PENDEKAR SADIS : JILID-39


Thian Sin amat membenci kepada penjahat karena diangapnya bahwa penjahat-penjahat itulah yang telah merusak hidupnya, telah mencelakakan orang-orang yang dicintanya dan karena itu, dia telah mengambil keputusan untuk memusuhi semua penjahat di dunia ini!

Ada kalanya dia memasang mata di pasar dan tempat-tempat ramai dan kalau dia melihat ada penjahat yang melakukan pencopetan saja, dia tidak segan-segan untuk turun tangan dan mematahkan tulang lengan pencopet itu. Bahkan pada waktu malam dia sering keluar dan sekali dilihatnya ada pencuri, tentu tangan pencuri itu segera dibuntungi! Pemerkosa jangan harap dapat hidup bila mana berjumpa dengannya, karena Thian Sin segera akan menghukumnya secara mengerikan, yaitu membuntungi alat kelaminnya!

Belum ada sebulan dia datang ke kota raja, keadaan kota raja menjadi gempar. Bukan hanya para penjahat yang ketakutan setengah mati, bahkan banyak penduduk kota raja juga merasa gelisah dan ngeri. Siapa pun adanya dia, setiap orang sudah tentu tak akan luput dari pada kesalahan, maka dia tentu merasa ngeri untuk dilihat dan dihukum oleh seorang seperti Pendekar Sadis ini.

Pada suatu senja, Thian Sin kembali ke dalam kuil tua di mana dia menyembunyikan diri sebab dia tahu bahwa pasukan kota raja selalu mencarinya. Telah berkali-kali dia bertemu dengan penyelidik-penyelidik dari kota raja itu, namun dia selalu dapat membuat mereka tidak berdaya.

Untuk dapat beristirahat dengan tanpa banyak gangguan, dia lalu mencari penginapan di luar kota raja sehingga akhirnya dia menemukan sebuah kuil tua yang dikabarkan orang sebagai kuil tua kosong yang banyak hantunya. Sungguh kebetulan, pikirnya.

Apa bila kuil itu berhantu, tentu tidak ada orang yang akan berani mendekatinya. Dan dari para penduduk di kampung-kampung sekitar kuil yang berada di tempat sunyi di lereng pegunungan sebelah utara kota raja ini, dia pun mendengar bahwa siapa saja yang berani datang ke kuil ini, apa lagi di malam hari, tentu akan bertemu dengan hantu dan kabarnya sudah ada beberapa orang yang mati dengan mengerikan di tempat itu.

Mati menggantung diri atau pun digantung hantu, tak ada yang dapat tahu dengan pasti. Pendeknya, di sebelah belakang kuil itu terdapat sebuah tengkorak manusia yang masih tergantung di sebuah batang pohon. Hanya tinggal kepala dan leher saja yang tergantung, sedangkan tulang-tulang bagian lainnya sudah runtuh dan bertumpuk di bawah pohon itu tanpa ada yang berani mengganggunya.

Kepercayaan akan tahyul membuat orang yang mempunyai kepandaian tinggi sekali pun menjadi penakut. Orang yang cukup lihai boleh jadi tidak takut menghadapi pengeroyokan banyak lawan tangguh dan bahkan tak gentar menghadapi kematian. Akan tetapi, karena kepercayaan tahyul yang telah berakar di dalam hati mereka, ditanamkan semenjak kecil, membuat mereka atau orang yang mempunyai ilmu silat cukup tinggi sekali pun dapat lari tunggang langgang. Mereka itu merasa seram.

Akan tetapi Thian Sin sama sekali tak merasa takut. Dia telah sering menghadapi hal-hal menyeramkan, yaitu waktu dia bertapa di dalam goa dan mempelajari ilmu sihir dari kakek pertapa di Pegunungan Himalaya. Kalau memang ada hantunya, biarlah aku berkenalan dengan hantu itu, pikirnya, bahkan siapa tahu dia akan dapat mempelajari ilmu yang lebih hebat lagi dari hantu itu!

Maka, beberapa malam yang lalu, ketika untuk pertama kali dia mendatangi tempat itu, dia lalu melakukan pengintaian. Tidak ada apa-apa di sana, sunyi saja. Akan tetapi ketika dia sedang duduk beristirahat di dalam kuil itu, tiba-tiba dia mendengar suara melengking yang aneh. Seketika bulu tengkuknya meremang, akan tetapi ia melawannya dan dengan mengusap tengkuknya, maka rasa meremang pun lenyaplah.

Dia lalu berindap-indap menuju ke arah suara yang datangnya dari belakang kuil di mana terdapat pohon yang ada tengkoraknya tergantung itu. Dia melangkah maju menghampiri karena malam itu gelap, cuaca hanya diterangi oleh sinar bulan yang sepotong.

Ketika dia sudah dekat untuk dapat melihat tengkorak itu, dia mendapat kenyataan bahwa suara itu memang datang dari arah tengkorak itu dan kembali bulu tengkuknya meremang ketika dia melihat tengkorak itu bergoyang-goyang! Padahal pada saat itu tidak ada angin sama sekali!

Jika bukan Thian Sin yang menghadapi penglihatan dan pendengaran seperti itu, agaknya tentu sudah melarikan diri karena sepandai-pandainya manusia, kalau harus menghadapi sesuatu yang tak dimengertinya dan berada di luar kemampuannya sebagai manusia, apa lagi setelah segala yang didengarnya sejak kecil tentang ketahyulan yang menyeramkan, tentu dia telah ketakutan. Akan tetapi, biar pun bulu tengkuknya terasa dingin, kepalanya terasa berat dan seperti membengkak besar, Thian Sin kembali mengusap tengkuknya dan dia malah maju menghampiri!

Agaknya ‘hantu’ itu menjadi penasaran karena melihat pemuda ini tidak ketakutan seperti orang-orang lain yang pernah melihat dan mendengarnya, maka suara melengking itu lalu menjadi semakin nyaring menyeramkan, dan tengkorak yang bergantungan pada pohon itu juga bergoyang-goyang lebih keras lagi, seolah-olah hendak terbang dan menubruknya.

Thian Sin tidak berhenti bahkan terus menghampiri. Dan pada saat itu terdengar teriakan parau menyeramkan dari atas pohon dan dari atas itu melayanglah sesosok tubuh tinggi besar hitam seolah-olah bayangan itu hendak menyerbu Thian Sin.

Pemuda ini menghentikan langkahnya dan bersiap sedia menyambut terkaman bayangan tubuh tinggi besar yang tidak kelihatan jelas dalam keremangan cuaca itu, akan tetapi… tubuh itu berhenti di tengah udara lantas tergantung-gantung. Kiranya itu adalah bayangan tubuh manusia yang bergantung diri atau digantung orang!

Thian Sin meloncat dan tangannya menyambar, maksudnya untuk menolong orang yang tergantung itu dan sekali tangannya bergerak, tali yang menggantung orang itu putus dan dia pun sudah memondong tubuh itu ke bawah. Akan tetapi tubuh itu ternyata hanyalah sepotong kayu besar yang diberi pakaian!

Mengertilah dia bahwa ada yang mempermainkan dirinya dan kalau ada yang main hantu-hantuan maka tentu yang bermain-main itu adalah manusia! Karena suara itu datang dari atas pohon, maka Thian Sin lalu meloncat lagi, sekarang menerjang ke tengah daun-daun pohon yang rindang itu.

Ada pedang yang menyambutnya, akan tetapi dengan gerakan tangannya Thian Sin dapat membuat pedang itu terpukul ke samping dan ternyata orang yang memegang pedang itu tidak kuat menyambut terjangan Thian Sin. Sambil mengeluarkan teriakan orang itu lantas terjatuh dari atas pohon! Suara berdebuk yang keras membuktikan bahwa orang itu tidak mempunyai ilmu ginkang yang baik dan tubuhnya telah terbanting keras ke atas tanah.

Thian Sin mengikutinya dan melompat turun, cepat menghampiri tubuh yang menggereng kesakitan itu. Kiranya dia seorang laki-laki setengah tua yang mengerang kesakitan dan napasnya empas-empis karena tadi dia telah terkena pukulan tangan sakti Thian Sin yang mengenai dadanya, ditambah lagi dia terbanting roboh ke atas tanah yang mematahkan beberapa tulang iganya.

“Hemm, mengapa kau menakut-nakuti orang?!” Thian Sin membentak.

Orang itu sukar sekali menjawab karena dia menderita sakit bukan main dan napasnya tinggal satu-satu, “…agar… tempat ini menjadi tempatku… tanpa diganggu orang… dan… dan… orang-orang yang ketakutan… meninggalkan barang-barangnya…” Orang itu tidak dapat bicara terus karena kepalanya terkulai dan tewas. Pukulan Thian Sin tadi memang hebat sekali, dilakukan karena menduga bahwa ada lawan tangguh bersembunyi di dalam pohon.

Thian Sin menarik napas panjang kemudian sejenak dia berdiri termenung. Orang ini mati karena kesalahan sendiri, dan pula, memang orang itu bukan orang baik-baik, agaknya menakut-nakuti orang di samping untuk membuat orang takut datang ke tempat itu, juga agaknya untuk memperoleh barang-barang orang yang lari ketakutan. Betapa pun juga, orang ini sudah berjasa baginya, sudah memberikan sebuah tempat persembunyian yang baik sekali. Maka malam itu juga Thian Sin menggali lubang dan mengubur jenazahnya.

Rasa takut memang selalu mempengaruhi kehidupan manusia. Hampir seluruh manusia di dunia ini hidup dalam cengkeraman rasa takut yang dapat juga disebut kekhawatiran, kegelisahan, dan sebagainya. Pendeknya, rasa takut akan sesuatu. Tentu saja perasaan ini mempengaruhi kehidupannya, karena setiap tindakan yang didasari oleh rasa takut tentu merupakan suatu tindakan yang tidak wajar dan palsu. Dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut? Apakah sesungguhnya perasaan takut akan sesuatu ini?

Jika kita mau mengamatinya dengan waspada, maka kita akan dapat melihatnya bahwa rasa takut timbul dari permainan pikiran kita sendiri yang membayangkan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang belum tiba, atau sesuatu yang dibayangkan akan ada dan akan menyusahkan diri kita. Apa bila tidak ada pikiran yang membayang-bayangkan keadaan yang belum ada ini, maka rasa takut pun tidak akan ada.

Orang yang takut akan penyakit menular yang sedang mengamuk tentu belum terkena penyakit itu, dan orang yang takut akan kehilangan pekerjaan tentulah belum kehilangan pekerjaan, sedangkan orang yang takut akan kematian tentu belum mati. Demikian pula, orang yang takut akan setan tentu belum bertemu dengan yang ditakutinya itu.

Maka dari itu, ketika menghadapi setiap persoalan, setiap peristiwa, kalau kita membuka mata dengan waspada tanpa membayangkan hal-hal yang belum terjadi, maka tindakan kita tentu akan lebih tepat.

Seperti halnya Thian Sin, pada waktu menghadapi segala penglihatan dan pendengaran itu, dia tidak membayangkan hal-hal yang mengerikan, akan tetapi dengan waspada dia mengamati, maka dia terbebas dari rasa takut dan dapat menanggulangi keadaan yang bagaimana pun juga.

Ada yang mengatakan bahwa kita takut setan karena kita tidak mengertinya, karena kita tidak mengenalnya. Benarkah itu? Apa bila kita mau menyelidiki, maka rasa takut akan setan itu sama sekali bukan timbul karena kita tidak mengenalnya.

Orang yang tidak pernah mengenal setan, yang tidak pernah mendengar cerita tentang setan, atau anak-anak yang belum pernah mendengar sama sekali tentang setan, tidak mungkin akan takut! Sebaliknya, yang kita takuti adalah karena kita sudah tahu tentang setan, sudah mendengar tentang setan, bahwa setan itu amat menakutkan, mengerikan, menyeramkan dan sebagainya. Maka, takutlah kita, karena pikiran kita membayangkan hal-hal yang menakutkan itu! Sederhana sekali, bukan? Maka sekali lagi, dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut?


Senja itu Thian Sin kembali ke tempat persembunyiannya yang sunyi itu. Seperti biasa apa bila dia hendak beristirahat di tempat ini, dia tidak langsung memasuki kuil. Dia tahu bahwa pada waktu itu, dia telah menanam banyak sekali bibit permusuhan sehingga pasti banyak orang pandai yang akan mencarinya dan mencelakainya.

Oleh karena itu, dia selalu hati-hati dan ketika dia tiba di tempat sunyi itu, dia pun tidak langsung memasuki kuil tua. Dia mengambil jalan memutar, lebih dulu mengelilingi kuil itu untuk melihat kalau-kalau ada orang bersembunyi.

Ketika dia mulai memutari kuil, tiba-tiba dia mendengar suara isak tangis perlahan yang datangnya dari arah belakang kuil di mana terdapat pohon besar yang menakutkan itu. Hemm,apakah ada orang gila lain lagi yang hendak menakut-nakutinya, pikirnya. Ataukah ada orang pandai yang datang untuk membalas segala perbuatannya pada orang-orang jahat selama beberapa pekan di kota raja ini?

Dengan hati-hati Thian Sin lalu pergi ke belakang kuil, dan dia pun terheran-heran melihat ada sesosok tubuh wanita berlutut di bawah pohon besar itu, tak jauh dari tengkorak yang masih tergantung, dan menangis terisak-isak!

Hemmm, apakah ini? Sebuah perangkap? Thian Sin bersikap hati-hati sekali dan dengan kepandaiannya, dia berloncatan jauh lantas mengelilingi pohon itu dari jauh untuk melihat kalau-kalau kehadiran wanita itu merupakan perangkap untuknya. Akan tetapi sunyi saja. Tidak ada orang lain kecuali wanita itu sendiri yang masih menangis. Maka dia pun tidak curiga lagi dan cepat menghampiri, lalu setelah berdiri dekat dia pun menegur halus.

“Siapakah engkau? Mengapa kau menangis di sini?”

Wanita itu nampak terkejut dan mengangkat muka memandang. Thian Sin melihat sebuah wajah yang cukup manis, dengan usia kurang dari tiga puluh tahun dan wanita itu segera bangkit berdiri kemudian menghadapi Thian Sin dengan sikap marah.

“Mengapa engkau hendak menggangguku? Pergilah! Urusanku tak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi!”

Akan tetapi tentu saja Thian Sin tidak mau pergi, bahkan dia lalu mengerutkan alisnya dan berkata, “Hemmm, engkaulah yang menggangguku, engkaulah yang harus pergi dari sini. Tempat ini adalah tempatku. Kau siapa dan apa maksudmu…”

“Persetan denganmu!” bentak wanita itu, yang segera menerjang dan memukulnya!

Thian Sin melihat gerakan orang yang paham ilmu silat, bahkan pukulannya cukup cepat dan keras. Dia menangkap lengan yang memukulnya itu dan sekali memutarnya, tubuh wanita itu terpelanting jatuh. Akan tetapi, dengan nekatnya wanita itu bangkit kembali dan menyerang lagi, kini menendang dengan tendangan cepat dan kuat ke arah pusar. Thian juga menangkap kaki itu lantas mendorongnya sehingga wanita itu jatuh terbanting lebih keras lagi!

Wanita itu menangis kembali. “Hu-huuuh… kau… kamu manusia kejam… !” Dan dia pun menghampiri pohon di mana telah terpasang selendangnya, yaitu sehelai selendang yang ujungnya telah diikatkan di sebuah cabang dekat tempat tengkorak bergantung, kemudian wanita itu meloncat, memegang selendang yang tergantung itu dan memasang ujungnya pada lehernya, kemudian melepaskan kedua tangannya sehingga lehernya tergantung!

Thian Sin terkejut sekali, akan tetapi dia berdiri dan tetap tersenyum. Ahh, wanita itu tentu hanya hendak menggertak saja, pikirnya. Wanita seperti itu tentu bisa saja menggunakan akal, pura-pura gantung diri untuk menarik perhatiannya, atau mungkin juga ada udang di balik batu. Siapa tahu wanita itu hendak menjebaknya. Maka dia pun diam saja, bahkan bersedakap dan berdiri memandang sejenak, lantas membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kuil!

Sejak menggantung diri tadi, wanita itu memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata tajam dan kini tubuhnya berkelojotan, lidahnya terjulur keluar, dan matanya melotot, akan tetapi dia tetap tidak mau mempergunakan kedua tangannya untuk menahan selendang.

Bila mana dikehendakinya, tentu saja dia dapat menggunakan tangannya untuk menahan selendang lantas melepaskan lehernya dari gantungan itu. Tetapi agaknya keputusannya sudah bulat dan dia memilih mati di tempat gantungan itu, berdekatan dengan tengkorak orang yang dulu telah menggantung diri sampai mati di situ dan yang arwahnya kabarnya menjadi setan di tempat itu.

Sesudah tubuh itu tidak berkelojotan lagi, barulah Thian Sin cepat berloncatan keluar dari kuil menuju ke pohon itu. Dengan mudah saja dia pun menurunkan wanita itu dari tempat gantungan, lalu memondongnya memasuki kuil di mana sudah dinyalakan sebatang lilin.

Dia biasa tidur di lantai yang ditilami jerami kering dan seilmut. Direbahkannya tubuh itu ke atas selimut dan dia segera memeriksanya. Memang wanita itu sudah pingsan. Cepat dia mengurut leher itu, menotok beberapa jalan darah dan memaksa bibir itu terbuka, lalu dituanginya beberapa teguk air dari guci airnya. Tak lama kemudian wanita itu membuka mata, mengeluh dan nampak bingung.

“Su… sudah matikah…?” akan tetapi dia melihat wajah Thian Sin dan cepat dia memukul sambil meloncat bangun. Thian Sin menangkap tangan itu.

“Tenanglah. Aku menyelamatkanmu dari kematian dan sekarang engkau bahkan hendak memukulku?”

“Kenapa kau menurunkan aku? Kenapa tidak membiarkan aku mati. Ah, aku ingin mati saja! Aku ingin mati… huh-huuuhh…,” dan wanita itu pun menangis lagi, mengguguk.

Thian Sin merasa kasihan. Tadinya dia merasa curiga, akan tetapi setelah melihat betapa wanita itu sungguh-sungguh hendak membunuh diri, maka dia merasa kasihan dan timbul keinginannya untuk menolong wanita yang merasa berduka hingga lebih baik memilih mati itu.

“Katakanlah kepadaku, mengapa engkau ingin mati? Jika ada rasa penasaran, boleh beri tahukan kepadaku dan aku akan menolongmu.”

Wanita itu menghentikan tangisnya dan memandang pada wajah Thian Sin, lalu menangis lagi. “Tidak mungkin…,” isaknya. “Walau pun engkau dapat mengalahkan aku, akan tetapi seorang pemuda pelajar macam engkau ini tak mungkin dapat menandingi Toan-ong-ya!” Dia pun menangis lagi.

Diam-diam Thian Sin merasa tertarik. Dia telah pernah mendengar nama ini. Toan-ong-ya adalah seorang pangeran tua yang kabarnya tidak aktip lagi di dalam pemerintahan, akan tetapi orang itu terkenal sebagai seorang pangeran yang kaya raya, mempunyai ilmu silat cukup tinggi, dan terutama sekali, sangat dermawan serta dikenal baik oleh para tokoh persilatan. Pangeran tua yang dikabarkan kaya raya dan gagah itu bagaimana kini dapat membuat seorang wanita muda yang manis ini menderita dan ingin membunuh diri?

“Ceritakanlah, jangankan Toan-ong-ya, biar pun raja neraka sekali, kalau kuanggap cukup memenuhi syarat untuk dibasmi, maka akan kubunuh dia!” katanya dengan nada suara yang serius dan halus, namun mengandung ancaman yang mendirikan bulu roma.

Wanita itu masih menangis, membuat Thian Sin menjadi jengkel juga. “Ceritakanlah dan aku akan membantumu. Kalau engkau tidak mau, nah, pergi dari sini dan kalau kau mau bunuh diri, silakan, akan tetapi jangan di tempatku sini!”

Wanita itu menghentikan tangisnya, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sin.

“Benarkah taihiap sudi menolongku dan membalaskan dendam sakit hatiku yang sedalam lautan?”

“Ceritakanlah lebih dulu apa yang terjadi,” potong Thian Sin.

“Pangeran terkutuk itu sudah membunuh ayahku, suamiku, kemudian memperkosaku dan memaksaku untuk menjadi selirnya. Aku tak tahan lagi dan hendak membunuhnya untuk membalas kematian ayahku dan suamiku, akan tetapi dia terlampau kuat bagiku dan aku malah dihinanya… sampai akhirnya aku melarikan diri dan pergi ke tempat yang terkenal ada hantunya ini untuk membunuh diri…”

Thian Sin mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mau menelan dan menerima saja cerita sepihak macam ini. “Mengapa ayahmu dan suamimu dibunuh oleh pangeran itu?”

Wanita itu lalu bercerita yang kadang-kadang diselingi isak. Dia bernama Louw Kim Lan, dan sudah beberapa tahun lamanya menjadi isteri dari seorang pemburu she Gak yang pekerjaannya memburu binatang buas berdua dengan ayahnya. Mereka sering berburu di hutan-hutan sebelah utara kota raja dan mereka sudah mendapatkan seorang langganan yang baik, yaitu keluarga Pangeran Toan itulah.

Pada suatu hari, saat Kim Lan membawa kulit binatang hutan untuk dikirimkan ke rumah Toan-ong-ya, kebetulan sekali pangeran tua itu sendiri yang menerimanya dan agaknya pangeran yang terkenal kaya raya dan dermawan tetapi juga terkenal suka bermain-main dengan wanita-wanita cantik itu agaknya tertarik kepada Kim Lan yang manis.

Kim Lan lalu dibujuk dan diancam, bahkan Sang Pangeran itu mempergunakan kekerasan untuk menahannya di dalam istananya hingga akhimya Kim Lan tidak dapat melawan dan terpaksa harus menyerahkan diri kepada pangeran tua yang juga adalah seorang ahli silat tinggi yang amat lihai itu.

Suaminya dan ayahnya yang sudah lama menjadi teman berburu suaminya, jauh sebelum dia menikah dengan pemburu itu, kemudian malam-malam datang menyelidiki dan dalam pertempuran melawan Toan-ong-ya, keduanya roboh tewas. Selanjutnya, Kim Lan diambil sebagai selir oleh pangeran itu.

Ketika malam tadi Kim Lan mencari kesempatan untuk membunuh pangeran itu dengan racun, dia telah ketahuan. Biar pun dia diampuni, namun dia diusir pergi dari istana.

“Demikianlah, taihiap. Apa dayaku sebagai seorang wanita lemah? Biar pun aku mengerti sedikit ilmu silat, akan tetapi mana mungkin aku menandingi Toan-ong-ya? Baru melawan para pengawalnya saja aku tidak akan sanggup. Karena putus harapan dan penasaran, maka aku mengambil keputusan untuk mati dan menyusul ayah serta suamiku saja!” Kim Lan mengakhiri penuturannya dan menangis lagi.

Thian Sin telah mengerutkan alisnya dan mengepal tinju tangannya. “Baik, malam ini juga Toan-ong-ya akan kubunuh, akan tetapi engkau harus ikut untuk membuktikan kebenaran ceritamu!” katanya. Wanita itu terkejut dan cepat menggelengkan kepala.

“Tidak… tidak… mana aku berani ke sana?”

“Jangan takut, ada aku yang akan melindungimu. Aku berjanji, tidak akan ada orang yang dapat mengganggumu seujung rambutmu pun. Mari!”

Dengan terpaksa, akan tetapi juga penuh harapan, wanita yang bernama Kim Lan itu lalu berlari menuju ke dalam kota raja. Ketika mereka tiba di pintu gerbang kota raja, Thian Sin memondongnya dan membawanya melompati tembok kota raja yang tinggi itu, membuat Kim Lan menahan napas dan juga kagum bukan main. Sesudah mereka turun di sebelah dalam tembok itu, Kim Lan langsung berkata,

“Ah, kini aku percaya bahwa taihiap tentu akan dapat membantuku menghadapi pangeran terkutuk itu!”

Thian Sin tidak menjawab, melainkan menurunkan Kim Lan dan mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke istana pangeran itu. Suasana sudah sunyi karena waktu telah mulai menjelang tengah malam.

Dengan mudahnya mereka pun tiba di sebelah belakang tembok yang mengurung istana Pangeran Toan itu. Di sini, kembali Thian Sin memondong tubuh Kim Lan dan meloncat ke atas pagar tembok, kemudian mereka, atas petunjuk Kim Lan, turun ke dalam taman di belakang istana. Dari sini, Kim Lan menjadi penunjuk jalan.

Dengan berindap-indap mereka memasuki bangunan yang besar dan megah itu, melalui pintu-pintu rahasia kecil yang telah dikenal baik oleh Kim Lan. Setelah memeriksa dengan berindap-indap, akhirnya mereka tiba di luar sebuah ruangan tamu di belakang, di mana pangeran itu suka menerima tamu-tamunya yang penting atau sahabat-sahabat baiknya. Dan ruangan itu masih terang, berarti bahwa Sang Pangeran masih berada di situ, dan terdengarlah lapat-lapat suara orang berbicara di balik pintu ruangan itu.

“Dia berada di dalam ruangan itu menerima tamunya…,” Kim Lan berbisik di dekat telinga Thian Sin.

Thian Sin mengangguk kemudian balas berbisik, “Aku akan naik dan mengintai dari atas, engkau harus dapat membuktikan ceritamu kepadaku tadi, baru aku akan turun tangan.” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Thian Sin telah lenyap dari depan wanita itu.

Ditinggal seperti ini, Kim Lan terkejut dan gelisah, akan tetapi dia percaya bahwa pemuda itu pasti mengintai dari atas. Dia harus bisa meyakinkan hati pemuda itu akan kebenaran ceritanya tadi, dan kalau pemuda itu turun tangan, dia yakin bahwa musuh besarnya pasti akan dapat terbunuh dan dendamnya akan terbalas secara memuaskan sekali!

Dia memberi kesempatan beberapa waktu supaya pemuda itu dapat menemukan tempat pengintaian yang baik. Setelah lewat beberapa waktu, barulah dia mendorong pintu ruang itu dan masuk ke dalam ruangan.

Perbuatannya ini mengejutkan tiga orang laki-laki yang sedang duduk menghadapi meja dan bercakap-cakap di dalam ruangan itu. Mereka menghadapi cawan dan guci arak serta beberapa macam makanan kering. Tadinya pangeran tua itu mengira bahwa ada pelayan lancang yang memasuki ruangan, akan tetapi ketika dia melihat siapa yang masuk, maka alisnya berkerut dan dia bangkit berdiri dengan muka merah karena marah.

“Hemm, perempuan rendah budi! Engkau berani datang lagi ke sini?” bentaknya.

Thian Sin mengintai dari atas atap yang telah dia lubangi. Dia melihat bahwa yang berdiri dan membentak itu adalah seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi dan masih gagah, nampak berwibawa akan tetapi sikapnya halus sebagai tanda bahwa kakek ini adalah seorang terpelajar tinggi.

Mudah saja baginya untuk menduga bahwa tentu orang inilah yang dimaksudkan oleh Kim Lan, yaitu Toan-ong-ya, Pangeran Toan yang terkenal itu. Dari teguran itu maklumlah dia bahwa memang benar pangeran itu mengenal baik kepada Kim Lan. Dia melihat Kim Lan menjatuhkan diri berlutut.

“Ong-ya… saya tak percaya paduka begini kejam! Setelah membunuh ayahku, suamiku, dan sesudah sekian lama saya melayani paduka, kini paduka hendak mengusirku begitu saja!”

“Hemm, engkau tak mungkin lupa akan perbuatanmu yang hina! Engkau hampir berhasil membunuhku dengan meracuni minumanku, dan sekarang engkau mengatakan aku yang kejam? Hayo pergi dari sini, jangan engkau injak lagi tempat ini!”

“Tapi… tapi saya mencoba meracuni paduka karena paduka telah membunuh ayahku dan suamiku…”

“Ayahmu dan suamimu mencari mampus sendiri! Sudahlah, pergi kataku!”

Dari atas, Thian Sin mendengar ini semua dan percayalah dia akan kebenaran cerita Kim Lan. Pangeran itu tidak menyangkal telah membunuh ayah dan suami wanita itu, dan Kim Lan juga sudah mengaku telah mencoba meracuni Sang Pangeran, persis seperti yang diceritakan oleh wanita itu kepadanya tadi.

Marahlah Thian Sin. Membunuh ayah dan suami orang, memperkosa isteri orang, dan hal ini dia tidak sangsi lagi melihat bahwa Kim Lan begitu berbakti serta mencinta suaminya sehingga mau meracuni pangeran itu, dan sekarang hendak mengusir wanita itu begitu saja. Jelas bahwa pangeran itu bukan seorang baik-baik!

Dia melihat bahwa dua orang tamu pangeran itu ternyata adalah dua orang laki-laki yang kelihatan gagah perkasa, yang seorang bertubuh tinggi besar berpakaian seperti petani, sikapnya amat polos dan gagah, sedangkan yang kedua adalah seorang berjubah hwesio berkepala gundul, berusia sebaya dengan petani itu, yaitu kira-kira empat puluh tahun.

Namun dia tidak peduli. Kalau mereka akan mengeroyoknya, terserah, pikirnya. Maka dia pun segera menerobos atap dan melayang turun ke dalam ruangan itu.

Yang berkedudukan mempergunakan kekuasaannya untuk menindas orang,
yang kaya raya mempergunakan hartanya untuk memperbudak orang,
yang kuat mempergunakan kepandaiannya untuk bersikap sewenang-wenang,
seorang pangeran membunuh dan memperkosa orang seenak perutnya sendiri.
Ahh, sungguh dunia sudah penuh dengan manusia-manusia jahat yang harus dibasmi!


Sementara itu, ketika melihat munculnya seorang pemuda yang menerobos masuk dari atas, maklumlah Pangeran Toan bahwa orang ini tentulah sekutu dari Kim Lan, maka dia sudah mencabut pedangnya dan menudingkan pedang itu ke arah muka Thian Sin sambil membentak,

“Siapakah engkau yang berani memasuki rumah orang tanpa ijin?!”

Thian Sin tersenyum. “Hemm, meski engkau seorang pangeran yang kaya raya, apa kau kira boleh membunuh orang tanpa ijin?” Lalu sambil melangkah maju dia menyambung, “Kenalilah, aku adalah wakil dari orang-orang yang kau bunuh.” Tangannya telah bergerak menampar ke depan dengan cepat dan kuat.

Melihat ini, sang pangeran segera menggerakkan pedangnya membacok ke arah tangan yang menampar itu. Akan tetapi tamparan itu memang hanya serangan pancingan saja dari Thian Sin. Pada waktu pedang membacok, dia membuka tangannya dan menerima pedang itu dengan tangan terbuka!

Melihat kenekatan lawannya ini, Sang Pangeran sendiri sampai terkejut karena tangan itu akan buntung bila bertemu dengan pedangnya. Akan tetapi dia kecelik, karena pedang itu terhenti dan sudah digenggam oleh tangan Thian Sin dan begitu pemuda ini menarik dan mengirim tendangan ke arah lengan yang memegang pedang, maka Sang Pangeran tidak mampu mempertahankannya lagi sehingga pedang itu telah dapat dirampas oleh lawan!

Selagi pangeran itu terkejut dan terheran-heran, menjadi bengong sebab selama hidupnya belum pernah dia menghadapi kelihaian seperti itu, Thian Sin sudah berseru,

“Sekarang terimalah hukumanmu!” Pedangnya menyambar seperti kilat.

“Tranggg…!”

Pedangnya bertemu dengan tongkat yang dipegang oleh hwesio itu. Kiranya hwesio itu telah menangkis pedang dengan tongkatnya dan dari getaran pedangnya, Thian Sin tahu bahwa hwesio ini tidak boleh dipandang ringan.

“Omitohud… harap jangan terlalu ganas, orang muda!” kata hwesio itu.

“Persetan dengan kamu! Aku tidak ada urusan denganmu!” bentak Thian Sin sambil terus menerjang Sang Pangeran yang sudah melangkah mundur.

Hwesio itu menerjang dengan tongkatnya untuk melindungi, akan tetapi tiba-tiba pedang itu membalik dan berkelebat menyambar ke arah leher hwesio itu, lalu secara bertubi-tubi menyerangnya. Hwesio itu terkejut sekali dan sambil memutar tongkatnya dia pun segera meloncat ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Sin untuk menubruk ke depan dan sebelum Sang Pangeran dapat mengelak, pedang itu telah menyambar seperti kilat.

Sang Pangeran mengeluarkan jeritan mengerikan dan nampak darah muncrat dari bawah perutnya karena pedang itu sudah menyambar ke arah alat kelaminnya! Tubuh Pangeran itu terhuyung lantas roboh dan berkelojotan, kedua tangannya mendekap ke arah bagian yang terbabat pedang tadi.

Peristiwa ini terjadi demikian cepatnya hingga hwesio dan petani itu sejenak memandang bengong dan dengan muka pucat. Kemudian mereka berdua marah bukan main.

“Penjahat kejam, apa yang kau lakukan?!” bentak mereka dan keduanya lalu menyerang Thian Sin dengan gerakan yang amat kuat dan cepat.

Hwesio itu menyerang dengan tongkatnya, sedangkan orang yang berpakaian petani itu telah menyerangnya dengan sebatang golok. Gerakan Si Petani ini tak kalah tangkas dan kuatnya dibandingkan dengan hwesio itu.

Melihat gerakan mereka, Thian Sin terkejut juga karena dia mengenal gerakan dari ilmu silat partai Siauw-lim-pai. Dia mengelak ke kanan kiri dan tongkat bersama golok itu telah menjadi gulungan sinar yang terus mengejarnya. Thian Sin tahu bahwa lawannya tangguh dan bahwa dia harus bertindak cepat kalau tidak mau keburu datang pasukan pengawal.

Dari luar telah terdengar ribut-ribut. Maka dia pun cepat mainkan Thai-kek Sin-kun, kedua kakinya bergerak dengan langkah-langkah yang hebat hingga tangannya tahu-tahu telah berhasil mendorong kedua orang lawan itu sampai mereka terhuyung ke belakang. Dua orang itu terkejut bukan main karena mereka juga mengenal Thai-kek Sin-kun, akan tetapi mereka tidak mengenal tenaga serangan yang amat dahsyat tadi.

“Kau… kau Pendekar Sadis!” teriak orang yang berpakaian petani.

“Omitohud… yang ini tidak patut dinamakan pendekar, melainkan Penjahat Sadis!” kata Si Pendeta.

“Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian!” kata Thian Sin dan cepat dia menyambar tubuh Kim Lan yang berdiri di sudut dengan wajah khawatir, lalu hendak berlari keluar.

“Penjahat kejam, jangan lari!” bentak Si Petani dan dengan cepat dia pun sudah meloncat lantas menerjang Thian Sin sambil menggerakkan goloknya.

“Plakk! Tranggg…!”

Golok itu terlempar lantas Si Petani itu jatuh terpelanting ketika Thian Sin menyambutnya dengan pukulan Pek-in-ciang. Melihat pukulan yang mengeluarkan uap putih itu Si Hwesio yang tadinya juga ikut mengejar, menjadi terkejut dan cepat dia menolong temannya yang roboh pingsan, memeriksanya dan baru merasa lega ketika melihat bahwa temannya itu tidak tewas, melainkan terguncang hebat oleh pukulan itu sehingga menjadi pingsan.

Hwesio ini juga mengenal pukulan Pek-in-ciang, semacam pukulan sakti yang kabarnya hanya dimiliki oleh pendekar Yap Kun Liong, yakni seorang locianpwe yang bertapa di Bwee-hoa-san dan yang kabarnya sudah tidak mencampuri lagi urusan dunia.

Para pengawal berserabutan masuk, akan tetapi bayangan Thian Sin dan Kim Lan sudah tidak nampak lagi. Mereka segera menolong pangeran itu, akan tetapi terlambat karena pangeran itu telah tewas dengan anggota kelaminnya terbabat buntung!

Dengan hati penuh duka, hwesio serta petani itu membantu keluarga pangeran itu untuk berkabung dan kematian Pangeran Toan ini benar-benar mengejutkan semua orang dan bahkan sempat menggegerkan dunia kang-ouw, terutama para tokoh persilatan di sekitar kota raja. Pangeran ini dikenal sebagai seorang yang sangat akrab dengan banyak tokoh kang-ouw, terkenal sebagai seorang budiman dan dermawan.

Memang dia terkenal pula sebagai seorang pria yang suka dengan wanita-wanita muda sehingga di samping isterinya, juga di istananya terdapat belasan orang selir yang masih muda-muda dan cantik-cantik. Akan tetapi hal ini bukan merupakan kejahatan, apa lagi di masa itu di mana seorang bangsawan atau hartawan sudah biasa memiliki banyak selir muda yang cantik. Pula, tak pernah terdengar pangeran ini menggunakan kekuasaannya untuk memaksa isteri atau anak orang untuk menjadi selirnya.

Oleh karena itu, pembunuhan terhadap dirinya sungguh mengejutkan dan menggegerkan, apa lagi setelah para tokoh itu mendengar bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Sadis, pendekar yang terkenal sebagai pembasmi kejam terhadap orang-orang jahat, dan bahwa pembunuhan itu dilakukan karena Sang Pendekar yang kejam itu menuduh pangeran itu telah berbuat kejahatan.

Para tokoh besar dunia kang-ouw yang sudah mendengar akan sepak terjang Pendekar Sadis, yang sudah merasa amat marah dan menentang, tidak setuju dengan kekejaman-kekejaman itu walau pun dilakukan terhadap penjahat-penjahat, kini menjadi makin marah dan menganggap bahwa Pendekar Sadis kini sudah menyeleweng dan menjadi Penjahat Sadis!

Maka ramailah dipersoalkan orang siapa adanya pemuda yang disebut Pendekar Sadis itu. Pendekar Sadis tidak pernah mengakui namanya dan julukannya itu pun merupakan pemberian orang kepadanya akibat sepak terjangnya yang sangat mengerikan. Datangnya bagaikan setan, tersenyum-senyum, tampan, ganteng, halus sikapnya, suka bersajak dan membaca ayat-ayat suci dari kitab-kitab suci, senang menyuling dan bernyanyi dengan suara merdu, akan tetapi sekali tangannya bergerak, maka lawan akan terjatuh dan tewas dalam keadaan tersiksa dan amat mengerikan!

Belum pernah para tokoh kang-ouw melihat kekejaman yang sehebat itu dan mereka pun merasa muak lantas menentang keras. Perbuatan seperti yang dilakukan oleh Pendekar Sadis itu sungguh kejam dan tidak patut dilakukan oleh orang yang mengaku Pendekar. Hal ini bisa menodai dan mengotorkan nama pendekar-pendekar di dunia!

Pendekar bukanlah orang yang kejam, walau pun pendekar selalu menentang kejahatan. Bahkan seorang pendekar harus menentang kekejaman, bersikap adil tanpa harus kejam, mengabdi kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas menentang yang kuat sewenang-wenang.

Bahkan dua orang murid Siauw-lim-pai itu, yang malam itu menjadi tamu Pangeran Toan dan bahkan menjadi saksi dari kekejaman Pendekar Sadis, cepat-cepat pulang ke Siauw-lim-si untuk melaporkan sepak terjang Pendekar Sadis itu kepada para pemimpin Siauw-lim-pai…..

********************

Sementara itu, Thian Sin juga merasa sangat menyesal bahwa dia harus bentrok dengan dua orang yang melihat gerakannya dapat diduga tentu tokoh-tokoh dari Siauw-lim-pai itu. Akan tetapi dia tidak peduli. Kalau mereka itu membela Toan-ong-ya, berarti mereka telah membela fihak yang salah, pikirnya.

Dengan cepat dia lantas membawa lari Kim Lan dari istana pangeran itu. Dia tidak mau meninggalkan wanita itu di sana, karena hal itu sama halnya dengan mencelakakannya. Dengan cepat sekali dia sudah keluar dari kota raja kemudian menuju ke kuil yang gelap dan sunyi itu. Setibanya di luar kuil, dia menurunkan tubuh Kim Lan dan berkata,

“Nah, sudah terbalas dendammu, sekarang pergilah kau.”

Mendadak wanita itu menjatuhkan diri berlutut di hadapan kaki Thian Sin. “Taihiap… aku merasa berterima kasih sekali kepadamu… maka biarlah aku menyerahkan diriku kepada taihiap untuk membalas budi taihiap…”

“Hemm, pergilah dan jangan kau ganggu aku lagi!” kata Thian Sin.

“Tapi… tapi, taihiap, ke manakah aku dapat pergi? Apa bila bertemu dengan kaki tangan dan teman-temannya Pangeran Toan, tentu aku akan ditangkap dan dibunuhnya. Taihiap, mengapa taihiap menolong aku setengah-setengah?”

Thian Sin mengerutkan alisnya, maklum bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh wanita itu memang ada benarnya pula. “Habis, apa maumu?” tanyanya, agak bingung juga.

“Taihiap, biarlah selama taihiap berada di sini aku menemani taihiap, aku akan melayani taihiap dan apa pun yang taihiap kehendaki dariku, akan kulakukan dengan senang hati.”

Thian Sin tak bisa menjawab. Dia sendiri bingung apa yang harus dilakukannya terhadap wanita ini. Untuk mengusirnya begitu saja terang tidak mungkin, karena tentu wanita ini akan tertimpa mala petaka jika bertemu dengan orang-orang yang mencarinya. Kematian Toan-ong-ya tentu akan segera menggemparkan kota raja dan para penjaga keamanan tentu akan mencari wanita ini.

Maka dia pun lalu masuk ke dalam kuil, menyalakan lilin. Ketika dia hendak membuat api unggun, dia sudah didahului oleh Kim Lan yang tanpa banyak cakap lagi telah membuat api unggun, kemudian wanita itu duduk di sudut tanpa banyak bergerak, hanya sepasang matanya yang bening itu menatap ke arah pemuda itu.

Thian Sin melirik. Wanita itu memang manis, dengan bentuk tubuh yang padat, kulit leher dan tangan cukup bersih dan halus. Sudah beberapa lamanya dia tak pernah berdekatan dengan wanita dan wanita ini memang manis, masih muda pula.

“Tidak mungkin aku dapat melindungimu terus, besok aku akan pergi dari sini,” mendadak pemuda itu berkata sambil merebahkan dirinya di alas jerami kering.

Kim Lan memandang dengan mata terbelalak, lalu bangkit dan cepat menghampiri, duduk di atas jerami dekat dengan Thian Sin. “Engkau hendak pergi, taihiap? Ke manakah? Lalu aku… aku bagaimana…?”

Sambil rebah itu Thian Sin memandang. Apa gunanya wanita ini? Dan tiba-tiba saja dia bertanya, “Kim Lan, apakah yang harus kulakukan denganmu? Aku mempunyai banyak urusan penting dan aku tidak mungkin dapat melindungimu terus. Aku telah membalaskan sakit hatimu. Besok aku harus pergi untuk mencari seorang musuh besarku yang sampai kini belum juga kutemukan. Aku terpaksa akan meninggalkanmu di sini.”

“Mencari musuhmu, taihiap? Siapakah yang kau cari? Siapa tahu aku dapat membantumu menemukannya.”

Ucapan Kim Lan ini mendatangkan harapan di hati Thian Sin. “Benarkah? Yang sedang kucari itu adalah seorang yang bernama Tok-ciang Sianjin Ciu Hek Lam, seorang tokoh Jeng-hwa-pang yang kabarnya melarikan diri ke kota raja, akan tetapi sampai kini belum juga dapat kutemukan.”

Wanita itu nampak termenung dan bibirnya membisikkan nama itu berkali-kali. “Tok-ciang Sianjin…? Tok-ciang… ahh, pernah aku mendengar nama itu, taihiap!” Dan dia pun lebih mendekat lalu jari-jari tangannya memegang lengan Thian Sin karena merasa tegang dan girang.

Pemuda itu merasa jari-jari tangan yang halus itu mencengkeram lengannya, akan tetapi hal ini tidak begitu diperhatikan karena dia sudah bangkit duduk dan memandang dengan sinar mata penuh selidik.

“Benarkah? Engkau tahu di mana dia?” tanyanya.

Kim Lan mengangguk-angguk. “Sekarang aku teringat. Dahulu mendiang suamiku pernah mengirim kulit harimau yang dipesan oleh ketua Pek-lian-kiuw di lereng Tai-hang-san, di dusun yang disebut Dusun Tiong-king. Ya, suamiku pernah bercerita bahwa di sana ada seorang kakek yang berjuluk Tok-ciang… yang kuingat hanya Tok-ciang begitu saja, tapi entah Tok-ciang Sianjin atau Tok-ciang siapa. Suamiku mendengar nama julukan itu dari percakapan antara para anggota Pek-lian-kauw ketika dia menantikan pembayaran.”

“Bagus sekali!” Thian Sin berseru dengan girang. “Engkau mau membantuku?”

“Tentu saja, taihiap. Setelah apa yang kau lakukan untukku, biar harus berkorban nyawa pun aku bersedia melakukannya untukmu!”

“Lebih dulu aku akan mencari harimau dan engkau boleh menawarkan kulitnya ke orang Pek-lian-kauw, dengan demikian engkau dapat menyelidiki di mana adanya orang yang berjuluk Tok-ciang Sianjin dan apakah dia itu benar Tok-ciang Sianjin Ciu Hek Lam atau bukan.”

“Baik, taihiap, dengan senang hati. Dan lebih dari itu… apa bila engkau menghendaki… aku… aku akan senang sekali menemanimu tidur…”

Wajah itu masih sempat menjadi merah saat mengatakan hal ini dan matanya mengerling tajam, mulutnya tersenyum. Memang sejak pertemuannya yang pertama dengan pemuda itu, Kim Lan sudah tergila-gila oleh ketampanan wajah Thian Sin, apa lagi setelah wanita ini menyaksikan sepak terjang Pendekar Sadis itu.

Thian Sin tersenyum, lalu meraih dan menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya. Tentu saja dia tidak menolak penawaran diri seorang wanita semanis Kim Lan, apa lagi karena sudah beberapa lamanya dia tidak pernah menyentuh wanita…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner