PENDEKAR SADIS : JILID-32


Tujuan pertamanya adalah mengunjungi neneknya, yaitu Sang Ratu Khamila, ibu kandung dari ayahnya. Paman dari ayahnya, yaitu Raja Agahai yang sekarang menjadi raja, adalah seseorang yang bertanggung jawab atas kematian ayah bundanya. Raja Agahai adalah salah seorang di antara musuh-musuh besarnya yang harus dibalasnya lebih dulu!

Maka tanpa merasa ragu lagi berangkatlah Thian Sin menuju ke daerah di sebelah utara Tembok Besar itu. Dia tidak mau melewati Lembah Naga, akan tetapi mengambil jalan memutar dari barat, melalui Propinsi Tibet, Ching-hai dan Kan-su. Daerah yang amat luas, melalui banyak padang pasir, pegunungan dan hutan-hutan lebat. Perjalanan yang sangat jauh dan sukar, namun ditempuhnya dengan seenaknya saja.

Di mana pun dia berada, setiap kali bertemu dengan penjahat-penjahat yang melakukan perbuatan jahat, Thian Sin tidak pernah tinggal diam. Dia tentu turun tangan dan memberi hajaran yang amat keras, bahkan amat kejam kepada para penjahat. Dia akan menyiksa, membikin cacad, membunuh secara yang amat kejam dan mengerikan kepada penjahat-penjahat yang ditemukannya dalam perjalanannya.

Oleh karena itu, maka dalam waktu sebentar saja namanya telah menjadi sangat terkenal sehingga mulai muncullah julukan Pendekar Sadis! Dan memang Thian Sin pantas sekali disebut Pendekar Sadis.

Di luarnya dia kelihatan sebagai seorang pelajar yang halus dan sopan santun. Sikapnya, gerak-gerik mau pun tutur-sapanya amat ramah-tamah, wajahnya pun amat tampan. Juga suara suling yang ditiupnya amat halus dan merdu, mudah menggugurkan hati gadis yang mana pun juga. Akan tetapi, apa bila dia sudah turun tangan terhadap penjahat, celakalah penjahat itu, karena penjahat itu akan mengalami mala petaka mengerikan, kalau tidak mati, setidaknya tentu akan cacad dan tersiksa hebat!

Pada suatu hari, tibalah Thian Sin di kota Si-ning, yaitu kota besar di Propinsi Ching-hai, setelah satu pekan lamanya dia berpesiar di Telaga Ching-hai atau yang juga dinamakan Telaga Koko Nor yang amat luas dan indah. Di telaga itu, ketika dia pesiar selama satu pekan, dia pun menghajar banyak penjahat sehingga namanya menjadi semakin terkenal.

Bahkan pada waktu dia melanjutkan perjalanan ke Si-ning, berita tentang nama Pendekar Sadis sudah mendahuluinya sehingga para penjahat dan bahkan para orang kang-ouw di daerah Si-ning sudah mendengarnya belaka. Nama itu sudah menimbulkan kegemparan! Dalam usahanya menentang para penjahat, memang Thian Sin tidak pernah mau berlaku setengah-setengah, juga dia tidak perlu menyembunyikan diri, walau pun dia jarang mau memperkenalkan nama aslinya.

Pada pagi hari itu, sesudah dia memperoleh sebuah kamar di rumah penginapan di kota Si-ning, Thian Sin lantas keluar berjalan-jalan. Seorang pemuda tampan laksana seorang siucai yang lemah lembut dan sopan. Takkan ada yang mengira bahwa pemuda tampan ini adalah Si Pendekar Sadis yang namanya membuat semua penjahat panas dingin dan juga merah mukanya saking marah dan dendamnya.

Pada waktu dia berjalan melalui sebuah gedung po-koan (bandar judi) di mana diadakan perjudian, ada sesuatu yang menarik hatinya hingga membuatnya menahan langkahnya, kini melangkah perlahan-lahan sambil memandang penuh perhatian. Biasanya Thian Sin tidak pernah mempedulikan rumah-rumah perjudian seperti itu. Dia tahu bahwa bandar-bandar judi adalah orang-orang yang selalu bermain curang, menipu uang para penjudi. Akan tetapi dia tak peduli karena kalau ada orang menjadi korban judi yang curang, maka hal itu adalah kesalahan si orang itu sendiri.

Sekarang, dia tertarik karena melihat seorang kakek yang mukanya pucat dan wajahnya membayangkan kegelisahan besar, setengah memaksa dan menarik-narik lengan seorang gadis cilik memasuki po-koan itu.

Gadis itu usianya paling banyak lima belas tahun, berwajah manis akan tetapi kelihatan ketakutan dan agaknya hendak menolak diajak masuk. Akan tetapi kakek itu membujuk dan kadang-kadang membentaknya. Dari percakapan mereka, Thian Sin bisa mendengar bahwa kakek itu adalah ayah dari si dara remaja.

Hatinya tertarik sekali dan mencium sesuatu yang tidak wajar. Maka, sesudah dua orang itu memasuki rumah perjudian, dia pun lalu menyelinap ke belakang rumah besar itu dan pada lain saat dia sudah meloncat melampaui pagar tembok di belakang rumah judi, lalu menyelinap ke dalam dengan kecepatan seperti bayangan setan saja.

“Ayah, aku takut…” Dara remaja itu berbisik ketika dia diajak ayahnya memasuki rumah perjudian itu.

“Hussshhh… tidak apa-apa, jangan takut.”

“Ayah, aku takut, biar aku pulang saja. Ahh, di sana banyak orang, semua laki-laki…”

“Siapa bilang? Ada juga wanitanya yang main judi. Eh, anakku, apakah engkau tidak mau menolong ayahmu? Kalau engkau tidak menolongku, tentu aku celaka dan segera masuk penjara…”

Sesudah dibujuk oleh ayahnya, anak perempuan itu memberanikan diri dan membiarkan dirinya digandeng ayahnya memasuki rumah di samping, bukan ruangan besar di mana berkumpul banyak orang yang sedang asyik berjudi sehingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan masuknya kakek dengan anak perempuan itu.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki muda yang kurus dan mukanya seperti tikus, matanya juling. Dia tersenyum ketika melihat kakek itu, lalu menegur, “Eh, engkau sudah kembali, A Piang? Dan dia ini… dia inikah anakmu?” Senyumnya menyeringai dan matanya makin menjuling.

“Benar, di mana cukong?” tanya A Piang kepada seorang tukang pukul rumah judi itu.

“Terus saja, dia sudah menanti di dalam kamarnya,” kata Si Juling menyeringai.

Kakek yang bernama A Piang itu lalu menarik tangan anaknya diajak ke belakang dan tak lama kemudian dia telah mengetuk pintu sebuah kamar. Di depan kamar itu terdapat dua orang yang sedang duduk berjaga-jaga dan tak peduli ketika mereka melihat bahwa yang datang adalah A Piang bersama seorang anak perempuan yang kelihatan ketakutan.

“Siapa di luar?” terdengar suara berat di dalam kamar.

“Saya… saya A Piang…,” kakek itu menjawab.

“Hemmm, sudah habis-habisan mencariku, ada apa?” tanya suara itu tanpa menyuruhnya masuk atau membuka pintu.

“Saya datang… ehh, mengantar anak perempuan saya…”

Hening sejenak. Lalu terdengar suara itu berseru kepada seorang di antara dua penjaga itu. “A Siong, bagaimana anaknya itu? Cukup berhargakah?”

Seorang di antara dua penjaga itu memandang kepada gadis itu, kemudian menjawab, “Lumayan juga, loya. Masih muda sekali!”

“Bagus. Masuklah, A Piang, kamarku tidak dikunci,” terdengar suara itu.

Sambil menarik tangan puterinya, A Piang mendorong daun pintu dan mereka memasuki sebuah kamar yang sangat besar dan mewah, kamar yang berbau asap tembakau karena hartawan pemilik rumah judi itu sedang asyik menghisap huncwe (pipa tembakau) yang mengeluarkan asap tebal.

Dia adalah seorang pria berusia kurang lebih empat puluh tahun. Bajunya yang tebal dan indah itu terbuka kancingnya karena agak panas di dalam kamar itu sehingga nampaklah kulit dadanya yang berbulu. Sepasang matanya lebar dan berkilauan, apa lagi ketika dia memandang kepada gadis itu.

“A Piang berapa banyak hutangmu kepada bandar?” Laki-laki itu bertanya, tetapi matanya terus menatap gadis itu dengan penuh perhatian.

“Empat puluh lima tail… loya…”

“Hemm, dan engkau hendak gadaikan anakmu ini untuk berapa banyak dan untuk berapa hari?”

“Tadi saya… saya sudah memberi tahu pembantu loya… saya butuh enam puluh tail… dipotong hutang dan sisanya saya hendak pakai untuk mencoba peruntungan saya lagi… dan biarlah anak saya bekerja sebagai pelayan di sini selama satu bulan…”

“Sebulan? Dan anakmu sudah mau?”

Kakek A Piang segera menoleh kepada anaknya yang menunduk. “Kui Cin… kau dengar sudah… kau tolonglah ayahmu, kau hanya sebulan bekerja di sini lalu kujemput pulang, nak. Kau dengarlah dan taati semua perintah loya ini… maukah engkau menolongku, nak? Kalau tidak, tentu ayahmu akan masuk penjara…”

Kui Cin, gadis itu, lalu mengangguk. Tentu saja dia mau menolong ayahnya. Kalau cuma bekerja sebagai pelayan, apa lagi hanya satu bulan, tentu saja dia sanggup. Sejak kecil dia sudah biasa bekerja keras. “Baiklah, ayah, asal sebulan kemudian ayah menjemputku di sini.”

“Nah, anak saya sudah mau, loya. Dia anak yang berbakti dan baik…”

“Bagus, jadi aku harus menambah lima belas tail lagi. Nih, terimalah!” Majikan rumah judi itu lalu menyerahkan sejumlah uang yang diterima dengan jari-jari menggigil oleh Kakek A Piang. “Tapi, anakmu tentu sudah tahu bahwa bekerja di sini. Dia harus mentaati semua perintahku. Dia tidak boleh membantah dan harus melakukan segala pekerjaan yang aku perintahkan. Mengerti?”

“Mengerti, loya, mengerti. Engkau akan taat, bukan, Kui Cin?”

“Baiklah, ayah. Aku akan bekerja keras di sini.”

“Nah, pergilah, dan mudah-mudahan rejekimu baik sekali ini dan bisa menang, A Piang!” kata majikan itu.

A Piang lalu menepuk pundak puterinya beberapa kali dan pergilah dia keluar dari dalam kamar itu. Daun pintu ditutupkan lagi dari luar oleh para penjaga dan A Piang yang sudah gila judi itu tidak segera membawa sisa uang itu pulang, namun langsung saja memasuki ruangan lebar di mana terkumpul banyak orang yang sedang berjudi itu.

Semenjak jaman purba sampai sekarang, perjudian merupakan semacam penyakit yang amat berbahaya bagi manusia. Ada pula yang menganggap perjudian sebagai permainan, sebagai kesenangan atau iseng-iseng saja yang sama sekali tidak membahayakan.

Akan tetapi segala macam kesenangan yang dapat menyesatkan manusia selalu dimulai dengan iseng-iseng. Dari iseng-iseng ini lambat laun lantas menjadi kebiasaan yang tidak mudah dilepaskan. Oleh karena dalam kesenangan berjudi ini terdapat permainan dengan harapan-harapan sendiri, dan ada hubungannya dengan keuntungan berupa uang secara langsung, maka besar sekali pengaruh dan kekuatannya untuk membuat orang menjadi mabok dan lupa segala.

Perjudian merupakan permainan dari pengumbaran nafsu manusia yang terbesar, yaitu nafsu tamak ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Orang yang kalah berjudi selalu akan berusaha untuk membalikkan kekalahannya itu dengan bayangan-bayangan kemenangan sebesarnya sehingga kekalahannya itu dapat diraihnya kembali. Orang yang sedang menang berjudi selalu akan berusaha untuk sebanyak mungkin bisa menambah kemenangannya itu.

Dan dalam perjudian ini, ketamakan dan kebesaran si aku dikembang biakkan menjadi sangat luas. Di antara teman baik, saling membayar makanan dalam jumlah agak besar pun akan dilakukan dengan senang hati dan rela, namun di dalam perjudian, walau pun jumlah sedikit saja sudah cukup untuk membuat kedua orang kawan baik itu menjadi cekcok dan bentrok, tidak mau saling mengalah.

Judi memupuk iri hati dan kekejaman, memperkuat dan memperbesar si aku, memupuk nafsu ingin menang sendiri. Alangkah banyaknya sudah contoh-contoh dalam kehidupan masyarakat, keluarga-keluarga yang berantakan akibat kepala keluarganya kegilaan judi. Orang-orang yang tadinya hidup jujur dan setia, dapat berubah menjadi curang dan jahat sesudah dia menjadi penjudi, tentu saja kalau dia sudah menjadi korban dan menderita kalah terus-menerus.


A Piang adalah seorang duda yang hanya mempunyai seorang anak, yaitu Kui Cin. Dia dan anaknya berdagang kecil-kecilan di pasar dan kehidupan mereka sebenarnya sudah dapat dibilang cukup, bahkan hasil perdagangan kecil-kecilan itu lebih untuk dimakan dan dipakai. Akan tetapi, celaka sekali, A Piang terpikat oleh perjudian dan beberapa bulan kemudian, dia sudah menjadi setan judi yang malas untuk bekerja lagi.

Kui Cin berusaha sebisa mungkin untuk mengingatkan ayahnya dan mengurus pekerjaan mereka. Akan tetapi kekalahan demi kekalahan menimpa diri A Piang sehingga akhirnya semua dagangannya habis di meja judi tanpa dia dapat berbelanja lagi. Perdagangan itu terhenti dan kini, perabot-perabot rumah mulai tanggal satu demi satu, sampai akhirnya rumah pun digadaikan!

Mula-mula dimulai dengan kemenangan-kemenangan kecil bagi A Piang. Dan memang demikianlah biasanya racun mulai menguasai manusia di dalam perjudian. Kemenangan merupakan pancingan beracun. Setelah merasakan enaknya kemenangan dan merasakan masuknya uang mudah, orang menjadi malas untuk bekerja, karena bekerja memeras keringat, hasilnya tidak seberapa, sedangkan menang berjudi, sambil bersenang-senang memperoleh uang yang amat mudah.

Setelah makin lama makin besar kekalahannya, makin besar pula nafsu menguasai diri A Piang untuk memperoleh kembali segala apa yang telah hilang itu, yang telah kalah. Apa pun juga akan dilakukannya agar dapat memperoleh modal berjudi lagi, karena dia selalu membayangkan dalam setiap awal perjudian bahwa sekali itu dia akan menang besar.

Namun berkali-kali hasilnya merupakan kebalikan. Dia kalah terus. Sampai akhirnya dia terlibat hutang dengan bandar judi dan mulai bingung ketika ditagih oleh tukang pukulnya karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

“Jika sudah tidak punya apa-apa lagi kenapa berani berjudi terus dan berani berhutang?” Demikian tukang pukul itu mengancamnya. “Kalau engkau tidak sanggup mengembalikan hutangmu yang empat puluh lima tail itu, engkau akan dipukuli setengah mati, kemudian dilaporkan dan dijebloskan ke dalam penjara!” Tukang pukul itu tidak segera menyiksanya karena mengingat A Piang merupakan seorang langganan lama dari rumah perjudian itu.

“Aku… aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, semua sudah kujual, bahkan rumahku yang kosong sudah kugadaikan pula…,” A Piang meratap.

“Engkau bisa pinjam dulu dari seseorang keluargamu.”

“Aku tidak mempunyai keluarga…”

“Mustahil orang tidak mempunyai keluarga!”

“Aku hanya hidup berdua dengan seorang anak perempuanku… ahh, kasihanilah aku dan berilah kesempatan…”

“Seorang anak perempuan? Berapa usianya?” Tiba-tiba tukang pukul itu tertarik.

“Empat belas… lima belas tahun.”

“Bagus, kalau begitu engkau dapat menggadaikan anakmu itu kepada cukong kita!” kata si tukang pukul mata juling itu.

Sepasang mata A Piang langsung terbelalak. “Apa?! Menggadaikan anak perempuanku? Jangan bicara sembarangan engkau!”

“Siapa yang bicara sembarangan? Engkau bisa menggadaikan anakmu itu untuk selama satu bulan, atau menyewakan dia selama sebulan kepada majikan perjudian, dan engkau bisa mendapatkan sedikit modal untuk berjudi.”

“Apa… apa maksudmu?”

“Mudah saja. Engkau menyewakan anakmu itu agar… eh, bekerja melayani majikan, dan engkau akan memperoleh uang dari majikan.”

“Melayani majikan? Menjadi pelayan? Benarkah, apakah loya mau menerima anakku itu sebagai pelayan untuk selama satu bulan? Berapa dia mau memberikan untuk itu?”

“Berapa kau butuh?”

“Hutangku empat puluh lima, kalau dia mau menambah lima belas lagi untuk modal judi, biarlah anakku bekerja sebulan di sini… anakku tentu mau menolongku, dia anak baik…”

“Kalau begitu, besok pagi-pagi bawalah anakmu itu ke sini untuk menemui loya, aku akan melaporkannya. Dan kalau berhasil, jangan lupa padaku, A Piang.”

Demikianlah awal mulanya mengapa A Piang lantas mengajak anak perempuannya pergi menemui majikan rumah perjudian itu. Semalam dia membujuk anaknya dan akhirnya Kui Cin mau juga untuk menolong ayahnya.

A Piang bukanlah seorang anak kecil. Dia sudah dapat menduga apa yang tersembunyi di balik semua itu. Akan tetapi dasar hati ayah ini telah kecanduan judi sehingga di dunia ini tidak ada apa-apa lagi yang penting kecuali berjudi mengejar kekalahannya, maka dia pun tidak begitu peduli. Bahkan sempat timbul pikiran bahwa jika anak perempuannya disuka oleh majikan rumah judi itu, tentulah dia akan enak! Siapa tahu dia malah akan diangkat menjadi kuasa rumah perjudian itu!

Memang mengerikan sekali akibat seorang yang gila judi. Dan cerita ini bukan dongeng belaka. Bahkan sudah sering terjadi ada orang rela menjual isterinya, anaknya dan siapa saja. Mau mempergunakan uang siapa saja untuk berjudi. Banyak pula yang berusaha mengelak, berusaha melepaskan kebiasaan berjudi, namun tidak dapat.

Timbul pertanyaan besar dalam benak para penjudi yang sudah melihat akan bahayanya perjudian dan ingin melepaskannya namun tidak mampu, yaitu: Bagaimanakah caranya agar terbebas dari penyakit judi ini?

Hendaknya diketahui benar bahwa kegemaran berjudi bukan datang dari luar, melainkan dari diri sendiri, dari dalam batin. Timbul karena adanya harapan dan keinginan untuk dapat memenangkan banyak uang, untuk memperoleh uang secara mudah, untuk dapat memperoleh kembali kekalahan-kekalahan yang lalu. Judi hari ini adalah kelanjutan dari judi kemarin dan yang lalu. Sekali batin telah waspada dan sadar, maka batin akan dapat membikin putus tali lingkaran setan itu. Melepaskan ingatan akan kalah dan menang.

Kalau terdapat pikiran bahwa akan berjudi sekali lagi, sekali lagi saja lalu berhenti, maka dia tidak akan dapat berhenti! Begitu melihat kepalsuannya lalu berhenti! Sampai di situ, sekarang juga, saat ini juga, dan tidak mengingatnya lagi, atau menatapnya, mengamati diri sendiri penuh kewaspadaan, maka kebiasaan itu pun akan terhentilah.

Bukan melarikan diri dari kebiasaan. Melarikan diri percuma saja karena kebiasaan itu dapat dilakukan di mana pun juga. Yang penting, terbebas dari kebiasaan ini, dengan jalan menghadapinya dengan penuh kewaspadaan, mengamatinya sehingga seluruhnya kelihatan, latar belakangnya, sebab-sebabnya.


Kui Cin adalah seorang anak perempuan yang baru berusia hampir lima belas tahun. Dia masih terlalu murni dan polos, tidak tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang amat kotor dan jahat, yang pandai menyembunyikan segala kekotorannya ditopengi kebersihan. Dia mengira bahwa tuan yang berada di dalam kamar ini telah menolong ayahnya, dan dia pun siap untuk melakukan pekerjaan betapa berat pun untuk membalas budi.

“Siapa namamu?” terdengar pria itu bertanya.

Semenjak tadi Kui Cin berdiri sambil menunduk, dan kini dia memberanikan diri menjawab lirih, “Nama saya Kui Cin, loya.”

“Coba angkat mukamu dan pandang aku.”

Kui Cin merasa malu-malu dan takut sekali. Lebih baik dia disuruh bekerja berat dari pada menerima perintah ini. Akan tetapi dia pun segera mengangkat mukanya dan memandang wajah yang bermata tajam itu. Wajah seorang lelaki yang kelihatan galak, dengan kumis melintang dan mulut tersenyum menyeringai, dan sepasang mata liar bagai menelanjangi dirinya.

“Ke sinilah kau, Kui Cin.”

Gadis itu lalu melangkah maju, kedua kakinya agak gemetar. Entah mengapa, dia seperti mendapat firasat buruk, seakan-akan merasa ada bahaya mengancamnya. Sesudah tiba dalam jarak dua meter dari orang yang duduk di atas pembaringan itu, dia pun berhenti dan menunduk.

“Majulah mendekat.”

“Di… di sini saja, loya…”

“Eh, baru diperintah mendekat saja sudah hendak membantah, ya? Apa lagi kalau disuruh melakukan pekerjaan berat!” Orang itu membentak. Kui Cin terkejut dan seperti didorong dari belakang, dia pun melangkah maju beberapa tindak sampai dia berdiri dekat di depan laki-laki itu.

“Engkau manis…!” kata orang itu sambil menyentuh dagunya.

“Ahh, loya…!” Kui Cin berkata dengan suara gemetar.

“Sayang pakaianmu agak kotor. Kui Cin, kau buka dan tanggalkan semua pakaianmu itu!”

Dara itu terbelalak dan mukanya berubah merah. Dia lalu mundur dan menggeleng-geleng kepalanya. “Tidak…! Tidak mau…!”

Orang itu melepaskan huncwenya dari mulutnya dan menggoyang-goyang huncwe sambil tersenyum. “Hemmm… Ingat, engkau harus mentaati semua perintahku. Ingatkah engkau janjimu tadi?”

“Tapi… tapi… saya akan mentaati semua perintah untuk bekerja. Pekerjaan apa pun akan saya lalukan, bukan… bukan ini…”

“Taat tetap taat, dan ini pun pekerjaan namanya. Hayo tanggalkan semua pakaianmu, ini perintah pertama!”

“Tidak…! Tidak…!”

“Hemmm, apakah engkau lebih suka melihat aku memaksamu dengan kekerasan? Ingat, engkau sudah disewakan selama sebulan. Selama satu bulan engkau adalah milikku dan engkau harus mentaati apa pun yang kuperintahkan. Tahu? Hayo ke sini dan tanggalkan seluruh pakaianmu!”

“Tidak…! Ohh, ayaaahh…!” Kui Cin lalu melarikan diri menuju ke pintu.

Akan tetapi baru saja pintu terbuka, tukang pukul tinggi besar sudah menghadangnya dan Kui Cin didorong kembali ke dalam kamar, pintu lalu ditutup dan tukang pukul itu berdiri di situ dengan sikap mengancam.

“Tutup pintunya dan jaga di luar. Anak ini minta bermain kucing-kucingan!” kata si majikan sambil tertawa dan meletakkan huncwenya di atas meja. Kemudian sambil tertawa dia maju mencoba untuk menangkap Kui Cin.

Gadis ini menjerit dan mengelak, lalu berlari ke sana-sini dalam kamar itu. Agaknya hal ini menambah kegembiraan dan gairah majikan itu, karena permainan seperti itu telah sering dilakukannya. Dia senang mengejar-ngejar sampai akhirnya, karena kamar itu tidak terlalu luas, gadis itu akan dapat ditangkapnya juga dan dia sendiri yang membuka pakaiannya satu demi satu. Menghadapi perlawanan seperti ini menambah gairahnya.

Muka Kui Cin menjadi pucat dan dia berusaha berlari terus dan mengelak dari tubrukan-tubrukan itu, membuat pengejarnya merasa makin gembira. Jeritan-jeritannya, teriakannya memanggil ayahnya tidak terdengar oleh telinga ayahnya yang sedang menghadapi meja judi dan ruangan itu pun sudah cukup bising dengan suara orang.

Hanya dua orang penjaga di luar pintu itu saja yang mendengar jeritan-jeritan kecil itu, seolah-olah suara yang sudah sering mereka dengar itu merupakan pendengaran yang mengasyikkan dan menggembirakan pula.

Biasanya, gadis yang dikejar-kejar majikan mereka itu tidak akan mampu terlampau lama mengelak terus. Mereka yang berdiri di luar pintu tentu akan segera mendengar gadis itu menjerit, lalu mendengar suara kain dirobek-robek, dan dilanjutkan dengan pendengaran suara gadis itu merintih-rintih dan menangis, berikut suara-suara lain yang menimbulkan gairah mereka.

Akan tetapi, kini jeritan-jeritan itu tiba-tiba berhenti dan mereka mengira bahwa gadis itu telah terpegang, seperti seekor tikus yang tadinya dikejar-kejar kini telah diterkam kucing yang mengejarnya. Mereka menanti, tentu akan terdengar kain robek-robek, akan tetapi, tidak terdengar hal itu, bahkan kini terdengar suara majikan mereka mengeluarkan jeritan yang mengerikan.

Dua orang tukang pukul itu terkejut sekali, mata mereka terbelalak! Di dalam kamar itu telah berdiri seorang pemuda tampan yang berpakaian seperti seorang siucai, pakaiannya indah dan rapi, rambutnya ditutup sebuah topi pelajar yang indah, ada pun tangan kirinya memegang sebatang kipas yang dipakainya mengipasi tubuhnya, dan bibirnya tersenyum.

Ketika mereka mengerling, gadis itu meringkuk di sudut kamar seperti seekor kelinci yang ketakutan, pakaiannya masih utuh akan tetapi tubuhnya menggigil ketakutan, sedangkan majikan mereka itu sudah meringkuk di atas pembaringan dalam keadaan ketakutan pula, agaknya tadi telah dilemparkan ke atas pembaringan karena orang itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang menjendol pada bagian dahinya.

Saat melihat dua orang tukang pukulnya masuk, majikan po-koan itu memperoleh kembali keberaniannya. Dia tadi terkejut bukan kepalang karena pada saat dengan hati girang dia berhasil menangkap Kui Cin, merangkulnya dan mencengkeramnya seperti seekor kucing menerkam tikus, siap untuk mencabik-cabik pakaiannya, tiba-tiba saja muncul pemuda itu. Muncul seperti iblis karena tidak tahu dari mana masuknya.

Melihat pemuda itu seorang siucai lemah, dia lalu berusaha memukul, akan tetapi sekali tampar saja, dia seperti disambar geledek dan tubuhnya terlempar ke atas pembaringan, kepalanya terbentur dinding hingga kepalanya menjadi pening. Dia terkejut, kesakitan dan ketakutan, akan tetapi begitu melihat dua orang penjaganya masuk, dia lantas berseru,

“Tangkap penjahat ini! Bunuh dia!”

Dua orang penjaga itu sudah mencabut golok masing-masing dan menubruk dari kanan kiri, mengirim bacokan serta tusukan yang dahsyat ke arah pemuda itu. Mereka adalah penjaga-penjaga pilihan yang pada pagi hari itu bertugas jaga di depan kamar majikan mereka, dan pemuda ini dapat memasuki kamar tanpa mereka ketahui.

Hal ini saja sudah membuat mereka amat penasaran dan marah, maka begitu menerima perintah, mereka hendak merobohkan pemuda itu dengan sekali serang saja. Akan tetapi, entah bagaimana mereka sendiri pun tidak mengerti, tiba-tiba saja mereka merasa kedua kaki mereka lumpuh dan tak dapat dihindarkan lagi keduanya lantas roboh terguling!

“Hemm, tukang-tukang pukul memilki tangan yang sangat kejam!” Pemuda itu mencokel dengan kakinya, maka sebatang golok yang tadi terlepas dari tangan tukang pukul segera melayang ke atas, disambarnya dengan tangan kanan, kemudian tampak cahaya berkilat beberapa kali disusul teriakan-teriakan mengerikan dari dua tukang pukul itu.

Darah pun bercucuran membasahi lantai. Kui Cin dan majikan rumah judi itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat ketika melihat betapa dua orang tukang pukul itu mengaduh-aduh dan bergulingan di atas lantai, bermandikan darah mereka sendiri yang bercucuran dari kedua lengan mereka yang sudah buntung karena tangan mereka sudah terpisah dari lengan! Pemuda itu telah membuntungi kedua tangan dua orang tukang pukul itu!

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, menghadapi majikan rumah judi sambil tersenyum, dan anehnya, golok yang membuntungi empat buah tangan tadi sama sekali tak bernoda darah! Hal ini saja sudah membuktikan alangkah hebatnya gerakan golok tadi, demikian cepatnya membuntungi pergelangan tangan! Dan kini terdengar ucapannya yang halus dan seperti orang bersajak.

“Memetik buah dari pada kejatannya sendiri, itu sudah adil namanya! Engkau ini cukong mata keranjang, entah sudah berapa banyak gadis tak berdosa yang telah kau perkosa di tempat terkutuk ini?” Dan dengan langkah perlahan pemuda itu menghampiri majikan itu yang menjadi ketakutan dan berlutut menyembah-nyembah di atas pembaringan.

“Taihiap… ampunkan saya… ampunkan saya… engkau boleh mengambil berapa banyak pun uangku, tapi jangan… jangan membunuhku…”

Dan salah seorang di antara dua tukang pukul yang tadi merintih-rintih itu tiba-tiba berseru dengan suara penuh ketakutan. “Pendekar… Pendekar Sadis…!”

Mendengar ini, majikan itu menjadi semakin ngeri ketakutan.

“Celaka, mati aku…” Tubuhnya menggigil, celananya mendadak menjadi basah.

Memang orang yang ketakutan setengah mati dapat saja terkencing seketika. Dia sudah sering mendengar tentang nama yang baru saja muncul di dunia kang-ouw ini, sebagai nama seorang pendekar pembasmi kejahatan yang kejam bukan main. Dan tadi dia telah melihat betapa orang ini membuntungi kedua tangan dua orang tukang pukulnya begitu saja, dengan darah dingin!

“Ampun… ampunkan aku…” Dia terus meratap. Akan tetapi Thian Sin, pemuda itu, hanya tersenyum.

“Betapa seringnya engkau sendiri mendengar ratapan minta ampun dari gadis-gadis yang kau perkosa, akan tetapi pernahkah engkau mengampuni mereka? Engkau malah makin bergairah dan makin senang jika mereka itu minta-minta ampun, menangis dan meronta-ronta, bukan? Nah, hukumanmu harus kau terima!”

Golok itu pun menyambar, didahului tamparan tangan kiri yang mengenai pundak majikan rumah judi itu. Tubuh majikan itu terjengkang, golok itu menyambar kemudian majikan itu menjerit, tubuhnya berkelojotan di atas pembaringan, dan dari celananya di antara kedua pahanya bercucuran darah karena alat kelaminnya telah disambar golok hingga buntung! Bagi orang ini tentu saja kecil sekali harapan untuk terus hidup.

“Kau keluarlah dari sini dan pulanglah,” Thian Sin berkata kepada gadis itu yang masih menggigil ketakutan.

Karena dua orang tukang pukul dan majikannya itu kini menjerit-jerit, dengan tenang Thian Sin melemparkan golok ke atas tanah dan keluar dari dalam kamar, tidak mempedulikan lagi gadis cilik itu. Dengan sikap tenang-tenang saja dia melangkah menuju ke ruangan judi!

Sebelum tiba di ruangan judi itu, dia sudah disambut oleh lima orang tukang pukul yang mendengar jeritan-jeritan tadi. Melihat seorang pemuda asing keluar dari dalam kamar, lima orang itu menjadi curiga dan membentak,

“Siapa engkau?! Apa yang terjadi?!”

Salah seorang di antara mereka cepat-cepat berlari ke dalam kamar di mana dia melihat majikannya berkelojotan dan dua orang rekannya merintih-rintih. Dan gadis cilik itu sudah menyelinap pergi. Maka dia pun lantas berteriak-teriak dan lari kembali sambil mencabut senjata.

“Loya telah dibunuh orang dan dua orang teman kita dilukai!” teriaknya.

“Setiap perbuatan jahat akan berakibat dan akibatnya akan menimpa diri sendiri! Mereka sudah menerima hukuman dari perbuatan mereka sendiri!” kata Thian Sin dengan suara lembut dan bibir masih tersenyum. “Apakah kalian berlima ini juga tukang-tukang pukul?”

“Bunuh penjahat ini!” teriak salah seorang di antara mereka dan lima orang tukang pukul itu sudah mencabut golok masing-masing dan serentak mereka menyerang Thian Sin.

Pemuda ini tentu saja memandang rendah kepada segala tukang pukul kasar seperti itu. Dengan tenang-tenang saja dia kemudian mengelak ke kanan kiri sehingga golok-golok itu menyambar-nyambar merupakan sinar-sinar menyilaukan, akan tetapi pada lain saat terdengarlah teriakan susul-menyusul dan lima orang tukang pukul itu pun sudah roboh semua. Sebelum mereka sempat bangun berdiri, Thian Sin sudah menyambar sebatang golok dan seperti tadi, dia menggerakkan goloknya membuntungi semua tangan mereka.

Keadaan sungguh menyeramkan. Tangan-tangan yang buntung berserakan di tempat itu dan lantai banjir darah yang bercucuran dari lengan-lengan buntung itu. Lima orang tadi merintih-rintih dan kembali ada yang sadar bahwa mereka berhadapan dengan pendekar yang namanya baru-baru ini mereka dengar.

“Pendekar Sadis…!”

“Pendekar Sadis…!”

Akan tetapi Thian Sin tidak mempedulikan itu semua, membuang goloknya dan memasuki ruang judi. Keadaan di situ segera menjadi gempar. Semua perjudian berhenti dan para tamu mau pun penjudi ketakutan, ada yang bersembunyi di kolong meja, ada yang mepet tembok dengan tubuh gemetaran. Sebentar saja Thian Sin sudah dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang pegawai rumah perjudian itu.

Thian Sin mengamuk, merampas pedang dan dengan pedang ini dia merobohkan mereka satu per satu. Ia sengaja menghukum mereka dengan membuntungi tangan, atau hidung, atau telinga. Pendeknya tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak mengalami hukuman yang mengerikan.

Dalam waktu singkat saja pertempuran sudah berhenti dan yang ada hanya orang-orang yang merintih-rintih sambil memegangi bagian tubuh mereka yang terluka atau buntung. Dengan pedang di tangan, Thian Sin memandang ke sekeliling, kemudian terdengar dia membentak halus.

“Mana yang bernama Kakek A Piang? Majulah ke sini!”

A Piang yang sejak tadi mepet pada tembok dengan tubuh gemetar, kini melangkah maju dengan kedua kaki menggigil. Sejenak Thian Sin memandang kakek ini, alisnya berkerut.

“Seorang ayah yang menjual anak sendiri untuk berjudi, sudah selayaknya kalau dibikin mampus. Akan tetapi, aku mengingat anakmu maka engkau hanya menerima hukuman agar menjadi peringatan bagimu selama hidup!”

Pedangnya lantas bergerak seperti kilat dan kakek itu menjerit lalu mendekap kepalanya sebelah kiri yang sudah tidak bertelinga lagi itu. Daun telinga kirinya terlepas dan darah mengucur deras. Thian Sin lalu melangkah ke meja judi, mengambil sekepal uang perak, memasukkannya ke dalam kantung uang yang terdapat di situ, menyerahkannya kepada A Piang dan berkata lagi,

“Bawa uang ini untuk modal bekerja dan ajaklah anakmu pindah keluar kota! Awas, kalau engkau masih berani berjudi, lain kali lehermu yang kubikin buntung!”

A Piang tidak dapat mengeluarkan suara lagi karena seluruh tubuhnya menggigil. Dengan tangan kanan menerima kantong uang dan tangan kiri mendekap telinga kirinya, ia hanya mengangguk-angguk lalu berjalan keluar.

“Semua orang boleh pergi!” kata pula Thian Sin, dan para penjudi dengan penuh rasa takut lalu berlarian keluar.

Thian Sin mengambil beberapa potong uang emas dan perak, lalu menyimpannya dalam bungkusannya sendiri sebab dia teringat bahwa bekalnya tinggal tersisa sedikit, kemudian dengan pedang rampasan itu dia menghancurkan semua alat judi yang berada di situ. Dia tidak mempedulikan betapa tukang-tukang pukul tadi dengan tertatih-tatih berlarian keluar untuk memanggil pasukan penjaga keamanan.

Ketika pasukan tiba di situ, Pendekar Sadis sudah tidak kelihatan lagi, sudah kembali ke dalam kamarnya di rumah penginapan dan mengaso. Thian Sin merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Sebetulnya dia tak mau mempedulikan rumah-rumah perjudian, atau rumah rumah pelacuran karena orang-orang yang datang berkunjung ke situ adalah orang-orang yang mencari penyakit dan tidak perlu ditolong atau dipedulikan. Akan tetapi, karena Kui Cin tadilah maka secara kebetulan saja dia mengamuk d rumah judi itu.

Perbuatan Ceng Thian Sin yang dijuluki orang Pendekar Sadis itu sungguh-sungguh telah menggemparkan seluruh kota itu. Kota Si-ning mempunyai wilayah yang luas dan menjadi pusat dari golongan liok-lim dan kang-ouw. Menjadi pusat pula dari para penjahat yang melakukan operasi di daerah Si-ning. Seperti yang terjadi di kota-kota besar lainnya, juga di Si-ning, semua rumah-rumah pelacuran, rumah-rumah perjudian serta tempat-tempat maksiat lainnya, semua dikuasai oleh para penjahat.

Biar pun rumah-rumah judi itu sudah mempunyai majikan masing-masing akan tetapi para hartawan ini membayar semacam ‘pajak’ kepada para kepala penjahat yang berkuasa dengan mendapatkan semacam ‘perlindungan’. Dan tentu saja para kepala penjahat dan para cukong ini mempunyai hubungan rapat dengan para pejabat, karena hal seperti ini menjadi pertanda akan keadaan negara yang sedang lemah.

Apa bila para penjahat dan para pejabat sudah bersekutu, dapat dibayangkan bagaimana keadaan kehidupan rakyat jelata. Tak ada lagi tempat berlindung bagi rakyat. Si pelindung berubah menjadi si penindas. Pagar makan tanaman. Satu-satunya jalan hanyalah tunduk kepada yang lebih kuat. Hukum rimba pun berlakulah. Yang punya uang mempergunakan uang untuk menyogok yang berkuasa, yang tidak punya uang mempergunakan ketaatan untuk mencari selamat. Keluh kesah ditekan dalam-dalam di dalam perut.

Perbuatan Thian Sin merupakan peristiwa besar. Baru sekarang ada kekuatan baru yang berani menentang mereka yang sedang berkuasa. Para penjahat langsung mengadakan pertemuan. Mereka tahu bahwa pemuda itu adalah pendekar baru yang mulai terkenal, yaitu Pendekar Sadis. Dan mereka tahu pula bahwa pemuda itu memasuki kota Si-ning sebagai pelancong dan kini masih beristirahat di dalam sebuah rumah penginapan kecil di sudut kota.

Ketika itu kota Si-ning dikuasai oleh lima orang kepala penjahat dan di antara mereka, yang dianggap sebagai saudara tua adalah jagoan yang terkenal lihai bernama Ji Beng Tat berjuluk Hui-to (Si Golok Terbang). Mendengar tentang peristiwa yang terjadi Hok-khi Po-koan yang termasuk sumber penghasilannya, Hui-to Ji Beng Tat marah sekali dan dia sudah mengumpulkan empat orang kawan-kawannya untuk berunding.

“Kita serbu saja ke rumah penginapan itu. Kalau kita berlima maju bersama, tak mungkin dia dapat lolos!” kata seorang di antara mereka yang bertubuh kecil dan agak bongkok, akan tetapi Si Kecil Bongkok ini sangat lihai ilmu silatnya, terutama senjata rahasianya yang berupa jarum-jarum beracun.

“Nanti dulu, kita harus berhati-hati,” kata Hui-to Ji Beng Tat. “Menurut berita yang kuterima dari daerah barat, Pendekar Sadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Bahkan kabarnya gerombolan Panji Tengkorak dari Yu-shu telah dibasmi habis olehnya. Kita harus mempergunakan siasat halus, kalau gagal barulah kita mempergunakan kekerasan.”

“Aku pernah mendengar bahwa Pendekar Sadis tidak menolak bujuk rayu wanita cantik. Bagaimana kalau kita mempergunakan Si Bunga Bwee Merah? Ang Bwe-nio tentu akan dapat menundukkan hatinya. Kalau berhasil membujuk rayunya, dan memberinya minum obat bius, tentu kita akan dapat menangkapnya dengan mudah,” kata orang ke tiga yang berwajah tampan dan matanya membayangkan sifat mata keranjang.

“Tapi Pendekar Sadis lihai sekali, aku khawatir siasat ini akan gagal,” kata orang pertama Si Kecil Bongkok.

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Ang Bwe-nio tidak mungkin gagal merayu pria. Ingat saja dua orang pendekar Siauw-lim-pai itu, mereka pun dengan mudah jatuh ke dalam rayuan Ang Bwe-nio. Jika sudah berada dalam pelukannya, pria mana yang menolak untuk menerima minuman yang dihidangkannya?” kata pula Si Tampan.

“Sebaiknya kita pun harus bersiap-siap di dekatnya dan membiarkan Ang Bwe-nio untuk mencoba kelihaiannya, sehingga kalau gagal, kita dapat langsung turun tangan,” kata Ji Beng Tat dan semua rekannya menyetujui ini.

Pemilik rumah penginapan segera dihubungi. Secara diam-diam para tamu lain di rumah penginapan itu sudah dipersilakan keluar sehingga tanpa diketahui oleh Thian Sin, dialah satu-satunya tamu yang berada di rumah penginapan itu.

Thian Sin dapat menduga bahwa perbuatannya di po-koan itu tentu akan berakibat. Dan dia pun telah siap menghadapi segala kemungkinan, bila perlu dia akan membasmi para penjahat yang berani untuk menuntut balas. Kalau malam ini tidak terjadi sesuatu, besok pagi-pagi dia akan melanjutkan perjalanannya ke utara, mencari neneknya.

Sore itu, sesudah mandi dan dilayani oleh seorang pelayan yang bersikap amat hormat, pelayan itu berkata, “Taihiap, kami semua sudah mendengar akan sepak terjang taihiap di po-koan itu. Kami semua merasa kagum sekali, bahkan majikan kami bermaksud untuk menjamu taihiap malam ini.”

“Ahhh, tidak perlulah. Aku tidak mau merepotkan orang,” jawab Thian Sin yang memang tidak suka menerima sanjungan.

Dia tahu benar bahwa sanjungan jauh lebih berbahaya dari pada celaan. Dengan celaan dia akan dapat melihat kekurangan dirinya sendiri dan bisa bersikap waspada, sebaliknya, sanjungan akan membuat orang mabuk lantas lupa akan kewaspadaan, membuat orang menjadi lengah.

Akan tetapi baru saja dia selesai berganti pakaian dan hendak keluar mencari makanan malam, tiba-tiba majikan rumah penginapan itu mengunjunginya, memberi hormat dengan membongkok-bongkok amat menghormat,

“Taihiap, kami merasa terhormat sekali bahwa rumah penginapan kami yang kecil ini telah menerima kunjungan taihiap. Seorang pendekar besar seperti taihiap telah sudi bermalam di dalam kamar rumah penginapan kami, hal itu akan menjadi reklame yang sangat baik. Oleh karena itu, perkenankanlah kami menjamu taihiap dengan sedikit arak kehormatan dan kami ingin memperkenalkan keponakan wanita kami kepada taihiap untuk melayani taihiap makan minum.”

“Ahh, membikin repot saja…,” kata Thian Sin.

Akan tetapi hatinya telah tergerak ketika tuan rumah penginapan itu sambil membungkuk-bungkuk dan tiba-tiba saja dia bertepuk tangan. Sebarisan pelayan terdiri dari lima orang membawa baki berisi masakan-masakan yang masih mengepul panas dan guci-guci arak datang dan memasuki kamar Thian Sin. Dengan sangat cekatan mereka membersihkan meja di dalam kamar itu lantas mengatur hidangan. Kemudian mereka membungkuk dan meninggalkan kamar itu. Dari luar nampaklah seorang wanita muda dan diam-diam Thian Sin terkejut.

Tidak disangkanya bahwa keponakan majikan rumah penginapan ini demikian cantiknya. Pakaiannya sederhana saja, bedaknya juga tipis-tipis, akan tetapi wanita yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu benar-benar cantik dan manis sekali. Sepasang matanya lebar dan bening, penuh daya pikat, bibirnya yang merah basah tanpa pemerah itu seperti menantang, senyumnya dikulum sehingga membuat sudut pipinya membentuk lekuk yang mungil.

Dengan langkah lemah gemulai dia menghampiri dan tersipu-sipu malu ketika pamannya, majikan rumah penginapan itu memperkenalkan.

“Taihiap, inilah keponakan saya, bernama Ang Bwe-nio dan kami semua, juga termasuk keponakan saya ini, merasa kagum kepada taihiap yang telah melakukan pekerjaan besar yang menggemparkan itu. Silakan, taihiap, biar keponakan saya yang menemani taihiap.” Setelah berkata demikian, pemilik rumah penginapan itu lalu menjura dan pergi.

Sejenak mereka hanya berdiri saling berpandangan. Thian Sin tersenyum dan wanita itu pun tersenyum dan berkata, “Taihiap, silakan makan.”

Thian Sin tersenyum dan mengangguk, lalu duduk di atas bangku menghadapi meja yang penuh hidangan itu. Ang Bwe-nio, wanita cantik itu, dengan gerakan lemah gemulai dan manis sekali lalu menuangkan arak ke dalam cawan Thian Sin.

“Silakan minum arak dan makan hidangannya, taihiap…”

“Bagaimana aku enak makan kalau engkau berdiri saja di situ, nona? Pula, sungguh tidak senang makan sendirian saja. Mari, kau temani aku makan. Duduklah, nona.”

“Ahhh, mana pantas? Aku mewakili pamanku sebagai tuan rumah…,” kata Ang Bwe-nio dengan sikap manis dan kemalu-maluan, wajahnya yang cantik manis itu berubah merah, matanya mengerling tajam dan mulutnya mengulum senyum malu-malu.

Thian Sin semakin tertarik. Memang pemuda ini berwatak romantis walau pun tidak dapat dibilang mata keranjang. Tidak sembarangan wanita dapat menarik hatinya, meski pun dia selalu awas dan suka memandang wajah yang cantik manis.

“Marilah, tidak apa-apa, nona. Bukankah di sini hanya ada kita berdua saja? Mari, kalau kau tidak mau temani aku makan minum, aku pun tidak dapat menerima suguhan ini.”

“Aih, mengapa taihiap begitu…?” Dengan gerakan manja wanita itu mendekat dan hendak mengambil cawan untuk diberikan kepada Thian Sin, akan tetapi Thian Sin memegang lengannya dan dengan lembut menariknya sehingga wanita itu terduduk di sampingnya, di atas sebuah bangku. Thian Sin lalu menuangkan secawan arak sampai penuh.

“Nah, mari kita sama-sama minum untuk perkenalan ini.”

Sambil tertawa malu-malu Ang Bwe-nio lalu mengangkat juga cawan araknya dan mereka pun minum arak bersama. Ang Bwe-nio lalu mengambilkan makanan dengan sumpitnya, dengan gerakan tangan cekatan dan manis sekali, menaruh potongan-potongan daging ke dalam mangkok di depan Thian Sin.

Pemuda ini pun tak mau kalah, mengambil daging-daging kecil lalu dimasukkan ke dalam mangkok di hadapan wanita itu. Mereka pun lalu makan minum, tanpa kata-kata, hanya kadang kala saling pandang dan Ang Bwe-nio tak pernah berhenti tersenyum malu-malu. Sedikit minyak yang terdapat pada daging mengenai bibirnya, membuat bibir itu nampak semakin segar kemerahan.

“Siapakah nama nona tadi? Kalau tidak salah dengan she Ang…”

“Namaku Ang Bwe-nio, taihiap. Dan siapakah nama taihiap? Aku hanya mendengar orang menyebut dengan julukan yang mengerikan, Pendekar Sadis…”

Thian Sin tersenyum. “Memang benarlah. Aku Pendekar Sadis, hanya sadis terhadap diri penjahat saja. Dan namaku sendiri… ahh, aku sudah melupakan nama itu. Engkau sebut saja aku Pendekar Sadis.”

“Ehh, mana bisa begitu?” Wanita itu tertawa manja.

“Nona, aku merasa heran. Mengapa pamanmu menyuruh seorang gadis sepertimu untuk menemani aku?”

“Aku… aku bukan gadis, aku… seorang janda…”

“Ahhh…!” Hati Thian Sin berdebar girang.

Tadinya dia merasa curiga terhadap sikap pemilik rumah penginapan itu. Tak sepatutnya kalau seorang gadis disuruh melayani seorang pria, seolah-olah gadis itu bukan seorang terhormat saja. Akan tetapi kalau janda, dia mengerti juga!

“Kiranya nyonya seorang janda… hemm, masih begini muda…”

“Usiaku sudah dua puluh lima tahun, taihiap. Sudah tua…”

“Siapa bilang usia sekian sudah tua? Engkau memang sungguh cantik manis!”

“Sudahlah, lelaki memang pandai merayu. Lebih baik taihiap makan, nih potongan daging pilihanku,” wanita itu dengan sikap menarik sekali sudah menyumpit sepotong daging dan mengulurkan tangannya, membawa potongan daging di ujung sumpit itu ke dekat mulut Thian Sin!

Tentu saja pemuda ini menjadi tertarik sekali, maka sambil tertawa dia menerima suapan itu, menggigit daging dari ujung sumpit Ang Bwe-nio. Dia pun membalas dan tidak lama kemudian keduanya sudah saling menyuapkan daging ke mulut masing-masing.

Sikap mereka menjadi semakin berani. Pada waktu Ang Bwe-nio menahan tangan Thian Sin yang hendak melolohnya dengan daging lagi, mereka pun saling berpegangan tangan dengan jari-jari tangan mereka saling mencengkeram.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner