PENDEKAR SADIS : JILID-43


Keadaan di tempat itu sunyi saja, hanya terlihat beberapa orang anggota Bu-tek Kai-pang yang berdiri bagaikan patung. Tempat itu seolah-olah diselubungi suasana berkabung dan memanglah, selain gentar, juga para anggota Bu-tek Kai-pang berkabung akibat kematian para anggota yang dua belas orang itu, ditambah lagi enam orang yang tewas pada saat Thian Sin mempergunakan Thi-khi I-beng. Di dalam gedung Bu-tek Kai-pang, tiga orang ketuanya sedang rebah dengan muka pucat, karena mereka telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Thian Sin memandang kagum saat dia tiba di depan gedung yang menjadi tempat tinggal Lam-sin. Gedung itu mungil dan nyeni, dengan tanaman-tanaman yang amat terawat rapi dan indah. Halaman depan dihias dengan petak rumput yang hijau segar dan rata, dan di sana-sini tumbuh pohon kembang mawar dan bermacam-macam bunga.

Jalan menuju ke pintu depan dilapisi dengan kerikil yang merupakan kerikil putih kebiruan. Saat menginjak jalan berkerikil itu, terdengar suara berisik sehingga Thian Sin cepat-cepat mengerahkan ginkang-nya. Kini dia berjalan melalui kerikil itu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun seolah-olah tubuhnya hanya seringan bulu saja!

Dua orang wanita muda yang menyambutnya di pintu depan, memandang dengan wajah tak berhasil menyembunyikan keheranan dan kekaguman mereka melihat betapa pemuda itu dapat berjalan di atas jalan kerikil tanpa menimbulkan suara. Ini saja sudah merupakan demontrasi ginkang yang amat hebat, dan yang mereka ketahui hanya mampu dilakukan oleh majikan mereka, Lam-sin.

Ketika Thian Sin sudah berdiri di depan pintu, dua orang wanita yang berpakaian rapi dan memiliki wajah yang manis itu segera memberi hormat. Seorang di antara mereka, yang mempunyai tahi lalat kecil di dagu sehingga dia kelihatan manis sekali, berkata dengan suara halus dan merdu,

“Kongcu, silakan masuk. Pangcu sedang menghadapi meja makan dan mempersilakan kongcu untuk masuk saja.”

“Pangcu juga mengundang kongcu untuk makan malam bersamanya,” kata pula wanita ke dua.

Thian Sin tersenyum. Dua orang gadis muda ini sungguh cantik dan berpakaian mewah, sama sekali tidak kelihatan seperti pelayan. Maka dia pun mengangguk. “Pangcu kalian sungguh baik hati.” Maka dia pun mulai melangkah ke dalam gedung itu, diiringi oleh dua orang, satu di depan dan satu lagi di belakangnya.

Ketika memasuki gedung kecil itu, Thian Sin merasa semakin kagum. Lantainya begitu bersih dan licin mengkilat, langit-langitnya agak tinggi dan banyak terpasang lubang angin berukir sehingga ruangan di dalam gedung terasa sejuk sekali. Dan di dinding tergantung lukisan-lukisan indah serta tulisan-tulisan huruf indah yang tentu dibuat oleh ahli-ahli yang pandai dan berharga mahal sekali. Kain-kain sutera dan beludru menghias ruangan, juga perabot-perabot yang mungil. Sebuah rumah gedung kecil mungil yang dalamnya sangat indah seperti istana saja!

Sesudah mereka berdua membawanya masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas, dia melihat seorang nenek duduk menghadapi meja makan yang panjang, dilayani oleh tiga orang gadis muda lain yang pakaiannya juga mewah dan wajahnya manis-manis seperti dua orang gadis pertama. Kini lima orang gadis itu berkumpul dan berdiri seperti hiasan ruangan, berjajar di latar belakang, membiarkan nenek itu menghadapi Thian Sin.

Akan tetapi nenek itu masih tetap duduk sambil menyumpit sepotong daging kecil, lantas dimasukkan ke mulutnya dan mengunyah daging itu dengan cara sopan tanpa membuka mulutnya, dan dengan sikap tenang seolah-olah tidak tahu bahwa ada tamu datang.

Thian Sin sendiri hanya berdiri dan memandang dengan sikap tenang pula, memandang penuh perhatian. Diam-diam hati pemuda ini kecewa. Kalau yang berjuluk Lam-sin hanya seorang nenek tua renta yang telah mendekati lubang kubur ini, maka agaknya sia-sialah perjalanannya yang jauh ini.

Dia sudah melihat tiga orang di antara empat datuk empat penjuru. Tung-hai-sian Bin Mo To adalah seorang tokoh yang tampak jelas kebesaran dan keangkerannya sebagai datuk wilayah timur, dan memang kakek itu memiliki kepandaian yang hebat.

Pak-san-kui Siangkoan Tiang juga pantas dinamakan datuk wilayah utara sebab memang memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, juga mempunyai pengaruh dan wibawa yang kekuatannya tidak dapat dibantah lagi. Demikian pula See-thian-ong amat gagah perkasa dan menyeramkan, pantas menjadi datuk wilayah barat.

Akan tetapi mengapa datuk wilayah selatan hanyalah seorang nenek tua renta seperti ini, yang nampaknya lemah dan sudah pikun. Melawan seorang nenek seperti ini saja sudah merupakan hal yang memalukan.

Akan tetapi, melihat sikap nenek ini yang agaknya sama sekali tidak mempedulikannya, diam-diam Thian Sin merasa penasaran sekali. Dia terbatuk beberapa kali untuk menarik perhatian nenek pikun itu, akan tetapi nenek itu agaknya tidak mendengarnya. Pada saat Thian Sin mengulangi batuknya, nenek itu mengerutkan kedua alisnya, tanpa menengok dia berkata kepada salah seorang di antara lima orang gadis cantik itu.

“A-bwee, suara apakah itu? Tikus? Anjing?”

Thian Sin mendongkol sekali. Dia dianggap tikus atau anjjng! Dan lima orang gadis cantik itu tidak menjawab, melainkan menutupi mulut mereka dengan sapu tangan sutera untuk menyembunyikan senyum dan tawa mereka. Dari hal ini saja sudah membuat Thian Sin mengerti bahwa Si Nenek memang sengaja hendak menghinanya, mempermainkan dan memandang rendah kepadanya. Tentu saja dia menjadi semakin gemas.

“Nenek tua bangka! Apakah engkau yang berjuluk Lam-sin?” akhirnya dia bertanya juga dengan suara nyaring.

Dia melihat betapa wajah kelima orang gadis itu menjadi pucat dan mereka memandang kepada nenek itu dengan sinar mata mengandung kengerian. Dari sikap ini saja Thian Sin maklum bahwa kata-katanya tadi tentu luar biasa sekali, dan agaknya nenek ini sangat ditakuti, maka gembiralah dia dapat membalas dengan cara demikian.

Thian Sin melihat tangan yang menjepit sumpit itu nampak gemetar. Akan tetapi sebentar saja lalu sumpit itu melanjutkan pekerjaannya menjepit makanan. Tanpa menoleh, nenek itu berkata dengan suaranya yang lirih namun halus,

“Bocah ingusan, apakah engkau yang berjuluk Pendekar Sadis?”

Kembali Thian Sin merasa mendongkol sekali. Nenek ini benar-benar memandang rendah padanya, menyebutnya bocah ingusan! Sekaligus rasa gembira karena perasaan menang dengan pertanyaannya yang menghina itu lenyap, malah hatinya merasa semakin panas. Akan tetapi dia menjawab juga.

“Benar, akulah yang dijuluki Pendekar Sadis!”

“Dan akulah yang dijuluki Lam-sin!”

“Huh, tidak pantas seorang nenek tua bangka yang lemah dijuluki Malaikat Selatan, datuk kaum sesat di dunia selatan!”

“Heh, engkau lebih tidak patut lagi dijuluki Pendekar Sadis, karena engkau hanya seorang kanak-kanak hijau yang berusaha meniru lagak seorang siucai, namun pantasnya hanya menjadi kacung di sekolah!”

Saking mendongkolnya, dada Thian Sin terasa seperti hampir meledak. Nenek ini ternyata seorang yang pintar berdebat dan pandai menghina. Teringatlah Thian Sin bahwa semakin tua wanita, maka semakin cerewetlah dia. Dia pikir, kalau harus berdebat adu mulut, tentu dia akan kalah. Maka lebih baik menghentikan adu sindir-menyindir agar dia tidak menjadi semakin mendongkol.

“Lam-sin, engkau telah mengundangku dan aku sudah datang! Nah, mau apakah engkau mengundangku?”

Nenek itu menengok ke kiri, ke arah pemuda itu. Kini Thian Sin bisa melihat dari samping sebuah wajah yang kedua pipinya berkeriputan, dengan hidung kecil dan bibir kering yang seolah mengejek.

“Aku sedang makan, apa engkau tidak melihatnya? Aku tidak bisa bicara sambil makan, dan karena kau datang pada waktu aku makan maka aku mengundangmu untuk makan bersamaku. Aku tidak tahu apakah engkau berani makan bersamaku dan apakah engkau masih ada selera makan ketika menghadapi kematianmu.”

Thian Sin merasa dipandang rendah sekali dan ditantang. Seakan-akan nenek ini sudah merasa begitu yakin bahwa sebentar lagi nenek itu akan mampu membunuhnya. Dia lalu melangkah maju dan berkata dengan nada tak kalah mengejeknya,

“Memang orang yang akan mati sebaiknya makan dulu sekenyangnya. Dan aku memang senang menemani calon pecundangku makan bersama. Hendak kulihat racun apa yang hendak kau serahkan dan gunakan untuk bertindak curang.”

Thian Sin pun lalu duduk menghadapi meja makan, mengambil bangku yang berhadapan dengan nenek itu sehingga sekarang mereka bisa saling pandang, terhalang meja makan yang penuh dengan berbagai macam masakan yang masih mengepulkan uap dengan bau yang sedap. Tidak kurang dari dua puluh macam masakan sedap yang semuanya masih panas-panas terhidang di atas meja itu, disamping arak dan anggur wangi.

Akan tetapi, setelah kini mereka duduk saling berhadapan dan melihat sinar mata nenek itu, diam-diam Thian Sin terkejut bukan main dan merasa seram sehingga bulu kuduknya meremang. Nenek ini dilihat dari jauh tampak seperti seorang nenek tua renta yang lemah dan biasa saja, sama sekali tidak menimbulkan segan.

Akan tetapi begitu dia saling pandang dengan nenek itu, dia melihat sinar mata yang luar biasa, sepasang mata yang begitu tajam dan mencorong penuh wibawa, sepasang mata yang terang dan jernih, tak pantas dimiliki seorang nenek tua renta, sepantasnya menjadi mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya!

Kontras antara wajah tua keriputan dan sinar mata inilah yang membuat nenek itu amat berwibawa dan juga amat menyeramkan, juga menakutkan. Kini Thian Sin tidak merasa heran lagi mengapa tadi lima orang gadis pelayan itu kelihatan begitu ketakutan melihat betapa dia berani mengeluarkan kata-kata menghina kepada nenek luar biasa ini.

Sesudah sejenak saling pandang dan nenek itu pun agaknya nampak tercengang setelah menatap wajah pemuda itu karena agaknya baru pertama kali ini dia dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas, saling berhadapan dalam jarak yang tidak jauh, sampai lama nenek itu tidak mengeluarkan kata-kata. Sinar matanya seperti menjelajahi seluruh bagian muka Thian Sin.

Sesudah pemuda itu tersenyum seperti mengejek, barulah nenek itu nampak gugup dan sambil menoleh kepada para pelayannya dia berkata, “Nyalakan lampu, tak enak makan agak gelap begini!”

Memang saat itu sudah menjelang senja dan keadaan di dalam ruangan makan itu yang jendela-jendelanya menghadap ke timur sudah tak kebagian sinar matahari lagi sehingga menjadi agak remang-remang. Dua orang pelayan kemudian sibuk menyalakan beberapa buah lampu yang digantung pada sudut-sudut ruangan itu dan sebentar saja ruangan itu menjadi terang.

Karena lampu-lampu itu ditutup kain warna-warni, ada yang merah, ada yang kuning, ada yang biru dan hijau, maka suasana berubah menjadi romantis dan indah sekali, sungguh pun wajah nenek yang keriputan itu menjadi semakin jelas setelah tertimpa cahaya yang berwarna-warni itu. Sebaliknya wajah lima orang gadis pelayan nampak menjadi semakin manis dan bercahaya, dan demikian pula Thian Sin nampak semakin ganteng.

“Tuangkan arak untuk Pendekar Sadis!” kata pula nenek itu yang cepat ditaati oleh salah seorang pelayan.

Ketika pelayan yang berbaju ungu ini mendekat dan menuangkan arak ke dalam cawan di depan Thian Sin, pemuda ini mencium bau harum semerbak keluar dari lengan baju gadis itu. Akan tetapi dia bersikap tenang dan tidak memandang wajah halus cantik yang dekat dengannya itu, melainkan dia tetap mengamati gerak-gerik nenek di depannya karena dia maklum bahwa orang seperti nenek itu yang menjadi datuk kaum sesat, tentu mempunyai watak aneh yang tidak terduga-duga.

Dia tidak akan merasa heran kalau pada saat dia mencurahkan perhatiannya kepada lain hal, misalnya kepada gadis pelayan cantik itu, tiba-tiba saja Si Nenek akan melakukan serangan gelap yang amat berbahaya. Maka, dia tetap memandang wajah nenek itu. Baru setelah gadis itu memenuhi cawan araknya dan melangkah mundur, Thian Sin melirik ke cawan araknya yang sudah penuh dengan arak wangi.

Nenek itu tersenyum dan mulutnya menjadi miring, bibirnya tinggi dan sepasang mata itu berkilat-kilat. “Pendekar Sadis, apakah engkau berani minum arak dalam cawanmu itu?” sambil berkata demikian, nenek itu mengisi cawannya sendiri dengan arak sampai penuh, dari guci arak yang sama.

Thian Sin adalah seorang pemuda yang selain berkepandaian tinggi, juga amat cerdik. Dia maklum bahwa seorang datuk besar seperti nenek ini yang sudah berani mengangkat diri sebagai datuk wilayah selatan, yang merajai seluruh wilayah selatan, biasanya, seperti para datuk lain, memiliki ketinggian hati yang luar biasa.

Seorang datuk sudah terlalu percaya pada dirinya sendiri dan selalu menjaga kehormatan namanya sebagai seorang yang berada di tingkatan atas. Maka, kiranya tidak mungkinlah kalau seorang datuk seperti Lam-sin ini akan sudi menggunakan racun, suatu perbuatan yang amat rendah dan hanya dilakukan oleh golongan penjahat rendahan saja. Perbuatan seperti ini akan menghancurkan nama besarnya sendiri.

Lam-sin tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk menjatuhkannya, bukan dengan mempergunakan racun. Apa lagi Lam-sin belum pernah mencoba sendiri kepandaiannya, maka tak mungkin datuk ini merasa gentar padanya sehingga sampai harus merendahkan diri menggunakan bantuan racun. Dengan pikiran ini, Thian Sin tersenyum memandang kepadanya.

“Andai kata engkau menggunakan racun, Lam-sin, maka aku akan mati sebagai pendekar gagah perkasa yang tidak takut akan kecuranganmu, akan tetapi sebaliknya engkau akan hidup sebagai seorang datuk yang paling rendah di dunia, akan dikutuk sebagai seorang datuk yang wataknya tidak lebih tinggi dari pada seorang penjahat yang paling hina sekali pun! Nah, takut apa minum arak suguhanmu?” Berkata demikian, Thian Sin mengangkat cawan araknya dan minum arak itu sampai habis.

“Heh-heh-heh, bagus sekali. Engkau memang cukup bernyali!” Nenek itu pun lalu minum araknya, akan tetapi bukan seperti lagak seorang jago minum yang kawakan, melainkan seperti seorang nenek lemah yang tidak begitu suka minum arak. Arak di cawan itu hanya diteguk seperempat saja, lalu cawannya dia letakkan kembali di atas meja.

“Nah, silakan, Pendekar Sadis. Makanlah seadanya dan jangan malu-malu, sesudah kita makan baru kita bicara nanti!”

Dan mereka berdua makanlah. Sungguh luar biasa sekali suasana di saat itu. Dua orang tokoh silat yang pada masa itu mendatangkan rasa seram di hati siapa pun juga, bahkan para pendekar menjadi kecil nyalinya apa bila mendengar nama mereka, kini duduk saling berhadapan sambil makan bersama! Padahal, keduanya sudah saling tantang-menantang dan bisa dibayangkan bahwa tak lama lagi mereka berdua akan saling serang dan saling berusaha untuk membunuh lawan.

Namun, melihat betapa mereka itu kini duduk semeja menghadapi hidangan yang banyak macamnya, makan dengan selera yang baik dan tampak enak sekali, seolah-olah mereka berdua itu bukanlah dua orang lawan yang sebentar lagi akan mengadu nyawa melainkan seperti dua orang sahabat lama yang baru saling jumpa dan kini merayakan perjumpaan mereka dengan gembira!

Dan anehnya, mereka itu makan tanpa saling pandang, tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Keduanya makan dengan enaknya, menyumpit sayur ini dan daging itu, tanpa saling menawarkan, seolah-olah mereka itu sedang berlomba makan.

Biar pun keduanya nampak makan bersama, namun terasa suatu tegangan luar biasa di antara mereka, bahkan lima orang pelayan yang berada di pinggiran itu dapat merasakan ketegangan luar biasa yang memenuhi kamar itu. Ketegangan yang amat panas dan yang sebentar lagi akan meledak menjadi suatu perkelahian seru dan mati-matian antara kedua orang yang kini makan minum bersama itu.

Thian Sin makan lebih banyak, juga minum arak lebih banyak. Nenek itu biar pun terlihat makan dengan sama girangnya, akan tetapi sepasang sumpitnya hanya mendorong nasi sedikit demi sedikit saja, dan mengambil sayur atau daging yang potongannya kecil-kecil. Malah araknya pun dilanjutkan dengan anggur yang tidak begitu keras.

Akhirnya, keduanya meletakkan sumpit dan mangkok kosong di atas meja, merasa puas dan kenyang. Sesudah membersihkan mulut dengan minum teh yang disajikan oleh para pelayan, keduanya duduk diam seperti orang bersemedhi. Sementara lima orang pelayan yang tahu akan kewajiban mereka itu, maklum bahwa acara makan minum sudah selesai maka tanpa diperintah lagi mereka segera membersihkan meja, membawa pergi sisa-sisa makanan sehingga sebentar saja meja makan itu pun bersih dan tak ada sedikit pun sisa makanan. Bersih mengkilap setelah digosok kain.

“Keluarlah kalian, tinggalkan kami sendiri,” tiba-tiba nenek itu berkata kepada lima orang pelayannya dan sungguh aneh, nada suaranya seperti orang yang merasa tak senang.

Lima orang pelayan itu saling pandang, tampak ragu-ragu. “Dan para pengawal…?” tanya Si Baju Ungu.

“Tinggalkan kami! Pergilah kalian semua dan jangan perbolehkan siapa pun juga masuk ke rumahku. Dan jangan keluar dari kamar kalian kalau tidak kupanggil!”

“Baik, pangcu…,” jawab mereka berlima dengan sikap takut-takut karena nenek itu terlihat marah.

Sesudah menjura ke arah Thian Sin mereka pun segera pergi dari situ, dengan langkah ringan dan cepat tanda bahwa mereka berlima itu bukanlah wanita-wanita cantik lemah. Hal ini pun dimengerti oleh Thian Sin semenjak dua di antara mereka tadi menyambutnya.

Nenek ini sungguh tinggi hati, pikirnya. Begitu pasti akan dapat memenangkan sehingga dia tidak mau dibantu oleh siapa pun juga! Pantaslah jika menjadi datuk kaum sesat. Dan agaknya memang tentu memiliki ilmu yang hebat maka berani bersikap sesombong ini.

Setelah lima orang pelayannya itu pergi dan meninggalkan mereka berdua saja, nenek itu lalu mengangkat muka memandang kepada Thian Sin. Pemuda itu pun balas memandang dan menanti dengan sikap waspada. Karena nyonya rumah belum bangkit, dia pun masih enak-enak saja duduk, berhadapan dengan nenek itu, hanya terhalang oleh meja.

“Nah, sekarang kita hanya berdua saja di sini. Gedung ini kosong sama sekali, hanya ada kita berdua. Percayakah engkau bahwa Lam-sin bukanlah penjahat kecil yang curang?”

Thian Sin tersenyum dan mengangguk. “Sampai detik ini memang benar demikian, akan tetapi untuk menentukannya harus ditunggu sampai saat terakhir.”

Lam-sin mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya. “Huh, selama hidup aku belum pernah membunuh orang tanpa alasan, juga tidak sudi mengotorkan tangan pada orang yang tidak ada nama dan tidak kuketahui riwayatnya. Walau pun jangan dikira bahwa aku tidak dapat menebak siapa adanya engkau ini, Pendekar Sadis!”

Thian Sin tersenyum mengejek. Dia tidak percaya bahwa nenek yang selamanya belum pernah dijumpainya ini dapat tahu siapa dia sesungguhnya. Karena tidak ada orang yang tahu siapakah sebenarnya Pendekar Sadis. Paling-paling nenek ini hanya tahu bahwa dia adalah Pendekar Sadis.

“Benarkah engkau memang tahu siapa diriku sebenarnya?” Thian Sin memancing dengan suara menantang.

“Apa bila aku dapat mengetahui siapa dirimu, tahu pula mengapa engkau mencariku dan mengapa engkau memusuhi Bu-tek Kai-pang, dan kalau aku tahu pula semua riwayatmu semenjak engkau kecil, siapa orang tuamu, nah, jika aku tahu semua itu, maukah engkau mendengarkan semua kata-kataku kemudian menemaniku bercakap-cakap, sebelum kita sampai pada akhir tujuan pertemuan ini, yaitu bertanding mati-matian untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah di antara kita?”

Cerewetnya nenek ini, pikir Thian Sin sebal. Akan tetapi dia tertarik juga. Tidak mungkin nenek ini mengetahui semua itu tentang dirinya.

“Baik, nah, sekarang coba kau katakan siapa aku.”

“Namamu adalah Ceng Thian Sin. Benarkah?”

Thian Sin memandang dengan sepasang mata terbelalak. Nenek ini menyebut namanya seolah-olah nama itu tidak asing baginya.

“Engkau adalah putra tunggal dari Pangeran Ceng Han Houw. Ibumu adalah keturunan Cin-ling-pai. Benarkah?”

Thian Sin memandang dan menatap sepasang mata yang bersinar-sinar itu. Nenek ini luar biasa sekali. “Hemmm, kiranya engkau mempunyai jaringan mata-mata yang sangat luas, Lam-sin. Aku tak perlu menyangkal, memang benarlah semua yang kau katakan itu. Nah, selanjutnya bagaimana?”

“Ayah bundamu tewas karena dikeroyok oleh pasukan dan sesudah engkau mempelajari banyak ilmu, engkau lantas membalas kematian ayah bundamu dan engkau membasmi musuh-musuh mereka, termasuk ketua-ketua Hwa-i Kai-pang dan Tok-ciang Sianjin, dan karena hatimu sakit maka engkau menjadi kejam terhadap musuh-musuhmu dan engkau menjadi Pendekar Sadis. Benarkah?”

Thian Sin bangkit berdiri, akan tetapi segera duduk kembali. Ini sudah sangat keterlaluan! Bagaimana nenek ini sampai dapat mengetahui segala hal itu tentang dirinya?

“Aku tidak dapat menyangkalnya pula dan hanya iblis yang tahu bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu. Dan sekarang ingin kudengar apakah engkau juga tahu mengapa aku mencarimu? Mengapa aku menantangmu?”

Nenek itu menyeringai yang tentu saja dia maksudkan tersenyum. Thian Sin cepat-cepat membuang pandang matanya supaya tidak usah melihat keburukan muka itu terlalu lama ketika Si Nenek menyeringai. Lalu nenek itu berkata,

“Aha, itu mudah saja. Engkau sengaja memancing dan sengaja mengacau dan menghina Bu-tek Kai-pang untuk memancing aku keluar, bukan? Dan engkau menggunakan Thi-khi I-beng untuk mengalahkan tiga orang ketua pembantuku.”

“Hemmm, jadi engkaukah kiranya bayangan yang menyerangku dengan dua kerikil kecil itu?”

“Hanya untuk memperingatkan padamu bahwa aku juga tahu tentang Thi-khi I-beng dan aku tidak takut menghadapinya! Heh-heh, dan kau kira engkau akan dapat lolos sekiranya aku mempergunakan Bu-tek Kai-pang mengeroyokmu dan aku sendiri keluar?”

“Hemm, kenapa tidak kau lakukan kecurangan itu! Sekarang pun masih belum terlambat. Kalau kau hendak mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyokku, aku pun tidak takut, Lam-sin. Karena agaknya engkau sudah tahu semua hal tentang diriku, tentu engkau tahu pula mengapa aku menantangmu dan tahu bahwa aku tidak akan mundur selangkah pun andai kata engkau mengeroyokku.”

“Tentu saja aku tahu. Engkau datang hendak membalaskan kematian keluarga Ciu Khai Sun, bukan? Engkau datang untuk mencari pula Ciu Lian Hong, bukan? Heh-heh-heh!”

Thian Sin bangkit berdiri dan memandang tajam. “Lam-sin! Bila engkau menyembunyikan Hong-moi atau mengganggunya, aku akan…”

Lam-sin masih menyeringai pada saat dia mengeluarkan selipat surat. “Aku sudah cukup bicara, lebih baik engkau membaca sendiri surat dari Lian Hong yang sengaja ditulisnya untukmu ini!”

Thian Sin terlampau kaget dan heran mendengar ucapan ini sampai dia tidak lagi mampu mengeluarkan sebuah kata pun melainkan menerima lipatan kertas itu, lantas dibuka dan dibacanya. Surat itu singkat saja, ditulis dan ditanda tangani oleh Lian Hong dan memang ditujukan kepadanya.

Sin-ko,

Lam-sin adalah subo-ku dan juga subo Lam-sin yang menyelamatkan aku ketika terjadi penyerbuan keluargaku.

Ciu Lian Hong.


Pada waktu membaca surat itu sekali lagi, Thian Sin merasa jantungnya berdebar keras. Kemudian, setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak salah baca, dia mengepal kertas itu dan memandang Lam-sin.

“Bagaimana aku dapat merasa yakin bahwa ini adalah tulisan Hong-moi? Aku tak pernah mengenal tulisannya.”

“Terserah kepadamu. Itu juga bukan aku yang minta, tetapi dia sendiri yang meninggalkan surat, katanya untuk mencegah kesalah fahaman seperti yang pernah terjadi saat pemuda bernama Cia Han Tiong, putera Pendekar Lembah Naga itu datang ke sini.”

“Apa? Tiong-ko sudah pernah datang ke sini?”

“Ya, malah juga Pendekar Lembah Naga serta isterinya. Mereka bertiga membawa pergi muridku begitu saja. Keluarga sombong dan tinggi hati! Huh, mual aku apa bila mengingat kesombongan mereka!” Memang nenek itu masih merasa hatinya sakit kalau mengingat betapa keluarga itu memandang rendah padanya, bahkan terang-terangan menolak untuk diajak berkenalan dan bersahabat!

Thian Sin termenung. Hatinya kecewa bukan main. Kalau pencarian mereka terhadap diri Lian Hong dapat dikatakan sebuah perlombaan, lagi-lagi Han Tiong yang menang. Kakak angkatnya itu yang lebih dahulu menolong Lian Hong walau pun Lian Hong agaknya tidak terancam bahaya, malah ditolong dan menjadi murid Lam-sin!

Saking kecewanya, Thian Sin menjatuhkan dirinya duduk di atas bangku lagi, tidak dapat berkata apa-apa hanya berulang kali menarik napas panjang dengan wajah muram tanpa disadarinya sendiri. Akan tetapi semenjak tadi sepasang mata nenek itu mengikuti semua gerak-gerik dan sikapnya, dan tiba-tiba nenek itu terkekeh.

Suara ketawa ini seperti menarik Thian Sin kembali ke alam sadar dan dia memandang kepada nenek itu, kini dengan pandangan lain karena ternyata nenek ini adalah penolong, bahkan menjadi guru Lian Hong. Tentu saja kedudukan ini membuat nenek ini menjadi seorang yang lain lagi, sukar dianggap sebagai musuh! Apa lagi dia tadinya menganggap nenek ini sebagai musuh untuk membalaskan sakit hati Lian Hong, siapa sangka dara itu malah diselamatkan olehnya dan malah diambil sebagai murid!

“Heh-heh-heh-heh, tak usah menjadi patah hati, orang muda. Dunia tidak hanya sesempit telapak tangan, melainkan luas sekali dan di dunia ini, selain Lian Hong, masih banyak terdapat wanita lain!”

Thian Sin terkejut sekali mendengar ini. “Apa…? Apa maksudmu…?”

“Maksudku sudah jelas, engkau mencinta Lian Hong dan merasa kecewa akibat keduluan Cia Han Tiong.”

Kata-kata itu tepat sekali menghantam perasaan Thian Sin karena memang demikianlah keadaan hatinya. Dia memandang tajam. Setankah nenek ini sehingga tahu akan segala hal mengenai dirinya, bahkan tahu juga apa yang terasa oleh hatinya pada saat itu? Akan tetapi dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan membantah.

“Tidak, engkau salah. Hong-moi itu adalah tunangan Tiong-ko, calon isterinya. Jadi sudah sepatutnya kalau dia pergi bersama Tiong-ko dan keluarga Cia.”

“Hemmm, tidak perlu kau berbohong. Engkau nampak muram dan kecewa, juga berduka. Apa lagi kalau bukan karena patah hati? Seorang wanita tua seperti aku dapat dengan mudah melihat kenyataan itu!”

“Engkau keliru. Aku memang berduka karena aku merasa betapa hidupku sebatang kara di dunia ini.” Thian Sin menarik napas panjang dan dia benar-benar merasa betapa dia amat kesepian, tiada seorang pun yang mencintanya!

Sejenak mereka diam. Kalau Thian Sin tenggelam ke dalam kekecewaan dan kesedihan, nenek itu pun tenggelam ke dalam lamunan. Tiba-tiba nenek itu berkata, suaranya halus dan ramah.

“Ceng Thian Sin, kita ini sama!”

Thian Sin memandang heran. “Sama? Sama bagaimana?”

“Sama sebatang kara, sama kesepian.”

“Ahh, itu tidak mungkin! Engkau adalah Lam-sin, datuk wilayah selatan, ketua dari Bu-tek Kai-pang. Engkau dilayani dan dihormati oleh banyak anak buahmu, bagaimana engkau bisa sebatang kara dan kesepian?”

“Huh, apa itu Bu-tek Kai-pang? Sebelum aku tiba di sini, perkumpulan itu sudah ada. Aku hanya menundukkannya saja, dan aku tak peduli dengan mereka. Bu-tek Kai-pang bukan apa-apa bagiku, melainkan bekas lawan yang sudah menyerah. Aku sungguh sebatang kara dan kesepian, tiada bedanya dengan dirimu, Ceng Thian Sin.”

Pemuda itu memandang penuh perhatian kepada nenek yang luar biasa itu. Sukar untuk dapat diterimanya betapa seorang datuk seperti nenek ini, yang kaya raya dan juga amat berpengaruh, mempunyai kedudukan tinggi dan kekuasaan tak terbatas di selatan, dapat hidup kesepian dan berduka!

“Apakah engkau tidak mempunyai keluarga? Suami, anak atau cucu?”

Nenek itu menggelengkan kepala. “Aku hanya sebatang kara, seperti engkau. Aku… aku tidak pernah tidak mempunyai keluarga…”

Thian Sin terkejut. Kalau seorang nenek setua ini tidak pernah menikah, tentu saja tidak memiliki anggota keluarga seorang pun. Lalu dia menggeleng kepala dan menarik napas. “Sulit bisa dipercaya bahwa seorang datuk seperti engkau dapat hidup menderita duka.”

Nenek itu terkekeh. “Sudah cukup segala cerita sedih ini. Nah, aku sudah bisa mengenal semua keadaanmu, bukan? Sekarang engkau harus memenuhi permintaanku, menemani aku bercakap-cakap sebelum kita bertanding. Nah, mari kuperlihatkan kepadamu keadaan istana kecilku ini. Engkau adalah seorang tamuku sebelum kita nanti berhadapan sebagai lawan.”

Thian Sin yang memang sudah merasa kalah, ikut bangkit dan mengangguk. Nenek itu lalu mengajaknya berkeliling memasuki ruangan-ruangan istananya yang penuh dengan perabot halus dan mahal, penuh dengan hiasan-hiasan yang amat indah.

Di sebuah ruangan besar sebelah kiri terdapat kumpulan lukisan kuno dari pelukis-pelukis kenamaan yang tentu harganya amat mahal. Kumpulan lukisan di ruangan itu saja sudah merupakan sejumlah modal yang amat besar! Dan dia pun dikagumkan oleh pengetahuan nenek itu tentang lukisan karena nenek itu dapat mengenal lukisan-lukisan ini dan mampu pula menceritakan tentang pelukis-pelukisnya, segi-segi keindahan yang khas dari setiap lukisan.

Ketika nenek itu membawanya ke dalam ruangan musik, kembali Thian Sin dibuat kagum. Di ruang itu terdapat alat-alat musik serba indah, bahkan ada sekumpulan alat-alat musik kuno.

“Apakah engkau suka pula dengan musik dan nyanyian, Pendekar Sadis?”

Thian Sin mengangguk, merasa janggal bahwa mereka berdua yang bergaul seperti dua orang sahabat ini sebenarnya adalah calon lawan yang berbahaya, dan juga mendengar nenek itu menyebutnya Pendekar Sadis sungguh tidak sesuai dengan keakraban mereka ketika bersama-sama mengagumi alat-alat musik itu.

“Dan pandai bermain musik pula?”

“Ahh, tidak, aku hanya bisa sedikit meniup suling, kesukaanku sejak anak-anak.”

“Meniup suling? Bagus sekali! Dan aku pun suka meniup suling dan bermain yang-kim. Kalau begitu, mari kita main barang satu dua lagu, Pendekar Sadis!”

Berkata demikian Nenek Lam-sin lalu mengambil sebuah alat musik yang-kim dan dia pun mulai memainkan kawat-kawat yang-kim itu hingga terdengar suara merdu. Melihat cara jari-jemari itu menari-nari di atas kawat-kawat yang-kim dengan lincahnya dan terdengar serangkaian suara merdu, tahulah Thian Sin bahwa nenek ini memang pandai bermain yang-kim.

Kini yang-kim itu mulai memainkan sebuah lagu yang dikenalnya, maka hati pemuda ini pun tertarik sekali dan dia lalu mengambil sebuah suling dan meniup suling itu mengikuti lagu yang dimainkan oleh yang-kim. Maka kini terdengarlah paduan suling dan yang-kim, saling susul, saling membelit dan saling bergandengan, amat cocok dan sedap didengar. Sesudah memainkan dua tiga macam lagu, nenek itu menghentikan permainannya dan bangkit berdiri, sejenak memandang kepada Thian Sin lalu terkekeh.

“Heh-heh-heh, sungguh aneh dan lucu! Julukannya Pendekar Sadis, kabarnya kejamnya melebihi iblis, akan tetapi tiupan sulingnya begitu indah dan penuh perasaan!”

“Dan siapakah yang percaya jika Nenek Lam-sin, datuk sesat yang ditakuti oleh penjahat yang bagaimana pun ganasnya, ternyata pandai bermain yang-kim seperti puteri istana kaisar saja?” kata Thian Sin dan nenek itu tertawa, tiba-tiba suara ketawanya nyaring dan merdu sehingga mengejutkan hati Thian Sin. Nenek itu sungguh merupakan orang yang amat aneh luar biasa.

Kembali Thian Sin menjadi semakin kagum saja ketika nenek itu membawanya ke kamar perpustakaan. Di sana terkumpul kitab-kitab kuno, segala macam kitab sastera dan sajak terdapat di situ!

Satu di antara beberapa kesukaan Thian Sin adalah membaca kitab-kitab kuno, terutama sajak-sajak kuno. Maka melihat begitu banyaknya kitab-kitab sajak di dalam rak-rak buku di kamar perpustakaan itu, tentu saja dia memandang dengan kagum sehingga sepasang matanya bersinar-sinar, ada pun jari-jari tangannya meraba dan memilih-milih kitab-kitab itu dengan lembut.

“Aku mendengar bahwa Pendekar Sadis adalah seorang pelajar yang senang membaca sajak. Kiranya memang benar. Sungguh seorang teman yang sangat menyenangkan! Aku pun suka membaca dan menulis sajak, Pendekar Sadis!”

Ahh, kiranya banyak sifat-sifat nenek ini yang sangat berlawanan dengan nama besarnya sebagai datuk kaum sesat. Dia pernah berjumpa dengan Tung-hai-sian, Pak-san-kui dan See-thian-ong, tiga di antara datuk-datuk kaum sesat dan mereka itu memang semuanya hebat dan juga penuh kekuatan dan kekerasan.

Akan tetapi Lam-sin hanyalah seorang nenek lembut yang pintar bermain yang-kim, pintar pula mengumpulkan lukisan-lukisan yang bernilai dan malah kini suka pula membaca dan menulis sajak! Bukan main. Dia mulai menyangsikan apakah nenek ini juga benar-benar memiliki kelihaian seperti ketiga orang datuk lainnya itu.

Tiba-tiba nenek tua itu bertanya, “Pendekar Sadis, sesudah kita saling bertemu, maukah dalam kesempatan ini engkau menulis sajak untukku sebagai kenang-kenangan?”

Thian Sin mengerutkan alisnya. “Lam-sin, bukankah sebentar lagi kita akan saling serang dan mungkin saja aku atau pun engkau akan roboh dan tewas? Apa perlunya sajak dalam saat seperti ini?”

“Heh-heh, mati adalah soal nanti, sekarang kita hidup maka harus menikmati hidup yang sekarang ini. Andai kata engkau mati dalam pertandingan nanti, sajakmu akan merupakan kenang-kenangan yang cukup baik.”

Thian Sin mengerutkan kedua alisnya. Betapa pun juga, nenek ini sungguh tinggi hati dan merasa yakin bahwa dia akan menang nanti, hal ini telah berkali-kali disindirkan. Maka dia pun lalu berkata,

“Lam-sin, memang engkau benar, akan tetapi kematian dapat menimpa siapa saja dalam pertandingan nanti, termasuk juga engkau. Karena kita belum tahu siapa yang akan roboh dan tewas, maka sebaiknya kalau kita masing-masing menuliskan sajak, agar kalau yang seorang tewas, yang lain masih mempunyai kenang-kenangannya berupa sajak.”

“Ha-ha-ha, bagus! Bagus sekali usulmu dan memang cukup adil. Mari kita menulis sajak masing-masing!” Lam-sin lalu mengeluarkan kertas dan alat tulis yang tersedia di dalam kamar perpustakaan itu. Mereka pun lalu menulis sajak. Thian Sin menulis di atas meja di sudut kiri sedangkan nenek itu menuliskan sajak di atas meja yang berada di sudut kanan kamar.

Mereka selesai hampir berbarengan. Lam-sin selesai lebih dahulu, hanya beberapa menit kemudian Thian Sin pun menyelesaikan sajaknya. Sambil ketawa dan penuh keinginan tahu memancar dari sepasang matanya yang tajam itu, Lam-sin mengajak bertukar kertas yang penuh dengan tulisan. Kemudian, dengan suara lantang, nenek itu pun membacakan sajak tulisan Thian Sin.

Lam-sin datuk dunia selatan
mendatangkan kagum dan heran
aku melihat perpaduan
antara ketuaan dan kesegaran
keganasan dan kelembutan!


Sementara itu, Thian Sin juga membacakan tulisan tangan yang halus indah, yang sudah dikenalnya dari surat tantangan yang diterimanya.

Pendekar Sadis yang tersohor
kiranya hanya seorang pemuda hijau
yang lemah lembut dan halus
pandai bersuling dan bersajak
betapa amat mengagumkan!


Mereka saling pandang kemudian keduanya tertawa. Tanpa mereka sengaja, bunyi sajak mereka itu serupa betul. Keduanya menyatakan keheranan masing-masing sekaligus juga kekaguman hati masing-masing terhadap satu sama lain!

“Lam-sin, sungguh tulisanmu amat indah dan sajakmu juga indah bukan main,” Thian Sin memuji.

“Hemm, kepandaianmu menulis sajak juga sangat mengejutkan hatiku, Pendekar Sadis,” Nenek itu berkata.

Dan pada saat itu, sama sekali tidak terasa adanya permusuhan di dalam hati Thian Sin! Maka, sebagai penyesalan bahwa dia terpaksa harus bertanding melawan datuk ini, kalau pun bukan karena keluarga Ciu juga untuk membuktikan bahwa dia mampu mengalahkan semua datuk sesat sehingga dengan demikian ia akan mengangkat nama besar ayahnya dan melanjutkan cita-cita ayahnya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, dia berkata.

“Lam-sin seorang tokoh seperti engkau ini, yang sudah tua dan memiliki banyak macam ilmu kepandaian yang hebat, dan yang sama sekali tidak patut menjadi seorang golongan sesat, mengapa engkau sampai menjadi datuk kaum sesat?”

“Hemm, apa kau kira aku menjadi datuk kaum sesat di selatan karena memang aku suka menjadi orang yang dianggap jahat? Huh, aku muak dengan sikap para pendekar sakti seperti keluarga Cia itu, yang merasa dirinya sendiri saja yang pandai, gagah dan bersih, memandang rendah kepada golongan lain. Aku tak peduli dianggap jahat dan engkau pun boleh saja memandang aku sebagai seorang datuk yang jahat. Akan tetapi ketahuilah, Pendekar Sadis yang tidak menyeramkan, bahwa dalam golongan hitam atau kaum sesat perlu ada yang ditakuti supaya mereka itu dapat terkendali. Kalau mereka itu tidak dapat dikendalikan, kalau tidak ada yang mereka takuti, maka mereka itu akan menjadi liar dan hal ini sangatlah berbahaya bagi seluruh rakyat. Biarlah aku disebut datuk kaum sesat, rajanya penjahat, akan tetapi aku paling benci bila melihat penindasan, apa lagi melihat perkosaan terhadap wanita. Kau tahu kenapa aku menolong Lian Hong dan menganggap dia sebagai murid? Karena dia hendak diperkosa orang dan tahukah engkau siapa orang itu? Seorang anggota Bu-tek Kai-pang sendiri, dan aku telah membunuhnya sendiri!”

“Hemm, memang aku melihat ada kejanggalan pada dirimu, Lam-sin. Ketika berhadapan denganmu, sungguh sama sekali aku tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang datuk sesat, berbeda dengan ketika aku berhadapan dengan tiga orang datuk yang lain di utara, timur dan barat. Maka sungguh luar biasa kalau orang seperti engkau ini semenjak dahulu tidak pernah berkeluarga. Kalau kau lakukan hal itu, tentu sekarang engkau sudah menjadi seorang nenek yang dikelilingi cucu-cucunya yang tercinta.”

Mendengar kata-kata itu Lam-sin langsung menundukkan mukanya, sementara Thian Sin hanya memandang, mengira bahwa nenek itu tentu menjadi sedih mendengar ucapannya. Tiba-tiba nenek itu mengangkat mukanya dan Thian Sin terkejut sekali. Sepasang mata itu demikian tajamnya, mencorong seperti hendak menembus jantungnya dan mulut yang keriputan itu bertanya,

“Ceng Thian Sin, pernahkah engkau jatuh cinta?”

Thian Sin terkejut sekali, bukan hanya karena sinar mata yang tajam itu, akan tetapi juga mendengar nenek itu dengan tiba-tiba saja menyebut namanya secara lengkap, tidak lagi memanggil nama julukannya dengan nada yang mengejek. Juga dia terkejut dan bingung menerima pertanyaan yang sama sekali tak pernah disangkanya itu

“Cinta? Jatuh cinta? Ahh, aku sendiri tidak tahu. Memang banyak wanita cantik yang telah menarik perhatianku, akan tetapi jatuh cinta…? Ahh, aku tidak mengerti…”

“Hemm, bukankah engkau mencinta Lian Hong?”

Thian Sin menunduk lantas menarik napas panjang. Sukar menyangkal di hadapan nenek yang matanya tajam ini. “Entahlah, memang pernah aku jatuh cinta kepada gadis-gadis lain sebelumnya. Akan tetapi sesudah Hong-moi menjadi tunangan Tiong-ko, seperti juga dengan gadis-gadis sebelumnya yang gagal menjadi milikku, aku meragu lagi apakah aku benar-benar mencinta mereka itu. Aku tidak tahu apa-apa mengenai cinta, mungkin hanya menyangka saja bahwa aku pernah jatuh cinta kepada setiap gadis yang menarik hatiku.” Thian Sin berhenti sebentar, kemudian menyambung sambil menatap wajah keriputan itu, “Engkau sendiri bagaimana, Lam-sin. Engkau belum pernah menikah, apakah itu berarti bahwa sampai setua ini engkau juga belum pernah jatuh cinta?”

Nenek itu menggelengkan kepalanya. “Tidak pernah ada yang pantas menerima cintaku!” Setelah menjawab demikian, dia pun menyambung cepat, “Mari kita ke lian-bu-thia!”

Thian Sin tidak menjawab, hanya mengikuti nenek itu. Hatinya merasa ragu-ragu. Setelah nenek itu mengajak dirinya ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) maka maksudnya tentu untuk mengajak dia bertanding. Dan kini dia ragu-ragu!

Bukannya dia takut menghadapi datuk ini. Akan tetapi untuk apa dia bertanding melawan nenek ini? Seorang nenek tua yang pandai bersajak, pandai bermain musik, yang begitu lemah lembut nampaknya.

Dia tahu bahwa apa bila dalam pertandingan ini dia berhasil merobohkan dan membunuh nenek ini, dia akan merasa menyesal selama hidupnya. Mungkinkah dia dapat berbangga mengalahkan seorang nenek tua renta seperti ini? Dan jika dia kalah pun akan membuat namanya menjadi bahan tertawaan orang-orang di seluruh dunia! Akan tetapi, dia sudah tidak dapat mundur lagi.

Seperti pada ruangan-ruangan lainnya, juga di ruangan ini Thian Sin melihat keadaan yang amat mewah dan indah. Di samping sangat luas dan bersih, ruangan lian-bu-thia ini juga mempunyai banyak jendela di atas sehingga udaranya segar, sungguh amat baik dipakai berlatih silat atau pun berlatih semedhi. Di sudut terdapat rak senjata yang penuh dengan segala macam senjata yang serba indah dan juga amat baik buatannya, dari bahan baja yang baik pula.

“Nah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk mengadu ilmu silat. Bukankah itu yang kau kehendaki ketika engkau datang ke kota Heng-yang kemudian mencari gara-gara dengan orang-orang Bu-tek Kai-pang?”

Thian Sin mengangguk. “Tadinya memang begitu, demi membalaskan kematian keluarga Ciu, akan tetapi sekarang…”

“Sekarang bagaimana? Engkau takut? Heh-heh-heh!”

Merah muka Thian Sin. “Siapa takut kepadamu? Tapi, sekarang tidak ada alasannya lagi mengapa aku harus membunuhmu.”

“Engkau membunuhku? Hemm, jangan mimpi, orang muda. Dan tentang alasan, apakah kematian banyak anak buah Bu-tek Kai-pang itu masih belum cukup untuk membuat aku membunuhmu?”

Legalah rasa hati Thian Sin. Memang hal itu merupakan alasan yang cukup kuat baginya untuk menghadapi Lam-sin sebagai musuh.

“Bagus! Engkau tentu saja boleh membalaskan kematian para anak buahmu itu. Marilah, Lam-sin, kita bereskan perhitungan antara kita!” Dan pemuda itu lalu meloncat ke tengah ruangan lian-bu-thia lantas berdiri tegak dengan sikap tenang.

Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung pipit terbang saja, Lam-sin juga meloncat ke depannya. Thian Sin segera waspada. Dia maklum bahwa meski pun dia belum dapat mengetahui sampai di mana kepandaian nenek ini, akan tetapi satu hal yang sudah jelas adalah bahwa nenek ini memiliki ilmu ginkang yang hebat, yang tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri.

“Menurut penuturan Lian Hong, ergkau mewarisi ilmu-ilmu dari Pendekar Lembah Naga, juga ilmu-ilmu dari keluarga Cin-ling-pai, bahkan telah menguasai Thi-khi I-beng, padahal Cia Han Tiong sendiri tidak pandai ilmu mukjijat itu. Agaknya, dalam hal ilmu silat, engkau malah lebih lihai dari pada putera Pendekar Lembah Naga. Nah, kini keluarkanlah semua ilmumu itu, orang muda!” Lam-sin menantang.

Thian Sin melihat bahwa di balik jubah nenek itu ada tersembunyi sepasang pedang tipis dengan gagang emas, berukir kepala ular, maka dia pun dapat menduga bahwa nenek ini tentu ahli bermain pedang pasangan. Akan tetapi pada waktu itu Lam-sin tidak mencabut keluar sepasang pedangnya, maka dia segera bertanya, “Lam-sin, kita bertanding dengan tangan kosong ataukah engkau hendak mempergunakan sepasang pedangmu itu?”

Nenek itu tersenyum menyeringai dan mengejek. “Apa sih bedanya dengan pedang atau tidak? Kedua tanganku ini dapat membunuh lebih cepat dari pada pedang kalau memang diperlukan. Kita berhadapan sebagai lawan, perlu apa kau tanya pakai senjata atau tidak? Kalau engkau sendiri mempunyai seribu macam senjata, keluarkanlah itu semua, aku tak akan undur selangkah pun!”

“Nenek sombong, tidak perlu banyak cakap lagi, sambutlah ini!” Thian Sin lalu menampar dengan gerakan sembarangan, tapi dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga tangannya didahului sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Akan tetapi, dengan gerakan yang sangat lincah sehingga tidak sesuai dengan orangnya yang sudah demikian tua, Lam-sin mengelak lantas dengan sama cepatnya, dari samping dia pun sudah membalas serangan Thian Sin dengan pukulan tangan kiri ke arah dada. Pukulan itu ringan bukan main, seperti kapas saja.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner