sut dari perkumpulan kami.”

“Bagus, bagus… dan maafkan kami yang telah berlaku kurang teliti sehingga sicu beserta rombongan memperoleh tempat duduk di bawah panggung. Sekarang silakan sicu dengan dua orang keponakan sicu untuk duduk di atas panggung, agar kita dapat bicara dengan enak.”

Kong Liang adalah seorang pemuda yang angkuh, akan tetapi dia bukan orang yang suka disanjung. Jika tadi dia maju untuk memperlihatkan kepandaiannya, hanyalah agar orang jangan memandang rendah pada Cin-ling-pai, bukan berarti dia ingin disanjung dan dipuji.

Andai kata nama Cin-ling-pai tidak disebut-sebut, atau andai kata para tamu yang duduk di bawah panggung tidak dianggap sebagai kelas rendahan, kiranya dia pun akan tetap menahan rasa penasaran dan kemarahannya. Kini, sesudah dia berhasil memperlihatkan kepandaiannya yang tidak usah kalah dibandingkan dengan puteri tuan rumah atau para tamu dari panggung, maka sudah cukuplah baginya.

“Terima kasih, locianpwe. Bagi kami, duduk di bawah panggung pun tidak mengapa asal orang tidak memandang rendah terhadap kami yang duduk di bawah!” jawabnya sambil membalas dengan penghormatan, kemudian dia melompat turun dari atas panggung.

“Cia-sicu, sebelum pulang aku ingin bicara dengan sicu lebih dulu!” Kakek itu berseru dari atas panggung.

“Baik, locianpwe.” jawab Kong Liang yang kembali ke tempat duduknya semula.

Dia disambut oleh Han Tiong dengan senyuman, akan tetapi Thian Sin nampak muram wajahnya. Pemuda ini merasa tidak puas dengan sikap pamannya tadi. Cia Kong Liang terlampau sombong dan mengandalkan dirinya sendiri, seakan-akan dia yang paling lihai! Sikap pamannya itu seolah-olah menganggap dia dan kakaknya masih kanak-kanak saja! Dan caranya mencegah dia bertanding dengan Bin Biauw tadi benar-benar membuat dia kecewa dan mendongkol. Akan tetapi dia pun tidak banyak cakap, hanya menunduk saja.

Setelah para tamu mulai berpamitan, Thian Sin berkata kepada Han Tiong sengaja bicara keras agar terdengar pula oleh Kong Liang, “Tiong-ko, mari kita pulang. Kita harus segera pergi ke Lok-yang, memenuhi pesan ayah mengunjungi Paman Ciu Khai Sun.”

“Engkau benar, adikku. Paman, marilah kita berpamit. Para tamu mulai pulang dan kami berdua masih harus melakukan perjalanan jauh ke Lok-yang.”

Kong Liang bangkit berdiri dan menarik napas panjang. Dia tadi sedang termenung ketika beberapa kali dia memandang ke arah tempat duduk Bin Biauw dan melihat betapa dara itu selalu memandang ke arahnya dan kadang-kadang tersenyum manis.

Tadi, pada saat dia naik ke panggung untuk memperlihatkan kepandaian, sedikit pun tidak mempunyai niat untuk memperhatikan dara itu, dan walau pun seperti para tamu lain dia dapat menduga bahwa majunya Bin Biauw ke atas panggung sebenarnya untuk mencari jodoh, namun sedikit pun juga dia tidak mempunyai niat untuk memasuki sayembara yang tidak diumumkan itu.

Kini, setelah dia dapat menangkan Bin Biauw dan mendengar ucapan serta melihat sikap Tung-hai-sian, diam-diam dia kemudian mengerti bahwa agaknya fihak keluarga itu tertarik kepadanya dan diam-diam dia pun baru merasa bingung karena sesungguhnya dia sama sekali belum mempunyai pikiran untuk mencari jodoh, sungguh pun ayah bundanya sudah sering mengemukakan keinginan mereka untuk mempunya mantu.

Bersama-sama para tamu yang lain mereka bertiga lalu menghampiri panggung di mana Tung-hai-sian menerima para tamu yang berpamit. Ketika melihat Kong Liang dan kedua orang pemuda keponakannya, Bin Biauw bangkit dengan kaget lantas memegang tangan ayahnya. Alisnya berkerut seakan-akan hendak memperlihatkan kekecewaannya melihat pemuda gagah perkasa itu hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tung-hai-sian Bin Mo To juga segera melangkah maju menyambut Kong Liang, Han Tiong dan Thian Sin.

“Locianpwe, kami bertiga hendak mohon diri dan kami menghaturkan terima kasih atas segala penyambutan Locianpwe sekeluarga,” kata Kong Liang sambil memberi hormat, diturut oleh dua orang keponakannya.

“Ehh, Cia-sicu, kenapa tergesa-gesa? Saya ingin bicara dengan sicu… penting sekali…,” kata kakek itu.

Akan tetapi pada saat itu terdapat tamu-tamu lain yang datang berpamit, maka dia tidak dapat berbicara dengan leluasa. Sesudah rombongan tamu itu disambutnya dan terbuka kesempatan, barulah Kong Liang berkata dengan suara sungguh-sungguh,

“Maaf, locianpwe, bukan saya tidak bersedia, hanya karena kami masih ada urusan yang harus segera kami selesaikan, maka terpaksa kami tidak dapat menanti lebih lama lagi. Kami mohon diri.”

“Cia-sicu… kalau begitu, begini saja. Harap sampaikan hormat dan salamku kepada ketua Cin-ling-pai, ayahmu, dan harap sampaikan pula kepada beliau bahwa dalam waktu dekat ini saya akan datang berkunjung kepada beliau di Cin-ling-san, untuk… bicara… eh, untuk mempererat persahabatan antara kita.”

Wajah Kong Liang berubah merah, akan tetapi sikapnya tetap tenang. Dia tahu apa yang dimaksud oleh kakek itu. Tiada lain tentu hendak membicarakan urusan perjodohan. Apa lagi? Antara Cin-ling-pai dengan para datuk kaum sesat tak ada sangkut-paut dan urusan apa-apa.

“Baiklah, tentu nanti akan saya sampaikan, locianpwe. Selamat tinggal, dan… Nona Bin, selamat tinggal dan terima kasih.”

Bin Biauw cepat membalas penghormatan pemuda itu. “Sampai berjumpa kembali, Cia… koko…,” kata dara itu dengan sikap manis sekali.

Sesudah mereka bertiga meninggalkan tempat itu, di tengah perjalanan Thian Sin tidak dapat menahan perasaan hatinya lagi kemudian berkata sambil tersenyum masam. “Ahh, sekali ini Paman Kong Liang telah berhasil.”

Kong Liang memandang kepada putera pangeran itu. “Berhasil? Apa maksudmu?”

“Paman tidak hanya sudah mengalahkan pedang Nona Bin, melainkan juga telah berhasil menundukkan hatinya dan juga menaklukkan ayahnya.”

“Hemm, Thian Sin, coba jelaskan, apa maksud kata-katamu ini!”

“Kenapa paman masih pura-pura lagi? Tung-hai-sian telah menjelaskan sikapnya, hendak datang menemui ketua Cin-ling-pai. Apa lagi kalau tidak hendak membicarakan mengenai urusan pernikahan? Ahh, kionghi (selamat), paman!” Dan Thian Sin benar-benar memberi selamat dengan kedua tangan dirangkapkan di depan dada.

“Gila!” Kong Liang membentak, mukanya berubah merah. “Apa kau sangka begitu mudah menentukan urusan kawin? Yang penting adalah dua orang yang bersangkutan!”

“Wah, sikap Nona Bin sudah jelas. Bukankah tadi dia pun tiba-tiba saja menyebutmu… dengan sebutan koko yang mesra? Dan paman sendiri, ahh, masih pura-pura lagi?”

“Thian Sin, jangan sembarangan bicara kau!” Kong Liang yang merasa malu itu menjadi marah, atau pura-pura marah.

Melihat ini, Han Tiong yang semenjak tadi memperhatikan adiknya, cepat menengahi dan berkata, “Paman, Thian Sin hanya main-main saja. Sin-te, jangan kau goda paman. Mari kita percepat perjalanan kita yang masih jauh.”

Akan tetapi saat mereka baru saja keluar dari kota Ceng-tao dan tiba di kaki pegunungan yang sunyi, mereka melihat beberapa orang berdiri menghadang mereka di tengah jalan sehingga ketiga orang pemuda ini memandang dengan penuh perhatian. Mereka segera mengenal dua orang di antara mereka, yaitu Siangkoan Wi Hong yang tetap memanggul yang-kimnya dan seorang dara cantik manis berpakaian mewah yang bukan lain adalah So Cian Ling murid dari See-thian-ong, dara keturunan penghuni Padang Bangkai yang pernah datang untuk membalas dendam terhadap Kakek Yap Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng itu!

Di samping dua orang muda yang lihai ini nampak tiga orang kakek yang dikenal oleh Han Tiong, yaitu Pak-thian Sam-liong, tiga orang kakek murid-murid Pak-san-kui yang pernah dikalahkan oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu. Juga di samping dara manis itu berdiri Ciang Gu Sik, murid kepala See-thian-ong yang berusia tiga puluh lima tahun itu, yang pernah bertanding melawan Bin Biauw dan amat lihai dengan joan-pian berselaput emas itu.

Melihat betapa keenam orang itu bersikap mengancam, Kong Liang mengerutkan alisnya kemudian berkata kepada dua orang keponakannya dengan bisikan, “Kalian diamlah saja. Mereka itu lihai, biar aku yang menghadapi mereka apa bila terpaksa aku harus melawan mereka. Kalian boleh melihat saja dan siap-siap saja untuk membela diri kalau diserang.”

Thian Sin tersenyum mengejek, akan tetapi Han Tiong mengangguk, lantas menyentuh lengan adiknya yang sudah gatal-gatal tangan hendak menantang musuh itu.

Dengan sikap yang tenang namun berwibawa, ketabahan yang amat besar, Kong Liang cepat mendahului dua orang keponakannya dan mengambil sikap seolah-olah dia hendak melindungi dua orang pemuda keponakannya itu. Dia berjalan terus sampai tiba di depan enam orang yang menghadangnya, lalu berkata dengan sopan namun tegas,

“Harap cu-wi suka minggir dan membiarkan kami lewat.”

Bagaimanakah putera Pak-san-kui dan murid See-thian-ong itu dapat berkumpul menjadi satu kemudian menghadang di tempat itu? Memang, di antara empat orang datuk, yaitu See-thian-ong, Pak-san-kui, Tung-hai-sian dan Lam-sin, maka See-thian-ong datuk dari barat dan Pak-san-kui dari utara sudah lama saling mengadakan hubungan seperti rekan seangkatan atau segolongan, sebab itu tidak mengherankan apa bila Siangkoan Wi Hong sudah lama mengenal So Cian Ling.

Ketika Siangkoan Wi Hong melihat betapa pemuda putera ketua Cin-ling-pai itu mampu mengalahkan sekaligus menundukkan hati Bin Biauw dan bahkan Tung-hai-sian nampak tertarik untuk mengambil mantu pemuda itu, diam-diam Siangkoan Wi Hong merasa tidak senang sekali. Bukan karena dia sendiri ingin memperisteri Bin Biauw, melainkan karena Tung-hai-sian telah dianggapnya sebagai orang satu golongan dengan ayahnya sebagai datuk timur.

Ada pun pemuda itu adalah putera Cin-ling-pai, golongan yang menamakan dirinya ‘kaum pendekar’ dan yang semenjak dahulu telah menjadi fihak yang menentang dan ditentang golongan para datuk. Kalau sampai Tung-hai-sian menjadi besan ketua Cin-ling-pai, tentu hal itu berarti akan melemahkan golongan mereka. Inilah sebabnya maka Siangkoan Wi Hong lalu cepat-cepat menghubungi para murid See-thian-ong mengajak dua orang murid See-thian-ong untuk melakukan penghadangan terhadap tiga orang dari Cin-ling-pai itu.

Hal ini disetujui Ciang Gu Sik yang berpemandangan sama dengan Siangkoan Wi Hong, sedangkan So Cian Ling yang pernah berhadapan dengan tiga orang pemuda itu sebagai lawan ketika dia hendak membalas dendam kepada Kakek Yap Kun Liong dan Nenek Cia Giok Keng, juga penuh semangat menyokong maksud ini.

Demikianlah, Siangkoan Wi Hong ditemani tiga orang Pak-thian Sam-liong, dan dua orang murid See-thian-ong itu kemudian bersama-sama memotong jalan dan menghadang tiga orang pemuda yang tadi menjadi tamu sebagai wakil Cin-ling-pai itu.

“Tring-tranggg…!”

Yang-kim di tangan Siangkoan Wi Hong itu berbunyi, disusul suara tawa pemuda tampan pesolek itu.

“Ha-ha-ha, sekarang sudah lengkap tiga-tiganya berkumpul di sini, ha-ha-ha! Putera ketua Cin-ling-pai, putera Pendekar Lembah Naga, dan putera Pangeran Ceng Han Houw! Wah, wah, tiga serangkai yang cocok! Pantas saja sikapnya sombong bukan main!”

Han Tiong yang pernah berkenalan dengan pemuda ini, bahkan pernah disambut sebagai sahabat dan dijamu makan, merasa tak enak kalau harus bermusuhan dengannya, maka dia sudah cepat berkata,

“Saudara Siangkoan, kami adalah orang-orang yang lebih mengutamakan persahabatan, tidak ingin mencari permusuhan, harap engkau tidak mengganggu kami.”

“Han Tiong, mundurlah dan biarkan aku menghadapi orang-orang liar ini!” Cia Kong Liang berkata dengan suara nyaring dan tajam.

Memang dia sudah marah sekali menyaksikan sikap Siangkoan Wi Hong tadi. Mendengar ucapan Han Tiong yang dianggapnya terlalu merendahkan diri itu, kemarahannya makin berkobar. Dia sudah melangkah maju di depan Han Tiong dan dia menghadapi Siangkoan Wi Hong dengan sikap penuh wibawa. Sepasang matanya kini mencorong seperti mata seekor naga saja.

“Memang benar bahwa kami tidak mencari permusuhan, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kami takut menghadapi siapa pun juga yang hendak memusuhi kami! Kalau aku tidak salah lihat, kalian ini adalah orang-orangnya Pak-san-kui dan See-thian-ong, bukan? Nah, apa maksud kalian menghadang perjalanan kami dan bersikap seperti ini?”

Enam orang itu nampak jeri juga saat menyaksikan sikap yang gagah dari putera ketua Cin-ling-pai itu, bahkan Siangkoan Wi Hong yang biasanya tenang dan tertawa-tawa itu, yang biasanya sangat mengandalkan kepada diri sendiri, kini diam-diam merasa gembira bahwa dia mempunyai teman-teman yang lihai karena terus terang saja, kalau dia harus menghadapi pemuda Cin-ling-pai ini seorang diri saja, dia masih akan berpikir panjang.

Akan tetapi pada saat itu pula, sebelum ada yang menjawab pertanyaan Kong Liang tadi, terdengar suara keras, “Mana orang Cin-ling-pai? Biar kami menghadapinya!”

Dan nampaklah bayangan orang berkelebat dari atas pohon, kemudian dua tubuh yang melayang itu berjungkir balik bagaikan bola-bola besar, berputar-putar dan baru turun di depan Kong Liang. Cara mereka meloncat dari atas dan berjungkir balik itu hebat sekali, seperti permainan akrobatik para pemain sirkus yang terlatih baik saja. Dan ketika semua orang memandang, kiranya mereka itu adalah dua orang laki-laki berpakaian pengemis!

Usia mereka sekitar lima puluh tahun, pakaian mereka terbuat dari kain tambal-tambalan beraneka macam dan warna, tetapi pakaian mereka tidak butut seperti pakaian pengemis-pengemis biasa, namun bersih dan agaknya memang hanya merupakan pakaian model pengemis, yaitu berbagai macam kain baru ditembel-tembel sehingga menjadi pakaian. Di punggung mereka, seperti cara orang membawa pedang, terlihat sebatang tongkat, entah terbuat dari bahan apa, hanya kelihatan hitam dan butut.

“Aha, kiranya dua orang gagah dari Bu-tek Kai-pang?” seru Siangkoan Wi Hong dengan girang sekali ketika melihat munculnya dua orang kakek pengemis ini.

Dia tidak mengenal pribadi semua anggota Bu-tek Kai-pang yang jumlahnya dua puluh empat orang itu, akan tetapi melihat pakaian mereka dan tongkat yang mereka namakan ‘Hok-mo-pang’ (Tongkat Penakluk Iblis) itu, maka tahulah dia bahwa mereka itu adalah dua orang anggota Bu-tek Kai-pang yang dipimpin atau diketuai oleh Lam-sin (Malaikat Selatan), yaitu datuk selatan.

Dua orang pengemis itu menjura ke arah Siangkoan Wi Hong. Salah seorang di antara mereka, yang hidungnya melengkung seperti hidung burung hantu, lalu berkata, “Selamat berjumpa lagi, Siangkoan-kongcu dan bukankah sam-wi (tuan bertiga) adalah Pak-thian Sam-liong yang gagah perkasa? Selamat jumpa!” Pak-thian Sam-liong, tiga orang murid Pak-san-kui menjura dengan hormat.

“Dan selamat bertemu pula kepada dua orang murid See-thian-ong Locianpwe!” pengemis ke dua, yang mukanya merah sekali, berkata kepada So Cian Ling dan Ciang Gu Sik yang cepat membalas pemghormatan mereka pula.

Diam-diam mereka pun merasa terkejut bahwa para pengemis ini telah mengenal mereka, menunjukkan bahwa pengemis-pengemis itu mempunyai mata tajam, atau mungkin sekali mereka sudah lama mengintai ketika terjadi keributan di dalam pesta yang diadakan oleh Tung-hai-sian.

Ciang Gu Sik yang pendiam itu membalas penghormatan sambil berkata, “Kami merasa terhormat sekali dapat bertemu dengan ji-wi dari Bu-tek Kai-pang yang terkenal!”

“Akan tetapi kenapa ji-wi tidak terang-terangan hadir dalam pesta ulang tahun Locianpwe Tung-hai-sian?” So Cian Ling bertanya, yang merupakan teguran dan juga sindiran bahwa dia sudah menduga mereka berdua tentu hadir dengan sembunyi.

“Dan memalukan fihak tuan rumah dengan kehadiran pengemis-pengemis macam kami?” Jawab si hidung melengkung. “Ahh, mana kami berani?”

Han Tiong dan Thian Sin memandang kepada mereka semua itu dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang. Kini mereka berdua sudah berjumpa dengan orang-orang dari empat datuk yang terkenal itu! Dan kini yang menghadang mereka adalah orang-orang atau para murid dari Pak-san-kui, See-thian-ong dan Lam-sin!

Akan tetapi Kong Liang sudah merasa amat marah. Pemuda ini biasanya dihormati orang, dan memang sebagai putera ketua Cin-ling-pai tentu saja dia merasa dirinya tinggi, namun sekarang, orang-orang dari golongan hitam atau kaum sesat ini saling bertemu dan bicara gembira, bersikap seolah-olah dia tidak berada di situ, atau dia dianggap sebagai patung atau semut saja!

Di dalam pesta dia sudah tidak dihargai, mendapat tempat duduk di bawah panggung, dan kini orang-orang ini pun tidak menghargainya. Sungguh membuat perut terasa panas!

“Jalan ini adalah jalan umum! Kalau mau bicara minggirlah dan biarkan kami lewat!” kata Kong Liang.

Dia sudah melangkah ke depan kemudian menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah dua orang pengemis yang berada paling dekat dan menghadang jalan. Dorongannya ini disertai tenaga Thian-te Sin-ciang, maka terdengar angin menyambar keras.

Kedua orang pengemis itu menggerakkan tubuh mereka mengelak, dan masing-masing telah mencabut tongkat mereka, lalu membentak.

“Hemm, inikah putera ketua Cin-ling-pai? Sebelum kau melanjutkan perjalanan, hayo lebih dulu kau hadapi kami!” si hidung melengkung membentak sambil melintangkan tongkat di depan dadanya.

Kiranya tongkat itu berwarna hitam mengkilap dan bentuknya mirip seperti tubuh ular. Itu adalah sebatang tongkat yang terbuat dari pada batang tumbuh-tumbuhan di dalam laut yang melingkar-lingkar atau saling lingkar sehingga kalau diambil dan dikeringkan menjadi bentuk seperti ular, yaitu semacam kayu akar bahar yang kuat dan ulet sekali, juga yang menurut kepercayaan umum yang tahyul mengandung kekuatan mukjijat!

“Akulah Cia Kong Liang, putera ketua Cin-ling-pai! Kalian ini jembel-jembel dari mana dan mengapa memusuhi Cin-ling-pai?”

“Kami adalah anggota Bu-tek Kai-pang dari Heng-yang. Guru, ketua dan pemimpin kami, yang mulia Lam-sin akan membenarkan sikap kami memusuhi putera Cin-ling-pai! Sejak dulu Cin-ling-pai adalah musuh golongan kami, akan tetapi engkau putera ketuanya berani sekali menghina dan hendak memperisteri puteri Tung-hai-sian Locianpwe! Sungguh tidak tahu malu dan bosan hidup!”

“Pendapat Bu-tek Kai-pang cocok sekalidengan pendapat kami!” kata Siangkoan Wi Hong dengan girang dan sebagai penambah semangat bagi kedua orang pengemis itu. Kini hati pemuda ini menjadi lebih besar setelah muncul dua orang pengemis itu yang memperkuat fihaknya.

Wajah Cia Kong Liang menjadi merah sekali mendengar ucapan pengemis itu. Sedikit pun juga dia tidak bermaksud memperisteri Bin Biauw, akan tetapi menyangkal hal ini sama saja dengan membela diri, seolah-olah dia merasa takut.

“Jembel busuk lancang mulut. Apa pun yang akan kuperbuat, apa pula sangkut-pautnya dengan kalian? Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuat kalian roboh!”

“Bagus! Kau coba saja, orang Cin-ling-pai yang sombong!” Dua orang pengemis itu sudah menggerakkan tongkat mereka dan mengeroyok dari kanan kiri.

Kong Liang tidak mau memberi hati, karena itu pemuda perkasa ini pun sudah mencabut Hong-cu-kiam yang melilit pinggangnya sehingga nampak sinar emas bergulung-gulung.

Seperti sebagian besar dari pada anggota Bu-tek Kai-pang, dahulu dua orang pengemis ini merupakan tokoh-tokoh yang tunduk kepada Lam-thian Kai-ong (Raja Pengemis Dunia Selatan). Akan tetapi semenjak munculnya Lam-sin yang menjatuhkan Lam-thian Kai-ong dan yang mengangkat diri sendiri sebagai Malaikat Selatan kemudian menguasai seluruh pengemis, bahkan Lam-thian Kai-ong yang sudah tua itu dijadikan pembantu utamanya, maka para tokoh pengemis di seluruh wilayah selatan menjadi anggota Bu-tek Kai-pang.

Jumlah mereka tidak banyak, hanya ada dua puluh empat orang karena Lam-sin tak mau mengambil pengemis sebagai anggotanya tanpa diuji dahulu. Ujian yang sangat berat dan hanya para tokoh yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi sajalah yang berhasil lulus dan jumlah mereka tidak lebih dari dua puluh empat orang untuk seluruh wilayah selatan! Tentu saja, dengan para anggota yang memiliki kepandaian tinggi itu, maka nama Bu-tek Kai-pang menjadi terkenal sekali.

Dan seperti para anggota lain, dua orang tokoh ini pun amat lihai, terutama sekali dalam menggunakan tongkat akar bahar hitam itu karena mereka semua telah mempelajari ilmu tongkat ciptaan ketua baru mereka, yaitu Lam-sin. Sejenis ilmu tongkat yang diberi nama Hok-mo-pang (Tongkat Penakluk Iblis).

Mereka berdua itu sengaja diutus oleh Lam-sin untuk mewakilinya memenuhi undangan Tung-hai-sian. Akan tetapi karena watak Lam-sin ini yang paling aneh di antara keempat datuk, dan selalu ingin merahasiakan dirinya, maka dia pun memesan kepada dua orang wakilnya itu untuk hadir secara bersembunyi saja!

Baru sesudah terjadi sesuatu, dua orang pengemis itu memperlihatkan diri, dan mereka memiliki pendapat yang sama dengan pendapat Siangkoan Wi Hong, yaitu kalau sampai Tung-hai-sian memilih putera Cin-ling-pai sebagai menantu, maka kekuatan empat datuk akan menjadi retak dan hat itu amat membahayakan mereka sendiri. Karena inilah maka dua orang pengemis ini lalu turun tangan menentang.

Akan tetapi, kali ini mereka berdua bertemu dengan batu karang. Begitu tongkat-tongkat mereka itu bertemu dengan Hong-cu-kiam, keduanya terkejut sekali karena lengan tangan mereka yang memegang tongkat itu tergetar hebat sehingga hampir saja tongkat mereka terlepas dari pegangan! Maka mereka lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu mereka Hok-mo-pang untuk mengeroyok dan terjadilah perkelahian yang amat seru!

Han Tiong memandang dengan ails berkerut, tidak senang dengan terjadinya perkelahian dan permusuhan yang dia tahu dapat menjadi besar ini. Akan tetapi sebaliknya, Thian Sin memandang dengan senyum tenang sehingga So Cian Ling yang memang sudah tertarik kepada pemuda ini, merasa semakin kagum.

Dia tahu bahwa pemuda tampan ini, yang kabarnya adalah putera Pangeran Ceng Han Houw yang dulu terkenal sebagai seorang perayu wanita yang tampan dan juga seorang jagoan tanpa tanding sehingga pernah menggemparkan dunia persilatan, adalah seorang pemuda yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Ingin sekali dia berkenalan lebih intim dengan pemuda ini, akan tetapi sayangnya keadaan membuat mereka harus berdiri saling berhadapan sebagai lawan.

Sementara itu, perkelahian antara Kong Liang yang dikeroyok oleh dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang terjadi dengan serunya karena sekarang dua orang pengemis itu makin penasaran. Mereka sudah mengerahkan seluruh tenaga, dan juga mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk mengalahkan orang muda itu. Akan tetapi, kiranya masih harus membutuhkan sedikitnya enam orang seperti mereka untuk dapat mengalahkan Cia Kong Liang, pemuda yang telah mewarisi kepandaian ketua Cin-ling-pai itu. Sekarang perlahan-lahan, sinar pedang berwarna keemasan itu semakin kuat dan makin menindih sinar dua batang tongkat hitam mereka.

Melihat betapa dua orang pengemis Bu-tek Kai-pang itu takkan menang, maka diam-diam Siangkoan Wi Hong langsung memberi isyarat kepada tiga orang suheng-nya yang juga menjadi anggota atau anak buah ayahnya, Pak-thian Sam-liong.

Tiga orang laki-laki gagah yang merupakan murid-murid kepala Pak-san-kui ini, walau pun termasuk golongan kaum sesat, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi sehingga segan melakukan hal yang dianggap rendah seperti misalnya pengeroyokan, karena mereka itu menganggap kedudukan mereka tinggi sehingga malu untuk mengeroyok, bukan karena memang benar-benar berwatak jantan atau gagah.

Maka, melihat isyarat sute mereka yang juga merupakan tuan muda mereka, ketiganya saling pandang, lalu mereka melepaskan jubah masing-masing sehingga nampak pakaian mereka yang ringkas, putih-putih dengan sabuk biru dan pada punggung masing-masing nampak sebatang pedang.

“Ji-wi Sin-kai, mundurlah, biar kami yang menggantikan ji-wi!” kata salah seorang di antara mereka kepada dua orang pengemis yang sudah terdesak hebat itu.

“Kami belum kalah!” teriak seorang di antara kedua pengemis itu sambil mencoba untuk membalas serangan lawan dengan tongkatnya.

Melihat kebandelan dua orang pengemis itu, Pak-thian Sam-liong merasa dongkol sekali. Sudah jelas terdesak dan tinggal menunggu mampus saja, mengapa masih berlagak, pikir mereka.

“Orang she Cia, lawanlah kami Pak-thian Sam-liong apa bila engkau memang jagoan!” Mereka berteriak, kini menggunakan akal lain, menantang putera ketua Cin-ling-pai itu.

Kong Liang juga amat mendongkol bahwa sampai begitu lamanya dia belum juga berhasil merobohkan dua orang lawannya, padahal dia sudah mendesak mereka dengan hebat. Kini mendengar tantangan Pak-thian Sam-liong, dia lalu berseru keras. “Jika kalian sudah bosan hidup, majulah sekalian, siapa takut kepada orang-orangnya Pak-san-kui?”

Tantangan ini terlalu tekebur, pikir Han Tiong yang mengerutkan alisnya.

“Paman, biarkan aku yang menghadapi mereka!” katanya karena dia mengkhawatirkan pamannya kalau sampai dikeroyok lima!

“Han Tiong, jangan! Biarkan aku sendiri merobohkan mereka!” jawab Kong Liang tegas, ucapan yang menunjukkan wataknya yang angkuh, tidak mau dibantu dan seolah-olah dia sudah yakin akan menang sehingga dia menggunakan kata-kata ‘merobohkan’ mereka.

Han Tiong tidak berani membantah dan Thian Sin tersenyum kepadanya ketika melihat Pak-thian Sam-liong kini sudah terjun ke dalam medan pertempuran membantu dua orang kakek pengemis. Karena mereka tadi ditantang, jadi mereka pun tidak segan-segan lagi untuk mengeroyok!

“Tiong-ko, di fihak mereka masih ada lainnya, mengapa tidak sikat mereka ini saja? Orang she Siangkoan ini agaknya masih belum kapok! Hayo Siangkoan Wi Hong, kalau engkau ingin kurobohkan untuk ke dua kalinya, majulah engkau!”

Siangkoan Wi Hong tertawa untuk menyembunyikan rasa marah dan malunya pada waktu diingatkan akan kekalahannya melawan pemuda ini di depan orang-orang lain, terutama di depan para murid See-thian-ong dan Lam-sin.

“Ha-ha-ha-ha, bocah sombong, jika engkau mampu mengalahkan yang-kimku ini, biarlah engkau boleh membuka mulut lebar!”

Akan tetapi mendadak berkelebat bayangan So Cian Ling yang sudah maju menyambut Thian Sin sambil berseru kepada Siangkoan Wi Hong, “Siangkoan-kongcu, biar aku saja yang menghadapi dia ini!” Kemudian tanpa banyak cakap lagi So Cian Ling menerjang dan menyerang dengan pedangnya yang bersinar putih!

Thian Sin cepat mengelak dan menegur dengan suara penuh sesalan.

“Hemm, kukira engkau sudah sadar ketika kita saling berjumpa di Bwee-hoa-san, ternyata sekarang engkau kembali memusuhi kami tanpa sebab!”

Akan tetapi So Cian Ling sudah menyerang kembali sambil berkata, “Orang she Ceng, keluarkanlah senjata dan kepandaianmu!”

Dara ini memang merasa amat tertarik kepada Thian Sin, kagum dia melihat ketampanan, kegagahan dan juga sikap Thian Sin, maka sekarang dia hendak melihat sampai di mana ilmu kepandaian pemuda ini. Pernah dia melihat Thian Sin mengalahkan salah seorang di antara ketiga orang pewaris ilmu-ilmu kakeknya, akan tetapi memang tingkat kepandaian tiga orang paman itu masih rendah, ada pun dia sendiri belum menguji sampai di mana kelihaian Thian Sin.

Oleh karena itu, melihat kesempatan ini dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan segera menandingi Thian Sin, biar pun di dalam hatinya dia sama sekali tidak membenci atau memusuhi Thian Sin. Bahkan sebaliknya, dia ingin sekali mengenal Thian Sin lebih dekat, sebagai sahabat baik!

Akan tetapi Thian Sin masih tidak mau mengeluarkan pedang pemberian neneknya, yaitu Gin-hwa-kiam. Pedang itu dianggapnya sebagai benda pusaka warisan neneknya. Dan dia menganggap bahwa lawannya ini, murid See-thian-ong, bukankah lawan yang perlu dia hadapi dengan pedang.

Dengan sangat gesitnya dia mengelak ke kanan kiri dari sambaran pedang yang bersinar putih itu, dan sambil mengelak dia pun balas menyerang dengan tamparan-tamparan yang amat kuat, karena tamparan itu mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang.

“Wuut-wuuut-singgggg…!”

Pedang di tangan So Cian Ling bergerak cepat sekali dan menyambar-nyambar dengan kuatnya. Akan tetapi Thian Sin dapat mengelak lebih cepat lagi dan pada saat pedang itu masih meluncur menyambar dengan tusukan kilat ke arah lehernya, tangan kirinya cepat menangkis.

“Ehhh…?” So Cian Ling terkejut dan berusaha menarik pedangnya karena dia tidak ingin pedangnya bertemu dengan tangan kosong pemuda itu, membayangkan betapa tangan itu tentu akan robek atau putus apa bila bertemu dengan pedang pusakanya. Akan tetapi gerakannya kalah cepat dan pedang itu bertemu dengan tangan kiri Thian Sin.

“Plakkk!”

Dara itu terpekik dan segera meloncat ke belakang. Tangan itu seperti daging yang amat lunaknya, terasa oleh tangannya yang memegang pedang, akan tetapi sama sekali tidak terluka. Dia memandang kagum bukan main.

Tahulah dia bahwa pemuda ini telah memiliki tenaga sinkang yang tingkatnya sudah amat tinggi sehingga bukan hanya dapat membuat tangan menjadi sekeras baja, akan tetapi juga membuat tangan itu menjadi selemas kapas dan tidak mungkin dapat terluka! Itulah tingkat sinkang yang baginya masih terlalu tinggi dan mungkin hanya gurunya saja yang sudah mencapai tingkat itu!

“Engkau hebat…!” katanya berbisik, namun cukup untuk dapat terdengar oleh Thlan Sin.

Pemuda ini merasa mukanya agak panas karena merasa malu dan juga senang sekali mendapat pujian lawannya. Maka dia pun lalu mencoba ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kakeknya, yaitu Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) yang dipelajarinya dari Yap Kun Liong. Dan benar hebat ilmu ini, apa lagi dimainkan oleh orang yang sudah memiliki tingkat ginkang dan sinkang seperti dia!

Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun adalah ilmu silat tingkat tinggi yang tak mungkin bisa dikuasai sepenuhnya oleh Thian Sin yang baru mempelajarinya selama sebulan saja! Akan tetapi, karena memang pada dasarnya pemuda ini sudah memiliki ilmu-ilmu silat tinggi, terutama sesudah dia menguasai Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang merupakan biang ilmu-ilmu silat tinggi, gerakannya sudah amat cepat dan juga hebat ketika dia mainkan Pat-hong Sin-kun sehingga dia dapat membalas serangan pedang lawan dengan sama cepat dan seringnya. Hal ini sangat mengagumkan Cian Ling sehingga berkali-kali dara ini mengeluarkan suara memuji.

Siangkoan Wi Hong semenjak tadi menonton pertandingan ini dan hatinya merasa makin tidak senang mendengar betapa Cian Ling memuji-muji pemuda putera Pangeran Ceng Han Houw itu. Pemuda putera Pak-san-kui ini tadinya selalu merasa bahwa di dunia ini tak akan ada pemuda yang melebihi dia! Akan tetapi, dia harus mencatat kenyataan pahit ketika dia dikalahkan oleh Thian Sin dan kini, selagi dia ingin membalas kekalahannya itu dengan mengandalkan yang-kimnya sebagai senjatanya yang paling diandalkan, didahului oleh Cian Ling dan mendengar betapa Cian Ling memuji-muji Thian Sin.

“Bocah sombong!” teriaknya dan dia sudah menerjang maju.

“Plakkk!”

Ujung yang-kim yang menyerang Thian Sin dengan hebatnya itu tersampok miring dan ternyata yang menangkis itu adalah tangan kiri Han Tiong yang berkata dengan tenang,

“Saudara Siangkoan yang gagah, apakah tidak malu untuk melakukan pengeroyokan?”

Kemarahan Siangkoan Wi Hong makin berkobar-kobar, “Keparat, siapa takut berhadapan dengan putera Pendekar Lembah Naga?” Setelah berkata demikian, yang-kimnya lantas bergerak cepat sekali sehingga mengeluarkan suara berdering dan yang-kim itu langsung menyambar ke arah kepala Han Tiong.

Dengan sikapnya yang selalu tenang dan waspada itu, dengan sangat mudah Han Tiong mengelak hingga belasan kali sambil diam-diam dia mempelajari gerakan-gerakan senjata aneh itu. Hanya kadang-kadang saja dia membalas dengan tamparan Thian-te Sin-ciang untuk menahan serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya dan amat berbahaya itu.

Sementara itu, melihat betapa sumoi-nya yang berpedang, yang dia tahu mempunyai ilmu kepandaian lebih tingi dari pada dia sendiri itu, belum juga mampu mendesak lawannya yang bertangan kosong, dan mendengar betapa sumoi-nya itu memuji-muji lawan, Ciang Gu Sik juga menjadi penasaran dan marah.

Diam-diam perjaka tua yang berusia tiga puluh lima tahun ini tergila-gila pada sumoi-nya, maka kini melihat adanya tanda-tanda bahwa sumoi-nya tertarik kepada pemuda ganteng yang lihai ini, tentu saja dia merasa cemburu dan iri hati. Maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut joan-pian terselaput emas itu dan nampaklah sinar keemasan ketika joan-pian itu bergerak menyambar dan menyerang Thian Sin.

“Suheng! Jangan main keroyok! Aku tidak perlu bantuan!” Cian Ling berseru kaget melihat gerakan suheng-nya.

Akan tetapi Ciang Gu Sik tidak mau peduli, bahkan mempercepat gerakannya menyerang Thian Sin dengan senjatanya. Akan tetapi dengan mudahnya Thian Sin mengelak, malah dua kali dia menangkis dengan tangan telanjang, membuat ujung cambuk baja terselaput emas itu membalik sehingga mengejutkan pemegangnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner