PENDEKAR SADIS : JILID-46


Senja hari itu, setelah makan sore, Thian Sin menerima sepucuk surat dari pelayan rumah penginapan yang melayani mereka makan, karena Thian Sin dan Kim Hong menyuruh pelayan ini membelikan makanan dan makan di rumah penginapan itu. Ketika Thian Sin membuka kertas berlipat itu dan membacanya dia tersenyum. Surat itu dari So Cian Ling!

“Hemm, kau cengar-cengir setelah membaca surat itu, dari siapakah?”

“Dari So Ciang Ling, murid See-thian-ong.”

Kim Hong sudah pernah mendengar cerita Thian Sin mengenai gadis itu, maka dia berjebi dan membuang muka.

“Kau mau membacanya?”

“Huh, aku tidak mempunyai urusan dengan wanita itu!”

“Ha-ha-ha, kau cemburu?”

Kim Hong memandang dengan mata bersinar marah. “Siapa bilang cemburu? Meski kau mau menggandeng seribu orang wanita, aku tak akan peduli! Jika engkau menggandeng wanita lain, berarti engkau tidak suka lagi padaku, dan tidak ada yang memaksamu untuk suka kepadaku. Hubungan antara kita bebas tanpa ikatan!”

Thian Sin tersenyum, akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir juga kalau-kalau gadis ini meninggalkannya atau tidak mau lagi mendekatinya. Bagaimana pun juga, dia merasa sangat berat untuk berpisah dari Kim Hong. Cian Ling tidak ada artinya lagi baginya, dan hubungannya dengan Cian Ling dulu pun hanya terdorong oleh keinginan membujuk dara itu untuk membantunya mencari kelemahan See-thian-ong.

“Maafkan aku, Kim Hong, aku hanya main-main. Kau bacalah sendiri suratnya, atau kau dengarkan dan akan aku bacakan. Ada jalan yang baik sekali untuk menyelidiki keadaan See-thian-ong melalui Cian Ling.” Thian Sin lalu membaca surat pendek dari Cian Ling itu.

Ceng Thian Sin,

Mengingat akan hubungan kita yang lalu, aku ingin sekali bertemu denganmu agar dapat membicarakan hal teramat penting. Datanglah sendirian saja begitu matahari terbenam, di luar kota Si-ning gerbang selatan.

Tertanda: So Cian Ling.


“Hemm, agaknya dia rindu padamu,” kata Kim Hong, tersenyum mengejek.

“Mungkin saja, akan tetapi aku sendiri sama sekali tak pernah memikirkannya, Kim Hong. Kupikir-pikir, sebaiknya kalau wanita ini kutemui saja untuk menyelidiki tentang keadaan See-thian-ong. Siapa tahu telah terjadi perubahan besar yang tidak kuketahui.”

“Sesukamulah!” jawab Kim Hong, bersikap tidak peduli, akan tetapi bagaimana pun juga ada perasaan tak sedap di dalam hatinya. Dia merasa marah kepada hatinya sendiri. Dia tak ingin dikuasai atau menguasai Thian Sin, tidak ingin mengikat atau diikat, akan tetapi mengapa hatinya terasa tidak enak melihat Thian Sin hendak menemui kekasih lamanya? Inikah yang dinamakan cemburu?

Seperti kebanyakan orang, Kim Hong juga tidak mau melihat kenyataan bahwa di mana ada si aku yang mementingkan kesenangan sendiri, maka cemburu pasti akan timbul. Di mana terdapat kenikmatan dan kesenangan, tentu timbullah iri hati atau cemburu.

Hubungannya dengan Thian Sin, baik sah mau pun tidak, resmi atau belum, baik dengan ikatan pengesahan atau pun tidak, sudah mendatangkan kenikmatan atau kesenangan bagi dirinya. Kesenangan inilah yang membentuk ikatan batin, dan si aku selalu enggan untuk membagi kesenangan dengan orang lain, atau lebih tepat lagi, membagi sesuatu yang mendatangkan kenikmatan dengan orang lain, dan inilah yang melahirkan cemburu. Milikku diganggu, punyaku diambil orang!


Malam itu, dengan hati agak panas, Kim Hong tinggal seorang diri di dalam kamar losmen itu. Ia merasa gelisah, rebah sebentar, bangkit lagi dan duduk termenung, lalu bangkit lagi dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.

Semenjak menanggalkan topengnya sebagai Lam-sin, dia selalu berdua dengan Thian Sin dan sudah mengalami kegembiraan hidup yang luar biasa, yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Memang kadang-kadang dia marah terhadap Thian Sin, kadang-kadang dia menganggap pemuda itu terlalu besar kepala, tinggi hati dan juga keras hati, mau menang sendiri, dan kalau teringat akan kekejaman-kekejaman Pendekar Sadis, ada perasaan tak senang di hatinya.

Akan tetapi semua itu lenyap sesudah berada dalam pelukan dan belaian Thian Sin dan kalau sudah begitu, dia tidak ingin berpisah sedikit pun juga dari pria itu. Dan sekarang, baru pertama kali sejak mereka bertemu, Thian Sin pergi meninggalkannya sendirian. Dan dia merasa alangkah tidak enaknya perasaan hatinya, begitu kesepian, begitu gelisah dan takut kehilangan pemuda itu!

Dia dan Thian Sin sering berbicara tentang hubungan mereka berdua. Dan mereka sudah setuju untuk tidak mengikat diri satu dengan lain. Oleh karena itu pula maka dia selalu minum obat, warisan dari mendiang ibunya, untuk mencegah agar dia tidak mengandung karena hubungannya dengan Thian Sin. Dan pemuda itu pun sudah menyetujuinya. Apa bila ada anak terlahir di antara mereka, tentu mau tidak mau mereka menjadi terikat oleh anak itu.

Mereka berdua ingin bebas, dan ingin agar hubungan di antara mereka itu atas dasar suka sama suka, bukan karena terpaksa oleh kewajiban-kewajiban yang timbul karena sebuah ikatan. Kalau mereka sudah saling bosan atau sudah tidak suka lagi hubungan itu, maka hubungan itu dapat putus sewaktu-waktu. Atau jika keduanya menghendaki, hubungan itu tentu dapat bertahan selama hidup!

Kini Kim Hong merasa betapa hatinya terasa sangat sunyi dan kosong sesudah Thian Sin pergi. Hal ini membuat dia merasa bahwa dia telah betul-betul jatuh cinta kepada pemuda itu, bahwa di luar kehendaknya, dia sebenarnya telah terikat secara batiniah.

“Aku cinta padanya! Si bedebah! Aku cinta padanya!”

Gadis yang pernah menjadi datuk kaum sesat selama hampir lima tahun ini terus berjalan mondar-mandir dan memukul-mukul telapak tangan kiri dengan kepalan kanannya sendiri. Hatinya mulai risau. Dia tidak akan bebas lagi kalau sudah terikat, buktinya, baru ditinggal sebentar saja sudah gelisah. Apa akan jadinya dengan dirinya kalau begini?

Belum lama Thian Sin pergi meninggalkannya, selagi dia mondar-mandir dalam kamarnya, mendadak pintu kamar itu diketuk dari luar. Hampir saja dia melompat dengan hati girang mengira bahwa Thian Sin telah kembali. Akan tetapi tidak mungkin. Kalau Thian Sin yang datang, dia tidak akan mengetuk pintu!

“Siapa?” tanyanya sambil menghentikan kakinya.

“Saya, toanio, pelayan.”

Kim Hong dapat mengenali suara pelayan yang tadi melayani mereka makan, juga yang menyerahkan surat wanita bekas kekasih Thian Sin. Ia membuka pintu dan Sang Pelayan sudah berdiri di luar pintu sambil membungkuk dengan hormat.

“Ada apa?” tanyanya tidak senang.

“Maaf, toanio. Di luar ada seorang tamu yang katanya membawa berita sangat penting bagi toanio,” kata pelayan itu.

Kim Hong memandang penuh kecurigaan, lalu dia membentak, “Tadi siapa yang memberi surat yang kau berikan kepada… suamiku?”

“Saya… saya tidak mengenalnya, toanio. Saya terima dari seorang wanita cantik, namun entah siapa…” Tentu saja pelayan ini membohong karena di seluruh daerah itu tidak ada yang tidak mengenal So Cian Ling! Akan tetapi dia takut untuk mengaku, takut kalau dia terbawa-bawa karena sesungguhnya dia hanya seorang pelayan yang tidak tahu apa-apa.

“Siapa yang mencariku di luar? Wanita pengirim surat tadi?”

“Bukan, Toanio. Seorang laki-laki, saya pun tidak mengenalnya.”

Kim Hong keluar dan menutupkan daun pintu kamarnya, kemudian melangkah keluar. Di ruangan depan, tampak telah menantinya seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh jangkung dan berkumis kecil panjang. Ketika Kim Hong sampai di situ, laki-laki itu memberi hormat dan memandangnya dengan sinar mata penuh selidik.

“Siapakah engkau? Ada keperluan apa mencariku?” Kim Hong bertanya.

“Apakah nona… ehh, sahabat baik dari Ceng-taihiap?” pria ini bertanya.

“Benar. Siapa kau dan ada apa?”

Pria itu memandang ke kanan kiri. “Berita penting sekali tentang Ceng-taihiap. Nona, dia telah masuk perangkap musuh.”

“Ehh…?”

“Nona, marilah kita berbicara di luar, tidak enak di tempat umum begini, takut ada yang mendengarnya.” Pria jangkung itu lalu keluar dari ruangan depan.

Kim Hong yang sudah merasa tertarik dan khawatir mendengar kata-kata tadi, kemudian mengikutinya. Pria itu berjalan perlahan-lahan ke jalan di depan losmen, pada bagian yang gelap. Ketika Kim Hong sudah berjalan di dekatnya, dia berkata lagi, suaranya berbisik-bisik.

“Bukankah tadi Ceng-taihiap dipanggil oleh seorang wanita…?”

“Nanti dulu, siapakah engkau?”

Pria itu menjura dan berkata, “Nama saya Sim Kiang Liong, saya seorang sahabat baik dari pendekar Ceng Thian Sin. Ceng-taihiap tentu akan dapat menceritakan siapa adanya saya, nona. Akan tetapi sekarang yang lebih penting lagi, Ceng-taihiap sudah terjebak ke dalam perangkap musuh…”

“Musuh siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan See-thian-ong. Bukankah Ceng-taihiap datang untuk mencarinya? Saya tahu bahwa Ceng-taihiap bermusuhan dengan datuk itu…”

Kim Hong bukanlah anak kemarin sore yang mudah saja percaya dengan omongan orang. Dia adalah Lam-sin, selain lihai, juga cerdik dan hati-hati sekali.

“Lalu apa maksudmu memberi tahukan hal itu kepadaku?”

“Nona, Ceng-taihiap telah berjasa bagi para pendekar di sini hingga kami berhutang budi kepadanya, maka begitu melihat dia terjebak dalam perangkap, mungkin sekarang sudah tertawan oleh See-thian-ong, kami para pendekar tentu saja ingin menolongnya. Karena kami merasa gentar terhadap See-thian-ong, dan karena kami pikir nona tentu akan dapat pula membantu, maka kami sengaja mengundang nona untuk sama-sama membicarakan hal itu dan mengatur siasat untuk dapat menolong Ceng-taihiap.”

Diam-diam Kim Hong kaget sekali. Jantungnya berdebar keras membayangkan Thian Sin terancam bahaya sehingga membuat hatinya gelisah bukan main. Maka dia pun langsung mengangguk. “Baik, mari antarkan aku ke tempat para pendekar.”

Tanpa banyak cakap lagi, keduanya lalu berjalan cepat menuju ke pintu gerbang utara. Tidak jauh dari pintu gerbang, pria itu mengajak Kim Hong memasuki pekarangan sebuah gedung besar dan megah namun kelihatan sunyi dan angker.

“Mereka telah berkumpul menanti kita di ruang belakang, nona. Maklumlah, menghadapi See-thian-ong yang berpengaruh dan banyak kaki tangannya, kita harus hati-hati sekali. Kita masuk dari pintu belakang. Marilah…”

Kim Hong mengikuti orang itu memasuki pekarangan dan mengambil jalan dari samping gedung dan menuju ke pintu belakang. Orang bertubuh jangkung itu membuka daun pintu lalu mereka memasuki sebuah lorong yang gelap, hanya ada sedikit penerangan sehingga remang-remang. Suasana sunyi sekali, tidak terdengar suara seorang pun di situ. Pria itu lalu berhenti di depan sebuah daun pintu tertutup dan berkata kepada Kim Hong.

“Nona, silakan masuk, mereka sedang berkumpul di ruangan dalam,” berkata demikian, Si Jangkung itu mempersilakan dan mengembangkan tangan kanannya.

Akan tetapi Kim Hong tidak pernah kehilangan kewaspadaan dan kecurigaannya. Ia tidak bergerak dan berkata, “Harap kau suka masuk lebih dulu, aku mengikut saja.”

Orang itu lalu menarik napas panjang. “Ahh, agaknya nona mencurigai saya, masih belum percaya bahwa kami adalah kawan-kawan yang hendak menolong Ceng-taihiap. Baiklah, aku masuk lebih dulu.”

Dia membuka pintu dan ternyata di balik daun pintu itu merupakan sebuah ruangan atau kamar yang remang-remang dan kosong, akan tetapi di sebelah kanan terdapat sebuah lubang pintu yang kelihatan gelap.

Karena melihat orang itu telah melangkah masuk, maka Kim Hong juga ikut masuk. Akan tetapi, tiba-tiba orang di depannya itu sudah melompat dengan cepat sekali ke arah pintu sebelah kanan itu. Kim Hong terkejut dan cepat dia pun meloncat, tetapi tiba-tiba pintu itu tertutup begitu laki-laki jangkung tadi lewat. Kim Hong hanya terlambat dua detik saja.

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, sebelum daun pintu di belakangnya, dari mana dia masuk tadi tertutup, tubuhnya telah mencelat hendak keluar dari pintu itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja sudah muncul tiga orang laki-laki tinggi besar di ambang pintu lantas mereka ini mendorong dan memukul ke arah tubuh Kim Hong yang hendak menerobos keluar.

“Desss…!”

Tiga orang itu mengeluarkan teriakan keras lantas tubuh mereka terjengkang, dari mulut mereka keluar darah segar! Ternyata Kim Hong telah memapaki dorongan mereka bertiga itu dengan pukulan-pukulan sakti. Akan tetapi pada saat dara itu hendak meloncat keluar, muncul seorang kakek tinggi besar yang menggunakan sepasang tangan mendorongnya kembali. Kim Hong menjadi marah maka dia pun menerima atau menyambut dorongan itu dengan kedua tangannya.

“Dukkk…!”

Keduanya terkejut. Kakek itu terhuyung ke belakangg sebaliknya Kim Hong juga terpental kembali tiga langkah ke dalam kamar dan… tiba-tiba saja kakinya terjeblos karena lantai itu telah bergeser dan lenyap! Karena kakinya tidak berpijak pada sesuatu apa pun, tentu saja tubuhnya melayang ke bawah.

“Haiiiiitttt…!” Kim Hong mengeluarkan suara melengking nyaring dan mendadak tubuhnya yang sedang melayang ke bawah itu membuat poksai (salto) dan dapat membalik ke atas lagi.

“Dukkk!” tubuhnya membentur lantai yang sudah tertutup kembali dan sekarang tubuhnya terjatuh ke bawah tanpa dapat ditahannya lagi.

Maklum bahwa dia telah terjebak, Kim Hong segera mengerahkan ginkang-nya dan dapat menahan luncuran tubuhnya. Akan tetapi ketika kedua kakinya menyentuh lantai, kiranya di bawah tidak dipasangi benda tajam atau runcing sehingga dia dapat mendarat dengan selamat. Gelap sekali tempat itu.

Kim Hong bukan seorang gadis penakut. Begitu kedua kakinya sudah menginjak lantai dia cepat menyelidiki keadaan kamar itu dengan meraba-raba. Sebuah ruangan yang luasnya kira-kita tiga meter persegi. Dindingnya amat kuat, terbuat dari pada beton. Ada lubang-lubang hawa sebesar lubang-lubang jari di sebelah atas, dekat langit-langit yang tingginya kurang lebih tiga meter.

Dia meloncat dan mendorong langit-langit, akan tetapi ternyata langit-langit itu terbuat dari baja yang kuat bukan main. Tidak ada pintu atau jendelanya! Mungkin pintu rahasia yang bergeser dan masuk ke dinding, pikirnya. Tidak ada jalan keluar. Akan tetapi dia masih selamat dan tidak terluka. Ini saja merupakan hiburan baginya, karena selama dia masih hidup, dia tidak akan kehilingan harapan.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara mendesis. Kim Hong waspada dan siap. Akan tetapi tempat itu terlalu gelap sehingga dia tidak dapat melihat sesuatu. Tangannya sendiri pun tidak nampak, apa lagi benda lain. Dan tiba-tiba dia mencium bau yang harum dan keras.

Celaka, keluhnya karena dia tahu bahwa ada asap beracun dimasukkan ke dalam kamar itu. Tentu melalui lubang hawa di atas, pikirnya. Dia tahu bahwa melawan pun tidak ada gunanya, hanya membuang tenaga sia-sia belaka.

Apa bila dia melawan dengan menahan napas, hanya akan kuat bertahan beberapa jam saja, akhirnya dia tidak akan dapat lolos pula dari asap yang dia duga tentu mengandung obat bius itu. Kalau dia melawan dengan cara menahan napas sekuatnya, ada bahayanya paru-parunya akan terluka. Lebih baik dia menyerah kepada keadaan yang tidak mungkin dapat dilawannya lagi, agar dapat menghemat tenaga menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karena itu, Kim Hong tidak melawan, hanya cepat merebahkan dirinya terlentang di atas lantai sambil melemaskan tubuhnya, mengendurkan semua urat-urat sarafnya agar jangan menegang. Karena dia merebahkan diri, maka asap itu agak lama baru mulai memasuki pernapasannya, yaitu setelah udara di atas penuh.

Kim Hong yang telah banyak mempelajari racun dan obat bius, maklum bahwa asap yang disedotnya itu mengandung obat bius yang tidak mematikan, hanya membuatnya tertidur atau pingsan saja. Maka pernapasannya juga lega dan dia pun jatuh pingsan dengan hati tenang…..

********************

“Cian Ling…!”

“Thian Sin, ahhh, Thian Sin…!” Wanita itu menubruk dan merangkulnya sambil menangis.

Thian Sin mengelus rambut kepala itu dan membiarkan Cian Ling menangis sejenak pada dadanya. Setelah agak mereda, dengan halus dia baru mendorong pundak wanita itu dan mereka saling pandang di dalam cuaca yang remang-remang diterangi bintang-bintang di langit itu.

“Engkau kurus…,” kata Thian Sin dan memang wanita itu terlihat lebih kurus dibandingkan dengan ketika masih menjadi kekasihnya dahulu.

“Aku hidup menderita, Thian Sin. Aku… aku nyaris dibunuh suhu ketika engkau melarikan diri. Suheng membelaku dan menyelamatkan, maka aku terpaksa menerima saja ketika dia mengambilku sebagai isterinya. Dan suhu… suhu lantas menghancurkan kedua tulang pergelangan tanganku.” Cian Ling memandang kepada dua tangannya dengan sinar mata sedih.

“Ah, maafkan aku, Cian Ling.” Thian Sin memegang kedua tangan itu dan mencium kedua tangan itu bergantian. “Engkau menderita karena aku.”

“Dan sekarang agaknya engkau sudah senang, ya? Sudah lupa kepadaku karena sudah memperoleh gantinya?”

“Ahh, jangan berkata demikian, Cian Ling. Bukankah sekarang engkau telah menjadi isteri suheng-mu? Nah, katakan, apa kepentingan yang hendak kau bicarakan denganku?”

“Apa pertemuan antara kita ini tidak kau anggap penting?”

“Memang, akan tetapi tentu ada hal yang lebih dari pada itu yang hendak kau sampaikan kepadaku.”

“Aku diutus oleh suhu untuk menyelidikimu. Apa maksud kedatanganmu di Si-ning? Tentu bukan untuk mencariku, karena kau datang dengan seorang gadis cantik. Apakah hendak memusuhi See-thian-ong?”

Thian Sin tersenyum dan mencium bibir itu. Bagaimana pun juga, wanita ini adalah bekas kekasihnya dan masih mencintanya. Hal ini terasa benar sekarang. “Ahh, engkau diutus untuk menyelidiki aku akan tetapi kenapa engkau berterus terang begini kepadaku?” Inilah bukti bahwa wanita ini masih mencintanya.

“Memang tadinya aku ingin mencelakaimu, karena engkau sudah meninggalkan aku, dan engkau telah menyebabkan aku begini. Tapi… tapi… mana sanggup aku mencelakaimu, Thian Sin? Aku malah hendak memperingatkanmu bahwa guruku bersama suamiku dan semua kaki tangannya telah bersiap untuk membalas dendam, untuk menawanmu, untuk menyiksamu dan membunuhmu. Karena itu, engkau berhati-hatilah dan lebih baik engkau segera pergi saja dari tempat ini.”

“Cian Ling, kenapa engkau melakukan ini semua? Kenapa engkau lagi-lagi mengkhianati suhu-mu dan suamimu…?” Than Sin bertanya, terharu juga.

“Aku… ohhhhh…” Cian Ling merangkul leher Thian Sin dan menangis lagi. Mereka saling berciuman, Cian Ling untuk melepaskan rindunya, Thian Sin untuk menyatakan keharuan dan terima kasihnya. Setelah mereda, Cian Ling melepaskan rangkulannya.

“Aku girang bahwa aku telah berterus terang padamu, Thian Sin. Engkau memang patut kubela. Sungguh pun engkau tidak mencintaku, akan tetapi engkau seorang laki-laki yang baik, yang dapat menyenangkan hati wanita.”

“Nah, ceritakan apa yang hendak mereka lakukan.”

Dengan singkat namun jelas Cian Ling lalu menceritakan pertemuan yang diadakan oleh See-thian-ong bersama para murid dan pembantunya setelah datuk itu mendengar akan kemunculan Thian Sin dan Kim Hong di telaga Ching-hai.

“Semenjak kalah olehmu, suhu telah melatih diri dengan tekun sekali, dan sekarang suhu malah telah memperoleh murid dan pembantu yang pandai, yaitu lima orang yang berjuluk Ching-hai Ngo-liong. Jika maju bersama, mereka itu lebih lihai dari pada aku atau suheng sendiri. Belum lagi suhu yang sekarang semakin tua menjadi semakin lihai. Maka engkau berhati-hatilah, Thian Sin. Lebih baik engkau pergi malam ini juga meninggalkan Si-ning. Aku tidak dapat lama-lama bertemu denganmu, mereka tentu akan menjadi curiga. Akan kukatakan kepada mereka bahwa kedatanganmu ke sini bersama wanita itu hanya untuk pesiar saja, tidak ada keinginanmu untuk mengacau. Bukankah begitu?”

“Ya, sebaiknya engkau katakan saja begitu. Akan tetapi untuk pergi melarikan diri, nanti dulu, Cian Ling. Aku memang ingin menentang suhu-mu itu, dan terima kasih atas semua kebaikanmu kepadaku.”

“Jadi, engkau hendak nekad menentang suhu?”

“Dia memang pantas ditentang, apa lagi setelah apa yang dilakukannya kepada dirimu.”

“Ahh, aku khawatir sekali!”

“Tidak usah khawatir, aku dapat menjaga diri.”

“Selamat berpisah.”

Cian Ling ragu-ragu lalu berlari menghampiri, merangkul dan mencium Thian Sin dengan sepenuh hatinya, lantas terisak dan melarikan diri, menghilang dalam kegelapan malam. Thian Sin berdiri tertegun, lalu tersenyum dan mengelus bibirnya. Di antara para wanita yang pernah mendekatinya, yang pertama menyentuh hatinya adalah Kim Hong ke dua adalah Cian Ling inilah.

Lian Hong tidak dapat diperbandingkan karena perasaannya terhadap Lian Hong lain lagi, lebih halus, bahkan agaknya jauh dari kekasaran nafsu birahi. Dia sendiri masih tidak tahu apakah dia cinta terhadap Cian Ling atau Kim Hong. Betapa pun juga, Cian Ling takkan mudah terhapus begitu saja dari lubuk hatinya. Wanita itu telah menyerahkan dirinya dan hatinya, dan pada saat ini pun sudah membuktikan pembelaannya, setelah berkorban dua pergelangan tangannya yang hampir melenyapkan ilmu kepandaiannya.

Dia tahu bahwa kalau pertemuan tadi, percakapan dan sikap Cian Ling tadi diketahui oleh See-thian-ong, tentu sekali ini nyawa wanita itu menjadi taruhannya. Akan tetapi dia tidak akan undur selangkah. Biar pun See-thian-ong sudah mempersiapkan diri. Lebih baik lagi. Sekali ini See-thian-ong harus dapat dia kalahkan secara mutlak!

Akan tetapi, teringat akan penuturan Cian Ling betapa See-thian-ong telah mengerahkan kaki tangannya, dia harus berhati-hati juga. Orang seperti See-thian-ong itu tentu tak akan segan untuk mempergunakan tipu muslihat dan kecurangan. Baiknya dia datang bersama Kim Hong yang dalam hal ilmu kepandaian tak kalah dibandingkan dengan See-thian-ong. Bersama dengan Kim Hong dia merasa mampu untuk menghadapi seluruh jagoan di dunia ini!

Ketika teringat akan Kim Hong yang ditinggalkan seorang diri dalam keadaan marah dan cemburu, Thian Sin tersenyum dan mempercepat larinya, kembali ke kota, ke losmen di mana mereka bermalam. Akan tetapi ketika dia memasuki kamar, ternyata kamar mereka itu kosong. Kim Hong tidak berada di situ, tidak meninggalkan surat mau pun pesan.

Seketika hatinya berdebar tegang dan khawatir. Jangan-jangan kekasihnya itu telah pergi meninggalkan dirinya akibat marah dan cemburu. Akan tetapi buntalan pakaiannya masih ada, berarti Kim Hong tidak minggat. Akan tetapi ke manakah? Cepat dia pergi mencari ke belakang dan sekitar losmen itu, tetapi tak dapat menemukannya. Lalu dia memanggil pelayan yang tadi menyerahkan surat kepadanya.

“Engkau melihat nona?” tanyanya kepada pelayan itu.

“Tidak, tuan…”

Akan tetapi Thian Sin melihat betapa kedua kaki pelayan itu menggigil, ini menandakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pelayan itu.

“Baikiah,” katanya dan seperti tidak mencurigai sesuatu, dia pun memasuki kamarnya.

Akan tetapi cepat sekali dia pun membuka jendela, meloncat ke luar dan terus menuju ke luar, lalu mengintai dari tempat gelap. Dilihatnya ada tiga orang laki-laki tinggi besar yang sedang berbisik-bisik dengan pelayan tadi. Hanya terdengar olehnya Si Pelayan berkata, suaranya terdengar agak takut-takut.

“Dia sudah pulang, dan tidak menduga sesuatu. Di kamamya…”

“Baik, kami akan menjemputnya,” kata seorang di antara tiga orang itu.

Thian Sin cepat-cepat meloncat dan berlari memasuki kamarnya kembali melalui jendela, menutupkan daun jendela dan merebahkan dirinya, pura-pura tidur di atas pembaringan.

“Tok-tok-tokk!”

Thian Sin membiarkan sampai ketukan pintu itu terulang beberapa kali, kemudian barulah dia menjawab dengan suara mengantuk, “Siapa di luar?”

“Aku, utusan See-thian-ong Locianpwe! Harap buka pintu Pendekar Sadis!”

Thian Sin tersenyum, akan tetapi hatinya terasa tidak enak. Apa bila See-thian-ong sudah berani mengirim utusan secara terbuka seperti ini, hal itu hanya berarti bahwa datuk itu telah mempunyai sesuatu yang dapat dipakai sebagai andalan.

“Hemm, pintu kamarku tak pernah kukunci. Masuklah saja.”

Hening sejenak. Agaknya orang-orang yang berada di luar pintu itu meragu dan sedang berunding. Terdengar mereka saling berbisik. Lalu seorang di antara mereka mondorong daun pintu. Daun pintu terbuka dan nampak orang itu berlindung di kusen pintu, dan golok tajam berkilau di tangannya. Akan tetapi pada saat melihat Thian Sin masih rebah di atas pembaringannya, dia menjadi lebih berani, lalu melangkah masuk.

Orang ini tinggi besar, seorang di antara tiga orang yang dilihat Thian Sin tadi. Thian Sin bangkit duduk dengan lagak malas-malasan, ada pun orang itu maju sambil menodongkan goloknya, siap untuk menyerang.

“Hemm, kalau aku jadi engkau, lebih baik kusimpan saja golokku itu. Salah-salah golok itu bisa minum darah tuannya sendiri. Amat berbahaya itu!” kata Thian Sin sambil minum air teh dari mangkok di atas meja, sikapnya tidak peduli.

Orang itu jelas kelihatan gentar, mukanya agak pucat. Dia pun menyeringai lalu berkata dengan suara lantang, untuk menutupi rasa gentar di dalam hatinya.

“Pendekar Sadis, golok ini hanya untuk menjaga diri kalau-kalau engkau akan mengamuk sebelum habis mendengarkan kata-kataku.”

“Hemm, kalau aku mengamuk, sekarang engkau tak mungkin dapat bicara lagi, juga dua orang temanmu di luar kamar itu. Masuk saja kalian semua dan segera katakan apa yang dipesan oleh See-thian-ong?” Sikap Thian Sin tetap tenang saja namun justru ketenangan inilah yang membuat jantung tiga orang itu terasa dingin membeku karena gentar.

Dua orang tinggi besar yang menunggu dan berjaga-jaga di luar kamar itu pun kemudian menampakkan diri sambil memegang golok dengan tangan sedikit gemetar. Nama besar Pendekar Sadis sudah membuat mereka ketakutan, apa lagi kalau diingat bahwa pemuda ini adalah putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang dahulu pernah mengalahkan See-thian-ong sendiri! Kini mereka bertiga menghadapi Thian Sin, siap-siap dengan golok di tangan, sedangkan Thian Sin memandang dengan sikap tak acuh.

“Pendekar Sadis,” orang yang pertama tadi berkata dengan suara bergetar. “Ketua kami hanya hendak menyampaikan pesan kepadamu bahwa engkau harus mengikuti kami dan menghadap beliau tanpa banyak ribut.”

Thian Sin tersenyum. “Hemm, bagaimana kalau sekarang aku menggerakkan tangan dan membunuh kalian bertiga? Apa sukarnya bagiku?”

Orang yang mewakili teman-temannya bicara itu menelan ludah dulu sebelum menjawab, merasa sukar sekali bicara seolah-olah jantungnya naik dan mengganjal tenggorokannya. “Kalau… kalau kami tidak kembali bersamamu, selambat-lambatnya besok pagi sesudah matahari terbit, wanita itu akan mati…”

“Wanita…?” Thian Sin pura-pura bodoh.

“Ya, wanita cantik sahabatmu itu, Pendekar Sadis!” Orang tinggi besar itu merasa dapat mengancam dan berada di pihak yang menang sekarang. “Dan matinya akan mengerikan sekali! Ketua kami tak akan kalah olehmu dalam hal menyiksa orang-orang yang menjadi tawanannya. Jika sedikit saja engkau mengganggu kami, maka besok sebelum matahari terbit, kawanmu yang cantik itu akan menjadi mayat dengan tubuh terhina dan tak berupa manusia lagi!”

Thian Sin masih bersikap tak acuh. “Huh, bagaimana aku dapat mempercaya omongan bajingan-bajingan macam kalian bertiga ini?”

Seorang di antara mereka, yang berjenggot panjang dan mempunyai muka yang paling menyeramkan, mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya lantas melemparkannya ke arah Thian Sin sambil berkata. “Lihat ini!”

Thian Sin menyambut benda itu yang ternyata adalah potongan celana dari bawah hingga ke lutut. Celana Kim Hong! Dia mengenal kain celana itu! Jelaslah bahwa Kim Hong telah terjatuh ke tangan mereka, ke tangan See-thian-ong. Dia merasa heran sekali bagaimana Kim Hong yang dia tahu amat lihai itu sampai dapat tertawan musuh.

“Hemm, di manakah dia?”

Orang pertama tertawa, suara ketawanya persis seperti suara burung hantu, lalu berkata, “Pendekar Sadis, kami tidak begitu bodoh. Kau ikutlah saja kalau masih menghendaki dia selamat!”

Thian Sin berpikir sejenak. Dia bisa menduga bahwa See-thian-ong menangkap Kim Hong hanya untuk memaksanya menyerah. Bukan Kim Hong yang dikehendaki See-thian-ong yang pasti belum mengetahui bahwa Kim Hong adalah Lam-sin, akan tetapi dialah yang dikehendaki orang tua itu. Kepada dialah See-thian-ong menaruh dendam.

Dan kini baru dimengerti bahwa ternyata So Cian Ling sudah menipunya. Wanita itu, yang tadi menciumnya demikian mesra, yang tadi menangis dengan air mata panas, ternyata hanya dipergunakan oleh See-thian-ong untuk memancingnya keluar, untuk membuatnya pergi meninggalkan Kim Hong sehingga kakek datuk kaum sesat itu bisa menangkap Kim Hong untuk memaksanya menyerahkan diri.

Akan tetapi bagaimana Kim Hong sampai dapat ditawan? Hal ini tentu baru akan dapat diketahuinya setelah dia bertemu dengan Kim Hong. Dan melihat celana yang dirobek itu, diam-diam dia bergidik. Dia tahu orang macam apa mereka ini, dan kalau dia membunuh mereka ini kemudian tidak muncul sampai besok pagi, maka tentu bukan hanya sebagian celana Kim Hong yang akan dirobek oleh mereka.

“Baiklah, aku ikut dengan kalian!” katanya sambil bangkit berdiri.

“Ha-ha-ha-ha, kami sudah tahu bahwa engkau tentu akan berpikir dengan tepat, Pendekar Sadis,” kata orang pertama. “lihat, golok kami ini tidak perlu lagi, sebab di sana ada golok yang lebih tajam tertempel di leher yang kulitnya mulus itu.”

“Kami harus melucutimu dahulu,” kata Si Jenggot Panjang sambil menghampiri Thian Sin kemudian mengeluarkan pedang Gin-hwa-kiam dari pinggang pemuda itu, juga mengambil kipasnya dan suling bambunya. Tiga benda itu dibawanya sendiri, pedang dia gantungkan di punggung, suling dan kipas dia selipkan di pinggang.

“Mari kita berangkat!” kata orang pertama dan keluarlah mereka dari dalam kamar itu.

Thian Sin berjalan di tengah-tengah mereka, bagaikan seorang di antara sahabat-sahabat saja. Ketika tiba di depan rumah penginapan itu, Thian Sin melihat pengurus beserta para pelayan berdiri dengan sikap takut-takut, akan tetapi begitu melihat Thian Sin pergi tanpa melawan dengan tiga orang itu, mereka nampak lega. Maka mengertilah Thian Sin bahwa semua orang di dalam rumah penginapan ini adalah juga kaki tangan See-thian-ong, atau setidaknya orang-orang yang tunduk dan taat kepada datuk kaum sesat itu.

Dia memperhatikan ke mana dia akan dibawa oleh tiga orang tinggi besar yang sikapnya kasar ini. Setelah mereka tiba di tempat gelap, dia didorong-dorong oleh mereka.

“Sesudah keluar dari pintu gerbang kota, engkau harus memakai penutup mata, Pendekar Sadis. Ha-ha-ha-ha!” kata orang pertama sambil mendorong pundak Thian Sin agak keras ketika pemuda itu agak lambat jalannya.

Hemmm, mereka akan membawaku ke luar kota, pikirnya. Jadi Kim Hong ditahan di luar kota. Akan tetapi di manakah? Dia harus tahu di mana Kim Hong ditahan dan harus dapat membebaskannya sebelum matahari terbit pada esok pagi, kalau tidak, maka dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri gadis itu. Terlalu ngeri untuk dibayangkan. See-thian-ong tak percuma berjuluk datuk kaum sesat. Tentu segala daya akan dilakukan untuk menyakiti hatinya.

Tiba-tiba saja Thian Sin merasa tengkuknya menjadi dingin. Menyakiti hatinya! Itulah yang akan dilakukan See-thian-ong sebelum membunuhnya. Dan melihat dia kini menyerahkan diri demi Kim Hong, tentu iblis tua itu langsung akan dapat menduga bahwa dia mencinta Kim Hong, dan kalau memang demikian halnya, maka tak mungkin kalau Kim Hong akan dibebaskan sesudah dia menyerahkan diri. Bahkan sebaliknya gadis itu akan merupakan alat yang baik sekali untuk menyiksa batinnya! Tentu See-thian-ong akan menyiksa gadis itu di depan matanya, sebelum membunuhnya!

Sekarang mereka sudah tiba di luar pintu gerbang kota dan berjalan di jalan sunyi. Bulan sudah muncul dan malam itu sangat cerah. Ketika mereka tiba di jalan yang sunyi, diapit oleh sawah ladang, Si Jenggot Panjang berkata,

“Sudah waktunya untuk menutupi kedua matanya.”

Mereka bertiga mendekati Thian Sin dan orang pertama mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku bajunya. “Pendekar Sadis, kami harus menutupi kedua matamu supaya kau… hukkk!” Orang itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja tangan Thian Sin bergerak menonjok ulu hatinya, membuat napasnya terhenti dan dia pun terjengkang memegangi perut.

Dua orang kawannya kaget bukan main dan mereka berdua cepat mencabut golok. Akan tetapi Thian Sin tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pada tangan mereka yang mencabut golok sehingga gerakan kedua orang itu terhenti setengah jalan ketika tubuh mereka terpelanting oleh tamparan-tamparan Thian Sin.

Mereka hanya pingsan tapi tidak mati, karena memang Thian Sin belum ingin membunuh mereka. Belum lagi, mereka itu masih amat penting baginya, untuk menunjukkan di mana Kim Hong ditahan. Thian Sin sengaja menunggu sampai mereka berada di luar kota, di tempat sunyi, baru dia akan bergerak karena kalau dia bergerak di dalam kota, tentu akan datang banyak kaki tangan See-thian-ong yang dapat menggagalkan usahanya menolong gadis itu.

Ketika tiga orang itu siuman, mereka mendapatkan diri mereka sudah tertotok, membuat kaki dan tangan mereka lumpuh sama sekali, dan mereka berada di dalam sebuah gubuk tempat petani menjaga sawah. Thian Sin cepat menyeret seorang di antara mereka, yaitu orang ke tiga yang di pipinya sebelah kiri ada tanda bekas lukanya. Dua orang kawannya hanya memandang dengan mata terbelalak penuh rasa takut pada waktu kawan mereka itu diseret keluar dari dalam gubuk oleh Pendekar Sadis.

“Jangan takut,” bisik Si Jenggot Panjang kepada orang pertama, “dia tidak akan mampu mengganggu kita, selama gadis itu berada di tangan ketua kita.”

Orang yang codet pipinya ketakutan setengah mati ketika dia diseret oleh Pendekar Sadis menjauhi gubuk dan berhenti di bawah sebatang pohon besar di tepi jalan.

“Nah, sekarang katakan di mana gadis itu ditahan!” kata Thian Sin, suaranya tetap halus dan tenang, bahkan terdengar ramah dan tanpa mengandung ancaman.

Si Codet menelan ludahnya, namun dia segera teringat akan teman Pendekar Sadis yang sudah berada di tangan See-thian-ong, maka dia merasa yakin bahwa pendekar ini hanya akan menggertaknya saja. Maka dia memaksa sebuah senyum yang merupakan senyum masam sehingga membuat wajahnya yang codet itu menjadi nampak semakin buruk dan menyeramkan.

“Hemmm, kau kira aku takut akan ancamanmu? Gadismu itu telah di dalam cengkeraman maut, dan jika sampai besok kami tidak datang bersamamu, tentu ia akan disiksa sampai mampus, dan sebelum itu dipermainkan dulu. Heh-heh, lebih baik engkau bebaskan kami dan mari sama-sama menghadap ketua kami agar gadismu selamat, Pendekar Sadis.”

“Begitukah? Kita lihat saja nanti!” Thian Sin berkata.

Dengan cekatan Thian Sin lalu melepaskan sabuk orang itu, mengikat kedua kakinya dan diangkatnya orang itu lantas dilemparkan ke atas melewati sebuah cabang pohon. Ketika tubuh itu meluncur turun, dia memegang ujung sabuk sehingga orang itu pun tergantung dengan kepala di bawah dan terpisah dari tanah kurang lebih satu setengah meter. Thian Sin mengikatkan ujung sabuk itu ke batang pohon, kemudian dengan tenangnya dia lalu membuat api unggun di bawah orang yang tergantung dengan jungkir balik itu.

“Apa… apa yang hendak kau lakukan…?” Si Codet itu berkata dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Thian Sin tak menjawab, terus saja menyalakan api unggun hingga asap mulai mengepul ke atas, membuat Si Codet itu terbatuk-batuk dan sesak napas. Kembali dia mengulang-ulangi pertanyaannya, menjadi makin takut ketika mulai merasakan hawa panas dari api unggun yang mulai bernyala di bawah kepalanya.

Dengan panik dia mengerti bahwa Pendekar Sadis itu hendak membakarnya hidup-hidup, maka dia pun mulai berteriak-teriak, memaki, mengancam, memohon. Akan tetapi Thian Sin sama sekali tak menghiraukannya, bahkan melihat sedikit pun tidak, melainkan justru menambah kayu bakar untuk membuat api unggun itu supaya bernyala makin besar. Dan tersiksalah Si Codet itu, napasnya terengah-engah, akan tetapi di dalam keadaan tertotok dia tidak mampu meronta, hanya berteriak-teriak.

“Ahhhhh… akhhh… aku… ahh, lepaskan aku… Pendekar Sadis…”

Thian Sin sama sekali tidak peduli, seakan-akan tidak mendengarnya. Tetapi sebenarnya dia terus memasang pendengarannya sambil memperhatikan semua teriakan yang keluar dari mulut orang tersiksa itu. Tubuh Si Codet penuh dengan keringat, mukanya menjadi merah bagaikan udang direbus dan lidah api hampir menjilat kepalanya. Malah mulai ada bau rambut termakan api, bukan langsung dijilat lidah api melainkan rambut itu mengering dan menghangus oleh panas dari bawah.

“Aduhhh… panas… panasss… aughhh… dengar Pendekar Sadis… gadismu itu… berada di… pesanggrahan… auhhhhh, lekas turunkan… aku akan mengaku…”

Api unggun itu mengecil karena beberapa pohon kayu bakar ditarik oleh Thian Sin. Bahan bakarnya dikurangi dan tentu saja apinya mengecil, akan tetapi masih bernyala. Dia kini mendekati orang yang masih tergantung itu.

“Jelaskan, di mana dia ditahan?”

Si Codet itu membelalakkan matanya. Dia membayangkan betapa dia akan dihukum dan tentu dibunuh oleh See-thian-ong jika dia berani mengkhianatinya, jika dia berani mengaku di mana adanya gadis itu. Melihat keraguan ini Thian Sin berkata sambil mengambil lagi kayu bakar yang tadi disingkirkan.

“Aku tidak mau tawar-menawar lagi. Apa bila engkau tidak mau mengaku, maka api akan kubesarkan dan tidak ada apa pun yang akan dapat mengubah keadaanmu!”

“Nanti… nanti dulu… dia… dia ditahan di dekat Telaga Ching-hai, di pondok merah milik ketua kami…” Orang itu lalu merintih dan menangis, tahu bahwa dia sudah menentukan hukumannya sendiri. Dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat selamat karena andai kata Pendekar Sadis tidak membunuhnya, tentu See-thian-ong tak akan mau mengampuninya. Maka dia merintih dan menangis karena menyesal dan ketakutan.

Namun, karena api unggun itu tidak begitu besar lagi dan biar pun masih mendatangkan panas serta asap tapi tak begitu menyiksanya lagi, maka akhirnya dia pun menghentikan tangisnya, apa lagi setelah melihat Pendekar Sadis meninggalkannya, memasuki pondok gubuk itu kemudian menyeret keluar seorang temannya, yaitu Si Jenggot Panjang.

Si Jenggol Panjang melihat keadaan temannya, Si Codet, dan mengerti bahwa Pendekar Sadis hendak menyiksa mereka untuk minta keterangan di mana adanya gadis itu. Maka dia pun mendahului dengan suara ketawa.

“Ha-ha-ha-ha, Pendekar Sadis! Percuma kalau engkau hendak menyiksa kami. Kami tak akan mau berbicara, dan biar engkau membunuh kami sekali pun, tetap saja engkau tidak akan dapat menyelamatkan gadismu kecuali kalau engkau ikut dengan kami menghadap See-thian-ong!”

Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab, melainkan segera menggunakan golok besar milik seorang di antara mereka untuk menggali lubang dalam tanah. Tidak terlalu dalam, hanya kurang lebih setengah meter pula. Dengan tenaga sinkang-nya, cepat dia menyelesaikan pekerjaan itu, lantas ditendangnya tubuh Si Jenggot Panjang sehingga memasuki lubang dalam keadaan telentang.

Si Jenggot Panjang terbelalak, tidak tahu apa maksud pendekar itu. Akan tetapi setelah Thian Sin mulai mendorong tanah galian ke dalam lubang dan menimbuninya dari kaki ke atas lalu berhenti sampai di dada, tahulah dia bahwa pendekar itu hendak menguburnya hidup-hidup! Dia memandang dengan mata terbelalak.

“Apa… apa yang hendak kau lakukan…?” tanyanya, suaranya gemetar.

Thian Sin menghentikan pekerjaannya menimbuni Si Jenggot dengan tanah. Memang dia sengaja menimbuninya sampai ke dada saja dan membiarkan bagian muka itu terbuka.

“Katakan di mana adanya gadis itu!” katanya, suaranya halus dan tenang saja, akan tetapi mengandung sikap dingin yang mengerikan.

Orang pertama, Si Codet yang masih tergantung, merasa ngeri bukan main. Dia dapat melihat semua yang terjadi itu dengan jelas, sungguh pun matanya sudah menjadi merah karena sejak tadi tergantung dan kemasukan asap.

Akan tetapi Si Jenggot Panjang itu malah tertawa, dari suara tawanya memang agaknya tidak takut mati. “Ha-ha-ha-ha, engkau hendak mengancam dan memaksaku? Pendekar Sadis, biar kau bunuh sekali pun, kami bertiga tidak akan mengaku, dan tahukah engkau apa yang akan terjadi kalau engkau tidak turut bersama kami menghadap See-thian-ong? Ha-ha-ha, aku sudah tahu. Gadismu yang cantik jelita itu akan diperkosa beramai-ramai, diantri oleh lebih dari dua puluh orang di antara kami. Untuk menentukan siapa yang akan kebagian daging lunak itu, kemarin ketua kami sudah mengundi! Sayang, aku sendiri tidak kebagian, akan tetapi aku ingin sekali melihatnya. Ha-ha-ha!”

Thian Sin mengerutkan kedua alisnya dan menurut panasnya hati, ingin dia sekali pukul menghancurkan kepala Si Jenggot ini. Akan tetapi dia terus menahan diri, kemudian mulai mendorongkan tanah sedikit demi sedikit menimbuni dada dan muka Si Jenggot.

Si Jenggot masih berteriak-teriak, mengancam, memaki lalu menangis. Akan tetapi Thian Sin tidak peduli, walau pun dia menangkap satu demi satu semua yang keluar dari mulut Si Jenggot ini, kalau-kalau Si Jenggot menyerah dan mau mengaku.

Meski pun orang pertama sudah mengaku, akan tetapi Thian Sin masih belum puas, dan hatinya masih belum yakin benar. Orang-orang semacam ini, orang-orang golongan hitam yang pikirannya selalu penuh dengan kejahatan, sama sekali tidak boleh dipercaya begitu saja.

Akan tetapi, Si Jenggot Panjang ini memang benar-benar tidak mau mengaku. Suaranya semakin berkurang setelah mukanya mulai tertimbun tanah sehingga tiap kali membuka mulut, mulutnya kemasukan tanah. Akhirnya, seluruh mukanya sama sekali tertutup.

Si Codet memejamkan kedua matanya agar jangan melihat lagi keadaan temannya yang keras kepala dan memilih mati dikubur hidup-hidup dari pada harus mengaku itu. Dia tidak menyesal sudah mengaku tadi karena kalau dia tidak mau mengaku, tentu sekarang telah menjadi babi panggang setengah matang karena dibakar hidup-hidup oleh pendekar yang ternyata amat kejam dan sadis itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner