PENDEKAR SADIS : JILID-40


Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) sesungguhnya bukanlah suatu perkumpulan agama, melainkan sebuah perkumpulan politik yang menentang pemerintah. Para pemimpinnya memang terdiri dari para tosu yang sebagian menganut Agama To yang sudah tidak asli lagi, yang bercampur-baur dengan pelajaran-pelajaran Agama Buddha dan pelajaran dari aliran-aliran lain yang suka akan hal-hal mistik.

Pek-lian-kauw merupakan perkumpulan penentang pemerintah yang kuat. Biar pun sudah sering kali pemerintah melakukan usaha untuk membasminya, akan tetapi perkumpulan ini selalu berdiri lagi dan mempunyai cabang di mana-mana.

Kekuatannya terletak pada pengerahan rakyat yang mudah terbujuk oleh perkumpulan ini melalui ilmu-ilmu sihir, melalui filsafat-filsafat agama serta janji-janji. Tentu saja semua ini didasarkan atas penderitaan rakyat. Pek-lian-kauw pandai menggunakan bujuk rayu, dan juga memanfaatkan kemiskinan serta penderitaan rakyat yang merasa tak puas terhadap pemerintah yang pada waktu itu memang sangat buruk. Banyak pembesar yang bersikap sewenang-wenang, pejabat-pejabat yang menindas rakyat dengan berbagai jalan.

Kekeliruan pemerintah yang terutama adalah bahwa pemerintah selalu mengejar-ngejar perkumpulan itu dengan kekerasan. Tentu saja pemerintah tidak pernah berhasil, karena pemerintah hanya mengejar dan berusaha membasmi akibatnya saja tanpa peduli dengan sebabnya.

Timbulnya ketidak puasan rakyat membentuk adanya perkumpulan seperti perkumpulan Pek-lian-kauw yang ideologinya dilandaskan atas kemiskinan rakyat yang menderita dan tidak puas itu adalah akibat saja, dan sebabnya terletak pada keadaan rakyat itu sendiri. Biar pun ribuan kali perkumpulan semacam itu dibasmi, akan tetapi selama rakyat masih tertindas, miskin dan tidak puas, tentu akan muncul pula perkumpulan baru yang serupa, yaitu menentang pemerintah dan merongrong pemerintah.

Pek-lian-kauw selalu menghasut di dusun-dusun yang dihuni oleh rakyat miskin dengan mengatakan betapa rakyat sengsara hidupnya, ditindas, serta menonjolkan pula betapa mewahnya kehidupan orang-orang kaya dan pembesar-pembesar yang korup di kota-kota dan kota raja. Dengan perbandingan-perbandingan yang menyolok ini, dan ditambahi pula dengan bumbu-bumbu, Pek-lian-kauw menghasut rakyat jelata supaya menentang, untuk memberontak terhadap orang kaya, terhadap pembesar, terhadap pemerintah.

Kemiskinan rakyat merupakan sumber pertumbuhan perkumpulan macam Pek-lian-kauw itulah. Rakyat yang kecewa atau tidak puas dengan keadaan hidupnya, menjadi makanan empuk bagi perkumpulan semacam itu, mudah dihasut.

Oleh karena itu, mengejar-ngejar Pek-lian-kauw, membasminya dengan kekuatan senjata, sama saja dengan membabat rumput pada daunnya saja. Karena akarnya masih, maka dalam waktu singkat saja rumput-rumput itu akan tumbuh kembali, bahkan mungkin lebih subur. Sebuah pemerintahan yang baik, di bawah bimbingan pemimpin-pemimpin yang bijaksana, tentu akan lebih mempelajari sebabnya dari pada terkecoh oleh akibatnya, dan tentu akan lebih memperhatikan akarnya dari pada mengacuhkan rumputnya.

Sebabnya atau akarnya terletak pada kesengsaraan atau kemelaratan rakyat jelata. Kalau pemerintah memperhatikan keadaan kehidupan rakyat jelata, di dusun-dusun, di gunung-gunung, apa bila pemerintah dapat meningkatkan kehidupan mereka yang miskin dengan pendapatan yang memadai, sehingga semua rakyat dapat memperoleh sandang pangan papan yang layak, kalau perbedaan antara si kaya dan si miskin tidak begitu menyolok, kalau semua pejabat yang memeras dan korupsi diberantas dan diganti orang-orang yang bijaksana, maka rakyat akan hidup tenteram, tenang dan tidak kecewa.

Nah, kalau sudah begini, maka tanpa diberantas pun, perkumpulan-perkumpulan macam Pek-lian-kauw itu akan mati sendiri. Mata rakyat tentu akan terbuka bahwa perkumpulan semacam itu hanya menghasut belaka untuk menggunakan kekuatan mereka, kekuatan rakyat, agar dapat dimanfaatkan untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan, atau lebih jelas lagi perkumpulan itu hendak mempergunakan kekuatan rakyat untuk merebut kedudukan, demi kepentingan beberapa gelintir pemimpin perkumpulan itu sendiri tentu saja. Bahkan rakyat tentu akan menentangnya.

Tok-ciang Sianjin Ciu Hek Lam ialah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi sejak Jeng-hwa-pang diserang oleh putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kemudian dibantu oleh keturunan Cin-ling-pai, dia merasa hidupnya tidak aman. Dia masih merasa ngeri apa bila membayangkan kelihaian putera Pangeran Ceng Han Houw itu. Dan dia pun mengerti bahwa pemuda yang mengandung sakit hati karena kematian ayah bundanya itu tentu akhirnya akan mencarinya.

Maka sesudah Jeng-hwa-pang dibasmi, dia pun lari ke kota raja di mana dia mempunyai banyak sahabat sehingga dapat menyembunyikan dirinya. Beberapa tahun lamanya tidak ada orang yang mencarinya, maka dia mulai merasa tenang.

Akan tetapi kemudian dia mendengar munculnya seorang pemuda yang dijuluki Pendekar Sadis karena kekejamannya membasmi orang-orang jahat. Tok-ciang Sianjin lalu teringat kepada Thian Sin, putera Ceng Han Houw itu, dan dia pun sudah dapat menduga bahwa agaknya Pendekar Sadis ini adalah Ceng Thian Sin putera pangeran yang dahulu pernah menggegerkan dunia persilatan sebagai jagoan nomor satu itu!

Maka dia pun menjadi panik dan ketakutan, apa lagi ketika dia mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang sudah diobrak-abrik oleh Pendekar Sadis, bahkan Lo-thian Sin-kai serta Hek-bin Mo-kai juga telah dibunuhnya secara mengerikan. Makin yakinlah hatinya bahwa pemuda itu tentulah Ceng Thian Sin dan dia pun tahu bahwa pemuda itu pasti sedang mencarinya pula, dan pada akhirnya tentu tahu bahwa dia pun menjadi satu di antara pengeroyok dan pembunuh Pangeran Ceng Han Houw.

Tok-ciang Sianjin merasa tak aman lagi tinggal di kota raja, oleh karena itu dia pun lari ke satu-satunya tempat yang dirasanya akan aman baginya, yaitu ke sarang Pek-lian-kauw. Memang sudah lama dia mempunyai hubungan baik dengan Pek-lian-kauw. Sesudah dia menempati sebuah pondok di dalam komplek sarang Pek-lian-kauw dan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw yang cukup lihai sebagai teman, akhirnya hatinya menjadi tenteram juga.

Bagaimana pun juga, putera Sang Pangeran Ceng Han Houw yang diduganya tentulah Si Pendekar Sadis itu hanya seorang diri saja, maka dengan bantuan Pek-lian-kauw, bukan saja dia akan mampu menandingi Pendekar Sadis, bahkan jika pemuda itu berani muncul, dia tentu akan berusaha supaya pendekar itu dikeroyok sehingga tewas seperti mendiang ayahnya.

Sarang Pek-lian-kauw yang berada di lereng Pegunungan Tai-hang-san dan tak jauh dari daerah kota raja itu memang merupakan tempat yang sangat baik bagi perkumpulan ini. Dan agaknya untuk tidak menarik perhatian pemerintah, maka perkumpulan itu tidak mau mendirikan sebuah benteng, tetapi mempergunakan sebuah dusun untuk menjadi sarang mereka.

Mereka mendirikan banyak rumah di antara rumah-rumah penduduk dusun, dan ada pula yang mendirikan rumah-rumah di hutan-hutan tepi dusun itu, akan tetapi di antara semua rumah ini terdapat hubungan rahasia dan setiap waktu tempat itu terjaga oleh anak buah Pek-lian-kauw yang bersembunyi di tempat-tempat rahasia.

Para penduduk dusun Tiong-king itu pun semuanya sudah dipengaruhi sehingga biar pun mereka masih merupakan penduduk dusun biasa, namun sesungguhnya mereka itu telah menjadi anggota-anggota yang setia dari Pek-lian-kauw yang menjanjikan perbaikan nasib bagi mereka kalau kelak ‘perjuangan’ Pek-lian-kauw sudah berhasil.

Pada suatu pagi, seorang wanita yang manis memasuki perkampungan Pek-lian-kauw itu dan karena dia membawa kulit harimau serta mengatakan bahwa wanita itu adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi (Setan Penakluk Harimau), yakni pemburu yang biasa menjual kulit harimau dan ular besar kepada para pimpinan Pek-lian-kauw, maka ia diterima tanpa banyak kecurigaan.

Bahkan Kim Lan yang membawa dua gulung kulit harimau itu segera dibawa menghadap kepada Thian Hwa Lo-su, yaitu kakek yang pada waktu itu menjadi pemimpin atau ketua cabang Pek-lian-kauw di daerah itu. Ada pun pusat Pek-lian-kauw masih tetap berada di selatan, yaitu di Propinsi Hok-kian.

Thian-hwa Lo-su ini adalah seorang sahabat baik dari Tok-ciang Sianjin. Dia memimpin Pek-lian-kauw cabang daerah itu dengan bantuan lima orang sute-nya. Dengan hadirnya Tok-ciang Sianjin di tempat itu, tentu saja dia merasa gembira dan berarti memperoleh tenaga yang boleh diandalkan, yang akan membuat Pek-lian-kauw cabang daerah itu jadi semakin kuat.

Pada saat itu, Thian-hwa Lo-su sedang bersama lima orang sute-nya dan juga Tok-ciang Sianjin hadir pula. Mereka sedang menerima kunjungan seorang tokoh Pek-lian-kauw dari Hok-kian. Tokoh ini adalah seorang tosu Pek-lian-kauw yang bernama Giok-lian-cu, yakni seorang tosu tinggi kurus yang mukanya mirip seperti tikus akan tetapi matanya sangat berwibawa sebab tokoh ini memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi di samping ilmu sihir yang cukup kuat.

Giok-lian-cu ini datang dengan membawa pesan dari para pimpinan Pek-lian-kauw pusat untuk memperingatkan para pengurus cabang bahwa mereka itu kurang tekun berusaha menarik dukungan rakyat.

“Bagaimana dapat dikatakan kami kurang berusaha?” Thian-hwa Lo-su membantah. “Tiap hari kami telah membujuk dan menghibur rakyat di dusun-dusun, dan sudah banyak yang menjadi pengikut kami. Seperti misalnya di dusun Tiong-king ini, dari anak-anak sampai kakek-kakek, laki-laki mau pun wanita, semuanya mendukung gerakan kita!” Dia merasa agak penasaran apa bila dikatakan bahwa para pimpinan cabang kurang giat atau tekun bekerja.

“Siancai… siancai… harap Lo-heng jangan salah mengerti dan bisa menyelami apa yang dimaksudkan para pimpinan kita,” kata Giok-lian-cu sambil tersenyum. Kalau tersenyum, mukanya semakin mirip dengan muka tikus karena bentuk muka itu memang meruncing dan panjang, sedangkan muka itu dicukur licin, hanya menyisakan beberapa helai kumis jarang. “Coba Lo-heng jawab, di samping berusaha membujuk dan mengambil hati rakyat dengan janji-janji muluk, apakah kawan-kawan di daerah ini juga pernah berusaha untuk mencegah dan menghalangi adanya kemakmuran rakyat? Apakah sudah ada usaha untuk mengacaukan pembagian air sawah, merusak tanaman, meracuni sungai-sungai supaya ikan-ikan banyak yang mati, juga mengadakan kekacauan-kekacauan berselubung hingga rakyat hidup dalam kekurangan, kelaparan dan kegelisahan?”

Semua pimpinan Pek-lian-kauw daerah itu terbelalak. Selama menerima ‘gemblengan’ di pusat belum pernah mereka mendengar akan usaha-usaha seperti itu. “Tetapi mengapa? Bukankah kita malah harus berbaik dengan rakyat miskin? Mengapa kita harus membuat kehidupan mereka menjadi semakin memburuk…?”

“Ha-ha-ha, agaknya Lo-heng lupa bahwa rakyat harus dibuat semenderita mungkin, sebab dengan demikian, dengan adanya kegagalan panen, kegagalan para nelayan, kekacauan dan ketidak amanan, maka semakin besar pula rakyat akan tidak puas lantas membenci pemerintah. Kaisar dianggap sebagai utusan Thian, sehingga jika sampai panen gagal dan kehidupan sukar, berarti bahwa Thian marah kepada kaisar maka menjatuhkan hukuman. Keadaan ini akan lebih mudah untuk mendorong rakyat supaya memberontak dan menjadi pengikut-pengikut kita.”

Para pimpinan Pek-lian-kauw mengangguk-angguk dan mereka merasa amat kagum akan siasat baru yang dibawa oleh rekan ini dari pusat. Mereka lalu menyatakan kesanggupan mereka untuk mempergiat usaha mereka membuat rakyat di wilayah kekuasaan mereka menjadi makin melarat, dan bila perlu mereka akan membasmi hartawan-hartawan yang suka menderma, menghancurkan atau membakar persediaan pangan, meracuni sungai yang banyak ikannya dan meracuni tanaman-tanaman agar mati sebelum mengeluarkan hasil.

Akhirnya mereka minum arak dari cawan mereka sambil berseru, “Hidup Pek-lian-kauw! Demi kemakmuran rakyat jika pemerintah telah digulingkan sehingga Pek-lian-kauw yang berkuasa!”

Rapat pimpinan lalu dilanjutkan dengan makan minum untuk menjamu tamu dari pusat itu. Dan biar pun para pimpinan Pek-lian-kauw itu terdiri dari orang-orang yang mengenakan jubah pendeta, akan tetapi mereka semua tak pernah pantang makan barang berjiwa mau pun minuman keras. Bahkan mereka pun tak pernah pantang bersenang-senang dengan wanita. Karena itu, dalam perjamuan itu pun terdapat beberapa orang wanita muda, yaitu wanita-wanita dari dusun-dusun yang sudah menjadi pendukung mereka, tentu saja dipilih yang manis-manis untuk melayani mereka makan minum.

Para gadis yang telah dipilih oleh pimpinan Pek-lian-kauw itu rata-rata telah lama menjadi kekasih mereka pula, dan sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk menghibur para pimpinan Pek-lian-kauw. Gadis ini merasa seolah-olah mereka itu terpilih sehingga merasa bangga karena selain mereka merasa dipakai oleh para orang terkemuka, juga mereka tentu saja dihadiahi banyak barang berharga, pakaian indah dan emas permata.

Karena itu, pada saat melayani mereka makan minum, gadis-gadis itu pun bersikap genit-genit, apa lagi terhadap tamu itu, biar pun pendeta tamu itu tak dapat dikatakan memiliki wajah dan bentuk badan yang menarik hati wanita.

Pada pagi hari itulah, selagi para pimpinan Pek-lian-kauw sedang menjamu Giok-lian-cu, tokoh Pek-lian-kauw pusat itu, muncullah Kim Lan yang menawarkan dua gulungan kulit harimau kepada para pimpinan Pek-lian-kauw. Anggota Pek-lian-kauw yang mengenal suami wanita ini dan tahu bahwa ketua mereka suka sekali mengumpulkan kulit binatang buas, cepat membawa Kim Lan masuk ke ruangan di mana mereka sedang berpesta, apa lagi melihat bahwa wanita penjual kulit harimau ini amat manis.

Melihat anggotanya datang dengan membawa seorang wanita yang tidak mereka kenal, Thian-hwa Lo-su mengerutkan alisnya. Betapa sembrono anak buahnya itu. “Siapa yang kau bawa menghadap ini?”

“Maaf, suhu, dia adalah isteri mendiang Hok-houw-kwi si pemburu yang pernah menjual kulit binatang buas ke sini, dan dia sekarang membawa dua gulung kulit harimau…”

Kecurigaan segera lenyap dari sepasang mata ketua Pek-lian-kauw itu dan sekarang dia memandang dengan penuh perhatian, malah dengan pandang mata lembut ketika melihat betapa wanita itu memiliki wajah yang manis dan pakaiannya yang ketat itu menonjolkan tubuh yang padat dan menggairahkan.

Pandang mata wanita itu juga mengandung kerling tajam, tanda bahwa wanita itu bukan berdarah dingin. Dan terutama sekali, baru sekarang tuan rumah ini dapat melihat betapa pandang mata tamunya berkilat.

Apa bila tadi tamunya menghadapi para pelayan itu dengan sikap tak acuh dan jemu, kini kedatangan wanita itu membangkitkan gairah tamunya. Dan memang, kalau dibandingkan dengan gadis dusun yang sudah terbiasa melayani mereka serta bersikap genit-genit itu, maka wanita penjual kulit harimau ini jauh lebih unggul, baik dalam hal kemanisan wajah, kepadatan tubuh yang seolah-olah menyembunyikan kekuatan dan kehangatan, mau pun dalam sikap yang nampak alim.

“Ahh, jadi engkau adalah isteri Hok-houw-kwi? Memang pinto mengenal baik suamimu itu. Apa, sudah mendiang? Duduklah nyonya muda, duduklah dan ceritakan kapan suamimu itu meninggal dunia,” kata Thian-hwa Lo-su dengan sikap ramah.

Mulanya Kim Lan menolak dengan sikap malu-malu, akan tetapi setelah dibujuk oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang lain akhirnya duduklah dia di sebuah kursi, setelah dia menarik kursi itu agak menjauh dari meja dan dari para tokoh Pek-lian-kauw yang sedang duduk menghadapi masakan di atas meja yang panjang dan lebar itu. Diam-diam dia mengerling ke arah mereka lantas dengan mudah dia dapat mengenal Tok-ciang Sianjin seperti yang didengarnya dari Thian Sin.

Seorang kakek berusia hampir tujuh puluh, masih nampak kuat dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya pucat agak kehijauan, sepasang mata yang sipit seperti terpejam, dan jubahnya kuning. Yang berwajah dan bertubuh seperti itu hanya orang ini, maka tentu dia ini adalah Tok-ciang Sianjin, pikirnya.

Pendeta yang selalu menatapnya, yang bertubuh tinggi kurus pula, mukanya seperti tikus, tentu bukan Tok-ciang Sianjin. Maka dia pun cepat-cepat mencurahkan perhatian kepada tugasnya dan setelah duduk, dia diam saja menundukkan mukanya yang manis.

“Ceritakanlah, nyonya, bagaimana suamimu meninggal? Apakah dia meninggal pada saat memburu binatang buas? Sudah lama sekali dia tidak pernah mengirim kulit binatang ke sini,” desak pula ketua cabang Pek-lian-kauw itu sambil tersenyum ketika melihat betapa Si Muka Tikus itu nampak makin tertarik setelah mendengar bahwa suami wanita ini telah meninggal dunia.

Didesak demikian, tiba-tiba saja sepasang mata Kim Lan yang bening itu menjadi basah dan dia menjawab dengan suara gemetar memancing rasa iba, “Suami saya… dan ayah saya… telah dibunuh oleh si keparat Pangeran Toan.” Ia sengaja memaki nama pangeran itu sebab dia pun tahu persis bahwa orang-orang Pek-lian-kauw ini amat membenci kaum bangsawan, hartawan, dan juga orang-orang dari kalangan pemerintah.

“Toan-ong-ya…?” tanya ketua cabang Pek-lian-kauw itu hingga semua orang menatapnya dengan penuh perhatian.

“Benar, totiang,” kata wanita itu sambil menahan isaknya.

“Ahh…! Akan tetapi, bukankah pangeran keparat itu baru-baru ini dibunuh oleh Pendekar Sadis? Demikian yang kami dengar!” Mendadak Tok-ciang Sianjin berkata dan diam-diam Kim Lan bergidik mendengar suara ini, suara yang mengandung getaran yang langsung mengguncangkan jantungnya. Memang Pendekar Sadis sudah memberi tahu kepadanya bahwa pendeta ini memiliki kepandaian yang amat lihai.

“Saya juga sudah mendengar akan hal itu dan saya bersyukur karenanya. Siapa pun yang membunuhnya, maka sakit hati saya akan kematian suami dan ayah saya telah terbalas!” katanya dan dia dapat membuat suaranya terdengar lega dan bersyukur.

“Ehhh, nyonya muda, kau belum menceritakan mengapa suamimu dan ayahmu dibunuh oleh pangeran itu, dan kapankah terjadinya hal itu?”

“Ayah saya dan suami saya dibunuh oleh kaki tangan pangeran itu, kurang lebih empat bulan yang lalu karena… karena… ketika saya diutus suami saya menjual kulit harimau ke sana, pangeran itu hendak memaksa saya menjadi selirnya… saya lalu melarikan diri, dikejar kaki tangan pangeran itu. Ayah beserta suami saya membela, akan tetapi mereka dibunuh dan saya berhasil melarikan diri lalu bersembunyi. Setelah mendengar pangeran keparat itu dibunuh orang barulah saya berani keluar dari tempat persembunyian saya lagi.”

Semua orang mengangguk-angguk. Akan tetapi ketua cabang Pek-lian-kauw itu tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Kalau mereka sudah mati, bagaimana engkau bisa memperoleh dua gulung kulit harimau ini?”

Hemmm, ketua perkumpulan ini cerdik juga, pikir Kim Lan. Dia harus berhati-hati, karena kalau rahasianya sampai bocor, tentu dia akan mati tanpa mampu menghindarkan diri dari bahaya maut lagi.

“Sesudah mendengar pangeran keparat itu tewas, saya berani keluar lagi dan bersama teman-teman pemburu, yaitu para bekas teman-teman suami saya, saya lalu melanjutkan pekerjaan suami saya. Kami telah berhasil menjebak dua ekor harimau dan karena kami memburu di hutan-hutan yang berdekatan dengan tempat ini, yaitu di lereng Tai-hang-san sebelah barat, saya lantas teringat kepada pesan suami saya untuk menjual hasil buruan, terutama kulit harimau ke dusun Tiong-king, di mana katanya terdapat ketua perkumpulan yang suka membelinya.”

“Hemmm, dia mengatakan ketua perkumpulan? Perkumpulan apa?” ketua Pek-lian-kauw bertanya dengan kaget.

“Saya tidak tahu namanya, totiang, hanya dikatakan bahwa di dusun ini saya boleh minta menghadap ketuanya untuk menawarkan kulit-kulit ini. Karena itu saya berani datang ke sini sebab menurut keterangan suami saya dahulu, para pendeta di sini berani membayar mahal dan juga bahwa mereka… semua manis budi dan gagah perkasa.”

“Ha-ha-ha!” Tiba-tiba pendeta muka tikus itu tertawa. “Sayang suamimu sudah meninggal nyonya, kalau belum, tentu aku akan suka berkenalan dengan dia.”

Melihat sikap tamunya, ketua cabang Pek-lian-kauw turut tertawa. “Lo-te, kalau suaminya sudah meninggal, masih ada isterinya, bukankah boleh juga untuk berkenalan?”

Mereka semua tertawa, kecuali Tok-ciang Sianjin. Pendeta ini memang sejak dahulu tidak suka kepada wanita. Dia lebih suka untuk mengajak seorang lelaki tampan menemaninya tidur. Dan mendengar bahwa suami dan ayah wanita ini terbunuh oleh Toan-ong-ya yang baru saja terbunuh oleh Pendekar Sadis, dia merasa tak enak hati sungguh pun dia tidak dapat menghubungkan wanita ini dengan Pendekar Sadis.

“Nyonya muda, jangan khawatir. Kedua gulung kulit harimau itu tentu akan kami beli dan kami akan membayar berapa saja harga yang kau minta. Akan tetapi, mengingat bahwa mendiang suamimu adalah sahabat baik kami, maka engkau pun merupakan sahabat baik kami dan engkau kami anggap sebagai seorang tamu yang terhormat. Mari masuklah dan minum bersama kami, nyonya!” Dan kepada para pelayan itu Thian-hwa Lo-su berteriak agar disediakan mangkok, sumpit dan cawan bersih.

“Ahh, mana saya berani, totiang… ? Saya… tidak seharusnya saya…”

“Nyonya, dengan sungguh hati kami menghormati engkau sebagai isteri bekas sahabat dari Thian-hwa Lo-su, tetapi mengapa engkau hendak menolaknya? Apakah engkau tidak mau menerima kebaikan kami?” Tiba-tiba pendeta yang bermuka tikus itu berkata sambil tersenyum penuh arti.

Sekali pandang saja Kim Lan yang sudah berpengalaman itu maklum apa yang sedang berkecamuk di dalam benak kepala yang seperti kepala tikus itu dan di dalam hatinya dia pun tersenyum puas. Memang inilah yang dicarinya. Tanpa bisa mengail salah seorang di antara para pimpinan Pek-lian-kauw dengan kecantikannya, mana mungkin dia akan bisa menyelidiki tentang keadaan Tok-ciang Sianjin itu? Dan Si Muka Tikus ini agaknya bukan seorang yang berkedudukan rendah, buktinya dia dapat bicara seolah-olah dia berkuasa di situ.

Mendengar ucapan tamunya ini, Thian-hwa Lo-su gembira sekali. Terbuka jalan baginya untuk meyenangkan hati tamunya dan hal ini sangat perlu karena dengan demikian maka tentu orang penting ini akan membuat laporan baik ke pusat tentang dirinya.

“Ha-ha-ha-ha, engkau sungguh beruntung sekali, nyonya, telah menyenangkan hati tamu agung kami. Perkenalkanlah, Lo-te ini adalah Giok-lian-cu, seorang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali dan engkau tidak akan rugi berkenalan dengan dia.”

Dengan lagak seorang wanita ‘baik-baik’, Kim Lan akhirnya mau menerima ajakan makan minum itu dengan sikap malu-malu. Akan tetapi sesudah makan minum beberapa cawan arak, wanita ini pun mulai tersenyum manis sekali kepada Si Muka Tikus. Wajahnya yang manis berubah menjadi kemerahan, senyumnya makin lebar, tidak malu-malu lagi seperti tadi sehingga jika tersenyum nampak deretan gigi putih rapi dan kadang-kadang nampak ujung lidahnya yang merah meruncing.

Giok-lian-cu, tosu Pek-lian-kauw yang seperti juga rekannya, walau pun sudah memakai pakaian pendeta namun masih menjadi hamba nafsu yang sangat lemah, sudah menjadi tergila-gila kepada Kim Lan. Seorang janda yang sudah empat bulan ditinggal suaminya! Tentu saja bayangan ini lebih menarik baginya dibandingkan dengan wanita-wanita dusun yang melayani mereka makan minum itu, yang biar pun tidak bersuami, akan tetapi setiap malam melayani para pimpinan Pek-lian-kauw di tempat itu secara bergilir.

Dan Kim Lan pandai sekali jual mahal, bersikap laksana seorang wanita yang belum tahu apa-apa. Hanya dengan bujukan dan seperti orang yang setengah terpaksa karena takut, akhirnya ia membiarkan dirinya digandeng dan setengah ditarik-tarik oleh tosu muka tikus itu memasuki kamar tamu yang sudah disediakan untuknya oleh para rekan-rekannya.

Para tosu pimpinan cabang Pek-lian-kauw mengiringi mereka berdua yang masuk kamar itu dengan tawa gembira, membuat Kim Lan mudah saja menjadi merah mukanya, yang sesungguhnya bukan merah karena malu-malu, melainkan karena marah! Namun semua ini harus dilakukannya.

Betapa pun juga, dia harus berani berkorban untuk Pendekar Sadis. Bukan hanya karena pendekar itu sudah berhasil membalaskan sakit hatinya terhadap Pangeran Toan, namun juga karena dia amat takut kepada pendekar yang luar biasa kejamnya itu, dan di samping rasa takut, juga dia tunduk dan tergila-gila kepada pemuda itu setelah beberapa hari lamanya dia menjadi kekasih pemuda yang lihai, gagah dan juga kejam dan aneh itu.

Dia sudah berjanji hendak membantu, untuk menyelidiki tempat persembunyian Tok-ciang Sianjin dan tentang keadaan di sarang Pek-lian-kauw itu, dan satu-satunya jalan baginya untuk bisa berhasil tentu saja hanya dengan mengorbankan dirinya dan mempergunakan kecantikannya untuk memikat hati seorang pimpinan Pek-lian-kauw. Dan dia berhasil.

Dengan baik sekali karena dari percakapan tadi ia diperkenalkan bahwa tamu agung yang harus dilayaninya adalah Giok-lian-cu, seorang tokoh Pek-lian-kauw dari pusat yang tentu saja sangat dihormati oleh para pimpinan di situ. Juga, di dalam perjamuan tadi diam-diam dia memperhatikan musuh Pendekar Sadis dan diam-diam dia merasa seram dan ngeri.

Tosu itu nampak demikian pendiam dan dingin, memandang rendah pada segala sesuatu di sekitarnya, bahkan dialah satu-satunya orang di antara para tosu itu yang tak bersikap merendah dan menjilat terhadap tosu tamu muka tikus itu. Kim Lan maklum bahwa orang seperti itu tentu amat kejam dan juga amat cerdik, maka dia bersikap amat hati-hati.

Untung bahwa bukan kepada tosu musuh besar Pendekar Sadis itu dia harus melayani, sebab biar pun sebagai pria Tok-ciang Sianjin itu jauh lebih menarik dibandingkan dengan kakek muka tikus, namun ia akan merasa ketakutan dan ngeri terhadap Tok-ciang Sianjin dan tosu itu tentu akan dengan mudah dapat membongkar rahasianya.

Dengan pengalaman yang luas dalam hal hubungan antara wanita dan pria, maka dengan mudah saja Kim Lan membuat tosu muka tikus itu makin terbuai dan tergila-gila padanya, dan dari tosu inilah Kim Lan akhirnya bisa memperoleh keterangan selengkapnya tentang diri Tok-ciang Sianjin, di mana tinggalnya, di pondok yang mana, dan apa kedudukannya di tempat itu. Satu-satunya pertanyaan Si Muka Tikus yang membayangkan keheranan tetapi tanpa kecurigaan hanyalah,

“Ehh, kenapa engkau tanya-tanya tentang Tok-ciang Sianjin?”

Kim Lan menjawab sambil merangkul dan tubuhnya agak menggigil bagaikan orang yang ketakutan dan ngeri. “Mukanya begitu dingin dan sinar matanya kepadaku seakan-akan hendak menembus jantungku. Itulah sebabnya aku ingin tahu siapa sih manusia bermuka dingin itu.”

Jawaban ini menyenangkan hati Giok-lian-cu maka dia pun menceritakan semua keadaan Tok-ciang Sianjin seperti yang ditanyakan oleh wanita yang malam itu benar-benar telah menghiburnya dan membuatnya merasa senang sekali.

Sungguh pun malam itu merupakan siksaan jasmani dan rohani bagi Kim Lan yang harus melayani seorang kakek yang dibencinya dan harus menurut saja apa pun yang dilakukan oleh laki-laki itu kepadanya, akan tetapi pada keesokan harinya, ketika dia berpamit dan dibekali uang cukup banyak untuk membayar dua gulung kulit harimau dan pelayanannya, Kim Lan pulang dengan hati senang bukan main. Dia sudah berhasil, dia akan membikin girang hati Pendekar Sadis yang dipuja dan dicintanya!

Sesudah mendengarkan semua keterangan dari Kim Lan tentang musuh besarnya, Thian Sin tersenyum gembira. “Terima kasih, Kim Lan. Kau tunggu saja di dalam hutan ini, aku mau pergi, tunggu sampai aku kembali!”

“Taihiap…!” Kim Lan berseru, akan tetapi pendekar itu telah lenyap dari depannya dengan cepat sekali.

Kim Lan duduk di atas batu sambil termenung, merasa kesepian dan juga gelisah. Malam tadi dia telah melakukan tugas yang berat dan sekarang pun dia masih merasa muak jika teringat akan kakek si muka tikus. Akan tetapi, pendekar itu tidak mau menghiburnya dan pergi begitu saja, menyuruhnya tinggal seorang diri di tempat sunyi itu.

Akan tetapi dia percaya bahwa Pendekar Sadis tentu akan kembali. Apa bila pendekar itu telah berhasil membunuh musuh besarnya, maka barulah dia akan menagih upah sepuas hatinya atas jasa-jasanya membantu pendekar itu…..!

********************

Sementara itu, Thian Sin sedang melakukan perjalanan cepat sekali menuju ke sarang Pek-lian-kauw. Dia sudah mendapatkan keterangan dengan jelas dari Kim Lan. Tok-ciang Sianjin memang benar berada di sarang Pek-lian-kauw, dan menurut keterangan wanita itu, Tok-ciang Sianjin bersembunyi seorang diri di dalam sebuah pondok di sebelah utara dusun atau perkampungan Pek-lian-kauw itu.

Perkampungan itu setiap waktu dijaga oleh para anak buah Pek-lian-kauw sehingga tidak mungkin ada orang asing dapat memasuki kampung tanpa diketahui mereka dan sebelum dia sempat bertemu dengan musuh besarnya itu, tentu dia sudah dilaporkan terlebih dulu sehingga fihak musuhnya dapat berjaga-jaga.

Akan tetapi, di waktu pagi itulah kesempatannya yang paling baik baginya sebab menurut keterangan Kim Lan, Tok-ciang Sianjin berlatih semedhi dan tidak keluar dari pondoknya dari pagi sampai sore. Tosu itu melatih ilmu silat kepada para pimpinan Pek-lian-kauw, atau setidaknya bertukar pikiran tentang ilmu silat dan saling mengisi.

Menurut penuturan kakek muka tikus yang memberi keterangan kepada Kim Lan, katanya Tok-ciang Sianjin mempunyai hubungan sangat baik dengan Thian-hwa Lo-su dan sering kali mewakili ketua itu untuk melatih ilmu silat kepada murid-murid ketua itu, dan bahkan kepada para sute ketua itu yang merupakan dewan pimpinan cabang Pek-lian-kauw.

Tentu saja hal itu dilakukan sebagai imbalan jasa Pek-lian-kauw yang telah menerimanya untuk bersembunyi di tempat itu, dan juga tentu saja untuk perlindungan yang dijanjikan oleh Pek-lian-kauw kepadanya untuk menghadapi musuh besarnya, demikian pikir Thian Sin.

Dan memang sesungguhnya dugaan pemuda ini tidak meleset dari kenyataan. Tok-ciang Sianjin sudah mendengar tentang Pendekar Sadis itu, dan sudah dapat menyangka siapa adanya pendekar kejam itu, dan dia merasa gentar sekali. Karena itu dia sudah berunding dengan pimpinan Pek-lian-kauw untuk minta bantuan mereka apa bila musuh besarnya tiba, dan sudah memperoleh janji dari pihak pimpinan Pek-lian-kauw.

Akan tetapi tentu saja Thian Sin tidak merasa takut untuk menghadapi mereka semua itu. Hanya dia bersikap cerdik, tidak mau memasuki sarang Pek-lian-kauw begitu saja, karena kalau dia tidak hati-hati dan masuk begitu saja, sebelum dia bertemu dengan musuhnya, dia akan ketahuan dan musuhnya yang mendengar akan kedatangannya itu sangat boleh jadi akan melarikan diri terlebih dulu.

Dia harus dapat menyergap Tok-ciang Sianjin di pondoknya sebelum orang itu pergi, dan sesudah itu, meski dia akan dikeroyok oleh seluruh anggota Pek-lian-kauw sekali pun, dia tidak merasa gentar. Yang penting dia harus dapat bertemu dengan Tok-ciang Sianjin dan membunuh musuh besar ini sebelum orang itu sempat melarikan diri lagi.

Ketika tiba di luar dusun yang menjadi sarang Pek-lian-kauw, Thian Sin cepat menyelinap di antara pohon-pohon di luar dusun sebelah utara. Sampai beberapa lamanya dia diam saja bersembunyi tanpa bergerak dan akhirnya dia dapat melihat ada tiga orang anggota Pek-lian-kauw yang mendekam di dalam parit, agak jauh di depannya.

Hemmm, ternyata mereka itu berjaga sambil bersembunyi di dalam parit, seperti barisan pendam. Tentu saja sulit bagi orang luar untuk bisa memasuki wilayah itu tanpa ketahuan, pikirnya.

Dia lalu menyelinap di antara pohon dan semak-semak, mempergunakan kepandaiannya sehingga gerakannya laksana terbang saja, cepat sekali dia berpindah dari satu pohon ke lain pohon, bergerak ke sebelah kanan. Tepat seperti yang sudah diduganya, antara jarak seratus meter dari parit itu, terlihat parit lainnya dengan tiga orang anggota Pek-lian-kauw yang berjaga sambil enak-enak duduk di dalam parit. Pada waktu dia memeriksa ke kiri, di sebelah parit pertama, juga dalam jarak sekitar seratus meter, terdapat parit lain. Kiranya demikian ketat penjagaannya.

Thian Sin bergerak cepat. Dia segera merunduk lalu bergerak sambil bertiarap di antara rumput-rumput tinggi, mendekati parit pertama. Setelah tiba dekat tubuhnya lantas terjun ke bawah dan sebelum ketiga orang itu sempat mengeluarkan suara, hanya memandang dengan mata terbelalak, dalam beberapa detik saja Thian Sin sudah merobohkan mereka dengan menotok mereka. Gerakannya terlalu cepat bagi tiga orang penjaga ini sehingga mereka itu telah roboh terkulai pingsan sebelum tahu apa yang terjadi!

Thian Sin cepat menggunakan sabuk mereka untuk mengikat kaki tangan mereka, lantas mempergunakan baju mereka untuk menyumbat mulut mereka sehingga apa bila mereka siuman kembali, mereka tidak akan dapat berkutik atau berteriak. Semua ini dilakukannya dalam waktu kurang dari lima menit dan pada lain saat, dia sudah bergerak seperti seekor ular, bertiarap dan merangkak maju menuju ke parit ke dua di sebelah kiri.

Kembali dia menaklukkan tiga orang penjaga seperti tadi dan tak lama kemudian dia telah meninggalkan mereka menuju ke parit ke tiga dalam keadaan terikat dan tersumbat mulut mereka seperti tiga orang teman mereka yang pertama tadi. Tanpa banyak mengalami kesukaran, Thian Sin juga membuat tiga orang penjaga di parit ke tiga tidak berdaya.

Hatinya sangat girang dan dia pun cepat bergerak maju. Akan tetapi dia tidak kehilangan kewaspadaannya. Biar pun dia sudah membersihkan jalan masuk dengan menundukkan para penjaga di tiga parit, dan dia percaya bahwa penjaga di parit yang lain jauh untuk dapat melihatnya, dia masih maju dengan sangat hati-hati.

Pondok yang paling ujung itu, yaitu pondok tempat tinggal Tok-ciang Sianjin telah tampak. Akan tetapi Thian Sin cepat-cepat menahan kegembiraan hati yang dapat membuat orang menjadi lengah itu. Dia tetap berhati-hati dan memeriksa keadaan di sekelilingnya dengan teliti.

Dan sikapnya ini berhasil baik ketika tiba-tiba dari jauh dia melihat gerakan di atas pohon. Cepat dia menyelinap ke balik semak-semak belukar lantas mengintai. Ternyata di atas pohon itu terdapat seorang penjaga! Ahh, pasti di lain-lain pohon yang agaknya sengaja ditanam di sekeliling daerah itu tentu ada penjaganya yang bersembunyi.

Untuk melumpuhkan penjaga di atas pohon itu seperti yang dilakukannya terhadap para penjaga di parit tidaklah mudah, pikirnya. Tentu gerakannya itu akan segera nampak oleh para penjaga lain di pohon lain, atau bahkan nampak dari jendela pondok itu. Siapa tahu Tok-ciang Sianjin sedang melihat dari sana. Thian Sin memutar otak mencari akal.

Kemudian dia mengambil keputusan untuk menggunakan kepandaiannya yang lain, yaitu ilmu sihirnya. Dengan langkah tetap dia lalu bangkit dan berjalan menghampiri pohon itu! Dia sudah berada di dalam wilayah Pek-lian-kauw setelah dapat melampaui para penjaga di parit tadi, maka biarlah dia berlagak seperti bukan orang asing di daerah itu!

Setelah tiba di dekat pohon dia lalu memandang ke atas, ke arah penjaga yang sejak tadi tentu saja telah melihatnya dan sudah mempersiapkan anak panah pada busurnya untuk menyerang ke bawah itu. Akan tetapi penjaga itu menjadi ragu-ragu ketika pemuda yang berada di bawah itu menggapai dengan tangan, tersenyum ramah kemudian berkata,

“Hai, kawan, aku ada pesan penting sekali dari ketua. Turunlah dan akan kuberi tahukan padamu!”

Penjaga itu meragu, akan tetapi melihat sikap pemuda ini dan melihat bahwa pemuda itu telah berada di daerah mereka sendiri, berarti bukan orang asing karena orang asing tidak akan mungkin mampu melewati para penjaga parit, serta mendengar bahwa pemuda itu membawa pesan penting dari ketua, dia menjadi ingin tahu dan cepat memanjat turun dari pohon. Pemuda itu tak membawa senjata dan sikapnya pun tidak seperti seorang musuh, maka dia pun tidak khawatir.

Akan tetapi ketika dia telah berdiri berhadapan dengan pemuda itu, dia melihat sepasang mata yang mencorong seperti mata harimau. Penjaga itu terkejut sekali, namun terlambat karena dia sudah tunduk di bawah pengaruh pandangan mata Thian Sin yang kini berkata dengan suara lirih namun mengandung penuh wibawa, terutama sekaii terasa oleh orang itu sebagai perintah yang tak mungkin dibantah.

“Antarkan aku menghadap Tok-ciang Sianjin ke pondoknya!”

“Baik, akan kuantarkan, marilah,” penjaga itu menjawab seolah-olah dia berbicara dengan seorang rekannya sendiri. Tentu saja hal ini merupakan hasil dari kekuatan sihir Thian Sin yang memaksa orang itu percaya bahwa dia adalah seorang temannya.

Para penjaga lain di atas pohon yang berada di kanan kiri tentu saja melihat hal ini, akan tetapi karena penjaga itu menerima Si Pemuda dengan baik, bahkan lantas mengajaknya berjalan menuju ke pondok tempat tinggal Tok-ciang Sianjin, tentu saja para penjaga lain itu tidak menaruh curiga dan menyangka bahwa pemuda itu adalah penduduk dusun atau juga orang yang sudah dikenal oleh penjaga itu maka dapat diterima.

Apa lagi sesudah melihat orang itu dibawa oleh si penjaga menuju ke pondok Tok-ciang Sianjin, maka para penjaga lain itu tersenyum. Mereka sudah mengenal watak Tok-ciang Sianjin yang lebih senang berdekatan dengan seorang pemuda tampan dari pada dengan wanita. Dan pemuda itu, biar pun hanya kelihatan dari jarak agak jauh, memang nampak amat tampan!

Berdebar tegang juga rasa hati Thian Sin setelah mereka berdua mendekati pondok itu. Di sinilah adanya orang yang selama ini dicari-carinya! Hatinya berdebar karena tegang dan girang, juga khawatir kalau-kalau dia gagal.

“Panggil dia keluar, katakan ada tamu yang membawa berita penting untuknya!” bisiknya dengan pengerahan tenaga sihirnya. Orang itu mengangguk dan mengetuk pintu pondok yang tertutup dengan hati-hati.

“Sianjin harap suka membuka pintu, ada tamu yang membawa berita penting sekali untuk Sianjin!”

Sunyi saja di dalam. Tidak ada jawaban. Atas desakan Thian Sin, penjaga itu mengetuk lagi dan mengulang kata-katanya sampai beberapa kali. Akan tetapi tetap saja sunyi, tidak ada jawaban dari dalam. Tentu saja Thian Sin menjadi curiga dan khawatir kalau-kalau gagal. Dia lalu menerjang ke depan, mendorong pintu dengan kedua tangannya.

“Brakkk…!” Pintu itu jebol dan terbuka.

Dengan berani Thian Sin melompat ke dalam pondok, membiarkan penjaga itu bengong terlongong, seperti baru bangun dari tidur dan merasa terheran-heran kenapa dia berada di depan pondok itu dan melihat orang menjebol pintu pondok, padahal seharusnya dia berjaga di atas pohon!

Thian Sin bergerak cepat di dalam pondok, memeriksa seluruh isi pondok itu. Ternyata pondok itu sudah kosong! Burung itu telah terbang! Dia telah ditipu, atau bahkan dijebak! Dengan marah dia lalu menendangi semua barang di dalam pondok itu hingga terdengar suara hiruk-pikuk dan barang-barang di situ rusak semua. Tiba-tiba saja terdengar suara ketawa di luar pondok!

“Ha-ha-ha, Pendekar Sadis! Engkau telah masuk perangkap!”

Thian Sin menjadi marah sekali, tapi tidak tahu marah pada siapa. Dia tidak tahu apakah Kim Lan mengkhianati dirinya? Agaknya tidak demikian. Lebih besar kemungkinan bahwa memang Pek-lian-kauw ini lihai bukan main maka mereka sudah tahu akan kunjungannya sehingga sebelum dia tiba di pondok, Tok-ciang Sianjin telah pergi dulu dan membiarkan dia memasuki pondok kosong.

Kemudian dia menerjang keluar dan ternyata orang yang dicarinya itu, Tok-ciang Sianjin, memang sudah berada di luar dan sedang berdiri tegak di samping tujuh orang berjubah pendeta yang dia duga tentulah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw, dan di belakang orang-orang itu nampak puluhan orang anggota Pek-lian-kauw. Kiranya tempat itu telah dikurung oleh para anggota Pek-lian-kauw.

Thian Sin tersenyum mengejek. Sikapnya tenang sekali walau pun dia maklum bahwa dia telah dikurung oleh sedikitnya seratus orang, dan kini dia berhadapan dengan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Bahkan dia masih mampu mengeluarkan kata-kata yang dinyanyikannya untuk mengejek lawannya.

“Seekor buaya selalu memilih pecomberan di mana dia akan merasa senang. Seorang Ciu Hek Lam, sungguh pun sudah berjuluk Tok-ciang Sianjin, tetap saja merasa perlu untuk menyembunyikan diri di antara orang-orang Pek-lian-kauw yang tidak segan-segan untuk melakukan pengeroyokan. Betapa menjemukan!”

Mendengar ini, para pimpinan cabang Pek-lian-kauw menjadi merah mukanya, sedangkan Tok-ciang Sianjin diam saja, hanya menatap dengan tajam, wajahnya yang dingin sama sekali tak membayangkan sesuatu. Senjatanya pecut baja masih terlibat di pinggangnya, dan dia selalu mengikuti gerak-gerik Thian Sin dengan penuh perhatian.

Diam-diam dia merasa heran sekali bagaimana seorang yang masih begini muda sudah memiliki kepandaian yang begitu menggiriskan, bahkan sudah dikenal sebagai Pendekar Sadis yang sepak terjangnya mendirikan bulu roma. Untunglah dia bersikap waspada dan dia sudah curiga kepada wanita pembawa dua gulung kulit harimau itu, maka diam-diam sesudah wanita itu pergi, dia langsung mengadakan perundingan dengan para pimpinan Pek-lian-kauw, menyatakan kecurigaannya.

Secara diam-diam dia pun telah bersiap-siap sehingga pada saat pemuda itu muncul, dia telah mengetahuinya terlebih dulu dan mengatur jebakan. Kini pemuda itu telah terkurung dan menurut kehendaknya, dia ingin lekas-lekas melihat pemuda yang menjadi ancaman baginya itu dienyahkan dari muka bumi. Akan tetapi, di depan para orang Pek-lian-kauw, tentu saja dia merasa malu untuk memperlihatkan rasa takutnya, apa lagi di situ terdapat Giok-lian-cu yang kabarnya amat lihai itu.

Sementara itu, mendengar ucapan Thian Sin yang dilagukan seperti nyanyian ejekan ini, pendeta bermuka tikus itu lalu tertawa dan dia pun lantas memandang kepada Thian Sin dengan sinar mata yang sangat tajam, seolah-olah ada getaran keluar dari sinar matanya, lalu mulutnya mengeluarkan suara yang juga mengandung getaran yang amat berwibawa sehingga terasa oleh semua orang yang berada di situ.

“Orang muda, engkau berhadapan dengan Giok-lian-cu. Engkau telah terkurung, melawan pun tidak ada gunanya. Orang muda, lihatlah baik-baik padaku dan kuperingatkan engkau untuk lekas berlutut dan menyerah!”

Thian Sin merasa bahwa ada kekuatan yang cukup hebat seperti hendak memaksanya berlutut. Namun dia dapat menangkis dan melawan kekuatan sihir ini, akan tetapi dia lalu mempunyai akal. Mengapa dia tidak pura-pura menurut? Kalau dia sudah berlutut, tentu Tok-ciang Sianjin akan turun tangan menyerangnya dan saat itu pula, selagi semua orang lengah, dia akan dapat menyerang musuh besarnya itu dan merobohkannya!

Kalau sekarang dia menyerang, tentu akan ada banyak orang yang melindungi Tok-ciang Sianjin sehingga dia merasa khawatir kalau-kalau serangannya akan gagal dan dia keburu dikepung ketat sehingga musuh besarnya itu akan mampu melarikan diri lagi. Maka, setelah memperhitungkan dengan cepat, dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut!

Melihat ini, Giok-lian-cu lantas tertawa bergelak dengan hati penuh kebanggaan. Dia telah berhasil memamerkan kepandaiannya, disaksikan oleh semua anak buah Pek-lian-kauw. Dan memang semua orang langsung mengeluarkan seruan kagum melihat betapa dengan sekali perintah saja, pemuda yang didesas-desuskan sebagai Pendekar Sadis itu telah menjatuhkan diri berlutut di depan tamu dari Pek-lian-kauw pusat itu!

Sementara itu, melihat pemuda itu menjatuhkan diri berlutut, Tok-ciang Sianjin merasa girang sekali dan menurutkan kata hatinya, ingin dia segera menubruk, menyerang dan membunuh pemuda itu. Sudah dilolosnya cambuk atau pecut bajanya dari pinggangnya, akan tetapi kecerdikannya masih menahan tangannya untuk bergerak, sebaliknya dia lalu, berkata kepada dua orang sute dari Thian-hwa Lo-su yang juga dapat disebut muridnya karena lima orang itu sering kali menerima petunjuk-petunjuknya dalam ilmu silat.

“Lekas ringkus dia, tapi patahkah dulu kedua tulang pundaknya!”

Dua orang sute dari Thian-hwa Lo-su cepat menubruk maju dari kanan kiri. Mereka pun ingin berjasa dan memperlihatkan kepandaian, dan tentu saja mereka berani melakukan ini bukan hanya karena tingkat kepandaian mereka pun sudah tinggi, akan tetapi terutama melihat keadaan pemuda itu yang sudah dikuasai oleh sihir dari Giok-lian-cu.

Jangankan pemuda itu sudah tak berdaya, meski pun pemuda itu masih sehat sekali pun kalau mereka maju berdua, mereka tidak merasa takut. Nama besar Pendekar Sadis itu mungkin hanya omong kosong saja, pikir mereka, melihat keadaan usia pemuda ini yang masih demikian muda. Maka, sekali menubruk, keduanya sudah menghantamkan tangan terbuka dengan pengerahan sinkang untuk menghancurkan tulang pundak kanan dan kiri Thian Sin.

Diam-diam Thian Sin kecewa bukan main. Siasatnya memang sudah berhasil dan orang menyangka dia benar-benar sudah dikuasai ilmu sihir dari tosu muka tikus itu. Akan tetapi sialnya, bukan Tok-ciang Sianjin yang maju sendiri meski pun orang itu sudah meloloskan senjata, melainkan menyuruh dua orang tosu Pek-lian-kauw yang lain. Akan tetapi, tentu saja dia tidak sudi kalau tulang pundaknya diremukkan orang, dan melihat angin pukulan yang cukup dahsyat itu berbahayalah tulang pundaknya kalau dia tidak melawan.

“Desss…! Desss…!”

Thian Sin bangkit menangkis dan tubuh dua orang pimpinan Pek-lian-kauw itu terlempar ke kanan kiri lantas terbanting keras. Thian Sin tidak berhenti sampai sekian saja.

“Tok-ciang Sianjin pengecut hina!” sambil membentak, dia telah menerjang dan mengirim pukulan dahsyat ke arah Tok-ciang Sianjin Ciu Hek Lam.

“Desss…! Desss…!”

Tok-ciang Sianjin dan juga Thian-hwa Lo-su yang ikut pula menangkis serangan itu untuk melindungi sahabatnya, langsung terjengkang dan keduanya tentu akan terbanting pula apa bila mereka tidak cepat berjungkir balik.

“Tar-tar-tarrr…!”

Cambuk baja di tangan Tok-ciang Sianjin sudah meledak-ledak ke atas kepala Thian Sin. Akan tetapi setiap serangan cambuk itu membalik ketika bertemu dengan jari-jari tangan pemuda itu. Dari samping menyambar angin pukulan dahsyat sekali.

Thian Sin terkejut, maklum akan datangnya serangan yang kuat. Cepat dia membalik dan menangkis sambil menggunakan tenaga Thi-khi I-beng.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner