PENDEKAR SADIS : JILID-51


Ketika delapan orang itu berjalan tiba di depan dan bawah papan nama besar itu, mereka menggerakkan tangan dan nampaklah bayangan pedang berkelebat menyambar ke atas ke arah kawat yang menggantung papan nama itu. Tentu saja papan nama itu terlepas dan jatuh ke bawah, diterima oleh tangan delapan orang itu, yang membawa papan nama itu kepada Tung-hai-sian.

Sejenak kakek ini menatap papan nama itu dengan muka yang agak pucat, tanda bahwa perasaannya terguncang, kemudian dia menarik napas panjang lantas begitu tangannya bergerak, nampaklah bayangan samurai berkelebat disusul bunyi keras dan papan nama yang terpegang oleh delapan orang itu runtuh ke bawah menjadi kepingan-kepingan kayu yang tidak terhitung banyaknya! Kemudian, tanpa dapat diikuti pandang mata bagaimana pedang samurai itu sudah kembali ke sarungnya, Bin Mo To sudah menjura kepada para tamunya dan berkata,

“Mulai saat ini juga Mo-kiam-pang telah tidak ada lagi. Para bekas anggota Mo-kiam-pang diperbolehkan memilih. Pulang ke tempat asal mereka atau tetap menjadi pembantu kami, dalam hal ini membantu perusahaan perdagangan kami.”

Tentu saja perbuatan Tung-hai-sian itu membuat semua orang melongo. Tak disangkanya bahwa datuk ini akan membubarkan perkumpulannya demikian saja. Dan pembubaran ini berarti bahwa semua bajak dan perampok di daerah pesisir itu telah dibebaskan, tidak lagi berada di bawah pengamatan serta perlindungan Mo-kiam-pang! Benar-benar merupakan peristiwa besar yang mengejutkan, baik pihak kaum sesat mau pun kaum pendekar.

Akan tetapi, mereka merasa lebih terkejut lagi ketika kembali Tung-hai-sian mengangkat kedua tangannya, kemudian suaranya mengatasi semua kegaduhan, “Harap cu-wi suka mendengarkan sebuah pengumuman lagi dari kami!”

Semua orang lalu memandang dan suasana menjadi sunyi. “Cu-wi yang terhormat, mulai detik ini, bukan hanya Mo-kiam-pang yang bubar, akan tetapi juga tidak ada lagi sebutan Tung-hai-sian, dan tak ada pula sebutan Datuk Dunia Timur! Mulai saat ini saya hanyalah seorang saudagar biasa saja yang bernama Bin Mo To. Saya sudah mencuci tangan dan melepaskan diri dari dunia kang-ouw!”

Pengumuman ini benar-benar mengejutkan semua orang. Orang bisa saja membubarkan perkumpulan, akan tetapi mana mungkin meninggalkan julukan serta nama besar sebagai Datuk Dunia Timur? Tentu saja, kalau pihak para pendekar mengangguk-angguk dengan hati kagum dan memuji, sebaliknya para tokoh dunia hitam mengerutkan alisnya.

Mereka akan kehilangan seorang tokoh dan berarti bahwa golongan mereka kini menjadi lemah. Apa lagi tiga orang datuk lain telah tumbang, Lam-sin tak lagi terdengar beritanya dan kabarnya lenyap tanpa meninggalkan jejak. See-thian-ong telah tewas, demikian pula Pak-san-kui, tewas di tangan Pendekar Sadis seorang yang agaknya berdiri di pihak para pendekar sebab memusuhi para datuk kaum sesat, akan tetapi yang kekejamannya justru melebihi kekejaman golongan sesat yang mana pun juga! Di antara empat datuk, hanya tinggal Tung-hai-sian dan kini datuk ini pun mengundurkan diri.

Karena merasa penasaran, seorang tokoh kaum sesat yang hadir di sana bangkit berdiri lantas berseru, “Locianpwe Tung-hai-sian meninggalkan kedudukannya tanpa alasan yang jelas, apakah gentar oleh munculnya Pendekar Sadis?”

Ucapan ini mendatangkan ketegangan di antara para tamu. Memang berita tentang para datuk yang diserbu dan bahkan sampai tewas oleh Pendekar Sadis, sudah tersiar sampai ke mana-mana. Menurut berita itu, See-thian-ong dan Pak-san-kui, bersama murid-murid mereka, semua tewas oleh Pendekar Sadis, sedangkan Lam-sin dikabarkan lenyap tanpa meninggalkan jejak setelah pendekar itu muncul pula di selatan.

Melihat sepak terjang Pendekar Sadis yang memusuhi para datuk, maka semua orang tentu saja dapat menduga bahwa pada suatu hari tentu pendekar itu akan muncul di timur untuk menghadapi dan menandingi datuk timur Tung-hai-sian Bin Mo To. Inilah sebabnya mengapa ucapan tokoh kaum sesat itu mendatangkan ketegangan hingga semua orang memandang kepada pembicara itu sebelum mereka semua menoleh dan memandang ke arah tuan rumah yang wajahnya segera berubah merah karena pertanyaan yang sifatnya menyerang dan menyudutkannya itu.

“Aha, kiranya Giok Lian-cu Totiang yang tadi mengajukan pertanyaan kepada kami,” kata datuk itu sambil tersenyum penuh kesabaran, walau pun hatinya mendongkol bukan main. Baru saja dia menyatakan melepaskan kedudukannya, orang sudah berani memandang rendah kepadanya seperti itu!

“Benar, pinto adalah Giok Lian-cu, akan tetapi dalam hal pertanyaan yang pinto ajukan ini, katakanlah bahwa pinto mewakili seluruh tokoh kang-ouw dan kami semua mengharapkan jawaban locianpwe secara terus terang.”

Bagaimana pun juga para tamu merasa senang mendengar ini karena rata-rata mereka pun merasa tidak puas dan ingin sekali tahu apa yang mendorong atau memaksa datuk itu meninggalkan kedudukannya serta melepaskan julukan semudah itu. Padahal, semua tokoh maklum belaka betapa sukarnya mencapai kedudukan tinggi seperti Tung-hai-sian dan julukannya itu tidak diperolehnya secara mudah.

“Tadi sudah kunyatakan bahwa sesudah keluarga kami berbesan dengan keluarga ketua Cin-ling-pai, maka kami menyadari sepenuhnya bahwa tak mungkin lagi kami melanjutkan kedudukan lama kami. Bagaimana pun juga, kami harus menghormati kedudukan ketua Cin-ling-pai. Karena itu, demi kebahagiaan puteri kami, maka kami rela mencuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia kang-ouw, dan menjadi seorang berdagang biasa saja. Tidak ada persoalan gentar kepada siapa pun juga.”

“Bohong! Ucapan bohong dan memang Tung-hai-sian telah menjadi seorang penakut!”

Ucapan suara wanita ini tentu saja mengejutkan semua orang sehingga semua mata lalu memandang ke arah wanita yang berani bicara seperti itu. Orang-orang menjadi semakin heran ketika melihat bahwa yang berbicara itu hanyalah seorang dara muda remaja yang duduk di antara tamu tingkat paling rendah! Dara itu kini sudah bangkit berdiri dan orang yang memandangnya bukan hanya terheran karena keberaniannya, melainkan terutama sekali terpesona oleh kecantikannya.

Seorang dara yang cantik jelita dan manis sekali, bahkan agaknya tidak kalah cantiknya dibandingkan dengan Nona Bin Biauw yang menjadi bunga perayaan saat itu. Kulit muka, leher dan tangannya tampak putih mulus, dengan sepasang mata yang tajam mencorong, mulut manis yang selalu tersenyum dan pada saat itu senyumannya mengandung ejekan, kedua tangannya bertolak pinggang, menekan kanan kiri pinggang yang amat ramping itu. Sikapnya gagah dan sedikit pun dia tidak kelihatan malu-malu atau takut-takut, padahal seluruh pandangan mata para tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw, liok-lim dan para pendekar itu ditujukan kepadanya.

Tung-hai-sian Bin Mo To memandang pada gadis itu dan dia mengerutkan alisnya karena dia tak merasa mengenal gadis ini. Tahulah dia bahwa gadis ini memang sengaja mencari gara-gara, dan mungkin gadis itu adalah salah seorang di antara kaki tangan para tokoh yang merasa tidak puas dengan pengunduran dirinya. Dia tahu bahwa banyak pihak, di antaranya pihak Pek-lian-kauw yang tadi diwakili oleh Giok Lian-cu, merasa terpukul dan dirugikan kalau dia mengundurkan diri dari dunia hitam.

Akan tetapi, karena yang memakinya bohong dan penakut hanyalah seorang gadis muda remaja, sebagai orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi, tentu saja terpaksa Bin Mo To menahan kembali kemarahannya. Dia memaksa senyum lantas berkata dengan suara yang cukup sabar dan tenang.

“Agaknya nona ingin mengatakan sesuatu. Silakan dan hendaknya lebih dulu nona suka memperkenalkan diri kepada kami dan para tamu yang tentu ingin sekali mengenal siapa adanya nona.” Dengan ucapan ini, Bin Mo To telah menempatkan dirinya di tempat terang dan seperti memaksa gadis itu untuk memperkenalkan diri karena kalau tidak tentu gadis itu akan nampak tolol dan juga bersalah sekali.

Akan tetapi, tiba-tiba dara itu mengeluarkan suara ketawa yang merdu dan manis sekali, kemudian tubuhnya telah melayang dengan gerakan yang mengejutkan orang karena dia seperti terbang melayang, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke atas papan panggung dan sudah berhadapan dengan Tung-hai-sian Bin Mo To. Gerakan ini tentu dikenal oleh para ahli silat yang hadir sebagai gerakan yang mengandung ilmu ginkang yang sangat tinggi.

Melihat ini, Bin Mo To juga terkejut. Ginkang seperti ini hanya dimiliki oleh seorang ahli silat yang tingkatnya telah tinggi. Maka, dia pun tak berani memandang rendah dan cepat dia menyambut dengan sikap hormat.

“Kiranya nona adalah seorang muda yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi! Maaf kalau sebagai tuan rumah yang telah tua kami tak mengenal pendekar muda dan penyambutan kami kurang menghormat. Harap nona suka memperkenalkan diri dan mengeluarkan isi hati nona.”

“Aku bernama Toan Kim Hong. Mengapa aku mengatakan bahwa Tung-hai-sian menjadi penakut? Karena memang agaknya dia sengaja hendak menghindar dari Pendekar Sadis! Sudah menjadi ketetapan hati pendekar itu hendak menumbangkan empat orang datuk di dunia ini. Lam-sin, datuk selatan telah kalah olehnya, juga See-thian-ong datuk barat dan Pak-san-kui datuk utara. Kini tinggal Tung-hai-sian seorang yang akan diajak bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Akan tetapi, begitu dia muncul, Tung-hai-sian mengundurkan diri! Bukankah ini berarti bahwa datuk timur telah kehilangan nyalinya dan menjadi seorang penakut?”

Wajah Tung-hai-sian menjadi merah. Kalau saja hal ini terjadi kemarin sebelum puterinya bertunangan dengan putera ketua Cin-ling-pai, tentu dia langsung mencabut samurainya untuk menghajar orang yang berani menghinanya seperti itu. Akan tetapi, demi puterinya, dia harus menelan semua penghinaan itu agar tidak sampai terpancing. Bukankah orang yang kini kedudukannya hanyalah sebagai pedagang tidak boleh sembarangan mencabut senjata dan mempergunakan kekerasan? Apalah artinya dia mengundurkan diri dari dunia kang-ouw dan melepaskan kedudukan dan julukannya kalau dia masih suka menyambut dan mempergunakan kekerasan? Sebab itu, dengan mengerahkan kekuatan batinnya, dia memaksa sebuah senyum pahit.

“Nona, aku tidak mengenal Pendekar Sadis, tidak mempunyai urusan dengan dia sama sekali. Sedangkan di waktu aku masih menjadi Tung-hai-sian sekali pun belum tentu aku mau melayani dia bertempur tanpa sebab-sebab yang jelas, apa lagi sekarang sesudah aku menanggalkan semua itu dan menjadi seorang pedagang biasa.”

Khawatir gagal membangkitkan kemarahan tuan rumah untuk diadu dengan Thian Sin, Kim Hong mengerutkan alisnya. Ia datang ke tempat itu bersama Thian Sin, menyelundup di antara para tamu muda yang duduk berbondong-bondong di bagian tamu umum.

Pada waktu Thian Sin mendapat kenyataan betapa Tung-hai-sian sedang merayakan hari pertunangan puterinya dan bahwa puterinya itu ditunangkan dengan pamannya, yaitu Cia Kong Liang, dan melihat pula betapa ketua Cin-ling-pai beserta isterinya berada di situ, hatinya sudah merasa amat sungkan dan malu. Dia tidak bermaksud melanjutkan niatnya menantang Tung-hai-sian, setidaknya bukan pada waktu itu. Akan tetapi Kim Hong yang tidak mempedulikan semua itu telah mendahuluinya dan menantang Tung-hai-sian hingga Thian Sin terpaksa hanya menonton saja dengan hati berdebar tegang dan merasa serba salah.

“Tung-hai-sian! Kini Pendekar Sadis sudah berada di sini dan menantangmu, tidak peduli engkau mau memakai nama Tung-hai-sian atau Bin Mo To, atau juga seorang pedagang tak bernama! Pendeknya, apa bila engkau tidak berani, katakan saja bahwa engkau takut menghadapi dan melawan Pendekar Sadis, baru aku akan pergi dari sini dan membawa kesan bahwa yang bernama Tung-hai-sian Bin Mo To bukan lain hanyalah seorang kakek yang penakut!”

Wajah Bin Mo To menjadi pucat sekali dan selagi dia bingung untuk menguasai dirinya yang dibakar kemarahan, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. “Perempuan hina, berani engkau mengacau tempat kami?”

Dan nampaklah sinar pedang berkelebat ketika Bin Biauw telah meloncat dan menyerang Kim Hong dengan tusukan pedangnya yang mengarah ke lehernya. Akan tetapi ayahnya sudah menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang itu, menahan serangan puterinya.

“Anakku, hari ini merupakan hari baikmu, tidak sepantasnya kalau engkau terjun ke dalam perkelahian. Duduklah kembali, Biauw-ji,” kata Bin Mo To dengan suara lemah lembut dan penuh kasih sayang.

“Hemm, anaknya jauh lebih gagah dari pada ayahnya!” Kirn Hong sengaja mengejek dan dia memang merasa kagum melihat kecantikan Bin Biauw tadi.

Akan tetapi sebelum Bin Biauw kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda bertubuh tegap gagah perkasa dengan pakaian yang rapi, seorang berpotongan pendekar sejati, dengan pedang di punggung, tampan dan ganteng, sikapnya angkuh namun berwibawa.

“Biauw-moi, biarkan aku menghadapi perempuan liar ini!”

Melihat bahwa yang maju adalah calon mantunya, Bin Mo To merasa girang dan bangga. Dia sendiri tentu saja tak merasa gentar menghadapi wanita itu biar pun disebutnya nama Pendekar Sadis membuat hatinya terasa agak tidak enak. Akan tetapi dengan munculnya menantunya yang dia tahu amat lihai, apa lagi ketika itu di situ hadir pula besannya, yaitu ketua Cin-ling-pai, hatinya menjadi besar, maka dia pun tersenyum dan berkata kepada calon mantunya, “Harap engkau berhati-hati.” Lalu dia pun mengajak puterinya kembali ke tempat duduk mereka.

Sekarang Cia Kong Liang telah berhadapan dengan Kim Hong yang agak terpesona oleh pemuda yang gagah perkasa dan ganteng ini. Kim Hong memandang pemuda itu tanpa menyembunyikan rasa kagumnya. Sambil tersenyum manis dia pun berkata,

“Ahhh, kiranya inikah putera ketua Cin-ling-pai yang menjadi mantu Tung-hai-sian Bin Mo To? Hebat! Sungguh pandai sekali Tung-hai-sian memilih menantu!” katanya dan semua orang yang mendengar menjadi semakin heran. Gadis itu berbicara tentang Tung-hai-sian seolah-olah kakek yang menjadi datuk itu hanyalah orang yang setingkat dengan dirinya saja.

Kong Liang tidak mau banyak bicara dengan wanita cantik itu. “Engkau tadi mengatakan bahwa kini Pendekar Sadis sudah muncul untuk mengacau di sini. Nah, akulah lawannya sebab aku yang mewakili tuan rumah, Locianpwe Bin Mo To untuk menghadapi Pendekar Sadis. Sudah lama aku mendengar mengenai kekejamannya dan hari ini aku ingin sekali untuk merasakan sampai di mana sebenarnya kelihaian orang kejam itu!”

Kim Hong tersenyum dan menjadi semakin kagum dengan kegagahan sikap pemuda ini. “Hemmm, tentunya kau she Cia, bukan? Aku mendengar bahwa keluarga Cia, ketua dari Cin-ling-pai merupakan pendekar-pendekar sakti yang berilmu sangat tinggi. Akan tetapi, munculnya Pendekar Sadis di sini adalah untuk menandingi Tung-hai-sian, bukan orang lain. Kalau orang lain yang hendak maju, maka akulah lawannya!”

Cia Kong Liang mengerutkan alisnya. “Engkau seorang wanita yang sombong sekali. Aku tak peduli siapa yang akan maju, Pendekar Sadis atau antek-anteknya, pendeknya siapa pun yang hendak mengacaukan perayaan hari ini, biarlah dia boleh berhadapan dengan aku!” Sambil berkata demikian, Kong Liang telah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang terbuat dari bahan yang sangat baik dan mengeluarkan sinar kebiruan tanda bahwa pedang itu amat tajam dan kuat. Dengan pedang melintang di depan dadanya, Kong Liang menanti, sikapnya siap untuk bertanding.

Kim Hong memandang kagum. Sungguh seorang pemuda yang pilihan, pikirnya. Tampan, ganteng, dan gagah perkasa. Pantas menjadi putera ketua Cin-ling-pai yang kesaktiannya telah amat terkenal itu. Maka timbullah kegembiraannya sehingga dia pun ingin mencoba kepandaian pemuda ganteng itu. Pula, dia pun mengerti bahwa Thian Sin akan merasa sungkan kalau harus melawan pemuda ini yang menurut penuturan kekasihnya itu, masih terhitung paman sendiri.

“Bagus! Cia-taihiap, mari kita main-main sebentar!” katanya dengan manis kemudian dia pun sudah mencabut sepasang pedangnya yang mengeluarkan sinar hitam mengerikan.

Sikap Kim Hong seperti tengah menghadapi suatu permainan atau pertunjukan yang amat menarik saja, sama sekali tidak nampak tegang atau khawatir, seakan-akan dia tidak tahu bahwa dia telah menantang putera tunggal ketua Cin-ling-pai! Kong Liang sendiri merasa mendongkol bukan main. Perempuan sombong ini memang perlu dihajar, pikirnya. Kalau tidak, maka tentu nama baik calon mertuanya akan tercemar.

“Ingat, nona, engkau sendiri yang datang mencari keributan, bukan kami!” berkata Kong Liang sambil memutar pedangnya ke atas kepala sehingga pedang itu berubah menjadi gulungan sinar kebiruan.

“Hik-hik, jangan khawatir. Memang aku datang untuk membikin ribut!” tantang Kim Hong yang juga sudah bergerak, memasang kuda-kuda yang manis sekali, kaki kanan diangkat dan ditekuk, tubuhnya tegak lurus. Pedang kanannya menuding ke atas dada, mulutnya tersenyum dan matanya mengerling ke arah lawan karena mukanya menghadap ke kiri.

“Lihat serangan!” Kong Liang yang bagaimana pun juga merasa tak enak harus melawan seorang dara muda, lalu membentak dan mulai dengan membuka serangan pertama. Kim Hong segera menangkis dengan pedang kirinya sambil mengerahkan tenaga karena dia melihat betapa serangan lawan itu mengandung sinkang yang kuat.

“Cringgg…!”

Kong Liang yang tadi hanya mengeluarkan setengah tenaganya, menjadi terkejut karena pedangnya tergetar hebat. Tahulah dia bahwa lawannya itu, walau pun hanya merupakan seorang wanita muda, namun memiliki sinkang yang kuat. Maka dia pun menyerang lagi, sekali ini mengerahkan seluruh tenaganya. Kim Hong yang agaknya hendak mengukur tenaga lawan, kembali menangkis.

“Tranggg…!”

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dengan sangat kerasnya dua batang pedang itu bertemu, lantas pedang kanan Kim Hong sudah meluncur ke depan dengan cepatnya menuju ke tenggorokan Kong Liang!

Pemuda ini terkejut. Pertemuan pedang tadi, yang digerakkan dengan sepenuh tenaga, ternyata ditangkis oleh tenaga yang tak kalah kuatnya, bahkan di saat berikutnya, pedang ke dua dari lawannya telah menusuk ke arah tenggorokannya. Dia cepat-cepat miringkan kepala, memutar kaki dan membalas dengan sabetan pedang dari samping. Kembali Kim Hong menangkis.

“Bagus!” Kong Liang memuji dengan sejujurnya.

Mulailah dia menggerakkan pedangnya dengan jurus-jurus dari Siang-bhok Kiam-sut yang hebat. Ilmu Pedang Kayu Harum ini adalah ilmu inti dari Cin-ling-pai, maka kehebatannya bukan main. Aslinya dimainkan oleh pedang kayu, akan tetapi untuk mencapai tingkat ini bukanlah mudah sehingga Kong Liang sendiri pun tidak mampu jika harus menggunakan pedang kayu, maka sebagai gantinya dia mainkan ilmu itu dengan pedang baja. Biar pun tidak sehebat kalau ayahnya bermain pedang kayu, akan tetapi ilmu pedang pemuda ini sudah hebat bukan main.

Melihat gerakan-gerakan aneh dan indah sekali ini, Kim Hong sendiri terkejut dan kagum. Dia merasa amat tertarik sehingga untuk belasan jurus lamanya dia hanya mengelak dan menangkis sambil memperhatikan gerakan lawan.

“Bagus sekali! Inikah Siang-bhok Kiam-sut dari Cin-ling-pai? Hebat… hebat… hebat…!”

Dia menangkis kembali dan mulai membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Kini sepasang pedangnya sudah membentuk dua gulungan sinar hitam yang melingkar-lingkar seperti dua ekor naga hitam yang menyambar-nyambar. Dia pun segera mainkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Hok-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Penakluk Iblis) dan karena dia memiliki ginkang yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan Kong Liang maka gerakannya amat cepat dan cukup membuat Kong Liang menjadi bingung.

Pemuda ini cepat mengubah permainan pedangnya dan menggunakan gerakan Thai-kek Sin-kun untuk melindungi dirinya. Memang hanya ilmu inilah yang dapat digunakan untuk melindungi dirinya terhadap desakan lawan yang lihai. Akan tetapi, karena mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga untuk melindungi diri, dengan sendirinya Kong Liang tidak dapat membalas dan mulailah dia terdesak dengan hebat.

Kim Hong yang merasa gembira sekali itu sudah mengerahkan seluruh tenaganya sambil mengeluarkan semua kepandaiannya, maka tentu saja Kong Liang menjadi repot karena bagaimana pun juga, tingkat kepandaian Kim Hong yang pernah menjadi Lam-sin datuk selatan itu masih lebih tinggi dari tingkatnya!

Semua orang, termasuk juga Bin Mo To, dan bahkan Cia Bun Houw dan Yap In Hong, terkejut bukan kepalang melihat kenyataan yang pahit ini. Tidak pernah ada yang mengira bahwa gadis muda yang sama sekali tidak terkenal itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebatnya sehingga putera ketua Cin-ling-pai yang sangat lihai itu pun menjadi kewalahan!

Yap In Hong yang melihat puteranya terdesak, sudah hendak bangkit, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat. Akan tetapi suaminya menyentuh lengannya, maka dia pun teringat bahwa kalau sampai dia bangkit membantu puteranya, maka tentu saja hal itu akan mencemarkan nama besar Cin-ling-pai. Mana mungkin keluarga Cin-ling-pai main keroyok!

Akan tetapi pandangan mata Cia Bun Houw lebih tajam lagi. Dia memang dapat melihat bahwa dara itu bukan orang sembarangan, dan terutama sekali dalam hal ginkang, wanita itu jauh mengatasi puteranya. Puteranya akan kalah, akan tetapi betapa pun juga Kong Liang telah memiliki dasar yang amat kokoh kuat maka tidak mungkin dapat celaka begitu saja dan di samping itu, agaknya wanita itu pun tak bermaksud jahat terhadap puteranya. Maka pendekar ini pun hanya menonton saja dengan hati tegang akan tetapi wajah tetap tenang.

Juga Tung-hai-sian yang berilmu tinggi, pada waktu melihat kenyataan ini diam-diam dia terheran-heran kenapa tiba-tiba dapat muncul seorang dara yang begini lihainya. Apa lagi ketika dia melihat sepasang pedang hitam itu, dan gerakan-gerakan yang mengingatkan dia akan ilmu-ilmu dari Lam-sin, rekannya, yaitu datuk selatan dia menjadi semakin heran.

Apakah dara ini adalah murid Lam-sin, pikirnya. Akan tetapi kalau muridnya begini lihai luar biasa, tentu Lam-sin sekarang telah menjadi orang yang sukar dicari bandingnya lagi di dunia ini. Akan tetapi kalau benar murid Lam-sin, bagaimana bisa bersahabat dengan Pendekar Sadis? Bukankah Lam-sin tiba-tiba lenyap setelah kedatangan Pendekar Sadis dan mungkin sekali juga sudah terbunuh oleh pendekar itu?

Para tamu terbelalak keheranan, terutama sekali para tokoh kang-ouw yang hadir. Mereka semua tak mengenal siapa adanya wanita ini, akan tetapi semuanya takjub menyaksikan kelihaiannya. Maka keadaan menjadi berisik, semua tamu saling bertanya siapa adanya wanita yang mengaku bernama Toan Kim Hong ini.

Kini perkelahian itu mencapai puncaknya. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga tubuh kedua orang itu sudah lenyap terbungkus gulungan sinar biru yang makin mengecil sedangkan dua gulungan sinar hitam makin menghimpit.

Akhirnya terdengar suara keras dari beradunya pedang, gulungan sinar pedang terhenti dan tubuh Kong Liang terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan peluhnya membasahi dahi dan leher. Sebaliknya, Kim Hong berdiri tegak dengan sepasang pedang bersilang di depan dada, mulutnya tersenyum.

Dalam jurus terakhir, biar pun dia tidak berhasil merobohkan Kong Liang karena memang pemuda itu memiliki dasar ilmu yang tinggi dan kokoh, namun dia telah mendesaknya dan membuat Kong Liang terhuyung. Pemuda ini pun maklum bahwa kalau saat dia terhuyung tadi lawannya mendesak, bukan tak mungkin dia akan celaka dan dirobohkan. Akan tetapi tentu saja Kim Hong tidak menghendaki hal itu terjadi, dia tidak mau merobohkan paman dari kekasihnya.

“Kim Hong, jangan kurang ajar engkau!” Tiba-tiba nampak tubuh Thian Sin berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di atas panggung, menegur Kim Hong yang hanya tersenyum-senyum. Thian Sin lalu menjura kepada Kong Liang dengan hati tidak enak sekali.

“Paman, maafkanlah kelancangan nona ini…” Thian Sin memberi hormat kemudian cepat menyambung, “biarkanlah aku yang mintakan maaf, paman.”

Cia Kong Liang berdiri dengan muka pucat, lalu menarik napas panjang dan menyimpan pedangnya, sejenak menatap tajam kepada Thian Sin tanpa menjawab, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempat duduknya.

Wajah Thian Sin berubah merah sekali. Dia maklum betapa pamannya itu, putera dari adik neneknya, memandang rendah kepadanya, bahkan agaknya tidak mau mengenalnya lagi. Dia memandang marah kepada Kim Hong dan berbisik, “Kau mencari gara-gara!”

Kim Hong tersenyum. “Hi-hik, bukankah aku telah membuka jalan bagimu? Sekarang kau hadapi sendiri!” Gadis itu pun melayang turun lantas duduk di sudut menjauhi para tamu lain.

Para tamu memperhatikan wanita ini, tetapi Kim Hong bersikap tak acuh dan memandang ke panggung karena pemuda tampan yang baru muncul itu sudah berkata dengan suara lantang. Apa lagi karena semua orang sudah menduga bahwa tentu pemuda itulah yang berjuluk Pendekar Sadis, yang amat ditakuti oleh orang-orang dunia hitam. Dan di antara mereka yang pernah melihat Thian Sin, sudah menjadi pucat mukanya karena memang benar bahwa yang kini berdiri di atas panggung itu adalah sang pendekar yang ditakuti itu.

“Seperti tadi telah dikatakan oleh temanku Nona Toan Kim Hong, kedatanganku ini adalah hendak menantang Tung-hai-sian Bin Mo To untuk mengadu ilmu! Aku tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Tung-hai-sian dan sepanjang pendengaranku, walau pun dia seorang datuk kaum sesat, namun tindakan Tung-hai-sian tak pernah sewenang-wenang. Hanya karena aku sudah pernah bersumpah serta bertekad hendak mengalahkan empat datuk di dunia, maka sekarang aku datang untuk menantang Tung-hai-sian mengadu ilmu dan menentukan siapa di antara kami berdua yang lebih unggul. Tung-hai-sian Bin Mo To harap suka keluar dan jangan melibatkan orang lain. Marilah kita mulai dengan disaksikan oleh banyak tokoh segala kalangan.”

Tung-hai-sian yang telah melepaskan julukan itu menjadi Bin Mo To biasa, kini melangkah maju dengan tindakan tenang menghadapi Thian Sin. Dia menjura dan berkata, “Sebagai tuan rumah kami mengucapkan selamat datang kepada Pendekar Sadis yang sudah lama kami dengar namanya. Tidak hanya mendengar sebagai Pendekar Sadis, akan tetapi juga sebagai putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang sangat terkenal. Orang muda, sudah kukatakan tadi bahwa Tung-hai-sian kini sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah pedagang Bin Mo To yang tidak mau mencampuri urusan kang-ouw, tidak mau lagi aku mempergunakan kekerasan dan buktinya adalah ini!”

Dengan gerakan yang amat cepatnya kakek itu mengambil pedang samurainya sehingga terlihat kilat menyambar dan mengejutkan hati Thian Sin yang telah bersiap-siap. Memang gerakan Bin Mo To mencabut pedang samurai tadi sungguh cepat sekali. Akan tetapi…

“Trakk!” terdengar bunyi nyaring dan pedang samurai itu sudah patah menjadi dua potong di tangan kakek itu. Dan kini nampak ada dua butir air mata di bawah mata pendekar Jepang itu ketika dia memegangi potongan samurai, menarik napas panjang dan berkata lagi.

“Orang muda, entah sudah berapa banyaknya nyawa melayang dan darah mengalir oleh samurai ini. Dan sekarang, seperti juga patahnya samurai ini, sudah patah semangat saya untuk mempergunakan kekerasan. Biarlah aku mengaku kalah darimu, dan kalau engkau masih belum puas juga sehingga hendak menyerang dan hendak membunuhku, silakan!” Kakek pendek itu membusungkan dada seperti menantang Thian Sin untuk memukul dan membunuhnya. “Tapi yang kau bunuh bukan Tung-hai-sian Si Datuk Timur, melainkan Bin Mo To saudagar biasa!”

Menghadapi sikap seperti itu, Thian Sin menjadi ragu-ragu dan bingung bagaimana harus bicara atau bertindak.

“Orang muda, maafkan jika aku yang tua memberi peringatan kepadamu. Sudah puluhan tahun aku berkecimpung di dalam dunia kang-ouw sehingga aku tahu benar bahwa nama besar hanyalah kosong belaka, hanya mengundang datangnya orang yang merasa iri hati dan musuh-musuh yang ingin melihat kita terjungkal. Mengapa engkau yang muda, yang gagah perkasa, mencari permusuhan secara berlebihan seperti ini? Ingatlah bahwa makin tinggi kedudukan seseorang, makin terkenal namanya, akan makin menyakitkan apa bila sekali waktu dia terjungkal dari kedudukannya. Mengapa engkau yang masih begini muda hendak memaksa kedudukan tinggi dengan kekerasan? Seingatku, tidak ada orang yang terkenal di dunia ini sebab sekali waktu akan bertemu dengan yang lebih pandai dan yang akan merobohkannya.”

“Wah-wah-wah, sekali menanggalkan julukannya, Tung-hai-sian berubah menjadi tukang kibul!” tiba-tiba Kim Hong berseru dan dara ini telah meloncat lagi naik ke atas panggung, tak sempat dicegah oleh Thian Sin. “Tua bangka, tidak perlu banyak cakap. Kalau engkau memang jeri dan takut melawan Pendekar Sadis, hayo lawanlah aku, ingin kulihat sampai di mana sih kepandaian orang yang berani mengangkat dirinya menjadi datuk timur?”

“Nona muda, aku belum mengenalmu, mengapa engkau sengaja hendak menghina orang tua?” kata Tung-hai-sian dengan sabar. “Sesudah melihat sepasang pedang dan ilmumu, aku yakin bahwa engkau masih mempunyai hubungan dengan Lam-sin, datuk selatan itu. Kenapa engkau tiba-tiba memusuhiku?”

“Lam-sin sudah tidak ada, yang ada hanya Toan Kim Hong dan kalau engkau tidak berani menghadapi Pendekar Sadis, biarlah kau hadapi aku saja yang menantangmu!”

“Bocah bermulut lancang dan bersikap sombong!” tuba-tiba terdengar bentakan nyaring.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Yap In Hong telah berdiri di situ. Nenek yang usianya hampir enam puluh tahun ini masih gesit sekali dan kini mukanya merah, kedua matanya berkilat dan jelas bahwa dia marah sekali. Ia memandang kepada Thian Sin dan menudingkan telunjuknya kepada pemuda itu.

“Ceng Thian Sin! Bagus sekali, engkau telah menjadi seorang manusia keji yang berjuluk Pendekar Sadis! Engkau agaknya mewarisi ambisi ayah kandungmu, akan tetapi engkau malah memalukan mereka yang menjadi nenek moyangmu. Hayo, majulah dan tandingi aku! Aku ingin sekali mengetahui sampai di mana kesadisanmu!” Nenek ini menantang-nantang dengan penuh kemarahan.

“Ahh… tidak… tidak…!” Thian Sin mundur-mundur menjauhi nenek itu dengan bingung.

Kini Yap In Hong menghampiri Kim Hong. “Dan engkau, engkau bocah perempuan tidak tahu malu, sombong dan tak tahu aturan! Engkau mencari musuh? Mari, mari kau hadapi aku. Jangan panggil aku Yap In Hong kalau aku mundur setapak dalam menghadapimu. Mari kita bertanding sampai salah seorang dari kita mampus di tempat ini!”

Kim Hong terkejut melihat nenek yang sangat galak luar biasa ini. Namun diam-diam dia merasa kagum sekali. Biar pun sudah tua, nenek ini tetap cantik dan penuh semangat dan jelaslah bahwa dahulu tentu merupakan seorang pendekar wanita yang hebat. Dan ketika mendengar namanya, yaitu Yap In Hong, tahulah dia bahwa memang nenek ini seorang pendekar wanita yang luar biasa, yaitu isteri dari ketua Cin-lin-pai. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa digertak seperti Thian Sin karena ia tidak mengenal nenek ini dan juga bukan apa-apanya. Maka dia tersenyum mengejek.

“Wah, galak-galak amat kau, nenek tua!”

“Keparat, terimalah seranganku!” bentak Yap In Hong.

Wanita ini sudah menerjang dengan kemarahan meluap-luap. Begitu menerjang maju, dia sudah menggunakan Ilmu Thian-te Sin-ciang yang ampuh itu. Melihat datangnya pukulan yang membawa angin berdesir dahsyat ini, Kim Hong juga cepat-cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

“Dukk! Dukkk!”

Dua kali kedua lengan wanita itu bertemu dan akibatnya, keduanya segera terdorong ke belakang. Tentu saja Kim Hong terkejut bukan main. Benar dugaannya bahwa nenek ini merupakan seorang lawan yang sangat tangguh. Maka dia pun mengeluarkan bentakan marah dan membalas serangan itu yang dapat ditangkis pula oleh Yap In Hong.

“Kim Hong, jangan melawan! Jangan kurang ajar!” Thian Sin berseru, akan tetapi Kim Hong tidak mau mempedulikannya dan dia memang sudah saling gempur dengan nenek itu, saling pukul dengan marah seperti dua ekor singa betina yang memperebutkan seekor domba.

Tiba-tiba berkesiur angin dan terdengar bentakan, “Tahan!”

Pada saat itu juga Kim Hong sedang menyerang lawannya, akan tetapi tangannya segera bertemu dengan tangan yang luar biasa kuatnya, yang membuat ia terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung. Dia terkejut sekali dan melihat bahwa di depannya telah berdiri seorang kakek yang gagah perkasa, yang matanya mencorong bagaikan mata naga sakti dan tahulah dia bahwa di hadapannya itu berdiri ketua Cin-ling-pai! Maka, diam-diam Kim Hong merasa kagum bukan main. Keluarga Cia ini memang hebat sehingga dia sungguh ragu-ragu apakah dia akan mampu menandingi ketua Cin-ling-pai ini.

Sementara itu, Thian Sin sudah melangkah maju dan menghalang di depan Kim Hong lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan Cia Bun Houw. “Mohon maaf… mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya sungguh tak mengira bahwa Locianpwe Tung-hai-sian kini telah berbesan dengan keluarga Cia… maka harap sudi memberi ampun dan sekalian saya pun menghaturkan selamat atas perjodohan Paman Cia Kong Liang dengan Nona Bin Biauw. Sekali lagi maaf!”

Sesudah memberi hormat, dia pun lalu bangkit berdiri, memegang tangan Kim Hong dan menariknya dengan paksa meninggalkan tempat itu. Dengan beberapa kali loncatan saja, kedua orang muda itu pun lenyap dari tempat itu.

“Bukan main…!” Terdengar Bin Mo To berseru kagum. “Dia betul-betul seorang pendekar yang masih muda dan hebat! Dan wanita itu… ahh, benarkah dia murid Lam-sin?”

Pesta perayaan dilanjutkan dan munculnya Pendekar Sadis itu tentu saja menjadi bahan percakapan dari para tamu sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan sedikit terlambat berhubung dengan adanya gangguan yang tidak tersangka-sangka tadi.

Sementara itu, Kim Hong yang ditarik dan diajak pergi dengan setengah paksa oleh Thian Sin, tiada hentinya mengomel panjang pendek.

“Engkau memang seorang manusia yang tidak berjantung!” Akhirnya Kim Hong berkata marah dan berhenti, mogok berjalan.

“Ehh? Tidak berjantung?” Thian Sin memandang heran.

“Ya, tidak berjantung, tidak mengenal budi!”

“Apa maksudmu, Kim Hong?”

“Aku mati-matian membelamu dan membantumu, engkau tak berterima kasih sebaliknya engkau malah membikin malu kepadaku! Engkau mau saja mengalah, mau saja mundur teratur, bukankah itu memalukan aku yang sudah terlanjur menantang-nantang?”

“Ah, engkau tentu mengerti bahwa tidak mungkin aku bisa menghadapi ketua Cin-ling-pai sebagai lawan, Kim Hong.”

“Huh! Engkau takut? Kalau engkau ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia, mengapa takut melawan ketua Cin-ling-pai?” Kim Hong mencela.

“Kim Hong, cita-citaku hanya ingin menundukkan dan mengalahkan seluruh tokoh kaum sesat di dunia hitam saja, sama sekali bukan ingin mengalahkan seluruh pendekar. Tidak mungkin aku melawan keluarga Cia, karena kalau demikian aku tentu akan berhadapan dengan ayah angkatku sendiri, Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong. Itu sungguh tidak mungkin, Kim Hong. Dan sekarang sesudah Tung-hai-sian menjadi besan keluarga Cia di Cin-ling-pai, berarti keluarganya juga sudah menjadi keluargaku, bukan orang lain. Mana mungkin aku memusuhinya? Apa lagi engkau melihat sendiri tadi, sekarang Tung-hai-sian sudah tidak ada, datuk timur sudah tidak ada dan Bin Mo To menjadi seorang saudagar biasa.”

“Huh!” Kim Hong masih terus merajuk. Thian Sin tersenyum dan merangkulnya, kemudian menciumnya dengan mesra sambil berbisik.

“Betapa pun, aku berterima kasih kepadamu, sayang, atas semua bantuanmu.”

“Hemm, hanya cukup dengan terima kasih saja?”

“Habis, engkau mau apa lagi? Katakanlah, aku tentu akan mau membantumu, biar harus bertaruh nyawa sekali pun!” kata Thian Sin sungguh-sungguh.

Thian Sin mempererat pelukannya dan hendak mencium. Akan tetapi Kim Hong langsung melepaskan diri dan berkata, “Nanti dulu, benarkah engkau mau membantuku walau pun dengan taruhan nyawa?”

“Tentu saja… asal engkau tidak minta aku memusuhi keluarga para pendekar Cin-ling-pai atau keluarga Cia…”

“Tidak, akan tetapi untuk menghadapi seorang lain yang mungkin belum kau kenal.”

“Siapakah dia? Dan kenapa engkau harus menghadapinya sebagai lawan?”

“Dia adalah musuh ayah… atau orang yang membuat ayah terpaksa harus bersembunyi di pulau kosong sampai matinya. Nah, semenjak dulu aku bercita-cita untuk menghadapi orang itu dan membalas dendam ayah.”

“Kenapa sampai sekarang belum juga kau lakukan? Bukankah dengan kepandaianmu…”

“Aku takkan dapat menang melawannya. Ayah sendiri pun dulu sampai jeri karena orang itu sangat lihai, kepandaiannya melebihi ayah. Kalau engkau membantu, nah, kita berdua tentu akan mampu mengalahkannya. Dan engkau tadi telah berjanji untuk membantuku.”

“Ceritakanlah, siapa dia dan bagaimana dia bermusuhan dengan mendiang ayahmu.”

Kim Hong lantas bercerita. Toan Su Ong, ayah Kim Hong, adalah seorang pangeran yang suka memberontak dan menentang kebijaksanaan kaisar yang dianggap tidak bijaksana. Dia dianggap pemberontak sehingga pangeran ini pun melarikan diri dari kota raja sebagai seorang buronan dan pemberontak.

Pangeran Toan Su Ong tidak merasa gentar menghadapi pengejaran kaisar, namun ada seorang yang ditakuti, yaitu seorang suheng-nya yang sesudah gurunya meninggal dunia boleh dibilang menjadi wakil gurunya pula. Suheng-nya itu memiliki ilmu silat yang hanya satu tingkat lebih tinggi dari padanya, dan pada saat Toan Su Ong telah menikah dengan pendekar wanita Ouwyang Ci, dengan kepandaian mereka berdua tentulah mereka akan dapat mengalahkan suheng itu. Akan tetapi suheng-nya memiliki sebuah bendera pusaka peninggalan suhu mereka dan sebagai seorang murid yang berbakti, Toan Su Ong tidak berani melawan bendera ini.

Pada waktu itu, hal seperti ini tidak aneh. Seorang murid paling takut terhadap gurunya, dan pesan seorang guru akan ditaati sampai selama hidupnya. Karena itu Toan Su Ong juga tidak berani melawan suheng-nya yang memegang bendera pusaka itu, seolah-olah suheng-nya itu menjadi gurunya yang telah tiada.

Karena rasa takutnya terhadap suheng-nya yang membantu kaisar untuk mengejarnya, maka Toan Su Ong hidup terlunta-lunta dan akhirnya bersembunyi di pulau kosong, yaitu Pulau Teratai Merah, sampai tiba ajalnya pada waktu dia tewas di tangan isterinya sendiri karena cekcok. Hal ini diketahui oleh Kim Hong karena dia mendengar penuturan ibunya.

Mendengar penuturan ini, Thian Sin mengangguk-angguk. Memang, bagaimana pun juga, mendiang ayah Kim Hong terlunta-lunta akibat suheng-nya itulah, atau supek (Uwa Guru) dari Kim Hong. Maka dianggapnya sebagai hal yang sepantasnya bila Kim Hong menaruh dendam lantas hendak membalas sakit hati ayahnya karena ayahnya sendiri dahulu tidak berani melawannya.

“Akan tetapi, apakah supek-mu itu sekarang masih hidup? Siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?”

“Ketika aku masih menjadi Lam-sin, pernah hal itu kusuruh anak buahku menyelidiki dan sudah kutemukan di mana adanya musuh besar ayahku itu. Akan tetapi, aku tahu bahwa aku bukanlah tandingannya, maka aku terus menahan sabar sampai aku bertemu dengan engkau. Kini dia telah mengasingkan diri sesudah menerima pahala dari kaisar sebagai seorang pendekar yang berjasa besar untuk negara! Namanya lantas dijunjung tinggi oleh semua orang! Padahal, bagiku dia adalah pengkhianat yang mencelakakan ayahku, adik seperguruannya sendiri. Aku harus menandinginya, baik engkau mau membantuku atau tidak!” Gadis itu mengepal tinju.

“Tenanglah, Kim Hong. Aku pasti membantumu. Teruskan ceritamu. Siapa namanya dan di mana dia kini berada.”

“Dahulu ketika dia masih menjadi penjilat kaisar, namanya adalah Gouw Gwat Leng. Akan tetapi menurut hasil penyelidikan anak buahku ketika itu, kini dia sudah menjadi seorang tosu dan berjuluk Jit Goat Tosu dan bertapa di dalam kuil para tosu Kun-lun-pai…”

“Ahh! Di Kun-lun-pai?”

Kim Hong mengangguk. “Dia bertapa di dalam kuil dan kadang-kadang di dalam goa di daerah Pegunungan Kun-lun-san yang masih termasuk daerah Kun-lun-pai.”

Thian Sin mengerutkan alisnya. “Apakah dia seorang tokoh Kun-lun-pai?”

Gadis itu menggeleng kepalanya. “Bukan. Perguruan mendiang Ayah bukan Kun-lun-pai, melainkan perguruan yang tidak memiliki partai karena ilmu yang diwarisi oleh ayah dan suheng-nya adalah ilmu keluarga. Akan tetapi setelah tua, agaknya suheng dari mendiang ayah itu tertarik oleh Agama To dan masuk menjadi tosu dan mungkin karena bersahabat dengan para tosu Kun-lun-pai maka dia lalu menggabungkan diri atau mempelajari tentang agama di kuil Kun-lun-pai itu?”

Thian Sin menarik napas panjang dengan hati lapang. “Masih baik kalau dia bukan tokoh Kun-lun-pai, Kim Hong.”

“Andai kata dia adalah anggota Kun-lun-pai, engkau menjadi jeri dan takut kemudian tidak berani membantuku?”

“Bukan jeri mau pun takut, melainkan khawatir sekali. Engkau tentu tahu bahwa di antara para tokoh dunia persilatan, yang paling terkenal adalah tokoh-tokoh dari partai persilatan besar dan di antaranya adalah Kun-lun-pai. Kalau sampai engkau menanam permusuhan dengan Kun-lun-pai, maka sungguh sama artinya dengan bermusuhan melawan seluruh pendekar persilatan. Akan tetapi, musuhmu itu bukan murid dan bukan tokoh Kun-lun-pai, maka legalah hatiku.”

“Kau mau membantuku mencarinya ke Kun-lun-pai?”

“Tentu saja aku mau!”

“Kalau perlu dengan taruhan nyawa?”

Thian Sin mengangguk dan mendadak Kim Hong menubruk dan merangkul, menciuminya sampai dia hampir terjengkang. Thian Sin tertawa dan tenggelam dalam kemesraan yang terdorong oleh rasa girang dan terima kasih gadis itu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner