PENDEKAR SADIS : JILID-56


Agaknya, karena urusan yang hendak dibicarakan menyangkut diri Pendekar Sadis yang masih merupakan keluarga Cin-ling-pai dan Lembah Naga, maka pendekar tua Yap Kun Liong bersama isterinya dan keluarga Lembah Naga mendapat tempat duduk kehormatan, di dekat tempat pihak tuan rumah, yaitu kedua ketua Kun-lun-pai, Kui Im Tosu dan Kui Yang Tosu.

Setelah mengucapkan selamat datang dan berterima kasih, Kui Yang Tosu yang mewakili pihak tuan rumah lalu langsung membicarakan pokok persoalan. Diceritakannya tentang berita-berita tentang sepak terjang Pendekar Sadis, tentang cara-cara pembunuhan yang amat kejam ketika pendekar itu membasmi penjahat-penjahat, tentang pembunuhan yang dilakukannya terhadap Toan Ong, dan terutama sekali tentang perbuatan Pendekar Sadis dan Lam-sin atau Toan Kim Hong yang mendatangi Kun-lun-pai dan yang menyebabkan kematian Jit Goat Tosu.

Dari cara menceritakannya saja sudah dapat dirasakan oleh semua orang betapa tosu ini merasa amat marah dan sakit hati terhadap Pendekar Sadis, dan ceritanya mengandung harapan agar rapat itu mengutuk dan menghukum Pendekar Sadis. Dan sebagai penutup penuturannya yang makan waktu satu jam lebih itu, Kui Yang Tosu berkata,

“Oleh karena itulah kami dari Kun-lun-pai, hari ini mengundang cu-wi untuk berkumpul dan membicarakan urusan Pendekar Sadis, mengambil keputusan apa yang sepantasnya kita lakukan atas perbuatan sewenang-wenang darinya itu. Dan mengingat bahwa Pendekar Sadis adalah Ceng Thian Sin, yaitu putera dari mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang sudah menjadi putera angkat Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong Taihiap, juga masih ada hubungan keluarga dengan Cin-ling-pai, maka kami sengaja mengundang saudara-saudara dari Cin-ling-pai dan juga dari Lembah Naga untuk kami mintakan pertanggungan jawabnya dan pertimbangannya.” Tosu itu lalu memberi hormat kepada semua tamu dan duduk kembali di samping suheng-nya, Kui Im Tosu.

Suasana menjadi berisik ketika tosu itu menghentikan pidatonya dan semua tamu saling bicara sendiri. Meski pun mereka berbicara perlahan-lahan setengah berbisik, akan tetapi karena yang bicara itu banyak orang, maka suasana menjadi berisik sekali, seperti dalam pasar saja. Hanya keluarga Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang nampak duduk dengan tenang dan diam-diam saja, agaknya masih menunggu keadaan dan tidak merasa perlu untuk banyak bicara.

Tiba-tiba seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bangkit dari tempat duduknya dan dengan suara lantang dia segera berkata, “Pendekar Sadis harus dibasmi! Dosanya telah bertumpuk-tumpuk!”

Tentu saja semua orang memandang kepada si tinggi besar muka hitam ini dan dia pun mengangkat dada, wajahnya nampak bangga. Memang, dalam suatu pertemuan, di mana terdapat banyak orang, kita selalu mempunyai kecondongan hati untuk menonjolkan diri dengan cara apa pun juga.

Si tinggi besar bermuka hitam ini adalah seorang pendekar ahli gwakang (tenaga luar), memiliki otot-otot yang kuat dan tenaganya seperti seekor gajah, julukannya juga Ban-kin Hek-jio (Gajah Hitam Selaksa Kati) bernama Ciong Sam. Namanya terkenal di daerah Hok-kian dan mahir ilmu silat campuran antara ilmu silat Siauw-lim-pai dan ilmu silat dari Kang-lam.

Bisa hadir di antara para tokoh pendekar besar itu, Si Gajah Hitam ini tentu saja merasa dirinya menjadi besar dan dia pun yang pertama kali berteriak mengutuk Pendekar Sadis itu. Bukan sekali-kali karena dia memang membenci Pendekar Sadis, namun sepenuhnya terdorong untuk menonjolkan diri itu saja! Dan banggalah hatinya pada saat semua orang memperhatikan dirinya.

Betapa pun juga, ucapannya itu memancing persetujuan banyak pendekar yang hadir di situ. Banyak di antara mereka yang lantas berseru mengutuk Pendekar Sadis, setidaknya menyatakan ketidak senangan hati mereka. Maka keadaan menjadi berisik sekali.

“Pendekar yang bersahabat dengan datuk seperti Lam-sin bukan pendekar lagi, melainkan penjahat! Harus diberantas!”

“Mari kita datangi mereka berdua dan menumpas mereka!”

“Bunuh Pendekar Sadis dan Lam-sin!”

“Pendekar Sadis memalukan kita sebagai pendekar-pendekar!”

Teriakan-teriakan semacam itu terdengar di sana-sini. Kui Im Tosu yang melihat ini lalu memandang ke arah tamu kehormatan di sebelahnya, yakni lima orang dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga. Ketua pertama dari Kun-lun-pai ini merasa tidak enak sekali sehingga cepat bangkit berdiri, lantas mengangkat kedua tangannya ke atas dan suara berisik para tamu perlahan-lahan menjadi berhenti dan keadaan menjadi tenang kembali.

“Cu-wi yang terhormat harap suka tenang dan sebaiknya dalam urusan yang menyangkut diri Pendekar Sadis ini, lebih dahulu kita mendengarkan pendapat dan pertimbangan dari para pendekar Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang terhormat.”

Sesudah berkata demikian, Kui Im Tosu yang biasanya tidak banyak bicara itu lalu duduk kembali. Mendengar ucapan ini, Cia Sin Liong lalu berbisik kepada Yap Kun Liong.

“Paman, kalau Paman mempunyai pendapat sesuatu, silakan.”

“Bukan aku, Sin Liong, melainkan engkaulah sebagai ayah angkatnya yang paling tepat untuk bicara.”

“Benar, Sin Liong, engkaulah yang harus menyatakan pendapatmu,” sambung Cia Giok Keng kepada keponakannya itu.

Sementara itu, melihat para tamu terhormat itu saling berbisik, Kui Yang Tosu lalu bangkit dan berkata dengan suara lantang, “Harap para pendekar yang terhormat dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga suka menyatakan pertimbangan mereka mengenai urusan Pendekar Sadis! Silakan!”

Semua orang kini memandang ke arah rombongan tamu kehormatan itu. Dan melihat Cia Sin Liong, Pendekar Lembah Naga bangkit dari tempat duduknya, semua mata diarahkan kepadanya sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh pendekar besar yang menjadi ayah angkat dari Pendekar Sadis.

Suara Pendekar Lembah Naga terdengar tenang akan tetapi cukup lantang dan suara itu mengandung gema yang menggetar karena kekuatan khikang yang mendorong suara itu seolah-olah keluar dari dalam perutnya.

“Para locianpwe dan para saudara yang gagah perkasa dan budiman! Tak perlu disangkal lagi, Ceng Thian Sin putera mendiang Pangeran Ceng Han Houw yang kini disebut orang Pendekar Sadis itu memang adalah anak angkat saya dan sejak kecil telah berada dalam perawatan dan pendidikan saya. Maka sudah sepatutnya kalau sebagai ayah angkatnya saya dimintai pendapat dan pertimbangan saya. Kami dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga datang memenuhi undangan Kun-lun-pai untuk memberi pendapat, pertimbangan dan juga tanggung jawab. Kami bukan bermaksud hendak membela anak angkat kami, melainkan ingin mengajak anda sekalian yang budiman untuk bicara dengan hati terbuka dan dengan kejujuran.”

Semua orang menjadi makin tegang. Ucapan Pendekar Lembah Naga barusan sungguh mantap serta mengandung wibawa yang kuat. Kui Yang Tosu sebagai wakil pembicara Kun-lun-pai dapat merasakan juga kekuatan ini, maka dia pun berkata untuk menyelingi ucapan Pendekar Lembah Naga yang berhenti sejenak itu.

“Siancai! Kata-kata Cia-taihiap dari Lembah Naga memang amat mengagumkan dan patut untuk diperhatikan. Silakan taihiap melanjutkan.”

“Cu-wi adalah pendekar-pendekar penentang kejahatan. Dan cu-wi semua tentu tahu pula bahwa di dunia ini banyak terdapat penjahat-penjahat yang dinamakan sebagai golongan hitam, di mana terdapat para tokoh dan datuknya. Akan tetapi, mengapa baru sekarang cu-wi berkumpul dan serentak bangkit ingin menentang dan membasmi Pendekar Sadis? Mengapa sebelum ini, bahkan sampai sekarang pun, cu-wi tidak pernah menentang para tokoh dan datuk kaum sesat? Kenapa justru Pendekar Sadis yang hendak cu-wi tentang? Marilah kita bicarakan dengan hati terbuka dan jujur, lalu suka memberi jawaban kepada saya. Mengapa cu-wi memusuhi Pendekar Sadis?”

Sejenak semua tamu hanya bisa saling pandang dan tidak mampu menjawab, akan tetapi kembali mereka didahului oleh Ban-kin Hek-jio yang segera berteriak, “Karena Pendekar Sadis sangat kejam dalam menyiksa musuh-musuhnya sehingga sudah merugikan nama baik para pendekar! Itulah sebab yang utama!”

Teriakan ini disusul pula oleh teriakan-teriakan lain. “Karena dia membunuh Toan-ong-ya yang menjadi sahabat baik para pendekar!”

“Karena dia bersekutu dengan Lam-sin!”

“Karena dia mengacau Kun-lun-pai dan menentang para pendekar!”

Cia Sin Liong mendengarkan dengan sangat teliti dan dia memperoleh kenyataan bahwa jawaban-jawaban yang bersimpang siur itu hanya berkisar sekitar tiga pokok ini. Maka dia pun mengangkat tangan untuk meredakan suasana, kemudian melanjutkan kata-katanya, suaranya lantang dan mantap.

“Menurut pendengaran saya tadi, hanya ada tiga sebab yang membuat cu-wi mengambil keputusan untuk menentang dan membasmi atau membunuhnya. Marilah kita bahas satu demi satu sebab itu. Dan jangan mengira bahwa saya hendak membela atau melindungi anak angkat saya itu, sama sekali tidak. Hanya kita yang mengaku pendekar-pendekar harus dapat membuka mata melihat kenyataan dan tidak bertindak menurutkan nafsu hati belaka. Pertama ingin saya singgung tentang hubungan Pendekar Sadis dengan Lam-sin. Mengapa cu-wi menganggapnya sebagai dosa?”

Orang yang tadi berteriak-teriak menyinggung hubungan Pendekar Sadis dengan Lam-sin, tidak ada yang berani membuka mulut. Agaknya mereka gentar terhadap pendekar yang suaranya mengandung getaran penuh wibawa itu, atau memang mereka tidak sanggup menjawab. Melihat ini, Kui Yang Tosu, cepat menjawab dengan suara lantang pula.

“Lam-sin adalah satu di antara datuk-datuk kaum sesat dan orang yang bersekutu dengan seorang datuk sesat tentu bukan orang baik-baik!”

Cia Sin Liong menahan senyumnya mendengar ini, lantas dia memandang ke arah para tamu. “Cu-wi yang mulia, benarkah memang demikian alasannya maka cu-wi mengutuk persekutuan antara Pendekar Sadis dan Lam-sin?”

“Benar! Benar!” Banyak orang yang tadinya mengajukan alasan itu cepat berteriak untuk membenarkan jawaban wakil ketua Kun-lun-pai.

“Baiklah, mari kita perbincangkan soal ini. Kita semua tahu bahwa bukan Pendekar Sadis yang ikut dengan Lam-sin, namun sebaliknya, Lam-sin yang ikut dengan Pendekar Sadis. Kalau seorang pendekar mengikuti jejak seorang datuk sesat kemudian membantu datuk itu melakukan kejahatan, jelas bahwa dia telah menyeleweng dari jalan kebenaran. Akan tetapi, apa bila seorang datuk meninggalkan kedudukannya, meninggalkan kejahatannya dan mengikuti jejak seorang pendekar, apakah hal itu salah? Lam-sin telah meninggalkan kedudukan dan namanya, juga membubarkan perkumpulan Bu-tek Kai-pang, dan dia ikut bersama Pendekar Sadis bukan sebagai Lam-sin lagi melainkan sebagai Nona Toan Kim Hong puteri dari mendiang Pangeran Toan Su Ong yang terkenal sebagai pendekar sakti yang memberontak terhadap kelaliman kaisar. Ia malah membantu Pendekar Sadis untuk membasmi datuk-datuk jahat seperti See-thian-ong dan Pak-san-kui! Cu-wi yang terkenal sebagai pendekar-pendekar budiman, pernahkah mencoba untuk menantang datuk-datuk itu? Dan siapa di antara cu-wi yang merasa bahwa semenjak dilahirkan sampai sekarang belum pernah melakukan penyelewengan? Kalau Lam-sin yang pernah menjadi datuk itu telah berbalik karena insyaf dan kini menjadi penentang kejahatan, bukankah hal itu baik sekali? Tung-hai-sian datuk sesat dari timur juga sudah menanggalkan kedudukan serta julukannya, meninggalkan kejahatan dan bahkan kini berbesan dengan ketua Cin-ling-pai, apakah hal itu tidak patut disambut dengan syukur?”

Pendekar Lembah Naga berbicara dengan semangat berapi-api, bukan hanya karena dia ingin membela anak angkatnya, melainkan karena dia melihat kemunafikan yang banyak mencengkeram hati mereka yang menyebut dirinya pendekar dan orang-orang baik.

“Siancai…! Cia-taihiap terlalu bernafsu karena hendak membela putera angkatnya!”

“Maaf, totiang. Bukan membela, melainkan saya menyatakan hal yang sebenarnya. Saya sendiri tidak setuju dengan cara-cara kejam yang dilakukan oleh Ceng Thian Sin dan saya akan menegurnya, bahkan akan memaksanya berjanji bahwa dia tidak akan melakukan hal itu lagi. Akan tetapi kekejamannya terhadap para penjahat yang dimusuhinya itu pun ada sebabnya. Sebabnya adalah dendam dan sakit hati. Sejak kecil, dia kehilangan ayah bundanya yang mati dikeroyok dan di antara pengeroyoknya terdapat banyak orang-orang dari golongan sesat. Kemudian, secara berturut-turut dia mengalami gangguan-gangguan dari orang jahat sehingga dendamnya makin bertumpuk dan akhirnya, setelah dia berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi, dendam itu meledak dalam keganasan-keganasan terhadap musuh-musuhnya. Nah, sekarang mari kita perbincangkan alasan ke dua yang cu-wi ajukan tadi. Yaitu tentang Pendekar Sadis membunuh Toan-ong-ya yang merupakan sahabat baik para pendekar. Bukankah di antara cu-wi banyak yang merasa penasaran bahwa Pendekar Sadis telah membunuh pangeran itu?”

Banyak suara menyatakan betul demikian.

“Dan, cu-wi tidak tahu apa sebabnya? Apakah tidak ada yang menceritakan kepada cu-wi mengapa dia membunuh pangeran itu, Pangeran Toan Ong yang masih terhitung paman sendiri dari Nona Toan Kim Hong yang pernah menjadi Lam-sin? Mengapa nona itu tidak sakit hati atas terbunuhnya pamannya, ada pun cu-wi yang bukan apa-apa justru merasa sakit hati?”

“Karena Lam-sin memang jahat dan durhaka!” terdengar jawaban orang.

“Toan Ong adalah seorang yang sangat berbudi terhadap para pendekar, kenyataan ini siapa dapat menyangkalnya?” kata yang lain.

Sin Liong hanya tersenyum tenang menghadapi serangan kata-kata ini. “Tidak ada yang menyangkal bahwa Toan Ong adalah seorang yang berbudi baik terhadap para pendekar sehingga tidaklah aneh jika kematiannya mendatangkan kedukaan dan penyesalan. Akan tetapi saya kira tidak tepat jika Lam-sin tidak sakit hati atas peristiwa itu akibat dia masih jahat dan durhaka. Sama sekali tidak demikian. Melainkan karena dia amat bijaksana dan menyadari sebab kematian pamannya itu, suatu sebab yang agaknya tidak mau diterima oleh para pendekar yang budiman. Pendekar Sadis membunuh Toan Ong bukan sebagai orang yang membunuh seorang yang baik, namun dia membunuhnya karena dia mengira bahwa Toan Ong ialah seorang laki-laki yang jahat, keji dan semua pikiran ini disebabkan oleh fitnah yang dilakukan oleh seorang wanita. Saya kira, di antara para locianpwe yang hadir di sini sudah tahu akan hal itu, bahkan telah melihat sendiri betapa Pendekar Sadis, sesudah menyadari bahwa dia kena diakali oleh fitnah wanita itu, lalu memberi hukuman terhadap wanita itu dengan sadis sekali. Bukankah demikian adanya, Kui Yang Totiang?” Kini Sin Liong menatap ke arah wakil ketua Kun-lun-pai dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Kui Yang Tosu juga menatap kepadanya dan wajah tosu itu berubah merah, akan tetapi dengan lantang dia berkata, mengakui, “Memang tidak salah, demikianlah kenyataannya. Akan tetapi apakah kalau Pendekar Sadis sudah menghukum wanita yang menjatuhkan fitnah itu, pembunuhan yang dilakukannya terhadap Pangeran Toan lalu habis begitu saja dan boleh dimaafkan?”

“Ingat, totiang. Saya datang bukanlah sebagai pembela Pendekar Sadis, melainkan hanya mengemukakan semua kenyataan yang patut untuk kita pertimbangan. Saya hanya ingin agar cu-wi semua tahu bahwa Pendekar Sadis membunuh Toan Ong karena menganggap dan yakin bahwa pangeran itu adalah seorang penjahat yang harus dibasminya. Memang dia ceroboh dalam hal itu, kurang teliti sehingga mudah dibohongi dan ditipu wanita jahat itu. Dan tentu saya sendiri akan menegurnya agar lain hari dia tidak seceroboh itu. Akan tetapi, perbuatannya itu sama sekali bukan jahat, bahkan pada waktu itu dia menentang kejahatan pangeran itu yang dipercayanya sebagai orang jahat. Sekarang tentang alasan ke tiga.”

“Siancai…! Cia-taihiap memang pandai sekali. Coba, pinto ingin mendengar pembelaan bagaimana yang akan taihiap ajukan untuk perbuatannya di Kun-lun-pai!” kata Kui Yang Tosu yang merasa agak mendongkol karena semua kata-kata pendekar sakti itu bahkan benar-benar mengangkat Pendekar Sadis dan memperlemah kesalahannya.

“Sebelum kita mempertimbangkan urusan Pendekar Sadis dengan Kun-lun-pai, baiknya kita mendengar lebih dulu persoalannya. Mungkin cu-wi sekalian sudah mendengar akan peristiwa itu, akan tetapi supaya lebih jelas dan tidak simpang-siur dan terkena hasutan cerita-cerita yang tidak betul, maka biarlah anak kami Cia Han Tiong akan menceritakan peristiwa yang terjadi itu seperti yang didengarnya sendiri dari mereka berdua. Han Tiong, kau ceritakanlah!”

Han Tiong bangkit berdiri sementara Pendekar Lembah Naga duduk kembali. Pemuda ini lebih tinggi sedikit dari pada ayahnya, sikapnya juga sangat tenang seperti ayahnya dan sepasang matanya tajam sekali namun penuh dengan kelembutan. Biar pun dibandingkan dengan ayahnya dia masih kalah wibawa, akan tetapi dia tidak kalah gagahnya. Sesudah menjura kepada para tamu, pemuda ini pun dengan lantang mulai bercerita.

Mula-mula dia menceritakan riwayat Toan Su Ong yang menjadi buruan akibat tak berani melawan suheng-nya yang bernama Gouw Gwat Leng karena suheng-nya itu memegang bendera pusaka perguruan yang berarti bahwa suheng-nya telah menjadi pengganti suhu mereka. Kemudian tentang kematian Toan Su Ong dan isterinya di sebuah pulau kosong, dan meninggalkan Toan Kim Hong yang akhirnya menjadi Lam-sin untuk beberapa tahun lamanya, sampai akhirnya gadis itu bertemu dengan Pendekar Sadis dan meninggalkan dunia sesat.

“Toan Kim Hong mencari supek-nya yang dianggap sebagai penyebab ayahnya menderita hidup sengsara selamanya sebagai seorang buruan. Akhirnya dia pun mendengar bahwa supek-nya telah menjadi Jit Goat Tosu dan bertapa di daerah Kun-lun-pai. Ia lalu mengajak Pendekar Sadis untuk mendatangi Jit Goat Tosu. Jadi, di dalam hal ini, Pendekar Sadis hanya menemani saja Nona Toan itu yang hendak menuntut balas terhadap supek-nya sendiri atas kesengsaraan mendiang ayahnya. Mereka lalu minta dengan hormat kepada pimpinan Kun-lun-pai supaya diperbolehkan bertemu dengan Jit Goat Tosu untuk urusan pribadi, urusan antara keluarga perguruan mereka sendiri. Akan tetapi oleh Kun-lun-pai nona itu diuji dan akhirnya lulus sehingga diperbolehkan bertemu, diantar oleh Pendekar Sadis. Mereka berdua pun kemudian bertemu dengan Jit Goat Tosu. Jit Goat Tosu lalu bertempur melawan mereka namun mereka berdua tidak mampu mengalahkannya. Akan tetapi, karena memang merasa menyesal sudah membuat sengsara sute-nya yang amat dicintanya, Jit Goat Tosu mengalah, bahkan lalu membunuh dirinya sendiri sampai tewas! Nah, itulah yang terjadi. Kun-lun-pai marah dan hendak menangkap mereka, lalu mereka melarikan diri dari kepungan tanpa membunuh seorang pun anggota Kun-lun-pai. Nah, demikianlah cerita yang saya dengar dari penuturan Ceng Thian Sin dan Toan Kim Hong.” Han Tiong lalu duduk kembali ke atas kursinya.

Cia Sin Liong kembali bangkit berdiri. “Benarkah peristiwanya terjadi demikian, totiang?” tanyanya kepada Kui Yang Tosu.

“Siancai… tidak ada yang mau berbohong dan memang benar demikianlah. Akan tetapi peristiwa itu terjadi di wilayah kami, bukankah itu berarti bahwa mereka sudah melanggar wilayah kami, ada pun pelanggaran itu sudah merupakan kejahatan dan tidak memandang kepada Kun-lun-pai?”

“Maaf, totiang,” jawab Sin Liong. “Bukankah mereka berdua tidak masuk seperti pencuri, melainkan dengan berterang, bahkan telah minta persetujuan Kun-lun-pai untuk menemui Jit Goat Tosu?”

“Memang benar. Akan tetapi mereka berdua mendesak Jit Goat Tosu sehingga saudara tua kami itu melakukan bunuh diri! Nona itu adalah seorang murid yang murtad dan jahat, telah memaksa supek-nya sendiri membunuh diri, tidak mengindahkan atau menghormati bendera pusakanya sendiri. Dan Pendekar Sadis membantunya mendesak Jit Goat Tosu. Bukankah itu jahat sekali dan perlu dihukum?”

“Setiap orang memang memiliki pendapat masing-masing mengenai benar atau salahnya orang lain. Akan tetapi jelaslah bahwa urusan antara Nona Toan Kim Hong dan supek-nya adalah urusan dalam suatu perguruan dan kita semua tak berhak untuk mencampurinya! Jit Goat Tosu tewas karena kehendak dirinya sendiri, bukan dibunuh. Bahkan andai kata sampai mati di tangan murid keponakannya sekali pun, hal itu merupakan urusan dalam perguruan mereka sendiri.”

Kui Im Tosu kini bangkit berdiri dan dengan suaranya yang halus dia berkata, “Kami dari Kun-lun-pai mengumpulkan cu-wi sekalian memang untuk diajak bertukar pikiran tentang hal ini. Jadi sekarang menurut pendapat Cia-taihiap sebagai ayah angkat Pendekar Sadis, bagaimana sikap yang harus kita ambil terhadapnya?”

Sikap Sin Liong tetap tenang dan tegas. “Terserah kepada siapa pun mau bertindak apa pun terhadap Pendekar Sadis. Akan tetapi jika dengan alasan-alasan yang tadi telah kita bicarakan, jelas bahwa apa bila sampai terjadi bentrokan, maka Pendekar Sadis berada di pihak yang diserang lebih dulu. Dia tidak pernah mengganggu cu-wi, akan tetapi sekarang cu-wi hendak mengganggunya. Saya mengerti bahwa kematian Jit Goat Tosu membuat Kun-lun-pai merasa berduka dan juga malu. Sebab itu jika Kun-lun-pai hendak bertindak sendiri terhadap Pendekar Sadis, silakan. Hanya satu hal yang hendak kami kemukakan bahwa kami dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga akan segera mencarinya kemudian akan menasehatinya agar dia mengubah semua sikap yang kejam terhadap para penjahat, biar pun sudah sepatutnya kalau sebagai pendekar dia menentang kejahatan. Dan sebaliknya cu-wi tidak mempunyai alasan yang kuat. Cu-wi tidak pernah menentang para datuk, tapi Pendekar Sadis malah membasmi para datuk. Akan tetapi kini cu-wi hendak menentang dia dengan alasan-alasan yang sangat lemah. Silakan dan kami rasa sudah cukup kami bicara!”

Sesudah berkata demikian, Cia Sin Liong berpamit dan pergi meninggalkan Kun-lun-pai bersama Bhe Bi Cu, Cia Han Tiong, Yap Kun Liong, serta Cia Giok Keng. Tidak ada seorang pun di antara para pendekar yang berani membantah atau mencegahnya.

Pihak Kun-lun-pai maklum bahwa Pendekar Lembah Naga itu diam-diam merasa marah. Pertemuan itu dilanjutkan tanpa adanya wakil dari Cin-ling-pai dan Lembah Naga, akan tetapi mereka tidak dapat mengambil keputusan bulat sesudah terpengaruh oleh semua kata-kata Pendekar Lembah Naga tadi.

Dan akhirnya hanya tinggal kemengkalan hati terhadap Pendekar Sadis yang ada, tanpa ada keputusan untuk bersama-sama menentangnya. Bagaimana pun juga mereka sangat maklum akan kelihaiannya, apa lagi dengan adanya Lam-sin di sampingnya, siapa berani mencoba-coba dan main-main dengan mereka berdua? Belum lagi kalau diingat bahwa menentang Pendekar Sadis mungkin saja akan turut melibatkan Cin-ling-pai dan Lembah Naga, apa lagi setelah Pendekar Lembah Naga menyatakan pendapatnya seperti itu dan bahkan sudah menyatakan akan mencari kemudian menasehati Pendekar Sadis supaya menghentikan sikapnya yang sadis dan kejam itu.

Maka akhirnya rapat itu hanya memutuskan untuk melihat bagaimana perkembangannya saja, apakah Pendekar Sadis betul-betul akan berubah menjadi pendekar yang tidak lagi bersikap kejam, tidak lagi melakukan penyiksaan di luar batas peri kemanusiaan seperti yang sudah-sudah.

Tentu saja di antara para pendekar itu ada kekecualiannya. Ada yang diam-diam merasa penasaran dan diam-diam mereka itu mengambil keputusan untuk sewaktu-waktu, kalau ada kesempatan, menghadapi Pendekar Sadis dan menentangnya, ingin melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Sadis yang disohorkan itu…..

********************

“Sudahlah Thian Sin, kenapa engkau membiarkan diri terbenam dalam kedukaan? Kalau engkau masih merasa penasaran, mengapa tidak sekarang saja kita mendatangi tempat pertemuan itu, tak peduli apa jadinya nanti?” kata Kim Hong melihat kekasihnya itu duduk di atas batu sambil bertopang dagu, wajahnya nampak berduka dan pucat, sinar matanya layu dan muram.

Mereka tidak lari jauh dari Kun-lun-pai, melainkan duduk di kaki pegunungan itu sesudah semalaman mereka bermalam di dalam hutan, melihat para tamu yang berdatangan ke puncak Kun-lun-pai, termasuk juga Kakek Yap Kun Liong bersama Nenek Cia Giok Keng, kemudian Cia Sin Liong bersama isterinya. Saat melihat neneknya, hampir saja Thian Sin keluar dari persembunyiannya, akan tetapi dia menahan diri dan ketika dia melihat ayah angkatnya lewat, tak tertahankan lagi dua tetes air mata membasahi pipinya.

Pagi ini dia termenung dan bertopang dagu, bahkan sejak semalam tadi, semalam suntuk dia tidak tidur, membuat Kim Hong menjadi khawatir sekali akan keadaan kekasihnya itu.

Thian Sin menarik napas panjang. “Bagaimana aku tidak akan berduka, Kim Hong? Sejak aku kecil, aku selalu dirundung kemalangan dan ditimbun kedukaan. Ayah bunda dibunuh orang, dan ketika menjelang dewasa, banyak sekali peristiwa yang menyakiti hatiku, yang disebabkan oleh orang-orang jahat. Aku menimbun dendam dalam hati, dan setelah aku berhasil melampiaskan dendam, kembali aku menjadi serba salah, bahkan sekarang aku menyeret Cin-ling-pai dan Lembah Naga! Mereka akan dicela orang karena perbuatanku! Ah, kenapa aku selalu bernasib malang, bahkan membawa kemalangan bagi orang lain?” Pemuda itu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan berulang-ulang menarik napas panjang.

Kim Hong merasa terharu, mendekati dan merangkul pemuda itu. “Jangan berduka, Thian Sin. Ada aku di sini yang mencintamu dan akan membelamu sepenuh hatiku!”

Thian Sin balas merangkul. Cinta kasihnya terhadap gadis ini makin mendalam. Di dunia ini hanya Kim Hong seoranglah yang membela dan tidak menyalahkannya. Bahkan kakak angkat yang dicintanya, Cia Han Tiong, kini ikut menyalahkan dia! Hanya Kim Hong yang tidak menyalahkan, yang masih terus membela dan mencintanya. Hanya Kim Hong yang menghibur kemurungan hatinya. Diciumnya gadis itu dengan hati terharu.

“Kalau tidak ada engkau, Kim Hong, entah apa jadinya denganku, entah apa yang akan kulakukan dalam menghadapi semua ini. Rasanya aku ingin mengamuki Kun-lun-pai dan menentang semua orang yang membenciku!”

Sekali waktu, kemurungan pasti hinggap di dalam perasaan hati kita. Sejak jaman dahulu sampai sekarang, agaknya di dunia ini tidak ada manusia yang dapat bebas dari pada kemurungan atau kedukaan atau kekecewaan hati. Selalu saja ada persoalan-persoalan yang mendatangkan kedukaan, kekecewaan dan kesengsaraan, dan kalau sudah datang perasaan duka ini, kita pun merasa sengsara, kita merasa prihatin, kita menderita batin, seolah-olah hati kita berdarah.

Dan tak jarang kita kemudian melarikan diri dari semua derita ini, menghibur diri dengan bermacam kesenangan, atau melarikan diri sama sekali dengan jalan bunuh diri. Atau pun membunuh diri secara batiniah, yaitu dengan jalan bertapa dan meninggalkan semua keramaian dunia yang sama saja artinya dengan hidup akan tetapi sudah mati. Semua ini hanyalah bentuk-bentuk pelarian belaka.

Kekecewaan, kemurungan dan kedukaan timbul akibat batin menginginkan yang lain dari pada kenyataan, batin selalu ingin senang sehingga jika kesenangan yang diinginkan itu tidak terjadi, hati menjadi kecewa dan berduka. Kita tidak tahu bahwa justru KEINGINAN UNTUK SENANG inilah pencipta kekecewaan dan kedukaan.

Kita menginginkan agar hidup ini manis selalu adanya. Kita membutakan mata terhadap kenyataan bahwa sekali ada manis, sudah pasti ada pula pahit, getir, masam, asin dan sebagainya lagi. Itulah romantika hidup. Manis, pahit, getir, masam dan sebagainya, itu merupakan suatu kumpulan yang tidak terpisahkan dan yang membentuk apa yang kita namakan kehidupan ini. Karena kita selalu menginginkan yang manis, maka yang pahit dan getir terasa tidak enak, mengecewakan dan menyiksa. Padahal, belum tentu yang manis itu selalu bermanfaat, dan belum tentu kalau yang pahit itu tidak berguna!

Di dalam setiap kenyataan, baik itu diterima sebagai manis atau pahit, pasti tersembunyi sesuatu, suatu rahasia yang maha ajaib, dan yang hanya akan terlihat oleh dia yang tidak terpengaruh oleh rasanya, baik manis mau pun pahit, yang melihat kenyataan sebagai apa adanya, tanpa menilainya sebagai baik atau buruk, manis atau pahit.

Bukankah yang rasanya manis-manis itu sering kali bahkan mengganggu kesehatan dan sebaliknya yang pahit-pahit itu biasanya malah baik bagi kesehatan? Namun, bagaimana juga, kita selalu mengejar-ngejar yang manis-manis!


Seseorang yang kita cinta merupakan hiburan yang amat kuat di kala kita dirundung duka nestapa. Hal ini terasa benar oleh Thian Sin. Sekiranya tidak ada Kim Hong di dekatnya, entah apa yang akan dilakukannya. Mungkin saja dia akan menjadi nekad dan melakukan hal-hal yang lebih mengerikan lagi.

“Sekarang apakah kehendakmu, Thian Sin? Apakah demi Cin-ling-pai dan Lembah Naga, engkau hendak menyerahkan dirimu kepada para tosu Kun-lun-pai?” Kim Hong bertanya untuk mengetahui isi kekasihnya.

Thian Sin mengepal tinju. “Tidak! Sampai mati pun aku tidak akan sudi menyerahkan diri kepada para tosu Kun-lun-pai. Boleh saja mereka menyebut diri mereka sebagai partai besar, gudang pendekar-pendekar budiman, akan tetapi jelas sekali bahwa sikap mereka terhadap kita didasarkan atas dendam karena kita telah dianggap menyebabkan kematian Jit Goat Tosu.”

“Benar, memang tak semestinya kita menyerahkan diri kepada Kun-lun-pai sebab kita tak bersalah apa-apa terhadap mereka. Dan jangan kau kira mereka itu hanya mendendam karena kematian supek-ku saja, melainkan ada hal yang lebih dari itu bagi mereka.”

Thian Sin mengangkat muka memandang wajah kekasihnya dengan heran. “Ada hal apa lagi kecuali kematian supek-mu itu?”

“Kehormatan mereka! Kita mencari dan menyerang supek di dalam wilayah Kun-lun-pai, dan mereka merasa malu, seolah-olah mereka tidak mampu melindungi orang yang telah menjadi saudara mereka dan telah berada di antara mereka. Di samping itu, juga kurasa mereka merasa sayang sekali telah kehilangan sumber ilmu-ilmu silat yang tinggi.”

“Maksudmu?”

“Lupakah engkau betapa lihainya supek? Bahkan kita berdua bergabung pun tak mampu mengalahkan dia! Padahal dia sudah nampak begitu tua dan lemah, telah bertahun-tahun bertapa dan kurang makan. Bayangkan saja alangkah hebatnya ilmu kepandaian supek sehingga tidaklah mengherankan kalau mendiang ayahku takut kepadanya. Dan agaknya para tosu itu mengincar ilmu-ilmu dari supek yang mereka warisi. Kurasa itulah sebabnya mengapa para tosu itu mengejar-ngejarmu, mengejar-ngejar kita!”

Thian Sin mengangguk-angguk. “Mungkin benar sekali pendapatmu itu. Maka, bagaimana pun juga, aku tak akan mau menyerahkan diri kepada mereka dan kalau mereka bersama orang-orang yang menyebut diri mereka pendekar-pendekar itu masih mengejarku, maka mereka akan kuhadapi sebagai orang-orang jahat yang hendak mengganggu diriku. Akan tetapi…” Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan wajahnya nampak muram.

Kim Hong maklum kata-kata apa yang tak terucapkan itu, maka ia pun mendesak dengan terus terang, “Bagaimana bila Cin-ling-pai dan Lembah Naga yang datang menghadapimu, Thian Sin?”

Pemuda itu menarik napas panjang, wajahnya sedikit pucat. “Itulah… aku tidak mungkin berani melawan mereka. Mereka bukanlah orang-orang sombong seperti tosu-tosu dari Kun-lun-pai dan orang-orang yang menamakan diri pendekar-pendekar itu. Mereka adalah pendekar-pendekar sejati. Engkau sudah mendengar sendiri kata-kata Tiong-ko. Mereka adalah orang-orang benar yang patut kuhormati dan kutaati. Tidak, aku tidak akan berani menentang mereka. Aku akan menyerahkan diri kepada mereka, asalkan bukan untuk dibawa kepada orang-orang Kun-lun-pai untuk dipersalahkan.”

“Kalau begitu, sebaiknya kalau kita menemui mereka sekarang juga. Nanti setelah selesai pertemuan di puncak itu, tentu mereka akan turun gunung. Nah, itulah saatnya bagi kita untuk menemui mereka.”

“Ahhh…!”

Wajah pemuda itu nampak gemetar. Ngeri dia membayangkan untuk berhadapan dengan ayah dan ibu angkatnya, juga dengan neneknya yang galak dan kakeknya yang berwatak lembut itu. Apa lagi masih ada kakaknya pula!

“Thian Sin, di mana kegagahanmu? Tidak baik jika rasa keragu-raguan itu dipendam dan dibawa pergi ke mana-mana. Seorang gagah harus berani menghadapi kenyataan, betapa pun pahitnya kenyataan itu. Jika bisa dibereskan sekarang juga, mengapa mengulur-ulur waktu dan sementara itu membawa-bawa kekhawatiran di dalam hati? Kita temui mereka sekarang juga pada saat mereka turun gunung dan kita lihat bagaimana pendapat mereka tentang dirimu. Jangan khawatir, aku selalu berada di sampingmu dan kalau perlu… andai kata engkau harus mati oleh mereka, aku pun harus mati di tangan mereka!”

“Kim Hong…!” Thian Sin menjadi terharu sekali dan dia pun merangkul.

Mereka berangkulan, berciuman dan mata mereka menjadi basah, bukan hanya oleh rasa keharuan dan kedukaan membayangkan kemungkinan itu, akan tetapi juga rasa bahagia di dalamnya, bahwa mereka itu saling mencinta sedemikian dalamnya sehingga tidak lagi ragu-ragu untuk kalau perlu mengorbankan nyawa demi kekasihnya.

Tidak lama kemudian mereka melihat lima orang pertama yang turun dari puncak di mana terdapat markas Kun-lun-pai, dan dapat dibayangkan betapa kaget serta tegang rasa hati Thian Sin dan Kim Hong pada saat melihat bahwa mereka itu adalah orang-orang yang semenjak tadi mereka tunggu-tunggu, yaitu Kakek Yap Kun Liong, Nenek Cia Giok Keng, Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong beserta isterinya, dan juga puteranya!

Melihat wajah kekasihnya menjadi pucat, Kim Hong memegang tangannya dan berkata halus, “Marilah, Thian Sin. Mari kita menyambut dan menghadap mereka!” Dia pun lantas menarik pemuda itu keluar dari dalam hutan di mana mereka bersembunyi dan langsung mereka berdua menyongsong kedatangan lima orang itu…..

********************

Seperti sudah kita ketahui, dengan perasaan marah, Pendekar Lembah Naga sekeluarga dan kakek nenek yang mewakili Cin-ling-pai meninggalkan pertemuan rapat para pendekar di ruangan tamu Kun-lun-pai.

“Kita harus dapat bertemu dengan Thian Sin. Ingin aku bicara dengan dia dan sekali ini dia harus mendengarkan kata-kataku!” kata Pendekar Lembah Naga dengan muka agak merah.

Dia sudah membela nama Thian Sin sebagai Pendekar Sadis, bukan hanya karena Thian Sin adalah anak angkatnya, akan tetapi juga karena menjaga nama baik Cin-ling-pai dan Lembah Naga, dan juga karena pada hakekatnya, dia tidak menganggap Thian Sin jahat, hanya terlalu kejam terhadap musuh-musuhnya.

“Kurasa dia tidak akan jauh dari tempat ini, ayah,” kata Han Tiong. “Aku mengenal betul watak Sin-te, dia tidak akan melarikan diri kalau tidak didesak.”

Ucapan Han Tiong ini terbukti ketika mereka tiba di lereng dekat puncak dan mencapai hutan pertama. Tiba-tiba dia melihat munculnya Thian Sin dan Kim Hong dari dalam hutan itu dan melihat keduanya sengaja menyongsong mereka.

Begitu berhadapan, Cia Sin Liong langsung memandang anak angkatnya itu dan berkata dengan suara lantang mengandung teguran, “Thian Sin, bagus sekali perbuatanmu, ya? Begitukah engkau membalas budi kepada Cin-ling-pai dan Lembah Naga, menyeret nama mereka ke pecomberan dan menjadi bahan celaan dunia kang-ouw?”

Mendengar suara ayah angkatnya yang biasanya halus penuh kasih sayang kepadanya itu kini terdengar penuh kemarahan dan juga kekecewaan dan kesedihan, hati Thian Sin seperti ditusuk-tusuk rasanya dan dia pun segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayah angkatnya itu kemudian tak dapat ditahannya lagi dia pun menangis!

Selama mengenal Thian Sin, sekarang untuk kedua kalinya Kim Hong melihat kekasihnya menangis sedemikian sedihnya. Kim Hong merasa terharu dan kasihan sekali, maka dia pun lalu ikut berlutut.

“Locianpwe, urusan di Kun-lun-pai adalah urusan saya, maka sayalah yang bertanggung jawab. Thian Sin tak bersalah, melainkan hanya ikut menemani saya, oleh karena itu, jika locianpwe hendak marah, maka sayalah orangnya yang harus dimarahi, bukan dia,” kata Kim Hong sambil menundukkan mukanya, sedangkan Thian Sin di sebelahnya masih saja menitikkan air mata.

“Lam-sin!” kembali terdengar Cia Sin Liong berkata, suaranya berwibawa sekali. “Engkau adalah datuk golongan sesat di selatan, apakah engkau hendak menyeret anak angkatku untuk mengikutimu masuk ke dalam dunia hitam dan melakukan perbuatan sesat?”

“Locianpwe, semenjak saya bertemu dengan Thian Sin, Lam-sin telah kubunuh dan saya sudah membubarkan semua pengikut, saya sudah menanggalkan semua kedudukan dan julukan, saya sudah meninggalkan dunia sesat dan sayalah yang ikut bersama Thian Sin, bukan dia yang ikut saya. Saya membantunya menghadapi datuk-datuk sesat lainnya, ada pun ketika dia membantu saya menghadapi supek saya, hal itu adalah urusan pribadi saya, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kun-lun-pai atau orang lain. Karena itu, harap locianpwe jangan persalahkan Thian Sin, sayalah yang bersalah.”

“Ayah, saya mengaku salah, saya telah mencemarkan nama baik Lembah Naga dengan perbuatan saya. Oleh karena itu, terserah kepada ayah, hendak menjatuhkan hukuman apa pun juga, akan saya terima dengan hati rela.”

“Tidak boleh!” Kim Hong berteriak. “Kalau locianpwe menjatuhkan hukuman kepadanya, maka harus menghukum saya juga. Mau membunuh kami berdua, silakan, kami rela mati berdua untuk menebus dosa kalau memang locianpwe menghendaki demikian!” Ucapan Kim Hong ini mengharukan hati Bhe Bi Cu dan juga Cia Giok Keng yang lantas berkata dengan suara serak dan mata merah.

“Sin Liong, kau ampunkanlah anakmu! Cucuku Ceng Thian Sin itu…”

Memang pada lubuk hatinya, sedikit pun tak ada niat untuk menghukum anak angkatnya itu, akan tetapi Sin Liong berpikir bahwa sangatlah perlu untuk menegur Thian Sin pada saat seperti itu.

“Thian Sin, kenapa hatimu demikian kejamnya, demikian keji dan sadis engkau menyiksa orang-orang yang menjadi musuhmu? Jawablah dan jelaskan pada kami, kenapa engkau menjadi demikian kejam melebihi iblis sendiri?”

“Saya mengakui semua itu, Ayah. Saya hampir gila oleh dendam, sehingga saya lupa diri, ingin memuaskan rasa dendam dan sakit hati itu dengan menyiksa musuh-musuh saya. Saya… terus terang saja, ayah… saya merasa… senang dan nikmat bukan main dalam pemuasan dendam dan sakit hati itu dengan menyiksa mereka dan… dan pada waktu itu saya lupa segala-galanya, yang teringat hanya ingin menyiksa orang yang dahulu pernah menyiksa hati saya…”

Semua orang yang mendengar kata-kata ini bergidik, tidak hanya karena membayangkan kesadisan Thian Sin saat menyiksa musuh-musuhnya seperti yang pernah mereka dengar dibicarakan orang dengan ketakutan, melainkan terutama sekali melihat kenyataan akan adanya sifat sadis dalam diri mereka masing-masing.

Memang, bila mana kita mau membuka mata mengenal diri sendiri, di dalam batin kita terdapat sifat sadis itu. Kita akan merasa senang sekali melihat orang yang kita anggap jahat menerima siksaan! Kita akan merasa puas apa bila mendengar musuh atau orang yang kita benci menderita mala petaka dan kesengsaraan.

Kita ini masing-masing mempunyai watak pendendam, pemarah, selalu ingin membalas kepada siapa saja yang membuat hati kita tidak senang, baik yang mengganggu kita itu manusia mau pun setan. Setidaknya, kita akan mengumpat cacinya, dan mengutuknya, dan tentu saja kita akan merasa senang dan puas jika melihat dia tersiksa seperti yang digambarkan oleh benak kita yang penuh dengan kebencian dan racun dendam.

Siapakah yang dapat menyangkal bahwa terdapat persamaan dalam batin kita dengan watak Pendekar Sadis yang senang menyiksa orang-orang yang dibencinya? Andai kata kita diberi kekuatan seperti dia, diberi kekuasaan seperti dia, bukan tidak mungkin kita pun suka menyiksa musuh-musuh yang kita benci.

Pengenalan diri sendiri ini dapat kita lakukan dengan jelas apa bila kita melihat sesuatu, baik melalui bacaan mau pun tontonan, yang sifatnya membalas dendam. Kita membenci tokoh yang kita anggap jahat dan kita bersorak penuh kepuasan ketika kita melihat ‘Si Jahat’ itu tertimpa mala petaka dan tersiksa. Namun, betapa sukarnya untuk mengenal diri sendiri!


“Thian Sin, aku mengerti perasaan itu. Akan tetapi, lupakah engkau dengan ajaran yang pernah kau terima dari pamanmu Hong San Hwesio dan dariku sendiri selama ini? Lalu apakah artinya semua latihan yang kuberikan untuk bersemedhi dan mengenal sifat-sifat buruk diri sendiri? Orang yang melakukan perbuatan kejam dinamakan penjahat, lalu apa artinya orang dianggap pendekar kalau hatinya pun kejam terhadap orang lain? Apakah bedanya antara penjahat kejam dan pendekar kejam? Mungkin saja si penjahat berbuat kejam untuk keuntungan harta atau pemuasan hatinya, akan tetapi bila seorang pendekar berbuat kejam terhadap penjahat, tentu juga demi untuk memuaskan hatinya yang penuh dendam. Jadi pada hakekatnya sama saja, yaitu untuk menyenangkan atau memuaskan diri sendiri. Hati yang kejam itu didasarkan oleh kebencian, dan apa pun yang dilakukan seseorang, baik dia dinamakan pendekar mau pun penjahat, bila mana didasari dengan kebencian, maka perbuatannya itu adalah jahat! Seorang pendekar menentang kejahatan, akan tetapi bukan berdasarkan kebencian terhadap sesama manusia, walau pun manusia itu dinamakan penjahat sekali pun. Seorang pendekar menentang kejahatan, karena ingin menyelamatkan orang yang dapat menjadi korban kejahatan, karena ingin menyadarkan orang yang melakukan kejahatan, karena hendak menenteramkan kehidupan manusla di dunia, karena ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua itu bebas dari landasan hati yang diracuni kebencian. Akan tetapi, apa yang kau lakukan itu semata-mata adalah karena hatimu penuh dengan dendam sakit hati dan kebencian. Lalu apa bedanya semua kesadisanmu itu dengan perbuatan para penjahat di dunia ini?”

Cia Sin Liong berhenti bicara dan Thian Sin makin menundukkan kepalanya. Walau pun kadang-kadang dia menyadari akan hal itu, akan tetapi baru sekali inilah hal itu seperti ditusukkan ke dalam perasaannya, membuat matanya terbuka dan dapat melihat dengan jelas akan semua kesalahan yang pernah dilakukannya selama ini. Memang dia sudah menjadi buta oleh dendam dan kebencian.

“Saya mengaku salah…,” katanya lirih.

“Pengakuan salah tanpa penghayatan di dalam hidup tidak akan ada artinya sama sekali! Penyesalan di mulut dan di hati tidak ada gunanya. Yang penting adalah membuka mata, melihat bahwa setiap kita melakukan sesuatu yang jahat dalam arti kata merugikan orang lain lahir mau pun batin, maka pada saat itu kita tidak memiliki kewaspadaan, kesadaran kita menjadi buta oleh nafsu. Oleh karena itu, kita harus waspada setiap waktu, terutama sekali waspada terhadap diri sendiri lahir mau pun batin. Hanya dengan kewaspadaan dan kesadaran terhadap diri sendiri lahir batin sajalah kita tidak akan bertindak membabi-buta menurutkan nafsu-nafsu kita. Kebencian terhadap orang lain merupakan pangkal segala permusuhan dan kekacauan di dunia. Kita harus dapat menghalau kebencian ini jauh-jauh dari batin kita, baik terhadap orang yang kita anggap jahat mau pun tidak. Selama masih ada kebencian di dalam batin, bukan kebencian terhadap seseorang tertentu, melainkan kebencian kepada siapa pun juga, maka tak mungkin dia bisa menjadi seorang pendekar dalam arti yang seluas-luasnya!”

Thian Sin dan Kim Hong mengangguk-angguk, diam-diam merasa betapa tidak mudahnya untuk menjadi seorang manusia yang pantas dinamakan pendekar.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner