PENDEKAR SADIS : JILID-28


Sudah dua hari ini Ciang Gu Sik merasa gelisah. Dia sedang mencari-cari sumoi-nya. Dia mendengar peristiwa di telaga di mana sumoi-nya bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan juga kabarnya mempunyai kepandaian tinggi. Baginya, mendengar sumoi-nya bermain cinta dengan pemuda lain, bukanlah hal yang aneh sungguh pun dia mulai diamuk cemburu karena dia ingin menguasai tubuh dan hati sumoi-nya itu untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi biasanya, bila mana sedang bermain gila dengan laki-laki lain, Cian Ling tidak pernah sembunyi-sembunyi, dan bahkan paling lama sehari semalam sumoi-nya itu tentu akan pulang. Tidak pernah ada pria yang dapat menahannya dalam pelukannya selama lebih dari satu hari satu malam.

Akan tetapi sekarang, telah dua hari dua malam sumoi-nya tidak pulang, maka timbullah rasa kekhawatiran dalam hatinya kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada sumoi-nya. Pada hari ke tiga pergilah dia mencari sumoi-nya. Dia tahu akan padang rumput di dalam hutan yang menjadi tempat kesayangan sumoi-nya itu, maka ke situlah dia pergi.

Ketika dia mengintai dan melihat sumoi-nya bermesraan dengan seorang pemuda tampan yang dikenalnya sebagai putera Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja dia merasa sangat cemburu. Sumoi-nya itu pernah secara berterang menyatakan tertarik kepada pemuda itu, dan kini mereka telah bercinta-cintaan di tempat itu.

Dan sumoi-nya kelihatan begitu mesra dan amat mencinta pemuda itu! Kalau menurutkan hatinya yang panas oleh cemburu, pada saat itu juga dia ingin meloncat dan menyerang, membunuh Thian Sin. Akan tetapi, dia merasa sungkan terhadap sumoi-nya. Oleh karena itu, dia menunggu sampai kedua orang muda itu duduk kembali dalam keadaan pantas, barulah dia muncul sambil membentak marah,

“Kiranya si pemberontak Ceng Thian Sin berada di sini!” Dan dia pun sudah meloncat dan mencabut senjatanya, yaitu sebatang joan-pian (ruyung lemas), terbuat dari pada emas.

Akan tetapi, Cian Ling meloncat dan menyambut suheng-nya itu dengan berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang, mukanya merah dan pandang matanya mengandung kemarahan, sedangkan Thian Sin masih enak-enak saja duduk bersandar batang pohon, memandang tak acuh.

“Suheng, mau apa kau datang ke sini? Apakah engkau hendak menggangguku?”

Menghadapi sumoi-nya, Ciang Gu Sik yang berwajah pucat itu menjadi ragu-ragu. “Sumoi, dia itu adalah musuh kita, dan kini dia memasuki wilayah kita tanpa ijin dari suhu!”

“Dia bukan musuh. Kau lihat saja baik-baik. Kalau dia musuh masa sikapnya begini baik terhadap diriku? Kami saling mencinta dan harap kau tidak mengganggu. Dia memasuki tempat ini adalah karena ajakanku. Pergilah!”

“Sumoi, engkau harus ingat, dia ini di Lok-yang dan Su-couw… telah…”

“Sudahlah, suheng. Aku sedang bersenang-senang, kenapa kau berani menggangguku?”

“Sumoi, suhu tentu akan marah…”

“Suhu tak akan marah padaku. Akan tetapi engkau yang cemburu, yang tolol!” Ciang Ling segera mencabut pedangnya. “Atau engkau hendak mengandalkan joan-pianmu itu untuk memaksa aku melawan?”

Melihat ini, Ciang Gu Sik semakin marah. Dua orang kakak beradik seperguruan itu sudah berdiri saling berhadapan dengan senjata di tangan. Thian Sin hanya menonton saja dan sikapnya tenang sambil menanti perkembangan selanjutnya. Akan tetapi, setelah mereka berdua sejenak beradu pandang yang penuh kemarahan, akhirnya Ciang Gu Sik menarik napas panjang dan menyimpan kembali senjatanya.

“Baiklah, aku pergi, akan tetapi suhu tentu tidak akan senang bila melihat ini…”

Dan sesudah melempar pandang mata penuh kebencian kepada Thian Sin, laki-laki tinggi kurus bermuka pucat itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ dengan cepat.

“Suheng, kalau kau melapor yang bukan-bukan kepada suhu, aku tidak akan mau bicara denganmu lagi!” Cian Ling menyusulkan teriakannya kepada laki-laki itu.

Setelah suheng-nya tak nampak lagi, gadis itu lalu menyarungkan pedangnya dan duduk di dekat Thian Sin, merebahkan kepalanya di atas pangkuan pemuda itu kemudian dia pun menarik napas panjang.

“Uuhhhhh, laki-laki pencemburu macam dia…!”

Thian Sin mengelus rambut gadis itu. “Engkau telah membikin sakit hatinya, Cian Ling.”

“Peduli amat! Orang macam dia yang pencemburu itu tidak patut dihadapi dengan manis.”

“Akan tetapi dia tentu akan melapor kepada See-thian-ong.”

“Apakah engkau takut?”

“Hemm, aku tidak takut, karena memang aku ingin sekali mencoba kepandaiannya. Akan tetapi, dia tentu akan datang membawa banyak anak buahnya…”

“Ih, engkau belum mengenal betul watak suhuku!” Cian Ling berkata mencela. “Dia adalah seorang datuk yang gagah perkasa dan tinggi kedudukannya. Apakah kau maksudkan dia mau mengeroyokmu? Kau jangan memandang rendah, Thian Sin. Selamanya guruku tak pernah mengeroyok orang!”

“Kalau begitu, biar dia datang dan aku akan mencoba kepandaiannya.”

“Hemm, engkau akan kalah.”

“Kalau begitu, biar engkau melihat aku mati di tangannya.”

Cian Ling langsung merangkul. “Ih, kau begitu kejam, mengeluarkan kata-kata seperti itu? Kalau engkau mati, aku akan merana, aku akan berduka, aku akan kehilangan kekasihku. Aku amat mencintamu dan aku yang akan melindungimu, jangan kau khawatir!”

Memang Thian Sin tadi sengaja hendak membuat wanita ini benar-benar tunduk padanya. Dia telah dapat menduga bahwa dengan wajah cantiknya, dengan tubuh mudanya, sedikit banyak wanita ini tentu mempunyai pengaruh terhadap See-thian-ong, malah suheng-nya tadi pun tunduk padanya. Dengan kewanitaannya yang mempunyai daya tarik luar biasa ini, tentu Cian Ling mampu menguasai suheng-nya dan juga gurunya sendiri, kalau benar seperti yang diceritakan Cian Ling bahwa See-thian-ong bukan hanya guru dan pengganti orang tuanya, melainkan juga menganggapnya sebagai kekasih.

Dua orang muda itu bagaikan lupa akan segala, hanya menuruti gairah nafsu birahi dan mabuk dengan permainan cinta mereka. Mereka itu tak ada ubahnya sepasang pengantin baru yang tahunya hanya makan minum serta bermain cinta. Cian Ling selalu melayani kekasihnya dengan mencarikan buah-buahan, memanggang daging kelinci dan kambing hutan, dan hubungan antara mereka menjadi semakin mesra saja.

Dan pada keesokan harinya, ketika matahari meneroboskan cahaya melalui celah-celah daun pohon dan menimpa tubuh mereka, menggugah mereka dari tidur nyenyak karena kelelahan, mereka terbangun dengan hati gembira dan dengan sinar mata saling pandang penuh kemesraan.

Thian Sin maklum bahwa kalau dia tidak hati-hati, dia bisa benar-benar jatuh cinta kepada wanita cantik yang menjadi wanita pertama yang pernah memilikinya. Akan tetapi, setelah mereka mandi di sumber air di dalam hutan dan sarapan pagi dengan daging panggang, tiba-tiba saja muncullah See-thian-ong yang memang sudah mereka duga sewaktu-waktu tentu akan muncul juga.

Kemunculan datuk kaum sesat wilayah barat ini hebat bukan main. Mula-mula terdengar suaranya, suara yang terdengar berat dan parau, akan tetapi yang datangnya entah dari mana, dan tahu-tahu terdengar suara itu seperti dekat sekali dengan mereka, memanggil nama muridnya.

“Cian Ling… di mana kau…?”

Mendengar suara ini, wajah gadis itu lantas berubah. Betapa pun juga, diam-diam dara ini memang merasa jeri sekali terhadap suhu-nya yang sakti, sebab itu secara diam-diam dia pun mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Mendengar suara ini, dia pun tidak berani berayal lagi dan cepat-cepat menjawab sambil mengerahkan khikang-nya karena dia tahu bahwa suhu-nya itu masih jauh, mungkin masih berada di luar hutan.

“Teecu di sini, suhu…!”

Berkata demikian, dia memberi isyarat kepada Thian Sin untuk berhati-hati. Pemuda itu tetap duduk di atas rumput, kelihatan tenang saja walau pun jantungnya berdebar tegang dan seluruh syaraf di tubuhnya telah siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Tiba-tiba ada angin bertiup dari arah selatan. Thian Sin cepat memandang dengan penuh perhatian ke arah itu. Terdengar suara berkerosakan seperti ada binatang buas datang dari tempat itu lalu nampak daun-daun kering berhamburan bagaikan dilanda angin ribut. Melihat ini, Cian Ling sudah menghadap ke arah itu sambil merangkap kedua tangannya memberi hormat sambil berkata,

“Suhu…!”

Cara pemberian hormat dari Cian Ling ini sederhana saja, tidak berlutut seperti kebiasaan murid terhadap gurunya. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa hubungan antara guru dan murid ini lebih akrab dari pada guru-guru dan murid-murid lainnya.

Thian Sin memandang penuh perhatian dan dia kagum juga pada saat melihat bayangan seorang laki-laki tinggi besar datang dengan gerakan yang amat gagah dan tangkas. Apa lagi setelah laki-laki itu berdiri tak jauh dari tempat itu, dia memandang kagum.

Tak seperti Pak-san-kui yang berpakaian seperti seorang kakek hartawan, See-thian-ong ini merupakan seorang kakek yang bertubuh tinggi besar dan gagah sekali. Usianya lebih muda dibandingkan Pak-san-kui, belum ada enam puluh tahun, dan tubuhnya yang tinggi besar itu cocok dengan kulit mukanya hitam. Namun, bukan hitam buruk, melainkan hitam legam yang halus dan membuat dia nampak gagah, mengingatkan orang akan tokoh Thio Hwi, yaitu tokoh cerita Sam-kok yang gagah perkasa.

Dengan pakaian yang tidak terlalu mewah, mukanya yang hitam itu dihias sepasang mata yang lebar dan bundar, bersinar-sinar bagaikan mata harimau. Dari wajahnya dan gerak-geriknya terbayanglah kejantanan, kegagahan, kekasaran dan watak jujur yang tidak suka berpura-pura.

Rambutnya digelung ke atas, model rambut tosu dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat. Inilah dia See-thian-ong yang amat terkenal itu, pikir Thian Sin tanpa bangun dari tempat duduknya. Pemuda ini memang sengaja bersikap tak acuh untuk membangkitkan rasa penasaran di dalam hati datuk itu.

“Apakah suhu datang karena dibakar oleh ocehan dari Ciang-suheng?” Cian Ling bertanya dan cara dara itu bertanya demikian terbuka juga menunjukkan bahwa ia memang sudah biasa bersikap biasa seperti itu terhadap gurunya.

Semenjak kemunculannya tadi, sepasang mata yang melotot itu sungguh mengingatkan Thian Sin akan mata tokoh Thio Hwi, selalu menatap kepada Thian Sin yang masih duduk di atas rumput. Menurut cerita Sam-kok, sepasang mata Thio Hwi juga selalu terbelalak dan tidak pernah atau jarang sekali dipejamkan sehingga pernah ketika tokoh Thio Hwi itu berjaga sambil tertidur dan sepasang matanya tetap terbelalak, membuat pasukan musuh ketakutan karena mengira bahwa orang gagah ini tidak tidur!

“Ha-ha-ha-ha! Siapa mau mendengar ocehan orang? Aku hanya tertarik, mendengar dari suheng-mu, bahwa putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw datang berkunjung! Dia itukah orangnya?”

“Benar, suhu, dia adalah Ceng Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw jagoan nomor satu di dunia itu. Dia datang karena ingin berkenalan dengan suhu.”

“Ha-ha-ha, yang jelas, dia telah berkenalan denganmu! Dan aku tidak bisa menyalahkan engkau, Cian Ling. Dia memang tampan dan ganteng, mungkin seperti itulah ayahnya dahulu, si penakluk wanita itu seperti dikabarkan orang. Akan tetapi jagoan nomor satu di dunia? Ha-ha-ha, hal itu harus dibuktikan dahulu. Orang muda, mendengar engkau putera Pangeran Ceng, mari kau layani aku barang sepuluh jurus. Aku sudah mendengar akan sepak terjangmu selama ini.”

Thian Sin bangkit berdiri dan menjura. Dia dapat menilai watak kakek ini. Seorang datuk yang kasar akan tetapi jauh lebih gagah dibandingkan dengan Pak-san-kui yang memiliki sifat licik. Boleh jadi datuk ini kasar dan kejam, tidak pedulian, dan mau menang sendiri saja, akan tetapi setidaknya dia ini jujur dan tidak curang.

Tentu kakek ini sudah mendengar tentang dia, mendengar bahwa dia telah mengalahkan murid-muridnya dan juga mengalahkan putera Pak-san-kui maka kini tertarik dan hendak mengujinya. Dia harus berhati-hati. Kalau seorang datuk sakti seperti itu sudah tahu akan keunggulannya, maka tentu datuk itu tak akan berani memandang rendah sehingga akan mengeluarkan kepandaiannya.

“Locianpwe, sungguh aku merasa beruntung sekali dapat berhadapan dengan locianpwe, karena sudah lama aku mendengar bahwa locianpwe adalah seorang di antara locianpwe di empat penjuru dunia yang memiliki kesaktian tinggi. Aku yang muda memang sangat mengharapkan petunjuk darimu.” Setelah berkata demikian, Thian Sin menjura dan berdiri dengan sikap menanti, waspada dan tenang.

“Ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Ternyata engkau patut menjadi putera pangeran yang pernah menggetarkan dunia kang-ouw itu. Nah, kini bersiaplah, orang she Ceng! Biar muridku menjadi saksi siapa di antara kita yang lebih unggul, aku, See-thian-ong, ataukah engkau, yang menggantikan Pangeran Ceng Han Houw!” Ketika tertawa kakek itu kelihatan jauh lebih muda dari usianya, dan Thian Sin tahu bahwa seorang laki-laki penuh kejantanan seperti ini tentu dapat menarik hati banyak wanita.

Akan tetapi, sebelum kakek raksasa itu bergerak, Cian Ling sudah melangkah maju dan menghadapi suhu-nya, lalu berkata, “Suhu…!”

“Ehh, ada apa manis?”

“Jangan suhu mencelakakan dia…!”

“Ha-ha-ha, kau khawatir kalau aku merusak boneka mainanmu sayang? Jangan khawatir, di dunia ini masih banyak pemuda-pemuda yang lebih ganteng dari pada dia.”

“Tapi aku… aku cinta padanya, suhu.”

Sepasang mata yang sudah lebar itu terbelalak. “Kau…? Cinta…? Uh, betapa bodohnya. Bukankah sudah sering kuajarkan padamu bahwa cinta adalah suatu kebodohan? Bahwa cinta hanya akan mendatangkan kesengsaraan hidup belaka? Aku tidak berjanji apa-apa, dan kita lihat saja bagaimana kesudahannya pibu ini nanti.” Dengan kasar dia kemudian menggunakan tangannya mendorong muridnya ke samping.

Terpaksa Cian Ling meloncat ke pinggir lantas memandang dengan alis berkerut karena betapa pun juga, dia tahu akan kesaktian gurunya dan akan keganasan ilmu dari gurunya. Dan dia masih belum puas dengan pemuda itu sehingga tidak ingin kehilangan Thian Sin yang begitu menyenangkan hatinya.

Kakek itu menggerakkan tangan yang memegang tongkat, lantas benda itu menancap di atas tanah sampai setengahnya. “Nah, engkau boleh mempergunakan senjatamu pedang itu, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Ini baru adil namanya mengingat usiaku lebih matang darimu. Majulah dan keluarkan pedangmu, orang muda.”

Manusia sombong pikir Thian Sin. Dia pun tak mau kalah gertak, maka dia mengeluarkan pedangnya, bukan dicabut melainkan mengeluarkan berikut sarungnya dan dia pun lantas menancapkan pedang bersarung itu ke atas tanah.

“Locianpwe, aku datang untuk minta petunjuk, dan di dalam adu ilmu haruslah terkandung kejujuran dan keadilan. Apa bila locianpwe tidak mempergunakan senjata, aku pun masih mempunyai tangan dan kaki untuk melayanimu.”

Mata kakek itu semakin terbelalak, lalu tertawa. “Ha-ha-ha, engkau tabah sekali. Agaknya karena engkau telah menguasai ilmu dari Cin-ling-pai, seperti yang telah kudengar, maka engkau berani memandang ringan kepadaku, ya? Nah, boleh mari kita mengadu tangan dan kaki. Majulah!”

“Aku yang muda dan hanya tamu, mana berani maju lebih dulu? Silakan, locianpwe!”

Sikap Thian Sin yang selalu berlaku mengalah ini sungguh-sungguh merupakan tamparan bagi See-thian-ong. Biasanya, karena dia memiliki tingkatan yang lebih tinggi, dialah yang mengalah sebagai sikap orang yang kepandaiannya lebih tinggi. Akan tetapi sekarang dia bertemu batunya, seorang pemuda yang bersikap mengalah kepadanya!

“Bocah sombong, sungguh engkau tidak mengenal siapa See-thian-ong!” bentaknya dan sikap Thian Sin itu berhasil membuat kakek ini marah.

Memang inilah yang dikehendaki oleh Thian Sin. Dia tidak ingin kakek itu main-main, akan tetapi ingin memancing agar kakek itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk dapat diukurnya.

Setelah mengeluarkan bentakan itu, tiba-tiba saja kakek itu menerjang dan dua lengannya yang berkulit hitam berbulu panjang dan berukuran besar itu menyambar dari kanan kiri. Dua tangannya dengan telapak tangan terbuka menyambar dari kanan kiri seperti orang hendak menepuk lalat, dan yang dijadikan lalatnya untuk dihimpit oleh kedua tangan yang lebar dan kuat itu adalah kepala Thian Sin!

“Parrrrr…!”

Dua tangan itu saling bertemu ketika dengan gerakan lincah Thian Sin sudah melangkah mundur mengelak. Akan tetapi, bertemunya kedua tangan kakek itu selain mendatangkan suara nyaring, juga mengepulkan asap lantas tahu-tahu kedua tangan itu sudah meluncur dengan serangan dahsyat dan ganas sekali, yang kanan mencengkeram ke arah kepala lawan sedangkan yang kiri dengan jari tangan terbuka menusuk ke arah lambung!

“Hemmm…!” Thian Sin berseru, kagum karena serangan itu sungguh sangat ganas dan cepat, sebelum kedua tangan datang sudah menyambar angin pukulan dahsyat. Dia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, sengaja menangkis kedua lengan itu dengan kedua tangannya.

“Plakk! Dessss…!”

“Ahhh! Inikah Thian-te Sin-ciang?” Kakek itu berseru kaget ketika merasa betapa kedua lengannya yang disaluri penuh tenaga sinkang itu bisa terpental akibat terkena tangkisan pemuda itu.

Maklumlah dia bahwa berita yang didengarnya mengenai pemuda ini tidak kosong belaka. Tenaga Thian-te Sin-ciang tadi saja sudah membuktikan bahwa pemuda ini mempunyai tenaga kuat sekali, jauh lebih kuat dari pada tenaga murid-muridnya yang paling pandai sekali pun.

Thian Sin tidak mempedulikan seruan kakek itu dan dia pun cepat membalas serangan lawan dengan ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dan setiap sambaran tangannya, dia kerahkan tenaga Pek-in-ciang sehingga kedua tangan itu mengeluarkan uap putih! Dua ilmu ini dia pelajari dari Yap Kun Liong dan kini dia mempunyai kesempatan untuk menggunakannya dalam praktek melawan musuh yang tangguh.

Begitu dihujani serangan oleh pemuda itu, See-thian-ong segera menjaga diri, mengelak dan menangkis sambil memperhatikan gerakan orang. Dia kagum sekali karena dia tidak yakin mengenal ilmu silat itu.

“Apa ini? Seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi bukan! Dan uap putih ini… hemm, pernah aku mendengar tentang Pek-in-ciang. Inikah ilmu itu?”

Thian Sin mendesak terus tanpa menjawab, kemudian dia bahkan mengeluarkan semua ilmu silat tinggi yang pernah dipelajarinya. Dia mengeluarkan beberapa jurus dari Thai-kek Sin-kun, juga San-in Kun-hoat dengan dibantu tenaga Thian-te Sin-ciang.

Kakek itu semakin kagum, karena semua ilmu itu dikenalnya sebagai ilmu-ilmu silat yang benar-benar sangat bermutu. Berkali-kali dia memuji dan dia sungguh-sungguh terdesak, padahal pemuda itu hanya mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu silat masing-masing itu.

Thian Sin juga bukan seorang pemuda bodoh. Dia tahu bahwa lawannya adalah seorang datuk yang sudah memiliki kematangan ilmu silat. Dia tidak mau dipancing seperti ketika menghadapi Pak-san-kui, yaitu dipancing untuk mengeluarkan semua ilmu-ilmunya agar dapat dipelajari oleh datuk itu. Maka dia lalu mencampur-campurkan semua ilmu silatnya sehingga membuat lawannya bingung dan kagum sekali.

Oleh karena maklum bahwa dia tidak akan mampu mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi yang diselang-seling itu dan tahu bahwa kalau dia hanya bertahan saja, besar kemungkinan dia akan terkena pukulan yang cukup ampuh dan berbahaya, kini See-thian-ong mengambil keputusan untuk menyudahi pertandingan.

Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang parau menggetarkan bumi dan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, dan berdiri dengan kedua kaki serta tangan terpentang lebar. Pada saat itu, Thian Sin sudah melakukan serangan pukulan ke arah dada kakek itu.

Melihat kakek itu berdiri dengan dada terbuka, mendengar pula betapa menyusul suara teriakan itu dan tubuh Si Kakek mulai menggembung, tahulah Thian Sin bahwa kakek itu sudah mempergunakan ilmunya yang mukjijat, yaitu yang oleh Cian Ling disebut sebagai Ilmu Hoa-mo-kang. Akan tetapi dia tidak peduli dan memukul terus, untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu itu. Dia melihat betapa kakek itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, bahkan menyerahkan dadanya untuk dipukul.

“Blukkkk…!”

Pukulan tangan kanan Thian Sin yang menggunakan Thian-te Sin-ciang sepenuh tenaga itu tepat mengenai dada, dan telinga Thian Sin laksana mendengar suara tambur dipukul lalu tangannya yang memukul itu tadi terpental kembali seperti memukul bola yang amat keras dan kuat. Tubuhnya sendiri sampai terhuyung akibat terbawa oleh tenaga Thian-te Sin-ciang yang membalik kembali melalui tangannya, dan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, dia sudah berloncatan jungkir balik mematahkan tenaga yang membalik itu.

“Ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu tentang ilmuku tadi, orang muda? Dapatkah engkau melawannya?” See-thian-ong tertawa pula, hatinya merasa puas dan girang saat melihat lawannya terkejut menghadapi ilmunya.

“Locianpwe, ilmumu memang hebat, akan tetapi jangan mengira bahwa aku sudah kalah.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu menerjang lagi ke depan, akan tetapi sekarang dia menggunakan dua tangannya untuk menyerang bagian-bagian tubuh yang tak terlindung oleh Hoa-mo-kang itu, seperti mata, hidung, bagian muka, dan bagian tubuh lainnya yang tulangnya menonjol dan tidak terlindung oleh daging, seperti tulang pundak, tenggorokan, sambungan siku, lutut dan sebagainya.

“Ahhh, kau memang cerdik!” Kakek itu berseru dan repot melindungi bagian-bagian yang terserang itu.

Akan tetapi karena tubuhnya sudah menggembung, maka mudah saja baginya, dengan hanya menggerakkan sedikit tubuhnya, maka bagian-bagian yang terserang adalah bagian yang terlindung hawa Hoa-mo-kang. Dan kini, begitu tubuhnya terpukul, maka otomatis tangannya langsung membalas serangan dari samping.

“Bluggg…! Dessss…!”

Ketika dengan kekuatan sepenuhnya tangan Thian Sin menyambar ke arah pundak untuk membikin patah tulang pundak kiri, kakek itu cepat miringkan tubuhnya sehingga pukulan itu mengenai dadanya, dan pada saat yang sama tangannya sudah menampar punggung Thian Sin.

Tubuh pemuda itu terpelanting, lantas bergulingan saking kerasnya pukulan lawan. Akan tetapi beruntung baginya bahwa dia tadi sedang mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tubuhnya pun menjadi kebal akibat terlindung oleh tenaga itu. Dia tidak terluka, sungguh pun guncangan tenaga hantaman yang keras itu sempat membuat isi dadanya tergetar dan napasnya menjadi agak sesak!

“Ha-ha-ha!” See-thian-ong tertawa girang dan bangga.

Thian Sin menjadi penasaran dan juga marah. Dia telah menerjang kembali, menusukkan telunjuk dan jari tengah ke arah sepasang mata lawan. Ketika lawannya miringkan tubuh, dia menghantam ke arah tenggorokan.

Kakek itu menaikkan tubuh dan miring, sehingga kembali pukulan itu luput dan mengenai dada, dan pada saat itu kakek itu menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram tengkuk dan punggung Thian Sin dengan jalan merangkulnya bagai seekor beruang. Akan tetapi, tiba-tiba saja kakek itu mengeluarkan teriakan keras.

“Aughhhhh…!”

Kakek itu terkejut bukan kepalan karena begitu kedua tangannya mencengkeram, tenaga Hoa-mo-kang itu memberobot keluar melalui kedua tangannya lantas tersedot masuk ke dalam tubuh pemuda itu!

“Thi-khi I-beng…!” teriaknya.

Tiba-tiba saja tubuhnya seperti bola terisi penuh angin yang bocor, mengempis kembali lantas seluruh tenaganya lenyap sehingga dengan sendirinya tenaga sedot Thi-khi I-beng juga tidak berguna lagi dan terlepaslah kedua tangan yang melekat itu. Kakek itu cepat melempar tubuh ke belakang dan sebelum pemuda itu dapat menyerangnya kembali, dia telah bergulingan ke arah tongkatnya dan meloncat lagi dengan tongkat di tangan!

Mukanya berubah merah sehingga menjadi makin hitam, dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api. Peristiwa tadi, dalam satu gebrakan ketika dia dikejutkan oleh Thi-khi I-beng, sungguh merupakan tamparan baginya. Biar pun dia belum dapat dikatakan kalah, namun segebrakan tadi menunjukkan bahwa fihak lawan yang lebih unggul! Tak mungkin dia dapat dikalahkan oleh seorang pemuda remaja seperti itu.

“Orang muda she Ceng, engkau memiliki banyak sekali ilmu tangan kosong yang hebat-hebat, bahkan Thi-khi I-beng yang baru sekarang kusaksikan sendiri sempat mengejutkan hatiku. Nah, aku sudah terlanjur memegang tongkat, mari kita main-main dengan senjata!”

Thian Sin maklum bahwa kini kakek itu tentu akan mengeluarkan ilmu tongkatnya yang menurut Cian Ling merupakan ilmu simpanan kakek itu yang amat hebat di samping Ilmu Hoa-mo-kang tadi. Dia tadi sudah tahu akan Ilmu Hoa-mo-kang yang amat dahsyat, akan tetapi dengan Thi-khi I-beng, dia akan dapat menghadapi Hoa-mo-kang sehingga dia tak perlu lagi takut terhadap ilmu kakek itu.

Kini, kakek itu hendak mengeluarkan ilmu simpanannya, maka hal itu baik sekali baginya untuk menguji. Sebelum dia mengambil sikap keras untuk menentang See-thian-ong ini, terlebih dahulu dia harus dapat mengukur sampai di mana kelihaian lawan. Maka dia pun meraih pedang berikut sarungnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan di lain detik sudah nampak sinar perak berkilauan ketika dia mencabut Gin-hwa-kiam dari sarungnya.

“Aku akan melayani locianpwe dan mohon petunjuk,” katanya dengan sikap merendah.

Akan tetapi karena tadi dalam gebrakan terakhir dia merasa dirugikan, kini melihat sikap merendah itu bagi See-thian-ong seperti ejekan saja, maka sambil mengeluarkan seruan keras dia pun mulai menyerang dengan tongkatnya.

Tongkat itu terbuat dari kayu biasa saja, akan tetapi begitu digerakkan oleh tangan yang berukuran besar milik See-thian-ong, berubahlah tongkat itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dan mengeluarkan bunyi aneh, juga gerakan-gerakannya luar biasa anehnya. Tahu-tahu ujung tongkat itu telah melakukan totokan bertubi-tubi sehingga pada waktu Thian Sin menangkis dan mengelak darinya, ujung tongkat itu secara berantai telah melakukan tiga belas kali totokan sambung menyambung ke arah jalan-jalan darah maut di bagian depan tubuh lawan!

Thian Sin terkejut bukan main. Tak keliru keterangan Cian Ling. Memang ilmu silat kakek ini menjadi luar biasa hebatnya setelah dia memegang tongkat! Belum pernah dia melihat ilmu tongkat sehebat ini, dan ujung tongkat itu tergetar menjadi banyak sekali.

Inilah yang membuat ilmu tongkat kakek itu amat berbahaya, oleh karena ujungnya yang tergetar sehingga kelihatan menjadi banyak itu sukar diketahui mana yang asli dan mana bayangan-bayangannya. Hal ini membuat tongkat itu amat berbahaya.

Juga Thian Sin teringat akan ilmu Siang-bhok Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum) yang pernah dipelajarinya dari ibu kandungnya. Siang-bhok Kiam-sut juga memiliki dasar yang bisa membuat sebatang pedang kayu sama ampuhnya dengan sebatang pedang pusaka. Akan tetapi gerakannya jauh berbeda dengan ilmu tongkat kakek ini sehingga dia tetap belum dapat menyelami dan dalam gebrakan pertama itu, dia terdesak hebat.

Thian Sin berlaku hati-hati sekali, memutar pedang Gin-hwa-kiam dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun yang mengandung daya pertahanan sangat kuat untuk dapat melindungi dirinya dari ancaman bayangan ujung tongkat yang amat cepat itu.

Melihat betapa ilmu tongkatnya yang sangat dia banggakan itu kembali dapat mendesak lawan, kegembiraan See-thian-ong bangkit lagi. Dia mulai tertawa-tawa dengan girang dan sengaja menggunakan tongkatnya untuk mempermainkan lawan.

Memang hebat sekali ilmu tongkatnya itu. Tongkat di tangannya itu seolah-olah hidup dan menyambar-nyambar dari segala jurusan. Memang, dengan mengandalkan kepada daya tahan Thai-kek Sin-kun, Thian Sin masih bisa melindungi dirinya dengan membuat dirinya seperti terkurung benteng baja. Akan tetapi tidak mungkin dalam suatu pertandingan dia hanya membela diri saja tanpa membalas serangan.

Akan tetapi, setiap kali dia membalas, bahkan sudah dicobanya Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut, tetap saja setiap kali dia menyerang dia malah hampir saja celaka akibat kena disambar tongkat sehingga dia pun harus cepat-cepat kembali berlindung dalam gerakan Thai-kek Sin-kun untuk menyelamatkan dirinya. Memang benar dia pernah mempelajari Siang-bhok Kiam-sut, akan tetapi pada saat mempelajarinya itu, dia masih kecil dan dasar kepandaiannya belum matang sehingga ilmu itu pun kurang terlatih, atau inti sari ilmu itu masih kurang dapat dikuasainya.

Sesungguhnya, ilmu silat apa pun juga mengandung daya guna sendiri-sendiri dan hanya kematangan dalam menguasai suatu ilmu itulah yang membuat ilmu itu menjadi berguna dan kuat. Andai kata Thian Sin sudah betul-betul menguasai Siang-bhok Kiam-sut secara sempurna, belum tentu dia akan merasa terdesak oleh Ilmu Tongkat Giam-lo Pang-hoat yang dimainkan oleh See-thian-ong itu.

Ilmu silat hanya merupakan dasar gerakan saja yang mengandung unsur-unsur membela diri atau menyerang. Ketangguhan seseorang bukan tergantung sepenuhnya dari macam ilmu silatnya, melainkan tergantung kepada dirinya sendiri, kepada kematangannya dalam menguasai ilmu yang dimilikinya itu.

Tidak dapat dikatakan mana yang lebih kuat di antara Siang-bhok Kiam-sut dan Giam-lo Pang-hoat. Akan tetapi jika yang memainkan Siang-bhok Kiam-sut adalah Thian Sin yang masih mentah dalam ilmu itu, dan yang mainkan Giam-lo Pang-hoat adalah See-thian-ong pencipta ilmu itu, tentu saja Thian Sin kalah jauh! Buktinya, dahulu tokoh Cin-ling-pai yang merupakan pendiri Cin-ling-pai dan orang pertama yang menguasai Siang-bhok Kiam-sut, dengan pedang kayu harumnya dan ilmu pedangnya itu belum pernah bertemu tanding!

Kepandaian manusia memang ada batasnya, atau lebih tepat lagi, kemampuan manusia untuk menguasai suatu kepandaian akan ilmu pengetahuan adalah terbatas sekali. Kalau seseorang menghendaki agar dia menjadi ahli dalam suatu ilmu, dia harus mencurahkan seluruh perhatian dan kekuatan pikirannya untuk mempelajari dan memperdalam ilmu itu. Dan hal ini baru mungkin terjadi kalau memang pada dasarnya ada minat dan rasa cinta terhadap ilmu tertentu itu.

Jadi, syarat bagi seorang ahli membutuhkan tiga dasar, yaitu bakat, minat dan cermat. Bakat dalam arti kata kecenderungan kemampuan alamiah terhadap ilmu tertentu itu, dan bakat ini seolah-olah terbawa lahir oleh seseorang sehingga sebelum dia itu tahu apa-apa tentang suatu ilmu, dia telah memiliki kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan orang lain apa bila dihadapkan pada ilmu itu.

Minat adalah rasa cinta atau rasa suka akan ilmu yang dipelajarinya itu karena tanpa adanya minat atau rasa tertarik atau rasa suka ini, tentu saja dia tidak akan bersemangat mempelajarinya. Yang terakhir adalah kecermatan, atau ketekunan di dalam mempelajari ilmu itu.

Bakat memudahkan seseorang untuk mempelajari suatu ilmu, lalu minat mendatangkan gairah belajar, dan kecermatan menuntun kepada ketertiban belajar. Kalau ketiganya ini digabungkan menjadi satu, maka akan berhasillah seseorang menjadi ahli. Jika satu saja di antara ketiganya ini tidak ada, maka akan sukarlah untuk menjadi ahli dalam arti kata yang sedalam-dalamnya.


Thian Sin adalah seorang pemuda yang memiliki bakat besar sekali dalam hal ilmu silat. Pada saat masih kecil sekali, hal ini dapat nampak jelas. Begitu belajar, secara naluriah gerakannya sudah cekatan dan patut. Dan dia memang mempunyai minat yang sangat besar terhadap ilmu silat.

Akan tetapi, pengalamannya membuat dia di dalam usia muda sudah dijejali oleh banyak sekali ilmu silat tinggi sehingga dia tidak sempat untuk mematangkan satu pun di antara ilmu-ilmu itu. Oleh karena ketidak matangan inilah, maka begitu dia berhadapan dengan lawan yang sudah matang ilmunya seperti See-thian-ong ini, dia menjadi kewalahan dan terdesak terus.

Cian Ling yang sejak tadi mengikuti jalanannya pertandingan, memandang gelisah setelah melihat pemuda itu terdesak hebat oleh tongkat gurunya. Tadi pada waktu dua orang itu bertanding dengan tangan kosong, berkali-kali Cian Lin menahan seruan kagum melihat betapa pemuda itu bukan saja dapat menandingi gurunya, bahkan mampu mendesak dan bahkan pada gebrakan terakhir gurunya itu nyaris kalah! Akan tetapi, setelah kini gurunya menggunakan tongkatnya, dia melihat betapa Thian Sin terdesak hebat dan sinar pedang perak itu semakin lama menjadi semakin kecil dan suram, didesak dan dihimpit oleh sinar tongkat di tangan suhu-nya yang terus terkekeh-kekeh dengan senang.

Dia sudah mengenal gurunya, dan mengenal kekejaman hati gurunya yang tak mengenal ampun itu. Tentu saja dia merasa amat khawatir akan keselamatan Thian Sin. Dia belum ingin kehilangan pemuda yang amat menyenangkan hatinya itu.

Melihat betapa gurunya tertawa-tawa dan mendesak terus, bahkan sudah beberapa kali dia melihat ujung tongkat gurunya itu menghajar pangkal lengan kiri serta paha kanan kekasihnya, Cian Ling tidak mampu lagi menahan hatinya.

“Suhu, jangan celakai dia…!”

“Ha-ha-ha-ha, dia belum kalah, heh-heh-heh, bukankah begitu, orang muda?” Kakek itu mengejek.

Akan tetapi dia sungguh kecelik kalau mengira bahwa Thian Sin mengaku kalah. Pemuda ini memang telah terkena beberapa kali pukulan, akan tetapi dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang, tubuhnya kebal dan hanya terasa kulit dagingnya saja memar, akan tetapi tidak sampai menderita luka parah sehingga dia masih terus bisa melakukan perlawanan tanpa pernah mengendur sedikit pun juga. Mendengar pertanyaan yang mengandung ejekan itu, dia menahan kemarahannya.

“Aku memang belum kalah, locianpwe!” katanya.

“Ha-ha-ha-ha, agaknya kalau belum mampus engkau tidak akan merasa kalah!” Kakek itu memutar tongkatnya lebih keras dan Thian Sin terkejut bukan main karena tanpa dapat dihindarkannya lagi, dadanya kena ditotok atau didorong oleh tongkat itu yang bergerak secara aneh sekali.

“Dukkk…!”

Dia tidak terluka parah karena tenaga Thian-te Sin-ciang melindungi dirinya. Akan tetapi guncangan oleh totokan yang amat keras itu membuat napasnya seperti terhenti sehingga dia terpelanting.

“Thian Sin…!” Cian Ling berteriak, akan tetapi pemuda itu sudah bangkit kembali.

Thian Sin maklum bahwa kalau dia hanya menggunakan ilmu-ilmunya yang biasa, maka dia tidak akan mampu menang. Teringatlah dia akan ilmu peninggalan ayah kandungnya. Tidak percuma selama ini, terutama ketika berada di rumah Pak-san-kui, dia mempelajari ilmu ayahnya itu dengan tekun, terutama sekali gerakan dari Ilmu Hok-te Sin-kun.

Kini, begitu melihat kakek itu sambil tertawa-tawa menubruknya kembali sambil memutar tongkat, tiba-tiba saja Thian Sin mengeluarkan pekik melengking dan tahu-tahu tubuhnya telah berjungkir balik! Dengan gerakan yang aneh sepasang kakinya menendang-nendang menyambut tongkat, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar, dan tangan kanan yang memegang pedang menggerakkan pedang membabat kaki lawan. Dia hanya menggunakan kepala saja untuk menunjang tubuhnya yang sudah berjungkir balik.

“Ehh…?” Kakek itu terkejut sekali ketika tiba-tiba tongkatnya bertemu dua buah ‘tongkat’ lain berupa kaki pemuda itu dan merasa ada sambaran angin dahsyat yang menyerang dari bawah. Dia cepat meloncat, akan tetapi tak sempat mengelak dari hantaman tangan kiri Thian Sin.

Pemuda itu tadi mencengkeram, akan tetapi pada saat melihat lawan meloncat, lalu cepat mengubah cengkeramannya itu menjadi pukulan dengan tenaga Hok-liong Sin-ciang yang dahsyat.

“Dessssss…!”

Perut kakek itu terkena pukulan. Memang kakek itu cepat mengerahkan sinkang untuk melindungi perut, akan tetapi tenaga Hok-liong Sin-ciang itu adalah tenaga mukjijat maka tubuhnya terlempar dan terbanting roboh dengan keras sekali!

“Heiiiii…!” Saking kagetnya kakek itu berseru heran.

Akan tetapi saat dia bangkit berdiri, mukanya langsung menjadi merah saking marah dan malunya. Dia sudah terpukul roboh! Dan dia pun pernah mendengar akan ilmu-ilmu aneh dari Pangeran Ceng Han Houw, maka dia menduga bahwa ilmu jungkir balik tadi tentulah ilmu ayah pemuda itu.

“Itulah jurus peninggalan ayah kandungku, locianpwe!” Thlan Sin berkata dalam keadaan tubuhnya masih berjungkir balik, merasa gembira bahwa jurus ilmu-ilmu silat peninggalan ayahnya demikian ampuhnya sehingga dapat membuat kakek tangguh itu roboh.

“Aku belum kalah!” teriak See-thian-ong dan dia pun sudah menerjang kembali, kemudian disambungnya dengan kata-kata yang penuh getaran aneh, “Berjungkir balik seperti itu tentu membuat kepalamu pening!”

Tongkat itu telah digerakkan lagi dan kini kakek itu menyerang dengan hati-hati. Thian Sin menyambut dengan kedua kakinya dan mulailah dia melakukan ilmu silat aneh dari ayah kandungnya. Akan tetapi tiba-tiba saja kepalanya terasa pening bukan kepalang. Benarlah kata-kata kakek itu tadi, berjungkir balik seperti itu membuat kepalanya terasa pening!

Akan tetapi, dia segera teringat bahwa tidak biasa dia merasa pening apa bila memainkan Ilmu Hok-te Sin-ciang, sehingga tahulah dia bahwa kepeningan itu datang dari pengaruh ucapan kakek itu. Sebagai anak angkat sekaligus murid seorang sakti seperti Pendekar Lembah Naga, tentu saja Thian Sin sudah pernah digembleng oleh ayah angkatnya itu tentang bagaimana harus menghadapi kekuatan yang tidak wajar.

Cepat dia mengerahkan khikang-nya lantas mengeluarkan suara melengking dan segera kepeningan kepalanya itu menjadi lenyap dan dia pun dapat menyambut serangan lawan dengan baiknya, bahkan dia dapat membalas dengan serangan dari atas menggunakan dua kakinya, dibantu oleh kedua tangannya dari bawah.

Kembali kakek itu merasa terkejut. Dia dapat merasakan getaran tenaga khikang dalam lengkingan suara pemuda itu yang membuyarkan pengaruh sihirnya terhadap pemuda itu, dan kini dia kembali kewalahan menghadapi ilmu jungkir balik yang aneh itu.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara aneh seperti orang membaca doa atau mantera, sehingga dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Sin ketika melihat betapa tubuh lawannya itu perlahan-lahan lenyap! Mula-mula nampak suram-suram lalu semakin lama bayangan kakek itu menjadi semakin tipis. Sukar baginya untuk melawan bayangan yang hampir tidak nampak ini dan terpaksa dia meloncat lalu berdiri di atas kedua kakinya lagi sambil memutar pedangnya. Akan tetapi, kini bayangan lawan itu sudah tidak nampak lagi walau pun gerakannya masih terasa dan tertangkap oleh pendengarannya.

Thian Sin kaget dan berusaha mengerahkan khikang sambil membentak. Namun sia-sia belaka, kakek itu betul-betul telah menghilang dan masih terus menghujani dirinya dengan serangan. Pemuda ini berusaha mengandalkan pendengaran telinganya untuk menangkis dan mengelak, akan tetapi tetap saja tak mungkin dia dapat melawan orang yang pandai menghilang ini, yang memiliki ilmu tongkat demikian aneh dan lihainya.

Setelah berhasil mengelak dan menangkis beberapa kali akhirnya lehernya tertotok keras sekali. Sungguh pun dia sudah mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang, tetap saja dia terpelanting keras dan merasa nanar. Dia cepat mengerahkan tenaga Thi-khi I-beng untuk menjaga diri dan membalas pukulan lawan.

Akan tetapi tiba-tiba pundaknya tertotok dan ternyata yang menotoknya itu adalah tongkat yang diluncurkan dan karena tongkat itu tidak dipegang orang, maka tentu saja Thi-khi I-beng tidak dapat menyerap apa-apa dan jalan darah thian-hu-hiat tertotok dengan tepat dan keras, mengakibatkan tubuh pemuda itu menjadi lemas dan lumpuh sama sekali!

“Ha-ha-ha-ha-ha, akhirnya engkau terpaksa harus mengakui keunggulanku, orang muda!” Kakek itu tertawa dan kini kakek itu pun dapat nampak kembali oleh Thian Sin. Pemuda ini memandang dengan sinar mata penuh penasaran.

“Locianpwe telah menggunakan ilmu siluman!” katanya memprotes.

“Ha-ha-ha-ha, dan sekarang aku akan membuatmu menjadi siluman tanpa kepala!” kata kakek itu.

Dia segera memungut pedang Gin-hwa-kiam yang sudah terlepas dari tangan pemuda itu, agaknya bermaksud ingin memenggal kepala Thian Sin. Kakek ini melihat bahwa pemuda itu merupakan seorang lawan yang sangat berbahaya sehingga kelak dapat mengancam kedudukannya, maka dia mengambil keputusan untuk membunuhnya saja.

“Suhu, tahan…!” Cian Ling sudah menjerit dan gadis ini sudah menubruk tubuh Thian Sin, melindunginya dari ancaman gurunya. “Suhu tidak boleh membunuhnya!”

“Heh-heh-heh, siapa yang melarangku dan mengapa tidak boleh?”

“Suhu, dia datang untuk mengadu ilmu dengan suhu sebagai orang muda minta petunjuk, bukan sebagai musuh. Adu pibu batasnya hanyalah kalah atau menang, dia sudah kalah mengapa harus dibunuh? Dan ke dua, suhu tidak boleh membunuhnya karena aku cinta kepadanya!”

“Ho-ho-ha-ha-ha! Cintamu hanya sedalam kulit, dan apa susahnya mencari pemuda yang lebih ganteng dari pada dia? Aku membunuhnya bukan karena bermusuhan dengan dia, melainkan mengingat bahwa dia telah memberontak, pernah membikin kacau di Su-couw dan di Lok-yang. Apa bila aku membunuhnya, bukankah itu berarti kita akan memperoleh jasa telah membunuh seorang pemberontak?”

“Hemmm, See-thian-ong, harap locianpwe tidak bicara tentang pemberontakan! Siapakah yang memberontak! Antara locianpwe dan aku ada persamaan bukan? Memang aku telah menyiksa si busuk Phoa-taijin itu, orang macam dia mana ada harganya untuk dijadikan sekutu? Akhirnya malah hanya akan mencelakakan sekutu-sekutu saja. Locianpwe, kalau locianpwe, Pak-san-kui Locianpwe dan juga Lam-sin Locianpwe, bersama-sama dengan aku membantu kekuatan dari utara, bukankah kita merupakan persekutuan yang lebih kuat lagi? Mendiang kakekku, Raja Sabutai di utara juga memiliki pasukan yang kuat dan aku dapat mengumpulkan mereka kalau waktunya telah tiba. Akan tetapi, jangan mengira bahwa kata-kataku ini hanya untuk melindungi nyawaku. Kalau locianpwe memang mau membunuhku silakan, aku bukan orang yang takut mati.”

Sejenak kakek hitam tinggi besar itu tertegun. Kakek ini paling suka akan kegagahan dan kejujuran dan memang dia sudah kagum sekali terhadap kegagahan pemuda ini. Akan tetapi dia juga khawatir akan kegagahan yang kelak akan mengancam kedudukannya itu.

Tiba-tiba dia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Kekalahannya melawan pemuda itu terutama sekali karena pemuda itu memiliki ilmu jungkir balik tadi, ilmu yang dulu pernah didengarnya menjadi ilmu simpanannya mendiang Pangeran Ceng Han Houw.

“Ceng Thian Sin, di kalangan kang-ouw dikenal istilah balas membalas budi dan dendam mendendam. Kini nyawamu berada di tanganku, dan kalau sekali ini aku mengembalikan nyawamu, lalu apa yang dapat kau berikan kepadaku sebagai balasannya?”

Thian Sin adalah seorang pemuda yang cerdik sekali dan dia pun tahu bahwa kelemahan satu-satunya bagi para datuk ilmu silat seperti Pak-san-kui dan juga See-thian-ong ini, jika bukan kedudukan tinggi tentu juga ilmu silat. Akan tetapi dia masih pura-pura tidak tahu dan bertanya,

“Locianpwe, apakah yang bisa kuberikan kepada locianpwe? Harta milikku hanya pedang itu, dan beberapa macam ilmu silat yang telah dikalahkan olehmu.”

“Ha-ha-ha-ha, memang ilmu apa pun yang kau keluarkan, tidak mungkin engkau mampu menandingi See-thian-ong! Akan tetapi, di antara semua ilmu itu, aku tertarik sekali ketika melihat ilmumu berjungkir balik tadi. Nah, bagaimana kalau engkau memberi tahu padaku tentang ilmu jungkir balik itu sebagai pengganti nyawamu?”

Thian Sin menghela napas panjang. “Ilmu itu adalah peninggalan dari mendiang ayahku, Pangeran Ceng Han Houw, dan merupakan ilmu pusaka. Akan tetapi karena locianpwe dapat dikatakan orang sendiri, biarlah kuberikan kalau locianpwe hendak mempelajarinya. Bebaskan aku, dan kitab ilmu itu akan kupinjamkan kepada locianpwe.”

Girang sekali hati kakek itu. Dia bersikap memandang rendah ilmu itu padahal sebetulnya dia ingin sekali mempelajarinya. Dengan cepat tongkatnya bergerak lalu bagaikan seekor ular mematuk, ujung tongkat itu dua kali mengenai leher dan pundak Thian Sin sehingga pemuda itu seketika dapat bergerak kembali.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner