PENDEKAR SADIS : JILID-35


Selir bangsa Biauw itu memandang dengan kedua matanya yang indah terbelalak penuh keheranan pada waktu melihat Thian Sin berada dalam kamar raja itu. Dia tadi menerima panggilan raja melalui dayang pelayan dan dia tidak merasa heran oleh panggilan ini.

Memang raja amat mencintanya dan sering kali dia menerima panggilan pada siang hari, tidak hanya pada malam hari saja. Akan tetapi ketika dia memasuki kamar itu dan melihat pemuda tukang sulap yang amat menarik hatinya tadi berada pula di situ, dia terkejut dan terheran-heran sehingga dia segera menahan langkahnya, merasa ragu-ragu apakah dia harus terus masuk ataukah tidak.

“Leng Ci, ke sinilah!” Raja memanggilnya, akan tetapi suara raja begitu kakunya sehingga membuat wanita Biauw yang bernama Leng Ci itu terkejut dan ketakutan.

Ia melangkah maju sambil memandang wajah raja dengan penuh keheranan. Melihat raja marah, dia pun langsung menjatuhkan diri berlutut dengan penuh hormat, apa lagi di situ terdapat orang luar. Kalau sedang berdua saja, tentu dia tidak banyak melakukan upacara penghormatan ini, melainkan langsung merangkul dan merayu raja untuk menghibur hati raja yang agaknya sedang dalam keadaan gundah.

“Leng Ci, apakah engkau sudah merasa akan kesalahanmu?” Tiba-tiba raja bertanya dan wanita itu menjadi makin terkejut.

Leng Ci mengangkat muka dan memandang wajah raja. Tubuhnya gemetar dan suaranya juga gagap ketika dia menjawab dengan pertanyaan pula, “Apa… apa… maksud Paduka? Hamba tidak mengerti…”

Raja telah bangkit dari kursinya dengan marah, akan tetapi Thian Sin yang duduk di kursi lainnya segera bangkit dan berkata halus, “Ingat, Sri baginda, harap tenang. Perkenankan hamba yang bertanya. Ingatlah bahwa dia sedang tidak dalam keadaan wajar melainkan dikuasai oleh pengaruh jahat.”

Sebelumnya tadi memang Thian Sin sempat memberi tahukan raja bahwa wanita itu pun berada di bawah pengaruh kekuasaan koksu yang mempergunakan ilmu hitam, sehingga wanita itu tidak sadar apa yang dilakukannya! Tentu saja semua ini adalah karangannya sendiri saja.

Sebetulnya, dalam keadaan berdesakan panik tadi, pada waktu mencubit pinggul Leng Ci Thian Sin telah mempergunakan kepandaiannya untuk mencuri peniti burung hong merah itu tanpa diketahui oleh pemiliknya. Kemudian ketika dia mencegah koksu mendekati bayi, dia pun berhasil memindahkan peniti itu ke dalam saku baju Sang Koksu tanpa diketahui oleh orang itu pula.

Raja menghela napas panjang. “Baiklah… baiklah…”

Thian Sin kini menghadapi Leng Ci yang masih berlutut. Wanita itu mengangkat muka memandang kepadanya dan betapa herannya melihat pemuda itu tersenyum, kemudian mengejapkan sebelah mata kepadanya! Pemuda itu sungguh berani sekali, akan tetapi karena ketika itu berdiri membelakangi raja, tentu saja Agahai tidak melihat perbuatan ini. Sedangkan Leng Ci menduga-duga apa yang sedang terjadi dan mengapa pula pemuda itu berani bersikap demikian kepadanya.

“Nyonya,” Thian Sin mulai berbicara dengan suara halus, akan tetapi dari nada suaranya terdengar sungguh-sungguh, “apakah nyonya kenal dengan benda ini?” tanyanya sambil membuka tangan kanan, memperlihatkan peniti yang tadi diterimanya dari raja.

Leng Ci memandang benda itu, kemudian tangan kirinya tiba-tiba meraba dada. “Aihhh… bagaimana bisa berada di situ…? Itu… itu penitiku…”

“Nah, peniti bajumu ini tadi terdapat oleh Sri Baginda berada di dalam saku baju koksu, nyonya.”

Wajah Ceng Li menjadi pucat seketika dan matanya terbelalak tidak percaya. “Ah, mana mungkin…?”

“Kenyataannya demikian, masih mau mungkir?!” Tiba-tiba Raja Agahai membentak dan wanita itu menjadi semakin ketakutan.

“Hamba… hamba tidak tahu…”

“Nyonya, jangan takut. Mengakulah saja.” Sambil berkata begini, Thian Sin mencurahkan padang matanya yang mengandung penuh kekuatan sihir kepada wajah yang cantik itu. “Engkau disuruh oleh Koksu Torgan supaya membakar kertas jimat hu di bawah ayunan Sang Pangeran, benar tidak?”

Leng Ci menundukkan mukanya dan mengangguk sambil menjawab lirih, “Benar…”

Raja Agahai mengepal tinju, akan tetapi diam saja dan mendengarkan terus.

“Kemudian, di dalam pesta dia menyuruhmu memberikan peniti kepadanya sebagai tanda bahwa engkau telah berhasil melakukan perintah itu, bukan? Benar tidak?”

“Be… benar…”

“Engkau mau melakukannya karena engkau dibujuknya, dan karena engkau pun merasa iri dengan lahirnya seorang pangeran dari isteri raja yang lain. Engkau mau melakukan hal ini karena engkau tidak menyangka buruk terhadap niat Koksu, bukan? Dia mengatakan bahwa jika engkau menuruti perintahnya, engkau kelak akan bisa mempunyai keturunan. Benar tidak?”

“Benar…”

Thian Sin menghadapi raja. “Nah, Paduka telah mendengar sendiri. Memang selir Paduka ini sudah bersalah, tapi dia bertindak bukan atas kehendak sendiri melainkan tepengaruh sihir. Koksu yang bersalah, karenanya dia patut diberi hukuman yang berat!”

“Dia harus dihukum, sekarang juga!” teriak Raja Agahai dengah penuh kemarahan.

“Akan tetapi, hamba harap Paduka mengampuni isteri Paduka yang melakukan hal itu di luar kesadarannya. Bahkan sampai sekarang pun dia masih berada dalam cengkeraman kekuatan sihir dari Koksu. Kalau Paduka tidak percaya, cobalah Paduka pandang dengan teliti, bukankah ada bayangan Koksu di atas kepalanya?”

Raja Agahai memandang kepada selirnya yang tercinta itu dan dia pun terbelalak. Tanpa diketahuinya, Thian Sin telah mengerahkan kekuatan sihirnya dan kini raja itu melihat ada bayangan di atas kepala selirnya. Bayangan koksu Torgan! Maka dia mengangguk-angguk dan menjadi semakin marah kepada koksu, juga merasa seram.

“Lalu bagaimana baiknya? Apa yang harus kami lakukan terhadap dirinya agar ia terlepas dari cengkeraman kekuasaan itu.”

“Hamba sanggup mengobatinya seperti hamba mengobati Sang Pangeran. Akan tetapi, melawan iblis lebih ringan dari pada melawan koksu. Dia akan melawan sekuatnya untuk membebaskan sang puteri. Oleh karena itu perkenankan hamba mengobatinya di dalam kamar tertutup selama sehari semalam.”

“Baik, bawalah dia ke kamarmu yang akan kami sediakan, dan obatilah sampai sembuh. Kalau dia sudah sembuh, barulah kami akan memutuskan, apa yang harus kami lakukan untuknya.”

Raja Agahai sendiri merasa bimbang apakah dia harus menjatuhkan hukuman terhadap selirnya itu. Selir itu paling cantik dan paling menggairahkan, dia masih sayang padanya, apa lagi keterangan Thian Sin menimbulkan keraguan hatinya.

Raja mengutus dayang untuk mengantarkan Thian ke dalam sebuah kamar tamu terbaik di dalam istana. Dan ketika Thian Sin menggandeng lengan selir itu, sang selir bangkit berdiri dan ikut dengan pemuda itu seperti boneka berjalan karena wanita itu sendirl juga masih bingung dengan peristiwa yang telah menimpa dirinya sehingga terjadi hal-hal yang dianggapnya amat aneh itu.

Raja Agahai lalu memanggil semua pembantunya. Para menteri dan panglima berkumpul dan di dalam persidangan ini, Raja Agahai mengumumkan hukuman mati kepada Koksu Torgan. Tentu saja para pembesar itu, kecuali Menteri Abigan dan para rekannya, terkejut bukan main.

Mereka semua masih belum mengerti mengapa koksu ditangkap atas perintah raja sendiri di dalam pesta itu, dan kini malah raja memutuskan hukuman mati terhadap koksu! Tentu saja sebagian di antara para teman Torgan merasa amat terkejut dan penasaran. Mereka semua tahu bahwa Torgan adalah seorang yang amat setia terhadap Raja Agahai serta menjadi pembantu terbaik dan terpercaya.

Tentu saja beberapa orang pembesar segera mengajukan protes dan pertanyaan, kenapa dijatuhkan hukuman mati kepada koksu. Raja Agahai kemudian berkata,

“Kalian semua telah melihat betapa putera kami telah mengalami gangguan roh jahat yang hampir saja menewaskannya. Untung ada pemuda sakti itu yang menyelamatkan jiwanya. Dan tahukah kalian siapa yang melakukan perbuatan jahat itu? Bukan lain adalah Koksu Torgan!”

“Ahhhh…!” Semua pembesar terkejut, bahkan Menteri Abigan sendiri terheran-heran dan kagum bukan main terhadap cucu Puteri Khamila itu, bagaimana siasatnya dapat berhasil sejauh ini.

“Ampun, Sri Baginda. Harap Paduka suka memeriksa dengan seksama sebelum Paduka menjatuhkan keputusan. Siapa tahu ini hanya fitnah belaka,” kata mereka.

“Hemm, kami sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Ada bukti dan ada saksi. Torgan telah berkhianat dan bermaksud memberontak. Dia sudah menggunakan sihir menguasai seorang di antara isteri kami, lalu membakar jimat di bawah ayunan pangeran dan sampai sekarang pun isteri kami itu masih di dalam kekuasaan sihirnya dan sedang diobati oleh Hauw Lam.”

Perintah raja tak dapat dibantah lagi dan hari itu juga, Torgan menerima hukuman penggal kepala. Seperti biasa, kepalanya dipancangkan di tempat umum untuk menjadi peringatan bagi mereka yang berhati bengkok, yaitu mereka yang ingin menentang kekuasaan raja…..

********************

Sementara itu, setelah membawa selir bangsa Biauw yang bernama Leng Ci itu ke dalam sebuah kamar tamu mewah yang diperuntukkan baginya, Thian Sin segera menutup dan memalang daun pintu kamar, kemudian dia pun melepaskan kekuatan sihirnya atas diri wanita itu.

Wanita itu tersadar dan terkejut sekali mendapatkan dirinya berada di dalam kamar tamu, dan wajahnya menjadi merah sekali ketika dia melihat Thian Sin berada di situ, duduk dan memandang kepadanya. Meski pun wanita itu merasa jantungnya berdebar dan mukanya merah, akan tetapi bukan karena marah, sungguh pun dia mengambil sikap seperti orang marah.

“Kenapa aku berada di sini? Biarkan aku keluar!” Ucapannya ini dengan nada membentak dan marah.

Thian Sin tersenyum. “Mau keluar? Silakan. Sri Baginda telah menanti untuk menjatuhkan hukuman berat padamu. Lupakah engkau bahwa perhiasan pakaian dalammu berada di dalam saku baju Koksu?”

Mendengar ini, teringatlah Leng Ci akan segala persoalan yang menimpa dirinya, maka mukanya menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda itu. “Ahh… apa yang terjadi? Bagaimana mungkin hal itu telah terjadi?”

“Koksu menguasaimu dengan sihir sehingga engkau membantu Koksu untuk membunuh pangeran. Dan engkau telah mengakui semua hal itu kepada Sri Baginda tadi.”

Muka itu semakin pucat. “Ahh, mana mungkin begitu? Aku… aku tidak pernah membantu Koksu, aku tidak pernah melakukan hal itu…”

“Karena engkau tidak sadar, berada di bawah kekuasaan sihir Koksu. Engkau tadi sudah mengakui semua hal kepada Sri Baginda maka sudah semestinya kalau engkau dihukum berat, mungkin hukuman mati.”

“Ahhh…!” Wanita cantik itu nampak ketakutan sekali. “Tapi… tapi mengapa aku berada di kamar ini bersamamu…?”

“Aku sudah menyelamatkanmu dari hukuman mati. Aku yang minta kepada Sri Baginda agar engkau tidak dihukum karena engkau hanya diperalat oleh Koksu. Aku menyanggupi Sri Baginda untuk membebaskan engkau dari pengaruh sihir itu, dan kini engkau sudah terbebas dan engkau sudah teringat dan sadar kembali. Kalau tidak ada aku, Nona Leng Ci, engkau sekarang tentu telah menjadi setan tanpa kepala.”

“Aihhh…” Leng Ci menggerakkan tangannya sehingga otomatis tangannya itu memegang lehernya. Sepasang mata yang indah itu memandang kepada Thian Sin, rasa takut dan ngeri masih membayangi mukanya dan dengan suara mengandung rasa takut ia berkata, “Ahh, kalau begitu… engkau sudah menyelamatkan nyawaku… tetapi… tetapi bagaimana selanjutnya? Apakah Sri Baginda mau mengampuniku…?”

Thian Sin tersenyum. “Aku yang menanggung, engkau takkan diganggu oleh Sri Baginda. Akan tetapi, sesudah aku menolongmu dan sekarang aku menjamin keselamatanmu, lalu imbalan atau hadiah apa yang hendak kau berikan kepadaku?”

Wanita itu segera melangkah maju menghampiri. Wajahnya serius sekali. Hal ini adalah menyangkut kehidupannya dan keselamatannya. Sesudah dia teringat akan segala yang telah terjadi, maka harapan satu-satunya ia gantungkan kepada pemuda ini yang agaknya dapat mempengaruhi raja dan menjadi satu-satunya orang yang mampu menyelamatkan dirinya.

“Kongcu… tolonglah saya… imbalan apa saja yang kongcu kehendaki, pasti akan saya berikan! Perhiasan? Akan saya serahkan semua milik saya.”

Thian Sin tersenyum. “Perhiasan? Agaknya aku bisa memperoleh yang lebih banyak dari raja. Tidak, nona manis, aku tidak butuh perhiasan.”

“Lalu apa lagi yang dapat kuserahkan? Aku tidak punya apa-apa lagi…!” Leng Ci berkata dengan bingung dan rasa khawatirnya bertambah.

Thian Sin tersenyum, girang hatinya melihat wanita itu dicekam ketakutan hebat.

“Nona Leng Ci, pada saat belum terjadi sesuatu dan aku diperkenalkan kepada raja, aku melihat sinar matamu ketika memandangku dan gerak bibirmu saat tersenyum kepadaku. Kemudian, ketika aku meraba dan membelai pinggulmu, engkau sama sekali tidak marah atau berteriak, apakah artinya semua itu?”

Menerima pertanyaan seperti ini, pertanyaan yang langsung menyerang perasaan hatinya, seketika wajah yang tadinya pucat itu kini berubah merah sekali. Sesaat dia lupa akan rasa takutnya dan dengan sikap menarik sekali dia cemberut, matanya mengerling penuh tantangan mesra, ada pun bibirnya memperlihatkan ejekan-ejekan yang membuat bibir itu tampak makin menggairahkan, lalu katanya lirih, “Habis, engkau mengartikan bagaimana? Aku tidak tahu…”

“Bukankah itu berarti bahwa engkau tertarik kepadaku? Bahwa kalau aku yang juga amat tertarik dan jatuh cinta padamu mengulurkan tangan kepadamu lantas mengajakmu saling menumpahkan kasih sayang dan bermain cinta, maka engkau akan menerimanya dengan hati girang?”

Menghadapi kata-kata yang luar biasa beraninya itu, dan membuka segala-galanya tanpa pura-pura lagi itu, Leng Ci cepat menundukkan mukanya karena dia merasa malu sekali. Malu bercampur tegang karena memang harus diakuinya bahwa dia amat tertarik kepada pemuda tampan yang amat pandai mengambil hati orang ini.

“Ihhhh… siapa jatuh cinta…?” Hanya ini yang dapat diucapkannya sambil tunduk dan dari bawah, kedua matanya mengerling demikian tajamnya melebihi sepasang pedang pusaka yang langsung menembus jantung Thian Sin.

“Nona Leng Ci, kalau saya menolong nona, menyelamatkan nona dari ancaman hukuman mati, dan sekarang akan melindungi nona dari raja, hal itu bukan sekali-kali karena saya mengharapkan balasan. Melainkan karena saya memang tertarik dan jatuh cinta kepada nona yang sangat cantik menarik ini. Tentu saja ada harapan di dalam hati ini agar nona juga dapat membuka perasaan hati nona yang kalau saya tidak salah taksir, juga tertarik kepada saya. Nah, sekarang bagaimana? Maukah engkau menyambut uluran tanganku ini? Akan tetapi, penyambutan yang suka rela, dengan sepenuh perasaan, bukan karena terpaksa, dan bukan pula karena hanya sekedar membalas jasa…” Sambil menghentikan kata-katanya dan menatap dengan sinar mata penuh ajakan, Thian Sin mengembangkan kedua lengannya ke depan, ke arah wanita itu.

Biar pun wajahnya merah sekali dan kepalanya masih ditundukkan, malu sekali dan tidak dibuat-buat, akan tetapi Leng Ci melangkah maju dan masuk ke dalam pelukan Thian Sin, membiarkan dua lengan itu melingkari tubuhnya dan dia pun tak menolak ketika pemuda itu menariknya sehingga dia terduduk di atas pangkuan pemuda itu.

“Engkau senang begini?” tanya Thian Sin. “Bukan hanya untuk membalas budi?”

Wanita itu tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mesra, akan tetapi tubuhnya gemetar dan dia pun berkata, “Tapi… tapi… Sri Baginda…”

Thian Sin melepaskan rangkulannya dan menurunkan wanita itu, lalu bangkit berdiri.

“Ahh, kiranya dalam keadaan begini pun engkau masih teringat kepada Sri Baginda? Jadi engkau mencinta raja dan tidak mau mengkhianatinya?”

“Bukan… bukan, kongcu! Siapa mencinta tua bangka itu? Dia memaksaku menjadi selir, sesudah pasukannya membasmi perkampungan kami, bahkan orang tuaku tewas dalam serbuan itu. Aku lalu dipaksanya menjadi selir, dan hanya untuk menyelamatkan diri serta untuk menikmati kehidupan mulia dan mewah saja aku bersikap manis kepadanya. Siapa sih yang sudi berdekatan dengan tua bangka mata keranjang itu? Akan tetapi… tadi aku teringat dia karena takut. Bagaimana kalau dia mengetahui hubungan kita?”

“Aku tertarik dan suka padamu, dan aku berani menempuh bahaya untuk mendapatkan cintamu. Kalau engkau takut, kembalilah sana kepada raja!”

“Tidak… tidak, kongcu… ahh, tentu saja aku lebih suka padamu. Kalau memang engkau mau melindungiku, aku akan mentaati segala kehendakmu, biarlah mati hidup aku selalu bersamamu.” Wanita itu menubruk dan merangkulnya.

Melihat wanita ini telah menjadi jinak, Thian Sin tersenyum. “Bagus! Nah, mulai sekarang ini, engkau harus taat kepadaku, mengerti?”

Wanita cantik itu mengangguk dan menahan isaknya pada saat Thian Sin mendekap dan menciumnya, bahkan membalas peluk cium itu dengan hangat. Thian Sin memondongnya dan segera keduanya tenggelam di dalam buaian natsu birahi yang amat panas.

Sejak pergi meninggalkan So Cian Ling, wanita terakhir yang menjadi kekasihnya, sudah lebih dari setengah tahun Than Sin sama sekali tak pernah berdekatan atau berhubungan dengan wanita. Selama berbulan-bulan dia menggembleng diri bertapa dan memperdalam ilmunya sambil menahan nafsunya.

Sedangkan Leng Ci adalah seorang wanita muda yang selama ini harus melayani seorang pria tua yang sesungguhnya dibencinya dan baru sekarang selama hidupnya dia bertemu dan berhubungan dengan seorang pria muda tampan yang menarik hatinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apa bila pertemuan antara mereka tak ubahnya seperti seekor ikan kekeringan bertemu dengan air danau yang segar, di mana ikan itu dapat berenang sepuasnya.

Dengan dalih ‘mengobati’ Leng Ci, maka Thian Sin dapat bersenang-senang sepuasnya dengan wanita itu, bahkan Raja Agahai sendiri tak berani mengganggunya. Raja itu hanya dapat bertanya dari luar pintu saja bila mana menanyakan keadaan selirnya tercinta.

“Sedikit lagi Sri Baginda,” Thian Sin menjawab dari dalam kamar. “Harap Paduka bersabar dan jangan diganggu…”

“Tapi, Torgan telah dihukum mati. Bagaimana dia dapat mengganggu lagi?” bantah Sang Raja yang sudah merasa rindu kepada selirnya itu.

“Justru itulah!” jawab Thian Sin cepat, “Rohnya yang jahat itu sedang membalas dendam dan hendak mempertahankan pengaruhnya atas diri selir Paduka.”

Dengan alasan ini, Thian Sin dapat berdiam berdua saja dengan wanita itu, bahkan para dayang yang melayani mereka, yang mengantar makan minum dan sebagainya, hanya dibolehkan sampai di pintu saja dan tidak terus masuk. Mereka itu hanya dapat melihat selir raja itu rebah terlentang di balik kelambu!

Tentu saja semua ini hanyalah permainan Thian Sin yang dibantu oleh Leng Ci. Sekarang wanita itu sepenuhnya berpihak kepadanya, amat tunduk dan taat karena memang wanita itu sudah betul-betul jatuh cinta kepada Thian Sin. Dan pada waktu malamnya, Thian Sin meninggalkan Leng Ci di dalam kamar, menyuruh wanita itu mengunci semua pintu dan jendela.

Dia sendiri keluar melalui jendela untuk mengadakan pertemuan dengan Menteri Abigan dan rekan-rekannya yang menyiapkan segala untuk kepentingan rencana pemberontakan mereka menentang Raja Agahai. Dengan cerdiknya, Menteri Abigan mulai menyadarkan para panglima serta pembesar akan kelaliman Agahai, juga mulai memindah-mindahkan tugas penjagaan melalui beberapa orang panglima yang berpihak kepada komplotan ini sehingga pada saat yang telah direncanakan, para pengawal yang menjaga istana adalah sebagian besar orang-orang mereka!

Tiga hari kemudian, setelah rencana mereka matang, Thian Sin memberi tahu kepada para dayang di luar pintu agar mereka memberi tahu kepada Raja Agahai bahwa dia kini sudah siap menerima kunjungan raja dan bahwa selir raja itu sudah sembuh sama sekali.

Tentu saja berita ini amat menggirangkan hati Raja Agahai yang pada pagi hari itu sudah mulai kehabisan kesabarannya menanti-nanti. Betapa pun juga, di dalam hatinya ada rasa cemburu mengingat betapa selirnya yang tercinta, yang cantik jelita dan manis itu, sudah berada di dalam kamar berdua saja dengan tukang sulap muda dan tampan itu selama dua malam tiga hari. Maka, begitu mendengar berita dari para dayang, Raja Agahai cepat bergegas mendatangi kamar itu dan mengetuk pintu kamar.

Karena keinginan tahu yang sangat besar, ditambah dengan rasa rindu terhadap selirnya, maka Raja Agahai menjadi lengah dan langsung dia setengah berlari menuju ke kamar tamu itu tanpa minta perlindungan para pengawal pribadinya. Dia sudah tidak sabar lagi, selain ingin segera melihat dan mengetahui keadaan kekasihnya, juga ingin segera dapat memeluknya kembali.

“Silakan masuk!” terdengar suara Thian Sin, “Daun pintu tidak terkunci.”

Raja Agahai mendorong daun pintu lantas memasuki kamar itu, sedangkan para dayang yang duduk di luar pintu sudah menjatuhkan diri berlutut ketika raja itu muncul.

Ketika Raja Agahai memasuki kamar itu dan daun pintu kamar ditariknya tertutup kembali, dan dia lalu melangkah maju menembus tirai sutera hijau itu, dia melihat sesuatu di dalam cuaca remang-remang dalam kamar, sesuatu yang membuat dia terbelalak dan langkah kakinya seketika terhenti.

Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu, maka digosok-gosoknya matanya dan dia kini kembali melangkah maju menghampiri untuk bisa melihat lebih jelas lagi. Akan tetapi, penglihatan matanya tidak berubah, masih tetap seperti tadi, yaitu Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan selirnya, Leng Ci yang cantik jelita dan manis, selirnya yang tercinta itu, dengan pakaian dalam yang tipis dan kusut, seperti juga rambutnya, tengah duduk di atas pangkuan pemuda itu!

Seperti seekor kucing manja, wanita itu duduk di atas pangkuan, bergantung kepada leher pemuda itu dengan sepasang lengannya yang berkulit halus, mengangkat mukanya dekat dengan muka pemuda itu dan memandang penuh kemesraan! Dan Thian Sin seolah-olah tidak melihat kedatangan raja itu, kemudian menunduk dan pada lain saat keduanya telah berciuman dengan mesra sekali.

Raja itu melihat betapa kedua lengan selirnya merangkul makin ketat. Mereka berciuman lama sekali dan Thian Sin baru menghentikan ciumannya setelah mendengar sang Raja membentak.

“Keparat! Apa artinya ini?” Raja Agahai yang tadinya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Thian Sin yang dianggap sebagai penyelamat puteranya dan pembongkar rahasia pengkhianatan Torgan, kini masih merasa ragu. Siapa tahu apa yang dilakukan pemuda itu adalah dalam rangka pengobatan dan penyembuhan selirnya!

Thian Sin mengangkat muka memandang, lalu tersenyum mengejek. Leng Ci yang masih duduk di atas pangkuan pemuda itu dan masih merangkul lehernya, juga menengok dan Sang Raja langsung terheran. Belum pernah dia melihat selirnya itu berwajah sedemikian cantiknya, dengan sepasang mata yang redup dan sayu, entah karena sedang kehausan ataukah terlalu puas, akan tetapi sepenuhnya selirnya itu membayangkan seorang wanita yang sedang dalam puncak birahi.

Thian Sin mengecup bibir Leng Ci lalu berkata, “Manis, si tua bangka ini telah datang, kau istirahatlah dulu, dan lihat apa yang akan kulakukan padanya.”

Leng Ci tersenyum dan mengangguk, lalu turun dari atas pangkuan dan duduk di tengah-tengah pembaringan. Baju dalamnya tersingkap hingga nampak bukit buah dadanya yang biasanya sangat dikagumi oleh Raja Agahai. Akan tetapi, kini wajah Agahai telah berubah sebentar pucat dan sebentar merah saking terkejut dan marahnya sesudah mendengar ucapan Thian Sin tadi.

“Hauw Lam! Apa artinya ini?” Kembali dia membentak.

Thian Sin turun dari pembaringan dan melangkah maju dengan sikap tenang akan tetapi mulutnya tersenyum mengejek dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mencorong yang menakutkan Sang Raja.

“Artinya, Agahai, sudah jelas. Yaitu bahwa Leng Ci sudah menjadi kekasihku, bahwa kini tibalah saat terakhir dari kejayaan dan kelalimanmu. Selama ini engkau sudah buta, tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!”

Mendengar kata-kata kasar dan melihat sikap yang sama sekali berubah ini Raja Agahai terkejut bukan main. Dia memandang dengan mata terbelalak.

“Apa artinya ini…? Siapa… siapa engkau…?”

“Hemmm, raja lalim, manusia jahat dan busuk, engkau sungguh tolol. Si Torgan itu lebih cerdik, akan tetapi dia telah kau hukum mati. Ha-ha-ha, sungguh engkau manusia yang paling busuk di dunia ini. Selirmu Leng Ci sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Torgan, melainkan dengan aku, menjadi kekasihku. Dan Torgan tidak pernah berbuat apa pun terhadap anakmu. Akulah yang telah membuat anakmu sakit dan melemparkan fitnah kepada Torgan. Mengertikah engkau sekarang, Agahai?”

Tentu saja Raja Agahai menjadi terkejut dan marah bukan main. “Tapi… mengapa? Apa yang terjadi?” Raja itu berteriak bingung.

“Kepadamu aku pernah mengaku bernama Hauw Lam dan memang aku adalah seorang hauw-lam (putera berbakti). Dahulu, pernah aku datang mengunjungi tempat ini, sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun dan ketika itu namaku adalah Ceng Thian Sin…”

Raja Agahai undur selangkah. “Apa…?! Kau… kau Ceng… Ceng Thian Sin…!”

“Ha-ha-ha, baru engkau teringat sekarang?”

“Thian Sin! Engkau… cucu keponakanku sendiri…!”

“Tak perlu kau bersandiwara lagi, Agahai. Ayah bundaku tewas karena pengeroyokan, dan engkau juga memegang peran dalam pembunuhan itu. Engkau mengirim pasukan pilihan untuk ikut mengeroyoknya. Engkau berhutang nyawa ayah bundaku!”

Mendengar ucapan ini, Raja Agahai baru sadar bahwa dirinya terancam bahaya. Cepat dia membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Sin telah berdiri di depannya, menghadang antara dia dan pintu. Marahlah Agahai. Betapa pun juga, dia bukanlah seorang pria lemah. Dicabutnya pedang dari pinggangnya.

“Pengkhianat busuk!” bentaknya dan pedangnya menyambar.

Akan tetapi, dengan tenang saja Thian Sin menggerakkan tangannya menyambut pedang itu, mencengkeram pedang dengan tangan kirinya.

“Kraakkk!”

Pedang itu pun patah-patah, seolah-olah terbuat dari pada benda yang lunak saja. Agahai memandang dengan mata terbelalak dan kini wajahnya menjadi benar-benar pucat.

“Pengawal…!” teriaknya dengan suara lantang memanggil para pengawal pribadinya.

Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Sunyi saja di luar kamar itu, hanya terdengar suara beradunya senjata agak jauh dari situ, dan suara hiruk-pikuk orang berkelahi.

Thian Sin tersenyum. “Semua pengawal serta pembantumu pada saat ini sedang diserbu dan dibasmi. Engkau harus berhadapan dengan aku tanpa bantuan siapa pun!”

Raja Agahai menjadi amat ketakutan dan karena ingin meloloskan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan suara bagai seekor srigala kelaparan, dia meloncat dan menerkam pemuda itu dengan kedua tangan menyerang dari kanan kiri.

“Plakkk!”

Thian Sin menampar, tidak mengerahkan tenaga terlalu besar hingga raja itu terpelanting, pipi kanannya bengkak dan membiru. Sejenak Agahai nanar dan matanya liar, bagaikan mata seekor harimau yang sedang tersudut. Thian Sin berdiri dengan bertolak pinggang, menghadang di depan pintu, tersenyum, namun senyuman yang mengandung kebencian mengerikan.

Agahai sudah bangkit kembali lantas mundur-mundur, seperti hendak melakukan ancang-ancang untuk menyerang lagi. Akan tetapi, raja yang cerdik dan licik ini tiba-tiba meloncat ke belakang, ke arah pembaringan! Thian Sin kaget bukan main, akan tetapi Raja Agahai telah dapat menerkam tubuh Leng Ci, menarik dan mencekik leher wanita itu.

“Kalau kau maju, akan kupatahkan batang lehernya!” Dia mengancam kepada Thian Sin, sedangkan Leng Ci meronta-ronta tidak berdaya. “Hayo buka pintu dan minggir, biarkan aku lewat!”

Diam-diam Thian Sin kagum juga akan kecerdikan raja itu, akan tetapi tiba-tiba saja dia tertawa. Suara tawanya demikian mengerikan dan aneh sebab memang dia mengerahkan tenaga khikang dalam suaranya.

Raja Agahai memandang dengan heran dan merasa aneh, namun inilah kesalahannya. Begitu dia memandang dengan perasaan tertarik, dia sudah terperangkap dan berada di dalam pengaruh kekuasaan ilmu sihir yang dikerahkan pemuda itu.

“Ha-ha-ha, Agahai, apakah engkau sudah gila? Lihat baik-baik apa yang kau cengkeram itu? Yang kau cekik hanya sebuah bantal!”

Agahai terkejut, kemudian dia cepat memandang kepada Leng Ci yang tadi diringkus dan dicekiknya. Dan hampir saja dia berteriak kaget serta penuh kekecewaan karena ternyata memang benar, yang diringkusnya itu tidak lain hanyalah sebuah bantal! Kemarahan yang meluap-luap membuat dia mengangkat ‘bantal’ itu dan melemparkannya dengan tenaga sepenuhnya ke arah dinding.

Kini Thian Sin yang terkejut bukan kepalang. Tentu saja yang diringkus oleh raja itu sama sekali bukan bantal, namun tubuh Leng Ci yang denok! Dan ketika tubuh itu dilemparkan oleh raja, Thian Sin yang tidak menyangkanya sama sekali tidak mampu lagi mencegah.

Terdengar suara keras ketika tubuh itu terbanting dan menghantam dinding. Saat terjatuh ke lantai, tubuh itu sudah tidak bergerak lagi dan dari kepala yang mengalirkan darah, dari kedudukan leher yang terkulai, tahulah Thian Sin bahwa mata indah yang terbuka lebar itu tidak melihat apa-apa lagi. Leng Ci telah tewas dengan kepala retak!

“Agahai, manusia busuk! Manusia keparat kau! Kau membunuh dia… ah, kau membunuh Leng Ci…!” Thian Sin marah sekali.

Dia belum pernah jatuh cinta dalam arti kata yang sesungguhnya sehingga permainannya dengan Leng Ci itu pun tidak dapat dikatakan cinta, melainkan lebih terdorong oleh nafsu birahi belaka. Akan tetapi, melihat Leng Ci yang sama sekali tak berdosa itu harus tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, dan semua itu karena ulahnya sehingga Leng Ci dapat dibilang mati karena dia, hal ini membuat Thian Sin merasa berduka dan marah sekali. Diterjangnya Raja Agahai.

Raja ini mencoba untuk membela diri dan berteriak-teriak memanggil pengawal-pengawal. Akan tetapi tidak ada seorang pun pengawal yang datang, dan dia pun tentu saja tidak berdaya sama sekali menghadapi tamparan-tamparan Thian Sin. Terdengar suara keras berkali-kali dan pada waktu raja itu terpelanting dengan muka yang bengkak-bengkak dan berdarah, Thian Sin masih terus menyusulkan tendangan-tendangan yang membuat raja itu jungkir balik dan jatuh bangun.

Akan tetapi pemuda ini tidak pernah menggunakan tenaga saktinya, karena dia tidak mau membunuh Agahai begitu saja. Dia masih belum selesai berurusan dengan raja ini, maka betapa pun marah dan menyesalnya atas pembunuhan terhadap diri Leng Ci, dia belum mau membunuh raja itu, hanya menyiksanya dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan.

Yang membuat pemuda ini menyesal adalah, bahwa terbunuhnya Leng Ci sesungguhnya karena dia. Raja itu membunuhnya tanpa sengaja, mengira bahwa yang dicengkeramnya tadi benar-benar bantal sehingga saking kecewanya bantal itu lantas dilemparkan.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan Thian Sin menghentikan pemukulan-pemukulannya terhadap raja itu pada saat melihat bahwa yang muncul adalah Ratu Khamila, neneknya. Ternyata sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Menteri Abigan bersama rekan-rekannya, bekas Ratu Khamila yang dipenjara ini cepat-cepat dibebaskan dan dibawa ke istana, setelah para pasukan pemberontak berhasil menguasai istana dan sebagian besar dari para pengawal Raja Agahai yang setia dibinasakan dan sebagian lagi yang menyerah lalu ditangkap.

Istana dibersihkan dari pengikut-pengikut Agahai, dan sekarang istana telah dikuasai oleh pasukan penjaga pemberontak. Setelah itu Ratu Khamila baru dibebaskan dan dijemput, dibawa ke istana. Dan ratu ini, bersama Menteri Abigan serta beberapa orang panglima dan pengawal, lantas datang ke kamar Thian Sin di mana pemuda itu sedang menghajar Raja Agahai.

Raja Agahai yang melihat munculnya Ratu Khamila dengan beberapa orang menteri dan panglima, maklum bahwa dia terancam. Dia belum tahu apa yang terjadl di luar, tidak tahu bahwa para pengawalnya sudah terbasmi. Namun, melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun pengawal yang muncul ketika dia berteriak-teriak minta tolong, dia pun telah dapat menduga apa yang telah terjadi.

Maka kini melihat munculnya Puteri Khamila, tahulah dia bahwa permainan telah berakhir dan bahwa dia telah kalah total. Pemuda itu adalah putera tunggal Pangeran Oguthai atau Pangeran Ceng Han Houw dan pemuda itu sudah tahu bahwa dia ikut ambil bagian dalam pengeroyokan pangeran itu dan isterinya sampai mati. Tiada harapan lagi baginya, maka dia pun tidak banyak tingkah lagi.

“Agahai, sudah tahukah engkau akan semua dosa-dosamu?” kata Ratu Khamila dengan suara halus namun penuh teguran. Rasa sakit hati ratu ini akibat dia ditawan tak sedalam saat dia mendengar bahwa puteranya tewas oleh pengeroyokan yang sebagian dilakukan orang-orangnya Agahai.

Agahai yang sudah putus asa itu tertawa. “Hemm, kalian lihat saja nanti kalau pasukan-pasukanku bergerak dan menghancurkan kalian semua!”

Seolah-olah menjawab kata-kata Agahai ini, tiba-tiba saja terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan banyak orang yang datangnya dari luar istana. Dan seorang pengawal datang tergopoh-gopoh, melapor kepada Menteri Abigan, didengarkan oleh Thian Sin dan juga oleh Agahai.

“Taijin, di luar istana sudah penuh dengan pasukan dan rakyat. Mereka itu berteriak-teriak menuntut penjelasan akan apa yang terjadi di dalam istana. Suasana buruk sekali, dan di antara mereka itu telah terjadi perpecahan. Agaknya masih banyak di antara mereka yang mendukung dia!” kata pengawal itu sambil menuding ke arah Agahai dengan wajah penuh kebencian.

Mendengar ini, Agahai lalu tertawa bergelak. Wajahnya menyeramkan sekali. Wajah yang bengkak-bengkak dan matang biru, berdarah-darah pula, dan kini wajah itu terangkat dan bergoyang-goyang ketika tertawa, seperti iblis dalam dongeng.

Tiba-tiba Thian Sin menangkap leher bajunya, menotoknya sehingga raja itu tidak mampu bergerak lagi, lantas menyeretnya keluar. “Silakan mengikuti saya ke menara istana, saya akan bicara dengan mereka!”

Mendengar ini, Ratu Khamila mengangguk, dan para menteri bersama panglima itu juga mengikuti dari belakang. Thian Sin membawa bekas raja itu naik ke loteng menara dan tidak lama kemudian nampaklah dia bersama raja itu di atas menara, di panggung atas bersama Ratu Khamila dan para menteri yang setia. Melihat ini, pasukan dan rakyat yang berjubel di luar istana, semua memandang ke arah panggung menara itu.

Terdengarlah teriakan-teriakan yang simpang-siur.

“Hidup Puteri Khamila…!”

“Hidup Raja Agahai…!”

Dari teriakan-teriakan ini saja jelaslah bahwa memang sudah terjadi perpecahan di antara rakyat dan pasukan. Keadaan sungguh gawat dan timbul ancaman perang saudara.

Meski pun sudah tertotok dan tidak berdaya, Raja Agahai tersenyum mendengar teriakan-teriakan yang jelas menyanjungnya itu, dan masih ada secercah harapan pada wajahnya. Akan tetapi, ketika Thian Sin menariknya agar berdiri lebih tinggi sehingga seluruh orang yang berada di bawah melihatnya dengan jelas, melihat mukanya yang bengkak-bengkak, penghias kepalanya yang khas sebagai raja itu sudah tidak ada lagi dan rambutnya dalam keadaan awut-awutan, maka timbullah rasa khawatir pula di dalam hatinya.

“Rakyatku, pasukanku, dengarlah!” Mendadak terdengar suara Puteri Khamila, suaranya halus namun cukup nyaring sehingga terdengar oleh semua orang dan keadaan menjadi amat sunyi karena semua orang yang berada di bawah ingin sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh bekas ratu ini.

“Kalian semua tentu masih ingat kepada putera tunggalku, putera tunggal mendiang Raja Sabutai yang kalian cinta, yaitu Pangeran Oguthai, bukan?”

Terdengar sorakan menyambut pertanyaan ini. Tentu saja tak ada seorang pun di antara mereka yang tidak tahu siapa adanya Pangeran Oguthai yang dahulu pernah berkunjung bersama isteri dan puteranya, dan betapa pangeran yang mempunyai kepandaian tinggi dan membuat semua orang bangga itu menolak ketika hendak diminta untuk membantu pemerintahan Raja Agahai.

Puteri Khamila mengangkat kedua tangannya ke atas dan semua orang pun segera diam. Keadaan menjadi sunyi kembali.

“Sekarang dengarlah baik-baik, rakyatku. Kalian tentu tahu betapa Agahai yang menjadi raja sudah menyalah gunakan kekuasaan, senang merampas anak gadis dan isteri orang, mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan rakyatnya. Lihat, betapa kita telah menjadi amat lemah dan yang lebih celaka lagi, Agahai tak segan-segan untuk bertindak khianat dan curang. Aku yang menentang dan menasehatinya supaya dia suka menghentikan penyelewengannya, telah dia tahan sebagai seorang penjahat! Akan tetapi, hal ini tidak menyakiti hatiku. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa dia sudah menyuruh pasukan, bersekongkol dengan pasukan Beng dari selatan, untuk mengeroyok kemudian membunuh Pangeran Oguthai dan isterinya!”

Semua orang terkejut, baik yang pro mau pun yang anti kepada Agahai. Tak disangkanya raja mereka itu melakukan hal yang kejam ini.

“Untung bahwa putera Pangeran Oguthai, yang pernah berkunjung ke sini ketika masih kecil, berhasil lolos dari pengkhianatan itu. Dan kalian hendak tahu siapa pemuda ini? Dia inilah Ceng Thian Sin, putera tunggal Pangeran Oguthai! Dialah keturunan langsung dari mendiang Raja Sabutai!”

Puteri Khamila meneriakkan ucapan ini, sungguh pun bertentangan dengan suara hatinya. Hanya dia sendiri yang tahu bahwa Thian Sin sama sekali bukan keturunan Sabutai, akan tetapi keturunan Kaisar Beng-tiauw!

Mendengar ini, semua orang bersorak-sorai! Kemudian Thian Sin yang maju dan dengan suara lantang, dia pun berkata,

“Saudara-saudara sekalian! Setelah mendengar keterangan Puteri Khamila yang menjadi nenekku, apakah masih ada yang hendak membela Agahai? Dia seorang raja lalim! Dia malah telah membunuh Koksu Torgan yang membantunya! Dan dia baru saja membunuh selirnya yang berbangsa Biauw itu! Dan kedatanganku di sini di samping untuk membalas kematian ayah bundaku, juga untuk menyelamatkan rakyat orang tuaku dari cengkeraman raja lalim semacam Agahai ini! Nah, katakanlah, siapa yang hendak membelanya? Para panglima telah berpihak kepada kami dan istana sudah kami duduki. Siapa yang hendak membela dia?”

Tidak ada yang menjawab. Semua orang maklum bahwa memang raja mereka itu tidak sebaik mendiang raja yang lalu, dan telah melakukan hal-hal yang membuat rakyat tidak puas dan juga membuat mereka menjadi bangsa lemah yang tersudut.

“Nah, kalau begitu, aku hendak menyerahkan kepada kalian apa yang harus kita lakukan pada Agahai yang telah membunuh ayahku Pangeran Oguthai, dan yang telah melakukan penindasan terhadap kalian. Apa yang harus kita lakukan?”

“Bunuh dia!”

“Bunuh Agahai raja lalim!”

“Jangan ampunkan dia!”

Teriakan itu makin lama semakin banyak disusul oleh yang lain-lain dan akhirnya hampir semua di antara orang-orang itu berteriak-teriak untuk membunuh Agahai. Mendengar ini, menggigil seluruh tubuh Agahai dan habislah harapannya. Memang ini yang dikehendeki oleh Thian Sin. Dia lalu mengangkat tubuh Agahai tinggi-tinggi dan terdengarlah suaranya yang lantang.

“Kalau begitu, kuserahkan kepada kalian! Terserah apa yang akan kalian lakukan dengan binatang busuk ini!” Dan sekali menggerakkan kedua lengannya maka melayanglah tubuh Agahai ke bawah dan pada saat itu pula dia pun membebaskan totokannya.

Terdengar jerit mengerikan, jeritan dari mulut Agahai yang bukannya merasa ngeri karena melayang ke bawah, melainkan ngeri melihat ratusan pasang tangan seperti cakar-cakar harimau hendak mengkoyak-koyak tubuhnya.

Dan memang tubuhnya segera terkoyak-koyak ketika dia disambut oleh orang-orang yang mendendam padanya itu. Semua orang ingin memukulinya, menendangnya, menjambak rambutnya sehingga akhirnya tubuhnya benar-benar terkoyak habis, dan hanya darah dan potongan-potongan daging saja yang tertinggal di situ sesudah semua orang memuaskan nafsu dendam mereka terhadap raja lalim itu.

Bersama dengan tewasnya Agahai, tewas pulalah para pembantunya dan para panglima yang dahulu memimpin pasukan dan ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw. Thian Sin menyaksikan sendiri hukuman pancung kepala terhadap pasukan dan komandannya itu, akan tetapi ketika para panglima yang setia kepadanya hendak menangkapi keluarga Agahai, Puteri Khamila melarangnya.

“Betapa pun juga, Agahai adalah keluarga mendiang Raja Sabutai, dan karena hanya dia yang berdosa, maka biarlah keluarganya dibebaskan dari pada hukuman.”

Thian Sin tidak membantah keputusan neneknya ini, karena dia pun sudah puas melihat semua pengeroyok ayah bundanya telah dijatuhi hukuman mati. Malah sesudah tujuannya datang di tempat ini telah terlaksana, yaitu untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya terhadap Raja Agahai, Thian Sin tidak ingin tinggal lebih lama lagi di tempat itu.

Para menteri dan panglima yang tahu bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw itu adalah seorang pemuda yang sakti, mengajukan usul kepada Puteri Khamlia supaya pemuda itu dapat menjadi raja, menggantikan Agahai dan hal itu dianggap sudah sepatutnya dan sah karena walau pun pemuda itu mempunyai seorang ibu berbangsa Han, namun dia adalah keturunan langsung dari Raja Sabutai. Tentu saja hanya Puteri Khamila yang tahu bahwa pemuda itu sama sekali tidak mempunyai darah Raja Sabutai sedikitpun juga!

Tapi usul ini amat berkenan di hati Sang Puteri, maka dia pun mencoba untuk membujuk Thian Sin agar mau menerima usul itu. Akan tetapi, dengan tegas Thian Sin menolaknya, bahkan kemudian memperingatkan kepada para menteri agar mengangkat Ratu Khamila sebagai ibu suri sekaligus juga sebagai pejabat raja sebelum memilih pengganti raja, dan kemudian menyerahkan kepada kebijaksanaan Ratu Khamila untuk memilih raja.

Tentu saja Ratu Khamila menjadi kecewa sekali. Akan tetapi cucunya itu berkata dengan suara tegas, “Harap nenek mengerti bahwa masih banyak hal lainnya yang harus saya selesaikan, dan terutama sekali membalas dendam terhadap musuh-musuh yang sudah membunuh ayah bundaku. Selain itu, juga sedikit pun saya tidak berminat untuk menjadi raja, maka terserahlah kepada nenek untuk menentukan siapa yang patut untuk menjadi seorang raja yang baik.”

Akhirnya Ratu Khamila terpaksa menyetujui dan pada hari Thian Sin pergi meninggalkan tempat itu, Ratu Khamila mengumumkan bahwa yang diangkat menjadi calon raja tetap saja adalah putera Agahai, sebagai satu-satunya pangeran yang merupakan keturunan keluarga Raja Sabutai. Akan tetapi, sebelum anak itu besar, Ratu Khamila sendiri yang memegang jabatan wakil raja.

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner