PENDEKAR SADIS : JILID-49


Tai-goan adalah kota besar ke dua setelah ibu kota Peking yang terdekat dengan ibu kota itu, menjadi ibu kota Propinsi Shan-si. Kota ini amat ramai karena kota itu terletak di tepi Sungai Fen-ho yang menjadi cabang dari Sungai Huang-ho.

Dengan adanya Sungai Fen-ho ini, maka hubungan antara Kota Tai-goan dan kota-kota lainnya tentu saja menjadi lancar, bukan hanya melalui darat, melainkan juga melalui air. Hubungan antara kota Tai-goan dengan kota-kota dalam Propinsi Ho-nan dan Shan-tung dapat dilalui air, dan daerah yang dilalui Sungai Fen-ho yang kemudian bersatu dengan induknya, Sungai Huang-ho, sangatlah luasnya. Karena hubungan daerah dan kota-kota lainnya amat lancar, maka tentu saja perdagangan di Tai-goan menjadi makmur sekali.

Berita tentang terbunuhnya See-thian-ong dan para muridnya oleh Pendekar Sadis, telah mendahului Thian Sin dan sudah sampai ke Tai-goan, membuat gempar para pendekar dan juga para tokoh dunia hitam di daerah Tai-goan, bahkan sudah sampai pula ke kota raja! Dan tentu saja berita ini telah pula terdengar oleh Pak-san-kui!

Seperti kita ketahui, Pak-san-kui hidup sebagai seorang hartawan yang kaya raya di kota Tai-goan. Dia mempunyai banyak perusahaan dan toko-toko, terutama sekali penginapan-penginapan, restoran-restoran, rumah-rumah judi serta rumah-rumah pelesiran di seluruh kota Tai-goan, boleh dibilang semua adalah miliknya, atau kalau pun milik orang lain, tentu berada dibawah kekuasaannya.

Datuk kalangan sesat yang menguasai wilayah utara ini mempunyai banyak kaki tangan. Akan tetapi yang menjadi murid-muridnya dan langsung menerima pelajaran ilmu silat dari datuk ini hanyalah Pak-thian Sam-liong dan tentu saja puteranya sendiri, yaitu Siangkoan Wi Hong.

Dan untuk kota Tai-goan, yang mengenalnya sebagai Pak-san-kui juga hanya para tokoh kang-ouw serta para pendekar saja, sedangkan rakyat di situ lebih mengenalnya sebagai hartawan Siangkoan Tiang atau Siangkoan-wangwe (hartawan) atau Siangkoan-loya (tuan besar).

Saat mendengar tentang terbunuhnya See-thian-ong dan murud-muridnya oleh Pendekar Sadis, Pak-san-kui Siangkoan Tiang menjadi terkejut dan merasa gentar. Dia sudah dapat menduga siapa adanya Pendekar Sadis itu.

Dia teringat kepada Thian Sin, putera mendiang Pangeran Ceng Han How itu. Pemuda itu pernah mengalahkannya setelah menipunya dengan kitab-kitab palsu! Walau pun selama ini, sejak kekalahannya, dia sudah memperdalam ilmunya bersilat dengan menggunakan huncwe, namun diam-diam dia merasa gentar juga.

Lawan yang pernah mengalahkannya itu adalah seorang muda, dan alangkah mudahnya bagi seorang pemuda untuk mendapatkan kemajuan dalam ilmu kepandaiannya, berbeda dengan orang tua seperti dia yang sudah mulai lemah. Karena itu dia pun lalu memanggil Pak-thian Sam-liong dan puteranya, Siangkoan Wi Hong.

“Hampir dapat dipastikan bahwa Ceng Thian Sin adalah si Pendekar Sadis, dan jika benar demikian, sudah tentu pada suatu hari dia akan muncul di sini,” kata Pak-san-kui.

“Ayah, kalau dia hanya datang seorang diri, kita takut apa? Dahulu pun aku hanya kalah setingkat olehnya dan selama ini aku telah berlatih dengan tekun. Juga ayah telah berlatih memperdalam ilmu. Dengan adanya kita berdua dan dibantu oleh para suheng Pak-thian Sam-liong, terlebih kalau kita mengerahkan sepasukan orang-orang pilihan lagi, tentu kita akan sanggup membekuknya! Kiraku, kita berlima saja akan cukup untuk membekuknya, betapa pun lihainya. Bukankah benar demikian, suheng?”

Pak-thian Sam-liong mengangguk. “Betul sekali apa yang dikatakan oleh Siangkoan-sute. Dengan suhu sendiri saja, atau melawan sute sendiri, sudah setingkat, apa lagi kalau kita berlima maju bersama-sama. Kami merasa yakin akan dapat membekuknya atau bahkan membunuhnya sekalian.”

Mendengar ucapan murid-murid dan puteranya ini, legalah hati Pak-san-kui. “Betapa pun juga kita harus berhati-hati. Penjagaan harus diperketat dan setiap malam harus diadakan perondaan dan penjagaan, jangan sampai jahanam itu menyelundup. Kalian bertiga harus mengatur sendiri penjagaan itu,” katanya kepada Pak-thian Sam-liong yang cepat-cepat menyatakan kesanggupan mereka.

“Wi Hong,” katanya kepada puteranya. “Engkau pergilah mengunjungi Siong-ciangkun dan undang dia ke sini untuk membicarakan tentang kemungkinan Pendekar Sadis mengacau Tai-goan.”

“Baik, ayah.” Siangkoan Wi Hong lalu pergi untuk melaksanakan perintah ayahnya.

Siong-ciangkun atau komandan Siong adalah orang yang mengepalai pasukan keamanan di Tai-goan. Seperti juga dengan para pembesar tinggi lain, baik di Tai-goan mau pun di kota raja, Pak-san-kui mempunyai hubungan yang baik sekali, tentu saja dengan bantuan kekayaannya. Dia pun mempunyai hubungan erat dengan komandan pasukan di Tai-goan itu dan untuk menghadapi kemungkinan datangnya Pendekar Sadis, datuk utara itu kini mengadakan persekutuan dengan Siong-ciangkun.

Tentu saja dalam pertemuan itu Pak-san-kui sama sekali tidak menampakkan bahwa dia takut menghadapi Ceng Thian Sin, akan tetapi dia mengatakan bahwa pemuda itu adalah musuhnya dan mungkin saja mengacaukan kota Tai-goan yang tenteram itu. Dan tak lupa dia menyerahkan bekal yang cukup banyak untuk biaya pasukan yang akan mengadakan penjagaan ketat.

Seratus orang anggota pasukan pilihan segera dibentuk menjadi pasukan yang kuat oleh komandan ini, lalu mereka itu disebar untuk melakukan penjagaan di kota, memata-matai semua orang yang datang, dan terutama sekali segera menghubungi Pak-san-kui setiap kali mereka menaruh curiga kepada seorang pendatang baru yang memasuki kota. Hanya repotnya bagi para petugas ini adalah bahwa mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya orang yang berjuluk Pendekar Sadis dan tentu saja nama julukan itu membuat mereka membayangkan wajah seorang laki-laki yang bengis.

Pak-san-kui sendiri belum berani memastikan bahwa Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin, karena hal itu baru merupakan dugaan-dugaannya saja. Dia pun tak berani ceroboh. Bagaimana kalau ternyata Thian Sin bukan Pendekar Sadis?

Maka dia harus berhati-hati, bukan hanya terhadap Thian Sin yang sudah terang menjadi musuhnya, akan tetapi juga terhadap kemungkinan apa bila Pendekar Sadis bukan Thian Sin sehingga dia harus menghadapi seseorang yang berbahaya dan sama sekali belum pernah dikenalnya, akan tetapi yang mungkin sekali akan mengganggunya, seperti yang dilakukan pendekar itu terhadap See-thian-ong.

Inilah sebabnya maka Thian Sin dapat memasuki kota Tai-goan tanpa banyak halangan. Para anggota pasukan istimewa yang disebar oleh Siong-ciangkun sebagai mata-mata itu tentu saja sama sekali tidak curiga ketika seorang pemuda yang demikian tampan dan halus, yang pantasnya adalah seorang pemuda terpelajar tinggi, dan melihat pakaiannya yang cukup mewah dan pesolek, pantasnya pemuda itu adalah putera bangsawan atau hartawan yang sedang berpesiar ke Tai-goan dan mungkin datang dari kota raja!

Thian Sin juga bukan orang yang bodoh. Dia dapat menduga bahwa di tempat itu banyak terdapat kaki tangan Pak-san-kui, maka meski pun dia tidak memasuki kota dengan cara bersembunyi, namun dia pun tidak mau menonjolkan diri karena dia tidak ingin bertemu halangan sebelum sempat bertemu muka dengan Pak-san-kui sendiri.

Maka sebelum pergi ke tempat lain, lebih dahulu dia mencari-cari tempat yang baik untuk bersembunyi atau bermalam. Dia tidak mau bermalam di tempat penginapan karena biar pun dia bisa mempergunakan nama palsu, dalam waktu beberapa hari saja Pak-san-kui tentu akan mengetahui tempat itu.

Dan hatinya pun girang sekali ketika dia melihat sebuah rumah kecil di sudut kota, rumah seorang miskin yang terpencil dan letaknya di tepi sungai. Ketika melihat bahwa rumah ini hanya dihuni oleh seorang kakek miskin yang bekerja sebagai kuli pengangkut barang-barang yang diangkut oleh perahu-perahu ditempat itu, Thian Sin segera menyewa rumah itu. Kakek yang miskin itu girang sekali dan dia memberikan satu-satunya pembaringan dalam kamar satu-satunya pula, sedangkan dia sendiri mengalah, tidur di lantai bertilam rombeng.

Kepada kakek itu Thian Sin memberi tahu bahwa dia datang dari kota raja, ingin berpesiar dan tidak ingin terganggu oleh kenalan-kenalan, maka dia sengaja mencari tempat sunyi untuk menginap supaya jangan terganggu orang lain. Juga dia berpesan kepada kakek itu agar kehadirannya tidak diberi tahukan kepada siapa pun juga. Kakek itu menerima uang, tentu saja dia tidak peduli akan urusan orang dan tidak mau bicara tentang tamunya yang mendatangkan rejeki baginya itu.

Sesudah memperoleh tempat itu dan meninggalkan buntalan pakaiannya di dalam kamar, barulah Thian Sin memasuki daerah perkotaan yang ramai untuk mencari rumah makan. Sebuah rumah makan bercat merah amat menarik hatinya. Baru melihat tempatnya yang mewah dan bersih itu saja telah menimbulkan selera, maka dia pun lalu memasuki rumah makan itu.

“Selamat sore, kongcu,” seorang pelayan menyambutnya dengan manis. “Kongcu hendak makan di bawah ataukah di loteng?”

Thian Sin menengok ke atas, melihat ada tangga yang indah menuju ke sebuah ruangan di loteng, dibuat dengan cara yang nyeni sekali. Karena melihat bahwa di dalam ruangan itu telah banyak juga tamunya, maka dia pun menjawab bahwa dia ingin makan di loteng. Pelayan itu lalu mengantarnya naik ke loteng. Setelah dia hampir sampai ke loteng, Thian Sin tiba-tiba berhenti melangkah dan wajahnya berubah. Dia mendengar suara Kim Hong!

“Kenapa, kongcu?” pelayan yang berjalan di belakangnya bertanya ketika melihat pemuda itu berhenti.

“Aku tidak senang di ruangan loteng, kau siapkan saja semangkok bakmi dan panggang ayam dengan arak di meja bawah, di sudut jauh dari pintu keluar,” kata Thian Sin.

“Baik, kongcu,” kata pelayan itu yang segera turun kembali.

Thian Sin pura-pura melihat-lihat ke dalam ruangan loteng itu, akan tetapi hanya melongok saja. Dia sempat melihat Kim Hong duduk di meja bagian luar loteng, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang membelakangi jalan luar. Jantung Thian Sin berdebar dan terasa panas ketika mengenal pemuda itu.

Andai kata dia lupa pemuda itu, pasti dia tidak akan melupakan alat musik yangkim yang tergeletak di atas meja itu. Siangkoan Wi Hong! Siapa lagi pemuda tampan pesolek yang kemana-mana membawa yangkim, alat musik yang juga menjadi senjatanya yang ampuh itu?

Dan Kim Hong duduk satu meja dengan pemuda itu, bercakap-cakap sambil tertawa-tawa penuh keakraban, bahkan kemesraan! Hatinya terasa panas bukan main. Dia mengenal Siangkoan Wi Hong sebagai penakluk wanita, pemuda pengejar wanita yang sangat lihai! Cepat dia pun turun dari tangga loteng itu dan memilih tempat duduk ke dalam sehingga tidak akan kelihatan oleh mereka yang masuk atau keluar melalui pintu depan.

Ketika pelayan datang sambil membawa masakan yang dipesannya, Thian Sin langsung membayarnya sekali agar nanti dia dapat pergi tanpa menunggu-nunggu lagi kalau sudah selesai makan. Dia makan sangat perlahan-lahan, sama sekali tidak merasa enak karena pikirannya melayang ke atas loteng. Seakan-akan dia masih mendengar suara Kim Hong bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dengan mesra dengan Siangkoan Wi Hong, putera tunggal Pak-san-kui itu dan makin dipikir, hatinya menjadi semakin panas.

Baru saja selesai makan, ia melihat mereka itu turun dari tangga. Sejenak tangan mereka bersentuhan, seperti hendak saling bergandengan tangan, akan tetapi lantas terlepas lagi. Akan tetapi yang sedikit itu pun cukuplah bagi Thian Sin untuk menumbulkan dugaan di dalam hatinya bahwa pasti ‘ada apa-apa’ antara mereka itu. Dan mereka pun keluar, lalu naik sebuah kereta yang sejak tadi sudah menanti di luar restoran.

Thian Sin meninggalkan mejanya, tidak tergesa-gesa agar tidak menimbulkan kecurigaan, lalu keluar dari rumah makan itu. Dengan tenang dia pun lalu membayangi kereta itu yang dijalankan perlahan-lahan menuju ke sebelah utara.

Cuaca sudah mulai gelap dan hal ini memudahkan Thian Sin untuk membayangi kereta. Akhirnya kereta itu berhenti di depan sebuah penginapan! Mereka berdua itu menginap di dalam sebuah penginapan yang mewah! Makin panaslah hati Thian Sin.

Dan dia pun menyelinap ke dalam gelap lalu dari situ dia mengintai. Dia melihat mereka berdua turun dari kereta kemudian bercakap-cakap sebentar. Agaknya, dari jauh dia bisa menduga bahwa Kim Hong minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk berangin-angin lebih dulu di taman bunga rumah penginapan itu sebelum mereka masuk. Siangkoan Wi Hong tampak tersenyum di bawah lampu depan pekarangan itu, kemudian keduanya memasuki taman bunga yang letaknya di belakang rumah penginapan dan di sebelah kirinya.

Thian Sin tetap membayangi mereka sambil menyelinap di antara pohon-pohon di dalam taman itu sampai dia dapat mengintai mereka tidak terlalu jauh dan dapat mendengarkan percakapan mereka. Mereka duduk di atas bangku yang saling berhadapan, dekat kolam ikan emas di mana terdapat sedikit penerangan dari lampu gantung. Suasana di taman itu sungguh romantis dan pada saat itu amat sunyi. Agaknya tidak terdapat orang lain kecuali mereka berdua.

“Nona Toan, engkau sungguh cantik jelita seperti bidadari, dan aku berbahagia sekali bisa berjumpa serta mengenalmu, nona,” terdengar Siangkoan Wi Hong tiba-tiba menyatakan rasa hatinya dengan sikap dan suara mesra.

Kim Hong tertawa, ketawa ditahan yang sudah sangat dikenal Thian Sin itu. “Engkau juga gagah dan tampan sekali, Siangkoan-kongcu, dan aku pun amat gembira bisa berkenalan denganmu.”

“Ahhh…, benarkah apa yang kau katakan itu Kim Hong? Dan bolehkah aku memanggil namamu?”

“Tentu saja benar, dan engkau boleh memanggil namaku.”

“Kim Hong… aku suka sekali padamu… belum, aku belum dapat mengatakan cinta sebab baru beberapa saat kita berkenalan, akan tetapi aku… aku suka sekali padamu.”

“Hemmm, aku pun suka sekali padamu, kongcu. Engkau baik sekali dan engkau gagah sekali…”

“Kim Hong…” Pemuda itu bangkit dan menghampiri, lalu duduk di samping gadis itu dan merangkulnya.

Kim Hong tidak menolak, malah mengangkat mukanya sehingga memudahkan Siangkoan Wi Hong untuk menciumnya. Mencium bibirnya dengan mesra dan lama sekali.

“Keparat jahanam! Siangkoan Wi Hong, bersiaplah engkau untuk mampus!” Teriakan ini keluar dari mulut Thian Sin yang sudah meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, tak dapat menahan lebih lama lagi rasa panas di dalam dada dan perutnya menyaksikan adegan mesra antara Kim Hong dan putera Pak-san-kui itu.

Seketika dua orang yang sedang berpelukan dan berciuman itu melepaskan diri masing-masing, dan Siangkoan Wi Hong cepat menyambar yangkim-nya lalu berbalik. Wajahnya menjadi pucat ketika dia mengenal Thian Sin yang sudah berdiri di bawah lampu, wajah yang biasanya ramah itu kini nampak muram dan menakutkan.

“Thian Sin…!” Dia berseru penuh rasa gentar akan tetapi juga marah.

“Bagus, engkau sudah mengenalku sehingga engkau tidak akan mati penasaran!” Thian Sin berkata kemudian secepat kilat dia menerjang ke depan dengan serangan maut. Akan tetapi, Siangkoan Wi Hong bukanlah orang yang lemah dan dia langsung menggerakkan yangkim-nya untuk menangkis.

“Dukkk…!”

Dan terkejutlah putera Pak-san-kui itu karena tubuhnya tergetar hebat dan dia terdorong mundur, terhuyung-huyung! Thian Sin tidak mau memberi hati lagi, terus menerjang lawan yang sudah terhuyung itu.

“Desss…!”

Thian Sin terkejut melihat bahwa Kim Hong telah menangkis pukulannya. Sejenak mereka saling pandang. Akan tetapi Kim Hong tidak mau membuang waktu lagi dan secepat kilat gadis ini mencabut sepasang pedangnya dan menyerang Thian Sin kalang-kabut!

Tentu saja Thian Sin cepat mengelak. Hatinya terasa bagaikan ditusuk. Begini marahkah Kim Hong padanya sehingga kini malah membantu Siangkoan Wi Hong dan menyerang dia mati-matian? Ingin dia bicara, ingin dia minta maaf. Akan tetapi di situ ada Siangkoan Wi Hong. Dia malu kalau harus memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain. Maka dia pun mencabut pedangnya dan diputarnya pedang itu untuk menangkis.

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong gembira sekali melihat Kim Hong membantunya. Dia memang telah tahu bahwa gadis itu mempunyai kepandaian silat yang lihai, maka dia pun lalu memutar yangkim-nya dan membantu Kim Hong.

“Pendekar Sadis, sekarang jangan harap engkau dapat lolos dari tanganku!” bentak Kim Hong.

Bentakan ini diterima oleh Thian Sin dengan mata terbelalak. Dia merasa sangat heran mendengar gadis ini menyebutnya Pendekar Sadis. Ada permainan apa ini? Akan tetapi karena Kim Hong mendesaknya dengan hebat, dibantu pula oleh pemuda itu, dia merasa serba salah. Apa bila dia melawan dengan kekerasan, dia takut kalau-kalau akan melukai gadis itu. Maka dia pun meloncat ke dalam gelap lantas melarikan diri.

“Lekas lapor ayahmu, aku mengejarnya!” kata Kim Hong kepada Siangkoan Wi Hong, dan dia pun telah meloncat dengan cepat melakukan pengejaran.

Bagaimana pula Toan Kim Hong bisa bersama-sama dengan Siangkoan Wi Hong di kota Tai-goan dan telah berkenalan dengan akrabnya? Terjadinya tiga hari yang lalu, di dalam sebuah hutan di lembah Sungai Fen-ho.

Ketika itu, seperti yang telah menjadi kesukaannya, Siangkoan Wi Hong berburu binatang hutan. Yangkim-nya yang selalu dibawanya tergantung di punggung, ada pun tangannya memegang busur dan anak panah. Ketika melihat seekor kijang, dia cepat mengejarnya.

Kijang itu masih muda dan gesit bukan main, berloncatan amat cepatnya dan menyusup-nyusup ke dalam semak-semak, kalau didekati meloncat lagi. Wi Hong telah melepaskan anak panah dua kali, yang sekali luput dan yang sekali lagi hanya menyerempet di betis binatang itu, membuatnya menjadi semakin ketakutan, liar dan lebih cepat lagi larinya.

Akan tetapi akhirnya Siangkoan Wi Hong bisa mendesaknya ke tepi sungai dan binatang itu kebingungan. Wi Hong memasang anak panah pada busurnya dan sudah siap untuk membidikkan anak panahnya. Akan tetapi pada saat dia hendak melepaskan anak panah, tiba-tiba saja kijang itu mengeluarkan teriakan nyaring dan roboh terpelanting!

Wi Hong terkejut bukan kepalang dan cepat meloncat, akan tetapi dia melihat bayangan berkelebat dan seorang gadis cantik jelita telah berdiri di dekat bangkai kijang. Siangkoan Wi Hong terpesona dan memandang dengan melongo.

“Hemm, apa yang kau pandang?!” gadis itu membentak sambil memandang dan bertolak pinggang.

Siangkoan Wi Hong baru sadar dan dia tersenyum, menyimpan gandewanya kemudian berjalan menghampiri.

“Ahh, tadi kusangka ada bidadari yang turun dari kahyangan. Nona, apakah nona… ehhh, manusia biasa?”

Wanita itu adalah Kim Hong dan ketika mendengar ucapan itu, Kim Hong juga tersenyum. Pemuda tampan ini sungguh mengagumkan dan juga menyenangkan hatinya. “Kalau aku bukan manusia, apakah kau kira aku setan atau siluman?”

Siangkoan Wi Hong memandang ke kanan dan kiri. “Tempat ini amat sunyi, dan kijang ini tiba-tiba tewas sebelum kupanah, lalu muncul seorang seperti nona! Begini… cantik jelita. Aku mendengar bahwa di tempat-tempat sunyi seperti ini terdapat… ehh, siluman-siluman yang pandai merubah diri menjadi wanita cantik melebihi bidadari, seperti… ehh, dongeng tentang Tiat Ki dalam dongeng Hong-sin-pong itu, begitu cantiknya sampai menjatuhkan hati Kaisar Tiu-ong!”

“Hemmm, apa kau tidak dapat membedakan antara manusia dengan siluman?” Kim Hong menanggapi, tidak marah disangka siluman sebab cara pemuda itu mengatakannya sama sekali tidak terkandung nada menghina, melainkan memuji.

Semakin gembiralah hati Siangkoan Wi Hong melihat betapa gadis yang cantik jelita itu mau menanggapinya, maka dia langsung pasang aksi, pura-pura berpikir dan mengingat-ingat, mengerutkan alisnya, kemudian berkata dengan wajah berseri,

“Ahh, kini aku ingat! Dalam kitab dongeng kuno tentang siluman-siluman yang menyamar sebagai wanita cantik terdapat tanda-tanda. Ada tanda yang… ahhh, sebelumnya maaf, nona. Kata kitab itu, bila siluman rase atau rubah menyamar sebagai wanita, ada satu hal yang tak dapat dilenyapkannya, yaitu ekornya! Wanita cantik penyamaran siluman rubah itu tentu mempunyai ekor! Ah, akan tetapi tentu saja, aku tidak dapat membuktikan pada dirimu…,” dia berhenti untuk melihat reaksi gadis itu. Akan tetapi Kim Hong masih tetap tersenyum saja dan agaknya tidak nampak marah sama sekali. Hal ini langsung membuat Siangkoan Wi Hong menjadi semakin girang dan berani.

“Akan tetapi ada tanda lain lagi yang dapat kubuktikan pada dirimu nona. Kata kitab itu, seorang wanita penyamaran siluman rubah mempunyai dua tanda, yaitu pertama, karena tubuh yang diambilnya adalah tubuh wanita yang telah mati, maka lengannya akan terasa dingin seperti mayat kalau dipegang, dan dari hawanya keluar bau rubah yang khas. Nah, aku boleh menyentuh lenganmu, nona, dan kalau aku boleh mendekatimu tentu aku akan segera bisa membedakan apakah nona seorang manusia biasa atau sebangsa siluman.”

Kim Hong tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya yang cantik manis itu berseri. Dia juga merasa gembira oleh sikap pemuda itu. Maka dia menyingsingkan lengan baju sebelah kiri kemudian menyorongkan lengan kirinya kepada Wi Hong sambil berkata dengan senyum, “Nah, periksalah.”

Siangkoan Wi Hong girang bukan main dan dia menelan ludahnya melihat sebuah lengan yang berkulit begitu mulus, putih dan lembut, halus seperti lilin diraut. Dia pun melangkah maju mendekat, lalu menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh, bahkan sesudah ujung jari-jari tangannya menyentuh kulit halus lunak hangat itu, dengan kedua matanya tetap menatap wajah Kim Hong untuk melihat reaksinya, dan melihat bibir nona itu tetap tersenyum, maka jari-jari tangannya segera melanjutkan dengan meraba-raba lengan dan memegangnya dengan mesra!

Kim Hong menarik lengannya dengan gerakan halus, lantas bertanya sambil tersenyum, “Bagaimana, dingin seperti mayatkah?”

Siangkoan Wi Hong tersenyum lebar sambil memandang dengan mata berseri. “Ah, sama sekali tidak, sebaliknya malah, begitu hangat, halus dan lunak… ahhh, dan yang tercium olehku hanya keharuman seperti bunga setaman…!”

Kim Hong tersenyum gembira, akan tetapi berlagak tak senang. “Hemm, engkau seorang perayu! Siapakah engkau?”

Siangkoan Wi Hong menjura, “Perkenalkan, nona, namaku Siangkoan Wi Hong. Aku tadi sedang berburu di hutan ini dan mengejar-ngejar kijang itu sampai ke tepi sungai. Setelah aku berhasil menyudutkannya dan siap hendak melepaskan anak panah… ehh, tahu-tahu kijang itu roboh dan tewas, lalu muncullah nona. Siapakah nona dan bagaimana seorang wanita muda seperti nona dapat berada di tempat sunyi terpencil ini?”

“Namaku Toan Kim Hong…”

“Nama yang indah sekali, seperti orangnya! Dan she Toan…?” Ahhh, apakah masih ada hubungannya dengan keluarga pangeran…?”

Kim Hong mengangguk.

Siangkoan Wi Hong menjura lagi. “Ah, maaf, maafkan…! Kiranya nona adalah puteri yang berdarah bangsawan! Sungguh sikap saya layak dihukum…”

Kim Hong menarik nafas panjang. “Sudahlah, urusan kebangsawanan itu urusan dahulu, sekarang aku adalah orang biasa saja. Aku kebetulan lewat di sini dan selagi menikmati keheningan di tempat ini, aku melihat seekor kijang. Oleh karena perutku lapar, maka aku segera merobohkannya dengan sabitan jarumku.”

Wi Hong terbelalak. “Apa…? Membunuh kijang dengan sabitan jarum saja? Agaknya tak masuk akal…!”

“Siapa bilang tak masuk akal kalau jarumku memasuki kepala melalui antara matanya lalu menembus otak,” jawab Kim Hong.

Mendengar jawaban ini, tentu saja Siangkoan Wi Hong menjadi semakin kaget dan heran. Sebagai seorang pemuda yang mempunyai ilmu silat yang tinggi, dia tahu bahwa jarum hanya merupakan senjata rahasia ringan yang hanya dapat digunakan dari jarak dekat, dan bukan merupakan senjata rahasia yang berbahaya.

Akan tetapi gadis ini dapat membunuh seekor kijang dari jarak jauh dengan penyambitan jarum, bahkan tanpa memeriksa lagi gadis ini dapat memastikan bahwa jarumnya sudah menancap di antara mata kijang itu dan tembus sampai ke otak! Hal ini, kalau memang benar, menunjukkan bahwa gadis ini adalah seorang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi! Dan jarum itu pun tentu mengandung racun yang hebat.

Untuk meyakinkan hatinya dia pun lalu berjongkok dan memeriksa kijang itu. Dan betapa kagumnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa memang benar pada kepala binatang itu, di antara kedua matanya, terdapat luka kecil kemerahan yang mulai membengkak dan mengeluarkan darah! Dia cepat bangkit berdiri dan kembali dia menjura dengan hormat.

“Ahh, kiranya aku sedang berhadapan dengan seorang pendekar wanita lihai! Toan-lihiap, aku girang sekali dapat berkenalan dengan seorang gadis pendekar sepertimu!”

“Ah, Siangkoan-kongcu terlampau memuji orang. Sebaliknya, aku pun pernah mendengar namamu dan melihat yangkim pada pundakmu tadi pun aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentulah Siangkoan-kongcu yang sudah sangat terkenal itu, putera dari locianpwe Pak-san-kui, bukan?”

“Tepat sekali, lihiap.”

“Ahh, jangan sebut aku lihiap, membikin aku merasa canggung dan malu saja.”

“Baiklah, kalau begitu biarlah kusebut engkau Toan-siocia.” Siangkoan Wi Hong kemudian memanggul bangkai kijang itu. “Nona, setelah kita bertemu dan saling berkenalan di sini, aku mengundang nona untuk bersama-sama menikmati daging kijang ini. Akan kusuruh orang untuk memasak daging ini di rumahku. Silakan nona.”

Demikianlah, kedua orang itu berkenalan dan Kim Hong lalu mengunjungi rumah pemuda hartawan itu. Sebaliknya, Siangkoan Wi Hong kemudian sering kali mengunjungi hotel di mana gadis itu bermalam, mengajaknya pelesir atau makan ke restoran-restoran terbesar di kota Tai-goan, mengajaknya pesiar dengan kereta. Maka dalam waktu beberapa hari saja hubungan antara mereka amat akrabnya.

Demikianlah pertemuan antara Kim Hong dengan putera Pak-san-kui itu sampai mereka dilihat oleh Thian Sin yang membayangi mereka, kemudian Pendekar Sadis menyerang Siangkoan Wi Hong ketika melihat betapa putera datuk utara itu berpacaran dengan Kim Hong.

Di dalam waktu beberapa hari itu, Siangkoan Wi Hong sudah sempat mengajak Kim Hong berkunjung pula kepada ayahnya. Pak-san-kui Siangkoan Tiang menerima perkenalan itu dengan hati gembira. Dia melihat bahwa bukan saja gadis itu sangat cantik dan menurut puteranya juga memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi juga mengingat bahwa gadis ini masih keluarga bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Toan, maka dia merasa girang apa bila puteranya dapat berjodoh dengan gadis ini.

Dan setelah dia mendengar bahwa Kim Hong adalah puteri dari mendiang Pangeran Toan Su Ong seperti pengakuan gadis itu, maka diam-diam dia terkejut dan semakin kagum. Ia pernah mengenal pangeran pemberontak itu, dan maklum bahwa kepandaian pangeran itu tidak berada di bawah tingkatnya! Bahkan akhirnya ia pun mendengar bahwa sebelum meninggal, pangeran itu bersama istrinya telah menemukan ilmu peninggalan Menteri The Hoo sehingga kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang sukar dicari tandingannya.

Ketika Thian Sin menyerang Siangkoan Wi Hong dengan ganas karena pemuda ini sudah marah sekali sehingga ingin membunuhnya, Kim Hong membela sahabat barunya itu dan ketika Thian Sin melarikan diri karena pemuda ini tak mau berkelahi melawan kekasihnya, Kim Hong segera mengejar dan minta kepada Siangkoan Wi Hong untuk melapor kepada ayah pemuda itu.

Dengan ginkang-nya yang memang lebih tinggi dari pada Thian Sin, Kim Hong berhasil membayangi pemuda itu tanpa diketahuinya, dan dara ini dapat melihat pondok kecil yang disewa pemuda itu di tepi kota. Maka dia pun cepat pergi meninggalkan tempat itu dan menyusul Siangkoan Wi Hong ke rumah Pak-san-kui.

Pada waktu dia tiba di rumah datuk itu, ternyata Pak-san-kui telah mengumpulkan semua murid-muridnya dan ketika melihat Kim Homg datang, Siangkoan Wi Hong cepat-cepat menyambut dan memegang tangan dara itu.

“Nona, bagaimana…? Dapatkah engkau mengejarnya?”

“Aku tahu dimana dia, akan tetapi aku tahu dia lihai sekali, maka aku tidak berani turun tangan sendiri, dan aku cepat menyusulmu untuk memberi tahukan hal itu.”

Akan tetapi Pak-san-kui memandang kepada gadis itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Nona Toan, kenapa nona membantu puteraku dan memusuhi Pendekar Sadis?”

Pertanyaan ini diajukan secara tiba-tiba dengan suara keras penuh desakan, sebab kakek ini memang menaruh curiga dan sengaja bertanya secara tiba-tiba untuk membuat gadis ini tidak dapat berbohong tanpa diketahuinya. Akan tetapi gadis itu bersikap tenang saja, dan di bawah cahaya lampu yang terang itu nampak betapa gadis itu memandang kepada penanyanya dengan penasaran.

“Ahhh, apakah locianpwe belum tahu? Bukankah Pendekar Sadis yang sudah membunuh pamanku, Pangeran Toan-ong di kota raja? Locianpwe, biar pun mendiang ayahku telah dianggap pemberontak oleh kota raja, akan tetapi dia telah diampuni, dan bagaimana pun juga, Toan-ong yang dibunuh Pendekar Sadis itu adalah pamanku sendiri. Sebab itu tentu saja aku menganggap Pendekar Sadis sebagai musuhku!”

“Ayah, selain itu kami berdua pun saling mencinta. Aku… aku telah mengambil keputusan untuk memilih nona Toan sebagai calon jodohku, karena itu sudah sepatutnya apa bila dia membantuku ketika Pendekar Sadis menyerangku,” kata Siangkoan Wi Hong. Kim Hong mengerling ke arah pemuda itu dan sepasang pipinya berubah merah, akan tetapi gadis ini tidak berkata sesuatu.

“Jadi engkau sudah tahu di mana dia berada, nona?” tanya Pak-san-kui Siangkoan Tiang. Gadis ini mengangguk.

“Sebaiknya kalau malam ini juga kita menyerbunya, selagi dia lengah,” katanya.

“Memang itu pun yang menjadi rencana kami,” kata Pak-san-kui. “Akan tetapi, kita masih menanti datangnya pasukan Siong-ciangkun.”

“Ahh, jangan menggunakan pasukan, locianpwe!” Tiba-tiba saja Kim Hong berkata sambil mengerutkan alisnya. “Mengapa hanya menghadapi satu orang saja harus menggunakan pasukan? Locianpwe sendiri adalah seorang yang sakti, belum lagi locianpwe dibantu oleh putera locianpwe yang juga lihai, dan masih ada lagi murid-murid locianpwe yang terkenal pula. Dan jika locianpwe percaya kepadaku, aku pun dapat membantu. Bukan aku hendak menyombong, tapi kalau aku dibantu oleh Siangkoan-kongcu seorang saja, maka aku pun sudah akan mampu menandinginya!”

Tentu saja Pak-san-kui menganggap gadis ini bicara sombong. Bagaimana pun lihainya, tidak mungkin gadis ini mampu melawan Pendekar Sadis. Dia sendiri saja merasa gentar menghadapi pendekar yang telah mampu menewaskan See-thian-ong dan para muridnya itu. Akan tetapi karena gadis ini pun merupakan pembantu yang lumayan, dia diam saja tidak menanggapi sikap yang dianggapnya sombong itu.

Akan tetapi secara diam-diam Siangkoan Wi Hong mempercayai omongan gadis itu, oleh karena dia sudah melihat sendiri betapa gadis itu sanggup menandingi Pendekar Sadis, bahkan pendekar itu kelihatan gentar sehingga melarikan diri, “Ayah, apa bila Toan-siocia membantu kita, aku yakin kita akan mampu menghancurkan Pendekar Sadis!”

“Locianpwe, sesungguhnya telah cukup lama aku sendiri pun ingin sekali bertemu dengan pembunuh pamanku itu dan membalas dendam. Oleh karena itulah, maka sekarang ini sama sekali bukan berarti aku membantu locianpwe, bahkan dapat dikatakan sebaliknya, pihak locianpwe yang membantu aku agar berhasil membalas dendam. Karena aku tidak mau gagal, maka kuharap locianpwe jangan mengerahkan pasukan.”

“Hemm, mengapa nona mengatakan begitu?”

“Pendekar Sadis adalah seorang yang amat lihai, apa bila kita menyerbu mempergunakan pasukan besar, tentu sebelumnya dia akan mengetahui lebih dahulu dan dapat melarikan diri sehingga usaha kita akan sia-sia belaka. Sebaliknya kalau yang menyergapnya hanya kita saja, yang semua memiliki kepandaian yang cukup tinggi, maka kita tentu akan bisa datang tanpa menimbulkan suara dan dapat menyergapnya, tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri. Sebab itu, kuusulkan agar locianpwe sendiri, dibantu oleh Pak-thian Sam-liong, Siangkoan-kongcu serta aku sendiri, kita berenam sudah lebih dari cukup untuk menandingi dan merobohkannya. Jangan membawa pasukan.”

Pak-san-kui mengangguk-angguk. Kini dia melihat benarnya ucapan gadis itu, dan secara diam-diam dia girang bahwa puteranya dapat menarik gadis ini sebagai sahabat. Kini dia yakin pasti akan berhasil membalas dendam, bukan hanya mengalahkan Pendekar Sadis, bahkan membunuhnya.

“Baik, kita berangkat sekarang tanpa pasukan!” katanya dan mereka lalu berangkat. Kim Hong berjalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan.

Pondok itu memang terpencil di pinggir kota. Dan malam telah larut, suasana amat sunyi. Agaknya semua penghuni rumah sudah tidur dan tidak terdengar suara apa pun. Dengan hati-hati Kim Hong memberi isyarat-isyarat kepada teman-temannya dan mereka berenam mengurung pondok kecil itu. Kim Hong sendiri bersama Pak-san-kui menghampiri pintu depan, dan terdengarlah Pak-san-kui berseru, seperti yang telah mereka rencanakan,

“Pendekar Sadis! Kami telah mengetahui tempat sembunyimu. Keluarlah untuk menerima kematian!”

Sejenak sunyi saja. Pak-san-kui yang menjadi tidak sabaran itu menggedor pintu.

“Pendekar Sadis, keluarlah, kalau tidak, akan kurobohkan pondok ini!”

“Jangan robohkan pondokku…!” Terdengar teriakan lantas pintu depan terbuka, seorang laki-laki tua keluar dari pintu itu. Dari dalam terdengar suara nyaring,

“Paman, jangan keluar!”

Akan tetapi terlambat sudah! Melihat seorang pria tua keluar, Pak-san-kui menggerakkan huncwe-nya. Terdengar jerit orang itu yang langsung terpelanting roboh tak bergerak lagi. Pak-san-kui sendiri sampai terkejut. Tak disangkanya bahwa orang yang keluar itu sama sekali tidak memiliki kepandaian silat sehingga begitu mudah roboh dan tewas.

Karena menurut Kim Hong rumah itu adalah tempat Pendekar Sadis bersembunyi, maka tentu saja dia tadi menyangka bahwa yang keluar tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi, membunuh orang, baik bersalah mau pun yang tidak, bagi datuk ini tiada bedanya, maka dia pun sama sekali tidak peduli. Puteranya, murid-muridnya dan juga Kim Hong memandang tanpa mempedulikan, melainkan memperlihatkan ke dalam pondok melalui pintu yang kini telah terbuka.

Akan tetapi tidak terdengar sesuatu dari dalam pondok itu, juga tak nampak sesuatu yang muncul dari situ. Thian Sin yang tadinya sedang merebahkan diri di dalam pondok, begitu mendengar suara Pak-san-kui, sudah langsung meloncat ke atas dan membuka genteng, lalu mengintai dari atas.

Dia melihat Pak-san-kui datang bersama Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong namun sama sekali dia tak merasa gentar. Akan tetapi yang membuat dia meragu adalah ketika melihat Kim Hong berada pula di situ bersama mereka!

Tadi pun dia sudah gelisah memikirkan betapa Kim Hong melindungi Siangkoan Wi Hong dan menyerangnya. Dan ternyata gadis itu kini agaknya sudah bersekutu dengan musuh besarnya! Hal ini mendatangkan rasa nyeri di dalam hatinya, lebih nyeri dari pada ketika melihat gadis itu berciuman dengan Siangkoan Wi Hong tadi.

Kalau memang Kim Hong sudah mengambil keputusan bersekutu dengan datuk utara itu untuk memusuhinya, dia pun tidak takut! Demikian suara hatinya yang terasa amat nyeri, kecewa, berduka dan marah. Maka dia pun bangkit berdiri di atas atap rumah itu. Sinar bintang-bintang membuat dia nampak seperti tubuh siluman yang tiba-tiba muncul di situ. Akan tetapi suaranya masih halus walau pun mengandung teguran keras.

“Kim Hong, begitu tidak tahu malukah engkau, mau merendahkan diri menjadi kaki tangan Pak-san-kui?” Kemudian dia melayang turun ke depan Pak-san-kui sambil menudingkan telunjuknya. “Pak-san-kui, tua bangka keparat! kalau memang engkau datuk dan laki-laki sejati, hayo lawanlah aku, keroyoklah bersama dengan murid-muridmu, akan tetapi jangan ikut-ikutkan orang lain!”

Sebelum Pak-san-kui menjawab, tiba-tiba Kim Hong tertawa lantas berkata dengan nada menghina, “Hi-hik, Pendekar Sadis! Apakah engkau sudah buta dan tidak melihat dengan siapa kau sedang berhadapan? Locianpwe Siangkoan Tiang adalah datuk utara, seorang locianpwe yang gagah perkasa. Dia sendiri saja sudah cukup, siapa yang butuh bantuan untuk mengeroyokmu?”

Mendengar ucapan ini, Pak-san-kui terkejut. Ucapan itu memang bermaksud baik, akan tetapi sungguh merugikannya! Dan sesudah mendengar gadis itu berkata demikian, tentu saja dia akan merasa rendah dan malu kalau begitu maju lalu mengeroyok musuhnya itu. Maka dia pun mengerling ke arah puteranya dan tiga orang muridnya.

“Aku akan menghadapinya sendiri! Kalian tentu tahu kapan untuk turun tangan mencegah dia melarikan diri!” Setelah berkata demikian dan merasa yakin bahwa puteranya dan tiga orang muridnya dapat mengerti apa yang dia maksudkan, tiba-tiba saja Pak-san-kui telah menerjang ke depan dengan senjatanya yang ampuh, yaitu huncwe maut itu. Nampak api menyambar dari dalam huncwe itu, kemudian menjadi cahaya yang menyambar ke arah muka dan leher Thian Sin.

Cepat bukan main gerakan ini, akan tetapi Thian Sin sudah mengelak ke belakang. Kim Hong juga melihat gerakan itu, kemudian melihat betapa kakek itu menggerakkan tangan kirinya dan lengan kiri itu lantas mulur sampai panjang mengejar atau membuat serangan ke arah kepala Thian Sin.

“Dukkk!”

Thian Sin menangkis dan keduanya terdorong dua langkah ke belakang. Melihat ini, Kim Hong diam-diam terkejut dan kagum akan kelihaian datuk ini yang selain memiliki senjata huncwe yang sangat berbahaya, juga memiliki lengan kiri yang dapat mulur panjang dan tentu saja amat berbahaya pula.

Sementara itu, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong hanya mengurung tempat itu, siap untuk membantu karena mereka maklum bahwa kehadiran Kim Hong tentu saja membuat Pak-sam-kui merasa sungkan untuk melakukan pengeroyokan. Namun mereka tahu bahwa jika sampai Pak-san-kui terdesak, maka mereka berempat tentu akan segera turun tangan mengeroyok. Maka, Siangkoan Wi Hong lalu mendekati Kim Hong.

“Adik manis, jika dia terlalu berat bagi ayah, kita baru akan turun tangan mengeroyoknya. Dia memang orang yang amat berbahaya sekali.” Kim Hong tidak menjawab, seperti tidak mendengar ucapan itu, melainkan menonton perkelahian itu dengan penuh perhatian.

Dan perkelahian itu memang sangat menegangkan untuk ditonton. Seru dan mati-matian, juga merupakan perkelahian antara orang-orang yang memiliki kepandaian hebat. Dahulu, ketika untuk pertama kalinya Thian Sin mengalahkan Pak-san-kui, ia harus mengandalkan akal, menggunakan air untuk menghadapi serangan api yang kadang-kadang keluar dari huncwe maut itu, yang membuat lawan kewalahan dan panik.

Akan tetapi sekarang dia sudah tidak membutuhkan lagi akal seperti itu. Lagi pula, sejak kekalahannya dari Thian Sin dulu itu, Pak-san-kui sudah berlatih matang dan bersiap-siap kalau lawan menggunakan air lagi. Maka andai kata Thian Sin mengulangi akalnya yang dahulu, dia tentu akan kecelik dan tidak akan berhasil.

Pemuda ini hanya menghadapinya dengan memegang kipasnya. Setiap kali ada bunga api menyambar atau asap yang berbau keras, kipas itulah yang mengebut dan api serta asap itu lalu membalik dan menyerbu kakek itu sendiri! Sedangkan serangan huncwe itu hanya dihadapi dengan tangan kosong oleh Thian Sin.

Huncwe maut itu menyambar-nyambar dengan ganasnya, mengeluarkan suara bercuitan mengerikan. Thian Sin selalu dapat mengelak atau menangkis huncwe dengan lengannya, bahkan membalas serangan lawan dengan sama dahsyatnya, menampar dan memukul atau menendang sambil mengerahkan sinkang.

Thian Sin bisa melihat kenyataan bahwa dibandingkan dengan dahulu, datuk ini kini telah mendapat kemajuan yang cukup banyak, maka dia pun lalu mulai merubah gerakannya, mainkan ilmu silat warisan ayahnya yaitu Hok-liong Sin-ciang yang hanya delapan belas jurus itu. Akan tetapi, baru saja dia mengeluarkan tiga empat jurus yang masing-masing mempunyai bagian-bagian dan perkembangan-perkembangan yang amat sukar itu, lawan telah terdesak hebat!

Pak-san-kui juga mengenal jurus-jurus itu, tetapi hanya mengenal kulitnya saja dan isinya sungguh membuat dia merasa bingung sebab mengandung daya serang yang tak pernah diduganya sama sekali, dan selain itu juga sangat hebat. Di dalam serangan-serangan itu terkandung gerakan-gerakan aneh dan hampir saja dia kena dirobohkan lawan sehingga ketika kaki Thian Sin menyerempet lambungnya, dia terhuyung dan meloncat ke belakang sambil mengeluarkan seruan. Seruan ini dikenal oleh Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong, maka mereka itu segera bergerak untuk membantu.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan menghadang mereka disertai bentakan, “Tahan dulu!”

Siangkoan Wi Hong amat terkejut ketika melihat bahwa yang menghadang itu adalah Kim Hong! Gadis ini berkata, “Tadi sudah diadakan janji bahwa tidak akan ada pengeroyokan! Kalau kalian ingin mencoba kelihaian musuh, biarlah Pendekar Sadis menghadapi kalian. Oleh karena tingkat kepandaian kalian masih terlalu rendah, maka kalian berempat boleh saja maju berbareng untuk menghadapinya! Heiii, Pendekar Sadis, kau tinggalkan dahulu Pak-san-kui, dan hadapi mereka ini. Aku sendiri ingin merasakan huncwe maut!” Setelah berkata demikian, Kim Hong kemudian meloncat ke dalam arena pertempuran itu sambil mencabut sepasang pedangnya dan langsung menerjang Pak-san-kui!

Perubahan sikap gadis ini sungguh membuat semua orang tercengang. Akan tetapi, kalau Siangkoan Wi Hong menjadi terkejut dan marah sekali, maka sebaliknya Thian Sin yang juga kaget itu merasa girang bukan main. Tadinya dia sudah merasa bingung dan gelisah kalau terpaksa harus menghadapi gadis itu sebagai musuh.

Biar pun hatinya panas kalau teringat akan adegan romantis dan mesra antara Kim Hong dengan Siangkoan Wi Hong, namun pembalikan sikap Kim Hong yang kini jelas berpihak kepadanya itu membuat hatinya gembira sekali maka begitu melihat Kim Hong menyerbu Pak-san-kui, dia pun lalu meloncat ke belakang untuk menghadapi Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong yang segera mengurung dan mengeroyoknya dengan serangan-serangan bertubi-tubi. Terutama sekali, Siangkoan Wi Hong menyerang dengan senjata yangkim-nya, menyerang dengan penuh kebencian dan kemarahan.

Pemuda hartawan ini merasa kecewa bukan main melihat betapa Kim Hong, gadis yang menjatuhkan hatinya, yang disangkanya sudah terjerat olehnya, ternyata sekarang malah membantu Thian Sin! Maka timbullah kecurigaannya bahwa memang gadis itu sengaja bersikap baik terhadapnya untuk memancingnya, memancing ayahnya untuk menghadapi Pendekar Sadis di tempat sunyi itu.

Dan teringatlah dia betapa gadis itu yang menganjurkan agar mereka berenam saja yang menghadapi Pendekar Sadis dan melarang agar jangan menggunakan pasukan! Teringat akan ini, keringat dingin membasahi dahi Siangkoan Wi Hong dan ia menyerang semakin dahsyat, dibantu oleh tiga orang suheng-nya yang sudah membentuk barisan Sha-kak-tin (Barisan Segi Tiga) itu.

Thian Sin menghadapi empat orang pengeroyoknya itu dengan sikap tenang-tenang saja. Akan tetapi karena untuk menghadapi pengeroyokan empat senjata itu lebih enak jika dia menggunakan senjata pula, maka selain kipasnya, dia pun cepat mencabut Gin-hwa-kiam kemudian memutar pedangnya untuk melindungi dirinya sambil kipasnya kadang-kadang menyambar dengan totokan-totokan maut.

Akan tetapi, Thian Sin tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian terhadap empat orang pengeroyoknya itu karena dia merasa khawatir kalau-kalau Kim Hong terancam bahaya, walau pun dia maklum bahwa kepandaian gadis itu kiranya tidak berada di sebelah bawah tingkat Pak-san-kui.

Pak-san-kui sendiri yang tadinya tercengang dan marah melihat betapa tiba-tiba gadis itu membalik dan memihak musuh, dengan kemarahan meluap menghadapi Kim Hong.

“Bagus!” bentaknya. “Memang mata anakku yang buta, tidak tahu bahwa engkau adalah siluman yang jahat. Mampuslah kau di tanganku!”

Kakek itu lantas menghisap huncwe-nya kemudian sekali dia menggerakkan huncwe, ada bunga api menyambar ke arah muka Kim Hong, disusul tiupan asap dari mulutnya yang dibarengi pula dengan totokan-totokan maut dari ujung huncwe! Benar-benar merupakan serangan maut yang amat hebat.

Sejak tadi Kim Hong sudah melihat dan mempelajari kepandaian lawan, maka gadis ini mengerahkan ginkang-nya yang amat istimewa, segera melesat ke atas untuk mengelak dari serangan bertubi-tubi itu. Akan tetapi tangan kiri kakek itu sudah menyambar, mulur sampai dua tiga panjang lengan biasa, mencengkeram ke arah dada!

“Hih!” Kim Hong berseru dan pedangnya berkelebat menyambar untuk membacok lengan yang panjang mengerikan itu.

Pak-san-kui kembali meniupkan asapnya dan menarik tangannya. Karena asap itu selain sangat kuat juga mengandung bau yang menyesakkan nafas, maka terpaksa Kim Hong berjungkir-balik di udara, dan itu saja telah menunjukkan kemahiran ginkang yang sangat hebat. Dan sambil berjungkir balik ini Kim Hong sudah memindahkan pedang dari tangan kirinya ke tangan kanan sehingga tangan kanan itu memegang dua pedang, sedangkan tangan kirinya lalu bergerak. Sinar merah menyambar dari atas ke arah kepala dan dada Pak-san-kui.

“Uhhhhh…!” Pak-san-kui terkejut sekali dan dengan cepat dia memutar huncwe-nya untuk menangkis.

Terdengar suara nyaring berkerincingan pada saat jarum-jarum merah itu terpukul runtuh. Akan tetapi, gadis itu telah turun ke atas tanah dan menyerang kembali dengan sepasang pedangnya, gerakannya aneh luar biasa sehingga yang nampak hanyalah dua gulungan sinar hitam yang bergulung-gulung laksana dua ekor naga hitam mengamuk.

Pak-san-kui menangkis beberapa kali sehingga nampak bunga-bunga api berhamburan, dari mulut huncwe dan juga dari pertemuan senjata mereka! Kembali Pak-san-kui merasa terkejut bukan main.

“Tahan...!” serunya dan dia pun meloncat kebelakang.

Kim Hong lalu menyilangkan sepasang pedang hitamnya di depan dada dan memandang sambil tersenyum mengejek. “Pak-san-kui, kini engkauhendak bicara apa lagi?” tanyanya, kini lenyap sikapnya yang tadinya menghormat terhadap datuk itu, berubah menjadi sikap dan suara penuh ejekan.

Pak-san-kui mengerutkan alisnya dan memandang tajam, penuh selidik. Dan teriakannya tadi ternyata juga menghentikan pertandingan antara Thian Sin dengan empat orang yang mengeroyoknya. Agaknya puteranya, dan juga ketiga orang muridnya, menyangka bahwa teriakan itu ditujukan untuk semua sehingga mereka berempat pun meloncat ke belakang, dan tentu saja Thian Sin juga turut menunda gerakannya. Dia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh kakek itu.

“Nona, aku pernah mendengar tentang jarum merah dan juga tentang Hok-mo Siang-kiam. Ada hubungan apakah engkau dengan Lam-sin?”

Pertanyaan ini persis sama dengan yang pernah diajukan oleh See-thian-ong kepadanya! Sekali ini Thian Sin diam saja, dan Kim Hong menjawab persis seperti saat dia menjawab See-thian-ong, “Lam-sin sudah tidak ada, yang ada hanyalah Toan Kim Hong saja!”

“Tapi… tapi…, Lam-sin adalah datuk selatan, masih rekan dan segolongan denganku…”

“Cukup! Kalau engkau takut menghadapiku katakanlah, tua bangka!” bentak Kim Hong.

Tentu saja bentakan ini membuat Pak-san-kui marah bukan main. Dia tahu bahwa gadis ini ternyata amat lihai, dan mungkin sekali telah mewarisi semua kepandaian datuk yang bernama Lam-sin. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa dia takut menghadapi gadis ini, tetapi kalau gadis yang selihai ini sekarang berpihak kepada Thian Sin, sungguh pihaknya sangat berbahaya. Kini mendengar makian dan bentakan Kim Hong, dia lupa akan semua kekhawatiran itu, terganti rasa kemarahan besar sekali dan dia pun membentak,

“Bocah yang bosan hidup!” Dan huncwe-nya sudah menyerang lagi.

Kim Hong tersenyum mengejek lantas menggerakkan sepasang pedangnya pula. Melihat betapa mereka sudah mulai bertempur lagi, Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong juga segera menyerbu Thian Sin yang menghadapi mereka sambil tersenyum-senyum dan memandang rendah. Akan tetapi pemuda ini tetap saja membagi perhatiannya untuk Kim Hong karena dia tidak ingin gadis itu celaka di tangan datuk utara yang lihai itu.

Diam-diam Kim Hong merasa gembira sekali karena semenjak dia meninggalkan Pulau Teratai Merah, berkelana di dunia kang-ouw sampai mendapatkan julukan Lam-sin, baru beberapa kali saja dia memperoleh lawan yang cukup tangguh.

Pertama sekali adalah Thian Sin yang telah berhasil mengalahkannya, mengalahkan ilmu silatnya bahkan juga menundukkan hatinya, pria pertama yang diserahi tubuhnya sebagai tanda takluk. Kemudian dia bertemu dengan See-thian-ong yang merupakan lawan yang tangguh pula. Dan kini, Pak-san-kui juga merupakan lawan yang menggembirakan karena memang lihai sekali. Kim Hong harus mengerahkan seluruh kepandaian serta tenaganya, barulah dia dapat mengimbangi kehebatan kakek itu.

Di lain pihak Pak-san-kui terkejut bukan main sesudah memperoleh kenyataan bahwa dia sungguh-sungguh tidak mampu mengatasi gadis itu! Jurus apa pun yang dikeluarkannya selalu dapat dibendung oleh gadis itu, sementara dia sendiri dengan setengah mati baru sanggup menyelamatkan diri dari desakan gadis itu. Apa lagi kecepatan dan keringanan tubuh gadis itu yang membuat dia hampir kewalahan. Benar-benar seorang lawan yang tingkat kepandaiannya agaknya tidak dibawah Pendekar Sadis sendiri.

Mulailah dia merasa khawatir sekali. Kalau gadis ini membantu Thian Sin, maka pihaknya jelas akan mengalami kerugian hebat.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner