PENDEKAR SADIS : JILID-44


Akan tetapi Thian Sin langsung mengelak karena dia mengenal pukulan ampuh. Pukulan yang sangat ringan ini adalah pukulan Ilmu Silat Bian-kun (Ilmu Silat Tangan Kapas) yang nampaknya saja lembut dan tidak mengandung tenaga kasar sedikit pun. Namun jangan kira pukulan itu tidak berbahaya sebab di balik keringanan dan kelembutan itu terkandung tenaga sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali sehingga orang yang terkena pukulan, meski pun kulitnya tidak lecet, akan tetapi di sebelah dalam tubuhnya bisa rusak dan terluka parah.

Mereka mulai saling pukul. Karena Lam-sin mengandalkan ginkang-nya, maka terpaksa Thian Sin mengimbanginya. Gerakan mereka cepat bukan main dan tiap pukulan, setelah dielakkan, disambut dengan pukulan juga sehingga dalam waktu singkat, gerakan mereka yang cepat itu sudah melewati tiga puluh jurus di mana mereka saling pukul namun selalu mengenai tempat kosong sebab keduanya menghindarkan diri dengan elakan-elakan yang tepat dan cepat.

Sesudah lewat tiga puluh jurus dengan mengandalkan kecepatan gerakan, tahulah Thian Sin bahwa kalau dia terus mengandalkan ginkang, maka dia akan menderita rugi karena harus diakuinya bahwa dalam ilmu ini, dia masih kalah setingkat oleh lawannya! Maka dia pun lalu mengerahkan sinkang-nya, segera menghentikan gerakan bersicepat itu dan kini dia memasang kuda-kuda dengan teguhnya, lalu mengubah ilmu silatnya.

Tadi, ketika dia berusaha mengimbangi kecepatan lawan, dia telah memainkan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) yang dulu diterimanya dari pendekar sakti Yap Kun Liong. Dengan ilmu ini dia dapat bergerak cepat, atau setidaknya mampu membendung banjir serangan dari lawan yang memiliki kecepatan luar biasa itu. Kini, dia menghentikan gerakan cepatnya dan mengubah ilmu silatnya dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang kokoh kuat dan indah itu.

Melihat lawan mengubah ilmu silatnya, kalau tadi amat cepat dan seolah-olah lawannya itu berubah menjadi delapan orang sehingga diam-diam Lam-sin kagum sekali, tetapi kini berubah lambat dan kokoh kuat, Lam-sin tetap menyerang dengan sama cepatnya, hanya bedanya, kini dia mengarahkan satu pukulan ke kepala lawan dengan tenaga yang sangat dahsyat, bukan dengan tenaga halus seperti tadi.

“Haiiittt…!” Dia membentak, lalu terdengar desir angin pada saat pukulannya meluncur ke depan.

“Hemmm…!” Thian Sin cepat menangkis dengan gerakan tangkas dan kuat sekali karena memang dia sengaja mengerahkan tenaga untuk menangkis sambil mengadu kekuatan sinkang. Tentu saja untuk ini dia mengandalkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang hebat itu.

“Dukkk…!”

Benturan dua lengan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat itu hebat bukan main dan akibatnya, Thian Sin terdorong mundur dua langkah akan tetapi Lam-sin sendiri juga terhuyung ke belakang sampai tiga langkah!

Nenek itu terkejut bukan kepalang. Selama ini, belum pernah dia menemukan lawan yang sanggup menandinginya dalam hal ginkang dan sinkang. Sekarang, walau pun dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) pemuda itu masih kalah sedikit olehnya, akan tetapi sebaliknya di dalam hal sinkang agaknya dia kalah kuat! Hal ini membuatnya penasaran bukan main dan sambil menjerit, dia sudah menerjang lagi dan sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya, menghantamkan lagi tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala Thian Sin.

Pemuda ini maklum bahwa lawannya merasa penasaran, maka sambil tersenyum dia pun menangkis kembali, dan karena dia tahu bahwa lawannya mengerahkan seluruh tenaga, maka dia pun menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang yang masih ditambahnya dengan khikang yang diperolehnya dalam latihan ilmu peninggalan ayahnya.

“Desss…!”

Tubuh Thian Sin terhuyung sampai tiga meter ke belakang, akan tetapi sebaliknya, tubuh nenek itu terbanting roboh!

Nenek itu terkejut, namun dia cepat menggulingkan tubuhnya dan meloncat bangkit lagi, memandang dengan mata terbelalak. Bukan main marahnya dan dia sudah meloncat ke depan lagi. Thian Sin menyambutnya dengan tamparan dan menggunakan satu jurus dari San-in Kun-hoat sambil mengeluarkan pukulan Pek-in-ciang sehingga dari dua tangannya mengepul uap putih.

Melihat ini, nenek itu kagum sekali, akan tetapi cepat mengelak karena kini ia tahu bahwa mengadu tenaga akan merugikan dirinya. Maka dia telah mengubah lagi gerakannya, kini mengandalkan ginkang-nya untuk mendapat kemenangan. Setelah dia mengelak, tiba-tiba saja mulutnya berseru nyaring dan mendadak ada sinar hitam menyambar dari samping ke arah pelipis kepala Thian Sin. Sinar hitam itu menyambar seperti ular hidup.

Thian Sin cepat menundukkan kepalanya supaya dapat menghindarkan diri, dan ternyata sinar hitam laksana ular itu adalah kuncir rambut! Nenek itu mempunyai rambut panjang, sepanjang pinggangnya sesudah kuncir itu terlepas dari sanggulnya, dan anehnya, kalau rambut yang menutupi kepala itu tadi nampak putih penuh uban, setelah kini rambut yang panjang itu terlepas dari sanggul dan tergantung sebagai kuncir tebal, rambut itu masih nampak hitam dan subur sekali. Juga ketika menyambar lewat, Thian Sin dapat mencium keharuman kembang.

Kembali rambut itu menyambar-nyambar dengan ganasnya, lalu disusul dengan pukulan-pukulan sepasang tangan dan bahkan kini nenek itu juga mulai menggunakan kaki untuk menendang sehingga serangannya benar-benar amat dahsyat. Kedua kaki, kedua tangan dibantu oleh kuncir yang berbahaya itu, menyerang bertubi-tubi dan diam-diam Thian Sin kagum bukan main.

Pantaslah jika nenek ini menjadi datuk sebab ilmu silatnya memang hebat, kecepatannya sangat menggiriskan, bahkan rambutnya itu pun merupakan senjata yang lebih berbahaya dibandingkan kaki atau tangan wanita renta itu. Maka terpaksa dia pun harus cepat-cepat mengelak atau menangkis pukulan dan tendangan, akan tetapi dia tidak berani menangkis rambut karena maklum bahwa kalau ditangkis, rambut yang lemas itu dapat melibat dan membelit seperti ular sehingga dia akan terancam bahaya.

Thian Sin mulai terdesak oleh serangan-serangan yang sangat dahsyat itu. Tiba-tiba saja pemuda ini mengeluarkan kipasnya dan juga melolos sebuah sabuk kuning yang tadinya melibat di pinggangnya. Menghadapi rambut itu, dia teringat akan ilmu permainan sabuk yang dia pelajari dari neneknya, yaitu Cia Giok Keng.

Dia tahu bahwa satu-satunya senjata yang sanggup melawan senjata rambut itu hanyalah sabuknya ini. Sabuk ini memiliki sifat yang sama dengan rambut, lemas dan kalau perlu dapat juga dibuat kaku dengan penyaluran sinkang. Ada pun kipasnya bisa dipergunakan untuk menotok, atau kadang-kadang tangan yang memegang kipas itu tetap saja dapat mengirim pukulan.

Kembali lewat lima puluh jurus. Benar saja, setelah Thian Sin mempergunakan sabuknya yang dimainkan secara hebat dan indah sehingga sabuk itu bagaikan seekor naga kuning yang melayang-layang, dengan ujung sabuk yang dapat menotok jalan darah dan dapat pula dipergunakan untuk mematikan gerakan rambut lawan, maka nenek itu pun kembali terdesak.

“Lihat jarumku!” tiba-tiba nenek itu membentak dan ada sinar merah menyambar seperti kilat.

Thian Sin terkejut sekali, cepat mengebut dengan kipasnya sambil melempar tubuhnya ke belakang lantas dia bergulingan. Kipasnya sudah berlubang oleh jarum-jarum merah yang beracun! Keringat dingin segera membasahi lehernya karena pemuda ini maklum bahwa baru saja dia terlepas dari bahaya maut yang nyaris merenggut nyawanya!

Nenek itu tertawa dan melanjutkan serangannya, kini dengan sepasang pedang di kedua tangannya. Dia sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan segera bergerak ke depan, menyerang Thian Sin bertubi-tubi. Nampak dua gulungan sinar hitam menyambar-nyambar dan membuat gulungan yang lebar.

Ternyata dua batang pedang itu adalah pedang yang berwarna hitam! Dan begitu kedua pedang itu bergerak maka Thian Sin harus cepat-cepat berloncatan ke belakang. Gerakan sepasang pedang itu amat hebatnya, juga aneh sekali. Maka tahulah dia bahwa nenek itu benar-benar sangat lihai dengan siang-kiamnya. Dia tidak tahu bahwa ilmu pedang nenek itu disebut Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang mempunyai dasar yang sama dengan Hok-mo-pang yang diajarkan oleh nenek ini kepada para pimpinan Bu-tek Kai-pang.

Memang hebat permainan pedang nenek itu sehingga biar pun Thian Sin sudah berusaha untuk memutar kipas dan sabuknya, tetapi tetap saja dia terdesak, bahkan lewat belasan jurus kemudian, ujung sabuk kuningnya sudah terbabat putus oleh sinar hitam! Nenek itu terkekeh senang dan serangannya menjadi semakin hebat.

Thian Sin terpaksa menyimpan sabuknya lantas mencabut keluar Gin-hwa-kiam. Nampak sinar perak berkelebat.

“Trang! Cringgg…!”

Nampak bunga api berpijar pada waktu dua kali pedang di tangan Thian Sin menangkis sepasang pedang hitam. Nenek itu merasa tangannya tergetar hebat. Memang dia tahu akan kekuatan dahsyat pemuda itu, maka dia pun cepat-cepat menyerang lagi, tidak mau mengadu senjata lagi.

Thian Sin juga memutar pedangnya, menangkis, mengelak dan balas menyerang dengan pedangnya yang dibantu oleh kipasnya! Akan tetapi, nenek itu memang luar biasa sekali. Sepasang pedang hitam itu masih dibantu dengan gerakan kepalanya sehingga membuat kuncirnya seperti menjadi pedang ketiga. Sama hitamnya, tidak kalah cepatnya dan juga berbahayanya. Thian Sin tidak berani main-main lagi. Kini dia tahu benar bahwa di antara empat orang datuk itu, nenek inilah yang paling berbahaya dan lihai!

Maka, sesudah semenjak tadi mereka bertanding lebih dari seratus jurus tanpa ada yang menang atau kalah dan mereka itu saling mendesak, Thian Sin lalu mengeluarkan suara melengking panjang dan sesudah menyimpan kipasnya, tiba-tiba tangan kirinya membuat gerakan menyerong miring, lantas dari tangan ini menyambar angin pukulan dahsyat, dan dia membarengi dengan tusukan pedangnya.

Serangan tangan kiri itu dahsyat bukan kepalang karena dia sudah mengeluarkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Hok-liong Sin-ciang, ilmu yang telah disempurnakannya di dalam goa, langsung di bawah bimbingan bayangan Bu-beng Hud-couw sendiri berdasarkan ilmu dari kitab peninggalan mendiang ayah kandungnya.

Nenek itu mengeluarkan teriakan kaget dan sebatang pedangnya, yakni yang kiri, terlepas dari pegangan tangan. Dia masih mampu menangkis, kemudian menahan desakan Thian Sin dengan sambitan jarum merahnya. Thian Sin mengelak dan memutar pedangnya, lalu menyerang lagi, kini malah menggunakan ilmu Hok-liong Sin-ciang.

Nenek itu bingung menghadapi serangan-serangan ini. Pedangnya tidak ada artinya lagi karena sebelum pedangnya dapat menyentuh lawan, sudah ada sambaran hawa pukulan dahsyat yang membuat dia selalu terdorong mundur. Maka nenek itu pun menjadi nekat. Dia mengerahkan seluruh khikang-nya dan melawan keras sama keras!

Beberapa kali jurus-jurus yang dikeluarkan Thian Sin disambut oleh wanita tua itu hingga akibatnya Nenek Lam-sin terlempar dan terbanting. Akan tetapi, dia memang nekat dan kuat sekali. Agaknya tubuh yang tua renta itu mengandung kekuatan yang luar biasa dan kekebalan sehingga beberapa kali terbanting, dia masih terus melawan dengan nekat dan bahkan lebih ganas lagi. Thian Sin sendiri sampai merasa penasaran, kasihan dan tidak enak sekali. Mengapa nenek ini masih belum juga mengaku kalah?

Ketika nenek itu menubruk, Thian Sin menyambut dan menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang, lalu dia menggerahkan Thi-khi I-beng! Nenek itu menjerit, akan tetapi tiba-tiba saja seluruh tubuhnya lalu mengendur sehingga sinkang tak lagi membanjir keluar. Agaknya nenek yang sangat lihai ini memiliki kecerdikan sehingga dia tahu persis bagaimana menghadapi Thi-khi I-beng.

Kepalanya cepat bergerak, rambutnya yang panjang menyambar dan dua kali, seperti ular hidup, ujung kuncir itu menotok ke arah kedua mata Thian Sin. Diserang seperti ini, tentu saja Thian Sin harus melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang. Kedua matanya tentu saja tidak dapat dilindungi dengan kekebalan.

Karena mulai kehabisan akal bagaimana untuk dapat mengalahkan nenek ini tanpa perlu membunuhnya, mendadak Thian Sin berjungkir balik dan dia sudah menggunakan Hok-te Sin-kun, tahu-tahu tubuhnya yang berjungkir balik itu mencelat ke depan lantas terdengar nenek itu berteriak kaget dan roboh terguling, kedua kakinya terasa lumpuh karena telah kena ditotok oleh jari-jari tangan Thian Sin yang tubuhnya berjungkir balik itu.

Sebelum pedang itu kembali menyambar, yaitu pedang hitam kanan yang masih dipegang oleh Lam-sin, Thian Sin sudah meloncat ke belakang. Sambil memandang kepada nenek yang tidak mampu berdiri lagi itu, dia berkata,

“Lam-sin apakah engkau belum juga mengaku kalah?”

Sejenak mereka mengadu pandang mata. Dan Thian Sin terkejut, sekaligus juga kasihan karena melihat nenek itu tiba-tiba saja menangis! Thian Sin tidak dapat berkata apa-apa, terheran-heran melihat hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini. Lam-sin, datuk kaum sesat dari selatan ini, menangis seperti anak kecil! Menangis terisak-isak!

“Kau… kau kenapakah, nek?” Thian Sin bertanya sambil mendekati.

“Aku sudah kalah… lebih baik mati…!” Berkata demikian, Lam-sin menggerakkan pedang hitamnya ke arah leher sendiri.

“Jangan…!” Secepat kilat Thian Sin menubruk dan menangkap pergelangan tangan nenek itu.

Lam-sin meronta, akan tetapi Thian Sin segera merangkul dan memeluknya, memegangi pula pergelangan tangan kirinya. Karena kedua kaki Lam-sin tak dapat digerakkan, masih dalam pengaruh totokan, maka tenaga rontaannya tentu saja sangat berkurang, bahkan menjadi lemah sehingga dia tidak meronta lagi, melainkan menangis.

Sementara itu, ketika mencegah nenek itu membunuh diri dan memeluknya secara tidak sengaja, tangan berikut tubuh Thian Sin berhimpitan dengan tubuh nenek itu dan dia pun merasakan sesuatu yang amat aneh. Tubuh nenek itu padat, mengkal dan penuh, sama sekali bukan seperti tubuh seorang nenek tua renta, melainkan lebih pantas jika menjadi tubuh seorang dara!

“Kenapa engkau hendak membunuh diri hanya karena kalah olehku, Lam-sin?” Thian Sin bertanya, masih merangkul dan memegangi tangan Lam-sin walau pun pedang hitam itu sudah terlepas dari pegangan nenek itu.

“Engkau tahu… mengapa sampai saat ini aku belum menikah?” Akhirnya Lam-sin berkata dan ketika Thian Sin menggeleng kepala menyatakan tidak tahu, nenek itu melanjutkan, “Aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menyerahkan diriku kepada seorang pria yang dapat mengalahkan aku… dan sampai detik ini… sebelum ini tidak ada seorang pun pria yang mampu menandingiku… karena itu aku belum pernah… sampai sekarang aku masih perawan… dan setelah akhirnya ada yang dapat mengalahkan aku… hu-hu-huh… engkau… engkau tentu tidak akan sudi menerimaku… maka dari pada aku terhina, lebih baik aku mati…!”

Thian Sin tersenyum dan mendekap kepala wanita yang menangis itu ke dadanya. Bukan hanya tubuh itu yang terasa hangat dan padat seperti tubuh orang muda, juga setelah dia merangkul dan berada dekat dengan nenek ini, dia melihat suatu hal yang tidak mungkin. Sepasang mata itu demikian jeli dan beningnya, sama sekali bukan mata nenek-nenek biar pun di pinggir mata itu keriputan.

Dan sekarang, setelah dekat sekali, baru Thian Sin melihat betapa ketika nenek ini bicara tadi, keriput pada pipinya, di tepi hidung dan mulut, juga di tepi matanya, sama sekali tak berubah, sama sekali tak bergerak. Mana ada keriput begitu kaku sehingga tidak bergerak ketika mulut bicara?

Juga suara nenek ini demikian halus dan bening, juga tidak seperti nenek tua, melainkan suara yang penuh dan suara orang muda. Dan gigi itu! Gigi yang berderet berwarna putih bersih, biar pun nenek itu berusaha untuk tidak membuka mulut terlalu lebar agar giginya jangan nampak.

“Engkau keliru, nenek tua renta yang baik!” Thian Sin berkata. “Biar pun engkau seorang nenek, namun engkau masih perawan, tubuhmu belum terjamah pria lain. Kalau memang demikian sumpahmu, aku pun bersedia menerimamu, aku bersedia membantumu untuk memenuhi sumpahmu.”

“Kau… kau mau…?” Lam-sin berkata dengan mata terbelalak.

Thian Sin melihat betapa indahnya mata itu. Dia pun tersenyum dan mengangguk, lalu dia memondong tubuh nenek itu dengan mudah dan ringannya.

“Benarkah kau… kau mau…?” Nenek itu seolah-olah tidak percaya.

Thian Sin mengangguk dan menundukkan mukanya, mencium ke arah leher di balik baju leher yang agak tersingkap itu. Leher yang kulitnya putih kuning dan halus, sedikit pun tak ada keriputnya seperti yang sudah diduganya, dan dia dapat mencium bau harum minyak wangi.

“Di antara seluruh kamar yang ada di dalam istana ini, hanya kamar tidur saja yang tadi belum kulihat, karena itu coba tunjukkan di mana kamar tidurmu, maka aku akan buktikan bahwa aku akan membantumu memenuhi sumpahmu, Lam-sin.”

Ketika dicium lehernya tadi, seketika tubuh Lam-sin menjadi lemas dan kedua lengannya sudah merangkul leher pemuda yang memondongnya, dan hanya terdengar bisikan dari muka yang disembunyian di dada Thian Sin, “Ke kiri… melalui pintu kiri itu…”

Thian Sin segera melangkah sambil memondong tubuh Lam-sin, memasuki pintu kiri dan selanjutnya, tanpa pernah mengangkat muka dari tempat persembunyiannya, Lam-sin lalu menunjukkan di mana adanya kamarnya. Karena tadi sudah diperintah oleh Lam-sin, lima orang pelayannya sama sekali tidak nampak karena mereka itu berdiam di dalam kamar masing-masing tanpa berani keluar!

Ketika Thian Sin sudah mendorong daun pintu kamar itu hingga terbuka, dia tercengang dan kagum. Sebuah kamar tidur yang luar biasa mewahnya! Begitu dibuka, bau semerbak harum menyambut hidungnya. Kamar itu dilengkapi dengan perabot yang serba indah dan mahal, dan tampak begitu bersihnya, sama sekali tak pantas menjadi kamar nenek-nenek peyot, pantasnya menjadi kamar seorang puteri istana!

Thian Sin melangkah masuk, lantas mempergunakan jari tangan yang memondong untuk menutupkan daun pintu lagi, kemudian dengan perlahan dia merebahkan tubuh nenek itu ke atas pembaringan yang berkasur tebal lunak dan bertilam sutera warna merah muda. Sebuah lampu yang berada di atas meja, agaknya tadi dinyalakan oleh pelayan, tertutup kap berwarna hijau sehingga membuat suasana di kamar itu nampak romantis dan indah sejuk.

“Kau… kau tidak mau membebaskan aku dari totokan?” tanya nenek itu.

“Ahhh, tentu saja! Aku sampai lupa, maafkan.”

Dengan halus Thian Sin meraba pinggang nenek itu. Dia bukannya menotok secara kasar, melainkan mengurut dan menekan lembut hingga totokan itu pun punah. Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan tangannya meraba kaki nenek itu.

Otomatis Lam-sin cepat-cepat menarik kakinya yang diraba. “Apa… apa yang hendak kau lakukan…?” tanyanya, suaranya lirih dan gemetar.

Thian Sin tersenyum. Sikap nenek ini sungguh tak lebih seperti seorang dara remaja yang pemalu. “Aku hanya ingin melepaskan sepatumu, Lam-sin. Aku sendiri harus melepaskan sepatu, bukan? Pembaringan akan kotor…”

“Nanti…” kembali Lam-sin menarik kakinya. “Kau… kau padamkan dulu lampu itu. Aku… aku tidak bisa, aku malu… padamkan lekas, Thian Sin…”

Thian Sin meraih lampu di atas meja dan memadamkannya. Lenyaplah semua keindahan di dalam kamar yang kini telah menjadi gelap gulita. Thian Sin meraba-raba, melepaskan sepatu Lam-sin dan sepatunya sendiri, lalu memeluk nenek itu.

Dan malam itu Thian Sin mengalami sesuatu yang sangat luar biasa. Dia tidak ragu-ragu lagi bahwa wanita yang berwajah nenek ini sebenarnya adalah seorang dara muda yang memiliki tubuh indah, montok dan yang benar-benar selamanya belum pernah berdekatan dengan seorang pria!

Dan wanita ini menyerahkan diri dengan sepenuh hati dan rela, bahkan menangis saking bahagianya ketika berada di dalam pelukannya. Mereka itu bagaikan pengantin baru saja. Hanya yang agak mengecewakan hati Thian Sin adalah bahwa mereka berada di tempat yang gelap gulita. Lam-sin selalu menolak kalau dia hendak menyalakan lampu.

“Thian Sin, kasihanilah aku… jangan nyalakan lampu… engkau tunggu saja hingga besok pagi… ahh, bertahun-tahun aku menyembunyikan diri dan kini… setelah aku menemukan engkau… engkaulah orang pertama yang akan tahu segala-galanya… maafkan aku.”

Tentu saja Thian Sin mau memaafkannya dan pada saat dia menciumnya, Lam-sin balas mencium dengan kemesraan dan kehangatan yang membuat Thian Sin tercengang. Biar pun wanita ini mengubah mukanya sebagai nenek-nenek, entah dengan topeng apa maka demikian persisnya sehingga dia sendiri pun sebelum berdekatan muka tidak akan pernah menyangkanya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa wanita ini tentulah seorang gadis cantik.

Tentu saja hal itu baru dapat dibuktikan besok dan malam ini, di dalam gelap, walau pun dia tidak dapat melihatnya, akan tetapi dia dapat merabanya dan memperoleh kenyataan bahwa memang Lam-sin seorang wanita yang masih muda, dan masih gadis.

Bermain cinta dengan wanita yang menyerahkan diri dengan penuh kerelaan, dan wanita yang sama sekali belum pernah diketahui bagaimana wajahnya, merupakan pengalaman baru bagi Thian Sin maka mendatangkan ketegangan luar biasa. Betapa pun juga, harus diakuinya bahwa mereka bermain cinta dengan penuh kesadaran, penuh kerelaan dan kemesraan.

Setelah malam lewat, pada keesokan harinya, sesudah sinar matahari mulai menerobos masuk sehingga kamar itu diterangi oleh cahaya keemasan matahari pagi, Lam-sin cepat menyembunyikan dirinya ke dalam selimut! Bahkan mukanya pun disembunyikannya, dan seluruh tubuhnya tertutup selimut!

Thian Sin bangkit duduk sambil tertawa. “Kekasihku yang manis, bukalah selimut itu dan mari kau memperkenalkan dirimu!”

Dari dalam selimut terdengar suara yang gemetar, “Aku… aku malu…”

“Ihh, bukankah kita sudah menjadi kekasih, bahkan telah menjadi suami isteri, walau pun tidak sah? Bukalah, aku ingin melihat bagaimana cantiknya wajah dewi pujaanku…”

“Thian Sin, jangan merayu engkau!”

“Sungguh, aku telah jatuh cinta padamu, dewiku…”

“Kepada Lam-sin nenek tua renta?”

“Bukan, melainkan pada seorang gadis yang cantik jelita dan bertubuh mulus dan indah.” Thian Sin memeluk dan dengan perlahan membuka selimut itu dan… dia pun terpesona!

Memang sudah diduganya bahwa gadis itu tentu seorang wanita muda yang cantik, akan tetapi tidak pernah diduganya akan sejelita ini! Seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali, yang kini memandang kepadanya dengan sepasang mata yang berseri-seri tajam akan tetapi juga malu-malu, yang kedua pipinya merah sekali dan bibirnya yang merah membasah itu tersenyum malu-malu.

“Ya Tuhan… engkau sangat cantik jelita!” katanya lirih dan Thian Sin lalu merangkulnya, mendekatkan muka itu lantas menciumnya dengan sepenuh kemesraan hatinya. Sampai terengah-engah wanita itu melepaskan diri, mendorong dada Thian Sin dengan lembut.

“Thian Sin, benarkah bahwa engkau cinta padaku?”

“Sungguh mati, sekarang cintaku padamu menjadi berlipat ganda!”

“Engkau tahu Thian Sin, bahwa aku sudah menyerahkan diri kepadamu sebagai seorang perawan, untuk memenuhi sumpahku.”

Thian Sin mengangguk dan mengelus rambut yang hitam panjang itu. “Dan aku merasa terharu, merasa berterima kasih sekali bahwa engkau percaya kepadaku.”

“Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak dapat menikah denganmu, tidak dapat menjadi isterimu.”

Terkejut juga Thian Sin ketika mendengar hal ini. Sungguh aneh sekali. Dia melepaskan rangkulannya dan menatap wajah yang cantik itu. Sungguh manis sekali wanita ini, dan mempunyai bentuk tubuh yang indah menggairahkan. Dia merasa beruntung sekali dapat menjadi pria pilihan gadis seperti ini dan agaknya dia pun takkan pernah keberatan untuk mendampingi gadis ini selamanya!

Akan tetapi mendengar betapa gadis ini menyatakan tidak dapat menikah dan tidak dapat menjadi isterinya, sungguh merupakan hal yang aneh dan sama sekali berlainan bahkan menjadi kebalikan dari apa yang dikiranya. Menurut patut, setelah semalam menyerahkan dirinya yang masih perawan, tentu gadis itu akan menuntut atau minta kepadanya agar mereka segera menikah dan menjadi suami isteri. Akan tetapi, mengapa gadis ini malah menyatakan tidak dapat menjadi isterinya?

“Sayang, bukankah kita telah menjadi suami isteri?” kata Thian Sin sambil merangkul dan mencium.

Wanita itu membalasnya dengan mesra dan beberapa lamanya mereka berdua kembali tenggelam ke dalam kemesraannya dan kini, biar pun orang dapat melihatnya, wanita itu agaknya sudah mulai berani dan menumpahkan rasa cintanya tanpa malu-malu.

Akhirnya wanita itu lalu melepaskan dirinya dengan lembut. “Kalau begini terus, kita tidak mungkin dapat berbicara, Thian Sin. Apakah engkau tidak ingin mendengar riwayatku dan tidak ingin mengenal siapa namaku?”

“Tentu saja, karena tidak mungkin aku terus menyebutmu Nenek Lam-sin!” kata Thian Sin sambil meraih lagi hendak merangkul. Akan tetapi wanita itu turun dari pembaringan.

“Cukuplah, kita mempunyai banyak hal yang perlu diselesaikan. Mari, berpakaianlah dan kita bereskan urusan Bu-tek Kai-pang juga kita harus bicara dari hati ke hati, barulah kita akan memutuskan apakah kita akan melanjutkan hubungan antara kita atau tidak. Ingat, Thian Sin, apa yang terjadi semalam adalah pemenuhan dari pada sumpahku. Kita belum saling terikat, kecuali kalau memang kita nanti menghendaki demikian.”

Sikap wanita yang tadi malam penuh kelembutan, kehangatan dan pemasrahan diri, juga panas dengan api birahi yang bernyala-nyala, kini mendadak berubah. Dingin, berwibawa dan membayangkan bahwa kehendaknya tidak boleh dibantah!

Thian Sin tersenyum. “Memang keputusan itu sangat bijaksana. Kita tidak sembarangan mengikatkan diri dan menjadi tidak bebas lagi. Nah, terserah kepadamu, aku hanya akan melihat, mendengarkan, kemudian menjawab.” Sesudah berkata demikian, Thian Sin juga turun dari pembaringan.

Mereka mandi di kamar mandi yang berada di bagian kamar itu, kemudian Thian Sin yang sudah selesai berpakaian melihat bagaimana wanita itu mengubah dirinya menjadi Nenek Lam-sin. Ternyata nenek itu memakai sebuah topeng yang luar biasa, topeng kulit yang tipis sekali dan ada rambut putih pada bagian kepala. Topeng itu begitu tipisnya sehingga tidak nampak, kecuali dari dekat sekali jika meneliti gerakan mukanya. Lenyaplah si gadis manis, berubah menjadi nenek tua renta yang menyeramkan.

“Ahh, kenapa puteri yang cantik jelita suka bersembunyi di balik topeng nenek tua buruk rupa?” kata Thian Sin.

“Engkau akan mendengar dan mengerti nanti. Sekarang, aku harus membereskan urusan Bu-tek Kai-pang lebih dulu.” Setelah berkata demikian, Lam-sin menarik sebuah tali hijau yang tergantung di dekat pembaringan. Tiga kali dia menarik tali itu kemudian lapat-lapat terdengar suara berkelinting di luar kamar.

Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka dari luar dan muncullah lima orang pelayan cantik yang kemarin itu. Thian Sin memandang kepada mereka dan melihat bahwa betapa pun cantik-cantiknya mereka, kalau dibandingkan dengan kecantikan dara yang menjadi miliknya semalam, maka mereka itu kalah jauh dan pantaslah kalau menjadi pelayannya.

Sebaliknya, lima orang wanita pelayan itu memandang heran saat melihat Nenek Lam-sin sudah mandi dan bertukar pakaian, lebih heran lagi melihat Pendekar Sadis masih berada di situ! Akan tetapi mereka tidak berani berkata sesuatu, hanya terus berdiri dengan muka tunduk menghadap Lam-sin, menekuk lutut sebagai penghormatan, kemudian mengatur sarapan yang dibawa oleh tiga orang di antara mereka itu di atas meja dalam kamar.

“Cepat kalian ambil tambahan sarapan untuk Pendekar Sadis!” perintah Nenek Lam-sin. “Kemudian umumkan kepada para pimpinan kai-pang bahwa aku menghendaki diadakan rapat yang lengkap dengan semua anggota.”

Sesudah sarapan tambahan yang diminta datang, lima orang pelayan itu segera disuruh keluar dan menyampaikan pengumuman itu. Mereka meninggalkan kamar dengan wajah mengandung keheranan, akan tetapi tidak berani mengeluarkan sebuah pun kata.

Seperginya lima orang pelayan itu, Lam-sin mengajak Thian Sin makan pagi dan setelah selesai makan pagi, mereka keluar dari kamar. Thian Sin mengikuti Lam-sin menuju ke bagian belakang rumah perkumpulan Bu-tek Kai-pang di mana terdapat sebuah lapangan rumput yang cukup luas dan di sinilah para anggota Bu-tek Kai-pang berkumpul.

Ketika melihat Pendekar Sadis datang bersama Lam-sin, semua anggota Bu-tek Kai-pang menjadi terheran-heran akan tetapi juga merasa penasaran sekali. Mengapa pemuda itu kini masih hidup dan tidak dibunuh oleh Lam-sin? Padahal pemuda itu telah menewaskan belasan orang anggota kai-pang.

Thian Sin melihat banyak sekali anggota Bu-tek Kai-pang, agaknya paling sedikit ada lima puluh orang yang hadir. Dan tentu ada pula yang tidak sempat hadir, yaitu pada waktu itu tidak berada di situ, karena pengumuman dari Lam-sin dilakukan secara tiba-tiba. Dan dia pun melihat tiga orang ketua kai-pang itu hadir pula dengan tubuh rebah di atas usungan.

Wajah mereka masih pucat. Mereka memandang kepada Thian Sin dengan kedua mata mendelik dan muka marah. Mereka pun merasa yang paling penasaran melihat pemuda itu masih hidup, bahkan berada di samping Lam-sin, seolah-olah di antara mereka tidak ada permusuhan apa-apa.

“Para anggota kai-pang sekalian.” terdengar ‘nenek’ itu berkata, suaranya sangat lantang berwibawa hingga semua orang yang hadir di situ mendengarkan dengan penuh perhatian dan dengan sikap yang jelas memperlihatkan rasa takut yang mendalam, “dengarkanlah baik-baik segala perintahku pada pagi hari ini yang sekaligus merupakan perintah terakhir dariku untuk kalian!”

Tentu saja semua orang menjadi terkejut, juga terheran mendengar kata-kata ini. Perintah terakhir? Apa maksud datuk itu?

“Aku perintahkan semua anggota, baik yang kini hadir mau pun yang tidak hadir, untuk bekerja sama membantu ketiga ketua kalian yang masih menderita luka, supaya mentaati dan melaksanakan perintah-perintahku ini dengan sebaiknya. Mulai saat ini aku tidak lagi memimpin kalian, dan kalian boleh berdiri sendiri, terserah hendak membentuk kai-pang atau tidak. Akan tetapi aku melarang kalian menggunakan nama Bu-tek (Tanpa Tanding), karena hal itu hanya akan memancing datangnya penentangan. Tanpa adanya aku di sini, kalian akan dihancurkan oleh golongan lain. Kalian bisa memilih nama kai-pang yang baru dan terserah. Kalian juga boleh memilih ketua sendiri, apakah akan dilanjutkan oleh ketiga ketua kalian, terserah kalian semua. Hari ini aku akan pergi dan semua barang-barangku yang berada di sini, gedung dengan seluruh isinya, boleh kalian jual dan hasilnya harus dibagi rata dan adil, tidak boleh ada yang bermain curang dan hal itu kuserahkan kepada lima orang pelayanku ini untuk mengurusnya. Sesudah aku pergi, tidak ada seorang pun yang boleh mempergunakan namaku lagi, juga semua urusan kalian tidak ada sangkut-pautnya lagi denganku. Akan tetapi awas, ada satu saja di antara perintah terakhirku ini yang tidak dipenuhi dan dilanggar orang, maka di mana pun aku berada, aku tentu akan mendengarnya dan aku akan datang untuk menghukum sendiri si pelanggar!”

“Pangcu…!” Terdengar lima orang pelayan cantik itu berseru dan mereka pun menangis! Dan hal ini segera menular kepada beberapa orang anggota kai-pang sehingga sebentar saja kebanyakan dari mereka telah menangis!

Lam-sin membiarkan mereka menangis sejenak. Dia sendiri beberapa kali menarik napas panjang dan nampaknya juga berduka, akan tetapi dia lalu mengangkat tangan kirinya ke atas dan berteriak

“Cukup…! Bukan sikap orang-orang gagah jika membiarkan kedukaan menyeretnya. Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Kuulangi lagi, lima orang pelayanku inilah yang berhak membagi-bagi semua harta peninggalanku dengan adil dan merata. Kemudian, tiga orang ketua kuserahi untuk mengurus apakah para anggota masih ingin melanjutkan kai-pang ini dengan lain nama. Yang ingin mengundurkan diri dan membawa bagian harta mereka ke kampung, harus diperbolehkan. Nah, hanya itulah pesanku, dan tak lama lagi aku akan lewat dan singgah untuk melihat apakah ada yang berani melanggar perintahku hari ini.”

“Tapi… tetapi, locianpwe…,” kata Ang-i Kai-ong. “Bukan saya hendak membantah, hanya saya ingin bertanya bagaimana dengan permusuhan dengan Pendekar Sadis yang sudah membunuh begitu banyak anggota kami?”

Lam-sin menoleh dan memandang kepada Thian Sin yang bersikap tenang, lalu berkata lantang, “Dia datang untuk membalaskan kematian keluarga Ciu di Lok-yang. Ingat, kalian bertiga yang bertanggung jawab karena dulu sudah mengirim anak buah untuk membantu penumpasan keluarga Ciu di Lok-yang itu. Sekarang kalian harus menanggung akibatnya dan telah lunas. Pendekar Sadis telah memaafkan kalian. Ketahuilah bahwa dia ini adalah Ceng Thian Sin, putera tunggal dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw, jagoan nomor satu di dunia itu!”

“Ahhhhh…!” Seruan ini terdengar dari mulut ketiga orang ketua itu dan juga dari banyak anggota kai-pang yang pernah mendengar nama sang pangeran. Pantas lihainya bukan main, pikir mereka dengan hati gentar.

“Nah, pertemuan ini sudah berakhir. Kalian boleh kembali ke tempat masing-masing dan memanggil pulang semua saudara yang masih berada di luar, kemudian kalian menunggu hingga lima orang pelayanku ini membereskan semua urusan harta. Awas, jangan sampai peristiwa ini bocor dan ketahuan pihak lain. Setelah kalian membentuk perkumpulan baru dengan nama lain, baru boleh diumumkan bahwa perkumpulan baru itu tak ada sangkut-pautnya lagi dengan Lam-sin. Mengertikah kalian?”

“Kami mengerti!” tiga orang ketua itu berkata, disusul oleh para anggota yang menyatakan telah mengerti.

Lam-sin mengangguk dan mengajak Thian Sin serta lima orang pelayannya untuk masuk kembali ke dalam gedung, di mana Lam-sin minta disediakan beberapa stel pakaian untuk bekal berikut beberapa potong perhiasan yang diambilnya sendiri dari almari. Lima orang pelayan itu melakukan perintah terakhir ini sambil menangis sesenggukan.

Setelah beres, Lam-sin lalu berkata kepada mereka, “Kalian laksanakan pembagian harta ini baik-baik, dan sesudah itu, sebaiknya kalian pulang kampung dan menikah. Dengan bagian harta itu kalian akan dapat membangun rumah tangga. Nah, selamat tinggal.”

Lima orang itu hanya terisak kemudian menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi Lam-sin lalu menggandeng tangan Thian Sin, memanggul buntalan pakaiannya dan bersama pemuda itu dia pun meninggalkan istananya melalui pintu samping yang kecil dan sunyi, melewati taman bunga yang indah. Akan tetapi Lam-sin tidak mau menengok lagi semua miliknya itu dan sesudah keluar dari pintu pekarangan, dia mengajak Thian Sin untuk cepat pergi meninggalkan kota Heng-yang.

Pemuda itu mengikuti tanpa membantah. Akan tetapi ketika Lam-sin mengajaknya pergi ke tepi sungai di mana terdapat sebuah perahu hitam yang disembunyikan dalam rumpun alang-alang di tepi sungai, dan mengajaknya naik perahu itu, dia menjadi ingin tahu dan bertanya, “Ke manakah kita pergi?”

“Kau ikut sajalah. Aku mempunyai sebuah tempat yang sangat indah dan di sanalah kita nanti bicara tanpa ada seorang pun yang akan mengganggu kita,” jawab Lam-sin sambil mengemudikan perahu dengan sebatang dayung. Karena perahu itu mengalir mengikuti arus Sungai Siang-kiang (Sungai Harum), maka perahu itu meluncur tanpa didayung lagi, menuju ke utara.

Menjelang tengah hari, perahu kecil itu memasuki daerah hutan yang lebat. Lam-sin lalu menggerakkan dayung, membuat perahu itu minggir sehingga akhirnya berhenti di bagian tengah hutan yang sangat liar, penuh dengan pohon-pohon raksasa. Tempat itu kelihatan menyeramkan sekali, dan agaknya tidak pernah didatangi manusia.

Dengan sehelai tali Lam-sin mengikat perahu itu ke batang pohon yang doyong ke sungai, lalu melompat ke darat yang penuh dengan rumpun alang-alang. Thian Sin mengikutinya dan harus meloncat jauh karena amat berbahaya kalau harus mendarat di tengah rumpun alang-alang yang tak nampak tanahnya itu. Tanpa banyak bicara Lam-sin menggandeng tangan pemuda itu, berjalan di antara pohon-pohon raksasa dan sepuluh menit kemudian mereka tiba di tempat terbuka.

Thian Sin mengeluarkan seruan tertahan, dan memandang kagum ke depan. Di depan, di antara pohon-pohon besar, nampaklah padang rumput terbuka dan tempat itu merupakan taman yang penuh dengan bunga-bunga. Mereka disambut suara kicau ratusan macam burung-burung hutan dan sinar matahari yang menerobos masuk di antara pohon-pohon yang jarang, membuat tempat itu nampak keemasan dan indah bukan main. Seperti sorga di antara pohon-pohon raksasa yang tumbuh liar. Dan di sebuah sudut lapangan rumput itu terdapat sebuah pondok mungil. Kecil tapi kokoh kuat, terbuat dari kayu secara nyeni sekali.

Lam-sin mendorong daun pintu, memasuki pondok yang hanya mempunyai sebuah kamar itu lalu membuka semua jendela. Hawa yang sejuk memasuki pondok itu dan Thian Sin melihat bahwa pondok itu biar pun kecil akan tetapi isinya lengkap. Sebuah pembaringan yang sungguh pun tidak semewah pembaringan di istana Lam-sin, namun cukup baik dan bersih, dan perlengkapan-perlengkapan lain yang cukup untuk keperluan beberapa hari. Dan biar pun agaknya tempat itu sudah lama tidak ditempati orang, namun tidak nampak debu. Di antara pohon-pohon raksasa itu memang tidak ada debu maka tempat itu tinggal bersih dan menyenangkan sekali.

Lam-sin melempar buntalan pakaiannya ke atas meja, kemudian melempar dirinya di atas pembaringan, nampaknya gembira bukan main. “Nah, inilah tempat persembunyianku di mana aku berada apa bila hatiku sedang risau. Kini aku bebas…! Bebas…!” Dan dia pun mengembangkan kedua lengannya, nampaknya berbahagia sekali.

“Tempat yang indah, bagaikan sorga, pantas menjadi tempat peristirahatan seorang dewi kahyangan seperti engkau!” Thian Sin juga melempar buntalan pakaiannya ke atas meja lalu duduk di pembaringan, merangkul nenek itu.

Lam-sin mengelak. “Nanti dulu,” katanya. “Kini Lam-sin telah membayar sumpahnya, telah melunasi sumpahnya, oleh karena itu, siapa yang menyentuh Lam-sin berarti akan mati!”

“Ehh… kenapa begini? Bukankah… bukankah…”

“Mari kita keluar dan engkau akan menyaksikan betapa aku akan membunuh Lam-sin, si nenek buruk yang mengerikan ini!”

“Apa… apa maksudmu…?” Thian Sin semakin kaget.

Akan tetapi Lam-sin sudah meloncat dan berlari keluar. Thian Sin cepat mengikutinya dan mereka tiba di lapangan rumput. Rumput di sana hijau segar dan tumbuh rata, semacam rumput yang tumbuhnya tidak meliar dan tidak dapat tinggi. Lam-sin sudah duduk di atas rumput dan ketika Thian Sin yang mengejarnya tiba, dia langsung berkata,

“Maukah engkau membantuku mencari kayu kering untuk membuat api unggun?”

“Membuat api unggun? Untuk apa…? Tapi baiklah…” Thian Sin tentu saja merasa heran. Saat itu matahari sedang berada di atas, cuaca cukup cerah dan biar pun tempat itu amat sejuk, akan tetapi segar dan tidak terlalu dingin. Perlu apa api unggun?

Tetapi melihat sikap Lam-sin yang begitu sungguh-sungguh, dia pun cepat pergi mencari kayu kering yang dibutuhkan wanita itu. Setelah cukup memperoleh kayu kering, Lam-sin kemudian menumpuknya di atas batu-batu yang telah diatur di tempat itu, dan dia pun lalu membakar tumpukan kayu itu. Api menyala cukup besar dan nenek itu lantas meraba ke arah mukanya.

“Ceng Thian Sin, engkaulah orangnya yang sudah membantuku, melunasi sumpahku dan engkau pula satu-satunya orang yang menyaksikan musnahnya nenek buruk rupa yang bernama Lam-sin!”

Sekali dia merenggut ke mukanya, maka terlepaslah topeng nenek itu sehingga nampak wajahnya yang berkulit putih halus dan bentuknya cantik jelita itu. Topeng tipis itu lantas dilemparnya ke dalam api yang bernyala-nyala dan tentu saja segera dimakan api. Wanita itu kemudian menanggalkan pakaian luarnya, baju dan celana nenek yang kedodoran itu sehingga kini gadis itu hanya memakai pakaian dalam yang tipis itu. Pakaian nenek itu pun melayang ke arah api, dimakan api menyusul topeng yang sudah menjadi abu.

Akhirnya gadis itu mengembangkan kedua lengannya dan wajahnya yang cantik manis itu tersenyum gembira. “Nah, mampuslah sudah Lam-sin si nenek buruk!”

“Dan terciptalah si dara cantik jelita seperti bidadari…!” kata Thian Sin yang menghampiri dan memeluknya.

Gadis itu tersenyum hingga nampaklah deretan giginya yang rapi dan putih. Kini Thian Sin dapat menikmati semua itu dengan bebas, menatap wajah itu, menyelusuri seluruh lekuk tubuh yang amat menggairahkan itu dengan pandang matanya, sampai akhirnya gadis itu menundukkan muka karena malu, lalu mendorong dada Thian Sin secara halus pada saat pemuda itu hendak menciumnya.

“Nanti dulu, engkau belum mengenalku!” bisiknya.

“Siapa bilang? Aku sudah mengenalmu baik-baik tadi malam…” Thian Sin tersenyum.

“Tidak, engkau belum mengenal siapa aku, siapa namaku dan bagaimana riwayatku.”

“Perlukah itu? Engkau adalah seorang gadis yang cantik bagaikan bidadari, yang kucinta, menjadi dewi pujaanku…” Thian Sin hendak meraih lagi akan tetapi gadis itu mengelak.

“Kalau engkau memaksaku, aku akan membunuhmu, Thian Sin!” tiba-tiba dia membentak dan sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar mencorong, mengingatkan Thian Sin akan sinar mata Nenek Lam-sin sehingga diam-diam dia bergidik. Sukarlah menerima kenyataan bahwa gadis cantik ini adalah Nenek Lam-sin yang memiliki ilmu silat demikian hebatnya sehingga hanya dengan susah payah dia dapat mengalahkannya.

“Baiklah, maafkan aku. Nah, aku siap mendengarkan ceritamu,” kata Thian Sin yang lalu duduk di atas rumput tebal.

Gadis itu sejenak memandang ke arah pakaian nenek yang terbakar hingga berkobar dan sebentar saja pakaian itu pun lenyap menjadi abu, seperti halnya topeng tadi. Tiba-tiba gadis itu menangis di depan api unggun, dan terdengar suaranya lirih,

“Ibu… ibu… anakmu tidak pernah melanggar janji dan sumpah…”

Akan tetapi sebentar saja dia menangis karena dia sudah mampu mengendalikan dirinya dan menyusut kering air mata itu dengan sapu tangan yang tadinya tersisip di antara bukit dadanya. Matanya dan hidungnya menjadi agak merah, akan tetapi di dalam pandangan mata Thian Sin, hal itu bahkan menambah manisnya.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner