PENDEKAR SADIS : JILID-50


Sesudah membiarkan Kim Hong menghadapi serta ‘merasakan’ kelihaian datuk utara itu selama lebih dari lima puluh jurus, tiba-tiba Thian Sin melompat dan meninggalkan empat orang pengeroyoknya lalu menerjang datuk itu sambil berkata kepada Kim Hong.

“Jangan kau merampas musuh besar dari tanganku!”

Kim Hong tertawa dan gadis ini pun membalik lalu menghadapi Siangkoan Wi Hong dan Pak-thian Sam-liong. Pada saat itu Siangkoan Wi Hong sudah merasa yakin bahwa gadis ini agaknya memang sengaja mendekati keluarga Pak-san-kui untuk memancing mereka ke tempat itu, maka dia pun menjadi marah sekali.

“Perempuan hina, rasakan pembalasanku!” Yangkim-nya menyerang ganas, lantas disusul cengkeraman tangan kirinya dengan ilmu cakar garuda!

Dimaki seperti itu, Kim Hong menjadi marah sekali. Pedangnya berkelebat menyambar, yang satu menangkis yangkim dan yang ke dua membabat ke arah lengan kiri lawan, dan selain itu, dia pun mengerahkan segenap tenaganya.

“Trakkk!”

Memang Siangkoan Wi Hong berhasil menarik kembali lengan kirinya, akan tetapi setelah terdengar suara keras itu, ujung yangkim-nya pecah terbabat oleh pedang hitam! Dan Kim Hong masih terus mendesaknya, akan tetapi pada saat itu pula Pak-thian Sam-liong telah menyerbunya dari belakang, kanan dan kiri. Terpaksa dara itu memutar kedua pedangnya dan kembali dia menghadapi pengeroyokan mereka berempat. Akan tetapi sekali ini Kim Hong tidak main-main lagi dan gerakan kedua pedangnya membuat empat pengeroyok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat.

Apa lagi Siangkoan Wi Hong juga telah mengalami kekagetan karena ujung yangkim-nya sudah patah. Pemuda ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis cantik yang pernah membiarkan dia menciuminya dengan mesra itu ternyata memiliki ilmu kepandaian begitu hebat sehingga ayahnya sendiri pun tidak mampu mengalahkannya.

Sementara itu, perkelahian antara Thian Sin dan Pak-san-kui juga sudah menampakkan perubahan. Kini Thian Sin mulai mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Kakek itu tampak lelah sekali, dan cahaya lampu di depan pondok itu biar pun hanya suram saja namun masih dapat menerangi keadaan kakek yang wajahnya menjadi pucat, napasnya agak memburu dan dari topi sulaman bunga emas di kepalanya itu keluar uap putih yang tebal. Tapi Thian Sin terus mendesaknya dan setiap kali huncwe bertemu dengan Gim-hwa-kiam, tentu kakek itu tergetar dan terhuyung ke belakang.

“Tranggggg…!”

Kembali dua senjata itu saling bertemu dan kali ini sedemikian hebatnya sehingga tubuh kakek itu langsung terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk. Akan tetapi Pak-san-kui telah menggerakkan lengan kirinya yang bisa memanjang itu, sambil duduk tangan kirinya itu bergerak seperti ular dan tahu-tahu sudah menangkap kaki kanan Thian Sin.

Pemuda ini mernang sengaja membiarkan kakinya ditangkap, akan tetapi ketika kakinya ditarik, tetap saja dia tidak marnpu mempertahankan dan dia pun terpelanting! Akan tetapi bukan sembarangan terpelanting, melainkan terpelanting yang sudah diaturnya sehingga ketika terguling itu, pedangnya bergerak, sinar perak berkelebat ke bawah.

“Crokkk!”

“Aughhhhh…!” Pak-san-kui meloncat berdiri kemudian terhuyung ke belakang.

Lengannya tertinggal di kaki Thian Sin karena pedang itu telah membabat buntung lengan kirinya sebatas siku tetapi tangan kirinya itu masih saja mencengkeram pergelangan kaki pemuda itu! Thian Sin cepat membungkuk dan segera melepaskan tangan kiri lawan itu dari kakinya, kemudian dia langsung menubruk maju menyerang Pak-san-kui yang sudah terluka parah.

“Trangg! Tranggg…!”

Kembali bunga api berpijar dan tubuh kakek itu terjengkang. Thian Sin segera menyimpan Gin-hwa-kiam dan pada waktu kakek itu bangkit, dia sudah menyerangnya lagi, sekarang menggunakan kedua tangan kosong. Pak-san-kui yang menyeringai kesakitan itu segera menyambutnya dengan pukulan huncwe sekuatnya ke arah dahi Thian Sin, tetapi pemuda ini menangkapnya. Mereka saling betot dan mendadak Thian Sin mempergunakan Thi-khi I-beng!

“Ahhhh…!” Pak-san-kui terkejut sekali.

Dia sudah tahu bahwa lawannya ini mempunyai ilmu Thi-khi I-beng yang mukjijat itu, akan tetapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda itu akan menggunakannya pada saat itu. Kini huncwe-nya melekat pada tangan pemuda itu dan pada waktu dia sedang mengerahkan tenaga sekuatnya untuk membetot huncwe, pemuda itu juga mengerahkan ilmu yang seketika menyedot semua sinkang yang tersalur lewat tangan kanannya.

Karena tangan kirinya sudah tidak dapat dipergunakan, maka kakek ini cepat menyimpan tenaga dengan menghentikan pengerahan sinkang-nya. Hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya agar tenaga lweekang-nya tidak tersedot habis. Akan tetapi, pada saat itu Thian Sin yang sudah memperhitungkan ini, tiba-tiba saja merenggut lepas huncwe-nya dan di lain saat huncwe itu sudah membalik ke arah kepala Pak-san-kui.

“Prakkk!”

Huncwe itu remuk, pecah berantakan, namun tubuh kakek itu terguling, kepalanya bagian pelipis mengucurkan darah!

Thian Sin membuang huncwe yang sudah remuk itu kemudian meloncat mendekati untuk memeriksa apakah betul lawannya telah tewas. Baru saja dia membungkuk, tiba-tiba kaki Pak-san-kui bergerak cepat.

“Dessss…!”

Tubuh Thian Sin terlempar ke belakang ketika kaki itu mengenai dadanya! Untung bahwa dia tadi cepat mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang melindungi dadanya sehingga ketika kena tendang, dia hanya terlempar saja dengan dada terasa agak nyeri, akan tetapi tidak sampai terluka dalam.

Kakek itu tertawa aneh dan tubuhnya sudah meloncat bangun lagi lalu menubruk ke arah Thian Sin yang masih rebah terlentang sesudah terlempar tadi. Thian Sin menyambutnya dengan totokan ke arah leher sambil meloncat bangun.

“Cusss…!”

Thian Sin kaget bukan main ketika jari tangannya hanya menotok kulit daging yang lunak. Bahkan disangkanya kakek itu sudah mempergunakan ilmu yang dimiliki Kim Hong, yaitu melepaskan daging menyembunyikan otot seperti Ilmu Bian-kun (Ilmu Silat Kapas). Akan tetapi ketika dia memandangi ternyata kakek itu terkulai dan roboh tak bernyawa lagi!

Ternyata kakek itu telah tewas sesudah mengeluarkan suara ketawa aneh dan pada saat menubruk dirinya tadi! Dia telah menggunakan tenaganya yang terakhir dalam tendangan tadi dan sesudah dia memeriksanya, ternyata pelipis kepalanya telah retak oleh pukulan dengan huncwe tadi.

Thian Sin cepat menengok. Dia melihat betapa Kim Hong mempermainkan empat orang lawannya. Dia pun tidak membantu, hanya menonton saja sambil berdiri di depan pondok. Diam-diam dia merasa semakin kagum kepada Kim Hong.

Empat orang pengeroyoknya itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang hebat dan kalau mereka berempat itu maju bersama seperti itu, agaknya malah lebih berbahaya dan lebih kuat dibandingkan dengan Pak-san-kui sendiri. Tapi jelaslah bahwa Kim Hong menguasai perkelahian itu.

Dara ini membagi-bagi serangan seenaknya, dan dengan ginkang-nya yang luar biasa dia seperti beterbangan ke sana ke mari, laksana seekor kupu-kupu yang lincah beterbangan di antara empat tangkai bunga. Sepasang pedang di tangannya membuat gulungan sinar hitam yang mengeluarkan angin dahsyat dan suara berdesing-desing sehingga membuat empat orang pengeroyoknya kewalahan sekali.

Malah barisan Sha-kak-tin itu pun sudah kocar-kacir. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh kelihaian ilmu pedang Kim Hong, melainkan juga karena adanya Siangkoan Wi Hong turut mengeroyok. Sha-kak-tin adalah ilmu silat kelompok yang dilakukan oleh tiga orang yang selalu mengatur pengepungan dalam bentuk segi tiga. Tempat mereka itu boleh bertukar-tukar, akan tetapi selalu dalam bentuk segi tiga. Kini dengan adanya Siangkoan Wi Hong, biar pun dasar ilmu silat mereka masih dari satu sumber, namun kehadiran Siangkoan Wi Hong ini justru tak memungkinkan lagi bagi mereka untuk memainkan Sha-kak-tin secara sempurna.

Untuk membiarkan Siangkoan Wi Hong meninggalkan mereka pun merupakan hal yang berbahaya sekali karena lawan mereka ini sungguh amat lihai. Maka mereka mengepung berempat dan melakukan pengeroyokan. Namun akibatnya malah mereka sendirilah yang merasa dikeroyok oleh banyak sekali pedang hitam!

Memang Kim Hong sengaja mempermainkan mereka. Dia sudah berhasil merobek baju Siangkoan Wi Hong berikut kulit dan sedikit daging di dada kirinya, melukai pundak dan paha tiga orang Pak-thian Sam-liong, akan tetapi masih belum mau merobohkan mereka. Dia menanti sampai Thian Sin berhasil merobohkan Pak-san-kui dulu, dan setelah melihat Pak-san-kui roboh dan tidak bergerak lagi, barulah dia tersenyum.

“Sekarang, kalian berempat bersiaplah untuk mengiringi guru kalian pergi ke neraka!”

Dan gerakan pedangnya pun berubah, menjadi semakin cepat, membuat empat orang itu bingung sekali. Dua kali cahaya hitam menyambar disusul robohnya dua orang di antara Pak-thian Sam-liong. Mereka roboh tidak bergerak lagi karena ujung kedua pedang hitam itu telah menusuk antara kedua mata mereka.

Orang ke tiga dari Pak-thian Sam-liong yang menjadi marah bukan kepalang menusukkan pedangnya dengan nekad, akan tetapi kembali cahaya hitam berkelebat. Terdengar suara keras dan pedang itu buntung, disusul robohnya pemegangnya dengan leher yang hampir putus akibat terbabat cahaya hitam pedang Hok-mo Siang-kiam.

Kini tinggal Siangkoan Wi Hong seorang diri yang harus menghadapi wanita itu! Pemuda ini menjadi pucat mukanya. Akan tetapi dia segera maklum bahwa tak mungkin dia dapat melarikan diri lagi maka dia pun lalu membuat gerakan tiba-tiba, menyambitkan yangkim ke arah lawan, disusul dengan kedua tangannya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala dan tangan kanan mencengkeram ke arah buah dada! Inilah serangan maut yang dimaksudkan untuk mengadu nyawa dengan gadis cantik itu!

Akan tetapi, dengan mudahnya Kim Hong dapat mengelak dari sambaran yangkim, lantas sebelum serangan kedua tangan lawan dapat menyentuhnya, dia telah membuat gerakan meloncat cepat, tubuhnya melesat ke arah belakang tubuh lawan, kepalanya digerakkan dan tahu-tahu rambutnya yang panjang hitam dan harum itu sudah menyambar ke depan dan telah membelit leher Siangkoan Wi Hong! Bukan belitan mesra dari rambut harum itu seperti yang dibayangkan oleh Siangkoan Wi Hong, melainkan belitan yang sangat kuat, melebihi kuatnya lilitan seekor ular dan rambut itu telah mencekik leher!

Siangkoan Wi Hong kaget sekali dan otomatis kedua tangannya bergerak ke leher untuk melepaskan belitan itu. Akan tetapi tiba-tiba saja Kim Hong memutar kepalanya sehingga tubuh Siangkoan Wi Hong terangkat dan terbawa oleh putaran itu, lantas diputar beberapa kali dengan amat kuatnya, dan akhirnya belitan rambut itu terlepas.

Tubuh Siangkoan Wi Hong langsung melayang ke arah Thian Sin! Tubuh itu sudah lemas karena belitan rambut tadi telah membuatnya tak dapat bernapas, maka ketika Thian Sin menyambutnya dengan tamparan, Siangkoan Wi Hong yang sudah setengah mati itu tak mampu mengelak lagi.

“Prokkk!”

Tubuh pemuda itu terbanting dan seperti juga ayahnya, kepalanya retak akibat tamparan yang dilakukan oleh Thian Sin dan dia pun tewas tak jauh dari mayat ayahnya.

Mereka kini saling berhadapan, saling pandang di bawah penerangan sinar lampu redup depan pondok itu. Mayat lima orang itu berserakan.

“Kim Hong…”

“Mari kita pergi dari sini, kalau ketahuan pasukan penjaga kita akan repot juga.” Kim Hong memotong kata-kata Thian Sin dan meloncat pergi, disusul oleh Thian Sin.

Mereka baru berhenti setelah sinar matahari pagi menciptakan warna indah cerah di ufuk timur dan mereka telah tiba jauh sekali dari kota Tai-goan. Pagi itu cerah dan indah sekali, secerah hati Thian Sin. Lenyaplah semua perasaan kesepian, lenyaplah semua perasaan nelangsa, terganti dengan sinar kegembiraan memenuhi hatinya, walau pun kegembiraan ini kadang-kadang menyuram oleh bayangan betapa gadis ini pernah berciuman dengan mesra bersama Siangkoan Wi Hong!

Mereka berhenti di padang rumput, jauh dari dusun-dusun. Hanya burung-burung yang menyambut keindahan pagi dengan nyanyian mereka sajalah yang menemani mereka di tempat sunyi itu. Tidak nampak seorang pun manusia lain di sekitarnya.

“Kim Hong,” kata Thian Sin yang semenjak tadi menahan-nahan perasaan hatinya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyesak di dalam dada, sebab ketika mereka berlari-lari tadi, Kim Hong seolah-olah sengaja hendak mengajaknya berlomba. “Sekarang aku minta penjelasan darimu.”

Kim Hong tersenyum, mempergunakan sapu tangan sutera hijau untuk menghapus peluh dari leher dan dahinya, kemudian menggunakan sapu tangan itu untuk dikebut-kebutkan ke atas rumput di bawahnya. Titik-titik embun yang menempel pada ujung-ujung rumput itu, seperti juga keringatnya tadi, tersapu bersih dan setelah sebagian rumput itu kering, dia pun lantas menjatuhkan diri duduk di atas rumput yang sudah tidak basah itu, sambil tersenyum.

“Penjelasan apa lagi?” tanyanya sambil mengerling, dan Thian Sin melihat betapa kerling mata dan senyum itu mengandung perpaduan antara ejekan dan rangsangan.

Thian Sin mengerutkan kedua alisnya, rasa cemburu memanaskan dadanya sehingga dia menjadi tidak sabaran. Dia pun menjatuhkan diri duduk di atas rumput, tidak peduli bahwa celananya menjadi basah oleh embun yang memandikan rumput-rumput hijau.

“Penjelasan banyak hal. Kenapa engkau meninggalkan aku pergi tanpa pamit? Kemudian, mengapa engkau melindungi Siangkoan Wi Hong ketika aku menyerangnya? Dan kenapa engkau bersekutu dengan Pak-san-kui dan kemudian engkau membalik melawan mereka dan membantuku? Dan kenapa… kenapa engkau membiarkan dirimu dirayu dan dicium oleh Siangkoan Wi Hong?”

Mendengar semua pertanyaan itu, Kim Hong tersenyum dan memandang kepada Thian Sin seperti pandang mata seorang dewasa memandang anak-anak yang nakal dan ingin digodanya. Kemudian dia mencabut sebatang rumput, lantas menggigit-gigit rumput itu di antara giginya yang berderet rapi dan putih bagaikan deretan mutiara, di antara bibirnya yang merah membasah dan tersenyum simpul itu.

“Thian Sin, engkau ini seorang pendekar yang berilmu tinggi, akan tetapi jalan pikiranmu masih begitu picik dan tumpul. Bila engkau tidak mengerti kenapa aku meninggalkanmu, biarlah engkau tetap saja tolol dan aku tak mau memberi tahukan kepadamu. Akan tetapi yang lain-lain dapat kujelaskan. Aku mendahuluimu ke Tai-goan, aku hendak menyelidiki keadaan Pak-san-kui yang kau sohorkan hebat itu. Aku sengaja mendekati Siangkoan Wi Hong dan pada waktu aku sedang menyelidiki, lalu muncul engkau yang hendak merusak penyelidikanku dengan menyerang Siangkoan Wi Hong. Tentu saja aku lalu mencegahmu. Aku pura-pura bersekutu dengan Pak-san-kui untuk menyelidiki keadaannya, dan melihat keadaan mereka sangat kuat, didukung oleh pasukan penjaga keamanan Tai-goan, mana mungkin engkau sanggup mengalahkannya? Maka ketika engkau menyerangnya dan aku melindunginya, lalu engkau lari, dengan diam-diam aku membayangimu dan tahu bahwa engkau tinggal di pondok itu. Aku lalu mengajak mereka untuk menyerbu tanpa bantuan pasukan. Nah, setelah Pak-san-kui dan puteranya serta tiga orang muridnya menyerbu, bukankah itu adalah hal yang kau tunggu-tunggu?”

Thian Sin melongo, lalu menggerakkan tangan hendak memegang lengan gadis itu, akan tetapi Kim Hong segera mengelak.

“Kim Hong, maafkan aku. Ternyata engkau melakukan semuanya itu untuk membantuku! Sungguh benar katamu bahwa aku seperti buta, aku telah berani menyangka yang bukan-bukan, mengira engkau membelakangiku dan memihak mereka. Kau maafkan aku!”

Bibir bawah yang lunak itu lantas mencibir, “Hemmm, untuk salah pengertian itu aku tidak perlu memaafkanmu karena memang sebaiknya jika engkau salah mengerti. Hal ini justru membuat penyelidikanku menjadi sempurna.”

“Kim Hong, apa bila engkau tidak menyesal, mengapa engkau menjauhkan diri? Sungguh aku tidak mengerti.”

“Apa saja yang kau mengerti kecuali membunuh orang?” Kim Hong mengejek.

“Kim Hong… aku minta kepadamu, jangan kau biarkan aku dalam kebingungan. Kuharap engkau suka menjelaskan mengapa engkau meninggalkan aku dan kenapa pula engkau membiarkan dirimu dirayu oleh Siangkoan Wi Hong.”

Tiba-tiba sepasang mata itu berkilat dan alis itu berkerut. “Ceng Thian Sin, karena engkau mendesak, aku akan memberi tahu, akan tetapi kalau setelah ini engkau tidak mau minta ampun kepadaku, jangan harap aku akan sudi bertemu muka denganmu lagi! Kau dengar baik-baik. Engkau telah menghinaku, engkau juga telah meremehkan perasaanku dengan mencium So Cian Ling di hadapan mataku! Itulah sebabnya maka aku meninggalkanmu! Dan engkau melihat aku membiarkan diri berciuman dan berpelukan dengan laki-laki lain, tanpa peduli siapa pun laki-laki itu? Karena aku sengaja melakukannya untuk membalas dendam kepadamu! Aku tahu bahwa engkau membayangi kami, dan memang aku ingin engkau melihat hal itu! Nah, kini aku telah memberi penjelasan!” Kim Hong bangkit berdiri kemudian membalikkan tubuhnya, membelakangi pemuda itu.

Thian Sin menjadi bengong sejenak, namun ketika melihat betapa kedua pundak gadis itu bergoyang-goyang, tahulah dia bahwa Kim Hong menangis, walau pun ditahan-tahannya sehingga tidak terisak. Maka dia pun segera menubruk kedua kaki gadis itu dan dengan penuh penyesalan dia pun berkata, “Kim Hong, kau ampunkanlah aku, Kim Hong.”

Sikap serta ucapan Thian Sin ini seperti membuka bendungan air bah sehingga air mata gadis itu mengalir turun dan kini dia tidak dapat menahan tangisnya sesenggukan.

“Kim Hong, aku mengaku salah… aku… tidak sengaja, melihat dia menghadapi kematian, aku terharu dan… ahhh, ampunkan aku, Kim Hong, aku… cinta padamu.”

Akan tetapi walau pun kini Thian Sin memeluk kedua kakinya dan berada di hadapannya, Kim Hong tidak menjawab dan hanya menangis sambil menutupi mukanya dengan sapu tangan.

“Kim Hong, maukah engkau memaafkan dan mengampuniku?” Kembali Thian Sin berkata sambil mengangkat muka memandang.

Kim Hong menahan isaknya dan menjawab lirih, “Kalau aku tidak sudah mengampunimu semenjak tadi, tentu aku sudah membantu mereka mengeroyokmu dan apa kau kira saat ini kau masih dapat hidup?”

Bukan main girangnya hati Thian Sin mendengar ini dan memang dia pun dapat melihat kenyataan dalam ucapan gadis itu. Kalau tadi Kim Hong membantu Pak-san-kui dan turut mengeroyoknya, jelaslah bahwa dia tak akan mungkin dapat menang. Hanya menghadapi Pak-san-kui seorang saja, dia hanya menang setingkat, juga demikian kalau dia melawan Kim Hong. Maka apa bila Pak-san-kui dibantu Kim Hong menyerangnya, sudah jelas dia akan kalah.

Apa lagi di sana masih ada Pak-thian Sam-liong dan Siangkoan Wi Hong! Belum lagi jika diingat bahwa tanpa bantuan Kim Hong, tentu tadi dia sudah dikurung oleh ratusan orang pasukan penjaga. Tidak, betapa pun lihainya, dia tidak mungkin dapat meloloskan diri dan sekarang tentu sudah menjadi mayat seperti Pak-san-kui dan murid-muridnya.

“Terima kasih Kim Hong, terima kasih! Sungguh akulah yang tolol, dan aku sangat cinta padamu. Kim Hong, apakah engkau juga cinta kepadaku?”

Kim Hong menjatuhkan diri berlutut, berhadapan dengan pemuda itu. “Tolol, jika aku tidak cinta padamu, apa kau kira aku sudi menyerahkan diri tempo hari? Kalau aku dikalahkan oleh pria yang tidak kucinta, apa sukarnya bagiku untuk membunuh diri?”

“Kim Hong…”

Mereka lalu berpelukan, saling dekap dan saling cium dengan penuh kemesraan, dengan panas karena di situ mereka mencurahkan segenap kerinduan hati mereka yang mereka tahan-tahan selama ini. Mereka tidak mempedulikan lagi rumput basah air embun, bahkan rumput-rumput itu menjadi tilam pencurahan kasih asmara mereka di tempat sunyi itu. Mereka lupa akan segala dan tinggal di padang rumput itu sampai dua hari dua malam, setiap saat hanya bermain cinta, saling mencurahkan cinta birahi yang seolah-olah tidak pernah mengenal puas.

Senggama, perbuatan yang dilakukan oleh pria dan wanita, adalah sesuatu yang amat indah, sesuatu yang tak bisa terelakkan, sesuatu yang wajar, sesuatu yang mengandung kenikmatan lahir batin, sesuatu yang menjadi hal yang terutama dalam hubungan antara pria dan wanita di dunia ini. Juga merupakan suatu perbuatan yang amat suci, karena di dalamnya terkandung kemukjijatan besar, yaitu perkembang biakan manusia, penciptaan manusia di dalam rahim ibunya.

Sungguh sayang bahwa semenjak ribuan tahun, hal itu malah dianggap sebagai sesuatu yang harus dirahasiakan, sesuatu yang bahkan dianggap tidak pantas untuk dibicarakan, terutama sekali kepada anak-anak, kepada calon-calon manusia yang pada waktunya tak akan terbebas dari pada perbuatan itu pula.

Sementara bahkan ada pula pandangan dari orang-orang yang belum mengerti atau yang munafik, atau yang pura-pura mengerti, bahwa senggama adalah sebuah hal yang ‘kotor’ untuk dibicarakan. Mengapakah kita tak berani mengungkap peristiwa ini, perbuatan ini, malah banyak yang menganggapnya sebagai pantangan dan sebagai pelanggaran susila bila mana membicarakannya? Mengapa? Apakah karena di sanalah tersembunyi rahasia kelemahan kita, sesuatu yang membuat kita tak berdaya, sesuatu yang menghancurkan seluruh gambaran dari si ‘aku’?

Ataukah karena begitu saratnya kata senggama atau sex dengan hal-hal yang dianggap memalukan dan tidak pantas maka kata itu, penggambaran tentang hal itu dianggap tak layak dikemukakan kepada kita yang ‘berbudaya’, yang ‘sopan’, yang ‘bersusila’? Kenapa kita begitu munafiknya sehingga untuk membicarakan kita merasa malu, walau pun tidak seorang pun di antara kita yang tidak melakukannya? Membicarakan malu, akan tetapi tidak malu melakukannya, walau pun dengan sembunyi-sembunyi. Bukankah ini munafik namanya?

Memang, seperti juga orang makan, apa bila senggama dilakukan orang hanya sekedar untuk mengejar kesenangan belaka, hal itu dapat saja menjadi sesuatu yang tidak sehat dan buruk. Orang yang memasukkan sesuatu ke dalam perutnya melalui mulut, apa bila hanya terdorong oleh nafsu keinginan belaka, bukan tidak mungkin ‘makan’ lalu menjadi sesuatu yang buruk dan mungkin menimbulkan bermacam-macam penyakit.

Demikian pula dengan senggama, jika dilakukan hanya untuk menuruti nafsu keinginan, maka yang ada hanyalah nafsu birahi semata dan hal ini akan menimbulkan bermacam keburukan seperti pelacuran, perjinahan, perkosaan dan sebagainya. Akan tetapi, kalau senggama dilakukan dengan dasar cinta kasih, sebagai tuntutan lahir batin yang wajar, maka hubungan senggama merupakan hubungan puncak yang paling indah dan suci bagi pria dan wanita yang saling mencinta. Penumpahan rasa sayang, rasa cinta, rasa bersatu, yang amat agung.

Perbuatan apa pun yang dilakukan manusia, termasuk terutama sekali senggama, kalau dilakukan dengan dasar cinta kasih, maka perbuatan itu adalah benar, bersih, sehat, dan indah. Indah sekali! Karena perbuatan antara dua orang manusia itu dilakukan dengan penuh kesadaran, dengan penuh kerelaan, sedikit pun tidak terdapat kekerasan, di sana yang ada hanya kemesraan dan dorongan untuk saling membahagiakan.

Saling membahagiakan! Inilah senggama yang dilakukan dengan dasar saling mencinta. Bukan mencari kenikmatan melalui partnernya, sama sekali tidak. Bahkan kenikmatan itu datang karena ingin membahagiakan partnernya. Inilah senggama yang benar karena cinta kasih tidak akan ada selama diri sendiri ingin senang sendiri. Sayang sekali kalau hal yang teramat penting ini dilupakan orang.

Sekali lagi perlu kita semua ingat bahwa senggama hanyalah suci dan bersih apa bila dilakukan orang atas dasar cinta kasih! Tanpa adanya cinta kasih maka hal itu bisa saja terperosok kepada perbuatan maksiat yang kotor.

Pada hakekatnya, semua pengejaran kesenangan merupakan sesuatu yang kotor karena di situ juga terkandung kekerasan dalam usaha untuk mencapai apa yang dikejar, yaitu kesenangan tadi. Jadi, sangat perlulah bagi anak-anak kita untuk semenjak kecil sudah mengetahui dengan jelas bahwa senggama adalah hubungan yang paling mesra antara dua orang laki-laki dan wanita yang saling mencinta.

Saling mencinta! Bukan hanya saling tertarik oleh keadaan lahiriah belaka, seperti wajah cantik atau tampan, kedudukan, kepandaian, harta benda atau lainnya. Anak-anak kita perlu mengetahui bahwa hubungan itu adalah hubungan yang suci, yang mengandung kemukjijatan terciptanya manusia baru dan sumber perkembang biakan manusia.

Cabul? Mudah saja orang mempergunakan kata ini untuk dijadikan dalih sebagai penutup kemunafikannya. Semacam keranjang sampah untuk mencoba mengalihkan pandangan sendiri terhadap kekotoran diri sendiri yang masih mengeram di dalam batin. Kecabulan bukanlah terletak di luar, bukan melekat di dalam kata mau pun perbuatan, melainkan di dalam lubuk hati.

Cabulkah orang yang melukis wanita telanjang? Jangan dinilai dari lukisannya melainkan dijenguk dasar lubuk hati si pelukis yang kadang-kadang memang tergambar di dalam lukisannya. Kalau di waktu melukis batinnya membayangkan kecabulan, maka cabullah pelukis itu. Cabulkah orang yang menonton gambar wanita telanjang? Tergantung pula dari keadaan batin si penonton gambar itu. Baru cabul namanya jika di waktu menonton dia menggambarkan hal-hal yang cabul tentunya. Seorang mahasiswa kedokteran yang sedang mempelajari ilmu anatomi sambil memandang gambar orang telanjang, belajar dengan tekun, tentu tidak melihat kecabulan apa pun.

Kecabulan timbul dari pikiran. Pikiran yang sering kali mengenang-ngenang pengalaman-pengalaman yang nikmat, baik pengalaman sendiri mau pun pengalaman orang lain lewat buku-buku dan cerita-cerita. Sang Pikiran membayang-bayangkan semua kenikmatan itu sehingga timbullah keinginan, timbullah nafsu birahi tanpa adanya cinta kasih, dan nafsu birahi tanpa cinta kasih inilah kecabulan! Keinginan untuk memperoleh kenikmatan inilah yang menciptakan berbagai macam akal, demi mencapai kenikmatan sebanyak mungkin seperti yang dibayang-bayangkan oleh pikiran, oleh si ‘aku’ yang selalu ingin menyelam ke dalam kesenangan. Dan pengejaran kesenangan ini menimbulkan segala macam cara dan inilah sumber kecabulan! Juga kekerasan, juga kemaksiatan, juga kejahatan.

Jadi jelaslah bahwa sex itu sendiri bukanlah sesuatu yang cabul. Cabul tidaknya sesuatu itu tergantung dari dasar batin orang yang menonjolkannya atau juga dasar batin orang yang memandangnya.

Di antara segala perbuatan di dunia ini, satu-satunya yang membuat kita merasa bebas, satu-satunya yang melenyapkan perasaan si aku untuk sesaat, hanyalah sex itulah! Di sini tidak lagi terdapat si aku yang menikmati. Seluruh diri lahir batin lebur menjadi satu dengan kenikmatan itu sendiri.

Dan keadaan seperti itu, keadaan tanpa aku inilah yang merupakan kenikmatan tertinggi sehingga membuat sex menjadi sesuatu yang teramat penting dan terpenting di dalam kehidupan, membuat orang mendewa-dewakannya. Dan karenanya sex menjadi sebuah kesenangan, dan setelah menjadi kesenangan lantas menciptakan pengejarannya. Maka terjadilah hal-hal yang amat buruk.


Thian Sin dan Kim Hong lupa diri. Setelah berpisah, barulah kini mereka merasa betapa mereka itu saling membutuhkan, dan pertemuan yang mesra ini membuat ikatan di antara mereka menjadi semakin kuat. Walau pun tidak ada ikatan lahir seperti pernikahan dan sebagainya di antara mereka, namun di dalam batin, mereka saling mengikatkan diri…..

********************

“Sudah engkau pikirkan secara mendalamkah, Kong Liang?” Ibunya bertanya, suaranya mengandung kekerasan karena betapa pun Yap In Hong mencinta puteranya ini, namun apa yang dikemukakan puteranya itu sungguh tidak berkenan di hatinya. “Engkau harus ingat bahwa engkau adalah putera ketua Cin-ling-pai!”

“Ibu, apakah dalam hal ini ibu hendak menonjolkan kedudukan?” puteranya membantah. Kini Cia Kong Liang sudah berusia dua puluh empat tahun, sudah lebih dari dewasa dan pandangannya sudah luas walau pun dia mewarisi kekerasan hati ibunya.

“Bukan begitu maksudku, Liang-ji. Aku tidak menonjolkan kedudukan ayahmu, melainkan hendak mengingatkanmu bahwa ayahmu seorang pendekar besar. Ibumu pun sejak muda dikenal sebagai seorang pendekar dan engkau tentu maklum perdirian seorang pendekar, yaitu menentang kejahatan. Dan engkau tentu maklum pula siapa adanya Tung-hai-sian Bin Mo To itu! Engkau tentu telah mendengar perkumpulan macam apa yang dinamakan Mo-kiam-pang yang diketuai serta didirikan oleh Tung-hai-sian itu. Mereka itu menguasai seluruh dunia perbajakan.”

“Akan tetapi, ibu. Yang saya cinta dan yang saya ingin supaya menjadi jodohku bukanlah Tung-hai-sian, melainkan Nona Bin Biauw!” Pemuda itu berbicara penuh semangat, akan tetapi dia bertemu pandang dengan ayahnya sehingga sadar bahwa dia bicara terlampau keras kepada ibunya, maka langsung disambungnya dengan suara halus, “Ibu, aku tahu bahwa Tung-hai-sian adalah seorang datuk golongan sesat yang menguasai dunia timur. Akan tetapi saat aku menjadi tamu di sana, aku melihat benar bahwa sikap dan wataknya sama sekali tidak membayangkan orang yang berhati jahat. Kecuali itu, aku sama sekali tidak peduli akan keadaan orang tuanya, karena apakah kita harus menilai seseorang dari keadaan orang tuanya, ibu?”

“Betapa pun juga, orang tua serta keluarganya tidak mungkin dikesampingkan begitu saja, anakku. Aku tidak melarang, tidak menentang, hanya minta kebijaksanaanmu.”

Cia Bun Houw tidak dapat mendiamkan saja puteranya dan isterinya berbantahan seperti itu. Dia lalu menarik napas panjang dan berkata, “Sudahlah, setiap pendapat tentu saja didasari dengan perhitungan-perhitungan yang semuanya mengandung kebenaran. Akan tetapi betapa pun juga, pendapat akan bertemu dengan pendapat lain sehingga terjadilah perselisihan dan kalau sudah demikian, maka keduanya menjadi tidak benar lagi. Isteriku, betapa pun tepat semua pendirianmu tadi, akan tetapi kita harus selalu ingat bahwa suatu perjodohan adalah urusan yang sepenuhnya mengenai diri dua orang yang bersangkutan itu sendiri. Percampur tanganan orang lain, biar orang tua sendiri sekali pun, biasanya tak menguntungkan dan hanya menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Harap kau ingat akan hal ini.”

Tentu saja Yap In Hong ingat benar akan hal itu. Bukankah perjodohannya sendiri dengan suaminya itu pun mengalami hal-hal yang menimbulkan penyesalan, bahkan membuat suaminya itu terpaksa berpisah dari orang tua selama bertahun-tahun karena orang tua suaminya tidak menyetujui perjodohan suaminya dengannya?

Dia tahu betul akan hal ini, tahu bahwa sebenarnya dia tidak berhak menentang kehendak puteranya yang sudah jatuh cinta kepada puteri Tung-hai-sian. Akan tetapi tetap saja dia adalah seorang ibu, seorang wanita, dan alangkah sukarnya menerima kenyataan yang amat berlawanan dengan keinginan hatinya itu. Maka, mendengar ucapan suaminya yang tak dapat dibantah lagi kebenarannya itu, dia hanya menundukkan mukanya dan matanya menjadi basah.

Melihat ini, Bun Houw merasa kasihan terhadap isterinya. Mereka sudah mulai tua, sudah mendekati enam puluh tahun. Tentu saja isterinya itu ingin sekali melihat puteranya dapat berjodoh dengan seorang dara yang bisa memuaskan dan menyenangkan hati isterinya sebagai seorang ibu.

“Lagi pula, kita belum pernah melihat gadis itu, isteriku. Siapa tahu, pilihan Kong Liang memang tepat.”

Mendengar ini, Yap In Hong segera mengusap air mata dan menarik napas panjang, lalu mengangkat mukanya memandang kepada puteranya sambil memaksa senyuman penuh harapan. “Itulah harapanku, dan agaknya anak kita tidak akan memilih dengan membabi buta.”

Kong Liang sungguh maklum apa yang diusahakan oleh ayahnya dan maklum apa yang terjadi di dalam perasaan ibunya. Maka dia pun mendekati ibunya dan memegang lengan ibunya dengan penuh kasih.

“Percayalah, ibu, selama ini aku sudah bertemu dengan banyak wanita, akan tetapi dalam pandanganku, tidak ada yang dapat menyamai Nona Bin Biauw. Di samping cantik jelita, dia juga sangat lincah dan gagah perkasa, lesung pipit di kedua pipinya manis sekali, dan semua gerak-geriknya, pakaiannya, sangat sederhana, sama sekali tidak membayangkan sifat pesolek walau pun dia adalah anak orang kaya.”

Ibunya tersenyum. “Begitulah kalau sudah jatuh cinta. Dahulu ayahmu juga menganggap ibumu ini sebagai wanita paling cantik di dunia!”

“Tapi, ibu memang wanita paling hebat di dunia!” Kong Liang berseru. “Pilihan ayah sama sekali tidak keliru!”

Lenyaplah sudah semua kemasygulan dari hati Yap In Hong. Nenek ini lantas tersenyum dan berkata, “Tentu saja, karena aku ibumu! Dan kalau ayahmu dahulu tidak memilih aku, tentu tidak akan terlahir engkau!” Mereka bertiga tertawa-tawa gembira sehingga suasana menjadi tenang dan akrab kembali.

Akhirnya kedua orang tua itu terpaksa menyetujui kehendak Kong Liang karena mereka mulai melihat kenyataan betapa putera mereka memang sudah jatuh cinta kepada puteri Tung-hai-sian Bin Mo To. “Akan tetapi, sebaiknya kalau kita mengirim utusan saja,” kata Cia Bun Houw ketua Cin-ling-pai itu. “Biar pun engkau telah merasa yakin bahwa keluarga Bin itu akan menerima pinangan kita, Kong Liang, akan tetapi keyakinanmu itu hanyalah berdasarkan dugaan saja. Pula, siapa tahu kalau-kalau dara itu sudah dijodohkan dengan orang lain. Tentu saja engkau tidak ingin melihat ayah bundamu mengalami pukulan batin dan rasa malu kalau sampai pinangan ini gagal. Maka, sebaiknya pinangan ini dilakukan melalui surat dan utusan, jadi andai kata gagal sekali pun tidak langsung membikin malu.”

Kong Liang setuju dan dapat mengerti alasan yang diajukan ayahnya. Memang dia dapat membayangkan betapa akan terpukul rasa hati orang tuanya kalau melakukan pinangan sendiri, datang ke rumah Tung-hai-sian, kemudian pinangan mereka ditolak karena gadis itu telah ditunangkan dengan orang lain misalnya.

Demikianlah, ketua Cin-ling-pai itu lalu mengirim utusan yang membawa surat lamaran ke Ceng-tou di Propinsi Shan-tung. Dan tentu saja lamaran itu diterima dengan amat girang dan bangga oleh keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To.

Utusan itu dijamu penuh kehormatan, kemudian ketika mengirim jawaban yang menerima pinangan itu, Bin Mo To tidak lupa membekali banyak barang-barang berharga sebagai hadiah kepada keluarga Cia! Dia juga mengirim undangan agar keluarga itu datang untuk membicarakan penentuan hari pernikahan.

Sebelum menerima undangan calon besan ini, Cia Bun Houw berunding dengan isterinya dan puteranya. “Kong Liang, pernikahan bukanlah sebuah hal yang remeh sehingga patut dipertimbangkan dengan baik-baik agar kelak tidak akan menimbulkan penyesalan. Ibumu dan aku percaya bahwa engkau sudah jatuh cinta kepada Nona Bin Biauw, akan tetapi harus kau akui bahwa perkenalanmu dengan nona itu masih sangat dangkal. Oleh karena itu, demi kebaikan kalian berdua sendiri, seyogyanya kalau pernikahan kalian ditunda dulu selama beberapa bulan sehingga dalam masa pertunangan engkau dan juga kami dapat mengamati dan melihat bagaimana keadaan dan watak dari keluarga Bin. Karena selama belum menikah, masih belum terlambat untuk mengubah kalau terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki.”

Kong Liang menyetujui pendapat ayahnya, dan pada hari yang ditentukan, berangkatlah mereka menuju ke Ceng-tou memenuhi undangan Bin Mo To yang dalam kesempatan itu sekalian mengundang hampir semua tokoh kang-ouw karena dia hendak mengumumkan pertunangan puterinya dengan putera Cin-ling-pai dan tentu saja di dalam kesempatan ini dia yang merasa bangga bukan kepalang itu mendapatkan kesempatan untuk menikmati kebanggaannya.

Pada hari yang ditentukan itu, suasana dalam rumah gedung keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To sungguh sangat meriah. Rumah gedung besar itu dihias dengan indah, dan semua anak buahnya, yaitu para anggota Mo-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan) nampak sibuk sekali.

Tamu-tamu berdatangan dari segenap penjuru dan diterima oleh murid-murid kepala atau tokoh-tokoh Mo-kiam-pang yang mewakili pihak tuan rumah. Sementara itu, keluarga Bin Mo To sendiri sibuk melayani keluarga Cia yang sudah datang lebih dahulu dan terjadilah pertemuan ramah tamah di dalam gedung, di mana keluarga Cia disambut dengan penuh kehormatan, keramahan dan kegembiraan.

Tung-hai-sian Bin Mo To merasa berbahagia dan bangga bukan kepalang. Hal ini tidaklah mengherankan. Dia adalah seorang Jepang, sungguh pun keturunan samurai sekali pun, namun tetap merupakan seorang asing, orang Jepang yang selalu dianggap rendah oleh bangsa Han, dianggap sebagai pelarian, sebagai bangsa biadab dan digolongkan sebagai bangsa bajak dan perampok! Dan betapa pun juga, tak dapat diingkari bahwa dia adalah seorang datuk golongan hitam, seorang tokoh besar dalam dunia penjahat yang biasanya dipandang rendah dan dimusuhi oleh para pendekar.

Dan sekarang, dia hendak berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, sebuah partai persilatan besar yang sangat disegani. Puteri tunggalnya ternyata berjodoh dengan putera tunggal ketua Cin-ling-pai! Tentu saja hal ini merupakan penghormatan besar sekali baginya dan akan mengangkat namanya ke tempat tinggi dalam pandangan dunia kang-ouw dan para pendekar.

Karena itu, biar pun pesta yang diadakan itu hanya untuk merayakan pertunangan, bukan pernikahan, namun dia mengerahkan harta bendanya untuk membuat pesta yang besar dan meriah sekali, dan mengirim undangan ke segenap pelosok. Semua tokoh besar dari semua kalangan, baik itu merupakan kaum liok-lim, kang-ouw atau pun kaum pendekar, semuanya dikirimi undangan.

Maka, pada hari yang telah ditentukan, tempat tinggal keluarga Tung-hai-sian Bin Mo To atau nama aslinya Minamoto itu dibanjiri oleh tamu dari berbagai golongan. Bukan hanya gedung yang memiliki ruangan depan sangat luas itu yang penuh, bahkan di pekarangan depan yang lebih luas lagi yang kini dibangun atap darurat, juga penuh dengan para tamu.

Minuman berlimpahan berikut kue-kue ringan disuguhkan sebelum hidangan dikeluarkan, dan tempat itu amat berisik dengan suara para tamu yang bercakap-cakap sendiri antara teman semeja. Suara berisik para tamu ini bahkan mengatasi suara musik yang sejak tadi pagi telah dibunyikan oleh rombongan musik.

Semua wajah kelihatan gembira seperti biasanya tampak di dalam pesta perayaan seperti itu, di mana para tamu bergembira karena minuman yang memasuki perut dan mendapat kesempatan berjumpa dengan teman-teman dan kenalan-kenalan yang duduk satu meja. Kelompok memilih kelompok, dan setiap pendatang baru mengangkat muka melihat-lihat untuk mencari kelompoknya sendiri-sendiri, atau mencari orang-orang yang mereka kenal baik.

Dengan wajah penuh senyum, mata bersinar-sinar dan muka yang berseri-seri, Bin Mo To sendiri sudah keluar ke tempat kehormatan di atas panggung, sambil mengiringkan tamu kehormatan, yaitu keluarga Cia. Dan untuk keperluan ini Bin Mo To tidak ingin melupakan asal-usulnya, maka dia mengenakan pakaian tradisional Jepang, dengan jubah lebar dan sandal jepit berhak tinggi dan tebal.

Kepalanya yang agak botak itu licin, rambutnya digelung ke atas dan dihias dengan tusuk konde emas permata. Pedang samurainya tergantung di pinggang, dengan sarung pedang berukir dan berwarna-warni seperti juga pakaiannya. Dia nampak gagah sekali dan ketika berjalan, tubuhnya yang pendek tegap itu berlenggang seperti langkah seekor harimau.

Isterinya yang pertama berjalan bersama dengan isteri ke dua, yaitu wanita Korea yang menjadi ibu kandung Bin Biauw. Hanya isteri pertama dan isteri ke dua inilah yang hadir secara resmi, sedangkan belasan isterinya yang lain sibuk di dapur, tapi akhirnya mereka juga muncul di pinggiran.

Bagaimana pun juga, Bin Mo To merasa amat sungkan untuk menonjolkan belasan orang selirnya itu. Isterinya yang tertua sudah berusia hampir enam puluh tahun, juga seorang wanita Jepang yang pendek. Akan tetapi isterinya yang ke dua, ibu kandung Bin Biauw, adalah seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi semampai dan masih nampak cantik dengan pakaian Korea yang khas.

Bin Biauw sendiri berjalan bersama ibunya. Dara ini nampak cantik jelita dan manis sekali, juga gagah. Karena perayaan pertunangan itu tidak diadakan upacara resmi, maka ia pun berpakaian sebagai seorang pendekar wanita bangsa Han, walau pun rambutnya sama dengan gelung rambut ibunya, yaitu gelung rambut seorang puteri bangsa Korea, dengan tusuk konde yang panjang melintang ke kanan kiri dihias ronce-ronce yang indah.

Untung bahwa dara ini mempunyai bentuk tubuh menurun ibunya, tidak seperti ayahnya. Tubuhnya ramping dan biar pun dia menjadi tokoh utama di dalam pesta itu karena pesta itu untuk hari pertunangannya, tapi pakaiannya yang indah itu tidak terlampau menyolok, bahkan mukanya tidak dibedaki terlalu tebal dan juga tidak memakai gincu dan pemerah pipi. Memang tidak perlu, karena kedua pipinya sudah merah dan segar membasah. Dara ini memang manis sekali dan dalam pertemuannya dengan calon menantu ini, diam-diam Yap In Hong sendiri pun merasa amat puas.

Suami isteri pendekar dari Cin-ling-san itu sendiri, yang menjadi tamu-tamu kehormatan, segera menjadi pusat perhatian orang. Pendekar Cia Bun Houw, ketua Cin-ling-pai itu biar pun usianya sudah enam puluh tahun namun masih nampak gagah dan jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya. Pakaiannya sederhana berwarna abu-abu dan nampak amat berwibawa meski pun wajahnya tersenyum ramah dan langkahnya tegap. Dia tidak nampak membawa senjata. Akan tetapi pada saat itu pedang Hong-cu-kiam menjadi ikat pinggang atau sabuknya.

Isterinya, Yap In Hong, yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu, juga berpakaian sederhana dan nyonya tua ini juga masih kelihatan gesit dan padat tubuhnya, bertangan kosong pula dan sepasang matanya amat tajam.

Dibandingkan dengan ayah bundanya Cia Kong Liang berpakaian lebih mewah dan rapi. Di punggungnya nampak gagang pedang dan langkahnya tegap, dadanya yang bidang itu agak membusung dan sepintas lalu nampak bahwa pemuda ini memiliki sikap yang agak tinggi hati. Betapa pun juga, harus diakui bahwa dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah, tidak mengecewakan menjadi putera tunggal ketua Cin-ling-pai.

Tempat pesta sudah penuh oleh tamu dari berbagai kalangan. Memang sudah disediakan tempat yang bertingkat-tingkat, disesuaikan dengan kedudukan dan tingkat para tamu. Di barisan pertama nampak duduk wakil-wakil dari partai persilatan besar dan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw dan liok-lim, juga tokoh-tokoh besar dari dunia persilatan.

Semua tempat sudah penuh, dan yang paling ramai dan riuh adalah bagian terbelakang di mana berkumpul orang-orang muda yang termasuk tingkatan paling rendah, yaitu anak murid atau anggota-anggota dari berbagai perkumpulan silat. Juga tamu umum yang tidak begitu menonjol dalam dunia persilatan kebagian tempat di sini sehingga tempat itu penuh dengan orang-orang berbagai golongan yang tak saling mengenal.

Tung-hai-sian Bin Mo To bangkit berdiri dan menjura ke arah suami isteri yang menjadi besannya itu. Dia berjalan ke pinggir panggung menghadapi semua tamunya, maka suara yang berisik itu pun perlahan-lahan berhenti. Tuan rumah yang bertubuh pendek tegap ini berdiri dengan sepasang kaki terpentang, lantas dia mengangkat dua tangannya ke atas memberi isyarat agar para tamu tenang dan bahwa dia minta perhatian. Setelah suasana menjadi sunyi, barulah kakek pendek ini mengeluarkan suaranya yang terdengar lantang, tegas, namun dengan nada suara yang agak kaku dengan lidah asingnya itu.

“Saudara sekalian yang terhormat dan yang gagah perkasa! Kami berterima kasih sekali bahwa cu-wi telah memenuhi undangan kami dan kami merasa bergembira bahwa hari ini kita semua dapat berkumpul dalam suasana gembira. Seperti cu-wi sudah ketahui, pesta ini dirayakan untuk menyambut hari pertunangan anak kami, yaitu Bin Biauw, yang mulai saat ini sudah dijodohkan dengan Cia Kong Liang, putera tunggal dari ketua Cin-ling-pai, yang terhormat Saudara Cia Bun Houw dan isterinya.”

Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut pengumuman ini dan wajah kakek pendek itu berseri gembira. Dia membiarkan sambutan sorak-sorai itu beberapa lamanya, kemudian dia mengangkat kedua tangan mohon perhatian. Suasana kembali menjadi hening ketika orang-orang menghentikan sorak-sorainya.

“Bagi kami, ikatan perjodohan ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan yang teramat besar. Untuk menghormati kedudukan besan kami yang menjadi ketua Cin-ling-pai, maka kami pun tahu diri dan berusaha untuk menyesuaikan diri. Mulai saat ini juga kami hendak mencuci tangan membersihkan diri supaya tidak sampai menodai nama mantu dan besan kami yang terhormat. Oleh karena itu, kami mohon hendaknya cu-wi menjadi saksi akan peristiwa yang terjadi ini!” Si Pendek ini kemudian mengangkat tangan kanannya memberi isyarat kepada anak buahnya.

Delapan orang yang berpakaian seragam hitam, yaitu para anggota dari Mo-kiam-pang, segera bergerak maju, memberi hormat kepada ketua mereka lalu mereka melangkah ke arah papan nama yang tergantung di depan. Sebuah papan nama yang bertuliskan MO KIAM PANG dari papan hitam dengan huruf perak, amat megah nampaknya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner